Posted on

Tinggal di Pedalaman Kalimantan Kadang Membuat Hatiku Menangis

image

Tinggal di Pedalaman Kalimantan Kadang Membuat Hatiku Menangis

Salam pembaca πŸ™‚
Pada postinganku kali ini, aku ingin melanjutkan ceritaku tentang suka-dukaku selama mengajar di daerah pelosok Kalimantan. Ya, aku tahu pembaca lebih suka menyebutnya daerah pedalaman kan? Terserah deh, yang jelas letaknya di Pulau Kalimantan. Tepatnya di garis perbatasan Provinsi KalTeng (Kalimantan Tengah) dan KalBar (Kalimantan Barat). Perlu waktu sehari-semalam untuk sampai ke Palangka Raya (ibukota KalTeng) dan dengan waktu yang sama ke Pontianak (ibukota KalBar). Desa tempat tinggalku bernama Desa Bangun Jaya (SP3), sedangkan nama kecamatannya adalah Balai Riam, dan kabupatennya Sukamara, ingat loh nggak pakai huruf ‘H’ di belakang nama kabupaten tempat tinggalku. Karena kalau ditambah lagi huruf H, nama kabupaten tempat tinggalku jadinya SUKAMARAH! πŸ˜›

image

Tentunya pembaca masih ingat kan dari mana asalku? Yup benar, dari perut ibuku lah! Eh, maksudku daerah asalku? Bogor! Karena membaca surat dari sepupuku yang tinggal di Kalimantan, begitu tamat SMA dan kebetulan aku gagal mendapat beasiswa kuliah ke Jepang, aku nekad hijrah dari Bogor ke Kalimantan. Kata orang kalau hidup kita ingin maju, kita harus berani mencoba untuk hijrah ke daerah lain. Jadi, sepertinya keputusanku tidak salah, horeee… Hidup hijrah! πŸ˜€

Singkat cerita, karena aku melihat rapor sepupuku yang tidak ada pelajaran Bahasa Inggrisnya, aku nekad menemui kepala SD sepupuku. Mau demo ya Gih? Hebat, aku sama sekali tidak membawa selembarpun kertas ijazah, maupun STTB, apalagi surat nikah! Kepala SD Desa Bangun Jaya menerimaku sebagai guru Bahasa Inggris. Mantap! Pake mantra apa tuh?

Juli 2004
Hari pertamaku mengajar, aku terpana melihat gedung sekolah yang ternyata hanya memiliki 3 ruang kelas dan 1 kantor yang sangat sempit untuk 8 orang guru. Bangunan sekolahnya panggung terbuat dari kayu ulin asli beratapkan sirap. Kayu ulin memang terkenal sebagai kayu besi, tetapi kondisi sekolah tempatku bekerja itu sangat memprihatinkan. Tidak ada sarana-prasarana yang menunjang untuk kegiatan belajar-mengajar. Pokoknya mengenaskan deh, mau ke wc saja tidak ada airnya. Harus menunggu murid yang punya kesalahan dulu untuk dihukum menimba air di sumur. (Ya udah, cari aja kesalahan tiap murid, terus suruh mereka nimba sumur rame-rame buat ngisi wc, cyn!) Jangan donk, nanti melanggar Komnas HAM anak, lagi!

Karena semua anak di SD itu sama sekali belum pernah belajar Bahasa Inggris, jadinya aku harus mengajar dari nol, alias berawal dari alfabet dulu.  Anak-anak sering kuajak maju ke depan kelas untuk membaca langsung, dan mereka tampak malu-malu untuk mencoba. Kadang-kadang mereka tertawa saat aku sedang menerangkan suatu materi atau sedikit berceletuk mengguraui mereka. “Hey Nak, kenapa rambutmu brekele? Mamamu jualan berondong jagung kah?” Candaku pada seorang anak berambut kribo, dengan suara berlogat Batak sontak seisi kelas pun tertawa. Anak yang kucandai pun ikut tertawa, kadangkala aku berceletuk “Cow sapi, Buffalo kerbau! (Baca : Kau sapi, Bapa lo kerbau!)” Kontan tidak pernah ada yang mengantuk saat aku sedang mengajar karena mereka selalu tertawa mendengar celetukanku.

