Posted on

Blogger Sombong

image

Sebetulnya aku enggan menulis artikel ini. Bukan maksud untuk menjelek-jelekkan seorang blogger yang kebetulan blognya ku-follow sih. Hanya saja rasa kesal ini daripada kupendam dalam hati dan nanti bisa menimbulkan penyakit dengki, lebih baik kutulis uneg-unegku sendiri di sini dan dibaca oleh para malaikat dan para bidadari yang sedang turun dari langit untuk mandi di bumi. Hehe… πŸ˜‰ β™‘

Okelah, cerita ini berawal dari hobiku yang rutin blogwalking alias gentayangan di kuburannya para blogger (ups ngeri kalee…). Dan dari blogwalking itu juga biasanya aku memfollow blog para blogger yang ramai dikunjungi. Dengan asumsi blog yang ramai dikunjungi merupakan indikasi bahwa si empu blog pasti orang yang aktif menulis. Aku tidak berharap mereka akan memfollow back blogku ini. Karena aku tahu blogku ini hanya sering dikunjungi oleh para silent reader yang pelit sekali memberikan komentarnya di sini. Tapi alhamdulillah dari sekian banyak (lebih dari seratus blogger yang kuikuti) mayoritas senantiasa memberikan respon dan respek terhadap komentar-komentar yang kuberikan di blog mereka.

Suatu ketika saat aku sedang googling beasiswa monbukagakusho (kementrian pendidikan Jepang) terdamparlah aku di sebuah blog mahasiswa jebolan IPB yang konon menurut pengakuannya telah membatalkan untuk menerima beasiswa monbukagakusho karena ia juga telah lolos seleksi beasiswa LPDP Depkeu. Wah ternyata ada juga orang selain aku yang pernah menolak beasiswa monbukagakusho. Oleh karena itulah aku mengajak si pemilik blog untuk berkenalan. Awalnya sih perkenalan kami begitu hangat. Dia ramah dan kelihatannya rendah hati. Lalu mulailah aku rutin mengomentari tulisan-tulisan yang telah dipublishnya. Sebagian komentarku berisi pujian atas kepintarannya yang sangat berpengalaman mendapatkan beasiswa dan perlombaan penelitian mahasiswa se-Asia yang pernah diikutinya. Dan ada pula komentarku yang berisi saran ataupun kritikan atas penggunaan Bahasa Inggris yang dipakainya (mengingat aku sendiri adalah seorang poliglot), tidak salah kan kalau aku mengkritik? Kritikanku gak pake cabe kok. Hehe…Β  πŸ™‚

Ternyata dia balas berkunjung ke blogku. Namun dia tidak meninggalkan komentar apapun di blogku ini. Sudah kubilang kan kalau blogku ini adalah blog para silent reader yang pelit komentar… Kalian pasti bertanya bagaimana bisa aku mengetahui kalau dia balas bertandang kan? Gampang, aku melihatnya di statistik aplikasi wordpress di ponselku. Di sana nama blognya tertera telah mengunjungi blogku.
Nah kembali ke blog si penerima beasiswa LPDP tadi, ternyata belasan komentarku selama satu bulan kemarin tak satupun mendapat atensi darinya. Semua dilewatinya begitu saja. Sementara komentar-komentar lain yang masuk ke blognya (berisi pujian) selalu dibalasnya dan ditanggapinya penuh suka cita. Sampai akhirnya aku mengiriminya email guna menanyakan alasan dia mengapa tidak membalas komentar-komentarku. Isi emailku seperti ini :

Hallo kawan, maaf nih sebelumnya kalau aku kirim email sama kamu. Sudah beberapa bulan ini aku rutin mengunjungi blog kamu dan mengomentari sebagian tulisan kamu. Tentu kamu tahu kan? Cuma seberapa banyak pun aku berkomentar di sana tetapi kamu tidak memberikan reaksi apa-apa selain perkenalan kita di profilmu. Sementara komentar orang lain selalu kamu tanggapi, apa kamu tidak berkenan dengan komentar-komentarku di blogmu?

Oya terima kasih sudah berkunjung ke blogku minggu lalu. Walaupun kamu tidak meninggalkan komentar, tapi jejak nama blogmu terekam di statistik wordpressku.

Good luck buat beasiswanya ya semoga lancar.

Cukup sopan bukan gaya bahasa yang kusampaikan? Tapi ternyata sampai seminggu berlalu emailku tersebut sama sekali tak digubrisnya. Lalu aku memutuskan untuk berkomentar lagi di blognya dan sekali lagi komentarku tak ditanggapinya. Yang ada dia hanya membalasi komentar dari orang lain yang berisi pujian untuknya. Bahkan komentar terakhirku tersebut kutemukan tidak ada lagi di blognya pada keesokan hari. Dengan kata lain dia telah menghapus komentarku itu. Lalu kucoba sekali lagi untuk menulis komentarku di sana untuk terakhir kalinya. Tak lupa kusampaikan permohonan maaf bila memang ada komentarku yang tidak berkenan di hatinya. Alhasil komentar terakhirku itupun dihapusnya lagi setelah 24 jam berlalu. Tidakkah ini sangat keterlaluan? Seandainya dia tidak menyukaiku untuk berkomentar di blognya, alangkah lebih baik jika dia menyampaikan langsung kepadaku bukan? Tidak perlu lewat balas komentar di blognya, melalui email kan juga bisa. Ya, atas dasar itulah akhirnya aku menarik kesimpulan kalau blogger satu ini adalah seorang blogger sombong dan haus pujian. Bagaimanapun kusampaikan doa yang baik untuknya, semoga proses beasiswa study ke luar negeri yang sedang dijalaninya diberi kemudahan oleh Allah swt. Dan semoga aku tidak tertular virus kesombongan darinya. Amin.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

