Tuhan Maha Adil

image

Suatu ketika seorang petani labu baru saja selesai menggarap ladangnya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon karet yang rindang dan teduh. Dihempaskannya pantatnya ke tanah untuk duduk dan bersandar pada batang pohon. Dikipaskannya topi caping ke dadanya yang kegerahan karena suhu udara siang itu teramat panas. Lama dia mengamati buah karet yang bergelantungan di pohon. Sejenak dia berpikir. Kemudian dia bergumam, “Kalau kuamati baik-baik, buah karet ini bentuknya sangat mirip dengan buah labu yang kupanen. Tetapi mengapa tuhan tak adil? Buah labu ukurannya besar sementara batang tanamannya sangat kecil. Kemudian buah karet ukurannya kecil sementara batangnya cukup besar. Tuhan sungguh tidak adil!” Petani itu merasa kecewa kepada tuhan.

Lama si petani labu itu terhenyak dalam lamunannya. Sampai akhirnya, ia tak sadar kalau sebutir buah karet yang tadi diamatinya tengah terjatuh karena terhempas oleh angin. Dan…

PLETAK!

“Adaaaaw…” teriak petani.

Buah karet itu jatuh tepat mengenai kepalanya. Lantas petani labu itu kembali bergumam.

“Oh, ternyata tuhan itu maha adil! Seandainya buah karet yang jatuh mengenai kepalaku ini berukuran sebesar labu-labu yang kupanen, tentu sudah pecah kepalaku dibuatnya!”

Petani labu itu lantas segera bangkit dari duduknya dan mengemasi hasil panennya secepat mungkin. Ia ingin cepat pulang ke rumah agar bisa sembahyang dan bersyukur kepada tuhan atas keadilan yang ditunjukkan tuhan kepadanya.

Saat Aku Menjadi Motivator

image

Terkadang memang mudah bila kita memberi semangat kepada orang lain sehingga membuat orang lain menjadi termotivasi oleh perkataan kita. Terlebih bila pekerjaan kita adalah guru, dosen, psikolog, konsultan, ataupun pembina ekstrakurikuler. Tetapi ada kalanya juga justru malah sulit bila kita memberi motivasi kepada diri kita sendiri. Padahal kenyataannya, maju atau tidaknya diri kita untuk menjadi yang terbaik adalah berasal dari tekad diri sendiri. Kita sendirilah yang seharusnya memotivasi diri kita untuk meraih apa yang kita angan-angankan.

image

Banyak sekali hal yang kulakukan kepada orang-orang di sekelilingku agar mereka berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan mengubah kepribadian mereka yang pada awalnya tertutup, pemalu, dan pendiam menjadi berani membuka diri dan menunjukkan siapa jati diri mereka sesungguhnya.

Sebut saja beberapa kejadian yang pernah kualami antara lain :

-Aji adalah muridku yang cerdas. Ia sangat pandai Matematika. Lucunya, Aji kerap kali meremehkan soal yang dirasa mudah. Sehingga tiap kali Aji mengerjakan soal yang begitu mudah, justru ia menjadi kesulitan. Sebaliknya soal-soal yang dirasa sangat sulit bagi orang lain, Aji dapat mengerjakannya dengan begitu mudahnya. Aku tak pernah bosan untuk memberinya ‘warning’ agar Aji senantiasa teliti dalam mengerjakan soal. Akhirnya dengan segala wejangan dan ilmu yang kukuasai kuberikan padanya, Aji berhasil menjadi juara pertama olimpiade sains di tingkat kabupaten hingga provinsi. Saat itu Aji masih SD. Dan selepas SD, Aji melanjutkan sekolah ke Pontianak. Di sana Aji tinggal bersama Mbah Uti-nya. Tak disangka, Dinas Pendidikan Kota Pontianak selalu memperhitungkan nama Aji dari SMP hingga sekarang SMA. Setiap kali ada olimpiade matematika, Aji selalu diikutsertakan sebagai peserta dan tak pernah absen dari gelar sang juara. Wah, bukan main bangganya. Bila Aji menelepon menghubungi mamanya untuk melepas kangen, Aji kerap menyebutkan namaku. “Pokoknya Ma, adek harus dileskan di bimbelnya Pak Sugih! Jangan sampai tidak! Ingat Ma, Aji bisa juara semua berkat bimbingan Pak Sugih!” Aji mewanti-wanti sang mama agar adiknya yang sekarang bersekolah di SD didaftarkan les di bimbelku.

