Posted on

Sang Perjaka #3

image

SANG PERJAKA
#3
A Religious Drama
Written by SUGIH
×××××♣☼♣×××××

“Lho, Mir, kamu kok malah bengong Nak? Ayo nanti keburu imsak loh!” mama tiba-tiba saja mengejutkanku. Tanpa kusadari sedari tadi aku larut dalam khayalanku akan Priyadi.

“Owh, engh…” aku menggaruk kepala tak tahu harus menjawab apa.

“Mau mama sidukkan?” spontanitas mama langsung mengambilkan beberapa centong nasi ke atas piringku dan sepotong paha ayam berlumur kuahnya yang berwarna kuning pekat.

“Ini mungkin sahur pertama yang akan menjadi tahun terakhir mama masak untuk kamu!”

Aku tersentak mendengar ucapan mama, “Mengapa mama bilang begitu? Mama mau pergi meninggalkan Mirthan?”

Mama menggeleng, “Bukan! Tapi kamu yang akan meninggalkan mama, sayang!”

Irawan dan Harun ternganga, sendok yang sudah ada di hadapan mereka tak jadi mereka suapkan ke dalam mulut.

Kubelai punggung tangan mama nan halus, “Ma, Mirthan sayang mama! Mirthan tidak akan pernah meninggalkan mama!”
Mama menggeleng.

“Mirthan, cepat atau lambat Mama yakin dalam tahun ini kamu akan segera menikah! Dan di saat itulah kamu akan pergi bersama istrimu meninggalkan mama sendiri di gubuk tua peninggalan datukmu ini. Dan selayaknya para wanita tua di kampung kita ini, hari tua mama akan mama habiskan dengan menyulam, merajut  atau menenun. Kamu, istrimu, dan anak-anakmu akan datang sesekali untuk menjenguk mama.”

“Ma, jodoh itu di tangan Allah! Hanya Allah yang menentukan kapan Mirthan akan menikah. Tapi Mirthan janji, Mirthan tidak akan pernah meninggalkan mama sekalipun. Hanya mama, satu-satunya yang Mirthan miliki saat ini!”

“Mirthan, berjanjilah kamu akan segera menikah di tahun ini juga, ya Nak! Mama tidak mau orang sekampung terus menggunjingkan kamu karena telah menolak tujuh lamaran yang datang ke mari Nak!”

“Ma…” tenggorokanku tercekat, Harun menyodorkan segelas air putih padaku.

“Tante membuat saya teringat kedua orang tua saya di kota. Rasanya saya sedih, hari ini saya tidak bisa menikmati sahur pertama bersama keluarga,” Irawan bertopang dagu di atas meja.

Harun tak kalah antusias, “Saya juga Tante, saya jadi ingat sama Nenek. Satu-satunya keluarga saya yang masih tersisa di dunia ini.”

“Tante mohon maaf kalau perkataan Tante pada Mirthan membuat kalian sedih!”

“Justru tidak  apa-apa Tante! Saya jadi sadar kalau saya telah meninggalkan keluarga saya tanpa kabar,” Irawan kembali mengunyah makanannya. Dan aku pun mulai menyuap diriku sendiri. Ayam taliwang yang biasanya menjadi makanan favoritku kini berasa hambar di mulut karena situasi yang dramatis ini.

“Gue juga sob! Gue merasa diri gue orang yang paling jahat sedunia sudah ninggalin nenek gue di rumah sendirian tanpa kabar! Padahal nenek gue kan sudah tua, enggak ada yang ngejagain. Gimana kalau terjadi apa-apa sama Nenek gue? Diculik, dibunuh, atau diperkosa? Terus dimutilasi! Huaaaaaaa……” Harun melabuhkan kepalanya di bahu Irawan.

“Hush! Istighfar kamu Nak!” mama mengingatkan.

“Astagfirullahaladzim,” Harun mengurut dada.

“Iya nih, lagian siapa juga yang demen sama nenek loe!” usik Irawan ketus.

“KAKEK LOE!” sungut Harun sebal masih melabuhkan kepalanya di bahu Irawan.

“Naudzubillahilimanzalik! Hiii…” Irawan bergidik.

“Gue kasihan sob sama nenek gue, gue takut terjadi apa-apa sama dia. Eeeeng…. Eeengh…” Harun terisak.

“Loe kok malah nangis sih? Gue jadi ikutan sedih nih! Huaaaaa…..” Irawan turut memiringkan kepalanya di atas kepala Harun.

“Gue bukannya menyesal karena sudah kabur dari rumah, Cuma gara-gara kagak mau dijodohkan oleh nenek gue sama si Surtinem anak juragan jengkol dari Bojongkenyot. Gue pengen kalau gue menikah sama wanita pilihan gue sendiri, bukan atas paksaan siapapun! Heeeeng, srrrrt, srrrrt,” Harun kian  terisak.

“Iya gue tahu loe gak mau dijodohkan sama si Surtinem itu lantaran dia udah tua kan seumuran nenek elo! Makanya elo kabur ikut si Mirthan ke mari!” Irawan membelai rambut sahabatnya itu.

“Alah, elo juga kabur dari rumah kan?” Harun balik menuduh.

“Kalo gue mah kabur bukan karena mau dijodohin, tapi karena gue disuruh nerusin usaha babeh gue, PABRIK KERIPIK JENGKOL! Gue ogah nerusin usaha yang begituan, gue kan kagak doyan makan jengkol!” imbuh Irawan seraya terisak.

“Ah, dasar loe bego! Kagak musti doyan jengkol juga kalee buat nerusin usaha bokap loe entu! Tapi setelah dipikir-pikir, nasib gue dan nasib elo itu sama ya? Kita sama-sama dipaksa berjodoh sama yang namanya jengkol! Hiks… srrrrt…..srrrrt,” tangis Harun kian meledak.

