Budaya Pus Am

Sebenarnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Sedikit khawatir bila tulisan ini akan menuai kontraversi seperti jambul Khatulistiwanya Syahrini, karena artikel yang akan saya angkat menyangkut adat-istiadat masyarakat luas di daerah tempat tinggal saya. Setelah saya mempertimbangkan lebih lanjut, saya harus menulis artikel ini dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Sebab pada hakikatnya segala sesuatu hal senantiasa memiliki dua sisi yang bertolak belakang: baik dan buruk, positif dan negatif, menguntungkan dan merugikan.

Masyarakat di daerah barat daya provinsi Kalimantan Tengah mengenal budaya pus-am sejak zaman nenek moyang mereka menempati wilayah tersebut yang meliputi kabupaten Sukamara, kabupaten Lamandau, dan sebagian kabupaten Kotawaringin Barat. Ada pula masyarakat di wilayah selatan kabupaten Ketapang yang terletak di provinsi Kalimantan Barat. Lalu, apakah yang dimaksud dengan budaya pus am itu?

Lebih tepatnya pus am atau kerap juga dilafalkan pusam dalam aksen cepat, adalah suatu kebiasaan masyarakat di wilayah yang telah saya sebutkan di atas, di mana mereka enggan memedulikan suatu persoalan yang mungkin dianggap penting oleh lawan bicaranya. Secara harfiah pus dapat diartikan ‘biar saja’ dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi masyarakat cenderung mengartikannya sebagai suatu ungkapan yang berarti ‘masak bodoh’. Masyarakat di perbatasan Kalbar dan Kalteng seringkali melafalkannya, “pus am!” atau “pus am bah!” dengan intonasi meninggi pada kata ‘am’ dan memanjang pada pengucapan kata ‘bah’ menjadi ‘baaah!’ 

Kata ‘am’ dan ‘bah’ itu sendiri tidak memiliki makna yang berarti. Kedua kata tersebut hanya menjadi penghias kalimat, atau penekan kalimat yang mengindikasikan kasar-halusnya suatu pengucapan. Bunyi ucapan tersebut memang tidak nyaman didengar dan terkesan kasar. Akan tetapi kebiasaan mengucapkan kata-kata pus am telah mendarah daging di masyarakat sehingga menjadi tradisi. Saya kerap dibuat jengkel tatkala mendengar seseorang mengatakan pus am kepada saya. Seringnya saya mendengar kata-kata tersebut akhirnya saya menjadi terbiasa dan bersikap sabar ketika menyikapinya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan yang pernah saya alami dengan budaya pus am antara lain sebagai berikut:

Pertama, waktu itu saya baru menjadi seorang guru di sebuah SMA. Murid-murid saya tidak berpakaian rapi layaknya pelajar. Dan saya menegur mereka, “Tolong dimasukkan pakaiannya ya, supaya kelihatan rapi!” Namun mereka membalas ucapan saya dengan pernyataan, “Pus am, Pak! Apa guna rapi-rapi?” sambil berlalu meninggalkan saya tanpa mengindahkan teguran saya. Melihat hal itu, saya hanya menggeleng-geleng kepala.

Kedua, pernah suatu ketika saya menyuruh salah seorang siswa untuk menjenguk temannya yang beberapa hari tidak masuk sekolah. “Sudah beberapa hari Rafta tidak masuk sekolah, bisakah kamu mampir ke rumahnya sepulang sekolah nanti? Barangkali dia sakit,” pinta saya waktu itu. Tak disangka jawaban murid yang saya mintai tolong itu seperti ini, “Pus am bah! Apa guna juga menjenguk dia? Biar ja amun dia sakit.” Ujarnya dengan nada datar. Mulut saya ternganga mendengar jawaban tersebut. Apakah dia tidak memiliki solidaritas, pikir saya.

Ketiga, saat sedang ujian berlangsung salah seorang siswa tak kunjung mengisi lembar jawabannya. Sementara waktu ujian akan segera habis. Secara kebetulan saya sedang mengawas. Tentu saja begitu saya melihat kejadian itu, saya langsung menegur siswa yang bersangkutan. “Tolong lembar jawabanmu segera diisi, karena waktu ujian sudah mau habis. Maaf, saya tidak bisa memberi perpanjangan waktu untuk itu,” ucap saya dengan hati-hati. Lagi, mata saya harus membelalak lebar mendengar tanggapan si empu kertas. “Alah, pus am bah, Pak! Mau waktunya habiskah, mau diperpanjangkah nggak urus. Biar nggak dapat nilai juga!” 

Saya tidak habis pikir mengapa orang-orang di daerah tempat tinggal saya memiliki pola pikir yang begitu pendek. Mereka tidak mau memedulikan apa yang orang lain khawatirkan meskipun hal tersebut berkaitan erat hubungannya dengan mereka. 

Kejadian lain yang pernah saya alami, suatu hari saya melihat seorang anak balita kira-kira berusia dua tahun berjalan kaki mengikuti ibunya keluar masuk hutan untuk mencari rebung. Panas matahari begitu terik, bocah itu tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Bocah itu meraung-raung kesakitan sambil terus mengejar sang ibu yang berjalan jauh di depan. Saya tidak tega melihatnya, apalagi kaki si bocah dipenuhi luka parut akibat bergesekan dengan semak berduri dan ranting pepohonan yang tidak bersahabat dengannya. “Aduh Bu, ini anaknya kasihan luka-luka. Ayo saya antar ke puskesmas,” tawar saya seraya menggendong si bocah. Sang ibu dengan sikap acuh tak acuh, hanya menoleh ke arah saya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya jauh ke dalam hutan. “Pus am, Pak! Suruh dia jalan lagi!” teriaknya tiba-tiba dari kejauhan. Ya, saya maklum penduduk lokal memang terbiasa berjalan tanpa alas kaki. Karena itulah mereka memiliki fisik yang sangat kuat. Tapi untuk anak seusia itu? Terlalu dini rasanya. Atau jiwa saya yang terlalu lembut?