-Seorang muridku yang bernama Andhika (yang kuajar sejak SD hingga SMA) terkenal pintar dalam pelajaran SAINS, namun cenderung kaku dalam pergaulan sehingga ia tidak memiliki begitu banyak teman. Padahal sebenarnya cukup banyak teman yang mengagumi kepintarannya. Sampai akhirnya suatu hari, saat Andhika kelas VII SMP, aku sengaja menariknya untuk mengikuti seleksi Jambore Nasional 2006 di Jatinangor, aku benar-benar menggembleng karakternya. Berbagai latihan keterampilan, kecakapan diri teknik kepramukaan (tekpram), dan bimbingan mental, Andhika berhasil kuubah menjadi anak yang lebih luwes daripada sebelumnya. Akhirnya Andhika berhasil menjadi peserta Jambore Nasional 2006 berkat arahan yang kuberikan. Padahal sebelum ia terpilih, Andhika sempat bertanya kepadaku, “Apa mungkin saya mampu Pak?” Dengan tatapan meyakinkan kukatakan padanya, “Tentu saja kamu mampu, selagi kamu mau berusaha!”
Tak dinyana, sejak saat itu Andhika menjadi semakin cinta kepada pramuka dan selalu ingin memajukan pramuka di manapun ia berada.

-Saat muridku yang bernama Rahman (kelas X SMA) menjadi anak yang cenderung pemalu dan sulit bergaul, aku mengajaknya untuk mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Aku meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin. Aku terus melatihnya agar ia tidak malu berbicara di hadapan orang banyak. Dan tak sampai setahun, Rahman berhasil menjadi idola baru di sekolah karena kesupelannya dalam bergaul.

-Saat Rahmat juga muridku (kelas VII SMP) akan mengikuti lomba telling story Bahasa Inggris tingkat kabupaten, Rahmat merasa tidak yakin bahwa ia akan dapat menampilkan cerita yang harus ia bawakan. Selama beberapa bulan lamanya, aku melatih pronunciation Rahmat, gesture tubuh, dan olah vokal yang tepat saat mengisi suara berbagai karakter yang akan dibawakan Rahmat. Aku mengajarinya secara rutin dan penuh kedisiplinan setiap hari. Rahmat bahkan sempat minder dan takut kalah dalam perlombaan, di saat itulah aku mengatakan padanya, “Menjadi juara bukanlah hal yang penting. Bagi Bapak yang penting kamu mendapatkan pengalaman. Karena dari pengalamanlah kamu dapat belajar!” Akhirnya Rahmat tampil di hadapan juri dan puluhan penonton dengan penuh rasa percaya diri. Bahkan ia langsung menyabet juara ke-3, menyingkirkan puluhan peserta yang dianggap saingan berat olehnya. Dari pengalamannya itulah Rahmat terus belajar, dan aku selalu menjadi pelatih bahasa Inggrisnya di setiap kejuaraan Bahasa Inggris yang diikutinya setiap tahun, prestasinya kian menanjak, dan sampailah ia menjadi juara pertama English Speech Contest di tingkat kabupaten saat Rahmat duduk di kelas X SMA.

