Posted on

Serial : Raida Hutagalung

image

My Drama #1

ΩΩΩΩΩ♣♣♣ΩΩΩΩΩ

Sorot matanya tajam bagai elang memburu bumi. Kaca helm yang gelap mengkilap mulai ditutup, perlahan tapi pasti gas semakin ditambah. Tangan kanan berbalut sarung itu memutar handle setir gas motornya. Tak lama deru motor besar itu pun terdengar menyeruak meramaikan suasana kepadatan jalan. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi.

“Aah, gantungan kunci di sepanjang trotoar jalan ini memang bagus-bagus! Nggak salah kalau aku pagi-pagi sudah berangkat ke sini! Biasanya kan kalau baru buka pedagang kaki lima suka memberikan penawaran harga yang lumayan murah sebagai penglaris mereka! Ooh kacamata hitam itu juga sama kerennya dengan yang dimiliki teman-temanku di kelas yang katanya ‘made in HK’ alias Hongkong! Lumayan kan aku beli di sini, terus kalau teman-temanku tanya ‘made in’ mana, tinggal jawab saja kalau ini semua ‘made in KPK’! Kumpulan Pedagang Kakilima! Hihihi..” Seorang gadis belia bergumam pada dirinya sendiri tersenyum-senyum di kulum seraya mengamati barang dagangan yang berjejer di trotoar kaki lima.

“Bang, berapa harga sun-glasses ini?” Gadis berok seksi itu menunjuk-nunjuk barang dagangan. Ia tak dapat mengucapkan kata sun-glasses secara fasih.

“Sun…apa Neng?” Tanya si pedagang bingung.

“Sun donk yank, ya Neng?” Sambung pedagang lain tak jauh dari pedagang tadi. Matanya melirik-lirik jelalatan. Pasti habis digerumutin lalat kali ya…

“Jangan mau nge-sun dia Neng! Saban hari dia mah kagak pernah mandi! Makanya badannya bau kebo! Mending nge-sun abang aja Neng, badan abang mah biar kagak mandi juga, baunya cuma bau sayur asem!” Si pedagang kacamata tersenyum cengengesan.

“Iih, si abang, jangan kurangajar ya Bang! Begini-begini saya jago karate loh! Ciat..ciat..ciat!” Gadis itu pun beraksi menirukan jurus bangau terbang, kedua tangannya direntangkan ke samping kemudian berbengkok menekuk seakan menirukan paruh bangau yang ingin mematuk kedua pedagang kaki lima yang mengapitnya. Sedangkan kaki kanannya diangkat dan ditekuk seolah ingin menyepak siapapun yang bersikap kurangajar padanya.

Semilir angin berhembus membuat rok mini sang gadis berkibar-kibar, sementara mata kedua pedagang itu membelalak lebar seakan baru saja melihat tumpukan emas di kaki gunung. Mulut mereka menganga secara spontan. Tapi….

Huph!

Kedua mulut para pedagang itu tersumbat oleh sesuatu.

“Maaf ya Bang, itu kertas ulangan saya yang dapat nilai NOL kemarin!” Ujar si gadis tersipu-sipu malu seraya merapatkan kedua tangannya menyampaikan sembah.

Sontak kedua pedagang itu segera memuntahkan gumpalan kertas yang menyumpal mulut mereka.

“Aah, Neng Ida bagaimana sih, abang cuma bercanda juga kok malah disumpel kertas ulangan sih?” Protes si pedagang gantungan kunci sedikit kesal.

“Aduuh Neng, pinter amat ya? Ulangan dapat nilai NOL! Pelajaran apa Neng?” Repet si pedagang kacamata.

“Eh, anu pelajaran Fisika Bang! Saya kan emang kagak ngerti rumus-rumus Fisika Bang! Susah, mumet lagi! Lagian masih untung mulut abang berdua cuma disumpel pakai kertas ulangan! Coba kalau saya sumpel pakai bekas pembalut nenek saya! Sudah klepek-klepek kali ya abang berdua!” Gadis yang disapa Neng Ida tersenyum malu-malu kucing.

“What? Memangnya neneknya Neng Ida masih suka menstruasi?” Abang penjual kacamata mendadak bengong.

Temannya, si penjual gantungan kunci lantas garuk-garuk kepala. Namanya juga nggak pernah mandi, sudah biasa kan kalau dia menggaruk kepala? Entah karena gatal, entah cuma mau gaya doank supaya cerita ini tambah rame, enggak ngaruh kalee…

“Eh, bro, memangnya nenek-nenek kagak bisa menstruasi lagi ya?” Bisik si penjual gantungan kunci dengan mimik polos.

