Posted on

Sang Perjaka #4

image

SANG PERJAKA

#4

Written by SUGIH

◊◊◊◊◊♣♣♣◊◊◊◊◊

“Ehem,” Camelia berdeham menengahi kami.

“Dewi, habis belanja juga?” tanyaku malu-malu. Apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Camelia ya? Sejak kapan dia sudah berada di hadapan kami?

“I…iya, Bang. Abang tidak bersama ibu dan teman-teman lainnya?” pandangan Dewi menunduk, pipinya bersemu kemerahan.

“Sebetulnya tadi sih belanja sendiri. Terus tidak sengaja bertemu makhluk satu ini nih!” lirikku ke arah Camelia.

“WHAT??? MAKHLUK???” Camelia melotot.

“Lah kalau bukan makhluk, terus apa dong? Penampakan? Roh halus? Atau….” Aku mencoba berpikir mencari sebutan lainnya yang kira-kira tepat untuknya.

“Heuuh, Abang ini terlalu!” dengus Camelia sewot.

“Terlalu apa? Terlalu ganteng ya? Terima kasih, cantik!” sentilku padanya dengan lirikan genit.

“Hmm tadinya aku mau ngambek, berhubung Abang sudah memuji aku cantik, Alhamdulillah puasaku tak jadi batal deh! Hehehe…” Camelia tersenyum-senyum ge-er.

DORR!!

Suara petasan yang amat dahsyat di belakang kami mengejutkan kami bertiga secara tiba-tiba, bahkan saking terkejutnya, Dewi pun terlonjak ke sebelahku. Sebelum dia jatuh ke jalan, dengan sigap buru-buru aku menopang tubuhnya dengan lenganku.

Huft!

Dewi berhasil kurengkuh sebelah tangan. Kedua pasang mata kami saling bertumbukan. Binar tatapannya begitu cerah dan bening, kulihat dalam retinanya terdapat bayangan wajahku. Hatiku mendadak kebat-kebit berdetak semakin kencang. Kerudung Dewi berkibar-kibar tertiup angin. Kurasakan sepertinya Dewi pun tengah merasakan hal sama apa yang kurasakan. Adegan ini benar-benar seperti  tayangan dalam sinetron yang sering kulihat di televisi. Kami berdua sama-sama larut dalam kebisuan. Beginikah rasanya dimabuk cinta?

“Hihihi…. Kak Dewi asyik ya bermesraan dengan lelaki. Nanti puasanya batal loh Kak!” suara seorang remaja lelaki dari belakang membuyarkan keheningan kami.

Tangan remaja lelaki itu menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Jangan-jangan dia yang sengaja menyalakan petasan tadi.

“Astagfirullahaladzim,” ucapku dan Dewi beristigfar nyaris bersamaan.

“Lho, Amir?” tunjuk Camelia ke arah remaja lelaki yang baru saja muncul itu.

“Camelia? Sungguh ini kamu Camelia? Kamu kok bisa ada di sini?” tanyanya bertubi-tubi penuh kegirangan.

Remaja bernama Amir itu tiba-tiba bertekuk lutut di hadapan Camelia. Aku dan Dewi terbengong-bengong saling memandang.

“Oh, bidadari surgawiku, ternyata kau memang tercipta hanya untukku! Kita berdua ditakdirkan seperti sebuah durian, di mana aku menjadi daging buahnya dan kau menjadi aroma harumnya! Dan kekuatan cinta kita berdua menjadi duri yang menempel pada kulitnya! Selamanya kita takkan terpisahkan!”

O’ow…. Pandai nian remaja lelaki ini melontarkan rayuan kepada seorang gadis cantik seperti Camelia. Andai aku memiliki keberanian seperti dirinya untuk mengungkapkan perasaanku pada wanita yang ada di sebelahku ini, mungkin cintaku takkan terpendam begitu lama.

Camelia membalikkan badan. Dagunya diangkat tinggi sok jual mahal.

“Huuh, kenapa sih, ke mana aku melangkah selalu ada kamu. Kamu nguntit ya?” dengusnya sebal.

“Ga di kota ga di desa, selalu ada dia!” Gumam Camelia teramat jengkel.

“Amir, dari mana saja sih kamu? Kakak menunggu kamu di sini begitu lama,” keluh Dewi menarik tangan Amir untuk berdiri.

“Iiiih, kakak! Kakak harus tahu nih, gadis ini adalah calon adik ipar kakak!” Amir memberengut melepaskan cengkeraman Dewi di tangannya.

Dewi mengerutkan kening, sementara aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa geli di perutku. Ingin rasanya aku terpingkal guling-guling melihat semua kejadian ini.

“Baiklah Dik, sepertinya kita harus saling memperkenalkan makhluk-makhluk bawaan kita,” ujarku tenang.

Camelia mendelik lagi, ia tidak suka dirinya disebut sebagai ‘makhluk’.

“Engh maksudku ‘manusia’!” ralatku pada mereka. Camelia tampak makin sebal.

“Heeuh Abang ini, tidak dengarkah suara adzan sudah berkumandang? Tidak baik mengobrol di tepi jalan seperti ini! Alangkah bagusnya kita melakukan perkenalan sambil berbuka bersama!” lagaknya sok menasehati.

Aku mengerti arah pembicaraan Camelia, ia ingin aku agar mentraktir mereka bertiga.

“Ya, kurasa itu ide yang bagus! Ayo kita mampir ke rumah makan di sebelah sana itu, kudengar ayam bakar di rumah makan itu citra rasanya sangat lezat,” ajakku pada mereka.

“Aha… kebetulan perutku memang sudah sangat lapar. Jadi ini traktiran kan?” Tanya Amir memastikan.

Aku mengangguk menggiring mereka untuk menuju  rumah makan yang tadi kutunjuk. Dewi sempat sungkan menerima tawaranku, tapi Amir berhasil menariknya untuk ikut bersamaku.

“Asyiiiik!” seru Camelia dan Amir berbarengan.

Saat Camelia menyadari kekompakannya dengan Amir, buru-buru ia membuang muka dari Amir.

