Melanjutkan Mimpi


Buku pelajaran Bahasa Jepang semasa SMA

Malam ini aku tak bisa tidur karena memikirkan teteh Syahrini yang cantiknya cetar membahana. Tugas mengisi nilai rapor belum selesai. Akh, K13 (Kurikulum 2013, red) ini amat-sangat menyusahkanku. Bagaimana tidak, rapor ini super detail dalam setiap deskripsi mata pelajarannya. Termasuk semua karakter dan kepribadian siswa harus dijabarkan secara terperinci dan mendalam. Bila kita yang pernah mengenyam kurikulum 1994 hanya bisa melihat nilai finalnya saja, maka dalam rapor K13 setiap mata pelajaran dimuat beserta rincian nilai yang pernah diperoleh siswa selama satu semester. Mulai dari nilai pe-er, nilai tugas porto folio, nilai presentasi, nilai praktik menulis, nilai praktik berbicara, nilai praktik membaca, nilai bla-bla-bla dan seterusnya. DETAIL!
Suasana kegelapan gegara mati listrik turut menyelimutiku diiringi kapasitas batrai si lepi yang tinggal beberapa puluh menit lagi. Lelah dengan pekerjaan yang kulakukan, aku pun memutuskan untuk melanjutkannya besok pagi begitu arus listrik kembali mengalir. Sejenak aku termenung mengingat kalau beberapa waktu yang lalu aku telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku begitu bahagia. Dan, aku tergerak untuk menggoreskan sedikit cerita di balik keberhasilanku itu.
Kalau bukan berkat dorongan Mbak Feli yang selalu sabar menyemangatiku. Juga Mas Adi Wibowo yang selalu memanasiku bahwa dirinya sudah tiba di Jepang lebih dulu. Mungkin aku takkan pernah sampai mengunjungi negeri matahari terbit itu. Ya, seperti yang sering kuceritakan pada postingan terdahulu, aku memang sangat menggilai negara asal kartun Naruto. Mm, bukan berarti aku sangat menyukai Naruto ya. Jauh sebelum itu aku sudah begitu mencintai Jepang layaknya suami yang mencintai istri (ehem). Meskipun pada kunjungan kemarin aku tak berhasil menemui Honami Suzuki, aku akan tetap mencintainya.
Dulu, mimpiku adalah berkuliah di Tokyo Daigaku (Tokyo University) dan mengikuti perkumpulan-perkumpulan mahasiswa seperti yang sering kulihat di dorama-dorama Jepang. Aku mengikuti klub menggambar, klub musik atau klub akting seperti dalam cerita-cerita komik manga. Kemudian aku menikah dengan gadis Jepang yang wajahnya mirip dengan Honami Suzuki atau Aihara Kotoko (tokoh dorama Itazura na Kiss). Kenyataannya, manusia memang hanya bisa berencana. Keputusan tetap di tangan Tuhan. Entah mengapa semua mimpiku itu harus kukubur dalam-dalam sekian belas tahun yang lalu. Jalan hidupku tidak digariskan seperti apa yang kuangan-angankan. Tetapi aku yakin, suatu saat akan tetap ada jalan menuju ke sana. Sekarang, jawabannya telah kutemukan.
Setiap kali membaca manga, aku berpikir kalau orang Jepang memiliki kepribadian yang unik. Di balik watak mereka yang introverted, mereka sangat ekspresif dalam gambar. Goresan-goresan yang mereka tuangkan ke atas kertas memacuku untuk turut berkarya. Cerita yang mereka kisahkan tidak jauh berbeda dengan keseharianku selama ini. Sejak kecil aku sedikit introverted dan tidak begitu supel. Aku cenderung penyendiri dan sering mengurung diri di dalam kamar. Duniaku hanya buku dan televisi. Sampai akhirnya waktu SD aku mengikuti suatu perkumpulan yang anggotanya hanya terdiri dari lima orang. Aku menyebutnya Genk SEDAN (Sugih, Erfan, Dadan, Amar, dan Nico). Andai aku tidak masuk sekolah, apa jadinya nama genk kami? Kami berlima adalah para lelaki yang selalu memperebutkan peringkat kedua di sekolah. Karena bagi kami mendapatkan peringkat pertama adalah hil yang mustahal. FYI, peringkat pertama selalu diduduki oleh anak guru kami-yang berwajah cantik jelita. Kami tak pernah berpikir kalau ‘sang juara’ bisa menempati posisinya karena adanya unsur KKN (Kura-Kura Ninja), sehubungan ibunya adalah seorang guru di sekolah kami. Semua mengakui kalau dia memang sangat intelek dan tak satu pun di antara kami yang berhasil menggeser posisinya hingga kami semua lulus SD. Genk kami pun akhirnya bubar. Kami telah memilih SMP favorit masing-masing.
Memasuki SMP, aku kembali menjadi penyendiri yang hanya gemar menghabiskan waktuku untuk membaca buku. Duniaku hanya sekolah, perpustakaan kota, toko buku, dan tentu saja kamarku. Setiap akhir pekan aku selalu mengunjungi toko buku untuk membeli komik-komik terbaru. Semua serial Detective Conan memenuhi meja belajarku. Usai membaca komik, aku selalu menggurat pensil di atas kertas mengikuti lekuk wajah setiap karakter dalam komik. Aku tahu, aku sangat kesepian. Karena itulah aku berpikir sepertinya kepribadianku tidak jauh berbeda dengan kepribadian orang Jepang. Aku tidak mudah bergaul jika tidak ada yang mengajakku lebih dulu. Aku malu setiap kali harus berbicara di depan banyak orang. Sampai akhirnya, aku berusaha mengubah kepribadianku begitu aku memasuki duniaku yang baru: masa SMA.


Tumpukan komik Detective Conan yang masih kusimpan hingga sekarang

Komik manga yang pernah kubuat ketika SMP bergenre  romance-mistery terinspirasi dari Salad Days karya Shinobu Inokuma 
Saat SMA, aku mendirikan sebuah organisasi English Club bersama sekelompok kakak kelas yang memiliki idealisme yang sama denganku. Kami menamai organisasi kami, LIMIT (Lima English Society). Lima merupakan nama sekolah kami, SMA Negeri 5 Bogor. Kami berkeinginan agar anggota perkumpulan kami berhasil mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri. Tak diduga klub bahasa Inggris yang kami bentuk selalu menjadi ‘the most wanted organization’ di sekolah setiap tahunnya. Lebih dari seratus orang mendaftarkan diri setiap tahun ajaran baru dimulai.
Di luar kegiatan LIMIT, aku terdaftar sebagai anggota ‘Siswa Peduli Buku’. Tugasku adalah membantu pustakawan di perpustakaan sekolah setiap hari. Mulai dari mendata anggota perpustakaan yang aktif berkunjung, hingga menata letak buku yang telah dibaca oleh para pengunjung. Hari-hariku mulai dipenuhi warna yang indah. Lucunya sejak memasuki SMA, hidupku berubah drastis. Aku tumbuh menjadi remaja gaul dan melepas image kuper (kurang pergaulan, red) yang melekat dalam diriku semasa SMP. Aku menjadi sangat sibuk dengan berbagai organisasi yang kuikuti. Tak hanya di sekolah, aku juga aktif menjadi pengurus Bogor English Club yang dinaungi oleh RRI Bogor. Ibuku tak pernah menyangka kalau aku memiliki banyak teman dari berbagai rentang usia. Teman-temanku di Bogor English Club, bukan hanya para mahasiswa IPB tetapi juga banyak orang dewasa yang sudah bekerja mapan sebagai manager bank, dosen IPB, penyiar RRI, dokter hewan, dan lain sebagainya. Pernah suatu kali karena keaktifanku di Bogor English Club, Ibu Sjahandari selaku donatur tetap yang kebetulan berprofesi sebagai manager bank terkemuka di Indonesia, memberiku beasiswa sejumlah uang tunai yang akhirnya kubayar SPP sekolah satu semester.
Tawaran untuk membentuk perkumpulan lain juga datang kepadaku. Melihat potensi bahasa Jepang dalam diriku, guru Bahasa Jepang mengajakku untuk mendirikan perkumpulan yang kami namakan ‘Gofun Dake’, artinya ‘Hanya Lima Menit’. Jadi, dalam perkumpulan tersebut kami semua berkumpul untuk bercerita dalam bahasa Jepang di mana masing-masing anggota hanya diberi durasi lima menit setiap menyampaikan cerita. Tidak seperti LIMIT, Gofun Dake memiliki anggota terbatas. Guru kami hanya memilih anak-anak yang pernah tinggal lama di Jepang (terkecuali saya). Anggota Gofun Dake terdiri dari aku, seorang kakak kelas yang bernama Aryo dan adiknya yang bernama Satria, adik-adik kelasku Hana-chan, Putu-kun, Tina-chan, dan Rangga-kun. Kadang kegiatan kami lumayan iseng. Kami semua gemar menggambar manga. Aku dan Puan (Putu-kun) sering menggambar tokoh kartun Crayon Shinchan, Aryo-kun suka sekali menggambar Gundam, Satria-kun suka Doraemon, Rangga-kun suka Samurai X, Tina-chan suka sekali serial cantik Salad Days, dan Hana-chan sangat gemar Cardcaptor Sakura. Wah, kalau sudah menggambar kami semua akan heboh saling mengomentari dan tertawa lepas bersama karena gambar kami lucu-lucu.
Setiap kali sekolah diliburkan di luar tanggal merah, klub Gofun Dake sering melakukan kunjungan ke kedutaan besar Jepang untuk mencari informasi beasiswa. Kadang juga kami pergi mengunjungi pusat kebudayaan Jepang (The Japan Foundation) hanya untuk menonton film Jepang dan membaca buku-buku bertulisan Kanji. Biasanya kami pergi bersama dengan menaiki kereta. Selain ongkosnya jauh lebih murah, juga dapat menghemat waktu karena tidak macet dan sangat cepat. Kelakuan kami tidak jauh berbeda dengan kebiasaan orang Jepang yang sangat suka jalan kaki. Jadi, setibanya di Jakarta kami semua berjalan kaki mencapai tempat tujuan. Meskipun jauh, kami sama sekali tidak pernah merasa lelah. Kami semua sangat gembira karena melakukannya bersama-sama. Kegiatan lainnya bersama perkumpulan Gofun Dake adalah mengikuti lomba pidato Bahasa Jepang dan menulis kaligrafi Kanji. Aku benar-benar bangga perkumpulan kami selalu menyabet juara dalam setiap event yang kami ikuti. Aryo-kun, Satrio-kun, dan Puan-kun secara bergiliran menyabet juara pertama lomba pidato hingga ke tingkat nasional di Bandung dan Jakarta. Sementara aku sendiri pernah menyabet juara ketiga dalam lomba menulis Kanji dan Cerdas Cermat Bahasa Jepang tingkat Nasional di SMA Negeri 46 Jakarta.
Rasanya aku senang sekali. Dengan berorganisasi aku telah mengubah kepribadianku dari yang semula introverted menjadi ekstroverted. Sepertinya hidupku mengalir seperti cerita dalam komik. Sayangnya aku tidak berhasil membangun chemistry yang baik dengan semua anggota Gofun Dake. Begitu kami lulus sekolah, perkumpulan kami bubar dengan sendirinya. Tak ada lagi penerus-penerus kami yang melanjutkan perjuangan untuk dapat meraih beasiswa ke Jepang. Atau paling tidak, menjuarai kejuaraan yang pernah kami ikuti sebelumnya. Setelah kami lulus, semua anggota Gofun Dake berhasil menggapai mimpi mereka untuk melanjutkan studi di Tokyo Daigaku. Hanya aku yang belum masuk ke sana. Tetapi seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, aku percaya mimpi untuk ke Jepang itu pasti dapat kuraih meskipun tidak berkuliah di sana.
Sejak mimpiku terkubur sekian belas tahun silam, aku tak pernah lagi menggambar. Aku telah keluar dari dunia komik yang selama ini menjadi duniaku. Cita-citaku untuk menjadi seorang mangaka (manga maker) telah kukubur sejak saat itu. Akan tetapi sekarang, setelah aku berhasil mewujudkan mimpiku ini aku mulai bergerak kembali menggores pensil di atas kertas. Mimpiku akan kulanjutkan.
NB: Liputan jalan-jalan di Jepang akan kurapel setelah perjalanan backpacking ke KorSel usai. Jangan lewatkan ya^^

Kembali menggambar manga, belum discan untuk diedit di photoshop^^


Wuah, jueleknya muintah ampwun lebih parah dari gambar anak TK. Bwahahaha…

Advertisements

Hal-Hal yang Bikin Gue Enggan Ngunjungin Semarang Lagi

image

Sebelumnya gue minta maaf sama seluruh warga Kota Semarang kalo tulisan gue kali ini agak kontroversial. Bukan maksud gue buat ngejelek-jelekin Kota Semarang atau warga Semarang sih, cuma kejadian-kejadian yang gue alamin ini membekas dalam di ingatan gue. Tiap kali gue ngelangkah di Kota Semarang, gak tau kenapa gue selalu ngalamin kejadian buruk yang kagak pernah gue pengenin (emangnya ada ya orang yang kepengen ngalamin kejadian buruk? 😰). Dan hari ini tepat sebelas tahun, kejadian buruk pertama yang pernah gue alamin di Semarang. Di sini gue mau berbagi cerita pengalaman-pengalaman gue waktu gue melakukan perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor via Semarang sehubungan rutinitas masyarakat Indonesia yang sebentar lagi mau ngejalanin aktivitas mudik, alias balik kampung. So pesen gue buat kalian semua yang pada mau mudik, ‘be careful’ aja di jalan! Hati-hati kalo beli tiket! Jangan mau dibujuk apalagi sampe dipaksa sama calo! Soalnya mereka itu bisanya cuma bikin kita tambah susah! Jaga barang bawaan jangan sampe berpindah tangan ke tangan orang yang kalian gak kenal! Selalu bersikap santun di manapun kalian berada! Soalnya arus mudik yang padat bikin pikiran orang-orang yang pada kerja di jalanan cepet panas bawaannya maunya emosi mulu. Bilamana perlu bawa es batu yang banyak sekalian biar adem! (Eh enggak deng, yang terakhir ini gue cuma bercanda! Hehe… 😁 ). Well, kejadian apa aja sih yang pernah gue alamin setiap kali napakin kaki di Semarang? Simak deh cerita gue!

