Posted on

HidingPrinceOfBorneo, Apa-Siapa-dan Bagaimana Aku?!

Mungkin orang akan tertawa membaca arti username yang kugunakan pada blog ini. HidingPrinceOfBorneo, kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah : Pangeran yang bersembunyi dari Kalimantan.

What? Elo seorang pangeran Gih? Atau keturunan raden? Ehm, elo pangeran kodok ya Gih? Ah, gue tahu, loe pasti pangeran bekantan mantannya si Manohara E.Pinot itu kan? :D=))º°˚˚°º≈

image

нåнåн庰˚˚°º=)):D

Namaku cukup singkat, jelas, padat, dan sarat penuh makna : SUGIH. Tuh kan? Dalam bahasa daerah manapun di Indonesia, sugih itu memiliki makna yang sama (baca : KAYA). Maksudnya kaya monyet, kaya kebo, kaya entog, kaya badak, kaya orangutan ya? Ya bukanlah! Kaya yang dimaksud umumnya berkaitan dengan harta. Nama yang cukup keren dan sangat high class. Tetapi sayangnya, keadaanku berbanding terbalik dengan arti namaku tersebut. Sampai-sampai aku sering mengubah makna namaku sendiri menjadi SUGIH, SUkanya menaGIH! Awas loe kalau sampe punya utang sama gue, pasti gue tagih terus! Gkgkgkgk 😀

Hidup ini keras men, aku dilahirkan di sebuah kota kecil yang ramenya minta ampun. Bogor, 28 tahun silam. Semua orang pasti tahu kalau Bogor itu mempunyai julukan sebagai ‘kota hujan’, oow berarti semua kodok pun tahu di mana mereka dapat berpesta setiap harinya ya?! Xixixi… (Woy, serius donk nih!)

Aku lahir tepat di musim yang sesuai dengan image kotaku tersebut, Desember memang puncak musim penghujan. Tapi sayangnya aku tak pernah sedetik pun menatap wajah ayahku seumur hidupku. Jauh sebelum aku dilahirkan, ayahku pergi meninggalkan ibuku dalam keadaan kesusahan. Hingga sekarang pun aku tak pernah tahu di mana keberadaannya, ayahku menghilang bagai ditelan bumi. Karena itulah ibuku memberiku nama SUGIH, dengan harapan kelak suatu saat aku bisa menjadi orang yang sukses dan kaya sesuai arti namaku. Well, nama itu sebuah doa kan?

Mungkin aku masih beruntung karena figur ayah kandungku tergantikan oleh seorang ayah tiri yang baik hati padaku. Darinya pulalah ibuku dikaruniai seorang putri yang cantik jelita dan diberi nama Dyah. Sejak dulu ibuku sangat mendambakan seorang anak perempuan, sedangkan aku dan kakakku-kami berdua sama laki-laki. Maka perhatian ibuku lebih banyak tercurahkan pada adikku yang terpaut 9,5 tahun dariku. Sejak lahirnya adikku, aku dilarang keras meminta perhatian lebih dari ayah tiriku. Setiap aku meminta sesuatu pada ibuku, jawabnya selalu “Nanti sajalah tunggu sampai Dyah besar, kamu boleh meminjamnya pada adikmu!” Hal yang wajar bukan kalau masa kecilku diselimuti rasa kecemburuan? Namanya juga anak-anak! Ibuku selalu mengingatkanku tentang siapa aku dan mana yang pantas menjadi hakku. Rasanya aku telah menjadi anak yang tersisihkan dan sejak saat itu pulalah aku tumbuh menjadi anak yang selalu pasrah pada kenyataan, bila aku sedikit memberontak pada perintah ibuku, ibuku akan selalu berkata ‘Kamu itu lebih pantas tinggal seorang diri di hutan!’. Pedas memang, tetapi aku selalu mencoba bertahan. Mungkin begitulah cara seorang ibu mendidik anak laki-lakinya agar menjadi lelaki yang tangguh dalam menghadapi persoalan. Terlebih keluarga besar ibuku adalah keluarga tentara (ABRI), tak heran bila ibuku memiliki watak yang keras seperti kakek dan adik-adiknya kakek.