Kami memilih tempat duduk di areal paling belakang tidak jauh dari sebuah air mancur yang dikelilingi lampu hias warna-warni berkelap-kelip. Suasana malam ini sangat romantis. Seorang pelayan mengantarkan buku menu pada kami. Tanpa harus membaca isi buku, kami sepakat untuk memesan hidangan yang sama : 4 porsi ayam bakar madu lengkap dengan lalap beserta sambalnya, dan 4 gelas es teler kelenger yang terdengar selalu bikin ngiler.

“Kenalkan Wi, gadis ini Camelia, adik dari Mpok Ummiyatul Sayiddinah!” Camelia mengulurkan tangannya pada Dewi, “Camelia Mbak,” tuturnya memperkenalkan diri.

“Ini Amir, adik saya satu-satunya Bang!” Dewi menyuruh Amir untuk mencium tanganku. Camelia tersentak melihat Amir begitu patuh pada kakak perempuannya itu. “Sopan sekali,” gumamnya pelan. Mungkin Camelia tertegun karena dia tadi tidak mencium tangan pada Dewi, hanya berjabatan tangan biasa. Sementara Amir menjabat tanganku seraya mencium punggung tanganku penuh rasa hormat.

“Kenalkan Dik, nama Abang Mirthan!” sambutku pada Amir.

“Abang mau tahulah nama lengkap Amir ini apa?” tatap Camelia ke arahku dan kubalas tatapannya dengan penasaran.

“Memangnya apa?” tanyaku ingin tahu.

“AMIRRUDIN SARAPI! Kami di sekolah biasa memanggilnya dengan sebutan Amir anak sapi, bahkan guru wali kelas kami ibu Sugeng, memanggilnya dengan sebutan Amir Sarap!” celoteh Camelia menggebu-gebu.

“Nah, berhubung kamu itu sapi, seharusnya kamu tidak usah ikut makan di sini! Tuh di halaman banyak rumput segar!” cibir Camelia pada Amir yang dibalasnya dengan juluran lidah.

Andai saja di sini tidak ada Dewi, mungkin aku sudah ngakak guling-guling mendengar ucapan Camelia barusan. Dewi menunduk dalam ke bawah meja. Melihat suasana yang tidak nyaman ini membuatku harus mengontrol sikap Camelia agar bisa menjaga perasaan Dewi sebagai kakaknya Amir. Kusenggol kaki Camelia di kolong meja seraya memberi isyarat padanya ke arah Dewi.

“Ups, maaf ya Kak Dewi,” Camelia menoleh pada Dewi. Wajah Dewi pun naik beberapa derajat melempar senyuman pada gadis periang itu.

“Tidak apa-apa!” jawabnya tulus.

“Yeh, memang sudah dari sononya namaku Sarapi! Kan bapak kami namanya Sarapi!” Amir membela diri.

Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Amir. “Loh, bukankah nama ayah Dik Dewi itu Pak Mursidi? Apa nama lengkap ayah Dik Dewi itu Mursidi Sarapi?” tanyaku menebak-nebak.

“BUKAN!” jawab Amir singkat.

“Nama ayah kami adalah AZRULUDIN SARAPI!” bebernya lagi.

“AZRULUDIN SARAPI?” kuulangi nama yang telah disebutkan oleh Amir.

Ήmm ayah dan anak sama-sama bernama UDIN yang bermarga SARAPI. Mungkin moyang mereka dulunya bernama Awaludin! Kemudian keturunannya bernama Tafsirudin, Jamaludin, Zaenudin, Akmaludin, Basirudin, Khoirudin, hingga Udin yang sering berbuat salah dan bernama Salahudin. Who knows?!

“Maksud Dik Amir, ayah kalian adalah dr.Azrul, satu-satunya dokter di desa ini?” tanyaku lagi tak yakin.

“Iya! Ayah kami memang dokter!” tegas Amir dengan nada bangga.

“Apa? Ayahmu seorang dokter, Mir?” Camelia tak percaya.

Amir mengangguk mantap.

“Wah, hebat ya!” puji Camelia spontan. “Tapi bukan dokter bedah sapi kan?” tatapannya menyeringai. Amir balas mendelik.

“Lalu Pak Mursidi itu siapanya kalian?” tanyaku agak sungkan. “Maaf bukan maksudku untuk mencampuri urusan keluarga kalian!”

“Ya, tidak apa-apa kok Bang. Lagipula hampir seluruh warga di desa ini sudah mengetahui semuanya!” sedari tadi Dewi hanya menyimak pembicaraan tanpa ada memberi konfirmasi apa yang telah disampaikan oleh Amir.

“Dulu ayah kami ditugaskan di puskesmas daerah ini. Ibunda Kak Dewi melahirkan Kak Dewi hingga mempertaruhkan nyawanya. Berhubung tidak ada yang mengasuh Kak Dewi, Ibu Mursidi yang kebetulan tidak bisa mempunyai keturunan memohon pada ayah agar bersedia menyerahkan Kak Dewi pada mereka untuk diangkat menjadi anak,” ungkap Amir terus terang.

“Jadi kalian berdua tidak satu ibu?” sela Camelia di tengah penjelasan Amir.

“Siapa bilang?” Amir balik bertanya.

“Loh, katamu tadi ‘Ibunda Kak Dewi’ mengapa tidak menyebutnya dengan ‘ibu kami’?!” usut Camelia mengutip ucapan Amir. “Dan lagi kamu bilang ‘ibu Kak Dewi melahirkan Kak Dewi mempertaruhkan nyawanya’ berarti ibu Kak Dewi sudah meninggal dunia kan?”

Amir tersenyum, “Weee… suka-suka aku donk mau cerita bagaimana! Mempertaruhkan nyawa bukan berarti meninggal dunialah Camelia cantik! Iya kan Bang?” Amir meminta pembelaanku.

“Terus ibu kalian itu ke mana sebenarnya? Masa setelah melahirkan kakakmu, beliau berhibernasi di dalam gua? Macam beruang saja!” dengus Camelia tidak tahan dengan godaan Amir.

Amir tertawa lebar sedangkan Dewi menggeleng-geleng kepala.

“Maaf, adik saya ini memang suka berlebihan!” Dewi mencubit pinggang Amir.

“Dasar lebay!” sungut Camellia pada Amir.

“Sesungguhnya aku bukan cowok lebay, melainkan hanya hiperbola saja!” Amir membela diri atas tudingan Camelia.

