My Trip In Java

 
image

Hari ini merupakan hari ke-9 aku berada di Pulau Jawa. Semua keluarga sudah kusambangi mulai dari Tangerang, Bogor, hingga Sumedang. Aku sangat bersyukur semua keluargaku dalam keadaan sehat wal’afiat tidak kekurangan suatu apapun. Aku senang keadaan keluarga besarku jauh lebih maju daripada dulu. Saat aku kecil, keluarga besarku hanyalah keluarga besar yang sangat sederhana tidak terlalu kaya dan juga tidak terlalu miskin, meskipun ada sebagian yang telah memiliki usaha atau wiraswasta. Keluargaku ini adalah keluarga besar mama, yang mana terdiri dari dua keluarga besar yaitu keluarga kakek (ayahnya mama) yang tinggal di Leuwiliang-Bogor Barat dan keluarga mendiang nenek (ibunya mama) yang bermukim di Cimanggu Kecil Kota Bogor Tengah. Keluarga besar kakek adalah keluarga yang didominasi oleh tentara dan guru/kepala sekolah. Semua saudara kakek berprofesi sebagai tentara sama seperti halnya dengan kakek. Sementara semua saudari kakek berprofesi sebagai praktisi pendidikan (guru dan kepala sekolah). Dulu ketika aku masih tinggal di Bogor, setiap lebaran tiba keluarga besar kakek berkumpul di rumah apih dan emih (kakek-neneknya mama) di Leuwiliang. Apih dan emih memiliki buku silsilah keluarga yang konon pernah kubaca dalam buku tersebut tercatat jumlah anggota keluarga kami yang telah mencapai ribuan anggota. Dan pada saat aku berlebaran (kelas 3 SD) di mana rumah apih dan emih menjadi sangat padat oleh para keturunannya, terhitung lebih dari 300 anggota keluarga yang masih hidup pada saat itu (1995). Di antara semua keturunan apih dan emih, mama merupakan cucu tersayang mereka dan sering dielu-elukan karena kepintaran dan kecantikannya. Wajar saja, saat sekolah dasar mama pernah terpilih menjadi bintang pelajar sekabupaten Sukabumi. Waktu itu kakek memang sedang bertugas di sana, sekitar tahun 1970-an. Mama bahkan menjadi lulusan terbaik pada masa itu. Semua nilai ujian negara diraih dengan hasil yang sempurna 10,00. Hebat kan? Dan pada masa remaja mama juga pernah memenangkan kontes kecantikan putri kebaya Jawa Barat. Sayang, keinginan mama menjadi seorang kowad tidak terlaksana karena kakek menentangnya. Kakek memaksa mama masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mengingat keluarga besar kami terutama kaum wanita berprofesi sebagai tenaga pengajar.

 

Keluarga besar mendiang nenek adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Tidak ada profesi yang menonjol seperti keluarga besar kakek. Oya, nenekku meninggal dunia di Lipat Kain-Riau, pada 1986 saat kakek bertugas dinas tentara di sana. Waktu itu umurku baru menginjak satu tahun, jadi seharusnya aku tidak ingat apa-apa tentang beliau. Hanya saja terkadang alam pikiranku yang rada ‘indigo’ (ceileh… gaya amat ya! 😀 ) sering membawaku pada bayangan-bayangan masa aku bayi. Pembaca bingung kan? Jadi begini pemirsa, waktu aku duduk di sekolah dasar kalau sedang termenung aku sering membayangkan kenanganku semasa bayi dipangku, dimandikan, digendong, dan ditimang-timang oleh nenek. Bahkan aku sangat hafal lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan oleh nenek. Kira-kira seperti ini liriknya :

 

Anakku yang kusayangi

Apa yang kau tangisi?