-Suatu hari aku berkata kepada bibiku seperti ini : “Bi, masakan Bibi lumayan enak, coba bikin kue-kue untuk kutitipkan di kantin sekolah. Keripik pedas juga boleh, kan keripik singkong buatan Bibi enak banget rasanya.” Bibiku awalnya tidak terlalu menanggapi ucapanku, “Ah, Bibi takut nggak laku. Siapa yang mau beli kue-kue dan keripik buatan Bibi, Gih?” Dalih bibi pada waktu itu. Di sisi lain bibiku menolak usulanku pasalnya karena perekonomian keluarga bibi memang dapat dikatakan cukup sejahtera. Tapi aku terus mendesaknya, “Belum juga dicoba, Bi. Percaya deh, dagangan Bibi pasti bakal laris manis!” Akhirnya bibiku bersedia mengabulkan keinginanku. Setiap hari aku membawa sekarung keripik singkong pedas untuk kutitip di kantin sekolah. Dan sesuai dugaanku, keripik dan kue-kue buatan bibi memang selalu menjadi primadona di kantin sekolah. Tidak hanya murid-muridku yang menggemarinya. Rekan-rekan sesama guru dan kepala sekolah pun senang memesan berbagai macam keripik buatan bibi padaku. Mulai dari keripik singkong sampai keripik pisang dengan varian rasa manis, pedas, gurih, asin, dan lain-lain. Tak hanya itu usaha bibi pun sekarang telah berkembang merambah menjadi home industri yang banyak dipasok ke toko-toko di daerah tempat tinggalku.

Bisa dikatakan apa yang kulakukan ini adalah memotivasi orang-orang di sekelilingku. Namun di sisi lain, ketika aku sedang terpuruk, justru aku malah tidak dapat menyemangati diriku sendiri. Mungkin pembaca ada yang pernah mengalami apa yang kualami. Berikut ini adalah tips untuk pembaca semua agar kalian dapat kembali bangkit di saat kalian sedang terpuruk dan memerlukan motivasi sebagai penyemangat :

1. Selalu ingat tuhan bersama kita. Apa yang tuhan berikan pasti yang terbaik untuk kita. Dan janganlah berburuk sangka kepada tuhan dengan mengatakan bahwa tuhan tidak adil!
2. Yakinlah bahwa kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai selagi kita mau berusaha untuk meraihnya.
3. Bacalah buku yang isinya berupa humor. Terkadang humor dapat membangkitkan semangat yang telah pudar dan kendor.
4. Hindari hal-hal yang berbau melankolis atau menguras air mata. Karena hal itu dapat menambah suasana hati kita semakin depresi dan tak bergairah. 5. Perbanyaklah berzikir dan shalat sunat (jika kalian muslim). Intropeksi diri : Apa-bagaimana-dan mengapa aku begini? Sesuatu hal baik yang pernah kita lakukan tentu akan berdampak baik pula bagi kita. Begitu pula sebaliknya sesuatu hal buruk yang pernah kita lakukan akan berimbas buruk pula kepada kita.
6. Bisikkanlah kepada diri sendiri dengan tekad yang bulat, “Aku harus bangkit! Aku tidak boleh lemah! Aku masih kuat! Aku masih sanggup untuk melakukan apa yang ingin kulakukan! Dan aku tidak boleh lengah!”

Selamat mencoba!  🙂

My Inspirator : Ricardo Howard

image

Pembaca sudah pada kenal dengan penyiar ganteng satu ini? Pernah melihatnya di layar kaca? Pada tulisanku kali ini aku akan mengajak kalian untuk mengenal sosoknya lebih dekat.

image

Kalteng boleh bangga memiliki putra daerah seperti seorang Donbernado Howard Shenken yang lebih dikenal sebagai Ricardo Howard dan akrab disapa Edo, penyiar Katambung TVRI Kalteng. Pria charming dan rendah hati kelahiran Pendahara, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, 11 Juli 30 tahun silam ini kariernya kian menanjak sejak ia menjuarai beberapa lomba yang diikutinya. Bahkan sekarang Edo sudah punya album (lagu Dayak dan pop) sendiri lho. Dengan kiprahnya itu Edo sekarang sudah merentangkan sayapnya di ranah hiburan nasional. Nama Edo kian bersinar dan lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi top hits di radio-radio Kalimantan Tengah. Nah, simak petikan obrolan super kepo via BBM antara aku dengannya ya… 😀

Hi Bro, boleh tahu sejak kapan kamu jadi penyiar TVRI Kalteng?
Hi juga, aku jadi penyiar TVRI Kalteng sejak 2013, sebelumnya aku udah jadi penyiar radio sejak SMP.
image

Wow, kamu sudah jadi penyiar radio sejak SMP? Amazing! Ngomong-ngomong di stasiun radio mana kamu dulu bersiaran? (Aku juga dulu pernah jadi penyiar lho… #PLAK! Pembaca gak nanya)
Radio Sangalang Perdana Katingan, kemudian oneFm Sampit, dan radio SeruyanFM di Seruyan.

image

Wuih, keren… keren… berarti nama kamu cukup ngetop dong ya? Eh, btw dari penyiar kok sekarang beralih profesi jadi penyanyi?
Sebenarnya enggak alih profesi kok. Kebetulan hobiku sejak kecil memang menyanyi. Tapi baru mulai berani ikutan lomba sejak kelas 1 SMA. Maklum dulu aku orangnya pemalu.