“Hiiih, memang kau pandai berdalih! Lebay dan hiperbola itu kan sama saja!” gerutu Camelia lagi membuat Amir cengengesan. 

Seorang pelayan datang mengantarkan sebilah nampan 4 gelas es teler kelenger yang tadi kami pesan. Sejenak kami berdoa membatalkan puasa kami lebih dulu.

“Setelah melahirkan saya, ibu saya mengalami koma hingga berbulan-bulan Bang. Sehingga ibu terpaksa dirawat di kota,” ungkap Dewi menambahkan. “Setelah 5  tahun berlalu, rahim ibu mulai pulih dan  bisa hamil lagi.”

“Lalu lahirlah aku! Kan kalau aku belum lahir Ny.Azrul tentu masih hak milik Kak Dewi kan?” tambah Amir.

Aku mengangguk mengerti, “Lalu kudengar kabar burung yang beredar di masyarakat katanya Pak Mursidi setelah hari raya nanti akan melamar Priyadi untuk jadi calon suamimu?”

Amir tersedak begitu mendengar pertanyaanku. “Heey Kak, Kak Dewi tahulah kalau Bang Mirthan ini sebenarnya….” Camelia melirik ke arahku yang duduk di sebelahnya.

Aku baru sadar kalau aku sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi Dewi. Sampai-sampai hampir saja Camelia mengungkapkan apa yang telah kuceritakan padanya tentang perasaanku kepada Dewi.

“Mel…” mataku memberi isyarat pada Camelia.

Dewi memandang penuh selidik.

“Maaf nggak jadi ya Kak!” Camelia mengibaskan tangannya di atas meja.

“Em, em, malam ini indah banget ya? Kita berempat seperti dua pasang kekasih yang sedang melakukan kencan ganda alias double date, hehe…” Amir mulai menggoda Camelia lagi.

Wajahku dan Dewi sama-sama bersemu kemerahan. Kami berdua pun tertunduk malu tapi aku suka mendengarnya. Hanya Camelia yang tidak menyukai pernyataan Amir barusan.

“Uh sorry… gue sih ogah kencan sama loe! Hati gue dah tertambat hanya untuk Rudy!” cibir Camelia tengsin.

Ayam bakar madu pesanan kami pun akhirnya datang selang beberapa saat setelah es teler lahap kami santap.

Aku harus menahan diri agar tidak terlalu banyak intervensi terhadap persoalan pribadi keluarga Dewi. Asalkan aku bersabar, aku yakin insya Allah Dewi adalah jodoh yang terbaik bagiku. Amin.

==IOI♥♥♥IOI==

“Mirthan, kamu dari mana saja sih Nak? Tadi sore Pakcik Leman dan Yolanda datang mencari-cari kamu, mereka bersikukuh ingin kita memenuhi undangan berbuka puasa di rumah mereka,” Mama menyambut kedatanganku di ambang pintu seraya mengambil sekantung belanjaan di tanganku.

“Wow, tumben kamu belanja lengkap sekali Nak?” Tanya mama lagi.

“Maaf Ma, tadi waktu belanja Mirthan bertemu Camelia adiknya Mpok Dina, dia yang pilihkan barang belanjaan untuk Mirthan. Terus pulangnya kami bertemu Dewi dan adiknya di jalan. Ya, kami berbuka puasa di jalan deh Ma,” jawabku menceritakan aktivitas yang baru kujalani.

“Hmm pantas komplit, rupanya dipilihkan cewek toh! Kenapa enggak diajak berbuka di rumah kita saja?” Mama mengajakku duduk di sofa ruang tamu.

“Tanggung Ma, tadi keburu magrib di jalan,” timpalku lagi merebahkan diri di sofa. “Oh ya, Harun dan Irawan mana Ma?”

“Mereka sudah berangkat terawih Nak. Tadi mereka dijemput oleh Mpok Dina dan kawan-kawan lainnya. Kamu sudah shalat magrib?” selidik Mama. Kalau sudah menyangkut kewajiban terhadap Allah, mama tak pernah bosan memperingatkanku.

“Tadi sudah Ma, di mushala dekat rumah makan,”

Mama memijit-mijit bahuku, “Syukurlah kalau begitu. Mama hanya tidak mau anak Mama meninggalkan shalat lima waktu. Karena berat bagi Mama untuk mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat,” beber mama.

“Tidaklah Ma. Aku kan cinta Allah swt, apa yang diwajibkan oleh-Nya insya Allah akan kulaksanakan penuh rasa tanggung jawab dan melakukannya penuh keikhlasan. Begitu pula apa yang sudah dilarang oleh-Nya sebisa mungkin kujauhi,”

“Alhamdulillah, Mama bangga padamu Nak!”

Kukecup punggung tangan mama. “Insya Allah Mirthan tidak akan pernah mengecewakan Mama.”

“Oya, bagaimana pendekatanmu dengan Dewi? Hubungan kalian semakin dekat?” selidik mama membuatku tersipu. Bagaimana mungkin mama tahu kalau aku menyukai Dewi?

“Cerita donk Mirthan! Mama sudah tahu semuanya dari Harun dan Irawan kalau selama ini sejak kedatangan kita di desa ini, kamu sudah jatuh cinta pada anak gadis Pak Mursidi itu kan?” goda Mama.

“Tidak Ma, Dewi bukanlah anak Pak Mursidi! Ternyata Dewi sebenarnya adalah anak  dokter Azrul, kawan lama Mama itu!” ungkapku.

“Apa? Benarkah itu, Nak?” mata mama membelalak tak percaya.

“Tapi mama dengar dari tetangga, katanya Pak Mursidi akan meminang Priyadi untuk dinikahkan dengan Dewi?” mama terlihat bingung.

Aku mengangkat bahu, “Aku sendiri juga bingung Ma. Tadi aku sempat tanya Dewi mengenai hal itu, tapi setelah dipikir-pikir suasananya sedang tidak pas untuk membicarakannya. Mirthan tidak mau terlalu mencampuri persoalan orang lain, meskipun itu urusan gadis yang Mirthan cintai.”

“Betul juga katamu Nak! Kita tidak boleh mencampuri masalah pribadi orang lain. Biarkan itu menjadi privasi mereka. Yang penting, kita tidak pernah mengganggu dan mengusik kehidupan orang lain!” Nasihat mama lembut.

