Posted on

Temaram Senja di Balai Riam

image

Sebuah kisah nyata…

Ditulis oleh SUGIH

***

“Inikah bukit cinta yang pernah kau ceritakan padaku?” Lelaki itu melepas pandangan ke sekeliling.

Segara menghijau terhampar luas. Alang-alang bermalai putih terus bergoyang tertiup hembusan angin. Bebatuan besar menjadi tempatnya berpijak di atas kaki bukit rerimbunan semak dan kumpulan petak tanaman sawit, suatu perkebunan yang maha luas.

Jelungga. Sebuah bukit kecil terletak di perbatasan Kecamatan Balai Riam Provinsi Kalimantan Tengah dan Kecamatan Manis Mata Provinsi Kalimantan Barat. Bukit yang biasa saja, seperti kebanyakan bukit lainnya. Tetapi bukit kecil itu memiliki sebuah keistimewaan yang diyakini banyak kaum muda : KEABADIAN CINTA!

Banyak pasangan kekasih mendaki Bukit Jelungga tidak hanya sekedar menikmati pesona keindahannya, tetapi juga banyak di antara mereka mengukirkan nama berpasangan, berharap cinta mereka akan abadi. Sama seperti sebuah tulisan yang sedang dilihat oleh lelaki itu. Di atas sebuah batu yang amat besar tertera namanya bersama nama seorang gadis yang amat dicintainya : Cici “Aaah…” Lelaki itu mendesah. “Andai waktu dapat diulang kembali, aku ingin kita tetap bersama selamanya, Ci…” Seakan lelaki itu sedang berbicara pada gadis yang namanya tertulis di batu itu.


image

Lelaki itu merenung begitu lama mengingat-ingat romansa saat ia masih bersama gadis yang bernama Cici.

Palangka Raya, 2010

“Masuklah, Ci!” Titah pemuda tanggung berwajah tirus itu.

“Tidak usah, bukankah Kau tidak mau kalau nanti kita terkena fitnah?” Cici menunduk tak menunjukkan ekspresi wajahnya.

“Tidak akan! Di sini banyak teman kosku, kita tidak hanya berdua. Masuklah!” Pemuda itu masih berdiri di ambang pintu kamar kosnya meletakkan sebelah tangannya pada bingkai pintu.

“Oh, tapi aku lebih suka di sini saja,” Cici membuang pandangan.

“Terserah Kau saja kalau begitu!” Pemuda tampan itu mengambilkan minum dari dalam kamarnya dan memberikannya kepada Cici. Namun Cici tak menggubris minuman pemberian kekasihnya itu. Suasana mulai sepi.

Lelaki itu tersengih, “Mukaku sekarang jelek ya, Ci? Aku sekarang botak, habis OSPEK!”

Cici tersenyum kecut, “Nggak kok, malah tambah gagah. Tapi enggak akan ada lagi orang yang mengatakan Kamu mirip Irwansyah!”

“Kak Sugih?” Timpal si botak gagah.

Lelaki itu pun tersenyum kecil. Ia kehabisan kata untuk berbicara dengan gadis yang amat dicintainya itu. Sekian lama mereka berdua tidak berjumpa sejak pertemuan pertama mereka diSukamara, sebuah kota kecil yang menjadi ibukota kabupaten tempat mereka tinggal. Saat itu, Cici tengah mengikuti kegiatan Kontes Ujang Aluh, suatu ajang pemilihan duta pariwisatatingkat kabupaten, Cici mewakili Kecamatan Balai Riam, perbukitan hulu utara kabupaten. Sementara di saat yang bersamaan Zaky sedang mengikuti Pameran Pembangunan mewakili kecamatan tempat tinggalnya, Kecamatan Jelai, suatu desa di pesisir pantai, jauh di selatan kabupaten. Zaky bertemu Cici dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Cici pada saat pertemuan itu telah menjalin hubungan bersama Agung, lelaki yang hanya dijadikan pelarian oleh Cici setelah cintanya kandas oleh lelaki lain.

