Melanjutkan Mimpi


Buku pelajaran Bahasa Jepang semasa SMA

Malam ini aku tak bisa tidur karena memikirkan teteh Syahrini yang cantiknya cetar membahana. Tugas mengisi nilai rapor belum selesai. Akh, K13 (Kurikulum 2013, red) ini amat-sangat menyusahkanku. Bagaimana tidak, rapor ini super detail dalam setiap deskripsi mata pelajarannya. Termasuk semua karakter dan kepribadian siswa harus dijabarkan secara terperinci dan mendalam. Bila kita yang pernah mengenyam kurikulum 1994 hanya bisa melihat nilai finalnya saja, maka dalam rapor K13 setiap mata pelajaran dimuat beserta rincian nilai yang pernah diperoleh siswa selama satu semester. Mulai dari nilai pe-er, nilai tugas porto folio, nilai presentasi, nilai praktik menulis, nilai praktik berbicara, nilai praktik membaca, nilai bla-bla-bla dan seterusnya. DETAIL!
Suasana kegelapan gegara mati listrik turut menyelimutiku diiringi kapasitas batrai si lepi yang tinggal beberapa puluh menit lagi. Lelah dengan pekerjaan yang kulakukan, aku pun memutuskan untuk melanjutkannya besok pagi begitu arus listrik kembali mengalir. Sejenak aku termenung mengingat kalau beberapa waktu yang lalu aku telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku begitu bahagia. Dan, aku tergerak untuk menggoreskan sedikit cerita di balik keberhasilanku itu.
Kalau bukan berkat dorongan Mbak Feli yang selalu sabar menyemangatiku. Juga Mas Adi Wibowo yang selalu memanasiku bahwa dirinya sudah tiba di Jepang lebih dulu. Mungkin aku takkan pernah sampai mengunjungi negeri matahari terbit itu. Ya, seperti yang sering kuceritakan pada postingan terdahulu, aku memang sangat menggilai negara asal kartun Naruto. Mm, bukan berarti aku sangat menyukai Naruto ya. Jauh sebelum itu aku sudah begitu mencintai Jepang layaknya suami yang mencintai istri (ehem). Meskipun pada kunjungan kemarin aku tak berhasil menemui Honami Suzuki, aku akan tetap mencintainya.
Dulu, mimpiku adalah berkuliah di Tokyo Daigaku (Tokyo University) dan mengikuti perkumpulan-perkumpulan mahasiswa seperti yang sering kulihat di dorama-dorama Jepang. Aku mengikuti klub menggambar, klub musik atau klub akting seperti dalam cerita-cerita komik manga. Kemudian aku menikah dengan gadis Jepang yang wajahnya mirip dengan Honami Suzuki atau Aihara Kotoko (tokoh dorama Itazura na Kiss). Kenyataannya, manusia memang hanya bisa berencana. Keputusan tetap di tangan Tuhan. Entah mengapa semua mimpiku itu harus kukubur dalam-dalam sekian belas tahun yang lalu. Jalan hidupku tidak digariskan seperti apa yang kuangan-angankan. Tetapi aku yakin, suatu saat akan tetap ada jalan menuju ke sana. Sekarang, jawabannya telah kutemukan.
Setiap kali membaca manga, aku berpikir kalau orang Jepang memiliki kepribadian yang unik. Di balik watak mereka yang introverted, mereka sangat ekspresif dalam gambar. Goresan-goresan yang mereka tuangkan ke atas kertas memacuku untuk turut berkarya. Cerita yang mereka kisahkan tidak jauh berbeda dengan keseharianku selama ini. Sejak kecil aku sedikit introverted dan tidak begitu supel. Aku cenderung penyendiri dan sering mengurung diri di dalam kamar. Duniaku hanya buku dan televisi. Sampai akhirnya waktu SD aku mengikuti suatu perkumpulan yang anggotanya hanya terdiri dari lima orang. Aku menyebutnya Genk SEDAN (Sugih, Erfan, Dadan, Amar, dan Nico). Andai aku tidak masuk sekolah, apa jadinya nama genk kami? Kami berlima adalah para lelaki yang selalu memperebutkan peringkat kedua di sekolah. Karena bagi kami mendapatkan peringkat pertama adalah hil yang mustahal. FYI, peringkat pertama selalu diduduki oleh anak guru kami-yang berwajah cantik jelita. Kami tak pernah berpikir kalau ‘sang juara’ bisa menempati posisinya karena adanya unsur KKN (Kura-Kura Ninja), sehubungan ibunya adalah seorang guru di sekolah kami. Semua mengakui kalau dia memang sangat intelek dan tak satu pun di antara kami yang berhasil menggeser posisinya hingga kami semua lulus SD. Genk kami pun akhirnya bubar. Kami telah memilih SMP favorit masing-masing.
Memasuki SMP, aku kembali menjadi penyendiri yang hanya gemar menghabiskan waktuku untuk membaca buku. Duniaku hanya sekolah, perpustakaan kota, toko buku, dan tentu saja kamarku. Setiap akhir pekan aku selalu mengunjungi toko buku untuk membeli komik-komik terbaru. Semua serial Detective Conan memenuhi meja belajarku. Usai membaca komik, aku selalu menggurat pensil di atas kertas mengikuti lekuk wajah setiap karakter dalam komik. Aku tahu, aku sangat kesepian. Karena itulah aku berpikir sepertinya kepribadianku tidak jauh berbeda dengan kepribadian orang Jepang. Aku tidak mudah bergaul jika tidak ada yang mengajakku lebih dulu. Aku malu setiap kali harus berbicara di depan banyak orang. Sampai akhirnya, aku berusaha mengubah kepribadianku begitu aku memasuki duniaku yang baru: masa SMA.


Tumpukan komik Detective Conan yang masih kusimpan hingga sekarang

Komik manga yang pernah kubuat ketika SMP bergenre  romance-mistery terinspirasi dari Salad Days karya Shinobu Inokuma 
Saat SMA, aku mendirikan sebuah organisasi English Club bersama sekelompok kakak kelas yang memiliki idealisme yang sama denganku. Kami menamai organisasi kami, LIMIT (Lima English Society). Lima merupakan nama sekolah kami, SMA Negeri 5 Bogor. Kami berkeinginan agar anggota perkumpulan kami berhasil mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri. Tak diduga klub bahasa Inggris yang kami bentuk selalu menjadi ‘the most wanted organization’ di sekolah setiap tahunnya. Lebih dari seratus orang mendaftarkan diri setiap tahun ajaran baru dimulai.
Di luar kegiatan LIMIT, aku terdaftar sebagai anggota ‘Siswa Peduli Buku’. Tugasku adalah membantu pustakawan di perpustakaan sekolah setiap hari. Mulai dari mendata anggota perpustakaan yang aktif berkunjung, hingga menata letak buku yang telah dibaca oleh para pengunjung. Hari-hariku mulai dipenuhi warna yang indah. Lucunya sejak memasuki SMA, hidupku berubah drastis. Aku tumbuh menjadi remaja gaul dan melepas image kuper (kurang pergaulan, red) yang melekat dalam diriku semasa SMP. Aku menjadi sangat sibuk dengan berbagai organisasi yang kuikuti. Tak hanya di sekolah, aku juga aktif menjadi pengurus Bogor English Club yang dinaungi oleh RRI Bogor. Ibuku tak pernah menyangka kalau aku memiliki banyak teman dari berbagai rentang usia. Teman-temanku di Bogor English Club, bukan hanya para mahasiswa IPB tetapi juga banyak orang dewasa yang sudah bekerja mapan sebagai manager bank, dosen IPB, penyiar RRI, dokter hewan, dan lain sebagainya. Pernah suatu kali karena keaktifanku di Bogor English Club, Ibu Sjahandari selaku donatur tetap yang kebetulan berprofesi sebagai manager bank terkemuka di Indonesia, memberiku beasiswa sejumlah uang tunai yang akhirnya kubayar SPP sekolah satu semester.
Tawaran untuk membentuk perkumpulan lain juga datang kepadaku. Melihat potensi bahasa Jepang dalam diriku, guru Bahasa Jepang mengajakku untuk mendirikan perkumpulan yang kami namakan ‘Gofun Dake’, artinya ‘Hanya Lima Menit’. Jadi, dalam perkumpulan tersebut kami semua berkumpul untuk bercerita dalam bahasa Jepang di mana masing-masing anggota hanya diberi durasi lima menit setiap menyampaikan cerita. Tidak seperti LIMIT, Gofun Dake memiliki anggota terbatas. Guru kami hanya memilih anak-anak yang pernah tinggal lama di Jepang (terkecuali saya). Anggota Gofun Dake terdiri dari aku, seorang kakak kelas yang bernama Aryo dan adiknya yang bernama Satria, adik-adik kelasku Hana-chan, Putu-kun, Tina-chan, dan Rangga-kun. Kadang kegiatan kami lumayan iseng. Kami semua gemar menggambar manga. Aku dan Puan (Putu-kun) sering menggambar tokoh kartun Crayon Shinchan, Aryo-kun suka sekali menggambar Gundam, Satria-kun suka Doraemon, Rangga-kun suka Samurai X, Tina-chan suka sekali serial cantik Salad Days, dan Hana-chan sangat gemar Cardcaptor Sakura. Wah, kalau sudah menggambar kami semua akan heboh saling mengomentari dan tertawa lepas bersama karena gambar kami lucu-lucu.
Setiap kali sekolah diliburkan di luar tanggal merah, klub Gofun Dake sering melakukan kunjungan ke kedutaan besar Jepang untuk mencari informasi beasiswa. Kadang juga kami pergi mengunjungi pusat kebudayaan Jepang (The Japan Foundation) hanya untuk menonton film Jepang dan membaca buku-buku bertulisan Kanji. Biasanya kami pergi bersama dengan menaiki kereta. Selain ongkosnya jauh lebih murah, juga dapat menghemat waktu karena tidak macet dan sangat cepat. Kelakuan kami tidak jauh berbeda dengan kebiasaan orang Jepang yang sangat suka jalan kaki. Jadi, setibanya di Jakarta kami semua berjalan kaki mencapai tempat tujuan. Meskipun jauh, kami sama sekali tidak pernah merasa lelah. Kami semua sangat gembira karena melakukannya bersama-sama. Kegiatan lainnya bersama perkumpulan Gofun Dake adalah mengikuti lomba pidato Bahasa Jepang dan menulis kaligrafi Kanji. Aku benar-benar bangga perkumpulan kami selalu menyabet juara dalam setiap event yang kami ikuti. Aryo-kun, Satrio-kun, dan Puan-kun secara bergiliran menyabet juara pertama lomba pidato hingga ke tingkat nasional di Bandung dan Jakarta. Sementara aku sendiri pernah menyabet juara ketiga dalam lomba menulis Kanji dan Cerdas Cermat Bahasa Jepang tingkat Nasional di SMA Negeri 46 Jakarta.
Rasanya aku senang sekali. Dengan berorganisasi aku telah mengubah kepribadianku dari yang semula introverted menjadi ekstroverted. Sepertinya hidupku mengalir seperti cerita dalam komik. Sayangnya aku tidak berhasil membangun chemistry yang baik dengan semua anggota Gofun Dake. Begitu kami lulus sekolah, perkumpulan kami bubar dengan sendirinya. Tak ada lagi penerus-penerus kami yang melanjutkan perjuangan untuk dapat meraih beasiswa ke Jepang. Atau paling tidak, menjuarai kejuaraan yang pernah kami ikuti sebelumnya. Setelah kami lulus, semua anggota Gofun Dake berhasil menggapai mimpi mereka untuk melanjutkan studi di Tokyo Daigaku. Hanya aku yang belum masuk ke sana. Tetapi seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, aku percaya mimpi untuk ke Jepang itu pasti dapat kuraih meskipun tidak berkuliah di sana.
Sejak mimpiku terkubur sekian belas tahun silam, aku tak pernah lagi menggambar. Aku telah keluar dari dunia komik yang selama ini menjadi duniaku. Cita-citaku untuk menjadi seorang mangaka (manga maker) telah kukubur sejak saat itu. Akan tetapi sekarang, setelah aku berhasil mewujudkan mimpiku ini aku mulai bergerak kembali menggores pensil di atas kertas. Mimpiku akan kulanjutkan.
NB: Liputan jalan-jalan di Jepang akan kurapel setelah perjalanan backpacking ke KorSel usai. Jangan lewatkan ya^^

