Budaya Pus Am

Sebenarnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Sedikit khawatir bila tulisan ini akan menuai kontraversi seperti jambul Khatulistiwanya Syahrini, karena artikel yang akan saya angkat menyangkut adat-istiadat masyarakat luas di daerah tempat tinggal saya. Setelah saya mempertimbangkan lebih lanjut, saya harus menulis artikel ini dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Sebab pada hakikatnya segala sesuatu hal senantiasa memiliki dua sisi yang bertolak belakang: baik dan buruk, positif dan negatif, menguntungkan dan merugikan.

Masyarakat di daerah barat daya provinsi Kalimantan Tengah mengenal budaya pus-am sejak zaman nenek moyang mereka menempati wilayah tersebut yang meliputi kabupaten Sukamara, kabupaten Lamandau, dan sebagian kabupaten Kotawaringin Barat. Ada pula masyarakat di wilayah selatan kabupaten Ketapang yang terletak di provinsi Kalimantan Barat. Lalu, apakah yang dimaksud dengan budaya pus am itu?

Lebih tepatnya pus am atau kerap juga dilafalkan pusam dalam aksen cepat, adalah suatu kebiasaan masyarakat di wilayah yang telah saya sebutkan di atas, di mana mereka enggan memedulikan suatu persoalan yang mungkin dianggap penting oleh lawan bicaranya. Secara harfiah pus dapat diartikan ‘biar saja’ dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi masyarakat cenderung mengartikannya sebagai suatu ungkapan yang berarti ‘masak bodoh’. Masyarakat di perbatasan Kalbar dan Kalteng seringkali melafalkannya, “pus am!” atau “pus am bah!” dengan intonasi meninggi pada kata ‘am’ dan memanjang pada pengucapan kata ‘bah’ menjadi ‘baaah!’ 

Kata ‘am’ dan ‘bah’ itu sendiri tidak memiliki makna yang berarti. Kedua kata tersebut hanya menjadi penghias kalimat, atau penekan kalimat yang mengindikasikan kasar-halusnya suatu pengucapan. Bunyi ucapan tersebut memang tidak nyaman didengar dan terkesan kasar. Akan tetapi kebiasaan mengucapkan kata-kata pus am telah mendarah daging di masyarakat sehingga menjadi tradisi. Saya kerap dibuat jengkel tatkala mendengar seseorang mengatakan pus am kepada saya. Seringnya saya mendengar kata-kata tersebut akhirnya saya menjadi terbiasa dan bersikap sabar ketika menyikapinya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan yang pernah saya alami dengan budaya pus am antara lain sebagai berikut:

Pertama, waktu itu saya baru menjadi seorang guru di sebuah SMA. Murid-murid saya tidak berpakaian rapi layaknya pelajar. Dan saya menegur mereka, “Tolong dimasukkan pakaiannya ya, supaya kelihatan rapi!” Namun mereka membalas ucapan saya dengan pernyataan, “Pus am, Pak! Apa guna rapi-rapi?” sambil berlalu meninggalkan saya tanpa mengindahkan teguran saya. Melihat hal itu, saya hanya menggeleng-geleng kepala.

Kedua, pernah suatu ketika saya menyuruh salah seorang siswa untuk menjenguk temannya yang beberapa hari tidak masuk sekolah. “Sudah beberapa hari Rafta tidak masuk sekolah, bisakah kamu mampir ke rumahnya sepulang sekolah nanti? Barangkali dia sakit,” pinta saya waktu itu. Tak disangka jawaban murid yang saya mintai tolong itu seperti ini, “Pus am bah! Apa guna juga menjenguk dia? Biar ja amun dia sakit.” Ujarnya dengan nada datar. Mulut saya ternganga mendengar jawaban tersebut. Apakah dia tidak memiliki solidaritas, pikir saya.

Ketiga, saat sedang ujian berlangsung salah seorang siswa tak kunjung mengisi lembar jawabannya. Sementara waktu ujian akan segera habis. Secara kebetulan saya sedang mengawas. Tentu saja begitu saya melihat kejadian itu, saya langsung menegur siswa yang bersangkutan. “Tolong lembar jawabanmu segera diisi, karena waktu ujian sudah mau habis. Maaf, saya tidak bisa memberi perpanjangan waktu untuk itu,” ucap saya dengan hati-hati. Lagi, mata saya harus membelalak lebar mendengar tanggapan si empu kertas. “Alah, pus am bah, Pak! Mau waktunya habiskah, mau diperpanjangkah nggak urus. Biar nggak dapat nilai juga!” 

Saya tidak habis pikir mengapa orang-orang di daerah tempat tinggal saya memiliki pola pikir yang begitu pendek. Mereka tidak mau memedulikan apa yang orang lain khawatirkan meskipun hal tersebut berkaitan erat hubungannya dengan mereka. 

Kejadian lain yang pernah saya alami, suatu hari saya melihat seorang anak balita kira-kira berusia dua tahun berjalan kaki mengikuti ibunya keluar masuk hutan untuk mencari rebung. Panas matahari begitu terik, bocah itu tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Bocah itu meraung-raung kesakitan sambil terus mengejar sang ibu yang berjalan jauh di depan. Saya tidak tega melihatnya, apalagi kaki si bocah dipenuhi luka parut akibat bergesekan dengan semak berduri dan ranting pepohonan yang tidak bersahabat dengannya. “Aduh Bu, ini anaknya kasihan luka-luka. Ayo saya antar ke puskesmas,” tawar saya seraya menggendong si bocah. Sang ibu dengan sikap acuh tak acuh, hanya menoleh ke arah saya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya jauh ke dalam hutan. “Pus am, Pak! Suruh dia jalan lagi!” teriaknya tiba-tiba dari kejauhan. Ya, saya maklum penduduk lokal memang terbiasa berjalan tanpa alas kaki. Karena itulah mereka memiliki fisik yang sangat kuat. Tapi untuk anak seusia itu? Terlalu dini rasanya. Atau jiwa saya yang terlalu lembut?

Di lain waktu pernah pula seorang teman meminjam beberapa barang milik saya antara lain jam tangan, jaket, dan sepatu. Entah disengaja atau tidak, semua barang yang dipinjam oleh teman saya itu ditinggalkannya di kamar hotel ketika ia berjalan-jalan ke kota dengan kekasihnya. Setelah saya memintanya untuk mengembalikan barang-barang tersebut, dengan enteng teman saya ini menjawab, “Pus am bah! Ambil aja sendiri ke hotel sana!” Grr… Benar-benar menjengkelkan punya teman seperti itu. 

Ada banyak sekali kejadian berujung pus am yang saya alami. Kebanyakan pus am-pus am itu lebih bermakna ‘Sorry ya, aku nggak peduli’. Sampai akhirnya saya memahami mengapa tradisi pus am telah mendarah daging di masyarakat sejak zaman bahari. Konon dahulu kala di pedalaman pulau Kalimantan pada masa kolonialisme dan imperialisme bangsa barat, para kompeni tidak pernah sampai ke area pedalaman. Sehingga penduduk di pedalaman tidak terlalu menderita seperti halnya penduduk di kota yang notabene banyak mengalami penyiksaan. Penduduk pedalaman berjiwa bebas. Mereka berperang bukan untuk melawan penjajah, melainkan suku lain yang dianggap musuh oleh suku mereka. Begitu negara Indonesia merdeka dan pulau Kalimantan masuk ke dalam wilayah NKRI, penduduk di pedalaman tidak begitu mengerti makna sebuah kemerdekaan. Mereka kurang menjiwai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila seperti tenggang rasa, toleransi, musyawarah, dan jiwa nasionalisme. Saking kurang memahaminya, pernah saya mengunjungi suatu dusun di pelosok Kalbar pada bulan Agustus untuk melihat perayaan dirgahayu RI di sana. Setibanya di sana saya sangat kaget, karena saya merasa tiba-tiba bukan berada di negara sendiri. Sepertinya saya sudah tersesat ke Republik Polandia. Karena apa? Sang saka merah putih dikibarkan terbalik di setiap halaman rumah para penduduk dusun. Saat saya memberitahu warga bahwa pemasangan bendera di dusun mereka semua terbalik, lagi-lagi warga hanya menanggapi perkataan saya dengan kata, “Pus am!”

Apa saya terus tinggal diam menyikapi orang-orang di sekitar saya untuk melestarikan budaya pus am? Awalnya saya maklum, dan hanya bisa menerima perlakuan yang tidak mengenakkan ini secara sepihak. Seiring bergulirnya waktu akhirnya saya mencoba untuk menentangnya. Tentu saja bukan dengan cara yang ekstrim dan anarkis. Cara saya adalah menempatkan diri saya sebagai bintang drama Korea. Haha… mungkin ini lucu kedengarannya. Silakan Anda baca kembali cerita kejadian-kejadian yang telah saya alami di atas. Bayangkan kalau Anda sedang menyaksikan adegan drama Korea di mana para tokoh-tokohnya sedang cekcok satu sama lain. 

Setiap ada murid yang penampilannya tidak rapi, saya tetap menegur mereka untuk merapikannya tak peduli bila mereka mengatakan pus am kepada saya. Bila mereka tak mengindahkan perkataan saya, maka aksi drama Korea saya adalah menghalangi langkah mereka sebelum mereka berlalu meninggalkan saya. “Hey, biar saya saja yang merapikan pakaian kalian! Orang tua kalian tidak pernah mengajari bagaimana cara berdandan ya? Ayo, sini saya ajarkan sekalian! Penampilan saya sepuluh kali lebih rapi daripada Lee Min Ho. Kalian tahu itu?” Sengit saya seraya bergerak menghampiri mereka.

Setiap kali melihat murid yang tidak peduli terhadap keadaan temannya, saya membujuk mereka dari hati ke hati, “Ayolah, kalian tidak sedang putus cinta kan? Apa kamu tahu kalau dia selama ini sebenarnya sangat perhatian terhadapmu? Kamu pasti tidak tahu kan seberapa besar pengorbanan yang telah dia lakukan selama ini untukmu? Jadi, saya mohon jenguklah dia di rumahnya. Dia pasti akan sembuh setelah melihat kedatanganmu! Ayo, kita jenguk dia sama-sama!” 

Dan setiap kali saya mendapati teman yang tidak bertanggung jawab atas barang-barang yang mereka pinjam dari saya, maka aksi drama Korea saya selanjutnya adalah: “Bisa tolong tunjukkan kartu identitasmu? Silakan tunggu sebentar, tidak lama lagi polisi akan tiba di sini. Baru saja saya melaporkan kalau ada anggota teroris yang mengidap penyakit demensia di sini.”