“Iyaaa…. Tapi….” Irawan terhenti berbicara.

“Anjrit loe! Loe ngelap ingus ke baju gue!” Irawan baru saja menyadari bahwa sedari tadi selama mereka beradu tangis diam-diam Harun menyusut ingusnya ke lengan kaos Irawan.

Sebelum percekcokan semakin sengit mama segera melerai mereka dengan memukulkan sendok ke piring.

TENG! TENG! TENG!

“Tante tahu kalian berdua harus menjalani shock terapi untuk mengatasi permasalahan kalian! Dan tante punya solusinya!” mama bangkit berdiri dari duduknya.

“Apa Tante?” sahut keduanya berbarengan, sangat kompak.

“Emm… buka puasa nanti, kalian berdua harus ikut lomba makan masakan tante!”

“Lomba makan? Wah, asyiiik! Kalau itu sih saya jagonya!” pamer Harun bangga.

Irawan celingukan, “Memangnya untuk buka puasa nanti tante mau masak apa?”

Mama berkacak pinggang sambil menyeringai dengan tatapan misterius, “SEMUR JENGKOL!” tandasnya.

GUBBRAAAK!

Kepala Harun dan Irawan yang semula bersemangat berubah lesu. Keduanya tidak ingin lagi mendengar kata ‘JENGKOL’ disebutkan dalam kamus hidup mereka.

Sementara mama tersenyum-senyum sumringah penuh kemenangan.

  ==00==00==♣♫♫♫♣==00==00==

“Mirthan, kedatangan Pakcik kemari ingin meminta maaf atas sikap kasar Pakcik tempo hari. Ini kan sudah memasuki bulan suci Ramadhan, kau bersedia bukan, memaafkan Pakcik?” entah angin apa yang mengantarkan kedatangan Pakcik Leman ke rumah kami di pagi hari menjelang berangkat kerja seperti ini. Tapi angin segar yang datang di awal Ramadhan. Benar kata orang bahwa Ramadhan senantiasa membawa berkah yang melimpah, dan aku sedang mendapatkan berkah yang pertama. Alhamdulillah.

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 07.20, masih banyak waktu yang kumiliki sebelum membuka agen wisata yang kurintis sejak bulan lalu di ujung desa kami. Harun dan Irawan telah berangkat lebih dulu untuk melakukan pembersihan seperti biasanya. Sekitar pukul delapan tepat agen baru kami buka, jadi aku masih memiliki waktu sekitar 40 menit untuk bercengkerama dengan orang yang telah melamarku minggu lalu.

“Tentu Pakcik, sesama insan Allah kita harus saling memaafkan. Allah saja Maha Pengampun, apalagi kita sebagai umat-Nya, harus bisa saling mengampuni. Untuk itu saya pun bermaksud meminta maaf kepada Pakcik bilamana terdapat perkataan maupun perbuatan saya yang tidak berkenan di hati Pakcik tempo hari lalu, mohon dimaafkan ya Pakcik!” kurangkul lelaki separuh baya itu.

“Alhamdulillah, kalau begitu sekarang kita damai. Dan untuk merayakan perdamaian di antara keluarga kita, Pakcik bermaksud mengundang engkau sekeluarga berbuka puasa di rumah Pakcik. Bagaimana engkau mau Nak Mirthan?” tawarnya menatapku dengan tatapan teduhnya.

Lama nian aku tidak melihat tatapan seorang lelaki tua seperti itu, membuatku sungguh rindu pada tatapan almarhum ayah yang selalu menenteramkan perasaanku di saat aku sedang kalut dan sedih.

“Maaf Pakcik, bukan lagi saya bermaksud menolak undangan Pakcik. Akan tetapi hari ini saya dan mama sudah mempunyai rencana untuk berbuka puasa di rumah. Bagaimana kalau Pakcik sekeluarga saja yang turut berbuka di sini? Insya Allah, jikalau besok ataupun hari-hari lainnya kami dapat memenuhi undangan Pakcik. Pakcik tidak marah kan?”

Pakcik Leman mengangguk-angguk pelan,”Ya, ya, saya paham akan maksud Kau! Puasa pertama memang selalu menjadi andalan prima setiap keluarga. Karena itu sudah selayaknya dilaksanakan bersama keluarga saja. Tapi saya nak tunggu kehadiran kalian sekeluarga di rumah saya esok!”

“Insya Allah Pakcik!” jawabku penuh rasa santun.

“Baiklah kalau begitu, Pakcik permisi dulu karena harus menuju ladang mengawasi para buruh bekerja,” pamitnya.

Aku bersyukur dia tidak bersikap emosi lagi seperti minggu lalu saat lamarannya terhadapku kutolak. Kali ini pembawaan wataknya justru memancarkan aura kesabaran dan pengertian yang bijak.

“Assalamualaikum,” ucapnya memberikan salam seraya beranjak meninggalkan rumahku.

Beberapa saat setelah punggungnya menghilang di balik pagar, ucapan salam serupa terdengar olehku memasuki pekarangan rumah. Mataku memicing-micing hingga menyipit mengamati dengan seksama siapakah yang tengah bertandang padaku ini.

“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatu,” jawabku membalas salam.

“Subhanallah, sungguh benarkah ini engkau Dik Dewi?” tanyaku membuka percakapan di antara kami.

“Iya, Bang,” jawabnya singkat. Seperti biasa Dewi selalu menjawab pertanyaanku sesingkat mungkin.

“Sungguh cantik Dik, sekarang memakai jilbab. Apakah Adik baru saja mendapat hidayah?” aku terpukau dengan sejuta pesona yang dimilikinya. Tanpa memakai jilbab saja sudah cantiknya luar biasa. Apalagi sekarang dengan memakai jilbab kecantikan rohaninya pun kian terpancar.

