Posted on

My Inspirator, Ketut Rundeg

image

Lebih dari 10 tahun lalu  tepatnya pada tahun 2002 saat aku masih kelas 2 SMA, aku menemukan sebuah artikel di majalah Nipponia (majalah yang dibagikan cuma-cuma oleh Kedutaan Besar Jepang saat aku berkunjung ke perpustakaan instansi tersebut) yang mana dalam artikel majalah tersebut memuat profil tentang seorang tokoh yang bernama Ketut Rundeg dan telah menginspirasiku selama belasan tahun lamanya. #Duileh Jang, inspirasinya ketemu Doraemon ya?  😀

Meski majalah dan artikel tersebut telah raib entah ke mana setelah aku menyumbangkan sebagian koleksi buku-buku dan majalahku ke perpustakaan SMAN 1 Balai Riam, akhirnya aku menemukan kembali artikel tersebut di situs resmi majalah Nipponia. Hanya saja bedanya artikel di laman internet tersebut tidak dimuat dalam Bahasa Indonesia seperti yang dulu pernah kubaca (dulu aku sempat membaca artikelnya di majalah Nipponia dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jepang). Kini artikel tersebut tersedia hanya dalam Bahasa Inggris, Jepang, dan sebagian bahasa Eropa lainnya.

Ketut Rundeg-Pedagang yang murah senyum

Dari namanya pembaca pasti tidak asing dan mengira kalau orang ini pasti orang Indonesia. Pasti dari Bali kan? Yup, tepat sekali beliau memang orang Bali. Tapi siapakah dia? Inspirasi apa yang telah beliau berikan padaku? Hehe, pembaca penasaran? Yuk, kita berkenalan dengan beliau.

“Hal terbaik mengenai kimono adalah pola-polanya yang fantastic. Hanya orang Jepang yang sudah dapat mengembangkan sejumlah teknik yang artistic. Saya suka warnanya yang tebal, dan cerah yang terbaik.”

Ketut Rundeg bekerja di toko kain kimono dan pakaian di Kuroishi, Prefecture Aomori di Honshu Utara. Pada usia 38 tahun, dia masih muda, tetapi orang-orang bergantung padanya dan dia ditakdirkan untuk menjadi pemilik toko. Tokonya bernama Mikami Gofuku-ten, menjual pakaian terutama kimono, tapi juga meng-handle seragam sekolah dan seragam karyawan perusahaan. Saat bekerja, Rundeg sangat sibuk sepanjang waktu, melayani pelanggan, menjual produk, dan mengantarkan pesanan para pelanggan.

Dia dilahirkan di Nusadua, Pulau Bali-Indonesia. Bali adalah tujuan wisata yang terkenal, dan setelah lulus SMA, dia mendapat pekerjaan di sebuah hotel resor setempat, memberikan instruksi dalam olahraga laut untuk wisatawan mancanegara. Di situlah ia bertemu Yuko. Yuko datang ke Bali dari Jepang untuk bekerja, dan mereka menikah pada tahun 1988. Pada saat Rundeg berusia 24 tahun. Mereka pindah ke Jepang untuk tinggal bersama orang tua Yuko, dengan rencana bahwa ia akan mewarisi toko keluarga.

“Rencana pertama kami adalah untuk tinggal di Bali, tapi gaya hidup di sana begitu berbeda dengan di Jepang, dan saya pikir dia (Yuko) sudah keras beradaptasi. Jadi kelihatannya natural bagi kami berdua untuk pergi ke Jepang, dan saya pun beradaptasi dengan kehidupan yang ada. Menengok ke belakang, saya menyadari betapa optimisnya saya.”

Tantangan pertama yang menunggunya adalah salju yang terdapat di Honshu Utara setiap musim dingin. Dia belum pernah melihat salju sebelumnya dan menemukannya begitu indah. Namun itu membuatnya sakit dan kerap kali terjatuh setiap mengantarkan pesanan pelanggan dengan motornya. Ini sangat sering terjadi sehingga dia menyadari bahwa dirinya tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan benar seperti itu. Solusinya adalah jelas harus membuat SIM mobil, namun bagaimana dia melewati tes dengan semua aksara Kanji yang super rumit?

