Posted on

Sang Perjaka #5

image

Sang Perjaka

#5

Written By SUGIH

==••00¤00••==••00¤00••==

Apa jadinya cinta bila dua hati saling bertaut?
Cinta itu akan sungguh terasa manis
Melebihi manisnya gula
Bahkan permen takkan terasa manis
Dan begitu pula dengan tebu
Semuanya akan terasa hambar
Kecuali cinta!
Cinta itu akan membuat waktu terasa lebih singkat
Melampaui kecepatan intensitas cahaya
Setahun rasanya sebulan,
Sebulan rasanya seminggu,
Seminggu rasanya sehari,
Sehari rasanya sejam,
Sejam rasanya semenit,
Dan…
Semenit rasanya sedetik
Sungguh!

Ya, begitulah cinta!
Membuat siapapun tak ingin lepas darinya
Membutakan mata hati apakah di luar sana masih ada yang jauh lebih baik darinya
Tapi itulah cinta!
Ketika panah cupid telah menancap di hati dua insan siapapun takkan bisa melepasnya!

Kadang cinta seperti kumpulan bunga di taman
Ia terlihat indah dipandang
Dan harum saat dicium
Namun layu pada saatnya tiba nanti!

Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Sebenarnya siapa yang sedang jatuh cinta? Apakah aku yang masih muda dan sedang bergelora karena gejolak asmara? Atau masih adakah pubertas kedua bagi mereka yang sudah terlalu dewasa? Arrrgh…

Wanita itu tengah bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang berusia sama dengannya. Usia yang hampir mencapai setengah abad. Mereka berjalan menelusuri pantai di mana aku dan Dewi sedang menikmati senja di hari terakhir Ramadhan ini. Esok bulan akan segera berganti menuju Syawal yang dinanti.

“Bang, ada apa?” Tanya Dewi tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Ah, tidak! Abang cuma takjub akan kebesaran Allah, senja sore ini sangat indah ya?” Untung saja aku tidak gugup menyahuti teguran Dewi.

Jangan sampai Dewi mengetahui apa yang baru saja aku lihat tadi. Aku tidak ingin membuatnya mengubah keputusan hingga membatalkan ta’aruf yang baru saja kami bina beberapa pekan ini.

Kerudung Dewi berkibar-kibar tertiup semilir angin yang berhembus dari arah darat. Langit jingga keemasan memancarkan bias terakhirnya pada laut yang menjadi cerminnya seakan ingin mengucapkan selamat tinggal pada setiap insan yang akan merindukan Ramadhan.

Lafadz takbir berkumandang di segala penjuru. Hari hampir malam dan adzan maghrib telah berlalu. Kami segera berlari menuju kafetaria di dekat kami. Di sana kawan-kawan tengah mempersiapkan acara buka puasa bersama yang sengaja kami adakan bersama Ikatan Remaja Mesjid di kampung kami.

“Cie yang baru saja ta’arufan!” Goda Priyadi yang duduk di samping Camelia dan bernarsis ria dengan kamera ponselnya.

Kami segera menempati kursi yang masih kosong dan mulai berdoa bersama. Segera setelahnya kami saling berebut hidangan pembuka yang telah tersaji di atas meja.

“Bang Mirthan, sini Bang, aku boleh kan foto bareng Abang?” Panggil Camelia sedikit manja.

Priyadi menyikut lengannya mengingatkan gadis belia itu kalau di sampingku ada Dewi.

“Loe kalo mau foto bareng ame Mirthan, Loe mesti minte izin dulu ame bininye noh, si Dewi!” Timpal Mpok Utul menengahi.

“Ah, Mpok! Aye kan juga tahu kali!” Camelia tak mau diberi saran dari kakaknya itu.

“Enggak apa-apa kan Kak, kalau aku foto bareng sama Bang Mirthan?” Liriknya ke arah Dewi. Dewi menatap ke arahku. “Silakan!” Izinnya tulus.

“Hei, daripada loe foto bareng sama Om-om, mendingan foto bareng gue! Secara gue kan lebih muda and lebih segar gitu loh!” Amir ikut nimbrung menghampiri Camelia. Aku sudah mengambil posisi di sebelah gadis cantik itu untuk berpose dengannya.

Priyadi membantu kami membidik kamera yang disodorkan Camelia.

“What masih segar? Ikan kalee…” Cibir Camelia keki. Pandangannya beralih membelakangi pemuda alay yang tak disukainya itu.

“Hei… Memangnya aku sudah Om-om ya?” Protesku.

“Ups maaf deh calon kakak ipar! Aku hanya bermaksud menggoda senoritaku ini!” Amir tersenyum kecut menggaruk-garuk kepala.

“Wah loe mau ngegodain adik gue, bukan gitu caranye tuh!” Sembur Mpok Utul lagi.

“Adik gue itu sukanye same cowok yang cool! Nah elo entu kagak ade cool-coolnye same sekali! Kalo kelihatan BEDUL sih iye kali ye! Cobe deh elo entu sedikit jaim ke die, pasti die hatinye kepincut same loe!” Saran Mpok Utul sungguh-sungguh.

“Mpok, aye kagak ngerti Bahasa Betawi! Bedul itu apaan ya?” Amir kebingungan.

“Bedul entu singkatan dari BEGAJULAN dan AMBURADUL!” Koar Mpok Utul nyaris muncrat kena muka Amir yang mupeng.

“Ih si Mpok, sentimen amat! Emangnya Bang Harun kagak begajulan apa?” Amir tidak terima dengan sambaran kakak gadis pujaannya itu.

“Loe kok bawa-bawa laki aye sih?” Sungut Mpok Utul sebal.

“Lah, Mpok itu kagak nyadar ape, umur dah tua doyannya sama berondong!” Sindir Amir blak-blakan.

Kontan perdebatan dua tua-muda itu menjadi sorotan para remaja anggota Ikatan Remaja Mesjid yang telah memenuhi kafetaria tempat berbuka bersama.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s