Tahun Kesebelasku di Kalimantan

image

Kemarin aku bertemu Pak Arif, pimpinanku semasa aku mengajar di SMANBA (2005-2013). Beliau menanyakan kabarku dan kami pun mengobrol seputar bimbingan belajarku di rumah. Akupun bercerita kalau akhir bulan nanti akan pergi ke Pulau Jawa entah untuk seberapa lama. Beliau berpesan sama seperti dulu setiap aku akan pulang ke Bogor, kota kelahiranku. “Kalau sudah minum air Kalimantan, pasti tidak akan betah di Jawa!” tutur beliau seraya menceritakan pengalamannya yang juga kerap tidak betah berlama-lama meninggalkan Kalimantan. Jujur kuakui beliau adalah orang yang bijak, karena beliau tidak pernah memandang manusia dari latar belakang pendidikannya melainkan dari kapasitas kemampuannya meskipun pendidikan orang tersebut sangat rendah. Buktinya meskipun pada 2005 silam aku masih tamatan SMA namun beliau menerimaku untuk mengajar di SMANBA. Sebab beliau mengakui kapasitas kemampuanku dalam mengajar. Pun demikian dengan penilaian para rekan guru pada masa itu, mereka turut mengacungi jempol atas bakat alamiahku dalam mengajar. “Kami salut dengan Pak Sugih, meskipun baru lulus SMA tapi Pak Sugih memiliki jiwa seorang guru. Sedangkan kami yang sudah sarjana saja masih canggung menghadapi murid!” begitulah kata rekan-rekanku sepuluh tahun silam.

Waktu memang terus bergulir, tanpa terasa kini aku sudah sebelas tahun lamanya menetap di Pulau Kalimantan. Selama tahun 2004-2008 aku masih menikmati perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor sedikitnya setahun sekali. Selepas itu aku tak pernah lagi pulang ke kota yang dijuluki sebagai kota hujan itu. Kini aku merasa sangat rindu, rindu sekali, rindu yang sangat berat yang kupikul selama tujuh tahun ini. Bayangkan, Bang Toyib saja meninggalkan kampung halamannya hanya tiga tahun. Sedangkan aku jauh lebih parah darinya! Hadeuh… 

Setelah aku resign dari SMANBA pada Juni 2013, sekitar empat bulan yang lalu akupun resign dari SDN Bangun Jaya. Aku memutuskan untuk berhenti berkiprah di sekolah. Bukan karena aku bosan mengajar. Melainkan karena rasa jenuh tinggal di Kalimantan yang sangat sunyi. Entah mengapa aku merindukan keramaian, hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, dan suasana pasar yang senantiasa padat oleh pengunjung. Aku berpikir untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang master/pasca sarjana (S2) di Pulau Jawa ataupun mencari beasiswa ke luar negeri. Dan aku pikir beasiswa itu kini tengah berada dalam genggamanku, karena aku telah memenuhi semua kualifikasinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengambilnya.

Semua orang di sekitarku amat menyayangkan keputusanku. Pasalnya saat ini bimbingan belajar yang telah kudirikan selama sebelas tahun lamanya tengah berada di puncak kejayaan. Dulu susah payah aku merintisnya dengan peluh keringat mengetuk pintu dari rumah ke rumah guna mencari pelanggan dan hanya dengan berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya jalan yang kutempuh aku terus berupaya menghimpun kepercayaan masyarakat bahwa aku adalah ‘teman’ yang tepat untuk membimbing putra-putri mereka dalam belajar. Akhirnya aku berhasil membuktikan bahwa siswa-siswi hasil bimbinganku mampu menjadi anak yang cerdas sesuai harapan orang tua mereka. Banyak sekali murid bimbinganku yang menjadi juara kelas, juara tiga besar, juara olimpiade SAINS, juara debat Bahasa Inggris, juara pidato Bahasa Inggris, juara telling story, dan segudang prestasi lainnya. Kini aku tak perlu lagi melakukan seperti apa yang dulu pernah kulakukan. Cukup berongkang kaki di rumah menunggu para pelangganku datang dengan sendirinya. Keunggulan bimbingan belajarku telah tersebar dari mulut ke mulut. Mungkin akulah orang yang selalu dicari masyarakat guna ‘menitipkan’ anak mereka di bimbingan belajarku. Meskipun bimbingan belajarku ini tidak terdaftar secara resmi di dinas pendidikan. Terbukti berdasarkan survey orang tua murid yang datang kepadaku, mereka mengatakan bahwa bimbingan belajarku adalah bimbingan belajar teramai di kecamatan kami, Balai Riam. Terlebih lagi aku memberikan pelajaran bahasa asing di bimbingan belajarku antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Pelajaran bahasa asing tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak bangku sekolah dasar dan menengah yang ingin melihat dunia luas.

Berhenti mengajar di dua sekolah yang kucintai bukan berarti hubunganku dengan kedua sekolah tersebut putus begitu saja. Bagaimanapun aku masih membina hubungan baik dengan rekan-rekan kerjaku. Sebab bagiku mereka adalah keluargaku sendiri tempat aku berkeluh-kesah selama ini. Saat mengundurkan diri aku berpamitan secara baik-baik dan berusaha meninggalkan kesan yang baik. Pimpinanku bahkan berpesan kepadaku, “Kalau ada waktu berkunjunglah ke mari! Kita ngobrol-ngobrol lagi seperti dulu!” rekan-rekan sesama guru masih sering bertemu denganku dan selalu bertegur sapa di jalan. Terkadang mereka mengirimiku pesan melalui SMS, WhatsApp, dan lain sebagainya agar aku mau mengunjungi mereka di sekolah. Uniknya meskipun aku sudah mengundurkan diri, aku merasa seperti masih mengajar di sekolah. Guru-guru dan kepala sekolah kerap datang menemuiku di rumah untuk meminta pertolongan kepadaku.

“Tolong latih anak-anak debat Bahasa Inggris ya Pak Sugih! Sekalian dampingi mereka saat lomba nanti di kabupaten!” 

“Pak, ada waktu nggak? Tolong bimbing anak-anak buat persiapan menghadapi Olimpiade SAINS bulan depan!” 

“Saya mau lanjut kuliah S2, bisa tidak saya les Bahasa Inggris sama Pak Sugih? Tolong bantu ya!”

“Bersediakah Pak Sugih mengoreksi Bahasa Inggris dalam tesis saya? Maklum, saya ndak bisa Bahasa Inggris!”

Tanganku selalu terbuka membantu mereka selagi aku mampu melakukannya. Aku heran mengapa selalu aku yang mereka cari? Seolah-olah hanya aku yang bisa diandalkan. Akan tetapi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang mereka berikan kepadaku, bukan?