“Iya Ma, walaupun Mirthan bingung, tapi Mirthan hanya dapat memohon kepada Allah, agar bila Dewi adalah jodoh Mirthan semoga Allah mendekatkan kami.” Aku mendesah perlahan, “Priyadi pernah bercerita padaku katanya dia tidak ingin menikahi sepupunya sendiri,”

“Dewi dan Priyadi adalah saudara sepupu?” mama semakin tercengang, keningnya mengerut, “Tapi mama juga makin bingung Than, kamu ingat tidak saat dokter Azrul datang kemari untuk memeriksa kondisi Priyadi saat terluka dulu itu?”

Aku mengangguk, “Iya Ma, kenapa?”

“Kalau tidak salah, Dewi waktu itu memanggil dokter Azrul dengan panggilan ‘dokter’ kan? Mengapa dia tidak memanggil ‘ayah’ ya?” mama menatapku lurus.

Aku ikut tercengang. Mengapa hal ini tidak kusadari sedari tadi ya? Apa mungkin Dewi itu tidak mau menerima kenyataan bahwa dokter Azrul adalah ayah kandungnya? Ya Allah, semoga tidak ada suatu masalah apapun pada keluarga Dewi, batinku.

“Ya sudahlah Ma, semoga itu bukan suatu masalah bagi keluarga Dewi,” aku beranjak bangkit dari dudukku. “Sebentar ya Ma, Mirthan ingin bersiap-siap shalat terawih.”

==♣♣♣==

Petang itu mama memaksaku untuk memenuhi undangan Pakcik Leman berbuka puasa di rumahnya. Aku benar-benar malas mengikuti paksaan mama terlebih bila kuteringat kejadian di simpang 4 tempo hari saat aku mengantar Dewi, dan tiba-tiba Yolanda datang menghamburkan dirinya padaku seraya mencium pipiku di hadapan Dewi. Mengapa Pakcik Leman datang beberapa kali ke rumah agar aku memenuhi undangannya? Apakah beliau masih ingin terus membujukku agar aku bersedia menjadi menantunya? Dalih apa lagi yang akan dipakainya, agar aku bersedia menerima lamarannya? Ah, aku tak ingin suudzon kepadanya. Semoga saja di balik undangan ini tidak ada udang di balik batu.

“Assalamualaikum,” ucap kami memberi salam di ambang pintu pagar.

Tampak Pakcik Leman tengah menanti kedatangan kami di teras rumah. Yolanda sudah hilir mudik di ruang tamu. Seperti seorang suami menunggui persalinan istrinya.

“Wa’alaikumsalam, akhirnya kalian datang juga. Terima kasih sudah berkenan hadir memenuhi undangan kami, mari silakan masuk Nak Mirthan, Liana!” sambutnya hangat bersahaja.

Harun dan Irawan mengekor di belakang kami.

“Makcik apa kabar?” sapa mama menyalami istri Pakcik Leman.

“Cik Liana, baik. Bagaimana dengan engkau Nak? Sehat jua kah?” Makcik Leman mengulurkan tangannya menyambut salam mama. Tak ketinggalan saling beradu pipi kiri dan kanan.

“Alhamdulillah awak nih sehat. Makcik ke mana saja tak pernah kelihatan?” timpal mama ramah penuh senyuman.

“Baru saja mudik, mengurusi persalinan Devi di kota!” jawab Makcik Leman lagi. Gantian kini aku yang mencium tangan wanita setengah baya itu.

“Inikah Mirthan anakmu?” tanyanya pada mama menyambut uluran tanganku.

“Iya, Makcik masih ingat saja,” mama merangkul bahuku.

“Aduhai, elok nian parasnya Liana! Persis ayahnya semasa muda dulu! Pantas saja Yolanda terbuai-buai oleh pesonanya. Jikalau makcik nih masih muda, makcik akan maju terus untuk mendapatkannya! Tak salah engkau pilih calon menantu untuk emakmu ini, Yolanda!” toleh Makcik Leman pada Yolanda.

Yolanda tersenyum-senyum di kulum. Ia merasa sangat bangga. Tiba-tiba saja aku merasa gelagat yang sangat mencurigakan.

“Ah, makcik ada-ada saja!” timpal mama tanpa curiga.

Kami pun dipersilakan duduk di ruang makan, aku dan mama persis berhadapan dengan Pakcik dan Makcik Leman. Irawan dan Harun duduk berhadapan di ujung-ujung meja. Sementara Yolanda turut duduk di sisiku yang lain. Tak henti-hentinya ia terus mendekat ke arahku.

“Tuh, lihat Liana, anak kita memang cocok kan?” singgung makcik Leman.

Mama hanya ternganga melihat ulah Yolanda yang genit menyandarkan kepalanya di lenganku. Sikap agresifnya tak pernah berkurang sedikitpun. Oh ingin rasanya aku segera meninggalkan tempat ini. Mama terlihat serba salah.

Harun dan Irawan tampak sudah tidak sabar. ingin segera menikmati hidangan di atas meja. Koktail buah, es kelapa muda campur mangga, udang asam manis, sambal mangga belacan, semur rajungan, capcay, dan bakwan jamur kancing tersaji begitu menggugah selera mereka, hingga bibir mereka tak kunjung henti menahan liur. Hanya aku yang kurang berselera menatap sajian istimewa itu, pasalnya aku sangat risih oleh kelakuan Yolanda yang terus menempel padaku. Tinggal beberapa menit lagi waktu berbuka, jadi cukup banyak waktu untuk kami mengobrol berbagi cerita.

“Saya baru tahu kalau Srikandi Devi sudah menikah dan mempunyai anak,” aku mengalihkan pembicaraan makcik Leman agar tidak membahas lamaran mereka untuk Yolanda terhadapku lagi.

“Iya, Nak, pernikahan mereka sudah 2 tahun yang lalu. Kalian kan belum tinggal di sini. Tapi setelah pernikahan itu, Devi dan suaminya memutuskan untuk tinggal di kota,” adzan sudah terdengar, makcik Leman sengaja menyidukkan nasi untukku.

“Tak usah repot-repot Makcik! Biar saya ambil sendiri!” sergahku mengambil piringku dari tangan makcik Leman.