Haha… Ini konyol sekali, kan? Mungkin ini terlalu frontal. Akan tetapi memang demikianlah karakteristik penduduk di daerah saya. Karakter mereka tidak berbeda dengan karakter orang Korea dalam drama. Saat seseorang bersikap frontal terhadap kita, maka cara jitu yang bisa mengatasinya adalah membalas tindakan secara frontal kembali. Bukan hanya diam menerimanya begitu saja secara sepihak. Karena itulah mengapa saya bersikap layaknya para aktor Korea.  

Usaha saya selama ini tidak sia-sia. Sebagai seorang guru yang berpacu dengan arus globalisasi, saya harus memiliki sikap kontemporer. Di mana jiwa pendidik yang bersemayam di dalam diri saya tidak harus selamanya ortodoks yang senantiasa mengikuti sikap kharismatis Oemar Bakri, sang guru teladan yang fenomenal itu. Katakan saja saya adalah seorang guru yang sensasional, tetapi justru sikap seperti inilah yang cocok diterapkan dalam mendidik putra-putri generasi muda di daerah saya. Dengan berbagai metode pendekatan sensasional yang saya lakukan terhadap orang-orang di sekeliling saya, pada saat ini budaya pus am telah berbalik memberi kesan yang jauh lebih baik daripada empat belas tahun sebelumnya. 

Ketika seorang teman belum mengembalikan uang yang dipinjamnya, sang pemberi pinjaman berkata: “Pus am bah! Enggak apa-apa, nggak dikembalikan juga. Saya ikhlas kok!” Oh, tidakkah ini sangat dermawan? 

Ketika seorang teman membayarkan makanan yang kita makan, kita bermaksud mengganti biaya yang telah dibayarkannya. Maka teman itu akan berkata, “Nggak usah diganti! Pus am bah, biar saya yang bayar!” 

Dengan demikian dari dua contoh kejadian di atas, perkataan pus am telah mengalami pergeseran makna menjadi: “Sudahlah, biar saja tidak apa-apa!” dengan penekanan yang sangat halus. Itulah pengalaman saya dalam kurun empat belas tahun terakhir mengenai budaya pus am di daerah saya. Tak diduga budaya dalam drama Korea bisa memberikan manfaat dalam kehidupan saya. Percayalah, di mana ada aksi pasti akan menimbulkan reaksi. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya. Salam…

Advertisements

Lomba Peneliti Belia Kalimantan Tengah Berbasis Muatan Lokal 2016


​​

Setahun lamanya saya tidak menulis di sini. Rasa malas yang begitu besar mengalahkan niat saya untuk konsisten menulis. Pekerjaan di kantor dan di rumah yang tak pernah ada habisnya membuat saya lelah sehingga saya malas untuk menulis. Belum lagi tugas kuliah yang terus bertambah dari minggu ke minggu semakin membuat saya enggan untuk mengetik. Saya sangat capek berkutat di depan laptop terlalu lama. Ah ya, pembaca mungkin kaget mengetahui saya kuliah lagi. Belum puas rasanya dengan sederet gelar yang saya miliki. Tugas dan inisiasi yang diberikan para tutor setiap minggu membuat saya stress tingkat dewa. Bagaimana tidak, dalam satu minggu saja terdapat lebih dari 20 latihan dan inisiasi diberikan. Oh, tidaaaak… Ada Baygon di situ? Tetapi ini sudah menjadi keputusan saya. Suruh siapa bercita-cita jadi profesor? 
Tapi justru karena tugas dari para tutor inilah yang menyebabkan saya pada akhirnya kembali lagi ke sini. Hallo kring… kring… olala, apa kabar dunia? Teuteup asyeek! Tugas seabreg yang diberikan oleh para tutor membuat saya harus rajin online di dunia maya. Bukan untuk membuka Fakebook dan Nitrogram, atau mencari daftar tahanan yang kabur dari LP Cipinang. Melainkan buka-buka blog orang, pemirsa! Sst… jangan bilang-bilang siapa-siapa yah kalo saya suka nyontek! Hihihi… 
Nah, gara-gara sering membuka blog orang demi mencari secuil jawaban, mengapa tidak membuka blog sendiri saja? Bukankah lebih baik kita yang menjadi narasumber bagi setiap tukang nyontek musafir yang berkelana di dunia maya? Sejumlah ide untuk dituangkan ke dalam tulisan pun kembali merangsek di dalam pikiran saya. Sebenarnya sudah lama juga sih menjadi draft di kepala. Baru sekarang bisa direalisasikan. 

Tulisan saya kali ini akan bercerita tentang pengalaman saya mendampingi para siswa saya yang mengikuti Lomba Peneliti Belia Provinsi Kalteng 2016. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 1-4 September 2016 silam. Belum basi untuk dibicarakan, bukan? Jujur saja, ini merupakan kali pertama sekolah kami mengikuti kegiatan LPB (Lomba Peneliti Belia). Tahun-tahun sebelumnya, sekolah kami tidak pernah mendapat tawaran dari dinas pendidikan kabupaten. Maklumlah, sekolah kami bukan berada di kota. Mungkin karena kebetulan tahun ini prestasi sekolah kami sangat baik dalam kontes debat bahasa Inggris di tingkat kabupaten, barulah dinas pendidikan memberi kepercayaan kepada kami untuk mengikuti kegiatan LPB di Palangka Raya. Mungkin pembaca tidak mengerti, apa korelasi prestasi debat bahasa Inggris dengan lomba ini? Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali. Namun perlu pembaca ketahui, Lomba Peneliti Belia umumnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. 

Mengunggah…
Sekilas mengenai Lomba Peneliti Belia, merupakan suatu kegiatan lomba penelitian yang dilakukan oleh para pelajar SMP dan SMA yang berusia maksimal 20 tahun. Karena subjeknya masih berstatus sebagai pelajar muda, maka tak heran bila lomba penelitian ini disebut Lomba Peneliti Belia. Kegiatan ini diselenggarakan setiap tahun oleh lembaga CYS (Center for Young Scientist) dan bekerja sama dengan dinas pendidikan provinsi. Hanya ada sepuluh provinsi di Indonesia yang ditunjuk oleh CYS untuk melaksanakan kegiatan ini. Saya beruntung karena provinsi Kalimantan Tengah termasuk salah satu di antara sepuluh provinsi itu. Oh ya, lomba ini tidak putus sampai di tingkat provinsi saja. Tapi juga terus berlanjut hingga tingkat internasional. Saya begitu kaget ketika mengetahui bahwa perwakilan dari provinsi saya dua tahun silam berhasil menjadi juara umum di tingkat internasional. Sekali lagi, INTERNASIONAL pemirsa! (Beri tepuk tangan untuk putra daerah Kalimantan Tengah).

Tidak memiliki bekal maupun pengalaman, saya mengajak 4 orang siswa yang dibagi ke dalam 2 kelompok dan saling berpasangan, untuk melakukan penelitian sederhana. Penelitian kami berhubungan dengan ekologi. Kelompok pertama meneliti suatu media yang dapat memadamkan api secara efektif, mengingat daerah saya rawan sekali terjadi kebakaran hutan. Akhirnya setelah melakukan percobaan dan berobservasi langsung di hutan belakang sekolah, kelompok pertama ini berhasil menciptakan larutan yang dapat memadamkan api hingga ke titik api di dalam tanah. Pembaca bingung kan? Sama, saya juga bingung. Bahannya sangat sederhana dan mudah diperoleh. Mudah pula pembuatannya. Tinggal campurkan saja bahan-bahan berikut ini: air jeruk lemon, larutan NaCl (bisa air garam, atau cairan infus), soda kue, dan cuka. Kemudian semprotkan larutan yang sudah dibuat ke arah titik api di lokasi kebakaran. Hasilnya, api langsung padam begitu cepat karena kinerja larutan yang efektif mencapai titik api di dalam tanah. Bahkan tidak ada asap yang tersisa. Karena bila masih terdapat asap yang tersisa dapat memicu kembali terjadinya kebakaran. Sederhana sekali, bukan?

Kelompok kedua melakukan penelitian pupuk three in one terhadap berbagai jenis tanaman. Pupuk ini merupakan campuran antara kotoran hewan, limbah kelapa sawit, dan janjangan kelapa sawit yang sudah dipreteli buahnya. Campuran ketiga jenis pupuk ini diujikan terhadap beberapa jenis tanaman baik tanaman perkebunan maupun tanaman pertanian. Tanaman perkebunan yang kami uji khusus tanaman kelapa sawit. Pupuk yang kami buat bereaksi mengembalikan kesuburan tanah, dan meminimalisir tingkat penyerapan air yang berlebihan yang dilakukan oleh tanaman kelapa sawit. Seperti yang kita ketahui tanaman kelapa sawit sangat rakus akan air, sehingga tanaman lain di sekitarnya bisa mengalami dehidrasi tingkat dewa (kaya orang aja ya). Sedangkan tanaman pertanian yang kami uji adalah tanaman cabai. Luar biasa dalam hitungan hari saja tanaman cabai yang kami uji tumbuh pesat dibandingkan dengan tanaman cabai seumurnya yang tidak diberi pupuk. Dalam waktu dua minggu tanaman cabai yang diberi pupuk berbuah sangat lebat. Sedangkan yang tidak diberi pupuk tak kunjung berbuah sama sekali. Tak ketinggalan kami pun melakukan uji coba pupuk three in one buatan kami terhadap tanaman enceng gondok yang biasa tumbuh di rawa-rawa atau tanah gambut. Awalnya tanaman eceng gondok kami pindahkan ke dalam sebuah polybag berisi tanah tandus. Kemudian setelah kami beri pupuk three in one, ajaib tanaman tersebut mampu hidup hingga saat ini, pemirsa! Sedangkan tanaman eceng gondok lain yang juga dipindahkan ke dalam polybag berisi tanah kering tanpa diberi pupuk buatan kami, namun kami sirami sehari tiga kali. Hasilnya? (Mengutip perkataan Teteh Syahrini) Alhamdulillah ya, tanaman tersebut mati keesokan hari. Cerita mengenai 2 penelitian para siswa saya akan saya tulis pada postingan berikutnya.