Terus terang saat ini aku merasa berada di persimpangan jalan. Aku tengah berdiri dihadapkan  di antara dua pilihan : mengambil beasiswa ke luar negeri yang selama ini kuimpikan atau terus mengembangkan usahaku di dunia pendidikan di Kalimantan. Aku benar-benar dilema hingga mengalami insomnia berbulan-bulan lamanya. Bila aku mengambil beasiswa akankah aku bisa bertahan dengan keadaan di luar sana? Aku takut setibanya aku di luar negeri nanti aku akan mengalami homesick, culture shock, dan kerinduan yang mendalam kepada dunia yang tengah kujalani seperti sekarang ini. Tetapi ini adalah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi seperti saat aku lulus SMA pada 2004 lalu. Ya, dulu aku begitu bodoh melepas beasiswa ke Jepang yang sangat aku dambakan begitu saja. Sampai akhirnya aku berubah, aku tak lagi menginginkan untuk dapat berkuliah di Jepang. Bila suatu masa itu datang, aku hanya ingin berjalan-jalan di Jepang. Negara yang ada dalam pikiranku saat ini adalah Finlandia. Aku ingin melanjutkan program master di sana. Negara pencipta Angry Bird, game yang senantiasa membuatku tertawa di kala aku jenuh dengan pekerjaan. Bagiku Jepang dan Finlandia seperti dua surga yang terpisahkan dari Indonesia. Keduanya sangat menyejukkan mata.

Di sisi lain aku ingin mengabulkan harapan mama, mendirikan bimbingan belajar resmi di sebuah kota kecil tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dan aku sudah memiliki cukup modal untuk membukanya. Kalimantan memang prospek masa depan bagi kami. Kami akan menjadi pioneer di bidang kami. Karena staf pengajar di bimbingan belajar kami hanya kami berdua, aku dan mama. Akan tetapi bila aku tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, aku pikir aku takkan lagi mendapatkan kesempatan yang kedua kali. Terlebih usiaku akan semakin bertambah tua pastinya. Manakala akupun sudah kecewa kepada pemerintahan Presiden Jokowi yang telah membekukan penerimaan pegawai negeri sipil hingga 5 tahun ke depan nanti. Tidakkah ini berarti beliau tidak memberiku kesempatan untuk menjadi pegawai negeri? Padahal hatiku sudah mantap dan yakin kalau tahun 2015 ini aku bisa lolos tes penerimaan CPNS. Akh, aku tidak akan mempermasalahkan kebijakan yang dijalankannya. Bagiku yang penting aku masih memiliki masa depan.

Dua pilihan yang harus kutentukan, harus segera kuputuskan. Aku tidak ingin mengambil salah jalan. Karena keduanya menyangkut masa depan. Dalam dingin gelapnya malam, lagi aku menikmati insomnia yang membuatku diam terpekur karenanya.

Balai Riam, 15 Februari 2015

Tuhan Maha Adil

image

Suatu ketika seorang petani labu baru saja selesai menggarap ladangnya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon karet yang rindang dan teduh. Dihempaskannya pantatnya ke tanah untuk duduk dan bersandar pada batang pohon. Dikipaskannya topi caping ke dadanya yang kegerahan karena suhu udara siang itu teramat panas. Lama dia mengamati buah karet yang bergelantungan di pohon. Sejenak dia berpikir. Kemudian dia bergumam, “Kalau kuamati baik-baik, buah karet ini bentuknya sangat mirip dengan buah labu yang kupanen. Tetapi mengapa tuhan tak adil? Buah labu ukurannya besar sementara batang tanamannya sangat kecil. Kemudian buah karet ukurannya kecil sementara batangnya cukup besar. Tuhan sungguh tidak adil!” Petani itu merasa kecewa kepada tuhan.

Lama si petani labu itu terhenyak dalam lamunannya. Sampai akhirnya, ia tak sadar kalau sebutir buah karet yang tadi diamatinya tengah terjatuh karena terhempas oleh angin. Dan…

PLETAK!

“Adaaaaw…” teriak petani.

Buah karet itu jatuh tepat mengenai kepalanya. Lantas petani labu itu kembali bergumam.

“Oh, ternyata tuhan itu maha adil! Seandainya buah karet yang jatuh mengenai kepalaku ini berukuran sebesar labu-labu yang kupanen, tentu sudah pecah kepalaku dibuatnya!”

Petani labu itu lantas segera bangkit dari duduknya dan mengemasi hasil panennya secepat mungkin. Ia ingin cepat pulang ke rumah agar bisa sembahyang dan bersyukur kepada tuhan atas keadilan yang ditunjukkan tuhan kepadanya.

My Favorite Old Japanese Song : Sekai Ni Hitotsu Dake No Hana

image

Sekai Ni Hitotsu Dake No Hana

Sung by SMAP

Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o mite ita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne
Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinaide
Baketsu no naka hokorashige ni
Shanto mune o hatte iru

Sore na no ni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabetagaru
Hitori hitori chigau no ni sono naka de
Ichiban ni naritagaru

Sou sa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshoukenmei ni nareba ii

Komatta you ni warainagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa doremo
Kirei dakara shikata nai ne
Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Irotoridori no hanataba to
Ureshisou na yokogao

Namae mo shiranakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Daremo ki zukanai you na basho de
Saiteta hana no you ni

Sou sa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshoukenmei ni nareba ii

Chisai hana ya ookina hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
Number one ni naranakutemo ii
Motomoto tokubetsu na only one

Terjemahan Bahasa Indonesia  :

Satu-satunya Bunga yang Ada di Dunia

Aku menatap semua jenis bunga
Yang tertata rapi di toko bunga
Setiap orang memilih jenis yang berbeda
Namun mereka semua cantik
Tak satupun dari mereka bertarung
Atas siapakah yang terbaik
Mereka semua berdiri tegak dengan bangganya
Dalam potnya masing-masing

Jadi mengapa kita ingin
membandingkan diri kita seperti ini?
Mengapa kita ingin menjadi yang terbaik
Kalau setiap orang itu berbeda?