(Pemalu ya? Sama dong! #diketawain semut merah!)

image

Terus pernah ikutan lomba apa aja? (Lomba balap karung pasti pernah kan?)
Aku pengalaman pertama ikut lomba pop bintang radio, Kereng Pangi Katingan 2001, 2002 ikut lomba nyanyi dangdut di kecamatan, juara 3 pop lagu daerah se-Kalteng 2010, kemudian pernah ikut audisi Indonesian Idol di Jakarta 2012, juara 3 lagu keroncong tingkat provinsi Kalteng 2014, juara 2 putra pariwisata Kabupaten Seruyan 2009, dan masih banyak lagi kejuaraan lainnya.

image

image

(Eh serius tuh, pernah audisi Indonesian Idol juga? Triple wow buat Edo   ☆☆☆)

Ngomong-ngomong soal album, berapa jumlah album yang sudah kamu telurkan? (#Telur? Emangnya ayam?)
Aku sekarang sudah punya album bahasa Katingan dan 3 buah pop ciptaan sendiri.

(Mau dong dibikinin lagu sama Edo #www.ngarep.com)

Apa saja judul albummu mas Bro?
Single pop aku judulnya ‘Takkan Kusesali’. Album lagu Dayak pertamaku, ‘Kilau Tjilik Riwut’ bernuansa pop kental dengan piano. Lagu ke-2 NAMUEI (MERANTAU) dalam Master Album Bahasa Katingan ciptaan dan vocal aku sendiri dan pianist Zefanya Wahyudianto. Nuansa Pop dan piano tetap kental.

Bicara soal hobi, kegiatan apa yang kamu gemari? (Kamu gak suka ngupil sembarangan, kan? #hihihi… penulis iseng) 
Hobiku membaca karya sastra. Buku favoritku adalah karya Kahlil Gibran. Kadang aku juga suka baca buku tentang politik, budaya dan sosial. Aku juga hobi menulis, dan menyanyi.

image

Kesibukan sehari-hari kamu selain siaran apa saja?
Aku biasa ngemsi (jadi MC) dan nyanyi di cafe, restoran, acara resepsi pernikahan, maupun di gereja.

(Nanti kalo aku nikah, kamu ngemsi dan nyanyi di acara pernikahan aku ya! 🙂  )

Ada suka-duka selama menjadi penyiar di TVRI Kalteng?
Dukanya awalnya dicemooh orang dan diremehin……gaji kecil. Sukanya, belajar improvisasi (automaticly public speaking), banyak kawan, dikenal dan lebih tau kekurangan diri…

Ada pengalaman lucu selain suka-duka menjadi penyiar?
Lucunya, kalau ketemu orang aku dikira berumur 24 tahunan, padahal sekarang umurku 30 tahun.

Kalau diminta mendeskripsikan seperti apa dirimu, menurutmu sosok seorang ‘Ricardo Howard’ itu sebenarnya seperti apa sih?
About Ricardo, aku itu : Melakukan yang terbaik pasti hasilnya terbaik…..hidup harus menjadi BERKAT bagi diri sendiri maupun bagi orang lain…..God Bless us.
Mau Belajar
Mau Berdedikasi
Mau Mengalah jika itu untuk menang
Berusaha jadi teman dan sahabat yang baik…….
“ORANG YANG MENGUASAI PEMIKIRAN AKAN MENGUASAI MASA DEPAN”…………….bertekun dalam doa, kerja keras dalam bekerja…………….