Tibalah saatnya lomba. Kegiatan LPB Kalteng tahun ini diselenggarakan di Hotel Royal Global Palangka Raya, Jalan Tjilik Riwut KM2,5. Oh ya hotel ini cukup unik, karena saat saya menaiki lift menuju lantai 6 saya tidak menemukan adanya lantai 4. Pun begitu saat turun-naik tangga. Begitu lantai 3 dilewati langsung bablas lantai 5. Di manakah lantai 4 berada? Banyak tamu yang menduga kalau lantai 4 berada di dunia maya. Maksudnya? Kembali ke perlombaan, setelah acara dibuka secara resmi oleh perwakilan dinas pendidikan provinsi, para peserta yang mencapai 91 orang diminta untuk memajang poster penelitian dan menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan dewan juri terkait penelitian yang mereka buat. Saya sangat kagum dan bangga kepada para pelajar SMP dan SMA yang mengikuti kegiatan ini. Murid-murid saya sangat minder setelah melihat poster penelitian para peserta lain. Terlebih mereka sangat grogi melihat peserta lain sangat mantap dan meyakinkan saat menjawab pertanyaan dewan juri dalam bahasa Inggris yang amat fasih. Hanya 20 peserta yang layak masuk ke babak final. Di mana para finalis harus tampil mempresentasikan makalah yang telah mereka buat mengenai penelitian mereka di hadapan dewan juri yang super kritis (dosen berbagai universitas ternama tanah air) dan para peserta lainnya. Presentasi ditampilkan menggunakan layar LCD dengan format power point dan menggunakan bahasa Inggris. Wow cool. 

​Berselfie ria di depan poster penelitian kami.
Saya tidak mengira penelitian para peserta umumnya penelitian sederhana namun sangat bermanfaat bagi manusia. Beberapa penelitian yang saya ingat di antaranya ramuan kalapapa sebagai obat tonsillitis (keluar menjadi juara pertama untuk bidang ekologi), saripati tanaman cemot sebagai hand sanitizer (juara favorit pilihan juri), penerapan rumus matematika ke dalam motif batik khas Kalimantan Tengah, pembuatan aplikasi kamus 3 bahasa: Dayak-Indonesia-Inggris, penemuan lintasan bunglon (suatu alat yang dapat membuktikan bahwa energy tidak dapat diciptakan dan energy tidak dapat dimusnahkan), dan pembuatan biopolybag dari pelepah kelapa sawit, serta masih banyak penelitian lainnya yang sangat luar biasa hebatnya. Sepertinya saya tidak dapat bercerita lebih banyak lagi. Silakan amati saja galeri foto yang saya pajang di sini. Sebagai penutup, saya berharap dengan adanya kegiatan ini akan semakin banyak generasi muda Indonesia yang berhasil menciptakan suatu penemuan baru dan bermanfaat bagi masyarakat dunia. Maju terus generasi muda Indonesia!  


Bersama para murid kebanggaan.

Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…
Beberapa poster para peneliti belia.

Mengunggah…​​
Mengunggah…

Presentasinya pakai Bahasa Inggris. Jurinya itu lho kalo nanya bilang ‘pertanyaannya simple’, tapi ko pesertanya pada kesusahan menjawabnya ya..

Mengunggah…Mengunggah…

Ini para peneliti senior. Coba tebak, saya di mana?

Mengunggah…
Mengunggah…

Ibu Monica Raharti, founder CYS

Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…Mengunggah…
Suasana pameran poster.

Mengunggah…Mengunggah…​​Mengunggah…
Narsis bareng boleh kan? ​

Ketika Langit Tak Lagi Biru

Pernahkah kalian merindukan matahari seperti apa yang sedang kurasakan?
Sudah sebulan ini aku tak melihat langit biru seperti biasanya
Matahari yang hangat menyinari dunia begitu indahnya
Dan bintang-bintang yang menghiasi malam bagai untaian mutiara di angkasa
Semua yang kulihat di sekelilingku begitu putih menyelimuti
Udara yang kurasakan membuatku pengap
Napasku kian sesak, dan tak urung membuatku perih
Kapan musibah ini akan berakhir?

STOP!

Kabut tebal yang menyelimuti Kota Palangka Raya

image

Pagi ini gue bangun dengan setumpuk cucian di depan kamar mandi. Gue harus segera menjemur sebelum hari semakin siang. Selama dua minggu berturut-turut semua sekolah diliburkan. Kabut asap melanda negeri gue. Pembaca udah sering nonton berita di tv kan? Kalimantan jadi trending topic lagi, pemirsa! 😉 Sepanjang bulan Agustus lalu gue masih asyik nimatin perjalanan bolak-balik dari Balai Riam ke Pangkalan Bun. Tapi sekarang udah nggak bisa lagi lantaran kabut asap yang begitu tebal. Cucian yang gue jemur sangat susah kering karena nggak ada sinar matahari yang menyerapnya. Kalaupun kering,  jemuran gue pada bau apek terkena asap. Percuma aja pake pewangi seember juga.

Terkadang orang Indonesia baru sadar bahwa sesuatu itu amat penting bagi mereka di saat sesuatu tersebut mulai hilang dari hadapan mereka. Matahari contohnya! Selama matahari ada bersinar dengan teriknya, orang-orang sering protes dan mengeluh berlebihan. “Uuh, panas banget kaya di neraka! Neraka bocor kali ya?” (emangnya situ pernah ke neraka?), “Matahari panas banget sih, coba turun hujan aja!” keluh sebagian warga di kampung gue beberapa bulan lalu. Mereka sering mengupdate status di berbagai media sosial. Padahal, mereka sama sekali nggak nyadar coba kalau nggak ada matahari apa bisa jemuran mereka kering? Apa bisa tanaman yang mereka pelihara berfotosintesis? Apa bisa mereka menikmati ikan asin yang dijemur para nelayan? Enggak kan? Lol *berlagak sok bijak ya gue*

Gue jadi ingat tulisan Mbak Feli di blognya tentang musim dingin di Norwegia. Di sana matahari benar-benar dihargai. Sepanjang musim dingin orang-orang Norwegia selalu merindukan matahari sebab langit selalu kelihatan mendung sepanjang musim dingin. Begitu sommer (musim panas) tiba, orang-orang pada asyik berlibur menikmati indahnya dan hangatnya cahaya matahari. Orang-orang lebih suka beraktivitas di luar rumah sepanjang musim panas berlangsung. Perasaan ini yang sekarang lagi gue rasain di Kalimantan. Gue kangen banget sama hangatnya sinar matahari. Gue kangen berjemur di bawah terik matahari pagi supaya gue nggak kekurangan vitamin D.

Gue gak habis pikir sama bc (broadcast) yang disebarkan orang-orang via BBM. Mereka menulis meminta pertanggung-jawaban pemerintah atas kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatra. Hellooooo… ini yang salah siapa, yang bertanggung jawab siapa! Kok bisa-bisanya para netizen menulis sekeji itu? Gue nulis artikel ini bukan sekadar mengeluh soal keadaan di kampung gue. Tapi gue juga ingin meluruskan supaya para netizen berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai ada pihak tertentu yang menjadi kambing hitam. Gue di sini sebagai pihak yang fair dan objektif. *Serius loe, Gih?* (pembaca mikir sambil ngupil).

Jadi gini, sepengamatan gue kalau musim kemarau semakin panjang, biasanya mayoritas penduduk di Kalimantan (dan mungkin juga di Sumatra) pada ngebakar kebun atau hutan buat buka ladang baru. Di samping tujuan mereka, dengan pembakaran tersebut diharapkan asap yang dihasilkan bisa berubah menjadi awan mendung di langit hingga kemudian bisa menurunkan hujan. Sayangnya pemikiran yang demikian simple itu terlalu awam bagi masyarakat di sini. Mereka tidak berpikir kalau asap bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Hasil pembakaran juga sebenarnya bisa membahayakan bagi semua orang. Mereka tidak tahu kalau asap pembakaran menghasilkan zat asam dan kloroflorokarbon yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Kalau sudah begini, tanaman tidak akan tumbuh subur melainkan mati seketika. Saking gersangnya tanah di Kalimantan pada musim kemarau, percikan api sangat mudah merembet dari satu lokasi lahan ke lahan yang lain. Jangan remehkan ranting kayu sekecil apapun. Api juga dapat timbul karena terjadinya gesekan antara sepotong ranting dengan ranting lain, kemudian menjalar membakar dedaunan kering dan alang-alang yang yang telah menguning. Kebakaran pun semakin besar hanya dalam hitungan menit bahkan detik.

Peraturan dibuat untuk dilanggar

image

Terus, kenapa pemerintah yang disalahkan atas kejadian ini? Kenapa pemerintah diminta bertanggung jawab atas musibah ini? Memangnya pemerintah yang telah sengaja membakar lahan? Atau jangan-jangan warga marah kepada pemerintah hanya karena pemerintah tidak memberikan bantuan pemeliharaan tanaman, memberikan pupuk gratis misalnya, atau membantu membuatkan saluran irigasi untuk warga? Wah, picik sekali ya kalau begitu. Seharusnya masyarakat sadar kalau selama ini pemerintah telah berperan aktif dalam pemeliharaan dan pelestarian alam. Banyak sekali hutan konservasi dan cagar alam yang dibuat oleh pemerintah guna melestarikan alam. Pemerintah juga telah membuat undang-undang pelestarian hutan yang seharusnya dipatuhi oleh masyarakat. Kendati sekalipun sayangnya belum semua masyarakat Indonesia sadar lingkungan, terutama Undang-Undang Pelestarian Hutan. Padahal berbagai sosialisasi telah pemerintah lakukan hingga pemasangan papan peringatan di sepanjang tepian hutan.  Semua demi kebaikan seluruh warga negara Indonesia. So, sebaiknya dalam keadaan seperti ini jangan saling menyalahkan ya! Think it wisely! Semoga musim hujan segera datang menumpas kabut asap yang melanda negara kita. Amin. 

Sebuah perahu sampan teronggok di bibir sungai yang mengering

image

Biasanya sungai akan dikeruk diperlebar pada musim kemarau

image

Stop pembakaran hutan!

image

Rawa yang menjadi tempat mencuci darurat, kotor tercemar

image

Kabut yang menyelimuti hutan Kalimantan

image

Amati, matahari begitu kecil tertutup kabut!

image

Jalan dari dan menuju kampung gue, full of dust

image

Setiap hari wajib pakai masker!
image

image

Pohon ketapang yang meranggas

image

Lapangan bola di kecamatan, gersang tanpa rumput

image

Kabut pagi yang menyelimuti pelabuhan speedboat Sukamara, membuat aktivitas pelabuhan terhenti

image

Jalan di kampung gue pagi hari
image

image

Silakan lihat juga:

Keluhan dan Doa Seorang Pramugara Tentang Kabut Asap di Palangka Raya

Inilah Bimbel Gue!

image

Kali ini gue mau cerita soal bimbingan belajar (bimbel) gue yang udah gue diriin sebelas tahun lamanya. Pembaca mungkin banyak yang nggak percaya kalo bimbel gue udah berdiri selama itu. Sehebat apa sih bimbel yang gue punya, dan kok bisa bertahan begitu lama? Well, simak cerita gue selengkapnya aja! Sorry kalo tulisan gue kali ini nggak ada unsur komedinya. Gue mau serius cerita sama kalian semua. Araseo? (Ceileh, sok jago Bahasa Korea ya gue :)).