“Eits, jangan salah Bang! Nenek-nenek zaman sekarang itu bisa mengalami pubertas kedua loh! Memangnya cuma kakek-kakek saja yang suka KKG!” Neng Ida menjentik-jentikkan jemari tangan di dagunya.

“Oh, kalau KKG saya tahu Neng! Kebetulan tetangga saya seorang guru, setiap menjelang ulangan umum beliau sibuk mengikuti rapat KKG. Kalau tidak salah sih, KKG itu katanya singkatan dari Kelompok Kerja Guru. Iya kan Neng?” Sahut si pedagang kacamata mantap.

“Wah, bukan KKG yang itu Bang! KKG yang saya maksud adalah Kakek-Kakek Gaul!” Neng Ida berkacak pinggang sok aksi.

“Oh, begitu ya Neng? Baru tahu saya Neng!” Abang pedagang gantungan kunci masih terus menggaruki kepalanya. Mungkin para kutu sudah banyak beranak-cucu di atas kepalanya yang gondrong. Maklumlah kutu kan tidak pernah ikutan program KB.

“Terus Neng Ida jadi mau beli sun… Aduh sun apa ya tadi? Bukan suntikan kan Neng?” Si pedagang kacamata sedikit pilon.

“Nah itu dia! Sun-glasses Bang, yang ini berapaan Bang harganya?” Diambilnya sebuah kacamata hitam bertangkai tipis dari atas meja dagangan. Gadis belia itu mencocokkan wajahnya dengan kacamata hitam pilihannya.

image

“Oh, maksud Neng Ida itu sunglasses (baca : san-glasses) ya?” Tebak si empu dagangan.

“Ah, itu maksud saya Bang! Ya, harap maklumlah Bang, Bahasa Inggris saya terlalu jago banget dah! Sampai-sampai nih ya Bang, Brad Pitt aja kalah adu debat Bahasa Inggris sama saya!” Neng Ida bergaya makin aksi menyombongkan diri.

“Wuiiih, mantap banget tuh! Emangnya Neng Ida pernah ya ketemu sama aktor Brad Pitt?” Abang pedagang kacamata berdecak kagum.

“Kagak pernah!” Jawab Neng Ida polos.

Pedagang gantungan kunci semakin bingung menggaruk kepalanya, “Terus kaya apa caranya berdebat sama dia Neng?”

“Yee… Pan waktu dia nongol di film action, si Brad Pitt kan teriak-teriak terus nih manggilin musuhnya. Terus saya balasin aja omongannya dia pake cas-cis-cus, eh sekalinya musuhnya keluar bawa senapan si Brad Pitt malah berhenti ngomong. Berarti saya menang debat melawan dia kan?” Gadis polos itu pun tersenyum nyengir kuda memamerkan deretan giginya yang putih rata.  

“Oh, iya-iya, benar juga ya Neng!” Abang penjual kacamata manggut-manggut kepala dan mengacungkan jempolnya.

“Nah, jadinya berapa nih Bang?”

Si abang berpikir sejenak, “Ya, sudah buat Neng Ida mah karena sudah jadi pelanggan setia Abang, biar Abang kasih Rp25.000,00 aja deh! Harga jualnya sih yang benar Rp35.000,00!”

“Neng, gantungan kuncinya sekalian ya?” Abang penjual gantungan kunci tak mau ketinggalan. “Sepuluh ribu aja buat Neng! Sudah diskon 10% loh!”

Neng Ida menganggukkan kepala, lalu dipilihnya satu buah gantungan kunci berbentuk hati warna biru, “Sebentar ya Bang, uangnya!”

Dikeluarkannya sebuah dompet dari saku rok seragamnya. Kemudian diserahkannya selembar lima puluh ribuan terlebih dahulu kepada pedagang kacamata. Belum sempat ia menerima uang kembalian dari abang penjual kacamata, terdengar suara deru motor mendekat ke arahnya dan…

GREP!

Dompet di genggaman tangannya berhasil dirampas oleh si pengendara motor yang baru saja melintas di sebelahnya. Sejenak ia sempat terbengong-bengong saking terpananya menatap motor yang begitu keren. Namun sesaat kemudian, baru ia menyadari kalau dompetnya telah raib dari tangannya.

“Neng, Neng, dompet Neng dirampas!” Abang penjual gantungan kunci mengguncang bahu Neng Ida begitu panik.

“Ayo Neng, dikejar Neng!” Teriaknya lagi gelagapan.

