Budaya Pus Am

Sebenarnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Sedikit khawatir bila tulisan ini akan menuai kontraversi seperti jambul Khatulistiwanya Syahrini, karena artikel yang akan saya angkat menyangkut adat-istiadat masyarakat luas di daerah tempat tinggal saya. Setelah saya mempertimbangkan lebih lanjut, saya harus menulis artikel ini dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Sebab pada hakikatnya segala sesuatu hal senantiasa memiliki dua sisi yang bertolak belakang: baik dan buruk, positif dan negatif, menguntungkan dan merugikan.

Masyarakat di daerah barat daya provinsi Kalimantan Tengah mengenal budaya pus-am sejak zaman nenek moyang mereka menempati wilayah tersebut yang meliputi kabupaten Sukamara, kabupaten Lamandau, dan sebagian kabupaten Kotawaringin Barat. Ada pula masyarakat di wilayah selatan kabupaten Ketapang yang terletak di provinsi Kalimantan Barat. Lalu, apakah yang dimaksud dengan budaya pus am itu?

Lebih tepatnya pus am atau kerap juga dilafalkan pusam dalam aksen cepat, adalah suatu kebiasaan masyarakat di wilayah yang telah saya sebutkan di atas, di mana mereka enggan memedulikan suatu persoalan yang mungkin dianggap penting oleh lawan bicaranya. Secara harfiah pus dapat diartikan ‘biar saja’ dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi masyarakat cenderung mengartikannya sebagai suatu ungkapan yang berarti ‘masak bodoh’. Masyarakat di perbatasan Kalbar dan Kalteng seringkali melafalkannya, “pus am!” atau “pus am bah!” dengan intonasi meninggi pada kata ‘am’ dan memanjang pada pengucapan kata ‘bah’ menjadi ‘baaah!’ 

Kata ‘am’ dan ‘bah’ itu sendiri tidak memiliki makna yang berarti. Kedua kata tersebut hanya menjadi penghias kalimat, atau penekan kalimat yang mengindikasikan kasar-halusnya suatu pengucapan. Bunyi ucapan tersebut memang tidak nyaman didengar dan terkesan kasar. Akan tetapi kebiasaan mengucapkan kata-kata pus am telah mendarah daging di masyarakat sehingga menjadi tradisi. Saya kerap dibuat jengkel tatkala mendengar seseorang mengatakan pus am kepada saya. Seringnya saya mendengar kata-kata tersebut akhirnya saya menjadi terbiasa dan bersikap sabar ketika menyikapinya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan yang pernah saya alami dengan budaya pus am antara lain sebagai berikut:

Pertama, waktu itu saya baru menjadi seorang guru di sebuah SMA. Murid-murid saya tidak berpakaian rapi layaknya pelajar. Dan saya menegur mereka, “Tolong dimasukkan pakaiannya ya, supaya kelihatan rapi!” Namun mereka membalas ucapan saya dengan pernyataan, “Pus am, Pak! Apa guna rapi-rapi?” sambil berlalu meninggalkan saya tanpa mengindahkan teguran saya. Melihat hal itu, saya hanya menggeleng-geleng kepala.

Kedua, pernah suatu ketika saya menyuruh salah seorang siswa untuk menjenguk temannya yang beberapa hari tidak masuk sekolah. “Sudah beberapa hari Rafta tidak masuk sekolah, bisakah kamu mampir ke rumahnya sepulang sekolah nanti? Barangkali dia sakit,” pinta saya waktu itu. Tak disangka jawaban murid yang saya mintai tolong itu seperti ini, “Pus am bah! Apa guna juga menjenguk dia? Biar ja amun dia sakit.” Ujarnya dengan nada datar. Mulut saya ternganga mendengar jawaban tersebut. Apakah dia tidak memiliki solidaritas, pikir saya.

Ketiga, saat sedang ujian berlangsung salah seorang siswa tak kunjung mengisi lembar jawabannya. Sementara waktu ujian akan segera habis. Secara kebetulan saya sedang mengawas. Tentu saja begitu saya melihat kejadian itu, saya langsung menegur siswa yang bersangkutan. “Tolong lembar jawabanmu segera diisi, karena waktu ujian sudah mau habis. Maaf, saya tidak bisa memberi perpanjangan waktu untuk itu,” ucap saya dengan hati-hati. Lagi, mata saya harus membelalak lebar mendengar tanggapan si empu kertas. “Alah, pus am bah, Pak! Mau waktunya habiskah, mau diperpanjangkah nggak urus. Biar nggak dapat nilai juga!” 

