Tahun Kesebelasku di Kalimantan

image

Kemarin aku bertemu Pak Arif, pimpinanku semasa aku mengajar di SMANBA (2005-2013). Beliau menanyakan kabarku dan kami pun mengobrol seputar bimbingan belajarku di rumah. Akupun bercerita kalau akhir bulan nanti akan pergi ke Pulau Jawa entah untuk seberapa lama. Beliau berpesan sama seperti dulu setiap aku akan pulang ke Bogor, kota kelahiranku. “Kalau sudah minum air Kalimantan, pasti tidak akan betah di Jawa!” tutur beliau seraya menceritakan pengalamannya yang juga kerap tidak betah berlama-lama meninggalkan Kalimantan. Jujur kuakui beliau adalah orang yang bijak, karena beliau tidak pernah memandang manusia dari latar belakang pendidikannya melainkan dari kapasitas kemampuannya meskipun pendidikan orang tersebut sangat rendah. Buktinya meskipun pada 2005 silam aku masih tamatan SMA namun beliau menerimaku untuk mengajar di SMANBA. Sebab beliau mengakui kapasitas kemampuanku dalam mengajar. Pun demikian dengan penilaian para rekan guru pada masa itu, mereka turut mengacungi jempol atas bakat alamiahku dalam mengajar. “Kami salut dengan Pak Sugih, meskipun baru lulus SMA tapi Pak Sugih memiliki jiwa seorang guru. Sedangkan kami yang sudah sarjana saja masih canggung menghadapi murid!” begitulah kata rekan-rekanku sepuluh tahun silam.

Waktu memang terus bergulir, tanpa terasa kini aku sudah sebelas tahun lamanya menetap di Pulau Kalimantan. Selama tahun 2004-2008 aku masih menikmati perjalanan bolak-balik Kalimantan-Bogor sedikitnya setahun sekali. Selepas itu aku tak pernah lagi pulang ke kota yang dijuluki sebagai kota hujan itu. Kini aku merasa sangat rindu, rindu sekali, rindu yang sangat berat yang kupikul selama tujuh tahun ini. Bayangkan, Bang Toyib saja meninggalkan kampung halamannya hanya tiga tahun. Sedangkan aku jauh lebih parah darinya! Hadeuh… 

Setelah aku resign dari SMANBA pada Juni 2013, sekitar empat bulan yang lalu akupun resign dari SDN Bangun Jaya. Aku memutuskan untuk berhenti berkiprah di sekolah. Bukan karena aku bosan mengajar. Melainkan karena rasa jenuh tinggal di Kalimantan yang sangat sunyi. Entah mengapa aku merindukan keramaian, hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, dan suasana pasar yang senantiasa padat oleh pengunjung. Aku berpikir untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang master/pasca sarjana (S2) di Pulau Jawa ataupun mencari beasiswa ke luar negeri. Dan aku pikir beasiswa itu kini tengah berada dalam genggamanku, karena aku telah memenuhi semua kualifikasinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengambilnya.

Semua orang di sekitarku amat menyayangkan keputusanku. Pasalnya saat ini bimbingan belajar yang telah kudirikan selama sebelas tahun lamanya tengah berada di puncak kejayaan. Dulu susah payah aku merintisnya dengan peluh keringat mengetuk pintu dari rumah ke rumah guna mencari pelanggan dan hanya dengan berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya jalan yang kutempuh aku terus berupaya menghimpun kepercayaan masyarakat bahwa aku adalah ‘teman’ yang tepat untuk membimbing putra-putri mereka dalam belajar. Akhirnya aku berhasil membuktikan bahwa siswa-siswi hasil bimbinganku mampu menjadi anak yang cerdas sesuai harapan orang tua mereka. Banyak sekali murid bimbinganku yang menjadi juara kelas, juara tiga besar, juara olimpiade SAINS, juara debat Bahasa Inggris, juara pidato Bahasa Inggris, juara telling story, dan segudang prestasi lainnya. Kini aku tak perlu lagi melakukan seperti apa yang dulu pernah kulakukan. Cukup berongkang kaki di rumah menunggu para pelangganku datang dengan sendirinya. Keunggulan bimbingan belajarku telah tersebar dari mulut ke mulut. Mungkin akulah orang yang selalu dicari masyarakat guna ‘menitipkan’ anak mereka di bimbingan belajarku. Meskipun bimbingan belajarku ini tidak terdaftar secara resmi di dinas pendidikan. Terbukti berdasarkan survey orang tua murid yang datang kepadaku, mereka mengatakan bahwa bimbingan belajarku adalah bimbingan belajar teramai di kecamatan kami, Balai Riam. Terlebih lagi aku memberikan pelajaran bahasa asing di bimbingan belajarku antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Pelajaran bahasa asing tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak bangku sekolah dasar dan menengah yang ingin melihat dunia luas.