Zaky mendapatkan nomor hp Cici dari seorang guru yang sangat dekat dengannya. Guru Cici itu sudah seperti kakak sendiri bagi Cici dan Zaky. Keduanya sering mencurahkan perasaan kepada sang guru. Dari situlah guru Cici tersebut mengetahui bahwa Cici dan Zaky sebenarnya saling mencintai. Berkat dorongannya pula Zaky berhasil mengutarakan perasaannya kepada Cici. Tapi sayangnya karena jarak Zaky dan Cici terlampau jauh, komunikasi mereka hanya sebatas via telepon. Awalnya Cici hanya menerima cinta Zaky diam-diam, karena Cici belum menghentikan permainannya terhadap Agung. Namun sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, akhirnya tercium juga. Begitulah akhirnya hubungan gelap yang dijalin Cici dan Zaky akhirnya diketahui pula oleh Agung, hingga akhirnya Cici memutuskan hubungannya dengan Agung. Sejak saat itulah Cici dan Zaky resmi menjalin asmara.

Lama mereka terdiam. Hujan turut mengiringi kesunyian mereka berdua. Meski udara dingin, keduanya sama sekali tidak menggigil. Ada perasaan kerinduan yang dalam dan selama ini Zaky pendam untuk Cici. Namun ia tak mampu menunjukkannya kepada Cici terlebih karena Zaky sangat tahu batasan-batasan norma agama. Zaky dikenal memang pemuda yang sangat alim dan shaleh. Seandainya saja Zaky bukan pemuda alim, mungkin sudah sejak tadi Zaky memeluk Cici erat-erat untuk memupus kerinduannya itu. Sebaliknya, Cici datang menemui Zaky dipenuhi perasaan bersalah yang tak mampu diungkapkan olehnya kepada pangeran terkasihnya itu.

“Aku ke mari untuk mengantarkan ini,” sebuah sms diterima Zaky dari Cici.

Cici menyerahkan sebuah bingkisan besar kepada Zaky. Zaky menatap Cici yang berdiri di hadapannya.

“Maaf kalau aku telat memberikannya. Sebab aku menunggu waktu yang tepat untuk bisa datang ke sini. Selamat ulang tahun ya, Zaky,” lagi-lagi sms dari Cici.

“Terima kasih, Ci untuk kadonya. Tapi melihat kedatanganmu saja sudah merupakan kado terindah untukku,” balas Zaky juga via sms.

“Maafkan aku Ky. Mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir,” ungkap Cici masih via sms.

Wajah Zaky berubah kaget.

Entah mengapa percakapan di antara keduanya menjadi beralih via sms. Cici tampak enggan pembicaraan mereka berdua terdengar oleh teman-teman kosan Zaky. Sementara untuk jalan ke luar berbicara empat mata, suasana sedang tidak mendukung. Hujan mengguyur tiba-tiba Kota Palangka Raya di tengah keheningan malam. Maka jadilah sepasang kekasih muda belia itu hanyaberdiskusi di ambang pintu kamar kos Zaky.

“Apa maksudmu, Ci, mengapa kamu berkata seperti itu?” Zaky membalas sms Cici dengan tatapan nanar.

“Kamu masih marah karena FB-ku pernah menulis nama teman kampusku di statusku? Demi Tuhan Ci, waktu itu FB-ku dihack oleh teman kampusku, lalu dia menulis nama mahasiswi teman kampusku di statusku!” Imbuh Zaky pada sms berikutnya sebelum Cici sempat membalasnya.

“Aku percaya padamu, Ky! Tapi ini masalahnya beda! Kurasa hubungan kita sudah tak bisa dipertahankan lagi!” Sela Cici setelah dua sms berturut-turut terkirim dari Zaky.

“Ci, aku sangat mencintai kamu! Sebelumnya aku belum pernah berpacaran, dan ketika aku bertemu kamu di Sukamara dulu, aku langsung jatuh cinta pada kamu. Aku ingin kamu menjadi cinta pertama dan terakhirku!” Zaky menatap dalam-dalam gadis yang berdiri di hadapannya, namun Cici selalu berusaha menunduk atau membuang pandangan ke arah lain. Ia menghindari tatapan Zaky.

“Apa karena kita berbeda keyakinan? Apakah aku terlalu memaksakan keyakinanku padamu?” Zaky berusaha menyelidik lebih jauh.