Kejadian pertama gue, persis minggu terakhir bulan Juni sebelas tahun yang lalu (2004). Waktu itu gue baru aja lulus SMA dan beres terima ijazah. Umur gue baru 18 tahun. Dan gue kepengen banget nyusul nyokap gue yang lagi ngunjungin keluarga paman-bibi gue di Kalimantan. Ceritanya nyokap udah pergi 3 bulan tanpa kabar. Ya terang aja gue cemas dong! Akhirnya setelah rumah gue di Bogor dikontrakin ke orang, duitnya gue pake buat ongkos nyusul nyokap ke Kalimantan. Sebenarnya sih gue kagak punya alamat rumah bibi gue di Kalimantan (Gara-gara Ayu Tingting ngasih alamat palsu kali ya? 👸). Tapi kata paman gue, asal gue udah sampe di kabupaten tempat tinggalnya, tanya-tanya sama orang di sana juga pada kenal semua sama paman gue. Anjiiir, keren ya paman gue, orang sekabupaten banyak yang kenal! Paman gue terkenal sebagai bapak pembangunan di salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah. Terang aja, lha wong kerjaan paman gue kontraktor! Haha… 👷 😁 Terus yang gue tau dulu paman gue pernah ngasih petunjuk kalo mau ngunjungin keluarganya di Kalimantan, gue kudu naek kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Busyet dah, jauh amat ya? Bogor kan dekatnya sama Jakarta, tapi kenapa gak ada kapal yang berlayar ke Pelabuhan Panglima Utar,  Kumai-Kalimantan Tengah dari Pelabuhan Tanjung Priuk? (Tolong diurus ya Pak Ahok dan Pak Ignatius Jonan! ). Akhirnya jadi deh gue berangkat ke Semarang dulu dengan menumpangi bis malam Limex (Limas Express). Waktu itu harga tiketnya masih Rp50.000,00 non AC, kalo yang AC sih Rp75.000,00. Berhubung gue orangnya pengiritan, gue pilih yang non AC. Bis yang gue tumpangin berangkat dari Bogor jam 4 sore. Gue baru sampe di Krapiak-Semarang sekitar jam 2 dini hari. Jujur, ini kali pertama gue keluar dari provinsi Jawa Barat dan JaBoDeTaBek. Sebenarnya sih pas gue masih baby gue juga pernah ke Riau kok, tapi kan waktu itu gue belum ngerti apa-apa. So, dimulailah petualangan masa remaja gue. Yippi… 🙌 gue seneng banget lihat-lihat pemandangan Kota Semarang malam hari. Cantik banget, Bro! Gedung-gedungnya artistik banget perpaduan bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda sama bangunan modern khas Indonesia. Taman-taman kotanya juga kelihatan mantap. Lampu-lampu kota gemerlap warna-warni bikin gue takjub gak ada habisnya. Begitu gue turun dari bis, tangan gue ditarik-tarik sama seorang supir taksi yang maksa banget minta gue jadi penumpangnya. Tas gue juga langsung dimasukkin gitu aja kebagasi belakang mobilnya. Badan gue didorong sama si supir ke dalam kursi penumpang bagian depan. Okelah gue mau jadi penumpang taksi loe! Si supir langsung tancap gas tanpa nanya terlebih dahulu tujuan gue mau ke mana. Pas udah beberapa meter gue baru nyadar kalo taksi yang gue naekin nggak ada argonya! Kumaha ieu teh Bray? Tolongin gue!  😨

“Lho Pak, kok nggak ada argonya?” tanya gue setengah kaget.

“Taksi Semarang semuanya emang gak pake argo, Dek!” jawab si supir sok sibuk nyetir.

“Saya mau ke pelabuhan Pak, terus bayarnya berapa?”

“Gini ya Dek, sekarang kita lagi ngelewatin jalan tol. Jadi tarifnya ke pelabuhan Rp300.000,00 saja!” jawab si supir sumringah.

Berdasarkan cerita yang pernah gue dengar dari paman gue, ongkos taksi dari Krapiak ke pelabuhan cuma Rp25.000,00. Lha kok si supir taksi ini minta ongkosnya mahal amat ya? Kontan dong gue langsung protes.

“Maaf Pak, perasaan dari tadi kita tidak ada memasuki gerbang tol, deh!”

“Tol di Semarang ya memang gini Dek, gak ada gerbangnya! Adek dari mana toh?” si supir semakin nunjukkin gelagat aneh.

“Saya dari Bogor, Pak. Tapi bisa nggak, tarifnya jangan segitu?” gue mulai nego.

“Lha, Adek maunya berapa?”

“Rp25.000,00 saja Pak. Gimana?”

Ngedenger harga yang gue tawar, supir itu ngedadak melotot seolah-olah mau nerkam gue. “Adek ini gimana sih? Kita ini lewat jalan tol lho Dek, apalagi ini malam-malam, tarifnya memang mahal! Nawar ko seenaknya aja!”

“Maaf Pak, kalau gitu saya turun di sini saja. Saya yakin Bapak sudah membohongi saya. Tolong berhenti, Pak!” pinta gue masih dibatasi kesabaran.

Si supir langsung berhenti, tapi pas handle pintu gue tarik, pintunya kekunci rapat. Kaca jendela pada nutup semua. Gue puter handle pemutar supaya kacanya turun tapi gak berhasil. Gue dijebak. Gue gak bisa keluar. Supir itu sengaja ngunci semua pintu. Supir gemuk itu langsung nyerocos pake Bahasa Jawa yang sama sekali kagak gue ngerti. Tapi intinya dia nahan gue supaya gue tetep naek taksinya dia.

“Danco! Tak pendem sampean! Tak pendem sampean!” cerocos si supir berulang-ulang sambil ngeluarin pisau belati dari dashboard mobil.

Sumpah badan gue langsung gemeteran. Kayanya gue mau dikubur sama nih supir. Keadaan mendadak tegang. Keringat dingin rasanya ngucur deras di dahi gue.

“Tolong bicara pakai Bahasa Indonesia, Pak. Saya tidak mengerti maksud Bapak!”

Ujung pisau belati udah nempel di dagu gue. Leher gue dicengkeram begitu kuat. Suasananya horror banget, jalanan sepi gak ada satupun kendaraan lewat. Gue udah takut banget. Dalam hati gue berdoa, “Ya Allah, lindungi hamba ya Allah! Selamatkan diri hamba dari keadaan ini. Hamba ingin bertemu dengan mama!”

“Tolong jangan bunuh saya, Pak! Saya mau menyeberang ke Kalimantan! Saya mau bertemu keluarga saya,” rintih gue dengan suara tercekat lantaran dicekik.

image

Supir taksi jahat itu ngerogoh saku celana gue. Dompet gue nyaris dirampas sebelum akhirnya entah kenapa tiba-tiba aja gue mendapat kekuatan buat balik nyerang si supir taksi. Pas tangan dia sibuk ngerogoh kantong celana gue, gue berhasil nyingkirin pisau belati yang nyaris nancep di dagu gue. Pisau itupun jatuh ke dekat kaki gue. Dengan segenap tenaga yang masih gue punya, perut buncit si supir taksi yang udah sama kaya gentong air itu langsung gue tonjok bertubi-tubi. Gue angkat kaki gue secepat mungkin, dan gue arahin tepat mengenai alat vital si supir taksi edan itu. Sontak dia ngejerit kesakitan. Gue emang bukan anak karate ataupun taekwondo. Tapi pas gue SD, gue punya basic pencak silat yang diajarin sama guru olah raga gue di sekolah. Buru-buru gue ambil pisau belatinya yang jatuh tadi dan gue todongin ke dia.

“Anda berani melawan atlet karate nasional dari Jawa Barat?” ancam gue nakut-nakutin.

Supir itu ngegeleng kepala ketakutan sambil ngebuka pintu turun keluar. Dia masih megangin alat vitalnya yang habis gue tendang. Kayanya sakit banget tuh tendangan gue.

“Saya ndak tahu kalau sampean atlet karate!” ujarnya sambil meringis.

“Tolong keluarkan tas saya dari bagasi!”

Di saat yang bersamaan sebuah mobil patroli polisi melintas dan langsung gue stop. Dua orang polisi turun dari mobil dan nyamperin gue. Betapa beruntungnya gue, polisi datang dalam situasi yang tepat. 🚓

“Ada apa ini?” tanya salah seorang dari mereka. 👮

Berhubung gue gak mau berbelit-belit berurusan di kantor polisi apalagi gue gak mau sampai ketinggalan kapal besok pagi, gue langsung minta tolong dicariin taksi baru aja sama mereka.

“Supir taksinya sembelit, Pak. Bisa tolong carikan taksi lain untuk saya?” kelakar gue ke pak polisi. 😩

“Adek mau ke mana?” tanya polisi yang lain.

“Saya mau menyeberang ke Kalimantan, Pak. Adakah taksi yang bisa mengantar saya ke pelabuhan?”

Gak lama kemudian kedua polisi itu ngedapetin taksi yang gue minta. Kali ini sebelum masuk ke dalam mobil, gue nego dulu sama supir taksinya. Alhasil benar kata paman gue. Tarif ongkosnya cuma Rp25.000,00. Sama supir taksi yang kedua ini gue diantar ke salah satu agen penjualan tiket kapal laut. Kalo gak salah nama agennya itu Camar Mas. Agen itulah nantinya yang bakal nganterin gue ke pelabuhan setelah gue beli tiket di sana. Sialnya pas gue turun dari taksi, duit dalam dompet gue tinggal lima puluh ribuan sama seratus ribuan. Gue bayar pake yang lima puluh ribuan. Eh, supir itu langsung tancap gas dan kabur tanpa ngasih gue uang kembalian. Bedebah semua supir taksi illegal di Semarang! Itu kejadian buruk pertama sekaligus kedua gue di Semarang. 🚕 😤

Kejadian buruk ketiga yang gue alamin di Semarang adalah pas bulan September di tahun yang sama dengan kejadian sebelumnya. Waktu itu gue mau ke Sumedang buat ngejemput adik perempuan gue yang dititipin di rumah bibi gue. Rencananya gue mau mindahin sekolah adik gue ke Kalimantan (bukan mindahin gedung sekolahnya lho!). Dari pelabuhan Tanjung Mas gue naek angkot ke terminal Terboyo. Katanya di terminal Terboyo banyak bis jurusan yang menuju arah Jawa Barat. Gue pikir gue mau naek bis jurusan Bandung. Begitu sampe di Terboyo, seorang bapak nanya-nanya tujuan gue. Dia nuntun tangan gue menuju bis yang katanya jurusan Bandung. Gue seneng banget baru aja sampe terminal langsung dapet bis yang gue mau. Sayangnya bisnya butut banget kaya gak kerawat, tapi tarif ongkosnya mahal amir. Lebih mahal daripada bis Limex yang pernah gue naekin dari Bogor. Bayangin sodara-sodara gue harus ngocek kantong celana Rp135.000,00. Padahal Semarang-Bandung kan rutenya lebih pendek daripada Semarang-Bogor. Ya udah deh, gue bayar aja daripada gak dapet bis. Gak bisa jalan dah gue. Gue pikir bapak yang nuntun tangan gue tadi adalah kondektur bis. Setelah bis jalan, ternyata bapak tadi adalah seorang calo karcis. Penumpang di sebelah gue nanya-nanya berapa harga karcis yang gue bayar. Eh taunya dia bayar karcis bus cuma Rp35.000,00. Emang sih tujuannya ke Cirebon doank. Tapi Bandung-Cirebon kan gak jauh-jauh amatlah. Gila kan selisihnya sampe seratus ribu gitu? Yang bikin gue sebel lagi, taunya bis yang gue naekin bukan jurusan Bandung. Gue udah dikibulin sama tuh calo. Masak gue diturunin sampe Cirebon? Gue sampe ribut sama supir bisnya. Gue tunjukkin karcis yang udah gue bayar. Eh si supir bis malah ngolokin gue,”Kasian deh lu udah ketipu sama calo!” Grrr…. Bener-bener sewot gue sama tuh supir 😠. Penumpang yang tadi duduk di sebelah gue bilang,”Antara calo sama supir bis di Semarang emang udah pada kerja sama sebelumnya. Mereka sama-sama menipu penumpang!” bebernya. Heran deh, kenapa sih orang-orang Semarang yang gue temuin kelakuannya pada nggak beres? Kenapa gue selalu apes tiap kali ke Semarang? Gak supir taksinya, gak calo tiketnya, gak supir bisnya juga, semua pada edan. Gue mesti hati-hati kalo pergi ke Semarang lagi 😌.

image

Kejadian buruk keempat yang gue alamin di Semarang adalah pas gue balik ke Kalimantan lagi. Kali ini gue bawa adik gue yang mau gue sekolahin di Kalimantan, sekolah tempat gue ngajar. Sama seperti sebelumnya gue berangkat naek bis Limex lagi dari Bogor. Gue sama adik gue sengaja mampir dulu di Bogor buat ngambil barang-barang pesanan nyokap. Busyet dah, barang yang gue ambil di rumah ada lebih dari 2 karung. Gue sampe bingung kaya apa bawanya. Tiket bis aja sampe gue bayar double. Bisa tekor ongkos gue nih. Begitu sampai di Krapiak-Semarang, gue masih trauma sama kejadian supir taksi yang nyaris ngebunuh gue. Akhirnya gue bawa adik gue nyari tempat berlindung, kali aja kami bisa tidur sejenak sambil nunggu pagi. Gue ajak adik gue ke sebuah kantor polisi yang letaknya nggak jauh dari tempat gue turun dari bis. Kantor polisinya rada nanjak ke atas. Gue sama adik gue masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah gedung aula serba guna. Di sana ada beberapa kursi plastik, dan gue suruh adik gue duduk deket pintu. Sementara gue ngangkutin karung-karung bawaan gue dulu di bawah tanjakan. Setelah semua barang beres gue angkutin ke atas, gue duduk di sebelah adik gue yang ketakutan lantaran gedung aulanya sepi. Gue suruh adik gue tidur di pangkuan gue. Tiba-tiba seorang polisi setengah baya datang nyamperin kami. Dia mandangin kami dari atas ke bawah dan semua barang bawaan kami yang begitu banyak.

