Selamat Hari Pahlawan

‚Äč
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Hari ini merupakan tanggal 10 November, bertepatan dengan hari pahlawan nasional ke-71. Bagaimana cara Anda memaknai hari pahlawan? Bagi saya pribadi pahlawan bukan hanya sosok tokoh yang berjuang dengan senjata di medan perang demi membela harkat dan martabat bangsa. Kemudian gugur di medan laga. Lebih dari itu, pahlawan adalah sosok yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebahagiaan semua orang. Bukan mementingkan ego semata. 

Mungkin saya tidak pernah mengalami peristiwa peperangan. Akan tetapi saya dapat merasakan esensi perjuangan para pahlawan. Dengan mempelajari sejarah perjuangan bangsa, saya dapat memahami arti sebuah kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan dipertahankan oleh para pahlawan nasional. Saat ini kita hidup di sebuah zaman di mana tugas kita hanya untuk mengisi kemerdekaan. Namun bukan berarti hidup di masa ini telah lepas dari kata ‘perjuangan’.

Penjajahan (kolonialisasi dan imperialisasi) telah berevolusi menjadi bentuk lain. Masyarakat Indonesia dewasa ini tengah dikungkung oleh kemalasan karena adanya kecanggihan teknologi dan peningkatan arus globalisasi. Penjajahan seakan-akan mengalami metamorfosa dalam bentuk baru. Haruskah kita berperang? Ya. Kita harus memerangi diri kita sendiri. Melawan kemalasan yang kita miliki. Karena kemalasan merupakan pangkal dari kebodohan. Kemalasan adalah penyebab dari kehancuran manusia. 

Sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa tenaga kependidikan, sangat sulit bagi saya menanamkan rasa nasionalisme, kedisiplinan, dan mentalitas pahlawan kepada murid-murid saya. Generasi muda sekarang ini telah salah mengartikan ‘mengisi kemerdekaan’ yang seharusnya diisi dengan berbagai kegiatan positif yang memajukan pendidikan, tetapi malah diisi dengan hal-hal yang tidak sewajarnya mereka lakukan. Masyarakat sering kali menyalahkan ‘guru’ di sekolah. Guru dianggap telah gagal dalam mendidik generasi muda. Sebaliknya guru menampik dan menuduh balik bahwa orang tua peserta didiklah yang telah gagal mendidik putra-putri mereka sendiri.

Sadarilah! Tidak seharusnya kita saling menyalahkan, bukan? Semua pihak seyogyanya dapat belajar dari perjuangan para pahlawan bagaimana dulu mereka bersatu untuk mengusir para penjajah. Dengan semangat persatuan dan kesatuan, mari kita perangi kemalasan dalam diri kita guna mencetak generasi cerdas penerus bangsa yang akan senantiasa melindungi kebestarian kemerdekaan dan memaknai hakikat kemerdekaan dengan baik.