Ya, begitulah kita
Satu-satunya bunga yang ada di dunia
Masing-masing mempunyai bibitnya sendiri
Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik
Untuk menanamnya agar tumbuh menjadi bunga

Ada banyak orang yang
sedang kesulitan tersenyum
Karena mereka benar-benar kehilangan
Tapi itu bukan masalah
Karena setiap bunga telah bekerja keras
Agar tumbuh cantik
Pada akhirnya seseorang datang
Di luar toko bunga membawa sekeranjang
Bunga dengan warna yang berbeda-beda
Wajahnya terlihat sangat bahagia

Aku tak tahu namanya
Namun dia memberiku sebuah senyuman
Seperti bunga yang mekar
Di sebuah tempat yang tidak diperhatikan orang

Ya, begitulah kita
Satu-satunya bunga yang ada di dunia
Masing-masing mempunyai bibitnya sendiri
Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik
Untuk menanamnya agar tumbuh menjadi bunga

Bunga kecil, bunga besar
Tak ada satupun yang sama
Kamu tak perlu menjadi nomor satu
Kamu istimewa, satu-satunya kamu
Sebagai alasan pertama

Saat Aku Menjadi Motivator

image

Terkadang memang mudah bila kita memberi semangat kepada orang lain sehingga membuat orang lain menjadi termotivasi oleh perkataan kita. Terlebih bila pekerjaan kita adalah guru, dosen, psikolog, konsultan, ataupun pembina ekstrakurikuler. Tetapi ada kalanya juga justru malah sulit bila kita memberi motivasi kepada diri kita sendiri. Padahal kenyataannya, maju atau tidaknya diri kita untuk menjadi yang terbaik adalah berasal dari tekad diri sendiri. Kita sendirilah yang seharusnya memotivasi diri kita untuk meraih apa yang kita angan-angankan.

image

Banyak sekali hal yang kulakukan kepada orang-orang di sekelilingku agar mereka berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan mengubah kepribadian mereka yang pada awalnya tertutup, pemalu, dan pendiam menjadi berani membuka diri dan menunjukkan siapa jati diri mereka sesungguhnya.

Sebut saja beberapa kejadian yang pernah kualami antara lain :

-Aji adalah muridku yang cerdas. Ia sangat pandai Matematika. Lucunya, Aji kerap kali meremehkan soal yang dirasa mudah. Sehingga tiap kali Aji mengerjakan soal yang begitu mudah, justru ia menjadi kesulitan. Sebaliknya soal-soal yang dirasa sangat sulit bagi orang lain, Aji dapat mengerjakannya dengan begitu mudahnya. Aku tak pernah bosan untuk memberinya ‘warning’ agar Aji senantiasa teliti dalam mengerjakan soal. Akhirnya dengan segala wejangan dan ilmu yang kukuasai kuberikan padanya, Aji berhasil menjadi juara pertama olimpiade sains di tingkat kabupaten hingga provinsi. Saat itu Aji masih SD. Dan selepas SD, Aji melanjutkan sekolah ke Pontianak. Di sana Aji tinggal bersama Mbah Uti-nya. Tak disangka, Dinas Pendidikan Kota Pontianak selalu memperhitungkan nama Aji dari SMP hingga sekarang SMA. Setiap kali ada olimpiade matematika, Aji selalu diikutsertakan sebagai peserta dan tak pernah absen dari gelar sang juara. Wah, bukan main bangganya. Bila Aji menelepon menghubungi mamanya untuk melepas kangen, Aji kerap menyebutkan namaku. “Pokoknya Ma, adek harus dileskan di bimbelnya Pak Sugih! Jangan sampai tidak! Ingat Ma, Aji bisa juara semua berkat bimbingan Pak Sugih!” Aji mewanti-wanti sang mama agar adiknya yang sekarang bersekolah di SD didaftarkan les di bimbelku.

-Seorang muridku yang bernama Andhika (yang kuajar sejak SD hingga SMA) terkenal pintar dalam pelajaran SAINS, namun cenderung kaku dalam pergaulan sehingga ia tidak memiliki begitu banyak teman. Padahal sebenarnya cukup banyak teman yang mengagumi kepintarannya. Sampai akhirnya suatu hari, saat Andhika kelas VII SMP, aku sengaja menariknya untuk mengikuti seleksi Jambore Nasional 2006 di Jatinangor, aku benar-benar menggembleng karakternya. Berbagai latihan keterampilan, kecakapan diri teknik kepramukaan (tekpram), dan bimbingan mental, Andhika berhasil kuubah menjadi anak yang lebih luwes daripada sebelumnya. Akhirnya Andhika berhasil menjadi peserta Jambore Nasional 2006 berkat arahan yang kuberikan. Padahal sebelum ia terpilih, Andhika sempat bertanya kepadaku, “Apa mungkin saya mampu Pak?” Dengan tatapan meyakinkan kukatakan padanya, “Tentu saja kamu mampu, selagi kamu mau berusaha!”
Tak dinyana, sejak saat itu Andhika menjadi semakin cinta kepada pramuka dan selalu ingin memajukan pramuka di manapun ia berada.

-Saat muridku yang bernama Rahman (kelas X SMA) menjadi anak yang cenderung pemalu dan sulit bergaul, aku mengajaknya untuk mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Aku meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin. Aku terus melatihnya agar ia tidak malu berbicara di hadapan orang banyak. Dan tak sampai setahun, Rahman berhasil menjadi idola baru di sekolah karena kesupelannya dalam bergaul.

-Saat Rahmat juga muridku (kelas VII SMP) akan mengikuti lomba telling story Bahasa Inggris tingkat kabupaten, Rahmat merasa tidak yakin bahwa ia akan dapat menampilkan cerita yang harus ia bawakan. Selama beberapa bulan lamanya, aku melatih pronunciation Rahmat, gesture tubuh, dan olah vokal yang tepat saat mengisi suara berbagai karakter yang akan dibawakan Rahmat. Aku mengajarinya secara rutin dan penuh kedisiplinan setiap hari. Rahmat bahkan sempat minder dan takut kalah dalam perlombaan, di saat itulah aku mengatakan padanya, “Menjadi juara bukanlah hal yang penting. Bagi Bapak yang penting kamu mendapatkan pengalaman. Karena dari pengalamanlah kamu dapat belajar!” Akhirnya Rahmat tampil di hadapan juri dan puluhan penonton dengan penuh rasa percaya diri. Bahkan ia langsung menyabet juara ke-3, menyingkirkan puluhan peserta yang dianggap saingan berat olehnya. Dari pengalamannya itulah Rahmat terus belajar, dan aku selalu menjadi pelatih bahasa Inggrisnya di setiap kejuaraan Bahasa Inggris yang diikutinya setiap tahun, prestasinya kian menanjak, dan sampailah ia menjadi juara pertama English Speech Contest di tingkat kabupaten saat Rahmat duduk di kelas X SMA.

