Posted on

Serial : Raida Hutagalung #2

image

My Drama (MVPX Lover) #2

Written by : SUGIH

===00•00===¤0¤===00•00===

Siang itu panas matahari begitu terik, namun derap langkah kaki Raida mengayun dengan riang. Hatinya sudah kebat-kebit tidak sabar ingin segera bertemu Mr. Bunny si pangeran kelinci pujaannya yang telah mencuri hatinya kemarin siang sepulang sekolah. Pertemuan mereka baru saja 23 jam 23 menit 23 detik berlalu, tapi rasanya seperti sudah 23 tahun tak bertemu. Oleh karena itu Raida merasakan rindu yang begitu berat, rindu yang begitu dahsyatnya, melebihi kedahsyatan apollo yang akan meluncur ke bulan apalagi kedahsyatan bom atom yang dulu pernah meledakkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 di Jepang. Ia begitu rindu pada tatapan mata si Mr. Bunny yang telah berhasil menggetarkan hatinya juga pada sepasang telinganya yang menurutnya sangat aneh! Ya, telinga pemuda itu sangat aneh menurutnya, dapat mengibas-ngibas sendiri, mengembang dan melebar ke arah samping sehingga terlihat caplang. Telinga gajah bukan! Telinga ikan juga bukan! Wew, memangnya ikan punya daun telinga gitu? Tapi aaaah, telinga itu begitu lucu selucu tokoh kartun kelinci imut Bugs Bunny, tokoh kartun favoritnya. Sehingga Raida lebih suka menjuluki pemuda berparas tampan itu dengan sebutan Mr. Bunny. Tak seorang pun menyangka, justru dari telinga aneh itulah sinyal-sinyal cinta mulai timbul di hati Raida dan berharap sinyal-sinyal itu akan tertangkap juga oleh sang Pangeran Kelinci lewat telinga ajaibnya. Sungguh suatu fenomena yang sangat langka dan jarang terjadi pada diri Raida. Masuk museum saja kalau gitu!

image

Dia tahu, bertandang ke SMA Negeri X yang selama ini menjadi pesaing berat sekolahnya tentu akan menjadi sorotan aneh seluruh warga SMA Negeri X. Ada apa seorang pelajar dari SMA Negeri V berkunjung ke SMA Negeri X di tengah siang bolong? Apakah dia ingin menjadi sosok penampakan? Atau ingin menjadi ‘perempuan di sarang penyamun’? Kaya judul novel aja! Ah, enggak banget! Memangnya seluruh warga sekolah di SMA Negeri X itu penjahat apa? Lagi pula memangnya ada ya sekolah khusus penjahat? Kalau ada si Raida juga mau ikutan atuh, supaya bisa menjadi pencuri kelas kakap! Pencuri hatinya para cowok cakep! Duileh, Raida segitunya…

Untuk mengatasi hal-hal negative itu tentu saja Raida sudah berusaha mengantisipasinya dengan cara memakai sebuah jaket guna menutupi bet lokasi sekolah yang terpasang di lengan seragamnya. Ditambah lagi sunglasses yang baru saja dibelinya kemarin pagi dari Bang Bokir pedagang kaki lima langganannya, terpasang begitu eksotik di wajahnya yang tirus sehingga penampilan Raida siang hari itu bahkan jauh lebih cantik daripada penampakan kuntilanak di siang bolong! Nah loh?

“Enggak sia-sia deh pura-pura sakit di jam terakhir, pelajaran Fisika yang sangat tidak kusukai! Jadinya aku bisa izin pulang duluan deh! Hahay, coba kalau aku tadi enggak pura-pura sakit, bisa-bisa bubar sekolah keluar dari kelas kuping sama hidungku keluar asap semua kali ya? Soalnya belajar Fisika sama ngapalin rumus-rumus Fisika bukannya bikin otak aku tambah pinter, yang ada malah bikin korslet!” Raida tersenyum-senyum sendiri berdiri di depan gapura SMA Negeri X. Ia merasa yakin betul kalau Mr. Bunny belum pulang dari sekolahnya.

Tanpa disadarinya di kejauhan ada dua orang guru SMA Negeri X yang sejak tadi mengamati tingkah lakunya dan sedang membicarakannya.

“Ya ampun Jeng, kelakuan anak gadis zaman sekarang suka aneh-aneh ya? Ketawa-ketiwi sendiri di depan pintu gerbang sekolah! Pake manjat-manjat tiang gapura segala lagi! Persis anak gorilla ketiban kelapa!” Bisik seorang guru yang penampilannya sangat mirip Omas.

image

Guru lain yang diajaknya berbicara menimpali, “Iya Jeng, itu anak siswi sekolah kita bukan ya? Jangan-jangan dia membolos jam pelajaran terakhir lagi! Wah, ini tidak bisa dibiarkan nih! Ayo Jeng, kita seret dia masuk!” Penampilan guru yang satu ini tidak kalah ngejreng, sangat mirip sekali, eh bukan ding, dua kali malahan, eh seribu kali juga enggak apa-apa deh. Pokoknya sangat mirip dengan artis Oky Lukman! Bodynya, gaya rambutnya, matanya, pipinya, hidungnya, plus bibirnya yang seksi! Aseek…

image

“Pak Satpam, sini Pak!” Panggil guru yang mirip Omas tadi.

Seorang satpam yang dipanggil datang menghampiri.