“Tidak! Bukan karena itu, justru sejak aku menyadari bahwa aku jatuh cinta denganmu, aku semakin tertarik untuk mempelajari keyakinanmu,”

SENT! Cici mengirim kembali pesan singkatnya itu setelah sempat beberapa kali gagal terkirim. Tampaknya cuaca mulai berpengaruh buruk terhadap kuantitas sinyal.

“Lantas apa Ci, yang membuatmu memutuskan aku? Kalau aku mempunyai kesalahan, tolong beri tahu aku, agar aku dapat memperbaiki kesalahanku!” Zaky merapatkan tubuhnya pada bingkai pintu. Sementara Cici berbalik menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah Zaky.

Keduanya kembali terdiam. Zaky berharap Cici berkenan menengadahkan kepala untuk menatapnya. Hati Zaky begitu teriris dan sangat pedih.

“Kamu sama sekali tidak bersalah. Mungkin seharusnya jarak dan waktu yang patut disalahkan! Karena mereka membuat kita terpisah begitu jauh sehingga cinta kita sulit dipersatukan!”Muncul bulir-bulir air mata di pelupuk mata Cici.

Ingin hati Zaky untuk menghapus tetesan air mata di sudut mata Cici. Ia tak ingin melihat kekasihnya bersedih karena dirinya. Meski hatinya telah berteriak untuk menghapus air mataCici, namun tangannya tak jua segera melaksanakan perintah jeritan hatinya. “Biar Cici melampiaskan kesedihannya itu, agar beban yang sedang dialami Cici sedikit-banyak berkurang!” Imbau hati kecil Zaky.

“Dia yang pernah pergi dari hidupku, entah mengapa kini datang kembali kepadaku, setelah sekian lama ia tak pernah mempedulikanku kini ia muncul untuk menghapus namamu di hatiku!” Ungkap Cici seraya menyeka air mata di pipinya.

“Lalu?” Timpal Zaky membalas sms Cici.

“Sekalipun aku takkan pernah bisa menghapus namamu di hatiku! Meskipun dia memiliki ragaku, namun jiwaku selamanya hanya untukmu, Zaky!” Pandangan Cici menengadah ke atas menatap langit-langit rumah kos Zaky.

“Dia terus mendekatiku demi keinginan untuk memilikiku! Aku tidak tahan Ky, orang sekampung terus menggunjing kami agar kami segera menikah dan menghindari fitnah! Sedangkan bila ku harus menunggumu selesai kuliah masih tiga atau empat tahun lagi. Keluargaku terus mendesak untuk menerima lamarannya!” Cici menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Apakah kau masih mencintai dia seperti dulu kau begitu mencintainya?” Tanya Zaky penasaran. Kini Zaky turut membalikkan badan dan menyandarkan punggungnya pada dinding persis di balik punggung Cici.

“Rasa cintaku padamu jauh lebih besar daripada cinta yang pernah kuberikan kepadanya di masa lalu! Selama ini kamulah lelaki yang sebenarnya aku cari ,Zaky! Kamulah lelaki dambaan hidupku!” Cici tak kuasa menghantarkan pesan singkatnya itu di mana sinyal pun semakin lemah untuk mengirimkannya. Ingin rasanya Cici menyampaikan perasaannya secara langsung kepada Zaky, akan tetapi mulutnya seakan terkunci rapat menyatu dengan lidahnya sehingga ia tak mampu berkata-kata. Hanya tangannya yang mampu merengkuh ponsel dalam genggamannya.

“Aku sangat mencintaimu, Ci…” Hanya itu yang dapat Cici lihat sebagai balasan smsnya tadi.

“Ya, aku tahu itu!” Balas Cici.

“Meski cinta kita tak pernah tersatukan, hatiku akan tetap selalu milikmu! Telah kuukir nama kita berdua di atas Bukit Jelungga, bukit cinta, bukit terindah di kampungku! Di sana cinta kita telah terukir abadi selamanya!”

Hujan mulai reda bersamaan terhentinya isak tangis Cici. Tak terasa satu jam telah berlalu sejak Cici datang menemui Zaky. Namun satu jam itu tidak terungkap secara lisan semenit pun. Satu jam itu hanya terpakai saling sms yang berujung kepedihan.

“Aku pergi Zaky!” Pamit Cici sebagai pesan singkatnya yang terakhir.

