Tahun Kesebelasku di Kalimantan

image

Kemarin aku bertemu Pak Arif, pimpinanku semasa aku mengajar di SMANBA (2005-2013). Beliau menanyakan kabarku dan kami pun mengobrol seputar bimbingan belajarku di rumah. Akupun bercerita kalau akhir bulan nanti akan pergi ke Pulau Jawa entah untuk seberapa lama. Beliau berpesan sama seperti dulu setiap aku akan pulang ke Bogor, kota kelahiranku. “Kalau sudah minum air Kalimantan, pasti tidak akan betah di Jawa!” tutur beliau seraya menceritakan pengalamannya yang juga kerap tidak betah berlama-lama meninggalkan Kalimantan. Jujur kuakui beliau adalah orang yang bijak, karena beliau tidak pernah memandang manusia dari latar belakang pendidikannya melainkan dari kapasitas kemampuannya meskipun pendidikan orang tersebut sangat rendah. Buktinya meskipun pada 2005 silam aku masih tamatan SMA namun beliau menerimaku untuk mengajar di SMANBA. Sebab beliau mengakui kapasitas kemampuanku dalam mengajar. Pun demikian dengan penilaian para rekan guru pada masa itu, mereka turut mengacungi jempol atas bakat alamiahku dalam mengajar. “Kami salut dengan Pak Sugih, meskipun baru lulus SMA tapi Pak Sugih memiliki jiwa seorang guru. Sedangkan kami yang sudah sarjana saja masih canggung menghadapi murid!” begitulah kata rekan-rekanku sepuluh tahun silam.

Waktu memang terus bergulir, tanpa terasa kini aku sudah sebelas tahun lamanya menetap di Pulau Kalimantan. Selama tahun 2004-2008 aku masih menikmati perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor sedikitnya setahun sekali. Selepas itu aku tak pernah lagi pulang ke kota yang dijuluki sebagai kota hujan itu. Kini aku merasa sangat rindu, rindu sekali, rindu yang sangat berat yang kupikul selama tujuh tahun ini. Bayangkan, Bang Toyib saja meninggalkan kampung halamannya hanya tiga tahun. Sedangkan aku jauh lebih parah darinya! Hadeuh… 

Setelah aku resign dari SMANBA pada Juni 2013, sekitar empat bulan yang lalu akupun resign dari SDN Bangun Jaya. Aku memutuskan untuk berhenti berkiprah di sekolah. Bukan karena aku bosan mengajar. Melainkan karena rasa jenuh tinggal di Kalimantan yang sangat sunyi. Entah mengapa aku merindukan keramaian, hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, dan suasana pasar yang senantiasa padat oleh pengunjung. Aku berpikir untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang master/pasca sarjana (S2) di Pulau Jawa ataupun mencari beasiswa ke luar negeri. Dan aku pikir beasiswa itu kini tengah berada dalam genggamanku, karena aku telah memenuhi semua kualifikasinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengambilnya.

Semua orang di sekitarku amat menyayangkan keputusanku. Pasalnya saat ini bimbingan belajar yang telah kudirikan selama sebelas tahun lamanya tengah berada di puncak kejayaan. Dulu susah payah aku merintisnya dengan peluh keringat mengetuk pintu dari rumah ke rumah guna mencari pelanggan dan hanya dengan berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya jalan yang kutempuh aku terus berupaya menghimpun kepercayaan masyarakat bahwa aku adalah ‘teman’ yang tepat untuk membimbing putra-putri mereka dalam belajar. Akhirnya aku berhasil membuktikan bahwa siswa-siswi hasil bimbinganku mampu menjadi anak yang cerdas sesuai harapan orang tua mereka. Banyak sekali murid bimbinganku yang menjadi juara kelas, juara tiga besar, juara olimpiade SAINS, juara debat Bahasa Inggris, juara pidato Bahasa Inggris, juara telling story, dan segudang prestasi lainnya. Kini aku tak perlu lagi melakukan seperti apa yang dulu pernah kulakukan. Cukup berongkang kaki di rumah menunggu para pelangganku datang dengan sendirinya. Keunggulan bimbingan belajarku telah tersebar dari mulut ke mulut. Mungkin akulah orang yang selalu dicari masyarakat guna ‘menitipkan’ anak mereka di bimbingan belajarku. Meskipun bimbingan belajarku ini tidak terdaftar secara resmi di dinas pendidikan. Terbukti berdasarkan survey orang tua murid yang datang kepadaku, mereka mengatakan bahwa bimbingan belajarku adalah bimbingan belajar teramai di kecamatan kami, Balai Riam. Terlebih lagi aku memberikan pelajaran bahasa asing di bimbingan belajarku antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Pelajaran bahasa asing tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak bangku sekolah dasar dan menengah yang ingin melihat dunia luas.

Berhenti mengajar di dua sekolah yang kucintai bukan berarti hubunganku dengan kedua sekolah tersebut putus begitu saja. Bagaimanapun aku masih membina hubungan baik dengan rekan-rekan kerjaku. Sebab bagiku mereka adalah keluargaku sendiri tempat aku berkeluh-kesah selama ini. Saat mengundurkan diri aku berpamitan secara baik-baik dan berusaha meninggalkan kesan yang baik. Pimpinanku bahkan berpesan kepadaku, “Kalau ada waktu berkunjunglah ke mari! Kita ngobrol-ngobrol lagi seperti dulu!” rekan-rekan sesama guru masih sering bertemu denganku dan selalu bertegur sapa di jalan. Terkadang mereka mengirimiku pesan melalui SMS, WhatsApp, dan lain sebagainya agar aku mau mengunjungi mereka di sekolah. Uniknya meskipun aku sudah mengundurkan diri, aku merasa seperti masih mengajar di sekolah. Guru-guru dan kepala sekolah kerap datang menemuiku di rumah untuk meminta pertolongan kepadaku.