Mari kita bersama menyanyi

Lagu yang menarik hati…

 

Pernah aku melontarkan kepada mama mengenai apa yang kulamunkan tersebut. Semua yang kulihat dalam lamunan mengenai wajah nenek, suara nenek, hingga warna-warna dan corak pakaian yang dipakai oleh nenek, kuceritakan kepada mama. Mama sangat kaget mendengarkan penuturan ceritaku. Karena ternyata semua itu adalah nyata dan pernah terjadi pada masa aku bayi. Jadi, sebenarnya apa yang sudah aku alami? Apakah itu sebatas De Javu? Atau aku memang terlahir sebagai anak indigo yang bisa melihat masa lalu? Benar-benar aneh tapi nyata.

 
image

Kembali ke topik judul tulisanku di atas, kali ini aku akan melanjutkan ceritaku yang terputus pada tulisanku sebelumnya. Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sembilan hari yang lalu (2 Maret 2015), aku berpisah dengan Mr. X teman seperjalananku yang baik hati. Dia melanjutkan perjalanannya ke kota kelahirannya, Bandung, sedangkan aku langsung menaiki bis Damri guna melanjutkan perjalananku menuju Tangerang setelah sebelumnya aku sempat beberapa kali dibujuk oleh supir taksi yang ingin mendapatkan penumpang. Mereka bilang, berhubung perjalanan yang kutempuh sangat jauh mereka bersedia mematikan argo dan aku cukup membayar Rp250.000,00 saja. Namun aku enggan mengikuti keinginan para supir taksi itu. Bersyukur aku tidak kena paksa seperti supir taksi yang pernah nyaris membunuhku saat aku pertama kali menginjak Semarang sebelas tahun lalu. Selang beberapa menit setelah aku menaiki bis Damri, aku turun persis di depan Rumah Sakit Harapan Kita (Harkit). Ongkos yang kubayar hanya Rp40.000,00. Relatif mahal untuk ukuran bis Damri. Kemudian setelah turun dari bis, aku bergegas menaiki jembatan penyeberangan dan menaiki bis jurusan Blok M-Poris Plawad AC 34. Kali ini aku mengocek Rp8.000,00 lumayan murah. Setelah mengalami kemacetan yang panjang, aku turun di Islamic Center. Dari sana aku menyambung perjalanan dengan menaiki angkot jurusan Binong. Kepada abang supir yang terlihat masih remaja aku sempat berpesan minta diturunkan di depan McD Lippo. Eh dasar ABG labil, si abang supir malah asyik ugal-ugalan hingga nyaris menyerempet mobil angkot lainnya. Sampai-sampai pesanku sama sekali tak dihiraukan. Manakala aku tidak hapal daerah Tangerang. Emaaaak… aku tersesat! Setelah berhasil menyalip banyak kendaraan yang dilaluinya, si abang supir baru teringat pesan yang kusampaikan saat aku menaiki angkotnya. “Tadi Bapak pesan minta diturunkan di depan McD Lippo kan?” ujarnya dengan mimik tanpa dosa. “Wah maaf Pak, McD Lippo-nya sudah kelewat!” imbuhnya santai. Whatdezzig! Mana sarung tinju? *tanduk keluar dari kepala*

 

Untung aku orang yang sabar. Segera aku meminta berhenti dan turun dari angkot, tak lupa aku membayar Rp3.000,00 sebagai ongkos. Buru-buru aku menyeberang jalan dan menaiki angkot yang berlawanan arah dengan angkot tadi. Untung saja angkot berikutnya lebih santai mengemudikan mobilnya, akupun tiba di depan McD Lippo dengan selamat. Begitu aku turun dari angkot, aku sangat kaget dan takut untuk menyeberang. Kendaraan yang berlalu-lalang jumlahnya terbilang sangat banyak dan aku sudah lama tidak terbiasa dengan hiruk-pikuk suasana kota di mana kendaraan saling berebut jalan. Berbeda dengan para pengemudi kendaraan di Kalimantan Tengah, mereka sangat santun di jalan raya. Para pengemudi kendaraan di Kalimantan Tengah terbiasa menghormati para pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Biasanya para pengemudi itu akan berhenti sejenak dan mempersilakan para pejalan kaki untuk lewat atau melintas. Sangat sopan bukan? Tanpa kusadari ketakutanku akan keramaian lalu lintas kota Tangerang sempat diperhatikan oleh pamanku yang telah menjemputku di seberang jalan. Diam-diam pamanku menertawakan tingkah lakuku yang menurutnya sangat lucu.