Saya tidak habis pikir mengapa orang-orang di daerah tempat tinggal saya memiliki pola pikir yang begitu pendek. Mereka tidak mau memedulikan apa yang orang lain khawatirkan meskipun hal tersebut berkaitan erat hubungannya dengan mereka. 

Kejadian lain yang pernah saya alami, suatu hari saya melihat seorang anak balita kira-kira berusia dua tahun berjalan kaki mengikuti ibunya keluar masuk hutan untuk mencari rebung. Panas matahari begitu terik, bocah itu tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Bocah itu meraung-raung kesakitan sambil terus mengejar sang ibu yang berjalan jauh di depan. Saya tidak tega melihatnya, apalagi kaki si bocah dipenuhi luka parut akibat bergesekan dengan semak berduri dan ranting pepohonan yang tidak bersahabat dengannya. “Aduh Bu, ini anaknya kasihan luka-luka. Ayo saya antar ke puskesmas,” tawar saya seraya menggendong si bocah. Sang ibu dengan sikap acuh tak acuh, hanya menoleh ke arah saya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya jauh ke dalam hutan. “Pus am, Pak! Suruh dia jalan lagi!” teriaknya tiba-tiba dari kejauhan. Ya, saya maklum penduduk lokal memang terbiasa berjalan tanpa alas kaki. Karena itulah mereka memiliki fisik yang sangat kuat. Tapi untuk anak seusia itu? Terlalu dini rasanya. Atau jiwa saya yang terlalu lembut?

Di lain waktu pernah pula seorang teman meminjam beberapa barang milik saya antara lain jam tangan, jaket, dan sepatu. Entah disengaja atau tidak, semua barang yang dipinjam oleh teman saya itu ditinggalkannya di kamar hotel ketika ia berjalan-jalan ke kota dengan kekasihnya. Setelah saya memintanya untuk mengembalikan barang-barang tersebut, dengan enteng teman saya ini menjawab, “Pus am bah! Ambil aja sendiri ke hotel sana!” Grr… Benar-benar menjengkelkan punya teman seperti itu. 

Ada banyak sekali kejadian berujung pus am yang saya alami. Kebanyakan pus am-pus am itu lebih bermakna ‘Sorry ya, aku nggak peduli’. Sampai akhirnya saya memahami mengapa tradisi pus am telah mendarah daging di masyarakat sejak zaman bahari. Konon dahulu kala di pedalaman pulau Kalimantan pada masa kolonialisme dan imperialisme bangsa barat, para kompeni tidak pernah sampai ke area pedalaman. Sehingga penduduk di pedalaman tidak terlalu menderita seperti halnya penduduk di kota yang notabene banyak mengalami penyiksaan. Penduduk pedalaman berjiwa bebas. Mereka berperang bukan untuk melawan penjajah, melainkan suku lain yang dianggap musuh oleh suku mereka. Begitu negara Indonesia merdeka dan pulau Kalimantan masuk ke dalam wilayah NKRI, penduduk di pedalaman tidak begitu mengerti makna sebuah kemerdekaan. Mereka kurang menjiwai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila seperti tenggang rasa, toleransi, musyawarah, dan jiwa nasionalisme. Saking kurang memahaminya, pernah saya mengunjungi suatu dusun di pelosok Kalbar pada bulan Agustus untuk melihat perayaan dirgahayu RI di sana. Setibanya di sana saya sangat kaget, karena saya merasa tiba-tiba bukan berada di negara sendiri. Sepertinya saya sudah tersesat ke Republik Polandia. Karena apa? Sang saka merah putih dikibarkan terbalik di setiap halaman rumah para penduduk dusun. Saat saya memberitahu warga bahwa pemasangan bendera di dusun mereka semua terbalik, lagi-lagi warga hanya menanggapi perkataan saya dengan kata, “Pus am!”