Seperti yang udah gue ceritain dari postingan gue terBAHEULA, bimbel gue ini gue dirikan secara nggak diduga. Ini semua di luar planning gue. Tahun 2004 gue hijrah ke Kalimantan, awalnya bukan buat ngediriin bimbel. Melainkan buat cari kerja jadi karyawan perusahaan minyak kelapa sawit. Niatnya sih waktu itu gue mau ngelamar jadi operator di perusahaan yang namanya PT. KSK (Kalimantan Sawit Kusuma), perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di Kalimantan. Tapi Om gue ngelarang keras lantaran gue pake kacamata minus. Emangnya kalo pake kacamata minus gak boleh kerja gitu? Kenyataannya gue perhatiin banyak banget karyawan PT. KSK yang pake kacamata. Gak tahu kali ya cowok yang pake kacamata minus itu tampangnya manis-manis (kaya gue, Afghan Syahreza, sama Pradikta Wicaksono 😎 ). Sampe sekarang gue gak tau pasti kenapa Om gue waktu itu ngelarang keras gue ngelamar ke sana. Sampe akhirnya gue ikut kerja sama paman gue yang lain, paman yang jadi Bapak Pembangunan (alias developer) di kabupaten tempat tinggal gue. Meskipun begitu, gue nggak dapet bagian yang enaknya kok. Gue jadi kuli. Beneran gue jadi kuli! Aneh? Tugas gue ngegali tanah buat bikin kuburan gue sendiri nimbun pondasi mesjid yang lagi dibangun di Desa Pangkalan Muntai. Sumpah, ternyata berat banget! Gue harus nyangkul tanah yang kerasnya minta ampun (berhubung lagi musim kemarau), terus dibawa ke mesjid pake angkong yang jaraknya 200 meter dari lokasi penggalian. Yang bikin gue berat adalah kerasnya si tanah. Gue heran, kok bisa tanah lempung jadi sekeras batu? Pake formalin kali ya? 😅 Alhasil tangan gue lecet semua dan kapalan (ini baru cowok sejati 💪). Tapi gue gak betah kerja di sana. Kampung tempat kerja gue sepi banget, dan gue gak punya passion di bidang seni bangunan. Haha… gak bakat jadi tukang kali ya 👷🏰 .

Akhirnya seminggu kemudian gue balik ke rumah bibi gue. Kebetulan tahun ajaran baru sekolahnya adek sepupu gue yang kelas 4 SD, baru aja dimulai. Gue lihat di rapornya adek sepupu gue itu nggak ada pelajaran Bahasa Inggris. Gak tahu dapet inisiatif dari mana, gue langsung ngedatangin rumah kepseknya buat ngelamar jadi menantunya. Eh salah deng, maksud gue buat ngelamar jadi guru Bahasa Inggris di sekolahnya. Gue nggak bawa ijazah, apalagi surat kawin. Tapi Alhamdulillah, gue langsung diterima sebagai guru volunteer sama Pak Kepsek. Manakala waktu itu gue juga masih terbilang anak kemaren sore, soalnya kan gue baru aja lulus SMA. Gila, berani banget ya gue ngelamar jadi guru? Inilah petualangan pertama gue menjadi penerus Engkong Oemar Bakri (ngikutin lagunya Om Iwan Fals: Oemar Bakri… Oemar Bakri…). Tapi Engkong Oemar Bakri masih mending, berangkat ke sekolah naek sepeda ontel jadi pegawai negeri pulak! Nah gue, ke sekolah aja selalu jalan kaki. Gempor  deh kaki gue setiap hari. Engkong, sepedanya warisin atuh ke gue :oops::| .

Sejak gue ngajar di sekolahnya adek sepupu gue, bibi gue nyaranin supaya gue buka les juga di rumah. Soalnya waktu itu belum ada satu orang pun guru yang membuka usaha bimbingan belajar. Gue pikir, kenapa enggak? Toh, selama gue SMP dan SMA di Bogor, gue udah biasa ngajar les privat anak tetangga gue yang masih SD. Jiwa pendidik gue kembali bangkit. Darah ‘guru’ para leluhur gue nurun ke gue. Emang udah suratan Illahi kali ya, gue harus jadi seorang guru di Kalimantan.

image

Baru sehari buka les, murid gue udah terkumpul sebanyak 40 orang. Wow, luar biasa sekali bukan? Itu artinya perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan lumayan tinggi. Gue semakin semangat buat ngejalanin bimbel sampe seterusnya. Meski pelanggan gue terbilang banyak, tapi waktu itu gue masang tarif lumayan murah cuma Rp20.000,00 perbulan. Demi peningkatan penghasilan, gue terus door to door nyari tambahan pelanggan supaya bimbel gue semakin rame. Gue rela berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya (sumpah sakit banget, karena nggak ada angkutan umum di sini).

Tok! Tok!

“Ya, ada apa ya?” tanya pemilik rumah.

“Permisi Bu, maaf mengganggu. Apakah Ibu punya anak yang sedang bersekolah di SD atau SMP?” kata gue sopan.

“Ada. Emangnya kenapa, Mas? Mas mau nyulik anak saya ya?” seloroh si ibu pemilik rumah.

JEBREDT! (pintu pun ditutup).

Ting tong!

“Mau cari siapa?” tanya penghuni rumah berikutnya.

“Saya mau cari…” jawab gue.

“Maaf ya, lowongan pembantu di rumah ini sudah diisi sama saya! Silakan cari rumah lain saja ya!” penghuni rumah itupun ngelambaikan tangannya bak Miss Universe yang habis kecebur got.

Hadeuh… kenapa sih orang-orang di sini pada aneh-aneh? Tapi gue gak gentar dan terus berusaha, maju terus ketokin pintu rumah orang. Keluar masuk hutan dan perkampungan penduduk sampe nyasar di sawitan dikejar-kejar orang utan. Alhamdulillah usaha gue membuahkan hasil. Jumlah pelanggan gue menembus angka di atas 50 orang. LUAR BINASA! (Ups, maksudnya luar biasa pemirsa!). Anak-anak peserta didik gue bahkan banyak yang berhasil menembus peringkat sepuluh hingga tiga besar di sekolahnya masing-masing. Orang-orang mulai berpikiran kalo ternyata bimbel itu sangat penting, mengingat perilaku anak zaman sekarang yang pada malas belajar. Melihat keberhasilan gue dalam mendidik anak, orang-orang sekampung semakin rame berdatangan ngantri sembako buat daftar les sama gue. Saking ramenya bimbel gue, gue sampe nambah jadwal kelas malam. Malahan ada yang enggak keterima sama gue lantaran kelasnya kepenuhan (biasanya gue nampung maksimal 8 murid perkelas). Benar-benar keberhasilan yang luar biasa buat gue. Semakin dikenal dan terbukti kaya apa kualitas gue, gue mulai berani naekin tarif. Tiap tiga semester sekali gue pasti naekin tarif menyesuaikan tingkat perekonomian masyarakat di kampung gue. Yang dulu awalnya cuma Rp20.000,00 perbulan, gue naekin jadi Rp40.000,00 pas tahun 2006. Terus jadi Rp75.000,00 setelah tiga semester berikutnya. Kemudian naek lagi jadi Rp150.000,00 pada tahun 2010 dan Rp175.000,00 perbulan pada tahun 2012. Hingga akhirnya sekarang gue udah masang tarif Rp1.500.000,00 persemester. Tentunya kenaikan tarif ini gue imbangin sama fasilitas yang terus bertambah.

image

Sebenarnya bimbel gue cuma bimbel rumahan yang biasa-biasa aja. Bukan pula bimbel resmi yang punya izin operasional dari Dinas Pendidikan. Waktu itu minta izin sama dinas setempat dianggap masih kurang penting karena daerah tempat tinggal gue adalah daerah terbelakang yang sedang berkembang. Jadi gue belum terlalu mikirin pentingnya dapat izin operasional dari dinas pendidikan setempat. Tapi semenjak enam tahun terakhir, kampung gue semakin banyak perantau yang datang dari Jawa. Dan mereka turut membuka usaha buka bimbingan belajar kaya gue. Di sinilah gue mulai ngerasa izin operasional itu sangat penting demi eksistensi bimbel gue yang paling pertama ada. Meskipun begitu banyak bimbel baru di kampung gue, masyarakat menilai bimbel yang mereka bikin belum mampu menandingi kehebatan bimbel gue (ceileh… sombong amat ya gue 😚). Bimbel yang mereka bikin hanya sebatas ngajarin pelajaran Matematika, IPA, IPS, PKn, dan Bahasa Indonesia. Sedangkan di bimbel gue, hampir semua pelajaran diajarkan terkecuali Pendidikan Agama untuk yang non Islam. Gak mungkin kan gue ngajar pelajaran Pendidikan Agama Kristen, Hindu, atau Budha, sementara agama gue sendiri Islam! Boleh dibilang bimbel gue ini merupakan bimbel yang komplit karena berbagai bahasa asing (Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, dan Italia) menjadi mata pelajaran optional berdasarkan kesukaan para murid. Sementara mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi pelengkap di bimbel gue. Setiap hari murid-murid les gue datang ke rumah membawa laptop pribadi  (dan sebagian lain udah gue sediakan di bimbel). Begitu mereka datang biasanya mereka bakal bertegur sapa sama semua orang di rumah pake Bahasa Inggris atau bahasa asing yang mereka suka.

“Hello, good afternoon teacher. Jal jinaeseoyo?” sapa murid-murid gue yang suka Bahasa Inggris dan Korea.  

“Good afternoon. Ne, jal jinaeseoyo!” balas gue ke mereka.

“Sensei, watashi wa shukudai ga arimasu. It’s very difficult! Oshiete kudasai ne!” celoteh murid gue yang suka ngomong Jepang campur Inggris.