Berhenti mengajar di dua sekolah yang kucintai bukan berarti hubunganku dengan kedua sekolah tersebut putus begitu saja. Bagaimanapun aku masih membina hubungan baik dengan rekan-rekan kerjaku. Sebab bagiku mereka adalah keluargaku sendiri tempat aku berkeluh-kesah selama ini. Saat mengundurkan diri aku berpamitan secara baik-baik dan berusaha meninggalkan kesan yang baik. Pimpinanku bahkan berpesan kepadaku, “Kalau ada waktu berkunjunglah ke mari! Kita ngobrol-ngobrol lagi seperti dulu!” rekan-rekan sesama guru masih sering bertemu denganku dan selalu bertegur sapa di jalan. Terkadang mereka mengirimiku pesan melalui SMS, WhatsApp, dan lain sebagainya agar aku mau mengunjungi mereka di sekolah. Uniknya meskipun aku sudah mengundurkan diri, aku merasa seperti masih mengajar di sekolah. Guru-guru dan kepala sekolah kerap datang menemuiku di rumah untuk meminta pertolongan kepadaku.

“Tolong latih anak-anak debat Bahasa Inggris ya Pak Sugih! Sekalian dampingi mereka saat lomba nanti di kabupaten!” 

“Pak, ada waktu nggak? Tolong bimbing anak-anak buat persiapan menghadapi Olimpiade SAINS bulan depan!” 

“Saya mau lanjut kuliah S2, bisa tidak saya les Bahasa Inggris sama Pak Sugih? Tolong bantu ya!”

“Bersediakah Pak Sugih mengoreksi Bahasa Inggris dalam tesis saya? Maklum, saya ndak bisa Bahasa Inggris!”

Tanganku selalu terbuka membantu mereka selagi aku mampu melakukannya. Aku heran mengapa selalu aku yang mereka cari? Seolah-olah hanya aku yang bisa diandalkan. Akan tetapi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang mereka berikan kepadaku, bukan?

Terus terang saat ini aku merasa berada di persimpangan jalan. Aku tengah berdiri dihadapkan  di antara dua pilihan : mengambil beasiswa ke luar negeri yang selama ini kuimpikan atau terus mengembangkan usahaku di dunia pendidikan di Kalimantan. Aku benar-benar dilema hingga mengalami insomnia berbulan-bulan lamanya. Bila aku mengambil beasiswa akankah aku bisa bertahan dengan keadaan di luar sana? Aku takut setibanya aku di luar negeri nanti aku akan mengalami homesick, culture shock, dan kerinduan yang mendalam kepada dunia yang tengah kujalani seperti sekarang ini. Tetapi ini adalah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi seperti saat aku lulus SMA pada 2004 lalu. Ya, dulu aku begitu bodoh melepas beasiswa ke Jepang yang sangat aku dambakan begitu saja. Sampai akhirnya aku berubah, aku tak lagi menginginkan untuk dapat berkuliah di Jepang. Bila suatu masa itu datang, aku hanya ingin berjalan-jalan di Jepang. Negara yang ada dalam pikiranku saat ini adalah Finlandia. Aku ingin melanjutkan program master di sana. Negara pencipta Angry Bird, game yang senantiasa membuatku tertawa di kala aku jenuh dengan pekerjaan. Bagiku Jepang dan Finlandia seperti dua surga yang terpisahkan dari Indonesia. Keduanya sangat menyejukkan mata.

Di sisi lain aku ingin mengabulkan harapan mama, mendirikan bimbingan belajar resmi di sebuah kota kecil tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dan aku sudah memiliki cukup modal untuk membukanya. Kalimantan memang prospek masa depan bagi kami. Kami akan menjadi pioneer di bidang kami. Karena staf pengajar di bimbingan belajar kami hanya kami berdua, aku dan mama. Akan tetapi bila aku tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, aku pikir aku takkan lagi mendapatkan kesempatan yang kedua kali. Terlebih usiaku akan semakin bertambah tua pastinya. Manakala akupun sudah kecewa kepada pemerintahan Presiden Jokowi yang telah membekukan penerimaan pegawai negeri sipil hingga 5 tahun ke depan nanti. Tidakkah ini berarti beliau tidak memberiku kesempatan untuk menjadi pegawai negeri? Padahal hatiku sudah mantap dan yakin kalau tahun 2015 ini aku bisa lolos tes penerimaan CPNS. Akh, aku tidak akan mempermasalahkan kebijakan yang dijalankannya. Bagiku yang penting aku masih memiliki masa depan.

Dua pilihan yang harus kutentukan, harus segera kuputuskan. Aku tidak ingin mengambil salah jalan. Karena keduanya menyangkut masa depan. Dalam dingin gelapnya malam, lagi aku menikmati insomnia yang membuatku diam terpekur karenanya.

Balai Riam, 15 Februari 2015

Tuhan Maha Adil

image

Suatu ketika seorang petani labu baru saja selesai menggarap ladangnya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon karet yang rindang dan teduh. Dihempaskannya pantatnya ke tanah untuk duduk dan bersandar pada batang pohon. Dikipaskannya topi caping ke dadanya yang kegerahan karena suhu udara siang itu teramat panas. Lama dia mengamati buah karet yang bergelantungan di pohon. Sejenak dia berpikir. Kemudian dia bergumam, “Kalau kuamati baik-baik, buah karet ini bentuknya sangat mirip dengan buah labu yang kupanen. Tetapi mengapa tuhan tak adil? Buah labu ukurannya besar sementara batang tanamannya sangat kecil. Kemudian buah karet ukurannya kecil sementara batangnya cukup besar. Tuhan sungguh tidak adil!” Petani itu merasa kecewa kepada tuhan.