Kembali menggambar manga, belum discan untuk diedit di photoshop^^


Wuah, jueleknya muintah ampwun lebih parah dari gambar anak TK. Bwahahaha…

My Trip In Java #3

Hola! Pembaca belum bosan kan membaca jurnal perjalananku selama di Jawa? Ini mungkin akan menjadi cerita terakhir dari trilogi jurnal perjalanan yang kubuat. Sebelumnya aku mohon maaf kalau tulisanku ini agak telat berhubung kesibukanku yang sudah kembali ke Kalimantan sekarang. Terutama kepada Bang Omnduut yang pernah kujanjikan kuliner khas Bogor. Juga kepada Mbak Feli yang tak pernah berhenti memberi support padaku agar aku berhasil meraih beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Saat ini aku merasa seperti sehelai daun yang terombang-ambing oleh tiupan angin dan tak punya kendali untuk berpijak. Aku tak tahu harus berhenti di mana. Jalan mana yang seharusnya kutempuh?

Tepat tanggal 9 Maret 2015 aku berangkat dari Graha Utama-Tangerang menuju Cijelag-Sumedang. Halte bis sangat sepi hampir tidak ada calon penumpang selain aku dan seorang wanita yang tampak asyik memainkan gadgetnya. Semenjak tiba di Jakarta kuperhatikan orang-orang di kendaraan umum banyak yang menggunakan ponsel berukuran layar sebesar gaban (5-7 inchi). Apakah ponsel seperti itu sedang trend? Entah mengapa aku jadi merasa malu mengeluarkan ponselku dari saku jaket yang kupakai. Ponselku hanya sebatas Samsung Galaxy Ace 3 yang layarnya tak sampai 5 inchi. Bis Agra Mas jurusan Cikarang yang kunanti tak kunjung datang. Sudah hampir 2 jam aku duduk menanti di halte. Sekumpulan pelajar SMP berseliweran di hadapanku dan ramai memperbincangkan perihal begal motor yang baru saja dibakar massa baru-baru ini. Kebetulan tempat kejadiannya tidak jauh dari halte tempatku menunggu bis.

Tepat pukul 11.40 aku berhasil mendapatkan bis yang kunanti-nantikan. Karcis jurusan Tangerang-Cikarang kubayar seharga Rp22.000,00. Perjalanan yang kutempuh diwarnai kemacetan kota megapolitan Tangerang-Jakarta-Bekasi. Sehingga aku baru tiba di Cikarang tepat pukul 1 siang. Begitu aku turun dari bis dinginnya AC membuatku tidak tahan ingin segera buang air kecil di toilet umum terdekat. Sekeluarnya dari toilet, bis Widia, satu-satunya bis yang tersedia untuk menuju Sumedang melintas di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku segera menaikinya, padahal perutku sangat lapar ingin menikmati makan siang terlebih dahulu. Sayang apa boleh buat, daripada aku tidak bisa sampai di Sumedang lebih baik kutahan saja rasa lapar di perutku. Semoga di tengah perjalanan nanti banyak pedagang asongan yang menjajakan makanan ringan untuk mengganjal perutku. Perjalanan menuju Sumedang ini harus mengocek biaya Rp35.000,00 dari Cikarang. Belum lagi biaya untuk membayar pengamen jalanan yang tak pernah ada habisnya. Mereka naik dan turun dari bis ke bis di setiap persimpangan jalan dan lampu merah. Bis yang kunaiki berukuran sangat kecil hanya memuat 20 penumpang. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya minibus.  Sepanjang perjalanan terlalu banyak panorama hutan jati terutama di Kabupaten Subang dan Sumedang. Maka tak heran bila nama-nama desa di sana banyak yang menggunakan awalan kata ‘jati’ seperti ‘Jatinangor’, ‘Jatiwangi’, ‘Jatijajar’, ‘Jatibening’, ‘Jatitujuh’, ‘Jatigede’, dan lain sebagainya. Mulanya aku pikir perjalanan yang kutempuh hanya berkisar 4 atau 5 jam. Ternyata aku baru sampai di tempat tujuanku setelah menempuh 7 jam perjalanan. Tepat pukul 8 malam aku baru tiba di rumah bibi. Alamak capek sekali…

Aku sangat terkejut ketika akan menyeberang jalan menuju rumah bibi begitu aku turun dari bis. Kebetulan rumah bibi memang terletak di pinggir jalan raya provinsi. Tapi hal yang membuatku terkejut adalah nama toko bibi rupanya masih menggunakan nama toko mama. Sebelumnya rumah bibi adalah rumah mama. Hanya saja karena mama tidak ingin jauh dariku, mama sengaja menjual rumah dan tokonya kepada bibi lalu mama hijrah ke Kalimantan menyusulku. Tatkala aku mengucapkan salam, bibi sedang berbaring di toko bersama Yusuf, adik sepupuku. Ealah aku dan bibi sama-sama pangling. Sama seperti kejadian yang kualami di Bogor, bibi pun hampir tak mengenaliku saking gemuknya badanku sekarang. Padahal bibi sudah melihat foto profilku di BBM tiap kali kami chatting. Aku sendiri nyaris tak mengenali sepupuku yang sekarang juga sama-sama bertubuh gemuk sepertiku. Tidak berbeda denganku, Yusuf pun berubah menjadi gemuk setelah kecelakaan motor yang menimpanya. Sekitar dua tahun yang lalu saat Yusuf pulang kuliah dari Sumedang, sebuah truk yang mengangkut batu bara menyerempet motor yang dikendarai Yusuf. Motor Yusuf pun oleng kehilangan keseimbangan. Yusuf jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Wajah Yusuf dipenuhi darah meski helm menutupi kepalanya. Para warga yang melihat kejadian itu mengira Yusuf sudah meninggal. Enggan menjadi saksi mata, lantas para warga malah menutupi tubuh Yusuf dengan daun pisang yang diperoleh dari pinggir jalan. Suatu kebetulan pamanku (ayah Yusuf) yang baru pulang kerja melintas dan melihat Yusuf terkapar di jalanan menjadi tontonan banyak orang. Menyadari orang itu adalah Yusuf, pamanku segera melarikan Yusuf ke rumah sakit besar di Cirebon. Yusuf mengalami koma dan harus mengalami beberapa kali operasi. Mulai dari operasi bedah paru-paru hingga operasi tulang rahang. Tuhan masih sangat menyayangi Yusuf. Hingga saat ini Yusuf masih diberi nyawa oleh-Nya. Meski kepalanya sudah tidak dapat menoleh 90 derajat, namun kesehatan Yusuf berangsur-angsur pulih dan dapat menjalani rutinitas kuliahnya kembali setelah cuti satu tahun.

Ternyata bukan hanya aku dan Yusuf yang sekarang bertubuh gemuk. Pamanku juga sekarang bertubuh gemuk jauh dari keadaan 6 tahun silam terakhir kali kami bertemu di mana kala itu tubuh paman masih sangat kurus. Jika kami bertiga berdiri berjajar, bibiku mengatakan kalau kami adalah triple bonbon. Haha… ada-ada saja nih bibi. Sebenarnya berkunjung ke Cijelag itu sangat membosankan, karena aku tidak leluasa ke mana-mana tidak seperti halnya di Bogor yang memiliki banyak mall atau tempat hiburan dan dapat dijadikan tempat untuk mencuci mata. Hal yang dapat dilakukan selama di Cijelag hanya jalan-jalan menelusuri perkampungan penduduk atau Sungai Cimanuk. Lumayan asyik sih, rumah-rumah penduduk Kabupaten Sumedang itu rata-rata terbilang masih banyak yang bergaya tradisional. Aku tidak tahu pasti apakah itu rumah adat yang disebut ‘julang ngapak’, ‘limasan’, atau ‘keraton kasepuhan’ mengingat banyaknya rumah adat khas Provinsi Jawa Barat. Rumah-rumah itu disusun dari bebatuan yang ditata sangat rapi dipadu dengan dinding yang terbuat dari papan dan bilik. Benar-benar terlihat sangat antik!