“Mohon maaf Pak, kami menumpang beristirahat di sini. Nanti pagi kami berangkat ke pelabuhan,” kata gue sesopan mungkin.

“Jangan lupa uang bayarannya ya, Mas! Satu jam Rp50.000,00. Sekarang baru jam 2, bis ke pelabuhan baru ada jam 6 pagi. Jadi Mas numpang istirahat di sini selama 4 jam, totalnya Rp200.000,00. Mau bayar sekarang?” polisi itu ngejawab sambil ngeliatin arloji di pergelangan tangannya.

Masya Allah! Inikah figur yang menjadi panutan masyarakat dan seharusnya melindungi masyarakat? Ternyata gedung aula serba guna yang terdapat di kantor polisi Krapiak-Semarang bisa beralih fungsi menjadi hotel juga ya? Oh iya gue lupa, kan namanya juga gedung aula serba guna ya. Jadi hotel juga kenapa nggak bisa? Indonesia geeto loh!

“Maaf Pak, bayarnya nanti saja ya!” kata gue sambil nyoba tersenyum ke pak polisi.

Polisi itu langsung ngelengos pergi dengan mimik muka masam. Kelihatan banget dia kecewa gak dapet duit dari gue. Selepas dia pergi, gue buka dompet ngitung duit buat ongkos dan makan takut nggak cukup. Ternyata benar dugaan gue, gara-gara kebanyakan barang bawaan, ongkos gue gak bakal cukup sampai kampung tempat kerja gue di Kalimantan. Adik gue tahu apa yang lagi gue alamin waktu itu. Dia ngerti kalo kami berdua kekurangan ongkos. Akhirnya malam yang tersisa gue sama adik gue nangis berdua di dalam gedung. Dalam hati gue gak henti-hentinya berdoa, semoga selalu ada keajaiban yang bakal Allah tunjukkin ke kami. Gue berharap semoga di kapal laut nanti gue ketemu tetangga sekampung yang bisa ngegalangin kami ongkos sampai kampung. Tapi kenyataannya gak ada! Gue gak ketemu siapa-siapa yang gue kenal selama di kapal. ⛵

image

Tuhan tetap ngedenger doa gue. Kenapa? Karena watak orang-orang di Kalimantan jauh lebih baik daripada watak orang-orang jahat yang gue temuin di Semarang. Begitu gue sama adik gue tiba di Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, hari dah maghrib menjelang isya. Gak ada mobil yang bisa nganterin kami ke Pangkalan Bun. Yang tersisa cuma tinggal para tukang ojek yang pada sibuk nyari calon penumpang. Gue bingung, duit yang gue pegang cuma cukup buat makan adik gue sama ongkos speedboat sampai Kotawaringin Lama. Selebihnya dari Kotawaringin Lama, kami naek travel yang bisa dibayar di rumah sama nyokap dan keluarga paman-bibi gue.

“Mau ke mana, Dek?” tegur seorang portir barang yang ternyata udah lama merhatiin kami dari tadi.

“Mau ke Pangkalan Bun, Pak!”  jawab gue murung. 😦

“Ayo, saya antar. Barang kalian sangat banyak. Sementara di sini sudah tidak ada mobil!” tawar pak portir yang ramah bersahaja.

“Tapi terus terang Pak, saya sudah kehabisan ongkos. Bisa nggak saya berutang sama Bapak? Lain waktu insya Allah saya akan mencari Bapak untuk membayarnya!” ungkap gue terus terang.

“Sudahlah, naik saja! Tak usah pikirkan masalah itu. Kalian saya antar ke Pangkalan Bun!”

Betapa mulia banget hati pak portir itu. Dia ngebonceng kami berdua plus dua buah karung, dua kardus, dan beberapa tas jinjing. Meski berat, dia ikhlas nganterin kami pake motor sampai pelabuhan speedboat di Pangkalan Bun.

“Kedua orang ini sedang kehabisan ongkos, kau mau kan mengantar mereka ke Kotawaringin Lama besok pagi?” cerita pak portir ke salah seorang supir speedboat yang ditemuin dia di pelabuhan.

Tanpa ngomong panjang lebar supir speedboat pun bersedia nampung gue sama adik gue. Malam makin larut, gue gak bisa ngajak adik gue nginep di losmen sekalipun. Gue minta maaf sama adik gue dan ngajak dia tidur di dalam speedboat yang terapung di sungai. Meski banyak nyamuk, gue seneng bisa ngebeliin adik gue makanan sebelum kami tidur. Sebungkus mie goreng kami makan berdua. Tidur di speedboat ternyata asyik juga. Supir speedboat sengaja natain bangku-bangku duduk jadi tempat tidur buat gue sama adik gue. Terpal penutup speedboat pun dipasang sebagai pengganti kelambu. Sepanjang malam perahu speedboat terombang-ambing sama arus sungai yang mirip sama ombak. Untung di sungainya nggak ada buaya. Gue gak pernah nyangka gara-gara ngalamin kejadian ini adik gue bercita-cita jadi pramugari supaya gue gak kesusahan lagi kalo mau balik ke Bogor. Tekadnya amat keras. Dan alhamdulillah sekarang impiannya itu bener-bener terwujud. Adik gue udah jadi seorang pramugari. Dia udah ratusan kali terbang ngelilingin Indonesia dan mancanegara. (Gak kerasa air mata gue menetes pas gue ngetik postingan ini 😂 ). 

image

Kejadian buruk laennya lagi yang gue alamin di Semarang adalah tahun berikutnya pas gue mudik cuman bertiga bareng nyokap sama adik gue yang bungsu. Ceritanya kami baru aja keluar dari kapal laut dan mau naek angkot jurusan terminal Terboyo. Ya ampun, lagi-lagi di pelabuhan juga banyak calo angkot. Bayangin pemirsa, angkot pake calo juga! Parahnya calo-calo di Semarang itu pada resek, pemaksa, dan tukang ngamuk kalo kitanya gak mau nurut sama mereka. Banyak sekali kata-kata kotor beraroma flora & fauna beserta kotorannya yang terucap dari mulut mereka tiap kali kita nggak mau ikut sama ajakan mereka buat naek angkot pilihannya. Busyet dah, itu mulut apa kebon binatang ya? Segala anj*ng, bab*, b*ngs*t, t*i kuc*ng, disebut-sebut. Astagfirullahaladzim. Di Bogor juga banyak banget calo, tapi gak separah kelakuan calo Semarang. Kebanyakan calo di Bogor kalo gagal ngedapetin calon penumpang, biasanya mereka bakal ngerayu calon penumpang lain. Ada unsur pemaksaan juga sih, tapi mulutnya pada disekolahin kok. Jadi gak pake acara karnaval aneka satwa segala.

Jadi ceritanya waktu itu gue sama nyokap dan adik bungsu gue lagi naek angkot jurusan Terboyo. Tiba-tiba tangan nyokap ditarik secara paksa sama seorang calo angkot lain.

“Bu, ikut angkot saya saja. Ibu mau ke Terboyo kan?”

“Maaf, angkot sampean sudah penuh banget. Saya di sini saja!” tutur nyokap menolak secara halus sambil naekin adik bungsu gue ke dalam angkot.

“Ibu ini anj*ng! Gak mau naek angkot saya. Saya sumpahin ibu celaka!” si calo itu sengaja ngedorong nyokap sampe tersungkur di dalam angkot. Kontan adik bungsu gue yang baru umur setahun ketimpa sama badan nyokap. Adik bungsu gue nangis ngeraung-raung kesakitan.

Kontan gue berang ngeliat nyokap diperlakuin kaya gitu sama orang.

“Anda ini punya sopan santun tidak? Begitu cara memperlakukan wanita yang lebih tua daripada Anda?” hardik gue ke tukang calo brengsek tadi.

“Lha sampean wong gendeng, tho! Ora gelem naek angkot aku. Lihat aja nanti mobil ini celaka semua penumpangnya!” sumpah serapah si tukang calo.

“Naik angkot siapa itu adalah hak kami! Anda tidak bisa seenaknya memaksakan kehendak orang lain. Sekarang kalau keadaan dibalik, seandainya ada orang yang menyuruh Anda memakan makanan yang sama sekali tidak Anda sukai, apa Anda akan memakannya? Atau misalnya lagi Anda sedang bepergian ke Jakarta, tetapi ada orang lain yang memaksa pergi ke Surabaya. Padahal Anda sama sekali tidak berminat pergi ke Surabaya. Apakah Anda akan mengikuti kemauan orang itu?” gue cecar habis-habisan si calo brengsek.

“Sana saja sampean makan t*hi kucing!” balas si calo brengsek bersungut-sungut.

Kalo aja nyokap gak nahan gue waktu itu, mungkin udah gue seret si calo brengsek itu ke ring tinju. Semakin lama semakin dalam gue renungin, kenapa tiap kali nginjek Semarang gue selalu ngalamin kejadian yang gak nyenengin perasaan gue. Apa semua orang Semarang punya watak kaya gitu? Ah, gue mesti ngebuang jauh-jauh stereotip negatif kaya gitu. Gue percaya pada dasarnya orang-orang Semarang asli wataknya baek-baek. Semoga aja Tuhan ngebuka pikiran orang-orang Semarang yang pernah berbuat jelek terhadap gue supaya mereka nggak ngulangin lagi perbuatan-perbuatan tersebut. Tapi gak tahu kenapa setelah semua kejadian yang gue alamin di Semarang, gue belum kepengen ngelangkahin kaki di sana lagi. Meski sekarang udah 6 tahun lamanya. Entah sampe kapan. 😱

My Trip In Java #3

Hola! Pembaca belum bosan kan membaca jurnal perjalananku selama di Jawa? Ini mungkin akan menjadi cerita terakhir dari trilogi jurnal perjalanan yang kubuat. Sebelumnya aku mohon maaf kalau tulisanku ini agak telat berhubung kesibukanku yang sudah kembali ke Kalimantan sekarang. Terutama kepada Bang Omnduut yang pernah kujanjikan kuliner khas Bogor. Juga kepada Mbak Feli yang tak pernah berhenti memberi support padaku agar aku berhasil meraih beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Saat ini aku merasa seperti sehelai daun yang terombang-ambing oleh tiupan angin dan tak punya kendali untuk berpijak. Aku tak tahu harus berhenti di mana. Jalan mana yang seharusnya kutempuh?

Tepat tanggal 9 Maret 2015 aku berangkat dari Graha Utama-Tangerang menuju Cijelag-Sumedang. Halte bis sangat sepi hampir tidak ada calon penumpang selain aku dan seorang wanita yang tampak asyik memainkan gadgetnya. Semenjak tiba di Jakarta kuperhatikan orang-orang di kendaraan umum banyak yang menggunakan ponsel berukuran layar sebesar gaban (5-7 inchi). Apakah ponsel seperti itu sedang trend? Entah mengapa aku jadi merasa malu mengeluarkan ponselku dari saku jaket yang kupakai. Ponselku hanya sebatas Samsung Galaxy Ace 3 yang layarnya tak sampai 5 inchi. Bis Agra Mas jurusan Cikarang yang kunanti tak kunjung datang. Sudah hampir 2 jam aku duduk menanti di halte. Sekumpulan pelajar SMP berseliweran di hadapanku dan ramai memperbincangkan perihal begal motor yang baru saja dibakar massa baru-baru ini. Kebetulan tempat kejadiannya tidak jauh dari halte tempatku menunggu bis.

Tepat pukul 11.40 aku berhasil mendapatkan bis yang kunanti-nantikan. Karcis jurusan Tangerang-Cikarang kubayar seharga Rp22.000,00. Perjalanan yang kutempuh diwarnai kemacetan kota megapolitan Tangerang-Jakarta-Bekasi. Sehingga aku baru tiba di Cikarang tepat pukul 1 siang. Begitu aku turun dari bis dinginnya AC membuatku tidak tahan ingin segera buang air kecil di toilet umum terdekat. Sekeluarnya dari toilet, bis Widia, satu-satunya bis yang tersedia untuk menuju Sumedang melintas di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku segera menaikinya, padahal perutku sangat lapar ingin menikmati makan siang terlebih dahulu. Sayang apa boleh buat, daripada aku tidak bisa sampai di Sumedang lebih baik kutahan saja rasa lapar di perutku. Semoga di tengah perjalanan nanti banyak pedagang asongan yang menjajakan makanan ringan untuk mengganjal perutku. Perjalanan menuju Sumedang ini harus mengocek biaya Rp35.000,00 dari Cikarang. Belum lagi biaya untuk membayar pengamen jalanan yang tak pernah ada habisnya. Mereka naik dan turun dari bis ke bis di setiap persimpangan jalan dan lampu merah. Bis yang kunaiki berukuran sangat kecil hanya memuat 20 penumpang. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya minibus.  Sepanjang perjalanan terlalu banyak panorama hutan jati terutama di Kabupaten Subang dan Sumedang. Maka tak heran bila nama-nama desa di sana banyak yang menggunakan awalan kata ‘jati’ seperti ‘Jatinangor’, ‘Jatiwangi’, ‘Jatijajar’, ‘Jatibening’, ‘Jatitujuh’, ‘Jatigede’, dan lain sebagainya. Mulanya aku pikir perjalanan yang kutempuh hanya berkisar 4 atau 5 jam. Ternyata aku baru sampai di tempat tujuanku setelah menempuh 7 jam perjalanan. Tepat pukul 8 malam aku baru tiba di rumah bibi. Alamak capek sekali…

Aku sangat terkejut ketika akan menyeberang jalan menuju rumah bibi begitu aku turun dari bis. Kebetulan rumah bibi memang terletak di pinggir jalan raya provinsi. Tapi hal yang membuatku terkejut adalah nama toko bibi rupanya masih menggunakan nama toko mama. Sebelumnya rumah bibi adalah rumah mama. Hanya saja karena mama tidak ingin jauh dariku, mama sengaja menjual rumah dan tokonya kepada bibi lalu mama hijrah ke Kalimantan menyusulku. Tatkala aku mengucapkan salam, bibi sedang berbaring di toko bersama Yusuf, adik sepupuku. Ealah aku dan bibi sama-sama pangling. Sama seperti kejadian yang kualami di Bogor, bibi pun hampir tak mengenaliku saking gemuknya badanku sekarang. Padahal bibi sudah melihat foto profilku di BBM tiap kali kami chatting. Aku sendiri nyaris tak mengenali sepupuku yang sekarang juga sama-sama bertubuh gemuk sepertiku. Tidak berbeda denganku, Yusuf pun berubah menjadi gemuk setelah kecelakaan motor yang menimpanya. Sekitar dua tahun yang lalu saat Yusuf pulang kuliah dari Sumedang, sebuah truk yang mengangkut batu bara menyerempet motor yang dikendarai Yusuf. Motor Yusuf pun oleng kehilangan keseimbangan. Yusuf jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Wajah Yusuf dipenuhi darah meski helm menutupi kepalanya. Para warga yang melihat kejadian itu mengira Yusuf sudah meninggal. Enggan menjadi saksi mata, lantas para warga malah menutupi tubuh Yusuf dengan daun pisang yang diperoleh dari pinggir jalan. Suatu kebetulan pamanku (ayah Yusuf) yang baru pulang kerja melintas dan melihat Yusuf terkapar di jalanan menjadi tontonan banyak orang. Menyadari orang itu adalah Yusuf, pamanku segera melarikan Yusuf ke rumah sakit besar di Cirebon. Yusuf mengalami koma dan harus mengalami beberapa kali operasi. Mulai dari operasi bedah paru-paru hingga operasi tulang rahang. Tuhan masih sangat menyayangi Yusuf. Hingga saat ini Yusuf masih diberi nyawa oleh-Nya. Meski kepalanya sudah tidak dapat menoleh 90 derajat, namun kesehatan Yusuf berangsur-angsur pulih dan dapat menjalani rutinitas kuliahnya kembali setelah cuti satu tahun.