Seiring aku mengajar di sekolah, aku pun mulai membuka usaha bimbingan belajar di rumah sepupuku. Maklumlah, aku menjadi penumpang sekarang. Banyak siswa yang berminat mengikuti les denganku. Tidak hanya untuk pelajaran Bahasa Inggris tapi juga Matematika. Baru pertama buka, jumlah murid bimbingan belajarku sudah mencapai 40 orang. Sampai ada murid SMP yang ceritanya sengaja ikut les denganku karena dia naksir aku. Cie.. Cie.. Ehem! ❀

Lucunya, kebanyakan muridku di luar sekolah memanggilku kakak atau abang karena usiaku masih muda, waktu itu aku masih 18 tahun. Tapi orang tua mereka malah memanggilku Bapak! Jadi merasa tua deh! "Pak Sugih, Pak Sugih, mau ke mana? Sini mampir dulu! Tak kasih jagung rebus mau enggak?" Begitulah panggil para orang tua murid tatkala aku melintas berjalan di depan rumah mereka. Namanya kehidupan di desa, sifat keramahan warga desa masih kentara.

Aku bersyukur sekolah tempatku mengajar sudah membangun gedung baru. Kami akan mempunyai 3 kelas tambahan sehingga nanti tidak ada lagi shift pagi dan shift siang antara kelas junior dan kelas senior. Sekolah kami nanti akan berbentuk letter L panggung. Gedung baru ini juga terbuat dari papan ulin tetapi atapnya multiroof.

Kalian tahu apakah aku bahagia tinggal di pelosok Kalimantan? Ya, aku bahagia tidak menjadi seorang pengangguran! Aku bahagia walaupun aku hanya tamatan SMA, aku mempunyai usaha sendiri bermodalkan otak dan kecerdasan yang kumiliki. Setidaknya aku bisa menunjukkan kepada seluruh keluargaku kalau aku anak yang mandiri. Aku bukanlah tipe anak yang suka merongrong dan menuntut orang tua untuk menuruti segala kemauan anaknya! Tetapi aku juga sedikit sedih, meskipun aku lelaki, boleh kan aku bersedih? Kalian tahu apa yang membuatku bersedih? Aku sering teringat kawan-kawan sekolahku dulu, sebelum perpisahan mereka banyak bercerita kepadaku kalau mereka akan melanjutkan ke universitas-universitas ternama baik dalam maupun luar negeri. Sedangkan aku? Aku merasa menjadi seorang pangeran pemimpi yang terdampar di Pulau Kalimantan karena tidak berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.

Aku tak bisa mencari jendela ilmu ke perpustakaan daerah seperti yang sering kulakukan dulu saat masih di Bogor. Ingin menonton televisi saja, harus menyalakan genzet. Belum ada saluran PLN di desa tempat tinggalku pada saat itu. Ingin belanja buah segar di pasar, eh di tempatku sekarang tak ada pasar. Apalagi angkutan umum seperti di kota. Hidup di pelosok Kalimantan membuatku merasa terkekang seperti dalam penjara, semua serba dalam keterbatasan. Tetapi aku terus berusaha meyakinkan hatiku, mereka para tunas bangsa di tanah ini sangat memerlukanku untuk melihat jendela dunia lebih luas lagi. Sedih memang, tapi hatiku jauh lebih sedih ketika melihat gedung sekolah kami terbakar habis karena tersambar petir. Tak ada barang yang dapat kami selamatkan di dalam gedung itu. Kursi dan meja semua habis dilalap si jago merah. Hanya tinggal gedung baru yang menjadi tumpuan harapan kami satu-satunya untuk tetap dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Tentunya pergantian shift antara kelas junior dan senior akan terus berlanjut seperti biasanya. Aku masih ingat betul, peristiwa kebakaran itu terjadi satu minggu menjelang Ulangan Umum Semester Ganjil, tepat dua minggu sebelum tsunami di Aceh terjadi. 

