Posted on

Jangan Takut Untuk Bermimpi

Mimpi adalah sebuah kata yang semu, di mana sesuatu yang kita dambakan, kita harapkan atau kita  angan-angankan dapat terwujud maupun terlupakan begitu saja dengan sendirinya. Banyak orang yang berhasil meraih mimpinya dengan perjuangan yang begitu berat, penuh pengorbanan, bersimbah keringat hingga titik darah penghabisan. Namun ada juga orang yang berhasil meraih mimpinya tanpa segenap usaha maupun upaya. Mereka mendapatkannya begitu saja dengan percuma. Itulah faktor keberuntungan, rejeki yang telah diberikan Tuhan untuk mereka. Lantas, bila kita telah berjuang untuk meraih mimpi yang kita cita-citakan kendati kita gagal mendapatkannya, haruskah kita melupakan mimpi-mimpi tersebut? Dan menguburnya dalam-dalam? Hal terakhir inilah yang telah kualami selama 14 tahun lamanya.

Berawal dari blog-walking yang kulakukan selama berbulan-bulan, terdamparlah aku di beberapa blog yang sangat menginspirasiku dan benar-benar menamparku, mengingatkanku kepada impian di masa lalu yang telah kulupakan (Empat belas tahun, sodara-sodara 😀 bayangkan!). Beberapa blog tersebut antara lain :

Blog pramugalau (baca : Radina Nandakita) yang berkisah tentang pengalamannya sebagai seorang pramugari. Dina (Radina, red) tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang pramugari, ia justru berkeinginan menjadi seorang penulis. Dan melalui blognya itulah  impiannya terwujud. Tulisannya menginspirasi banyak orang yang bercita-cita menjadi pramugari atau Flight Attendant wannabes.

Blognya Mbak Feli at http://www.sifelicity.wordpress.com yang akhir-akhir ini habis kuobrak-abrik saking amazednya daku membaca tulisan-tulisan beliau =)) . Sumpah cerita-cerita beliau kocak habis tentang pengalamannya sebagai ‘imigran terang’  di negara yang nun jauh di kutub utara sana (wuidih, jauh amir Mbak). Apalagi kalau sudah menceritakan banyolan-banyolan yang dilontarkan oleh Mr. T sang hubby (suami) tercinta beliau yang berkebangsaan Norwegia, bikin aku ngakak baca ceritanya. (Ampun digetok sama Mbak Feli, berani nyebut gak berani bayar. Haha…). Tapi aku benar-benar salut karena impian Mbak Feli untuk menginjak tanah Bangsa Viking itu terwujud setelah ngidam lebih dari 20 tahun lamanya. Well-done untuk Mbak Feli (Y)

Blognya Kuma-sensei yang berhasil mengikuti teacher training program di Nara-Jepang selama 6 bulan. Untuk blog ini aku belum banyak menjarah  kisah yang dialami Kuma-sensei, tetapi aku salut dengan perjuangan beliau yang memiliki ideologi sama denganku. Hidup JEPANG!!! Eh…

Empat belas tahun lalu saat aku kelas 3 SMP aku telah menggantungkan mimpiku untuk dapat berkunjung ke Jepang. Entah untuk melanjutkan study di sana, maupun bekerja atau jalan-jalan sebagai turis. Dorama-dorama Jepang telah banyak menginspirasiku dalam banyak hal. Sebenarnya sih aku jatuh cinta sama sosok Honami Suzuki yang pernah memerankan tokoh Rika Akana dalam dorama Tokyo Love Story, hehehe… dorama tersebut pernah booming saat aku kelas 3-4 SD (1996). Waduh melihat kesabaran sosok Rika dalam menghadapi karakter Kenji, pemuda polos yang dicintainya, bikin aku geregetan. Pengen rasanya nonjok muka si Kenji yang bikin Rika menangis dalam hati, membuat Rika selalu patah hati setiap kali mendengar Kenji menyebut nama Minami, gadis lain yang disukainya. Eh, enggak ding entar aku dihajar para penggemarnya Oda Yuji yang jadi pemeran si Kenji lagi 😀 .

