Posted on

Tahun Ketigaku di Kalimantan : Bule Nyasar Penakluk Dunia!

image

Peristiwa ini sudah sangat lama terjadi, akupun nyaris tidak ingat kapan tepatnya. Akan tetapi aku sengaja menulisnya kembali di sini sekadar untuk nostalgia meskipun tanpa foto sama sekali karena pada waktu itu di tempat tinggalku belum marak ponsel berkamera apalagi kamera digital. Maklum namanya juga tinggal di daerah pedalaman kan, semua serba dalam keterbatasan. Hehe…  😉

Kejadian ini berlangsung kira-kira pada kuartal pertama tahun 2006, semester kedua aku mengajar di SMA Negeri 1 Balai Riam, atau lebih tepatnya memasuki tahun ketiga aku tinggal di Kalimantan. Masih kuingat dengan jelas kala itu adalah hari Jumat di mana kegiatan di sekolah tempatku mengajar ini sangat leluasa. Biasanya kegiatan di sekolah pada hari Jumat hanya sebatas senam jantung sehat, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, dan satu mata pelajaran tertentu di setiap kelas. Singkat cerita ketika aku sedang mengisi jam terakhir di salah satu kelas, salah seorang murid senior dari kelas XII yang bernama Mispansyah, mengetuk pintu ruangan di mana aku sedang mengajar.

“Permisi Pak, Bapak diminta warga untuk ke Balai sekarang juga! Kami kedatangan dua orang bule dan kami enggak ngerti sama sekali mereka mau apa,” tutur Mispansyah seraya ngos-ngosan seperti habis dikejar hantu.

Karena kebetulan saat itu adalah jam bubar sekolah, aku langsung berkemas dan berpamitan kepada murid-muridku. Sebelum aku naik ke atas boncengan motor Mispansyah, beberapa orang guru, para rekan kerjaku sempat mengutarakan hal yang sama seperti apa yang disampaikan oleh Mispansyah. “Cepat Pak, kedatangan Bapak sudah ditunggu di Balai Riam!” tandas Pak Jahrani guru senior kami.

Mispansyah langsung melaju menuju rumah Pak Siong, salah seorang warga yang rumahnya menjadi tempat penampungan para bule tersebut. Ternyata mereka adalah pasangan suami-istri yang bernama Sergey dan Michelle. Mereka berasal dari Rusia dan sedang melakukan hitch-hiking. Awalnya aku tidak mengerti apa itu hitch-hiking. Tetapi dengan ramah mereka menjelaskan kepadaku bahwa mereka sedang melakukan perjalanan keliling dunia hanya dengan cara berjalan kaki dan menumpang kendaraan di setiap jalur yang mereka tempuh. Wow, kedengarannya menarik ya? Itu artinya mereka keliling dunia gratis. Lantas Sergey bercerita kalau mereka sudah menjelajah 2/3 belahan dunia. Mereka pernah kehabisan air minum di gurun Kalahari Afrika, dan kehabisan bekal makanan di gurun Gobi China, juga sempat menjadi tawanan penduduk di pedalaman Thailand. Sampai akhirnya tibalah mereka di Indonesia. Mereka bahkan sempat menjadi sorotan penduduk Pulau Batam sampai masuk koran. Dan Sergey memperlihatkan kepadaku potongan artikel koran tersebut yang memuat berita tentang mereka selama di Batam. Andai mereka paham Bahasa Indonesia, mereka mungkin malu atau marah. Karena isi artikel tersebut adalah penduduk Batam sempat menilai mereka sebagai gembel yang jalan-jalan tanpa membawa duit tapi menginginkan keliling dunia gratis. Aduh, cucian… (U_U)

Perjalanan pun berlanjut ke Kalimantan setelah mereka berhasil menjelajahi Pulau Jawa. Setelah menempuh rute Pangkalan Bun-Kudangan dengan menumpangi sebuah truk, mereka bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Pontianak untuk memperpanjang masa berlaku visa. Sialnya seharusnya mereka bisa terus lanjut ke Pontianak via Kudangan, akan tetapi karena miskomunikasi antara mereka dengan supir truk yang sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, pasangan Sergey dan Michelle terbawa supir truk ke Balai Riam, kecamatan di mana aku tinggal. Lalu berjodohlah aku dengan mereka. Hehe…  😀

