Posted on

Sulitnya Menjadi Guru

image

Hari ini semua guru di Indonesia sedang memperingati hari istimewa mereka: Hari Persatuan Guru Republik Indonesia. Tidak terkecuali saya. Sebagai seorang guru yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun (sok tua ya saya), saya turut memperingati perayaan tersebut secara pribadi. Lho kok? Mungkin para guru di kecamatan tempat tinggal saya, lupa kalau hari ini merupakan hari istimewa bagi mereka. Entah mengapa perayaan yang biasanya diperingati dengan upacara di depan kantor kecamatan, hari ini tidak diselenggarakan. Tidak ada acara makan bersama seperti yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hari ini seolah sama seperti hari-hari biasa. Oleh karena itu saya merayakannya secara pribadi di blog saya ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, karakteristik guru pada zaman sekarang jauh berbeda dengan karakteristik guru zaman dahulu. Untuk menjadi guru teladan yang sejatinya patut digugu dan ditiru oleh para muridnya, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Tidak hanya faktor eksternal, faktor internal guru itu sendiri pun turut mempengaruhi. Sejak saya kembali mengajar di sekolah yang sempat saya tinggalkan dua tahun lalu, saya menemukan semakin banyak alasan bagi para guru untuk maju. Para guru mengeluh peraturan-peraturan pemerintah yang begitu banyak diberikan kepada para guru pada masa ini semakin mempersulit kinerja guru dalam menjalankan roda pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa. Sertifikasi, Uji Kompetensi Guru, PUPNS, dan lain sebagainya terkesan sangat memberatkan beban para guru yang seharusnya bertugas mengajar. Terutama para guru yang tinggal di daerah pelosok. Sarana prasarana yang terdapat di daerah maupun sekolah-sekolah di daerah masih terbilang sangat minim. Oleh karena itu kendala yang dihadapi para guru dalam memajukan pendidikan bangsa ini terbilang sangat sulit. Padahal seharusnya para guru tidak menjadikan hal tersebut sebagai halangan untuk maju. Justru sebaliknya, dengan adanya keterbatasan keadaan, para guru menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk menjadi guru yang jauh lebih baik.

Saya akui menjadi guru yang baik pada masa ini memang relatif sulit. Sebagai guru yang mengajar di jenjang SMA, saya sering menemukan kendala dalam menanamkan kedisiplinan dan solidaritas kepada murid-murid saya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya karakter guru tentu berbeda-beda. Ada guru yang kerap menceramahi murid-muridnya tentang budi pekerti, tata krama, dan sopan-santun. Namun ada pula segelintir lainnya yang bersikap acuh tak acuh. Biasanya guru yang termasuk pada kelompok terakhir ini hanya menganggap ‘yang penting saya sudah mengajar’. Mereka tidak menghiraukan peserta didik mereka akan bersikap apa dan bagaimana baik di dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyrakat. Saya sangat prihatin setiap bertemu dengan guru tipe terakhir ini. Tidakkah mereka berpikir bahwa ujung tombak dunia pendidikan adalah guru? Guru sering menjadi tumpuan kesalahan setiap kali siswa mengalami suatu masalah. Sebagai contoh misalnya: saat seorang siswa mengalami kekalahan dalam suatu perlombaan, masyarakat kerap bertanya “siapa gurunya?” Sebaliknya saat seorang siswa meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, biasanya masyarakat akan bertanya “Wah, siapa orang tuanya?” Miris memang…

Guru pada masa ini harus berpacu dengan teknologi. Karakteristik pelajar zaman sekarang dominan tertarik dengan perkembangan zaman. Tidak hanya televisi atau mainan yang mereka miliki di rumah. Telepon genggam yang mereka pakai merupakan kendala terbesar yang harus dihadapi oleh para guru. Karena telepon genggam saat ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap para pelajar dalam bersikap dan bertindak. Banyak sekali fitur yang disajikan di dalam sebuah telepon genggam, mulai dari aplikasi permainan, internet, kamera, pemutar music dan video, dan berbagai macam aplikasi lainnya yang menawarkan kecanggihan teknologi. Penggunaan telepon genggam tanpa batas menyebabkan para pelajar menjadi malas, dan kurang berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka tidak hanya menjadi malas mengerjakan tugas-tugas di rumah, ataupun ibadah, tetapi juga malas mengerjakan tugas sekolah. Mereka bahkan mulai tidak memahami apa makna solidaritas dalam lingkungan pergaulannya.

