My Trip In Java #3

Hola! Pembaca belum bosan kan membaca jurnal perjalananku selama di Jawa? Ini mungkin akan menjadi cerita terakhir dari trilogi jurnal perjalanan yang kubuat. Sebelumnya aku mohon maaf kalau tulisanku ini agak telat berhubung kesibukanku yang sudah kembali ke Kalimantan sekarang. Terutama kepada Bang Omnduut yang pernah kujanjikan kuliner khas Bogor. Juga kepada Mbak Feli yang tak pernah berhenti memberi support padaku agar aku berhasil meraih beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Saat ini aku merasa seperti sehelai daun yang terombang-ambing oleh tiupan angin dan tak punya kendali untuk berpijak. Aku tak tahu harus berhenti di mana. Jalan mana yang seharusnya kutempuh?

Tepat tanggal 9 Maret 2015 aku berangkat dari Graha Utama-Tangerang menuju Cijelag-Sumedang. Halte bis sangat sepi hampir tidak ada calon penumpang selain aku dan seorang wanita yang tampak asyik memainkan gadgetnya. Semenjak tiba di Jakarta kuperhatikan orang-orang di kendaraan umum banyak yang menggunakan ponsel berukuran layar sebesar gaban (5-7 inchi). Apakah ponsel seperti itu sedang trend? Entah mengapa aku jadi merasa malu mengeluarkan ponselku dari saku jaket yang kupakai. Ponselku hanya sebatas Samsung Galaxy Ace 3 yang layarnya tak sampai 5 inchi. Bis Agra Mas jurusan Cikarang yang kunanti tak kunjung datang. Sudah hampir 2 jam aku duduk menanti di halte. Sekumpulan pelajar SMP berseliweran di hadapanku dan ramai memperbincangkan perihal begal motor yang baru saja dibakar massa baru-baru ini. Kebetulan tempat kejadiannya tidak jauh dari halte tempatku menunggu bis.

Tepat pukul 11.40 aku berhasil mendapatkan bis yang kunanti-nantikan. Karcis jurusan Tangerang-Cikarang kubayar seharga Rp22.000,00. Perjalanan yang kutempuh diwarnai kemacetan kota megapolitan Tangerang-Jakarta-Bekasi. Sehingga aku baru tiba di Cikarang tepat pukul 1 siang. Begitu aku turun dari bis dinginnya AC membuatku tidak tahan ingin segera buang air kecil di toilet umum terdekat. Sekeluarnya dari toilet, bis Widia, satu-satunya bis yang tersedia untuk menuju Sumedang melintas di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku segera menaikinya, padahal perutku sangat lapar ingin menikmati makan siang terlebih dahulu. Sayang apa boleh buat, daripada aku tidak bisa sampai di Sumedang lebih baik kutahan saja rasa lapar di perutku. Semoga di tengah perjalanan nanti banyak pedagang asongan yang menjajakan makanan ringan untuk mengganjal perutku. Perjalanan menuju Sumedang ini harus mengocek biaya Rp35.000,00 dari Cikarang. Belum lagi biaya untuk membayar pengamen jalanan yang tak pernah ada habisnya. Mereka naik dan turun dari bis ke bis di setiap persimpangan jalan dan lampu merah. Bis yang kunaiki berukuran sangat kecil hanya memuat 20 penumpang. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya minibus.  Sepanjang perjalanan terlalu banyak panorama hutan jati terutama di Kabupaten Subang dan Sumedang. Maka tak heran bila nama-nama desa di sana banyak yang menggunakan awalan kata ‘jati’ seperti ‘Jatinangor’, ‘Jatiwangi’, ‘Jatijajar’, ‘Jatibening’, ‘Jatitujuh’, ‘Jatigede’, dan lain sebagainya. Mulanya aku pikir perjalanan yang kutempuh hanya berkisar 4 atau 5 jam. Ternyata aku baru sampai di tempat tujuanku setelah menempuh 7 jam perjalanan. Tepat pukul 8 malam aku baru tiba di rumah bibi. Alamak capek sekali…

Aku sangat terkejut ketika akan menyeberang jalan menuju rumah bibi begitu aku turun dari bis. Kebetulan rumah bibi memang terletak di pinggir jalan raya provinsi. Tapi hal yang membuatku terkejut adalah nama toko bibi rupanya masih menggunakan nama toko mama. Sebelumnya rumah bibi adalah rumah mama. Hanya saja karena mama tidak ingin jauh dariku, mama sengaja menjual rumah dan tokonya kepada bibi lalu mama hijrah ke Kalimantan menyusulku. Tatkala aku mengucapkan salam, bibi sedang berbaring di toko bersama Yusuf, adik sepupuku. Ealah aku dan bibi sama-sama pangling. Sama seperti kejadian yang kualami di Bogor, bibi pun hampir tak mengenaliku saking gemuknya badanku sekarang. Padahal bibi sudah melihat foto profilku di BBM tiap kali kami chatting. Aku sendiri nyaris tak mengenali sepupuku yang sekarang juga sama-sama bertubuh gemuk sepertiku. Tidak berbeda denganku, Yusuf pun berubah menjadi gemuk setelah kecelakaan motor yang menimpanya. Sekitar dua tahun yang lalu saat Yusuf pulang kuliah dari Sumedang, sebuah truk yang mengangkut batu bara menyerempet motor yang dikendarai Yusuf. Motor Yusuf pun oleng kehilangan keseimbangan. Yusuf jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Wajah Yusuf dipenuhi darah meski helm menutupi kepalanya. Para warga yang melihat kejadian itu mengira Yusuf sudah meninggal. Enggan menjadi saksi mata, lantas para warga malah menutupi tubuh Yusuf dengan daun pisang yang diperoleh dari pinggir jalan. Suatu kebetulan pamanku (ayah Yusuf) yang baru pulang kerja melintas dan melihat Yusuf terkapar di jalanan menjadi tontonan banyak orang. Menyadari orang itu adalah Yusuf, pamanku segera melarikan Yusuf ke rumah sakit besar di Cirebon. Yusuf mengalami koma dan harus mengalami beberapa kali operasi. Mulai dari operasi bedah paru-paru hingga operasi tulang rahang. Tuhan masih sangat menyayangi Yusuf. Hingga saat ini Yusuf masih diberi nyawa oleh-Nya. Meski kepalanya sudah tidak dapat menoleh 90 derajat, namun kesehatan Yusuf berangsur-angsur pulih dan dapat menjalani rutinitas kuliahnya kembali setelah cuti satu tahun.