Di lain waktu pernah pula seorang teman meminjam beberapa barang milik saya antara lain jam tangan, jaket, dan sepatu. Entah disengaja atau tidak, semua barang yang dipinjam oleh teman saya itu ditinggalkannya di kamar hotel ketika ia berjalan-jalan ke kota dengan kekasihnya. Setelah saya memintanya untuk mengembalikan barang-barang tersebut, dengan enteng teman saya ini menjawab, “Pus am bah! Ambil aja sendiri ke hotel sana!” Grr… Benar-benar menjengkelkan punya teman seperti itu. 

Ada banyak sekali kejadian berujung pus am yang saya alami. Kebanyakan pus am-pus am itu lebih bermakna ‘Sorry ya, aku nggak peduli’. Sampai akhirnya saya memahami mengapa tradisi pus am telah mendarah daging di masyarakat sejak zaman bahari. Konon dahulu kala di pedalaman pulau Kalimantan pada masa kolonialisme dan imperialisme bangsa barat, para kompeni tidak pernah sampai ke area pedalaman. Sehingga penduduk di pedalaman tidak terlalu menderita seperti halnya penduduk di kota yang notabene banyak mengalami penyiksaan. Penduduk pedalaman berjiwa bebas. Mereka berperang bukan untuk melawan penjajah, melainkan suku lain yang dianggap musuh oleh suku mereka. Begitu negara Indonesia merdeka dan pulau Kalimantan masuk ke dalam wilayah NKRI, penduduk di pedalaman tidak begitu mengerti makna sebuah kemerdekaan. Mereka kurang menjiwai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila seperti tenggang rasa, toleransi, musyawarah, dan jiwa nasionalisme. Saking kurang memahaminya, pernah saya mengunjungi suatu dusun di pelosok Kalbar pada bulan Agustus untuk melihat perayaan dirgahayu RI di sana. Setibanya di sana saya sangat kaget, karena saya merasa tiba-tiba bukan berada di negara sendiri. Sepertinya saya sudah tersesat ke Republik Polandia. Karena apa? Sang saka merah putih dikibarkan terbalik di setiap halaman rumah para penduduk dusun. Saat saya memberitahu warga bahwa pemasangan bendera di dusun mereka semua terbalik, lagi-lagi warga hanya menanggapi perkataan saya dengan kata, “Pus am!”

Apa saya terus tinggal diam menyikapi orang-orang di sekitar saya untuk melestarikan budaya pus am? Awalnya saya maklum, dan hanya bisa menerima perlakuan yang tidak mengenakkan ini secara sepihak. Seiring bergulirnya waktu akhirnya saya mencoba untuk menentangnya. Tentu saja bukan dengan cara yang ekstrim dan anarkis. Cara saya adalah menempatkan diri saya sebagai bintang drama Korea. Haha… mungkin ini lucu kedengarannya. Silakan Anda baca kembali cerita kejadian-kejadian yang telah saya alami di atas. Bayangkan kalau Anda sedang menyaksikan adegan drama Korea di mana para tokoh-tokohnya sedang cekcok satu sama lain. 

Setiap ada murid yang penampilannya tidak rapi, saya tetap menegur mereka untuk merapikannya tak peduli bila mereka mengatakan pus am kepada saya. Bila mereka tak mengindahkan perkataan saya, maka aksi drama Korea saya adalah menghalangi langkah mereka sebelum mereka berlalu meninggalkan saya. “Hey, biar saya saja yang merapikan pakaian kalian! Orang tua kalian tidak pernah mengajari bagaimana cara berdandan ya? Ayo, sini saya ajarkan sekalian! Penampilan saya sepuluh kali lebih rapi daripada Lee Min Ho. Kalian tahu itu?” Sengit saya seraya bergerak menghampiri mereka.

Setiap kali melihat murid yang tidak peduli terhadap keadaan temannya, saya membujuk mereka dari hati ke hati, “Ayolah, kalian tidak sedang putus cinta kan? Apa kamu tahu kalau dia selama ini sebenarnya sangat perhatian terhadapmu? Kamu pasti tidak tahu kan seberapa besar pengorbanan yang telah dia lakukan selama ini untukmu? Jadi, saya mohon jenguklah dia di rumahnya. Dia pasti akan sembuh setelah melihat kedatanganmu! Ayo, kita jenguk dia sama-sama!” 

Dan setiap kali saya mendapati teman yang tidak bertanggung jawab atas barang-barang yang mereka pinjam dari saya, maka aksi drama Korea saya selanjutnya adalah: “Bisa tolong tunjukkan kartu identitasmu? Silakan tunggu sebentar, tidak lama lagi polisi akan tiba di sini. Baru saja saya melaporkan kalau ada anggota teroris yang mengidap penyakit demensia di sini.”

Haha… Ini konyol sekali, kan? Mungkin ini terlalu frontal. Akan tetapi memang demikianlah karakteristik penduduk di daerah saya. Karakter mereka tidak berbeda dengan karakter orang Korea dalam drama. Saat seseorang bersikap frontal terhadap kita, maka cara jitu yang bisa mengatasinya adalah membalas tindakan secara frontal kembali. Bukan hanya diam menerimanya begitu saja secara sepihak. Karena itulah mengapa saya bersikap layaknya para aktor Korea.  

Usaha saya selama ini tidak sia-sia. Sebagai seorang guru yang berpacu dengan arus globalisasi, saya harus memiliki sikap kontemporer. Di mana jiwa pendidik yang bersemayam di dalam diri saya tidak harus selamanya ortodoks yang senantiasa mengikuti sikap kharismatis Oemar Bakri, sang guru teladan yang fenomenal itu. Katakan saja saya adalah seorang guru yang sensasional, tetapi justru sikap seperti inilah yang cocok diterapkan dalam mendidik putra-putri generasi muda di daerah saya. Dengan berbagai metode pendekatan sensasional yang saya lakukan terhadap orang-orang di sekeliling saya, pada saat ini budaya pus am telah berbalik memberi kesan yang jauh lebih baik daripada empat belas tahun sebelumnya. 