“Alhamdulillah,” jawabnya lagi. Nah kan?

“Maaf Bang, saya ke sini hendak merawat luka Bang Yadi. Boleh saya masuk?” hmm, mungkin inilah kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya dan yang kudengar.

“O…o bo, boleh, boleh… silakan masuk!” tanpa sadar aku terbengong-bengong terhipnotis oleh aura yang dimilikinya.

Dewi melenggang masuk dengan anggun seperti putri dari kerajaan dongeng. Anganku melayang pada kisah Nabi Sulaiman yang tengah dikunjungi Ratu Balqis. Saat Ratu Balqis melihat lantai istana Nabi Sulaiman bagaikan sungai jernih yang mengalir dipenuhi berbagai macam ikan hias, Ratu Balqis menarik roknya ke atas agar pakaiannya tidak menjadi basah dan berjalan penuh keanggunan. Mungkin seanggun itulah Dewi berjalan saat ini. Ratu Balqis dan Dewi tidak berasal dari negeri dongeng kan?

“Abang sudah sarapan?” tanyanya pada Priyadi.

“Pelayanan di rumah ini sangat baik, Wi,” tukas Priyadi mengelap bibirnya dengan tisu.

“Aku baru saja selesai makan!” lanjutnya lagi.

“Aku ke sini mengantarkan pakaian ganti untuk Abang,” Dewi menyerahkan sebuah bungkusan.

“Kau bilang pada keluargaku kalau aku ada di sini?” Tanya Priyadi mendongakkan kepalanya dengan tatapan tajam.

“Itu pakaianmu yang Kau tinggalkan dulu saat Abang bermalam di rumahku!” Dewi tak menggubris tatapan Priyadi yang  nampak seperti pedang terhunus.

“Astagfirullah,” aku bergumam pelan namun terdengar jelas oleh Dewi dan Priyadi. Mereka melongo ke arahku.

Disiapkannya beberapa butir obat oleh Dewi tak lupa segelas air putih. Lalu ia menyerahkannya pada Priyadi untuk diminumnya. Setelah itu Dewi membantu menarik kaos yang dikenakan oleh Priyadi. Tampak kini Priyadi telah bertelanjang dada. Dewi sangat berhati-hati sekali mengelap tubuh Priyadi yang berpetak-petak sangat jantan itu dengan air hangat yang telah disediakan oleh mama. Kulit Priyadi kuning langsat keputihan tidak tampak seperti orang desa yang banyak kutemui dan umumnya mereka berkulit sedikit lebih gelap dariku maupun Priyadi. Menurutku Priyadi cenderung terlihat seperti lelaki metroseksual yang banyak kutemui di kota. Dewi sangat cekatan membersihkan sisa-sisa betadine yang telah mengering di pinggiran luka Priyadi.

“Astagfirullahaladzim,” lagi-lagi aku bergumam sendiri.

Aku baru tersadar bahwa Priyadi sedang tak berbaju, tidakkah Dewi dan Priyadi itu bukan muhrim? Mengapa aku terus membiarkan Dewi melakukan aktivitasnya itu? Baru saja Dewi mendapatkan hidayah untuk menjadi muslimah yang shalehah, tapi mengapa dia bertingkah seperti itu? Seakan tiada pembatas antara seorang akhwat dengan seorang ikhwan. Aku harus bisa mencegahnya! Tapi tujuan Dewi sebenarnya kan untuk membersihkan luka Priyadi, apakah itu salah? Atau jangan-jangan aku sudah… terlalu cemburu melihat kedekatan mereka? Kalau tidak salah tadi Dewi bilang ‘baju yang ditinggalkan Priyadi saat dia bermalam di rumahnya’? apakah Dewi dan Priyadi sudah….?

Ya Allah, kumohon jauhkanlah diriku dari prasangka-prasangka buruk yang meracuni pikiranku. Sesungguhnya aku tidak ingin suudzon terhadap mereka berdua dikarenakan perasaan cemburu. Bila memang Dewi bukanlah jodohku, kumohon beri aku kekuatan untuk menerima kenyataan dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Amin.  

“Sekarang lepaskan celana Abang!” perintah Dewi pada Priyadi.

“APA?” aku tersentak.

“Bang Mirthan, tolong bantu Bang Yadi mengganti celananya!” disodorkannya bungkusan berisi celana pendek ¾ padaku.

Dewi berlalu dari hadapanku keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Hampir saja aku berburuk sangka bahwa Dewi yang akan menggantikan celana Priyadi.

“Bang, aku bingung harus bagaimana? Aku tidak pernah melakukan perbuatan itu tetapi semua tuduhan ditujukan padaku,” ungkap Priyadi tiba-tiba membuatku terkesiap.

“Tadi subuh Abang sudah janji kan kalau Abang akan mendengarkan ceritaku?” tanyanya memastikan menagih janji yang telah kuucapkan padanya. Orang ini extroverted sekali mengenai masalah yang dialaminya.

“Baiklah, coba Kau ceritakan sekarang! Waktuku tinggal sepuluh menit!” kulirik arloji di pergelangan tanganku.

“Hmm… kalau Abang tidak niat, lebih baik tak usah!” ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.

“Oke, kutambah 5 menit cukup?” tawarku.

“Tidak jadi!” ia merajuk.

“Sepuluh menit ekstra!” penawaran terakhirku.

“Pejabat banget sih, pakai pembatasan waktu segala!” ia tidak bersemangat.

Aku mendudukkan pantatku di tepi ranjang  tepat di samping ia terduduk.

“Baik, ceritalah!” perintahku padanya.

