Posted on

Drama Jadul Favoritku : Giok di Tengah Salju

Giok di Tengah Salju
Pengarang  : Chiung Yao
Penerjemah : Pangesti A Bernadus, Nita Madona Sulanti, Indrawati Tanoto, Pangestuti Bintoro
Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua Juli 1997

Kembali aku mengulas drama kesukaanku pada masa kecil. Kali ini adalah drama Tiongkok yang pernah ditayangkan di RCTI pada saat aku kelas 4 SD (1996) setiap Senin-Jumat pukul 2 siang. Seperti yang telah kutulis di atas, drama ini diangkat dari novel karya penulis besar Chiung Yao. Rasanya bila menyaksikan drama-drama besar karya Chiung Yao selalu menguras air mata karena kisahnya yang terlalu sedih. Atau karena aku yang terlalu perasa ya? Tapi memang kebanyakan begitu kok, buktinya serial Putri Huan Zhu yang juga karya besar Chiung Yao lainnya, juga sempat bikin aku termehek-mehek menontonnya. Ups 😀

Kalau pembaca penasaran dengan sinopsis ceritanya, simak ya…

image

Meski tumbuh besar bersama, Hsueke (baca: Si Khe) dan Ku Yameng hidup dalam dunia berbeda. Hsueke putri keluarga Dinasti Manchu dari Kepangeranan Wang, sementara Yameng putra ibu pengasuhnya, Bibi Chao. Tapi mereka saling jatuh cinta, dan tak direstui karena status yang berbeda terlebih karena Hsueke telah dijodohkan dengan putra keluarga bangsawan Luo. Xueke dan Yameng nekad kawin lari. Pangeran Wang (ayah Xueke) menemukan dan menangkap mereka. Padahal pernikahan yang tak direstui itu sudah membuahkan janin. Pangeran Wang shock. Dia ingin membunuh Yameng, tapi Bibi Chao dan Hsueke melindunginya dengan tubuh mereka dan berlutut di hadapan Pangeran Wang agar bersedia mengampuni Yameng. Melihat Hsueke nekad, Nyonya besar Wang yang sangat mencintai putrinya, membujuk suaminya, karena tanpa Hsueke, dia juga akan mati. Pangeran Wang melunak. Dia membiarkan Hsueke melahirkan anaknya karena menolak mengugurkan dan mengancam bunuh diri. Dia juga membiarkan Bibi Chao hidup, tapi diusir dari Beijing. Sementara Yameng diasingkan menjadi pekerja tambang di Shinchiang. Imbalannya, setelah melahirkan, Hsueke harus tetap menikah dengan putra keluarga Luo. Berkat bujukan Ku Yameng yang memintanya bertahan hidup meski menderita dengan harapan bisa bertemu lagi, Hsueke pun menyetujui syarat ini.

image

Setahun kemudian, Hsueke melahirkan. Dia hanya sempat sekali melihat bayinya, dan tidak tahu jenis kelaminnya. Nyonya Besar Wang membawa bayi itu pergi. Tapi Hsueke memohon agar bayinya tidak dibunuh, karena itu yang diinginkan ayahnya (Yameng). Nyonya Besar Wang memberikan bayi itu kepada Bibi Chao dan menyuruhnya mencari Yameng dan hidup bersama. Dia memberi uang sebagai bekal mereka. Kemudian Hsueke menikah dengan Luo Chikang (baca: Luo Cekang) dari keluarga pejabat Luo. Demi memelihara kesetiaannya kepada Ku Yameng, saat malam pengantin, Hsueke berterusterang kepada Chikang, dia bukan gadis lagi karena sudah pernah menikah. Chikang sangat marah dan mengadukan pada orangtuanya. Dia ingin bercerai. Tapi Nyonya Besar Luo mengatakan bercerai berarti menuruti keinginan Hsueke. Dia ingin Hsueke tetap menjadi menantu keluarga Luo untuk menyiksanya dalam penderitaan. Dia juga menghukum Hsueke dengan menyuruh Xueke untuk memotong jari kelingkingnya sendiri. Pangeran dan Nyonya Besar Wang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Hsueke.