image

image

Honami Suzuki, istri idamanku

Bukan hanya Tokyo Love Story yang telah membuatku jatuh cinta kepada Jepang, sejumlah dorama yang lain juga membuatku tergila-gila akan Jepang, sebut saja :

image

Film Oshin yang pernah kutonton saat aku masih 5 tahun (1990) dan waktu itu masih menonton pakai tv hitam-putih di rumah nenek. Filmnya benar-benar menguras air mata. Kebayang nggak sih kerasnya hidup si Oshin yang berjalan menggendong anak di tengah badai salju? Belum lagi perlakuan mertuanya yang kejam terhadapnya, sampai Oshin hanya diberi makan dedak. Hiks, malang benar nasibmu Oshin…

image

Ordinary People tentang Kakei dan Narumi yang terlibat cinta lokasi di kampus bersama genk mereka Asunaru Hakusho. Ah, yang namanya cinta pertama memang sulit dilupakan. Walau Kakei banyak yang suka, namun  Narumi selalu setia menantikan cintanya.

image

Rindu-rindu Aisawa. Wuah, dijamin termehek-mehek nonton film satu ini. Nggak tega lihat anak kecil mengais makanan di tong sampah. Suzu bocah berumur 9 tahun harus tahan banting menghadapi pahit getir perjalanan hidupnya. Ia harus berjuang mencari uang demi membiayai ibunya yang dirawat di rumah sakit. Ia sampai harus mencuri demi menyelamatkan nyawa ibunya, belum lagi perlakuan ayah tirinya yang gemar merampas uang hasil curiannya untuk dipakainya berjudi, main perempuan, dan sebagainya. Suzu diperlakukan semena-mena oleh ayah tirinya tersebut sampai dijual kepada seorang kakek keluarga kaya raya yang sedang mencari cucunya yang hilang dan memiliki banyak kemiripan dengan Suzu.

image

Anchorwoman, lagi-lagi Honami Suzuki. Kali ini Honami menjadi Tamaki Aso-presenter berita tv Channel 2 yang paling top seantero Jepang lalu turun pamornya setelah ia ditinggal mati oleh suaminya, lantas ia pindah ke stasiun tv kabel Niko-niko yang tidak begitu dikenal masyarakat Jepang. Belum lagi secara tiba-tiba putra tunggal mendiang suaminya muncul ke hadapannya untuk pembagian warisan yang belum diatur jelas oleh mendiang suami di saat pamor Aso mulai merosot di tv Channel 2. Kegigihan Aso untuk meraih kembali keberhasilannya benar-benar patut ditiru. Ia berhasil bangkit menjadi the best tv reporter se-Jepang di tengah keterpurukannya. Akting Honami Suzuki dalam dorama ini sekali lagi memukau pemirsanya. I love you Honami Suzuki ❤

image

Itazura na Kiss, tentang gadis bodoh bernama Aihara Kotoko yang mencintai lelaki paling jenius di sekolahnya-Irie Naoki. Sumpah aku salut sama perjuangan si Kotoko yang rajin belajar supaya bisa menjadi siswi yang pintar sekaligus mendapatkan cintanya Naoki yang terkesan dingin padanya. Yang menarik dari Kotoko adalah kupingnya yang caplang, sumpah pengen jewer itu kuping =))

Fighting Girl, beda budaya? Bukan berarti tidak dapat membina persahabatan kan? Begitulah tema dorama yang diperankan si cute Kyoko Fukada yang konon mirip Agnez Mo. Kyoko juga pernah sukses bermain dalam serial Kamisama sebagai pelajar SMA yang mengorbankan kesuciannya demi melihat konser tokoh idola, Sampai-sampai ia terkena HIV AIDS.(ups, yang ini jangan ditiru ya pemirsa).