“Berawal dari kejadian 2 bulan yang lalu, aku diajak pergi ke diskotik oleh teman-temanku untuk merayakan wisuda kami. Setelah larut dalam suasana pesta malam itu aku mabuk. Begitu pagi menjelang, di sampingku ternyata ada seorang teman perempuanku tengah mendekap erat tubuhku.  Namun aku yakin kami tidak pernah melakukan apa-apa di luar batas kendali kami. Setelah 2 bulan berlalu, teman perempuanku itu datang menemuiku dan memintaku untuk segera menikahinya sebagai bentuk tanggung jawabku atas kehamilannya. Aku menolaknya Bang, karena aku sangat yakin aku tidak pernah melakukannya! Lalu dia mengancam akan membunuhku. Dan… dan inilah akhirnya yang terjadi padaku. Dia menyuruh beberapa orang preman untuk membunuhku!” Priyadi menerawang sembari meremas rambutnya dengan kedua tangannya.

“Masya Allah, sinetron banget ya!” komentarku.

“Ingin rasanya aku menuntut dia ke polisi. Tapi dia balik mengancamku akan membeberkan masalah ini kepada keluargaku. Dia mempunyai bukti sejumlah foto saat aku tertidur dengannya. Aku takut Bang, aku takut kedua orang tuaku akan marah besar padaku,” pandangan Priyadi beralih menelungkup.

“Hmm, mengapa harus takut? Kurasa justru kamu berada di pihak yang kuat dari segi hukum!” cetusku santai.

“Aku harus bagaimana Bang?” Priyadi memelas mengiba. Dia benar-benar putus harapan.

“Ternyata kamu benar-benar termakan oleh sinetron ya? Sampai hal sepele pun dari masalahmu kamu abaikan, sehingga kamu panik sendiri,” kusunggingkan senyuman padanya.

“Maksud Abang?” tanyanya penasaran.

“Sebelum kuberi tahu, ada baiknya kamu bertobat dulu kepada Allah swt!” saranku hati-hati.

“Minum minuman keras sangat tidak dianjurkan dalam Islam! Itu hukumnya haram, sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan orang yang beragama, tentu kamu tahu itu kan?” aku mengingatkannya. Priyadi manggut-manggut mendengarkan petuahku.

“Minuman keras dapat merusak akal dan pikiran manusia, sehingga bisa saja minuman keras menyebabkan hal-hal negatif  lainnya seperti perzinahan dan pemerkosaan, penipuan, pencurian, bahkan hingga pembunuhan dan fitnah! Pernah dikisahkan di zaman zahiliyah bahwa ada seorang pemuda yang hilang akalnya karena mabuk oleh khamar minuman keras. Dia berjumpa seorang wanita yang tengah ditinggalkan bekerja oleh suaminya. Karena kehilangan kesadaran, pemuda itu membawa masuk wanita itu ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam. Lalu pemuda itu memaksa wanita itu untuk menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyetubuhi wanita itu sepanjang malam. Begitu pagi menjelang, suami dari wanita itu pulang ke rumah dan mendapati pintu kamarnya terkunci dari dalam. Didobraknya pintu kamar, dan si pemuda terkejut menyadari dirinya dalam keadaan tanpa berbusana bersama seorang wanita yang sedang menangis ketakutan di sampingnya. Melihat hal itu, sang suami pun murka kemudian ia menghajar si pemuda. Pemuda itu panik, ia takut dihukum oleh aparat yang berwajib. Maka tatkala ia melihat botol minuman keras bekasnya minum tadi malam, dipecahkannyalah botol itu. Pecahan botol itu lalu ditusukkan ke perut sang suami. Sang suami akhirnya tewas, sementara si wanita panik melihat suaminya terbunuh. Merasa dirinya telah dinodai dan ditinggal mati oleh suami tercintanya, wanita itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri menusukkan pecahan beling yang menusuk perut suaminya ke perutnya sendiri,” beberku panjang lebar.

“Tragis sekali,” Priyadi bergumam lirih. “Aku tidak tahu caranya bertobat Bang. Bagaimana caranya?”

“Caranya dengan mensucikan diri terlebih dahulu, kemudian shalat dan bersujudlah kepada Allah! Berikrarlah kepada Allah bahwa kamu akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya!” saranku padanya. Dia menyimak penuh perhatian.

“Oh, begitu ya Bang? Tapi aku kan belum bisa mandi Bang! Bagaimana caranya aku mensucikan diri?”

“Tadi kamu sudah mandi kering kan?” ingatku lagi. “Kamu bisa bertayamum!”

“Yang penting niatnya!” tegasku padanya, sekali lagi Priyadi mengangguk mengerti.

“Terima kasih Bang atas semuanya, aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau tidak ada Abang,” secara refleks di luar dugaanku Priyadi mendekap tubuhku erat. Kutepuk punggungnya pelan.

“Bersyukurlah kepada Allah, karena berkat perlindungan-Nya-lah kamu selamat dari marabahaya! Allah adalah Arrahman dan Arrahim, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Tiada satu pun zat yang kekal yang dapat menandingi kekuasaan Allah!”

Aku bangkit berdiri menuju pintu, “Sudah waktunya aku berangkat kerja. Ketahuilah bahwa lelaki yang sedang dalam keadaan mabuk, tidak mungkin dapat menghamili seorang gadis. Karena minuman keras dapat mematikan sel sperma selama dalam keadaan mabuk! Dan sel sperma itu akan kembali bersifat reaktif bila keadaan sudah sepenuhnya sadar!”  

Priyadi tercengang mendengarkan penjelasanku, “Oh, makanya Abang bilang kisahku ini sinetron banget ya?” mulutnya melongo bengong. Segera dikenakannya kaos yang kulempar dari atas meja padanya.

Aku hanya menghela napas sesaat kemudian meninggalkannya yang mulai merebahkan diri di atas kasur. Sepertinya pikirannya sudah mulai tenang.