Suasana perkampungan di Sumedang

image

image

image

Selain kuliah kegiatan sehari-hari Yusuf adalah merakit komputer dan memperbaiki laptop. Yusuf memang berkuliah di jurusan IT. Lucunya bila mendapat pesanan rakitan komputer dari teman-temannya, ia enggan menerima pembayaran uang cash di muka. Ia senantiasa meminta pembayaran via transfer. Alasannya untuk menghindari uang palsu! Hadeuh… Yusuf… Yusuf… bisa saja adik sepupuku yang satu ini akalnya. Entah mengapa kedatanganku ke Sumedang juga malah menambah pekerjaan buat Yusuf. Tanpa sengaja saat aku membenahi pakaian dalam tas, notebook yang sedang kupegang terlepas dari tanganku dan membuat covernya pecah. Otomatis ini menjadi pekerjaan untuk Yusuf. Terlebih Yusuf mendiagnosa kalau papan keyboard notebookku harus segera diganti. Maka keluarlah uang Rp150.000,00 dari rekeningku. Tuh kan, uang asli ya Suf! 😀

Rutinitas bibiku sehari-hari adalah melayani para pembeli yang tak kunjung henti di toko. Kadang aku kasihan melihatnya. Bibi hampir tak bisa beristirahat saking ramainya pembeli. Bahkan saat hendak makan sekalipun bibi nyaris tak bisa makan. Baru satu suap bibi menikmati makanannya, pembeli di depan rumah sudah teriak-teriak, “Punteun… Bu, bade meser!” (Permisi… Bu, mau beli!). Sayangnya bibi tak memiliki pembantu. Semua pekerjaan rumah tangga terpaksa dibagi dua antara paman dan bibi. Sementara Yusuf jarang sekali berada di rumah. Pamanku pun sebenarnya sangat sibuk dan aktif bermasyarakat. Selain menjabat sebagai kepala dinas kehutanan di Kabupaten Sumedang, pamanku memiliki banyak yayasan sosial yang setiap hari dikontrolnya. Pamanku memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sewaktu Aceh mengalami bencana tsunami, banyak anak Aceh yang diambilnya dan ditampungnya di panti asuhan yayasannya. Bahkan setiap malam paman mengajari para anak yatim-piatu belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengaji.

Jiwa sosial paman yang tinggi menurun kepada Ratna (kakak Yusuf), adik sepupuku yang kalem. Sudah dua tahun ini Ratna tinggal di Jakarta dan bekerja di Departmen Sosial. Bahkan Ratna dipercaya menjadi asisten pribadi Ibu Hj. Khofifah, menteri sosial. Ratna sudah kerap kali menemani perjalanan dinas luar sang ibu menteri. Seluruh pulau besar di Indonesia sudah pernah dijelajahinya. Peranan Ratna adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat di pelosok mengenai masalah-masalah sosial. Meski sibuk terkadang setiap dua minggu sekali Ratna pulang ke Sumedang pada akhir pekan. Sayang, tuhan belum berkenan mempertemukan kami kembali. Padahal bila aku memerlukan informasi seputar beasiswa, Ratna adalah informan yang tepat. Karena dia memiliki banyak channel yang belum diketahui banyak orang. Ayo dong Ratna bantu Aa-mu ini. Hehehe…

Tepat pada hari ke-5 aku berada di Sumedang, saat aku sedang mengemasi pakaian untuk kembali ke Bogor, tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Ibu Rensi, mantan pimpinanku di SDN Bangun Jaya membuatku penasaran dalam rangka apa beliau menghubungiku. Seingatku tugasku membimbing murid-murid pilihan untuk mengikuti Olimpiade SAINS sudah selesai. Bahkan tak dinyana semua murid bimbinganku itu berhasil memborong semua peringkat mulai dari juara pertama hingga juara ketiga baik bidang Matematika maupun IPA. Dan ini adalah prestasi luar biasa yang berhasil kucetak seumur hidupku. Gagal mengangkat telepon, akupun menghubungi balik ibu Rensi. Beliau memberi kabar sekaligus memerintahkan agar aku segera terbang ke Kalimantan pada hari itu juga guna melengkapi berkas sertifikasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sukamara. Alamak, sertifikasi? Aku tidak pernah menduga kalau akhirnya namaku terdaftar sebagai calon sertifikasi guru. Padahal aku sudah 5 bulan mengundurkan diri dari SDN Bangun Jaya. Ternyata meskipun aku sudah resign dari sekolah tersebut, NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan)-ku masih terdaftar secara online di Departmen Pendidikan. Tanggal 16 Maret 2015 adalah batas terakhir penyerahan berkas. Sementara hari itu adalah tanggal 13 Maret 2015. Waktuku hanya tersisa 3 hari. Bila aku memaksakan terbang (tentunya dengan pesawat ) ke Kalimantan akan memakan waktu yang sangat lama. Sebab perjalananku dari Sumedang ke Jakarta pun tidak dapat ditempuh dalam hitungan 2 atau 3 jam, melainkan 7-8 jam sodara-sodara! Mungkinkah aku akan sempat melakukannya?

Aku mendadak gamang. Berkali-kali aku berteriak dalam hati bahwa tujuanku ke Pulau Jawa adalah untuk meraih beasiswa. Aku sudah maju, dan tidak mungkin harus mundur lagi. Aku tidak mau cita-cita dan impian yang kuangan-angankan selama ini kembali hancur seperti sebelas tahun silam saat aku lulus SMA. Nasihat-nasihat dan support yang pernah diberikan oleh Mbak Feli terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimanapun aku harus mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tekadku sudah bulat! Aku termenung sejenak. Berkali-kali masih terdengar suara di ujung telepon bahwa aku harus kembali ke Kalimantan karena ini menyangkut masa depanku, ungkap Bu Rensi meyakinkan. Setelah aku menutup pembicaraan di telepon, aku menceritakannya kepada paman, bibi, dan Yusuf. Anehnya mereka semua malah menyuruhku untuk mengikuti saran Bu Rensi. “Pergilah! Perjuangkan sertifikasi!” tegas pamanku. Masih ragu dengan tanggapan mereka semua, akupun segera mengabari mama via telepon. Tentu saja hal ini membuat hati mama senang, “Akhirnya ada juga jalan yang membuatmu tidak bisa meninggalkan Mama!” ungkap mama dengan perasaan bahagia. “Tujuanku meraih beasiswa ke luar negeri bukan untuk meninggalkan mama, melainkan untuk menimba ilmu dan pengalaman yang selama ini ingin kucari. Tolong pahami itu, Ma!” batinku berkata lirih.

“Gih, perjalanan kariermu di Kalimantan sudah sangat panjang. Sangat sayang jerih-payah yang kamu perjuangkan selama ini menjadi sia-sia jika kamu tinggalkan. Sekarang sudah saatnya kamu menikmati kejayaan! Kamu sudah mempunyai nama di sini, di saat orang-orang mulai mengandalkanmu. Apa kamu rela melepas semuanya begitu saja? Coba kamu pikirkan, bila kamu pergi dari sini maka kamu akan memulai segalanya dari nol lagi! Apa kamu tidak capek?” bujuk mama via telepon.

Aku terhenyak larut dalam pikiranku menimbang-nimbang dan memikirkan matang-matang. Aku beristikharah memohon petunjuk tuhan. Aku masih ingat banyak sekali kegagalan yang kuraih selama ini. Tiga kali gagal mengikuti tes CPNS, dua kali gagal mengikuti seleksi database honorer. Padahal dari segi kelengkapan berkas dan qualifikasi aku sudah memenuhi semuanya. Namun di balik kegagalanku ada segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja menghapus namaku dari database honorer  pada tahun 2011 dan menggantinya dengan nama orang lain yang telah memberinya sejumlah uang. Padahal jika diusut lebih lanjut masa bakti penggantiku itu sama sekali tidak memenuhi persyaratan, dia hanya baru terbilang 2 tahun mengajar sedangkan aku sudah di atas 6 tahun. Lagi-lagi oknum yang tidak bertanggung jawab itupun memanipulasi data yang ada. Dibuatnya masa bakti orang yang menggantikanku itu seolah-olah sudah melebihi masa bakti yang disyaratkan. Hal inilah yang membuatku kecewa dan berhenti mengabdi kepada semua sekolah instansi pemerintah. Namun mama terus mendorongku agar aku tetap bertahan. Entah harus sampai kapan? Aku jemu menanti harapan palsu yang selalu diberikan kepadaku.

Setelah merenung beberapa saat, kuputuskan untuk mencoba membuat beberapa rencana sekaligus. Aku harus membuat beberapa opsi dan strategi agar cita-citaku tetap dapat tercapai. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Namun tidak ada salahnya juga aku mencoba menyerahkan berkas sertifikasi. Bukankah hidup itu adalah pilihan? Manusia memang selalu memiliki rencana, tapi hanya tuhan yang menentukan. Seorang guru pernah berkata kepadaku, “Seorang pejuang sejati tak pernah berhenti mewujudkan impiannya dan menyerah begitu saja. Ia akan selalu menempuh banyak jalan ketika ia menghadapi kegagalan! Andai ia terbentur gunung sekalipun ia akan mendaki gunung tersebut. Namun bila ia jatuh ia akan menggali terowongan agar ia bisa sampai ke seberang. Bila gunung itu terlampau keras baginya, ia akan berdoa kepada tuhan agar gunung itu dilenyapkan dari pandangannya!”

Foto-foto bersama bibi, Yusuf, dan paman

image

image

Segera kukemasi pakaianku dan pamit kepada paman, bibi, serta Yusuf. Kepergianku diiringi dengan doa mereka semua. “Lakukan yang terbaik selagi kamu mampu!” pesan paman padaku. Aku berangkat menuju Bogor sebelum waktu semakin berkurang. Di sana ada seorang penasihat yang harus kutemui karena hanya dari dialah aku sering mendapat pencerahan. Dia tak lain adalah sahabatku sejak kecil yang kini sering muncul di televisi. Cukup sulit membuat jadwal pertemuan dengannya. Namun demi aku dia selalu rela mengorbankan waktunya. Semoga saja kami dapat bertemu.