image

image

image

Onizuka bersama kelas 2-4, biang masalah di sekolah

Great Teacher Onizuka. Errrgh, seandainya di dunia ini karakter para guru seperti Onizuka, mungkin tidak akan banyak murid bandel di sekolah. Akting Oda Yuji sebagai Onizuka benar-benar cool. Walaupun secara fisik tetap lebih ganteng saat memerankan tokoh Kenji dalam Tokyo Love Story. Onizuka adalah seorang mantan preman yang alih profesi menjadi seorang guru. Ini preman habis insyaf kali ya? 😀  Gara-gara menghajar seorang wakil kepala sekolah yang bertindak semena-semena terhadap seorang murid yang bermasalah, kepala sekolah yang sedang menyamar sebagai petugas cleaning service langsung menerima Onizuka begitu saja untuk menjadi guru di sekolah yang dipimpinnya. Sialnya, dewan sekolah yang telah kena hajar Onizuka, balas dendam dengan menempatkannya di sebuah kelas yang dijuluki sebagai kelas neraka, karena kelas tersebut dihuni oleh para siswa dan siswi yang kelewat bandel. Apakah Onizuka gentar menghadapi ulah kenakalan mereka? Siapa sangka Onizuka justru berhasil menaklukkan dan menundukkan mereka berkat usahanya yang pintar mencarikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi para muridnya. Gak sadar kalau aku menjadi guru karena terinspirasi dorama ini, hehehe… 🙂

Wah, ketahuan deh dorama-lover banget ya sodara-sodara =)) meskipun demikian, banyak sekali pesan moral yang disampaikan dorama-dorama Jepang kepada pemirsanya. Misalnya beberapa dorama seperti Anchorwoman, Great Teacher Onizuka, dan Terms for a Witch menyampaikan pesan moral kepada kita untuk berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Dorama Itazura Na Kiss memberi pesan agar kita selalu berjuang untuk meraih apa yang kita cita-citakan, perjuangkanlah apa yang kita inginkan karena begitu kesempatan itu datang, ia belum tentu datang untuk kedua kalinya. Tidak seperti sinetron Indonesia yang banyak menunjukkan tayangan tidak mendidik dan tidak jelas alur ceritanya.

Tapi selain itu masih ada banyak hal yang membuatku jatuh cinta kepada Jepang, seperti :

Keindahan alamnya yang luar biasa, empat musim yang dialami negeri sakura ini menambah eksotisme negara Jepang. Salju di Sapporo, Gunung Fuji yang menjadi gunung keramat Bangsa Ainu, musim semi yang dipenuhi helaian kelopak bunga sakura, sampai musim gugur yang merah keemasan oleh dedaunan maple.

Teknologinya yang canggih : robot, kereta shinkansen, game, mesin-mesin yang bertengger di pinggir jalan,  sampai sarana transportasinya yang luar biasa modern.

Budayanya yang keren, perpaduan antara budaya tradisional dan gaya barat, seperti Harajuku style. Jepang dapat mempertahankan kebudayaan tradisional di tengah invasi budaya barat yang masuk ke negaranya.

Tulisan Jepang yang unik (walaupun adopsi aksara han zhi milik China). Namun aksara Jepang sangat menarik dengan adanya perpaduan hiragana dan katakana yang membuat karakter tulisan Jepang jadi lebih hidup sebagai kearifan budaya lokal.

Kedisiplinan masyarakat Jepang dengan etos kerja yang tinggi, kesadaran bertanggung jawab, kerja sama dalam kelompok, dan toleransi yang begitu besar terhadap komunitasnya.