 
image

image

Pamanku ini adalah adik mama nomor 5. Mama memiliki 6 orang adik, akan tetapi adik mama yang bungsu meninggal dunia pada tahun 2000 tepat saat aku masih kelas 2 SMP. Beliau meninggal pada usia remaja 17 tahun karena penyakit malaria yang dibawanya ketika pulang dari Kalimantan. Jadi paman yang sedang kukunjungi di Tangerang ini sekarang menjadi paman bungsuku. Beliau memiliki 2 orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Adik-adik sepupuku ini masih duduk di sekolah dasar. Zaky adalah adik sepupuku yang laki-laki, sejak usia satu tahun dia sudah menguasai komputer. Baik software maupun hardware. What, satu tahun sudah menguasai komputer? Pembaca tidak percaya kan? Dikasih makan apa ya bisa jenius begitu? Pamanku memang seorang perakit komputer di rumahnya sebagai pekerjaan sampingan. Jadi tidak heran kalau sekarang Zaky sudah kelas 5 SD sangat handal mengotak-atik komputer. Memang beda ya perkembangan anak zaman dulu dengan anak zaman sekarang. Begitu pula halnya dengan Fathiya, adik Zaky yang masih kelas 1 SD. Fathiya sangat senang bermain game on line sejak usia balita. Istri paman sangat resah kalau kedua adik sepupuku ini tidak ingat waktu untuk belajar, makan, dan shalat bila mereka terlalu asyik bermain game on line. Terlebih di rumah pamanku ini berlangganan wifi bulanan. Aku sendiri juga keasyikan berselancar internet via wifi di rumah paman. Sebagai seorang kakak sepupu yang berjiwa pendidik, aku berkewajiban membimbing Zaky dan Fathiya dalam belajar. Syukurlah selama aku menginap di rumah paman, Zaky dan Fathiya sangat menurut kepadaku. Mereka tidak pernah membantah perkataanku. Aku sangat sayang kepada dua adik sepupuku ini. Sayangnya aku tidak bisa bertahan lebih lama di Tangerang. Sebab aku harus menyambangi keluargaku yang lain di Bogor dan Sumedang, mengingat banyaknya keluargaku di Pulau Jawa. Aku hanya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di rumah paman. Tepat pada hari ketiga aku berada di Tangerang, aku pamit kepada paman untuk berkunjung ke rumah umi (adik mendiang nenek) yang tinggal di Bogor. Meskipun umi adalah adik mendiang nenek, beliau tetap adalah nenekku juga. Hubungan kami sangat akrab, terlebih aku dilahirkan di rumah umi. Dan ketika aku dikhitan, umilah satu-satunya orang yang menenangkan perasaanku agar aku tidak takut kepada mantri khitan. Umi bahkan setia menemaniku di ruang khitan selama prosesi khitanan berlangsung. I love you umi… ❤

 

Dari Tangerang menuju Bogor perjalananku ditempuh dengan menaiki bis jurusan Kampung Rambutan dengan tarif ongkos Rp16.000,00 tetapi aku turun di Stasiun Cawang karena aku rindu dengan kereta listrik. What a surprise! Begitu aku turun dari bis, mataku terbelalak tak percaya. Suasana stasiun sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi pedagang kaki lima yang biasa mangkal dan menjual barang-barang murah seperti dompet, ikat pinggang, VCD bajakan, gelang manik-manik, kacamata, dan lain sebagainya. Tampaknya Ignatius Jonan semasa menjabat kepala PT. KAI berhasil menyapu bersih para pedagang illegal tersebut. Yah, padahal aku kepengen banget membeli souvenir dari para pedagang itu. Tapi mengingat hal ini untuk keteraturan masyarakat, dalam hati aku mengacungi jempol kinerja bapak mantan kepala KAI yang kini menjabat sebagai menteri perhubungan itu. Dua jempol untuk Bapak Menteri! Mataku semakin terbelalak lebar setelah membeli tiket yang murahnya minta ampun. KRL yang dulu kukenal sekarang telah berganti nama menjadi commuter line alias CL. Tiketnya sudah tidak berupa lembaran karcis macam obat nyamuk elektrik seperti zaman dulu. Adapun tiket CL zaman sekarang berupa sebuah kartu yang menyerupai kartu ATM dan berlaku untuk 5 stasiun dalam sehari tanpa keluar dari zona stasiun. Kartu ini juga dipakai untuk keluar masuk besi pembatas dari dan menuju stasiun bagian dalam. Hanya dengan Rp8.500,00 kita dapat menaiki CL jurusan Jakarta-Bogor. Harga tersebut sudah termasuk biaya jaminan kartu apabila kita menghilangkannya dalam perjalanan atau terbawa pulang. Jadi apabila kita telah sampai di stasiun tujuan, alangkah lebih baik bila kita menukarnya kembali dengan uang jaminan kita Rp5.000,00 di loket pembelian tiket. Berarti ongkos kereta dari Jakarta ke Bogor hanya Rp3.500,00 dong? Wow, murah sekali bukan! Naik kereta lagi ah… 😀