“Woooy… KAMPRET! Balikin dompet gue!” Teriak Neng Ida seraya mengejar motor si penjambret. Namun motor itu terlampau jauh di hadapannya. Kontan ia hanya menjadi tontonan para pejalan kaki sepanjang trotoar.

“Copot! E…Copet! E… Jambret! Kampret! E… Ngepet!” Teriak Neng Ida seraya terus mengejar.

Dengan segala upaya, Neng Ida terus berusaha menambah kecepatan langkah seribunya. Hingga tikungan jalan tepat di lampu merah yang mulai menyala motor itu tampak berhenti tak berniat menerobos sedikitpun. Kesempatan!

Ups, arrrrrrrgh, SIAL! Cepat sekali lampu merah itu berganti warna! Secepat kilat pula motor si penjambret pun meninggalkannya. Neng Ida pun kehilangan jejak.

“Dasar loe KAMPRET! Kampungan tukang ngeret! Anak sekolah tapi ko tukang copet?! MOPET loe! Motor ngepet!” Napas Neng Ida tersengal-sengal.

“Gue sumpahin loe kalau loe ketemu gue lagi suatu saat nanti loe bakal nyerahin semua hasil ngepetan loe buat gue!” Tak kunjung henti ia terus ngedumel sepanjang jalan sambil melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

***

Tok! Tok!

“Masuk!” Terdengar suara seorang wanita dari dalam kelas membukakan pintu untuknya.

“Oh, Raida! Where have you been from, at an hour first?” Sapa wanita yang membukakan pintu kelas tadi. Tahu donk siapa dia?

So pastilah, dari ucapannya saja jelas kalau dia itu pasti guru Bahasa Inggris. Tapi… Nanya apa ya dia barusan? Ayo donk Neng Ida, katanya jago Bahasa Inggris?

“Raida Hutagalung! Saya tanya kamu tadi ‘Sudah dari mana saja kamu selama satu jam pertama’?” Tegur wanita berperawakan gemuk dengan sanggul rambutnya yang pirang.

Oh, ternyata nama lengkap Neng Ida sebetulnya adalah Raida Hutagalung toh? Bagus juga ya? Bah, Hutagalung itu marga orang Batak kan? Katanya Hutagalung itu kalau hutang ga kepalang tanggung! Alamak… Gawat kali ini! Jangan-jangan Neng Ida itu dicopet orang gara-gara ia kebanyakan hutang… Ups, tak boleh negative thinking ya!

“Yes, Ma’am!” Neng Ida memberi hormat.

“Call me Mrs. Sundari!” Sang Guru Bahasa Inggris memicingkan matanya dengan sorotan tajam.

“Yes, Ma’am!” Lagi-lagi Neng Ida memberi hormat.

Mrs. Sundari menggeram.

“Sorry, Mrs. Sundari…” Raida tampak gugup.

“So, dari mana kamu tadi pada jam pertama, sehingga pukul 8 tepat kamu baru tiba di sekolah dan terlambat mengikuti pelajaran saya? Apakah kamu baru keluar dari salon?” Intrograsi Mrs. Sundari bertubi-tubi.

“Atau kamu baru pulang habis berjemur dari pantai?” Imbuhnya lagi menambahkan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Nada bicaranya seperti habis makan cabai 1 kg. Haaaaaah…. PEDES BANGET!

Melihat penampilan Neng Ida yang urakan sontak seisi kelas menertawakannya.

“Huuuuuuuu…..” Seisi kelas menyorakinya.

image

Rambutnya berantakan gara-gara terkibas-kibas saat mengejar copet yang menjambret dompetnya tadi pagi. Ia sama sekali tak menyadari kalau rambutnya telah mengembang seperti rambut singa yang tak pernah disisir. Ditambah lagi kacamata hitam yang melekat di wajahnya. Ia tidak sadar, sejak transaksi jual beli di kaki lima tadi kacamata hitam yang dibelinya tak kunjung dilepas dari wajahnya. Kebayang nggak sih, kaya apa muka singa kalau sedang memakai kacamata?

“Itu sih baru pulang jadi cheerleader buat nyorakin klub kesebelasan negara tetangga Bu!” Celetuk seorang cowok di pojok kelas.

“Kelihatannya Raida baru pulang habis pijit keliling deh, Bu!” Celetuk yang lain. Kali ini suara perempuan.

Sorak riuh rendah seisi kelas semakin menjadi.

“Come on Raida! Please answer my questions! Yang lain harap tenang!” Perintah Mrs. Sundari lagi setengah mendesak.