Delapan tahun berlalu, zaman berubah, pemerintahan berganti. Kekaisaran Manchu runtuh, berganti menjadi republik. Tuan besar Luo tak lagi menjadi pejabat dan meninggal dunia. Nyonya Besar Luo membawa keluarganya pindah ke Chengte, termasuk Hsueke. Di kota ini Chikang menjalankan bisnis dan bersahabat dengan seorang jenderal yang berkuasa. Dia juga telah menikah lagi dengan Ciashan yang memberinya seorang putra bernama Yulin. Saat itulah Bibi Chao yang tidak berhasil menemukan Yameng datang ke Chengte bersama cucunya, Hsiao Yutien. Dia miskin dan sakit-sakitan. Mengira neneknya memerlukan uang untuk berobat, Hsiao Yutien bersedia dijual ke keluarga Luo sebagai pelayan. Bibi Chao bermaksud menemui Hsueke yang sudah menjadi Nyonya Muda Luo untuk mengatakan siapa sebenarnya Hsiao Yutien. Tapi Bibi Chao keburu meninggal. Pelayan penginapan menguburnya, dan Hsiao Yutien hanya sempat menziarahi makamnya dengan sedih. Pertama melihat Hsio Yutien, hati Hsueke sudah tergetar. Dia selalu tergerak untuk melindungi dan membela pelayan kecil ini bila mendapat kesulitan.

Sementara itu di kediaman Pangeran Wang, seorang tamu bernama Kao Han datang berkunjung. Ternyata dia Yameng yang sudah diangkat anak oleh pengusaha dari Fuchien bermarga Kao dan mengganti namanya menjadi Kao Han. Melihat kehadirannya, Pangeran Wang marah, tapi Ahte, pembantu setia, selalu melindungi Kao Han. Dari Nyonya Besar Wang, Kao Han mengetahui anaknya perempuan dan diberikan kepada ibunya supaya mereka bisa mencarinya. Tapi mereka tidak bertemu. Nyonya besar menyuruhnya mencari mereka, dan tidak mengganggu Hsueke yang sudah menjadi menantu keluarga Luo di Chengte. Kao Han justru ingin menemui Hsueke karena menduga ibunya akan menghubungi Hsueke. Ketika melihat Hsueke, dia tahu Hsueke tidak bahagia. Apalagi, Feichui, pelayan setia, Hsueke berhasil menemuinya dan bercerita banyak tentang penderitaan junjungannya. Ketika bertemu Kao Han, Hsueke menyuruhnya mencari Bibi Chao dan anak mereka.