 
image

Kereta jurusan Bogor selalu tersedia setiap 5 menit sekali. Aku terpana melihat gerbong CL yang begitu rapi dan bersih. Apalagi sekarang sudah tidak ada pengamen, pedagang asongan, dan pengemis lagi. Suasananya benar-benar membuatku nyaman. Semua penumpang dapat duduk dengan tenang. Beberapa orang security berjalan hilir-mudik mengawasi setiap gerbong. Aku semakin terpukau dibuatnya. Uniknya lagi gerbong paling depan merupakan gerbong khusus kaum perempuan. Tapi kira-kira mengapa khusus untuk perempuan ya? Memangnya di dalam gerbong itu ada apaan sih? Apa ada arisan khusus ibu-ibu? Atau ada ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya? Atau kamar bersalin mungkin? Akh, aneh-aneh saja ya sodara-sodara? Coba ada gerbong khusus laki-laki juga! Mungkin isi gerbongnya adalah sekumpulan bapak-bapak yang sedang main gapleh, main catur, nonton sepak bola, adu tinju, dan mancing ikan. Hehe… ngarep.com

 

Pemandangan demi pemandangan berlalu di hadapanku melalui kaca jendela. Perasaanku berdebar-debar tidak menentu. Tinggal beberapa menit lagi aku akan segera tiba di kota kelahiranku. Kota yang dijuluki sebagai kota hujan, kota patung sapi (Baqor), kota Buitenzorg (Holland van Java), dan juga Tanah Pajajaran. Aku begitu rindu kepada umi dan kotaku tercinta. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera turun dari kereta. Akhirnya kereta pun berhenti setelah 30 menit perjalanan. Langkah-langkah kakiku sudah tidak tahan untuk segera menginjak tanah Bogor. Sayang cerita ini harus kusambung lagi pada postinganku berikutnya. Sampai jumpa pembaca semua…

My Flight to Java Island

image

Akhirnya di sinilah aku berada sekarang, di tanah kelahiranku Bogor. Setelah tujuh tahun lamanya tidak mengunjungi nenek, bibi, paman, dan keluarga besarku lainnya berhasil memecahkan rasa rindu yang membuncah selama ini. Tujuh tahun lamanya aku terkurung kesunyian di Pulau Kalimantan yang sepi sejak kepulangan terakhirku pada 2008. Bagai seorang pertapa di tengah hutan yang menuntut ilmu tinggi. Dan sekalinya aku kembali ke tengah-tengah keramaian, aku bagai orang katrok yang tidak pernah menjamah kota besar. Benar, aku telah menjadi ‘wong ndeso’ yang begitu polosnya mengamati hiruk-pikuk kegiatan orang-orang kota. Bahkan saat aku akan menyebrang jalan raya sekalipun, alamak… “AKU TAKUT MENYEBRANG… PAK POLISI TOLOOOONG DONG!”