Pernah suatu ketika seorang murid perwalian saya mengalami suatu penyakit dan menyebabkannya harus menjalani operasi. Selang beberapa hari kemudian orang tua murid tersebut menghubungi saya via telepon mengharap kunjungan dari teman-teman anaknya. Tentu ini merupakan kewajiban bagi saya untuk menyampaikan kepada teman-teman sekelasnya. Bukan sambutan hangat yang saya terima, murid-murid perwalian saya berkata, “Kami capek, Pak! Nanti sore ada acara,” “Kita tengoknya nanti saja Pak, pada hari ulang tahunnya dia!”, “Aduh, saya mau kemah nih. Jadi nggak bisa jenguk!”, “Wah, saya nggak bisa ninggalin COC, Pak! Nanti kampung yang sudah saya bangun diserang musuh!”, “Jenguknya pake Instagram aja ya, Pak! Kita suruh dia upload fotonya waktu dioperasi!”, “Saya sudah kirim SMS sama dia, Pak. Supaya dia cepat sembuh.”

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala tatkala mendengar tanggapan murid-murid perwalian saya. Saya tidak mengharap satu kelas untuk datang menjenguk teman mereka yang sakit itu. Setidaknya ada perwakilan dari mereka yang bersedia memenuhi permintaan dari anak yang sakit. Tidak terkecuali saya. Anak yang sakit itu pada dasarnya ingin dihibur dan dimotivasi oleh teman-temannya agar ia lekas sembuh. Apa boleh buat, ini mungkin tantangan untuk saya menumbuhkan rasa solidaritas murid-murid saya agar mereka dapat berkembang sebagai jiwa yang selalu peduli terhadap sesama. Masalah seperti ini mungkin tidak dialami oleh saya sendiri. Di pelosok daerah lainnya mungkin masalahnya jauh lebih beragam. Belum termasuk kenakalan pelajar seperti tawuran, penggunaan narkoba, dan free sex yang kian merebak karena pengaruh penggunaan internet yang melampaui batas. Tentu semua permasalahan ini belum terselesaikan. Dan ini masih menjadi PR bagi para guru di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada rekan-rekan seprofesi di manapun Anda berada, mari kita tingkatkan semangat, dedikasi, dan kinerja kita untuk mencetak generasi muda yang jauh lebih baik lagi. Selamat hari guru 2015.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

22 responses to “Sulitnya Menjadi Guru

  1. shiq4

    Bapak ngajar di kota besar ya? Masa nggak ada murid yang mau menjenguk temannya yang sakit?

    Sampai segitunya ya anak-anak jaman sekarang?

    • Sugih

      Halo, terima kasih atas kunjungannya. Saya mengajar di pelosok. Di sebuah kecamatan kecil daerah Kalimantan Tengah. Apa yang saya ceritakan ini adalah fakta yang saya alami di sekolah tempat saya mengajar.

      Saya sangat heran melihat perilaku murid-murid saya, begitu besar pengaruh sebuah telepon genggam terhadap mereka. Sampai menjenguk teman sakit pun enggan melakukannya. Dan bagi mereka cukup berkirim pesan via SMS atau berkirim foto melalui media sosial. Sangat memprihatinkan bukan?

      • shiq4

        Kalau menurut saya sudah keterlaluan pak. Kwa ha ha anak-anak jaman sekarang kok gitu ya?

      • Sugih

        Sulit Mbak. Perilaku anak2 di pelosok cenderung meniru gaya anak muda dalam sinetron2 yg mereka tonton. Terlebih akses hiburan televisi di sini tidak ada batasnya, karena menggunakan parabola.

  2. Gara ⋅

    Entah apa yang akan terjadi kalau seorang guru yang “membentuk” manusia menganggap proses mengajar yang sakral itu hanya sebagai formalitas, oh mau dibawa ke mana bangsa ini? Entah apa pula yang akan datang, ketika guru yang betul berdedikasi (seperti dirimu), malah tidak mendapat apresiasi dan justru harus menunggu dalam ketidakpastian untuk waktu yang lama. Mau dibawa ke mana pendidikan negeri ini?

    Sedih sih dengan cerita jenguk-menjenguk itu. Kayaknya gawai sudah membuat rasa solidaritas kita mati…

    • Sugih

      Iya Mas, sangat memprihatinkan. Terkadang ada rekan saya yang berkata seperti ini: “Untuk apa mengajari siswa tata krama dan sopan santun? Itu kan tugasnya guru SD! Tugas guru SMA itu hanya mengajar, tak perlulah menceramahi murid-murid tentang kesopanan dan budi pekerti! Toh mereka sudah dewasa!”