Januari 2005
Sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga, aku merasa pendapatan yang kumiliki belum seberapa. Honor mengajarku di sekolah perbulan hanya Rp150.000,00. Sedangkan iuran bulanan les bimbingan belajarku peranak dan perbulan waktu itu hanya Rp20.000,00 dikalikan jumlah murid lesku, murah kan? Sangat murah! Tetapi itu tidak sepadan dengan biaya hidupku di Kalimantan. Bayangkan harga sembako di desa tempat tinggalku saat itu mencapai 2 bahkan 3x lipat harga barang di Jawa. Bagaimana aku bisa menabung untuk masa depanku? Untunglah gayung bersambut, SD Natai Kondang yang terletak di desa tetangga, kebetulan juga memerlukan guru Bahasa Inggris. Kedatanganku di Kecamatan Balai Riam, benar-benar menjadi perintis Bahasa Inggris untuk jenjang sekolah dasar. Maka aku mulai mengatur jadwal, 3 hari mengajar di SD Bangun Jaya dan 3 hari mengajar di SD Natai Kondang. Jarak antara kedua desa ini kira-kira 5-7 km. Berhubung aku tidak mempunyai motor dan di sini tidak ada kendaraan umum, maka tiap pagi buta pukul 5 subuh aku harus sudah berangkat berjalan kaki ke Desa Natai Kondang. Waktu itu musim hujan dan jalanan banyak yang rusak penuh kubangan lumpur, sayang ya aku tidak punya benih padi, jika tidak, jalanan penuh lumpur itu sudah kugarap kujadikan sawah! Memangnya loe bisa tani Gih? Wew. Alhasil aku harus merelakan sepatuku jeblok kena lumpur. Celanaku kotor belepotan seperti habis turun dari sawah. Mau tidak mau aku harus berjalan kaki menenteng sepatu di tangan, dan celanaku digulung selutut agar tidak kotor terkena lumpur. Hanya kadang-kadang di pagi hari ada supir truk kayu gelondong yang mau berbaik hati padaku memberikan tumpangan gratis, itupun di belakang bersama kayu gelondong dengan resiko tinggi celaka terjatuh karena supir truk sering ugal-ugalan. Maka aku harus berpegangan erat pada tambang yang mengikat kayu gelondong dengan badan truk. Tapi sejak kayu-kayu di hutan tempat kami mulai habis, tak pernah ada lagi truk gelondong yang melintas. Mau tidak mau aku harus berjalan kaki pulang pergi. 

SDN Natai Kondang sedikit lebih modern daripada SDN Bangun Jaya. Gedung sama terbuat dari kayu ulin, atap sama terbuat dari sirap. Hanya saja lantainya yang sudah berkeramik, dan kantor gurunya terbuat dari beton. Yang membuatku terbengong-bengong adalah banyak murid yang sekolah tidak bersepatu maupun alas kaki. Seragam sekolah saja memakai kaus bebas. Banyak murid kelas 6 yang sudah berusia remaja 14-16 tahunan. Dan banyak guru yang cuti katanya hanya 3 hari, tetapi 3 bulan belum kembali! (Aduh, busyet deh! Ini sekolah atau pasar ya?) Kedatanganku disambut hangat para warga desa yang ramah bersahaja. Mereka menaruh harapan padaku dapat mengajar putra-putri mereka penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi mengingat banyak guru di sekolah itu membolos hingga berbulan-bulan lamanya.