Ketika seorang teman belum mengembalikan uang yang dipinjamnya, sang pemberi pinjaman berkata: “Pus am bah! Enggak apa-apa, nggak dikembalikan juga. Saya ikhlas kok!” Oh, tidakkah ini sangat dermawan? 

Ketika seorang teman membayarkan makanan yang kita makan, kita bermaksud mengganti biaya yang telah dibayarkannya. Maka teman itu akan berkata, “Nggak usah diganti! Pus am bah, biar saya yang bayar!” 

Dengan demikian dari dua contoh kejadian di atas, perkataan pus am telah mengalami pergeseran makna menjadi: “Sudahlah, biar saja tidak apa-apa!” dengan penekanan yang sangat halus. Itulah pengalaman saya dalam kurun empat belas tahun terakhir mengenai budaya pus am di daerah saya. Tak diduga budaya dalam drama Korea bisa memberikan manfaat dalam kehidupan saya. Percayalah, di mana ada aksi pasti akan menimbulkan reaksi. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya. Salam…

Advertisements

Sulitnya Menjadi Guru

image

Hari ini semua guru di Indonesia sedang memperingati hari istimewa mereka: Hari Persatuan Guru Republik Indonesia. Tidak terkecuali saya. Sebagai seorang guru yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun (sok tua ya saya), saya turut memperingati perayaan tersebut secara pribadi. Lho kok? Mungkin para guru di kecamatan tempat tinggal saya, lupa kalau hari ini merupakan hari istimewa bagi mereka. Entah mengapa perayaan yang biasanya diperingati dengan upacara di depan kantor kecamatan, hari ini tidak diselenggarakan. Tidak ada acara makan bersama seperti yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hari ini seolah sama seperti hari-hari biasa. Oleh karena itu saya merayakannya secara pribadi di blog saya ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, karakteristik guru pada zaman sekarang jauh berbeda dengan karakteristik guru zaman dahulu. Untuk menjadi guru teladan yang sejatinya patut digugu dan ditiru oleh para muridnya, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Tidak hanya faktor eksternal, faktor internal guru itu sendiri pun turut mempengaruhi. Sejak saya kembali mengajar di sekolah yang sempat saya tinggalkan dua tahun lalu, saya menemukan semakin banyak alasan bagi para guru untuk maju. Para guru mengeluh peraturan-peraturan pemerintah yang begitu banyak diberikan kepada para guru pada masa ini semakin mempersulit kinerja guru dalam menjalankan roda pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa. Sertifikasi, Uji Kompetensi Guru, PUPNS, dan lain sebagainya terkesan sangat memberatkan beban para guru yang seharusnya bertugas mengajar. Terutama para guru yang tinggal di daerah pelosok. Sarana prasarana yang terdapat di daerah maupun sekolah-sekolah di daerah masih terbilang sangat minim. Oleh karena itu kendala yang dihadapi para guru dalam memajukan pendidikan bangsa ini terbilang sangat sulit. Padahal seharusnya para guru tidak menjadikan hal tersebut sebagai halangan untuk maju. Justru sebaliknya, dengan adanya keterbatasan keadaan, para guru menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk menjadi guru yang jauh lebih baik.

Saya akui menjadi guru yang baik pada masa ini memang relatif sulit. Sebagai guru yang mengajar di jenjang SMA, saya sering menemukan kendala dalam menanamkan kedisiplinan dan solidaritas kepada murid-murid saya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya karakter guru tentu berbeda-beda. Ada guru yang kerap menceramahi murid-muridnya tentang budi pekerti, tata krama, dan sopan-santun. Namun ada pula segelintir lainnya yang bersikap acuh tak acuh. Biasanya guru yang termasuk pada kelompok terakhir ini hanya menganggap ‘yang penting saya sudah mengajar’. Mereka tidak menghiraukan peserta didik mereka akan bersikap apa dan bagaimana baik di dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyrakat. Saya sangat prihatin setiap bertemu dengan guru tipe terakhir ini. Tidakkah mereka berpikir bahwa ujung tombak dunia pendidikan adalah guru? Guru sering menjadi tumpuan kesalahan setiap kali siswa mengalami suatu masalah. Sebagai contoh misalnya: saat seorang siswa mengalami kekalahan dalam suatu perlombaan, masyarakat kerap bertanya “siapa gurunya?” Sebaliknya saat seorang siswa meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, biasanya masyarakat akan bertanya “Wah, siapa orang tuanya?” Miris memang…

Guru pada masa ini harus berpacu dengan teknologi. Karakteristik pelajar zaman sekarang dominan tertarik dengan perkembangan zaman. Tidak hanya televisi atau mainan yang mereka miliki di rumah. Telepon genggam yang mereka pakai merupakan kendala terbesar yang harus dihadapi oleh para guru. Karena telepon genggam saat ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap para pelajar dalam bersikap dan bertindak. Banyak sekali fitur yang disajikan di dalam sebuah telepon genggam, mulai dari aplikasi permainan, internet, kamera, pemutar music dan video, dan berbagai macam aplikasi lainnya yang menawarkan kecanggihan teknologi. Penggunaan telepon genggam tanpa batas menyebabkan para pelajar menjadi malas, dan kurang berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka tidak hanya menjadi malas mengerjakan tugas-tugas di rumah, ataupun ibadah, tetapi juga malas mengerjakan tugas sekolah. Mereka bahkan mulai tidak memahami apa makna solidaritas dalam lingkungan pergaulannya.