“Ya, Bu Neny, ada apa ya Bu?” Sahut Pak Satpam tergopoh-gopoh membawa sepiring batagor.

“Pak Satpam ini bagaimana sih, sekolah kan belum dibubarkan, kenapa Bapak biarkan salah seorang siswi kita lolos keluar dari pagar?” Hardik guru yang ternyata bernama Bu Neny dan sekali lagi sangat mirip Omas itu. Lirikan matanya terayun-ayun pada sepiring batagor yang dibawa Pak Satpam.

Bibir Pak Satpam sangat belepotan dipenuhi bumbu saus kacang batagor yang dimakannya, “Maaf Bu, habisnya saya lapar, jadinya saya mau makan dulu,” mulut Pak Satpam masih asyik mengunyah batagor.

“Nah, terus anak itu bagaimana? Mau jadi apa generasi penerus bangsa kita kalau dibiarkan membolos di luar pagar seperti itu? Apalagi kalau sampai masyarakat melihatnya, bisa-bisa sekolah kita dicap tidak bermutu!” Guru yang mirip Oky Lukman pun turut berkoar. Sedikit-sedikit matanya melirik ke arah yang sama dengan Bu Neny.

“Mutu itu temannya cobek kan Bu? Istri saya di rumah punya banyak, Bu! Mau saya ambilkan?” Tatap Pak Satpam cengo.

“Aaaah.. Pak Satpam ini error! Pokoknya saya tidak mau tahu, sekarang juga Pak Satpam harus menangkap anak itu dan menyeretnya kembali masuk ke kelas!” Bu Neny komat-kamit mengomeli Pak Satpam.

“Ayo Bu Mince, kita tarik anak itu!” Lirik Bu Neny pada rekan di sebelahnya, saudara kembar Oky Lukman.

“Aduuh, maaf Bu Neny, saya tidak bisa! Melihat batagor punya Pak Satpam, perut saya mendadak jadi lapar, nih! Saya ke kantin dulu ya Bu, entar saya balik lagi!” Bu Mince bergegas meninggalkan Bu Neny dan Pak Satpam seraya menahan perutnya yang mendadak keroncongan.

“Eh, Bu, Bu, Bu! Ambil punya saya saja Bu! Gratis!” Cegah Pak Satpam pada Bu Mince.

“Ah, yang benar Pak? Sini Pak, saya makan ya?” Belum disorongkan, piring di tangan Pak Satpam langsung ditarik oleh Bu Mince sekejap kilat. Disantapnya batagor sisa Pak Satpam penuh kenikmatan. Tampak Bu Neny agak tergiur melihat rekannya makan dengan lahap. “Bu, sisakan sedikit ya untuk saya!” Bisiknya pelan.

“Woy, kamu ini memang dasar murid pemalas! Kabur pada jam pelajaran terakhir! Ayo, sekarang juga kamu harus kembali masuk ke kelas!” Tiba-tiba saja tangan Bu Neny sudah menjewer telinga Raida seraya menariknya masuk melewati pintu gerbang.

“Bu, ampun Bu, saya memang kabur dari sekolah Bu! Tapi sekolah saya tidak di sini Bu!” Raida berusaha melepaskan jeweran Bu Neny di telinganya.

“Alah alasan, kalau bukan siswi sekolah sini, ngapain kamu mejeng di gerbang sekolah ini?” Maki Bu Neny penuh emosi.

“Ng… Anu Bu, saya lagi nungguin pacar saya Bu!” Jawab Raida tersipu-sipu malu.

“Pacar? Memangnya siapa pacar kamu itu? Siswa di sekolah ini? Guru di sekolah ini? Atau satpam yang satu ini?” Tunjuk Bu Neny ke arah Pak Satpam.

Yang ditunjuk mendadak kegeeran, segera Pak Satpam merapikan rambutnya sekelimis mungkin.

“Bukan Bu! Pacar saya adalah siswa di sekolah ini Bu! Orangnya ganteng! Kulitnya putih, badannya tinggi atletis, hidungnya mancung, rambutnya sedikit pirang, terus kupingnya lucu Bu! Bisa kembang-kempis kaya kuping gajah Bu!” Beber Raida begitu polos. Ia tersenyum sumringah pada Bu Neny yang baru saja menjewer telinganya.

Bu Neny menatap Bu Mince, “Ssst… Bu Mince, memangnya di sekolah kita ada ya stok anak yang kaya itu?” Bisiknya pelan di telinga Bu Mince.

Mata Bu Mince berputar-putar, ia berusaha mengingat muridnya yang kira-kira berparas ganteng sesuai yang diceritakan Raida, “Kevin, Yudha, Tommy, Hendrik, Adit, …” Gumam Bu Mince menyebutkan satu-persatu daftar siswa yang menurutnya ganteng.

“Ah, Bu Mince tahu saja! Itu semua kan selera saya Bu, ternyata selera kita sama ya!” Bu Neny menyenggol lengan Bu Mince genit.

Entah mengapa pikiran kedua guru konyol itu malah beralih jadi memikirkan daftar sejumlah siswa ganteng di sekolah mereka. Mata mereka mengerjap-ngerjap tidak karuan seraya menyebutkan satu-persatu murid pujaannya masing-masing. Sementara Raida malah tak diacuhkan begitu saja.