“Tolong latih anak-anak debat Bahasa Inggris ya Pak Sugih! Sekalian dampingi mereka saat lomba nanti di kabupaten!” 

“Pak, ada waktu nggak? Tolong bimbing anak-anak buat persiapan menghadapi Olimpiade SAINS bulan depan!” 

“Saya mau lanjut kuliah S2, bisa tidak saya les Bahasa Inggris sama Pak Sugih? Tolong bantu ya!”

“Bersediakah Pak Sugih mengoreksi Bahasa Inggris dalam tesis saya? Maklum, saya ndak bisa Bahasa Inggris!”

Tanganku selalu terbuka membantu mereka selagi aku mampu melakukannya. Aku heran mengapa selalu aku yang mereka cari? Seolah-olah hanya aku yang bisa diandalkan. Akan tetapi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang mereka berikan kepadaku, bukan?

Terus terang saat ini aku merasa berada di persimpangan jalan. Aku tengah berdiri dihadapkan  di antara dua pilihan : mengambil beasiswa ke luar negeri yang selama ini kuimpikan atau terus mengembangkan usahaku di dunia pendidikan di Kalimantan. Aku benar-benar dilema hingga mengalami insomnia berbulan-bulan lamanya. Bila aku mengambil beasiswa akankah aku bisa bertahan dengan keadaan di luar sana? Aku takut setibanya aku di luar negeri nanti aku akan mengalami homesick, culture shock, dan kerinduan yang mendalam kepada dunia yang tengah kujalani seperti sekarang ini. Tetapi ini adalah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi seperti saat aku lulus SMA pada 2004 lalu. Ya, dulu aku begitu bodoh melepas beasiswa ke Jepang yang sangat aku dambakan begitu saja. Sampai akhirnya aku berubah, aku tak lagi menginginkan untuk dapat berkuliah di Jepang. Bila suatu masa itu datang, aku hanya ingin berjalan-jalan di Jepang. Negara yang ada dalam pikiranku saat ini adalah Finlandia. Aku ingin melanjutkan program master di sana. Negara pencipta Angry Bird, game yang senantiasa membuatku tertawa di kala aku jenuh dengan pekerjaan. Bagiku Jepang dan Finlandia seperti dua surga yang terpisahkan dari Indonesia. Keduanya sangat menyejukkan mata.

Di sisi lain aku ingin mengabulkan harapan mama, mendirikan bimbingan belajar resmi di sebuah kota kecil tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dan aku sudah memiliki cukup modal untuk membukanya. Kalimantan memang prospek masa depan bagi kami. Kami akan menjadi pioneer di bidang kami. Karena staf pengajar di bimbingan belajar kami hanya kami berdua, aku dan mama. Akan tetapi bila aku tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, aku pikir aku takkan lagi mendapatkan kesempatan yang kedua kali. Terlebih usiaku akan semakin bertambah tua pastinya. Manakala akupun sudah kecewa kepada pemerintahan Presiden Jokowi yang telah membekukan penerimaan pegawai negeri sipil hingga 5 tahun ke depan nanti. Tidakkah ini berarti beliau tidak memberiku kesempatan untuk menjadi pegawai negeri? Padahal hatiku sudah mantap dan yakin kalau tahun 2015 ini aku bisa lolos tes penerimaan CPNS. Akh, aku tidak akan mempermasalahkan kebijakan yang dijalankannya. Bagiku yang penting aku masih memiliki masa depan.

Dua pilihan yang harus kutentukan, harus segera kuputuskan. Aku tidak ingin mengambil salah jalan. Karena keduanya menyangkut masa depan. Dalam dingin gelapnya malam, lagi aku menikmati insomnia yang membuatku diam terpekur karenanya.

Balai Riam, 15 Februari 2015

Nenek Meninggal

Kira-kira 2 minggu lalu tersiar kabar dari keluarga di Pulau Jawa bahwa Umi Ating (bibinya mama) meninggal dunia. Meskipun beliau bukan nenekku secara langsung namun kabar duka tersebut sangat membuatku terpukul. Pasalnya sudah 6 tahun aku tidak bertemu beliau dan kini di saat aku merindukannya, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Tidak ada suara burung gagak yang biasanya mengabari kami bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Tidak ada mimpi gigi tanggal sebagai pertanda yang dapat kami tafsirkan. Tidak ada nasi yang selalu menjadi basi sebagai mitos kepercayaan orang Sunda bila akan kehilangan seseorang. Ya, kabar itu tiba-tiba datang begitu saja. Hari-hari sebelumnya saat aku mengajar murid lesku, entah mengapa aku mencium bau napas Umi Ating yang sangat kukenal. Aroma napasnya adalah aroma napas orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran. Begitulah biasanya yang dilakukan oleh nenekku itu.

Keluargaku adalah keluarga besar. Hampir semua keluarga dari kakek (ayahnya mama) berprofesi sebagai tentara dan guru. Dan satu dari kedua profesi tersebut menurun padaku. Umi Ating adalah adik kakek nomor pertama dari sekian jumlah bersaudara yang tidak kuketahui pasti saking besarnya keluarga kami. Beliau adalah seorang pensiunan guru pengajar Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Kedekatanku dengan beliau bermula ketika aku akan mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan SD yang pada masa itu dikenal dengan istilah EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Beliau banyak memberiku ilmu guna menghadapi EBTANAS. Dan subhanallah hasilnya dari 5 mata pelajaran yang diujiankan nilai rata-rataku kontan di atas 8,5 hampir menembus 9 dengan nilai tertinggi Matematika 9,5. Padahal sebenarnya aku ingin sekali bisa menyaingi kepintaran mamaku yang nilai rata-rata EBTANAS-nya menembus angka 10 pada masa SD-nya. Tapi apalah daya kemampuan otakku hanyalah separuh kemampuan otak mamaku.

