Posted on

Orang Tua Murid Jangan Mendikte Guru

image

Suka Dukaku Menjadi Seorang Guru di Kalimantan

Tak terasa waktu terus berlalu, sepuluh tahun sudah aku bekerja menjadi seorang guru sejak lulus SMA pada 2004 silam hingga sekarang. Kadang aku merasa ini semua hanya mimpi dan aku ingin keluar dari mimpi yang sedang kulihat ini. Banyak hal yang telah terjadi, dan cukup banyak sepak terjang yang kualami dalam dunia pendidikan. Kadang juga aku merasa jenuh, ingin mencoba dunia pekerjaan lain yang ingin kugeluti. Tetapi sangat sulit bagiku untuk melepas semua ini. Dulu, saat aku masih kelas 2 SD aku memang pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi seorang guru tatkala guru wali kelasku menanyakan apa cita-citaku. Kemudian saat aku kelas 6 SD, aku pernah berubah pikiran setelah aku mengagumi sosok Arief Suditomo presenter/reporter berita Liputan 6 SCTV, aku ingin menjadi seperti dia. Duduk di depan kamera membacakan berita untuk para pemirsa di depan layar kaca, sepertinya hal yang menyenangkan karena bisa memberitahukan suatu informasi penting kepada khalayak ramai. Selain itu menjadi seorang reporter tentu mendapat banyak tantangan dari berbagai kalangan yang mungkin melarang publikasi berita melalui media. Karena itulah seorang reporter dapat dikenal luas oleh masyarakat.

Saat aku beranjak lulus SMA, aku mulai bimbang pekerjaan apa yang kelak akan kugeluti mengingat mama sebagai satu-satunya orang tua yang kumiliki tidak sanggup untuk membiayaiku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan harapanku hancur begitu aku gagal meraih beasiswa kuliah ke Jepang selepas SMA. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Kalimantan, dan tak pernah kuduga kalau aku harus tertanam di negeri ini untuk menjadi seorang guru meskipun pada saat itu aku hanya berbekal kemampuan bahasa asing yang kukuasai tanpa gelar sarjana sekalipun.

Cukup banyak sekolah yang pernah menjadi tempatku berkiprah. Sebut saja antara lain SDN Bangun Jaya, SDN Natai Kondang, SMAN 1 Balai Riam, MTs An Nur, SMP PGRI Balai Riam, hingga Sekolah Pelita Cemerlang yang sangat bergengsi di Kota Pontianak. Di antara semua sekolah itu, SDN Bangun Jaya dan SMAN 1 Balai Riam adalah sekolah yang paling lama yang pernah kutapaki. Pada Juli 2004 adalah awal aku mengajar di SDN Bangun Jaya dan berhenti pada Juni 2008 yang mana pada masa itu sekolah tersebut dikepalai oleh seorang pria kharismatis Bapak H.Abdillah yang berasal dari Banjarmasin-Kalimantan Selatan, tetapi pada saat itu beliau belum menyandang gelar haji. Pada Juli 2011 aku masuk kembali ke sekolah yang sama setelah 3 tahun hengkang dikarenakan aku ingin fokus mengabdikan diri untuk SMAN 1 Balai Riam, aku ditarik kembali ke SDN Bangun Jaya atas permintaan kepala sekolahnya yang baru, Ibu Rensi S.Pd SD, beliau dulu adalah rekan sesama guru saat aku mengajar di zaman kepemimpinan Bapak H.Abdillah dan hingga sekarang aku masih tetap mengajar di SD tersebut. Awal aku mengajar di SMAN 1 Balai Riam adalah Juli 2005, tepat setahun setelah aku mengajar di SDN Bangun Jaya. Hingga akhirnya akupun hengkang dari SMA yang sebenarnya sangat kucintai ini karena beberapa faktor eksternal maupun internal yang membuatku semakin tidak nyaman untuk terus bertahan di sekolah tersebut. Jadwalku di SMAN 1 Balai Riam sering bentrok dengan jadwal mengajar di bimbingan belajar yang kukelola sejak pertama kali aku datang ke Kalimantan. Tepat pada Juni 2013 silam aku mengundurkan diri secara baik-baik kepada keluarga besarku staf pengajar SMAN 1 Balai Riam. Maka hanya tinggal satu sekolah yang aku pegang saat ini.