“Hontou desu ka? Let’s try to solve it!” ajak gue ke mereka.

“Lao shi, wo bu ming pai! Please, repeat it once again!” Nah kalo yang ini murid gue yang jago Mandarin.

Keren kan? Kecil-kecil para murid gue udah belajar jadi polyglot niruin gue. Haha… 😆 . Oya selain jago bahasa asing,  banyak murid gue yang berhasil menjadi juara olimpiade SAINS (Matematika dan IPA) lho. Baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi. Beberapa di antaranya ada yang sudah menembus tingkat nasional. Bayangkan, TINGKAT NASIONAL, pemirsa! Kampung gue cuma kampung kecil, bimbel gue juga bukan bimbel berkelas, tapi hasil didikan gue benar-benar ‘JADI’! Kebanyakan murid gue, walaupun sudah berhasil menjadi juara, mereka selalu ngotot sama ortunya supaya terus lanjut les sama gue. Saking ngebetnya senang diajar sama gue, sampe-sampe pernah ada murid gue yang pindah ke kota terus dia maksa ortunya supaya gue ikut pindah sama mereka. Hadeuh… aneh kan? Kalian tahu apa yang terjadi sama murid gue itu sekarang? Dia nggak mau sekolah kalo gurunya bukan gue (ini serius lho! Swear! ✌).

Semenjak munculnya banyak bimbel baru di kampung gue, gue juga gak berhenti meningkatkan kualitas pelayanan gue terhadap pelanggan. Malahan saking dianggap bagusnya kualitas bimbel gue, banyak pelanggan yang berlangganan turun-temurun mulai dari anak pertama, anak kedua, hingga seterusnya. Ditambah lagi tanpa harus bikin iklan ataupun promosi ke sekolah-sekolah, usaha bimbel gue malah dipromosiin sama para pelanggan gue sendiri. Banyak di antara mereka yang mengajak keluarganya buat jadi pelanggan gue juga. Jadi intinya gue udah gak serepot harus door to door kaya dulu lagi. Biasanya para calon pelanggan gue datang sendiri ke rumah karena mendengar promosi dari kerabat mereka soal bimbel gue.

Well, pembaca pasti bertanya-tanya sebenarnya modal bikin bimbel itu gede gak sih? Terus kaya apa manajemennya supaya bimbel kita bisa awet tahan lama dan tetap menjadi primadoni? (maaf, primadonanya lagi izin ke wc sebentar. Hihihi… 😄). Nih, gue kasih tips sama bocorannya ya. Kali aja pembaca ada yang langsung bikin bimbel sehabis baca tulisan ini.

image

1. Tempat bimbel bisa rumah pribadi. Enggak harus di pinggir jalan raya yang rame dilewatin banyak kendaraan. Kenyataannya suara bising kendaraan malah ngeganggu konsentrasi belajar para peserta didik. Kebetulan rumah gue berada di paling pojok sebuah gang (tapi mobil bisa masuk), suasananya sepi nyaris gak ada tetangga, halaman cukup luas, dan banyak pepohonan. Adem, asri, dan teduh bikin murid-murid gue nyaman belajar. Ruang belajar les hanya ada dua ruangan (indoor dan outdoor). Gue sengaja bikin kelas outdoor selain supaya murid-murid bisa menyatu dengan alam, murid-murid juga bisa menghirup udara segar, dan nggak ngerasa jenuh belajarnya.

2. Sediakan fasilitas penunjang pelajaran mulai dari buku paket, buku kumpulan soal, peta, atlas, kerangka manusia, struktur tubuh manusia, globe, CD untuk listening bahasa asing, meja belajar, mikroskop, alat musik, dll. Kisaran biayanya kira-kira Rp3.000.000,00-Rp5.000.000,00.

3. Penataan ruang belajar dibuat senyaman mungkin. Buatlah posisi duduk lesehan supaya para peserta didik nggak terlalu pegal. Ajak para peserta didik menikmati fasilitas yang kita sediakan, misalnya nonton film kartun berbahasa Inggris. Niscaya para murid cepat nyerap bahasa asing yang lagi mereka pelajari. Atau bisa juga ajak mereka nyanyi diiringi piano dan alat musik lainnya. Suasana belajar kaya gini bikin murid nggak ngerasa boring.

4. Kalau bimbel kita pengen dapet izin operasional dari dinas pendidikan, sebaiknya kita bikin izin dulu ke notaris. Persyaratannya antara lain surat keterangan usaha dari kepala desa dan  fotokopi KTP 6 orang: pembina lembaga bimbingan, ketua, sekretaris, bendahara, dan dua orang anggota lainnya. Biaya izin notaris relatif terjangkau, kemaren gue cuma disuruh bayar satu juta rupiah. Sedangkan waktu ngajuin izin operasional ke dinas pendidikan nggak diminta uang administrasi sama sekali alias free. Malahan kalau bimbel kita rutin bikin laporan ke dinas pendidikan, pihak yang terkait di dinas pendidikan bakal ngasih bantuan operasional seperti buku-buku penunjang pelajaran, meja, kursi, dan fasilitas lainnya. Asyik kan? 🙂

5. Meskipun bimbel kita udah maju, kita harus komitmen dan konsisten terhadap usaha kita! Para tenaga pengajar harus selalu mau belajar mengikuti perkembangan dunia pendidikan, dan jangan pernah ngerasa ‘mentang-mentang sudah jadi guru, kita sudah pintar, dan nggak perlu belajar!’ itu sih sama aja nonsense! Sejatinya guru itu harus selalu meningkatkan skill, supaya enggak dipandang remeh sama muridnya. Mengajar tanpa belajar itu namanya guru sombong! Belajar tanpa mengajar itu namanya guru malas dan pelit!

6. Kuasai jenis usaha! Lihat usaha bimbel yang menjadi pesaing bisnis kita. Apakah mutu kita berada di bawah mutu bimbel mereka. Kalau iya, cari segera solusinya! Kalau ternyata bimbel kita lebih baik mutunya daripada bimbel sebelah, pertahankan dan terus tingkatkan! Gue pribadi pada prinsipnya nggak pernah memandang orang yang sama-sama buka usaha bimbel sebagai saingan. Toh rezeki itu sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan! Gue selalu menyerahkan segalanya kepada Tuhan, dan ngebiarin semua berjalan apa adanya. Tukang baju aja di pasar nggak cuma ada satu kan? Biarkan konsumen yang memilih. Semakin banyak konsumen yang tahu kualitas kita, niscaya semakin banyak pula orang yang ingin menjadi pelanggan.

7. Buatlah laporan berkala mengenai pemasukan bimbel dan kegiatan bimbel supaya program bimbel menjadi terarah dan berjalan dengan baik! Ada kalanya dana yang masuk dari peserta bimbel harus dialokasikan untuk berbagai keperluan yang menunjang kegiatan bimbel. Usahakan agar dana yang masuk tidak tercampur dengan kepentingan pribadi. Jadi sebaiknya dana pribadi dipisahkan terlebih dahulu.

Well, segitu aja kali ya cerita soal bimbelnya. Semoga tipsnya bermanfaat. Kalo ada yang mau daftar di bimbel gue, gue tunggu lho… Ini alamatnya:

Bimbingan Belajar Sugih
Desa Bangun Jaya
Jalan Raya PT. KSK RT1/1
Kec. Balai Riam
Kab. Sukamara
Kalimantan Tengah 74173

Gallery

image

image

image

image

image

image

Aneka Pizza Unik Kreasi Chef Sugih

Hidup di pedalaman bikin gue gak bisa ngerasain apa yang orang kota bisa nikmatin. Salah satu misalnya adalah ngenikmatin makanan cepat saji (fast food) kaya hamburger, lasagna, spageti, kebab, dan pizza. Dulu selama zaman gue masih sekolah di Bogor dari kecil gue suka banget makan pizza tiap kali dibeliin sama bokap. Biasanya bokap ngebeliin pizza pas kami sekeluarga jalan-jalan mengisi liburan ke Taman Safari, Puncak, Dufan, Ancol, Taman Mini,  dll (dan lupa lagi, pemirsa). Gue selalu inget bokap gak pernah absen ngebeliin pizza tiap kali kami sekeluarga pergi jalan-jalan bersama. Meskipun banyak sodara gue yang gak terlalu doyan makan pizza cuma gara-gara toppingnya yang agak lengket dan sering bikin mereka muntah, akhirnya cuma gue yang selalu ketagihan. Sekarang kalo gue makan pizza, gue selalu inget kenangan jalan-jalan sama almarhum bokap. Rasanya sering sedih tiap kali inget semua kenangan itu.

Selain pizza, gue juga hobby banget makan burger. Walaupun kata nyokap masakan di rumah jauh lebih menyehatkan ketimbang fast food yang dijual di pinggir jalan. Kebanyakan fast food di pinggir jalan memang kurang higienis dan terlalu banyak mengandung zat pengawet. Jadinya semua makanan itu malah tergolong junk food alias makanan sampah. Parahnya junk food bisa menimbulkan berbagai penyakit karena terlalu banyak mengandung kolesterol.

Semenjak tinggal di daerah pedalaman gue gak pernah lagi bisa makan pizza ataupun burger. Alhasil gue cuman bisa ngiler tiap kali ngeliat iklannya di tv. Gue juga ngerasa prihatin sama murid-murid gue kalo pas gue ngajar Bahasa Inggris. Masalahnya sering banget muncul percakapan di buku yang temanya soal makanan. “What kind of food do you like? Do you like pizza, hotdog, or hamburger?” (Makanan seperti apa yang kamu suka? Apakah kamu suka pizza, hotdog, atau hamburger?). Murid-murid gue cuma bisa bengong tiap kali ketemu dialog model gitu di buku. Soalnya mereka belum pernah ngerasain kaya apa rasanya burger sama pizza. Kesannya pizza & burger adalah makanan mewah yang cuma bisa dinikmatin sama orang kota. Boro-boro pizza, bisa makan bakso aja dah syukur.

Berbekal keterampilan memasak yang gue punya, pas nyokap buka kafe baru  bulan kemaren, gue berinisiatif buat ngenalin aneka western food ke masyarakat di kampung gue. Kalo nyokap cuma bikin masakan Indonesia kaya soto ayam Bogor, pempek Palembang, Gado-gado Betawi, nasi goreng spesial, asinan Bogor dan lain sebagainya, gue melengkapinya dengan menu burger, pizza, kebab, dan sosis bakar. Semua diolah dengan tangan gue sendiri. Tentunya dijamin higienis karena gak pake zat-zat yang aneh-aneh.