 

Perjalananku menuju Pulau Jawa berawal tanggal 1 Maret 2015 silam. Dari Desa Bangun Jaya (rumahku) aku berangkat menaiki travel ke Pangkalan Bun dengan biaya Rp150.000,00. Biaya yang cukup mahal bukan? Padahal kalau kita naik bis dari Pangkalan Bun ke Palangka Raya yang jaraknya mencapai 5 kali lipat jarak yang kutempuh (Bangun Jaya-Pangkalan Bun), ongkosnya hanya Rp100.000,00. Lalu apa yang menyebabkan ongkos travel yang kunaiki begitu mahal? Sampai saat ini akupun belum mengetahuinya dengan pasti. Dugaanku barangkali agar para pengusaha travel di tempatku cepat kaya. Atau mungkin karena tingkat pendapatan penduduk di desaku sudah lumayan tinggi sehingga para pengusaha travel memanfaatkan situasi ini. Well, lanjut ke perjalanan, ternyata tidak ada penumpang lain selain aku. Supir travel sengaja memilih jalan lintas Kotawaringin Lama yang sebenarnya masih belum diaspal dengan tujuan menghemat waktu. Padahal jalan lintas Lamandau jauh lebih baik selain aspalnya mulus, pemandangan sepanjang perjalanan pun sangat indah dan segar. Banyak bukit batu yang tertata sangat rapi dan unik membuat kita ingin berfoto ria di sana. Akh, mari kita lupakan pemandangan indah! Pada malam sebelum keberangkatanku menuju Pangkalan Bun, desaku dilanda hujan. Tidak terlalu deras memang, namun sangat fatal akibatnya. Apa pasal? Jalan lintas Kotawaringin Lama yang kutempuh berhasil menjebakku dalam kemacetan! Waduh… bisa mengantri berjam-jam nih! Karena jalan lintas Kotawaringin Lama belum diaspal, otomatis hujan semalam membuat jalanan menjadi kubangan lumpur yang siap menelan kendaraan-kendaraan yang melintasinya. Antrean panjang kemacetan pun sempat membuatku jenuh. Beruntung, mobil terdepan yang terjebak lumpur (baca : KEPLATER) berhasil diselamatkan nyawanya (emangnya orang?). Begitu kami terbebas dari antrean panjang mobil travel yang kunaiki langsung melesat kencang. Alhamdulillah, aku selamat sampai di Pangkalan Bun.

image

Sebelum berhenti di hotel tempatku bermalam, karena aku akan mengikuti penerbangan keesokan harinya (2 Maret 2015) terlebih dahulu om supir travel (aku biasa memanggilnya Om, biar kelihatan muda terus 😀 ) membawaku ke agen di mana aku telah membooking tiket penerbangan yang akan kunaiki. Aku membooking tiket pesawat Trigana tujuan Cengkareng seharga Rp570.000,00. Tiket ini telah kubooking satu hari sebelumnya (28 Februari 2015). Wow, murah sekali. Bandingkan jika aku harus membeli tiket kapal laut tujuan Semarang, Rp400.000,00! Mana yang akan pembaca pilih? Alasanku memilih pesawat Trigana adalah ingin mencobanya (dasar katrok, kan? 😀 ), berhubung aku sudah cukup sering menaiki pesawat Kalstar dan kebetulan pada saat itu harga tiket Kalstar sedang tinggi Rp1.130.000,00 dengan jadwal penerbangan yang sama. Oke, setelah transaksi pembayaran tiket selesai, aku dan om supir travel melanjutkan perjalanan ke Hotel Abadi tempatku menginap. Just for information biaya menginap di hotel ini berkisar antara Rp165.000,00-Rp200.000,00 permalam dengan fasilitas standar layaknya hotel pada umumnya. Relatif murah kan?

image

Mumpung masih di Pangkalan Bun, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membeli oleh-oleh. Pamanku yang tinggal di Bogor memesan batu permata kecubung yang belum diolah. Heran, mengapa batu permata sedang menjadi trend terutama orang-orang di Pulau Jawa? Tidak sulit bagiku mendapatkan batu kecubung itu, karena daerahku merupakan tempat penghasilnya. Satu kilogram batu kecubung ungu dihargai Rp200.000,00-Rp300.000,00. Sedangkan batu kecubung putih dihargai Rp150.000,00 perkilogramnya. Usai membeli batu, akupun mencari oleh-oleh lainnya untuk nenek. Akhirnya aku mendapatkan beberapa penganan khas Kalimantan Tengah : kerupuk ikan, amplang dengan berbagai rasa ikan (haruan/gabus, tenggiri, dan belida), keripik buah naga, dan chestick rasa ikan. Wah, satu dus penuh hanya berisi oleh-oleh, semoga tidak over bagasi di bandara.

