Sulitnya Menjadi Guru

image

Hari ini semua guru di Indonesia sedang memperingati hari istimewa mereka: Hari Persatuan Guru Republik Indonesia. Tidak terkecuali saya. Sebagai seorang guru yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun (sok tua ya saya), saya turut memperingati perayaan tersebut secara pribadi. Lho kok? Mungkin para guru di kecamatan tempat tinggal saya, lupa kalau hari ini merupakan hari istimewa bagi mereka. Entah mengapa perayaan yang biasanya diperingati dengan upacara di depan kantor kecamatan, hari ini tidak diselenggarakan. Tidak ada acara makan bersama seperti yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hari ini seolah sama seperti hari-hari biasa. Oleh karena itu saya merayakannya secara pribadi di blog saya ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, karakteristik guru pada zaman sekarang jauh berbeda dengan karakteristik guru zaman dahulu. Untuk menjadi guru teladan yang sejatinya patut digugu dan ditiru oleh para muridnya, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Tidak hanya faktor eksternal, faktor internal guru itu sendiri pun turut mempengaruhi. Sejak saya kembali mengajar di sekolah yang sempat saya tinggalkan dua tahun lalu, saya menemukan semakin banyak alasan bagi para guru untuk maju. Para guru mengeluh peraturan-peraturan pemerintah yang begitu banyak diberikan kepada para guru pada masa ini semakin mempersulit kinerja guru dalam menjalankan roda pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa. Sertifikasi, Uji Kompetensi Guru, PUPNS, dan lain sebagainya terkesan sangat memberatkan beban para guru yang seharusnya bertugas mengajar. Terutama para guru yang tinggal di daerah pelosok. Sarana prasarana yang terdapat di daerah maupun sekolah-sekolah di daerah masih terbilang sangat minim. Oleh karena itu kendala yang dihadapi para guru dalam memajukan pendidikan bangsa ini terbilang sangat sulit. Padahal seharusnya para guru tidak menjadikan hal tersebut sebagai halangan untuk maju. Justru sebaliknya, dengan adanya keterbatasan keadaan, para guru menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk menjadi guru yang jauh lebih baik.

Saya akui menjadi guru yang baik pada masa ini memang relatif sulit. Sebagai guru yang mengajar di jenjang SMA, saya sering menemukan kendala dalam menanamkan kedisiplinan dan solidaritas kepada murid-murid saya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya karakter guru tentu berbeda-beda. Ada guru yang kerap menceramahi murid-muridnya tentang budi pekerti, tata krama, dan sopan-santun. Namun ada pula segelintir lainnya yang bersikap acuh tak acuh. Biasanya guru yang termasuk pada kelompok terakhir ini hanya menganggap ‘yang penting saya sudah mengajar’. Mereka tidak menghiraukan peserta didik mereka akan bersikap apa dan bagaimana baik di dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyrakat. Saya sangat prihatin setiap bertemu dengan guru tipe terakhir ini. Tidakkah mereka berpikir bahwa ujung tombak dunia pendidikan adalah guru? Guru sering menjadi tumpuan kesalahan setiap kali siswa mengalami suatu masalah. Sebagai contoh misalnya: saat seorang siswa mengalami kekalahan dalam suatu perlombaan, masyarakat kerap bertanya “siapa gurunya?” Sebaliknya saat seorang siswa meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, biasanya masyarakat akan bertanya “Wah, siapa orang tuanya?” Miris memang…

Guru pada masa ini harus berpacu dengan teknologi. Karakteristik pelajar zaman sekarang dominan tertarik dengan perkembangan zaman. Tidak hanya televisi atau mainan yang mereka miliki di rumah. Telepon genggam yang mereka pakai merupakan kendala terbesar yang harus dihadapi oleh para guru. Karena telepon genggam saat ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap para pelajar dalam bersikap dan bertindak. Banyak sekali fitur yang disajikan di dalam sebuah telepon genggam, mulai dari aplikasi permainan, internet, kamera, pemutar music dan video, dan berbagai macam aplikasi lainnya yang menawarkan kecanggihan teknologi. Penggunaan telepon genggam tanpa batas menyebabkan para pelajar menjadi malas, dan kurang berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka tidak hanya menjadi malas mengerjakan tugas-tugas di rumah, ataupun ibadah, tetapi juga malas mengerjakan tugas sekolah. Mereka bahkan mulai tidak memahami apa makna solidaritas dalam lingkungan pergaulannya.

Pernah suatu ketika seorang murid perwalian saya mengalami suatu penyakit dan menyebabkannya harus menjalani operasi. Selang beberapa hari kemudian orang tua murid tersebut menghubungi saya via telepon mengharap kunjungan dari teman-teman anaknya. Tentu ini merupakan kewajiban bagi saya untuk menyampaikan kepada teman-teman sekelasnya. Bukan sambutan hangat yang saya terima, murid-murid perwalian saya berkata, “Kami capek, Pak! Nanti sore ada acara,” “Kita tengoknya nanti saja Pak, pada hari ulang tahunnya dia!”, “Aduh, saya mau kemah nih. Jadi nggak bisa jenguk!”, “Wah, saya nggak bisa ninggalin COC, Pak! Nanti kampung yang sudah saya bangun diserang musuh!”, “Jenguknya pake Instagram aja ya, Pak! Kita suruh dia upload fotonya waktu dioperasi!”, “Saya sudah kirim SMS sama dia, Pak. Supaya dia cepat sembuh.”

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala tatkala mendengar tanggapan murid-murid perwalian saya. Saya tidak mengharap satu kelas untuk datang menjenguk teman mereka yang sakit itu. Setidaknya ada perwakilan dari mereka yang bersedia memenuhi permintaan dari anak yang sakit. Tidak terkecuali saya. Anak yang sakit itu pada dasarnya ingin dihibur dan dimotivasi oleh teman-temannya agar ia lekas sembuh. Apa boleh buat, ini mungkin tantangan untuk saya menumbuhkan rasa solidaritas murid-murid saya agar mereka dapat berkembang sebagai jiwa yang selalu peduli terhadap sesama. Masalah seperti ini mungkin tidak dialami oleh saya sendiri. Di pelosok daerah lainnya mungkin masalahnya jauh lebih beragam. Belum termasuk kenakalan pelajar seperti tawuran, penggunaan narkoba, dan free sex yang kian merebak karena pengaruh penggunaan internet yang melampaui batas. Tentu semua permasalahan ini belum terselesaikan. Dan ini masih menjadi PR bagi para guru di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada rekan-rekan seprofesi di manapun Anda berada, mari kita tingkatkan semangat, dedikasi, dan kinerja kita untuk mencetak generasi muda yang jauh lebih baik lagi. Selamat hari guru 2015.

Demam Tere Liye

image

Ceritanya pas gue mulai ngajar lagi di SMA Negeri 1 Balai Riam, gue duduk di kantor bersebelahan sama seorang guru baru yang cantik banget masih single lagi. Asyeek… siapa tahu bisa pdkt, huhu emang dasar modus ya gue!😀. Namanya Bu Ririn. Beliau mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Cerita punya cerita ternyata beliau punya hobi yang sama dengan gue, baca novel. Dan ternyata lagi nih, beliau adalah seorang penggemar berat novelis yang karya-karyanya kerap menjadi best seller. Pembaca tahu kan novel Hafalan Shalat Delisha, Bidadari-Bidadari Surga, dan Ayahku (Bukan) Pembohong? Yup, itu semua adalah karya-karyanya Tere Liye. Gue pribadi sering banget dengar nama penulis itu, tapi belum pernah baca karya-karyanya (Hellooo… ke mana aja dirimu selama ini, Gih? Nyasar di bulan ya?). Sampai suatu hari gue juga lupa gimana awal ceritanya, tiba-tiba aja Bu Ririn nyodorin salah satu koleksinya ke gue. Judul novelnya Rindu. Jujur, pertama kali baca novel itu kesannya membosankan. Menurut gue novel Rindu karya Tere Liye termasuk bacaan yang berat. Gue baru mulai suka sama karya-karya Tere Liye setelah gue disodorin lagi novelnya sama Bu Ririn, kali ini judulnya Ayahku (Bukan) Pembohong. Lagi di awal-awal cerita gue ngerasa bosan ngebacanya. Setelah gue paksa diri gue buat menyelesaikan bacaan tersebut, di pertengahan cerita gue baru mulai tertarik. Kesempatan ketiga kalinya, gue mendapat kehormatan dari Bu Ririn buat baca novel-novelnya yang baru aja dibeli (masih dibungkus plastik Gramedia) dan belum dibaca sama sekali sama beliau. Dua buah novel berseri (mungkin trilogi atau kwartet) judulnya Bumi, dan Bulan. Nah, sejak baca novel-novel inilah gue mulai ketularan virus addicted-nya Bu Ririn terhadap karya-karya Tere Liye.

Mungkin waktu awal baca karangan Tere Liye gue sempat ngerasa minat nggak minat lantaran gue ngira kalau Tere Liye itu adalah cewek. Gue lebih suka novel yang ditulis sama cowok, seperti Hilman Hariwijaya, Raditya Dika, Andrea Hirata, dan si AK sahabat gue dari Katingan yang belakangan ini udah nerbitin 5 buah novel karyanya. Huhu… iri banget sama si AK ini. Tapi setelah tahu kalau sebenarnya Tere Liye itu adalah seorang cowok, minat baca gue terhadap karya-karya Tere Liye semakin besar. Maafin ane ya Bang, udah salah ngira selama ini. Tahu gitu, gue juga udah jadi member ‘Tereh Lieur’ dari dulu. Eh salah, maksud gue Tere Liyers (fans-nya Tere Liye). Gak perlu banyak basa-basi lagi kali ya, kali ini gue mau ngebahas sedikit karya-karya Tere Liye yang udah gue baca. Walaupun sebenarnya udah telat buat dibahas. Tapi gak apa-apa donk kalo gue mau nulis juga. Siapa tahu jadi rekomendasi buat kalian yang belum pernah baca.

1. Pulang
Novel satu ini merupakan novel terbaru Tere Liye. Buku yang gue pegang merupakan cetakan keempat yang dipublikasikan bulan Oktober kemarin. Cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Bujang yang tinggal di sebuah desa di Bukit Barisan. Sejak kecil ia tidak pernah makan bangku sekolah (lagian, siapa juga yang mau ‘makan’ bangku!😀 ). Akan tetapi Midah, ibunya, getol mengajarinya membaca, berhitung, pelajaran agama dan sembahyang. Entah mengapa Samad, ayahnya, sering memukulnya bila ia menunaikan shalat dan mengaji. Hingga suatu hari datang seorang pria bernama Tauke Muda, sahabat dari Samad, datang mengunjungi Bukit Barisan. Tauke Muda beserta rombongannya membawa sebuah misi menangkap babi hutan yang merusak perkebunan warga. Bujang diajak serta bersamanya atas seizin Samad. Bujang yang sebenarnya penakut berubah menjadi pemberani tatkala ‘Raja Babi Hutan’ menyerang Tauke Muda. Akhirnya Tauke Muda berhasil diselamatkannya dan Bujang ikut ke kota bersama Tauke Muda. Midah melepas kepergian anaknya dengan hati berat.