“Tidak apa-apa Nak Mirthan, jangan sungkan! Sejak dahulu hubungan keluarga datukmu dengan keluarga kami, sudah seperti keluarga sendiri. Jadi anggap saja rumah kami ini seperti rumah sendiri!” tawar Pakcik Leman.

Sesungguhnya aku sangsi akan perkataan Pakcik Leman ini. Namun aku berusaha menepis semua pikiran kotor di kepalaku. Yang kuinginkan hanyalah undangan jamuan buka puasa ini cepat selesai dan aku ingin cepat berangkat terawih agar aku dapat bertemu dengan Dewi seusai shalat.

“Terima kasih Pakcik sudah menganggap kami seperti keluarga. Jujur kami sangat terharu mendengar pernyataan Pakcik, karena kami sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya tinggal kami berdua. Dan beruntung kami pun memiliki 2 anak lain yang menjadi bagian dalam keluarga kami. Harun dan Irawan sudah kami anggap keluarga sendiri. Mereka berdua adalah sahabat Mirthan sejak di bangku SMA,” nada bicara mama begitu merendah penuh suka cita.

Mendengar namanya disebut, Harun dan Irawan menoleh pada mama penuh rasa haru.

“Bagi kami Tante Liana sudah seperti ibu kandung kami sendiri,” tatapan Harun berbinar.

“Betul Tante!” sahut Irawan tak mampu berkata-kata hanya mata yang berkaca-kaca.

“Wah, sungguh dramatis sekali ya!” Pakcik Leman turut terharu. “Semoga hal ini dapat mempererat tali silaturrahim keluarga kita!” sambungnya lagi.

“Iya Liana, bagaimana kalau lamaran Yolanda untuk Mirthan kita lanjutkan lagi?” sambar Makcik Leman tiba-tiba.

Aku dan mama saling memandang. “Ma, apa kubilang kan?” bisikku lirih. Aku tahu berbisik di hadapan orang lain itu tidak sopan, namun aku sudah tak bisa mengontrol diri lagi. Aku jenuh dengan sikap Yolanda yang tak hentinya bergelayut di tanganku. Sesekali ia mencoba menyuapiku dengan sendok makannya. Sungguh membuatku risih.

“Maaf Makcik, mengobrolnya kita lanjutkan nanti karena tidak baik makan sambil mengobrol,” aku berkelakar agar wanita tua itu menghentikan diskusi akan perjodohanku dengan anaknya.

“Oh, iya, iya, baiklah, maaf kalau begitu,” makcik Leman masygul.

“Masakan Makcik nih sedap sangat!” puji Harun yang makan dengan lahapnya.

“Iya, betul kata Harun, Makcik, rasanya 12-12 dengan masakan Tante Liana!” repet Irawan.

“Wah, kalau begitu masakan kami sama enaknya donk?” makcik Leman merasa bangga.

Akhirnya suasana makan berbuka pun berlangsung khidmat tanpa ada suara-suara sumbang lagi.

“Nah, berhubung santap berbuka sudah selesai bagaimana kalau perbincangan kita tadi kita sambung lagi?” grrr… ternyata wanita tua ini sangat berambisi kepadaku. Aku yakin sebetulnya ini adalah siasat mereka sekeluarga.

“Nak Mirthan bersedia kan menerima Yolanda jadi istrimu?” tanyanya penuh harap. Pakcik Leman sengaja berdiam diri kali ini. Mungkin lelaki tua itu tahu aku takkan berdaya di hadapan istrinya.

“Makcik jujur, saya tidak mempunyai rasa terhadap Yolanda,” tuturku halus.

“Tidak mempunyai rasa bagaimana? Sejak engkau meminta maaf pada suamiku, hubunganmu dengan putriku semakin dekat, bukan? Bahkan kalian sudah berani bermesraan di depan umum, sampai kalian ber…ber…berciuman kan?!” makcik Leman mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Berciuman?” Harun dan Irawan keheranan saling memandang.

Yolanda mengangguk-angguk membenarkan keterkejutan Harun dan Irawan.

“Jangan-jangan kejadian tempo hari lalu waktu Mirthan datang terlambat kerja itu?” Harun dan Irawan berseru menunjuk ke arahku.

“Nah, kan mereka saksinya!” makcik Leman memandangku lekat seakan ingin mencengkeramku.

“Apa?” mataku membelalak terkejut.

“Benar begitu, Mirthan?” mama mulai mencurigaiku.

“Itu.. itu tidak seperti yang kalian duga!” aku berusaha meyakinkan mereka.

“Ayolah Mirthan, kamu tidak usah malu-malu lagi kamu suka kan pada putri kami, Yolanda?” makcik Leman semakin menekanku.

“Mereka menjadi saksi kemesraanmu bersama putriku!” tandasnya mantap menunjuk Harun dan Irawan.

“Aku sungguh tidak memiliki ketertarikan terhadap Yolanda. Karena aku sudah memiliki tambatan hati!” beberku.

“Kamu tidak bisa seenaknya begitu saja terhadap putri kami, Mirthan! Setelah kau menghisap madunya lantas kau pergi mencari gadis lain untuk kau nikmati sementara anak gadis kami kau campakkan?! Itu sama saja menodai kehormatan keluarga kami!” nada bicara makcik Leman berubah meninggi.

Watak seluruh anggota keluarga Maulana Yusuf Sulaiman ini memang sama, tidak hanya Pakcik Leman-nya saja yang berpendirian keras kepala tetapi istrinya juga. Meski salah selalu merasa diri mereka itu benar.

“Ma, demi Allah aku tidak pernah melakukan apapun dengan Yolanda!” kupandangi mama yang tampak shock di sebelahku.

“Aku ingin meluruskan semuanya! Jadi kumohon dengar baik-baik penjelasanku!” aku berusaha membela diri.

“Satu minggu yang lalu Pakcik Leman datang menemuiku untuk meminta maaf padaku! Di hari yang sama, saat aku mengantar Dewi pulang, sebelum aku berangkat bekerja, Yolanda datang tiba-tiba mendekatiku dan mencium pipiku! Itulah yang terjadi sebenarnya!” aku berbicara nyaris berteriak agar semua mendengarkan ucapanku.

