Posted on

Beda Kalimantan Dulu dengan Kalimantan Sekarang

image

image

[color=red]Apakah Anda pernah berkunjung ke Kalimantan? Tahun berapa terakhir kali Anda ke sana? Perkembangan apa yang terakhir Anda lihat? [/color]

Sebagai penduduk migran dari Tanah Pajajaran yang telah menetap di Kalimantan selama sepuluh tahun, banyak sekali perubahan dan perkembangan yang telah kusaksikan selama ini. Semua berjalan secara perlahan namun pasti. Mengubah image Kalimantan yang dulu dikenal orang sebagai ‘tanah pedalaman’ menjadi negeri berkembang yang sedang membangun. Kalimantan ibarat macan yang baru saja terbangun dari tidurnya dan sedang memamerkan taringnya kepada siapa saja yang telah mengganggunya. Berikut adalah hasil pengamatanku mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di bumi Kalimantan Tengah areal Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Sukamara.

Ketika pertama kali aku datang 10 tahun lalu, Kalimantan itu…

image

1. Hanya jalan di perkotaan yang tertutup aspal. Sementara jalan di desa masih tanah kuning yang lengketnya minta ampun bila musim penghujan tiba. Ditambah lagi banyak truk terguling pada musim hujan di pedesaan dan menjadi tontonan biasa bagi warga kampung.
2. Sarana transportasi sungai seperti speedboat (perahu cepat) dan kelotok masih sangat vital.
3. Hutan masih terjaga, banyak pepohonan tinggi dengan batang berdiameter gelondong amat besar.
4. Banyak satwa langka berkeliaran di sepanjang sungai dan tepian hutan, semisal burung enggang/tingang yang terbang mengudara dengan ketinggian rendah. Kera bekantan dan orangutan bergelantungan melompat-lompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Rusa yang minum air di tepi danau, dsb.
5. Banyak sekali buah langka yang sulit ditemukan di luar Kalimantan seperti buah kapul, pakel, mentawa, ramania, dll.
6. Banyak sumber mata air yang bermunculan pada musim hujan, airnya jernih, dan tidak berbau.
7. Belum ada listrik PLN masuk desa. Bila malam tiba semua warga desa berlomba-lomba menyalakan generator/diesel. Bagi yang tidak mempunyai generator cukup menyalakan lampu teplok saja di dinding rumah mereka. Lalu pergi menumpang nonton tv di rumah tetangga yang menyalakan generator.
8. Bila hendak berbelanja menanti pedagang keliling lewat. Tukang geblugan, tukang sayur, tukang ikan, tukang buah, tukang bakso, tukang jamu, semua berjualan mengendarai motor.
9. Transportasi darat yang banyak digunakan masih berupa motor dan truk.

image

10. Tanaman sawit belum terlalu tinggi, hasil panen belum begitu besar. Udara sangat panas karena kurangnya pepohonan akibat semua lahan disulap menjadi perkebunan kelapa sawit.
11. Banyak ular sawa seukuran paha melalap ternak warga.
12. Belum banyak pendatang yang ingin tinggal menetap. Penduduk masih sangat sepi. Terutama saat lebaran penduduk semakin berkurang karena banyak yang pergi mudik.
13. Banyak terdapat rawa berair jernih, dan dapat dinikmati sebagai sarana rekreasi berenang. Namun di dalam rawa sering didapati tunggul-tunggul kayu bekas penebangan hutan.
14. Bukit-bukit selalu dipenuhi ilalang bermalai indah pada musim tertentu.
15. Rawan kabut asap akibat kebakaran hutan yang sengaja dilakukan warga saat membuka lahan.
16. Sarana komunikasi masih mengandalkan wartel. Belum adanya tiang tower operator telepon seluler.
17. Uang receh pecahan Rp500,00 hanya laku di kantin sekolah dasar. Sedangkan uang Rp100,00 maupun Rp200,00 sudah tidak dipandang sebagai uang.
18. Setiap rumah memiliki sumur galian untuk mengambil air bersih. Bila kemarau tiba, hanya sumur tertentu yang airnya melimpah. Lantas banyak warga yang saling berebut sumur.
19. Pertengahan bulan saat malam terang purnama, cahaya bulan begitu terang laksana neon menerangi bumi yang gelap. Bulan pun terlihat sangat besar bagaikan bola lampu raksasa.
20. Perumahan penduduk masih terbuat dari kayu. Terutama masyarakat Suku Melayu banyak mendirikan rumah dari kayu ulin (kayu besi) yang sangat awet puluhan bahkan ratusan tahun namun sangat mahal nilai harganya.
21. Masyarakat lebih memilih kapal laut dengan alasan ekonomis bila akan bepergian ke luar Kalimantan.
22. Banyak jalan tikus atau jalan setapak yang menghubungkan antardesa sebagai jalan pintas alternatif.

Tapi sekarang semua berubah. Sebagian disebabkan oleh ulah manusia yang sengaja mengubah bentuk muka bumi tanpa ditinjau baik-buruk akibatnya.

