Posted on

Tahun Keduaku di Kalimantan

image

Tahun Keduaku di Kalimantan

Juli 2005
Ini merupakan tahun kedua aku tinggal di Kalimantan. Tanpa terasa aku telah melewatkan setahun hari-hariku yang sempat terasa seperti dalam penjara karena hidup dalam serba keterbatasan. Masih ingat kan dalam postingan-postinganku sebelumnya tentang Kalimantan? Di desa tempat tinggalku belum ada saluran listrik dari PLN, kami hanya dapat menikmati listrik desa 5 jam sehari (menyala pukul 5 sore padam pukul 10 malam), belum ada saluran telepon dari operator manapun, satu-satunya sarana komunikasi hanyalah sebuah wartel yang terletak di pusat pertokoan desa (maaf bukan pasar) sekitar 2 km dari rumah kami. Jadi bila ada keluarga kami dari Jawa yang berkepentingan dengan kami hanya bisa menghubungi pihak penjaga wartel, kemudian penjaga wartel akan menjemput kami agar kami menelepon balik keluarga yang telah menghubungi pihak penjaga wartel, belum lagi kami pun harus membayar jasa penjemputan Rp15.000 sekali jemput, berhubung di desa kami tidak ada sarana transportasi umum.

Udara di Kalimantan sangat panas, dan airnya mengandung PH asam yang sangat tinggi. Maka jangan heran kalau melihat orang-orang perantauan dari Jawa atau Sumatra dan Sulawesi kulit mereka akan berubah menjadi gelap setelah beberapa hari tinggal di Kalimantan. Dan kulit mereka akan kembali bersih bila pulang ke kampung halamannya masing-masing. Belum lagi penyakit yang umum ditemukan adalah SAKIT GIGI. Tahu kenapa? Karena kadar zat asam yang terlalu tinggi pada kandungan air di Kalimantan. Berbeda dengan suku pribumi : Dayak, Melayu, dan Banjar, kulit mereka putih bersih sepanas apapun Pulau Kalimantan dan gigi orang Dayak pun bagus-bagus karena kebiasaan mereka yang suka menginang.

The story begins, jadi setelah aku pulang kampung dari Bogor menghabiskan liburanku di sana, aku terkejut datang kembali ke Kalimantan, bibiku menyampaikan bahwa selama aku pergi berlibur, A Iwan tetangga kami telah beberapa kali mendatangi rumah bibi untuk mencariku. Ada apa ya? Pikirku waktu itu. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menemui A Iwan di rumahnya. Berita yang sangat mengejutkan pun kuterima darinya. “A Sugih dicari sama Pak Arif kepala SMAN 1 Balai Riam, katanya mau diminta mengajar Bahasa Inggris, bisa enggak?” Ujar A Iwan waktu itu. Tanpa pikir panjang, hari itu juga aku diantar sepupuku ke rumah kepala sekolahnya membawa berkas ijazah dan STTB. Tapi ternyata beliau tidak ada di rumahnya, tak payah kami pun berhasil menemuinya sedang menanam pohon akasia di sekeliling sekolah.

Adalah Pak Arifandi yang akrab disapa Pak Arif, seorang humoris bertubuh gempal dengan tinggi badan yang agak rendah, dan senang bercanda. Singkat cerita pada pertemuan itu juga Pak Arif langsung memberiku rincian tugas sebagai staf pengajar SMA Negeri 1 Balai Riam, sekolah yang baru saja diresmikan status penegeriannya dari status swasta di bawah naungan PGRI. Aku diminta beliau untuk mengajar sastra : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jepang! Tidak tanggung-tanggung, bukan! Mimpikah ini? Aku hanya seorang tamatan SMA tetapi aku harus mengajar di SMA! Terus terang, mengajar di SMA adalah impianku ketika aku masih duduk di bangku SMA. Ketika masih SMA aku melihat sepertinya asyik kalau aku mengaitkan sastra Inggris-Jepang-dan Indonesia menjadi satu! Aku ingin menjelaskan kepada publik variabel-variabel sastra yang saling berkaitan tersebut. Mungkin dengan jalan menjadi seorang guru, aku dapat melakukannya. Sayangnya cita-citaku menjadi seorang guru tidak mendapat dukungan dari ibuku, “Jadi guru itu gajinya kecil!” Cibir ibuku. Tetapi ibuku juga tidak menuntutku harus menjadi apa aku kelak, semua mungkin karena ibuku tidak sanggup membiayaiku untuk terus melanjutkan sekolah.   
image

