Posted on

My Trip In Java #3

Hola! Pembaca belum bosan kan membaca jurnal perjalananku selama di Jawa? Ini mungkin akan menjadi cerita terakhir dari trilogi jurnal perjalanan yang kubuat. Sebelumnya aku mohon maaf kalau tulisanku ini agak telat berhubung kesibukanku yang sudah kembali ke Kalimantan sekarang. Terutama kepada Bang Omnduut yang pernah kujanjikan kuliner khas Bogor. Juga kepada Mbak Feli yang tak pernah berhenti memberi support padaku agar aku berhasil meraih beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Saat ini aku merasa seperti sehelai daun yang terombang-ambing oleh tiupan angin dan tak punya kendali untuk berpijak. Aku tak tahu harus berhenti di mana. Jalan mana yang seharusnya kutempuh?

Tepat tanggal 9 Maret 2015 aku berangkat dari Graha Utama-Tangerang menuju Cijelag-Sumedang. Halte bis sangat sepi hampir tidak ada calon penumpang selain aku dan seorang wanita yang tampak asyik memainkan gadgetnya. Semenjak tiba di Jakarta kuperhatikan orang-orang di kendaraan umum banyak yang menggunakan ponsel berukuran layar sebesar gaban (5-7 inchi). Apakah ponsel seperti itu sedang trend? Entah mengapa aku jadi merasa malu mengeluarkan ponselku dari saku jaket yang kupakai. Ponselku hanya sebatas Samsung Galaxy Ace 3 yang layarnya tak sampai 5 inchi. Bis Agra Mas jurusan Cikarang yang kunanti tak kunjung datang. Sudah hampir 2 jam aku duduk menanti di halte. Sekumpulan pelajar SMP berseliweran di hadapanku dan ramai memperbincangkan perihal begal motor yang baru saja dibakar massa baru-baru ini. Kebetulan tempat kejadiannya tidak jauh dari halte tempatku menunggu bis.

Tepat pukul 11.40 aku berhasil mendapatkan bis yang kunanti-nantikan. Karcis jurusan Tangerang-Cikarang kubayar seharga Rp22.000,00. Perjalanan yang kutempuh diwarnai kemacetan kota megapolitan Tangerang-Jakarta-Bekasi. Sehingga aku baru tiba di Cikarang tepat pukul 1 siang. Begitu aku turun dari bis dinginnya AC membuatku tidak tahan ingin segera buang air kecil di toilet umum terdekat. Sekeluarnya dari toilet, bis Widia, satu-satunya bis yang tersedia untuk menuju Sumedang melintas di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku segera menaikinya, padahal perutku sangat lapar ingin menikmati makan siang terlebih dahulu. Sayang apa boleh buat, daripada aku tidak bisa sampai di Sumedang lebih baik kutahan saja rasa lapar di perutku. Semoga di tengah perjalanan nanti banyak pedagang asongan yang menjajakan makanan ringan untuk mengganjal perutku. Perjalanan menuju Sumedang ini harus mengocek biaya Rp35.000,00 dari Cikarang. Belum lagi biaya untuk membayar pengamen jalanan yang tak pernah ada habisnya. Mereka naik dan turun dari bis ke bis di setiap persimpangan jalan dan lampu merah. Bis yang kunaiki berukuran sangat kecil hanya memuat 20 penumpang. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya minibus.  Sepanjang perjalanan terlalu banyak panorama hutan jati terutama di Kabupaten Subang dan Sumedang. Maka tak heran bila nama-nama desa di sana banyak yang menggunakan awalan kata ‘jati’ seperti ‘Jatinangor’, ‘Jatiwangi’, ‘Jatijajar’, ‘Jatibening’, ‘Jatitujuh’, ‘Jatigede’, dan lain sebagainya. Mulanya aku pikir perjalanan yang kutempuh hanya berkisar 4 atau 5 jam. Ternyata aku baru sampai di tempat tujuanku setelah menempuh 7 jam perjalanan. Tepat pukul 8 malam aku baru tiba di rumah bibi. Alamak capek sekali…