Baru hari pertama kafe nyokap dibuka, antrean pembeli langsung membludak. Soalnya pas hari itu gue gencar banget ngepromosiin ke semua orang di sekitar gue. Termasuk semua kontak yang ada di hp. Alhamdulillah, respon masyarakat soal pizza yang gue bikin jadi trending topic orang sekampung. Banyak dari pembeli yang tersenyum sumringah karena baru pada tahu yang namanya pizza. “Oh, jadi ini yang namanya pizza toh? Enak juga ya!”, “Wah asyik, kita gak perlu turun ke kota lagi buat beli pizza!”, “Mantap deh meskipun ini di kampung tapi menu yang ada di kafe ini internasional banget! Bisa bikin sushi sama bulgogi nggak?” Ada kepuasan tersendiri waktu gue ngeliat ekspresi para pembeli. Lucunya di kampung gue sebenarnya banyak banget pendatang dari Pulau Jawa, tapi mereka pada nggak tau sama yang namanya pizza dan burger. “Pizza? Apa itu pizza? Sejenis rendang atau supkah? Burger itu bubur seger yak?” #Gubrak! *nih orang habis semedi di dalam goa kali ya?*

Nah, supaya pizza diminati para pembeli selain toppingnya harus enak dan gurih, bentuk-bentuk pizza juga harus dibuat seunik mungkin supaya minat konsumen lebih besar dan menggugah selera makan. Pizza yang gue bikin bahannya mudah didapat dan harga jualnya pas dengan kantong anak kos-kosan. Pemirsa mau nyoba bikin sendiri? Berhubung gue bukan orang pelit, nih gue kasih deh resepnya. Silakan disimak ya…

Beberapa pizza unik kreasi gue sebelum dipanggang :

Pizza Sakura buat pengagum keindahan negara Jepang.

image

Pizza Romantis buat pasangan yang lagi dimabuk cinta.

image

Pizza Bintang buat anak-anak yang memiliki cita-cita tinggi.

image

Butterfly Pizza buat pecinta keindahan
image

Pizza bundar untuk orang yang menyukai kesederhanaan
image

Ordinary pizza satu untuk kebersamaan
image

Sunflower pizza untuk hari yang selalu ceria
image

Resep Pizza Unik

Bahan adonan :
-Tepung terigu 400 gram
-Telur ayam 1 butir
-Mentega 3 sdm
-Minyak goreng 3 sdm
-Fermipan (ragi instan) 40 gram
-Air susu hangat 1 gelas

Cara membuat adonan :
1. Campurkan semua bahan di atas dalam sebuah baskom.
2. Aduk rata, lalu masukkan air susu hangat dan campurkan kembali hingga adonan menyatu menyeluruh.
3. Bila adonan sudah kalis dan tidak lengket di tangan, gumpalkan adonan menjadi satu bulatan penuh! Lalu tutuplah baskom dengan kain serbet bersih selama minimal 15 menit agar adonan mengembang.
4. Sementara adonan didiamkan, siapkan bahan tumisan untuk topping.

Bahan topping :
-Bawang bombay setengah siung, cincang halus;
-Cabe hijau 3 buah, iris menyerong;
-Bawang bakung 2 batang, iris tipis;
-Telur ayam 1 butir, kocok hingga putih dan kuning telur merata;
-Sosis daging ayam/sapi 4 buah, iris menyerong. Selain sosis bisa juga memakai jamur kancing yang diiris tidak terlalu tebal;
-Tomat 3 buah, cincang halus;
-Paprika 1 buah, iris memanjang 2 cm. Bila tidak ada paprika bisa diganti dengan satu buah jagung manis, preteli jagung dan buang batangnya.
-Daging ayam 300 gram, goreng kemudian cincang dadu atau potong suwir-suwir. Bisa juga memakai daging kornet untuk penyuka daging sapi;
-Gula pasir secukupnya;
-Bumbu penyedap Royco/Masako secukupnya.

Cara membuat topping :
1. Tumis bawang bombay hingga harum.
2. Masukkan cabe hijau, bawang bakung, tomat, sosis, telur, daging, dan sayuran lainnya.
3. Bubuhi gula pasir dan bumbu penyedap, aduk hingga tumisan terasa gurih dan aromanya tercium harum.

Bahan pelengkap pizza :
-Keju parut secukupnya;
-Saus tomat/saus pedas (sesuai selera), bisa juga menggunakan mayonaise untuk menciptakan rasa yang berbeda.

Cara membuat pizza :
1. Ambil adonan sebanyak kepalan tangan, pipihkan di atas teflon.
2. Cetak adonan sesuai bentuk yang diinginkan. Misalnya bentuk hati, bintang, bunga, lingkaran, lingkaran bergerigi, dan lain sebagainya. Berikan batas tepian sedikit lebih tebal/tinggi daripada bagian tengahnya.
3. Oleskan mayonaise atau saus ke atas adonan yang telah dipipihkan dan dibentuk sesuai keinginan. Pastikan olesannya merata!
4. Tuangkan topping yang telah ditumis ke atas adonan yang telah dilumuri mayonaise/saus.
5. Ratakan topping di atas permukaan pizza.
6. Tuangkan saus sekali lagi di atas topping!
7. Taburkan irisan keju atau keju yang telah diparut!
8. Panggang dalam keadaan tertutup rapat di atas kompor dengan nyala api kecil selama kurang-lebih 5 menit.
9. Tusuk dengan garpu untuk memastikan kematangannya! Bila adonan tidak melekat pada garpu, berarti pizza sudah matang. Pastikan pizza tidak gosong dan mudah diangkat dari teflon!

Pizza siap disantap!^^  Satu adonan di atas dapat disajikan hingga 5 porsi (5 teflon). Selamat mencoba ya…

Postingan selanjutnya gue kasih resep kebab super, mayonaise lemon, dan cara bikin sosis home made. Jangan lewatkan!

Hal-Hal yang Bikin Gue Enggan Ngunjungin Semarang Lagi

image

Sebelumnya gue minta maaf sama seluruh warga Kota Semarang kalo tulisan gue kali ini agak kontroversial. Bukan maksud gue buat ngejelek-jelekin Kota Semarang atau warga Semarang sih, cuma kejadian-kejadian yang gue alamin ini membekas dalam di ingatan gue. Tiap kali gue ngelangkah di Kota Semarang, gak tau kenapa gue selalu ngalamin kejadian buruk yang kagak pernah gue pengenin (emangnya ada ya orang yang kepengen ngalamin kejadian buruk? 😰). Dan hari ini tepat sebelas tahun, kejadian buruk pertama yang pernah gue alamin di Semarang. Di sini gue mau berbagi cerita pengalaman-pengalaman gue waktu gue melakukan perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor via Semarang sehubungan rutinitas masyarakat Indonesia yang sebentar lagi mau ngejalanin aktivitas mudik, alias balik kampung. So pesen gue buat kalian semua yang pada mau mudik, ‘be careful’ aja di jalan! Hati-hati kalo beli tiket! Jangan mau dibujuk apalagi sampe dipaksa sama calo! Soalnya mereka itu bisanya cuma bikin kita tambah susah! Jaga barang bawaan jangan sampe berpindah tangan ke tangan orang yang kalian gak kenal! Selalu bersikap santun di manapun kalian berada! Soalnya arus mudik yang padat bikin pikiran orang-orang yang pada kerja di jalanan cepet panas bawaannya maunya emosi mulu. Bilamana perlu bawa es batu yang banyak sekalian biar adem! (Eh enggak deng, yang terakhir ini gue cuma bercanda! Hehe… 😁 ). Well, kejadian apa aja sih yang pernah gue alamin setiap kali napakin kaki di Semarang? Simak deh cerita gue!

Kejadian pertama gue, persis minggu terakhir bulan Juni sebelas tahun yang lalu (2004). Waktu itu gue baru aja lulus SMA dan beres terima ijazah. Umur gue baru 18 tahun. Dan gue kepengen banget nyusul nyokap gue yang lagi ngunjungin keluarga paman-bibi gue di Kalimantan. Ceritanya nyokap udah pergi 3 bulan tanpa kabar. Ya terang aja gue cemas dong! Akhirnya setelah rumah gue di Bogor dikontrakin ke orang, duitnya gue pake buat ongkos nyusul nyokap ke Kalimantan. Sebenarnya sih gue kagak punya alamat rumah bibi gue di Kalimantan (Gara-gara Ayu Tingting ngasih alamat palsu kali ya? 👸). Tapi kata paman gue, asal gue udah sampe di kabupaten tempat tinggalnya, tanya-tanya sama orang di sana juga pada kenal semua sama paman gue. Anjiiir, keren ya paman gue, orang sekabupaten banyak yang kenal! Paman gue terkenal sebagai bapak pembangunan di salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah. Terang aja, lha wong kerjaan paman gue kontraktor! Haha… 👷 😁 Terus yang gue tau dulu paman gue pernah ngasih petunjuk kalo mau ngunjungin keluarganya di Kalimantan, gue kudu naek kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Busyet dah, jauh amat ya? Bogor kan dekatnya sama Jakarta, tapi kenapa gak ada kapal yang berlayar ke Pelabuhan Panglima Utar,  Kumai-Kalimantan Tengah dari Pelabuhan Tanjung Priuk? (Tolong diurus ya Pak Ahok dan Pak Ignatius Jonan! ). Akhirnya jadi deh gue berangkat ke Semarang dulu dengan menumpangi bis malam Limex (Limas Express). Waktu itu harga tiketnya masih Rp50.000,00 non AC, kalo yang AC sih Rp75.000,00. Berhubung gue orangnya pengiritan, gue pilih yang non AC. Bis yang gue tumpangin berangkat dari Bogor jam 4 sore. Gue baru sampe di Krapiak-Semarang sekitar jam 2 dini hari. Jujur, ini kali pertama gue keluar dari provinsi Jawa Barat dan JaBoDeTaBek. Sebenarnya sih pas gue masih baby gue juga pernah ke Riau kok, tapi kan waktu itu gue belum ngerti apa-apa. So, dimulailah petualangan masa remaja gue. Yippi… 🙌 gue seneng banget lihat-lihat pemandangan Kota Semarang malam hari. Cantik banget, Bro! Gedung-gedungnya artistik banget perpaduan bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda sama bangunan modern khas Indonesia. Taman-taman kotanya juga kelihatan mantap. Lampu-lampu kota gemerlap warna-warni bikin gue takjub gak ada habisnya. Begitu gue turun dari bis, tangan gue ditarik-tarik sama seorang supir taksi yang maksa banget minta gue jadi penumpangnya. Tas gue juga langsung dimasukkin gitu aja kebagasi belakang mobilnya. Badan gue didorong sama si supir ke dalam kursi penumpang bagian depan. Okelah gue mau jadi penumpang taksi loe! Si supir langsung tancap gas tanpa nanya terlebih dahulu tujuan gue mau ke mana. Pas udah beberapa meter gue baru nyadar kalo taksi yang gue naekin nggak ada argonya! Kumaha ieu teh Bray? Tolongin gue!  😨

“Lho Pak, kok nggak ada argonya?” tanya gue setengah kaget.