Aku tiba di Bogor tepat pukul 7 malam. Kupikir aku tidak akan memiliki waktu lagi untuk menikmati suasana di Bogor. Maka kuhabiskan malam itu dengan berkeliling-keliling Kota Bogor mulai dari mengunjungi Botani Square, Toko Buku Gramedia, Taman Topi, Jembatan Merah, hingga Jalan Mawar. Aku berusaha menyempatkan diri mencari barang-barang yang sulit kucari di Kalimantan antara lain: buku TOEFL Preparation, buku Mandarin for Children, buku Korean for Children, Oxford Dictionary, Buku Kumpulan Soal Ujian Kenaikan Kelas untuk Kelas 3-5 SD, hingga parfum Polo Sport kesukaanku. Alhamdulillah cukup banyak barang yang kuborong hingga satu tas penuh. Untung saja beratnya tidak melebihi 20 kg sehingga tidak akan over bagasi di pesawat. Tinggal transaksi tiket pesawat secara online. Tanpa ragu aku langsung mengakses situs resmi Kalstar Aviation. Setelah mengisi beberapa data yang diperlukan, tinggal melakukan transaksi pembayaran. Oow… mengapa transaksi pembayarannya tidak bisa menerima transfer via BRI? Padahal pada menu pilihannya terdapat pula menu ATM Bersama, tapi mengapa tidak dapat melakukan transaksi? Hari sudah larut malam, semua agen travel di Bogor sudah tutup. Kucoba untuk melakukan transaksi via mobile-banking, lagi-lagi pada aplikasi BRI di ponselku tidak tercantum nama maskapai Kalstar Aviation. Yang ada hanya menu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Tak putus asa aku segera beranjak menuju ATM di tepi jalan raya. Menu yang sama kudapati seperti dalam ponselku. Mungkinkah ini adalah pertanda kalau aku harus menunda kepulanganku ke Kalimantan? Barang sehari saja tidak apalah! Lagi pula aku masih betah ingin di Bogor.

Menikmati hari terakhir di Bogor

image

Terowongan penyeberangan bawah tanah tematik

image

Pameran aneka kumbang Indonesia di Botany Square

image

Cara bercocok tanam yang baru, pameran Botany Square

image

Aih… cantiknya rusa pakistan di halaman istana Bogor ini. Oh iya sekarang istana Bogor menjadi tempat peristirahatannya Presiden Jokowi…

Keesokan harinya aku berangkat menuju agen travel yang terdapat di Taman Topi. Benar dugaanku tiket yang telah kubooking semalam telah digantikan orang lain. Otomatis aku hanya bisa mengikuti penerbangan pada hari berikutnya. Di saat yang bersamaan, sahabatku yang ingin kutemui mengkonfirmasi pertemuan kami via telepon. Hari Minggu pagi 15 Maret 2015 pukul 7 pagi ia akan menjemputku sekaligus mengantarku ke terminal bis Damri.

Hari terakhir di Bogor aku manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Aku tidak begitu yakin akan bisa kembali ke Bogor suatu saat nanti. Hanya dengan doa aku tak pernah berhenti meminta kepada tuhan agar segala usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang terbaik. Semoga saja baik sertifikasi ataupun beasiswa pasca sarjana ke luar negeri dapat kuraih salah satu di antaranya tanpa suatu kendala apapun. Ary, sahabatku, selalu menepati janjinya. Aku senang pada detik-detik terakhir keberadaanku di Bogor dapat dipertemukan kembali dengannya. Lama sekali kami tidak berjumpa semenjak pertemuan terakhir kami saat aku mengikuti kegiatan Raimuna Nasional di Cibubur pada tahun 2008. Saat itu Ary baru saja lulus S1 sementara aku belum memiliki ijazah sarjana. Ia sengaja datang dari Bogor untuk melihat kegiatanku di Cibubur. Persahabatan kami bermula sejak kami bertetangga di Cimanggu Kecil ketika kami masih TK. Waktu itu rumah kami berhadap-hadapan maka tak jarang kami menghabiskan waktu bermain bersama baik siang maupun malam. Orang tuanya sangat baik kepadaku dan kepada semua orang. Masih kuingat dengan jelas bila mama Ary membuat kue, tetangga satu RT pasti kebagian. Ketika masuk SD Ary pindah rumah ke Loji, Bogor Barat. Aku sangat kehilangan teman sepermainanku. Saat aku kelas 3 SMP aku sengaja bersilaturrahim ke rumahnya dan menjalin persahabatan kami kembali yang sempat terputus selama 8 tahun. Sejak saat itulah kami sering melakukan pertemuan dan jalan-jalan berdua mengitari Bogor. Minimal satu bulan sekali kami bertemu. Semenjak aku hijrah ke Kalimantan kami mengagendakan pertemuan kami menjadi satu tahun sekali berhubung aku hanya bisa pulang ke Bogor satu tahun sekali, setiap liburan panjang pada bulan Juli. Akan tetapi agenda tahunan itu terhenti semenjak mama menjual rumah di Bogor dan pindah ke Sumedang sampai akhirnya mama menetap tinggal di Kalimantan bersamaku. Walaupun begitu aku tak pernah putus komunikasi dengan Ary. Beruntung aku hidup di zaman berteknologi canggih. Adanya Facebook, WhatsApp, dan Line membuat kami bisa saling melihat aktivitas kami satu sama lain. Aku senang melihat Ary kini sudah menjadi orang sukses, kerap masuk televisi sebagai pemuda yang berprestasi, dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan adanya pendamping hidup dan seorang buah hati. Kelihatannya Ary benar-benar sangat bahagia bersama keluarganya.

Sebagai seorang sahabat, Ary adalah pendengar yang baik. Banyak kata-kata ajaib yang terlontar dari mulutnya dan sering menjadi penyemangat bagiku di kala aku menghadapi masalah. Pertemuan hari itu dengannya hanya berlangsung 2 jam. Aku harus segera berangkat menuju bandara dengan menaiki bis Damri. Awalnya Ary sangat ingin mengantarku ke bandara, berhubung ia harus mengikuti meeting dengan teman-teman sesama volunteer, maka Ary hanya dapat mengantarku sampai Botany Square saja.

Foto-foto bersama Ary

image

image

image

Adikku dibalut seragam pramugarinya
image

Have lunch sebelum boarding pass

image

Selfie dalam pesawat

image

image

Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng adikku mengirim pesan via BBM meminta agar aku menunggunya di terminal 1C. Ia ingin melihat kepergianku kembali ke Kalimantan. Atau jangan-jangan karena ia masih rindu denganku? Adikku bahkan memohon kepada para petugas security check in agar ia diperkenankan masuk ke ruang tunggu pesawat bersamaku. Dengan ID card pramugari yang dimilikinya ia berhasil diperkenankan masuk tanpa kendala apapun. “Mas, saya boleh ya mengantar kakak saya sampai ke dalam?” pintanya kepada salah seorang petugas security sambil menunjukkan ID card pramugarinya. Lucunya petugas security itu malah balik menggoda, “Oh boleh Mbak. Ngomong-ngomong bacht berapa?” hadeuh… dasar petugas genit. Cari kesempatan dalam kesempitan. Masak dia menanyakan apartmen adikku? Adikku menemaniku hingga pemberangkatanku tiba. Waktu yang begitu minim kami pakai mengobrol membahas seputar masalah pekerjaan kami masing-masing. Begitu terdengar panggilan di pengeras suara yang memanggil para calon penumpang Kalstar agar segera naik ke pesawat, adikku pun turut mengantar sampai ke depan pintu pesawat. Mungkinkah ia ingin ikut bersamaku pulang ke Kalimantan? Setelah aku berpamitan padanya dan ia mencium tanganku sebagai tanda perpisahan, kulihat adikku membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan lunglai. Sempat kulihat status terbarunya di BBM : “Ingin ikut ke Kalimantan ketemu sama mama!” ckckck… kasihan sekali dia. Segera kuhempaskan tubuhku di kursi samping pintu darurat sesuai permohonan adikku saat kami check in. Hanya dalam hitungan beberapa menit pesawat yang kunaiki pun segera lepas landas. Dalam satu jam ke depan aku akan segera tiba di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hatiku berasa sesak. Aku belum begitu puas menikmati kunjunganku kepada keluarga di Pulau Jawa. Di luar jendela rinai hujan tampak rintik-rintik dengan awan yang begitu berkelebat. Menemani suasana hatiku yang sedang gamang.

#SELESAI#

Drama Jadul Favoritku : Giok di Tengah Salju

Giok di Tengah Salju
Pengarang  : Chiung Yao
Penerjemah : Pangesti A Bernadus, Nita Madona Sulanti, Indrawati Tanoto, Pangestuti Bintoro
Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua Juli 1997

Kembali aku mengulas drama kesukaanku pada masa kecil. Kali ini adalah drama Tiongkok yang pernah ditayangkan di RCTI pada saat aku kelas 4 SD (1996) setiap Senin-Jumat pukul 2 siang. Seperti yang telah kutulis di atas, drama ini diangkat dari novel karya penulis besar Chiung Yao. Rasanya bila menyaksikan drama-drama besar karya Chiung Yao selalu menguras air mata karena kisahnya yang terlalu sedih. Atau karena aku yang terlalu perasa ya? Tapi memang kebanyakan begitu kok, buktinya serial Putri Huan Zhu yang juga karya besar Chiung Yao lainnya, juga sempat bikin aku termehek-mehek menontonnya. Ups 😀

Kalau pembaca penasaran dengan sinopsis ceritanya, simak ya…

image

Meski tumbuh besar bersama, Hsueke (baca: Si Khe) dan Ku Yameng hidup dalam dunia berbeda. Hsueke putri keluarga Dinasti Manchu dari Kepangeranan Wang, sementara Yameng putra ibu pengasuhnya, Bibi Chao. Tapi mereka saling jatuh cinta, dan tak direstui karena status yang berbeda terlebih karena Hsueke telah dijodohkan dengan putra keluarga bangsawan Luo. Xueke dan Yameng nekad kawin lari. Pangeran Wang (ayah Xueke) menemukan dan menangkap mereka. Padahal pernikahan yang tak direstui itu sudah membuahkan janin. Pangeran Wang shock. Dia ingin membunuh Yameng, tapi Bibi Chao dan Hsueke melindunginya dengan tubuh mereka dan berlutut di hadapan Pangeran Wang agar bersedia mengampuni Yameng. Melihat Hsueke nekad, Nyonya besar Wang yang sangat mencintai putrinya, membujuk suaminya, karena tanpa Hsueke, dia juga akan mati. Pangeran Wang melunak. Dia membiarkan Hsueke melahirkan anaknya karena menolak mengugurkan dan mengancam bunuh diri. Dia juga membiarkan Bibi Chao hidup, tapi diusir dari Beijing. Sementara Yameng diasingkan menjadi pekerja tambang di Shinchiang. Imbalannya, setelah melahirkan, Hsueke harus tetap menikah dengan putra keluarga Luo. Berkat bujukan Ku Yameng yang memintanya bertahan hidup meski menderita dengan harapan bisa bertemu lagi, Hsueke pun menyetujui syarat ini.

image

Setahun kemudian, Hsueke melahirkan. Dia hanya sempat sekali melihat bayinya, dan tidak tahu jenis kelaminnya. Nyonya Besar Wang membawa bayi itu pergi. Tapi Hsueke memohon agar bayinya tidak dibunuh, karena itu yang diinginkan ayahnya (Yameng). Nyonya Besar Wang memberikan bayi itu kepada Bibi Chao dan menyuruhnya mencari Yameng dan hidup bersama. Dia memberi uang sebagai bekal mereka. Kemudian Hsueke menikah dengan Luo Chikang (baca: Luo Cekang) dari keluarga pejabat Luo. Demi memelihara kesetiaannya kepada Ku Yameng, saat malam pengantin, Hsueke berterusterang kepada Chikang, dia bukan gadis lagi karena sudah pernah menikah. Chikang sangat marah dan mengadukan pada orangtuanya. Dia ingin bercerai. Tapi Nyonya Besar Luo mengatakan bercerai berarti menuruti keinginan Hsueke. Dia ingin Hsueke tetap menjadi menantu keluarga Luo untuk menyiksanya dalam penderitaan. Dia juga menghukum Hsueke dengan menyuruh Xueke untuk memotong jari kelingkingnya sendiri. Pangeran dan Nyonya Besar Wang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Hsueke.