Lama si petani labu itu terhenyak dalam lamunannya. Sampai akhirnya, ia tak sadar kalau sebutir buah karet yang tadi diamatinya tengah terjatuh karena terhempas oleh angin. Dan…

PLETAK!

“Adaaaaw…” teriak petani.

Buah karet itu jatuh tepat mengenai kepalanya. Lantas petani labu itu kembali bergumam.

“Oh, ternyata tuhan itu maha adil! Seandainya buah karet yang jatuh mengenai kepalaku ini berukuran sebesar labu-labu yang kupanen, tentu sudah pecah kepalaku dibuatnya!”

Petani labu itu lantas segera bangkit dari duduknya dan mengemasi hasil panennya secepat mungkin. Ia ingin cepat pulang ke rumah agar bisa sembahyang dan bersyukur kepada tuhan atas keadilan yang ditunjukkan tuhan kepadanya.

My Favorite Old Japanese Song : Sekai Ni Hitotsu Dake No Hana

image

Sekai Ni Hitotsu Dake No Hana

Sung by SMAP

Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o mite ita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne
Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinaide
Baketsu no naka hokorashige ni
Shanto mune o hatte iru

Sore na no ni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabetagaru
Hitori hitori chigau no ni sono naka de
Ichiban ni naritagaru

Sou sa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshoukenmei ni nareba ii

Komatta you ni warainagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa doremo
Kirei dakara shikata nai ne
Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Irotoridori no hanataba to
Ureshisou na yokogao

Namae mo shiranakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Daremo ki zukanai you na basho de
Saiteta hana no you ni

Sou sa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshoukenmei ni nareba ii

Chisai hana ya ookina hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
Number one ni naranakutemo ii
Motomoto tokubetsu na only one

Terjemahan Bahasa Indonesia  :

Satu-satunya Bunga yang Ada di Dunia

Aku menatap semua jenis bunga
Yang tertata rapi di toko bunga
Setiap orang memilih jenis yang berbeda
Namun mereka semua cantik
Tak satupun dari mereka bertarung
Atas siapakah yang terbaik
Mereka semua berdiri tegak dengan bangganya
Dalam potnya masing-masing

Jadi mengapa kita ingin
membandingkan diri kita seperti ini?
Mengapa kita ingin menjadi yang terbaik
Kalau setiap orang itu berbeda?

Ya, begitulah kita
Satu-satunya bunga yang ada di dunia
Masing-masing mempunyai bibitnya sendiri
Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik
Untuk menanamnya agar tumbuh menjadi bunga

Ada banyak orang yang
sedang kesulitan tersenyum
Karena mereka benar-benar kehilangan
Tapi itu bukan masalah
Karena setiap bunga telah bekerja keras
Agar tumbuh cantik
Pada akhirnya seseorang datang
Di luar toko bunga membawa sekeranjang
Bunga dengan warna yang berbeda-beda
Wajahnya terlihat sangat bahagia

Aku tak tahu namanya
Namun dia memberiku sebuah senyuman
Seperti bunga yang mekar
Di sebuah tempat yang tidak diperhatikan orang

Ya, begitulah kita
Satu-satunya bunga yang ada di dunia
Masing-masing mempunyai bibitnya sendiri
Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik
Untuk menanamnya agar tumbuh menjadi bunga

Bunga kecil, bunga besar
Tak ada satupun yang sama
Kamu tak perlu menjadi nomor satu
Kamu istimewa, satu-satunya kamu
Sebagai alasan pertama

Nenek Meninggal

Kira-kira 2 minggu lalu tersiar kabar dari keluarga di Pulau Jawa bahwa Umi Ating (bibinya mama) meninggal dunia. Meskipun beliau bukan nenekku secara langsung namun kabar duka tersebut sangat membuatku terpukul. Pasalnya sudah 6 tahun aku tidak bertemu beliau dan kini di saat aku merindukannya, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Tidak ada suara burung gagak yang biasanya mengabari kami bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Tidak ada mimpi gigi tanggal sebagai pertanda yang dapat kami tafsirkan. Tidak ada nasi yang selalu menjadi basi sebagai mitos kepercayaan orang Sunda bila akan kehilangan seseorang. Ya, kabar itu tiba-tiba datang begitu saja. Hari-hari sebelumnya saat aku mengajar murid lesku, entah mengapa aku mencium bau napas Umi Ating yang sangat kukenal. Aroma napasnya adalah aroma napas orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran. Begitulah biasanya yang dilakukan oleh nenekku itu.

Keluargaku adalah keluarga besar. Hampir semua keluarga dari kakek (ayahnya mama) berprofesi sebagai tentara dan guru. Dan satu dari kedua profesi tersebut menurun padaku. Umi Ating adalah adik kakek nomor pertama dari sekian jumlah bersaudara yang tidak kuketahui pasti saking besarnya keluarga kami. Beliau adalah seorang pensiunan guru pengajar Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Kedekatanku dengan beliau bermula ketika aku akan mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan SD yang pada masa itu dikenal dengan istilah EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Beliau banyak memberiku ilmu guna menghadapi EBTANAS. Dan subhanallah hasilnya dari 5 mata pelajaran yang diujiankan nilai rata-rataku kontan di atas 8,5 hampir menembus 9 dengan nilai tertinggi Matematika 9,5. Padahal sebenarnya aku ingin sekali bisa menyaingi kepintaran mamaku yang nilai rata-rata EBTANAS-nya menembus angka 10 pada masa SD-nya. Tapi apalah daya kemampuan otakku hanyalah separuh kemampuan otak mamaku.