Ternyata bukan hanya aku dan Yusuf yang sekarang bertubuh gemuk. Pamanku juga sekarang bertubuh gemuk jauh dari keadaan 6 tahun silam terakhir kali kami bertemu di mana kala itu tubuh paman masih sangat kurus. Jika kami bertiga berdiri berjajar, bibiku mengatakan kalau kami adalah triple bonbon. Haha… ada-ada saja nih bibi. Sebenarnya berkunjung ke Cijelag itu sangat membosankan, karena aku tidak leluasa ke mana-mana tidak seperti halnya di Bogor yang memiliki banyak mall atau tempat hiburan dan dapat dijadikan tempat untuk mencuci mata. Hal yang dapat dilakukan selama di Cijelag hanya jalan-jalan menelusuri perkampungan penduduk atau Sungai Cimanuk. Lumayan asyik sih, rumah-rumah penduduk Kabupaten Sumedang itu rata-rata terbilang masih banyak yang bergaya tradisional. Aku tidak tahu pasti apakah itu rumah adat yang disebut ‘julang ngapak’, ‘limasan’, atau ‘keraton kasepuhan’ mengingat banyaknya rumah adat khas Provinsi Jawa Barat. Rumah-rumah itu disusun dari bebatuan yang ditata sangat rapi dipadu dengan dinding yang terbuat dari papan dan bilik. Benar-benar terlihat sangat antik!

Suasana perkampungan di Sumedang

image

image

image

Selain kuliah kegiatan sehari-hari Yusuf adalah merakit komputer dan memperbaiki laptop. Yusuf memang berkuliah di jurusan IT. Lucunya bila mendapat pesanan rakitan komputer dari teman-temannya, ia enggan menerima pembayaran uang cash di muka. Ia senantiasa meminta pembayaran via transfer. Alasannya untuk menghindari uang palsu! Hadeuh… Yusuf… Yusuf… bisa saja adik sepupuku yang satu ini akalnya. Entah mengapa kedatanganku ke Sumedang juga malah menambah pekerjaan buat Yusuf. Tanpa sengaja saat aku membenahi pakaian dalam tas, notebook yang sedang kupegang terlepas dari tanganku dan membuat covernya pecah. Otomatis ini menjadi pekerjaan untuk Yusuf. Terlebih Yusuf mendiagnosa kalau papan keyboard notebookku harus segera diganti. Maka keluarlah uang Rp150.000,00 dari rekeningku. Tuh kan, uang asli ya Suf! 😀

Rutinitas bibiku sehari-hari adalah melayani para pembeli yang tak kunjung henti di toko. Kadang aku kasihan melihatnya. Bibi hampir tak bisa beristirahat saking ramainya pembeli. Bahkan saat hendak makan sekalipun bibi nyaris tak bisa makan. Baru satu suap bibi menikmati makanannya, pembeli di depan rumah sudah teriak-teriak, “Punteun… Bu, bade meser!” (Permisi… Bu, mau beli!). Sayangnya bibi tak memiliki pembantu. Semua pekerjaan rumah tangga terpaksa dibagi dua antara paman dan bibi. Sementara Yusuf jarang sekali berada di rumah. Pamanku pun sebenarnya sangat sibuk dan aktif bermasyarakat. Selain menjabat sebagai kepala dinas kehutanan di Kabupaten Sumedang, pamanku memiliki banyak yayasan sosial yang setiap hari dikontrolnya. Pamanku memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sewaktu Aceh mengalami bencana tsunami, banyak anak Aceh yang diambilnya dan ditampungnya di panti asuhan yayasannya. Bahkan setiap malam paman mengajari para anak yatim-piatu belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengaji.

Jiwa sosial paman yang tinggi menurun kepada Ratna (kakak Yusuf), adik sepupuku yang kalem. Sudah dua tahun ini Ratna tinggal di Jakarta dan bekerja di Departmen Sosial. Bahkan Ratna dipercaya menjadi asisten pribadi Ibu Hj. Khofifah, menteri sosial. Ratna sudah kerap kali menemani perjalanan dinas luar sang ibu menteri. Seluruh pulau besar di Indonesia sudah pernah dijelajahinya. Peranan Ratna adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat di pelosok mengenai masalah-masalah sosial. Meski sibuk terkadang setiap dua minggu sekali Ratna pulang ke Sumedang pada akhir pekan. Sayang, tuhan belum berkenan mempertemukan kami kembali. Padahal bila aku memerlukan informasi seputar beasiswa, Ratna adalah informan yang tepat. Karena dia memiliki banyak channel yang belum diketahui banyak orang. Ayo dong Ratna bantu Aa-mu ini. Hehehe…

Tepat pada hari ke-5 aku berada di Sumedang, saat aku sedang mengemasi pakaian untuk kembali ke Bogor, tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Ibu Rensi, mantan pimpinanku di SDN Bangun Jaya membuatku penasaran dalam rangka apa beliau menghubungiku. Seingatku tugasku membimbing murid-murid pilihan untuk mengikuti Olimpiade SAINS sudah selesai. Bahkan tak dinyana semua murid bimbinganku itu berhasil memborong semua peringkat mulai dari juara pertama hingga juara ketiga baik bidang Matematika maupun IPA. Dan ini adalah prestasi luar biasa yang berhasil kucetak seumur hidupku. Gagal mengangkat telepon, akupun menghubungi balik ibu Rensi. Beliau memberi kabar sekaligus memerintahkan agar aku segera terbang ke Kalimantan pada hari itu juga guna melengkapi berkas sertifikasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sukamara. Alamak, sertifikasi? Aku tidak pernah menduga kalau akhirnya namaku terdaftar sebagai calon sertifikasi guru. Padahal aku sudah 5 bulan mengundurkan diri dari SDN Bangun Jaya. Ternyata meskipun aku sudah resign dari sekolah tersebut, NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan)-ku masih terdaftar secara online di Departmen Pendidikan. Tanggal 16 Maret 2015 adalah batas terakhir penyerahan berkas. Sementara hari itu adalah tanggal 13 Maret 2015. Waktuku hanya tersisa 3 hari. Bila aku memaksakan terbang (tentunya dengan pesawat ) ke Kalimantan akan memakan waktu yang sangat lama. Sebab perjalananku dari Sumedang ke Jakarta pun tidak dapat ditempuh dalam hitungan 2 atau 3 jam, melainkan 7-8 jam sodara-sodara! Mungkinkah aku akan sempat melakukannya?

Aku mendadak gamang. Berkali-kali aku berteriak dalam hati bahwa tujuanku ke Pulau Jawa adalah untuk meraih beasiswa. Aku sudah maju, dan tidak mungkin harus mundur lagi. Aku tidak mau cita-cita dan impian yang kuangan-angankan selama ini kembali hancur seperti sebelas tahun silam saat aku lulus SMA. Nasihat-nasihat dan support yang pernah diberikan oleh Mbak Feli terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimanapun aku harus mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tekadku sudah bulat! Aku termenung sejenak. Berkali-kali masih terdengar suara di ujung telepon bahwa aku harus kembali ke Kalimantan karena ini menyangkut masa depanku, ungkap Bu Rensi meyakinkan. Setelah aku menutup pembicaraan di telepon, aku menceritakannya kepada paman, bibi, dan Yusuf. Anehnya mereka semua malah menyuruhku untuk mengikuti saran Bu Rensi. “Pergilah! Perjuangkan sertifikasi!” tegas pamanku. Masih ragu dengan tanggapan mereka semua, akupun segera mengabari mama via telepon. Tentu saja hal ini membuat hati mama senang, “Akhirnya ada juga jalan yang membuatmu tidak bisa meninggalkan Mama!” ungkap mama dengan perasaan bahagia. “Tujuanku meraih beasiswa ke luar negeri bukan untuk meninggalkan mama, melainkan untuk menimba ilmu dan pengalaman yang selama ini ingin kucari. Tolong pahami itu, Ma!” batinku berkata lirih.

“Gih, perjalanan kariermu di Kalimantan sudah sangat panjang. Sangat sayang jerih-payah yang kamu perjuangkan selama ini menjadi sia-sia jika kamu tinggalkan. Sekarang sudah saatnya kamu menikmati kejayaan! Kamu sudah mempunyai nama di sini, di saat orang-orang mulai mengandalkanmu. Apa kamu rela melepas semuanya begitu saja? Coba kamu pikirkan, bila kamu pergi dari sini maka kamu akan memulai segalanya dari nol lagi! Apa kamu tidak capek?” bujuk mama via telepon.

Aku terhenyak larut dalam pikiranku menimbang-nimbang dan memikirkan matang-matang. Aku beristikharah memohon petunjuk tuhan. Aku masih ingat banyak sekali kegagalan yang kuraih selama ini. Tiga kali gagal mengikuti tes CPNS, dua kali gagal mengikuti seleksi database honorer. Padahal dari segi kelengkapan berkas dan qualifikasi aku sudah memenuhi semuanya. Namun di balik kegagalanku ada segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja menghapus namaku dari database honorer  pada tahun 2011 dan menggantinya dengan nama orang lain yang telah memberinya sejumlah uang. Padahal jika diusut lebih lanjut masa bakti penggantiku itu sama sekali tidak memenuhi persyaratan, dia hanya baru terbilang 2 tahun mengajar sedangkan aku sudah di atas 6 tahun. Lagi-lagi oknum yang tidak bertanggung jawab itupun memanipulasi data yang ada. Dibuatnya masa bakti orang yang menggantikanku itu seolah-olah sudah melebihi masa bakti yang disyaratkan. Hal inilah yang membuatku kecewa dan berhenti mengabdi kepada semua sekolah instansi pemerintah. Namun mama terus mendorongku agar aku tetap bertahan. Entah harus sampai kapan? Aku jemu menanti harapan palsu yang selalu diberikan kepadaku.

Setelah merenung beberapa saat, kuputuskan untuk mencoba membuat beberapa rencana sekaligus. Aku harus membuat beberapa opsi dan strategi agar cita-citaku tetap dapat tercapai. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Namun tidak ada salahnya juga aku mencoba menyerahkan berkas sertifikasi. Bukankah hidup itu adalah pilihan? Manusia memang selalu memiliki rencana, tapi hanya tuhan yang menentukan. Seorang guru pernah berkata kepadaku, “Seorang pejuang sejati tak pernah berhenti mewujudkan impiannya dan menyerah begitu saja. Ia akan selalu menempuh banyak jalan ketika ia menghadapi kegagalan! Andai ia terbentur gunung sekalipun ia akan mendaki gunung tersebut. Namun bila ia jatuh ia akan menggali terowongan agar ia bisa sampai ke seberang. Bila gunung itu terlampau keras baginya, ia akan berdoa kepada tuhan agar gunung itu dilenyapkan dari pandangannya!”

Foto-foto bersama bibi, Yusuf, dan paman

image

image

Segera kukemasi pakaianku dan pamit kepada paman, bibi, serta Yusuf. Kepergianku diiringi dengan doa mereka semua. “Lakukan yang terbaik selagi kamu mampu!” pesan paman padaku. Aku berangkat menuju Bogor sebelum waktu semakin berkurang. Di sana ada seorang penasihat yang harus kutemui karena hanya dari dialah aku sering mendapat pencerahan. Dia tak lain adalah sahabatku sejak kecil yang kini sering muncul di televisi. Cukup sulit membuat jadwal pertemuan dengannya. Namun demi aku dia selalu rela mengorbankan waktunya. Semoga saja kami dapat bertemu.

Aku tiba di Bogor tepat pukul 7 malam. Kupikir aku tidak akan memiliki waktu lagi untuk menikmati suasana di Bogor. Maka kuhabiskan malam itu dengan berkeliling-keliling Kota Bogor mulai dari mengunjungi Botani Square, Toko Buku Gramedia, Taman Topi, Jembatan Merah, hingga Jalan Mawar. Aku berusaha menyempatkan diri mencari barang-barang yang sulit kucari di Kalimantan antara lain: buku TOEFL Preparation, buku Mandarin for Children, buku Korean for Children, Oxford Dictionary, Buku Kumpulan Soal Ujian Kenaikan Kelas untuk Kelas 3-5 SD, hingga parfum Polo Sport kesukaanku. Alhamdulillah cukup banyak barang yang kuborong hingga satu tas penuh. Untung saja beratnya tidak melebihi 20 kg sehingga tidak akan over bagasi di pesawat. Tinggal transaksi tiket pesawat secara online. Tanpa ragu aku langsung mengakses situs resmi Kalstar Aviation. Setelah mengisi beberapa data yang diperlukan, tinggal melakukan transaksi pembayaran. Oow… mengapa transaksi pembayarannya tidak bisa menerima transfer via BRI? Padahal pada menu pilihannya terdapat pula menu ATM Bersama, tapi mengapa tidak dapat melakukan transaksi? Hari sudah larut malam, semua agen travel di Bogor sudah tutup. Kucoba untuk melakukan transaksi via mobile-banking, lagi-lagi pada aplikasi BRI di ponselku tidak tercantum nama maskapai Kalstar Aviation. Yang ada hanya menu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Tak putus asa aku segera beranjak menuju ATM di tepi jalan raya. Menu yang sama kudapati seperti dalam ponselku. Mungkinkah ini adalah pertanda kalau aku harus menunda kepulanganku ke Kalimantan? Barang sehari saja tidak apalah! Lagi pula aku masih betah ingin di Bogor.