 
image

Sayang cuaca di Pangkalan Bun sedang tidak bersahabat, sehingga membuatku tidak leluasa menikmati tamasya di dalam kota. Sepanjang hari hingga malam aku terpekur di dalam hotel, berselancar di internet via ponsel, sambil menonton televisi. Begitu pagi menjelang aku segera mencari ojek untuk berangkat menuju bandara. Karena penerbanganku tepat pukul 7 pagi. Kali ini aku harus mengocek Rp30.000,00. Sebenarnya sih Rp25.000,00, tapi sisa kembaliannya dibawa kabur oleh tukang ojek (hadeuh, pasti rezeki tukang ojek itu nanti menjadi tidak halal). Segera aku menuju antrian calon penumpang yang sedang memasuki pintu pemeriksaan. Ternyata oh ternyata, sudah seminggu ini pesawat Trigana delay terbang dikarenakan suatu alasan yang tidak diketahui dengan jelas. Ngakunya sih sedang reschedule, tapi entahlah. Beruntung ya bandaranya tidak menjadi sasaran amukan massa seperti kasus Lion Air di Jakarta. Singkat cerita, rupanya aku telah memasuki antrean yang salah. Antrean itu adalah khusus calon penumpang pesawat Kalstar dengan tujuan Semarang. Dan, aku tidak mendapatkan sama sekali calon penumpang pesawat yang sama denganku. Hey… ada apa ini? Apa aku sudah ketinggalan pesawat? Buru-buru aku segera menghampiri loket reservasi Trigana Air. Dan di sana kudapati sekelompok bapak yang sedang komplain kepada petugas ticketing. Mereka menuntut agar mereka dapat terbang pada hari itu juga (2 Maret 2015). Berhubung aku enggan untuk kembali ke hotel, aku turut bergabung dengan kelompok bapak-bapak itu. Dengan sangat memaksa kami meminta agar kami dialihkan ke pesawat lain dengan penerbangan yang terjadwal pada hari itu. Alhasil hanya dalam waktu 30 menit, kami berhasil mendapatkan tiket Kalstar yang akan terbang pada pukul 1 siang. Tentu saja tanpa menambah biaya yang kurang mengingat mahalnya harga tiket Kalstar. Lucky me, akhirnya aku bisa bertemu pramugari-pramugari cantik pesawat Kalstar lagi. Hehehe… 😀

 

Menunggu hingga pukul 1 siang memang sangat membosankan. Terlebih Bandara Iskandar Pangkalan Bun sangat minim fasilitas. Jadi aku kurang menikmati suasana di bandara. Untunglah aku bertemu dengan calon penumpang yang mengalami kejadian sama denganku. Sebut saja Mr. X, karena kami tidak saling memperkenalkan diri. Ternyata dia berasal dari Bandung, otomatis kami langsung akrab dan mengobrol menggunakan Bahasa Sunda. Umurnya masih muda (23 tahun) dan cukup good-looking. Dari tiket yang diperolehnya ternyata dia duduk di deret bangku pesawat yang sama denganku. Persis di sebelahku. Waktu yang mempertemukan kami hanya beberapa jam membuat kami sangat akrab. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dan menyapaku. Beliau adalah Bapak Leo, tetanggaku. Beliau baru saja tiba dari Semarang. Beliau bercerita kalau sebenarnya beliau seharusnya menaiki pesawat Trigana pada dua hari yang lalu. Namun lagi-lagi terjadi kasus yang sama di Semarang. Penerbangan Trigana terpaksa delay hingga beberapa hari kemudian. Padahal beliau harus terbang pada hari keberangkatan tersebut. Dengan sangat terpaksa beliau turut mengikuti para calon penumpang lainnya di Semarang. Yakni meminta uang mereka kembali dan membeli tiket pesawat lain dengan harga yang relatif lebih mahal. Otomatis Bapak Leo harus menambah biaya Rp300.000,00 untuk membeli tiket pesawat Kalstar yang akan dinaikinya. Kasus yang sama denganku namun berbeda penanggulangan. Dari pengalaman yang baru saja kualami dan kuceritakan kepada Bapak Leo, beliau menarik kesimpulan bahwa pengalaman itu sangat mahal harganya. Pengalamanku dapat dijadikan contoh oleh beliau bila suatu saat beliau mengalami kasus pesawat delay lagi.