Favorite Quotes :
‘be excelent 4 the best’

Terakhir, ada pesan gak untuk pembaca blogku?
Ada dong, setiap orang dianugerahi kelebihan dan kekurangan, apapun yang menjadi kelebihanmu jadikan itu sebagai acuanmu mewujudkan impianmu………..jangan berhenti untuk belajar dan merendah hati hingga kamu secara tidak sadar bahwa kamu adalah pribadi yang banyak tahu hal tapi tetap rendah hati……

Oke deh, terima kasih banyak ya Edo atas waktu luangnya. Semoga kariermu semakin sukses dan namamu makin melejit di dunia entertainment.

Ricardo Howard
PIN BBM : 280D7EBA
Facebook : Ricardo Howard
Soundclouds : Ricardo Howard 3

Puppy lover
image

So charming
image

Sering disandingkan dengan wanita cantik tiap bersiaran
image

image

Sebelum jadi penyiar TVRI
image

Mengapa Edo menjadi inspirasiku :
1. Dari suka-duka yang dialaminya, Edo mengajarkan kita agar di saat kita dilecehkan, diremehkan, atau dipandang rendah oleh orang lain sudah selayaknya kita menunjukkan nilai potensi diri yang kita miliki bahwa kita tidak pantas untuk diremehkan. Ingatlah harkat, martabat, dan
derajat manusia di mata tuhan itu sama.
2. Pekerja keras. Berbagai job Edo geluti mulai dari penyiar, penyanyi, sampai menjadi MC di berbagai acara. Bukan hal yang mudah untuk membagi waktu dan mendapatkan banyak pekerjaan sekaligus. Di luar sana banyak sekali penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, mereka berjuang namun hanya kesia-siaan yang mereka dapatkan.
3. Meskipun Edo telah berkiprah di kancah blantika musik nasional, dan namanya semakin tenar, Edo
tidak bersikap tinggi hati kepada semua orang. Ia tetap low profile dan down to earth, ramah bersahaja.
4. (Silakan diisi oleh pembaca )