Ternyata bukan hanya aku dan Yusuf yang sekarang bertubuh gemuk. Pamanku juga sekarang bertubuh gemuk jauh dari keadaan 6 tahun silam terakhir kali kami bertemu di mana kala itu tubuh paman masih sangat kurus. Jika kami bertiga berdiri berjajar, bibiku mengatakan kalau kami adalah triple bonbon. Haha… ada-ada saja nih bibi. Sebenarnya berkunjung ke Cijelag itu sangat membosankan, karena aku tidak leluasa ke mana-mana tidak seperti halnya di Bogor yang memiliki banyak mall atau tempat hiburan dan dapat dijadikan tempat untuk mencuci mata. Hal yang dapat dilakukan selama di Cijelag hanya jalan-jalan menelusuri perkampungan penduduk atau Sungai Cimanuk. Lumayan asyik sih, rumah-rumah penduduk Kabupaten Sumedang itu rata-rata terbilang masih banyak yang bergaya tradisional. Aku tidak tahu pasti apakah itu rumah adat yang disebut ‘julang ngapak’, ‘limasan’, atau ‘keraton kasepuhan’ mengingat banyaknya rumah adat khas Provinsi Jawa Barat. Rumah-rumah itu disusun dari bebatuan yang ditata sangat rapi dipadu dengan dinding yang terbuat dari papan dan bilik. Benar-benar terlihat sangat antik!

Suasana perkampungan di Sumedang

image

image

image

Selain kuliah kegiatan sehari-hari Yusuf adalah merakit komputer dan memperbaiki laptop. Yusuf memang berkuliah di jurusan IT. Lucunya bila mendapat pesanan rakitan komputer dari teman-temannya, ia enggan menerima pembayaran uang cash di muka. Ia senantiasa meminta pembayaran via transfer. Alasannya untuk menghindari uang palsu! Hadeuh… Yusuf… Yusuf… bisa saja adik sepupuku yang satu ini akalnya. Entah mengapa kedatanganku ke Sumedang juga malah menambah pekerjaan buat Yusuf. Tanpa sengaja saat aku membenahi pakaian dalam tas, notebook yang sedang kupegang terlepas dari tanganku dan membuat covernya pecah. Otomatis ini menjadi pekerjaan untuk Yusuf. Terlebih Yusuf mendiagnosa kalau papan keyboard notebookku harus segera diganti. Maka keluarlah uang Rp150.000,00 dari rekeningku. Tuh kan, uang asli ya Suf! 😀

Rutinitas bibiku sehari-hari adalah melayani para pembeli yang tak kunjung henti di toko. Kadang aku kasihan melihatnya. Bibi hampir tak bisa beristirahat saking ramainya pembeli. Bahkan saat hendak makan sekalipun bibi nyaris tak bisa makan. Baru satu suap bibi menikmati makanannya, pembeli di depan rumah sudah teriak-teriak, “Punteun… Bu, bade meser!” (Permisi… Bu, mau beli!). Sayangnya bibi tak memiliki pembantu. Semua pekerjaan rumah tangga terpaksa dibagi dua antara paman dan bibi. Sementara Yusuf jarang sekali berada di rumah. Pamanku pun sebenarnya sangat sibuk dan aktif bermasyarakat. Selain menjabat sebagai kepala dinas kehutanan di Kabupaten Sumedang, pamanku memiliki banyak yayasan sosial yang setiap hari dikontrolnya. Pamanku memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sewaktu Aceh mengalami bencana tsunami, banyak anak Aceh yang diambilnya dan ditampungnya di panti asuhan yayasannya. Bahkan setiap malam paman mengajari para anak yatim-piatu belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengaji.

Jiwa sosial paman yang tinggi menurun kepada Ratna (kakak Yusuf), adik sepupuku yang kalem. Sudah dua tahun ini Ratna tinggal di Jakarta dan bekerja di Departmen Sosial. Bahkan Ratna dipercaya menjadi asisten pribadi Ibu Hj. Khofifah, menteri sosial. Ratna sudah kerap kali menemani perjalanan dinas luar sang ibu menteri. Seluruh pulau besar di Indonesia sudah pernah dijelajahinya. Peranan Ratna adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat di pelosok mengenai masalah-masalah sosial. Meski sibuk terkadang setiap dua minggu sekali Ratna pulang ke Sumedang pada akhir pekan. Sayang, tuhan belum berkenan mempertemukan kami kembali. Padahal bila aku memerlukan informasi seputar beasiswa, Ratna adalah informan yang tepat. Karena dia memiliki banyak channel yang belum diketahui banyak orang. Ayo dong Ratna bantu Aa-mu ini. Hehehe…

Tepat pada hari ke-5 aku berada di Sumedang, saat aku sedang mengemasi pakaian untuk kembali ke Bogor, tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Ibu Rensi, mantan pimpinanku di SDN Bangun Jaya membuatku penasaran dalam rangka apa beliau menghubungiku. Seingatku tugasku membimbing murid-murid pilihan untuk mengikuti Olimpiade SAINS sudah selesai. Bahkan tak dinyana semua murid bimbinganku itu berhasil memborong semua peringkat mulai dari juara pertama hingga juara ketiga baik bidang Matematika maupun IPA. Dan ini adalah prestasi luar biasa yang berhasil kucetak seumur hidupku. Gagal mengangkat telepon, akupun menghubungi balik ibu Rensi. Beliau memberi kabar sekaligus memerintahkan agar aku segera terbang ke Kalimantan pada hari itu juga guna melengkapi berkas sertifikasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sukamara. Alamak, sertifikasi? Aku tidak pernah menduga kalau akhirnya namaku terdaftar sebagai calon sertifikasi guru. Padahal aku sudah 5 bulan mengundurkan diri dari SDN Bangun Jaya. Ternyata meskipun aku sudah resign dari sekolah tersebut, NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan)-ku masih terdaftar secara online di Departmen Pendidikan. Tanggal 16 Maret 2015 adalah batas terakhir penyerahan berkas. Sementara hari itu adalah tanggal 13 Maret 2015. Waktuku hanya tersisa 3 hari. Bila aku memaksakan terbang (tentunya dengan pesawat ) ke Kalimantan akan memakan waktu yang sangat lama. Sebab perjalananku dari Sumedang ke Jakarta pun tidak dapat ditempuh dalam hitungan 2 atau 3 jam, melainkan 7-8 jam sodara-sodara! Mungkinkah aku akan sempat melakukannya?