Aku sangat terkejut ketika akan menyeberang jalan menuju rumah bibi begitu aku turun dari bis. Kebetulan rumah bibi memang terletak di pinggir jalan raya provinsi. Tapi hal yang membuatku terkejut adalah nama toko bibi rupanya masih menggunakan nama toko mama. Sebelumnya rumah bibi adalah rumah mama. Hanya saja karena mama tidak ingin jauh dariku, mama sengaja menjual rumah dan tokonya kepada bibi lalu mama hijrah ke Kalimantan menyusulku. Tatkala aku mengucapkan salam, bibi sedang berbaring di toko bersama Yusuf, adik sepupuku. Ealah aku dan bibi sama-sama pangling. Sama seperti kejadian yang kualami di Bogor, bibi pun hampir tak mengenaliku saking gemuknya badanku sekarang. Padahal bibi sudah melihat foto profilku di BBM tiap kali kami chatting. Aku sendiri nyaris tak mengenali sepupuku yang sekarang juga sama-sama bertubuh gemuk sepertiku. Tidak berbeda denganku, Yusuf pun berubah menjadi gemuk setelah kecelakaan motor yang menimpanya. Sekitar dua tahun yang lalu saat Yusuf pulang kuliah dari Sumedang, sebuah truk yang mengangkut batu bara menyerempet motor yang dikendarai Yusuf. Motor Yusuf pun oleng kehilangan keseimbangan. Yusuf jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Wajah Yusuf dipenuhi darah meski helm menutupi kepalanya. Para warga yang melihat kejadian itu mengira Yusuf sudah meninggal. Enggan menjadi saksi mata, lantas para warga malah menutupi tubuh Yusuf dengan daun pisang yang diperoleh dari pinggir jalan. Suatu kebetulan pamanku (ayah Yusuf) yang baru pulang kerja melintas dan melihat Yusuf terkapar di jalanan menjadi tontonan banyak orang. Menyadari orang itu adalah Yusuf, pamanku segera melarikan Yusuf ke rumah sakit besar di Cirebon. Yusuf mengalami koma dan harus mengalami beberapa kali operasi. Mulai dari operasi bedah paru-paru hingga operasi tulang rahang. Tuhan masih sangat menyayangi Yusuf. Hingga saat ini Yusuf masih diberi nyawa oleh-Nya. Meski kepalanya sudah tidak dapat menoleh 90 derajat, namun kesehatan Yusuf berangsur-angsur pulih dan dapat menjalani rutinitas kuliahnya kembali setelah cuti satu tahun.

Ternyata bukan hanya aku dan Yusuf yang sekarang bertubuh gemuk. Pamanku juga sekarang bertubuh gemuk jauh dari keadaan 6 tahun silam terakhir kali kami bertemu di mana kala itu tubuh paman masih sangat kurus. Jika kami bertiga berdiri berjajar, bibiku mengatakan kalau kami adalah triple bonbon. Haha… ada-ada saja nih bibi. Sebenarnya berkunjung ke Cijelag itu sangat membosankan, karena aku tidak leluasa ke mana-mana tidak seperti halnya di Bogor yang memiliki banyak mall atau tempat hiburan dan dapat dijadikan tempat untuk mencuci mata. Hal yang dapat dilakukan selama di Cijelag hanya jalan-jalan menelusuri perkampungan penduduk atau Sungai Cimanuk. Lumayan asyik sih, rumah-rumah penduduk Kabupaten Sumedang itu rata-rata terbilang masih banyak yang bergaya tradisional. Aku tidak tahu pasti apakah itu rumah adat yang disebut ‘julang ngapak’, ‘limasan’, atau ‘keraton kasepuhan’ mengingat banyaknya rumah adat khas Provinsi Jawa Barat. Rumah-rumah itu disusun dari bebatuan yang ditata sangat rapi dipadu dengan dinding yang terbuat dari papan dan bilik. Benar-benar terlihat sangat antik!