“Mirthan, sudah mau berangkat kerja Nak?” Tanya mama di ruang tengah. Dewi masih di sini rupanya. Terlihat keduanya sangat akrab sedang membincangkan sesuatu.

“Iya, ma. Sudah terlambat 10 menit nih. Tadi mendengarkan penuturan cerita Priyadi dulu sih,” jawabku dengan langkah agak terburu-buru.

“Bisa tidak sekalian kamu antar Nak Dewi pulang?” pinta mama padaku.

“Ng.. bi..bisa,” jawabku tergagap.

“Ayo!” ajakku kepada Dewi menyuruhnya untuk segera naik ke atas boncengan.

“Tapi Abang kan sudah terlambat,” Dewi tampak sungkan.

“Tidak apa-apa, bolos sehari pun demi Dewi tidak masalah!” ups, aku kok bisa-bisanya menggombal seperti ini.

“Cie… Mirthan, suka ya sama Dewi?” tembak mama ceplas-ceplos membuat pipi Dewi bersemu kemerahan. Ia terlihat malu digunjing demikian oleh mama. Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama padaku? Harapku.

Sempat kulihat sepintas lalu Priyadi mengamati kami dari jendela kamar. Kemudian ditutupnya tirai di kamar yang ditumpanginya itu.

Dewi segan untuk melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku pun mendadak salah tingkah gara-gara ucapan mama sampai bingung bagaimana caranya menyuruh Dewi agar berpegangan padaku. Akhirnya kubiarkan keadaan kami untuk saling diam satu sama lain. Motor pun melaju menderu menuju jalan raya desa. Belum sampai di rumahnya, tiba-tiba Dewi memintaku untuk berhenti di persimpangan.

“Loh, mengapa turun di sini Dik?” tanyaku bingung.

“Dik Dewi masih takut kita jadi bahan gunjingan orang sekampung?” selorohku menyelidik.

Dewi nampak serba salah, “Maaf,” ucapnya lirih.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan!” aku pun tak tahu harus berkata apa lagi.

“Bang Mirthaaaan!” panggil seseorang dari kejauhan.

Suara seorang wanita bersama seorang gadis remaja. Salah satunya aku sudah mengenalnya, karena kemarin aku diperkenalkan langsung oleh kakaknya yang tergila-gila pada sahabatku Irawan. Ya, tidak salah lagi gadis remaja itu adalah Camelia adik dari Ummiyatul Sayyidinah alias Miss Dina yang mengklaim dirinya sebagai calon Miss Lebay 2014. Aku memicingkan mata sambil melepas helm dari kepalaku tatkala kedua perempuan itu bergerak mendekat ke arahku.

Wanita yang bersama Camelia itu kalau tidak salah adalah Yolanda, putri bungsu dari Pakcik Leman yang meminta ayahandanya itu untuk meminangku menjadi calon suaminya minggu yang lalu. Seminggu berlalu nyaris membuatku terlupa akan paras wajahnya. Hanya sedikit kemiripan yang mengingatkanku pada Srikandi Devi, kakaknya.

“Ya ampun Bang Mirthan, tambah ganteng saja! Abah sudah menemui Abang tadi pagi?” Tegur Yolanda seraya tiba-tiba memelukku dan…

Eh, tidak salahkah ini? Yolanda baru saja mencium pipiku di hadapan Dewi?! Dewi membuang muka dari hadapanku. Gelagatnya berubah menampakkan perasaan tidak suka.

“Maaf, saya buru-buru, terima kasih banyak Bang sudah mengantar Dewi,” pamitnya tergesa-gesa mengambil langkah secepat mungkin.

Langkahku ingin mengejarnya tertahan oleh Yolanda. Wanita ini benar-benar sebelas-dua belas dengan sang kakak. Aku ingat betul bagaimana kelakuan Srikandi Devi saat kami masih duduk di bangku SMA dulu. Sangat agresif kepada para lelaki.

“Dewi tunggu! Dewi…” panggilku, namun Dewi tak kunjung menghiraukan panggilanku. Tapi… apakah aku tidak salah melihat? Di pelupuk mata Dewi terdapat buliran air mata yang akan terjatuh  membasahi pipinya. Apakah ini sebuah pertanda kalau Dewi… Dewi juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kurasakan padanya? Ya Allah, kuharap ini merupakan sebuah petunjuk dari-Mu.

Yolanda masih menempel di lenganku. Dia tersenyum-senyum sendiri penuh kebahagiaan.

“Kamu tidak berpuasa?” kutepis rangkulannya di tanganku.

“Puasa?” ia balik bertanya bingung. Camellia pun turut bingung.

“Mel, ini tunangan kakak!” Yolanda menarik tangan Camelia ke hadapanku.

“Cakepan mana sama si Rudy yang sering kau ceritakan itu?” Tanya Yolanda penuh kegirangan.

“Pasti gantengan Bang Mirthan kan?” Yolanda semakin genit tidak karuan. Tingkahnya benar-benar ganjen tidak ubahnya seorang wanita yang tidak mempunyai harga diri.

“Aaargh… apa-apaan sih? Tolong jangan mengalihkan pembicaraan ya, saya tanya kamu berpuasa atau tidak? Dan harap diingat lamaran ayahmu minggu yang lalu kan sudah saya tolak, jadi kita tidak pernah bertunangan!” tegasku namun masih bersikap sabar, aku tak ingin membuat puasaku menjadi batal.

“A.. aku sedang haid, Bang!” jawabnya terbata.

Aku mendesah sedikit jengkel. Yolanda bersikap santai seolah tidak ada yang salah. “Walaupun kamu sedang haid dan tidak berpuasa tapi kamu harus bisa mengendalikan diri untuk tidak terbawa hawa nafsu apalagi di depan publik seperti ini!” imbauku.

“A… Abang lebih memilih gadis kampung itu daripada aku?” kini gantian Yolanda yang kebingungan.