Aku mendadak gamang. Berkali-kali aku berteriak dalam hati bahwa tujuanku ke Pulau Jawa adalah untuk meraih beasiswa. Aku sudah maju, dan tidak mungkin harus mundur lagi. Aku tidak mau cita-cita dan impian yang kuangan-angankan selama ini kembali hancur seperti sebelas tahun silam saat aku lulus SMA. Nasihat-nasihat dan support yang pernah diberikan oleh Mbak Feli terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimanapun aku harus mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tekadku sudah bulat! Aku termenung sejenak. Berkali-kali masih terdengar suara di ujung telepon bahwa aku harus kembali ke Kalimantan karena ini menyangkut masa depanku, ungkap Bu Rensi meyakinkan. Setelah aku menutup pembicaraan di telepon, aku menceritakannya kepada paman, bibi, dan Yusuf. Anehnya mereka semua malah menyuruhku untuk mengikuti saran Bu Rensi. “Pergilah! Perjuangkan sertifikasi!” tegas pamanku. Masih ragu dengan tanggapan mereka semua, akupun segera mengabari mama via telepon. Tentu saja hal ini membuat hati mama senang, “Akhirnya ada juga jalan yang membuatmu tidak bisa meninggalkan Mama!” ungkap mama dengan perasaan bahagia. “Tujuanku meraih beasiswa ke luar negeri bukan untuk meninggalkan mama, melainkan untuk menimba ilmu dan pengalaman yang selama ini ingin kucari. Tolong pahami itu, Ma!” batinku berkata lirih.

“Gih, perjalanan kariermu di Kalimantan sudah sangat panjang. Sangat sayang jerih-payah yang kamu perjuangkan selama ini menjadi sia-sia jika kamu tinggalkan. Sekarang sudah saatnya kamu menikmati kejayaan! Kamu sudah mempunyai nama di sini, di saat orang-orang mulai mengandalkanmu. Apa kamu rela melepas semuanya begitu saja? Coba kamu pikirkan, bila kamu pergi dari sini maka kamu akan memulai segalanya dari nol lagi! Apa kamu tidak capek?” bujuk mama via telepon.

Aku terhenyak larut dalam pikiranku menimbang-nimbang dan memikirkan matang-matang. Aku beristikharah memohon petunjuk tuhan. Aku masih ingat banyak sekali kegagalan yang kuraih selama ini. Tiga kali gagal mengikuti tes CPNS, dua kali gagal mengikuti seleksi database honorer. Padahal dari segi kelengkapan berkas dan qualifikasi aku sudah memenuhi semuanya. Namun di balik kegagalanku ada segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja menghapus namaku dari database honorer  pada tahun 2011 dan menggantinya dengan nama orang lain yang telah memberinya sejumlah uang. Padahal jika diusut lebih lanjut masa bakti penggantiku itu sama sekali tidak memenuhi persyaratan, dia hanya baru terbilang 2 tahun mengajar sedangkan aku sudah di atas 6 tahun. Lagi-lagi oknum yang tidak bertanggung jawab itupun memanipulasi data yang ada. Dibuatnya masa bakti orang yang menggantikanku itu seolah-olah sudah melebihi masa bakti yang disyaratkan. Hal inilah yang membuatku kecewa dan berhenti mengabdi kepada semua sekolah instansi pemerintah. Namun mama terus mendorongku agar aku tetap bertahan. Entah harus sampai kapan? Aku jemu menanti harapan palsu yang selalu diberikan kepadaku.

Setelah merenung beberapa saat, kuputuskan untuk mencoba membuat beberapa rencana sekaligus. Aku harus membuat beberapa opsi dan strategi agar cita-citaku tetap dapat tercapai. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Namun tidak ada salahnya juga aku mencoba menyerahkan berkas sertifikasi. Bukankah hidup itu adalah pilihan? Manusia memang selalu memiliki rencana, tapi hanya tuhan yang menentukan. Seorang guru pernah berkata kepadaku, “Seorang pejuang sejati tak pernah berhenti mewujudkan impiannya dan menyerah begitu saja. Ia akan selalu menempuh banyak jalan ketika ia menghadapi kegagalan! Andai ia terbentur gunung sekalipun ia akan mendaki gunung tersebut. Namun bila ia jatuh ia akan menggali terowongan agar ia bisa sampai ke seberang. Bila gunung itu terlampau keras baginya, ia akan berdoa kepada tuhan agar gunung itu dilenyapkan dari pandangannya!”

Foto-foto bersama bibi, Yusuf, dan paman

image

image

Segera kukemasi pakaianku dan pamit kepada paman, bibi, serta Yusuf. Kepergianku diiringi dengan doa mereka semua. “Lakukan yang terbaik selagi kamu mampu!” pesan paman padaku. Aku berangkat menuju Bogor sebelum waktu semakin berkurang. Di sana ada seorang penasihat yang harus kutemui karena hanya dari dialah aku sering mendapat pencerahan. Dia tak lain adalah sahabatku sejak kecil yang kini sering muncul di televisi. Cukup sulit membuat jadwal pertemuan dengannya. Namun demi aku dia selalu rela mengorbankan waktunya. Semoga saja kami dapat bertemu.