Singkat cerita Bujang akhirnya disekolahkan oleh Tauke Muda atau lebih sering disebut Tauke Besar dalam keluarga Tong, sebuah keluarga yang menguasai shadow economy. Tauke Muda telah menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Ada dua orang penting yang ada di rumah Tauke. Satu bernama Kopong, kepala tukang pukul. Dua, Mansur, kepala keuangan, logistik, dan lain-lain. Kawan pertama Bujang bernama Basyir, pemuda keturunan Arab. Di keluarga tersebut, Basyir mendapat tugas sebagai tukang pukul. Setiap hari, Basyir menceritakan aksinya kepada Bujang. Bujang pun menginginkan pula posisi tukang pukul di keluarga Tong. Ia pun meminta kepada Tauke Besar. Akan tetapi, Tauke menolaknya. Dia justru menyuruh Bujang untuk sekolah dan belajar. Bujang dikenalkan dengan Frans, guru dari Amerika. Awalnya Bujang menolak. Tapi, setelah kalah di amok, semacam tes untuk menjadi tukang pukul, Bujang pun akhirnya mau belajar. Dia menyelesaikan sekolahnya. Bahkan dia menyelesaikan kuliah master di luar negeri. Selain sekolah, Bujang juga belajar menjadi tukang pukul. Kopong yang mengajarinya. Dia juga mencarikan guru untuk Bujang agar dapat melatih kemampuan beladirinya. Bujang tumbuh menjadi pemuda yang pintar dan kuat fisiknya. Ia pun menjadi tukang pukul nomor satu di keluarga Tong. Dia menyelesaikan banyak masalah tingkat tinggi. Namun, masalah demi masalah muncul, hingga tiba saatnya Sang Pengkhianat keluar dan memicu peperangan. Siapakah pengkhianat tersebut? Dimanakah letak ‘pulang’ dalam cerita? Apakah Bujang berhenti menjadi tukang pukul dan kembali ke kedua orang tuanya yang tinggal di Bukit Barisan? Perjanjian apa yang telah disepakati antara Samad dan Tauke di masa lalu?

image

2. Ayahku (Bukan) Pembohong
Dam adalah seorang anak yang dididik dan dibesarkan dengan segala cerita hebat masa muda ayahnya. Tapi dengan semua cerita itulah, tumbuh kepribadian yang baik dalam diri Dam. Pengajaran yang sederhana, namun berdampak sangat besar. Ayah Dam adalah seseorang yang dikenal sebagai pegawai negeri biasa yang ramah, baik dan tidak pernah berbohong dalam setiap ucapannya. Hampir seluruh kota tempat mereka tinggal, kenal dengannya. Dam sangat mengidolakan ayahnya karena cerita-cerita itu, salah satunya adalah tentang seorang pemain sepak bola terkenal yang dijuluki “Sang Kapten”. Ayah menceritakan bagaimana pekerja kerasnya sang Kapten saat masih kecil, bekerja menjadi pengantar sup untuk menghidupi keluarganya dan juga terus berlatih saat ada waktu demi meraih cita-citanya menjadi pemain sepak bola. Dari cerita itu Dam belajar yang namanya kerja keras.

Di sekolah, Jarjit, teman sekelas Dam (berarti Dam teman sekelas Ipin-Upin donk😀 ), selalu menggangu Dam. Tapi Dam selalu berusaha sabar karena ia ingat bagaimana sabarnya suku Penguasa Angin walaupun sudah dijajah beratus-ratus tahun. Mereka hanya diam agar tidak terjadi pertumpahan darah. Sampai suatu ketika, mereka berhasil mengusir para penjajah itu dalam suatu pertandingan yang dimenangkan suku Penguasa Angin. Begitu pula halnya dengan Dam dan Jarjit, mereka akhirnya berteman karena sebuah pertandingan, namun kali ini tidak ada sang pemenang. Hari berganti menjadi minggu, bulan dan tahun, kini Dam sudah lulus SMP dan ayahnya mendaftarkannya di sekolah berasrama bernama Akademi Gajah (Si Dam anak gajah apa ya?). Dam tiba di sana dengan menaiki kereta api selama 8 jam dari kotanya. Di tahun pertama ini Dam sering membuat masalah yaitu dengan menonton Piala Dunia beramai-ramai di kamarnya sehingga Dam dan Retro (teman sekamar Dam) dihukum kepala sekolah. Juga saat pelajaran tentang gravitasi, mereka merusak alatnya sehingga dihukum menunggui buah apel jatuh dari pohonnya. Awalnya Dam memang kesal dan bosan di sana, tapi akhirnya Dam memiliki kesenangannya sendiri di sana, yaitu menggambar bangunan sekolah untuk ditunjukkan kepada ibunya. Akhirnya Dam pulang untuk liburan, sepanjang perjalanan Dam membantu seorang ibu untuk mengurus anak-anaknya.

Selama di rumah, Dam mengerjakan pekerjaan rumah karena ibunya sakit. Menceritakan pengalamannya di Akademi Gajah dan juga menunjukkan gambarnya. Mereka juga merayakan ulang tahun ibu secara kecil-kecilan. Sampai akhirnya Dam harus kembali ke Akademi Gajah. Setelah liburan kali ini, Dam membuat masalah dengan mengundang teman-temannya ke kamarnya untuk merayakan ulang tahun Retro. Akhirnya mereka berdua dipanggil kepala sekolah dan dihukum membersihkan perpustakaan. Retro sangat kesal sedangkan Dam senang karena bisa melanjutkan gambarnya. Tingal beberapa hari menjelang pembebasan hukuman, Dam dikagetkan dengan judul buku yang sedang dibaca Retro, “Apel Emas Lembah Bukhara”. Dam ingat itu adalah cerita petualangan ayahnya tentang keindahan lembah Bukhara yang dibangun selama 100 tahun karena kerusakan yang ditimbulkan oleh penambang liar. Juga tentang adanya apel emas yang diberikan pada ayahnya.

Karena hal itu berhari-hari Dam mencari buku lain, dan akhirnya Dam menemukan buku berjudul: Suku Penguasa Angin. Ini membuat Dam semakin penasaran dengan keaslian cerita ayahnya. Sampai pertanyaan itupun terlontarkan pada liburan Dam yang kedua. Pertanyaan yang membuat ayahnya tersinggung dan sampai Dam pulang pun mereka masih dalam keadaan canggung. Liburan kali ini pun ibu terlihat semakin kurang sehat. Selesai liburan, Dam kembali ke Akademi Gajah dan langsung dihadiahi hukuman untuk membayar buku perpustakaan yang rusak. Akhirnya Dam bekerja di rumah penduduk dan banyak temannya yang ikut serta. Dam juga menabung untuk biaya pengobatan ibunya. Namun pada pagi setelah acara perburuan tim memanah, Dam mendapatkan kabar bahwa ibunya sakit. Ia langsung membereskan barangnya dan pulang.

Sampai di sana, Dam sangat marah pada ayahnya karena berbohong tentang keadaan ibunya setahun lalu. Melalui penanganan dokter, ibu Dam tetap tidak dapat diselamatkan. Malam itu Dam memutuskan untuk berhenti mempercayai semua cerita ayahnya. Sehari setelah pemakaman ibunya, Dam kembali ke Akademi Gajah. Sekolah itu kosong. Dam menemui kepala sekolah dan mendapatkan ijazah beserta sertifikat penghargaannya, Dam juga mendapatkan surat pengantar masuk universitas. Akhirnya Dam dapat kuliah dengan menggunakan surat itu. Beberapa tahun kemudian, Dam bertemu dengan Taani (teman SMP Dam), mereka mengobrol dan jadi sering bertemu. Semakin lama mereka menjadi dekat dan memutuskan untuk menikah dengan syarat dari Taani, bahwa kelak ayah bisa tinggal dengan mereka.

Dua tahun kemudian
Lahirlah anak pertama mereka, Zas. Taani sering mengunjungi ayah bersama Zas dan lebih sering lagi saat lahirnya anak kedua mereka 2 tahun kemudian, Qon. Saat Zas berusia 8 tahun dan Qon 6 tahun, akhirnya Dam memperbolehkan ayah tinggal dengan mereka. Selama ayah tinggal dengan mereka, Dam selalu berusaha menjauhkan anak-anaknya dari segala cerita ayahnya, tapi dilarang Taani. Yang selalu ayah ceritakan sama dengan yang diceritakannya pada Dam. Hanya saja kini ayah menceritakan pemain sepak bola terkenal pada masa kini “Si Nomor 10” yang baru saja meneleponnya. Sampai suatu hari Dam mengetahui kalau anaknya membolos yang ternyata karena mencari cerita kakeknya di perpustakaan kota. Dam marah dan menghukum mereka juga melarang ayahnya bercerita. Saat Dam pergi dinas, ayah kembali bercerita hanya saja itu tentang Akademi Gajah dan ibu Dam. Dam yang mengetahuinya marah dan di malam hujan itu ayah disuruhnya pergi dari rumah. Dam kembali ke ruang kerjanya dan mencari Akademi Gajah namun tidak ditemukan, ini membuat Dam bingung sampai Dam menuliskan nama ibunya di kolom pencarian dan keluarlah semua berita tentang ibunya yang ternyata seorang artis saat masih muda seperti yang diberitahukan semua orang selama ini padanya.

Esok harinya ayah dibawa ke rumah sakit karena pingsan di pemakaman kota. Setelah ditangani ayah sempat siuman dan memanggil Dam. Ayah meminta Dam mendengarkan cerita terakhirnya tentang Danau Para Sufi. Danau Para Sufi adalah danau yang dibuat oleh ayahnya selama bertahun-tahun untuk mencari tahu definisi dari kebahagiaan dan akhirnya ayah mendapatkan jawaban. Definisi kebahagiaan itu adalah hati yang lapang, jika seseorang memiliki hati yang lapang maka hidup dalam kesederhanaan pun akan terasa indah dan itulah kebahagiaan. Setelah bercerita, akhirnya ayah pergi untuk selama-lamanya. Dan hari itu Dam tahu bahwa selama ini ibunya bahagia.

Pada hari pemakaman ayah Dam, tempat itu dipenuhi hampir seluruh warga kota itu sendiri. Mereka menyalami Dam dan mengucapkan rasa belasungkawanya. Namun saat melihat ke langit Dam dikejutkan dengan adanya formasi layang-layang di musim hujan seperti ini yang menurut Qon adalah formasi layang-layang suku Penguasa Angin. Namun yang membuat Dam merasa lebih kaget, bersalah sekaligus terharu adalah ketika “Sang Kapten” dan “Si Nomor 10” datang dan mengucapkan rasa sedihnya karena tidak sempat bertemu dengan ayahnya. Dam hanya bisa terisak mendengarnya.

Pagi itu Dam tahu, ayahnya bukan pembohong.

image

3. Bumi
Nah, cerita yang satu ini lumayan seru. Adalah Raib seorang gadis remaja berusia 15 tahun kelas sepuluh SMA yang menyimpan sebuah rahasia. Hanya dengan menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, Raib bisa menghilang tak terlihat oleh siapa pun. Raib punya 2 ekor kucing angora yang dipeliharanya sejak ulang tahunnya yang ke-6. Akan tetapi mama-papanya hanya melihat satu ekor saja yang dipelihara Raib. Mereka menyebut kucing peliharaan Raib, ‘Si Hitam Atau Si Putih’. Dan mereka beranggapan kalau selama ini Raib suka berimajinasi. Suatu hari Si Hitam menghilang. Dan tiba-tiba saja sesosok misterius datang menemui Raib melalui cermin yang ada di kamarnya. Ia menyuruh Raib agar menghilangkan sebuah novel tebal milik Raib. Sosok itu terus datang mengusiknya hingga menyulap Si Hitam yang selama ini menghilang menjadi serigala yang menakutkan dan mencengkeram Si Putih agar Raib dapat berkonsentrasi menghilangkan novel seperti yang diperintahkannya. Dalam keadaan terpaksa Raib berhasil melakukannya. Sejak saat itu Raib dapat menghilangkan berbagai benda yang ada di dalam kamarnya. Tetapi ia tidak dapat mengembalikannya ke tempat semula. Nah lho!