Apa saya terus tinggal diam menyikapi orang-orang di sekitar saya untuk melestarikan budaya pus am? Awalnya saya maklum, dan hanya bisa menerima perlakuan yang tidak mengenakkan ini secara sepihak. Seiring bergulirnya waktu akhirnya saya mencoba untuk menentangnya. Tentu saja bukan dengan cara yang ekstrim dan anarkis. Cara saya adalah menempatkan diri saya sebagai bintang drama Korea. Haha… mungkin ini lucu kedengarannya. Silakan Anda baca kembali cerita kejadian-kejadian yang telah saya alami di atas. Bayangkan kalau Anda sedang menyaksikan adegan drama Korea di mana para tokoh-tokohnya sedang cekcok satu sama lain. 

Setiap ada murid yang penampilannya tidak rapi, saya tetap menegur mereka untuk merapikannya tak peduli bila mereka mengatakan pus am kepada saya. Bila mereka tak mengindahkan perkataan saya, maka aksi drama Korea saya adalah menghalangi langkah mereka sebelum mereka berlalu meninggalkan saya. “Hey, biar saya saja yang merapikan pakaian kalian! Orang tua kalian tidak pernah mengajari bagaimana cara berdandan ya? Ayo, sini saya ajarkan sekalian! Penampilan saya sepuluh kali lebih rapi daripada Lee Min Ho. Kalian tahu itu?” Sengit saya seraya bergerak menghampiri mereka.

Setiap kali melihat murid yang tidak peduli terhadap keadaan temannya, saya membujuk mereka dari hati ke hati, “Ayolah, kalian tidak sedang putus cinta kan? Apa kamu tahu kalau dia selama ini sebenarnya sangat perhatian terhadapmu? Kamu pasti tidak tahu kan seberapa besar pengorbanan yang telah dia lakukan selama ini untukmu? Jadi, saya mohon jenguklah dia di rumahnya. Dia pasti akan sembuh setelah melihat kedatanganmu! Ayo, kita jenguk dia sama-sama!” 

Dan setiap kali saya mendapati teman yang tidak bertanggung jawab atas barang-barang yang mereka pinjam dari saya, maka aksi drama Korea saya selanjutnya adalah: “Bisa tolong tunjukkan kartu identitasmu? Silakan tunggu sebentar, tidak lama lagi polisi akan tiba di sini. Baru saja saya melaporkan kalau ada anggota teroris yang mengidap penyakit demensia di sini.”

Haha… Ini konyol sekali, kan? Mungkin ini terlalu frontal. Akan tetapi memang demikianlah karakteristik penduduk di daerah saya. Karakter mereka tidak berbeda dengan karakter orang Korea dalam drama. Saat seseorang bersikap frontal terhadap kita, maka cara jitu yang bisa mengatasinya adalah membalas tindakan secara frontal kembali. Bukan hanya diam menerimanya begitu saja secara sepihak. Karena itulah mengapa saya bersikap layaknya para aktor Korea.  

Usaha saya selama ini tidak sia-sia. Sebagai seorang guru yang berpacu dengan arus globalisasi, saya harus memiliki sikap kontemporer. Di mana jiwa pendidik yang bersemayam di dalam diri saya tidak harus selamanya ortodoks yang senantiasa mengikuti sikap kharismatis Oemar Bakri, sang guru teladan yang fenomenal itu. Katakan saja saya adalah seorang guru yang sensasional, tetapi justru sikap seperti inilah yang cocok diterapkan dalam mendidik putra-putri generasi muda di daerah saya. Dengan berbagai metode pendekatan sensasional yang saya lakukan terhadap orang-orang di sekeliling saya, pada saat ini budaya pus am telah berbalik memberi kesan yang jauh lebih baik daripada empat belas tahun sebelumnya. 

Ketika seorang teman belum mengembalikan uang yang dipinjamnya, sang pemberi pinjaman berkata: “Pus am bah! Enggak apa-apa, nggak dikembalikan juga. Saya ikhlas kok!” Oh, tidakkah ini sangat dermawan? 

Ketika seorang teman membayarkan makanan yang kita makan, kita bermaksud mengganti biaya yang telah dibayarkannya. Maka teman itu akan berkata, “Nggak usah diganti! Pus am bah, biar saya yang bayar!” 