Aku tiba di Bogor tepat pukul 7 malam. Kupikir aku tidak akan memiliki waktu lagi untuk menikmati suasana di Bogor. Maka kuhabiskan malam itu dengan berkeliling-keliling Kota Bogor mulai dari mengunjungi Botani Square, Toko Buku Gramedia, Taman Topi, Jembatan Merah, hingga Jalan Mawar. Aku berusaha menyempatkan diri mencari barang-barang yang sulit kucari di Kalimantan antara lain: buku TOEFL Preparation, buku Mandarin for Children, buku Korean for Children, Oxford Dictionary, Buku Kumpulan Soal Ujian Kenaikan Kelas untuk Kelas 3-5 SD, hingga parfum Polo Sport kesukaanku. Alhamdulillah cukup banyak barang yang kuborong hingga satu tas penuh. Untung saja beratnya tidak melebihi 20 kg sehingga tidak akan over bagasi di pesawat. Tinggal transaksi tiket pesawat secara online. Tanpa ragu aku langsung mengakses situs resmi Kalstar Aviation. Setelah mengisi beberapa data yang diperlukan, tinggal melakukan transaksi pembayaran. Oow… mengapa transaksi pembayarannya tidak bisa menerima transfer via BRI? Padahal pada menu pilihannya terdapat pula menu ATM Bersama, tapi mengapa tidak dapat melakukan transaksi? Hari sudah larut malam, semua agen travel di Bogor sudah tutup. Kucoba untuk melakukan transaksi via mobile-banking, lagi-lagi pada aplikasi BRI di ponselku tidak tercantum nama maskapai Kalstar Aviation. Yang ada hanya menu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Tak putus asa aku segera beranjak menuju ATM di tepi jalan raya. Menu yang sama kudapati seperti dalam ponselku. Mungkinkah ini adalah pertanda kalau aku harus menunda kepulanganku ke Kalimantan? Barang sehari saja tidak apalah! Lagi pula aku masih betah ingin di Bogor.

Menikmati hari terakhir di Bogor

image

Terowongan penyeberangan bawah tanah tematik

image

Pameran aneka kumbang Indonesia di Botany Square

image

Cara bercocok tanam yang baru, pameran Botany Square

image

Aih… cantiknya rusa pakistan di halaman istana Bogor ini. Oh iya sekarang istana Bogor menjadi tempat peristirahatannya Presiden Jokowi…

Keesokan harinya aku berangkat menuju agen travel yang terdapat di Taman Topi. Benar dugaanku tiket yang telah kubooking semalam telah digantikan orang lain. Otomatis aku hanya bisa mengikuti penerbangan pada hari berikutnya. Di saat yang bersamaan, sahabatku yang ingin kutemui mengkonfirmasi pertemuan kami via telepon. Hari Minggu pagi 15 Maret 2015 pukul 7 pagi ia akan menjemputku sekaligus mengantarku ke terminal bis Damri.

Hari terakhir di Bogor aku manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Aku tidak begitu yakin akan bisa kembali ke Bogor suatu saat nanti. Hanya dengan doa aku tak pernah berhenti meminta kepada tuhan agar segala usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang terbaik. Semoga saja baik sertifikasi ataupun beasiswa pasca sarjana ke luar negeri dapat kuraih salah satu di antaranya tanpa suatu kendala apapun. Ary, sahabatku, selalu menepati janjinya. Aku senang pada detik-detik terakhir keberadaanku di Bogor dapat dipertemukan kembali dengannya. Lama sekali kami tidak berjumpa semenjak pertemuan terakhir kami saat aku mengikuti kegiatan Raimuna Nasional di Cibubur pada tahun 2008. Saat itu Ary baru saja lulus S1 sementara aku belum memiliki ijazah sarjana. Ia sengaja datang dari Bogor untuk melihat kegiatanku di Cibubur. Persahabatan kami bermula sejak kami bertetangga di Cimanggu Kecil ketika kami masih TK. Waktu itu rumah kami berhadap-hadapan maka tak jarang kami menghabiskan waktu bermain bersama baik siang maupun malam. Orang tuanya sangat baik kepadaku dan kepada semua orang. Masih kuingat dengan jelas bila mama Ary membuat kue, tetangga satu RT pasti kebagian. Ketika masuk SD Ary pindah rumah ke Loji, Bogor Barat. Aku sangat kehilangan teman sepermainanku. Saat aku kelas 3 SMP aku sengaja bersilaturrahim ke rumahnya dan menjalin persahabatan kami kembali yang sempat terputus selama 8 tahun. Sejak saat itulah kami sering melakukan pertemuan dan jalan-jalan berdua mengitari Bogor. Minimal satu bulan sekali kami bertemu. Semenjak aku hijrah ke Kalimantan kami mengagendakan pertemuan kami menjadi satu tahun sekali berhubung aku hanya bisa pulang ke Bogor satu tahun sekali, setiap liburan panjang pada bulan Juli. Akan tetapi agenda tahunan itu terhenti semenjak mama menjual rumah di Bogor dan pindah ke Sumedang sampai akhirnya mama menetap tinggal di Kalimantan bersamaku. Walaupun begitu aku tak pernah putus komunikasi dengan Ary. Beruntung aku hidup di zaman berteknologi canggih. Adanya Facebook, WhatsApp, dan Line membuat kami bisa saling melihat aktivitas kami satu sama lain. Aku senang melihat Ary kini sudah menjadi orang sukses, kerap masuk televisi sebagai pemuda yang berprestasi, dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan adanya pendamping hidup dan seorang buah hati. Kelihatannya Ary benar-benar sangat bahagia bersama keluarganya.

Sebagai seorang sahabat, Ary adalah pendengar yang baik. Banyak kata-kata ajaib yang terlontar dari mulutnya dan sering menjadi penyemangat bagiku di kala aku menghadapi masalah. Pertemuan hari itu dengannya hanya berlangsung 2 jam. Aku harus segera berangkat menuju bandara dengan menaiki bis Damri. Awalnya Ary sangat ingin mengantarku ke bandara, berhubung ia harus mengikuti meeting dengan teman-teman sesama volunteer, maka Ary hanya dapat mengantarku sampai Botany Square saja.