Di sekolah Raib memiliki seorang sahabat bernama Seli, guru matematika yang galak bernama Miss Selena tetapi biasa dipanggil Miss Keriting, dan seorang teman laki-laki yang selalu membuat ulah bernama Ali. Ali sangat yakin kalau Raib memiliki kemampuan dapat menghilang. Diam-diam Ali tengah melakukan penyelidikan terhadap Raib dengan memasang benda-benda aneh yang sengaja dibuatnya sebagai alat penyadap. Benda-benda itu  disimpan di dalam tas Raib dan sebagian dipasang di rumah Raib saat Ali berkunjung ke rumah Raib dengan berpura-pura ingin mengerjakan tugas pelajaran bahasa bersama.

Permasalahan mulai timbul ketika terjadi kerusakan listrik di sekolah. Tiang listrik yang terletak di dekat kantin sekolah mendadak roboh hingga nyaris menghantam Raib dan Seli. Entah mengapa demi menyelamatkan Raib, Seli dapat menyingkirkan kabel-kabel listrik yang menjuntai laksana tentakel gurita yang ingin menyambar mereka. Seli tidak tersengat aliran listrik sama sekali. Ia bahkan dapat menahan tiang listrik yang sudah mendekati tubuhnya dan Raib. Seketika itu pula Raib berkonsentrasi menghilangkan tiang listrik dari atas tubuh mereka. Tiang listrik akhirnya menghilang entah ke mana. Ali yang melihat kejadian itu mengajak kedua gadis berkekuatan ajaib tersebut bersembunyi di aula sekolah guna menghilangkan jejak dari polisi dan para pemadam kebakaran yang mungkin akan menginterograsi mereka mengenai bagaimana peristiwa itu dapat terjadi.

Keadaan semakin mencekam tatkala tiba-tiba sosok misterius yang sering mengusik Raib melalui cermin di kamarnya muncul secara nyata di hadapan mereka. Sosok itu bernama Tamus. Ia datang bersama 8 orang pasukannya guna membawa Raib ke dunianya, yakni Klan Bulan. Ternyata Raib bukan manusia bumi. Begitu juga dengan Seli. Raib merupakan keturunan manusia yang berasal dari Klan Bulan, sedangkan Seli merupakan keturunan manusia yang berasal dari Klan Matahari. Akan tetapi Raib enggan diajak Tamus kembali ke dunianya. Perlawanan pun terjadi. Di saat keadaan Raib dan teman-temannya mulai lemah, Miss Selena datang menyelamatkan mereka. Di luar dugaan Miss Selena memiliki kekuatan yang begitu hebat. Ia mampu melawan Tamus. Rupanya dulu ia adalah bekas murid Tamus, kemudian ia berbalik mengkhianati Tamus setelah tahu rencana jahat Tamus untuk menguasai seluruh klan yang ada di dunia: Klan Bumi, Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Tamus sangat sulit dikalahkan. Perlawanan Miss Selena berhasil dipatahkannya. Bahkan Miss Selena berhasil diringkusnya dengan menggunakan jaring perak. Sebelum Tamus berhasil menangkap Raib, Miss Selena memerintahkan Raib dan kawan-kawan untuk membuka buku PR matematika milik Raib. Semua rahasia tentang mereka terdapat di dalam buku itu. Melalui lorong pemintas yang dibuka oleh Miss Selena, Raib dan kawan-kawan berhasil lolos dari Tamus dan pasukannya.

Lorong pemintas yang dibukakan oleh Miss Selena mengantarkan Raib dan kawan-kawannya ke dalam kamar Raib. Mereka segera membuka buku PR matematika Raib guna menyelamatkan Miss Selena. Ajaib, buku PR matematika Raib berhasil membawa mereka bertiga ke dunia yang aneh, Klan Bulan. Dimulailah petualangan ketiga sahabat itu. Di sana mereka bertemu dengan keluarga Ilo yang baik hati. Vey, istri Ilo yang lembut. Juga Ou, anak bungsu Ilo dan Vey yang masih berusia 4 tahun dan sangat menggemaskan. Berkat pertolongan Ilo, Raib dapat menyusuri asal-usulnya dan mencari tahu keberadaan Miss Selena. Ilo juga mempertemukan Raib dan kawan-kawan dengan Av, kepala Perpustakaan Sentral yang dapat menjelaskan segala hal akan kejanggalan-kejanggalan yang dialami Raib. Mereka kemudian memasuki ruangan terlarang di dalam gedung perpustakaan. Di sanalah Raib mendapatkan segala jawaban atas semua rasa penasarannya. Oleh Av, Raib diberi sarung tangan yang dapat menyerap cahaya, sedangkan Seli diberi sarung tangan yang dapat mengeluarkan cahaya. Sementara itu di luar gedung, Tamus dan pasukannya (pasukan bayangan) telah mengepung, merangsek, dan terus mendesak untuk dapat memasuki ruangan terlarang yang sedang Raib masuki. Ilo mengantar Raib dan kawan-kawan ke vila peristirahatannya guna menghindari Tamus. Namun seluruh sistem transportasi yang ada di Klan Bulan telah disabotase oleh Tamus. Beruntung Ily, putra sulung Ilo, menyelamatkan mereka  dari kejaran pasukan bayangan melalui sistem transportasi yang dioperasikannya.

Setelah kucing-kucingan dengan pasukan Tamus di Klan Bulan, akhirnya Raib dan kawan-kawan masuk perangkap Tamus di Perpustakaan Sentral. Tamus tidak pernah bermaksud menguasai seluruh klan yang ada di dunia. Ia hanya menginginkan agar Raib menyerahkan buku PR Matematika miliknya yang merupakan buku kehidupan dan berisi kebijakan-kebijakan hidup. Kemudian Raib diminta untuk membukakan penjara bawah bayangan demi mengeluarkan Si Tanpa Mahkota yang telah terkurung selama ribuan tahun di dalamnya. Menurut pemaparan Tamus, Tanpa Mahkota adalah kakek kakeknya Raib. Selama ini Tanpa Mahkota telah mendapat perlakuan yang tidak adil dari ayahnya yang merupakan Raja Klan Bulan dan rakyat Klan Bulan yang telah menganggapnya jahat. Tamus juga menceritakan kalau kedua orang tua yang telah membesarkan Raib selama ini bukanlah orang tua kandung Raib. Kedua orang tua kandung Raib tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat ketika Raib masih bayi. Lantas, bagaimanakah kisah petualangan ini berakhir? Mungkinkah Raib bersedia mengeluarkan Tanpa Mahkota dari penjara bawah bayangan? Mendingan baca aja sendiri ceritanya ya, hehe…

4. Bulan
Ini merupakan sekuel dari novel Bumi. Masih menggunakan sudut pandang yang sama dengan Raib sebagai tokoh utama. Cerita ini dimulai dengan kehidupan Raib, Seli, dan Ali sekembalinya dari Klan Bulan. Enam bulan lamanya mereka menjalani kehidupan layaknya manusia bumi yang normal, tentu saja tanpa kekuatan. Miss Selena yang telah cuti mengajar karena harus menyelesaikan berbagai persoalan di Klan Bulan, akhirnya kembali menemui mereka. Miss Selena bermaksud mengajak Raib ke Klan Matahari guna berdiplomasi dengan para penguasa di sana mengingat mungkin saja sebelumnya Tamus telah mengajak para pemimpin di setiap klan untuk tunduk kepada Si Tanpa Mahkota. Ali dan Seli tidak mau ketinggalan, apalagi Klan Matahari adalah tanah leluhur Seli. Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Raib, Seli, Ali, dan Ily (yang diutus menggantikan Ilo) didampingi Miss Selena dan Av. Setibanya di sana mereka disambut meriah oleh rakyat Klan Matahari. Kedatangan mereka bertepatan dengan Festival Bunga Matahari, di mana 9 fraksi di klan tersebut akan berkompetisi mencari bunga matahari pertama yang mekar pada hari ke-9. Di luar dugaan Raib dan kawan-kawan mendapat kehormatan menjadi kompetitor ke-10 dalam pencarian bunga tersebut. Awalnya Av sangat marah kepada teman korespondensinya. Tetapi Dewan Konsil Klan Matahari akan menolak diplomasi bila permintaan mereka tidak dikabulkan.

Maka dimulailah kembali petualangan Raib dan kawan-kawannya. Sebagai sarana transportasi mereka diberi harimau-harimau putih sebagai tunggangan, yang sebenarnya didatangkan dari Klan Bulan ribuan tahun yang lalu (Jadi inget sinetron 7 Manusia Harimau nih). Av dan Miss Selena tidak ikut serta karena mereka harus berdiplomasi dengan Dewan Konsil. Ketua Konsil memberi keempat remaja tangguh itu petunjuk berupa teka-teki yang mengharuskan mereka bergerak ke utara mencari seruling tak berkesudahan. Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh. Sementara hari mulai gelap dan mereka tidak menemukan perkampungan penduduk untuk bermalam. Beruntung mereka menemukan sebuah rumah di tengah peternakan lebah. Pemilik rumah itu bernama Hana-tara-hata yang berhati baik dan mempersilakan Raib bersama kawan-kawannya untuk bermalam di rumahnya. Hana sempat bercerita kalau putranya yang bernama Mata, meninggal saat mengikuti Festival Bunga Matahari. Keesokan harinya rombongan Raib melanjutkan perjalanan. Sebelum berpisah, Hana sempat berpesan kepadanya agar Raib mau mendengarkan alam, ikuti suara alam. Dalam perjalanan ke arah utara, kelompok Raib melewati hutan di mana sekawanan gorilla mengamuk menyerang mereka. Burung-burung kecil yang lucu tetapi pemakan daging turut menyerang di hutan berikutnya. Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah air terjun yang memancarkan cahaya pada malam hari. Di sanalah Raib mendapatkan petunjuk berikutnya yang mengharuskan mereka bergerak ke arah timur. Berbagai macam ujian dan tantangan mereka hadapi mulai dari teka-teki seorang nelayan di sebuah dermaga tua, monster gurita yang kerap menyerang penduduk, terpisah dari harimau-harimau tunggangan setelah melewati bendungan besar yang jebol karena pintu air dibuka oleh Fraksi Salamander yang sengaja ingin menyingkirkan kelompok Raib, diusir penduduk di Perkampungan Sawah karena tidak menyukai Festival Bunga Matahari, melewati lembah jamur beracun yang dapat meledak dan menebarkan serbuk yang dapat membutakan mata, hingga bertempur melawan ratusan tikus raksasa di Lorong Tikus Bawah Tanah.

Seharusnya kelompok Raib keluar sebagai pemenang jika saja mereka tidak dicurangi oleh fraksi penunggang salamander. Sempat terjadi kekeliruan tujuan terakhir mereka. Ali menduga kalau Kota Ilios merupakan tujuan terakhir mereka. Namun dalam 6 jam terakhir sebelum bunga matahari itu mekar, Raib menyadari bahwa mereka seharusnya berjalan menuju peternakan lebah milik Hana. Benar-benar di luar dugaan, padahal pesan yang disampaikan oleh Hana beberapa hari lalu merupakan indikasi dari jawaban yang sedang Raib cari. Seli kehabisan tenaga menjelang detik-detik terakhir tujuan mereka hingga akhirnya ia terjatuh pingsan di atas harimau tunggangannya. Kedatangan Raib dan teman-temannya tengah dinanti-nantikan oleh Ketua Konsil yang ternyata memiliki niat busuk. Meskipun Fraksi Salamander telah memenangkan kompetisi, Ketua Konsil mendiskualifikasi mereka atas kecurangan yang telah mereka perbuat. Ketua Konsil bahkan membunuh kapten fraksi tersebut. Pertempuran pun tak terelakkan. Ali yang berubah menjadi gorilla pun tak berhasil mengalahkan Ketua Konsil, begitu pula halnya dengan Ily yang akhirnya tewas terkena serangan Ketua Konsil. Ketua Konsil menginginkan Raib yang memetik bunga matahari. Tujuannya adalah ingin membukakan penjara bawah bayangan guna membebaskan Si Tanpa Mahkota. Nah lho, benar-benar kejutan kan? Lantas bagaimana akhirnya, apakah Si Tanpa Mahkota berhasil dibebaskan? Ayo, ayo, buruan ke toko buku atuh!