Umi Ating selalu rutin memberiku bimbingan pelajaran termasuk materi agama. Karena beliau dikenal sebagai pemuka agama di daerah kami. Setiap kali kami bertemu hal pertama yang beliau tanyakan padaku adalah, “Apakah kamu sudah shalat, Sugih?” Bahkan Umi Ating selalu mengajariku mengaji Al-Quran beserta ilmu tajwid yang terkandung di dalamnya. Masih kuingat dengan jelas beliaulah orang pertama yang memberitahuku tentang huruf-huruf qolqolah dengan rumus ‘bajuditoko’. Beliau juga yang menceritakan kisah para nabi yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Beliau sangat praktis dan sistematis saat mengajar sehingga ilmu yang ditransferkan sangat mengena dan membekas dalam ingatan.

Sebelum masuk SMP, pada suatu sore Umi Ating mengajakku melihat sebuah sekolah negeri terfavorit di kota kami. Menurut cerita mama, dulu mama sangat berkeinginan bisa bersekolah di sana namun mama gagal karena tidak mampu secara finansial. Lalu Umi Ating bercerita pula kepadaku kalau sekolah yang sedang kami lihat itu banyak menghasilkan artis-artis ternama ibukota. Hatiku pun tergugah ingin bisa masuk ke sana. Alhamdulillah sekolah tersebut menerimaku karena NEM (Nilai Ebtanas Murni)-ku di atas passing grade sekolah tersebut. Mamapun bangga kepadaku.

Setelah aku masuk SMP, jujur aku sangat minder karena teman-temanku mayoritas berasal dari kalangan kelas atas. Banyak dari mereka yang merupakan anak pejabat, dosen perguruan tinggi terkemuka, ilmuwan peneliti, pengusaha, dan artis terkenal. Hal yang membuatku sedih kala itu aku sangat tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris namun teman-temanku mencemooh pronunciation-ku setiap aku berlatih speaking. Kata mereka apa yang kuucapkan hanyalah cuap-cuap tak jelas. Lantas mereka memamerkan kemampuan mereka berbahasa Inggris hasil dari pengalaman tinggal di luar negeri bertahun-tahun. Kuakui kemampuanku masih nol dibandingkan mereka. Bahkan untuk mengucapkan nama ‘George’ saja aku menyebutnya dengan kata ‘Geyorj’. Di saat itulah aku yang sebenarnya sudah berhenti les pada Umi Ating kembali berguru kepada beliau dan rela menemui beliau satu minggu 3 kali dengan menaiki angkot yang jaraknya 20 km dari tempat tinggalku. Umi Ating dengan tangan terbuka menerimaku kembali sebagai murid dengan catatan akupun harus belajar agama pada beliau. Bila aku bermalam di rumahnya, Umi Ating pasti akan memasakkan semur jengkol kesukaanku walaupun kuakui masakan beliau selalu kurang garam atau vetsin. Kata Umi vetsin dan garam bisa mengurangi kecerdasan otak. Setelah beberapa bulan aku mengikuti les bahasa Inggris, Umi Ating berpesan padaku kalau sebenarnya aku mampu belajar bahasa Inggris secara otodidak (tanpa guru) karena beliau pun dulu belajar sendiri hanya dengan cara mempelajari buku. Umipun memberi motivasi kepadaku agar aku jangan minder di sekolah, aku harus menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku mampu menyamai bahkan melebihi kemampuan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti saran beliau. Selain aktif berbicara bahasa Inggris dengan guru di sekolah, akupun mulai terjun mengikuti organisasi English Club di RRI. Alhamdulillah nilai bahasa Inggrisku di rapor selalu mendapat angka 9. Dan ketika SMA karangan bahasa Inggrisku selalu mendapat nilai excellent. Teman-teman yang dulu pernah mencemooh kemampuan bahasa Inggrisku semasa SMP berbalik menyanjungku dan mengagumi kemampuanku. Hingga akhirnya kini aku telah menjadi seorang guru bahasa Inggris. Semua berkat Umi.

Akh, Umi…
Aku menyesal semasa Umi sakit tak sedetikpun aku berada di dekatnya. Padahal kata hatiku selalu berbisik untuk dapat bertemu dengannya. Saat kabar meninggalnya Umi kuterima aku menangis sejadi-jadinya, hingga aku tertidur dan terbawa ke alam mimpi yang mengantarkanku melihat kenangan kami bersama. Dan di saat aku terbangun dalam gelapnya kamar dini hari aku memekik. Sesosok bayangan seorang wanita tua mengenakan mukena menoleh padaku seolah tengah mengajakku, “Ayo kita shalat, Sugih!” Aku menangis dan segera berwudhu. Dalam doa tak henti kupanjatkan, “Ya Allah terimalah nenekku di sisi-Mu!” Amin.

Harus Kecelakaan Dulu Supaya Bisa Gemuk

Sorry, aku nggak bermaksud memprovokasi pembaca buat kalian melakukan hal yang sama denganku bila di antara kalian ada yang berbadan kurus dan kebetulan ingin menjadi gemuk. Tulisan ini adalah murni pengalaman pribadiku. Jadi, jangan sampai kalian terobsesi sepertiku ya. Cekidot.