“Benar juga, kan yang kita lihat waktu itu hanya bekas lipstick di pipinya Mirthan!” seru Irawan mengingat-ingat.

“Alah, palingan itu rekayasamu saja Nak Mirthan! Kau hanya ingin mempermainkan perasaan Yolanda,” makcik Leman semakin menjadi.

“Iya Mak! Bang Mirthan itu telah berdusta! Kemarin dia bilang, kalau dia mencintaiku, bahkan dia telah mengajakku tidur! Dia ingin merenggut kesucianku Mak!” Yolanda mulai mengada-ada.

“Apa?” Pakcik Leman tersentak mendengar pengakuan putrinya.

“Ini sudah menjadi aib! Sebagai bentuk tanggung jawabmu kamu harus segera menikahi Yolanda, Mirthan! Atau jika tidak kami akan mengadukan perkara ini kepada kepala adat!” ancam Pakcik Leman murka.

Aku tak dapat mengendalikan emosiku lagi, “Itu semua fitnah gadis bengal! Aku tak pernah mengajakmu berbuat macam-macam! Demi Allah aku mempunyai saksi atas apa yang telah kau perbuat terhadapku waktu itu!” tatapku tajam pada Yolanda membuatnya tak kuasa membalas tatapanku.

“Mirthan, istigfar Nak!” mama mengusap bahuku.

“Astagfirullahaladzim,” aku mengikuti nasihat mama.

Nada bicaraku kembali stabil, “Maaf Pakcik, saya sudah tahu sekarang apa tujuan Pakcik terus mendesak kami untuk memenuhi undangan Pakcik, ternyata kalian masih ingin memaksaku melanjutkan lamaran yang telah kutolak itu! Saya sekarang tahu siasat apa lagi yang keluarga Pakcik perbuat terhadap saya. Saya mohon kepada Pakcik, agar jangan pernah memaksa saya lagi untuk terus menerima lamaran keluarga Pakcik! Dan saya yakin, almarhum datuk tidak pernah melakukan perjanjian apapun mengenai perjodohan saya dengan Yolanda semasa beliau hidup! Karena Pakcik sendiri tidak mempunyai bukti dan saksi bukan? Terlebih dalam wasiat datuk, tidak tertera perjanjian yang Pakcik lontarkan!”

“Tunggu Mirthan, jangan memutarbalikkan fakta! Akui saja kalau kamu memang salah!” makcik Leman masih mengotot.

“Terserah makcik, bila tidak mau mempercayaiku. Kami sekeluarga akan pergi meninggalkan kampung ini. Karena kami merasa tidak tentram akan sikap Pakcik dan tuduhan Makcik yang terlalu mengada-ada!” kurangkul mama untuk berlalu meninggalkan ruangan, Harun dan Irawan beranjak mengikuti kami.

Yolanda menahan kakiku, lagaknya dia ingin meniru adegan-adegan dalam sinetron, “Bang, jangan tinggalkan aku Bang! Abang kan sudah berjanji mau menikahiku!”

“Dengar Yolanda, cucilah mukamu dengan air wudhu! Bermunajablah kepada Allah agar dibukakan pintu jodoh untukmu! Jangan pernah memaksakan kehendak orang yang tidak pernah mencintaimu!” kulepas cengkeraman tangannya di kakiku.

“Maaf Makcik, kami tidak pernah bersaksi atas Yolanda dan sahabat kami Mirthan sedang bermesraan! Yang pernah kami lihat hanyalah bekas lipstick di wajah Mirthan. Itu artinya putri Makcik yang berbuat macam-macam terhadap Mirthan! Assalamualaikum,” pamit Irawan dan Harun seraya menahan Yolanda agar tidak terus mengejar langkahku.

Setelah aku dan mama masuk ke dalam mobil, baru kemudian mereka menyusul kami. Kurebahkan kepalaku di atas setir kemudi. Mama membelai punggungku.

“Sabar ya, Mirthan! Insya Allah, selalu ada jalan untuk kita dalam menghadapi suatu masalah!” ucapan mama begitu meneduhkan kemelut ombak yang bergulung di pikiranku.

Kukecup punggung tangan mama, “Terima kasih Ma! Mama percaya Mirthan kan?”

Mama mengangguk.

“Tenang sob, kita juga percaya sama elo kok!” repet Harun di belakangku.

Kaca mobilku diketuk-ketuk oleh Yolanda, namun aku segera tancap gas keluar dari pekarangan. Hanya terdengar suara Pakcik Leman berucap sumpah serapah yang tidak jelas.

¤¤¤••|(_/\_)|••¤¤¤

“Hai, Bang, apa kabar?” tegur suara seorang pemuda menepuk pundakku dari belakang. Aku pun menoleh ke sumber suara.

“Priyadi? Assalamualaikum,” salamku menjabat tangannya.

“Eh iya lupa, wa’alaikumsalam,” jawabnya.

“Alhamdulillah kabar baik, kabarmu bagaimana?” tanyaku balas menanyakan kabarnya.

“Alhamdulillah baik juga Bang. Bagaimana hubungan Abang dengan Dewi? Kalian makin dekat kan?” selorohnya to the point.

Aku menggeleng, “Biasa saja!” jawabku pendek.

“Aduh, Abang ini lelaki apaan sih kok lembek amat? Sampai kapan mau memendam terus perasaan pada perempuan yang Abang suka? Mau nunggu sampai langit runtuh?” ledeknya.

“Halah, kamu ini ada-ada saja! Masalahmu sendiri bagaimana? Apa sudah kelar?” Kutinju pelan lengan pemuda itu.

“Berkat Abang, alhamdulillah masalahku sekarang sudah selesai Bang! Terima kasih ya Bang atas semua nasihatnya!”

“Syukurlah kalau begitu! Bersyukurlah kepada Allah!” Imbauku.

Irawan dan Harun menjajari langkah kami. Di saat yang sama Miss Dina datang menghampiri diiringi adiknya tercinta.

“Eh, Chand Kelvin ade di mari! Oh, Rio Indrawan, dan Nino Andre-ku tercinte juge ade! Oh Gosh mimpi ape, aye semalem bise ketemu ame tige bidadare yang cakep-cakep ini ye?” Sapanya dengan logat Betawinya yang kental menepuk-nepuk kedua belah pipinya sendiri.