Dari sekian novel yang udah gue baca, gaya bahasa yang disampaikan Tere Liye sebenarnya mudah dicerna. Banyak majas personifikasi dan metafora yang disebutkan seperti kalimat, “Malam membungkus kota”, “Hujan membasuh bumi”, dan lain sebagainya. Tetapi banyaknya repetisi (pengulangan) kalimat-kalimat tersebut tidak jarang malah membuat pembaca merasa bosan. Untuk membaca ‘Bumi’ aja gue mesti menunda baca gara-gara gue ngerasa bosan baca episode-episode (bab) awal sampai dua minggu lamanya. Pas udah di tengah cerita baru mulai seru, gue pun ngulang lagi bacanya sampai habis selama 20 jam nonstop.

Kalau baca novel Bulan, gue justru ngerasa banyak kejanggalan baik dari segi alur, latar, dan penokohan para karakter. Bukan maksud gue mencari-cari kesalahan Tere Liye sih, karena pada dasarnya gue suka banget baca serial Bumi dan Bulan, malahan gue udah nggak sabar baca sekuel selanjutnya: Matahari (dan mungkin juga Bintang #Ngarep). Mau tahu kejanggalan apa aja yang gue temukan di novel Bulan? Simak ya:

1. Bahasa Klan Matahari hanya Seli dan Av yang mengerti. Tapi pada adegan-adegan tertentu, Raib-Ali-Ily dibuat seolah-olah mengerti bahasa tersebut. Nelayan yang ngasih teka-teki di dermaga tua kok nggak curiga kenapa Seli berkali-kali menerjemahkan bahasa yang si nelayan pake ke teman-temannya? Terus pas detik-detik terakhir menuju rumah Hana, Seli kan pingsan duluan, lha yang nerjemahin omongan Fraksi Salamander sama Ketua Konsil siapa ya? Apa mungkin Hana sama Av yang translate tapi nggak ditulis sama Bang Tere adegannya?

2. Gue sebenarnya agak bingung dengan setting waktu di Bumi dan Bulan. Bulan bersetting di musim ulangan akhir semester, hal ini berarti bulan Desember. Tapi disebutin juga kalau itu adalah akhir dari musim hujan, di mana seharusnya ada di bulan Maret. Enam bulan lalu adalah kejadian Bumi, anggaplah itu bulan Juli, tetapi di Bumi disebutin bahwa saat itu sudah dua bulan sejak tahun ajaran baru maka seharusnya bulan September (dan ini cocok dengan musim pada buku tersebut) Oke anggaplah September dan Maret adalah benar dan ulangan yang dimaksud adalah ulangan tengah semester, bukan ulangan akhir semester. Masalahnya pada akhir ulangan tengah semester enggak ada libur dua minggu (sekolah mana punya kurikulum kaya gitu?)

3. Selain itu, sedikit banyak pertanyaan di buku Bumi sudah terjawab. Mengenai orang tua Seli, alasan kenapa Raib suka banget sama pelajaran bahasa, kekhawatiran pembaca terhadap Tamus. Memang enggak semua pertanyaan sih, seperti siapa orang tua Raib yang sebenarnya, kenapa mereka bisa mengalami kecelakaan pesawat dan lain-lain. Tapi, jujur aja gue lebih penasaran sama keluarga Ali daripada Raib. Masih menjadi misteri kenapa orang tua Ali bisa enggak peduli sama anak supercerdas sekaligus bermasalah, dan masih menjadi misteri kenapa Ali bisa menjadi beruang.

4. Klan Matahari mempunyai teknologi yang lebih maju dari Klan Bulan apalagi Klan Bumi. Meski begitu, teknologi ini hampir hanya dimiliki Kota Ilios. Permainan politik bikin daerah lain justru tertinggal. Teknologi mereka nggak jauh berbeda sama teknologi yang ada di Klan Bumi. Awalnya gue kira, poin ini menjadi kekurangan buku ini karena penjabaran tentang betapa majunya Klan Matahari jadi sedikit. Untungnya, ketimpangan ini bukan tanpa alasan dan masih punya kaitan erat dengan ceritanya sendiri.

Gue rasa cukup dulu ulasan dari gue soal novel-novelnya Tere Liye. Secara keseluruhan gue tetap suka karya-karyanya karena banyak berisi pesan moral dan nasihat-nasihat bijak tentang kehidupan yang harus diikutin. Gue berharap semoga novel Matahari segera terbit dan gue bisa baca. Thank you udah singgah di mari, and sorry kalo tulisan-tulisan gue bikin kalian semua pada ngantuk. Have a nice day ya, jangan lupa tinggalin jejak di bawah walaupun cuma say ‘hi’ doank. See you^^

Ketika Langit Tak Lagi Biru

Pernahkah kalian merindukan matahari seperti apa yang sedang kurasakan?
Sudah sebulan ini aku tak melihat langit biru seperti biasanya
Matahari yang hangat menyinari dunia begitu indahnya
Dan bintang-bintang yang menghiasi malam bagai untaian mutiara di angkasa
Semua yang kulihat di sekelilingku begitu putih menyelimuti
Udara yang kurasakan membuatku pengap
Napasku kian sesak, dan tak urung membuatku perih
Kapan musibah ini akan berakhir?

STOP!

Kabut tebal yang menyelimuti Kota Palangka Raya

image

Pagi ini gue bangun dengan setumpuk cucian di depan kamar mandi. Gue harus segera menjemur sebelum hari semakin siang. Selama dua minggu berturut-turut semua sekolah diliburkan. Kabut asap melanda negeri gue. Pembaca udah sering nonton berita di tv kan? Kalimantan jadi trending topic lagi, pemirsa!😉 Sepanjang bulan Agustus lalu gue masih asyik nimatin perjalanan bolak-balik dari Balai Riam ke Pangkalan Bun. Tapi sekarang udah nggak bisa lagi lantaran kabut asap yang begitu tebal. Cucian yang gue jemur sangat susah kering karena nggak ada sinar matahari yang menyerapnya. Kalaupun kering,  jemuran gue pada bau apek terkena asap. Percuma aja pake pewangi seember juga.

Terkadang orang Indonesia baru sadar bahwa sesuatu itu amat penting bagi mereka di saat sesuatu tersebut mulai hilang dari hadapan mereka. Matahari contohnya! Selama matahari ada bersinar dengan teriknya, orang-orang sering protes dan mengeluh berlebihan. “Uuh, panas banget kaya di neraka! Neraka bocor kali ya?” (emangnya situ pernah ke neraka?), “Matahari panas banget sih, coba turun hujan aja!” keluh sebagian warga di kampung gue beberapa bulan lalu. Mereka sering mengupdate status di berbagai media sosial. Padahal, mereka sama sekali nggak nyadar coba kalau nggak ada matahari apa bisa jemuran mereka kering? Apa bisa tanaman yang mereka pelihara berfotosintesis? Apa bisa mereka menikmati ikan asin yang dijemur para nelayan? Enggak kan? Lol *berlagak sok bijak ya gue*

Gue jadi ingat tulisan Mbak Feli di blognya tentang musim dingin di Norwegia. Di sana matahari benar-benar dihargai. Sepanjang musim dingin orang-orang Norwegia selalu merindukan matahari sebab langit selalu kelihatan mendung sepanjang musim dingin. Begitu sommer (musim panas) tiba, orang-orang pada asyik berlibur menikmati indahnya dan hangatnya cahaya matahari. Orang-orang lebih suka beraktivitas di luar rumah sepanjang musim panas berlangsung. Perasaan ini yang sekarang lagi gue rasain di Kalimantan. Gue kangen banget sama hangatnya sinar matahari. Gue kangen berjemur di bawah terik matahari pagi supaya gue nggak kekurangan vitamin D.

Gue gak habis pikir sama bc (broadcast) yang disebarkan orang-orang via BBM. Mereka menulis meminta pertanggung-jawaban pemerintah atas kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatra. Hellooooo… ini yang salah siapa, yang bertanggung jawab siapa! Kok bisa-bisanya para netizen menulis sekeji itu? Gue nulis artikel ini bukan sekadar mengeluh soal keadaan di kampung gue. Tapi gue juga ingin meluruskan supaya para netizen berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai ada pihak tertentu yang menjadi kambing hitam. Gue di sini sebagai pihak yang fair dan objektif. *Serius loe, Gih?* (pembaca mikir sambil ngupil).

Jadi gini, sepengamatan gue kalau musim kemarau semakin panjang, biasanya mayoritas penduduk di Kalimantan (dan mungkin juga di Sumatra) pada ngebakar kebun atau hutan buat buka ladang baru. Di samping tujuan mereka, dengan pembakaran tersebut diharapkan asap yang dihasilkan bisa berubah menjadi awan mendung di langit hingga kemudian bisa menurunkan hujan. Sayangnya pemikiran yang demikian simple itu terlalu awam bagi masyarakat di sini. Mereka tidak berpikir kalau asap bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Hasil pembakaran juga sebenarnya bisa membahayakan bagi semua orang. Mereka tidak tahu kalau asap pembakaran menghasilkan zat asam dan kloroflorokarbon yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Kalau sudah begini, tanaman tidak akan tumbuh subur melainkan mati seketika. Saking gersangnya tanah di Kalimantan pada musim kemarau, percikan api sangat mudah merembet dari satu lokasi lahan ke lahan yang lain. Jangan remehkan ranting kayu sekecil apapun. Api juga dapat timbul karena terjadinya gesekan antara sepotong ranting dengan ranting lain, kemudian menjalar membakar dedaunan kering dan alang-alang yang yang telah menguning. Kebakaran pun semakin besar hanya dalam hitungan menit bahkan detik.

Peraturan dibuat untuk dilanggar

image

Terus, kenapa pemerintah yang disalahkan atas kejadian ini? Kenapa pemerintah diminta bertanggung jawab atas musibah ini? Memangnya pemerintah yang telah sengaja membakar lahan? Atau jangan-jangan warga marah kepada pemerintah hanya karena pemerintah tidak memberikan bantuan pemeliharaan tanaman, memberikan pupuk gratis misalnya, atau membantu membuatkan saluran irigasi untuk warga? Wah, picik sekali ya kalau begitu. Seharusnya masyarakat sadar kalau selama ini pemerintah telah berperan aktif dalam pemeliharaan dan pelestarian alam. Banyak sekali hutan konservasi dan cagar alam yang dibuat oleh pemerintah guna melestarikan alam. Pemerintah juga telah membuat undang-undang pelestarian hutan yang seharusnya dipatuhi oleh masyarakat. Kendati sekalipun sayangnya belum semua masyarakat Indonesia sadar lingkungan, terutama Undang-Undang Pelestarian Hutan. Padahal berbagai sosialisasi telah pemerintah lakukan hingga pemasangan papan peringatan di sepanjang tepian hutan.  Semua demi kebaikan seluruh warga negara Indonesia. So, sebaiknya dalam keadaan seperti ini jangan saling menyalahkan ya! Think it wisely! Semoga musim hujan segera datang menumpas kabut asap yang melanda negara kita. Amin. 