Balai Riam, November 2010
Gak tahu kenapa tiba-tiba saja Bu A, rekan sesama guru, dan juga sama-sama jomblo berceletuk kepadaku : “Coba kamu sedikit gemukin badan. Pasti aku mau deh sama kamu, say!” Kata Bu A dengan nada yang teramat mesra. Kami memang seumuran, jadi sudah biasa mengakrabkan diri dengan panggilan ‘aku’, ‘kamu’, dan ‘say’. Hey, aku kan gak pernah nembak dia. Tapi kalau dipikir-pikir Bu A kan lumayan cantik, anggun, seksi, modis lagi. Aku jadi kepikiran omongannya Bu A. Kali aja kalau aku beneran gemuk, Bu A bakal menepati ucapannya. Lumayan kan dapat pacar cantik, hehehe…

Sebenarnya sih, Bu A bukan perempuan pertama yang pernah berikrar demikian. Dulu semasa SMP gebetanku, si Teja, juga pernah mengucapkan kalimat senada. Katanya begini : “Kalo elo gemuk Gih, gue mau deh jadi bokin lu! Elo pasti kelihatan lebih gagah kalo sedikit gemuk.” Pembaca gak tahu sih kaya apa cantiknya si Teja waktu SMP, Cut Syifa aja lewat dah.

Setelah kupikir-pikir, ada bagusnya juga kalau badanku sedikit gemuk. Walaupun pada kenyataannya  I love to be slim. Ada satu hal yang amat kubenci selama badanku kurus. Gak tahu kenapa sejak lulus SMA pipiku jadi kelihatan rada kempot persis kakek-kakek yang bikin fisikku kelihatan tua. Tiap kali berfoto aku malah illfeel melihat potretku sendiri. Rahang pipiku kayanya harus diketok kali ya?

Akhirnya aku bertekad untuk menggemukkan badan. Tapi masalahnya, BADANKU SUSAH GEMUK SODARA-SODARA! Tiap kali nimbang badan di kantor, jarum di timbangannya selalu nunjuk angka 50 kg! For Your Information tinggi badanku adalah 175 cm, benar-benar ideal bukan? Urgh, what the… #Nonjok tiang listrik (^_^メ)

Jujur sih, aku memang doyan makan. Tapi aku paling gak suka makan daging, baik daging sapi maupun daging ayam. Kalau mencium aroma daging sapi rasanya mual-mual. Tapi kalau makan bakso, wah itu mah hobi banget. Kalau makan ayam, aku cuma mau sayap, ceker, dan kulitnya saja. Pantat ayam? Hmm, itu bagian yang paling lezat pemirsa! Dagingnya, sebentar pikir-pikir dulu ya… Kalau masaknya disate, aku mau deh.

Jadi demi menaikkan berat badanku itu supaya Bu A menepati janjinya padaku, aku pun mulai mengatur pola makanku gila-gilaan. Setiap hari aku makan sedikitnya 5 kali belum termasuk cemilan yang selalu kusediakan dalam laci. Mie goreng, sate ayam, bakso, ayam taliwang, mie ayam, soto ayam, menjadi santapanku setiap hari. Cemilanku Silverqueen, Chitato, Taro, Keripik pedas dan lain-lain dengan ukuran serba jumbo. Hasilnya? Dalam setahun, timbangan di kantor masih menunjuk angka 50 kg. Whatdezig… #Banting timbangan.

Benar-benar bikin sebal, udah capek banyak ngeluarin duit buat bikin badan jadi gemuk hasilnya malah nihil. Sampai akhirnya pada tanggal 3 Desember 2011 saat aku melakukan perjalanan menuju Pangkalan Bun via Kotawaringin Lama, persis di depan gerbang BGA (perusahaan minyak kelapa sawit), motor yang kukendarai tergelincir gara-gara menabrak polisi tidur yang terlalu tinggi (makanya pak polisi jangan tidur tengah jalan donk!) Terang aja tergelincir, lha wong motorku matic kok, mana tebengannya rendah pula. Sialnya aku jatuh terjungkal dan tidak memakai helm (waktu berangkat sebenarnya aku pakai helm, tapi di tengah perjalanan kepalaku mendadak gatal. Jangan-jangan helmnya penuh kutu bekas dipakai adikku. Haha…) Untung tak dapat kunikahi, malang tak dapat kuceraikan, muka gantengku harus dipenuhi luka dari pipi kanan hingga dagu. Satpam BGA yang kebetulan melihat segera membawaku ke klinik perusahaan. Sudah cukup lama memang aku tidak tertimpa kecelakaan motor, padahal aku sudah mengantungi rekor dan layak memperoleh penghargaan dari MURI atas rekor jumlah kecelakaan yang kualami, bayangkan lebih dari 30 kali aku tertimpa kecelakaan dalam waktu 2 tahun sodara-sodara! #Wow, amanzing!

Kecelakaan hari itu merupakan kecelakaan terparah yang pernah kualami sepanjang catatan sejarah kecelakaan yang pernah menimpaku. Bagaimana tidak, tulang siku dan jari kelingking kananku mengalami keretakan. Sementara paru-paruku sempat berdebum beradu dengan tanah hingga mulutku mengeluarkan darah. Begitu pula dengan kakiku dipenuhi luka lecet dan luka gores persis dicakar kucing garong. Padahal 2 minggu lagi aku akan berulang tahun ke-26 waktu itu. Dokter klinik yang memeriksaku menyuruhku untuk beristirahat di rumah selama satu bulan. Beliau memberi obat-obatan yang berbeda dengan obat-obatan yang sebelumnya biasa kupakai setiap kali aku tertimpa kecelakaan.