Suasana perkampungan di Sumedang

image

image

image

Selain kuliah kegiatan sehari-hari Yusuf adalah merakit komputer dan memperbaiki laptop. Yusuf memang berkuliah di jurusan IT. Lucunya bila mendapat pesanan rakitan komputer dari teman-temannya, ia enggan menerima pembayaran uang cash di muka. Ia senantiasa meminta pembayaran via transfer. Alasannya untuk menghindari uang palsu! Hadeuh… Yusuf… Yusuf… bisa saja adik sepupuku yang satu ini akalnya. Entah mengapa kedatanganku ke Sumedang juga malah menambah pekerjaan buat Yusuf. Tanpa sengaja saat aku membenahi pakaian dalam tas, notebook yang sedang kupegang terlepas dari tanganku dan membuat covernya pecah. Otomatis ini menjadi pekerjaan untuk Yusuf. Terlebih Yusuf mendiagnosa kalau papan keyboard notebookku harus segera diganti. Maka keluarlah uang Rp150.000,00 dari rekeningku. Tuh kan, uang asli ya Suf! 😀

Rutinitas bibiku sehari-hari adalah melayani para pembeli yang tak kunjung henti di toko. Kadang aku kasihan melihatnya. Bibi hampir tak bisa beristirahat saking ramainya pembeli. Bahkan saat hendak makan sekalipun bibi nyaris tak bisa makan. Baru satu suap bibi menikmati makanannya, pembeli di depan rumah sudah teriak-teriak, “Punteun… Bu, bade meser!” (Permisi… Bu, mau beli!). Sayangnya bibi tak memiliki pembantu. Semua pekerjaan rumah tangga terpaksa dibagi dua antara paman dan bibi. Sementara Yusuf jarang sekali berada di rumah. Pamanku pun sebenarnya sangat sibuk dan aktif bermasyarakat. Selain menjabat sebagai kepala dinas kehutanan di Kabupaten Sumedang, pamanku memiliki banyak yayasan sosial yang setiap hari dikontrolnya. Pamanku memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sewaktu Aceh mengalami bencana tsunami, banyak anak Aceh yang diambilnya dan ditampungnya di panti asuhan yayasannya. Bahkan setiap malam paman mengajari para anak yatim-piatu belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengaji.

Jiwa sosial paman yang tinggi menurun kepada Ratna (kakak Yusuf), adik sepupuku yang kalem. Sudah dua tahun ini Ratna tinggal di Jakarta dan bekerja di Departmen Sosial. Bahkan Ratna dipercaya menjadi asisten pribadi Ibu Hj. Khofifah, menteri sosial. Ratna sudah kerap kali menemani perjalanan dinas luar sang ibu menteri. Seluruh pulau besar di Indonesia sudah pernah dijelajahinya. Peranan Ratna adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat di pelosok mengenai masalah-masalah sosial. Meski sibuk terkadang setiap dua minggu sekali Ratna pulang ke Sumedang pada akhir pekan. Sayang, tuhan belum berkenan mempertemukan kami kembali. Padahal bila aku memerlukan informasi seputar beasiswa, Ratna adalah informan yang tepat. Karena dia memiliki banyak channel yang belum diketahui banyak orang. Ayo dong Ratna bantu Aa-mu ini. Hehehe…