“Bu, ibu berdua anggota PGSM ya?” Celetuk Raida sedikit jengkel.

“Apa itu PGSM? baru dengar!” Timpal Bu Mince tanpa menoleh ke arah Raida satu derajat pun.

“Persatuan Guru Senang Murid!” Jawab Raida sambil berlalu meninggalkan kedua guru itu ke luar gerbang.

Kedua guru itu saling berpandangan satu sama lain, mulut mereka menganga terbuka lebar. Dan kedua tangan mereka memegangi pipinya masing-masing.OMG! Lantas keduanya sama-sama terkejut.

“Kita, anggota PGSM?” Seru keduanya berbarengan.

Langkah kecil Raida diiringi derap langkah Pak Satpam menuju pagar, “Memangnya pacar Neng itu siapa sih namanya? Barangkali saya tahu,” Pak Satpam membukakan pintu pagar. Sayup-sayup terdengar suara bel berdering tanda jam pelajaran sekolah telah usai.

“Justru itu Pak! Saya tidak tahu siapa namanya! Kemarin saya belum sempat berkenalan sama dia!” Jawab Raida dengan mimiknya yang polos.

“Wah, Neng! Neng pacaran sama penampakan ya? Mendingan pacaran sama saya saja!” Goda Pak Satpam genit.

Raida celingak-celinguk tak menggubris ucapan Pak Satpam. Perhatiannya tertuju pada setiap pemuda yang keluar meninggalkan gerbang.

“Duuh, kenapa banyak yang pakai motor sih? Mana mukanya tertutup pakai helm, kan jadi enggak kelihatan!” Dengus Raida ngedumel sendiri. “Tapi tidak ada satupun di antara mereka yang memakai motor sekeren si Mopet kemarin pagi! Huh, dasar motor ngepet, apa maunya coba mencopet dompetku pagi-pagi buta, terus membuangnya begitu saja di jalanan!”

“Mas, Mas, tolong buka helmnya dulu sebentar ya, Mas, ya! Mas ganteng!” Raida menghentikan sebuah sepeda motor yang melintas di hadapannya.

“Ada apa ya?” Pengemudi motor yang dihadang Raida kebingungan. Ia mematikan mesin kendaraannya.

“Udah, buka aja! Saya lagi mengadakan audisi nih!” Dibantunya si pengemudi melepaskan helmnya oleh Raida.

“Kalau boleh tahu audisi apa ya? Audisi bintang film ya, Mbak?” Tebak si pengemudi dengan perasaan riang. Dikiranya Raida adalah anggota tim pencari bakat dari suatu agensi model atau rumah produksi.

“Yah, ternyata bukan!” Gumam Raida lesu begitu helm dilepas dari kepala si pengemudi.

“Bukan toh Mbak? Oh, saya tahu pasti Mbak lagi mengadakan audisi buat bintang iklan kan Mbak? Saya mau kok Mbak jadi bintang iklan produknya Mbak!” Si pengemudi motor masih bersemangat.

“Ah, sudah, sudah, sudah! Tunggu sampai saya buka pabrik gigi palsu ya, nanti saya tawari kamu jadi bintang iklannya!” Raida berlalu begitu saja meninggalkan si pengemudi.

“Beu, dasar orang stress! Cari bintang iklan produk gigi palsu kok ke sekolah? Noh, di panti jompo tuh, kakek-kakek sama nenek-nenek tinggal dipilih kagak perlu audisi lagi!” Sungut si pemuda pengemudi motor. 

“Biarin suka-suka gue donk! Kali aja di sini juga ada cowok yang giginya rontok semua habis diseruduk bajaj!” Timpal Raida asal. Si pengemudi motor itu pun langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.

“Kamu Raida kan?” Tegur suara seseorang yang muncul tiba-tiba mengejutkannya.

“Suara itu…” Raida berbalik menoleh ke samping kirinya.

“Benar! Tidak salah lagi, kamu Raida Hutagalung kan?” Ditepuknya pundak Raida spontan oleh orang tadi, “Ngapain kamu di sini?” Tanyanya lagi seakan peduli pada penampakan alien tak diundang di atas planetnya itu.

“Aah, kamu, kamu siapa ya?” Raida sedikit bingung.

“Aku Yuli! Yulianita temanmu di bimbel plus! Kita satu kelas di Kelas Matematika! Masa kamu tidak kenal?” Jawab  gadis yang baru saja menegurnya.

image

“Oh, Yuli, ya? Kamu bersekolah di sini?” Bukannya menjawab Raida malah balik bertanya. Dasar penampakan!

“Tentu saja ini sekolahku! Kamu sendiri ngapain datang ke sekolahku? Ada yang sedang kamu cari?” Yuli mengibas-ngibaskan rambutnya sedikit kegerahan karena cuaca siang itu terasa begitu panas menyengat.

“I…iya, aku sedang mencari seorang cowok,” jawab Raida terbata, matanya masih terus memandang sekeliling sementara berbagai sudut halaman sekolah itu sudah tampak mulai lengang.

“Oya? Siapa dia? Cowokmu?” Selidik Yuli ingin tahu.

Raida mendesis, “Ssst… Adakah di sekolah ini cowok bertelinga seperti kelinci?” Tatapan matanya berubah sangat serius setengah menakutkan.

“Haah, APA?!” Yulia nyaris melompat kodok mendengar desisan Raida yang terdengar aneh itu.