Umi Ating selalu rutin memberiku bimbingan pelajaran termasuk materi agama. Karena beliau dikenal sebagai pemuka agama di daerah kami. Setiap kali kami bertemu hal pertama yang beliau tanyakan padaku adalah, “Apakah kamu sudah shalat, Sugih?” Bahkan Umi Ating selalu mengajariku mengaji Al-Quran beserta ilmu tajwid yang terkandung di dalamnya. Masih kuingat dengan jelas beliaulah orang pertama yang memberitahuku tentang huruf-huruf qolqolah dengan rumus ‘bajuditoko’. Beliau juga yang menceritakan kisah para nabi yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Beliau sangat praktis dan sistematis saat mengajar sehingga ilmu yang ditransferkan sangat mengena dan membekas dalam ingatan.

Sebelum masuk SMP, pada suatu sore Umi Ating mengajakku melihat sebuah sekolah negeri terfavorit di kota kami. Menurut cerita mama, dulu mama sangat berkeinginan bisa bersekolah di sana namun mama gagal karena tidak mampu secara finansial. Lalu Umi Ating bercerita pula kepadaku kalau sekolah yang sedang kami lihat itu banyak menghasilkan artis-artis ternama ibukota. Hatiku pun tergugah ingin bisa masuk ke sana. Alhamdulillah sekolah tersebut menerimaku karena NEM (Nilai Ebtanas Murni)-ku di atas passing grade sekolah tersebut. Mamapun bangga kepadaku.

Setelah aku masuk SMP, jujur aku sangat minder karena teman-temanku mayoritas berasal dari kalangan kelas atas. Banyak dari mereka yang merupakan anak pejabat, dosen perguruan tinggi terkemuka, ilmuwan peneliti, pengusaha, dan artis terkenal. Hal yang membuatku sedih kala itu aku sangat tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris namun teman-temanku mencemooh pronunciation-ku setiap aku berlatih speaking. Kata mereka apa yang kuucapkan hanyalah cuap-cuap tak jelas. Lantas mereka memamerkan kemampuan mereka berbahasa Inggris hasil dari pengalaman tinggal di luar negeri bertahun-tahun. Kuakui kemampuanku masih nol dibandingkan mereka. Bahkan untuk mengucapkan nama ‘George’ saja aku menyebutnya dengan kata ‘Geyorj’. Di saat itulah aku yang sebenarnya sudah berhenti les pada Umi Ating kembali berguru kepada beliau dan rela menemui beliau satu minggu 3 kali dengan menaiki angkot yang jaraknya 20 km dari tempat tinggalku. Umi Ating dengan tangan terbuka menerimaku kembali sebagai murid dengan catatan akupun harus belajar agama pada beliau. Bila aku bermalam di rumahnya, Umi Ating pasti akan memasakkan semur jengkol kesukaanku walaupun kuakui masakan beliau selalu kurang garam atau vetsin. Kata Umi vetsin dan garam bisa mengurangi kecerdasan otak. Setelah beberapa bulan aku mengikuti les bahasa Inggris, Umi Ating berpesan padaku kalau sebenarnya aku mampu belajar bahasa Inggris secara otodidak (tanpa guru) karena beliau pun dulu belajar sendiri hanya dengan cara mempelajari buku. Umipun memberi motivasi kepadaku agar aku jangan minder di sekolah, aku harus menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku mampu menyamai bahkan melebihi kemampuan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti saran beliau. Selain aktif berbicara bahasa Inggris dengan guru di sekolah, akupun mulai terjun mengikuti organisasi English Club di RRI. Alhamdulillah nilai bahasa Inggrisku di rapor selalu mendapat angka 9. Dan ketika SMA karangan bahasa Inggrisku selalu mendapat nilai excellent. Teman-teman yang dulu pernah mencemooh kemampuan bahasa Inggrisku semasa SMP berbalik menyanjungku dan mengagumi kemampuanku. Hingga akhirnya kini aku telah menjadi seorang guru bahasa Inggris. Semua berkat Umi.

Akh, Umi…
Aku menyesal semasa Umi sakit tak sedetikpun aku berada di dekatnya. Padahal kata hatiku selalu berbisik untuk dapat bertemu dengannya. Saat kabar meninggalnya Umi kuterima aku menangis sejadi-jadinya, hingga aku tertidur dan terbawa ke alam mimpi yang mengantarkanku melihat kenangan kami bersama. Dan di saat aku terbangun dalam gelapnya kamar dini hari aku memekik. Sesosok bayangan seorang wanita tua mengenakan mukena menoleh padaku seolah tengah mengajakku, “Ayo kita shalat, Sugih!” Aku menangis dan segera berwudhu. Dalam doa tak henti kupanjatkan, “Ya Allah terimalah nenekku di sisi-Mu!” Amin.