Delapan tahun berlalu, zaman berubah, pemerintahan berganti. Kekaisaran Manchu runtuh, berganti menjadi republik. Tuan besar Luo tak lagi menjadi pejabat dan meninggal dunia. Nyonya Besar Luo membawa keluarganya pindah ke Chengte, termasuk Hsueke. Di kota ini Chikang menjalankan bisnis dan bersahabat dengan seorang jenderal yang berkuasa. Dia juga telah menikah lagi dengan Ciashan yang memberinya seorang putra bernama Yulin. Saat itulah Bibi Chao yang tidak berhasil menemukan Yameng datang ke Chengte bersama cucunya, Hsiao Yutien. Dia miskin dan sakit-sakitan. Mengira neneknya memerlukan uang untuk berobat, Hsiao Yutien bersedia dijual ke keluarga Luo sebagai pelayan. Bibi Chao bermaksud menemui Hsueke yang sudah menjadi Nyonya Muda Luo untuk mengatakan siapa sebenarnya Hsiao Yutien. Tapi Bibi Chao keburu meninggal. Pelayan penginapan menguburnya, dan Hsiao Yutien hanya sempat menziarahi makamnya dengan sedih. Pertama melihat Hsio Yutien, hati Hsueke sudah tergetar. Dia selalu tergerak untuk melindungi dan membela pelayan kecil ini bila mendapat kesulitan.

Sementara itu di kediaman Pangeran Wang, seorang tamu bernama Kao Han datang berkunjung. Ternyata dia Yameng yang sudah diangkat anak oleh pengusaha dari Fuchien bermarga Kao dan mengganti namanya menjadi Kao Han. Melihat kehadirannya, Pangeran Wang marah, tapi Ahte, pembantu setia, selalu melindungi Kao Han. Dari Nyonya Besar Wang, Kao Han mengetahui anaknya perempuan dan diberikan kepada ibunya supaya mereka bisa mencarinya. Tapi mereka tidak bertemu. Nyonya besar menyuruhnya mencari mereka, dan tidak mengganggu Hsueke yang sudah menjadi menantu keluarga Luo di Chengte. Kao Han justru ingin menemui Hsueke karena menduga ibunya akan menghubungi Hsueke. Ketika melihat Hsueke, dia tahu Hsueke tidak bahagia. Apalagi, Feichui, pelayan setia, Hsueke berhasil menemuinya dan bercerita banyak tentang penderitaan junjungannya. Ketika bertemu Kao Han, Hsueke menyuruhnya mencari Bibi Chao dan anak mereka.

Kediaman Luo geger karena Hsio Yutien hilang. Sebelumnya dia sudah minta izin mengunjungi makam neneknya karena neneknya berulang tahun. Mendengar hal ini, Hsueke terkejut karena Bibi Chao juga berulang tahun. Dia menawarkan diri ikut mencari ke makam. Dari nisannya, dia mengetahui siapa nama nenek Hsiao Yutien. Setelah bertanya beberapa hal dia yakin Hsiao Yutien adalah anaknya dengan Ku Yameng. Untungnya, Yameng belum berangkat mencari ibu dan anaknya. Dia kaget mendengar dari Hsueke, Bibi Chao membawa anak mereka bertemu dengannya sebagai pelayan. Keduanya senang sekaligus sedih. Sibuk memikirkan cara untuk mengeluarkan Hsiao Yutien dari kediaman keluarga Luo. Padahal Chikang sudah mulai merasa curiga melihat sikap Hsueke yang mencurigakan. Kao Han bermaksud menemui Chikang untuk bicara dan meminta istri dan anaknya, karena dia sendiri sudah menikah lagi dan mempunyai anak juga. Tapi Hsueke yang sangat mengerti tabiat Chikang mencegahnya. Yameng meminta bantuan Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Mereka berangkat ke Chengte. Ketika membahas masalah perceraian, Chikang menolak mentah-mentah. Atas saran Ciashan, dia mengakui mencintai Hsueke, dan ingin mengubah perlakuannya selama ini. Pangeran dan Nyonya Besar Wang termasuk Hsueke terkejut mendengar pengakuan ini. Mereka bermaksud memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan Hsiao Yutien untuk dibawa Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Perhatian mereka kepada pelayan kecil ini membuat Nyonya Besar Luo curiga, dan dia langsung bisa membongkar identias Hsiao Yutien dan membuat Chikang marah besar. Keadaan semakin rumit ketika Pangeran Wang dan Yameng memutuskan menggunakan kekerasan. Yameng datang dan berterus terang dia adalah suami pertama Hsueke dan ayah Hsiao Yutien. Mereka menculik Chikang untuk ditukar dengan Hsueke dan Hsiao Yutien. Hsueke merasa serba salah ketika harus memilih memenuhi janjinya kepada Chikang ataukah berkumpul kembali dengan keluarganya, karena setelah dia berada diambang kematian baru Chikang merelakan untuk melepaskannya. Kisah ini berakhir happy ending, Xueke dapat menikah lagi dengan Yameng disaksikan kedua orang tua Xueke dan anak mereka Hsiao Yutien, meski Xueke dalam keadaan sakit.

Wah, adegan yang sangat dramatis ya (namanya juga drama 😀 ). Kisahnya yang sedih akan semakin kentara dipadu closing soundtrack drama tersebut. Ini dia liriknya, tapi maaf pemirsa saya sedikit lupa. Bila pembaca ada yang hapal lagu ini, tolong koreksi kalau ada bagian yang salah ya. Terima kasih  🙂

Giok Di Tengah Salju

Awan-awan melayang di langit
Pohon-pohon willow melambai
Awan merah di tengah lembah
bagaikan burung menuju sarangnya
Ibu dan ayah berada dalam mimpiku,
mengapa tak terlihat nyata
Burung-burung di tengah lembah,
mengapa terbang jauh ke sana..
Menempuh perjalanan jauh…

Nah, silakan download juga opening soundtracknya (Mandarin version)  di sini ! 😉

Mengenal Karakter ‘7 Manusia Harimau’ Lebih Dekat #2

image

Annyeonghaseyo… (Hallo semua…)
Sesuai permintaan pembaca yang meninggalkan jejak di kolom komentar pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Kali ini aku akan melanjutkan tulisanku tentang : Mengenal Karakter ‘7 Manusia Harimau’ Lebih Dekat

Oh Merapi dan Laut, betapa budimannya kalian bersedia meninggalkan komentar di blogku ini. Dan aku sangat terharu atas kebaikan hati kalian yang telah bersedia bertamu ke mari. Aku sangat senang kemarin jumlah pengunjung blogku berhasil menembus 2000 visitors. Padahal tahun lalu blogku ini hanya  dikunjungi 40 pengunjung perhari. Semenjak aku menulis tentang 7 Manusia Harimau jumlah pengunjung blogku meningkat drastis menembus 400 pengunjung dan terus meningkat. Semoga saja terus begitu karena ini menambah semangatku untuk aktif ngeblog. Sekarang kegiatan di rumah memang lebih leluasa karena aku sudah resign dari semua sekolah tempatku mengajar, makanya aku bisa aktif menulis untuk blogku tercinta ini. Di rumah hampir setiap hari aku kedatangan murid baru yang meminta les denganku. Manakala kapasitas ruang kelasku terbatas. Tetapi mereka terus mendesak agar aku bersedia menerima mereka sebagai murid di perguruanku. Ceileh… 😀 ternyata benar kata pepatah orang pintar memang selalu dicari, ke atas puncak gunung tinggi sekalipun akan didaki, ke dasar samudera terdalam juga diselami.

Oke deh, tak perlu banyak basa-basi lagi kita lanjut ya postingan kemarin…   🙂

15. Ki Rotan

Dalam versi novel Ki Rotan sebenarnya adalah guru Karina yang sengaja memanfaatkan Karina agar terperdaya dan menjadi pengikutnya (baca : Misteri Tirai Setanggi).  Ki Rotan memang sangat membenci para inye’ karena ia bermaksud menjadi penguasa tunggal di Kumayan. Ia ingin membinasakan para inye’ dan menjadikan anak gadis keturunan para inye’ sebagai istrinya. Ki Rotan adalah jelmaan siluman macan tutul. Dalam versi sinetron wujud macan tutulnya sama sekali belum pernah ditampilkan. Kelemahan Ki Rotan adalah hujan, sebab kekuatannya adalah api. Ia memiliki jurus bola api yang sangat mematikan. Karena sering kalah menghadapi para inye’ akhirnya Ki Rotan bersekongkol dengan Ratu Hangcinda. Berkat bantuan Ratu Hangcinda kekuatannya bertambah seratus kali lipat. Siapa tahu meskipun demikian para inye’ masih dapat mengalahkannya.