Dengan demikian dari dua contoh kejadian di atas, perkataan pus am telah mengalami pergeseran makna menjadi: “Sudahlah, biar saja tidak apa-apa!” dengan penekanan yang sangat halus. Itulah pengalaman saya dalam kurun empat belas tahun terakhir mengenai budaya pus am di daerah saya. Tak diduga budaya dalam drama Korea bisa memberikan manfaat dalam kehidupan saya. Percayalah, di mana ada aksi pasti akan menimbulkan reaksi. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya. Salam…

Advertisements

Pangkalan Bun Naik Daun

image

Hallo pembaca, ini adalah tulisan pertamaku di awal tahun 2015. Sebelumnya aku mau mengucapkan selamat tahun baru ya. Semoga apa yang kalian cita-citakan di tahun ini dapat terwujud dengan baik. Walaupun tragedi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 pada akhir tahun lalu sempat menjadi duka lara yang menimpa saudara-saudara kita di Surabaya, namun kita jangan putus mendoakan  mereka (para korban kecelakaan). Semoga tuhan menerima mereka semua di surga. Amin yarabbal alamin. Semenjak daerah  musibah kecelakaan yang menimpa AirAsia QZ8501 berhasil dideteksi, daerah tempat tinggalku, kota MANIS, Pangkalan Bun city, mendadak naik daun. Pasalnya lokasi di mana kecelakaan tersebut terjadi sangat dekat dengan Teluk Kumai, teluk yang menjorok ke daratan Kabupaten Kotawaringin Barat yang beribukota di Pangkalan Bun. Padahal sehari-harinya nama Pangkalan Bun sangat asing di telinga orang Indonesia. Banyak orang Indonesia di luar Kalimantan yang tidak mengetahui di mana letak Pangkalan Bun. Jangankan mendengar nama Pangkalan Bun, mendengar nama Pulau Kalimantan saja teman-temanku di Bogor pada merinding karena kebanyakan dari mereka masih beranggapan kalau daerah Kalimantan itu daerah yang sangat terbelakang, belum maju, dan penduduknya masih primitif. Hmm, belum tahu mereka kalau di tengah hutan zamrud khatulistiwa sini banyak sekali terdapat kota-kota yang cantik dan salah satunya adalah Pangkalan Bun. Semenjak diketahuinya titik jatuh pesawat di perairan Kalimantan, Pangkalan Bun mendadak menjadi sorotan media massa. Puluhan reporter televisi dan koran nasional terjun meliput berita bersama para relawan dan tim penyelamat (BASARNAS). Bahkan Bapak Presiden Jokowi pun menyempatkan diri melakukan kunjungan kerja ke kota yang dijuluki kota manis ini. Walaupun asing di telinga penduduk Indonesia karena namanya yang jarang mencuat ke media massa nasional, akan tetapi sebenarnya nama Pangkalan Bun itu sendiri cukup dikenal luas oleh masyarakat internasional. Lho kok bisa? Sebab banyak sekali turis mancanegara yang berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting yang terdapat di Teluk Kumai, sepanjang tahunnya. Di sana merupakan tempat rehabilitasi dan penangkaran orang utan, fauna langka yang mendapat perlindungan langsung dari WWF. Jadi jangan heran kalau kalian berkunjung ke Pangkalan Bun, kalian akan melihat banyak bule bertebaran keluar masuk hutan mencari orang utan, bahkan berkemah bersama para orang utan, saudara-saudara mereka. Hehehe…  😀

image

Selain itu daerah kami juga khususnya Pangkalan Bun dan Sukamara dikenal sebagai penghasil batu permata kecubung yang sangat indah dan bernilai tinggi. Warna batu kecubung yang sangat eksotik digemari para turis mancanegara yang kebetulan berkunjung ke daerah kami. Terdapat beberapa varian warna antara lain ungu, biru, hitam, merah muda, dan putih tergantung daerah penggaliannya karena warna-warna tersebut juga ditentukan oleh kandungan mineral yang terdapat di dalam tanah. (Sst, tanah di belakang rumahku banyak terdapat batu kecubung lho! Sayangnya, mama malah membuat spiteng di tanah tersebut. Hadeuh…)