Waktu kelas 2 SD, guruku pernah menanyai muridnya satu-persatu tentang cita-cita. Saat tiba giliran pertanyaan dilontarkan padaku, entah mengapa aku seperti tak punya pilihan lain, karena aku mengagumi sosok guruku itu lantas aku menjawab “Saya mau menjadi guru!” Namanya juga anak-anak, senantiasa menjawab dengan kepolosan. Faktanya dalam keluarga besar ibuku juga, kalau para lelaki berhasil menjadi tentara seperti kakek dan adik-adiknya, maka kaum perempuan lebih dari 60% berhasil menjadi guru.

Kesedihan yang mendalam menimpa keluargaku saat aku naik kelas 2 SMP. Ayah tiriku meninggal dunia karena serangan jantung. Rasanya pandanganku menjadi gelap dan dunia berhenti berputar, namun kehidupan harus tetap berlanjut bukan? Inilah awal dari kerasnya hidupku, sejak kelas 2 SMP aku menjadi satu-satunya tumpuan ibuku dalam mencari nafkah. Bila biasanya aku berangkat sekolah naik angkot, aku harus membiasakan diri berjalan kaki 3 km bolak-balik. Bukan soal jalan kakinya, sejak kecil kakiku sudah terlatih berjalan kaki ke manapun kumelangkah, apalagi aku mempunyai jiwa seorang petualang yang selalu ingin tahu daerah yang belum pernah kujamah. Tapi kali ini aku harus sambil membawa beberapa jinjingan plastik yang berat, berisi makanan buatan ibuku untuk kujajakan di kelas. Di situlah jiwa usahaku mulai tumbuh. Aku harus mengubah kepribadianku yang pada awalnya aku termasuk anak yang introverted (tertutup) berubah menjadi anak yang extroverted (terbuka). Keadaan yang menuntutku untuk berubah. Aku sama sekali tidak malu menjadi seorang pedagang miskin di sekolah bonafide yang notabene 80% teman-temanku adalah anak keluarga berada, anak orang kaya, anak pejabat, dan anak para artis. Setiap hari pempek, nasi uduk, somay, dan bermacam-macam gorengan buatan ibuku laris manis berkat jerih payahku membujuk teman-temanku agar berkenan jajan padaku, sekalipun jam istirahat di sekolah tak pernah kupakai untuk bermain bersama mereka karena aku harus berjualan. Perekonomian keluargaku beringsut menjadi susah sejak kematian ayah tiriku. Saking susahnya, sendok bebek bekas makan nasi uduk teman-temanku pun harus kupunguti dari dalam tong sampah untuk kucuci dan kupakai lagi keesokan harinya. Sebab ibuku tak mempunyai modal untuk membelinya lagi. Miris memang.

Selain berjualan, aku juga membuka les pelajaran SD di rumah. Banyak anak tetangga yang bersimpati padaku dan berkenan mengikuti pelajaran tambahan denganku walaupun aku hanya seorang murid SMP. Banyak tetanggaku menilai kalau aku termasuk anak yang pintar, mungkin karena semasa SD aku selalu masuk peringkat 3 besar dan aku bersekolah di SMP negeri terfavorit di kotaku. Karena itulah mereka mempercayakan anak-anaknya padaku untuk kuberi les bimbingan extra.

Sebenarnya aku terancam nyaris tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setamat SMP, meskipun NEM (Nilai Ebtanas Murni)-ku mendapat peringkat tertinggi di kelas, ibuku sama sekali tidak memiliki tabungan untuk membiayaiku masuk SMA. Namun aku tetap nekad untuk mendaftar sekolah. Aku ingin memiliki ilmu agar tidak menjadi gelandangan seperti di pinggiran jalan kotaku. Maka mendaftarlah aku ke SMA Negeri 5, salah satu sekolah terfavorit di kotaku. Selain karena jaraknya yang lumayan dekat dari rumah (2 km) dan bisa kutempuh dengan berjalan kaki, juga karena ada pelajaran Bahasa Jepang-nya. Sejak kecil aku sangat menyukai film-film Jepang. Sehingga aku tertarik ingin mempelajari budaya dan Bahasa Jepang. Bahkan berimpian untuk kuliah di Jepang.