Ajaib, tak sampai satu bulan berkat mengkonsumsi obat-obatan dari dokter itu, badanku mekar jadi agak gemuk. Rupanya obat yang kukonsumsi adalah obat penambah nafsu makan. Bayangkan, bila sebelum kecelakaan saja aku sudah 5x makan dalam sehari. Lantas berapa kali aku makan dalam sehari setelah aku tertimpa kecelakaan? Ah, gak penting! Yang penting sekarang aku gemuk. Horee… berhasil… berhasil… berhasil… #Jingkrak-jingkrak ala Dora the Explorer.

Namun kemalangan rupanya masih enggan kuceraikan. Setelah aku menjadi gemuk, Bu A telah mendapat gandengan lebih dulu tepat di saat aku tertimpa kecelakaan. Hiks, kenapa kecelakaannya terlambat datang, ya? Seandainya aku tertimpa kecelakaan tahun sebelumnya, mungkin Bu A sudah menjadi milikku. Oke yo weslah, aku ‘ra popo…

Before

image

After

image

image

image

Pempek Palembang yang Kurang Tenar di Kalimantan Tengah

Kira-kira 23 tahun lalu bibiku, adik mama nomor 3, pulang merantau dari Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Sebagai oleh-olehnya beliau mengajarkan mama cara membuat pempek palembang yang diwariskan oleh penduduk OKI selama beliau merantau di sana. Ternyata wow bukan main sedapnya. Karena pada saat itu bibiku mengajari mama dengan bahan ikan belida yang dibelinya langsung dari Palembang saat beliau pulang.

Ketika aku naik kelas 2 SMP, papa meninggal dunia. Mama menggantungkan harapan padaku untuk menunjang perekonomian keluarga kami. Awalnya aku membawa kacang bawang dan keripik singkong pedas buatan mama untuk kujual di sekolah. Laris manis sih, tapi lama-lama para pelanggan daganganku merasa bosan. Sampai akhirnya aku teringat kepada bibiku yang pernah mengajari mama cara membuat pempek. Maka dimulailah usahaku berjualan pempek palembang ala orang Bogor di sekolah. Hehe… 🙂

Sempat bingung sih, karena harga ikan belida di Bogor masih terbilang relatif mahal. Untungnya mama tak kehabisan ide untuk mengganti bahan yang mahal tersebut. Kami mengganti ikan belida dengan udang dan telur. Rasanya maknyos tak kalah sedap oleh rasa belida. Sejak saat itu, teman-teman dan para guru di sekolahku mendadak ketagihan pempek buatan keluarga kami.

Selang waktu berlalu, setelah aku lulus SMA dan hijrah ke Kalimantan Tengah pada 2004 silam, aku tak pernah merasakan lagi nikmatnya pempek palembang. Ternyata mencari orang yang berjualan pempek di Kabupaten Sukamara sangat sulit. Orang Palembang yang merantau ke Kalimantan Tengah mudah dihitung dengan jari. Itupun bukan untuk berjualan pempek melainkan untuk bekerja sebagai PNS. Hadeuh, kirain…

Pada tahun 2010, mama mulai menyusulku ke Kalimantan Tengah. Ide untuk membuat pempek udang pun kembali terbit setelah 6 tahun tidak menikmatinya. Awalnya aku coba-coba menawarkannya kepada rekan-rekan kerjaku di kantor. Ternyata oh ternyata makanan khas Palembang yang terkenal itu terlihat asing di mata mereka.

“Apa ini Pak Sugih?” Tanya salah seorang rekan kerjaku sesama guru di SMAN 1 Balai Riam.

“Ini kerupuk basah sukamara ya?” Tanya rekanku yang lain.

#Gubrak, masak pempek dikira kerupuk basah?

“Ini namanya pempek palembang, Bapak-bapak dan Ibu-ibu,” aku memperkenalkannya.

“Oh, jadi ini yang namanya pempek palembang?” Guru-guru memandang takjub.

“Kaya apa cara makannya?”

#Weleh-weleh, ya tinggal dikunyah di mulut tho!

Kalian tahu apa yang terjadi setelah aku memperkenalkan pempek palembang kepada rekan-rekan kerja sekantor? Bu Rina guru Tata Boga memberi pengumuman kepada murid-murid,

“Anak-anak, besok kita praktek memasak bikin pempek palembang ya!”

“Apa? Pempek palembang, Bu?” Anak-anak pun tercengang.

Yihaa… gara-gara Bu Rina memberikan pengumuman tersebut di sekolah mama mendadak kebanjiran tamu di rumah. Mama mendadak jadi seleb yang sedang naik daun dan dikerubungi oleh pers yang ingin mewawancarainya bagaimana cara membuat pempek palembang. Murid-muridku pun belajar praktek membuatnya bersama mama.