“Cowok bertelinga seperti kelinci? Alien dari planet mana itu?” Gurau Yulia setengah tergelak.

“Hm, ceritanya panjang! Tampaknya sekolah sudah kosong, ayo kita pergi dari sini, nanti kuceritakan semuanya padamu!” Raida mendorong punggung Yulia ke tepi jalan.

image

“Neng, mana cowoknya Neng? Mending sama saya saja Neng! Istri saya di rumah baru satu ko Neng! Katanya saya boleh kawin lagi asal sama Neng!” Goda Pak Satpam tadi, dia masih berdiri di samping pos jaganya dekat gapura.

“Ih, tak sudi layaw! Baru ketemu sekali ini, mana mungkin istri Bapak langsung kasih izin begitu saja! Weee…!” Raida menjulurkan lidahnya sambil menarik sebelah matanya hingga terlihat melebar.

“Serius Neng, istri saya pernah bilang sama saya kalau saya ketemu cewek yang lebih cantik daripada dia, katanya saya boleh kawin lagi! Kan Neng cantik! Persis bidadari turun dari Planet Mars!”

PLETAK!

Sebuah kaleng bekas minuman mendarat persis di depan jidat Pak Satpam.

***

“Oh, jadi begitu ceritanya?” Yuli menyeruput es teh minumannya.

Mereka berdua berteduh di sebuah kafe gaul tidak jauh dari SMA Negeri X, sekolah Yuli.

“Iya, aku datang mencari cowok itu untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang telah terjadi kemarin siang, sekaligus aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah mengembalikan dompetku utuh tanpa kehilangan uang sepeser pun!” Runut Raida mencocol kentang goreng ke dalam visin sambal.

“Ooh, tetapi setahuku tidak ada cowok yang memiliki kuping seperti yang kamu ceritakan tadi di sekolahku!” Yuli meniup-niup riak rambut di keningnya.

“Tapi mungkin aku bisa membantumu mencarikan cowok itu!”

Raida menegakkan tubuhnya, “Serius? Wah, terima kasih ya kalau begitu!” Digenggamnya tangan Yuli erat-erat. Kedua mata Raida berbinar bertabur bintang. Hatinya teramat senang hari itu.

“Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana?” Tampaknya Raida mulai akrab dengan Yuli.

“Rumahku kan dekat dengan rumahmu. Masak kamu tidak tahu?” Timpal Yuli hangat bersahaja. “Tapi ngomong-ngomong hari ini kan kita ada jam les bareng, bagaimana kalau kita langsung menuju bimbel saja?”

“Oh ya, wah, hampir saja aku lupa. Untung hari ini aku bertemu kamu, Yuli. Sekali lagi terima kasih ya untuk semuanya,” Raida bersenandung senang. Ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju kasir dan membayar bill tagihan.

***

“Vi, habis ini jam pelajarannya siapa?” Raida mengemasi buku pelajarannya ke dalam tas.

Belum sempat Vivi menjawab pertanyaan Raida, terdengar suara seseorang menyapa seisi kelas, “Selamat siang anak-anak!”

“Selamat siang, Pak!” Sahut teman-teman sekelas Raida begitu kompak dan riang seperti koor paduan suara jangkrik di tengah keheningan malam. Lah kok jangkrik sih? Masih mendinglah, daripada koor paduan suara kodok di tengah sawah! Entar bunyinya malah “kwok..kwok..kwok..”!

“Waduh gawat, sekarang jam pelajarannya Pak Danu Subrata toh?” Raida menepuk keningnya sendiri.

“E..emang iya, kenapa gitu? Bukannya loe suka banget sama nih pelajaran?” Tanya Vivi linglung setengah berbisik di telinga Raida.

“Bukan pelajarannya aja yang gue suka! Gurunya juga gue demen!” Balas Raida di telinga Vivi.

Vivi tertawa cekikikan, “Ih, amit-amit deh, masa loe suka sama duda yang lebih pantas jadi bokap loe sih?”

Raida meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang mungil, “Hush! Biar duda tapi keren bo! Duren! Alias duda keren!” suara Raida terdengar begitu seksi tatkala menyebutkan istilah ‘duren’.

“Loe ngarep? Daripada macarin Pak Danu, mendingan loe pacarin aja anaknya tuh, Bang Jimmy! Kan dari dulu Bang Jimmy dah ngebet banget sama elo!” Canda Vivi menggoda.

“Ah, yang itu sih ambil aja buat loe! Gue sih ogah pacaran sama anak gajah kaya dia!” Raida mendadak illfeel dan membuang muka dari hadapan Vivi.

“Kalau Bang Jimmy loe katain anak gajah, berarti Pak Danu jelmaan induk gajah donk?” Vivi masih terus menggoda.

“Terus, apa yang bikin loe risau sama pelajarannya Pak Danu?” Selidik Vivi sedikit curiga.

“Tadinya sih rencana gue mau cabut kaya kemaren! Eh, nih hari kayanya ga bisa ngebiarin gue pergi ninggalin kelas sebelum bel bubar berdentang, deh!” Cibir Raida agak bete.

“Ooh, itu tandanya loe dah kena peletnya Pak Danu tuh! Awas, lama-kelamaan bisa-bisa loe malah kepelet sama anaknya lagi! ​Huhuy!” Canda Vivi iseng mencubit kecil pinggang Raida.