16. Tudung Merah

image

Gadis misterius ini adalah salah satu pengikut Ratu Saga yang sakti. Dia meninggalkan Desa Saga karena ingin membinasakan para inye’ dan keturunannya. Gara-gara mendengar ramalan para leluhur bahwa Desa Saga akan dihancurkan oleh para inye’ dan para gadis keturunan inye’, Tudung Merah bermaksud membinasakan mereka terlebih dahulu. Lantas ia berhasil melumpuhkan Datuk Lebai Karat hingga tak berdaya dengan jurus selendang sakti yang dimilikinya dan sebenarnya telah lenyap selama ratusan tahun. Lalu ia sempat menculik Pina adik Raja Langit dan membuat Pina gila, juga menculik Pitaloka dan Karina sampai membuat mereka kehilangan kekuatannya. Pitaloka berhasil diselamatkan Gumara, namun Karina malah dikubur hidup-hidup oleh Tudung Merah di saat Karina telah menerima kenyataan bahwa Gumara adalah kakak yang seayah dengannya. Karina lantas mengalami mati suri, Gumara pun semakin berang terhadap Tudung Merah. Dengan segala daya Gumara membunuh Tudung Merah sekejap mata. Tubuh Tudung Merah hancur lebur dibuatnya. Tak ada yang tahu kalau itu hanya trik tipuan yang sengaja dibuat Tudung Merah untuk menghindari serangan Gumara yang maha dahsyat. Sebenarnya Tudung Merah masih hidup dan diobati oleh Ki Rotan karena Ki Rotan ingin balas budi kepadanya yang dulu pernah diselamatkan oleh Tudung Merah saat Ki Rotan nyaris kalah melawan para inye’. Bersama Ki Rotan, Tudung Merah turut bersekongkol dengan Ratu Hangcinda untuk menghancurkan para inye’.

17. Rifai Paliki

image

Lelaki tampan ini adalah pemuda Kumayan yang awalnya sangat mencintai Karina. Dia selalu mengatakan kepada seluruh warga Kumayan bahwa Karina adalah calon istrinya. Setelah melihat kehebatan Gumara dan ia menyadari tak mampu menyainginya, Rifai mundur dengan teratur. Rifai bersahabat akrab dengan Arsya. Dengannya ia bermaksud menimba ilmu di perguruan bela diri Raja Langit agar mereka berdua dapat menjadi inye’ seperti Gumara dan Raja Langit. Rifai dan Arsya pun bersedia memenuhi permintaan Raja Langit agar mereka berdua diterima sebagai murid di perguruan bela diri Raja Langit. Mereka harus mencuri Kitab Tujuh yang dimiliki Gumara,  membayar seratus juta rupiah dan menyerahkan seorang gadis perawan kepada Raja Langit. Demi memenuhi permintaan Raja Langit, Rifai mau saja diajak Arsya mencuri uang hasil panen kopi warga Kumayan di lemari kamar ayah Arsya. Mengambil novel tebal berbahasa Prancis yang disangka mereka Kitab Tujuh dan terdapat dalam lemari kamar Gumara. Serta menculik Ratna, gadis tercantik di desa mereka. Bukan main senangnya hati Raja Langit menerima semua itu. Sayangnya Rifai dan Arsya tidak tahu kalau mereka hanya diperdaya oleh Raja Langit. Saat kejahatan Raja Langit mulai tercium oleh para inye’ lainnya dan ia akan diadili, kekisruhan pun terjadi yang sengaja dibuat oleh Ki Rotan. Hampir setiap malam Ki Rotan mencakar wanita tua di Kumayan hingga tewas, dan para inye’ menyangka kalau Raja Langit-lah pelakunya. Di saat yang bersamaan dengan pendakwaan terhadap Raja Langit oleh para inye’ di Bukit Kumayan, Ki Rotan sengaja memprovokasi warga untuk mengusir Raja Langit. Gagal dengan usahanya karena warga berhasil disadarkan oleh Pak Yunus untuk tidak bertindak anarkis, Ki Rotan membakar habis rumah dan padepokan Raja Langit. Di saat itulah Rifai muncul melindungi Pina, dan mulai jatuh cinta kepadanya. Selama Raja Langit meninggalkan Kumayan, Rifai selalu ada di samping Pina. Rifai adalah orang yang sabar, tahu diri, bisa mengendalikan diri, dan setia kawan. Tokoh ini diperankan oleh Ichal Muhammad.

18. Farah

image

Sejak kemunculannya di sinetron ini banyak penggemar 7 Manusia Harimau (khususnya perempuan) yang sebal kepadanya. Mungkin mereka cemburu melihat kemesraan Gumara bermain ‘terbang-terbangan’ bergelantungan dengan tambang dari pohon ke pohon bersama Farah. Lalu siapa Farah sebenarnya? Dikisahkan Farah adalah seorang antropolog yang sedang melakukan penelitian mengenai para inye’ di Kumayan. Ia diperintah oleh seseorang dari sindikat misterius yang berada di Jakarta, dengan kedok berasal dari sebuah lembaga kebudayaan. Padahal sindikat itu kemungkinan besar menginginkan tulang sengkang yang dimiliki Gumara. Mereka tahu kalau Gumara sudah tidak berada di Jakarta. Karena itu mereka sengaja mengutus Farah untuk mencari tahu mengenai keberadaan para inye’ di Kumayan sebelum mereka benar-benar menemui para inye’ secara langsung. Sayangnya Farah gagal melaksanakan tugas, tanpa pernah tahu untuk apa ia ditugaskan oleh pimpinannya ke Kumayan. Farah yang semula jatuh cinta kepada Gumara dan selalu mengikuti Gumara, setelah diberhentikan dari pekerjaannya lantas ia menjadi depresi. Di saat itulah Humbalang yang selama ini menaruh perasaan kepadanya dan sering cemburu saat ia melihat kedekatan Farah dengan Gumara, muncul di hadapan Farah. Tanpa Farah sadari perasaannya pun mulai berpaling kepada Humbalang yang sebenarnya selalu ada untuk Farah. Karakter Farah dalam serial ini antara lain selalu ingin tahu urusan para inye, licik, pencemburu, sok jual mahal,  dan sok tahu. Meski kerap didekati oleh Arsya karena Arsya ingin move on yang telah patah hati oleh Pitaloka, namun Farah selalu cuek sok jual mahal padanya. Di saat Arsya mulai mendekati Rindu setelah berkali-kali ditolak oleh Farah, justru Farah malah cemburu dibuatnya. Tapi untunglah Humbalang mulai kerap mendekati Farah, sehingga perasaan cemburunya kepada Rindu  dan depresi kehilangan pekerjaan yang dialaminya  tidak berlarut-larut lamanya.

19. Pina
Dalam versi novel (Pantang Berdendam) dikisahkan Pina adalah anak sulung Lading Ganda  (Raja Langit). Berhubung dalam versi sinetron Raja Langit sengaja dibuat masih muda dan berstatus lajang, maka tokoh Pina disisipkan sebagai adik Raja Langit. Lantas bagaimana dengan Keni (anak bungsu Lading Ganda)? Sayang sekali tokoh Keni terpaksa dihilangkan dari alur cerita. Mengikuti cerita dalam sinetron, Raja Langit dan Pina adalah kakak-beradik yang hanya tinggal berdua. Orang tua mereka telah lama tiada. Walaupun Pina tahu kakaknya memiliki karakter buruk, namun Pina sangat menyayanginya. Pun demikian dengan Raja Langit. Setelah rumah mereka dibakar oleh Ki Rotan, Pina sangat sedih karena Raja Langit tak kunjung kembali. Ia tidak tahu kalau di saat yang bersamaan, Raja Langit terjatuh ke jurang namun telah diselamatkan oleh Datuk Tunggal dan Puyang Tunggal. Ketika Raja Langit kembali ke Kumayan, ilmu inye’ yang dimilikinya telah dicabut oleh Datuk Tunggal. Pina yang selalu dihibur dan ditemani oleh Rifai sangat terkejut melihat kepulangan kakaknya dengan banyak perubahan yang dialaminya. Raja Langit telah berubah tabiat, ia menjadi orang baik dan bersedia bertanggung jawab kepada Ratna karena telah menodainya. Suatu hari Desa Kumayan dilanda wabah penyakit kulit yang sengaja dikirim oleh Ratu Hangcinda, Pina pun menjadi korban dan mengidap penyakit tersebut. Sementara Raja Langit sedang membantu menyelamatkan para gadis kampung seberang yang diculik oleh Ratu Hangcinda. Selama sakit, Rifai selalu setia menjaganya. Cinta Rifai kepada Pina begitu dalam dan besar.

20. Pak Yunus (and the gank)

image

Sejak awal kedatangan Gumara di Desa Kumayan, Pak Yunus adalah orang yang menjemputnya di Pasar Kayu Lima. Pak Yunus adalah pesuruh sekolah. Beliau senantiasa mewanti-wanti Gumara agar bertindak hati-hati selama tinggal di Desa Kumayan karena Desa Kumayan adalah desa yang penuh mistis. Watak Pak Yunus sangat ramah, baik hati, penyabar, suka menolong, dan sedikit penakut. Akan tetapi sifat penakutnya terkadang bisa menghilang bila sudah menghadapi keadaan genting. Setiap hari Pak Yunus mengantarkan rantang makanan kepada Gumara. Pak Yunus juga selalu menawarkan diri bila Gumara memerlukan sesuatu darinya. Pak Yunus senantiasa ditemani oleh 3 orang sahabatnya, antara lain : Pak Bujang (ustadz di Desa kumayan), Badrul (asisten Lebai Karat), dan Pak Tarikh (pensiunan guru SMA Kayu Lima yang posisinya digantikan oleh Gumara). Mereka selalu pergi berempat ke mana pun mereka pergi. Biasanya mereka berempat bertugas patrol menjaga keamanan Desa Kumayan. Bila desa mereka kedatangan para siluman kaki tangan Ratu Hangcinda maka mereka akan melapor kepada para datuk (inye’).