Kemah Besar Kabupaten Sukamara

image

Bulan ini dalam rangka memperingati hari pramuka nasional ke-53 (meskipun sudah 3 bulan berlalu) kembali Kwarcab Sukamara menggelar agenda tahunannya, Kemah Besar Kabupaten Sukamara. Pada tahun ini Kota Sukamara sebagai ibukota kabupaten kembali menjadi tuan rumah acara akbar tersebut. Sayang sekali, pada perkemahan tahun ini aku berhalangan hadir untuk turut meramaikan acaranya, dikarenakan oleh kesibukan dengan pekerjaan. Padahal aku rindu sekali kepada pengurus kwarcab yang sudah menjadi keluarga sendiri bagiku, Kak Mat Saleh, Bunda Mamik, Bunda Julia, Kak Syahlul, Bunda Jaitun, dan pengurus kwarcab lainnya. Sudah lama kami tidak bertemu sejak perkemahan akbar tahun lalu di Desa Ajang Kecamatan Permata Kecubung.

Bersama Bunda Julia

image

Sebagai andalan ranting yang telah mendapatkan sertifikat KML (Kursus Mahir Lanjutan) dan bersiap untuk mengikuti KPD (Kursus Pelatih Dasar) aku sangat bersyukur dan bangga, karena jiwa pramuka yang kumiliki menurun kepada adik-adikku, juga adik-adik sepupuku. Padahal aku tak pernah memaksa mereka untuk turut menggeluti dunia yang sama denganku. Aku hanya sekali mengarahkan kepada mereka manfaat yang dapat mereka peroleh dari pramuka. Hasilnya, mereka sangat antusias dan tertarik dengan semua kegiatan kepanduan walaupun bukan aku yang melatihnya. Adik perempuanku yang sudah menjadi pramugari saja selalu bangga kalau ia adalah seorang anggota pramuka. Katanya, “Berkat pramuka aku mendapatkan banyak pengalaman dan mengantarkanku menjadi seorang pramugari seperti saat ini.” Bahkan untuk perkemahan tahun ini, kehadiranku diwakili oleh adik bungsuku yang baru kelas 5 SD. Adik laki-lakiku ini sangat bersemangat begitu guru-guru di sekolahnya mengikutsertakan dirinya dalam regu unggulan mereka.

Dalam satu dasawarsa ini sejak aku hijrah ke bumi Kalimantan Tengah, aku telah mengikuti lebih dari 30 kali perkemahan, baik di tingkat gugus depan maupun skala kwarcab, kwarda, dan nasional. Keluar-masuk hutan sudah menjadi rutinitasku sehari-hari, sehingga alam sudah menjadi sahabat sejati bagiku.

Beginilah suka dukanya pramuka, perut lapar euy…

image

Banyak sekali kegiatan menarik yang diselenggarakan selama perkemahan. Perlombaan baris-berbaris misalnya, dapat melatih kekompakan regu dan memupuk jiwa kebersamaan. Games yang diberikan pun selalu penuh tantangan mengasah ketangkasan, keberanian, kecepatan, dan daya pikir yang tajam. Lomba kebersihan tenda dapat menyadarkan manusia untuk senantiasa mencintai alam, membersihkan lingkungan, dan disiplin terhadap diri sendiri. Lomba karya seni dapat mengembangkan semangat berkreativitas, menghasilkan daya cipta, dan mewujudkan imajinasi. Masih banyak sekali kegiatan lainnya yang dapat diikuti selama perkemahan berlangsung. Semoga dengan adanya kegiatan perkemahan besar Kabupaten Sukamara, gerakan pramuka kwarcab Sukamara beserta kwartir-kwartir rantingnya semakin maju dan terus berkembang, mencetak tunas bangsa yang berprestasi demi mengharumkan negara, bangsa, dan agama. Amin.

Bersama Kak Farida dan Kak Fery

image

Bersama Kak Soniati, nyaris jadi jodoh hehe…

image

(Foto-foto jadul 2009)

Saat Aku Menjadi Motivator

image

Terkadang memang mudah bila kita memberi semangat kepada orang lain sehingga membuat orang lain menjadi termotivasi oleh perkataan kita. Terlebih bila pekerjaan kita adalah guru, dosen, psikolog, konsultan, ataupun pembina ekstrakurikuler. Tetapi ada kalanya juga justru malah sulit bila kita memberi motivasi kepada diri kita sendiri. Padahal kenyataannya, maju atau tidaknya diri kita untuk menjadi yang terbaik adalah berasal dari tekad diri sendiri. Kita sendirilah yang seharusnya memotivasi diri kita untuk meraih apa yang kita angan-angankan.

image

Banyak sekali hal yang kulakukan kepada orang-orang di sekelilingku agar mereka berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan mengubah kepribadian mereka yang pada awalnya tertutup, pemalu, dan pendiam menjadi berani membuka diri dan menunjukkan siapa jati diri mereka sesungguhnya.