Pembaca mau tahu resep pempek udang yang kami buat? Simak ya, tapi sebelumnya kepada orang-orang Palembang saya mohon maaf bila terdapat kesalahan atau perbedaan cara pengolahan.

image

Bahan :
Sagu/tepung kanji 1 kg
Tepung terigu 0,5 kg
Udang 300 gram (haluskan)
Telur 4 butir (rebus)
Air es secukupnya
Minyak goreng secukupnya

Cara membuat pempek :
1. Pertama, siapkan air yang direbus dengan ditambah 2 sendok makan minyak goreng.
2. Lalu campurkan udang yang sudah dihaluskan tadi dengan air es. Tambahkan garam dan bumbu
penyedap. Aduk sampai tercampur dengan rata.
3. Tambahkan tepung secukupnya ke dalam adonan yang telah tercampur dengan rata tadi. Aduk hingga adonan menjadi kental dan bisa diuleni dan tidak lengket. Banyaknya sagu yang dimasukkan tergantung dari tingkat kekenyalan yang diinginkan. Supaya rasa udang lebih terasa,
jangan terlalu banyak memasukkan sagu ke dalam adonan.
4. Untuk membentuk adonannya, tangan dilumuri sedikit tepung supaya tidak lengket. Lalu bentuk adonan sesuai dengan selera. Bisa
dibuat bentuk lonjong atau diisi dengan telur.
5. Setelah itu rebus adonan yang sudah dibentuk tadi ke dalam air yang direbus dicampur dengan  minyak goreng. Rebus sampai adonan mengapung. Angkat, dan tiriskan. Bisa juga digoreng setelah ditiriskan atau dimakan langsung dengan dilumuri bumbu cuka.

Bahan untuk cuka resep pempek Palembang :
– 250 gram gula aren/gula jawa
– 50 gram air asam jawa
– 200 gram bawang putih, kupas dan dicincang halus
– 2 sendok makan ebi, haluskan. Boleh diganti dengan terasi.
– 1 liter air minum
– 15 biji cabai rawit yang sudah dihaluskan (sesuai selera kepedasan)
– garam secukupnya

Cara membuat cuka:
1. Campur gula aren dan juga air asam jawa ke dalam air. Lalu rebus sampai mendidih.
2. Campur bawang putih, ebi, cabai rawit yang sudah dihaluskan, dan juga garam secukupnya ke dalam rebusan gula aren dan asam jawa. Rebus sampai mendidih.
3. Setelah mendidih, angkat dan tiriskan.

Tingkat kepedasan tergantung dengan selera. Kalau pembaca ingin lebih pedas, bisa ditambahkan lagi cabai rawitnya. Untuk penyajiannya, pempek tadi yang sudah jadi dipotong-potong
sesuai selera. Sajikan di piring dan siram dengan cuka tadi. Kalian bisa menambahkan potongan timun. Pempek Palembang ini lebih sedap disantap saat masih hangat. Demikian resep pempek Palembang buatanku. Selamat mencoba.

Kemah Besar Kabupaten Sukamara

image

Bulan ini dalam rangka memperingati hari pramuka nasional ke-53 (meskipun sudah 3 bulan berlalu) kembali Kwarcab Sukamara menggelar agenda tahunannya, Kemah Besar Kabupaten Sukamara. Pada tahun ini Kota Sukamara sebagai ibukota kabupaten kembali menjadi tuan rumah acara akbar tersebut. Sayang sekali, pada perkemahan tahun ini aku berhalangan hadir untuk turut meramaikan acaranya, dikarenakan oleh kesibukan dengan pekerjaan. Padahal aku rindu sekali kepada pengurus kwarcab yang sudah menjadi keluarga sendiri bagiku, Kak Mat Saleh, Bunda Mamik, Bunda Julia, Kak Syahlul, Bunda Jaitun, dan pengurus kwarcab lainnya. Sudah lama kami tidak bertemu sejak perkemahan akbar tahun lalu di Desa Ajang Kecamatan Permata Kecubung.

Bersama Bunda Julia

image

Sebagai andalan ranting yang telah mendapatkan sertifikat KML (Kursus Mahir Lanjutan) dan bersiap untuk mengikuti KPD (Kursus Pelatih Dasar) aku sangat bersyukur dan bangga, karena jiwa pramuka yang kumiliki menurun kepada adik-adikku, juga adik-adik sepupuku. Padahal aku tak pernah memaksa mereka untuk turut menggeluti dunia yang sama denganku. Aku hanya sekali mengarahkan kepada mereka manfaat yang dapat mereka peroleh dari pramuka. Hasilnya, mereka sangat antusias dan tertarik dengan semua kegiatan kepanduan walaupun bukan aku yang melatihnya. Adik perempuanku yang sudah menjadi pramugari saja selalu bangga kalau ia adalah seorang anggota pramuka. Katanya, “Berkat pramuka aku mendapatkan banyak pengalaman dan mengantarkanku menjadi seorang pramugari seperti saat ini.” Bahkan untuk perkemahan tahun ini, kehadiranku diwakili oleh adik bungsuku yang baru kelas 5 SD. Adik laki-lakiku ini sangat bersemangat begitu guru-guru di sekolahnya mengikutsertakan dirinya dalam regu unggulan mereka.

Dalam satu dasawarsa ini sejak aku hijrah ke bumi Kalimantan Tengah, aku telah mengikuti lebih dari 30 kali perkemahan, baik di tingkat gugus depan maupun skala kwarcab, kwarda, dan nasional. Keluar-masuk hutan sudah menjadi rutinitasku sehari-hari, sehingga alam sudah menjadi sahabat sejati bagiku.

Beginilah suka dukanya pramuka, perut lapar euy…

image

Banyak sekali kegiatan menarik yang diselenggarakan selama perkemahan. Perlombaan baris-berbaris misalnya, dapat melatih kekompakan regu dan memupuk jiwa kebersamaan. Games yang diberikan pun selalu penuh tantangan mengasah ketangkasan, keberanian, kecepatan, dan daya pikir yang tajam. Lomba kebersihan tenda dapat menyadarkan manusia untuk senantiasa mencintai alam, membersihkan lingkungan, dan disiplin terhadap diri sendiri. Lomba karya seni dapat mengembangkan semangat berkreativitas, menghasilkan daya cipta, dan mewujudkan imajinasi. Masih banyak sekali kegiatan lainnya yang dapat diikuti selama perkemahan berlangsung. Semoga dengan adanya kegiatan perkemahan besar Kabupaten Sukamara, gerakan pramuka kwarcab Sukamara beserta kwartir-kwartir rantingnya semakin maju dan terus berkembang, mencetak tunas bangsa yang berprestasi demi mengharumkan negara, bangsa, dan agama. Amin.