21. Lolita

image

Awalnya dia adalah sahabat Pitaloka. Suatu hari Pitaloka pernah sekali menampar wajahnya karena Lolita memanasi perasaan Pitaloka kalau Gumara lebih tertarik kepada Karina ketimbang dirinya. Tak disangka karena peristiwa itu Lolita menaruh dendam kesumat kepada Pitaloka. Ketika Pitaloka diajak Puspa (ibu Pitaloka) untuk tinggal bersama di Desa Saga, Pitaloka terkejut karena ternyata Lolita pun adalah gadis keturunan wanita Saga. Dan Lolita mulai melancarkan dendamnya. Dengan berbagai cara Lolita berusaha meyakinkan Ratu Saga bahwa Pitaloka sebenarnya adalah anak seorang inye’, yaitu Datuk Abu. Untung saja Puspa yang cerdas sudah mengantisipasi ciri keturunan inye’ yang melekat di belakang leher  Pitaloka dengan cara menghilangkannya sebelum Pitaloka memasuki Desa Saga. Ratu Saga percaya pada ramalan leluhurnya kalau Desa Saga suatu hari nanti akan dihancurkan oleh gadis pintar keturunan inye’. Sebenarnya gadis yang dimaksud tak lain adalah Pitaloka. Dan Lolita terus menghasut Ratu Saga agar Pitaloka dan Puspa dijebloskan ke dalam penjara. Meskipun Gumara berhasil membuat perjanjian damai antara para inye’ dan penduduk Desa Saga, Lolita tetap saja menaruh dendam kepada Pitaloka dan juga Puspa. Sampai suatu hari Lolita tanpa sengaja bertemu dengan Ratu Hangcinda, wajahnya dihisap oleh Ratu Hangcinda di hadapan Putri Semidang Rindu yang kebetulan baru pulang dari perantauannya. Alhasil wajah Lolita pun menjadi tua. Sepulangnya ke Desa Saga, Lolita memfitnah Puspa kalau Puspa yang telah melakukan perbuatan tersebut kepadanya agar Ratu Saga kembali menjebloskan Puspa ke dalam penjara. Segera Puspa melarikan diri agar ia tak dikurung untuk kedua kali. Setelah penyerangan Panglima Artaya yang diperintahkan oleh Ratu Hangcinda untuk merebut bedak milik Ratu Saga, barulah Lolita mengakui kalau Ratu Hangcinda yang telah menghisap wajahnya sehingga ia menjadi tua. Ratu Saga lantas mengajaknya untuk merebut kembali bedak miliknya dari tangan Ratu Hangcinda.

22. Puyang Maut

image

Ini dia salah satu tokoh antagonis yang tampangnya menyeramkan. Puyang Maut adalah adik Ratu Hangcinda. Ia dipercaya memiliki kemampuan dapat menghidupkan kembali orang mati. Ketika Karina mengalami mati suri gara-gara dikubur hidup-hidup oleh Tudung Merah, Datuk Lebai Karat memohon kepada Puyang Maut agar bersedia menghidupkan Karina kembali. Puyang Maut menerima permintaan Datuk Lebai Karat dengan syarat Datuk Lebai Karat bersedia menikahinya. Belum terlaksana apa yang diinginkannya, Gumara langsung membinasakan Puyang Maut begitu saja. Datuk Lebai Karat sangat marah kepada Gumara atas apa yang telah diperbuatnya. Ajaib, tak berapa lama setelah Gumara meminta ayahnya itu untuk berdoa, Karina pun hidup kembali. Anehnya perilaku Karina tidak seperti biasanya. Gumara tahu kalau dalam tubuh Karina terdapat roh Puyang Maut. Akan tetapi Datuk Lebai Karat enggan mempercayainya. Datuk Lebai Karat malah melarang Gumara untuk mendekati Karina. Ia khawatir Gumara akan mencekik Karina dengan alasan akan mengeluarkan Puyang Maut dari dalam tubuh Karina. Raja Langit yang dititipi ilmu inye’ milik Lebai Karat diminta menjaga baik-baik Karina selama di sekolah. Pada kesempatan itulah Gumara memberitahu perihal Puyang Maut dalam tubuh Karina kepada Raja Langit. Raja Langit percaya kepada Gumara. Sialnya Raja Langit harus mengalami penyiksaan oleh Datuk Lebai Karat ketika ia tertangkap basah tengah mencekik Karina guna mengeluarkan roh Puyang Maut dari dalam tubuh Karina. Raja Langit diikat dengan rantai pada sebatang pohon di halaman rumah Datuk Lebai Karat. Ia bahkan tak diberi makan maupun minum. Raja Langit sama sekali tak melawan karena ia merasa berhutang budi kepada Datuk Lebai Karat oleh sebab ia tengah meminjam ilmu sang ketua inye’ itu. Akhirnya roh Puyang Maut berhasil dikeluarkan dari dalam tubuh Karina pada saat roh tersebut melakukan ritual meditasi yang biasa dilakukannya setiap malam bulan purnama. Semua berkat Datuk Tunggal yang mengetahui kebiasaan Puyang Maut. Puyang Maut tidak mati begitu saja. Bersama Ratu Hangcinda dan para siluman lainnya ia mengikuti konspirasi yang telah direncanakan sang kakak. Akankah usaha mereka berhasil? Kita lihat saja kelanjutannya!

23. Ratu Kala

Ketika Gumara dan Raja Langit melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menjemput Pitaloka dan Ratna yang mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional, di tengah perjalanan menuju Bengkulu minibus yang mereka tumpangi dihadang oleh siluman, yang tak lain adalah Ratu Bukit Manau. Siluman itu menjelma menjadi wanita biasa dan berpura-pura tertabrak. Gumara yang menyadari keadaan ini mengambil alih kemudi walaupun ban minibus bocor. Siluman itu tak hentinya mengganggu, secara paksa ia menculik bayi penumpang paling depan. Gumara dan Raja Langit segera mengejarnya. Dengan jurus harimau api yang maha dahsyat, Gumara berhasil membunuh Ratu Bukit Manau. Rupanya ibu dari sang bayi memang telah bersekongkol dengan ratu siluman itu sebelumnya. Tak disangka kalau saudara kembar Ratu Bukit Manau, yaitu Ratu Kala yang merupakan siluman kalajengking mencari Datuk Lebai Karat guna menuntut balas kematian Ratu Bukit Manau. Bersama para pengikutnya (siluman kera, siluman kelelawar, dan siluman ular), Ratu Kala turut bersekongkol dengan Ratu Hangcinda. Ratu Kala semakin gencar melakukan penyerangan ke Desa Kumayan dengan menakut-nakuti para warga dengan wujudnya sebagai kalajengking raksasa. Setelah bertarung melawan Pitaloka dan Karina yang dianggap menyembunyikan Datuk Lebai Karat darinya, mereka meringkus kedua gadis tangguh tersebut dan juga Ratna. Untunglah Rindu datang menolong dan berpura-pura mengaku kalau dialah yang telah membunuh Ratu Bukit Manau. Rindu pun menjadi tawanan Ratu Kala. Dalam perjalanan menuju kerajaan mereka, Ratu Hangcinda muncul untuk menegaskan kalau Rindu adalah putri tunggalnya. Ratu Kala pun menjadi segan menghukum Rindu. Akankah dia tahu kalau pembunuh Ratu Bukit Manau yang sebenarnya adalah Gumara?

24. Medi

image

Jagoan kecil ini harus diperhitungkan! Suatu hari ketika Medi sedang berkemah bersama teman-temannya di tepi hutan, Medi mengambil jantung pisang yang kebetulan tempat pembuangan ilmu magic milik Raja Langit yang dibuang oleh Datuk Tunggal. Jantung pisang itu lalu dimasaknya dan dimakannya dengan sangat lahap. Aneh, tiba-tiba saja tubuhnya mendadak kejang-kejang dan mengamuk seperti kerasukan harimau. Ilmu Raja Langit telah berpindah ke dalam tubuhnya. Hanya Gumara yang bisa memulihkan keadaannya agar menjadi tenang. Tak lama setelah itu Medi kerap membolos dari sekolah untuk berguru ilmu hitam kepada Ki Rotan di tengah hutan. Ia sempat diajarkan jurus bola api oleh kakek tua brengsek itu. Setelah Medi mengetahui kalau Ki Rotan memiliki itikad yang tidak baik terhadap para warga Kumayan, Medi pun sadar dan ingin membantu Gumara menghadapi serangan-serangan yang melanda Kumayan. Kadang-kadang Medi mengalami percekcokan dengan Arsya karena Arsya sering meremehkannya. Bahkan setelah Medi mengajarinya jurus bola api yang dikuasainya pun, Arsya malah balik menyerangnya sehingga pertarungan pun terjadi. Seiring berjalannya waktu karena adanya serangan demi serangan yang dilakukan oleh Ratu Hangcinda, Arsya dan Medi pun menjadi rukun walau kadang-kadang mereka masih terlibat pertengkaran kecil.

25. Ratih

image

Sejak Gumara kecil Ratih sudah mengetahui kalau kelak Gumara akan menjadi harimau seperti ayahnya. Oleh karena itu Ratih sengaja memberi Kitab Tujuh sebagai hadiah ulang tahun Gumara yang ketujuh. Dengan harapan kitab tersebut akan senantiasa memberi keselamatan kepada Gumara. Saat Gumara mulai berubah menjadi harimau, Ratih dan ibunya berusaha menyelamatkan Gumara dari setiap orang yang mengincarnya. Ratih pun terpaksa memenuhi keinginan putra tunggalnya itu untuk mutasi ke Kumayan. Ratih memberi wejangan agar begitu setibanya di Kumayan, Gumara langsung menemui Datuk Lebai Karat untuk meminta izin tinggal di Kumayan sekaligus meminta perlindungan. Ratih tidak mengatakan kepada Gumara kalau Datuk Lebai Karat adalah ayah kandung Gumara. Saat Gumara berkunjung ke Jakarta dan akan kembali ke Kumayan, Ratih meminta ikut serta karena ia masih rindu dengan Gumara. Maka bertemulah kembali ia dan Gumilang (Datuk Lebai Karat) lelaki yang telah memberinya keturunan. Cinta lama pun bersemi kembali. Selama puluhan tahun Ratih memendam rindu yang begitu dalam kepada Gumilang. Akankah cinta mereka bersatu kembali? Kita lihat saja!

26. Maysumai

image

Empat manusia kerdil ini mudah berpindah majikan. Tergantung siapa yang berhasil menakut-nakuti mereka. Kadang mereka takut kepada para inye’ tapi kadang pula tunduk kepada Ratu Hangcinda. Ciri khas mereka yang membuat mereka lucu adalah mereka sering menyerukan kata “WADUH” secara bersamaan dengan mimik tercengang.

27. Panglima Artaya
image

Raja Langit sering memanggilnya si muka rendang. Ia adalah panglima pasukan Ratu Hangcinda. Ia sekutu Ki Rotan dan juga cs-nya. Namun sayangnya kekuatannya tidak seberapa dengan para inye’.

28. Putri Tebat Hijau
image

Sahabat Hangcinda ini berasal dari Bukit Siguntang Palembang. Ia amat mencintai bunga dan juga musuh bebuyutan Datuk Tunggal. Konon ia sudah hidup ratusan tahun lamanya. Sebenarnya dulu ia adalah saingan Ratu Hangcinda dalam memperebutkan cinta Pangeran Lampung. Hanya karena berhutang budi kepada Hangcinda yang pernah membantunya membangun istana di Siguntang, Tebat Hijau bersedia membantu Ratu Hangcinda untuk melawan para inye’.