Sebut saja beberapa kejadian yang pernah kualami antara lain :

-Aji adalah muridku yang cerdas. Ia sangat pandai Matematika. Lucunya, Aji kerap kali meremehkan soal yang dirasa mudah. Sehingga tiap kali Aji mengerjakan soal yang begitu mudah, justru ia menjadi kesulitan. Sebaliknya soal-soal yang dirasa sangat sulit bagi orang lain, Aji dapat mengerjakannya dengan begitu mudahnya. Aku tak pernah bosan untuk memberinya ‘warning’ agar Aji senantiasa teliti dalam mengerjakan soal. Akhirnya dengan segala wejangan dan ilmu yang kukuasai kuberikan padanya, Aji berhasil menjadi juara pertama olimpiade sains di tingkat kabupaten hingga provinsi. Saat itu Aji masih SD. Dan selepas SD, Aji melanjutkan sekolah ke Pontianak. Di sana Aji tinggal bersama Mbah Uti-nya. Tak disangka, Dinas Pendidikan Kota Pontianak selalu memperhitungkan nama Aji dari SMP hingga sekarang SMA. Setiap kali ada olimpiade matematika, Aji selalu diikutsertakan sebagai peserta dan tak pernah absen dari gelar sang juara. Wah, bukan main bangganya. Bila Aji menelepon menghubungi mamanya untuk melepas kangen, Aji kerap menyebutkan namaku. “Pokoknya Ma, adek harus dileskan di bimbelnya Pak Sugih! Jangan sampai tidak! Ingat Ma, Aji bisa juara semua berkat bimbingan Pak Sugih!” Aji mewanti-wanti sang mama agar adiknya yang sekarang bersekolah di SD didaftarkan les di bimbelku.

-Seorang muridku yang bernama Andhika (yang kuajar sejak SD hingga SMA) terkenal pintar dalam pelajaran SAINS, namun cenderung kaku dalam pergaulan sehingga ia tidak memiliki begitu banyak teman. Padahal sebenarnya cukup banyak teman yang mengagumi kepintarannya. Sampai akhirnya suatu hari, saat Andhika kelas VII SMP, aku sengaja menariknya untuk mengikuti seleksi Jambore Nasional 2006 di Jatinangor, aku benar-benar menggembleng karakternya. Berbagai latihan keterampilan, kecakapan diri teknik kepramukaan (tekpram), dan bimbingan mental, Andhika berhasil kuubah menjadi anak yang lebih luwes daripada sebelumnya. Akhirnya Andhika berhasil menjadi peserta Jambore Nasional 2006 berkat arahan yang kuberikan. Padahal sebelum ia terpilih, Andhika sempat bertanya kepadaku, “Apa mungkin saya mampu Pak?” Dengan tatapan meyakinkan kukatakan padanya, “Tentu saja kamu mampu, selagi kamu mau berusaha!”
Tak dinyana, sejak saat itu Andhika menjadi semakin cinta kepada pramuka dan selalu ingin memajukan pramuka di manapun ia berada.

-Saat muridku yang bernama Rahman (kelas X SMA) menjadi anak yang cenderung pemalu dan sulit bergaul, aku mengajaknya untuk mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Aku meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin. Aku terus melatihnya agar ia tidak malu berbicara di hadapan orang banyak. Dan tak sampai setahun, Rahman berhasil menjadi idola baru di sekolah karena kesupelannya dalam bergaul.

-Saat Rahmat juga muridku (kelas VII SMP) akan mengikuti lomba telling story Bahasa Inggris tingkat kabupaten, Rahmat merasa tidak yakin bahwa ia akan dapat menampilkan cerita yang harus ia bawakan. Selama beberapa bulan lamanya, aku melatih pronunciation Rahmat, gesture tubuh, dan olah vokal yang tepat saat mengisi suara berbagai karakter yang akan dibawakan Rahmat. Aku mengajarinya secara rutin dan penuh kedisiplinan setiap hari. Rahmat bahkan sempat minder dan takut kalah dalam perlombaan, di saat itulah aku mengatakan padanya, “Menjadi juara bukanlah hal yang penting. Bagi Bapak yang penting kamu mendapatkan pengalaman. Karena dari pengalamanlah kamu dapat belajar!” Akhirnya Rahmat tampil di hadapan juri dan puluhan penonton dengan penuh rasa percaya diri. Bahkan ia langsung menyabet juara ke-3, menyingkirkan puluhan peserta yang dianggap saingan berat olehnya. Dari pengalamannya itulah Rahmat terus belajar, dan aku selalu menjadi pelatih bahasa Inggrisnya di setiap kejuaraan Bahasa Inggris yang diikutinya setiap tahun, prestasinya kian menanjak, dan sampailah ia menjadi juara pertama English Speech Contest di tingkat kabupaten saat Rahmat duduk di kelas X SMA.