Sebuah perahu sampan teronggok di bibir sungai yang mengering

image

Biasanya sungai akan dikeruk diperlebar pada musim kemarau

image

Stop pembakaran hutan!

image

Rawa yang menjadi tempat mencuci darurat, kotor tercemar

image

Kabut yang menyelimuti hutan Kalimantan

image

Amati, matahari begitu kecil tertutup kabut!

image

Jalan dari dan menuju kampung gue, full of dust

image

Setiap hari wajib pakai masker!
image

image

Pohon ketapang yang meranggas

image

Lapangan bola di kecamatan, gersang tanpa rumput

image

Kabut pagi yang menyelimuti pelabuhan speedboat Sukamara, membuat aktivitas pelabuhan terhenti

image

Jalan di kampung gue pagi hari
image

image

Silakan lihat juga:

Keluhan dan Doa Seorang Pramugara Tentang Kabut Asap di Palangka Raya

Inilah Bimbel Gue!

image

Kali ini gue mau cerita soal bimbingan belajar (bimbel) gue yang udah gue diriin sebelas tahun lamanya. Pembaca mungkin banyak yang nggak percaya kalo bimbel gue udah berdiri selama itu. Sehebat apa sih bimbel yang gue punya, dan kok bisa bertahan begitu lama? Well, simak cerita gue selengkapnya aja! Sorry kalo tulisan gue kali ini nggak ada unsur komedinya. Gue mau serius cerita sama kalian semua. Araseo? (Ceileh, sok jago Bahasa Korea ya gue :)).

Seperti yang udah gue ceritain dari postingan gue terBAHEULA, bimbel gue ini gue dirikan secara nggak diduga. Ini semua di luar planning gue. Tahun 2004 gue hijrah ke Kalimantan, awalnya bukan buat ngediriin bimbel. Melainkan buat cari kerja jadi karyawan perusahaan minyak kelapa sawit. Niatnya sih waktu itu gue mau ngelamar jadi operator di perusahaan yang namanya PT. KSK (Kalimantan Sawit Kusuma), perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di Kalimantan. Tapi Om gue ngelarang keras lantaran gue pake kacamata minus. Emangnya kalo pake kacamata minus gak boleh kerja gitu? Kenyataannya gue perhatiin banyak banget karyawan PT. KSK yang pake kacamata. Gak tahu kali ya cowok yang pake kacamata minus itu tampangnya manis-manis (kaya gue, Afghan Syahreza, sama Pradikta Wicaksono 😎 ). Sampe sekarang gue gak tau pasti kenapa Om gue waktu itu ngelarang keras gue ngelamar ke sana. Sampe akhirnya gue ikut kerja sama paman gue yang lain, paman yang jadi Bapak Pembangunan (alias developer) di kabupaten tempat tinggal gue. Meskipun begitu, gue nggak dapet bagian yang enaknya kok. Gue jadi kuli. Beneran gue jadi kuli! Aneh? Tugas gue ngegali tanah buat bikin kuburan gue sendiri nimbun pondasi mesjid yang lagi dibangun di Desa Pangkalan Muntai. Sumpah, ternyata berat banget! Gue harus nyangkul tanah yang kerasnya minta ampun (berhubung lagi musim kemarau), terus dibawa ke mesjid pake angkong yang jaraknya 200 meter dari lokasi penggalian. Yang bikin gue berat adalah kerasnya si tanah. Gue heran, kok bisa tanah lempung jadi sekeras batu? Pake formalin kali ya? 😅 Alhasil tangan gue lecet semua dan kapalan (ini baru cowok sejati 💪). Tapi gue gak betah kerja di sana. Kampung tempat kerja gue sepi banget, dan gue gak punya passion di bidang seni bangunan. Haha… gak bakat jadi tukang kali ya 👷🏰 .

Akhirnya seminggu kemudian gue balik ke rumah bibi gue. Kebetulan tahun ajaran baru sekolahnya adek sepupu gue yang kelas 4 SD, baru aja dimulai. Gue lihat di rapornya adek sepupu gue itu nggak ada pelajaran Bahasa Inggris. Gak tahu dapet inisiatif dari mana, gue langsung ngedatangin rumah kepseknya buat ngelamar jadi menantunya. Eh salah deng, maksud gue buat ngelamar jadi guru Bahasa Inggris di sekolahnya. Gue nggak bawa ijazah, apalagi surat kawin. Tapi Alhamdulillah, gue langsung diterima sebagai guru volunteer sama Pak Kepsek. Manakala waktu itu gue juga masih terbilang anak kemaren sore, soalnya kan gue baru aja lulus SMA. Gila, berani banget ya gue ngelamar jadi guru? Inilah petualangan pertama gue menjadi penerus Engkong Oemar Bakri (ngikutin lagunya Om Iwan Fals: Oemar Bakri… Oemar Bakri…). Tapi Engkong Oemar Bakri masih mending, berangkat ke sekolah naek sepeda ontel jadi pegawai negeri pulak! Nah gue, ke sekolah aja selalu jalan kaki. Gempor  deh kaki gue setiap hari. Engkong, sepedanya warisin atuh ke gue :oops::| .

Sejak gue ngajar di sekolahnya adek sepupu gue, bibi gue nyaranin supaya gue buka les juga di rumah. Soalnya waktu itu belum ada satu orang pun guru yang membuka usaha bimbingan belajar. Gue pikir, kenapa enggak? Toh, selama gue SMP dan SMA di Bogor, gue udah biasa ngajar les privat anak tetangga gue yang masih SD. Jiwa pendidik gue kembali bangkit. Darah ‘guru’ para leluhur gue nurun ke gue. Emang udah suratan Illahi kali ya, gue harus jadi seorang guru di Kalimantan.

image

Baru sehari buka les, murid gue udah terkumpul sebanyak 40 orang. Wow, luar biasa sekali bukan? Itu artinya perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan lumayan tinggi. Gue semakin semangat buat ngejalanin bimbel sampe seterusnya. Meski pelanggan gue terbilang banyak, tapi waktu itu gue masang tarif lumayan murah cuma Rp20.000,00 perbulan. Demi peningkatan penghasilan, gue terus door to door nyari tambahan pelanggan supaya bimbel gue semakin rame. Gue rela berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya (sumpah sakit banget, karena nggak ada angkutan umum di sini).

Tok! Tok!

“Ya, ada apa ya?” tanya pemilik rumah.

“Permisi Bu, maaf mengganggu. Apakah Ibu punya anak yang sedang bersekolah di SD atau SMP?” kata gue sopan.

“Ada. Emangnya kenapa, Mas? Mas mau nyulik anak saya ya?” seloroh si ibu pemilik rumah.

JEBREDT! (pintu pun ditutup).

Ting tong!

“Mau cari siapa?” tanya penghuni rumah berikutnya.

“Saya mau cari…” jawab gue.

“Maaf ya, lowongan pembantu di rumah ini sudah diisi sama saya! Silakan cari rumah lain saja ya!” penghuni rumah itupun ngelambaikan tangannya bak Miss Universe yang habis kecebur got.

Hadeuh… kenapa sih orang-orang di sini pada aneh-aneh? Tapi gue gak gentar dan terus berusaha, maju terus ketokin pintu rumah orang. Keluar masuk hutan dan perkampungan penduduk sampe nyasar di sawitan dikejar-kejar orang utan. Alhamdulillah usaha gue membuahkan hasil. Jumlah pelanggan gue menembus angka di atas 50 orang. LUAR BINASA! (Ups, maksudnya luar biasa pemirsa!). Anak-anak peserta didik gue bahkan banyak yang berhasil menembus peringkat sepuluh hingga tiga besar di sekolahnya masing-masing. Orang-orang mulai berpikiran kalo ternyata bimbel itu sangat penting, mengingat perilaku anak zaman sekarang yang pada malas belajar. Melihat keberhasilan gue dalam mendidik anak, orang-orang sekampung semakin rame berdatangan ngantri sembako buat daftar les sama gue. Saking ramenya bimbel gue, gue sampe nambah jadwal kelas malam. Malahan ada yang enggak keterima sama gue lantaran kelasnya kepenuhan (biasanya gue nampung maksimal 8 murid perkelas). Benar-benar keberhasilan yang luar biasa buat gue. Semakin dikenal dan terbukti kaya apa kualitas gue, gue mulai berani naekin tarif. Tiap tiga semester sekali gue pasti naekin tarif menyesuaikan tingkat perekonomian masyarakat di kampung gue. Yang dulu awalnya cuma Rp20.000,00 perbulan, gue naekin jadi Rp40.000,00 pas tahun 2006. Terus jadi Rp75.000,00 setelah tiga semester berikutnya. Kemudian naek lagi jadi Rp150.000,00 pada tahun 2010 dan Rp175.000,00 perbulan pada tahun 2012. Hingga akhirnya sekarang gue udah masang tarif Rp1.500.000,00 persemester. Tentunya kenaikan tarif ini gue imbangin sama fasilitas yang terus bertambah.

image

Sebenarnya bimbel gue cuma bimbel rumahan yang biasa-biasa aja. Bukan pula bimbel resmi yang punya izin operasional dari Dinas Pendidikan. Waktu itu minta izin sama dinas setempat dianggap masih kurang penting karena daerah tempat tinggal gue adalah daerah terbelakang yang sedang berkembang. Jadi gue belum terlalu mikirin pentingnya dapat izin operasional dari dinas pendidikan setempat. Tapi semenjak enam tahun terakhir, kampung gue semakin banyak perantau yang datang dari Jawa. Dan mereka turut membuka usaha buka bimbingan belajar kaya gue. Di sinilah gue mulai ngerasa izin operasional itu sangat penting demi eksistensi bimbel gue yang paling pertama ada. Meskipun begitu banyak bimbel baru di kampung gue, masyarakat menilai bimbel yang mereka bikin belum mampu menandingi kehebatan bimbel gue (ceileh… sombong amat ya gue 😚). Bimbel yang mereka bikin hanya sebatas ngajarin pelajaran Matematika, IPA, IPS, PKn, dan Bahasa Indonesia. Sedangkan di bimbel gue, hampir semua pelajaran diajarkan terkecuali Pendidikan Agama untuk yang non Islam. Gak mungkin kan gue ngajar pelajaran Pendidikan Agama Kristen, Hindu, atau Budha, sementara agama gue sendiri Islam! Boleh dibilang bimbel gue ini merupakan bimbel yang komplit karena berbagai bahasa asing (Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, dan Italia) menjadi mata pelajaran optional berdasarkan kesukaan para murid. Sementara mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi pelengkap di bimbel gue. Setiap hari murid-murid les gue datang ke rumah membawa laptop pribadi  (dan sebagian lain udah gue sediakan di bimbel). Begitu mereka datang biasanya mereka bakal bertegur sapa sama semua orang di rumah pake Bahasa Inggris atau bahasa asing yang mereka suka.

“Hello, good afternoon teacher. Jal jinaeseoyo?” sapa murid-murid gue yang suka Bahasa Inggris dan Korea.  

“Good afternoon. Ne, jal jinaeseoyo!” balas gue ke mereka.

“Sensei, watashi wa shukudai ga arimasu. It’s very difficult! Oshiete kudasai ne!” celoteh murid gue yang suka ngomong Jepang campur Inggris.

“Hontou desu ka? Let’s try to solve it!” ajak gue ke mereka.

“Lao shi, wo bu ming pai! Please, repeat it once again!” Nah kalo yang ini murid gue yang jago Mandarin.

Keren kan? Kecil-kecil para murid gue udah belajar jadi polyglot niruin gue. Haha… 😆 . Oya selain jago bahasa asing,  banyak murid gue yang berhasil menjadi juara olimpiade SAINS (Matematika dan IPA) lho. Baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi. Beberapa di antaranya ada yang sudah menembus tingkat nasional. Bayangkan, TINGKAT NASIONAL, pemirsa! Kampung gue cuma kampung kecil, bimbel gue juga bukan bimbel berkelas, tapi hasil didikan gue benar-benar ‘JADI’! Kebanyakan murid gue, walaupun sudah berhasil menjadi juara, mereka selalu ngotot sama ortunya supaya terus lanjut les sama gue. Saking ngebetnya senang diajar sama gue, sampe-sampe pernah ada murid gue yang pindah ke kota terus dia maksa ortunya supaya gue ikut pindah sama mereka. Hadeuh… aneh kan? Kalian tahu apa yang terjadi sama murid gue itu sekarang? Dia nggak mau sekolah kalo gurunya bukan gue (ini serius lho! Swear! ✌).