Komik (manga) yang jalan ceritanya selalu menarik, penuh fantasi, pesan moral, dan angan-angan yang sangat imajinatif. Aku sangat menyukai komik Detective Conan hingga mengoleksinya sampai jilid ke-56, Salad Days, Dragon Ballz, dan beberapa koleksi lain. Semua kukoleksi sejak bangku SD lho. Di samping itu aku juga gemar menggambar tokoh komik. Sempat tersirat juga ingin menjadi seorang mangaka (komikus), sayangnya ilmu menggambarku sangat terbatas (bilang aja gak punya bakat). Hiks 😦

Bahasa Jepang, walaupun kaku dari segi suku katanya sebenarnya Bahasa Jepang merupakan bahasa yang paling mudah pengucapannya karena pelafalannya kurang lebih masih sama dengan Bahasa Indonesia. Waktu aku pertama kali mempelajari Bahasa Jepang, aku menikmatinya seperti sedang mempelajari ilmu tajwid dalam Al-Quran. Bahasa Jepang memiliki hukum pelafalan bunyi yang mirip dengan ikhfa, idhar, dan idgham dalam ilmu tajwid. Sebagai contohnya nih ya : kata ‘kenka’ yang berarti gempa dibunyikan ‘kengka’, kata ‘shanpo’ yang berarti jalan-jalan dibunyikan ‘syampo’, nah yo apa saja tuh hukum bunyinya?

Jadi sejak aku masuk SMA, aku sengaja memilih SMAN 5 Bogor supaya bisa mendapatkan pelajaran Bahasa Jepang gratis. Wuahahahaha… dan berhasillah aku menjadi student Master of Japanese sejagad SMA. Teman-teman di sekolahku sampai sering menunduk hormat padaku setiap kali berpapasan denganku di koridor sekolah. Pasalnya aku sering mendapat soal ujian khusus yang dibedakan oleh guru Bahasa Jepangku setiap ujian semester tiba, saking pintarnya aku dalam pelajaran Bahasa Jepang (Ehem, bukan maksud mau menyombongkan diri sih). Euis Djuariah-sensei guru Bahasa Jepangku sampai menganggapku anak karena aku rajin mendekati beliau (sst… ini rahasia lho!) oleh beliau aku dimasukkan ke dalam grup Bahasa Jepang binaan beliau, di mana para anggota komunitas tersebut adalah sekelompok anak, putra para atase Indonesia untuk Jepang. Jelas dong mereka sudah pernah pergi ke Jepang. Cuma aku yang belum pernah ke Jepang. Hiks 😦 tapi hebat kan, aku bisa masuk komunitas mereka? (Senyum ala devil n_n). Nama komunitasnya adalah ‘5-fun Dake’, kami berkumpul hanya untuk berbagi cerita dalam Bahasa Jepang dengan durasi masing-masing 5 menit. Dari informasi-informasi yang diberikan oleh para anggota komunitas inilah akhirnya aku mengenal pusat kebudayaan Jepang (The Japan Foundation) dan Kedutaan Besar Jepang. Lalu aku sering berkunjung ke sana untuk meminjam buku di perpustakaan lembaga-lembaga tersebut sekalian mencari informasi selengkap-lengkapnya mengenai beasiswa kuliah di Jepang : MONBUKAGAKUSHO.

Ya, beasiswa tersebut telah aku incar sejak aku kelas 1 SMA. Mati-matian aku berjuang agar bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Pokoknya aku harus bisa ke Jepang. Titik. Ups, sebentar, ceritanya belum habis masih pake koma lagi ya (hihihi…), semoga pembaca tidak ngantuk. Untuk itu aku sampai mengikuti Ujian Kemampuan Berbahasa Jepang (JLPT/Noryoku Shiken), yang mana Euis-sensei menyuruhku untuk mengikuti level 3 (level sedang) tanpa memulai dari level terendah (waktu itu level 4 masih level terendah) terlebih dahulu. Beberapa hari menjelang ujian, aku belajar  siang-malam pakai Sistem Kebut Semalam, supaya bisa lulus dan mendapat sertifikat N3. Walhasil pada hari ‘H’-nya ujian berlangsung, hidungku meler dipenuhi lendir yang sukses membuatku tidak bisa konsentrasi mengerjakan soal. Akhirnya beberapa bulan kemudian sertifikat N3 pun diantar ke sekolah, dan Euis-sensei menunjukkannya padaku dengan ekspresi wajah yang ditekuk. Dalam sertifikat tersebut tertulis  jelas namaku telah FAILED mengikuti Noryoku Shiken Level 3. Hebat kan sodara-sodara 😀