Pernah suatu ketika seorang murid perwalian saya mengalami suatu penyakit dan menyebabkannya harus menjalani operasi. Selang beberapa hari kemudian orang tua murid tersebut menghubungi saya via telepon mengharap kunjungan dari teman-teman anaknya. Tentu ini merupakan kewajiban bagi saya untuk menyampaikan kepada teman-teman sekelasnya. Bukan sambutan hangat yang saya terima, murid-murid perwalian saya berkata, “Kami capek, Pak! Nanti sore ada acara,” “Kita tengoknya nanti saja Pak, pada hari ulang tahunnya dia!”, “Aduh, saya mau kemah nih. Jadi nggak bisa jenguk!”, “Wah, saya nggak bisa ninggalin COC, Pak! Nanti kampung yang sudah saya bangun diserang musuh!”, “Jenguknya pake Instagram aja ya, Pak! Kita suruh dia upload fotonya waktu dioperasi!”, “Saya sudah kirim SMS sama dia, Pak. Supaya dia cepat sembuh.”

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala tatkala mendengar tanggapan murid-murid perwalian saya. Saya tidak mengharap satu kelas untuk datang menjenguk teman mereka yang sakit itu. Setidaknya ada perwakilan dari mereka yang bersedia memenuhi permintaan dari anak yang sakit. Tidak terkecuali saya. Anak yang sakit itu pada dasarnya ingin dihibur dan dimotivasi oleh teman-temannya agar ia lekas sembuh. Apa boleh buat, ini mungkin tantangan untuk saya menumbuhkan rasa solidaritas murid-murid saya agar mereka dapat berkembang sebagai jiwa yang selalu peduli terhadap sesama. Masalah seperti ini mungkin tidak dialami oleh saya sendiri. Di pelosok daerah lainnya mungkin masalahnya jauh lebih beragam. Belum termasuk kenakalan pelajar seperti tawuran, penggunaan narkoba, dan free sex yang kian merebak karena pengaruh penggunaan internet yang melampaui batas. Tentu semua permasalahan ini belum terselesaikan. Dan ini masih menjadi PR bagi para guru di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada rekan-rekan seprofesi di manapun Anda berada, mari kita tingkatkan semangat, dedikasi, dan kinerja kita untuk mencetak generasi muda yang jauh lebih baik lagi. Selamat hari guru 2015.

Orang Tua Murid Jangan Mendikte Guru

image

Suka Dukaku Menjadi Seorang Guru di Kalimantan

Tak terasa waktu terus berlalu, sepuluh tahun sudah aku bekerja menjadi seorang guru sejak lulus SMA pada 2004 silam hingga sekarang. Kadang aku merasa ini semua hanya mimpi dan aku ingin keluar dari mimpi yang sedang kulihat ini. Banyak hal yang telah terjadi, dan cukup banyak sepak terjang yang kualami dalam dunia pendidikan. Kadang juga aku merasa jenuh, ingin mencoba dunia pekerjaan lain yang ingin kugeluti. Tetapi sangat sulit bagiku untuk melepas semua ini. Dulu, saat aku masih kelas 2 SD aku memang pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi seorang guru tatkala guru wali kelasku menanyakan apa cita-citaku. Kemudian saat aku kelas 6 SD, aku pernah berubah pikiran setelah aku mengagumi sosok Arief Suditomo presenter/reporter berita Liputan 6 SCTV, aku ingin menjadi seperti dia. Duduk di depan kamera membacakan berita untuk para pemirsa di depan layar kaca, sepertinya hal yang menyenangkan karena bisa memberitahukan suatu informasi penting kepada khalayak ramai. Selain itu menjadi seorang reporter tentu mendapat banyak tantangan dari berbagai kalangan yang mungkin melarang publikasi berita melalui media. Karena itulah seorang reporter dapat dikenal luas oleh masyarakat.

Saat aku beranjak lulus SMA, aku mulai bimbang pekerjaan apa yang kelak akan kugeluti mengingat mama sebagai satu-satunya orang tua yang kumiliki tidak sanggup untuk membiayaiku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan harapanku hancur begitu aku gagal meraih beasiswa kuliah ke Jepang selepas SMA. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Kalimantan, dan tak pernah kuduga kalau aku harus tertanam di negeri ini untuk menjadi seorang guru meskipun pada saat itu aku hanya berbekal kemampuan bahasa asing yang kukuasai tanpa gelar sarjana sekalipun.

Cukup banyak sekolah yang pernah menjadi tempatku berkiprah. Sebut saja antara lain SDN Bangun Jaya, SDN Natai Kondang, SMAN 1 Balai Riam, MTs An Nur, SMP PGRI Balai Riam, hingga Sekolah Pelita Cemerlang yang sangat bergengsi di Kota Pontianak. Di antara semua sekolah itu, SDN Bangun Jaya dan SMAN 1 Balai Riam adalah sekolah yang paling lama yang pernah kutapaki. Pada Juli 2004 adalah awal aku mengajar di SDN Bangun Jaya dan berhenti pada Juni 2008 yang mana pada masa itu sekolah tersebut dikepalai oleh seorang pria kharismatis Bapak H.Abdillah yang berasal dari Banjarmasin-Kalimantan Selatan, tetapi pada saat itu beliau belum menyandang gelar haji. Pada Juli 2011 aku masuk kembali ke sekolah yang sama setelah 3 tahun hengkang dikarenakan aku ingin fokus mengabdikan diri untuk SMAN 1 Balai Riam, aku ditarik kembali ke SDN Bangun Jaya atas permintaan kepala sekolahnya yang baru, Ibu Rensi S.Pd SD, beliau dulu adalah rekan sesama guru saat aku mengajar di zaman kepemimpinan Bapak H.Abdillah dan hingga sekarang aku masih tetap mengajar di SD tersebut. Awal aku mengajar di SMAN 1 Balai Riam adalah Juli 2005, tepat setahun setelah aku mengajar di SDN Bangun Jaya. Hingga akhirnya akupun hengkang dari SMA yang sebenarnya sangat kucintai ini karena beberapa faktor eksternal maupun internal yang membuatku semakin tidak nyaman untuk terus bertahan di sekolah tersebut. Jadwalku di SMAN 1 Balai Riam sering bentrok dengan jadwal mengajar di bimbingan belajar yang kukelola sejak pertama kali aku datang ke Kalimantan. Tepat pada Juni 2013 silam aku mengundurkan diri secara baik-baik kepada keluarga besarku staf pengajar SMAN 1 Balai Riam. Maka hanya tinggal satu sekolah yang aku pegang saat ini.