“Taksi Semarang semuanya emang gak pake argo, Dek!” jawab si supir sok sibuk nyetir.

“Saya mau ke pelabuhan Pak, terus bayarnya berapa?”

“Gini ya Dek, sekarang kita lagi ngelewatin jalan tol. Jadi tarifnya ke pelabuhan Rp300.000,00 saja!” jawab si supir sumringah.

Berdasarkan cerita yang pernah gue dengar dari paman gue, ongkos taksi dari Krapiak ke pelabuhan cuma Rp25.000,00. Lha kok si supir taksi ini minta ongkosnya mahal amat ya? Kontan dong gue langsung protes.

“Maaf Pak, perasaan dari tadi kita tidak ada memasuki gerbang tol, deh!”

“Tol di Semarang ya memang gini Dek, gak ada gerbangnya! Adek dari mana toh?” si supir semakin nunjukkin gelagat aneh.

“Saya dari Bogor, Pak. Tapi bisa nggak, tarifnya jangan segitu?” gue mulai nego.

“Lha, Adek maunya berapa?”

“Rp25.000,00 saja Pak. Gimana?”

Ngedenger harga yang gue tawar, supir itu ngedadak melotot seolah-olah mau nerkam gue. “Adek ini gimana sih? Kita ini lewat jalan tol lho Dek, apalagi ini malam-malam, tarifnya memang mahal! Nawar ko seenaknya aja!”

“Maaf Pak, kalau gitu saya turun di sini saja. Saya yakin Bapak sudah membohongi saya. Tolong berhenti, Pak!” pinta gue masih dibatasi kesabaran.

Si supir langsung berhenti, tapi pas handle pintu gue tarik, pintunya kekunci rapat. Kaca jendela pada nutup semua. Gue puter handle pemutar supaya kacanya turun tapi gak berhasil. Gue dijebak. Gue gak bisa keluar. Supir itu sengaja ngunci semua pintu. Supir gemuk itu langsung nyerocos pake Bahasa Jawa yang sama sekali kagak gue ngerti. Tapi intinya dia nahan gue supaya gue tetep naek taksinya dia.

“Danco! Tak pendem sampean! Tak pendem sampean!” cerocos si supir berulang-ulang sambil ngeluarin pisau belati dari dashboard mobil.

Sumpah badan gue langsung gemeteran. Kayanya gue mau dikubur sama nih supir. Keadaan mendadak tegang. Keringat dingin rasanya ngucur deras di dahi gue.

“Tolong bicara pakai Bahasa Indonesia, Pak. Saya tidak mengerti maksud Bapak!”

Ujung pisau belati udah nempel di dagu gue. Leher gue dicengkeram begitu kuat. Suasananya horror banget, jalanan sepi gak ada satupun kendaraan lewat. Gue udah takut banget. Dalam hati gue berdoa, “Ya Allah, lindungi hamba ya Allah! Selamatkan diri hamba dari keadaan ini. Hamba ingin bertemu dengan mama!”

“Tolong jangan bunuh saya, Pak! Saya mau menyeberang ke Kalimantan! Saya mau bertemu keluarga saya,” rintih gue dengan suara tercekat lantaran dicekik.

image

Supir taksi jahat itu ngerogoh saku celana gue. Dompet gue nyaris dirampas sebelum akhirnya entah kenapa tiba-tiba aja gue mendapat kekuatan buat balik nyerang si supir taksi. Pas tangan dia sibuk ngerogoh kantong celana gue, gue berhasil nyingkirin pisau belati yang nyaris nancep di dagu gue. Pisau itupun jatuh ke dekat kaki gue. Dengan segenap tenaga yang masih gue punya, perut buncit si supir taksi yang udah sama kaya gentong air itu langsung gue tonjok bertubi-tubi. Gue angkat kaki gue secepat mungkin, dan gue arahin tepat mengenai alat vital si supir taksi edan itu. Sontak dia ngejerit kesakitan. Gue emang bukan anak karate ataupun taekwondo. Tapi pas gue SD, gue punya basic pencak silat yang diajarin sama guru olah raga gue di sekolah. Buru-buru gue ambil pisau belatinya yang jatuh tadi dan gue todongin ke dia.

“Anda berani melawan atlet karate nasional dari Jawa Barat?” ancam gue nakut-nakutin.

Supir itu ngegeleng kepala ketakutan sambil ngebuka pintu turun keluar. Dia masih megangin alat vitalnya yang habis gue tendang. Kayanya sakit banget tuh tendangan gue.

“Saya ndak tahu kalau sampean atlet karate!” ujarnya sambil meringis.

“Tolong keluarkan tas saya dari bagasi!”

Di saat yang bersamaan sebuah mobil patroli polisi melintas dan langsung gue stop. Dua orang polisi turun dari mobil dan nyamperin gue. Betapa beruntungnya gue, polisi datang dalam situasi yang tepat. 🚓

“Ada apa ini?” tanya salah seorang dari mereka. 👮

Berhubung gue gak mau berbelit-belit berurusan di kantor polisi apalagi gue gak mau sampai ketinggalan kapal besok pagi, gue langsung minta tolong dicariin taksi baru aja sama mereka.

“Supir taksinya sembelit, Pak. Bisa tolong carikan taksi lain untuk saya?” kelakar gue ke pak polisi. 😩

“Adek mau ke mana?” tanya polisi yang lain.

“Saya mau menyeberang ke Kalimantan, Pak. Adakah taksi yang bisa mengantar saya ke pelabuhan?”

Gak lama kemudian kedua polisi itu ngedapetin taksi yang gue minta. Kali ini sebelum masuk ke dalam mobil, gue nego dulu sama supir taksinya. Alhasil benar kata paman gue. Tarif ongkosnya cuma Rp25.000,00. Sama supir taksi yang kedua ini gue diantar ke salah satu agen penjualan tiket kapal laut. Kalo gak salah nama agennya itu Camar Mas. Agen itulah nantinya yang bakal nganterin gue ke pelabuhan setelah gue beli tiket di sana. Sialnya pas gue turun dari taksi, duit dalam dompet gue tinggal lima puluh ribuan sama seratus ribuan. Gue bayar pake yang lima puluh ribuan. Eh, supir itu langsung tancap gas dan kabur tanpa ngasih gue uang kembalian. Bedebah semua supir taksi illegal di Semarang! Itu kejadian buruk pertama sekaligus kedua gue di Semarang. 🚕 😤

Kejadian buruk ketiga yang gue alamin di Semarang adalah pas bulan September di tahun yang sama dengan kejadian sebelumnya. Waktu itu gue mau ke Sumedang buat ngejemput adik perempuan gue yang dititipin di rumah bibi gue. Rencananya gue mau mindahin sekolah adik gue ke Kalimantan (bukan mindahin gedung sekolahnya lho!). Dari pelabuhan Tanjung Mas gue naek angkot ke terminal Terboyo. Katanya di terminal Terboyo banyak bis jurusan yang menuju arah Jawa Barat. Gue pikir gue mau naek bis jurusan Bandung. Begitu sampe di Terboyo, seorang bapak nanya-nanya tujuan gue. Dia nuntun tangan gue menuju bis yang katanya jurusan Bandung. Gue seneng banget baru aja sampe terminal langsung dapet bis yang gue mau. Sayangnya bisnya butut banget kaya gak kerawat, tapi tarif ongkosnya mahal amir. Lebih mahal daripada bis Limex yang pernah gue naekin dari Bogor. Bayangin sodara-sodara gue harus ngocek kantong celana Rp135.000,00. Padahal Semarang-Bandung kan rutenya lebih pendek daripada Semarang-Bogor. Ya udah deh, gue bayar aja daripada gak dapet bis. Gak bisa jalan dah gue. Gue pikir bapak yang nuntun tangan gue tadi adalah kondektur bis. Setelah bis jalan, ternyata bapak tadi adalah seorang calo karcis. Penumpang di sebelah gue nanya-nanya berapa harga karcis yang gue bayar. Eh taunya dia bayar karcis bus cuma Rp35.000,00. Emang sih tujuannya ke Cirebon doank. Tapi Bandung-Cirebon kan gak jauh-jauh amatlah. Gila kan selisihnya sampe seratus ribu gitu? Yang bikin gue sebel lagi, taunya bis yang gue naekin bukan jurusan Bandung. Gue udah dikibulin sama tuh calo. Masak gue diturunin sampe Cirebon? Gue sampe ribut sama supir bisnya. Gue tunjukkin karcis yang udah gue bayar. Eh si supir bis malah ngolokin gue,”Kasian deh lu udah ketipu sama calo!” Grrr…. Bener-bener sewot gue sama tuh supir 😠. Penumpang yang tadi duduk di sebelah gue bilang,”Antara calo sama supir bis di Semarang emang udah pada kerja sama sebelumnya. Mereka sama-sama menipu penumpang!” bebernya. Heran deh, kenapa sih orang-orang Semarang yang gue temuin kelakuannya pada nggak beres? Kenapa gue selalu apes tiap kali ke Semarang? Gak supir taksinya, gak calo tiketnya, gak supir bisnya juga, semua pada edan. Gue mesti hati-hati kalo pergi ke Semarang lagi 😌.

image

Kejadian buruk keempat yang gue alamin di Semarang adalah pas gue balik ke Kalimantan lagi. Kali ini gue bawa adik gue yang mau gue sekolahin di Kalimantan, sekolah tempat gue ngajar. Sama seperti sebelumnya gue berangkat naek bis Limex lagi dari Bogor. Gue sama adik gue sengaja mampir dulu di Bogor buat ngambil barang-barang pesanan nyokap. Busyet dah, barang yang gue ambil di rumah ada lebih dari 2 karung. Gue sampe bingung kaya apa bawanya. Tiket bis aja sampe gue bayar double. Bisa tekor ongkos gue nih. Begitu sampai di Krapiak-Semarang, gue masih trauma sama kejadian supir taksi yang nyaris ngebunuh gue. Akhirnya gue bawa adik gue nyari tempat berlindung, kali aja kami bisa tidur sejenak sambil nunggu pagi. Gue ajak adik gue ke sebuah kantor polisi yang letaknya nggak jauh dari tempat gue turun dari bis. Kantor polisinya rada nanjak ke atas. Gue sama adik gue masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah gedung aula serba guna. Di sana ada beberapa kursi plastik, dan gue suruh adik gue duduk deket pintu. Sementara gue ngangkutin karung-karung bawaan gue dulu di bawah tanjakan. Setelah semua barang beres gue angkutin ke atas, gue duduk di sebelah adik gue yang ketakutan lantaran gedung aulanya sepi. Gue suruh adik gue tidur di pangkuan gue. Tiba-tiba seorang polisi setengah baya datang nyamperin kami. Dia mandangin kami dari atas ke bawah dan semua barang bawaan kami yang begitu banyak.