-Suatu hari aku berkata kepada bibiku seperti ini : “Bi, masakan Bibi lumayan enak, coba bikin kue-kue untuk kutitipkan di kantin sekolah. Keripik pedas juga boleh, kan keripik singkong buatan Bibi enak banget rasanya.” Bibiku awalnya tidak terlalu menanggapi ucapanku, “Ah, Bibi takut nggak laku. Siapa yang mau beli kue-kue dan keripik buatan Bibi, Gih?” Dalih bibi pada waktu itu. Di sisi lain bibiku menolak usulanku pasalnya karena perekonomian keluarga bibi memang dapat dikatakan cukup sejahtera. Tapi aku terus mendesaknya, “Belum juga dicoba, Bi. Percaya deh, dagangan Bibi pasti bakal laris manis!” Akhirnya bibiku bersedia mengabulkan keinginanku. Setiap hari aku membawa sekarung keripik singkong pedas untuk kutitip di kantin sekolah. Dan sesuai dugaanku, keripik dan kue-kue buatan bibi memang selalu menjadi primadona di kantin sekolah. Tidak hanya murid-muridku yang menggemarinya. Rekan-rekan sesama guru dan kepala sekolah pun senang memesan berbagai macam keripik buatan bibi padaku. Mulai dari keripik singkong sampai keripik pisang dengan varian rasa manis, pedas, gurih, asin, dan lain-lain. Tak hanya itu usaha bibi pun sekarang telah berkembang merambah menjadi home industri yang banyak dipasok ke toko-toko di daerah tempat tinggalku.

Bisa dikatakan apa yang kulakukan ini adalah memotivasi orang-orang di sekelilingku. Namun di sisi lain, ketika aku sedang terpuruk, justru aku malah tidak dapat menyemangati diriku sendiri. Mungkin pembaca ada yang pernah mengalami apa yang kualami. Berikut ini adalah tips untuk pembaca semua agar kalian dapat kembali bangkit di saat kalian sedang terpuruk dan memerlukan motivasi sebagai penyemangat :

1. Selalu ingat tuhan bersama kita. Apa yang tuhan berikan pasti yang terbaik untuk kita. Dan janganlah berburuk sangka kepada tuhan dengan mengatakan bahwa tuhan tidak adil!
2. Yakinlah bahwa kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai selagi kita mau berusaha untuk meraihnya.
3. Bacalah buku yang isinya berupa humor. Terkadang humor dapat membangkitkan semangat yang telah pudar dan kendor.
4. Hindari hal-hal yang berbau melankolis atau menguras air mata. Karena hal itu dapat menambah suasana hati kita semakin depresi dan tak bergairah. 5. Perbanyaklah berzikir dan shalat sunat (jika kalian muslim). Intropeksi diri : Apa-bagaimana-dan mengapa aku begini? Sesuatu hal baik yang pernah kita lakukan tentu akan berdampak baik pula bagi kita. Begitu pula sebaliknya sesuatu hal buruk yang pernah kita lakukan akan berimbas buruk pula kepada kita.
6. Bisikkanlah kepada diri sendiri dengan tekad yang bulat, “Aku harus bangkit! Aku tidak boleh lemah! Aku masih kuat! Aku masih sanggup untuk melakukan apa yang ingin kulakukan! Dan aku tidak boleh lengah!”

Selamat mencoba!  🙂

My Inspirator : Ricardo Howard

image

Pembaca sudah pada kenal dengan penyiar ganteng satu ini? Pernah melihatnya di layar kaca? Pada tulisanku kali ini aku akan mengajak kalian untuk mengenal sosoknya lebih dekat.

image

Kalteng boleh bangga memiliki putra daerah seperti seorang Donbernado Howard Shenken yang lebih dikenal sebagai Ricardo Howard dan akrab disapa Edo, penyiar Katambung TVRI Kalteng. Pria charming dan rendah hati kelahiran Pendahara, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, 11 Juli 30 tahun silam ini kariernya kian menanjak sejak ia menjuarai beberapa lomba yang diikutinya. Bahkan sekarang Edo sudah punya album (lagu Dayak dan pop) sendiri lho. Dengan kiprahnya itu Edo sekarang sudah merentangkan sayapnya di ranah hiburan nasional. Nama Edo kian bersinar dan lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi top hits di radio-radio Kalimantan Tengah. Nah, simak petikan obrolan super kepo via BBM antara aku dengannya ya… 😀

Hi Bro, boleh tahu sejak kapan kamu jadi penyiar TVRI Kalteng?
Hi juga, aku jadi penyiar TVRI Kalteng sejak 2013, sebelumnya aku udah jadi penyiar radio sejak SMP.
image

Wow, kamu sudah jadi penyiar radio sejak SMP? Amazing! Ngomong-ngomong di stasiun radio mana kamu dulu bersiaran? (Aku juga dulu pernah jadi penyiar lho… #PLAK! Pembaca gak nanya)
Radio Sangalang Perdana Katingan, kemudian oneFm Sampit, dan radio SeruyanFM di Seruyan.

image

Wuih, keren… keren… berarti nama kamu cukup ngetop dong ya? Eh, btw dari penyiar kok sekarang beralih profesi jadi penyanyi?
Sebenarnya enggak alih profesi kok. Kebetulan hobiku sejak kecil memang menyanyi. Tapi baru mulai berani ikutan lomba sejak kelas 1 SMA. Maklum dulu aku orangnya pemalu.

(Pemalu ya? Sama dong! #diketawain semut merah!)

image

Terus pernah ikutan lomba apa aja? (Lomba balap karung pasti pernah kan?)
Aku pengalaman pertama ikut lomba pop bintang radio, Kereng Pangi Katingan 2001, 2002 ikut lomba nyanyi dangdut di kecamatan, juara 3 pop lagu daerah se-Kalteng 2010, kemudian pernah ikut audisi Indonesian Idol di Jakarta 2012, juara 3 lagu keroncong tingkat provinsi Kalteng 2014, juara 2 putra pariwisata Kabupaten Seruyan 2009, dan masih banyak lagi kejuaraan lainnya.

image

image

(Eh serius tuh, pernah audisi Indonesian Idol juga? Triple wow buat Edo   ☆☆☆)

Ngomong-ngomong soal album, berapa jumlah album yang sudah kamu telurkan? (#Telur? Emangnya ayam?)
Aku sekarang sudah punya album bahasa Katingan dan 3 buah pop ciptaan sendiri.

(Mau dong dibikinin lagu sama Edo #www.ngarep.com)

Apa saja judul albummu mas Bro?
Single pop aku judulnya ‘Takkan Kusesali’. Album lagu Dayak pertamaku, ‘Kilau Tjilik Riwut’ bernuansa pop kental dengan piano. Lagu ke-2 NAMUEI (MERANTAU) dalam Master Album Bahasa Katingan ciptaan dan vocal aku sendiri dan pianist Zefanya Wahyudianto. Nuansa Pop dan piano tetap kental.