Beberapa malam yang lalu aku mendapat SMS dari salah seorang wali murid berinisial S. Sebut saja nama wali muridku itu Bu N. Beliau adalah seorang guru di MTs An Nur, sekolah yang juga pernah menjadi tempatku bekerja. Dulu aku pernah mengajar kelas malam untuk persiapan Ujian Akhir Nasional di sekolah berasrama tersebut. Wali murid yang bernama Bu N ini mendikteku dalam hal pemberian nilai rapor terhadap murid-muridku untuk mata pelajaran Bahasa Inggris yang kuemban. Jadi malam itu, di rumahku sedang mati lampu. Seharian penuh aku sama sekali tidak mengaktifkan ponselku berhubung aku sibuk memberikan bimbingan les kepada murid-muridku karena mereka sedang menghadapi ulangan umum kenaikan kelas. Saat malam tiba aku menyalakan generator agar bisa mencharge ponselku, dan kutinggalkan di dalam kamar sementara aku pergi menonton televisi di ruang keluarga. Saat aku kembali ke kamar untuk melihat ponselku, betapa terkejutnya aku mendapatkan 7 panggilan tak terjawab dan 3 SMS dari Bu N wali murid dari S. Baru selesai membaca SMS-nya yang ketiga, SMS-SMS lainnya turut menyusul hingga 8 SMS. Kalimat-kalimatnya sangat tidak menyenangkan hati. Dia menilaiku sebagai guru yang tidak pernah bijaksana dalam memberikan nilai rapor Bahasa Inggris kepada murid-muridku, terutama terhadap anaknya (S) dan rival dari anaknya yang berinisial G.

Singkat cerita S dan G adalah dua orang muridku yang selalu bersaing sejak mereka duduk di kelas 2 SD. Ketika itu G selalu menjadi juara kelas dan S menjadi runner up di bawahnya. Adapun ayah S, suami dari Bu N, adalah seorang tukang rumput yang bekerja di sebuah perusahaan sawit terkemuka di daerah kami, PT.KSK. Sedangkan ayah G adalah seorang asisten kepala (askep) pada perusahaan yang sama. Sejak kedua anak perempuan itu naik ke kelas 3, Bu N mulai mendekati Bu R yang menjadi guru wali kelas putrinya. Pendekatan Bu N terhadap Bu R membuahkan hasil, S diberi peringkat pertama oleh Bu R menggeser posisi G yang sangat dibanggakan kedua orang tuanya. Ternyata hal tersebut menimbulkan kemarahan kedua orang tua G, mereka tidak terima kalau putri kesayangan mereka peringkatnya tergeser oleh S. Sialnya aku yang tidak tahu-menahu mengenai masalah mereka jadi terbawa-bawa. Mamanya G mendatangiku ke rumah dan mencak-mencak karena aku memberi nilai yang sama untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di rapor S dan G. Nilai yang kuberikan pada mereka adalah 85. Adalah sebuah nilai yang memuaskan menurut penilaian dewan guru SDN Bangun Jaya, karena kami memiliki standar nilai untuk rapor di mana kami sepakat untuk tidak memberikan nilai melebihi 90 bila kemampuan peserta didik kami dirasa belum cukup berkompeten untuk mencapai nilai tersebut. Akan tetapi mama G ini merasa sangat terhina nilai putrinya disejajarkan dengan nilai S. Beliau terus mendesakku agar aku meralat kembali nilai yang telah kuberikan. Dipikirnya bila aku mengabulkan permintaannya, maka dengan mudahnya beliau akan dapat menggugat Bu R untuk mengubah kembali rapor G dan S, yang mana nantinya G akan tetap bertahan sebagai juara kelas seperti sebelumnya. Kurang-lebih 3 jam mama G bertahan di rumahku karena terus mendesak agar aku mengabulkan keinginannya dengan penuh pemaksaan. Namun aku tak bergerak sama sekali dan membiarkannya begitu saja sampai akhirnya ia merasa bosan sendiri.

Selama di kelas 3, dua semester berturut-turut Bu R memberikan peringkat pertama kepada S dan membuat mama G semakin panas. Menurut pengamatanku, peringkat tersebut diberikan Bu R semata-mata karena kedekatannya yang semakin lengket dengan Bu N. Mama G sampai datang menemui Bu R seraya menyodorkan secarik kertas berisi rekapan nilai rata-rata keseharian putrinya. “Ini nilai rata-rata anak saya, Ibu berani ngasih peringkat berapa di rapor anak saya?” Begitulah tandas mama G.