Tepat pada hari ke-5 aku berada di Sumedang, saat aku sedang mengemasi pakaian untuk kembali ke Bogor, tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Ibu Rensi, mantan pimpinanku di SDN Bangun Jaya membuatku penasaran dalam rangka apa beliau menghubungiku. Seingatku tugasku membimbing murid-murid pilihan untuk mengikuti Olimpiade SAINS sudah selesai. Bahkan tak dinyana semua murid bimbinganku itu berhasil memborong semua peringkat mulai dari juara pertama hingga juara ketiga baik bidang Matematika maupun IPA. Dan ini adalah prestasi luar biasa yang berhasil kucetak seumur hidupku. Gagal mengangkat telepon, akupun menghubungi balik ibu Rensi. Beliau memberi kabar sekaligus memerintahkan agar aku segera terbang ke Kalimantan pada hari itu juga guna melengkapi berkas sertifikasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sukamara. Alamak, sertifikasi? Aku tidak pernah menduga kalau akhirnya namaku terdaftar sebagai calon sertifikasi guru. Padahal aku sudah 5 bulan mengundurkan diri dari SDN Bangun Jaya. Ternyata meskipun aku sudah resign dari sekolah tersebut, NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan)-ku masih terdaftar secara online di Departmen Pendidikan. Tanggal 16 Maret 2015 adalah batas terakhir penyerahan berkas. Sementara hari itu adalah tanggal 13 Maret 2015. Waktuku hanya tersisa 3 hari. Bila aku memaksakan terbang (tentunya dengan pesawat ) ke Kalimantan akan memakan waktu yang sangat lama. Sebab perjalananku dari Sumedang ke Jakarta pun tidak dapat ditempuh dalam hitungan 2 atau 3 jam, melainkan 7-8 jam sodara-sodara! Mungkinkah aku akan sempat melakukannya?

Aku mendadak gamang. Berkali-kali aku berteriak dalam hati bahwa tujuanku ke Pulau Jawa adalah untuk meraih beasiswa. Aku sudah maju, dan tidak mungkin harus mundur lagi. Aku tidak mau cita-cita dan impian yang kuangan-angankan selama ini kembali hancur seperti sebelas tahun silam saat aku lulus SMA. Nasihat-nasihat dan support yang pernah diberikan oleh Mbak Feli terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimanapun aku harus mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tekadku sudah bulat! Aku termenung sejenak. Berkali-kali masih terdengar suara di ujung telepon bahwa aku harus kembali ke Kalimantan karena ini menyangkut masa depanku, ungkap Bu Rensi meyakinkan. Setelah aku menutup pembicaraan di telepon, aku menceritakannya kepada paman, bibi, dan Yusuf. Anehnya mereka semua malah menyuruhku untuk mengikuti saran Bu Rensi. “Pergilah! Perjuangkan sertifikasi!” tegas pamanku. Masih ragu dengan tanggapan mereka semua, akupun segera mengabari mama via telepon. Tentu saja hal ini membuat hati mama senang, “Akhirnya ada juga jalan yang membuatmu tidak bisa meninggalkan Mama!” ungkap mama dengan perasaan bahagia. “Tujuanku meraih beasiswa ke luar negeri bukan untuk meninggalkan mama, melainkan untuk menimba ilmu dan pengalaman yang selama ini ingin kucari. Tolong pahami itu, Ma!” batinku berkata lirih.

“Gih, perjalanan kariermu di Kalimantan sudah sangat panjang. Sangat sayang jerih-payah yang kamu perjuangkan selama ini menjadi sia-sia jika kamu tinggalkan. Sekarang sudah saatnya kamu menikmati kejayaan! Kamu sudah mempunyai nama di sini, di saat orang-orang mulai mengandalkanmu. Apa kamu rela melepas semuanya begitu saja? Coba kamu pikirkan, bila kamu pergi dari sini maka kamu akan memulai segalanya dari nol lagi! Apa kamu tidak capek?” bujuk mama via telepon.

Aku terhenyak larut dalam pikiranku menimbang-nimbang dan memikirkan matang-matang. Aku beristikharah memohon petunjuk tuhan. Aku masih ingat banyak sekali kegagalan yang kuraih selama ini. Tiga kali gagal mengikuti tes CPNS, dua kali gagal mengikuti seleksi database honorer. Padahal dari segi kelengkapan berkas dan qualifikasi aku sudah memenuhi semuanya. Namun di balik kegagalanku ada segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja menghapus namaku dari database honorer  pada tahun 2011 dan menggantinya dengan nama orang lain yang telah memberinya sejumlah uang. Padahal jika diusut lebih lanjut masa bakti penggantiku itu sama sekali tidak memenuhi persyaratan, dia hanya baru terbilang 2 tahun mengajar sedangkan aku sudah di atas 6 tahun. Lagi-lagi oknum yang tidak bertanggung jawab itupun memanipulasi data yang ada. Dibuatnya masa bakti orang yang menggantikanku itu seolah-olah sudah melebihi masa bakti yang disyaratkan. Hal inilah yang membuatku kecewa dan berhenti mengabdi kepada semua sekolah instansi pemerintah. Namun mama terus mendorongku agar aku tetap bertahan. Entah harus sampai kapan? Aku jemu menanti harapan palsu yang selalu diberikan kepadaku.