 
image

Sedang asyik-asyiknya mengobrol, kami mendengar panggilan di pengeras suara yang meminta para calon penumpang pesawat Kalstar untuk segera memasuki ruang tunggu. Selang setengah jam kemudian pesawat yang kami tunggu tiba tepat pada waktunya. Aku dan teman seperjalanku yang berasal dari Bandung tadi sangat senang melihat pesawat datang. Kami pun sempat berselfie ria sebelum menaiki tangga pesawat. Haha… perhatian kami tersita setelah kami duduk dan mengencangkan sabuk pengaman oleh sejumlah pramugari cantik berpenampilan modis dan beraroma parfum yang sangat wangi. Lima menit kemudian pesawat pun lepas landas. Penerbangan kali ini sangat nyaman karena aku mendapat pengalaman berharga dan teman seperjalanan yang menyenangkan. Hanya dalam 70 menit pesawat pun mengudara. Pulau Jawa, aku kembali!

Bertanam Sawit, Murid SD Bisa Study Tour Gratis!

20150222_161634

Sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah pada umumnya memiliki areal tanah yang relatif luas. Dengan luas lahan minimal 4 hektar sedikitnya setiap sekolah memiliki lapangan sepakbola sendiri. Tidak jarang ada sekolah yang memiliki lahan seluas hingga 10 hektar (=100.000 m2). Namun bila tanah yang tidak terpakai terbengkalai, bisa menyebabkan tanaman ilalang dan rumput liar tumbuh subur. Sehingga lingkungan sekolah pun menjadi tidak sedap dipandang mata. Terlebih suhu udara di Kalimantan sangat panas bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. (Apa hubungannya rumput liar dengan suhu udara panas di Kalimantan? O_O” )

 

image

Daripada membiarkan tanah dipenuhi rumput liar, guru-guru SDN Bangun Jaya di Kabupaten Sukamara-Kalimantan Tengah memiliki ide yang sangat kreatif dan edukatif. Ya, lahan luas yang dimiliki sekolah ini kini telah dipenuhi oleh tanaman sawit yang kelak dapat menghasilkan uang. Tujuannya adalah dana yang terkumpul dari hasil panen sawit setiap bulan akan digunakan untuk biaya study tour siswa-siswi SDN Bangun Jaya. Dengan demikian para siswa-siswi SDN Bangun Jaya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk kegiatan tersebut.

 

image

Sawit di bumi Kalimantan bagaikan ladang emas. Banyak warga yang menuai kesuksesan dari tanaman penghasil minyak goreng tersebut. Penghasilan para warga rata-rata setiap bulan dari setiap kapling yang mereka miliki sedikitnya adalah Rp3-4 jutaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang telah memiliki penghasilan Rp12-20 juta perbulan. Belum lagi jika dikalikan dengan jumlah kaplingan yang mereka miliki. Wow, sangat menggiurkan bukan? Maka tak heran bila harga lahan sawit di Kalimantan Tengah saat ini mencapai berkisar Rp120-200 juta perkapling.