“Ng.. Anu Ma’am.. Tadi I have got…” Raida kebingungan tak tahu lagi harus berkata apa. Ia tidak tahu Bahasa Inggris-nya ‘jambret’ dan ‘dompet’. Padahal ia sangat ingin menjelaskan kepada Mrs. Sundari kalau dompetnya baru saja dijambret dalam perjalanan ke sekolah.

“I have got … I have got …” Raida terus mengulang kalimat yang sama karena grogi.

“Ma’am katanya Raida habis kecebur GOT tuh!” seloroh salah seorang murid lain yang juga bermulut usil. Kali ini tepat di muka kelas.

“Wahahaha…” Teman sekelasnya tak kunjung berhenti menertawakannya.

“Shut up! You all are stupid! I have got my wallet lost! A thief stole it from me when I bought this sunglasses on the way to school! I ran to chase him. But he drove his motorbike so fast! I lost him, and I lost all my money, you know! That’s why my hairs become like this!” Raida berteriak di hadapan kelas setengah emosi. Ia bahkan hampir saja menangis di hadapan teman-teman sekelasnya.

Mendadak suasana kelas berubah menjadi hening. Tak seorang pun berani bersuara mengolokinya lagi. Entah mereka merasa iba terhadap Raida, entah karena mereka tidak mengerti dengan Bahasa Inggris yang diucapkan oleh Raida. Nah loh? Tapi berbeda dengan Mrs. Sundari, entah mengapa tiba-tiba saja beliau bertepuk tangan menghampiri Raida.

“Well done, Raida! Akhirnya kamu bisa juga berbicara Bahasa Inggris! You speak English well! Congratulation!” Mrs. Sundari tersenyum bangga pada Raida.

Raida tercengang, tiba-tiba saja suasana kelas kembali berubah dan berbalik memberinya tepuk tangan. Raida bingung dan menunjuk batang hidungnya sendiri. Ia nyaris tak percaya kalau Mrs. Sundari yang terkenal jutek, baru saja memujinya.

“But, I’m sorry for your wallet! Semoga dompetmu cepat kembali!” Mrs. Sundari menutup pertemuan hari ini.

“Selamat ya Da! Kali ini loe dapat pujian dari Mrs. Sundari Sucakra! Enggak biasanya tuh Mrs. Killer muji murid di kelas kita! Selama ini kan kelas X-9 kan selalu dijuluki kelas kumpulan anak berotak ‘O’ sama tuh guru!” Vivi sahabat karib Raida yang juga teman semejanya, menghampiri dan memberi ucapan selamat kepada Raida begitu bel istirahat berbunyi.

“Berotak ‘O’? Maksud loe apaan?” Raida kebingungan.

“Ah, loe kaya nggak ngerti aja. ‘O’ itu singkatan dari ‘Oon’ alias belo’on! Memangnya selama ini ada anak di kelas kita yang nilai ulangannya di atas NOL gitu? Mana ada? Orang tiap hari sekelasan pada contekan mulu!” Urai Vivi panjang lebar.

“Dari dulu gue paling sebal sama tuh Mrs. Sundari! Cuma dia satu-satunya guru bertampang killer yang mengajar di kelas kita! Pingin banget deh, dia lenyap dari atas muka bumi ini! Ngomong-ngomong, loe tadi ngomong apa sih di kelas sampai ngamuk-ngamuk gitu? Yang gue ngerti cuma pas elo ngatain sekelas itu ‘You all are stupid!’ Loe ngatain kalau sekelas kita itu pada bego kan? Gue setuju banget deh sama elo, sekelas kita semua emang pada bego kan anaknya? Soalnya tiap kali hasil ulangan Bahasa Inggris dibagikan sama Mrs. Killer itu, pasti dia selalu ceramahin kita ‘You all are STUPID!'” Celoteh Vivi tak kalah panjang dari sebelumnya seperti seorang pejabat tengah memberikan sambutan peresmian gedung baru di kota.

Raida tidak begitu menyimak celotehan sahabat karibnya sama sekali. Ia malah asyik menyeruput es jeruk yang baru saja dipesannya dari pelayan kantin.

“Da, tadi pagi emang kenapa sih elo terlambat? Loe pasti belanja dulu kan di pasar kaki lima?” Terka Vivi dengan tepat. Ia tahu betul kebiasaan sahabat karib satu-satunya itu.

Raida tak menggubrisnya.

“Loe beli apa aja? Kacamata item kan? Terus sama apa lagi? Gue lihat donk!” Digeladahnya saku rok Raida satu-persatu.