13 responses to “Blogger Sombong

  1. Miranda ⋅

    Hmm, orang kaya gitu mending tinggalin aja! Gak usah difollow lagi blognya! Buat apa kita cape2 berapresiasi di blognya dia tapi dianya kaga respek sama kita. Kesombongan adalah pangkal kehancuran! Semangat terus ya Prince! πŸ™‚

  2. yusmei

    Waduh…yang punya blog itu udah kayak artis ya. Tenang mas..masih banyak blogger yang bisa diajak berinteraksi dengan baik πŸ˜€

    • Hallo, maaf lambat balas. Sebelumnya terima kasih banyak atas follow dan kunjungannya ke blog saya.

      Sebetulnya saya rutin berkunjung ke blog-blog yang saya ikuti guna menjalin silaturahmi dan menambah pertemanan. Tetapi bila orang itu enggan dikunjungi dan dikomentari oleh saya, apa boleh buat. Itu kan hak dia. Hanya saja amat disayangkan sebagai seorang awardee penerima beasiswa LPDP bersikap seperti itu. Hanya bersedia membalas komentar-komentar pembaca yang berisi pujian untuknya. Padahal LPDP kan beasiswa kepemimpinan. Apakah pantas seorang pemimpin bersikap seperti itu?

      Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya ya. Salam kenal dan salam sejahtera πŸ™‚

  3. Derry Hermawan ⋅

    Tenang Tuan Guru! Tuan Guru kan punya banyak kawan. Ngomong2 saya jadi suka nongol di sini baca2 tulisan Tuan Guru. Tuan Guru baik ko selalu balas komentar saya. Sebenarnya saya mau minta diajarin gimana caranya bikin blog. Tapi bingung juga mau nulis tentang apa.

    • Coba daftar aja di wordpress! Seru juga ko. Awalnya pengunjung blogku sangat jarang, hanya 40 orang perhari. Sekarang alhamdulillah sudah tembus lebih dari 900 pengunjung perhari. Jangan ragu untuk menulis. Ekspresikan saja apa yang ada dalam pikiranmu. Nanti kalau sudah bikin blog, aku akan rutin berkunjung ke blogmu.

      • indoroid

        wah boleh tu dishare mas pengalaman ngeblognya..
        supaya memotivasi blogger newbie kayak saya,
        saya juga baru mencoba merintis ngeblog, hehe πŸ™‚

      • Sugih

        Pengalaman ngeblog sudah banyak saya tuangkan di sini. Silakan Anda melihat-lihat. Nanti saya akan berkunjung ke blog Anda. Salam kenal πŸ™‚

  4. gellap

    salut dg kesabaran anda

  5. Juanda ⋅

    Mas Prince, sebnrnya saya belakangan ini sudah mendengar ttg isu ttg kesombongan bbrp awardee LPDP. Mula2 saya pikir itu hanyalah bbrp oknum saja, atau istilahnya bad apples between good apples. Hari ini, saya juga dpt info dr seorg kenalan bhw ada oknum awardee yg sombong (istilah yg dia pakai “belagu”). Nah, skrg saya jumpai lg postingan di blog ini yg diposting pd desember 2014 yg bernada sama. Skrg saya mulai berpikir, jgn2 ini bukan lagi ttg bbrp oknum, tapi sudah banyak oknum. Walaupun saya yakin bhw mayoritas awardee LPDP adlh org2 pilihan dan rendah hati (jumlah awardee LPDP sampai skrg lbh dr 10 ribu org), tapi terus terang saya mulai kuatir juga bila nanti org2 yg sombong ini memimpin Indonesia. Satu hal yg membuat saya tdk habis pikir, bagaimana bisa seseorg itu sombong dng keberhasilannya menjadi awardee LPDP pdhl uang yg dia makan tiap hari dlm studinya adlh uang rakyat Indonesia yg notabene msh bnyk yg hidup miskin? Sepertinya tim seleksi beasiswa LPDP mulai kecolongan dlm menyeleksi calon awardee shg mulai bermunculan awardee2 yg sepertinya “lupa daratan.” Akhir kata, mari kita sama2 berharap smg tipe awardee seperti ini jumlahnya semakin sedikit di masa yg akan datang, amin.

    • Sugih

      Hallo Juanda. Terima kasih atas kunjungannya. Iya, menurut saya riskan bila seorang awardee LPDP yang seharusnya menjadi calon pemimpin memiliki karakter sombong. Akan menjadi seperti apa negara ini nanti. Sangat jarang awardee LPDP yang mau berbagi kiat-kiat agar lolos seleksi. Kalaupun ada kiat yang mereka tulis tidak begitu banyak. Selebihnya hanya pamer akan keberhasilan mereka. Ini merupakan masukan untuk panitia LPDP agar lebih selektif dalam memilih calon pemimpin yang akan diberi beasiswa. Khususnya juri psikolog agar lebih bisa mengamati mental dan karakteristik para calon awardee. Tidak hanya berharap, tapi juga berdoa. Semoga para awardee yang terpilih selanjutnya adalah para awardee yang berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa, cerdas, dan berjiwa pemimpin yang baik. Amin yarabbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s