Huh! Raida semakin bete. Kenapa sih si Vivi nyebelin banget hari ini? Habis keselek semur jengkol kali ya?

“Hari ini kita akan mempelajari ambiguitas atau disebut juga dengan kalimat ambigu. Ada yang tahu apa yang dimaksud dengan kalimat ambigu?” Tanya Pak Danu membuka pelajarannya.

Tak seorang pun berani mengacungkan tangan. Entah karena tak tahu jawabannya, entah karena tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan jawaban, dan entah karena ragu-ragu memberikan jawaban. Atau malu-malu mengangkat tangan karena badan mereka semua bau ketek!

Tiba-tiba Vivi berdiri, “Ya Elvira Sinaga! Silakan kemukakan apa yang dimaksud dengan kalimat ambigu?!” Pak Danu mempersilakan Vivi mengemukakan jawaban.

“Ng anu Pak, saya mau permisi ke toilet! Boleh kan Pak?” Vivi menggaruk-garuk kepala agak sungkan.

“Huuuuuu….” Sontak seisi kelas menyorakinya.

“Harap tenang semuanya!” Titah Pak Danu dengan suara kalem. “Silakan, Vi. Perlu saya antar?”

“Ups, tidak perlu Pak! Terima kasih,” jawab Vivi sopan seraya beranjak meninggalkan kelas.

“Jadi yang dimaksud dengan kalimat ambigu adalah kalimat yang mengandung 2 pengertian atau lebih. Sehingga kalimat tersebut bermakna taksa! Tentu saja jika didengar kalimat tersebut akan membuat kita bingung!” Urai Pak Danu memaparkan pelajaran Bahasa Indonesia begitu gamblang.

“Contohnya Pak?” Tanya salah seorang anak yang duduk di bangku paling depan.

“Kucing makan tikus mati!” Jawab Pak Danu singkat.

“Lah, di mana yang bikin bingung Pak?” Tanya anak lain yang duduk di dekat jendela paling belakang.

Pak Danu tersenyum simpul, “Nah coba disimak baik-baik, tadi kan kalimatnya adalah ‘Kucing makan tikus mati!’ kemungkinan pertama maksud kalimat itu adalah : setelah makan tikus, kucing itu lalu mati! Dan kemungkinan kedua adalah : ada seekor kucing yang memakan tikus yang sudah mati menjadi bangkai!”

“Oooo…” Kembali koor seisi kelas terdengar serempak begitu kompak.

“Ada yang bisa memberi contoh lain?” Tanya Pak Danu memandangi satu-persatu murid perwalian kelasnya. Kebetulan Pak Danu adalah guru wali kelas X-9, kelas yang dihuni oleh makhluk manis yang bernama Raida bersama teman sekelasnya yang sok imut sok mungil, siapa lagi kalau bukan Elvira Sinaga alias Vivi!

“Saya Pak!” Seseorang mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, tak aneh bila tercium bau asam dari ketiak yang diangkatnya, segera seisi kelas pun menutup hidungnya terbatuk-batuk bahkan mau muntah rasanya, “Mobil Pak Danu yang keren itu masuk ke dalam jurang!” Seru anak itu penuh semangat.

GLEK!

Pak Danu menelan air liurnya, “Kok mobil saya?” Pak Danu memprotes.

“Yang penting kan kalimatnya mengandung dua pengertian, Pak!” Papar si anak pengaju kalimat. “Dalam kalimat tersebut, yang membingungkan adalah ‘siapakah yang keren’? Pak Danu atau mobilnya!?”

“Wah, jelas saya donk!” Pak Danu tersipu narsis. “Ada lagi?” Tanyanya.

“Saya, Pak! Anjing Vivi yang galak itu menggigit celana Bang Jimmy anaknya Pak Danu!” Seru si Poltak penuh semangat.

Vivi yang baru saja kembali dari toilet terkejut mendengar namanya disebut.

“Hahahahahaha…” Suara seisi kelas mendadak gaduh memenuhi ruangan.

“Maafkan saya, bukan maksud hendak mencemooh anak Bapak! Tapi yang membuat bingung dalam kalimat saya tadi adalah ‘Siapakah yang galak’? Apakah si Vivi, ataukah anjingnya? Atau jangan-jangan si Vivi dan anjingnya itu sama-sama galak?” Gurau si Poltak lagi membuat tawa seisi kelas meledak.

Grrr! Tampaknya Vivi naik pitam.

“Hey dengar kau Poltak, anak polisi botak! Sesama orang Medan tidak baik saling mencemooh! Apalagi margaku Sinaga! Aku ini keturunan si Naga Bonar, tahu kau? Jangan macam-macam kau denganku! Bisa habis kupepes kau nanti!” Ancam Vivi menggertak si Poltak di hadapannya langsung.

Tagor yang duduk di sebelah si Poltak bangkit berdiri melerai kedua temannya yang sesama orang Batak itu.

“Hai Vivi, HORAS bah! Salam, aku si Tagor juga orang Batak asal Medan! Kalau si Poltak berkata macam-macam dengan kau, bilangkan saja padaku, biar nanti kulaporkan dengan bapaknya yang polisi botak itu! Pasti dia bakal di penjarakan di kandang kambing peliharaan bapaknya! Biar dia tahu rasa kaya apa rasanya dipepes campur tahi kambing!” Tagor berlagak sok membela Vivi.