“Vi, dengar! Gue tadi pagi kena apes! Dompet gue dijambret sama cowok pake seragam dan kabur pake motor gede! Gue udah coba kejar, tapi hasilnya nihil! Yang ada nih, malah rambut gue jadi korbannya!” Raida mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih berantakan. Ia belum sempat membilasnya di kamar kecil untuk dirapikan kembali.

“Gila yang benar aja tuh cowok berani ngepet dompet elo? Minta dibantai kali tuh cowok! Kira-kira elo hapal motor tuh cowok kagak? Kalau enggak, seragam yang dipakai sama cowok itu kira-kira dia anak sekolah mana?” Vivi benar-benar antusias atas malapetaka yang menimpa sahabat karibnya ini.

“Sudahlah, mana sempat gue perhatiin, orang dia ngebut banget ko!” Timpal Raida beranjak bangkit dari duduknya.

“Udah ah, gue mau ke kamar kecil dulu, mau ngerapiin nih rambut! Berhubung gue habis kecopetan, loe bayarin es jeruk gue ya, Vivi darling!” Raida pun berlalu dari hadapan Vivi.

“Kalau sampai aku ketemu lagi sama itu maling yang sudah mencuri dompetku, awas saja nanti, akan kubuat perhitungan dengannya!” Gumam Raida kepada dirinya sendiri.

Dibasahinya rambutnya dengan air yang mengucur di wastafel. Kemudian ia menyisir perlahan.

“Ups… Tunggu-tunggu, tapi kan motornya itu keren banget. Orang yang nyetirnya juga pasti keren! Gimana kalau si penjambret itu tampangnya emang beneran keren? Kan lumayan kalau kujadikan pacar! Jadi, kalau dia datang baik-baik mau mengembalikan dompetku, dan uangku utuh, terus sebagai wujud permintaan maafnya padaku karena telah mencuri dompetku, kusuruh saja dia jadi pacarku! Asyiiik, aku enggak bakal jadi jomblo lagi! Ke mana-mana aku bakal dibonceng sama cowok keren dengan motornya yang super keren! Hahay…” Raida jadi asyik berkhayal sendiri. Ia bersenandung kecil berharap impiannya menjadi kenyataan.

***

“Fuih, akhirnya bebas juga!” Raida menarik napas lega setelah melangkah keluar meninggalkan gerbang sekolah.

“Da, elo pulang mau jalan kaki? Ikut gue aja yuk bareng naik angkot!” Tiba-tiba saja Vivi sudah ada di sampingnya dan bersiap akan menarik sebelah tangannya.

“Tapi elo bayarin ya?” Raida sok jual mahal. Padahal sebenarnya ia memang mengharapkan gratisan dari Vivi. Terlebih dalam situasi terjepit seperti ini.

“Tenang, beres deh! Loe kaya sama siapa aja gitu! Gue kan best friend elo! Gue kan tahu kalau elo habis kecopetan! Ga mungkin kan gue ngebiarin sahabat gue pulang jalan kaki?” Vivi menepuk dada.

“Maaf, permisi…” Terdengar suara seorang lelaki agak canggung di balik punggung mereka berdua.

“Apa Mbak yang bernama Raida Hutagalung?” Tanya lelaki itu hati-hati.

“Oh, bukan! Bukan saya!” Timpal Vivi sok manis dan so imut.

“Ada apa mencari saya?” Tanya Raida agak terkejut namanya disebut-sebut oleh orang yang tak dikenal.

TUING!

Aneh! Tiba-tiba saja kedua telinga si pemuda canggung bergerak ke samping menjadi caplang seperti sayap burung yang bergegas akan terbang.

Vivi tertawa terbahak memperhatikan keanehan yang terjadi pada lelaki itu.

“Boy, loe anak alien ya, kok kuping loe bisa bergerak sendiri sih?” Vivi memegangi perutnya menahan geli.

Ternyata Raida tak kalah seru, ia juga turut terpingkal mengamati keanehan yang sungguh jarang terjadi itu.

“Bukan Vi! Dia ini pasti anaknya si Bugs Bunny! Kelinci paling imut sedunia!” Lantas Raida ikut tertawa bersama Vivi, ia tak kuasa menahan perutnya kegelian melihat hal aneh tapi nyata dan sangat langka.

Melihat dirinya ditertawakan, tiba-tiba telinga si pemuda itu kembali menyusut ke posisi semula. Wajahnya memerah karena malu.

“Maaf Mbak, saya cuma mau…” Belum habis pemuda itu berbicara, Vivi sudah menginterupsinya lebih dulu.