Dulu hutan di daerah kami merupakan investor kayu terbesar bagi devisa negara Indonesia. Sayangnya maraknya illegal logging membuat hutan kami menjadi gundul dan perlu sedikitnya 50 tahun lagi agar hutan di daerah kami dapat kembali hijau seperti semula. Jika kalian berperahu atau mengendarai speedboat mengarungi sungai Lamandau rute Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama atau terus lanjut hingga Nangabulik, maka di sepanjang perjalanan kalian akan disuguhi pemandangan alam yang bestari. Banyak tanaman bungur di sepanjang tepian sungai dengan bunganya yang berwarna ungu menambah indah panorama seakan kita sedang berekreasi melihat bunga sakura di negara Jepang. Tidak jarang pula kita dapat menemukan burung elang maupun burung enggang (tingang) terbang rendah di atas kepala kita. Dan hingga saat ini aku masih sering menemukannya setiap melakukan perjalanan berspeedboat dari Desa Petarikan menuju Sukamara. Belum lagi semakin naik ke hulu sungai Lamandau arus sungainya semakin deras penuh dengan riam atau jeram. Bagi kalian yang menyukai kegiatan raftling sungai Lamandau recommended banget nih! Tapi hati-hati lho, sebab sungai-sungai di Kalimantan ukurannya gede-gede kaya laut! Plus banyak buayanya juga. (Termasuk buaya darat, hehehe…  😛  )

image

Nah, sebagai satu-satunya kota yang mendapat kehormatan tempat evakuasi para jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, ternyata hal ini berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat provinsi Kalimantan Tengah. Terutama wilayah kabupaten Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Sukamara dalam sektor perekonomian. Bukan maksud mensyukuri atas musibah yang telah terjadi. Namun dengan dijadikannya Pangkalan Bun sebagai pusat evakuasi korban, banyak penduduk dari luar Pangkalan Bun yang berdatangan ke Bandara Iskandar dan Pantai Kubu. Mereka tidak hanya sekadar ingin melihat jenazah, namun ada juga yang mencoba menyisir pantai berharap mereka dapat turut menemukan jenazah yang mungkin terdampar di pantai layaknya tim BASARNAS yang menemukan korban di laut. Bangsa Indonesia memang bangsa yang memiliki solidaritas tinggi. Walaupun para korban tersebut belum tentu saudara kita, namun kita turut membantu mencari. Hampir seluruh hotel dan penginapan (losmen) di Pangkalan Bun penuh oleh para pendatang dari luar kota termasuk para relawan dari luar negeri meskipun pemerintah telah menyediakan posko khusus untuk mereka. Namun tidak menutup kemungkinan cukup banyak wartawan dan reporter internasional yang turut meliput musibah tersebut. Maka dengan kata lain sejumlah penginapan, rumah makan, dan tempat usaha lainnya mendapat konsumen lebih di atas rata-rata hari biasanya. Itulah mengapa aku menulis bahwa musibah ini berdampak terhadap perekonomian masyarakat di ketiga kabupaten yang telah kusebutkan di atas. Contoh lainnya adalah meningkatnya jumlah pesanan peti jenazah di kabupaten Lamandau seiring bertambahnya jumlah korban yang berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Sebaliknya para nelayan di pesisir Kotawaringin Barat dan Sukamara mengalami kerugian karena untuk beberapa saat ini masyarakat enggan mengkonsumsi ikan laut bukan dikarenakan adanya kemungkinan bahwa sebagian ikan dari perairan Teluk Kumai telah menggigiti para jenazah pasca kecelakaan. Melainkan sebagai wujud empati masyarakat Kalimantan bahwa kami turut kehilangan saudara kami sesama bangsa Indonesia. Bahkan ketika malam perayaan tahun baru, seluruh masyarakat Pangkalan Bun tidak merayakannya secara besar-besaran. Kami hanya menyelenggarakan doa bersama di Bundaran Pancasila dengan masing-masing orang berbekal sebatang lilin sebagai penerang. Itulah wujud rasa duka cita kami. Meskipun tidak memungkinkan semua korban dapat dievakuasi, mengingat kondisi cuaca di perairan Teluk Kumai tidak menentu. Tidak ada salahnya bagi kita untuk terus berharap dan berdoa. Semoga tim penyelamat berhasil menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Serta semoga saudara-saudara kita yang telah tiada dapat beristirahat dengan tenang dan damai di peristirahatannya yang terakhir.

image

Pangkalan Bun akan tetap dikenang oleh bangsa Indonesia meskipun kalian belum pernah ke sana. Setidaknya kota kami tercinta memang tercetak di dalam peta. Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beda Kalimantan Dulu dengan Kalimantan Sekarang

image

image

[color=red]Apakah Anda pernah berkunjung ke Kalimantan? Tahun berapa terakhir kali Anda ke sana? Perkembangan apa yang terakhir Anda lihat? [/color]