Semenjak munculnya banyak bimbel baru di kampung gue, gue juga gak berhenti meningkatkan kualitas pelayanan gue terhadap pelanggan. Malahan saking dianggap bagusnya kualitas bimbel gue, banyak pelanggan yang berlangganan turun-temurun mulai dari anak pertama, anak kedua, hingga seterusnya. Ditambah lagi tanpa harus bikin iklan ataupun promosi ke sekolah-sekolah, usaha bimbel gue malah dipromosiin sama para pelanggan gue sendiri. Banyak di antara mereka yang mengajak keluarganya buat jadi pelanggan gue juga. Jadi intinya gue udah gak serepot harus door to door kaya dulu lagi. Biasanya para calon pelanggan gue datang sendiri ke rumah karena mendengar promosi dari kerabat mereka soal bimbel gue.

Well, pembaca pasti bertanya-tanya sebenarnya modal bikin bimbel itu gede gak sih? Terus kaya apa manajemennya supaya bimbel kita bisa awet tahan lama dan tetap menjadi primadoni? (maaf, primadonanya lagi izin ke wc sebentar. Hihihi… 😄). Nih, gue kasih tips sama bocorannya ya. Kali aja pembaca ada yang langsung bikin bimbel sehabis baca tulisan ini.

image

1. Tempat bimbel bisa rumah pribadi. Enggak harus di pinggir jalan raya yang rame dilewatin banyak kendaraan. Kenyataannya suara bising kendaraan malah ngeganggu konsentrasi belajar para peserta didik. Kebetulan rumah gue berada di paling pojok sebuah gang (tapi mobil bisa masuk), suasananya sepi nyaris gak ada tetangga, halaman cukup luas, dan banyak pepohonan. Adem, asri, dan teduh bikin murid-murid gue nyaman belajar. Ruang belajar les hanya ada dua ruangan (indoor dan outdoor). Gue sengaja bikin kelas outdoor selain supaya murid-murid bisa menyatu dengan alam, murid-murid juga bisa menghirup udara segar, dan nggak ngerasa jenuh belajarnya.

2. Sediakan fasilitas penunjang pelajaran mulai dari buku paket, buku kumpulan soal, peta, atlas, kerangka manusia, struktur tubuh manusia, globe, CD untuk listening bahasa asing, meja belajar, mikroskop, alat musik, dll. Kisaran biayanya kira-kira Rp3.000.000,00-Rp5.000.000,00.

3. Penataan ruang belajar dibuat senyaman mungkin. Buatlah posisi duduk lesehan supaya para peserta didik nggak terlalu pegal. Ajak para peserta didik menikmati fasilitas yang kita sediakan, misalnya nonton film kartun berbahasa Inggris. Niscaya para murid cepat nyerap bahasa asing yang lagi mereka pelajari. Atau bisa juga ajak mereka nyanyi diiringi piano dan alat musik lainnya. Suasana belajar kaya gini bikin murid nggak ngerasa boring.

4. Kalau bimbel kita pengen dapet izin operasional dari dinas pendidikan, sebaiknya kita bikin izin dulu ke notaris. Persyaratannya antara lain surat keterangan usaha dari kepala desa dan  fotokopi KTP 6 orang: pembina lembaga bimbingan, ketua, sekretaris, bendahara, dan dua orang anggota lainnya. Biaya izin notaris relatif terjangkau, kemaren gue cuma disuruh bayar satu juta rupiah. Sedangkan waktu ngajuin izin operasional ke dinas pendidikan nggak diminta uang administrasi sama sekali alias free. Malahan kalau bimbel kita rutin bikin laporan ke dinas pendidikan, pihak yang terkait di dinas pendidikan bakal ngasih bantuan operasional seperti buku-buku penunjang pelajaran, meja, kursi, dan fasilitas lainnya. Asyik kan?🙂

5. Meskipun bimbel kita udah maju, kita harus komitmen dan konsisten terhadap usaha kita! Para tenaga pengajar harus selalu mau belajar mengikuti perkembangan dunia pendidikan, dan jangan pernah ngerasa ‘mentang-mentang sudah jadi guru, kita sudah pintar, dan nggak perlu belajar!’ itu sih sama aja nonsense! Sejatinya guru itu harus selalu meningkatkan skill, supaya enggak dipandang remeh sama muridnya. Mengajar tanpa belajar itu namanya guru sombong! Belajar tanpa mengajar itu namanya guru malas dan pelit!

6. Kuasai jenis usaha! Lihat usaha bimbel yang menjadi pesaing bisnis kita. Apakah mutu kita berada di bawah mutu bimbel mereka. Kalau iya, cari segera solusinya! Kalau ternyata bimbel kita lebih baik mutunya daripada bimbel sebelah, pertahankan dan terus tingkatkan! Gue pribadi pada prinsipnya nggak pernah memandang orang yang sama-sama buka usaha bimbel sebagai saingan. Toh rezeki itu sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan! Gue selalu menyerahkan segalanya kepada Tuhan, dan ngebiarin semua berjalan apa adanya. Tukang baju aja di pasar nggak cuma ada satu kan? Biarkan konsumen yang memilih. Semakin banyak konsumen yang tahu kualitas kita, niscaya semakin banyak pula orang yang ingin menjadi pelanggan.

7. Buatlah laporan berkala mengenai pemasukan bimbel dan kegiatan bimbel supaya program bimbel menjadi terarah dan berjalan dengan baik! Ada kalanya dana yang masuk dari peserta bimbel harus dialokasikan untuk berbagai keperluan yang menunjang kegiatan bimbel. Usahakan agar dana yang masuk tidak tercampur dengan kepentingan pribadi. Jadi sebaiknya dana pribadi dipisahkan terlebih dahulu.

Well, segitu aja kali ya cerita soal bimbelnya. Semoga tipsnya bermanfaat. Kalo ada yang mau daftar di bimbel gue, gue tunggu lho… Ini alamatnya:

Bimbingan Belajar Sugih
Desa Bangun Jaya
Jalan Raya PT. KSK RT1/1
Kec. Balai Riam
Kab. Sukamara
Kalimantan Tengah 74173

Gallery

image

image

image

image

image

image

Resep Sosis Super Kreasi Chef Sugih

image

Hai semua… Balik lagi nih BJ Sugih dengan tulisan terbarunya. Masih pada kangen sama gue kan? Ya iyalah, secara gue kan orangnya ngangenin. Hilang selama sebulan aja banyak yang pada nanyain. Begitu gue langsung online di dumay (dunia maya, red), eh BBM gue langsung banyak yang ngajakin chat. Khususnya keluarga gue and teman-teman yang tinggal di Jawa. LINE juga ikutan banjir permintaan maen game Let’s Get Rich. Gak tahu deh siapa yang pada ngajakin. Penampakan kali ya? Tapi tetap gue balas ajakan mereka, “Sorry Cuy, gue udah ‘RICH’ duluan sebelum lu ngajakin gue maen. Coba deh lu cari nama gue di kamus Bahasa Jawa-Inggris (Sugih=Rich). Haha… keren kan nama gue?” *Dasar narsis!* WA gue malah bejibun obrolan dari grup ibu-ibu RT yang suka ngomongin kegantengan gue (Hueek… pembaca pada muntah). FB juga penuh sama notifikasi sampe 500 lebih. Kebayang gak, gimana capeknya gue buka notif satu-persatu? Beuh, jari tangan gue sampe keriting buat ngebalasin pesan-pesan yang masuk ke inbox FB gue. Ada yang mau mijitin? Hahay… ngarep!😀

“Gih, lu ke mana aja? Kehabisan paket yah?” hmm, pertanyaan kaya gini mah kayanya ngeledek kali ya? Gue kan orangnya gak bisa hidup tanpa internet. Paling gak bisa tahan kalo paket internet gue habis biarpun cuma baru semenit. Kalo paket internet gue habis dan gue lagi nggak punya duit, hati-hati aja gadget lu bakal gue embat supaya gue tetap bisa eksis. (Pembaca langsung pada kabur). Eh enggak deng, gue bukan tipe orang yang kaya gitu kok. Kalo gue gak punya pulsa, gue kasih deh hp gue sama lu. #Gue mah gitu orangnya.  🙂

“A Ugih… dirimu ke mana saja? Bersemedi di Gunung Sinabung kah? Bentar lagi tuh gunung mau meledak, dirimu belum kawin maka!” duuh… nih sepupu gue resek banget kirim chat kaya ginian. Bikin gue nyesek. Nyindir banget! Gak tahu apa kalo abang sepupunya ini sekarang udah punya calon. *Calon apa Gih? Calon RT ya?* (pembaca sok tempe, bosen kalo ‘tahu’ terus). Calon bini lah… 👰

“Gih, lu pindah ke kutub utara ya? Apa jangan-jangan lu udah migrasi ke bulan? Kaya apa di sana? Sinyalnya bagus banget ya, sampe-sampe BBM gue silang terus!” heuh, ini juga kepo banget sih! Yang ini BBM dari teman kuliah gue yang udah married dan tinggal di KalBar sana (Kalimantan Barat, red). Doi emang suka banget ngeledekin gue, tapi kalo udah puas ngolokin ujung-ujungnya selalu berakhir di topik minta dicariin kerjaan buat dia. Doi orangnya gak betahan sama kerjaan, Bray! Tiap tiga bulan doi pasti minta resign. Heran, apa gak capek ya keluar-masuk kandang orang? Ups… mari kita lupakan chat yang satu ini. *Lu sebenarnya ngomongin apa seh?* (Pembaca mangap sambil jungkir balik).😮

Dan seperti biasanya berhubung gue ini orangnya baik hati, tidak sombong, dan selalu pengertian chat-chat gokil di atas selalu gue balas dengan emoticon big smile yang super gede. Kaya gini nih…

image

Tuh, caem kan senyuman gue…😉

image

*Hey, ini mo ngomongin soal chat apa sosis sih? Judul sama tulisan kok nggak nyambung ya!* (Pembaca kelaparan) 😴. Ups, duibuqi… duibuqi… duibuqi ya pembaca. Pembaca nggak tahu ‘duibuqi’? Itu Bahasa Mandarin, dibacanya ‘tui pu ci’, artinya ‘maaf’. Oke? *Owh, kirain teh poci Gih* (pembaca nyeletuk lagi). Jadi kaitannya obrolan atau chat gue di medsos adalah, belum lama ini gue ketemu sama temen lama gue waktu SMP. Enggak ketemu langsung sih, ketemunya cuma di dumay. Dulunya doi cewek tomboy abiez. Gayanya laki banget. Saking lakinya, doi sering ngajakin berantem. Cynthia Rokrok juga kalah deh kalo disuruh adu tinju sama dia. Jangan bilang kalian gak tahu siapa Cynthia Rokrok ya! Doi aktris film kungfu terhebat yang pernah ada. Malahan dulu pernah shooting di Indonesia. Keren kan? *Terus kenapa malah disuruh adu tinju sama temen lama lu itu? Kan Cynthia Rokrok cuma jago kungfu* Engh… anu, sebenarnya temen lama gue itu juga gak bisa tinju. Doi dulunya cuma jago ngupil di kelas. Kali aja kalo disuruh adu tinju sama Cynthia Rokrok, doi langsung ngeluarin jurus seribu upil. Gue jamin teman lama gue itu bakal menang jadi juaranya. Hehe…  :D