 

image

Para siswa dan siswi di SDN Bangun Jaya sangat bersemangat merawat tanaman sawit di halaman sekolah mereka. Setiap pohon yang mereka tanam diberi patok nama penanamnya, agar mereka dapat fokus merawat tanamannya masing-masing. Guru-guru turut mengawasi dan membantu mereka. Sambil praktek tak jarang guru-guru pun menjelaskan teori merawat tanaman yang baik. Anak-anak diperkenankan untuk melakukan perawatan rutin setiap hari Jumat pada jam mata pelajaran ‘Muatan Lokal : Pertanian’ usai melakukan senam SKJ. Mereka sangat berhati-hati saat menggunakan parang, sabit, dan cangkul. Bila terdapat rumput liar di sekeliling tanaman peliharaan mereka, maka mereka akan segera membersihkannya dengan menggunakan parang atau sabit. Pada saat itulah guru-guru harus turut mendampingi mereka agar tidak ada yang terluka karena kelalaian yang dilakukan siswa. Sangat riskan memang, tetapi untunglah para siswa-siswi SDN Bangun Jaya sangat cekatan, selalu berhati-hati dan patuh kepada guru. Saat membersihkan kebun setiap Jumat, anak-anak pun bernyanyi dengan riang. Terbersit harapan study tour segera tiba.

image

Jangga Hatue Bulan

image

Jangga Hatuen Bulan
Folklore from Central
Kalimantan
A long time ago, a man lived
on the moon. his name was
Jangga. He lived with his
mother. Jangga loved hunting.
Everyday he went hunting with
his dog. His mother often told
him not to go hunting too
long. But Jangga often ignored
her.
One day Jangga and his dog
went hunting as usual. He was
looking for the animals.
However, he could not find
any of them. Sadly, he was
lost. He could not find a way
to his home. While he was
walking, suddenly he saw an
old woman.
Jangga followed the old
woman. She arrived at her
house. jangga wanted to stay
the night at her house. He
knocked the door. an old man
opened the door. Jangga told
him that he wanted to stay.
The old man gave him the
permission.
Apparently, it was a family.
The old man and the old
woman had a beautiful
daughter. Jangga told them
that he was lost. He said that
he lived on the moon. The old
man said that Jangga was
really far from home. They
were on the earth.
Jangga was so sad. He could
not go back to his home and
meet his mother.
The old man offered Jangga to
stay at his home. Jangga
agreed.
Day passed by ans soon Jangga
fell in love with the old man’s
daughter. Then they got
married.
Jangga still enjoyed hunting.
With his dog, he often went
hunting in the jungle. His wife
often told him not to go
hunting too long. However,
Jangga ignored her.
Jangga’s wife was pregnant.
She often asked Jangga to stay
at home and not to go
hunting. Again, Jangga ignored
her. Her wife was often angry
with him.
In the morning, Jangga wanted
to go hunting. This time his
wife was really angry.
“Please stay. Don’t go! I feel
like I’m going to deliver the
baby today.”
“Don’t worry. If the baby is a
boy, name him Jangga Batuen
Bulan. It means Jangga, a man
from the moon. And if the
baby is a girl, name her
Hendan Bawi Bulan. It means
Hendan, a woman from the
moon,” said Jangga.
Then he left his wife. Not long
after that Jangga’s wife
delivered a baby boy. She was
so angry that her husband was
not next to her. She did not
want her husband to see the
baby.
Later Jnagga came home. He
heard a baby was crying. He
was so happy.
“Where is the baby? I want to
see my baby,” said Jangga.
“No, you can’t! I don’t want
you to see the baby!” said
Jangga’s wife.
Jangga was so sad. Ans he was
also very angry! He went
outside of his home. His dog
followed him. After that he
prayed. He called out his
mother.
Suddenly thunder attacked the
place. Dark cloud covered him
and his dog. Surprisingly,
Jangga and his dog
disappeared. Not long after
that the baby was dead.
Jangga brough the baby spirit
to the moon.
Jangga’s wife was so sad. She
called out Jangga’s name. But
it was to late. Jangga and the
baby now lived on the moon.
Jangga’s wife was crying. She
never stop crying.
The Gods heard how she cried
and they didn’t like it. The
were upset with her and
changed her into a bird.
People named the bird as
pungguk bird.

image

Until now, during full moon
we still can hear the sound of
pungguk bird. And we can also
see the image of a dog in the
moon. From the legend,
people make a proverb. It
says, “Just like a pungguk
waiting for the moon”. It
means that it’s just waiting in
vain.***