SMA Negeri 1 Balai Riam hanya memiliki 4 ruang kelas dengan jumlah siswa berkisar 128 orang. Jumlah staf pengajar waktu itu hanya ada 6 orang, diantaranya : aku, Pak Jahrani, Bu Yani, Pak Yani, Bu Wulan, dan Bu Yuli. Setiap guru memegang minimal 2 pelajaran. Di antara kami hanya Pak Jahrani-lah satu-satunya guru yang berstatus PNS. Tetapi seiring berjalannya waktu setiap tahun SMA Negeri 1 Balai Riam (SMANBA) mendapat tambahan gedung baru plus guru baru yang ditempatkan bertugas di sekolah kami setelah diangkat PNS oleh pemda setempat. Pernah loh, gara-gara suatu masalah, Bu Yani mengundurkan diri. Sementara saat itu tidak ada orang yang dapat menggantikan beliau. Maka, karena otakku masih segar dan pelajaran di SMA masih nyangkut di kepalaku, aku kasihan melihat murid-muridku ketinggalan pelajaran, lantas aku memberanikan diri untuk menggantikan Bu Yani sementara waktu hingga suatu saat nanti akan ada orang yang lebih tepat sesuai bidangnya untuk mengajar. Jadi akhirnya aku mengajar sampai 9 mata pelajaran di SMANBA : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Ekonometri, Akuntansi dan Tata Negara. Wow! Untunglah itu hanya bertahan selama satu semester, karena guru-guru PNS pun mulai bermunculan di semester berikutnya.

Hidupku semakin bergairah setelah aku mengajar di SMANBA. Mungkin pembaca mengira, aku suka mengajar di SMA karena di SMA banyak ABG yang menyejukkan mata? Maaf, aku tidak pernah berpikiran ke sana. Justru kadang aku sedikit parno kalau aku memasuki kawasan Balai Riam di mana mayoritas etnik penduduknya adalah Dayak! Aku sering teringat peristiwa Tragedi Sambas dan Sampit bila bertemu orang Dayak. Walaupun aku bukan etnis Madura, aku kadang merasa tidak aman bila sudah bertemu Suku Dayak pedalaman. Entah mengapa aku sering ketakutan sendiri kalau teringat dua tragedi mengenaskan di tanah Borneo ini. Tapi ada satu kejadian yang memupus perasaan takutku itu. Suatu hari saat aku sedang berjalan-jalan seorang diri di perkampungan orang Dayak, aku bertemu seorang nenek yang juga sedang berjalan dari arah yang berlawanan denganku. Beliau tidak memakai alas kaki, di kepalanya terikat sebuah keranjang (buya) yang terbuat dari anyaman rotan. Telinga nenek itu sangat panjang dan dipenuhi anting berukuran besar. Agak takut aku menyapa nenek itu, “Mau ke mana Nek?” Kemudian nenek itu pun menjawab dalam Bahasa Dayak yang tidak kumengerti sama sekali. Adapun sedikit Bahasa Dayak setempat yang kuketahui adalah : Au = Iya, Cada = Tidak, Bujur = Betul, Pengeramput = Pembual, Bungul = Bodoh, Ikam = Kamu, Pian = Anda, dan di setiap akhir kalimat selalu diakhiri bunyi ‘Am’. Misalnya : Au, bujur am! Artinya kira-kira begini : Iya, betullah! Nah, kembali ke cerita nenek tadi, aku bilang pada si nenek kalau aku belum terlalu mengerti Bahasa Dayak. Eh, nenek itu malah tersenyum seraya berkata, “Saya mau pulang, mari Nak berkunjung main ke rumah saya! Rumah saya ada di kampung seberang!” Melihat keramahan di wajah si nenek, perasaan takutku mengenai Suku Dayak sirna sudah. Untuk apa kita merasa takut kepada orang lain kalau kita tidak merasa bersalah. Jangan pernah menjudge orang lain dari penampilan luarnya, tapi lihatlah hatinya!

Menghadapi siswa-siswa SMA di SMANBA adalah suatu hal yang mengejutkan bagiku. Aku mengalami cultural shock yang begitu hebatnya, tetapi sesuai kata pepatah “Lain padang lain belalang! Lain lubuk lain pula ikannya!” Maka aku harus bisa beradaptasi dengan adat kebiasaan setempat. Kalau dulu semasa sekolah di Bogor, semua murid akan tunduk dan menyalami gurunya seraya mencium tangan saat berpapasan di jalan. Maka di SMANBA berbeda, tidak ada murid yang mau mencium tangan gurunya setua apapun gurunya. Di sini, guru dipandang sebagai teman, bukan orang tua pengganti orang tua di rumah. Banyak rekan guru yang memacari muridnya sendiri. Maka tak aneh kalau melihat murid bersikap tidak sopan pada gurunya. Pernah suatu kali saat aku sedang mengajar, salah seorang muridku (orang Dayak) sama sekali tidak menyimak materi pelajaran yang sedang kujelaskan. Ia malah asyik tiduran di lantai. Spontan aku pun menegurnya mempersilakannya untuk meninggalkan kelas, karena suara dengkurannya sangat mengganggu konsentrasi siswa yang lain. Apa yang kuterima? Anak Dayak tadi malah enggan beranjak dari tempatnya sambil mengancamku, “Apa hakmu melarangku tidur di kelas? Kau tuh pendatang, aku nih asli sini! Mau kubawakan mandau kah?” Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak. Awalnya aku sempat takut mendengar ancaman muridku itu, terus terang yang membuatku takut bukan karena dia suku pribumi, melainkan karena umur muridku itu sedikit lebih tua dariku, lucu kan? Aku khawatir dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Tapi syukurlah, murid-muridku yang lain dan juga sesama orang Dayak membelaku, “Kau itu harus belajar sopan santun, jangan adat dari kampung kau, kau bawa-bawa ke sini! Itulah gunanya sekolah!” Hardik teman si anak Dayak tadi. Anak yang tidur itu pun langsung pergi meninggalkan kelas setelah ditegur teman-temannya.