Setelah merenung beberapa saat, kuputuskan untuk mencoba membuat beberapa rencana sekaligus. Aku harus membuat beberapa opsi dan strategi agar cita-citaku tetap dapat tercapai. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan beasiswa pasca sarjana ke luar negeri. Namun tidak ada salahnya juga aku mencoba menyerahkan berkas sertifikasi. Bukankah hidup itu adalah pilihan? Manusia memang selalu memiliki rencana, tapi hanya tuhan yang menentukan. Seorang guru pernah berkata kepadaku, “Seorang pejuang sejati tak pernah berhenti mewujudkan impiannya dan menyerah begitu saja. Ia akan selalu menempuh banyak jalan ketika ia menghadapi kegagalan! Andai ia terbentur gunung sekalipun ia akan mendaki gunung tersebut. Namun bila ia jatuh ia akan menggali terowongan agar ia bisa sampai ke seberang. Bila gunung itu terlampau keras baginya, ia akan berdoa kepada tuhan agar gunung itu dilenyapkan dari pandangannya!”

Foto-foto bersama bibi, Yusuf, dan paman

image

image

Segera kukemasi pakaianku dan pamit kepada paman, bibi, serta Yusuf. Kepergianku diiringi dengan doa mereka semua. “Lakukan yang terbaik selagi kamu mampu!” pesan paman padaku. Aku berangkat menuju Bogor sebelum waktu semakin berkurang. Di sana ada seorang penasihat yang harus kutemui karena hanya dari dialah aku sering mendapat pencerahan. Dia tak lain adalah sahabatku sejak kecil yang kini sering muncul di televisi. Cukup sulit membuat jadwal pertemuan dengannya. Namun demi aku dia selalu rela mengorbankan waktunya. Semoga saja kami dapat bertemu.

Aku tiba di Bogor tepat pukul 7 malam. Kupikir aku tidak akan memiliki waktu lagi untuk menikmati suasana di Bogor. Maka kuhabiskan malam itu dengan berkeliling-keliling Kota Bogor mulai dari mengunjungi Botani Square, Toko Buku Gramedia, Taman Topi, Jembatan Merah, hingga Jalan Mawar. Aku berusaha menyempatkan diri mencari barang-barang yang sulit kucari di Kalimantan antara lain: buku TOEFL Preparation, buku Mandarin for Children, buku Korean for Children, Oxford Dictionary, Buku Kumpulan Soal Ujian Kenaikan Kelas untuk Kelas 3-5 SD, hingga parfum Polo Sport kesukaanku. Alhamdulillah cukup banyak barang yang kuborong hingga satu tas penuh. Untung saja beratnya tidak melebihi 20 kg sehingga tidak akan over bagasi di pesawat. Tinggal transaksi tiket pesawat secara online. Tanpa ragu aku langsung mengakses situs resmi Kalstar Aviation. Setelah mengisi beberapa data yang diperlukan, tinggal melakukan transaksi pembayaran. Oow… mengapa transaksi pembayarannya tidak bisa menerima transfer via BRI? Padahal pada menu pilihannya terdapat pula menu ATM Bersama, tapi mengapa tidak dapat melakukan transaksi? Hari sudah larut malam, semua agen travel di Bogor sudah tutup. Kucoba untuk melakukan transaksi via mobile-banking, lagi-lagi pada aplikasi BRI di ponselku tidak tercantum nama maskapai Kalstar Aviation. Yang ada hanya menu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Tak putus asa aku segera beranjak menuju ATM di tepi jalan raya. Menu yang sama kudapati seperti dalam ponselku. Mungkinkah ini adalah pertanda kalau aku harus menunda kepulanganku ke Kalimantan? Barang sehari saja tidak apalah! Lagi pula aku masih betah ingin di Bogor.