“Kamu mau apa? Kamu mau melucu di depan kami?” Sela Vivi melecehkan si pemuda.

“Jangan panggil Mbak ya Dek, memangnya kakakmu sudah kawin dengan saya? Saya masih punya cita-cita, mau jadi astronot dulu sebelum menikah nanti! Kamu tahu kenapa saya mau jadi astronot? Supaya saya bisa mengantar kamu pulang ke bulan!” Goda Raida lagi.

Pemuda itu diam tak menggubris ataupun mengajukan gugatan protes.

“Saya cuma mau mengantarkan dompet ini! Tadi saya tidak sengaja menemukan dompet ini di jalan! Seseorang melemparkannya ke arah saya saat saya hendak menyebrang jalan!” Tutur pemuda itu sedikit lebih tegas daripada sebelumnya.

“Di dalamnya terdapat kartu pelajar SMA Negeri V atas nama Raida Hutagalung! Oleh karena itu saya mengantarkannya ke mari! Ini Mbak dompetnya, kalau begitu saya permisi!” Tandasnya mohon pamit.

“TUNGGU!” Cegah Raida.

“Jangan pergi dulu, aku mau menghitung jumlah uangku dulu! Apakah berkurang atau tidak!” Raida meraih dompetnya dari tangan si pemuda.

Saat kedua matanya bertemu sekilas pandang dengan kedua mata si pemuda, entah mengapa tiba-tiba….

DEGH! DEGH! DEGH!

Jantung Raida berdebar kencang. Hatinya berbisik, hatinya berkata, hatinya menjerit, “RAIDA GILAAAA….cowok yang ada di hadapanmu ini GANTENG BANGET!”

Raida mendadak melting dibuatnya, sampai menghitung uang dalam dompetnya sendiri pun tidak bisa berkonsentrasi. Nah loh Raida, jilat air liurmu sendiri!

“Astaga uangku seluruhnya kan Rp500.000,00, kenapa jadi tinggal Rp450.000,00 ya?” Raida benar-benar kaget.

Pemuda yang mengantarkan dompetnya pun turut kebingungan, “Demi Tuhan Mbak, saya tidak ada mengambil uang Mbak sama sekali!”

“Hm, kayanya elo cuma pura-pura ngebalikin dompet teman gue ini deh! Pasti elo kan orangnya yang nyopet tadi pagi?” Tuding Vivi pada si pemuda.

“Ayo ngaku, kalau enggak, gue bakal panggil teman-teman gue yang masih ada di gerbang sekolah! Kelihatannya elo anak sekolah lain deh! Mau loe, gue gibas sama teman-teman gue?” Vivi terus memaksa.

“Aku ke sini berniat baik! Aku sama sekali tidak tahu siapa yang sudah mencuri dompet Mbak! Dan aku juga sama sekali tidak mengambil sepeser pun uang di dalam dompet itu!” Pemuda itu bersikukuh pada pengakuannya.

“Vi, udah Vi! Gue minta elo tenang!” Raida menyuruh Vivi untuk diam. Vivi kalau sudah sewot bisa seperti bison ngamuk minta kawin.

Kemudian ia mendekat ke arah si pemuda, “Boleh kutahu siapa namamu?” Tanya Raida sedikit santun sekaligus grogi. Hatinya masih berdebar-debar. Semakin diperhatikan, wajah si pemuda itu semakin terlihat tampan di matanya.

image

“Aku tidak akan marah bila kau mau jujur padaku, kalaupun memang kau yang telah mencopetku tadi pagi. Asalkan kamu mau menebus kesalahanmu dengan cara menjadi…” Raida semakin memberanikan diri sesuai lamunannya tadi saat ia merapikan rambutnya di kamar kecil. Inikah yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba?

“Woy ada maling di sini…” Teriak Vivi memanggil teman-temannya di gerbang.

“Mbak, demi Tuhan, saya tidak mencuri! Saya hanya mengembalikan!” Pemuda itu sangat ketakutan tatkala segerombolan pemuda seumuran dengannya datang dari arah gerbang. Buru-buru ia bergegas pergi meninggalkan Raida dan Vivi.

“Hey, tunggu! Uangku masih kurang Rp50.000,00! Asem loe!” Teriak Raida sedikit jengkel karena gagal menjalankan rencananya. Gagal deh ia mendapatkan seorang kekasih yang diimpikannya.

“Huh, kelakuan anak SMA Negeri X memang benar-benar memalukan! Kedoknya saja mengembalikan, padahal sedikit-banyak mencuri juga!” Sungut Vivi sebal.