Kediaman Luo geger karena Hsio Yutien hilang. Sebelumnya dia sudah minta izin mengunjungi makam neneknya karena neneknya berulang tahun. Mendengar hal ini, Hsueke terkejut karena Bibi Chao juga berulang tahun. Dia menawarkan diri ikut mencari ke makam. Dari nisannya, dia mengetahui siapa nama nenek Hsiao Yutien. Setelah bertanya beberapa hal dia yakin Hsiao Yutien adalah anaknya dengan Ku Yameng. Untungnya, Yameng belum berangkat mencari ibu dan anaknya. Dia kaget mendengar dari Hsueke, Bibi Chao membawa anak mereka bertemu dengannya sebagai pelayan. Keduanya senang sekaligus sedih. Sibuk memikirkan cara untuk mengeluarkan Hsiao Yutien dari kediaman keluarga Luo. Padahal Chikang sudah mulai merasa curiga melihat sikap Hsueke yang mencurigakan. Kao Han bermaksud menemui Chikang untuk bicara dan meminta istri dan anaknya, karena dia sendiri sudah menikah lagi dan mempunyai anak juga. Tapi Hsueke yang sangat mengerti tabiat Chikang mencegahnya. Yameng meminta bantuan Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Mereka berangkat ke Chengte. Ketika membahas masalah perceraian, Chikang menolak mentah-mentah. Atas saran Ciashan, dia mengakui mencintai Hsueke, dan ingin mengubah perlakuannya selama ini. Pangeran dan Nyonya Besar Wang termasuk Hsueke terkejut mendengar pengakuan ini. Mereka bermaksud memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan Hsiao Yutien untuk dibawa Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Perhatian mereka kepada pelayan kecil ini membuat Nyonya Besar Luo curiga, dan dia langsung bisa membongkar identias Hsiao Yutien dan membuat Chikang marah besar. Keadaan semakin rumit ketika Pangeran Wang dan Yameng memutuskan menggunakan kekerasan. Yameng datang dan berterus terang dia adalah suami pertama Hsueke dan ayah Hsiao Yutien. Mereka menculik Chikang untuk ditukar dengan Hsueke dan Hsiao Yutien. Hsueke merasa serba salah ketika harus memilih memenuhi janjinya kepada Chikang ataukah berkumpul kembali dengan keluarganya, karena setelah dia berada diambang kematian baru Chikang merelakan untuk melepaskannya. Kisah ini berakhir happy ending, Xueke dapat menikah lagi dengan Yameng disaksikan kedua orang tua Xueke dan anak mereka Hsiao Yutien, meski Xueke dalam keadaan sakit.

Wah, adegan yang sangat dramatis ya (namanya juga drama 😀 ). Kisahnya yang sedih akan semakin kentara dipadu closing soundtrack drama tersebut. Ini dia liriknya, tapi maaf pemirsa saya sedikit lupa. Bila pembaca ada yang hapal lagu ini, tolong koreksi kalau ada bagian yang salah ya. Terima kasih  🙂

Giok Di Tengah Salju

Awan-awan melayang di langit
Pohon-pohon willow melambai
Awan merah di tengah lembah
bagaikan burung menuju sarangnya
Ibu dan ayah berada dalam mimpiku,
mengapa tak terlihat nyata
Burung-burung di tengah lembah,
mengapa terbang jauh ke sana..
Menempuh perjalanan jauh…

Nah, silakan download juga opening soundtracknya (Mandarin version)  di sini ! 😉

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

25 responses to “Drama Jadul Favoritku : Giok di Tengah Salju

  1. omnduut

    Lupa-lupa ingat, kayaknya dulu aku pernah nonton. Hmmm

  2. Felicity ⋅

    Wah, ini jaman saya kuliah dulu…tapi ngga sempat nonton kayaknya 🙂 Makasih buat sinopsisnya, kayaknya sedih filmnya. Yang saya inget sampai sekarang itu cerita Yoko si Pendekar Rajawali 😀

    • Sugih

      Wakk… zaman kuliah Mbak? 0_0″
      Waktu itu saya masih SD. Umur Mbak Feli berapa sih? Saya manggil Tante aja deh kalo gitu. Tante, saya mau sungkem… *pasang muka manis biar dapet permen*

      Sama-sama Mbak (eh, Tante), terima kasih sudah mau baca postingan saya. Nonton serial ini bawaannya memang mau nangis mulu, gak tega lihat Xueke memotong jari kelingkingnya sendiri.

      • Felicity ⋅

        Loh, saya kira dirimu lebih tua…ternyata ngga ya…. Apa sayanya aja yang berasa muda terus haha….umur kan masalah angka, yang penting jiwa selalu merasa muda 🙂 Iya, btw kamu suka nonton drama Korea Winter Sonata ngga? duh kalau nonton ini saya musti siap2x tissue deh….apalagi lagu intronya mendayu2x sedih banget….