Sebagai penduduk migran dari Tanah Pajajaran yang telah menetap di Kalimantan selama sepuluh tahun, banyak sekali perubahan dan perkembangan yang telah kusaksikan selama ini. Semua berjalan secara perlahan namun pasti. Mengubah image Kalimantan yang dulu dikenal orang sebagai ‘tanah pedalaman’ menjadi negeri berkembang yang sedang membangun. Kalimantan ibarat macan yang baru saja terbangun dari tidurnya dan sedang memamerkan taringnya kepada siapa saja yang telah mengganggunya. Berikut adalah hasil pengamatanku mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di bumi Kalimantan Tengah areal Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Sukamara.

Ketika pertama kali aku datang 10 tahun lalu, Kalimantan itu…

image

1. Hanya jalan di perkotaan yang tertutup aspal. Sementara jalan di desa masih tanah kuning yang lengketnya minta ampun bila musim penghujan tiba. Ditambah lagi banyak truk terguling pada musim hujan di pedesaan dan menjadi tontonan biasa bagi warga kampung.
2. Sarana transportasi sungai seperti speedboat (perahu cepat) dan kelotok masih sangat vital.
3. Hutan masih terjaga, banyak pepohonan tinggi dengan batang berdiameter gelondong amat besar.
4. Banyak satwa langka berkeliaran di sepanjang sungai dan tepian hutan, semisal burung enggang/tingang yang terbang mengudara dengan ketinggian rendah. Kera bekantan dan orangutan bergelantungan melompat-lompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Rusa yang minum air di tepi danau, dsb.
5. Banyak sekali buah langka yang sulit ditemukan di luar Kalimantan seperti buah kapul, pakel, mentawa, ramania, dll.
6. Banyak sumber mata air yang bermunculan pada musim hujan, airnya jernih, dan tidak berbau.
7. Belum ada listrik PLN masuk desa. Bila malam tiba semua warga desa berlomba-lomba menyalakan generator/diesel. Bagi yang tidak mempunyai generator cukup menyalakan lampu teplok saja di dinding rumah mereka. Lalu pergi menumpang nonton tv di rumah tetangga yang menyalakan generator.
8. Bila hendak berbelanja menanti pedagang keliling lewat. Tukang geblugan, tukang sayur, tukang ikan, tukang buah, tukang bakso, tukang jamu, semua berjualan mengendarai motor.
9. Transportasi darat yang banyak digunakan masih berupa motor dan truk.

image

10. Tanaman sawit belum terlalu tinggi, hasil panen belum begitu besar. Udara sangat panas karena kurangnya pepohonan akibat semua lahan disulap menjadi perkebunan kelapa sawit.
11. Banyak ular sawa seukuran paha melalap ternak warga.
12. Belum banyak pendatang yang ingin tinggal menetap. Penduduk masih sangat sepi. Terutama saat lebaran penduduk semakin berkurang karena banyak yang pergi mudik.
13. Banyak terdapat rawa berair jernih, dan dapat dinikmati sebagai sarana rekreasi berenang. Namun di dalam rawa sering didapati tunggul-tunggul kayu bekas penebangan hutan.
14. Bukit-bukit selalu dipenuhi ilalang bermalai indah pada musim tertentu.
15. Rawan kabut asap akibat kebakaran hutan yang sengaja dilakukan warga saat membuka lahan.
16. Sarana komunikasi masih mengandalkan wartel. Belum adanya tiang tower operator telepon seluler.
17. Uang receh pecahan Rp500,00 hanya laku di kantin sekolah dasar. Sedangkan uang Rp100,00 maupun Rp200,00 sudah tidak dipandang sebagai uang.
18. Setiap rumah memiliki sumur galian untuk mengambil air bersih. Bila kemarau tiba, hanya sumur tertentu yang airnya melimpah. Lantas banyak warga yang saling berebut sumur.
19. Pertengahan bulan saat malam terang purnama, cahaya bulan begitu terang laksana neon menerangi bumi yang gelap. Bulan pun terlihat sangat besar bagaikan bola lampu raksasa.
20. Perumahan penduduk masih terbuat dari kayu. Terutama masyarakat Suku Melayu banyak mendirikan rumah dari kayu ulin (kayu besi) yang sangat awet puluhan bahkan ratusan tahun namun sangat mahal nilai harganya.
21. Masyarakat lebih memilih kapal laut dengan alasan ekonomis bila akan bepergian ke luar Kalimantan.
22. Banyak jalan tikus atau jalan setapak yang menghubungkan antardesa sebagai jalan pintas alternatif.