“Hah, anak tadi dari SMA Negeri X, Vi?” Mata Raida membelalak tak percaya.

“Loe kagak lihat tadi tanda lokasi yang ada di lengannya? Jelas-jelas tertulis SMA Negeri X!” Vivi masih belum bisa meredakan kesebalannya. 

“Yihaa… Benar kata pepatah, takkan lari gunung dikejar! Kalau jodoh, takkan ke mana!” Gumam Raida tersenyum-senyum sendiri.

“Apa Da? Jodoh? Jelas-jelas dia maling dompet elo kan? Bukan maling hati elo!” Tampaknya bibir Vivi semakin maju.

“Woy, ada apaan sih? Katanya ada maling ya di sini? Mana sekarang malingnya?” Tanya segerombolan siswa yang tadi Vivi panggil.

“Ga ada, dah kabur!” Gerutu Vivi masih juga sebal. Kali ini ia merasa sebal karena teman-temannya telat datang menghampirinya.

“Ke mana perginya? Emang maling apaan?” Tanya teman-temannya serempak.

“Tahu deh! Palingan maling celana dalam sama pakaian dalam!” Celetuk Vivi asal.

“Apa Vi? Berarti elo kagak pake celana dalam donk? Coba periksa dulu Vi!” Geladah teman-temannya kompak.

“Eeh, apa-apaan sih? Jangan pada kurangajar ya kalian!” Vivi pun lantas berlari menghindar.

***

“Cowok itu, siapa ya namanya dia? Kok, aku jadi penasaran ya?” Raida merenung seorang diri di dalam kamarnya yang sunyi.

Sebuah laptop terbuka di atas meja belajarnya memancarkan cahaya dari layar monitor, menampilkan tulisan-tulisan berisi catatan hariannya di sebuah blog jejaring sosial. Kali ini Raida bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya tadi pagi. Mulai dari peristiwa penjambretan dompet yang terjadi di trotoar kaki lima langganannya hingga pertemuannya dengan si pemuda tampan berkuping aneh sepulang sekolah.

“Ah, aku panggil saja dia si Mr. Bunny! Habis dia lucu sih, kaya kelinci!” ketik Raida di laptopnya.

“Euleuh… Euleuh anak Ambu teh lagi jatuh cinta ya?” tiba-tiba saja suara lembut nan memilukan itu terdengar persis di samping telinga kanan Raida. Entah sejak kapan wanita paruh baya itu sudah berdiri di sebelahnya.

“Iih, Ambu! Ambu teh sudah lama di sini?” Raida bergegas menutup laptopnya tanpa log out terlebih dahulu dari akun blognya.

“Kira-kira atuh Neng, kamu teh jatuh cinta sama kelinci?” Ambu membelai rambut Raida penuh kehangatan.

“Dosa apa Ambu sama Gusti Allah, sampai Neng Ida jatuh cinta sama kelinci? Ya Allah Gusti Pangeran, ampunilah dosa hamba-Mu ini yang telah salah dalam mendidik Neng Ida, sehingga Neng Ida jatuh cinta sama Pangeran Kelinci. Orang mah jatuh cinta teh sama Pangeran Kodok, ini malah sama Pangeran Kelinci! Emangnya ada gitu Pangeran Kelinci, ya Allah?” Mulut Ambu komat-kamit seraya menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Tuhan.

“Beu.. Si Ambu mah lagi datang kumatnya! Mendingan Ida tidur saja, ah! Siapa tahu mimpi ketemu Mr. Bunny!” Raida bergegas naik ke atas ranjang dan menarik selimut.

“E..eh, tunggu dulu atuh, Neng Ida kan belum cerita apa-apa sama Ambu soal si Pangeran Kelinci itu! Saha eta namanya teh tadi, si Mr. Bunny nya?” Ambu beringsut duduk di tepian ranjang memijit-mijit kaki Raida.

“Duuuh, Ambu kepo banget sih, mau tahuuu terus urusan orang!” Cibir Raida sedikit grogi.

“Ah, Neng Ida mah sok main rahasia-rahasiaan saja. Biar jelek begini nih, biar Ambu teh bukan ibu kandungnya Neng Ida, tapi kan Ambu sudah menganggap Neng Ida itu anak Ambu sendiri! Dari kecil sejak ibunya Neng Ida tiada, Ambu yang selalu menjaga dan merawat Neng Ida. Pan anak suami teh, anak Ambu juga! Masa anak lagi jatuh cinta, Ambu nggak boleh tahu sama siapa jatuh cintanya teh! Ayo sok, mangga cerita atuh!” Ambu benar-benar sangat perhatian kepada satu-satunya anak tiri yang dimilikinya.