Bicara soal hobi, kegiatan apa yang kamu gemari? (Kamu gak suka ngupil sembarangan, kan? #hihihi… penulis iseng) 
Hobiku membaca karya sastra. Buku favoritku adalah karya Kahlil Gibran. Kadang aku juga suka baca buku tentang politik, budaya dan sosial. Aku juga hobi menulis, dan menyanyi.

image

Kesibukan sehari-hari kamu selain siaran apa saja?
Aku biasa ngemsi (jadi MC) dan nyanyi di cafe, restoran, acara resepsi pernikahan, maupun di gereja.

(Nanti kalo aku nikah, kamu ngemsi dan nyanyi di acara pernikahan aku ya! 🙂  )

Ada suka-duka selama menjadi penyiar di TVRI Kalteng?
Dukanya awalnya dicemooh orang dan diremehin……gaji kecil. Sukanya, belajar improvisasi (automaticly public speaking), banyak kawan, dikenal dan lebih tau kekurangan diri…

Ada pengalaman lucu selain suka-duka menjadi penyiar?
Lucunya, kalau ketemu orang aku dikira berumur 24 tahunan, padahal sekarang umurku 30 tahun.

Kalau diminta mendeskripsikan seperti apa dirimu, menurutmu sosok seorang ‘Ricardo Howard’ itu sebenarnya seperti apa sih?
About Ricardo, aku itu : Melakukan yang terbaik pasti hasilnya terbaik…..hidup harus menjadi BERKAT bagi diri sendiri maupun bagi orang lain…..God Bless us.
Mau Belajar
Mau Berdedikasi
Mau Mengalah jika itu untuk menang
Berusaha jadi teman dan sahabat yang baik…….
“ORANG YANG MENGUASAI PEMIKIRAN AKAN MENGUASAI MASA DEPAN”…………….bertekun dalam doa, kerja keras dalam bekerja…………….

Favorite Quotes :
‘be excelent 4 the best’

Terakhir, ada pesan gak untuk pembaca blogku?
Ada dong, setiap orang dianugerahi kelebihan dan kekurangan, apapun yang menjadi kelebihanmu jadikan itu sebagai acuanmu mewujudkan impianmu………..jangan berhenti untuk belajar dan merendah hati hingga kamu secara tidak sadar bahwa kamu adalah pribadi yang banyak tahu hal tapi tetap rendah hati……

Oke deh, terima kasih banyak ya Edo atas waktu luangnya. Semoga kariermu semakin sukses dan namamu makin melejit di dunia entertainment.

Ricardo Howard
PIN BBM : 280D7EBA
Facebook : Ricardo Howard
Soundclouds : Ricardo Howard 3

Puppy lover
image

So charming
image

Sering disandingkan dengan wanita cantik tiap bersiaran
image

image

Sebelum jadi penyiar TVRI
image

Mengapa Edo menjadi inspirasiku :
1. Dari suka-duka yang dialaminya, Edo mengajarkan kita agar di saat kita dilecehkan, diremehkan, atau dipandang rendah oleh orang lain sudah selayaknya kita menunjukkan nilai potensi diri yang kita miliki bahwa kita tidak pantas untuk diremehkan. Ingatlah harkat, martabat, dan
derajat manusia di mata tuhan itu sama.
2. Pekerja keras. Berbagai job Edo geluti mulai dari penyiar, penyanyi, sampai menjadi MC di berbagai acara. Bukan hal yang mudah untuk membagi waktu dan mendapatkan banyak pekerjaan sekaligus. Di luar sana banyak sekali penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, mereka berjuang namun hanya kesia-siaan yang mereka dapatkan.
3. Meskipun Edo telah berkiprah di kancah blantika musik nasional, dan namanya semakin tenar, Edo
tidak bersikap tinggi hati kepada semua orang. Ia tetap low profile dan down to earth, ramah bersahaja.
4. (Silakan diisi oleh pembaca )

My Inspirator, Ketut Rundeg

image

Lebih dari 10 tahun lalu  tepatnya pada tahun 2002 saat aku masih kelas 2 SMA, aku menemukan sebuah artikel di majalah Nipponia (majalah yang dibagikan cuma-cuma oleh Kedutaan Besar Jepang saat aku berkunjung ke perpustakaan instansi tersebut) yang mana dalam artikel majalah tersebut memuat profil tentang seorang tokoh yang bernama Ketut Rundeg dan telah menginspirasiku selama belasan tahun lamanya. #Duileh Jang, inspirasinya ketemu Doraemon ya?  😀

Meski majalah dan artikel tersebut telah raib entah ke mana setelah aku menyumbangkan sebagian koleksi buku-buku dan majalahku ke perpustakaan SMAN 1 Balai Riam, akhirnya aku menemukan kembali artikel tersebut di situs resmi majalah Nipponia. Hanya saja bedanya artikel di laman internet tersebut tidak dimuat dalam Bahasa Indonesia seperti yang dulu pernah kubaca (dulu aku sempat membaca artikelnya di majalah Nipponia dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jepang). Kini artikel tersebut tersedia hanya dalam Bahasa Inggris, Jepang, dan sebagian bahasa Eropa lainnya.

Ketut Rundeg-Pedagang yang murah senyum

Dari namanya pembaca pasti tidak asing dan mengira kalau orang ini pasti orang Indonesia. Pasti dari Bali kan? Yup, tepat sekali beliau memang orang Bali. Tapi siapakah dia? Inspirasi apa yang telah beliau berikan padaku? Hehe, pembaca penasaran? Yuk, kita berkenalan dengan beliau.

“Hal terbaik mengenai kimono adalah pola-polanya yang fantastic. Hanya orang Jepang yang sudah dapat mengembangkan sejumlah teknik yang artistic. Saya suka warnanya yang tebal, dan cerah yang terbaik.”

Ketut Rundeg bekerja di toko kain kimono dan pakaian di Kuroishi, Prefecture Aomori di Honshu Utara. Pada usia 38 tahun, dia masih muda, tetapi orang-orang bergantung padanya dan dia ditakdirkan untuk menjadi pemilik toko. Tokonya bernama Mikami Gofuku-ten, menjual pakaian terutama kimono, tapi juga meng-handle seragam sekolah dan seragam karyawan perusahaan. Saat bekerja, Rundeg sangat sibuk sepanjang waktu, melayani pelanggan, menjual produk, dan mengantarkan pesanan para pelanggan.

