Posted on

Ketika Langit Tak Lagi Biru

Pernahkah kalian merindukan matahari seperti apa yang sedang kurasakan?
Sudah sebulan ini aku tak melihat langit biru seperti biasanya
Matahari yang hangat menyinari dunia begitu indahnya
Dan bintang-bintang yang menghiasi malam bagai untaian mutiara di angkasa
Semua yang kulihat di sekelilingku begitu putih menyelimuti
Udara yang kurasakan membuatku pengap
Napasku kian sesak, dan tak urung membuatku perih
Kapan musibah ini akan berakhir?

STOP!

Kabut tebal yang menyelimuti Kota Palangka Raya

image

Pagi ini gue bangun dengan setumpuk cucian di depan kamar mandi. Gue harus segera menjemur sebelum hari semakin siang. Selama dua minggu berturut-turut semua sekolah diliburkan. Kabut asap melanda negeri gue. Pembaca udah sering nonton berita di tv kan? Kalimantan jadi trending topic lagi, pemirsa! 😉 Sepanjang bulan Agustus lalu gue masih asyik nimatin perjalanan bolak-balik dari Balai Riam ke Pangkalan Bun. Tapi sekarang udah nggak bisa lagi lantaran kabut asap yang begitu tebal. Cucian yang gue jemur sangat susah kering karena nggak ada sinar matahari yang menyerapnya. Kalaupun kering,  jemuran gue pada bau apek terkena asap. Percuma aja pake pewangi seember juga.

Terkadang orang Indonesia baru sadar bahwa sesuatu itu amat penting bagi mereka di saat sesuatu tersebut mulai hilang dari hadapan mereka. Matahari contohnya! Selama matahari ada bersinar dengan teriknya, orang-orang sering protes dan mengeluh berlebihan. “Uuh, panas banget kaya di neraka! Neraka bocor kali ya?” (emangnya situ pernah ke neraka?), “Matahari panas banget sih, coba turun hujan aja!” keluh sebagian warga di kampung gue beberapa bulan lalu. Mereka sering mengupdate status di berbagai media sosial. Padahal, mereka sama sekali nggak nyadar coba kalau nggak ada matahari apa bisa jemuran mereka kering? Apa bisa tanaman yang mereka pelihara berfotosintesis? Apa bisa mereka menikmati ikan asin yang dijemur para nelayan? Enggak kan? Lol *berlagak sok bijak ya gue*

Gue jadi ingat tulisan Mbak Feli di blognya tentang musim dingin di Norwegia. Di sana matahari benar-benar dihargai. Sepanjang musim dingin orang-orang Norwegia selalu merindukan matahari sebab langit selalu kelihatan mendung sepanjang musim dingin. Begitu sommer (musim panas) tiba, orang-orang pada asyik berlibur menikmati indahnya dan hangatnya cahaya matahari. Orang-orang lebih suka beraktivitas di luar rumah sepanjang musim panas berlangsung. Perasaan ini yang sekarang lagi gue rasain di Kalimantan. Gue kangen banget sama hangatnya sinar matahari. Gue kangen berjemur di bawah terik matahari pagi supaya gue nggak kekurangan vitamin D.

Gue gak habis pikir sama bc (broadcast) yang disebarkan orang-orang via BBM. Mereka menulis meminta pertanggung-jawaban pemerintah atas kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatra. Hellooooo… ini yang salah siapa, yang bertanggung jawab siapa! Kok bisa-bisanya para netizen menulis sekeji itu? Gue nulis artikel ini bukan sekadar mengeluh soal keadaan di kampung gue. Tapi gue juga ingin meluruskan supaya para netizen berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai ada pihak tertentu yang menjadi kambing hitam. Gue di sini sebagai pihak yang fair dan objektif. *Serius loe, Gih?* (pembaca mikir sambil ngupil).

Jadi gini, sepengamatan gue kalau musim kemarau semakin panjang, biasanya mayoritas penduduk di Kalimantan (dan mungkin juga di Sumatra) pada ngebakar kebun atau hutan buat buka ladang baru. Di samping tujuan mereka, dengan pembakaran tersebut diharapkan asap yang dihasilkan bisa berubah menjadi awan mendung di langit hingga kemudian bisa menurunkan hujan. Sayangnya pemikiran yang demikian simple itu terlalu awam bagi masyarakat di sini. Mereka tidak berpikir kalau asap bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Hasil pembakaran juga sebenarnya bisa membahayakan bagi semua orang. Mereka tidak tahu kalau asap pembakaran menghasilkan zat asam dan kloroflorokarbon yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Kalau sudah begini, tanaman tidak akan tumbuh subur melainkan mati seketika. Saking gersangnya tanah di Kalimantan pada musim kemarau, percikan api sangat mudah merembet dari satu lokasi lahan ke lahan yang lain. Jangan remehkan ranting kayu sekecil apapun. Api juga dapat timbul karena terjadinya gesekan antara sepotong ranting dengan ranting lain, kemudian menjalar membakar dedaunan kering dan alang-alang yang yang telah menguning. Kebakaran pun semakin besar hanya dalam hitungan menit bahkan detik.