Kehilangan Itu Menyakitkan

image

Kehilangan Itu Menyakitkan

Selama satu bulan terakhir ini aku merasa sedih karena kehilangan banyak hal yang kusayangi. Mulai dari hp kesayanganku Samsung Galaxy Young, hp android pertamaku yang telah banyak membantuku selama 2 tahun terakhir ini. Berkat hp yang memang sih harganya tidak seberapa mahal, waktu pertama keluar aku membelinya seharga Rp1.250.000,00 dan setelah 2 tahun berlalu harganya turun menjadi Rp850.000,00 tetapi bagiku nilai fungsinya sangat berharga sekali. Berkat hpku tersebut aku berhasil masuk bergabung menjadi anggota penulis di suatu forum penulis dan menjadi penulis yang cukup diminati oleh banyak pembaca, rating pembacaku selalu menempati posisi nomor dua teratas di forum penulis tersebut, not bad lah! Sampai-sampai aku sering menerima banyak email dari para pembaca cerita-ceritaku, mereka mengaku sebagai pengagum beratku! Parahnya ada salah seorang di antara mereka yang berhasil mendapatkan nomor ponselku dan setiap hari mengirimiku sms cinta! Gubrak! Selama menulis aku sama sekali tidak menggunakan laptop, aku menginstall King Soft Office sebagai aplikasi menulisku di hp. Kemudian cerita yang kutulis, kuposting langsung di web forum penulis. Hebat kan hpku itu?
Berkat hpku itu juga aku berhasil mengantarkan Rahmat, murid favoritku di SMA, menjadi juara 1 pada lomba pidato Bahasa Inggris di tingkat kabupaten. Memang sih, Rahmat sudah sering berlatih pidato Bahasa Inggris denganku sejak kelas 1 SMP, tetapi ketika ia mengikuti lomba itu Rahmat banyak bergantung kepada hpku. Aku kerap merekamnya saat ia latihan, dari rekaman itulah Rahmat bisa mengetahui di mana letak kekurangannya saat ia membawakan pidato. Tidak hanya itu Rahmat pun sering menggunakan aplikasi Google Translate yang kuinstall untuk mendengarkan langsung cara mengucapkan (pronunciation) Bahasa Inggris yang dirasa cukup sulit baginya. Tak heran kan, kalau akhirnya Rahmat berhasil menjadi juara 1? Sayang seribu sayang, setelah Rahmat berhasil menyabet gelar sang juara ia pindah sekolah ke Pulau Jawa. Ini adalah kehilangan pertama sebelum aku kehilangan hpku! Sebenarnya hpku tidak hilang, hanya mengalami kerusakan dan tidak tertolong lagi untuk diperbaiki. Mengapa? Karena ini sudah ketiga kalinya hp Samsungku masuk dapur service! Tetapi untunglah, dari rizki yang kudapat, aku bisa membeli Samsung kembali dengan performa yang menurutku jauh lebih baik, Samsung Galaxy Ace 3. Dan aku bisa mendapatkan kembali data-dataku yang tersimpan di hp Samsungku yang sebelumnya dengan mensinkronisasikan akun google yang kumiliki. Dan seluruh back up pun muncul. Alhamdulillah!
Kehilanganku yang ketiga adalah sinetron kesukaanku, Fortune Cookies! Beu.. Segitunya banget! Masalahnya mengapa aku suka sekali sinetron ini? Sebab penulis skenario film ini adalah Hilman Hariwijaya, salah satu penulis favoritku selain Sutan Takdir Alisjahbana, dan NH Dini! Pokoknya menurutku semua karya-karya Om Hilman Hariwijaya benar-benar TOP BGT! Nah, Fortune Cookies tidak hanya menarik dari segi cerita, tetapi juga para bintang yang memainkannya! Well done deh untuk Yuki Katrok ups maksudku Yuki Kato, juga untuk Stefan William, Giorgino Abraham, Nasha Marcella, Natasha Wilona dkk. Plus soundtrack sinetron yang sesuai banget, Fortune Cookie Yang Mencinta, yang dibawakan oleh JKT48. Ketika menonton episode terakhirnya kemarin sore yang berakhir happy ending (walaupun sedikit janggal dan menggantung) aku merasa sedih banget karena tidak bisa lagi melihat kelucuan di antara Gio dan Fatin (ikan patin kalee) yang tidak pernah rukun seperti Tom and Jerry. Tapi ya namanya juga cerita, ada beginning juga pasti ada ending kan? Aku hanya berharap semoga dalam waktu dekat aku bisa melihat lagi karya-karya terbaik Om Hilman Hariwijaya. Dan semoga aku bisa mengejar kesuksesan karirnya sebagai penulis. Amin!
Kehilangan keempatku adalah menjelang awal maret nanti akun blogku di opera akan ditutup oleh tim opera. Karena Opera tidak sanggup mengungguli web hosting lainnya yang memiliki fitur lebih canggih dari Opera. Padahal aku sudah memiliki ratusan teman yang kusayangi di sana baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Untunglah sebagian dari mereka di sana sudah berteman denganku di facebook. Sehingga aku masih dapat berkomunikasi dengan mereka seperti biasanya. Tetapi yang membuatku sedih dari ditutupnya akun opera kami adalah hilangnya seseorang yang sudah membuatku jatuh cinta padanya! Cie… Namanya Danielle Laure, dia berasal dari Filipina. Dari postingan-postingan yang ditulisnya di Opera, tampak sangat jelas olehku kalau dia adalah orang yang pesimis. Dan entah mengapa, aku sangat ingin sekali berada di dekatnya untuk memupus semua kesedihan yang dirasakannya. Sayang sebelum tim Opera menutup akun kami, Danielle sudah men-shut down akun operanya duluan. Akupun kehilangan kontaknya. Sekarang aku tak tahu harus bagaimana lagi agar bisa terhubung kembali dengannya. Di percakapan terakhir kami, aku sempat meninggalkan nomor ponselku padanya, berharap kelak kami dapat bertemu kembali di jejaring sosial lainnya! Semoga!
Kehilanganku yang kelima, hari ini adalah hari pertama bimbingan belajarku dibuka kembali di awal tahun 2014 ini, dan aku kehilangan seorang murid yang kusayangi. Adeeb adalah anak yang ganteng, periang, enerjik dan tak pernah mengenal lelah dengan segudang kegiatan yang diikutinya. Aku heran makan apa sih itu anak bisa tetap ceria dan segar setiap harinya? Kegiatan di sekolah seabreg minta ampun, ada jam tambahan matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia, PRAMUKA, dan ekstrakurikuler Sepak Bola. Di luar jam sekolah, Adeeb pun mengikuti kegiatan les denganku Senin-Kamis, plus Sabtu dan Minggu. Belum lagi mengaji setiap malam, dan les Olimpiade IPA setiap Jumat malam. Heran, padahal baru kelas 5 SD tapi jarang kena penyakit padahal badannya kurus sekali. Anak itu tidak pernah protes kepada guru, tidak pernah nyleneh, dan selalu patuh kepada guru. Saking kalemnya, kakek-neneknya sangat sayang padanya. Di sekolah saja banyak murid perempuan yang mengidolakannya, baik teman sekelasnya, adik kelasnya, bahkan sampai kakak kelasnya di kelas 6 yang sudah mengalami pubertas! Oleh karena itu aku sangat berharap sekali, suatu hari nanti aku dan pasanganku akan dikaruniai Allah seorang anak yang ganteng, cerdas, periang, dan enerjik seperti Adeeb! Sekarang Adeeb sudah pindah sekolah ke Pulau Jawa, semoga saja di sana Adeeb tetap dapat mempertahankan prestasi seperti di Kalimantan ya! Amin.
Dari semua kehilangan yang kualami, kalau banyak dipikirkan kehilangan itu rasanya menyedihkan dan sakit sekali! Tetapi dari kehilangan itu aku belajar untuk ikhlas! Ikhlas untuk menerima kenyataan! Alhamdullillah, Allah selalu mengganti kehilangan yang kualami dengan sesuatu yang lebih baik! So, buat pembaca semua yang mungkin juga sedang merasa kehilangan, janganlah pernah merasa Tuhan itu tak adil, karena segala sesuatu itu selalu ada hikmahnya tersendiri. Hidup itu kan seperti cerita, ada awal dan pasti ada akhirnya. Ada orang yang datang ke dalam kehidupan kita pasti ada pula orang yang pergi meninggalkan kita! Tuhan sudah mempunyai rencana yang lebih baik terhadap kejadian yang menimpa diri kita! 