Bila mempunyai uang lebih, aku sering membeli buku-buku pelajaran Bahasa Jepang dan mempelajarinya sendiri secara otodidak di rumah. Tak dinyana, aku berhasil menguasai pelajaran Bahasa Jepang di sekolah, nilai harianku selalu mendapat 100. Teman-teman satu angkatanku menjulukiku “Master of Japanese”, sampai-sampai mereka sering bersikap hormat padaku jika berpapasan di koridor sekolah. Bila mereka kesulitan mengerjakan PR bertandanglah mereka ke kelasku memohon bantuan. Tak hanya itu, Ibu Euis-guru Bahasa Jepang-ku pun menarik aku untuk masuk ke dalam grup yang dibentuknya. Para anggota grup itu sebenarnya adalah murid-murid SMA Negeri 5 yang pernah berdomisili di Jepang karena mengikuti tugas dinas ataupun tugas belajar orang tua mereka. Wow, beruntung sekali aku bisa masuk ke dalam lingkup yang hebat seperti itu. Aku dan Bu Euis semakin dekat bahkan beliau menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Aku sering diajaknya mengikuti kontes Bahasa Jepang baik tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Dan prestasiku yang membanggakan salah satunya adalah aku berhasil menjadi juara 3 Lomba Cepat Tepat Bahasa Jepang Tingkat Nasional tahun 2003 yang diselenggarakan oleh Depdiknas bekerja sama dengan The Japan Foundation di SMA Negeri 46 Jakarta bertepatan dengan dirgahayu sekolah tersebut.

Aku terus berjuang agar aku berhasil mewujudkan impianku mendapat beasiswa monbukagakusho kuliah gratis di Jepang. Berhasil? Seleksi ini sangat ketat diikuti oleh ribuan pelajar se-Indonesia hanya untuk 11 orang yang dikuotakan. Aku berhasil mengikuti tes tertulis Matematika, Ekonomi, Sosiologi dan lain-lain yang seluruh soalnya menggunakan Bahasa Inggris. Namun aku gagal pada tahap interview. Mengingat dalam surat perjanjian pihak kementrian pendidikan Jepang yang berbunyi “Pemerintah Jepang tidak menanggung biaya kepulangan mahasiswa Indonesia bila terjadi hal-hal yang mengharuskan pulang ke tanah air.” Jauh hari sebelum aku mengikuti tes interview itu aku sudah mengetahui pasal tersebut dari pihak kedutaan besar Jepang. Dan ibuku sama sekali tidak memberiku izin untuk mengikutinya. “Kalau mama mati, kamu tidak akan melihat mama dikubur?” Begitulah ultimatum ibuku.    

Tiga bulan menjelang kelulusan SMA, ibuku sudah pergi meninggalkanku untuk mencoba menjalankan bisnis kecil-kecilan di Kalimantan. Di sana ibuku tinggal menumpang di rumah adik-adiknya yang sudah 7 tahun mengikuti transmigrasi. Ketika aku lulus SMA, dan gagal berangkat ke Jepang, hatiku bimbang karena tidak bisa melanjutkan kuliah. Manakala kalau melamar pekerjaan sangat sulit di kotaku. Lulusan sarjana saja banyak yang menganggur apalagi hanya tamatan SMA sepertiku. Begitulah pikirku waktu itu. Sementara selama 3 bulan di Kalimantan ibuku tidak pernah mengirim kabar. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ibuku ke Kalimantan. Rumah kukontrakkan, uangnya kupakai untuk membayar tagihan rekening listrik, gas, telepon, dan sisanya kupakai untuk ongkos.