“Bidadara? Aduh si Empok kumatnya datang lagi ye?!” Camelia memegang kening kakaknya.

“Camelie, lu entu kudu bise milih calon laki yang baek! Yang cakep kaye tige pemude ini nih! Tuh liat ame elu ye, Bang Priyadi tampang udah kokay, body macho kaye artis Chand Kelvin!”

Mendengar pujian Miss Dina, Priyadi bersikap sok kepedean buru-buru ia merapikan kerah kemeja yang dipakainya. Lantas ia bergaya narsis.

“Nah, Bang Mirthan juge ganteng, kalem, adem ayem, mirip artis Rio Indrawan!” Tutur Miss Dina lagi.

Mendadak mukaku bersemu kemerahan tak dapat menahan ge-er. Hanya saja aku tak bisa bergaya narsis seperti yang dilakukan Priyadi.

Camelia mengangkat bahu dan alisnya bersamaan, “Terus siapa yang mirip sama Nino Andre?”

Miss Dina menarik tangan Irawan ke hadapan adiknya, “Siape lagi kalau bukan calon laki aye sekaligus abang ipar lu!”

“Haaah?” Camelia melongo.

“Yang bener Mpok? Mirip apanya?” Camelia tak percaya.

“Ah lu kagak tahu aje ye! Doi entu jago masak! Pan kemaren setelah aye anterin serantang semur jengkol, doi datang ke rumah belajar masak semur jengkol same aye! Iye kan darling?” Sentil tangan Miss Dina di dagu Irawan.

“Apa kagak salah tuh Mpok?” Sela Harun menghampiri Miss Dina.

“Lu mau bukti? Noh, pohon jengkol di belakang rumah aye saksinye! Di sane terukir name aye same Bang Irawan pake lope-lopean gitu!” Miss Dina tersenyum-senyum sendiri. Irawan berusaha melepaskan gandengan Miss Dina di lengannya namun selalu gagal.

“нåнåнå.. Kagak salah tuh Mpok? Kalau gitu gue percaya dah sama Empok! Tapi ngomong-ngomong kalau dibandingin sama artis, muka gue mirip siapa Mpok?” Tanya Harun penasaran.

“Sebentar! Aye pikir-pikir dulu! Kalau diingat-ingat sih, muke lu entu 11-12 same mukanye Tukul!” Miss Dina menjentikkan jarinya.

Mendadak roman air muka Harun berubah merengut. Ia tidak terima kalau wajahnya disamakan dengan wajah Tukul Arwana host Bukan Empat Mata yang terkenal itu.

“Sudahlah Bang, masih mending dibilang mirip Tukul, dari pada dibilang mirip tuyul!” Camelia berusaha menghibur hati Harun.

“Hiks Gue kira, muka gue bakal dibilang mirip sama Frans Nicholas kek! Atau setidaknya mirip banget sama Chef Arnold, gitu!” Harun merajuk.

“What?? Chef Arnold?? Oh my God! Rasanye aye baru melihat kalau di sini ade bidadare baru turun dari kelotok!” Miss Dina menepuk keningnya membuat Harun semakin merajuk.

“Alamak, cintaku ternyata ada di sini!” Suara seorang pemuda lain muncul tiba-tiba.

Nah, bertambah lagi satu orang ke lingkup kami.

“Camelie, ni orang siape?” Tunjuk Miss Dina pada pemuda yang baru saja datang menghampiri kami.

“Oh itu, cowok ini fans beratnya Empok!” Timpal Camelia asal.

“Ah, serius lu Mel?” Mata Miss Dina mengerjap-ngerjap. “Elu tahu aje ye kalau aye nih kandidat Miss Lebay 2014!”

“Iewh.. Apaan tuh Miss Lebay 2014?” Pemuda yang baru datang itu bergidik. Dia tak lain adalah Amir.

“Eh, Mir, sini loe!” Camelia menarik tangan Amir.

“Kalau loe cinta sama gue, loe harus berusaha mengambil hati empok gue!” Bisik Camelia pada Amir di pojokan jalan.

“Jadi perempuan nyentrik itu empok lu?” Tanya Amir keheranan.

“Kok jauh amat ya? Kagak ada mirip-miripnya!” Amir menggaruk kepala.

“Sontoloyo loe! Kalau dia kagak nyentrik malah nyaingin kecantikan gue donk!” Tunjuk Camelia di kening Amir.

“Woy, Lu berdue malah pade mojok di situ lagi! Hati-hati entar lu berdue digodain setan loh!” Celetuk Miss Dina memanggil Camelia dan Amir.

“Oh ya, kenalin Mpok! Namaku Amirrudin Sarapi!” Amir menyodorkan tangan kanannya pada Miss Dina.

“Hah, lu tukang sapi?” Miss Dina tercengang.

“Bukan Mpok! Namaku AMIIIR! Amirrudin Sarapi!”

“Ya ampyuuun, nama lu cakep banget ya? Jadi babeh lu entu tukang serabi?” Disambutnya uluran tangan Amir dengan hangat. “Nah, kebetulan aye entu paling demen makan serabi!”

“Kenalin, aye empoknye Camelie! Name aye Miss Dine!”

Amir cengengesan, “I..iya Mpok!”

“Beeuu empok loe ko bongek amat ya?” Bisik Amir di telinga Camelia.

“Hush! Awas loe ngatain empok gue macam-macam! Gue gantung loe di pohon pete!” Ancam Camelia.

“Aduuuuh Camelie sejak kapan babeh kite jadi juragan pete? Loe jangan suka merubah nasib keluarge kite donk! Kan dah tujuh turunan kalau keluarge kite entu bisanye cuman jadi juragan jengkol!” Mulut Miss Dina berkoar tidak karuan.

Harun tertawa terpingkal-pingkal, “Gue dukung deh Mpok! Soalnya asal Mpok tahu ye, kalau bokapnya Irawan itu punya usaha pabrik keripik jengkol!”

Irawan memberi isyarat pada Harun agar jangan membeberkan macam-macam latar belakang keluarganya.

“Ape loe kate? Serius loe?” Bibir Miss Dina menyunggingkan senyuman sumringah.