Menikmati hari terakhir di Bogor

image

Terowongan penyeberangan bawah tanah tematik

image

Pameran aneka kumbang Indonesia di Botany Square

image

Cara bercocok tanam yang baru, pameran Botany Square

image

Aih… cantiknya rusa pakistan di halaman istana Bogor ini. Oh iya sekarang istana Bogor menjadi tempat peristirahatannya Presiden Jokowi…

Keesokan harinya aku berangkat menuju agen travel yang terdapat di Taman Topi. Benar dugaanku tiket yang telah kubooking semalam telah digantikan orang lain. Otomatis aku hanya bisa mengikuti penerbangan pada hari berikutnya. Di saat yang bersamaan, sahabatku yang ingin kutemui mengkonfirmasi pertemuan kami via telepon. Hari Minggu pagi 15 Maret 2015 pukul 7 pagi ia akan menjemputku sekaligus mengantarku ke terminal bis Damri.

Hari terakhir di Bogor aku manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Aku tidak begitu yakin akan bisa kembali ke Bogor suatu saat nanti. Hanya dengan doa aku tak pernah berhenti meminta kepada tuhan agar segala usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang terbaik. Semoga saja baik sertifikasi ataupun beasiswa pasca sarjana ke luar negeri dapat kuraih salah satu di antaranya tanpa suatu kendala apapun. Ary, sahabatku, selalu menepati janjinya. Aku senang pada detik-detik terakhir keberadaanku di Bogor dapat dipertemukan kembali dengannya. Lama sekali kami tidak berjumpa semenjak pertemuan terakhir kami saat aku mengikuti kegiatan Raimuna Nasional di Cibubur pada tahun 2008. Saat itu Ary baru saja lulus S1 sementara aku belum memiliki ijazah sarjana. Ia sengaja datang dari Bogor untuk melihat kegiatanku di Cibubur. Persahabatan kami bermula sejak kami bertetangga di Cimanggu Kecil ketika kami masih TK. Waktu itu rumah kami berhadap-hadapan maka tak jarang kami menghabiskan waktu bermain bersama baik siang maupun malam. Orang tuanya sangat baik kepadaku dan kepada semua orang. Masih kuingat dengan jelas bila mama Ary membuat kue, tetangga satu RT pasti kebagian. Ketika masuk SD Ary pindah rumah ke Loji, Bogor Barat. Aku sangat kehilangan teman sepermainanku. Saat aku kelas 3 SMP aku sengaja bersilaturrahim ke rumahnya dan menjalin persahabatan kami kembali yang sempat terputus selama 8 tahun. Sejak saat itulah kami sering melakukan pertemuan dan jalan-jalan berdua mengitari Bogor. Minimal satu bulan sekali kami bertemu. Semenjak aku hijrah ke Kalimantan kami mengagendakan pertemuan kami menjadi satu tahun sekali berhubung aku hanya bisa pulang ke Bogor satu tahun sekali, setiap liburan panjang pada bulan Juli. Akan tetapi agenda tahunan itu terhenti semenjak mama menjual rumah di Bogor dan pindah ke Sumedang sampai akhirnya mama menetap tinggal di Kalimantan bersamaku. Walaupun begitu aku tak pernah putus komunikasi dengan Ary. Beruntung aku hidup di zaman berteknologi canggih. Adanya Facebook, WhatsApp, dan Line membuat kami bisa saling melihat aktivitas kami satu sama lain. Aku senang melihat Ary kini sudah menjadi orang sukses, kerap masuk televisi sebagai pemuda yang berprestasi, dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan adanya pendamping hidup dan seorang buah hati. Kelihatannya Ary benar-benar sangat bahagia bersama keluarganya.

Sebagai seorang sahabat, Ary adalah pendengar yang baik. Banyak kata-kata ajaib yang terlontar dari mulutnya dan sering menjadi penyemangat bagiku di kala aku menghadapi masalah. Pertemuan hari itu dengannya hanya berlangsung 2 jam. Aku harus segera berangkat menuju bandara dengan menaiki bis Damri. Awalnya Ary sangat ingin mengantarku ke bandara, berhubung ia harus mengikuti meeting dengan teman-teman sesama volunteer, maka Ary hanya dapat mengantarku sampai Botany Square saja.

Foto-foto bersama Ary

image

image

image

Adikku dibalut seragam pramugarinya
image

Have lunch sebelum boarding pass

image

Selfie dalam pesawat

image

image

Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng adikku mengirim pesan via BBM meminta agar aku menunggunya di terminal 1C. Ia ingin melihat kepergianku kembali ke Kalimantan. Atau jangan-jangan karena ia masih rindu denganku? Adikku bahkan memohon kepada para petugas security check in agar ia diperkenankan masuk ke ruang tunggu pesawat bersamaku. Dengan ID card pramugari yang dimilikinya ia berhasil diperkenankan masuk tanpa kendala apapun. “Mas, saya boleh ya mengantar kakak saya sampai ke dalam?” pintanya kepada salah seorang petugas security sambil menunjukkan ID card pramugarinya. Lucunya petugas security itu malah balik menggoda, “Oh boleh Mbak. Ngomong-ngomong bacht berapa?” hadeuh… dasar petugas genit. Cari kesempatan dalam kesempitan. Masak dia menanyakan apartmen adikku? Adikku menemaniku hingga pemberangkatanku tiba. Waktu yang begitu minim kami pakai mengobrol membahas seputar masalah pekerjaan kami masing-masing. Begitu terdengar panggilan di pengeras suara yang memanggil para calon penumpang Kalstar agar segera naik ke pesawat, adikku pun turut mengantar sampai ke depan pintu pesawat. Mungkinkah ia ingin ikut bersamaku pulang ke Kalimantan? Setelah aku berpamitan padanya dan ia mencium tanganku sebagai tanda perpisahan, kulihat adikku membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan lunglai. Sempat kulihat status terbarunya di BBM : “Ingin ikut ke Kalimantan ketemu sama mama!” ckckck… kasihan sekali dia. Segera kuhempaskan tubuhku di kursi samping pintu darurat sesuai permohonan adikku saat kami check in. Hanya dalam hitungan beberapa menit pesawat yang kunaiki pun segera lepas landas. Dalam satu jam ke depan aku akan segera tiba di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hatiku berasa sesak. Aku belum begitu puas menikmati kunjunganku kepada keluarga di Pulau Jawa. Di luar jendela rinai hujan tampak rintik-rintik dengan awan yang begitu berkelebat. Menemani suasana hatiku yang sedang gamang.

#SELESAI#

My Trip In Java #2

image

Setibanya aku di stasiun Bogor,aku sangat terkejut melihat perubahan yang begitu drastis dalam kurun waktu 7 tahun. Dulu stasiun Bogor dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang kumuh, dan bau. Tapi sekarang emperan yang dulu begitu sumpek telah disulap menjadi jalan khusus pejalan kaki yang ditutupi beraneka warna paving seperti di Taman Topi. Tidak ada lagi pedagang kaki lima dan tukang loak yang bertengger menghalangi stasiun. Ah, kalau menyebut tukang loak aku teringat dulu semasa SMP sangat sering membeli buku-buku pelajaran bekas di sana. Harganya relatif murah, biasanya kalau harga buku pelajaran di sekolah dibanderol Rp16.000,00, maka aku mendapatkannya di tukang loak depan stasiun dengan harga Rp3.000,00 saja. Kondisi bukunya pun masih sangat bagus dan dapat kupakai dengan baik. Suasana stasiun sekarang sangat rapi dan bersih mirip dengan suasana dalam bandara. Panorama Gunung Salak yang menjulang tinggi menambah indah suasana stasiun. Di luar stasiun telah dibuat koridor khusus pintu keluar dengan dinding besi berwarna silver berlapis kaca dengan fasilitas areal parkir yang cukup luas bahkan penuh dengan parkiran motor. Hingga  terdapat pula stage stand khusus parkiran motor.  Sayangnya tukang ojek terlalu memadati koridor pintu keluar. Mereka saling berebut memburu calon penumpang. Hey, mengapa sekarang jadi banyak tukang ojek di Bogor? 

Koridor pintu keluar stasiun Bogor tampak dari atas jembatan penyeberangan

image

Melihat wajah orang Bogor yang berkulit putih bersih membuatku jadi minder sendiri. Dulu selama tinggal di Bogor kulitku juga putih seperti mereka. Berhubung aku baru keluar dari hutan pedalaman Kalimantan tentu saja kulitku sangat gelap. Pasalnya suhu udara di Kalimantan kan sangat panas. Lebih panas daripada Bogor yang berudara sangat sejuk. Jadi tidak heran dong, kalau Bogor dipenuhi pendatang dari luar Jawa. Selain karena udaranya yang sejuk juga karena Bogor sangat menjanjikan prospek masa depan yang sangat cerah kepada orang-orang kreatif yang memiliki jiwa usaha. Uniknya banyak sekali pemuda Bogor yang berpenampilan metrosexual seperti aktor-aktor Thailand, Korea, dan Jepang yang sering kulihat di tv. Hmm, jadi sekarang aku sedang berada di Bogor atau di luar negeri sih?

Pengamen di Taman Topi

image

image

Walaupun Bogor telah berkembang mengimbangi Jakarta, dengan banyak dibangunnya jalan layang dan gedung-gedung pencakar langit, ternyata angkot masih merajai jalanan kota Bogor. Begitu melihat angkot-angkot biru dan hijau yang berseliweran mataku langsung berbinar sangat senang (kumat deh sifat katrokku 😀 ). Pembaca mau tahu kenapa aku sangat senang melihat angkot? Alasannya karena di Kalimantan sangat minim sarana angkutan umum. Sebagai contoh di Kota Pontianak misalnya. Dulu saat aku tinggal di Pontianak pada tahun 2010, di sana sangat sulit sekali mendapatkan angkot bila sudah lewat dari pukul 4 sore. Karena pada pukul tersebut para supir angkot telah berhenti beroperasi guna mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Terlebih menurut isu yang sering kudengar dari kawan-kawan orang Pontianak asli, katanya dulu malam hari di Pontianak adalah waktu kekuasaan para gangster. Maka dari itu para supir angkot tidak berani beroperasi pada malam hari. Bila kita ingin keluar malam walaupun selepas maghrib, kita harus menghubungi teman yang memiliki motor dan minta diantar. Jangan heran bila kalian melihat banyak orang yang menenteng helm di sepanjang jalan kota Pontianak, padahal mereka tidak punya motor. Sementara di Kota Pangkalan Bun, jumlah angkot masih sangat sedikit dan hanya sebatas satu jurusan yang mengitari Pasar Indra Kencana dan areal sepanjang Sungai Arut. Selebihnya orang-orang harus bepergian dengan ojek. Paling unik lagi adalah angkot di Kota Palangka Raya, pada malam hari semua angkot di kota yang dijuluki kota ‘CANTIK’ ini akan bebas trayek terlepas dari jalur yang seharusnya. Penumpang bebas merequest tujuan yang hendak dituju kepada supir angkot dengan tarif yang relatif terjangkau. Hanya saja sayangnya peredaran angkot di Palangka Raya jarang ada yang mencapai tengah malam. Jadi, bersyukurlah warga Kota Bogor dikaruniai angkot yang begitu melimpah dengan berbagai jurusan dan selalu tersedia baik siang maupun malam (non stop 24 jam). 😀

Tampaknya pertumbuhan mall di Kota Bogor sangat pesat. Jumlah mall di kota hujan ini tak terhitung bagaikan jamur yang bermunculan di batang kayu setelah hari hujan. Seingatku saat aku kelas 2 SMA, guru geografiku pernah mengatakan bahwa Kota Bogor adalah kota yang sangat sulit berkembang di antara Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Pasalnya letak geografis Kota Bogor berada pada posisi di kawasan pegunungan yang dapat menghambat laju pertumbuhan industri. Kenyataannya sekarang Bogor telah tumbuh menjadi kota yang sangat padat dan menjadi incaran para investor khususnya dari Jakarta dan Bandung. Semakin banyak perumahan elit di Bogor baik dalam kota maupun kabupaten. Demikian pula dengan halnya hotel dan sarana-prasarana yang dibuat oleh pemerintah. Rumah sakit dan pasar modern saja telah banyak didirikan hingga pelosok kabupaten dengan fasilitas yang sangat memadai dan tata bangunan yang sangat artistik layaknya di kota-kota besar. Sehingga sulit dibedakan mana wilayah kota dan mana wilayah kabupaten Bogor. Jumlah penduduk Bogor pun meningkat sangat drastis, banyak pendatang dari luar yang mencoba mengais rezeki di sini.

Tugu Kujang pada malam hari

image

Ini lho jalan menuju kampung kelahiranku

image

Setelah puas melihat keadaan Kota Bogor, aku segera menuju kampung kelahiranku : Cimanggu Kecil. Betapa terkejutnya aku melihat kantor-kantor dinas pertanian, peternakan, perkebunan, dan kehutanan di sepanjang jalan kampungku ini kini telah disulap menjadi gedung-gedung modern. Nyaris tidak ada lagi kantor-kantor bangunan Belanda yang jendela-jendela dan pintu-pintunya berukuran sangat tinggi melebihi tinggi rata-rata orang Indonesia. Jalanan tampak sangat bersih dan asri karena masih terdapat pepohonan di seputar halaman gedung-gedung kantor dinas pertanian yang kulewati. Sayangnya di tepi jalan raya menuju kampungku sekarang hampir tidak ada lagi tukang becak yang mangkal karena para tukang becak  langgananku dulu sudah banyak yang meninggal dunia. Menikmati suasana kampung dengan menumpangi becak memang sangat menyenangkan. Semoga saja para tukang becak yang sudah meninggal itu kini sedang beristirahat dengan tenang.