No Idling : Jayesh Sachdev

JAYESH SACHDEV
image

Exhilaration of Victory

Growing up in India, in a town trying hard to turn into a metropolitan city, in a middle class family, my father, an owner of a small sports shop, my mother a teacher, I had a very interesting upbringing. I was brought up with deeply rooted values and principles, encouraged by my mother to think on my own and be responsible for my actions and decisions, and on the other hand my father, more protected, old schooled, who wished for me to join his shop and sell hockey sticks to kids; and then there was me, with larger than life aspirations and ambitions. I was a dreamer. I wanted to be a designer in a country and environment which had no respect for it.

After several rejections to art school, I landed a job as a Graphic Artist at a Television Channel, facing rejection for close to a year, never having a single design approved, I continued my quest for design school until I was fnally admitted to one in Singapore at the age of 22. Financially and socially outcast, I immersed myself into my art and design often doing homework of my classmates to pay off my rents, often freeloading food off the near by Sikh Temple. I graduated with an impeccable record and moved back to India to found my own studios, Emblem.

Having been disconnected with the creative industry in India I had no in roads into the industry and clearly no work. I translated my depression into my passion for art and soon started painting, and was encouraged to exhibit my works. To my dismay, the pseudo art culture only accepted renowned artists with credible history or fne art schooling. Struggling to fnd galleries I managed to open my own space in retaliation, allowing only frst time or new artists to showcase at my gallery, soon Emblem became a national rage.
Over the next 2 years, I went on to showcase often at my own studio/ gallery and won national accolades for my works and soon began exhibit- ing world wide. Now I am a graphic designer, artist, photographer and fashion designer. I accept the challenges so that I can feel the exhilaration of victory.

No Idling : Andrew Warner

ANDREW WARNER
image

Sometime in my early 20s I was standing outside a networking event at the Puck Building in New York and wrestling with my insecurities.

“Just go across the street and meet people,” I thought to myself. “Everyone in there is running an internet company like you. You have a lot in common with them. It’ll be easy to start conversations. Do it!”