Beberapa malam yang lalu aku mendapat SMS dari salah seorang wali murid berinisial S. Sebut saja nama wali muridku itu Bu N. Beliau adalah seorang guru di MTs An Nur, sekolah yang juga pernah menjadi tempatku bekerja. Dulu aku pernah mengajar kelas malam untuk persiapan Ujian Akhir Nasional di sekolah berasrama tersebut. Wali murid yang bernama Bu N ini mendikteku dalam hal pemberian nilai rapor terhadap murid-muridku untuk mata pelajaran Bahasa Inggris yang kuemban. Jadi malam itu, di rumahku sedang mati lampu. Seharian penuh aku sama sekali tidak mengaktifkan ponselku berhubung aku sibuk memberikan bimbingan les kepada murid-muridku karena mereka sedang menghadapi ulangan umum kenaikan kelas. Saat malam tiba aku menyalakan generator agar bisa mencharge ponselku, dan kutinggalkan di dalam kamar sementara aku pergi menonton televisi di ruang keluarga. Saat aku kembali ke kamar untuk melihat ponselku, betapa terkejutnya aku mendapatkan 7 panggilan tak terjawab dan 3 SMS dari Bu N wali murid dari S. Baru selesai membaca SMS-nya yang ketiga, SMS-SMS lainnya turut menyusul hingga 8 SMS. Kalimat-kalimatnya sangat tidak menyenangkan hati. Dia menilaiku sebagai guru yang tidak pernah bijaksana dalam memberikan nilai rapor Bahasa Inggris kepada murid-muridku, terutama terhadap anaknya (S) dan rival dari anaknya yang berinisial G.

Singkat cerita S dan G adalah dua orang muridku yang selalu bersaing sejak mereka duduk di kelas 2 SD. Ketika itu G selalu menjadi juara kelas dan S menjadi runner up di bawahnya. Adapun ayah S, suami dari Bu N, adalah seorang tukang rumput yang bekerja di sebuah perusahaan sawit terkemuka di daerah kami, PT.KSK. Sedangkan ayah G adalah seorang asisten kepala (askep) pada perusahaan yang sama. Sejak kedua anak perempuan itu naik ke kelas 3, Bu N mulai mendekati Bu R yang menjadi guru wali kelas putrinya. Pendekatan Bu N terhadap Bu R membuahkan hasil, S diberi peringkat pertama oleh Bu R menggeser posisi G yang sangat dibanggakan kedua orang tuanya. Ternyata hal tersebut menimbulkan kemarahan kedua orang tua G, mereka tidak terima kalau putri kesayangan mereka peringkatnya tergeser oleh S. Sialnya aku yang tidak tahu-menahu mengenai masalah mereka jadi terbawa-bawa. Mamanya G mendatangiku ke rumah dan mencak-mencak karena aku memberi nilai yang sama untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di rapor S dan G. Nilai yang kuberikan pada mereka adalah 85. Adalah sebuah nilai yang memuaskan menurut penilaian dewan guru SDN Bangun Jaya, karena kami memiliki standar nilai untuk rapor di mana kami sepakat untuk tidak memberikan nilai melebihi 90 bila kemampuan peserta didik kami dirasa belum cukup berkompeten untuk mencapai nilai tersebut. Akan tetapi mama G ini merasa sangat terhina nilai putrinya disejajarkan dengan nilai S. Beliau terus mendesakku agar aku meralat kembali nilai yang telah kuberikan. Dipikirnya bila aku mengabulkan permintaannya, maka dengan mudahnya beliau akan dapat menggugat Bu R untuk mengubah kembali rapor G dan S, yang mana nantinya G akan tetap bertahan sebagai juara kelas seperti sebelumnya. Kurang-lebih 3 jam mama G bertahan di rumahku karena terus mendesak agar aku mengabulkan keinginannya dengan penuh pemaksaan. Namun aku tak bergerak sama sekali dan membiarkannya begitu saja sampai akhirnya ia merasa bosan sendiri.

Selama di kelas 3, dua semester berturut-turut Bu R memberikan peringkat pertama kepada S dan membuat mama G semakin panas. Menurut pengamatanku, peringkat tersebut diberikan Bu R semata-mata karena kedekatannya yang semakin lengket dengan Bu N. Mama G sampai datang menemui Bu R seraya menyodorkan secarik kertas berisi rekapan nilai rata-rata keseharian putrinya. “Ini nilai rata-rata anak saya, Ibu berani ngasih peringkat berapa di rapor anak saya?” Begitulah tandas mama G.