Bersama Kak Farida dan Kak Fery

image

Bersama Kak Soniati, nyaris jadi jodoh hehe…

image

(Foto-foto jadul 2009)

Saat Aku Menjadi Motivator

image

Terkadang memang mudah bila kita memberi semangat kepada orang lain sehingga membuat orang lain menjadi termotivasi oleh perkataan kita. Terlebih bila pekerjaan kita adalah guru, dosen, psikolog, konsultan, ataupun pembina ekstrakurikuler. Tetapi ada kalanya juga justru malah sulit bila kita memberi motivasi kepada diri kita sendiri. Padahal kenyataannya, maju atau tidaknya diri kita untuk menjadi yang terbaik adalah berasal dari tekad diri sendiri. Kita sendirilah yang seharusnya memotivasi diri kita untuk meraih apa yang kita angan-angankan.

image

Banyak sekali hal yang kulakukan kepada orang-orang di sekelilingku agar mereka berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan mengubah kepribadian mereka yang pada awalnya tertutup, pemalu, dan pendiam menjadi berani membuka diri dan menunjukkan siapa jati diri mereka sesungguhnya.

Sebut saja beberapa kejadian yang pernah kualami antara lain :

-Aji adalah muridku yang cerdas. Ia sangat pandai Matematika. Lucunya, Aji kerap kali meremehkan soal yang dirasa mudah. Sehingga tiap kali Aji mengerjakan soal yang begitu mudah, justru ia menjadi kesulitan. Sebaliknya soal-soal yang dirasa sangat sulit bagi orang lain, Aji dapat mengerjakannya dengan begitu mudahnya. Aku tak pernah bosan untuk memberinya ‘warning’ agar Aji senantiasa teliti dalam mengerjakan soal. Akhirnya dengan segala wejangan dan ilmu yang kukuasai kuberikan padanya, Aji berhasil menjadi juara pertama olimpiade sains di tingkat kabupaten hingga provinsi. Saat itu Aji masih SD. Dan selepas SD, Aji melanjutkan sekolah ke Pontianak. Di sana Aji tinggal bersama Mbah Uti-nya. Tak disangka, Dinas Pendidikan Kota Pontianak selalu memperhitungkan nama Aji dari SMP hingga sekarang SMA. Setiap kali ada olimpiade matematika, Aji selalu diikutsertakan sebagai peserta dan tak pernah absen dari gelar sang juara. Wah, bukan main bangganya. Bila Aji menelepon menghubungi mamanya untuk melepas kangen, Aji kerap menyebutkan namaku. “Pokoknya Ma, adek harus dileskan di bimbelnya Pak Sugih! Jangan sampai tidak! Ingat Ma, Aji bisa juara semua berkat bimbingan Pak Sugih!” Aji mewanti-wanti sang mama agar adiknya yang sekarang bersekolah di SD didaftarkan les di bimbelku.

-Seorang muridku yang bernama Andhika (yang kuajar sejak SD hingga SMA) terkenal pintar dalam pelajaran SAINS, namun cenderung kaku dalam pergaulan sehingga ia tidak memiliki begitu banyak teman. Padahal sebenarnya cukup banyak teman yang mengagumi kepintarannya. Sampai akhirnya suatu hari, saat Andhika kelas VII SMP, aku sengaja menariknya untuk mengikuti seleksi Jambore Nasional 2006 di Jatinangor, aku benar-benar menggembleng karakternya. Berbagai latihan keterampilan, kecakapan diri teknik kepramukaan (tekpram), dan bimbingan mental, Andhika berhasil kuubah menjadi anak yang lebih luwes daripada sebelumnya. Akhirnya Andhika berhasil menjadi peserta Jambore Nasional 2006 berkat arahan yang kuberikan. Padahal sebelum ia terpilih, Andhika sempat bertanya kepadaku, “Apa mungkin saya mampu Pak?” Dengan tatapan meyakinkan kukatakan padanya, “Tentu saja kamu mampu, selagi kamu mau berusaha!”
Tak dinyana, sejak saat itu Andhika menjadi semakin cinta kepada pramuka dan selalu ingin memajukan pramuka di manapun ia berada.

-Saat muridku yang bernama Rahman (kelas X SMA) menjadi anak yang cenderung pemalu dan sulit bergaul, aku mengajaknya untuk mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Aku meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin. Aku terus melatihnya agar ia tidak malu berbicara di hadapan orang banyak. Dan tak sampai setahun, Rahman berhasil menjadi idola baru di sekolah karena kesupelannya dalam bergaul.