Foto-foto bersama Ary

image

image

image

Adikku dibalut seragam pramugarinya
image

Have lunch sebelum boarding pass

image

Selfie dalam pesawat

image

image

Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng adikku mengirim pesan via BBM meminta agar aku menunggunya di terminal 1C. Ia ingin melihat kepergianku kembali ke Kalimantan. Atau jangan-jangan karena ia masih rindu denganku? Adikku bahkan memohon kepada para petugas security check in agar ia diperkenankan masuk ke ruang tunggu pesawat bersamaku. Dengan ID card pramugari yang dimilikinya ia berhasil diperkenankan masuk tanpa kendala apapun. “Mas, saya boleh ya mengantar kakak saya sampai ke dalam?” pintanya kepada salah seorang petugas security sambil menunjukkan ID card pramugarinya. Lucunya petugas security itu malah balik menggoda, “Oh boleh Mbak. Ngomong-ngomong bacht berapa?” hadeuh… dasar petugas genit. Cari kesempatan dalam kesempitan. Masak dia menanyakan apartmen adikku? Adikku menemaniku hingga pemberangkatanku tiba. Waktu yang begitu minim kami pakai mengobrol membahas seputar masalah pekerjaan kami masing-masing. Begitu terdengar panggilan di pengeras suara yang memanggil para calon penumpang Kalstar agar segera naik ke pesawat, adikku pun turut mengantar sampai ke depan pintu pesawat. Mungkinkah ia ingin ikut bersamaku pulang ke Kalimantan? Setelah aku berpamitan padanya dan ia mencium tanganku sebagai tanda perpisahan, kulihat adikku membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan lunglai. Sempat kulihat status terbarunya di BBM : “Ingin ikut ke Kalimantan ketemu sama mama!” ckckck… kasihan sekali dia. Segera kuhempaskan tubuhku di kursi samping pintu darurat sesuai permohonan adikku saat kami check in. Hanya dalam hitungan beberapa menit pesawat yang kunaiki pun segera lepas landas. Dalam satu jam ke depan aku akan segera tiba di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hatiku berasa sesak. Aku belum begitu puas menikmati kunjunganku kepada keluarga di Pulau Jawa. Di luar jendela rinai hujan tampak rintik-rintik dengan awan yang begitu berkelebat. Menemani suasana hatiku yang sedang gamang.

#SELESAI#

Advertisements

My Flight to Java Island

image

Akhirnya di sinilah aku berada sekarang, di tanah kelahiranku Bogor. Setelah tujuh tahun lamanya tidak mengunjungi nenek, bibi, paman, dan keluarga besarku lainnya berhasil memecahkan rasa rindu yang membuncah selama ini. Tujuh tahun lamanya aku terkurung kesunyian di Pulau Kalimantan yang sepi sejak kepulangan terakhirku pada 2008. Bagai seorang pertapa di tengah hutan yang menuntut ilmu tinggi. Dan sekalinya aku kembali ke tengah-tengah keramaian, aku bagai orang katrok yang tidak pernah menjamah kota besar. Benar, aku telah menjadi ‘wong ndeso’ yang begitu polosnya mengamati hiruk-pikuk kegiatan orang-orang kota. Bahkan saat aku akan menyebrang jalan raya sekalipun, alamak… “AKU TAKUT MENYEBRANG… PAK POLISI TOLOOOONG DONG!”

 

Perjalananku menuju Pulau Jawa berawal tanggal 1 Maret 2015 silam. Dari Desa Bangun Jaya (rumahku) aku berangkat menaiki travel ke Pangkalan Bun dengan biaya Rp150.000,00. Biaya yang cukup mahal bukan? Padahal kalau kita naik bis dari Pangkalan Bun ke Palangka Raya yang jaraknya mencapai 5 kali lipat jarak yang kutempuh (Bangun Jaya-Pangkalan Bun), ongkosnya hanya Rp100.000,00. Lalu apa yang menyebabkan ongkos travel yang kunaiki begitu mahal? Sampai saat ini akupun belum mengetahuinya dengan pasti. Dugaanku barangkali agar para pengusaha travel di tempatku cepat kaya. Atau mungkin karena tingkat pendapatan penduduk di desaku sudah lumayan tinggi sehingga para pengusaha travel memanfaatkan situasi ini. Well, lanjut ke perjalanan, ternyata tidak ada penumpang lain selain aku. Supir travel sengaja memilih jalan lintas Kotawaringin Lama yang sebenarnya masih belum diaspal dengan tujuan menghemat waktu. Padahal jalan lintas Lamandau jauh lebih baik selain aspalnya mulus, pemandangan sepanjang perjalanan pun sangat indah dan segar. Banyak bukit batu yang tertata sangat rapi dan unik membuat kita ingin berfoto ria di sana. Akh, mari kita lupakan pemandangan indah! Pada malam sebelum keberangkatanku menuju Pangkalan Bun, desaku dilanda hujan. Tidak terlalu deras memang, namun sangat fatal akibatnya. Apa pasal? Jalan lintas Kotawaringin Lama yang kutempuh berhasil menjebakku dalam kemacetan! Waduh… bisa mengantri berjam-jam nih! Karena jalan lintas Kotawaringin Lama belum diaspal, otomatis hujan semalam membuat jalanan menjadi kubangan lumpur yang siap menelan kendaraan-kendaraan yang melintasinya. Antrean panjang kemacetan pun sempat membuatku jenuh. Beruntung, mobil terdepan yang terjebak lumpur (baca : KEPLATER) berhasil diselamatkan nyawanya (emangnya orang?). Begitu kami terbebas dari antrean panjang mobil travel yang kunaiki langsung melesat kencang. Alhamdulillah, aku selamat sampai di Pangkalan Bun.

image

Sebelum berhenti di hotel tempatku bermalam, karena aku akan mengikuti penerbangan keesokan harinya (2 Maret 2015) terlebih dahulu om supir travel (aku biasa memanggilnya Om, biar kelihatan muda terus 😀 ) membawaku ke agen di mana aku telah membooking tiket penerbangan yang akan kunaiki. Aku membooking tiket pesawat Trigana tujuan Cengkareng seharga Rp570.000,00. Tiket ini telah kubooking satu hari sebelumnya (28 Februari 2015). Wow, murah sekali. Bandingkan jika aku harus membeli tiket kapal laut tujuan Semarang, Rp400.000,00! Mana yang akan pembaca pilih? Alasanku memilih pesawat Trigana adalah ingin mencobanya (dasar katrok, kan? 😀 ), berhubung aku sudah cukup sering menaiki pesawat Kalstar dan kebetulan pada saat itu harga tiket Kalstar sedang tinggi Rp1.130.000,00 dengan jadwal penerbangan yang sama. Oke, setelah transaksi pembayaran tiket selesai, aku dan om supir travel melanjutkan perjalanan ke Hotel Abadi tempatku menginap. Just for information biaya menginap di hotel ini berkisar antara Rp165.000,00-Rp200.000,00 permalam dengan fasilitas standar layaknya hotel pada umumnya. Relatif murah kan?