Menikmati hari terakhir di Bogor

image

Terowongan penyeberangan bawah tanah tematik

image

Pameran aneka kumbang Indonesia di Botany Square

image

Cara bercocok tanam yang baru, pameran Botany Square

image

Aih… cantiknya rusa pakistan di halaman istana Bogor ini. Oh iya sekarang istana Bogor menjadi tempat peristirahatannya Presiden Jokowi…

Keesokan harinya aku berangkat menuju agen travel yang terdapat di Taman Topi. Benar dugaanku tiket yang telah kubooking semalam telah digantikan orang lain. Otomatis aku hanya bisa mengikuti penerbangan pada hari berikutnya. Di saat yang bersamaan, sahabatku yang ingin kutemui mengkonfirmasi pertemuan kami via telepon. Hari Minggu pagi 15 Maret 2015 pukul 7 pagi ia akan menjemputku sekaligus mengantarku ke terminal bis Damri.

Hari terakhir di Bogor aku manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Aku tidak begitu yakin akan bisa kembali ke Bogor suatu saat nanti. Hanya dengan doa aku tak pernah berhenti meminta kepada tuhan agar segala usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang terbaik. Semoga saja baik sertifikasi ataupun beasiswa pasca sarjana ke luar negeri dapat kuraih salah satu di antaranya tanpa suatu kendala apapun. Ary, sahabatku, selalu menepati janjinya. Aku senang pada detik-detik terakhir keberadaanku di Bogor dapat dipertemukan kembali dengannya. Lama sekali kami tidak berjumpa semenjak pertemuan terakhir kami saat aku mengikuti kegiatan Raimuna Nasional di Cibubur pada tahun 2008. Saat itu Ary baru saja lulus S1 sementara aku belum memiliki ijazah sarjana. Ia sengaja datang dari Bogor untuk melihat kegiatanku di Cibubur. Persahabatan kami bermula sejak kami bertetangga di Cimanggu Kecil ketika kami masih TK. Waktu itu rumah kami berhadap-hadapan maka tak jarang kami menghabiskan waktu bermain bersama baik siang maupun malam. Orang tuanya sangat baik kepadaku dan kepada semua orang. Masih kuingat dengan jelas bila mama Ary membuat kue, tetangga satu RT pasti kebagian. Ketika masuk SD Ary pindah rumah ke Loji, Bogor Barat. Aku sangat kehilangan teman sepermainanku. Saat aku kelas 3 SMP aku sengaja bersilaturrahim ke rumahnya dan menjalin persahabatan kami kembali yang sempat terputus selama 8 tahun. Sejak saat itulah kami sering melakukan pertemuan dan jalan-jalan berdua mengitari Bogor. Minimal satu bulan sekali kami bertemu. Semenjak aku hijrah ke Kalimantan kami mengagendakan pertemuan kami menjadi satu tahun sekali berhubung aku hanya bisa pulang ke Bogor satu tahun sekali, setiap liburan panjang pada bulan Juli. Akan tetapi agenda tahunan itu terhenti semenjak mama menjual rumah di Bogor dan pindah ke Sumedang sampai akhirnya mama menetap tinggal di Kalimantan bersamaku. Walaupun begitu aku tak pernah putus komunikasi dengan Ary. Beruntung aku hidup di zaman berteknologi canggih. Adanya Facebook, WhatsApp, dan Line membuat kami bisa saling melihat aktivitas kami satu sama lain. Aku senang melihat Ary kini sudah menjadi orang sukses, kerap masuk televisi sebagai pemuda yang berprestasi, dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan adanya pendamping hidup dan seorang buah hati. Kelihatannya Ary benar-benar sangat bahagia bersama keluarganya.