Dia dilahirkan di Nusadua, Pulau Bali-Indonesia. Bali adalah tujuan wisata yang terkenal, dan setelah lulus SMA, dia mendapat pekerjaan di sebuah hotel resor setempat, memberikan instruksi dalam olahraga laut untuk wisatawan mancanegara. Di situlah ia bertemu Yuko. Yuko datang ke Bali dari Jepang untuk bekerja, dan mereka menikah pada tahun 1988. Pada saat Rundeg berusia 24 tahun. Mereka pindah ke Jepang untuk tinggal bersama orang tua Yuko, dengan rencana bahwa ia akan mewarisi toko keluarga.

“Rencana pertama kami adalah untuk tinggal di Bali, tapi gaya hidup di sana begitu berbeda dengan di Jepang, dan saya pikir dia (Yuko) sudah keras beradaptasi. Jadi kelihatannya natural bagi kami berdua untuk pergi ke Jepang, dan saya pun beradaptasi dengan kehidupan yang ada. Menengok ke belakang, saya menyadari betapa optimisnya saya.”

Tantangan pertama yang menunggunya adalah salju yang terdapat di Honshu Utara setiap musim dingin. Dia belum pernah melihat salju sebelumnya dan menemukannya begitu indah. Namun itu membuatnya sakit dan kerap kali terjatuh setiap mengantarkan pesanan pelanggan dengan motornya. Ini sangat sering terjadi sehingga dia menyadari bahwa dirinya tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan benar seperti itu. Solusinya adalah jelas harus membuat SIM mobil, namun bagaimana dia melewati tes dengan semua aksara Kanji yang super rumit?

“Bahkan kemudian, saya benar-benar menikmati bernyanyi Jepang balada enka, karaoke-gaya. Liriknya ditulis dalam Bahasa Jepang pada layar video, dan saya harus meletakkan otak saya ke overdrive, mencari kata-kata sambil bernyanyi. Begitulah cara saya belajar Kanji.”

Tantangan sulit lainnya adalah melayani pelanggan. Ketika datang ke toko, sikap pelanggan di Jepang sangat berbeda dari mereka di Indonesia, dan Rundeg kebingungan saat menghadapi hal ini.

“Ketika seseorang memasuki toko di Indonesia, mereka yakin untuk membeli sesuatu. Jika tidak, kita berpikir mengapa mereka ingin masuk? Tapi di Jepang banyak orang masuk, hanya meminta harga sesuatu, dan kemudian berjalan keluar tanpa membeli sesuatu. Itu adalah kejutan, dan saya tidak tahu bagaimana menanganinya.”

Rundeg sempat tertekan, tidak mampu menjual apa-apa, tapi orang tua Yuko memberikan dukungan yang besar selama periode tersebut. Di toko itu Rundeg  akan berbicara dengan mereka terbata-bata dalam Tsugaru-ben, dialek lokal Jepang. Melalui inilah Rundeg belajar bagaimana memecahkan kebekuan ketika berbicara dengan pelanggan dan menyarankan mereka satu kimono yang lain. Para pelanggan akan menertawakan leluconnya dan membuka hati mereka kepadanya. Sebuah senyuman dan obrolan yang ramah adalah pembukaan untuk berjualan, dan Rundeg selalu gembira memberikan orang lain kesenangan, menangkap dengan cepat dan segera menjadi pembicara yang sangat baik. Dia bahkan diikutsertakan kontes dialek Tsugaru khusus untuk orang asing untuk pertama kalinya pada 1997.

Rundeg terkenal di komunitasnya. Dia seorang dj (disc jockey) pada program rutin yang disiarkan oleh stasiun radio FM lokal. Dia juga anggota eksekutif POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) di sekolah putrinya. Rundeg tinggal bersama istrinya Yuko, dua orang putri mereka, orang tua Yuko, dan nenek Yuko. Rumah mereka ada di lantai 3 bangunan toko. Rundeg sering menemukan waktu untuk membawa mereka semua dengan mobil ke mata air panas terdekat di daerahnya.

“Orang tua dan nenek istri saya banyak membantu saya, dan saya ingin menunjukkan kepada mereka beberapa apresiasi saya kembali. Saya merasa senang tinggal di Jepang, terima kasih kepada seluruh keluarga.”

Ketut Rundeg berbicara dengan senyum di wajahnya. Ketika ikatan keluarga ada, perbedaan budaya memudar. (Diterjemahkan dari laman majalah Nipponia Nomor 22, 15 September 2002).

Moral value yang dapat kita ambil berdasarkan kisah Ketut Rundeg di atas di antaranya :
-Berusahalah dan jangan pernah menyerah ketika kita menghadapi kesulitan!
– Senyuman dapat meluluhkan hati orang lain ketika kita berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan.
-Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu, justru perbedaan merupakan pemicu bagi kita untuk saling menerima satu sama lain.
-Sesibuk apapun kegiatan kita, berusahalah untuk menyempatkan diri meluangkan waktu bersama keluarga. Karena tanpa mereka, kita bukanlah apa-apa.

Aku benar-benar berharap bila Ketut Rundeg masih ada (mengingat artikel tentang beliau sudah kadaluwarsa), dan kebetulan membaca catatan postinganku ini, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberiku inspirasi yang begitu indah. Pak Rundeg, lanjutkanlah perjuangan Anda! Ganbatte 🙂 