“Apa-apaan kau Tagor bawa-bawa bapakku segala? Mau kubawa emak kau ke kandang kambing kalau aku dihukum bapakku?” Poltak tidak terima dengan pembelaan Tagor terhadap Vivi.

“Bah, apa pula kau bawa-bawa emakku?” Disuntrungkannya kepala Poltak oleh Tagor.

“Emak kau itu kan tukang sate kambing, tak payah kubawa emakmu masuk kandang kambing bapakku! Siapa tahu emakmu niat kawin dengan kambing jantan peliharaan bapakku!” Poltak semakin menjadi.

“Enak saja mulut kau itu! Emakku tak sudi mengawini kambing jantan peliharaan bapakmu! Yang ada nanti semua kambing peliharaan bapakmu itu habis disate oleh emakku!” Cerca Tagor menantang Poltak.

Sontak seisi kelas menjadi geger menyaksikan percekcokan adu mulut antar orang Batak di kelas X-9. Hanya Raida yang tidak begitu antusias mengikuti perhelatan sahabat karibnya dengan si Poltak. Padahal kan Raida juga keturunan orang Batak. Bukankah dia bermarga Hutagalung?

“Eh, Raida, kenapa kau diam saja? Kau pun orang Batak kan? Ayolah bela sahabatmu ini!” Vivi mengguncang bahu Raida yang duduk termenung.

“Sudah! Sudah! Kita fokus ke pelajaran! Kira-kira siapa lagi yang masih mempunyai contoh kalimat ambigu?” Tanya Pak Danu sambil berusaha menenangkan seisi kelas.

“Saya juga punya Pak!” Seru si Tagor masih unjuk gigi.

“Ya, silakan!” Pak Danu tak berkeberatan si Tagor kembali bersuara.

“Raida berpacaran dengan Bang Jimmy anak Pak Danu yang gagah itu!” Teriak si Tagor begitu lantang di muka kelas.

“Cie…cie…sweet…sweet…” Kelas kembali gaduh menyoraki Raida. Seluruh perhatian tertuju kepada Raida. Kontan Raida mendadak cengo. Wajahnya memerah padam menahan malu. Karmakah ini karena tadi dia tak membela Vivi?

Pak Danu menggeleng-gelengkan kepala melihat kehebohan seisi kelas pada jam terakhir hari itu.

Tagor pun kembali berdiplomasi, “Permasalahannya yang membingungkan adalah ‘Siapakah yang gagah’? Bang Jimmy atau Pak Danu?” Tanyanya ditujukan kepada Raida.

Raida bangkit berdiri, ia tidak suka dipermalukan seperti kemarin lusa saat ia datang terlambat pada jam pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan Bu Sundari Sucakra. Dengan langkah tegap maju jalan, Raida yang gagal menjadi anggota PASKIBRA ini gara-gara suaranya yang terlampau merdu, (wew! Apa hubungannya gagal menjadi anggota PASKIBRA dengan suara yang terlampau merdu?) Mendekat ke arah Pak Danu dan berbisik lembut…

“Pak, kalau menurut saya, Bapaklah yang gagah ketimbang anak Bapak!” Raida tampak sangat malu-malu mengungkapkannya.

Wajah Pak Danu berubah memerah. Mengapa tadi saat Raida mendekat ke arahnya dan berbisik di telinganya, ia bisa mendengar suara degup jantung Raida berdebar begitu kencang ya? Arrrrgh, Pak Danu mendadak galau! Tapi dia hanya bisa gamang!

***

“Aduh, maaf ya aku telat hari ini!” Napas Raida tersengal-sengal menghampiri Yuli yang sedang duduk di pos jaga satpam samping gerbang.

Seperti janjinya kemarin, Yuli akan membantu Raida mencarikan lelaki yang sedang Raida cari. Tetapi Raida tidak berterus-terang kepada Yuli, kalau dia sebenarnya telah jatuh cinta kepada lelaki itu, si Mr. Bunny, pangeran kelinci pujaannya.

“Ya, kamu sudah terlambat hampir setengah jam!” Yuli menguap lebar, kedua matanya terlihat mengantuk berat.

“Para lelaki di sekolahku tidak ada satupun yang mirip dengan ciri-ciri lelaki yang kau ceritakan kemarin. Terlebih dari semua cowok ganteng di sekolah ini yang kuintrograsi, tidak ada satupun di antara mereka yang mengaku telah bertandang ke sekolahmu untuk mengembalikan dompetmu secara utuh!” Yuli menyeruput secangkir kopi luak guna menghilangkan rasa kantuknya.

Dari balik pos jaga, keluarlah sesosok tubuh yang sudah tak asing lagi bagi Raida.

“Eh, si Neng datang lagi ya? Ngopi Neng?” tawarnya begitu manis, tangannya mengangkat secangkir kopi.

Raida menepuk wajahnya dengan telapak tangan kanannya, “Beu…ini satpam apa sih maunya?” gerutu Raida dalam hati.

“Saya tahu, Neng datang lagi ke sini karena kangen sama saya kan?” goda Pak Satpam ‘gazebo’ alias ‘ganzen banget bo’. “Tenang saja Neng, kali ini saya sudah pegang surat pengukuhan dari istri saya, kalau saya berhak kawin lagi setelah melewati tujuh purnama tanpa cahaya bintang! Neng siap kan jadi istri saya yang kedua?” Mata Pak Satpam melirik-lirik genit.