Saat ini S dan G sudah duduk di kelas 4 dan akan segera naik kelas 5. Pada semester yang lalu, aku memberikan nilai Bahasa Inggris 90 untuk G, dan 88 untuk S di rapor mereka. Penilaian tersebut kuberikan secara jujur dan apa adanya. Aku tidak subjektif dalam memberikan nilai. Semua kuberikan berdasarkan kemampuan mereka masing-masing. Rupanya Bu N merasa kurang puas akan nilai yang telah kuberikan kepada S semester yang lalu. Oleh karena itu tepat satu malam menjelang ulangan Bahasa Inggris beberapa hari yang lalu, Bu N menerorku via sms, dan mengatakan aku tidak pernah bijak dalam memberikan nilai. Bahkan aku dikatakan takut kepada mama G kalau nilai G diberi lebih rendah daripada S. Dan hanya murid-murid lesku saja yang kuberi nilai tinggi di rapor. Astagfirullahaladzim, kalau saja aku kehilangan kendali mungkin aku sudah menyorongkan ulekan bekas sambal ke mulut Bu N itu! Pasalnya semua apa yang dituduhkan Bu N kepadaku itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah pandang bulu dalam memberikan nilai, sekalipun nilai murid-murid lesku relatif rendah, untuk apa aku menaikkannya menjadi tinggi? Pada kenyataannya murid-murid lesku mendapat nilai tinggi di sekolah karena semua itu adalah murni hasil keseriusan mereka selama mengikuti bimbinganku di les. Lagipula G bukan murid lesku, kepintarannya murni hasil bimbingan mamanya di rumah. Setelah aku usut semua perkara yang dilontarkan Bu N padaku, ternyata Bu N menyimpan dendam kepada kedua orang tua G. Karena ayah G pernah berkata kepada rekan-rekan kerjanya di kantor mencemooh S tepat di hadapan ayah S yang hanya bekerja sebagai tukang rumput. Katanya begini, “Hebat ya zaman sekarang, anak tukang rumput bisa mengalahkan anak seorang asisten kepala!”  

Aku benar-benar jemu melihat perseteruan orang tua murid yang selalu berujung mendikte guru dalam memberikan nilai. Akhirnya aku bulatkan tekadku untuk berani memberikan nilai di rapor S dan G, sama besar yakni 95. Walaupun hal tersebut sebenarnya sangat ditentang oleh rekan-rekan pengajar di sekolah. Aku ingin tahu apakah kedua belah pihak masih belum puas atas nilai yang telah kuberikan itu. Bila mereka belum puas juga, haruskah aku menuliskan angka 100 di rapor S dan G? Nilai 95 adalah nilai yang sangat tinggi bukan?

Aku yakin, meskipun ini mungkin akan jadi masalah terakhirku di SDN Bangun Jaya karena aku tidak lama lagi akan segera hijrah ke kota, namun suatu saat nanti mungkin akan ada masalah lain yang menimpaku. Sebab sejatinya hidup adalah masalah. Bukan hidup namanya bila tidak ada suatu masalah. Tinggal bagaimana diri kita saja menyikapi masalah yang kita hadapi tersebut. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, semakin matang kedewasaan kita dalam bertindak. Pesanku untuk para pembaca, bila Anda adalah seorang guru, bertindaklah tegas dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan murid. Jangan pernah lunak terhadap murid zaman sekarang yang sering mengadu domba antara orang tua dan guru. Dan bila Anda adalah orang tua yang memiliki anak berprestasi di sekolah, jangan pernah sekalipun mengintervensi nilai rapor anak Anda kepada guru wali kelasnya. Karena guru lebih tahu bagaimana keseharian peserta didiknya di sekolah! Semoga tulisanku ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amin.