Perbedaan Karakter Guru Zaman Dulu dengan Guru Zaman Sekarang

Kadang aku suka jengkel deh kalau melihat ada guru rekan-rekan kerjaku saat jam mengajar bukannya mengajar di kelas malah asyik ngerumpi di kantor bersama guru-guru lain yang kebetulan sedang jam kosong. Kalau kutanya mereka, “Loh, Bu, Pak, bukankah Anda seharusnya sedang mengajar di kelas?”, dengan santainya mereka akan menjawab begini : “Kan sudah saya beri tugas!”   Waduuh, memang kalau siswa diberi tugas, lantas guru boleh ya bebas meninggalkan siswa dan ngerumpi di kantor? Terus kalau dalam mengerjakan tugasnya, terdapat hal yang tidak dipahami oleh siswa, kepada siapa mereka akan bertanya? Kepada teman yang lebih pintar? Alih-alih bukannya mendiskusikan soal, para siswa itu juga akan ‘sibuk’ ngerumpi di kelas seperti yang dilakukan sang gurunya di kantor. Dan apa yang terjadi ketika sang guru kembali ke kelas? Biasanya guru akan bertanya, “Sudah selesai anak-anak?” Maka dengan serentak para siswa pun menyahut, “BELUUUUM Bu”. Anehnya guru itu malah balik mengomeli murid-muridnya, “Masak soal segitu saja kalian belum selesai?”   Inilah problematika dunia pendidikan zaman sekarang. Saya tidak tahu pasti ya, apakah para guru di daerah lain juga memiliki watak seperti rekan-rekan guru saya (maaf) di Pulau Kalimantan. Meskipun saya terbilang masih guru junior yang baru 10 tahun mengajar, namun hampir semua tingkatan jenjang pendidikan pernah saya alami, mulai dari SD, SMP, MTS, hingga SMA dan SMK pernah saya geluti baik di bawah instansi pemerintah (sekolah negeri) maupun instansi swasta.   Saat saya sedang mengajar di suatu kelas, tiba-tiba terjadi kegaduhan di kelas tetangga, sungguh membuat konsentrasi kegiatan belajar mengajar di kelas saya terganggu. Lantas saya datangi kelas gaduh tersebut untuk menanyakan jam pelajaran apa yang sedang berjalan di kelas mereka. Satu-satunya jalan yang dapat saya lakukan agar mereka tidak ribut lagi adalah saya menggantikan guru yang katanya ‘berhalangan mengajar itu’, dengan resiko saya harus bolak-balik ke kelas yang sebenarnya sedang saya ajar.   Sering saya berpikir, pola guru mengajar di zaman sekarang sangatlah berbeda dengan pola guru mengajar di zaman dahulu. Tetapi terkadang saya juga bertanya-tanya dalam hati, apakah pola guru  mengajar zaman sekarang yang saya ketahui itu hanya sebatas di area Kalimantan tempat saya tinggal atau memang benar-benar global di seluruh Indonesia?   Menurut saya perbedaan pola guru mengajar  zaman sekarang dengan zaman dahulu adalah sebagai berikut,   Guru zaman dahulu : 1. Mengajari siswa untuk berpikir kritis. Guru senantiasa melatih siswa untuk dapat peka terhadap lingkungan dan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. 2. Guru ‘menekan’ siswa untuk menghafal pelajaran, seperti perkalian misalnya, guru zaman dulu terbilang sukses mendidik murid. Zaman saya kelas 2 SD, saya dan teman-teman saya sudah hafal semua perkalian 1×1 hingga perkalian 10×20. Lha, anak zaman sekarang jangankan kelas 6 SD, anak SMA saja tidak hafal perkalian! Dulu, di era orde baru (rezimnya Presiden Soeharto) guru sering memberi tugas siswa untuk menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur tiap provinsi, nama-nama ibukota provinsi, hingga nama-nama negara di dunia lengkap dengan ibukota, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa resmi, bentuk negara, dan bentuk pemerintahannya. Tapi zaman sekarang, mana ada murid yang hafal daftar menteri zaman sekarang, apalagi ibukota provinsi! Nama ibukota provinsi sendiri saja tidak tahu! Lucunya lagi sering murid-murid saya mengira kalau Pulau Jawa itu adalah  negara lain. Mereka bertanya, “Ibukota negara Jawa itu apa, Pak?” 3. Guru senang melatih kedisiplinan, keras, dan mistar kayu menjadi juru sanksi bagi murid yang tidak disiplin. Dulu belum marak pelanggaran HAM. Pedoman : Guru sebagai orang tua di sekolah, sangat dijunjung tinggi masyarakat. Sehingga murid akan merasa malu kepada teman-temannya bila terkena hukuman dari guru. Tetapi lihat zaman sekarang, murid bukannya takut terhadap sanksi sekolah, malah dengan cueknya mereka bebas keluar-masuk sekolah sekehendak hati mereka. Dan tidak ada lagi guru yang berani memberikan hukuman fisik kepada murid karena dianggap pelanggaran HAM. Sebagai dampaknya, di zaman sekarang harga diri seorang guru pun dapat diinjak-injak oleh muridnya. 4. Guru zaman dulu sangat care (peduli) terhadap siswa. Bila ada siswa yang sakit, guru akan mengajak para siswanya untuk menjenguk siswanya yang sakit. Saat mengajar di kelas, guru akan berkeliling untuk mengamati muridnya satu-persatu dan mengajari siswanya yang kurang mengerti materi yang sedang diajarkan. Lha, guru zaman sekarang daripada berkeliling mending asyik main hp (teleponan, chatting, facebookan, twitteran, upload foto, sms-an, dll). 5. Guru zaman dahulu senang mengajak siswa belajar menerawang (eits jangan negative thinking dulu!) Maksudnya, guru zaman dulu suka sekali mengajarkan peta buta dan menghitung mencongak. Anak-anak zaman dulu tidak ada yang buta peta! Guru sering memberikan peta gambar pulau, siswa disuruh menebak, pulau apakah yang dimaksud. Lalu dalam peta pulau itu guru akan menanyakan nama gunung, nama sungai, nama teluk, nama laut, nama selat yang terdapat di sekitar pulau dalam peta. Huhu, dulu aku jagonya pelajaran IPS Geografi itu. Kemudian guru matematika juga senang mengajak berhitung tanpa corat-coret mengotret di kertas. Itulah yang dinamakan mencongak, seakan kita sedang dilatih menjadi seorang pedagang yang sedang menghitung untung-rugi. Bagiku mencongak seperti melukis di udara, karena tanpa kusadari saat sedang berhitung tanganku bergerak-gerak menuliskan angkanya tanpa tercetak di sehelai kertas pun. 6. Guru zaman dulu lebih berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Tidak ada guru yang senang meninggalkan kelas saat jam mengajar, terlebih sampai cuti bukan pada tempatnya. Guru zaman dulu selalu berprinsip “Tidak akan berhenti mengajar sebelum siswa menjadi pandai”. Saya sering geleng-geleng kepala melihat rekan-rekan kerja saya meliburkan diri jauh hari sebelum waktunya libur, dan datang kembali ke sekolah jauh hari setelah waktu libur usai. Kok mereka tidak malu ya sudah makan gaji buta? 7. Senang menyampaikan kalimat : “Sayang sekali waktu kita sudah habis, apabila kalian belum mengerti pelajaran yang diterangkan ibu, silakan temui ibu di kantor! Atau di mana saja kalian bertemu ibu, silakan tanya saja. Di jalan, ataupun kalian datang ke rumah ibu, silakan! Dengan senang hati ibu akan menerangkan pelajarannya kepada kalian.” 