Peraturan dibuat untuk dilanggar

image

Terus, kenapa pemerintah yang disalahkan atas kejadian ini? Kenapa pemerintah diminta bertanggung jawab atas musibah ini? Memangnya pemerintah yang telah sengaja membakar lahan? Atau jangan-jangan warga marah kepada pemerintah hanya karena pemerintah tidak memberikan bantuan pemeliharaan tanaman, memberikan pupuk gratis misalnya, atau membantu membuatkan saluran irigasi untuk warga? Wah, picik sekali ya kalau begitu. Seharusnya masyarakat sadar kalau selama ini pemerintah telah berperan aktif dalam pemeliharaan dan pelestarian alam. Banyak sekali hutan konservasi dan cagar alam yang dibuat oleh pemerintah guna melestarikan alam. Pemerintah juga telah membuat undang-undang pelestarian hutan yang seharusnya dipatuhi oleh masyarakat. Kendati sekalipun sayangnya belum semua masyarakat Indonesia sadar lingkungan, terutama Undang-Undang Pelestarian Hutan. Padahal berbagai sosialisasi telah pemerintah lakukan hingga pemasangan papan peringatan di sepanjang tepian hutan.  Semua demi kebaikan seluruh warga negara Indonesia. So, sebaiknya dalam keadaan seperti ini jangan saling menyalahkan ya! Think it wisely! Semoga musim hujan segera datang menumpas kabut asap yang melanda negara kita. Amin. 

Sebuah perahu sampan teronggok di bibir sungai yang mengering

image

Biasanya sungai akan dikeruk diperlebar pada musim kemarau

image

Stop pembakaran hutan!

image

Rawa yang menjadi tempat mencuci darurat, kotor tercemar

image

Kabut yang menyelimuti hutan Kalimantan

image

Amati, matahari begitu kecil tertutup kabut!

image

Jalan dari dan menuju kampung gue, full of dust

image

Setiap hari wajib pakai masker!
image

image

Pohon ketapang yang meranggas

image

Lapangan bola di kecamatan, gersang tanpa rumput

image

Kabut pagi yang menyelimuti pelabuhan speedboat Sukamara, membuat aktivitas pelabuhan terhenti

image

Jalan di kampung gue pagi hari
image

image

Silakan lihat juga:

Keluhan dan Doa Seorang Pramugara Tentang Kabut Asap di Palangka Raya

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

4 responses to “Ketika Langit Tak Lagi Biru

  1. Turut prihatin. Saya herannya ya tiap tahun sudah diberitakan dan tiap tahun pula banyak masyarakat yang menderita akibat asap ini tapi toh masih aja segelintir penduduk yang bandel dan masih membakar. Saya dengar juga karena ada konflik tanah jadi para penduduk yang kesal kemudian membakar hutan, apa benar begitu? Semoga matahari bersinar sewajarnya lagi di Kalimantan.

    • Sugih

      Mereka itu sulit diberi masukan, Mbak. Makanya membandel terus tidak peduli apa dampaknya. Alasannya pembakaran itu sudah menjadi tradisi dari para leluhur, dan turun-temurun dilakukan. Memang benar ada juga sebagian lahan yang dibakar karena sengketa, baik dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun personal.

      Terima kasih atas doanya ya, Mbak. Kita harus selalu bersyukur atas rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita. GBU.

  2. Gara ⋅

    Ya Tuhan, saya belum bisa membayangkan bagaimana kalau saya yang ada di sana dan menghirup semua kabut asap itu. Menghirup asap knalpot di Jakarta pada pagi hari yang macet saja sudah jadi masalah bagi saya, apalagi kalau semua udara yang bisa dihirup adalah asap, apalagi kalau menjemur pakaian yang ada bau asap semua… pemikiran yang menggelikan, menyamakan asap dengan mendung. Tapi kalau memang masyarakat berpikir demikian, itu yang harus diubah. Asap bukan mendung. Semoga masalah di sana cepat berakhir ya, Mas.

    • Sugih

      Rasanya sangat sesak, Bli. Tidur pun tak nyaman. Banyak warga yang mengidap ISPA. Memang menggelikan pemikiran mereka itu, mereka pikir dengan membakar hutan dapat memancing hujan. Berbagai sosialisasi telah dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya kerusakan hutan. Namun masyarakat di sini tidak mengindahkannya. Sehingga kebakaran selalu terjadi setiap tahun.

      Sebagian masalah kebakaran lain disebabkan oleh perusahaan minyak kelapa sawit yang membuka lahan baru untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Akan tetapi para pegawai perusahaan itu tidak membuka lahan dengan cara yang semestinya, semisal menggrader atau menebangi, mereka malah melakukan pembakaran yang berimbas menjadi kebakaran besar dan merembet ke perkebunan lain.

      Amin, terima kasih atas doanya ya, Bli. Semoga kegiatan Bli Gara selalu lancar di manapun berada^^ 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s