      • Sugih

        Benar sekali Mbak, umur boleh tua tapi jiwa selalu muda. Saya kagum sama Mbak Feli masih enerjik seperti remaja belasan tahun. Apa sih resepnya biar kaya Mbak? Bukan gigit sandal jepit kan Mbak? 😀

        Wah drama Winter Sonata suka banget Mbak. Bae Young Joon kan idola saya waktu SMA. Apalagi pas dia maen di Hotelier lawan mainnya Song Hye Kyo dan Chae Rim, mereka idola saya satu paket. Hehehe…

        Nonton Winter Sonata memang bikin termehek-mehek. Tapi ada satu hal yang bikin saya tergelitik, para pemainnya waktu itu sudah berumur lebih dari 28 tahun tapi di awal episode mereka jadi remaja SMA. Sutradaranya ada-ada aja. Padahal kenapa nggak pakai bintang-bintang remaja aja ya…

      • Felicity ⋅

        Hehe, saya sebetulnya heran karena sering dikira 10 tahun lebih muda sama temen2x di Indonesia juga. Mungkin karena ngga pernah ambil pusing masalah usia kali ya… kalau ditanya umurnya berapa pasti saya mikir dulu, karena memang ngga pernah dipikir2x 😀 Hidup ya dijalani dan dibawa asik aja, karena cuma sekali ya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, do your best and God will do the rest… 🙂 Mangkanya saya ikut mendoakan supaya kamu bias meraih beasiswa ke LN yang diimpi2xkan… yakin 1000% deh you will be a different person afterward….

      • Sugih

        Waaaah, terima kasih banyak Mbak sudah didoakan terus supaya saya bisa cepat ke luar negeri. Amin. Amin. Amin.

        Saya juga kadang paling males jawab klo ditanya orang masalah umur. Takut dibilang gak sesuai tampanglah, salah postinglah klo ngeblog. Soalnya mukaku ini tampang tua. Padahal jiwaku kan masih muda 😥

  3. wah, pernah nonton iki aku, yang endinya kala kondang nikah sama mak lampir yak.

  4. Inayah ⋅

    Inayah suka drama ini waktu kecil ditayangin di SCTV. Termehek-mehek nangis bombay nontonnya bareng tetangga.

  5. olly ⋅

    Dimana bisa dapatkan kaset dvd. Filmya?? Mau nonton lagi ni..

  6. Ahmad Riyadi Wijaya ⋅

    Ini film zaman gw SMA setiap pulang sekolah pasti nonton film ini, nyari soundtrack versi indonesia di youtube susah beudd, eh kalo gak salah di SCTV Deh neh film diputer 🙂

    • Sugih

      Tayang perdana di Indonesia di RCTI dulu. Kemudian siaran ulang di SCTV. Soundtrack yg versi China bisa didownload di 4shared. Klik aja di mesin pencariannya ‘Soundtrack Giok di Tengah Salju’. Selamat mencari, semoga dapat^^

  7. Ahmad Riyadi Wijaya ⋅

    Iya kalo versi cina banyak, cuma versi Indonesia jauh lebih enak di denger hehehee, yang nyanyi kan anak kecil ya? Sebenernya saya cari soundtrack nya film ini tapi malah ketemu WordPress ini heheheheee penasaran yaudah sekalian deh saya baca serius trus komen deh, terimakasih mas sugih

  8. finna ⋅

    aku pernah nonton xue ke sedih banget dramatis banget ya..aq masi sd waktu itu btw pemeran shio itian nama aslinya siapa ya

  9. Tennie January ⋅

    Waahh kenangan jaman SD kelas 6 niihh.. terharu bgt… lagu clossingnya dlu hafal bgt selalu di nyanyiin di kamar mandi heheheh maklum dlu masih botjah 😊 salam kenal mas

    • Sugih

      Hallo Kakak, salam kenal juga. Wah dulu waktu nonton film ini saya masih kelas 4 SD. Saya dan teman2 sering mendiskusikan cerita film ini dan nyanyi bareng lagu-lagunya di sekolah pas jam istirahat. Terus setelah nyanyi, kami sering terdiam merenung dan tiba2 menangis karena teringat lirik lagunya begitu sedih. Hehe…
      Terima kasih atas kunjungannya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s