Satu hal lain yang berbeda dari SMANBA dibandingkan dengan sekolah lain adalah segudang prestasinya yang diraih dengan cara banyak berlatih! Pak Arif kepala sekolah kami sangat menyukai seni, terutama seni musik dan tari. Gerakan beliau sangat lemah gemulai saat membawakan tarian-tarian Dayak. Lucunya beliau mempunyai peraturan yang ditujukan kepada para guru seperti ini : “Kalau ada kegiatan ekstrakurikuller atau persiapan lomba apapun itu, tolong diusahakan jangan sampai mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas! Lakukan kegiatan-kegiatan itu di luar jam pelajaran sekolah!” Maka tidak ada satu orang pun di antara kami para guru yang berani melanggar peraturannya. Tetapi kalian tahu, apa yang terjadi jika Pak Arif ingin mengikutsertakan SMANBA dalam kontes-kontes menari? Tiga bulan berturut-turut latihan menari gencar dilaksanakan tanpa mempedulikan jam entah itu masih jam pelajaran sekolah atau bukan! Dung prak teng tong teng dung suara musik pun terdengar gaduh hingga radius 2 km. Kalau sudah begini, seantero sekolah pun tidak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran. Siapakah yang telah melanggar peraturan?

Meskipun aku sudah mengajar di SMA bukan berarti aku berhenti mengajar Bahasa Inggris di SD! Aku masih tetap mengajar di SD hanya satu hari full! Jadi 5 hari lainnya aku fokus di SMA. Selama beberapa tahun pertama aku mengajar di SMANBA, aku sering berjalan kaki pulang pergi. Padahal jarak dari Desa Bangun Jaya ke Balai Riam kurang lebih 10 km! Jadi setiap hari aku menempuh perjalanan 20 km. Masih beruntung ya Oemar Bakri berangkat mengajar bisa naik sepeda ontel! Ya, inilah hidup! Hidup adalah rantai perjuangan yang tidak pernah ada putusnya!

Tampaknya di tahun kedua aku tinggal di Kalimantan (2005) aku mulai betah merasakan hidup di Kalimantan. Terutama karena alamnya, kebudayaannya, dan hal menarik yang kusukai adalah melihat sebuah desa yang perlahan-lahan mulai berkembang. Seiring berjalannya waktu aku melihat banyak perubahan yang telah terjadi di daerah pelosok ini. Tiang-tiang tower telepon selular telah terpancang, komunikasi semakin lancar. Konter-konter hp mun semakin bermunculan. Jalanan telah diaspal, akses menuju kota semakin baik. Rumah-rumah penduduk semakin layak, mereka mengubah rumah papan bekas transmigrasi menjadi rumah-rumah beton megah bagaikan istana. Banyak penduduk hidup berkecukupan, mobil mewah, motor bagus, plus hasil panen sawit setiap bulannya yang menggiurkan. Tak perlu bekerja menjadi pegawai, cukup ongkang kaki di rumah! Namun, berbeda denganku yang tak mempunyai kebun sawit, aku hanya dapat menjadi seorang penonton! Sehingga aku tak dapat berongkang kaki menunggu hasil panen tiba! Perananku hanyalah memajukan dunia pendidikan di ranah pedalaman yang sedang berkembang ini! Walaupun sekarang (2014) setelah 10 tahun lamanya aku menjadi penduduk Kalimantan dan penghasilanku pun mulai meningkat sebagai dampak positive meningkatnya penghasilan warga dari hasil panen sawit, aku masih berkeinginan untuk dapat mewujudkan impianku menimba ilmu di negeri sakura, Jepang! Bagaimanapun tanah Kalimantan adalah prospek masa depanku yang cerah, tetapi masa depan tidak akan berjalan seimbang jika tidak dimbangi dengan ilmu! Aku hanya dapat meneruskan hidup dengan sisa-sisa semangat perjuangan yang masih kumiliki. Suatu saat nanti mungkin aku dapat mewujudkannya, semoga!

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s