Raida sengaja tidak menanggapi godaan-godaan si Pak Satpam ganjen. Ditariknya tangan Yuli keluar meninggalkan pos penjagaan.

“Kamu mungkin salah orang, lelaki itu mungkin tidak bersekolah di sini!” Yuli berlari kecil balik ke pos satpam untuk mengembalikan cangkir kopi yang baru saja diminumnya.

“Tidak mungkin Yuli! Jelas-jelas sahabatku Vivi melihat sendiri seragam yang dipakai lelaki itu tertulis jelas berasal dari sekolah ini!” Raida bersikeras pada pendiriannya.

“Besok kita cari lagi ya? Memangnya ada berapa banyak cowok sih di sekolahmu ini yang kira-kira mempunyai tampang keren dan ganteng?” Raida terus membujuk.

“Jumlah murid di sekolahku kurang-lebih ada sekitar 1600 pelajar. 900 berjenis kelamin laki-laki, dan sisanya berjenis kelamin perempuan. Diperkirakan ada mencapai 500 orang di antara 900 orang laki-laki memiliki paras ganteng dan keren, 250 orang laki-laki bertampang biasa-biasa saja, dan sisanya bertampang jelek! Data itu kuperoleh berdasarkan survey para gadis di sekolahku!” pamer Yuli bangga.

“Wow, sebanyak itu?” mata Raida membelalak tak percaya. Ia sama sekali tak menyangka kalau SMA Negeri X bisa dikatakan sebagai gudangnya para cowok keren. Haruskah ia mencari si Mr. Bunny di tengah ratusan lelaki yang katanya bertampang keren itu? Ini namanya sama saja mencari sebatang jarum di tengah hamparan rumput! Sanggupkah ia melakukannya?

“Tidaaaak….” Raida berteriak sendiri.

“Hey, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?” Yuli mengurut-urut bahu Raida yang berguncang.

Raida tampak sangat putus asa. Entah mengapa ia jadi teringat pada doa Ambu beberapa tempo malam lalu. Kata Ambu “Tak mendapatkan pangeran kelinci, pangeran kodok pun tak mengapa!” lantas kalau Mr. Bunny itu tidak ada, terus siapa yang menjadi pangeran kodoknya?

“Neng, Neng, beneran nih enggak mau ngopi? Kopi buatan saya enak banget loh Neng!” panggil Pak Satpam genit dari kejauhan.

“Haaa? Jangan-jangan dia pangeran kodoknya?” pikiran Raida berkecamuk kacau balau menoleh beberapa derajat ke arah sang penggoda.

“Huwaaaaa….. aku enggak mau!” jeritnya histeris.

“Raida, kamu kenapa? Kamu kok childish gini sih? Kalau kamu sakit mari kita pulang!” Yuli memapah tubuh Raida yang terhuyung-huyung karena pusing berat.

Di saat yang bersamaan, terlihat sesosok seorang pemuda melintas di hadapan mereka.

“Eh, Fendy, kamu kok belum pulang sih?” sapa Yuli pada pemuda bertubuh tinggi proporsional itu.

“Baru selesai mencari referensi untuk membuat makalah di perpustakaan,” sahut pemuda bernama Fendy itu seraya menarik pintu pagar sekolah.

“Makalah pelajaran apa?” Tanya Yuli antusias.

“Fisika,” jawab Fendy singkat.

“Ooowh,” Yuli hanya dapat membulatkan bibir.

“Suara itu…suara itu…” Raida tersadar dari rasa pusingnya. Dikuceknya kedua matanya dengan punggung tangannya. Kini ia mulai yakin, kali ini pasti tidak salah lagi. Itu dia orangnya!

“Kamu, kamu cowok yang udah ngebalikin dompetku waktu itu kan?” Tanya Raida berdiri persis di hadapan si pemuda. “Jadi namamu Fendy, ya?”

“Eh, Mbak….” Fendy mendadak canggung.

TUING!!!

Ajaib! Ini kali kedua Raida melihat keanehan itu lagi. Telinga Fendy mendadak mekar seperti kuncup bunga yang sedang mengembang. Duh, Fendy itu alien terindah yang pernah Raida temui di muka bumi. Hush! Ngaco deh, dari tadi yang dibahas soal alieeen mulu! Memangnya di planet mana sih ini?

“Kamu tahu namaku kan? Aku masih kelas X. Panggil saja aku Raida!” Raida mengulurkan tangan kanannya kepada Fendy. Wajahnya tersipu-sipu malu tak kuasa menatap mata Fendy yang begitu teduh.

Sayang, Fendy tak memberikan uluran tangannya pada Raida. Tak mengucapkan sepatah kata pun kepada Raida. Bahkan ia pergi berlalu begitu saja dari hadapan Raida.

“Aku datang ke mari susah-susah hanya untuk mencari kamu! Aku ke sini ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di antara kita, sekaligus aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mengembalikan dompetku secara utuh!” teriak Raida lantang sebelum Fendy benar-benar jauh dari hadapannya.

“Bukankah kamu bilang kalau uangmu itu kurang Rp50.000,00?” Fendy sama sekali tidak membalikkan tubuhnya menghadap Raida. Sementara itu Yuli yang berdiri di samping Raida hanya dapat melihat mereka dengan tatapan terbengong-bengong.