Padahal kampus impianku Todai (Tokyo Daigaku aka University of Tokyo) telah lama kudambakan. Aku ingin berkuliah di sana mengambil program sosiologi (humaniora), atau fakultas yang berkaitan dengan profesi reporter, pembaca berita, ataupun peramal cuaca (karena kecintaanku terhadap Tamaki Aso aka Honami Suzuki). Aku terus berusaha agar beasiswa monbukagakusho itu berhasil kugenggam. Saat aku lulus SMA, seleksi nilai rapor dan NEM-ku lolos. Yippee… Aku dipanggil oleh pihak kedutaan untuk mengikuti tes tertulis : Sejarah, Matematika, dan Ekonomi yang mana kesemuanya dicetak dalam Bahasa Inggris. Lagi-lagi aku lolos. Namun aku menghadapi tantangan, ibuku tidak meridhai kepergianku ke Jepang. Alasannya adalah ibuku tidak mau aku menjadi anak yang durhaka. Aneh? Dalam surat perjanjian antara pemerintah Jepang dengan calon penerima beasiswanya terdapat butir yang menyatakan, “Pemerintah Jepang tidak menanggung biaya kepulangan mahasiswa ke tanah airnya selama mahasiswa tersebut masih menjalani study,” dengan kata lain seumpama terjadi sesuatu hal terhadap keluargaku di Indonesia misalnya sakit atau meninggal dunia, aku tidak dapat pulang untuk melihat mereka. Terkecuali aku punya ongkos sendiri. Dan berhubung keluargaku tidak mampu, tentu aku tidak bisa pulang dengan ongkos sendiri. Pada akhirnya aku menggugurkan beasiswa yang sebenarnya sudah di depan mataku kala itu. Betapa bodohnya aku, bukan?

Alasan lain mama melarangku ke Jepang adalah karena aku satu-satunya tumpuan harapan mama untuk menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai seorang janda, mama merasa sudah tidak produktif untuk bekerja (41 tahun). Aku sangat diharapkannya untuk bisa membiayai dua orang adikku yang masih sangat kecil. Padahal waktu itu aku bertekad, sebagian dari uang beasiswaku akan kukirimkan untuk mama seumpama aku berhasil dikirim ke Jepang, dan aku juga akan mencoba bekerja part time di Jepang demi membantu mama. Namun mama tetap tidak mengizinkanku pergi.

Aku benar-benar kecewa pada mama yang melarang keras untuk mengambil beasiswa tersebut. Sampai lalu kuputuskan untuk hijrah ke Pulau Kalimantan tempat di mana aku berada sekarang, mengucilkan diri selama sepuluh tahun lamanya karena perasaan malu kepada teman-temanku di Bogor yang berhasil melanjutkan study ke universitas-universitas ternama di negeri ini. Aku malu tidak dapat melanjutkan study ke perguruan tinggi dikarenakan tidak memiliki biaya. Lantas di Pulau Kalimantan inilah akhirnya aku mencoba mencari kerja dengan berbekal hanya selembar ijazah SMA. Di tanah ini pula aku mengalami jatuh bangun mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menata masa depanku, hingga akhirnya impian-impianku tentang Jepang menjadi sirna. Impianku untuk berkunjung ke sana terlupakan begitu saja seiring berjalannya waktu yang tengah mengantarku menuju masa depan dengan selembar ijazah sarjana yang telah kuperoleh dari UT.