“Abang jahat!” cetusnya marah.

“Bukankah Abang sudah bermaafan dengan abah tadi pagi?”

“Kami memang sudah bermaafan, tapi bukan berarti saya menerima lamaran abahmu lagi!” tandasku tegas.

“Maaf, saya harus berangkat kerja. Camellia, maaf atas situasi yang tidak menyenangkan ini, Abang permisi dulu ya,” pamitku buru-buru. Kukenakan kembali helm yang tadi kulepas.

“I…iya Bang,” sahut Camelia salah tingkah.

“Assalamualaikum,” ucapku menutup pertemuan pagi itu.

“Abang… Abang… Bang Mirthan!” panggil Yolanda berulang-ulang namun tak kugubris sama seperti Dewi saat kupanggil-panggil tadi.

Motorku kugas kencang karena sudah terlalu banyak waktuku yang tersita pagi ini.

“Ehem.. ehem.. jadi telat satu jam kerja habis indohoy dulu toh?” sindir Harun dengan nada yang tidak enak kudengar.

“Hmm, baru puasa pertama sudah berbuat macam-macam. Enggak bisa menahan nafsu ya sob?” Irawan turut mencibir.

Aneh. Mengapa mereka berprasangka buruk terhadapku?

“Loe habis ‘begituan’ sama siapa? Kayanya gak mungkin kalau sama si Dewi!” Harun mengerutkan keningnya.

“Maksud kalian apa sih?” tanyaku bingung.

Irawan menyerahkan kaca cermin padaku, “Nih, lihat sendiri di pipimu!” tunjuk Irawan.

Astagfirullah, ternyata Yolanda memakai gincu dan gincu itu membekas di pipiku saat dia menciumku tadi.

“Ini tidak seburuk yang kalian kira friends!” aku mencoba menjelaskan. Namun kedua sahabatku itu hanya tertawa terbahak-bahak. Ya sudahlah cukup aku dan Allah yang tahu semua yang telah terjadi padaku sepanjang pagi ini.

==00==00==ΩΩ♫♫♣♫♫ΩΩ==00==00==

Matahari telah condong ke barat, warnanya kuning jingga memudar merah keemasan mengantarkan hari menuju malam.  Waktu berbuka hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi. Mama tengah menata meja di ruang makan. Harun ikut menyibukkan dirinya membantu-bantu di dapur menyiapkan hidangan takjil untuk berbuka dan santapan makan malam. Sementara Irawan sedang mengantarkan rantang makanan ke tetangga sebelah. Tinggal aku yang agak santai menemani Priyadi berbincang-bincang di beranda rumah sambil membaca surat kabar harian langganan almarhum datuk. Meskipun datuk telah tiada, kami tetap berlangganan surat kabar tersebut. Menurut mama sudah hampir setengah abad keluarga kami menjadi pembaca setia Koran yang diantarkan setiap sore itu. Dan aku merasa tertarik untuk meneruskan kebiasaan yang dilakukan mendiang kakekku. Terlebih karena aku sangat gemar membaca, terutama berita yang dimuat di dalam surat kabar. Aku menjadi tahu perkembangan dunia melalui media cetak itu baik berita dalam negeri maupun mancanegara.

Priyadi melirik-lirik koran yang sedang kubaca dan sesekali mencoba menatap wajahku yang tampak serius menyimak sebuah berita. “Bang, apakah Abang memendam perasaan suka kepada Dewi?” usiknya usil.

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya barusan.

“Apa?” aku berpura-pura tidak mendengar perkataannya.

“Sudahlah Bang, tidak perlu ditutup-tutupi, aku orangnya terbuka kepada siapapun!” Priyadi menarik koran dari pandanganku.

“Hmm… memangnya penting ya?” aku balik bertanya, menaikkan sebelah alisku sedikit  lebih tinggi.

“Jiah, mau dibelain nggak?” pertanyaanku pun dipingpong lagi olehnya.

“Hey, kenapa ini jadi tangkis-menangkis?” aku melonjak dari dudukku.

“Bukan begitu Bang, perasaan Abang ke Dewi terlihat menonjol sekali. Abang benar-benar suka kan sama Dewi?” Priyadi melontarkan suatu pernyataan sekaligus pertanyaan padaku untuk memastikan.

“Kamu tidak marah?” sengaja kupancing apakah dia tulus mencintai Dewi seperti perasaanku pada Dewi atau tidak.

“Untuk apa marah?” dia terkikik menahan tawa geli membuatku bengong namun juga bingung.

“Hey, bukankah Pak Mursidi akan meminangmu untuk menjadi menantunya?”

Mendengar pertanyaanku tawa Priyadi makin tergelak, “Hahaha… Abang kok lucu sih?”

“Aku tidak mau menikah dengan sepupuku sendiri! Walaupun pada hakikatnya pernikahan antar sepupu di kampung  kita ini diharuskan, namun aku tidak ingin mengikuti tradisi yang kuno itu! Abang tahu mengapa harus ada pernikahan antar sepupu di kampung kita?”

Aku mengangkat bahu, “Memangnya kenapa?” tanyaku antusias. “Dewi itu sepupu kamu?” tebakku mantap disahut anggukan kecil olehnya.

Priyadi memperbaiki posisi duduknya, “Sebenarnya tujuannya adalah agar harta warisan keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain!”

Aku masih penasaran, “Akan tetapi, tidak sedikit orang di kampung ini yang melakukan prosesi lamaran tidak berdasarkan pertalian darah ataupun hubungan keluarga.”

“Ya, itu hanyalah pilihan bagi keluarga yang sudah membebaskan hartanya kepada orang lain. Namun intinya pihak wanita tetap yang berwenang untuk melakukan pelamaran!”