Suasana Cimanggu Kecil, lengang dan sepi

image

Sesuai namanya Cimanggu Kecil memang kecil, hanya sebatas 5 RT. Rumah nenekku (bibinya mama) terletak di Gang Melati. Begitu aku memasuki gang menuju rumah nenek, buru-buru kupercepat langkah kakiku agar segera dapat bertemu dengan nenek. Tak kuhiraukan perhatian orang-orang yang menatap aneh kepadaku di sepanjang jalan. Tampaknya mereka sedang berusaha mengingat-ingat apakah mereka mengenaliku atau tidak. Nenek menyambut kedatanganku di pintu depan penuh suka cita. Air mataku nyaris menetes membasahi pipi. Kami berpelukan dan saling mencium kerinduan satu sama lain. Nenek begitu kurus dan kuyu. Mungkin beliau sering teringat kepada mendiang kakek yang meninggal dunia tepat 2 tahun lalu. Saat ini nenek adalah satu-satunya sesepuh mama yang masih tersisa. Aku senantiasa berdoa semoga beliau diberi umur panjang oleh Allah swt agar aku dapat terus dipertemukan dengan beliau meskipun kami terpisah jauh.

Setelah beberapa saat bercengkerama dengan nenek, aku memutuskan untuk melihat-lihat kembali kampung kelahiranku sekaligus bersilaturrahim dengan para tetangga yang sebenarnya masih terbilang keluarga dengan kami. Faktanya satu kampung Cimanggu Kecil adalah keluarga besar kami sendiri. Dari ujung ke ujung setiap RT masih memiliki ikatan keluarga satu sama lain. Ternyata para tetangga yang sempat mengamati kedatanganku tadi sangat kaget melihat perubahanku yang sangat drastis. Mereka nyaris tidak mengenaliku sama sekali karena sekarang tubuhku gemuk dan kulitku gelap (biar gelap tapi tetap manis kok 😉 ). Dulu aku memang sangat ramping dan sulit sekali untuk jadi gemuk sekalipun aku doyan makan. Namun seperti ceritaku pada postingan yang pernah kumuat (baca : Harus Kecelakaan Dulu Supaya Bisa Gemuk), tubuhku berhasil melar naik 25 kg. Yeah, melihat perubahan fisik yang kualami para tetangga dan saudaraku tak bosan-bosannya menjawil pipiku yang gembil. “Ya ampun Ogie… kamu sekarang gemuk sekali! Tambah ca’em aja. Coba dari dulu badan kamu kaya gini!” teriak histeris para ibu-ibu tetangga yang ngefans berat padaku. Hehehe… Ogie adalah panggilan sayang yang diberikan oleh para tetangga padaku sejak aku kecil. Saking gemasnya para tetangga padaku mereka tak henti-hentinya menawarkan makanan gratis padaku. Rambutku pun tak kunjung henti dibelai mereka. Aduuh, kok aku diperlakukan seperti anak kecil sih?

Setelah dua malam menginap di rumah nenek, tak lupa akupun menyambangi keluarga besar kakek (ayah mama) yang tinggal di wilayah Bogor barat (antara Ciaruteun-Leuwiliang). Seperti yang telah kuceritakan pada postingan sebelumnya, keluarga besar kakek adalah keluarga besar tentara dan guru. Karena sebagian besar anggota keluarga laki-laki berprofesi sebagai tentara sementara anggota keluarga perempuan dominan berprofesi sebagai praktisi pendidikan (guru dan kepala sekolah). Walau tidak menutup kemungkinan ada pula sebagian kecil yang berprofesi sebagai camat atau pejabat, artis, pengusaha, dan sekarang malah banyak yang berprofesi sebagai koki di kapal-kapal pesiar. Sayangnya tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana keberadaan kakek saat ini. Sudah 15 tahun lamanya beliau menghilang tanpa kabar semenjak beliau memutuskan untuk merantau ke Irian pada tahun 2000. Begitu melihat kedatanganku, keluarga besar di Ciaruteun dan Leuwiliang merengkuhku dan melarang aku kembali ke Kalimantan. “Gih, sekarang kamu mengajar di Bogor saja! Uwakmu sudah lama mendirikan sekolah islam terpadu. Sekolahnya besar tapi masih kekurangan guru. Kamu pasti cocok bekerja di situ. Uwakmu pasti senang kalau kamu mengajar di sekolahnya. Kamu jadi orang Bogor lagi saja ya! Kamu harus dapat jodoh orang Bogor saja supaya kamu tidak pergi ke mana-mana!” bujuk semua keluarga. Jujur, aku memang sangat ingin kembali menjadi orang Bogor. Apalagi setelah melihat perubahan Bogor yang begitu berkembang pesat, aku ingin tinggal lagi di Bogor. Tapi tujuanku datang ke Bogor saat ini adalah untuk meraih beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Aku ingin mencoba peruntunganku kembali seperti saat lulus SMA dulu, apakah aku masih layak untuk mendapatkan beasiswa atau tidak? Selain itu akupun bermaksud untuk mengikuti sejumlah kursus Bahasa Inggris baik conversation class maupun persiapan untuk menghadapi test TOEFL dan IELTS guna melengkapi persyaratan pengajuan beasiswa.

Keluarga di Ciaruteun dan Leuwiliang berebut memintaku untuk menginap di rumah mereka karena mereka sangat rindu berat padaku setelah 7 tahun tak bertemu. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumah keluarga yang tinggal di Ciaruteun saja. Saat masih TK aku pernah tinggal di Ciaruteun persis di samping rumah sepupu mama. Aku sengaja memilih bermalam di Ciaruteun tentu untuk bernostalgia menikmati kenangan-kenangan masa kecilku bersama para sepupu jauhku (anak-anak dari sepupu mama). Semasa aku kecil karena orang tuaku belum mempunyai rumah, kami sering berpindah-pindah ngontrak sana ngontrak sini. Hampir seluruh wilayah Bogor pernah kami jamah. Salah satunya adalah Ciaruteun, tempat yang sangat bersejarah dalam kronologi peradaban Kerajaan Tarumanegara yang menjadi cikal-bakal berdirinya Kota Bogor. Aku menghabiskan masa TK di Ciaruteun. Masih kuingat dengan jelas petualangan-petualangan yang sering kulakukan ketika umurku 5 tahun itu. Mandi di sungai bersama anak-anak tetangga yang usianya lebih tua dariku dan menemukan mayat dekat pancuran air terjun, menangkap bancet (anak kodok) di tengah sawah, menghalau burung di sawah tetangga, membakar batang padi setiap panen usai, menggembala kerbau milik anak tetangga, dan memancing ikan di balong (kolam ikan) milik sepupu mama. Wah, benar-benar kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Aku pikir aku masih mempunyai waktu yang relatif lama di Bogor, jadi kepada keluarga di Leuwiliang aku berjanji lain kali akan menginap di sana untuk menikmati nostalgia masa kecilku yang lain. Hehe…

Hanya semalam bermalam di Ciaruteun aku bergegas pulang ke Cimanggu Kecil. Nenek akan mengajakku berkunjung ke rumah Bibi Eli, bibi bungsuku (sepupu mama) yang tinggal di Graha Utama-Tangerang. Umurku dengan Bibi Eli terpaut 5 tahun. Kami pernah satu sekolah di SDN Bubulak 2 Kota Bogor. Kala itu aku baru kelas 1 SD sementara Bibi Eli sudah kelas 6 SD. Kami sering berangkat sekolah bersama. Kalau aku lupa membawa uang jajan, Bibi Eli selalu memberikan uang jajannya untukku. Setiap hari Minggu pagi biasanya Bibi Eli mengajakku pergi berenang di Mila Kencana bersama teman-temannya. Bibi yang baik bukan? Bukan main senangnya hatiku ketika nenek mengajakku pergi berkunjung ke rumah Bibi Eli di Tangerang. Terakhir bertemu dengan Bibi Eli adalah 7 tahun lalu dan Bibi Eli baru memiliki satu orang anak. Aku segera bergegas mengemasi pakaianku. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu di mana waktunya weekend bagi semua orang. Aku dan nenek terjebak kemacetan yang sangat panjang di pintu kereta Jl. Bubulak dekat Polsek Bogor Tengah dan SDN Pabrik Gas. Rupanya kereta commuter line setiap hari Sabtu menambah jumlah armadanya. Banyak penduduk Jakarta yang senang menikmati akhir pekan di Bogor. Maka tak heran bila kereta melintas setiap 2 menit sekali. Angkot-angkot pun tak dapat merayap lagi dibuatnya. Para pengendara motor pun saling berebut jalan, manakala jalan di pintu kereta itu merupakan pertigaan jalan raya. Habislah Jalan Bubulak dipenuhi kendaraan yang tak dapat melaju. Anehnya meski bersebelahan dengan kantor polisi, hanya sedikit petugas yang turun ke jalan raya. Justru malah Pak Ogah yang sibuk mengatur lalu lintas. Situasi inipun tak ayal dimanfaatkan oleh para pengamen jalanan yang masih terbilang seumuran Tegar si pengamen cilik. Nenek terlihat jenuh dengan situasi seperti ini, sedangkan aku sangat menikmatinya. Karena suasana seperti ini tidak pernah aku rasakan selama di Kalimantan.

Perjalanan ke Graha Utama-Tangerang memakan waktu 3 jam dari Bogor. Aku dan nenek sengaja turun dari angkot persis di depan kedai Mang Ujang, suami Bibi Eli. Di kedai hanya terdapat para pegawai Mang Ujang  yang sedang melayani para pembeli. Namun kedatanganku dan nenek disambut hangat oleh para pegawai Mang Ujang. Kami pun langsung disuguhi berbagai kuliner andalan kedai Mang Ujang, mulai dari batagor, sate padang, somay, rujak, es campur, dan jus buah. Wah, kedai pamanku ini ternyata ramai sekali. Selang beberapa menit kemudian Bibi Eli dan Mang Ujang beserta anak-anak mereka datang membawa mobil untuk menjemput kami. Aih-aih… adik-adik sepupu jauhku ini lucu-lucu sekali. Alyssa baru kelas 2 SD dan selalu menjadi juara kelas sejak TK. Otaknya terbilang sangat cerdas, beberapa kali aku menguji kemampuannya dalam beberapa pelajaran dan Alyssa selalu bisa menjawabnya dengan benar. Maka tak heran bila di kamarnya terpajang banyak piala kejuaraan yang diraihnya atas prestasinya di sekolah. Sementara adiknya, Azam, usianya baru beberapa bulan. Tetapi begitu kugendong ia tidak menangis. Azam bahkan tertawa-tawa riang saat berada dalam gendonganku. Berkali-kali ia berusaha meraih kacamata yang kupakai. Akan tetapi selalu gagal.

Foto bawah : nenek, aku, & Azam

image

Mumpung berada di Tangerang lagi aku berusaha membujuk Bibi  Eli agar mau mengunjungi Mang Ega, pamanku yang tinggal di Legok. Aku ingin bertemu dengan Fathiya dan Zaky lagi. Akhirnya usahaku membuahkan hasil setelah bibi mengutarakan keinginanku kepada Mang Ujang. Mang Ujang pun bersedia mengantarkan kami ke rumah Mang Ega. Nenek turut serta bersama kami karena nenek belum pernah mengunjungi Mang Ega sejak beliau pindah ke Legok. Asyik, kumpul keluarga lagi deh. Eeh, tapi baru beberapa hari yang lalu aku mengunjungi rumah Mang Ega di Legok, sekarang kok sudah lupa jalannya ya? Gara-gara jalan menuju perumahan pamanku ini terlalu banyak tikungannya, sehingga aku tidak mudah menghafalnya. Padahal waktu berkunjung ke sana beberapa hari lalu beberapa minimarket seperti Alfamart dan Indomart menjadi tempat patokanku. Namun aku baru sadar ternyata  di sana ada banyak sekali Alfamart dan Indomart! Jadi Alfamart dan Indomart mana yang harus jadi patokan jalanku? Segera kami hubungi Mang Ega kalau kami tersesat di jalan. Berkat plang-plang yang terdapat di pinggir jalan, kami berhasil mengidentifikasi lokasi keberadaan kami. Tak berapa lama Mang Ega datang mengendarai motor sambil membonceng Fathiya. Segera kami membukakan pintu mobil agar Fathiya ikut bersama kami. Sementara Mang Ega menjadi pemandu jalan di depan. Untunglah akhirnya kami sampai di rumah Mang Ega, Perumahan Puri Harmoni II. Baru turun dari mobil Bibi Dijah (istri Mang Ega) menyambutku di ambang pintu sambil tertawa, “Baru kemaren pulang dari sini sekarang sudah lupa jalan? Masak dari Kalimantan bisa nyampe ke sini, lha ini masih di Tangerang saja malah lupa jalan?” derainya menyindirku diiringi gelak tawa nenek dan Bibi Eli.

Paman dan adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil

image

Zaky dan Fathiya sangat senang kami bawakan somay dan es campur dari kedai Mang Ujang. Rupanya Bibi Dijah juga sudah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Hmm, sop ayam, yummy! Jarang-jarang aku bisa menikmati masakan bibi. Kami sekeluarga benar-benar menikmati kebersamaan kumpul keluarga yang jarang terjadi ini. Sayangnya kunjungan kami hanya berlangsung beberapa jam, kami harus kembali ke rumah Bibi Eli karena besok Alyssa harus menghadapi ujian midsemester di sekolahnya. Bibi Dijah kecewa karena aku malah ikut dengan Bibi Eli. Sebenarnya beliau berharap agar aku menggembleng Zaky dalam pelajaran Matematika. Kebetulan Zaky juga sedang menghadapi ujian midsemester. Sama halnya dengan Bibi Eli, beliau juga ingin aku mengajari Alyssa Bahasa Inggris. Siapa yang harus aku pilih? Nenek malah membujukku untuk ikut bersama Bibi Eli dengan alasan aku bisa langsung berkunjung ke rumah Bibi Yeye (adik mama) yang tinggal di Sumedang, kapanpun aku mau. Karena akses transportasinya lebih mudah didapat dari Graha Utama daripada dari Legok. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti keinginan nenek, dan Bibi Dijah pun tidak kecewa lagi.