But, the other side of me thought, “you don’t know anyone in there. And they all know each other. You’ll end up standing around quietly while everyone else is having fun.”
Eventually, someone might even say, “That’s Andrew? The guy who runs Bradford & Reed? I didn’t realize he was such a dork. Ha. His company almost had me fooled. I thought it was impressive. Turns out it’s another nothing operation, run by a nothing guy.”

My insecurities won that day. I didn’t go in.

Can you imagine how much of a failure I felt that day as I went home?
I started a company because I wanted to build something huge; mean- while I couldn’t do a little thing like go to a party. Any fve-year-old can go to a party, but I couldn’t.
Years later that day still stung. Badly.

My friends don’t know it, but one of the reasons I moved to LA was to give myself room to learn to break out of experiences like that. I wanted to live in a new city where I could practice meeting people every day, and not stop until I got comfortable being myself.

The frst thing I did was commit to a schedule of going out 6 nights a week, no matter what. And when I went out, my personal rule was that I had to talk to at least 5 strangers.

I screwed up a lot at frst.

I remember one time walking to a group of people at a party and saying, “How do you know Deb?”

One of them said, “We’re friends of her roommate, Steve.” And he then went back to talking to the group. He didn’t include me in the conversa- tion and I didn’t know what to do next, so I just stood there awkwardly as they all talked to each other.

I felt like a fool. But I committed to talking to more people that night and to going out the next night and the next night and the next.

Eventually I learned a few tactics that helped me get by. Like, don’t inter- rupt a group of people who are deep in conversation just to make small talk.

But there was something bigger that changed more subtly: I just learned to be more comfortable. Doing it every day, even on days I didn’t feel like it, helped me become a natural at meeting people.

A couple of years after I moved to LA, I even hosted my own networking event. The night before the party, I became almost as nervous as I was on the day I stood weakly outside the Puck Building. But when I got to the event, I eased up. All my practice made me feel more comfortable.

I was in a room full of people and I could talk to every one of them. It felt great.

I thought about that recently when I started doing video interviews with my heroes on Mixergy, my web site. The frst time Seth Godin came on, I said to myself, “You’re not a reporter. You’re an entrepreneur. You didn’t know the right questions to ask. The guy wrote about a dozen books. You didn’t read them all. You’re not prepared. You’re going to embarrass yourself and all of his fans will know you’re a dumb entrepreneur who got lucky in business.”

It’s true. I was pretty bad when I started. Very bad, actually. But I commit- ted to doing the work every day. Many people wondered why I insisted on posting a new interview every day, since it’s more than most of my audience can keep up with.

It’s because I learned that showing up every day and putting in the work can turn my life around. Haven’t you seen that in your life too?

No Idling : Mark Silver

MARK SILVER
image

Don’t Look Left or Right

Today, this is due, and I have a head cold. I spent the entire morning tak- ing one of my sons to the doctor with the croup. It’s early afternoon, I’m exhausted, I’m worn thin. Do I ship or do I rest?

When the guidance isn’t clear, I don’t follow it. So I stop. I take refuge in my heart, accessing compassion and love for myself in this. What’s true here?

Our culture has two forces aiding the devil of resistance. On one side is escapist fantasy, seducing us with all kinds of ways to numb out and avoid our true work. On the other side is the workaholic treadmill, push- ing us on to produce ever-more ever-faster. By judiciously using frst one, then the other, the devil can tie us in knots, trap us in useless busy work, and exhaust us.

Rather than slugging it out with Resistance, I take some minutes to rest into my heart, to take refuge in compassion and love. I can feel the anxi- ety ebb away. I can feel the truth of my situation arise. I can taste com- passion in my heart for how I’m feeling.
In order to get the work done I don’t have a battle to fght. Yet, I do have a struggle. To the left is heedless unconsciousness, lost in the world of fantasy. To the right, busy work, overwork, exhaustion, illness, but with nothing to show for it.

I struggle every day to choose the middle way and rest into the strength and love that carries me through the work that is to be done, and that sets aside the work that doesn’t need to be done, at least not now.

Don’t look left or right. Choose love. Do the work.