“Lalu bagaimana bila pihak lelaki tidak bisa menerima lamaran pihak wanita? Dalam konteks ini lelaki tersebut ingin mengajukan pelamaran lebih dulu kepada wanita sebagaimana masyarakat lain di luar kampung kita pada umumnya?,”  kupandangi wajahnya lekat. Obrolan kami mulai serius.

“Ada sejumlah ketentuan yang harus diikuti berdasarkan adat yang sudah melembaga di negeri ini,” beber Priyadi gamblang. Belum selesai ia memberikan penjelasan, obrolan kami terhenti oleh kedatangan seorang wanita.

“Assalamualaikum, Bang Mirthan,” sungguh tak diduga kami akan kedatangan tamu di hari menjelang berbuka ini.

“Waalaikumsalam,” jawabku menyambut hangat kedatangannya.

“Angin apa yang membawa Mpok Utul ke mari?” sapaku ramah bersahaja.

“Mpok Utul? Please deh ah, Miss Dine kalee!” protesnya meralat nama panggilannya yang baru saja diumumkan kemarin siang.

“Oh iya lupa, maaf ya kalau begitu, Miss Dina,” aku sedikit canggung menyebut nama panggilannya itu.

“Kagak ape-ape, Bang Irawan ade?” gayanya yang sompral menepuk pundakku spontan, Priyadi terkekeh melihat wanita paruh baya super nyentrik ini.

“Di kampung ini orang Betawi seperti dia sangat langka. Jarang ada orang Betawi yang mau merantau ke kampung kita, Bang! Jauh banget ya dia datang menyeberang laut? Pasti dia merantau ke sini dulunya naik kuda kepang. Noh penampilannya aja funky habis, kaya kuda kepang kesamber setan!” bisik Priyadi di telingaku. Miss Dina celingak-celinguk ingin mencuri dengar apa yang tengah dibisikkan oleh Priyadi padaku.

Sedikit kuperhatikan ada betulnya juga apa yang telah disampaikan oleh Priyadi. Penampilan Miss Dina hari ini terbilang sangat menor, dia memakai make up terlalu tebal hampir menyerupai badut bahkan lebih mirip dengan ondel-ondel. Lipstick yang dipakainyapun belang dua, bibir atas berwarna biru sedangkan bibir bawah berwarna merah. Senada dengan eye-shadow pada kelopak matanya, kiri berwarna biru dan kanan berwarna merah. Rambutnya sengaja dikepang dandanan ala anak balita atau lebih mirip kepada anak TK. Di pangkal ikatan kepalanya terselip beraneka macam bross berbentuk boneka. Seandainya di negara ini diselenggarakan ajang pemilihan kontes kecantikan ondel-ondel, kurasa Miss Dina layak dinobatkan sebagai juara pertama.

“ Astagfirullahaladzim, tidak sepatutnya aku menilai Miss Dina sedemikian rupa!” aku beristigfar sendiri. Untung saja itu semua tidak kulontarkan langsung sehingga tidak ada yang tahu apa yang sedang kupikirkan tentangnya.

“Ssst!” aku memberi  isyarat pada Priyadi. Kutarik tangan Priyadi sedikit menjauh dari Miss Dina, “Tidak baik membicarakan orang, apalagi ini kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan, dosanya bisa berlipat ganda loh! Dan tidak baik juga berbisik di hadapan orang yang sedang dibicarakan! Bisa menimbulkan fitnah!” kemudian aku berbalik kembali menghampiri Miss Dina.

“Wah, kebetulan Irawan lagi nganterin makanan ke tetangga sebelah. Mungkin bentar lagi juga pulang,” tukasku seraya mempersilakannya untuk duduk.

“Aye kagak bise lame-lame 5 menit lagi dah buke nih, kalo gitu aye titip ni rantang buat calon laki aye ye!” disorongkannya setumpuk rantang tiga padaku.

“What calon laki? Maksudnya Bang Irawan, Mpok?” Priyadi Nampak kaget mendengar ucapan Miss Dina si calon Miss Lebay 2014 itu.

“Iye, kenape? Masalah buat loe?” sambar Miss Dina dengan suara melengking agak tinggi.

“Ah, enggak, enggak apa-apa Mpok!” gelagat Priyadi ketakutan begitu melihat mata Miss Dina sudah bertaut di hadapannya.

“Ya udeh, aye pamit dulu, takut dicari-cari si Camelie! Entu anak kagak bise aye tinggalin barang semenit aje, bise-bise semue rumeh digerebeknye kaye polisi ngadain razie!” Miss Dina tergesa-gesa meninggalkan pekarangan rumahku sampai lupa mengucapkan salam sebelum berpamitan.

Seandainya Irawan ada di rumah, mungkin Miss Dina bisa betah bertahan lama-lama berkasmaran dengan pangeran pujaannya itu. Tak lama setelah kepergian Miss Dina di ambang pagar, Irawan muncul dari balik semak belukar pagar tanaman rumah. Sepertinya dia habis bersembunyi guna menghindari pertemuan dengan Miss Dina wanita yang  ingin menjadikannya suami ketiga.

“Eh, Miss Dina ngapain tadi?” sosor Irawan padaku dan Priyadi. Kami beranjak dari beranda hendak masuk ke dalam rumah. Sayup-sayup terdengar suara beduk bertalu-talu di ufuk barat diiringi merdunya suara adzan.

“Nih, titipan dari dia!” kuserahkan rantang tiga susun yang dititipkan oleh kekasihnya tadi.

“Wah, apaan tuh Wan?” mama menunjuk rantang yang dijinjing Irawan.

“Spesial dari calon istrinya Ma!” sahutku mendahului sang pemilik rantang.

“Oh ya, siapa?” Tanya mama penasaran.

“Mpok Utul!” jawabku lagi tersengih.

Mama tergelak, “Serius Wan?” ungkap mama tak percaya disambut bibir Irawan yang melebar selebar daun keladi.