-Suatu hari aku berkata kepada bibiku seperti ini : “Bi, masakan Bibi lumayan enak, coba bikin kue-kue untuk kutitipkan di kantin sekolah. Keripik pedas juga boleh, kan keripik singkong buatan Bibi enak banget rasanya.” Bibiku awalnya tidak terlalu menanggapi ucapanku, “Ah, Bibi takut nggak laku. Siapa yang mau beli kue-kue dan keripik buatan Bibi, Gih?” Dalih bibi pada waktu itu. Di sisi lain bibiku menolak usulanku pasalnya karena perekonomian keluarga bibi memang dapat dikatakan cukup sejahtera. Tapi aku terus mendesaknya, “Belum juga dicoba, Bi. Percaya deh, dagangan Bibi pasti bakal laris manis!” Akhirnya bibiku bersedia mengabulkan keinginanku. Setiap hari aku membawa sekarung keripik singkong pedas untuk kutitip di kantin sekolah. Dan sesuai dugaanku, keripik dan kue-kue buatan bibi memang selalu menjadi primadona di kantin sekolah. Tidak hanya murid-muridku yang menggemarinya. Rekan-rekan sesama guru dan kepala sekolah pun senang memesan berbagai macam keripik buatan bibi padaku. Mulai dari keripik singkong sampai keripik pisang dengan varian rasa manis, pedas, gurih, asin, dan lain-lain. Tak hanya itu usaha bibi pun sekarang telah berkembang merambah menjadi home industri yang banyak dipasok ke toko-toko di daerah tempat tinggalku.

Bisa dikatakan apa yang kulakukan ini adalah memotivasi orang-orang di sekelilingku. Namun di sisi lain, ketika aku sedang terpuruk, justru aku malah tidak dapat menyemangati diriku sendiri. Mungkin pembaca ada yang pernah mengalami apa yang kualami. Berikut ini adalah tips untuk pembaca semua agar kalian dapat kembali bangkit di saat kalian sedang terpuruk dan memerlukan motivasi sebagai penyemangat :

1. Selalu ingat tuhan bersama kita. Apa yang tuhan berikan pasti yang terbaik untuk kita. Dan janganlah berburuk sangka kepada tuhan dengan mengatakan bahwa tuhan tidak adil!
2. Yakinlah bahwa kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai selagi kita mau berusaha untuk meraihnya.
3. Bacalah buku yang isinya berupa humor. Terkadang humor dapat membangkitkan semangat yang telah pudar dan kendor.
4. Hindari hal-hal yang berbau melankolis atau menguras air mata. Karena hal itu dapat menambah suasana hati kita semakin depresi dan tak bergairah. 5. Perbanyaklah berzikir dan shalat sunat (jika kalian muslim). Intropeksi diri : Apa-bagaimana-dan mengapa aku begini? Sesuatu hal baik yang pernah kita lakukan tentu akan berdampak baik pula bagi kita. Begitu pula sebaliknya sesuatu hal buruk yang pernah kita lakukan akan berimbas buruk pula kepada kita.
6. Bisikkanlah kepada diri sendiri dengan tekad yang bulat, “Aku harus bangkit! Aku tidak boleh lemah! Aku masih kuat! Aku masih sanggup untuk melakukan apa yang ingin kulakukan! Dan aku tidak boleh lengah!”

Selamat mencoba!  🙂

My Inspirator : Ricardo Howard

image

Pembaca sudah pada kenal dengan penyiar ganteng satu ini? Pernah melihatnya di layar kaca? Pada tulisanku kali ini aku akan mengajak kalian untuk mengenal sosoknya lebih dekat.

image

Kalteng boleh bangga memiliki putra daerah seperti seorang Donbernado Howard Shenken yang lebih dikenal sebagai Ricardo Howard dan akrab disapa Edo, penyiar Katambung TVRI Kalteng. Pria charming dan rendah hati kelahiran Pendahara, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, 11 Juli 30 tahun silam ini kariernya kian menanjak sejak ia menjuarai beberapa lomba yang diikutinya. Bahkan sekarang Edo sudah punya album (lagu Dayak dan pop) sendiri lho. Dengan kiprahnya itu Edo sekarang sudah merentangkan sayapnya di ranah hiburan nasional. Nama Edo kian bersinar dan lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi top hits di radio-radio Kalimantan Tengah. Nah, simak petikan obrolan super kepo via BBM antara aku dengannya ya… 😀

Hi Bro, boleh tahu sejak kapan kamu jadi penyiar TVRI Kalteng?
Hi juga, aku jadi penyiar TVRI Kalteng sejak 2013, sebelumnya aku udah jadi penyiar radio sejak SMP.
image

Wow, kamu sudah jadi penyiar radio sejak SMP? Amazing! Ngomong-ngomong di stasiun radio mana kamu dulu bersiaran? (Aku juga dulu pernah jadi penyiar lho… #PLAK! Pembaca gak nanya)
Radio Sangalang Perdana Katingan, kemudian oneFm Sampit, dan radio SeruyanFM di Seruyan.

image

Wuih, keren… keren… berarti nama kamu cukup ngetop dong ya? Eh, btw dari penyiar kok sekarang beralih profesi jadi penyanyi?
Sebenarnya enggak alih profesi kok. Kebetulan hobiku sejak kecil memang menyanyi. Tapi baru mulai berani ikutan lomba sejak kelas 1 SMA. Maklum dulu aku orangnya pemalu.