Dulu ibuku berangkat ke Kalimantan karena dijemput oleh pamanku. Waktu itu pamanku sempat menitipkan sepucuk surat dari adik sepupuku. Isi suratnya sangat menyentuh hatiku. Adik sepupuku menceritakan tentang keadaan alam tempat tinggalnya yang jauh dari sarana dan prasarana yang baik. Belajar Bahasa Inggris saja tidak ada kamus, mau belanja pun tidak ada pasar, tidak ada transportasi umum, ke mana-mana harus punya kendaraan sendiri atau jalan kaki, lebih-lebih jalan di sini belum diaspal, listrik hanya menyala 6 jam sehari, ‘Kalimantan sunyi Bang, di mana-mana semuanya hutan’ begitulah tulis adik sepupuku dalam suratnya. Kalimat kutipan terakhir itu mengingatkanku pada ucapan ibuku kala sedang marah mengomeliku, ‘Kamu itu lebih pantas tinggal sendiri di hutan!’ Berkat surat dari adik sepupuku itulah akhirnya aku bertekad untuk pergi ke Kalimantan meskipun aku tak tahu arah-arah yang harus dituju. Namun Tuhan berhasil mengantarkanku ke sana…

Dan di sinilah sekarang aku, sudah hampir 10 tahun lamanya aku menjadi penduduk Kalimantan. Pulau terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Awalnya memang benar apa yang dikatakan sepupuku dalam suratnya. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan pada Juni 2004, aku terkesima melihat kota pelabuhan Kumai dan Pangkalan Bun yang cukup ramai dan sudah terbilang maju. Namun perjalananku masih harus kulanjutkan hingga ke daerah yang jauh lebih pelosok di mana alamnya masih seperti surga dunia. Air sungai yang jernih dan hutan yang hijau dengan segala pepohonan berukuran besar di dalamnya. Kadang terlihat indah dan asri tapi kadang pula terlihat mengerikan dan angker bagiku karena gelapnya.

Awalnya aku sempat merasa tidak kerasan, karena di sini sama sekali tidak ada hiburan dan tempat mencuci mata seperti mall atau bioskop. Apalagi toko buku ataupun perpustakaan daerah, tempat yang paling sering kukunjungi selama masih tinggal di Bogor. Mau menonton televisi saja harus menunggu petang, dan padam menjelang tengah malam. Waktu itu percuma bila mempunyai handphone sekalipun karena belum ada satu pun tower operator selular yang berdiri. Sungguh sangat memprihatinkan. Tapi jiwaku terpanggil untuk bertahan di sini ketika kuketahui adik sepupuku yang masih bersekolah di SD tidak mendapat pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya dikarenakan tidak ada guru yang bisa mengajar. Walaupun aku hanya berijazah SMA, aku nekad menemui kepala SD sepupuku. Alhamdulillah, aku diterima. Dan tak hanya itu, SD desa tetanggapun turut memintaku untuk mengajar di sana. Sejak saat itulah aku resmi menjadi seorang guru. Aku telah berikrar pada diriku sendiri aku ingin memajukan daerah Kalimantan meskipun upayaku hanyalah secuil seujung kuku untuk daerah yang sedang berkembang ini. Tidak pernah kuduga kalau jawabanku pada guruku tentang cita-citaku saat kelas 2 SD dulu kini menjadi kenyataan. Bahkan aku telah memiliki usaha Bimbingan Belajar SUGIH dan menjadi bimbingan belajar terlaris di tempatku. Teman-teman SMP dan SMA-ku mungkin berhasil melanjutkan pendidikan di universitas-universitas ternama baik dalam maupun luar negeri. Biarlah aku menjadi seorang pangeran pengkhayal yang tengah bersembunyi untuk membangun daerah Borneo yang kini sudah menjadi tanah tumpah darahku.

(HidingPrinceOfBorneo)    
image

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

4 responses to “HidingPrinceOfBorneo, Apa-Siapa-dan Bagaimana Aku?!

  1. Hahaha kelihatanya kamu orang yang ceria ya.
    Salam kenal, smoga benerean jadi Princess 😀

  2. Makasieh ya sudah berkunjung tapi kok jadi princess? princess kan cw

  3. I’m pretty pleased to uncover this web site.

    I need to to thank you for your time for this particularly fantastic read!!

    I definitely really liked every bit of it and I have you saved to
    fav to see new information in your website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s