“Mohon maaf Pak, kami menumpang beristirahat di sini. Nanti pagi kami berangkat ke pelabuhan,” kata gue sesopan mungkin.

“Jangan lupa uang bayarannya ya, Mas! Satu jam Rp50.000,00. Sekarang baru jam 2, bis ke pelabuhan baru ada jam 6 pagi. Jadi Mas numpang istirahat di sini selama 4 jam, totalnya Rp200.000,00. Mau bayar sekarang?” polisi itu ngejawab sambil ngeliatin arloji di pergelangan tangannya.

Masya Allah! Inikah figur yang menjadi panutan masyarakat dan seharusnya melindungi masyarakat? Ternyata gedung aula serba guna yang terdapat di kantor polisi Krapiak-Semarang bisa beralih fungsi menjadi hotel juga ya? Oh iya gue lupa, kan namanya juga gedung aula serba guna ya. Jadi hotel juga kenapa nggak bisa? Indonesia geeto loh!

“Maaf Pak, bayarnya nanti saja ya!” kata gue sambil nyoba tersenyum ke pak polisi.

Polisi itu langsung ngelengos pergi dengan mimik muka masam. Kelihatan banget dia kecewa gak dapet duit dari gue. Selepas dia pergi, gue buka dompet ngitung duit buat ongkos dan makan takut nggak cukup. Ternyata benar dugaan gue, gara-gara kebanyakan barang bawaan, ongkos gue gak bakal cukup sampai kampung tempat kerja gue di Kalimantan. Adik gue tahu apa yang lagi gue alamin waktu itu. Dia ngerti kalo kami berdua kekurangan ongkos. Akhirnya malam yang tersisa gue sama adik gue nangis berdua di dalam gedung. Dalam hati gue gak henti-hentinya berdoa, semoga selalu ada keajaiban yang bakal Allah tunjukkin ke kami. Gue berharap semoga di kapal laut nanti gue ketemu tetangga sekampung yang bisa ngegalangin kami ongkos sampai kampung. Tapi kenyataannya gak ada! Gue gak ketemu siapa-siapa yang gue kenal selama di kapal. ⛵

image

Tuhan tetap ngedenger doa gue. Kenapa? Karena watak orang-orang di Kalimantan jauh lebih baik daripada watak orang-orang jahat yang gue temuin di Semarang. Begitu gue sama adik gue tiba di Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, hari dah maghrib menjelang isya. Gak ada mobil yang bisa nganterin kami ke Pangkalan Bun. Yang tersisa cuma tinggal para tukang ojek yang pada sibuk nyari calon penumpang. Gue bingung, duit yang gue pegang cuma cukup buat makan adik gue sama ongkos speedboat sampai Kotawaringin Lama. Selebihnya dari Kotawaringin Lama, kami naek travel yang bisa dibayar di rumah sama nyokap dan keluarga paman-bibi gue.

“Mau ke mana, Dek?” tegur seorang portir barang yang ternyata udah lama merhatiin kami dari tadi.

“Mau ke Pangkalan Bun, Pak!”  jawab gue murung. 😦

“Ayo, saya antar. Barang kalian sangat banyak. Sementara di sini sudah tidak ada mobil!” tawar pak portir yang ramah bersahaja.

“Tapi terus terang Pak, saya sudah kehabisan ongkos. Bisa nggak saya berutang sama Bapak? Lain waktu insya Allah saya akan mencari Bapak untuk membayarnya!” ungkap gue terus terang.

“Sudahlah, naik saja! Tak usah pikirkan masalah itu. Kalian saya antar ke Pangkalan Bun!”

Betapa mulia banget hati pak portir itu. Dia ngebonceng kami berdua plus dua buah karung, dua kardus, dan beberapa tas jinjing. Meski berat, dia ikhlas nganterin kami pake motor sampai pelabuhan speedboat di Pangkalan Bun.

“Kedua orang ini sedang kehabisan ongkos, kau mau kan mengantar mereka ke Kotawaringin Lama besok pagi?” cerita pak portir ke salah seorang supir speedboat yang ditemuin dia di pelabuhan.

Tanpa ngomong panjang lebar supir speedboat pun bersedia nampung gue sama adik gue. Malam makin larut, gue gak bisa ngajak adik gue nginep di losmen sekalipun. Gue minta maaf sama adik gue dan ngajak dia tidur di dalam speedboat yang terapung di sungai. Meski banyak nyamuk, gue seneng bisa ngebeliin adik gue makanan sebelum kami tidur. Sebungkus mie goreng kami makan berdua. Tidur di speedboat ternyata asyik juga. Supir speedboat sengaja natain bangku-bangku duduk jadi tempat tidur buat gue sama adik gue. Terpal penutup speedboat pun dipasang sebagai pengganti kelambu. Sepanjang malam perahu speedboat terombang-ambing sama arus sungai yang mirip sama ombak. Untung di sungainya nggak ada buaya. Gue gak pernah nyangka gara-gara ngalamin kejadian ini adik gue bercita-cita jadi pramugari supaya gue gak kesusahan lagi kalo mau balik ke Bogor. Tekadnya amat keras. Dan alhamdulillah sekarang impiannya itu bener-bener terwujud. Adik gue udah jadi seorang pramugari. Dia udah ratusan kali terbang ngelilingin Indonesia dan mancanegara. (Gak kerasa air mata gue menetes pas gue ngetik postingan ini 😂 ). 

image

Kejadian buruk laennya lagi yang gue alamin di Semarang adalah tahun berikutnya pas gue mudik cuman bertiga bareng nyokap sama adik gue yang bungsu. Ceritanya kami baru aja keluar dari kapal laut dan mau naek angkot jurusan terminal Terboyo. Ya ampun, lagi-lagi di pelabuhan juga banyak calo angkot. Bayangin pemirsa, angkot pake calo juga! Parahnya calo-calo di Semarang itu pada resek, pemaksa, dan tukang ngamuk kalo kitanya gak mau nurut sama mereka. Banyak sekali kata-kata kotor beraroma flora & fauna beserta kotorannya yang terucap dari mulut mereka tiap kali kita nggak mau ikut sama ajakan mereka buat naek angkot pilihannya. Busyet dah, itu mulut apa kebon binatang ya? Segala anj*ng, bab*, b*ngs*t, t*i kuc*ng, disebut-sebut. Astagfirullahaladzim. Di Bogor juga banyak banget calo, tapi gak separah kelakuan calo Semarang. Kebanyakan calo di Bogor kalo gagal ngedapetin calon penumpang, biasanya mereka bakal ngerayu calon penumpang lain. Ada unsur pemaksaan juga sih, tapi mulutnya pada disekolahin kok. Jadi gak pake acara karnaval aneka satwa segala.

Jadi ceritanya waktu itu gue sama nyokap dan adik bungsu gue lagi naek angkot jurusan Terboyo. Tiba-tiba tangan nyokap ditarik secara paksa sama seorang calo angkot lain.

“Bu, ikut angkot saya saja. Ibu mau ke Terboyo kan?”

“Maaf, angkot sampean sudah penuh banget. Saya di sini saja!” tutur nyokap menolak secara halus sambil naekin adik bungsu gue ke dalam angkot.

“Ibu ini anj*ng! Gak mau naek angkot saya. Saya sumpahin ibu celaka!” si calo itu sengaja ngedorong nyokap sampe tersungkur di dalam angkot. Kontan adik bungsu gue yang baru umur setahun ketimpa sama badan nyokap. Adik bungsu gue nangis ngeraung-raung kesakitan.

Kontan gue berang ngeliat nyokap diperlakuin kaya gitu sama orang.

“Anda ini punya sopan santun tidak? Begitu cara memperlakukan wanita yang lebih tua daripada Anda?” hardik gue ke tukang calo brengsek tadi.

“Lha sampean wong gendeng, tho! Ora gelem naek angkot aku. Lihat aja nanti mobil ini celaka semua penumpangnya!” sumpah serapah si tukang calo.

“Naik angkot siapa itu adalah hak kami! Anda tidak bisa seenaknya memaksakan kehendak orang lain. Sekarang kalau keadaan dibalik, seandainya ada orang yang menyuruh Anda memakan makanan yang sama sekali tidak Anda sukai, apa Anda akan memakannya? Atau misalnya lagi Anda sedang bepergian ke Jakarta, tetapi ada orang lain yang memaksa pergi ke Surabaya. Padahal Anda sama sekali tidak berminat pergi ke Surabaya. Apakah Anda akan mengikuti kemauan orang itu?” gue cecar habis-habisan si calo brengsek.

“Sana saja sampean makan t*hi kucing!” balas si calo brengsek bersungut-sungut.

Kalo aja nyokap gak nahan gue waktu itu, mungkin udah gue seret si calo brengsek itu ke ring tinju. Semakin lama semakin dalam gue renungin, kenapa tiap kali nginjek Semarang gue selalu ngalamin kejadian yang gak nyenengin perasaan gue. Apa semua orang Semarang punya watak kaya gitu? Ah, gue mesti ngebuang jauh-jauh stereotip negatif kaya gitu. Gue percaya pada dasarnya orang-orang Semarang asli wataknya baek-baek. Semoga aja Tuhan ngebuka pikiran orang-orang Semarang yang pernah berbuat jelek terhadap gue supaya mereka nggak ngulangin lagi perbuatan-perbuatan tersebut. Tapi gak tahu kenapa setelah semua kejadian yang gue alamin di Semarang, gue belum kepengen ngelangkahin kaki di sana lagi. Meski sekarang udah 6 tahun lamanya. Entah sampe kapan. 😱