(Pemalu ya? Sama dong! #diketawain semut merah!)

image

Terus pernah ikutan lomba apa aja? (Lomba balap karung pasti pernah kan?)
Aku pengalaman pertama ikut lomba pop bintang radio, Kereng Pangi Katingan 2001, 2002 ikut lomba nyanyi dangdut di kecamatan, juara 3 pop lagu daerah se-Kalteng 2010, kemudian pernah ikut audisi Indonesian Idol di Jakarta 2012, juara 3 lagu keroncong tingkat provinsi Kalteng 2014, juara 2 putra pariwisata Kabupaten Seruyan 2009, dan masih banyak lagi kejuaraan lainnya.

image

image

(Eh serius tuh, pernah audisi Indonesian Idol juga? Triple wow buat Edo   ☆☆☆)

Ngomong-ngomong soal album, berapa jumlah album yang sudah kamu telurkan? (#Telur? Emangnya ayam?)
Aku sekarang sudah punya album bahasa Katingan dan 3 buah pop ciptaan sendiri.

(Mau dong dibikinin lagu sama Edo #www.ngarep.com)

Apa saja judul albummu mas Bro?
Single pop aku judulnya ‘Takkan Kusesali’. Album lagu Dayak pertamaku, ‘Kilau Tjilik Riwut’ bernuansa pop kental dengan piano. Lagu ke-2 NAMUEI (MERANTAU) dalam Master Album Bahasa Katingan ciptaan dan vocal aku sendiri dan pianist Zefanya Wahyudianto. Nuansa Pop dan piano tetap kental.

Bicara soal hobi, kegiatan apa yang kamu gemari? (Kamu gak suka ngupil sembarangan, kan? #hihihi… penulis iseng) 
Hobiku membaca karya sastra. Buku favoritku adalah karya Kahlil Gibran. Kadang aku juga suka baca buku tentang politik, budaya dan sosial. Aku juga hobi menulis, dan menyanyi.

image

Kesibukan sehari-hari kamu selain siaran apa saja?
Aku biasa ngemsi (jadi MC) dan nyanyi di cafe, restoran, acara resepsi pernikahan, maupun di gereja.

(Nanti kalo aku nikah, kamu ngemsi dan nyanyi di acara pernikahan aku ya! 🙂  )

Ada suka-duka selama menjadi penyiar di TVRI Kalteng?
Dukanya awalnya dicemooh orang dan diremehin……gaji kecil. Sukanya, belajar improvisasi (automaticly public speaking), banyak kawan, dikenal dan lebih tau kekurangan diri…

Ada pengalaman lucu selain suka-duka menjadi penyiar?
Lucunya, kalau ketemu orang aku dikira berumur 24 tahunan, padahal sekarang umurku 30 tahun.

Kalau diminta mendeskripsikan seperti apa dirimu, menurutmu sosok seorang ‘Ricardo Howard’ itu sebenarnya seperti apa sih?
About Ricardo, aku itu : Melakukan yang terbaik pasti hasilnya terbaik…..hidup harus menjadi BERKAT bagi diri sendiri maupun bagi orang lain…..God Bless us.
Mau Belajar
Mau Berdedikasi
Mau Mengalah jika itu untuk menang
Berusaha jadi teman dan sahabat yang baik…….
“ORANG YANG MENGUASAI PEMIKIRAN AKAN MENGUASAI MASA DEPAN”…………….bertekun dalam doa, kerja keras dalam bekerja…………….

Favorite Quotes :
‘be excelent 4 the best’

Terakhir, ada pesan gak untuk pembaca blogku?
Ada dong, setiap orang dianugerahi kelebihan dan kekurangan, apapun yang menjadi kelebihanmu jadikan itu sebagai acuanmu mewujudkan impianmu………..jangan berhenti untuk belajar dan merendah hati hingga kamu secara tidak sadar bahwa kamu adalah pribadi yang banyak tahu hal tapi tetap rendah hati……

Oke deh, terima kasih banyak ya Edo atas waktu luangnya. Semoga kariermu semakin sukses dan namamu makin melejit di dunia entertainment.

Ricardo Howard
PIN BBM : 280D7EBA
Facebook : Ricardo Howard
Soundclouds : Ricardo Howard 3

Puppy lover
image

So charming
image

Sering disandingkan dengan wanita cantik tiap bersiaran
image

image

Sebelum jadi penyiar TVRI
image

Mengapa Edo menjadi inspirasiku :
1. Dari suka-duka yang dialaminya, Edo mengajarkan kita agar di saat kita dilecehkan, diremehkan, atau dipandang rendah oleh orang lain sudah selayaknya kita menunjukkan nilai potensi diri yang kita miliki bahwa kita tidak pantas untuk diremehkan. Ingatlah harkat, martabat, dan
derajat manusia di mata tuhan itu sama.
2. Pekerja keras. Berbagai job Edo geluti mulai dari penyiar, penyanyi, sampai menjadi MC di berbagai acara. Bukan hal yang mudah untuk membagi waktu dan mendapatkan banyak pekerjaan sekaligus. Di luar sana banyak sekali penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, mereka berjuang namun hanya kesia-siaan yang mereka dapatkan.
3. Meskipun Edo telah berkiprah di kancah blantika musik nasional, dan namanya semakin tenar, Edo
tidak bersikap tinggi hati kepada semua orang. Ia tetap low profile dan down to earth, ramah bersahaja.
4. (Silakan diisi oleh pembaca )