Aku sangat kagum kepada Sergey dan Michelle, di usia yang masih terbilang muda mereka sudah berhasil menjelajahi 2/3 belahan dunia antara lain : Eropa, Afrika, Australia, dan Asia. Tujuan terakhir mereka tentu adalah benua Amerika dan barangkali termasuk Antartika. Kunjungan mereka di Balai Riam akan berlangsung selama 3 hari 2 malam. Karena mereka sengaja ingin beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Sebagai tuan rumah yang baik, aku sengaja mengajak mereka berkeliling melihat-lihat keadaan di Balai Riam. Pertama aku mengajak mereka melihat pemukiman penduduk di kampung seberang (kampung lama). Sergey dan Michelle terkagum-kagum melihat rumah adat daerah kami yang terbuat dari kayu ulin dan sangat awet puluhan hingga ratusan tahun. Masyarakat begitu antusias menyambut kedatangan mereka. “Pak, tolong bilang sama mereka nanti malam kita adakan pesta buat mereka. Kita bikin babi panggang!” ujar salah seorang warga di kampung seberang. Ketika kusampaikan kepada Sergey dan Michelle perihal tersebut, mereka amat gembira seakan sudah lama tidak menikmati hidangan lezat, terlebih saat aku menyebutkan hidangan spesialnya adalah ‘pork barbeque’. Air liur mereka nyaris menetes setelah mendengarnya. Hadeuh, dasar bule…

Saat tiba di rumah ketua adat, kami disambut dengan upacara dan pesta minum arak. Tanganku dan tangan pasangan bule itu masing-masing diikat oleh seutas tali yang terbuat dari ilalang dan dianyam sedemikian rupa sehingga terlihat seperti gelang yang amat cantik. Ini menandakan bahwa kami telah terikat menjadi bagian dari Suku Dayak khususnya daerah Balai Riam. Kami telah menjadi bagian dari keluarga di tanah permata kecubung ini. Kami tidak boleh memutuskan tali yang mengikat pergelangan tangan kami secara sengaja. Sebab tali tersebut akan putus dengan sendirinya tepat pada hari ketiga, keempat, atau kelima. Dan ajaib, ternyata benar! Tali yang mengikat pergelangan tanganku terputus begitu saja pada hari ketiga. Padahal tanganku tidak mengalami gesekan dengan benda apapun. Pesta yang diselenggarakan di rumah ketua adat berlangsung meriah. Sergey dan Michelle menari-nari mengikuti gerakan para penari Dayak yang membentuk lingkaran. Sambil menari kami diharuskan minum arak dan tuak secara bergantian. Berhubung aku muslim, maka aku hanya cukup mendekatkan gelas ke bibir tanpa meminumnya setetes pun. Fiuh, lega rasanya…  (

Sore harinya aku kembali mengajak mereka berdua berkeliling sambil jogging melihat-lihat hutan dan mencari singkong untuk kami goreng. Tidak sangka ternyata Michelle sangat gemar sekali goreng singkong. Baginya singkong adalah makanan terlezat yang pernah dinikmatinya. Wah, untunglah pelayan Pak Siong tidak keberatan untuk menggorengkannya untuk Michelle. Anak-anak terus mengikuti kami sepanjang perjalanan yang kami tempuh, mereka bahkan rela membantu Michelle mencarikan singkong yang tumbuh di hutan.

Pada malam harinya, usai selepas menunaikan shalat maghrib, aku meminta Pak Arif, kepala sekolah pimpinanku, untuk mengantar kami menemui pak camat di rumahnya. Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh pak camat. Beliau banyak menjelaskan mengenai komposisi penduduk di kecamatan Balai Riam, serta jumlah penduduk di setiap desa. Tak pernah kusangka, kami bisa mengobrol akrab bersama hingga tertawa lepas. Sergey dan Michelle merasa sangat terkesan dengan pelayanan kami terhadap mereka. Sepulang dari rumah pak camat, aku diminta khusus oleh keluarga Pak Siong untuk bermalam di rumah mereka. Khawatir bila terjadi apa-apa terhadap mereka atau mereka memerlukan sesuatu sementara Pak Siong tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Maka sepanjang malam itu aku bersama Sergey dan Michelle menghabiskan waktu bertukar cerita bersama.

Sergey mengajarkanku aksara Cyrillic yang merupakan abjad Rusia. Menurutku bahasa Rusia sangat sulit tetapi sangat menarik. Berkali-kali Sergey melatihku cara membaca setiap abjad Rusia yang ditulisnya di secarik kertas. Aku sangat kesulitan melafalkannya, tapi Sergey orang yang sabar dan humoris. Ada petikan percakapan yang masih membekas dalam ingatanku.