8. Guru zaman dulu berkompeten dalam mengajar. Tidak ada guru yang canggung saat mengajar. Bila berdiskusi atau tanya jawab dengan siswa, guru mampu menjawab segala persoalan yang dikemukakan oleh para siswa. 9. Guru zaman dulu hafal semua muridnya satu-persatu. Mulai dari raut wajah sang murid, sampai tingkat kecerdasan (kelemahan dan kelebihan) yang dimiliki sang murid pun, guru zaman dulu sangat hafal. Ada seorang murid nenekku yang datang berkunjung menemui nenekku setelah 20 tahun pensiun sebagai guru, nenekku bertanya “Siapa ini?”, murid itu menjawab “Saya Ahmad,  murid ibu waktu SD tahun 1970, yang sering ibu jewer kupingnya,” kemudian nenekku tersenyum mendengar hal itu, “Oh, kamu yang suka menyonteki hasil pekerjaan si Budi itu ya!” Murid bernama Ahmad itu lalu tersenyum, “Ternyata ibu masih ingat saja!” Awalnya saya kira, ah mungkin itu kebetulan daya ingat nenek saja yang memang tajam. Tapi dugaan saya berubah setelah saya mengalami kejadian lain tatkala seorang rekan kerja nenek yang juga seorang pensiunan guru datang berkunjung ke rumah nenek. Beliau bercerita kepada nenek, “Jeng, tadi aku ketemu si Indra murid kita dulu tahun 1980-an. Ya ampun, aku enggak menyangka loh, Indra yang dulunya lemah ilmu aljabar sekarang malah jadi pengusaha sukses! Padahal dulu kalau kutanya berapa 10×10, dia cuma bisa diam menunduk.”   Nah, hebat kan guru zaman dulu? Coba bandingkan dengan karakteristik guru zaman sekarang : 1. Cuek terhadap murid. Nama murid di kelas yang diajarnya tidak hafal. Paling yang diingatnya hanya sebatas murid terpintar, dan murid ternakal. 2. Kalau murid tidak mengerti pelajaran yang diterangkan, ya sudah lewat saja. Kata orang Kalimantan bilang “Pus am!” (Masa bodoh). Kalau nilai murid tidak memenuhi standar, paling-paling diberi nilai standar minimal (padahal muridnya belum mampu mencapai nilai standar). Jadi nilai standar yang diberikan guru lebih berkesan nilai belas kasihan bukan karena batas kemampuan murid. 3. Sering meninggalkan tugas mengajar. Alasannya : keluarga ada yang sakit (kenyataannya malah hura-hura dan rekreasi ke tempat wisata). 4. Guru takut kepada murid. Kalau murid melanggar peraturan, guru membiarkan tidak berani memberi sanksi. Murid zaman sekarang pintar memutarbalikkan fakta, biasanya setelah dihukum oleh guru di sekolah, murid akan mengadu berlebihan kepada orang tua di rumah. Lantas orang tua pun menjadi berang dan menggugat pihak sekolah. Oleh sebab itulah guru zaman sekarang malas memberi sanksi kepada murid yang bermasalah. 5. Guru zaman sekarang sibuk berbisnis. Apapun bisa dijadikan uang. Tidak hanya lahan usaha pribadi di rumah, tugas siswa di sekolah pun menjadi lahan bisnis. 6. Guru zaman sekarang sering open book karena tidak menguasai materi yang akan disampaikan kepada siswa. Saya sering aneh melihat rekan saya, beliau memberikan soal matematika kepada murid-muridnya, tetapi beliau sendiri tidak tahu jawabannya. Lantas bagaimana beliau menilai hasil pekerjaan murid-muridnya? 7. Guru zaman sekarang tidak suka ditanyai muridnya mengenai pelajaran yang belum dimengerti. Kalau ada murid yang minta dijelaskan kembali materi yang belum dipahaminya, eh sang guru malah balik mengomel, “Makanya kalau saya sedang menjelaskan, kamu perhatikan!” (Padahal muridnya itu juga sudah memperhatikan loh!) 8. Guru zaman sekarang senang memacari murid. Parahnya guru-guru itu menjadikan murid sebagai selingkuhan mereka. Enggak banget deh! Saya pernah melihat dua orang siswi saya bertengkar di jalan raya karena meributkan guru-guru kekasih mereka. Sebut saja si A berpacaran dengan guru B, dan si C berpacaran dengan guru D. Nah si A menggosipkan hubungan si C dengan guru D. Begitu juga sebaliknya si C menggosipkan hubungan si A dengan guru B. Sampai akhirnya mereka berdua ribut di tempat umum, saling mencakar wajah dan menjambak rambut. Sementara di sudut sekolah guru B dan guru D adem ayem saja menikmati jajanan di kantin.   Itulah bejatnya moral guru zaman sekarang. Mana moto yang dulu katanya Guru itu adalah orang yang patut digugu dan ditiru? Di zaman yang semakin rumit ini, figur guru yang baik sangat sukar sekali ditemukan! Ironisnya, keburukan-keburukan karakter guru zaman sekarang itu banyak saya temui di sekolah negeri atau instansi milik pemerintah. Sedangkan pengalaman saya mengajar di sekolah swasta elite dan bonafid justru guru sekolah swasta tersebut jauh lebih baik daripada karakter guru di sekolah negeri. Seperti di antara lain :   1. Guru sekolah swasta lebih disiplin dalam kehadiran, datang lebih awal, dan pulang lebih akhir. 2. Guru sekolah swasta menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Waktu itu murid saya menumpahkan susu ke lantai. Meskipun dia baru kelas 1 SD, saya mengharuskannya untuk membersihkan lantai sampai benar-benar bersih, dan tak lupa anak itu harus meminta maaf kepada petugas kebersihan sekolah (cleaning service). 3. Guru sekolah swasta dilarang keras meninggalkan siswa di kelas tanpa ada guru pengganti. Saya pernah kena tegur rekan-rekan sekantor, gara-gara saya kebelet buang air kecil dan pergi ke toilet meninggalkan siswa di kelas tanpa dipantau guru lain. Saya pikir ini soal sepele, tetapi sepulang dari toilet, saya diceramahi oleh guru-guru lain sampai setengah jam, waduh malunya bukan main. 4. Guru sekolah swasta tidak boleh bubar meskipun siswa sudah bubar. Waktu itu siswa saya bubar jam 1, tapi saya baru boleh pulang jam 3 lewat. Pasalnya saya harus menyiapkan materi ajar untuk keesokan harinya. 5. Guru sekolah swasta tidak diperbolehkan beristirahat sebelum jam siswa bubar. Saat siswa istirahat saja guru pun harus mengawasi dan menjaga mereka agar mereka tidak ribut saat makan. Makan pun siswa harus tertib, terutama saat siswa mencuci tangan dan mencuci piring. Jangan sampai mereka malah asyik main air. Saat siswa bermain di kelas guru harus menjaga jangan sampai siswa berkelahi karena masalah sepele.   Semoga di masa yang akan datang kinerja guru di sekolah manapun menjadi jauh lebih baik.