Oke to the point aja ya, berhubung gue udah kepanjangan nulis intronya. Ciee… berasa bikin lagu aja pake istilah ‘intro’ segala. Maklum Bray, gini-gini gue juga kan pernah berguru sama Papa T. Bob. Lagu-lagu ciptaan gue antara lain: ‘Desember Kelambu’, ‘I’m Proud of You, Udin’, ‘Aku Memilih Si Tia’, ‘Kurayu Bidan Nari’, sama ‘All About Database’. Kalo pembaca ada yang pernah dengerin lagu-lagu gue, gue harap kalian mau ngikutin instruksi dari gue: BAKAR SEGERA KASET DAN CD-NYA BESERTA TOKO YANG MENJUALNYA! Biar pasar tambah rame. Hohoho…😛

image

Lho, katanya to the point? Kok masih ngebanyol mulu nih? Okey… okey… gue mau serius ya. Jadi temen lama gue itu, ehem, katanya doi pengen numpang ngetop di mari, orang Betawi kate sebut aje namenye  Meta Prasasti Naudzubilleh… eh nggak deng, nama aslinya gak boleh gue publikasiin dong. Itu kan rahasia negara. Apalagi pake ‘Naudzubilleh’ segale, (Ya Allah ampuni dosa hamba-Mu ini, Ya Allah). Tapi jujur, dari dulu gue masih heran kenapa nama dia pake ‘Prasasti’ segala di belakangnya. Jangan-jangan temen gue entu peninggalan bersejarah kali ye? Atau bokapnya guru sejarah? Tapi kalo gue jadi bokapnya, gue bakal tambahin lagi nama di belakangnya jadi ‘Prasasti Abadi’ supaya namanya dikenang orang sepanjang zaman. Daripada dikasih nama ‘Prasasti Batu Kubur’, paling yang bakalan inget cuma kuntilanak sama genderuwo doank. Hii… peace, peace, ampun ya Met. Jadi sesuai permintaan Meta via chat di BBM, sebagai pembaca setia blog gue ini, gue mau ngabulin request gimana caranya bikin sosis ayam super. Pembaca minat juga? Nah, simak terus postingan gue ini ya! Cekidot… 👇

image

Mungkin di antara kalian ada yang suka makan sosis. Tapi jajan sosis di luar kadang bikin was-was khawatir kalo daging yang diolah adalah daging giling seperti dalam video penggilingan sosis buatan McD yang beredar di YouTube beberapa tahun silam. Aduh, beneran gak tega melihat sejumlah binatang (babi, kambing, kerbau, dan kuda) dijatuhkan dari sebuah bak truk kemudian langsung digiling hidup-hidup ke dalam mesin penggiling tanpa disembelih dan dikuliti terlebih dahulu. Benar-benar bikin mual ngelihatnya. Jijik sekaligus ngeri. Entah benar entah tidak, karena bisa saja video tersebut sebenarnya hanya digadang-gadang oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab guna menjatuhkan citra McD di mata masyarakat, sehingga resto McD tidak laku lagi di Indonesia maupun Malaysia (narrator dalam videonya terdengar beraksen Malaysia). Jadi daripada akhirnya takut kalau itu daging giling yang halal atau bukan solusi yang tepat akhirnya adalah mengolah sosis sendiri di rumah. Setuju? 👌

So, berikut ini bahan-bahan yang harus disiapin buat bikinnya:

1. Setengah kilogram daging ayam cincang;

image

2. Tiga siung bawang putih, haluskan;

image

3. Tiga sendok merica bubuk;

image

4. Setengah kilogram tepung kanji;

image

5. Garam secukupnya;

image

6. Air secukupnya.

image

Cara pembuatan:

image

1. Haluskan separuh daging ayam yang telah disiapkan dengan menggunakan blender!

2. Campurkan separuh tepung kanji yang telah disiapkan! Masukkan air! Haluskan kembali dengan blender hingga ayam dan tepung teraduk rata!

3. Tambahkan potongan daging ayam yang tersisa, dan ulangi petunjuk nomor 2 di atas!

4. Tambahkan garam, bawang putih, dan merica bubuk yang telah dihaluskan, aduk bersama campuran daging ayam dan tepung kanji!

5. Bungkus bahan sosis tersebut dengan menggunakan plastik yang biasa digunakan untuk membuat es mambo atau es lilin! Ikat ujung plastiknya seperti saat membuat es!

6. Kukus sosis yang telah dibungkus dalam panci hingga matang! Bila sudah matang, angkat dan tiriskan! Buka plastik pembungkusnya! Sosis siap untuk diolah lagi menjadi gorengan, tumisan, ataupun sup. Tinggal di-lup juga enak ^_^

image

Keterangan:
-Untuk penggemar sosis daging sapi, daging ayam dapat digantikan dengan daging sapi giling.
-Bagi penggemar keju, bisa pula adonan sosisnya dicampur langsung dengan keju cair. Keju blok dipanaskan hingga meleleh kemudian disatukan dengan adonan sosis dan diaduk rata sebelum dibungkus dan dikukus.
-Berhati-hatilah saat memblender daging ayam, jangan memblender potongan daging yang terlalu besar. Pada saat ngelakuin percobaan, blender emak gue kebakar gara-gara arus listriknya gak kuat. *Wew, apa hubungannya sama potongan daging coba?* 😅

Nah, mudah dan sederhana kan membuatnya? Selamat mencoba ya…  Good luck! 😄

Lima Hotel India yang Bikin Merinding

image

Hallo pembaca semua, gimana kabar kalian selama ini? Sebelumnya gue minta maaf kalo sebulan terakhir gak nulis apapun di blog. Loe semua pada kangen sama gue kan? Haha… pede amat ya gue #Dasar lebay (kata pembaca). But you know, kenapa gue kagak ngeblog selama sebulan ini? Heuh, bulan kemaren gue apes beratz pake tingkat dewa. Kenapa? My Lappie alias laptop kesayangan gue ancur, LCD-nya pecah gara-gara si Lappie jatoh dari tangan gue. Waktu itu gak tau kenapa tangan gue ngedadak kram terus jatoh deh si Lappie dari pelukan gue. Padahal lagi asyik-asyiknya baca postingan teman-teman blogger di WordPress. Loe semua tahu, blog siapa yang paling sering gue kunjungin? Gue demen banget baca ceritanya Mbak Feli yang udah gue anggap kakak gue sendiri. Semua tulisannya ngebahas soal kehidupan di negara Norway yang jauh di Eropa Utara sana. Busyet dah, gaya tulisan Mbak Feli kocak banget ngocol abies. Apalagi kalo udah nyeritain soal sang hubby-nya tercinta. Penasaran mau tau tulisan-tulisannya Mbak Feli? Nih klik aja tautan dari gue ya: http://www.sifelicity.wordpress.com. Selain blognya Mbak Feli, gue juga rajin mantengin blognya Bli Gara yang super cool karena banyak nyeritain tentang daerah-daerah di Indonesia yang pernah dikunjunginya. Beu… benar-benar bikin gue ngiri. Petualangan-petualangannya Mbolang banget. Oh iya, Bli Gara juga rajin update tulisan berbahasa Inggris lho! Gaya tulisannya keren banget, gue mah gak ada apa-apanya. Bahasa Inggris gue kalah sama Bli Gara. Mungkin karena Bli Gara orang Bali kali ya? Secara tiap hari di sana kan bisa ketemu terus sama bule, lancar dah praktek ngomong Inggrisnya. Gak kaya gue, gak pernah bisa nge-increase kemampuan gue lantaran tiap hari yang gue temuin orang utan mulu. Ups, bukan orang utan beneran lho. Maksud gue, orang-orang yang pada hidup di utan. Haha… ketipu semua deh lu pade😛

Selain laptop gue yang rusak berat, hp gue juga pada hari yang sama ketularan ancur. LCD-nya ikutan pecah pas gue ngerogoh kantong celana buat ngeluarinnya pas gue mau nerima panggilan masuk dari seseorang. Tuh hp jatoh lantaran ukurannya yang segede gaban gak muat dalam genggaman tangan gue. Penderitaan gue gak cuma berakhir sampe di situ. *What? Penderitaan? Emangnya lu hidup di zaman penjajahan ya, Gih?* (pembaca gak percaya). Sebelum si Lappie sama hp gue jatoh, power banknya yang gue beli seharga Rp400-ribu gara-gara kena tipu tukang konter (padahal harga aslinya cuman Rp200-ribu) udah rusak duluan. Tiap kali gue mau ngecharge hp, si power bank error kendor gak mau ngalirin arus listrik. Padahal udah gue charge semalaman penuh selama beberapa hari (inget, listrik di tempat gue cuma nyala malam). Dan kesialan gue berakhir dengan rusaknya si Tajima yang datang dari Jepang. Aduh, Mr. Tajima ini jarumnya gak tau kenapa ngedadak patah. Otomatis gue gak bisa ngeliat waktu kalo lagi bepergian. Mana lebaran udah tinggal beberapa hari, plus gue ditinggal sendiri di rumah. Nyokap sama adek gue yang bungsu pada pergi lebaran ke Jawa buat kumpul bareng sama keluarga besar gue di sana, khususnya nemuin adek gue yang udah jadi pramugari. Gue gak bisa ikut sama nyokap, soalnya harus jaga rumah. Kebetulan di kampung gue lagi rawan perampokan. Jadi gue mesti jaga-jaga supaya barang-barang gak ada yang ilang. Terlebih gue juga harus jagain kafenya nyokap yang baru aja dibuka sebulan.

Oke, kayanya gue terlalu panjang nyerocos gak jelas ya pemirsa. Maklum, efek kangen berat sama kalian semua. Pas gue beli tablet baru minggu kemaren, gue kaget banget ngeliat statistik WordPress gue yang ngalamin penurunan jumlah pengunjung secara drastis tapi gak sedikit juga komentar-komentar yang masuk ke tulisan gue. Selama Desember tahun kemaren sampe Mei silam, sedikitnya pengunjung blog gue mencapai angka 2.500 perhari. Bahkan pernah beberapa kali nyampe di atas 3.000 pengunjung.   Halaman yang paling banyak dilirik keseringan soal ulasan serial 7 Manusia Harimau yang lagi booming waktu itu. Tapi setelah memasuki bulan Juni, para peminat serial 7 Manusia Harimau kayanya semakin berkurang. Padahal tim penulis udah gue kasih wanti-wanti supaya jangan bikin kepanjangan ceritanya, and jangan dilebay-lebayin. Nanti penonton bakal bosan. Akhirnya terbukti kan omongan gue? Penonton banyak yang kecewa dan pada malas nonton kelanjutannya. Mending bubarin aja deh, ganti serial yang lain! Tulisan gue yang banyak dibaca orang saat ini adalah : Pramugara-Pramugara Ganteng, sama Kelas Internasional Net.. Jumlah pengunjung blog gue sekarang berkisar seribu pengunjung perhari. Moga-moga aja semakin rajin gue update tulisan gue, jumlah pengunjung dan komentator juga terus meningkat lagi. Amiin.