Aku Yang Penasaran (AYP) : “Sergey, bisa tolong ceritakan kehidupan di negaramu selama masa kejayaan Uni Sovyet?”

Sergey (S) : “Apa yang ingin kamu ketahui mengenai Uni Sovyet?”

AYP : “Terus terang bila mendengar nama Uni Sovyet, banyak orang Indonesia yang ketakutan.”

S : “Apa yang ditakutkan?”

AYP : “Uni Sovyet kan negara komunis. Dulu negara kami juga pernah nyaris menjadi negara komunis.”

S : “Lalu?”

(Duh ini si Sergey kok malah balik nanya terus ya?)

AYP : “Partai komunis di negara kami pernah melakukan insiden besar. Sejumlah pemimpin tentara kami ditangkap dan dibunuh. Tempat-tempat ibadah seperti mesjid dan surau dibakar. Tentu saja kami takut terhadap komunis dan melarang keras keberadaan partai komunis di negara kami.”

S : “Di negara kami itu sudah menjadi hal biasa.”

AYP : “Apakah hal tersebut tidak meresahkan masyarakat di negaramu?”

S : “Mengapa harus resah? Biarkan semuanya mengalir begitu saja dan masyarakat pun perlahan-lahan akan menikmatinya!”

AYP : “Kudengar sistem perekonomian di negaramu menganut sistem perekonomian terpusat. Bisa tolong jelaskan seperti apa perekonomian di sana?”

S : “Yup, itu benar! Jadi selama masa pemerintahan sosialis, hampir semua warga tidak memiliki izin usaha. Karena seluruh kegiatan masyarakat dikendalikan oleh negara. Kegiatan pertanian, peternakan, perindustrian, perikanan, perkebunan, dan lain sebagainya dikelola oleh negara. Sehingga dengan demikian kesejahteraan masyarakat merata. Di sana tidak ada siapa orang yang paling kaya ataupun paling miskin seperti di sini!”

AYP : “Oh, jadi begitu ya. Lalu bagaimana dengan kegiatan peribadatan? Apakah dikendalikan oleh pemerintah juga?”

S : “Tentu saja. Bila tidak begitu, masyarakat di negara kami tidak akan teratur. Intinya semua kegiatan masyarakat dikendalikan oleh negara. Kau tahu, termasuk kami yang pasangan suami istri ini juga bila sedang ingin bercinta harus menunggu mandat dari negara!”

(Sergey melirik Michelle dengan tatapan penuh canda)

Michelle terkikik mendengar penuturan suaminya,”Untuk kalimat terakhir yang diucapkannya tolong jangan dipercaya!” ujar Michelle seraya melempar pandangan ke arahku.

AYP : “Wew!”

Sergey amat tertarik mendengarkan mitos-mitos suku Dayak pedalaman yang kuceritakan kepadanya, seperti kuyang, kayau (head hunter), tuju, dan lain sebagainya. Sementara Michelle lebih tertarik mendengarkan cerita tragedi Sambas dan Sampit yang memiliki kesamaan latar belakang kronologi. Keduanya meminta kepadaku agar aku berkenan menuliskan semuanya dan mengirimkan ke alamat email mereka untuk mereka publikasikan ke dalam bentuk buku yang diterbitkan di negaranya. Ternyata pekerjaan sampingan mereka adalah jurnalis. Sedikit curhat juga kepadaku alasan mereka melakukan hitch-hiking, karena latar belakang persoalan mereka. Usut punya usut rupanya mereka adalah pasangan suami-istri yang melakukan kawin lari karena tidak direstui oleh kedua orang tua mereka. OMG, hari gini masih ada ‘run-away marriage’. Pak Deny… tolong dong! (meniru gaya Jarwo Kwat Indonesian Lawak Klub).

Pada hari terakhir pertemuan kami, atas seizin Pak Arif pada malam sebelumnya aku sengaja mengajak Sergey dan Michelle berkunjung ke SMA Negeri 1 Balai Riam tempatku bekerja. Aku sengaja meminta mereka untuk menjadi native speaker pada jam pelajaran Bahasa Inggris. Hmm, ternyata biar kata mereka adalah bule, belum tentu jaminan kalau bahasa Inggris mereka bagus lho! Buktinya melafalkan kata ‘banana’ saja yang seharusnya dilafalkan ‘benane’ malah dilafalkan sama seperti orang Indonesia kebanyakan yang awam Bahasa Inggris. Tapi sesi pertemuan ini sangat berkesan bagi murid-muridku. Yah, walaupun mereka hanya bisa menegur ‘how are you?’, ‘good morning’, dan ‘what is your name?’ akan tetapi kami semua sangat menikmati kebersamaan yang hanya sesaat ini. Sergey bahkan sempat berbagi ilmu kepada kami bagaimana caranya dia dan Michelle mendapatkan air minum di tengah padang pasir yang luas di saat perbekalan air minum mereka habis sementara tidak ada oase di sekitar mereka. Cara yang amat menarik dan kami pun mempraktikkannya, hasilnya luar biasa. Sinar matahari yang menyengat sangat membantu percobaan kami. Cara ini kami sebut sebagai ‘air kondensasi matahari’.