Sebagai seorang sahabat, Ary adalah pendengar yang baik. Banyak kata-kata ajaib yang terlontar dari mulutnya dan sering menjadi penyemangat bagiku di kala aku menghadapi masalah. Pertemuan hari itu dengannya hanya berlangsung 2 jam. Aku harus segera berangkat menuju bandara dengan menaiki bis Damri. Awalnya Ary sangat ingin mengantarku ke bandara, berhubung ia harus mengikuti meeting dengan teman-teman sesama volunteer, maka Ary hanya dapat mengantarku sampai Botany Square saja.

Foto-foto bersama Ary

image

image

image

Adikku dibalut seragam pramugarinya
image

Have lunch sebelum boarding pass

image

Selfie dalam pesawat

image

image

Setibanya aku di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng adikku mengirim pesan via BBM meminta agar aku menunggunya di terminal 1C. Ia ingin melihat kepergianku kembali ke Kalimantan. Atau jangan-jangan karena ia masih rindu denganku? Adikku bahkan memohon kepada para petugas security check in agar ia diperkenankan masuk ke ruang tunggu pesawat bersamaku. Dengan ID card pramugari yang dimilikinya ia berhasil diperkenankan masuk tanpa kendala apapun. “Mas, saya boleh ya mengantar kakak saya sampai ke dalam?” pintanya kepada salah seorang petugas security sambil menunjukkan ID card pramugarinya. Lucunya petugas security itu malah balik menggoda, “Oh boleh Mbak. Ngomong-ngomong bacht berapa?” hadeuh… dasar petugas genit. Cari kesempatan dalam kesempitan. Masak dia menanyakan apartmen adikku? Adikku menemaniku hingga pemberangkatanku tiba. Waktu yang begitu minim kami pakai mengobrol membahas seputar masalah pekerjaan kami masing-masing. Begitu terdengar panggilan di pengeras suara yang memanggil para calon penumpang Kalstar agar segera naik ke pesawat, adikku pun turut mengantar sampai ke depan pintu pesawat. Mungkinkah ia ingin ikut bersamaku pulang ke Kalimantan? Setelah aku berpamitan padanya dan ia mencium tanganku sebagai tanda perpisahan, kulihat adikku membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan lunglai. Sempat kulihat status terbarunya di BBM : “Ingin ikut ke Kalimantan ketemu sama mama!” ckckck… kasihan sekali dia. Segera kuhempaskan tubuhku di kursi samping pintu darurat sesuai permohonan adikku saat kami check in. Hanya dalam hitungan beberapa menit pesawat yang kunaiki pun segera lepas landas. Dalam satu jam ke depan aku akan segera tiba di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hatiku berasa sesak. Aku belum begitu puas menikmati kunjunganku kepada keluarga di Pulau Jawa. Di luar jendela rinai hujan tampak rintik-rintik dengan awan yang begitu berkelebat. Menemani suasana hatiku yang sedang gamang.

#SELESAI#

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

7 responses to “My Trip In Java #3

  1. Gara ⋅

    Sukses terus ya Mas. Masnya keren lho, banyak kenalan dan teman serta keluarga, banyak yang akan membantu Mas di kala kesusahan, jadi jangan menyerah, soalnya saya yakin suatu hari nanti semua keinginan Mas bisa tercapai. Mas orang baik, dan saya yakin hal-hal baik selalu terjadi pada orang baik :)).

    • Sugih

      Bli, kata-katamu sangat memberiku semangat. Terima kasih banyak atas motivasi dan dorongannya. Bli juga orang yang sangat baik. Sayang ya bulan lalu kita gagal bertemu. Oya, boleh tidak saya mereview In 10 Days dalam postingan saya selanjutnya? Siapa tahu semakin banyak yang berminat untuk membacanya. Kemarin Mas Riza Umami juga kepengen lho. Tapi saya tidak berani mengirimkannya tanpa seizin Bli Gara.

      • Gara ⋅

        Sama-sama, Mas. Tak apa. Mungkin nanti kita bisa bertemu.
        Eh… sebenarnya saya masih kurang pede sih Mas, tapi yah… silakan saja. Saya akan mempersiapkan diri *crossing fingers*.

      • Sugih

        Oke, terima kasih juga atas izin yang diberikan 🙂

  2. jawa memang tak akan pernah habis untuk dijelajahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s