“Iiiih, asyik nonton melodrama Asia! Neng ini temanya film Bollywood apa Drama Korea?” teriak Pak Satpam dari pintu gerbang mengamati mereka bertiga.

Yuli menoleh ke arah Pak Satpam dengan tatapan sinis. Melihat kode yang diberikan Yuli, mulut Pak Satpam ganjen pun mendadak terkunci rapat.

“Tidak Fendy! Waktu itu aku salah hitung! Aku lupa kalau sebelum peristiwa pencopetan itu terjadi, aku sudah memakai uangku yang Rp50.000,00! Aku benar-benar minta maaf Fendy atas tuduhanku dan sahabatku pada waktu itu!” Raida berusaha menghadang langkah Fendy.

“Ya sudahlah, lupakan saja semua itu!” Fendy terus melangkah tanpa menghiraukan Raida yang berusaha mengejarnya.

“Tapi… tapi…” Raida berusaha berbicara lagi namun Fendy tak mau mendengarkannya. “Tapi aku mau jadi pacarmu, Fendy!” Jerit hati Raida tapi tak mampu mengeluarkannya. Suaranya tercekat di tenggorokan.

“Maaf, aku duluan ya, Yul!” pamit Fendy pada Yuli, dan tak lama kemudian sosok Fendy pun menghilang dari pandangan mata Raida. Ia pergi menaiki boncengan kawan yang menjemputnya.

Raida hanya bisa berdiri diam membisu, setetes air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Benarkah ia sedang mengalami yang namanya patah hati? Ah secepat itukah cinta datang dan pergi dari hatinya?

“Dia pacarku! Kami baru jadian satu minggu yang lalu, tapi aku kok tidak tahu ya kalau dia ternyata orang yang selama ini kamu cari? Dia tidak ada cerita padaku kalau dia baru saja mengembalikan dompet punyamu ke sekolahmu langsung?” terdengar kata-kata Yuli begitu tenang dan sedikit kebingungan.

DEGH!

Hati Raida seperti cangkir yang jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Benarkah apa yang baru saja diucapkan oleh Yuli kepadanya? Fendy itu adalah kekasihnya? Oh, Tuhan secepat itukah kisah cinta ini harus berlalu?

“Dan kamu juga tidak tahu, kalau pacarmu itu memiliki keunikan yang sangat langka? Kupingnya dapat mengembang seperti sayap burung yang akan terbang!” desis Raida begitu lirih.

“Ya, aku baru mengetahuinya sekarang!” gumam Yuli pelan. “Kalau sikapnya tidak menyenangkan padamu tadi, tolong dimaafkan ya! Tidak biasanya Fendy bersikap seperti itu kepada orang lain,” Yuli merangkul Raida dan mengajaknya pulang. Ia sama sekali tidak menyadari kalau setetes air mata telah jatuh dari pipi Raida tatkala Raida menunduk menyembunyikan kesedihan di wajahnya.

***

Ting! Tong!

“Raida ada Bu?” Seorang pemuda berperawakan gemuk menyalami tangan Ambu.

“Maaf, punteun pisan, ini teh siapa ya?” Ambu memegangi tengkuk lehernya.

Pemuda gemuk itu tersenyum manis semanis mungkin melebihi manisnya 1 kg gula, “Bilang saja pangeran impiannya datang berkunjung, Bu!” Sahutnya santun.

“Masya Allah! Katanya Neng Ida jatuh cintanya sama pangeran kelinci, tapi kok yang datang malah pangeran kodok ya?” Racau Ambu tidak karuan.

“Hah?” Pemuda itu tampak kebingungan.

“Siapa Mbu?” Raida melongo di ruang depan.

“Nah kebetulan Neng, ini ada cowok datang mencari Neng Ida! Ngakunya sih pangeran impian Neng!” Ambu melengos ke dalam.

“Haaa… Siapa sih?” Raida menjadi penasaran melangkah menuju pintu.

“Hai, sayang!” Sapa si pemuda gemuk dengan mesranya.

“Bang… Bang Jimmy?” Raida menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

“Kaget ya melihat Abang datang? Ini Abang bawakan seikat mawar untukmu!” Disodorkannya bunga-bunga segar dari tangannya yang gempal.

“Abang tahu dari mana alamat rumahku?” Raida sama sekali tak mempersilakan pemuda itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Ada deh! Yang jelas bukan dari Ayu Tingting tentunya! Kan kalau tanya alamatmu sama Ayu Tingting, yang ada nanti Abang malah dikasih alamat palsu!” Pemuda gemuk yang ternyata bernama Bang Jimmy itu tersipu-sipu malu.

“Abang dengar dari teman-teman sekelasmu, katanya kamu memuji-muji Abang ya saat jam pelajaran Papa tadi siang?” Bang Jimmy menghampiri Raida lebih dekat.

image

“Aduuuuuh, ini Teddy Bear kepedean banget sih!” Umpat Raida dalam hati.

Tiba-tiba saja Bang Jimmy menarik tangan Raida dan mengecup punggung tangannya begitu romantis.

“Raida sayang, kamu sudah tidak sabar ya ingin menjadi pacar Abang?” Bang Jimmy berkata perlahan.

“Duuh, bagaimana ini?” Keluh Raida gelisah.

#Maaf bersambung dulu ya pembaca!#

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s