Perbedaan Karakter Guru Zaman Dulu dengan Guru Zaman Sekarang

Kadang aku suka jengkel deh kalau melihat ada guru rekan-rekan kerjaku saat jam mengajar bukannya mengajar di kelas malah asyik ngerumpi di kantor bersama guru-guru lain yang kebetulan sedang jam kosong. Kalau kutanya mereka, “Loh, Bu, Pak, bukankah Anda seharusnya sedang mengajar di kelas?”, dengan santainya mereka akan menjawab begini : “Kan sudah saya beri tugas!”   Waduuh, memang kalau siswa diberi tugas, lantas guru boleh ya bebas meninggalkan siswa dan ngerumpi di kantor? Terus kalau dalam mengerjakan tugasnya, terdapat hal yang tidak dipahami oleh siswa, kepada siapa mereka akan bertanya? Kepada teman yang lebih pintar? Alih-alih bukannya mendiskusikan soal, para siswa itu juga akan ‘sibuk’ ngerumpi di kelas seperti yang dilakukan sang gurunya di kantor. Dan apa yang terjadi ketika sang guru kembali ke kelas? Biasanya guru akan bertanya, “Sudah selesai anak-anak?” Maka dengan serentak para siswa pun menyahut, “BELUUUUM Bu”. Anehnya guru itu malah balik mengomeli murid-muridnya, “Masak soal segitu saja kalian belum selesai?”   Inilah problematika dunia pendidikan zaman sekarang. Saya tidak tahu pasti ya, apakah para guru di daerah lain juga memiliki watak seperti rekan-rekan guru saya (maaf) di Pulau Kalimantan. Meskipun saya terbilang masih guru junior yang baru 10 tahun mengajar, namun hampir semua tingkatan jenjang pendidikan pernah saya alami, mulai dari SD, SMP, MTS, hingga SMA dan SMK pernah saya geluti baik di bawah instansi pemerintah (sekolah negeri) maupun instansi swasta.   Saat saya sedang mengajar di suatu kelas, tiba-tiba terjadi kegaduhan di kelas tetangga, sungguh membuat konsentrasi kegiatan belajar mengajar di kelas saya terganggu. Lantas saya datangi kelas gaduh tersebut untuk menanyakan jam pelajaran apa yang sedang berjalan di kelas mereka. Satu-satunya jalan yang dapat saya lakukan agar mereka tidak ribut lagi adalah saya menggantikan guru yang katanya ‘berhalangan mengajar itu’, dengan resiko saya harus bolak-balik ke kelas yang sebenarnya sedang saya ajar.   Sering saya berpikir, pola guru mengajar di zaman sekarang sangatlah berbeda dengan pola guru mengajar di zaman dahulu. Tetapi terkadang saya juga bertanya-tanya dalam hati, apakah pola guru  mengajar zaman sekarang yang saya ketahui itu hanya sebatas di area Kalimantan tempat saya tinggal atau memang benar-benar global di seluruh Indonesia?   Menurut saya perbedaan pola guru mengajar  zaman sekarang dengan zaman dahulu adalah sebagai berikut,   Guru zaman dahulu : 1. Mengajari siswa untuk berpikir kritis. Guru senantiasa melatih siswa untuk dapat peka terhadap lingkungan dan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. 2. Guru ‘menekan’ siswa untuk menghafal pelajaran, seperti perkalian misalnya, guru zaman dulu terbilang sukses mendidik murid. Zaman saya kelas 2 SD, saya dan teman-teman saya sudah hafal semua perkalian 1×1 hingga perkalian 10×20. Lha, anak zaman sekarang jangankan kelas 6 SD, anak SMA saja tidak hafal perkalian! Dulu, di era orde baru (rezimnya Presiden Soeharto) guru sering memberi tugas siswa untuk menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur tiap provinsi, nama-nama ibukota provinsi, hingga nama-nama negara di dunia lengkap dengan ibukota, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa resmi, bentuk negara, dan bentuk pemerintahannya. Tapi zaman sekarang, mana ada murid yang hafal daftar menteri zaman sekarang, apalagi ibukota provinsi! Nama ibukota provinsi sendiri saja tidak tahu! Lucunya lagi sering murid-murid saya mengira kalau Pulau Jawa itu adalah  negara lain. Mereka bertanya, “Ibukota negara Jawa itu apa, Pak?” 3. Guru senang melatih kedisiplinan, keras, dan mistar kayu menjadi juru sanksi bagi murid yang tidak disiplin. Dulu belum marak pelanggaran HAM. Pedoman : Guru sebagai orang tua di sekolah, sangat dijunjung tinggi masyarakat. Sehingga murid akan merasa malu kepada teman-temannya bila terkena hukuman dari guru. Tetapi lihat zaman sekarang, murid bukannya takut terhadap sanksi sekolah, malah dengan cueknya mereka bebas keluar-masuk sekolah sekehendak hati mereka. Dan tidak ada lagi guru yang berani memberikan hukuman fisik kepada murid karena dianggap pelanggaran HAM. Sebagai dampaknya, di zaman sekarang harga diri seorang guru pun dapat diinjak-injak oleh muridnya. 4. Guru zaman dulu sangat care (peduli) terhadap siswa. Bila ada siswa yang sakit, guru akan mengajak para siswanya untuk menjenguk siswanya yang sakit. Saat mengajar di kelas, guru akan berkeliling untuk mengamati muridnya satu-persatu dan mengajari siswanya yang kurang mengerti materi yang sedang diajarkan. Lha, guru zaman sekarang daripada berkeliling mending asyik main hp (teleponan, chatting, facebookan, twitteran, upload foto, sms-an, dll). 5. Guru zaman dahulu senang mengajak siswa belajar menerawang (eits jangan negative thinking dulu!) Maksudnya, guru zaman dulu suka sekali mengajarkan peta buta dan menghitung mencongak. Anak-anak zaman dulu tidak ada yang buta peta! Guru sering memberikan peta gambar pulau, siswa disuruh menebak, pulau apakah yang dimaksud. Lalu dalam peta pulau itu guru akan menanyakan nama gunung, nama sungai, nama teluk, nama laut, nama selat yang terdapat di sekitar pulau dalam peta. Huhu, dulu aku jagonya pelajaran IPS Geografi itu. Kemudian guru matematika juga senang mengajak berhitung tanpa corat-coret mengotret di kertas. Itulah yang dinamakan mencongak, seakan kita sedang dilatih menjadi seorang pedagang yang sedang menghitung untung-rugi. Bagiku mencongak seperti melukis di udara, karena tanpa kusadari saat sedang berhitung tanganku bergerak-gerak menuliskan angkanya tanpa tercetak di sehelai kertas pun. 6. Guru zaman dulu lebih berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Tidak ada guru yang senang meninggalkan kelas saat jam mengajar, terlebih sampai cuti bukan pada tempatnya. Guru zaman dulu selalu berprinsip “Tidak akan berhenti mengajar sebelum siswa menjadi pandai”. Saya sering geleng-geleng kepala melihat rekan-rekan kerja saya meliburkan diri jauh hari sebelum waktunya libur, dan datang kembali ke sekolah jauh hari setelah waktu libur usai. Kok mereka tidak malu ya sudah makan gaji buta? 7. Senang menyampaikan kalimat : “Sayang sekali waktu kita sudah habis, apabila kalian belum mengerti pelajaran yang diterangkan ibu, silakan temui ibu di kantor! Atau di mana saja kalian bertemu ibu, silakan tanya saja. Di jalan, ataupun kalian datang ke rumah ibu, silakan! Dengan senang hati ibu akan menerangkan pelajarannya kepada kalian.” 