Posted on

Nenek Meninggal

Kira-kira 2 minggu lalu tersiar kabar dari keluarga di Pulau Jawa bahwa Umi Ating (bibinya mama) meninggal dunia. Meskipun beliau bukan nenekku secara langsung namun kabar duka tersebut sangat membuatku terpukul. Pasalnya sudah 6 tahun aku tidak bertemu beliau dan kini di saat aku merindukannya, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Tidak ada suara burung gagak yang biasanya mengabari kami bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Tidak ada mimpi gigi tanggal sebagai pertanda yang dapat kami tafsirkan. Tidak ada nasi yang selalu menjadi basi sebagai mitos kepercayaan orang Sunda bila akan kehilangan seseorang. Ya, kabar itu tiba-tiba datang begitu saja. Hari-hari sebelumnya saat aku mengajar murid lesku, entah mengapa aku mencium bau napas Umi Ating yang sangat kukenal. Aroma napasnya adalah aroma napas orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran. Begitulah biasanya yang dilakukan oleh nenekku itu.

Keluargaku adalah keluarga besar. Hampir semua keluarga dari kakek (ayahnya mama) berprofesi sebagai tentara dan guru. Dan satu dari kedua profesi tersebut menurun padaku. Umi Ating adalah adik kakek nomor pertama dari sekian jumlah bersaudara yang tidak kuketahui pasti saking besarnya keluarga kami. Beliau adalah seorang pensiunan guru pengajar Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Kedekatanku dengan beliau bermula ketika aku akan mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan SD yang pada masa itu dikenal dengan istilah EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Beliau banyak memberiku ilmu guna menghadapi EBTANAS. Dan subhanallah hasilnya dari 5 mata pelajaran yang diujiankan nilai rata-rataku kontan di atas 8,5 hampir menembus 9 dengan nilai tertinggi Matematika 9,5. Padahal sebenarnya aku ingin sekali bisa menyaingi kepintaran mamaku yang nilai rata-rata EBTANAS-nya menembus angka 10 pada masa SD-nya. Tapi apalah daya kemampuan otakku hanyalah separuh kemampuan otak mamaku.

Umi Ating selalu rutin memberiku bimbingan pelajaran termasuk materi agama. Karena beliau dikenal sebagai pemuka agama di daerah kami. Setiap kali kami bertemu hal pertama yang beliau tanyakan padaku adalah, “Apakah kamu sudah shalat, Sugih?” Bahkan Umi Ating selalu mengajariku mengaji Al-Quran beserta ilmu tajwid yang terkandung di dalamnya. Masih kuingat dengan jelas beliaulah orang pertama yang memberitahuku tentang huruf-huruf qolqolah dengan rumus ‘bajuditoko’. Beliau juga yang menceritakan kisah para nabi yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Beliau sangat praktis dan sistematis saat mengajar sehingga ilmu yang ditransferkan sangat mengena dan membekas dalam ingatan.

Sebelum masuk SMP, pada suatu sore Umi Ating mengajakku melihat sebuah sekolah negeri terfavorit di kota kami. Menurut cerita mama, dulu mama sangat berkeinginan bisa bersekolah di sana namun mama gagal karena tidak mampu secara finansial. Lalu Umi Ating bercerita pula kepadaku kalau sekolah yang sedang kami lihat itu banyak menghasilkan artis-artis ternama ibukota. Hatiku pun tergugah ingin bisa masuk ke sana. Alhamdulillah sekolah tersebut menerimaku karena NEM (Nilai Ebtanas Murni)-ku di atas passing grade sekolah tersebut. Mamapun bangga kepadaku.

Setelah aku masuk SMP, jujur aku sangat minder karena teman-temanku mayoritas berasal dari kalangan kelas atas. Banyak dari mereka yang merupakan anak pejabat, dosen perguruan tinggi terkemuka, ilmuwan peneliti, pengusaha, dan artis terkenal. Hal yang membuatku sedih kala itu aku sangat tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris namun teman-temanku mencemooh pronunciation-ku setiap aku berlatih speaking. Kata mereka apa yang kuucapkan hanyalah cuap-cuap tak jelas. Lantas mereka memamerkan kemampuan mereka berbahasa Inggris hasil dari pengalaman tinggal di luar negeri bertahun-tahun. Kuakui kemampuanku masih nol dibandingkan mereka. Bahkan untuk mengucapkan nama ‘George’ saja aku menyebutnya dengan kata ‘Geyorj’. Di saat itulah aku yang sebenarnya sudah berhenti les pada Umi Ating kembali berguru kepada beliau dan rela menemui beliau satu minggu 3 kali dengan menaiki angkot yang jaraknya 20 km dari tempat tinggalku. Umi Ating dengan tangan terbuka menerimaku kembali sebagai murid dengan catatan akupun harus belajar agama pada beliau. Bila aku bermalam di rumahnya, Umi Ating pasti akan memasakkan semur jengkol kesukaanku walaupun kuakui masakan beliau selalu kurang garam atau vetsin. Kata Umi vetsin dan garam bisa mengurangi kecerdasan otak. Setelah beberapa bulan aku mengikuti les bahasa Inggris, Umi Ating berpesan padaku kalau sebenarnya aku mampu belajar bahasa Inggris secara otodidak (tanpa guru) karena beliau pun dulu belajar sendiri hanya dengan cara mempelajari buku. Umipun memberi motivasi kepadaku agar aku jangan minder di sekolah, aku harus menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku mampu menyamai bahkan melebihi kemampuan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti saran beliau. Selain aktif berbicara bahasa Inggris dengan guru di sekolah, akupun mulai terjun mengikuti organisasi English Club di RRI. Alhamdulillah nilai bahasa Inggrisku di rapor selalu mendapat angka 9. Dan ketika SMA karangan bahasa Inggrisku selalu mendapat nilai excellent. Teman-teman yang dulu pernah mencemooh kemampuan bahasa Inggrisku semasa SMP berbalik menyanjungku dan mengagumi kemampuanku. Hingga akhirnya kini aku telah menjadi seorang guru bahasa Inggris. Semua berkat Umi.

Akh, Umi…
Aku menyesal semasa Umi sakit tak sedetikpun aku berada di dekatnya. Padahal kata hatiku selalu berbisik untuk dapat bertemu dengannya. Saat kabar meninggalnya Umi kuterima aku menangis sejadi-jadinya, hingga aku tertidur dan terbawa ke alam mimpi yang mengantarkanku melihat kenangan kami bersama. Dan di saat aku terbangun dalam gelapnya kamar dini hari aku memekik. Sesosok bayangan seorang wanita tua mengenakan mukena menoleh padaku seolah tengah mengajakku, “Ayo kita shalat, Sugih!” Aku menangis dan segera berwudhu. Dalam doa tak henti kupanjatkan, “Ya Allah terimalah nenekku di sisi-Mu!” Amin.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s