Sekarang setelah 10 tahun berlalu tugasku membantu keluarga sedikit-banyak berkurang, adikku yang pertama telah berhasil mewujudkan impiannya, terbang melanglang buana mengunjungi pelbagai pelosok negeri, sebagai seorang pramugari. Tentu saja dia telah menjadi kebanggaan mama. Dan kini mama lebih bergantung padanya. Dulu akupun pernah mendambakan pekerjaan tersebut (pramugara). Namun aku tak pernah mendapat dukungan dari mama. Alhasil aku hanya bisa menjadi seorang penerus Oemar Bakri di tanah pedalaman ini. Miris rasanya segala apa yang kucita-citakan hanya mendapat cibiran. Tapi setidaknya aku telah menunjukkan kepada mama bahwa aku telah tumbuh menjadi anak yang mandiri, aku mampu berdiri dengan kakiku sendiri. Sekarang sudah saatnya aku bebas mewujudkan mimpi-mimpiku yang dulu terkubur, bukan?

Hingga pada suatu hari, saat aku mengomentari blog seorang teman : Mas Adi Wibowo. Yang kukenal melalui Blog MyOpera. Tidak kusangka komentarku tentang Bahasa Jepang di blognya telah menginspirasi (atau lebih tepatnya memotivasi) beliau untuk meraih impiannya bekerja di Jepang. Pertemanan kami lalu merambah ke media sosial lainnya : Facebook, WordPress, dan BBM. Tak dinyana beliau berhasil meraih impiannya tersebut. Dan kini sudah berada di Jepang setelah menjalani perjuangan yang begitu panjang. Tinggal aku yang belum berhasil mewujudkan impianku. Sekarang malah beliau yang terus gantian menyemangatiku  agar aku dapat segera menyusulnya. Walau dulu mimpiku ini sempat ditentang oleh mama, salahkah bila sekarang aku masih terus bermimpi agar segera terbang ke sana? Walau bukan untuk menemui Honami Suzuki, maupun berkuliah di Todai dengan jurusan jurnalistik dan sosiologi. Aku ingin ke sana untuk menimba ilmu-ilmu lain yang belum kuketahui dan ingin kugali. Membaca tulisan para blogger yang namanya kucantumkan di atas, hatiku telah mantap mengatakan : “YA, MENGAPA HARUS TAKUT UNTUK BERMIMPI?”

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

2 responses to “Jangan Takut Untuk Bermimpi

  1. Felicity

    Waduh, saya jadi terharu membaca kisah perjuangan dalam postingan…. Saya cuma mau bilang: better late than never…. lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali…. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengejar impian dan cita2x…. dimana ada kemauan, di situ ada jalan…. Jangan sampai nanti saat usia senja ada penyesalan2x mengenai hal2x yang tidak atau belum dilakukan semasa kita ada waktu dan kesempatan…. karena waktu yang sudah lewat tidak bisa kembali lagi….Ayo, mulai lagi menata impian2x tadi dan menyusun langkah2x strategis untuk mencapainya! Yes you can… 🙂 Good luck!

    • Wow, saya tidak menyangka akan mendapatkan kunjungan balik dari Mbak Feli. Sebelumnya saya minta maaf dulu ya Mbak sudah lancang menyebut nama Mbak di atas. Tapi jujur lho Mbak, Mbak Feli adalah salah satu inspirator bagi saya. Saya suka semua tulisan Mbak.

      Terima kasih banyak atas dorongan (support), dan motivasinya. Saat ini saya sedang memulai kembali semuanya dari nol. Saya akan terus mencoba mewujudkan semua yang saya cita-citakan dan saya impikan selama ini. Semoga saja, saya segera berhasil meraihnya. Mohon doanya ya Mbak. Salam untuk Mr. T. Kalau berkunjung ke Kalimantan Tengah, jangan ragu untuk menghubungi saya, sebab saya tidak akan minta oleh-oleh kulkas dan mesin cuci kok. Paling-paling saya cuma minta oleh-oleh tolong bawakan fjord sama canoe dari Norway. Hehehe… 😀 #digetok Mbak Feli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s