Saat ini S dan G sudah duduk di kelas 4 dan akan segera naik kelas 5. Pada semester yang lalu, aku memberikan nilai Bahasa Inggris 90 untuk G, dan 88 untuk S di rapor mereka. Penilaian tersebut kuberikan secara jujur dan apa adanya. Aku tidak subjektif dalam memberikan nilai. Semua kuberikan berdasarkan kemampuan mereka masing-masing. Rupanya Bu N merasa kurang puas akan nilai yang telah kuberikan kepada S semester yang lalu. Oleh karena itu tepat satu malam menjelang ulangan Bahasa Inggris beberapa hari yang lalu, Bu N menerorku via sms, dan mengatakan aku tidak pernah bijak dalam memberikan nilai. Bahkan aku dikatakan takut kepada mama G kalau nilai G diberi lebih rendah daripada S. Dan hanya murid-murid lesku saja yang kuberi nilai tinggi di rapor. Astagfirullahaladzim, kalau saja aku kehilangan kendali mungkin aku sudah menyorongkan ulekan bekas sambal ke mulut Bu N itu! Pasalnya semua apa yang dituduhkan Bu N kepadaku itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah pandang bulu dalam memberikan nilai, sekalipun nilai murid-murid lesku relatif rendah, untuk apa aku menaikkannya menjadi tinggi? Pada kenyataannya murid-murid lesku mendapat nilai tinggi di sekolah karena semua itu adalah murni hasil keseriusan mereka selama mengikuti bimbinganku di les. Lagipula G bukan murid lesku, kepintarannya murni hasil bimbingan mamanya di rumah. Setelah aku usut semua perkara yang dilontarkan Bu N padaku, ternyata Bu N menyimpan dendam kepada kedua orang tua G. Karena ayah G pernah berkata kepada rekan-rekan kerjanya di kantor mencemooh S tepat di hadapan ayah S yang hanya bekerja sebagai tukang rumput. Katanya begini, “Hebat ya zaman sekarang, anak tukang rumput bisa mengalahkan anak seorang asisten kepala!”  

Aku benar-benar jemu melihat perseteruan orang tua murid yang selalu berujung mendikte guru dalam memberikan nilai. Akhirnya aku bulatkan tekadku untuk berani memberikan nilai di rapor S dan G, sama besar yakni 95. Walaupun hal tersebut sebenarnya sangat ditentang oleh rekan-rekan pengajar di sekolah. Aku ingin tahu apakah kedua belah pihak masih belum puas atas nilai yang telah kuberikan itu. Bila mereka belum puas juga, haruskah aku menuliskan angka 100 di rapor S dan G? Nilai 95 adalah nilai yang sangat tinggi bukan?

Aku yakin, meskipun ini mungkin akan jadi masalah terakhirku di SDN Bangun Jaya karena aku tidak lama lagi akan segera hijrah ke kota, namun suatu saat nanti mungkin akan ada masalah lain yang menimpaku. Sebab sejatinya hidup adalah masalah. Bukan hidup namanya bila tidak ada suatu masalah. Tinggal bagaimana diri kita saja menyikapi masalah yang kita hadapi tersebut. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, semakin matang kedewasaan kita dalam bertindak. Pesanku untuk para pembaca, bila Anda adalah seorang guru, bertindaklah tegas dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan murid. Jangan pernah lunak terhadap murid zaman sekarang yang sering mengadu domba antara orang tua dan guru. Dan bila Anda adalah orang tua yang memiliki anak berprestasi di sekolah, jangan pernah sekalipun mengintervensi nilai rapor anak Anda kepada guru wali kelasnya. Karena guru lebih tahu bagaimana keseharian peserta didiknya di sekolah! Semoga tulisanku ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amin.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

2 responses to “Orang Tua Murid Jangan Mendikte Guru

  1. Firdha ⋅

    Saya pernah mengalami apa yang Anda alami. Orang tua zaman sekarang kesannya tidak mempercayai kinerja guru di sekolah, sampai nilai rapor pun mereka turut campur tangan padahal nilai rapor kan tidak hanya diberikan berdasarkan hasil ulangan saja tapi juga keseharian si anak di sekolah mencakup : kepribadian, kedisiplinan, kesopanan, kejujuran, dan lain sebagainya. kelakuan si anak di rumah belum tentu sama dengan kelakuannya di sekolah. Banyak kan anak yg kalau di rumah cenderung penurut pada orang tua, tapi di sekolah nakalnya minta ampun. Jangan menyerah Pak Sugih, saya kagum dengan pengalaman Anda yang sudah sangat berpengalaman mengajar di semua jenjang pendidikan.

    • Hallo, terima kasih ya atas kunjungannya dan membaca keluhanku di atas, tapi syukurlah sekarang aku sudah resign dari semua sekolah tempatku bekerja. Fokus pada bimbel di rumah lebih santai dan hemat ongkos, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s