Ngomongin soal judul tulisan gue di atas, pembaca pasti pada ngira kalo gue lagi jalan-jalan ke luar negeri kan? Terus gue nginep di hotel mewah di India tapi kesannya angker. Wow, kalian semua sebenarnya udah pada kejebak sama judul tulisan gue! Bukan, gue bukan lagi jalan-jalan ke India. Apalagi buat nemuin shaheer Shekh. Haha… meski film-film India lagi marak lagi di tanah air, tapi gue gak terlalu keranjingan buat nonton. Masalahnya channel-channel tv yang nayangin serial India gak ada di tv gue. Gara-gara hujan deras pas lebaran bulan kemaren, sinyal parabola di rumah gue jadi lemah. Dan tukang servis langganan gue lagi mudik ke Jawa. So, gue cuman dapet sedikit channel yang bertahan, antara lain: Net., LBS, DAAI TV, Haari TV, NHK, Trans7, Metro TV, RCTI sama Global. Tapi gak apa-apa, toh channel yang sering gue tonton cuman itu doank. Gak masalah buat gue buat channel yang pada hilang. Eh,kok jadi ngebahas soal tv lagi sih? Kita kan lagi ngomongin soal hotel! Well, fokus lagi sama judul di atas ya… Ngomongin soal hotel, siapa sih yang gak kepengen ngerasain nikmatnya pelayanan hotel bak hidup di surga dunia kalo pas bepergian? Apalagi kalo kelasnya hotel berbintang yang nuansanya serba mewah. Semakin banyak jumlah bintang yang dimilikin sebuah hotel, maka semakin memuaskan pelayanan yang diberikannya. Kata siape? *Gak tau juga deng, gue cuman asal nyeletuk aja* Hoho… maafin blogger yang katrok ini ya, sodara-sodara… (^_^)”

Tapi yang mau gue ceritain di sini bukan hotel sembarang hotel lho, pemirsa. Malah gak ada hubungannya dengan hotel sama sekali. Disebut hotel India juga masih menjadi teka-teki yang sangat misterius. Jadi ceritanya ini bukan kejadian yang pernah gue alamin. *Haah… kejadian? Lu nginep di hotel apa di kuburan sih?* (pembaca kebingungan). Yup! Ini adalah cerita soal nyokap gue waktu balik dari Jawa menuju Kalimantan. Peristiwa ini terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Belum basi kan buat gue ceritain? Waktu itu nyokap sama adek bungsu gue si Firman, mau balik ke Kalteng (Kalimantan Tengah, red) via Palangka Raya. Pengennya sih langsung tujuan Pangkalan Bun. Berhubung tiap hari kala itu gak kebagian tiket, mau gak mau nyokap sama Firman kepaksa naek jurusan Palangka Raya yang sebenarnya jauh banget dari kampung gue. Butuh waktu semalaman lagi naek travel dari Palangka ke rumah gue. Adek gue, Dyah (si pramugari cantik kesayangan nyokap) nganterin mereka berdua sampe ruang tunggu Terminal C Bandara Soetta. Biasalah, namanya juga pramugari, punya akses khusus buat keluar masuk ruang tunggu pesawat asal ngasih lihat ID Card pramugari yang dia punya ke para petugas security check in. Resikonya, Dyah harus rela digodain sama para petugas yang pada genitnya selangit. “Mbak, tinggal di bacht berapa Mbak?” tanya para petugas. “Malam Minggu nanti boleh ngapel nggak, Mbak? Itupun kalo Mbaknya pas lagi nggak terbang ya, Mbak?” goda mereka lagi. Dyah cuman senyum-senyum di kulum digodain kaya gitu. Pas gue mau balik ke Kalteng bulan Maret kemaren juga gitu kan? Pembaca masih pada inget cerita gue yang jalan-jalan ke Jawa nggak? Syukur deh kalo pada lupa, haha…😀

image

Nah, pas giliran nyokap sama Firman mau masuk ke dalam pesawat, Dyah juga ikut nganterin sampe ke depan pintu pesawat. Biasalah, gak rela berpisah sama nyokap. Secara dia kan satu-satunya anak cewek dalam keluarga kami, dan di antara semua anak nyokap, dia satu-satunya anak yang paling manja sama nyokap. Begitu Dyah ngeliat sebuah tulisan di badan pesawat, Dyah tersentak kaget dan berkali-kali nyuruh nyokap buat istighfar sepanjang perjalanan.

“Ma, pokoknya selama di pesawat Mama gak boleh berhenti beristighfar ya! Dyah mohon,” pinta Dyah memelas.

“Ke manapun Mama pergi, Mama gak pernah berhenti beristighfar, Dyah!” cetus Mama menegaskan.

“Pokoknya tolong Ma, teruslah beristighfar! Nanti kalau Mama sudah sampai rumah, akan Dyah ceritain semuanya!” entah kenapa badan Dyah kata nyokap kelihatan gemeteran. Keningnya ngucurin keringat dingin kaya orang ketakutan.

“Emangnya ada apa sih?” nyokap kebingungan.

“Nanti juga Dyah ceritain. Dyah juga akan selalu ngedoain Mama supaya selamat di jalan,” kata Dyah pasrah seraya meluk nyokap sebagai salam perpisahan.

“Iya deh,” sahut nyokap bergegas masuk ke dalam.

Selang dua hari berlalu, nyokap udah sampe di rumah dan aktif beraktivitas seperti sedia kala. Sayangnya nyokap nggak ngelanjutin usahanya di kafe. Banyak pelanggan les nyokap yang datang ke rumah. Mereka memohon supaya nyokap mau ngajarin les anak mereka lagi. Gak tau kenapa para pelanggan les nyokap pada nggak mau anak-anaknya diajar sama gue. Mereka udah ngerasa cocok sama cara nyokap gue ngajarin anak-anak mereka. Ditambah lagi kalo dipasrahin ke gue, anak mereka bakal diomelin terus sama gue saban hari lantaran gue kelewat galak kalo ngajar. Haha… biarpun gue galak, tapi banyak orang yang bilang kalo gue sama nyokap ‘bertangan dingin’. Es kali ah, dingin… bukan nyombong sih, anak-anak yang les di bimbel gue sama nyokap banyak yang berhasil meraih prestasi dan sukses. Gak sia-sia gue ngediriin bimbel selama sebelas tahun. Jadi, akhirnya nyokap malah fokus lagi di bimbel. Usaha dagangnya tetap jalan sih, kali ini kafenya dipindahin jadi kantin di bimbel kami. Lucu kan?

Sesuai janjinya, Dyah nelpon nyokap buat nyeritain apa yang dia sembunyiin pas nyokap mau naik pesawat. Malam itu pikiran nyokap dan Dyah sama-sama lagi tenang. Emosi mereka udah terkontrol dengan baik.

“Ma, waktu dalam pesawat kemarin, Mama ngalamin kejadian yang aneh enggak?” tanya Dyah.

“Eng… apa ya?” nyokap mencoba mengingat-ingat.

“Apa ada kejadian yang ganjil selama dalam penerbangan?” Dyah terus mendesak.

“Oh ada Dyah, Mama baru ingat!” seru nyokap sambil bangun berdiri dari duduk di depan tv.

“Apa Ma?”

“Penerbangan kemarin seharusnya ditempuh selama satu setengah jam. Gak tau kenapa, pesawat yang sudah mau landing dan bandara sudah kelihatan, eh pramugarinya malah nyuruh para penumpang supaya ngencangin lagi sabuk pengaman. Katanya pesawat yang mau landing pada ngantri banyak banget. Jadi pesawat yang Mama naekin malah terbang lagi ke angkasa. Terus pesawatnya muter-muter di langit selama lebih dari satu jam. Kalo dihitung lamanya Mama menempuh perjalanan selama hampir 3 jam. Gimana nggak kesal coba? Mana cuaca di atas mendung banget, dingin lagi,  tapi anehnya pas turun ke darat cuaca malah cerah banget,” ungkap nyokap bernada jengkel.

“Tapi nggak ada kejadian yang mengerikan kan Ma?” tanya Dyah memastikan.

“Enggak ada, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja! Tapi yang Mama nggak ngerti, masa sih pesawat yang mau landing pada ngantri? Padahal waktu Mama turun dari pesawat, di Bandara Tjilik Riwut itu kelihatannya lagi sepi banget. Mama cuma lihat beberapa pesawat aja, bisa dihitung dengan jari. Sekitar lima kalo nggak empat aja!” beber nyokap lagi.

“Mama tahu nggak, pesawat yang Mama naekin itu adalah pesawat LHI?” tanya Dyah serius.

“LHI? Apa itu?” nyokap nggak ngerti.

“Lima Hotel India!” jawab Dyah.

“Hotel India? Maksudnya gimana, Dyah?” nyokap makin bingung.

“Jadi LHI itu semacam kode alphabet internasional. Cuma kru penerbangan aja yang tahu. Itu tuh sebenarnya adalah pesawat jenazah, Ma! Awalnya Dyah ragu waktu ngeliat tulisan LHI di pesawat yang mau Mama naikin. Tapi setelah Mama pergi, Dyah tanya-tanya ke teman-teman Dyah. Mereka bilang kalau itu benar-benar pesawat jenazah,” ungkap Dyah.

“Haah, yang bener Dyah? Kenapa Dyah nggak bilang waktu itu? Mama kan bisa cancel penerbangan Mama kalo tau kaya gitu!” nyokap benar-benar kaget ngedengar penjelasan Dyah.

“Dyah juga gak tahu kalau Mama bakal naik pesawat itu. Kalau dari awal Dyah tahu Mama bakal naik pesawat itu, udah pasti bakal Dyah batalin penerbangannya!”

“Teganya kamu Dyah ngebiarin Mama sama adik kamu naik pesawat jenazah! Emangnya nggak ada pesawat yang lain apa buat ngangkut penumpang? Bukannya pesawat Lion itu banyak?” sela nyokap sedikit kecewa.

“Ini kan lagi arus balik, Ma. Semua pesawat penuh. Sampai akhirnya pesawat jenazah pun terpaksa dipakai demi terpenuhinya pesanan pelanggan. Itulah kenapa Dyah nyuruh Mama supaya jangan berhenti beristighfar sepanjang perjalanan. Soalnya kata senior-senior Dyah, banyak kejadian aneh yang sering terjadi dalam pesawat itu. Katanya sering muncul penampakan pramugari yang mondar-mandir di dalam pesawat. Ada juga bangku yang sebenarnya kosong tapi kelihatan penuh sama penumpang yang sebenarnya juga para penampakan. Malah ada kejadian sering kedengaran suara yang aneh-aneh seperti pengumuman kalau pesawat mau jatuh, jeritan para penumpang yang ketakutan, sama suara ledakan Ma! Para pramugari dan pilot juga banyak yang ketakutan kalau pas dapat jatah bertugas di pesawat itu!” cerita Dyah panjang-lebar.

“Masya Allah…” nyokap semakin terkejut.

“Maafin Dyah ya Ma. Tapi Mama nggak kenapa-napa kan Ma? Mama sehat aja kan?” terdengar suara Dyah begitu cemas.

“Sudahlah, Mama nggak apa-apa kok! Hati-hati ya kamu kalau lagi bertugas! Selalu berdoa dulu sebelum terbang!” imbau nyokap ke Dyah.

“Iya Ma, Dyah juga selalu beristighfar kok!” kata Dyah sebelum akhirnya menutup pembicaraan di telepon.

“Gih, kamu dengar obrolan Mama sama Dyah barusan, kan?” seloroh nyokap mandang ke arah gue yang lagi duduk gak jauh dari tempat nyokap.

Gue bener-bener speechless ngedengar pembicaraan mereka. LHI (Lima Hotel India)? Pesawat yang selalu dirahasiakan oleh para pramugari senior, karena pesawat itu adalah pesawat khusus pengangkut jenazah yang biasa dipakai untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat komersil, atau mengangkut jenazah para WNI yang meninggal di luar negeri. Para kru penerbangan pun tidak akan memilih pesawat ini bila mendapat tugas untuk terbang bersamanya. Oleh karena itu keberadaan pesawat ini sangat dirahasiakan agar para kru yang tidak mengetahuinya tetap merasa aman di kala terbang.

Sedikit gemetar, gue pandangin satu-persatu wajah nyokap sama Firman sambil bilang, ”Ini beneran Mama sama Firman kan? Pesawat yang kalian tumpangi beneran selamat kan? Kalian bukan penampakan yang baru turun dari pesawat kan?”

PLETOK! (sebuah palu nyasar ke kepala gue)

***