“Bahkan kemudian, saya benar-benar menikmati bernyanyi Jepang balada enka, karaoke-gaya. Liriknya ditulis dalam Bahasa Jepang pada layar video, dan saya harus meletakkan otak saya ke overdrive, mencari kata-kata sambil bernyanyi. Begitulah cara saya belajar Kanji.”

Tantangan sulit lainnya adalah melayani pelanggan. Ketika datang ke toko, sikap pelanggan di Jepang sangat berbeda dari mereka di Indonesia, dan Rundeg kebingungan saat menghadapi hal ini.

“Ketika seseorang memasuki toko di Indonesia, mereka yakin untuk membeli sesuatu. Jika tidak, kita berpikir mengapa mereka ingin masuk? Tapi di Jepang banyak orang masuk, hanya meminta harga sesuatu, dan kemudian berjalan keluar tanpa membeli sesuatu. Itu adalah kejutan, dan saya tidak tahu bagaimana menanganinya.”

Rundeg sempat tertekan, tidak mampu menjual apa-apa, tapi orang tua Yuko memberikan dukungan yang besar selama periode tersebut. Di toko itu Rundeg  akan berbicara dengan mereka terbata-bata dalam Tsugaru-ben, dialek lokal Jepang. Melalui inilah Rundeg belajar bagaimana memecahkan kebekuan ketika berbicara dengan pelanggan dan menyarankan mereka satu kimono yang lain. Para pelanggan akan menertawakan leluconnya dan membuka hati mereka kepadanya. Sebuah senyuman dan obrolan yang ramah adalah pembukaan untuk berjualan, dan Rundeg selalu gembira memberikan orang lain kesenangan, menangkap dengan cepat dan segera menjadi pembicara yang sangat baik. Dia bahkan diikutsertakan kontes dialek Tsugaru khusus untuk orang asing untuk pertama kalinya pada 1997.

Rundeg terkenal di komunitasnya. Dia seorang dj (disc jockey) pada program rutin yang disiarkan oleh stasiun radio FM lokal. Dia juga anggota eksekutif POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) di sekolah putrinya. Rundeg tinggal bersama istrinya Yuko, dua orang putri mereka, orang tua Yuko, dan nenek Yuko. Rumah mereka ada di lantai 3 bangunan toko. Rundeg sering menemukan waktu untuk membawa mereka semua dengan mobil ke mata air panas terdekat di daerahnya.

“Orang tua dan nenek istri saya banyak membantu saya, dan saya ingin menunjukkan kepada mereka beberapa apresiasi saya kembali. Saya merasa senang tinggal di Jepang, terima kasih kepada seluruh keluarga.”

Ketut Rundeg berbicara dengan senyum di wajahnya. Ketika ikatan keluarga ada, perbedaan budaya memudar. (Diterjemahkan dari laman majalah Nipponia Nomor 22, 15 September 2002).

Moral value yang dapat kita ambil berdasarkan kisah Ketut Rundeg di atas di antaranya :
-Berusahalah dan jangan pernah menyerah ketika kita menghadapi kesulitan!
– Senyuman dapat meluluhkan hati orang lain ketika kita berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan.
-Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu, justru perbedaan merupakan pemicu bagi kita untuk saling menerima satu sama lain.
-Sesibuk apapun kegiatan kita, berusahalah untuk menyempatkan diri meluangkan waktu bersama keluarga. Karena tanpa mereka, kita bukanlah apa-apa.

Aku benar-benar berharap bila Ketut Rundeg masih ada (mengingat artikel tentang beliau sudah kadaluwarsa), dan kebetulan membaca catatan postinganku ini, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberiku inspirasi yang begitu indah. Pak Rundeg, lanjutkanlah perjuangan Anda! Ganbatte 🙂 

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

8 responses to “My Inspirator, Ketut Rundeg

  1. sangat memberikan inspirasi ..

    • Halo, terima kasih telah berkenan mampir di sini. Benar sekali Mas Dion, Ketut Rundeg sangat memberi inspirasi. Apalagi berjuang hidup di Jepang, tentu sangat sulit ya? Mudah-mudahan saja saya bisa seperti beliau. Amin.

  2. Sony ⋅

    Wow, semoga orangnya masih hidup dan baca tulisan km ini.

  3. Sekar ⋅

    Bangga ya orang Indonesia yang tidak mudah menyerah berjuang di negeri orang…

  4. Derry Hermawan ⋅

    Wah sudah lama sekali ya. Pasti orang itu sudah sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s