Saat malam hari aku tengah mengajari Alyssa Bahasa Inggris, aku dikejutkan oleh kedatangan adik perempuanku. Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan adikku yang kini sibuk menjadi pramugari itu. Alyssa terbengong-bengong melihat aku dan adikku, “Kok nggak pada berantem?” celetuknya dengan mimik yang polos. Aduh Alyssa, kecil-kecil kepo banget sih. Rupanya Alyssa suka membaca percekcokanku dengan adikku di berbagai media sosial. Kelihatannya Alyssa sangat dekat dengan adik perempuanku ini. Buktinya di instagram adikku banyak sekali dipasang foto mereka berdua. Walaupun aku dan adikku sering bertengkar di media sosial tapi kalau sudah bertemu di kehidupan nyata tidak ada yang dapat menghalangi kerinduan kami. Buktinya adikku malah menyuruhku pulang ke rumah Bibi Eli lagi setelah aku menyambangi Bibi Yeye di Sumedang nanti. Ia ingin menitip baju baru untuk mama kalau aku pulang ke Kalimantan. Hmm, adik yang penyayang mama.

Keesokan harinya Mang Ujang dan Bibi Eli mengajak aku, nenek, dan adikku berbelanja ke pasar yang terdapat di Graha Utama setelah Alyssa berangkat sekolah. Hari masih sangat pagi ketika kami memasuki areal parkiran pasar. Baru kali ini aku memasuki pasar tradisional dengan gedung yang modern. Pasar Anyar yang terdapat di Bogor saja kalah bersih oleh pasar ini. Bibi dan nenek sibuk berbelanja membeli sayuran kesukaan adikku, sementara Mang Ujang mengajakku dan adikku untuk membeli kue-kue penganan di salah satu sudut pasar. Wah, senangnya kalau bepergian bersama Mang Ujang. Kami tak hentinya selalu ditraktir makanan oleh beliau. Usai berbelanja sayuran tak lupa Bibi Eli menggiring kami ke butik untuk membeli baju gamis yang akan diberikan adikku kepada mama. Butik itu adalah butik langganan bibi, maka bila bibi yang memilihnya kami akan mendapatkan diskon 30%. Lumayan kan…

Foto bawah : aku, adikku, & nenek (Ups adikku belum mandi, nggak kelihatan kaya pramugari kan? 😀 )

image

Sepulang dari pasar, Mang Ujang membawa kami ke kedai mengambil gado-gado untuk sarapan kami di rumah. Sambil menikmati sarapan tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari mama segera kuangkat dan kuloudspeaker. Aku, adikku, nenek, dan Bibi Eli bergantian mengobrol dengan mama. Senangnya hati mama mendengar kabar kalau adikku baru saja membelikan baju baru untuknya. Hari menjelang siang aku memutuskan untuk segera berangkat ke Sumedang. Aku tidak ingin menunda-nunda waktu karena jadwalku di Pulau Jawa akan sangat padat. Masih ada agenda pertemuan dengan kawan-kawan lama semasa sekolah dulu dan juga kunjungan ke beberapa instansi untuk mencari info seputar beasiswa pasca sarjana. Bibi Eli dan adikku sempat menahan kepergianku, tampaknya mereka masih kangen berat denganku sama seperti keluarga di Leuwiliang. Berkali-kali mereka menyuruh untuk bertahan lebih lama tapi kata hatiku mengatakan kalau aku harus segera menemui bibiku di Sumedang. Tepat pukul 10 aku pamit dan berangkat menuju halte bis. Huft, perjalanan panjang ini akan sangat melelahkan. Tapi aku tetap bersemangat!

#BERSAMBUNG#

My Trip In Java

 
image

Hari ini merupakan hari ke-9 aku berada di Pulau Jawa. Semua keluarga sudah kusambangi mulai dari Tangerang, Bogor, hingga Sumedang. Aku sangat bersyukur semua keluargaku dalam keadaan sehat wal’afiat tidak kekurangan suatu apapun. Aku senang keadaan keluarga besarku jauh lebih maju daripada dulu. Saat aku kecil, keluarga besarku hanyalah keluarga besar yang sangat sederhana tidak terlalu kaya dan juga tidak terlalu miskin, meskipun ada sebagian yang telah memiliki usaha atau wiraswasta. Keluargaku ini adalah keluarga besar mama, yang mana terdiri dari dua keluarga besar yaitu keluarga kakek (ayahnya mama) yang tinggal di Leuwiliang-Bogor Barat dan keluarga mendiang nenek (ibunya mama) yang bermukim di Cimanggu Kecil Kota Bogor Tengah. Keluarga besar kakek adalah keluarga yang didominasi oleh tentara dan guru/kepala sekolah. Semua saudara kakek berprofesi sebagai tentara sama seperti halnya dengan kakek. Sementara semua saudari kakek berprofesi sebagai praktisi pendidikan (guru dan kepala sekolah). Dulu ketika aku masih tinggal di Bogor, setiap lebaran tiba keluarga besar kakek berkumpul di rumah apih dan emih (kakek-neneknya mama) di Leuwiliang. Apih dan emih memiliki buku silsilah keluarga yang konon pernah kubaca dalam buku tersebut tercatat jumlah anggota keluarga kami yang telah mencapai ribuan anggota. Dan pada saat aku berlebaran (kelas 3 SD) di mana rumah apih dan emih menjadi sangat padat oleh para keturunannya, terhitung lebih dari 300 anggota keluarga yang masih hidup pada saat itu (1995). Di antara semua keturunan apih dan emih, mama merupakan cucu tersayang mereka dan sering dielu-elukan karena kepintaran dan kecantikannya. Wajar saja, saat sekolah dasar mama pernah terpilih menjadi bintang pelajar sekabupaten Sukabumi. Waktu itu kakek memang sedang bertugas di sana, sekitar tahun 1970-an. Mama bahkan menjadi lulusan terbaik pada masa itu. Semua nilai ujian negara diraih dengan hasil yang sempurna 10,00. Hebat kan? Dan pada masa remaja mama juga pernah memenangkan kontes kecantikan putri kebaya Jawa Barat. Sayang, keinginan mama menjadi seorang kowad tidak terlaksana karena kakek menentangnya. Kakek memaksa mama masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mengingat keluarga besar kami terutama kaum wanita berprofesi sebagai tenaga pengajar.

 

Keluarga besar mendiang nenek adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Tidak ada profesi yang menonjol seperti keluarga besar kakek. Oya, nenekku meninggal dunia di Lipat Kain-Riau, pada 1986 saat kakek bertugas dinas tentara di sana. Waktu itu umurku baru menginjak satu tahun, jadi seharusnya aku tidak ingat apa-apa tentang beliau. Hanya saja terkadang alam pikiranku yang rada ‘indigo’ (ceileh… gaya amat ya! 😀 ) sering membawaku pada bayangan-bayangan masa aku bayi. Pembaca bingung kan? Jadi begini pemirsa, waktu aku duduk di sekolah dasar kalau sedang termenung aku sering membayangkan kenanganku semasa bayi dipangku, dimandikan, digendong, dan ditimang-timang oleh nenek. Bahkan aku sangat hafal lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan oleh nenek. Kira-kira seperti ini liriknya :

 

Anakku yang kusayangi

Apa yang kau tangisi?

Mari kita bersama menyanyi

Lagu yang menarik hati…

 

Pernah aku melontarkan kepada mama mengenai apa yang kulamunkan tersebut. Semua yang kulihat dalam lamunan mengenai wajah nenek, suara nenek, hingga warna-warna dan corak pakaian yang dipakai oleh nenek, kuceritakan kepada mama. Mama sangat kaget mendengarkan penuturan ceritaku. Karena ternyata semua itu adalah nyata dan pernah terjadi pada masa aku bayi. Jadi, sebenarnya apa yang sudah aku alami? Apakah itu sebatas De Javu? Atau aku memang terlahir sebagai anak indigo yang bisa melihat masa lalu? Benar-benar aneh tapi nyata.

 
image

Kembali ke topik judul tulisanku di atas, kali ini aku akan melanjutkan ceritaku yang terputus pada tulisanku sebelumnya. Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sembilan hari yang lalu (2 Maret 2015), aku berpisah dengan Mr. X teman seperjalananku yang baik hati. Dia melanjutkan perjalanannya ke kota kelahirannya, Bandung, sedangkan aku langsung menaiki bis Damri guna melanjutkan perjalananku menuju Tangerang setelah sebelumnya aku sempat beberapa kali dibujuk oleh supir taksi yang ingin mendapatkan penumpang. Mereka bilang, berhubung perjalanan yang kutempuh sangat jauh mereka bersedia mematikan argo dan aku cukup membayar Rp250.000,00 saja. Namun aku enggan mengikuti keinginan para supir taksi itu. Bersyukur aku tidak kena paksa seperti supir taksi yang pernah nyaris membunuhku saat aku pertama kali menginjak Semarang sebelas tahun lalu. Selang beberapa menit setelah aku menaiki bis Damri, aku turun persis di depan Rumah Sakit Harapan Kita (Harkit). Ongkos yang kubayar hanya Rp40.000,00. Relatif mahal untuk ukuran bis Damri. Kemudian setelah turun dari bis, aku bergegas menaiki jembatan penyeberangan dan menaiki bis jurusan Blok M-Poris Plawad AC 34. Kali ini aku mengocek Rp8.000,00 lumayan murah. Setelah mengalami kemacetan yang panjang, aku turun di Islamic Center. Dari sana aku menyambung perjalanan dengan menaiki angkot jurusan Binong. Kepada abang supir yang terlihat masih remaja aku sempat berpesan minta diturunkan di depan McD Lippo. Eh dasar ABG labil, si abang supir malah asyik ugal-ugalan hingga nyaris menyerempet mobil angkot lainnya. Sampai-sampai pesanku sama sekali tak dihiraukan. Manakala aku tidak hapal daerah Tangerang. Emaaaak… aku tersesat! Setelah berhasil menyalip banyak kendaraan yang dilaluinya, si abang supir baru teringat pesan yang kusampaikan saat aku menaiki angkotnya. “Tadi Bapak pesan minta diturunkan di depan McD Lippo kan?” ujarnya dengan mimik tanpa dosa. “Wah maaf Pak, McD Lippo-nya sudah kelewat!” imbuhnya santai. Whatdezzig! Mana sarung tinju? *tanduk keluar dari kepala*

 

Untung aku orang yang sabar. Segera aku meminta berhenti dan turun dari angkot, tak lupa aku membayar Rp3.000,00 sebagai ongkos. Buru-buru aku menyeberang jalan dan menaiki angkot yang berlawanan arah dengan angkot tadi. Untung saja angkot berikutnya lebih santai mengemudikan mobilnya, akupun tiba di depan McD Lippo dengan selamat. Begitu aku turun dari angkot, aku sangat kaget dan takut untuk menyeberang. Kendaraan yang berlalu-lalang jumlahnya terbilang sangat banyak dan aku sudah lama tidak terbiasa dengan hiruk-pikuk suasana kota di mana kendaraan saling berebut jalan. Berbeda dengan para pengemudi kendaraan di Kalimantan Tengah, mereka sangat santun di jalan raya. Para pengemudi kendaraan di Kalimantan Tengah terbiasa menghormati para pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Biasanya para pengemudi itu akan berhenti sejenak dan mempersilakan para pejalan kaki untuk lewat atau melintas. Sangat sopan bukan? Tanpa kusadari ketakutanku akan keramaian lalu lintas kota Tangerang sempat diperhatikan oleh pamanku yang telah menjemputku di seberang jalan. Diam-diam pamanku menertawakan tingkah lakuku yang menurutnya sangat lucu.

 
image

image

Pamanku ini adalah adik mama nomor 5. Mama memiliki 6 orang adik, akan tetapi adik mama yang bungsu meninggal dunia pada tahun 2000 tepat saat aku masih kelas 2 SMP. Beliau meninggal pada usia remaja 17 tahun karena penyakit malaria yang dibawanya ketika pulang dari Kalimantan. Jadi paman yang sedang kukunjungi di Tangerang ini sekarang menjadi paman bungsuku. Beliau memiliki 2 orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Adik-adik sepupuku ini masih duduk di sekolah dasar. Zaky adalah adik sepupuku yang laki-laki, sejak usia satu tahun dia sudah menguasai komputer. Baik software maupun hardware. What, satu tahun sudah menguasai komputer? Pembaca tidak percaya kan? Dikasih makan apa ya bisa jenius begitu? Pamanku memang seorang perakit komputer di rumahnya sebagai pekerjaan sampingan. Jadi tidak heran kalau sekarang Zaky sudah kelas 5 SD sangat handal mengotak-atik komputer. Memang beda ya perkembangan anak zaman dulu dengan anak zaman sekarang. Begitu pula halnya dengan Fathiya, adik Zaky yang masih kelas 1 SD. Fathiya sangat senang bermain game on line sejak usia balita. Istri paman sangat resah kalau kedua adik sepupuku ini tidak ingat waktu untuk belajar, makan, dan shalat bila mereka terlalu asyik bermain game on line. Terlebih di rumah pamanku ini berlangganan wifi bulanan. Aku sendiri juga keasyikan berselancar internet via wifi di rumah paman. Sebagai seorang kakak sepupu yang berjiwa pendidik, aku berkewajiban membimbing Zaky dan Fathiya dalam belajar. Syukurlah selama aku menginap di rumah paman, Zaky dan Fathiya sangat menurut kepadaku. Mereka tidak pernah membantah perkataanku. Aku sangat sayang kepada dua adik sepupuku ini. Sayangnya aku tidak bisa bertahan lebih lama di Tangerang. Sebab aku harus menyambangi keluargaku yang lain di Bogor dan Sumedang, mengingat banyaknya keluargaku di Pulau Jawa. Aku hanya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di rumah paman. Tepat pada hari ketiga aku berada di Tangerang, aku pamit kepada paman untuk berkunjung ke rumah umi (adik mendiang nenek) yang tinggal di Bogor. Meskipun umi adalah adik mendiang nenek, beliau tetap adalah nenekku juga. Hubungan kami sangat akrab, terlebih aku dilahirkan di rumah umi. Dan ketika aku dikhitan, umilah satu-satunya orang yang menenangkan perasaanku agar aku tidak takut kepada mantri khitan. Umi bahkan setia menemaniku di ruang khitan selama prosesi khitanan berlangsung. I love you umi… ❤