-Saat Rahmat juga muridku (kelas VII SMP) akan mengikuti lomba telling story Bahasa Inggris tingkat kabupaten, Rahmat merasa tidak yakin bahwa ia akan dapat menampilkan cerita yang harus ia bawakan. Selama beberapa bulan lamanya, aku melatih pronunciation Rahmat, gesture tubuh, dan olah vokal yang tepat saat mengisi suara berbagai karakter yang akan dibawakan Rahmat. Aku mengajarinya secara rutin dan penuh kedisiplinan setiap hari. Rahmat bahkan sempat minder dan takut kalah dalam perlombaan, di saat itulah aku mengatakan padanya, “Menjadi juara bukanlah hal yang penting. Bagi Bapak yang penting kamu mendapatkan pengalaman. Karena dari pengalamanlah kamu dapat belajar!” Akhirnya Rahmat tampil di hadapan juri dan puluhan penonton dengan penuh rasa percaya diri. Bahkan ia langsung menyabet juara ke-3, menyingkirkan puluhan peserta yang dianggap saingan berat olehnya. Dari pengalamannya itulah Rahmat terus belajar, dan aku selalu menjadi pelatih bahasa Inggrisnya di setiap kejuaraan Bahasa Inggris yang diikutinya setiap tahun, prestasinya kian menanjak, dan sampailah ia menjadi juara pertama English Speech Contest di tingkat kabupaten saat Rahmat duduk di kelas X SMA.

-Suatu hari aku berkata kepada bibiku seperti ini : “Bi, masakan Bibi lumayan enak, coba bikin kue-kue untuk kutitipkan di kantin sekolah. Keripik pedas juga boleh, kan keripik singkong buatan Bibi enak banget rasanya.” Bibiku awalnya tidak terlalu menanggapi ucapanku, “Ah, Bibi takut nggak laku. Siapa yang mau beli kue-kue dan keripik buatan Bibi, Gih?” Dalih bibi pada waktu itu. Di sisi lain bibiku menolak usulanku pasalnya karena perekonomian keluarga bibi memang dapat dikatakan cukup sejahtera. Tapi aku terus mendesaknya, “Belum juga dicoba, Bi. Percaya deh, dagangan Bibi pasti bakal laris manis!” Akhirnya bibiku bersedia mengabulkan keinginanku. Setiap hari aku membawa sekarung keripik singkong pedas untuk kutitip di kantin sekolah. Dan sesuai dugaanku, keripik dan kue-kue buatan bibi memang selalu menjadi primadona di kantin sekolah. Tidak hanya murid-muridku yang menggemarinya. Rekan-rekan sesama guru dan kepala sekolah pun senang memesan berbagai macam keripik buatan bibi padaku. Mulai dari keripik singkong sampai keripik pisang dengan varian rasa manis, pedas, gurih, asin, dan lain-lain. Tak hanya itu usaha bibi pun sekarang telah berkembang merambah menjadi home industri yang banyak dipasok ke toko-toko di daerah tempat tinggalku.

Bisa dikatakan apa yang kulakukan ini adalah memotivasi orang-orang di sekelilingku. Namun di sisi lain, ketika aku sedang terpuruk, justru aku malah tidak dapat menyemangati diriku sendiri. Mungkin pembaca ada yang pernah mengalami apa yang kualami. Berikut ini adalah tips untuk pembaca semua agar kalian dapat kembali bangkit di saat kalian sedang terpuruk dan memerlukan motivasi sebagai penyemangat :

1. Selalu ingat tuhan bersama kita. Apa yang tuhan berikan pasti yang terbaik untuk kita. Dan janganlah berburuk sangka kepada tuhan dengan mengatakan bahwa tuhan tidak adil!
2. Yakinlah bahwa kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai selagi kita mau berusaha untuk meraihnya.
3. Bacalah buku yang isinya berupa humor. Terkadang humor dapat membangkitkan semangat yang telah pudar dan kendor.
4. Hindari hal-hal yang berbau melankolis atau menguras air mata. Karena hal itu dapat menambah suasana hati kita semakin depresi dan tak bergairah. 5. Perbanyaklah berzikir dan shalat sunat (jika kalian muslim). Intropeksi diri : Apa-bagaimana-dan mengapa aku begini? Sesuatu hal baik yang pernah kita lakukan tentu akan berdampak baik pula bagi kita. Begitu pula sebaliknya sesuatu hal buruk yang pernah kita lakukan akan berimbas buruk pula kepada kita.
6. Bisikkanlah kepada diri sendiri dengan tekad yang bulat, “Aku harus bangkit! Aku tidak boleh lemah! Aku masih kuat! Aku masih sanggup untuk melakukan apa yang ingin kulakukan! Dan aku tidak boleh lengah!”

Selamat mencoba!  🙂

Banyak Rezeki Kalau Banyak Anak

image

Memang ngegemesin kalau berada di dekat anak-anak. Apalagi kalau melihat mimik mereka yang polos dan unyu-unyu, bikin cubit terus pipi mereka sampai merah. Hampir setiap hari di rumah selalu penuh oleh murid-murid lesku. Terkadang belum waktunya saja mereka sudah berjejal memenuhi seluruh ruangan. Apa pasal? Ada beberapa alasan mereka seperti :

image

1. Tidak ada teman bermain di rumah, sehingga dengan datang ke tempatku sebelum jadwal les mereka dimulai mereka dapat bermain dengan perasaan riang;

image

2. Mereka senang menyimak caraku mengajar ketika aku mengajar kelas yang lebih junior daripada mereka. Jadi para kakak kelas yang lebih senior sangat senang memperhatikan materi yang sedang dipelajari oleh adik kelas mereka;

image

3. Selain dua faktor di atas, alasan lainnya adalah mereka senang menikmati jajanan yang dibuat oleh ibuku setiap hari dengan varian menu yang dibuat seperti : Pempek, cilok, somay, kuch kuch hot tahu, bakwan, donat, bakpao ayam, chicken nugget, batagor, es jeruk, es teh, es campur, dll. Mereka kadang datang ke rumah meski jadwal les libur hanya untuk membeli jajanan pada ibuku.

Hehe, bagi ibuku “banyak anak memang banyak rezeki.” Terbukti dengan hadirnya mereka di rumah, menambah devisa keluarga kami.