Cici pun berlalu meninggalkan Zaky dalam kehampaan. Hanya tatapan mata Zaky yang tak kunjung berkedip mengantarkan kepergian Cici hingga ujung lorong gerbang rumah tempat kosnya. Bingkisan besar pemberian kekasihnya dipeluknya erat seolah itu adalah Cici.

Tatkala Cici keluar meninggalkan gerbang, hujan kembali turun lebih lebat dari sebelumnya bersamaan dengan air mata yang tidak tertahan sejak pertemuannya dengan Zaky. Cici terus berlari dan berlari diiringi derai air mata yang kian deras. Langit malam semakin kelam mengantarkan sepasang muda-mudi yang baru saja berduka menuju awal kedewasaan.

image

3 tahun berlalu…

Zaky masih berdiri di atas bukit itu. Ia sama sekali tidak menyesal telah mengunjungi desa kekasih tercintanya walaupun ia tak berhasil menemuinya. Ah, tidak! Bukan itu tujuannya! Kebetulan saja tugas KKN yang diberikan dosennya telah menunjuk Zaky dan kawan-kawannya untuk turun ke desa tempat Cici berada. Suatu hal yang kebetulan, Zaky memang sangat ingin mengetahui kampung halaman Cici, terlebih melihat Bukit Jelungga secara langsung untuk membuktikan hal yang pernah dilontarkan oleh Cici saat perpisahan mereka dulu. Diantar oleh kakak angkatnya yang pernah menjadi tempat Zaky dan Cici mencurahkan perasaan dulu, berangkatlah Zaky ke bukit di perbatasan provinsi tersebut.

Zaky terduduk menikmati panorama lembayung senja di atas bukit. Tanpa terasa ia sudah lama berada di sini dan sudah saatnya pulang. Senja semakin temaram kemerahan. Zaky terpekur hingga saat ini hatinya belum menemukan tambatan hati yang dapat menggantikan Cici untuk bersanding di sampingnya. Zaky segera melangkah menuruni bukit, ia takut teman-teman kuliahnya mencemaskan kepergiannya. Kakak angkatnya yang sedari tadi menungguinya di bawah bukit segera menstarter motornya mengantar Zaky pulang.

“Kabarnya Cici sekarang sudah menjadi muallaf, ya?” Tanya Zaky pada kakak angkatnya itu.

“Alhamdulillah Zaky, saya pernah bertemu dengannya sekali. Sejak menikah dengan Chandra, Cici merubah penampilannya, ia sudah memakai jilbab. Tapi saya yakin, bukan Chandra yang telah mengubah Cici! Tapi Kamu!” Ungkap kakak angkat Zaky.

Zaky hanya terdiam mendengarkan penuturan kakak angkatnya mengenai Cici. Betapa selama ini Cici tak pernah bisa melupakan Zaky.

Setiba di perkampungan penduduk, motor yang dikendarai mereka nyaris menabrak anak balita yang kebetulan tengah melintas menyeberang jalan yang sebelumnya tampak lengang. Anak balita berusia 2 tahun itu tampak amat ketakutan dan segera berlari memasuki sebuah gang dan berhenti menabrak kaki orang dewasa, seorang wanita.

“Zaky, kamu itu mama cari ke mana-mana, aduuh kamu kok nakal sih, Nak! Main di pinggir jalan, bahaya tahu!” Omel wanita yang kakinya ditabrak anak balita tadi.

“Cici, Zaky kan masih kecil, belum mengerti apa-apa! Jangan kamu omeli terus donk!” Terdengar suara seorang lelaki di belakang wanita yang mengomeli anak balitanya.

“Hari sudah gelap, ayo kita pulang!” Ajak laki-laki itu lagi.

Cici menoleh ke ujung jalan mulut gang. Dipandanginya cukup lama motor yang baru saja melintas di hadapannya. Dia mengernyitkan kening sekilas, sama sekali tidak menyadari kalau motor tersebut tadi sempat nyaris menabrak Zaky kecil, buah hatinya.

“Sepertinya aku melihat Zaky barusan! Ah, tapi mana mungkin dia ada di sini!” Gumam Cici  seraya menarik napas perlahan.

SEKIAN

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s