image

Mumpung masih di Pangkalan Bun, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membeli oleh-oleh. Pamanku yang tinggal di Bogor memesan batu permata kecubung yang belum diolah. Heran, mengapa batu permata sedang menjadi trend terutama orang-orang di Pulau Jawa? Tidak sulit bagiku mendapatkan batu kecubung itu, karena daerahku merupakan tempat penghasilnya. Satu kilogram batu kecubung ungu dihargai Rp200.000,00-Rp300.000,00. Sedangkan batu kecubung putih dihargai Rp150.000,00 perkilogramnya. Usai membeli batu, akupun mencari oleh-oleh lainnya untuk nenek. Akhirnya aku mendapatkan beberapa penganan khas Kalimantan Tengah : kerupuk ikan, amplang dengan berbagai rasa ikan (haruan/gabus, tenggiri, dan belida), keripik buah naga, dan chestick rasa ikan. Wah, satu dus penuh hanya berisi oleh-oleh, semoga tidak over bagasi di bandara.

 
image

Sayang cuaca di Pangkalan Bun sedang tidak bersahabat, sehingga membuatku tidak leluasa menikmati tamasya di dalam kota. Sepanjang hari hingga malam aku terpekur di dalam hotel, berselancar di internet via ponsel, sambil menonton televisi. Begitu pagi menjelang aku segera mencari ojek untuk berangkat menuju bandara. Karena penerbanganku tepat pukul 7 pagi. Kali ini aku harus mengocek Rp30.000,00. Sebenarnya sih Rp25.000,00, tapi sisa kembaliannya dibawa kabur oleh tukang ojek (hadeuh, pasti rezeki tukang ojek itu nanti menjadi tidak halal). Segera aku menuju antrian calon penumpang yang sedang memasuki pintu pemeriksaan. Ternyata oh ternyata, sudah seminggu ini pesawat Trigana delay terbang dikarenakan suatu alasan yang tidak diketahui dengan jelas. Ngakunya sih sedang reschedule, tapi entahlah. Beruntung ya bandaranya tidak menjadi sasaran amukan massa seperti kasus Lion Air di Jakarta. Singkat cerita, rupanya aku telah memasuki antrean yang salah. Antrean itu adalah khusus calon penumpang pesawat Kalstar dengan tujuan Semarang. Dan, aku tidak mendapatkan sama sekali calon penumpang pesawat yang sama denganku. Hey… ada apa ini? Apa aku sudah ketinggalan pesawat? Buru-buru aku segera menghampiri loket reservasi Trigana Air. Dan di sana kudapati sekelompok bapak yang sedang komplain kepada petugas ticketing. Mereka menuntut agar mereka dapat terbang pada hari itu juga (2 Maret 2015). Berhubung aku enggan untuk kembali ke hotel, aku turut bergabung dengan kelompok bapak-bapak itu. Dengan sangat memaksa kami meminta agar kami dialihkan ke pesawat lain dengan penerbangan yang terjadwal pada hari itu. Alhasil hanya dalam waktu 30 menit, kami berhasil mendapatkan tiket Kalstar yang akan terbang pada pukul 1 siang. Tentu saja tanpa menambah biaya yang kurang mengingat mahalnya harga tiket Kalstar. Lucky me, akhirnya aku bisa bertemu pramugari-pramugari cantik pesawat Kalstar lagi. Hehehe… 😀

 

Menunggu hingga pukul 1 siang memang sangat membosankan. Terlebih Bandara Iskandar Pangkalan Bun sangat minim fasilitas. Jadi aku kurang menikmati suasana di bandara. Untunglah aku bertemu dengan calon penumpang yang mengalami kejadian sama denganku. Sebut saja Mr. X, karena kami tidak saling memperkenalkan diri. Ternyata dia berasal dari Bandung, otomatis kami langsung akrab dan mengobrol menggunakan Bahasa Sunda. Umurnya masih muda (23 tahun) dan cukup good-looking. Dari tiket yang diperolehnya ternyata dia duduk di deret bangku pesawat yang sama denganku. Persis di sebelahku. Waktu yang mempertemukan kami hanya beberapa jam membuat kami sangat akrab. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dan menyapaku. Beliau adalah Bapak Leo, tetanggaku. Beliau baru saja tiba dari Semarang. Beliau bercerita kalau sebenarnya beliau seharusnya menaiki pesawat Trigana pada dua hari yang lalu. Namun lagi-lagi terjadi kasus yang sama di Semarang. Penerbangan Trigana terpaksa delay hingga beberapa hari kemudian. Padahal beliau harus terbang pada hari keberangkatan tersebut. Dengan sangat terpaksa beliau turut mengikuti para calon penumpang lainnya di Semarang. Yakni meminta uang mereka kembali dan membeli tiket pesawat lain dengan harga yang relatif lebih mahal. Otomatis Bapak Leo harus menambah biaya Rp300.000,00 untuk membeli tiket pesawat Kalstar yang akan dinaikinya. Kasus yang sama denganku namun berbeda penanggulangan. Dari pengalaman yang baru saja kualami dan kuceritakan kepada Bapak Leo, beliau menarik kesimpulan bahwa pengalaman itu sangat mahal harganya. Pengalamanku dapat dijadikan contoh oleh beliau bila suatu saat beliau mengalami kasus pesawat delay lagi.

 
image

Sedang asyik-asyiknya mengobrol, kami mendengar panggilan di pengeras suara yang meminta para calon penumpang pesawat Kalstar untuk segera memasuki ruang tunggu. Selang setengah jam kemudian pesawat yang kami tunggu tiba tepat pada waktunya. Aku dan teman seperjalanku yang berasal dari Bandung tadi sangat senang melihat pesawat datang. Kami pun sempat berselfie ria sebelum menaiki tangga pesawat. Haha… perhatian kami tersita setelah kami duduk dan mengencangkan sabuk pengaman oleh sejumlah pramugari cantik berpenampilan modis dan beraroma parfum yang sangat wangi. Lima menit kemudian pesawat pun lepas landas. Penerbangan kali ini sangat nyaman karena aku mendapat pengalaman berharga dan teman seperjalanan yang menyenangkan. Hanya dalam 70 menit pesawat pun mengudara. Pulau Jawa, aku kembali!