Bubar sekolah di Desa Natai Kondang, aku tidak terus pulang ke Desa Bangun Jaya. Aku lebih suka bercengkerama dengan warga desa setempat sekadar bertukar pikiran dengan para orang tua murid. Aku beruntung, bertemu sesama orang Sunda di tanah rantau serasa bertemu saudara sendiri. Adalah Ibu Warsih, seorang pedagang pecel yang sudah kuanggap ibuku sendiri karena sering menyuruhku bermalam di rumahnya bila hujan deras menghambat kepulanganku ke Desa Bangun Jaya. Rumah beliau berdiri persis di depan SD tempatku mengajar. Bapak Karnedi, suaminya, pun sangat baik kepadaku. Mungkin karena kami sama-sama berasal dari Tanah Pasundan. Pada sore harinya aku juga membuka les Bahasa Inggris di Desa Natai Kondang. Anak-anak begitu antusias mengikuti les denganku. Hanya Rp2000,00 perbulan, anak-anak menyisihkan uang saku mereka. Aku sangat terharu melihat minat mereka yang begitu besar terhadap pelajaran Bahasa Inggris. Pernah sehari saja aku tidak turun mengajar ke sekolah, karena sakit meriang, badanku menggigil panas dingin. Kemarin sore aku pulang jalan kaki karena tidak ada truk lewat yang memanen buah sawit, mungkin aku kelelahan karenanya. Biasanya kalau sore hari aku pulang menuju Desa Bangun Jaya menumpang truk buah sawit. Eits, jangan pikir aku menumpang di depan ya? Head mobil selalu dipenuhi oleh supir dan para keneknya, plus mungkin ada satu orang atau dua orang wanita yang mungkin sengaja mereka ajak agar mereka ada hiburan sepanjang perjalanan. Jadi aku selalu menumpang di belakang. Tepatnya di atas tumpukan buah sawit yang beratnya 5-7 ton menggunung. Aduuh… Ngeri kalee! Itu truk jalannya megal-megol kaya bebek pengen beol! Jalanan yang berlubang dan berlumpur seringkali membuat truk nyaris terguling. Aku hanya bisa komat-kamit berdoa pada Tuhan, semoga aku terselamatkan sepanjang perjalanan. Belum lagi, alamak itu buah sawit ternyata tajam juga ya. Banyak durinya! Bajuku sering sobek terkena duri sawit kalau aku menumpang truk sawit. Hiks, nasib…nasib… 😦  Nah, ketika aku sekali sakit dan tidak mengajar waktu itu, sore harinya aku tidak menyangka, murid-muridku dari Desa Natai Kondang datang berbondong-bondong bersepeda ke rumahku. Mereka menyerangku dengan bertubi-tubi pertanyaan : "Bapak tadi kenapa tidak turun mengajar? Bapak sakitkah Pak? Bapak sakit apa? Bapak besok turun mengajar tidak? Sehari tidak ada Bapak, sekolah rasanya sepi kaya kuburan ditinggalkan setan!" Kalimat terakhir adalah kalimat gurauan anak-anak kelas 6 yang sudah beranjak remaja. "Ah, kalian ini, jadi saya ini setan gitu?" Timpalku pada mereka seraya mempersilakan masuk. "Iya Pak, Bapak ini SETAN, setia dan tampan!" Canda anak-anak perempuan yang sudah kelewat baligh. Aha…pintar menggombal juga mereka rupanya.

Sayangnya kemesraan saya bersama murid-murid SD Natai Kondang hanya berlangsung selama satu tahun. Karena sejak Juli 2005, saya ditarik ke SMA untuk mengajar sastra di SMA Negeri 1 Balai Riam. What? Apa tidak salah? Saya kan cuma tamatan SMA, kok bisa mengajar SMA? Well, itu akan menjadi cerita saya di postingan selanjutnya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya πŸ™‚

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

2 responses to “Tinggal di Pedalaman Kalimantan Kadang Membuat Hatiku Menangis

  1. Firdha ⋅

    wah Anda layak mendapatkan penghargaan Pak Guru. Presiden Jokowi seharusnya segera menemukan Anda. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s