1. Jalan aspal telah merambah hingga ke pedesaan. Bahkan hingga ke sudut kampung yang terpencil sekalipun.
2. Jalan darat telah banyak dirintis. Jembatan telah banyak dibuat. Sungai mulai ditinggalkan. Speedboat dan kelotok telah dilupakan. Para supirnya turut banting setir beralih menjadi supir travel.
3. Hutan tak lagi dihiasi pepohonan tinggi. Banyak hutan gundul kehilangan permata hati mereka. Meranti dan ulin banyak diincar manusia.
4. Satwa langka tinggallah nama. Banyak di antara mereka kehilangan habitat dan tempat tinggal, populasinya kian hari kian berkurang akibat diburu manusia.
5. Buah langka jarang sekali berbuah. Setahun sekali pun belum tentu berbunga. Apa penyebabnya? Air di dalam tanah banyak diserap oleh tanaman sawit, sehingga tanaman lainnya tidak mendapat bagian.
6. Tanah mulai tertutup beton. Di mana mata air dapat muncul?
7. PLN sudah masuk ke desa. Hanya saja waktunya terbatas antara pukul 5 sore hingga pukul 5 pagi. Setiap rumah sudah memiliki tv sendiri, tidak ada warga yang menumpang nonton di rumah tetangga lagi.
8. Toko-toko megah bagaikan swalayan semakin menjamur. Orang tinggal pilih mau berbelanja di toko mana. Persaingan antar pengusaha pun kian meluas, masing-masing berusaha membuka cabang sebanyak mungkin.
9. Travel mulai merajalela sejak jalur transportasi darat dibuka dan diresmikan pemerintah.
10. Udara agak sejuk, sawit sudah tinggi. Hasil panen pun melimpah ruah. Rakyat hidup makmur berkecukupan.
11. Lebih banyak ular kobra di perkebunan sawit. Ular sawa berkurang dengan sendirinya.
12. Banyak sekali pendatang yang berkeinginan tinggal menetap guna mengais rizki. Arus mobilisasi penduduk dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, NTB, dan NTT meningkat. 13. Rawa-rawa telah terkontaminasi oleh limbah pabrik. Terkadang di musim kemarau dituba orang untuk diambil ikannya.
14. Ilalang sudah jarang ditemukan karena setiap jengkal tanah sekarang dimanfaatkan warga sebaik-baiknya untuk lahan pemukiman maupun perkebunan sawit.
15. Kabut asap sudah tidak serutin dulu terjadi. Kesadaran manusia akan pentingnya hutan mulai meningkat walaupun banyak hutan saat ini sangat gundul.
16. Telepon seluler, laptop, dan portable computer (tablet) telah mewabah pada berbagai umur di semua lapisan masyarakat. Tiang-tiang tower berdiri kokoh, konter-konter penjual ponsel dan pulsa semakin menjamur. Akses informasi dan komunikasi semakin cepat.
17. Uang pecahan Rp500,00 turut tenggelam tak laku di mata masyarakat. Uang Rp1000,00 merupakan uang dengan nilai terkecil yang diakui masyarakat.
18. Setiap rumah sudah beralih menggunakan pompa air sehingga tidak perlu repot lagi menimba.
19. Bulan purnama terlihat semakin kecil dan menjauh dari bumi. Entah apa korelasi penyebabnya.
20. Rumah penduduk disulap menjadi rumah beton sehubungan langkanya kayu ulin di hutan. Sementara material pasir mudah didapat.
21. Pesawat terbang menjadi pilihan utama karena harga tiketnya tidak seberapa jauh dengan harga tiket kapal laut. Ditambah lagi pesawat jauh lebih cepat daripada kapal laut.
22. Jalan tikus telah diperlebar, dilaterit, dan diaspal. Sehingga banyak dilalui orang sebagai jalan protokol antardesa.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

4 responses to “Beda Kalimantan Dulu dengan Kalimantan Sekarang

  1. Felicity ⋅

    Wow, lengkap perbandingannya…Terima kasih ya. Saya juga penasaran dengan bulan purnama itu…kenapa bisa beda. Di sini kalau bulan purnama bulan terasa dekat dan besar sekali, apalagi kalau ada fenomena super moon. Waktu ke Kalteng tahun lalu dan masuk ke perkebunan sawit kami tidak tahu kalau banyak ular cobra di sana, setelah tahu langsung semua loncat balik ke mobil…hihi…

    • Wow, pasti indah sekali pemandangan supermoon dari Norway ya Mbak. Saya kurang tahu mengapa bulan purnama sekarang di Kalimantan tidak tampak besar, dekat dan terang seperti dulu. Fenomena yang ada malah cahaya bulan terlihat berwarna jingga keemasan.

      Terkadang memang ada segelintir orang yang sengaja menyebarkan ular-ular kobra di perkebunan sawit, dengan tujuan untuk membasmi hama. Sering lho dalam perjalanan tanpa sengaja saya melindas ular yang kebetulan melintas di depan saya. Penduduk setempat mempunyai kepercayaan, bila bertemu ular di jalan maka harus berputar arah ke tempat semula supaya kita terhindar dari malapetaka.

      Terima kasih kembali Mbak Feli atas kunjungan baliknya 🙂

  2. Beny ⋅

    Ya Kalimantan sekarang sudah banyak berubah. Tapi tetap saja jalan dari P’Bun ke PaRay masih buruk dan sempit. Semoga cepat diperbaiki dan ditingkatkan lagi pembangunannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s