Pramugara-Pramugara Ganteng

image

image

Heran deh, waktu aku buka aplikasi WP (baca : WordPress) di hp-ku akhir-akhir ini, pada bagian statistiknya di sana dijabarkan bahwa para pengunjung blogku ini terlempar oleh Google saat mereka mencari keyword : ‘Pramugara’,  ‘pramugara-pramugara ganteng’, ‘pilot’, dan ‘pilot ganteng’. Kok bisa begitu ya? Apa karena aku ini ganteng? (ehm, ehm, merapikan kerah kemeja). Atau karena dulu aku pernah berkeinginan untuk menjadi seorang pramugara tetapi gagal lantaran kelewat ganteng? #Gubrak keselek meja. Tapi yang jelas bukan karena adikku seorang pramugari kan? (Ehem… sorry tidak membuka lowongan pencarian calon adik ipar). Atau jangan-jangan itu gara-gara aku pernah menulis tentang sahabatku si Jb yang berprofesi sebagai seorang pilot muda, dan Radina Nandakita pramugari cantik dari Maskapai Singa yang sekarang menjadi seniornya adikku? Hahaha… ada-ada aja si Eyang Google ini. Anyway, thank you so much Grandpa Google. Because of you, my blog is quite much crowded. Hohoho… lol 😀

Pembaca sudah baca kan judulnya di atas? Postingan kali ini aku mau memposting tentang beberapa orang temanku yang berprofesi sebagai pramugara. Siapa tahu mereka bisa menjadi inspirasi kita semua. Amiiiin…. Tapi sebelumnya, izinkan aku terlebih dahulu sedikit sharing serba-serbi mengenai pramugara, boleh kan? Siapa tahu di antara para pembaca ada yang berminat menjadi pramugara. Apa yang ingin kubagikan ini berdasarkan pengalaman adikku yang berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pramugari ditambah sedikit salinan dari blognya Radina Nandakita si pramugalau #jadi pramugari jangan galau mulu donk Mbak 😉 . Check this out ya…

Menjadi pramugara itu :

image

1. Penampilan fisik adalah prioritas utama setiap maskapai. Pramugara pesawat mana sih yang enggak ganteng? Untuk menjadi seorang pramugara, paling tidak kita harus memiliki postur tubuh yang tegap, tinggi badan yang at least 170 cm dengan berat badan proporsional, dan aura yang kharismatis. Ceileh… Just FYI di China sono seleksi pramugara itu sangat ketat men! Sampai ada snap shot pose bugil segala lho. Gila kan? Emangnya ini seleksi tentara dan polisi?

image

2. Komunikatif. Anda tidak memiliki public speaking yang luwes? (Wes, gaya bahasanya formal amir). Hmm, jangan harap ada maskapai yang bersedia merekrut Anda. Seorang pramugara yang baik dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan publik. Sebab tugas pramugara itu membuat para penumpang merasa aman dan nyaman selama penerbangan kan? Mungkin nggak sih, seorang pramugara yang akan melayani penumpangnya diam terus di pesawat tanpa bicara sepatah katapun? Kaya apa dia akan menyerahkan konsumsi kepada penumpang? Ups, jangan-jangan konsumsinya dilempar gitu aja ke muka penumpang ya? Enggak banget! So, skill komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan Anda diterima atau tidak menjadi pramugara, apalagi bila Anda mempunyai segudang ide kreatif seperti yang kerap dilakukan oleh para FA di ‘pesawat merah’ saat demo pemakaian jaket pelampung, lucu-lucu bukan?

3. “Mas kulitku ‘berkunat’, kira-kira bisa diterima nggak ya jadi pramugara?” *pembaca tahu kunat nggak?* Kata orang Banjar (Kalsel) kunat itu adalah bekas luka. Well, aku kasih bocorannya nih ya, jawabannya can be yes can be no! Waktu adikku mengikuti recruitment di ‘maskapai merah’ dan ‘maskapai burung’ (maaf nama disamarkan^^) kata interviewernya begini : “Mbak, tolong itu bekas lukanya diobati dulu ya! Bagaimana caranya kek, supaya kulitnya kelihatan mulus! Operasi laser misalnya. Jadi Mbak bisa kembali ke sini lagi kapan-kapan!” Saran sang pewawancara. Dengan hati kecewa yang teramat-sangat adikku meninggalkan ruang interview sambil mukanya ditekuk. Coba aku yang diinterview, ucapan si pewawancara bakal kubalas : “Oh iya, terima kasih banyak atas sarannya ya, Bu. Kalau boleh saya laser mata Ibu sekalian sampai bolong biar kelihatan semakin cantik!” Kalian tahu, aneh bin ajaib setelah mengikuti recruitment yang ketiga kalinya, kali ini adikku melamar ke ‘maskapai singa’. Eh, langsung diterima! Nah lho, memangnya para interviewer ‘maskapai singa’ tidak memeriksa kunat adikku? What a better luck!

image

4. Pintar dan bisa bahasa asing hanya nilai tambah. Jangan kira adikku berhasil menjadi pramugari karena jago bahasa Inggris seperti kakaknya ini ya #hahaha… *tertawa keselek bohlam lampu*. Semasa SMA-nya, sebagai kakak dan juga merangkap sebagai gurunya di sekolah aku ini sangat pelit memberi nilai bagus kepada adikku sendiri. Adikku ini gayanya seperti seleb kampus. Dia menjadi ratu di sanggar tari tempatku mengajar. Hampir setiap jam pelajaranku dia tidak hadir di kelas saking sibuk show bersama sanggar tarinya di luar kota. Wow. Alhasil, adikku ketinggalan banyak pelajaran. Dan nilai yang kuberi di rapor untuknya hanya nilai pas-pasan, kisaran 7 sampai 8,3. Tidak terlalu tinggi bukan?