Menjelang detik-detik terakhir kebersamaan kami, aku dan murid-muridku mengajak mereka berdua untuk bermain kasti di lapangan sekolah. Sergey bilang permainan kasti Indonesia sangat mirip dengan permainan cricket.  Sebelum mereka benar-benar pergi aku sangat penasaran dengan tas ransel yang dibawa oleh mereka. Menurut penjelasan Sergey isi tas ransel mereka antara lain : tenda, pasak besi, kompor, panci, wajan, pakaian, senter, peta, sepatu dan lain-lain. Aku sempat diperbolehkan oleh mereka untuk mengangkat tas ransel milik mereka yang begitu besar, dan di luar ekspektasiku tas mereka itu amat sangat buerat buanget… Sampai-sampai aku jatuh terjengkang menggendongnya. Bagaimana tidak, berat badanku saja hanya 50 kg sementara tas Sergey 60 kg, ibarat kuda menggendong badak kan…

Sebagai kenang-kenangan dariku agar mereka selalu mengenang Indonesia, aku sengaja memberi Sergey sebuah baju batik khas Jawa. Untunglah ukuran baju kami sama. Dan salah seorang muridku memberi sebuah bingkisan kepada Michelle yang entah apa isinya, aku sendiri pun tidak tahu. Moga-moga saja bukan bom atau batu. Hehe…  😀

Selang beberapa saat menunggu mobil yang lewat, melintaslah sebuah Estrada silver di hadapan kami dan aku menyetopnya. Untunglah aku mengenal pengemudi kendaraan tersebut. Beliau adalah Pak Darmadi yang sedang dalam perjalanan pulang ke HHK Timur, Kalbar. Kepada beliau aku sedikit menceritakan perihal Sergey dan Michelle, aku menitipkan pasangan suami-istri tersebut kepada beliau sampai di HHK Timur dan mempertemukannya dengan Mrs. Ani, salah seorang kenalanku yang juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di HHK Timur. Tak lupa aku menitipkan sepucuk surat untuk Mrs. Ani agar Mrs. Ani berkenan menunjukkan kepada Sergey dan Michelle jalan menuju Pontianak, sehingga mereka tidak tersesat lagi atau dibawa salah jalan oleh supir truk yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Inggris seperti yang baru saja dialami mereka kemarin.

Satu minggu setelah kepergian mereka…
“Pak, Dina baru saja balik kampung dari Tumbangtiti, Kalbar. Eh, di sana Dina ketemu lagi sama bule yang dari Rusia itu lho Pak. Terus Dina minta tolong sama saudara Dina di sana supaya mengantar mereka ke Pontianak, Alhamdulillah sekarang mereka sudah nyampe!” tutur seorang muridku yang bernama Dina.

Ah, syukurlah. Semoga mereka senantiasa diberi keselamatan, dan kesehatan oleh tuhan selama menempuh perjalanan guna mewujudkan impian mereka. Cita-cita bukan untuk sekadar menjadi mimpi belaka. Melainkan harus menjadi rantai perjuangan yang tidak pernah ada putusnya. Karena hidup bukan sekadar untuk bermimpi!

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

4 responses to “Tahun Ketigaku di Kalimantan : Bule Nyasar Penakluk Dunia!

  1. yusmei

    Ceritanya seru banget mas. Sekarang gimana kabar mereka ya? Sudah khatam kali ya keliling dunianya 😀

    • Nah itu dia Mbak, berkali-kali saya googling nama mereka tapi gak ketemu. Berharap kalau ada yg baca tulisanku ini dan kebetulan mengenal mereka selama perjalanan di Indonesia, berkenan memberikan informasi mengenai keadaan mereka saat ini. Kelihatannya asyik ya Mbak, bisa keliling dunia gratis.

  2. Dony ⋅

    Asik ya ketemu bule. Kamu jd pemandu wisata ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s