“Aduh Abang, kenape kagak pernah bilang ame aye? Tahu gitu kan kite nanti bise mudik bareng! Minte restu dari enyak babeh supaye bise ngelanjutin usahe!” Dipeluknya Irawan erat-erat hingga ia nyaris sesak napas.

“Amir, ayo kita pulang Dek!” Kemunculan Dewi tiba-tiba membuatku terkejut.

“Aduhay Kak Dewi-ku yang cantik, tidak tahukah engkau kalau adikmu ini sedang asyik bercengkerama dengan teman-teman dan kekasih tercinta?” Sahut Amir enggan menuruti ajakan kakaknya.

“Dokter Azrul sudah menunggu di parkiran!” Ditariknya tangan Amir bagai menjewang tangan anak kecil. Benar kata mama, Dewi enggan memanggil ayahnya dengan sebutan ‘ayah’, ‘bapak’, ‘papa’, atau sejenisnya.

“Biarkan saja Papa pulang duluan! Apa Kak Dewi tidak ingin menikmati malam yang indah ini bersama pangeran impian kakak?!” Lirik Amir ke arahku.

Apa ini tidak salah? Amir bilang  aku adalah pangeran impiannya Dewi? Subhanallah, semoga saja itu benar. Mukaku berseri-seri sendiri. Priyadi menyikut perutku.

“Cie.. Cie..” Bisiknya di telingaku.

Wajah Dewi menunduk malu, “Assalamualaikum Bang!” Sapanya.

“Wa’alaikumsalam, Dik! Sudah mau pulang?” Aku gelagapan tak tahu harus mengajaknya berbicara apa.

“Nah, asyik…asyik! Amir sama Bang Harun, kalian berdua pulang duluan gih sana!” Seru Camelia mendorong kedua lelaki itu.

“Loh, memangnya kenapa?” Harun bingung.

“Soalnya, kita yang ada di sini ini semuanya mempunyai pasangan! Nih ya, Mpok Utul dengan Bang Irawan, Kak Dewi dengan Bang Mirthan, sedangkan gue dengan Bang Priyadi! Jadi buat yang kagak punya pasangan silakan minggir!” Camelia menggamit tangan Priyadi begitu saja membuat Priyadi salah tingkah.

“Oh no! Lagi-lagi kau duakan cintaku, honey!” Wajah Amir nampak muram.

“Camelie, ternyate loe entu cewek DC ye? Alias Doyan Cowok! Dasar playgirl loe! Katanye loe cuman demen same nyang namenye Rudy? Lah ini loe mau ngegebet Bang Priyadi juge?” Belum sempat melakukan perlawanan telinga Camelia sukses dijewer oleh Miss Dina.

“Yaelah Mpok, Rudy kan di kota! Boleh donk di kampung aye punya gebetan juga!” Kilah Camelia.

“Udeh, sekarang kite pulang aje!” Miss Dina menarik tangan Camelia.

“Mpok tunggu, Mpok, saya ikut pulang ya Mpok!” Amir turut menarik tangan Camelia.

“Woy, sapi, tangan gue bukan rumput, jangan loe gigit!” Tukas Camelia pada Amir.

“Amir.. Amir!” Panggil Dewi pada adiknya yang malah mengekori Miss Dina dan gadis pujaannya.

“Sudah, biarkan saja Dik!” Sergahku menahan Dewi. Tanpa kusadari ternyata tanganku telah melingkar di pergelangan tangannya.

“Ma.. Maaf!” Aku salah tingkah.

Dewi mengamati pergelangan tangannya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Sekali lagi maaf ya, Dik?” Aku mencoba memastikan kalau Dewi baik-baik saja.

Dewi menggeleng kecil, “Tidak apa-apa kok Bang!”

“Oya, kalian berdua sepupu kan?” Tanyaku hati-hati pada Dewi dan Priyadi.

Priyadi tertawa renyah, “Sudahlah Bang, enggak usah takut! Aku sudah bilang pada Om Azrul kalau aku tidak mau mengikuti tradisi kuno kampung ini! Om Azrul juga sudah menyerahkan hak sepenuhnya kepada Dewi untuk menentukan masa depannya sendiri!”

“Ngh..” Lidahku mendadak kelu.

“Dewi sepenuhnya milikmu, Bang!” Kedua tangan Priyadi merangkul bahuku dan bahu Dewi untuk merapat ke tubuhnya.

“Aku tahu, kalian berdua sama saling suka! Jadi, mulai malam ini aku minta, kalian berdua jadian, ya!” Desis Priyadi setengah berbisik.

Kulihat wajah Dewi menunduk malu. Rona-rona merah senantiasa menghiasi wajahnya.

“Aku tidak mau!” Sanggahku pada Priyadi.

Seketika Dewi mulai mengangkat wajahnya.

“Loh, bukankah Abang sangat mencintai Dewi?” Priyadi melerai rangkulannya di bahuku.

“Ya, aku tidak mau jadian dengan Dewi!” Kutegaskan sekali lagi pernyataan yang baru saja kusampaikan.

Bulir-bulir air mata nyaris keluar di pelupuk mata Dewi. Sekarang aku mulai yakin kalau Dewi memang sungguh memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku kepadanya. Bila tidak, mengapa ia hampir menangis begitu aku mengatakan kalau aku tidak bersedia jadian dengannya?

“Abang, kau serius?” Mata Priyadi menatapku tajam, kedua tangannya bersiap mencengkeramku.

“Ya, aku tidak mau jadian dengan Dewi! Yang kumau hanya berta’aruf dengannya!” Imbuhku.

“Islam tidak mengenal pacaran, Bang Yadi! Yang ada hanya ta’aruf!” Urai Dewi memberi penjelasan pada sepupunya itu.

“Aah.. Kalian mengerjaiku ya?” Sebuah senyuman kembali mengembang di wajah Priyadi. Dirangkulnya lagi aku dan Dewi erat.

“Janji ya, hubungan kalian akan langgeng selamanya!” Priyadi menarik tangan kami berputar-putar mengitari jalan.

“Hahahahahahaha.. Bang Yadi sudah!” Dewi tertawa-tawa bahagia, pun begitu denganku.

¤¤¤00¤¤¤00O00¤¤¤00¤¤¤

Masih ingin membaca kelanjutannya kan teman-teman? Kuharap kalian tidak akan pernah bosan…

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s