      Bagaimanapun menurut saya pribadi, etika, kesopanan, tata krama, dan budi pekerti merupakan bagian dari pendidikan. Oleh karena itu, apapun jenjang pendidikannya tetap kewajiban setiap orang guru untuk menyampaikannya kepada siswa.

      Gadget dan internet memang sudah mencecoki para pelajar dengan hal-hal negatif. Sangat sedikit sekali siswa yang dapat memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai sarana belajar. Semoga saja generasi muda itu cepat sadar atas kealpaan mereka dalam menggunakan gadget.

      • Gara ⋅

        Justru guru SMA patut mengajar tata krama karena dulu tidak begitu diindahkan saat mereka SD. Seseorang baru pantas berbicara begitu kalau pendidikan etika di SD-nya sudah lengkap dan tuntas ya :)).
        Amin, guru juga bisa banget membantu supaya mereka tidak keracunan gawai :)).

      • Sugih

        Syukurlah masih ada orang yang sependapat dengan saya. Saya juga berpikir begitu, Bli. Justru di tangan guru SMA-lah para pelajar harus diajarkan tata krama lagi. Karena pelajar SMA sudah harus dilibatkan dengan kegiatan masyarakat. Bila mereka tidak memiliki bekal tata krama dari sekolah, masyarakat akan mencap perilaku mereka dan sekolahnya buruk. Betul Bli, sudah menjadi kewajiban guru menangani siswa yg kecanduan gawai sebelum piranti2 tersebut merusak moral mereka karena penggunaannya yg tanpa arahan orang dewasa. Khususnya orang tua dan guru.

      • Gara ⋅

        Mudah-mudahan masa depan pendidikan kita bisa jadi lebih cerah ya Mas :amin.

      • Sugih

        Amiin. Semakin banyak orang berpendidikan di Indonesia, tentu harus semakin memajukan pendidikan di Indonesia.

      • Gara ⋅

        Seyogianya demikian Mas.

  3. Asnan ⋅

    Moga saya juga bisa mnjadi guru memberi inspirasi bagi murid-murid saya.
    Sebagai guru tentu selalu berharap yang terbaik untuk muridnya. Selamat hari guru.

    • Sugih

      Amiiin. Terus berjuang ya Bang Asnan. Semoga murid-muridnya di sana menjadi generasi yang cerdas, senantiasa mengamalkan ilmu yang telah Bang Asnan berikan kepada mereka.

      Selamat hari guru^^

  4. kang… gimana dengan wasap saya tadi malem? hahaa
    semoga tercapai cita2nya ke jepang, amin 🙂

    • Sugih

      Isna ada kirim whatsapp? Wah, sayangnya WA, BBM, dan LINE sedang dinonaktifkan. Karena saya sedang fokus dengan ujian. Hanya Instagram dan WordPress yg masih aktif. Karena ada akun yang saya follow terkait pencarian beasiswa. Kuliah di Jepang itu cita2 saya saat SMA, niatnya S1. Kalau S2 cita-citanya ke Finlandia. Tapi kalau usaha saya tidak memenuhi target, saya mohon sama Allah supaya dikasih yang terbaik. Terima kasih atas doanya ya, Isna 😇

      • sama2 kang ogi… (bener yah dipanggilnya gitu) hehehe..
        yups, program magang di jepang selama 1,5 tahun buat guru indonesia,
        mungkin kang ogi pernah dengar

  5. Sugih

    Ogi itu panggilan sayang dari ibu-ibu tetangga di Bogor.

    Program penataran guru sudah sering saya dengar sejak saya masih SMA. Kebetulan guru Bahasa Jepang saya waktu SMA pernah mengikuti program itu. Sayangnya itu adalah program non gelar.

  6. mamaku juga seorang guru kak dan aku pengen bgt jadi guru tp apa daya gk tw gimana caranya

    • Sugih

      Mbak Winny sudah beruntung menjadi traveller sejati. Mengapa harus menjadi guru? Menjadi guru terlalu mudah untuk Mbak Winny, tetapi sayang gaji guru relatif kecil Mbak. Terkecuali mereka yang sudah sertifikasi.

      Terima kasih atas kunjungannya, dan salam kenal ya Mbak 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s