8. Guru zaman dulu berkompeten dalam mengajar. Tidak ada guru yang canggung saat mengajar. Bila berdiskusi atau tanya jawab dengan siswa, guru mampu menjawab segala persoalan yang dikemukakan oleh para siswa. 9. Guru zaman dulu hafal semua muridnya satu-persatu. Mulai dari raut wajah sang murid, sampai tingkat kecerdasan (kelemahan dan kelebihan) yang dimiliki sang murid pun, guru zaman dulu sangat hafal. Ada seorang murid nenekku yang datang berkunjung menemui nenekku setelah 20 tahun pensiun sebagai guru, nenekku bertanya “Siapa ini?”, murid itu menjawab “Saya Ahmad,  murid ibu waktu SD tahun 1970, yang sering ibu jewer kupingnya,” kemudian nenekku tersenyum mendengar hal itu, “Oh, kamu yang suka menyonteki hasil pekerjaan si Budi itu ya!” Murid bernama Ahmad itu lalu tersenyum, “Ternyata ibu masih ingat saja!” Awalnya saya kira, ah mungkin itu kebetulan daya ingat nenek saja yang memang tajam. Tapi dugaan saya berubah setelah saya mengalami kejadian lain tatkala seorang rekan kerja nenek yang juga seorang pensiunan guru datang berkunjung ke rumah nenek. Beliau bercerita kepada nenek, “Jeng, tadi aku ketemu si Indra murid kita dulu tahun 1980-an. Ya ampun, aku enggak menyangka loh, Indra yang dulunya lemah ilmu aljabar sekarang malah jadi pengusaha sukses! Padahal dulu kalau kutanya berapa 10×10, dia cuma bisa diam menunduk.”   Nah, hebat kan guru zaman dulu? Coba bandingkan dengan karakteristik guru zaman sekarang : 1. Cuek terhadap murid. Nama murid di kelas yang diajarnya tidak hafal. Paling yang diingatnya hanya sebatas murid terpintar, dan murid ternakal. 2. Kalau murid tidak mengerti pelajaran yang diterangkan, ya sudah lewat saja. Kata orang Kalimantan bilang “Pus am!” (Masa bodoh). Kalau nilai murid tidak memenuhi standar, paling-paling diberi nilai standar minimal (padahal muridnya belum mampu mencapai nilai standar). Jadi nilai standar yang diberikan guru lebih berkesan nilai belas kasihan bukan karena batas kemampuan murid. 3. Sering meninggalkan tugas mengajar. Alasannya : keluarga ada yang sakit (kenyataannya malah hura-hura dan rekreasi ke tempat wisata). 4. Guru takut kepada murid. Kalau murid melanggar peraturan, guru membiarkan tidak berani memberi sanksi. Murid zaman sekarang pintar memutarbalikkan fakta, biasanya setelah dihukum oleh guru di sekolah, murid akan mengadu berlebihan kepada orang tua di rumah. Lantas orang tua pun menjadi berang dan menggugat pihak sekolah. Oleh sebab itulah guru zaman sekarang malas memberi sanksi kepada murid yang bermasalah. 5. Guru zaman sekarang sibuk berbisnis. Apapun bisa dijadikan uang. Tidak hanya lahan usaha pribadi di rumah, tugas siswa di sekolah pun menjadi lahan bisnis. 6. Guru zaman sekarang sering open book karena tidak menguasai materi yang akan disampaikan kepada siswa. Saya sering aneh melihat rekan saya, beliau memberikan soal matematika kepada murid-muridnya, tetapi beliau sendiri tidak tahu jawabannya. Lantas bagaimana beliau menilai hasil pekerjaan murid-muridnya? 7. Guru zaman sekarang tidak suka ditanyai muridnya mengenai pelajaran yang belum dimengerti. Kalau ada murid yang minta dijelaskan kembali materi yang belum dipahaminya, eh sang guru malah balik mengomel, “Makanya kalau saya sedang menjelaskan, kamu perhatikan!” (Padahal muridnya itu juga sudah memperhatikan loh!) 8. Guru zaman sekarang senang memacari murid. Parahnya guru-guru itu menjadikan murid sebagai selingkuhan mereka. Enggak banget deh! Saya pernah melihat dua orang siswi saya bertengkar di jalan raya karena meributkan guru-guru kekasih mereka. Sebut saja si A berpacaran dengan guru B, dan si C berpacaran dengan guru D. Nah si A menggosipkan hubungan si C dengan guru D. Begitu juga sebaliknya si C menggosipkan hubungan si A dengan guru B. Sampai akhirnya mereka berdua ribut di tempat umum, saling mencakar wajah dan menjambak rambut. Sementara di sudut sekolah guru B dan guru D adem ayem saja menikmati jajanan di kantin.   Itulah bejatnya moral guru zaman sekarang. Mana moto yang dulu katanya Guru itu adalah orang yang patut digugu dan ditiru? Di zaman yang semakin rumit ini, figur guru yang baik sangat sukar sekali ditemukan! Ironisnya, keburukan-keburukan karakter guru zaman sekarang itu banyak saya temui di sekolah negeri atau instansi milik pemerintah. Sedangkan pengalaman saya mengajar di sekolah swasta elite dan bonafid justru guru sekolah swasta tersebut jauh lebih baik daripada karakter guru di sekolah negeri. Seperti di antara lain :   1. Guru sekolah swasta lebih disiplin dalam kehadiran, datang lebih awal, dan pulang lebih akhir. 2. Guru sekolah swasta menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Waktu itu murid saya menumpahkan susu ke lantai. Meskipun dia baru kelas 1 SD, saya mengharuskannya untuk membersihkan lantai sampai benar-benar bersih, dan tak lupa anak itu harus meminta maaf kepada petugas kebersihan sekolah (cleaning service). 3. Guru sekolah swasta dilarang keras meninggalkan siswa di kelas tanpa ada guru pengganti. Saya pernah kena tegur rekan-rekan sekantor, gara-gara saya kebelet buang air kecil dan pergi ke toilet meninggalkan siswa di kelas tanpa dipantau guru lain. Saya pikir ini soal sepele, tetapi sepulang dari toilet, saya diceramahi oleh guru-guru lain sampai setengah jam, waduh malunya bukan main. 4. Guru sekolah swasta tidak boleh bubar meskipun siswa sudah bubar. Waktu itu siswa saya bubar jam 1, tapi saya baru boleh pulang jam 3 lewat. Pasalnya saya harus menyiapkan materi ajar untuk keesokan harinya. 5. Guru sekolah swasta tidak diperbolehkan beristirahat sebelum jam siswa bubar. Saat siswa istirahat saja guru pun harus mengawasi dan menjaga mereka agar mereka tidak ribut saat makan. Makan pun siswa harus tertib, terutama saat siswa mencuci tangan dan mencuci piring. Jangan sampai mereka malah asyik main air. Saat siswa bermain di kelas guru harus menjaga jangan sampai siswa berkelahi karena masalah sepele.   Semoga di masa yang akan datang kinerja guru di sekolah manapun menjadi jauh lebih baik.