 

Dari Tangerang menuju Bogor perjalananku ditempuh dengan menaiki bis jurusan Kampung Rambutan dengan tarif ongkos Rp16.000,00 tetapi aku turun di Stasiun Cawang karena aku rindu dengan kereta listrik. What a surprise! Begitu aku turun dari bis, mataku terbelalak tak percaya. Suasana stasiun sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi pedagang kaki lima yang biasa mangkal dan menjual barang-barang murah seperti dompet, ikat pinggang, VCD bajakan, gelang manik-manik, kacamata, dan lain sebagainya. Tampaknya Ignatius Jonan semasa menjabat kepala PT. KAI berhasil menyapu bersih para pedagang illegal tersebut. Yah, padahal aku kepengen banget membeli souvenir dari para pedagang itu. Tapi mengingat hal ini untuk keteraturan masyarakat, dalam hati aku mengacungi jempol kinerja bapak mantan kepala KAI yang kini menjabat sebagai menteri perhubungan itu. Dua jempol untuk Bapak Menteri! Mataku semakin terbelalak lebar setelah membeli tiket yang murahnya minta ampun. KRL yang dulu kukenal sekarang telah berganti nama menjadi commuter line alias CL. Tiketnya sudah tidak berupa lembaran karcis macam obat nyamuk elektrik seperti zaman dulu. Adapun tiket CL zaman sekarang berupa sebuah kartu yang menyerupai kartu ATM dan berlaku untuk 5 stasiun dalam sehari tanpa keluar dari zona stasiun. Kartu ini juga dipakai untuk keluar masuk besi pembatas dari dan menuju stasiun bagian dalam. Hanya dengan Rp8.500,00 kita dapat menaiki CL jurusan Jakarta-Bogor. Harga tersebut sudah termasuk biaya jaminan kartu apabila kita menghilangkannya dalam perjalanan atau terbawa pulang. Jadi apabila kita telah sampai di stasiun tujuan, alangkah lebih baik bila kita menukarnya kembali dengan uang jaminan kita Rp5.000,00 di loket pembelian tiket. Berarti ongkos kereta dari Jakarta ke Bogor hanya Rp3.500,00 dong? Wow, murah sekali bukan! Naik kereta lagi ah… 😀

 
image

Kereta jurusan Bogor selalu tersedia setiap 5 menit sekali. Aku terpana melihat gerbong CL yang begitu rapi dan bersih. Apalagi sekarang sudah tidak ada pengamen, pedagang asongan, dan pengemis lagi. Suasananya benar-benar membuatku nyaman. Semua penumpang dapat duduk dengan tenang. Beberapa orang security berjalan hilir-mudik mengawasi setiap gerbong. Aku semakin terpukau dibuatnya. Uniknya lagi gerbong paling depan merupakan gerbong khusus kaum perempuan. Tapi kira-kira mengapa khusus untuk perempuan ya? Memangnya di dalam gerbong itu ada apaan sih? Apa ada arisan khusus ibu-ibu? Atau ada ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya? Atau kamar bersalin mungkin? Akh, aneh-aneh saja ya sodara-sodara? Coba ada gerbong khusus laki-laki juga! Mungkin isi gerbongnya adalah sekumpulan bapak-bapak yang sedang main gapleh, main catur, nonton sepak bola, adu tinju, dan mancing ikan. Hehe… ngarep.com

 

Pemandangan demi pemandangan berlalu di hadapanku melalui kaca jendela. Perasaanku berdebar-debar tidak menentu. Tinggal beberapa menit lagi aku akan segera tiba di kota kelahiranku. Kota yang dijuluki sebagai kota hujan, kota patung sapi (Baqor), kota Buitenzorg (Holland van Java), dan juga Tanah Pajajaran. Aku begitu rindu kepada umi dan kotaku tercinta. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera turun dari kereta. Akhirnya kereta pun berhenti setelah 30 menit perjalanan. Langkah-langkah kakiku sudah tidak tahan untuk segera menginjak tanah Bogor. Sayang cerita ini harus kusambung lagi pada postinganku berikutnya. Sampai jumpa pembaca semua…

Tahun Kesebelasku di Kalimantan

image

Kemarin aku bertemu Pak Arif, pimpinanku semasa aku mengajar di SMANBA (2005-2013). Beliau menanyakan kabarku dan kami pun mengobrol seputar bimbingan belajarku di rumah. Akupun bercerita kalau akhir bulan nanti akan pergi ke Pulau Jawa entah untuk seberapa lama. Beliau berpesan sama seperti dulu setiap aku akan pulang ke Bogor, kota kelahiranku. “Kalau sudah minum air Kalimantan, pasti tidak akan betah di Jawa!” tutur beliau seraya menceritakan pengalamannya yang juga kerap tidak betah berlama-lama meninggalkan Kalimantan. Jujur kuakui beliau adalah orang yang bijak, karena beliau tidak pernah memandang manusia dari latar belakang pendidikannya melainkan dari kapasitas kemampuannya meskipun pendidikan orang tersebut sangat rendah. Buktinya meskipun pada 2005 silam aku masih tamatan SMA namun beliau menerimaku untuk mengajar di SMANBA. Sebab beliau mengakui kapasitas kemampuanku dalam mengajar. Pun demikian dengan penilaian para rekan guru pada masa itu, mereka turut mengacungi jempol atas bakat alamiahku dalam mengajar. “Kami salut dengan Pak Sugih, meskipun baru lulus SMA tapi Pak Sugih memiliki jiwa seorang guru. Sedangkan kami yang sudah sarjana saja masih canggung menghadapi murid!” begitulah kata rekan-rekanku sepuluh tahun silam.

Waktu memang terus bergulir, tanpa terasa kini aku sudah sebelas tahun lamanya menetap di Pulau Kalimantan. Selama tahun 2004-2008 aku masih menikmati perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor sedikitnya setahun sekali. Selepas itu aku tak pernah lagi pulang ke kota yang dijuluki sebagai kota hujan itu. Kini aku merasa sangat rindu, rindu sekali, rindu yang sangat berat yang kupikul selama tujuh tahun ini. Bayangkan, Bang Toyib saja meninggalkan kampung halamannya hanya tiga tahun. Sedangkan aku jauh lebih parah darinya! Hadeuh… 

Setelah aku resign dari SMANBA pada Juni 2013, sekitar empat bulan yang lalu akupun resign dari SDN Bangun Jaya. Aku memutuskan untuk berhenti berkiprah di sekolah. Bukan karena aku bosan mengajar. Melainkan karena rasa jenuh tinggal di Kalimantan yang sangat sunyi. Entah mengapa aku merindukan keramaian, hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, dan suasana pasar yang senantiasa padat oleh pengunjung. Aku berpikir untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang master/pasca sarjana (S2) di Pulau Jawa ataupun mencari beasiswa ke luar negeri. Dan aku pikir beasiswa itu kini tengah berada dalam genggamanku, karena aku telah memenuhi semua kualifikasinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengambilnya.

Semua orang di sekitarku amat menyayangkan keputusanku. Pasalnya saat ini bimbingan belajar yang telah kudirikan selama sebelas tahun lamanya tengah berada di puncak kejayaan. Dulu susah payah aku merintisnya dengan peluh keringat mengetuk pintu dari rumah ke rumah guna mencari pelanggan dan hanya dengan berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya jalan yang kutempuh aku terus berupaya menghimpun kepercayaan masyarakat bahwa aku adalah ‘teman’ yang tepat untuk membimbing putra-putri mereka dalam belajar. Akhirnya aku berhasil membuktikan bahwa siswa-siswi hasil bimbinganku mampu menjadi anak yang cerdas sesuai harapan orang tua mereka. Banyak sekali murid bimbinganku yang menjadi juara kelas, juara tiga besar, juara olimpiade SAINS, juara debat Bahasa Inggris, juara pidato Bahasa Inggris, juara telling story, dan segudang prestasi lainnya. Kini aku tak perlu lagi melakukan seperti apa yang dulu pernah kulakukan. Cukup berongkang kaki di rumah menunggu para pelangganku datang dengan sendirinya. Keunggulan bimbingan belajarku telah tersebar dari mulut ke mulut. Mungkin akulah orang yang selalu dicari masyarakat guna ‘menitipkan’ anak mereka di bimbingan belajarku. Meskipun bimbingan belajarku ini tidak terdaftar secara resmi di dinas pendidikan. Terbukti berdasarkan survey orang tua murid yang datang kepadaku, mereka mengatakan bahwa bimbingan belajarku adalah bimbingan belajar teramai di kecamatan kami, Balai Riam. Terlebih lagi aku memberikan pelajaran bahasa asing di bimbingan belajarku antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Pelajaran bahasa asing tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak bangku sekolah dasar dan menengah yang ingin melihat dunia luas.

Berhenti mengajar di dua sekolah yang kucintai bukan berarti hubunganku dengan kedua sekolah tersebut putus begitu saja. Bagaimanapun aku masih membina hubungan baik dengan rekan-rekan kerjaku. Sebab bagiku mereka adalah keluargaku sendiri tempat aku berkeluh-kesah selama ini. Saat mengundurkan diri aku berpamitan secara baik-baik dan berusaha meninggalkan kesan yang baik. Pimpinanku bahkan berpesan kepadaku, “Kalau ada waktu berkunjunglah ke mari! Kita ngobrol-ngobrol lagi seperti dulu!” rekan-rekan sesama guru masih sering bertemu denganku dan selalu bertegur sapa di jalan. Terkadang mereka mengirimiku pesan melalui SMS, WhatsApp, dan lain sebagainya agar aku mau mengunjungi mereka di sekolah. Uniknya meskipun aku sudah mengundurkan diri, aku merasa seperti masih mengajar di sekolah. Guru-guru dan kepala sekolah kerap datang menemuiku di rumah untuk meminta pertolongan kepadaku.

“Tolong latih anak-anak debat Bahasa Inggris ya Pak Sugih! Sekalian dampingi mereka saat lomba nanti di kabupaten!” 

“Pak, ada waktu nggak? Tolong bimbing anak-anak buat persiapan menghadapi Olimpiade SAINS bulan depan!” 

“Saya mau lanjut kuliah S2, bisa tidak saya les Bahasa Inggris sama Pak Sugih? Tolong bantu ya!”

“Bersediakah Pak Sugih mengoreksi Bahasa Inggris dalam tesis saya? Maklum, saya ndak bisa Bahasa Inggris!”

Tanganku selalu terbuka membantu mereka selagi aku mampu melakukannya. Aku heran mengapa selalu aku yang mereka cari? Seolah-olah hanya aku yang bisa diandalkan. Akan tetapi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang mereka berikan kepadaku, bukan?

Terus terang saat ini aku merasa berada di persimpangan jalan. Aku tengah berdiri dihadapkan  di antara dua pilihan : mengambil beasiswa ke luar negeri yang selama ini kuimpikan atau terus mengembangkan usahaku di dunia pendidikan di Kalimantan. Aku benar-benar dilema hingga mengalami insomnia berbulan-bulan lamanya. Bila aku mengambil beasiswa akankah aku bisa bertahan dengan keadaan di luar sana? Aku takut setibanya aku di luar negeri nanti aku akan mengalami homesick, culture shock, dan kerinduan yang mendalam kepada dunia yang tengah kujalani seperti sekarang ini. Tetapi ini adalah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi seperti saat aku lulus SMA pada 2004 lalu. Ya, dulu aku begitu bodoh melepas beasiswa ke Jepang yang sangat aku dambakan begitu saja. Sampai akhirnya aku berubah, aku tak lagi menginginkan untuk dapat berkuliah di Jepang. Bila suatu masa itu datang, aku hanya ingin berjalan-jalan di Jepang. Negara yang ada dalam pikiranku saat ini adalah Finlandia. Aku ingin melanjutkan program master di sana. Negara pencipta Angry Bird, game yang senantiasa membuatku tertawa di kala aku jenuh dengan pekerjaan. Bagiku Jepang dan Finlandia seperti dua surga yang terpisahkan dari Indonesia. Keduanya sangat menyejukkan mata.

Di sisi lain aku ingin mengabulkan harapan mama, mendirikan bimbingan belajar resmi di sebuah kota kecil tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dan aku sudah memiliki cukup modal untuk membukanya. Kalimantan memang prospek masa depan bagi kami. Kami akan menjadi pioneer di bidang kami. Karena staf pengajar di bimbingan belajar kami hanya kami berdua, aku dan mama. Akan tetapi bila aku tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, aku pikir aku takkan lagi mendapatkan kesempatan yang kedua kali. Terlebih usiaku akan semakin bertambah tua pastinya. Manakala akupun sudah kecewa kepada pemerintahan Presiden Jokowi yang telah membekukan penerimaan pegawai negeri sipil hingga 5 tahun ke depan nanti. Tidakkah ini berarti beliau tidak memberiku kesempatan untuk menjadi pegawai negeri? Padahal hatiku sudah mantap dan yakin kalau tahun 2015 ini aku bisa lolos tes penerimaan CPNS. Akh, aku tidak akan mempermasalahkan kebijakan yang dijalankannya. Bagiku yang penting aku masih memiliki masa depan.

Dua pilihan yang harus kutentukan, harus segera kuputuskan. Aku tidak ingin mengambil salah jalan. Karena keduanya menyangkut masa depan. Dalam dingin gelapnya malam, lagi aku menikmati insomnia yang membuatku diam terpekur karenanya.

Balai Riam, 15 Februari 2015

HidingPrinceOfBorneo, Apa-Siapa-dan Bagaimana Aku?!

Mungkin orang akan tertawa membaca arti username yang kugunakan pada blog ini. HidingPrinceOfBorneo, kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah : Pangeran yang bersembunyi dari Kalimantan.

What? Elo seorang pangeran Gih? Atau keturunan raden? Ehm, elo pangeran kodok ya Gih? Ah, gue tahu, loe pasti pangeran bekantan mantannya si Manohara E.Pinot itu kan? :D=))º°˚˚°º≈ Continue reading