29. Jelatang
Ia adalah siluman tokek berasal dari Dusun Tiga Panggung yang sangat mencintai Rindai, bunga desa di Dusun Ujung Tanjung. Karena Rindai mencintai Raja Langit yang telah membebaskannya dari penculikan Hangcinda, Jelatang jadi memusuhi Raja Langit. Tidak hanya itu Jelatang pun bersekongkol dengan Datuk Pungkah dari Dusun Pasir Panjang untuk menghabisi para inye’. Ia tidak sadar kalau dirinya tengah dipengaruhi Ki Rotan dan Hangcinda.

30. Datuk Pungkah
Dukun sakti dari Dusun Pasir Panjang ini diperalat oleh Ki Rotan dan Hangcinda untuk memusuhi para inye. Ia berhasil membutakan mata Pitaloka dengan serbuk getah beracun yang dibuatnya. Sasaran utamanya saat itu sebenarnya adalah Karina guna memancing kemarahan Datuk Lebay Karat padanya. Datuk Pungkah juga merupakan sahabat lama Ki Karim atau Ki Panca, dukun sakti dari Jakarta yang sudah lama mengincar tulang sengkang yang dimiliki oleh Gumara.

31. Ki Karim atau Ki Panca
Dia adalah dukun sakti dari Jakarta. Dia pernah menculik Pitaloka dan Ratna guna memancing Gumara dan Raja Langit. Ia sangat menginginkan tulang sengkang yang dimiliki oleh Gumara untuk menambah kesaktiannya dan membuatnya semakin disegani oleh para pejabat yang meminta perlindungan darinya sehingga para pejabat itu dapat bertahan lama menduduki jabatan mereka. Sebelumnya Ki Karim pernah mengutus Farah melalui kaki tangannya untuk menyelidiki keberadaan para inye’ di Bengkulu. Sayangnya Farah tidak tahu apa-apa. Farah hanya tahu kalau dirinya ditugaskan sebagai antropolog. Setelah sekian lama akhirnya Ki Karim muncul di Kumayan dan mengaku bernama Ki Panca melalui undangan Rahman, salah satu developer PT. Barisan Jaya yang tak lain adalah anak buahnya sendiri. Di sinilah konflik dengan para inye mulai meruncing. Ia dipertemukan kembali dengan Gumara dan Raja Langit. Ki Karim juga bersekongkol dengan Datuk Pungkah agar mendapatkan tulang sengkang yang diincarnya. Salah satunya adalah dengan cara menembak menggunakan peluru emas yang merupakan kelemahan para inye.

32. Erick Laksana

image

Tokoh ini diperankan oleh Samuel Rizal. Dia adalah seorang pemuda kota dari Jakarta yang diutus perusahaannya, PT. Barisan Jaya untuk melaksanakan program pembangunan di Bengkulu. Setibanya di Kumayan, Erick langsung jatuh cinta kepada Pitaloka. Dan iapun terlibat permasalahan dengan para siluman penunggu hutan mati, hutan keramat Desa Kumayan yang akan kena gusur oleh PT. Barisan Jaya. Demi menyelamatkan nyawanya dan juga kelancaran program pembangunan perusahaannya Erick meminta perlindungan kepada para inye. Terlebih setelah ia sengaja difitnah Rahman, seniornya di PT. Barisan Jaya yang berusaha menyingkirkannya.

33. Rahman (pada beberapa episode selanjutnya diganti menjadi Arman)

image

Ia adalah senior Erick di PT. Barisan Jaya yang juga murid Ki Karim/Ki Panca. Namun Erick tidak mengetahui hal ini. Banyak skandal yang diperbuat oleh Rahman. Ia menggelapkan dana pembangunan PT. Barisan Jaya yang dipintanya dari Resta (bendahara PT. Barisan Jaya) dan seharusnya digunakan untuk melaksanakan pembangunan di Bengkulu, khususnya Kecamatan Kayu Lima. Suatu hari karena kesal kepada Ki Panca yang sering bersikap sewenang-wenang terhadapnya, pada suatu kesempatan saat Ki Panca berusaha menjebak Datuk Lebay Karat agar ia berubah menjadi harimau dan bermaksud akan menembak harimau jelmaan Datuk Lebay Karat dengan peluru emas yang dimilikinya, Rahman berhasil membunuh Ki Panca dan merebut pusaka keramat yang dimiliki oleh lelaki tua itu, yaitu cincin sakti yang dapat mengubahnya menjadi kuat dan menguasai ilmu sihir. Ia pun menyamar menjadi pendekar seribu wajah untuk menyingkirkan para inye dan mendapatkan tulang sengkang milik Gumara yang selama ini diincar oleh Ki Karim. Wataknya yang culas dan picik malah memfitnah Erick kalau Ericklah murid Ki Karim/Ki Panca yang selama ini memusuhi para inye.

34. Ki Kembar

image

Mereka adalah dua pendekar bersaudara dari padepokan Naga Merah. Suatu hari Karina yang kabur dari rumah ditemani Limbubu karena ingin pergi berguru agar dapat menjadi pendekar hebat, mereka berdua diperdaya oleh Tebat Hijau yang menyamar sebagai Wedang Leha wanita tua berpenampilan lusuh yang bersedia menjadi guru Karina dan Limbubu dengan syarat Karina dan Limbubu harus mencuri Kitab Naga Merah yang dimiliki pasangan Ki Kembar dan Nyi Kembar. Suatu kebetulan saat Karina dan Limbubu tiba di Padepokan Naga Merah, kedua pasang orang tua kembar itu sedang tidak ada. Sehingga Karina dan Limbubu dapat mengambil kitab tersebut dengan mudah. Setelah Gumara memberitahu Limbubu tanpa sepengetahuan Karina bahwa mereka telah diperdaya oleh Tebat Hijau, keduanya sepakat untuk meminta maaf kepada Ki Kembar yang telah berhasil mengambil kembali Kitab Naga Merah dari tangan mereka. Karina dan Limbubu juga bermaksud untuk berguru kepada Ki Kembar. Awalnya Ki Kembar menolak mereka berdua sebagai murid namun kemudian mereka memberi syarat, yaitu Karina dan Limbubu harus merampas kalung naga yang dipakai oleh Wedang Leha yang asli. Yup, ternyata Wedang Leha benar-benar ada. Dia adalah gadis yang selama ini senantiasa membantu Karina dan Limbubu selama dalam pengembaraan. Karina tidak tega mencuri kalung naga dari Wedang Leha tetapi pada akhirnya ia berhasil mendapatkannya. Tak lama setelah itu Ki Kembar menyuruh Karina dan Limbubu untuk bersemedi di Bukit Kaba. Bukit yang pernah diambil batu belerang hijaunya oleh para datuk untuk menyelamatkan warga Kumayan yang terserang penyakit kulit yang mematikan akibat ulah perbuatan Ratu Hangcinda. Ternyata selama ini Ki Kembar juga sangat menginginkan Kitab Tujuh yang dimiliki Gumara. Maka mereka mendatangi Gumara untuk meminta kitab tersebut. Gumara yang lemah setelah terbebas dari penculikan Ratu Elang, membohongi kedua kakek kembar itu bahwa Kitab Tujuh yang mereka inginkan telah dibawa pergi oleh Ratu Elang. Beberapa saat setelah itu Gumara sakit parah hingga mengalami koma. Di saat itu Rindu datang untuk melihat keadaannya. Ki Kembar pun memasuki kamar Gumara setelah mereka menyadari kalau mereka berdua telah tertipu oleh Gumara. Rindu yang ingin menjaga Gumara terpaksa melakukan pertarungan dengan Ki Kembar hingga menyebabkan salah satu di antara mereka tewas. Setelah kejadian itu Ki Kembar yang tersisa menyangka kalau Rindu adalah gadis Kumayan. Oleh karena itu ia menculik para gadis Kumayan guna menuntut balas atas kematian saudaranya.

35. Dasa Laksana
image

Kehadirannya telah lama dinantikan oleh para penggemar novel 7 Manusia Harimau. Konon dia adalah pemuda tampan yang menjadi pihak ketiga antara hubungan Gumara dengan Pitaloka. Semenjak pertemuannya dengan Pitaloka gara-gara disandera oleh siluman laba-laba, Dasa Laksana bertekad untuk bertemu dengan gadis bertemperamen keras itu lagi. Dasa Laksana telah jatuh cinta kepada Pitaloka karena ketangguhannya. Dalam versi novel diceritakan kalau Dasa Laksana sengaja berguru kepada Datuk Abu demi mendekati Pitaloka. Pitaloka pun sempat tertarik kepadanya, meski hatinya selalu menyebut nama Gumara. Dasa Laksana juga adalah sosok tempat pelarian bagi Pitaloka saat Gumara mengabaikannya. Tokoh Dasa Laksana diperankan oleh aktor tampan kaliber internasional Anthony Xie, setelah pencarian yang panjang.

Fiuh! Cukup sekian dulu ya pemirsa liputan khusus ‘7 Manusia Harimau’-nya. Soalnya jari-jariku udah capek nih ngetik terus. Mau pijitin enggak? Jangan lupa komentar ya, terima kasih atas kunjungannya! Salam ….  😀

God’s Infinite Justice

image

Once a pumpkin farmer had just finished working on his farm. He decided to take a break under a shady rubber tree. He sat down on  the ground and leaning on a tree trunk. He wag his hat to his chest  that swelter because the air temperature was very hot on that  afternoon. Long he observed rubber fruit hanging on the tree. For a moment he thought. Then he muttered, “If I watched carefully, this rubber fruit shape is very similar to a pumpkin that I have already harvested. But why does God unjust? Fruit pumpkin large size while the stems of plants are very small. Then the rubber fruit size is small while the trunk is large enough. God was not fair!” The farmer was disappointed to god.

Old pumpkin farmer was shocked in his thoughts. Until the end, he realized that a rubber fruit that had been observed was falling because slammed by wind. And …

TUCK!

“Aaaw …” cried the farmer.

Rubber fruit that fell squarely on his head. Then it was back muttering pumpkin farmer.

“Oh, it turns out that God is infinite justice! If the rubber fruit that fell on my head the size of pumpkins that I harvested, it  would have broken my head!”

The old farmer was then immediately got up and packed up his crops as soon as possible. He wanted to go home in order to pray and give thanks to God for justice shown by his god.