Tapi sekarang semua berubah. Sebagian disebabkan oleh ulah manusia yang sengaja mengubah bentuk muka bumi tanpa ditinjau baik-buruk akibatnya.

1. Jalan aspal telah merambah hingga ke pedesaan. Bahkan hingga ke sudut kampung yang terpencil sekalipun.
2. Jalan darat telah banyak dirintis. Jembatan telah banyak dibuat. Sungai mulai ditinggalkan. Speedboat dan kelotok telah dilupakan. Para supirnya turut banting setir beralih menjadi supir travel.
3. Hutan tak lagi dihiasi pepohonan tinggi. Banyak hutan gundul kehilangan permata hati mereka. Meranti dan ulin banyak diincar manusia.
4. Satwa langka tinggallah nama. Banyak di antara mereka kehilangan habitat dan tempat tinggal, populasinya kian hari kian berkurang akibat diburu manusia.
5. Buah langka jarang sekali berbuah. Setahun sekali pun belum tentu berbunga. Apa penyebabnya? Air di dalam tanah banyak diserap oleh tanaman sawit, sehingga tanaman lainnya tidak mendapat bagian.
6. Tanah mulai tertutup beton. Di mana mata air dapat muncul?
7. PLN sudah masuk ke desa. Hanya saja waktunya terbatas antara pukul 5 sore hingga pukul 5 pagi. Setiap rumah sudah memiliki tv sendiri, tidak ada warga yang menumpang nonton di rumah tetangga lagi.
8. Toko-toko megah bagaikan swalayan semakin menjamur. Orang tinggal pilih mau berbelanja di toko mana. Persaingan antar pengusaha pun kian meluas, masing-masing berusaha membuka cabang sebanyak mungkin.
9. Travel mulai merajalela sejak jalur transportasi darat dibuka dan diresmikan pemerintah.
10. Udara agak sejuk, sawit sudah tinggi. Hasil panen pun melimpah ruah. Rakyat hidup makmur berkecukupan.
11. Lebih banyak ular kobra di perkebunan sawit. Ular sawa berkurang dengan sendirinya.
12. Banyak sekali pendatang yang berkeinginan tinggal menetap guna mengais rizki. Arus mobilisasi penduduk dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, NTB, dan NTT meningkat. 13. Rawa-rawa telah terkontaminasi oleh limbah pabrik. Terkadang di musim kemarau dituba orang untuk diambil ikannya.
14. Ilalang sudah jarang ditemukan karena setiap jengkal tanah sekarang dimanfaatkan warga sebaik-baiknya untuk lahan pemukiman maupun perkebunan sawit.
15. Kabut asap sudah tidak serutin dulu terjadi. Kesadaran manusia akan pentingnya hutan mulai meningkat walaupun banyak hutan saat ini sangat gundul.
16. Telepon seluler, laptop, dan portable computer (tablet) telah mewabah pada berbagai umur di semua lapisan masyarakat. Tiang-tiang tower berdiri kokoh, konter-konter penjual ponsel dan pulsa semakin menjamur. Akses informasi dan komunikasi semakin cepat.
17. Uang pecahan Rp500,00 turut tenggelam tak laku di mata masyarakat. Uang Rp1000,00 merupakan uang dengan nilai terkecil yang diakui masyarakat.
18. Setiap rumah sudah beralih menggunakan pompa air sehingga tidak perlu repot lagi menimba.
19. Bulan purnama terlihat semakin kecil dan menjauh dari bumi. Entah apa korelasi penyebabnya.
20. Rumah penduduk disulap menjadi rumah beton sehubungan langkanya kayu ulin di hutan. Sementara material pasir mudah didapat.
21. Pesawat terbang menjadi pilihan utama karena harga tiketnya tidak seberapa jauh dengan harga tiket kapal laut. Ditambah lagi pesawat jauh lebih cepat daripada kapal laut.
22. Jalan tikus telah diperlebar, dilaterit, dan diaspal. Sehingga banyak dilalui orang sebagai jalan protokol antardesa.