image

5. Bila kalian seorang pelajar yang berkeinginan menjadi FA (Flight Attendant), tidak ada salahnya kalian mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti paskibra, pramuka, PMR, sanggar tari, bela diri, dsb. Karena ada banyak sekali manfaat yang bisa kalian dapatkan seperti wawasan yang luas, keterampilan, menambah teman pergaulan, juga pengalaman yang sangat berharga. Sama seperti aku, adikku juga sangat aktif mengikuti kegiatan ekstra di luar rumah. Sangat jarang kami memiliki waktu berkumpul bersama keluarga saking sibuknya dengan kegiatan-kegiatan yang kami geluti. Tetapi hikmah dan esensial manfaatnya tak pernah putus kami rasakan hingga saat ini. Ketika adikku mulai menikmati bagaimana rasanya dibully oleh para seniornya setelah ia berhasil menjadi seorang pramugari, sekali waktu dia berkata, “Memang yang namanya senioritas itu selalu ada di mana-mana! Tidak hanya di sekolah, di sanggar tari, di paskibra, di pramuka, bahkan jadi pramugari juga ada! Untung mentalku sudah kuat ditempa sejak aku mengikuti semua ekskul itu!”

image

6. Matamu rabun? Perasaan nggak ada deh pramugara naik pesawat pakai kacamata. Kalau yang pakai lensa kontak, banyak. Katanya, pramugara itu matanya boleh minus hanya -1. Lebih dari itu siap-siap saja berobat ke dokter mata supaya normal. #dicolok Baygon juga boleh! 😀

7. Gigi berlubang? Tamballah! Pengalaman beberapa pramugara menyatakan pada saat pesawat mencapai suatu ketinggian, dinginnya suhu udara dapat membuat gigi yang berlubang menjadi sakit, ngilu, dan nyeri. Itulah mengapa banyak maskapai yang merekrut para calon FA-nya yang memiliki gigi benar-benar bagus. Wah, seandainya aku bintang iklan pasta gigi pasti aku diterima juga jadi pramugara. Hihihi…

Nah, tahukah kalian kalau pramugara itu…

image

1. Banyak yang mencap ‘The stewards are faggot!’ (Pramugara itu homo). Omigot, enggak juga kalee… lantaran fisik pramugara itu banyak yang kelewat ganteng lantas mereka dicap ‘gay’ seenaknya. Hadeuh, memangnya kalau ada polisi ganteng, tentara ganteng, presiden ganteng, lantas mereka itu adalah homo semua? Buang jauh-jauh deh negative stereotype seperti itu! Pramugara juga laki-laki normal kok. Faktanya, pramugara memang senantiasa banyak yang menggoda. Tidak hanya kaum hawa, kaum Adam pun sangat banyak yang senang menggoda para pramugara. Nah hal inilah yang menimbulkan adanya stereotype yang menyebutkan bahwa pramugara itu kebanyakan homo.

2. Untuk menjaga ketampanan fisik, pramugara juga sering rajin ke salon, fitness di gym center supaya postur tubuh tetap terjaga, sampai melakukan facial layaknya pramugari. Mungkin karena hal ini juga banyak masyarakat yang menilai pramugara itu seperti point pertama di atas. But remember, it’s only 1% among 100. Gak pernah kan melihat ada pramugara di bandara yang tangannya ‘melambai’. “Eh, Ses Nita mau terbang ke mana cyn?” ;P

3. Katanya pramugara itu doyan ngedrugs. Memang sih drugs sangat diperlukan para FA buat menjaga stamina mereka supaya tidak loyo. Kalian tahu bagaimana rasanya terbang sampai 3 kali bolak-balik dalam sehari? Efek jet lag-nya itu lho, bikin badan jadi ambruk. Tapi bukan berarti semua FA gemar mengkonsumsi narkoba lho! Sebagian dari mereka menggunakannya sesuai petunjuk para medis, dan sebagian lain tidak menggunakannya sama sekali.

4. Tempat yang sering dikunjungi pramugara. So pastilah hotel, caffe, bar, diskotik, bioskop, mall, restaurant, kolam renang, dan pantai. Sangat jarang pramugara yang menikmati berwisata di kota persinggahannya dengan mendaki gunung. It’s so weird and absurd. Pasti lucu kan seandainya seorang pramugara dipanggil terbang oleh krunya, tahu-tahu dia sedang hiking ke puncak Jaya Wijaya. Ngapain coba? Mau ketinggalan pesawat ya? Perasaan belum pernah dengar ada pramugara ketinggalan pesawat. Kalau calon penumpang yang ketinggalan pesawat, jangan ditanya! Adikku saat ingin mengejar cita-citanya untuk jadi pramugari sempat ketinggalan pesawat lho, dari Pangkalan Bun Kalteng ke Semarang. Bayangkan, tiket seharga Rp900.000,00 melayang begitu saja pemirsa. Ini baru lucu kan, calon pramugari ketinggalan pesawat? Hihihi… 😀

Well, sesuai judul di atas inilah foto-foto beberapa pramugara ganteng yang mungkin bisa menjadi inspirasi kita semua. Buat yang belum kenal, mari berkenalan…

1. Andhika Franco
Wajahnya terlihat blasteran. Pria bertubuh atletis ini sangat penyayang keluarga. Doi mantan anggota marching band lho…

image

image

image

image

2. Aldy Kalahardi
Setuju kan kalau aku bilang mukanya baby face? Gak ada yang percaya kalau dia beneran pramugara. Tapi wow, asyik ya dikelilingi pramugari cantik.

image

image

3. Lazuardi Linus
Kelihatannya seperti atlet basket ya? Ternyata dia seorang pramugara…

image

So cool, right?

image

image

4. Joenuttha
Yang satu ini pramugara dari Thailand. Mumpung punya teman orang luar, boleh kan numpang nampang di sini. Oh iya, Joe pada foto ini berdiri paling kiri (dari mata Anda).

image

5. Dhika Herdi
Dari penampilannya kelihatan masih muda ya? Dia sangat ramah dan rajin menyapa followernya di IG. Oya, Dhika juga rajin shalat lho. Mudah-mudahan selalu diberi keselamatan oleh Allah swt setiap terbang. Amin.

image

image

6. Ryan Richard
Wah, gurat mukanya kelihatan serius banget ya? Tapi siapa sangka kalau dia orangnya friendly banget lho.

image

image

7. Andi Alfreza
FA satu ini tidak kalah gagah dan ganteng dengan para FA di atas. Jumlah followernya di berbagai media sosial terbilang ‘wow’, BEJIBUN!

image

Well, sekian dulu ulasan pramugara-pramugara ganteng dari blogger yang super ganteng ya. Kali lain aku akan menulis pramugari-pramugari cantik untuk kalian semua. Jangan lewatkan!^^