Raida mendekap tubuh Ambu erat. Ia bahagia betul memiliki ibu tiri yang begitu tulus menyayanginya. Ia yakin, kasih sayang yang diberikan Ambu kepadanya selama ini adalah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bukan semata karena Ambu tidak bisa memberikan keturunan kepada ayahnya tercinta yang telah menikahinya selama hampir 17 tahun lamanya.

“Ambu…” Raida terisak.

“Lagi jatuh cinta kok malah nangis? Orang lagi jatuh cinta aturan mah perasaannya bahagia, senang, berbunga-bunga. Pokoknya mah kata orang Jerman teh ‘bagja pisan euy!’ Ayo Neng Ida bilang saja, siapa lelaki yang sudah bikin Neng Ida klepek-klepek kaya ayam habis disembelih?” Tangan Ambu menyeka air mata yang mulai keluar di pelupuk mata Raida.

“Ih, si Ambu teh gimana sih? Masa nyamain Ida sama ayam yang baru disembelih? Ga level atuh Ambu!” Protes Raida dengan bibir merengut.

“Ida juga enggak tahu siapa lelaki itu. Ketemunya aja baru sekali ini. Mudah-mudahan saja Ida sama dia berjodoh ya Ambu?”

Ambu mengangguk mengaminkan harapan Ida.

“Pokoknya Ambu mah cuma bisa mendoakan untuk kebahagiaan Neng Ida. Semoga Gusti Allah selalu memberikan yang terbaik buat Neng Ida! Ya kalau enggak dapat Pangeran Kelinci siapa tahu malah dapat Pangeran Kodok!”

“Iiiih…. AMBU!” Raida mencibir sebal.

Ambu geleng-geleng kepala sambil melempar seutas senyuman. “Eh, ini teh kacamata baru?” Tanya Ambu tiba-tiba meraih sebuah kacamata yang baru saja dibeli Raida tadi pagi. Kacamata hitam itu teronggok di atas nakas samping tempat tidur.

“Bagus ya Neng? Apalagi kalau Ambu yang pakai! Dipakainya pas lagi di pantai, terus Ambu juga pakai bikini, duh pasti Ambu bakalan kelihatan semok dah! Cowok-cowok bakal ngeliatin Ambuuuu terus! Pasti mereka bilang Cameron Diaz mah lewat deuh! Britney Spears lewat juga! Apalagi Tamara Bleszinsky sama Luna Maya kali ya, pasti malah Ambu yang numpang lewat!” Dicobanya kacamata hitam itu ke wajah Ambu. Wanita paruh baya itu malah tersenyum-senyum sendiri di depan cermin mematut-matut diri.

“Ih, Ambu narsis! Eh, ngomong-ngomong soal kacamata kok aku jadi teringat sesuatu ya?” Raida berusaha mencoba mengingat runutan peristiwa tadi pagi.

“Ingat apaan Neng? Ingat sama Bang Bokir tukang jualan di pasar kaki lima ya?” Goda Ambu menyikut bahu Raida.

“Astaga! Uang Rp50.000,00-ku sebenarnya tidak hilang! Tadi pagi kan aku sempat bayar kacamata itu pada Bang Bokir, tapi belum sempat terima kembalian!” Raida menepuk keningnya pelan.

“Kalau begitu, aku besok harus menemui cowok itu di sekolahnya! Aku harus meminta maaf sama dia atas peristiwa tadi siang sepulang sekolah! Kayanya dia memang tidak salah kok! Bukan dia yang menjambret dompetku, lagian kan cowok yang mengembalikan dompetku tadi siang tidak kelihatan mengendarai motor, dia justru malah kabur naik angkot!” Gumam Raida berbicara kepada dirinya sendiri.

Ambu terperangah melihat Raida meracau tidak karuan, “Ya Allah, ampunilah dosaku ya Allah, jangan Kau buat Neng Ida menjadi gila hanya karena sedang jatuh cinta ya Allah! Biarkan dia menikmati masa mudanya ya Allah! Hamba mohon kabulkanlah doa hamba ya Allah!” Kembali tangan Ambu menengadah ke atas memanjatkan doa.

“Ambu, terima kasih Ambu! Berkat Ambu, aku jadi bisa bertemu lelaki itu lagi Ambu. Hore.. Sik, asik, sik, asik kenal dirimu!” Raida mengguncang bahu Ambunya tersayang, kemudian jingkrak-jingkrak tidak karuan. Gilakah dia?

#BERSAMBUNG#

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s