“Sudah, ayo kita berdoa dulu, coba Run kamu pimpin doa ya!” titah mama.

Harun pun memimpin doa berbuka puasa begitu khidmat. Es sirup campur pun langsung kami serbu dengan gembira. Alhamdulillah tunai sudah puasa pertama kami hari ini.

“Ngomong-ngomong kami jadi lomba makan enggak nih, tante? Tapi tante enggak masak semur jengkol kan?” serang Harun pada mama dengan bertubi-tubi pertanyaannya.

“Tadinya sih tante mau masak semur jengkol, tapi waktu belanja di warung sayur tadi sore tukang sayurnya bilang ‘jengkolnya sudah habis diborong, Bu!’ entah siapa yang sudah memborongnya! Jadi tante hari ini cuma masak tempe bacem dan cumi asam pedas deh!” beber mama panjang lebar.

“Alhamdulillah kalau begitu, semua masakan tante saya suka, asalkan jangan semur jengkol!” Harun segera membalikkan piringnya hendak menyiduk nasi.

“Nah, loe dikirimin apa sih sama Miss Dina?” diliriknya rantang Irawan di sebelahnya. “Boleh dong gue minta? Kelihatannya enak nih!” Harun melap bibirnya dengan ujung lidahnya.

Dengan hati-hati dibukanya rantang pemberian Ummiyatul Sayyidinah itu. Irawan terbelalak memperhatikan isi rantangnya, seakan tak percaya dengan isi rantang itu dibukanya susunan rantang kedua dan ketiga. Ternyata semua rantang itu isinya sama.

Irawan menyeringai ke arah Harun yang duduk di sebelahnya. Tangannya menyodorkan ketiga rantang itu kepada Harun dengan suka cita.

“Loe mau kan sob? Nih, habisin ya semuanya!” buru-buru Irawan menyerobot piring Harun yang sudah dipenuhi cumi asam pedas dan tempe bacem masakan mama, kemudian diserahkan piringnya yang masih kosong kepada Harun.

Disambutnya rantang dari tangan Irawan dengan hati riang, “Hehe, makasih ya sob!”

Mata Harun melotot bulat tatkala ia mendapati isi rantang-rantang tersebut, “Tante, ternyata Miss Dina itu adalah orang yang sudah memborong jengkol di warung sayur langganan tante!” tubuhnya bergidik jijik.

Mama melonjak menarik salah satu rantang dari tangan Harun, “Horeee…. Berarti kita jadi menyelenggarakan lomba makan semur jengkol! Ah, memang, pucuk dicinta jengkol pun tiba!” seru mama girang.

Harun dan Irawan mendadak mual-mual.

###•••☼☼☼◊◊☼☼☼•••###

Tiga hari telah berlalu, Priyadi telah berani pulang ke rumahnya di kampung seberang. Namun Dewi tak pernah lagi kunjung datang. Ke mana dia selama ini menghilang? Dari pagi hingga petang wajahnya selalu terkenang. Membuat asaku jauh melayang. Namun semuanya hanya larut dalam bayang-bayang.

“Bang Mirthan sedang apa?” rupanya sedari tadi sosok belia nan manis itu sudah mengamatiku di kejauhan.

“Eh… Oh…” aku sedikit terkejut mendengar tegurannya.

“Aku perhatikan, dari tadi Abang berdiri melamuuun terus di depan rak!” serunya menunjukkan mimik serius.

“Oh, enggak! Abang lagi mikir, apa saja yang belum kami beli untuk persediaan kebutuhan sehari-hari di rumah!” jawabku sekenanya, khawatir gadis ini menanyaiku macam-macam.

“Oh kalau begitu biar kubantu Abang belanja ya!” tanpa komando dariku Camelia mengambil alih trolley yang kudorong.

“Nah, ini pasti belum ada kan?” dimasukkannya berbagai macam bumbu dapur mulai dari vetsin, gula, garam, cuka, kecap, dan saus ke dalam trolley. Penuh semangat gadis periang itu berjalan terus mendorong trolley dari satu lorong deretan rak menuju lorong lainnya.

“Abang kalau mandi suka pakai shampoo apa? Yang jelas enggak pakai minyak jelantah campur abu rokok kan? Terus pasta giginya suka yang bagaimana? Jangan bilang Abang suka pakai daun sirih campur terasi ya! Nah, kalau sabun cair yang ini khusus lelaki jantan seperti Abang, daripada pakai sabut kelapa bekas mandi sapi, jijik kan?! Wah, closet di rumah Abang pasti perlu pengharum yang baru dan super wangi nih, soalnya aku tahu closet di rumah Abang pasti baunya minta ampun bekas beraknya Bang Irawan, kan tempo hari dia dikirimi semur jengkol oleh Mpok Utul, iya kan?!” tebaknya ceplas-ceplos, aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang lucu itu. Ternyata dia mewarisi sifat nyentrik kakaknya.

“Kenapa Mel, kok berhenti?” aku berdiri di belakangnya. Rambut Camelia yang panjang terurai sampai ke pinggang tercium wangi olehku.

“Rambut kamu harum, Mel? Shampomu minyak jelantah campur air cucian ikan asin ya?” candaku padanya.

“Ih, Abang, enak aja! Aku pakai shampoo aroma apel dan lidah buaya layaw!” cibirnya keki.

“Wah hebat banget pakai lidah buaya! Ngomong-ngomong buaya sungai mana yang kamu potong lidahnya? Pasti sungai Amazone kan? Ckckck!” aku berdecak senang mencandai gadis remaja SMA ini.

“Ya iyalah, masak buaya Sungai Ciliwung? Yang ada buaya darat kalee…” Camelia tak mau kalah.

“Gigi kamu juga bagus, putih lagi! Sikat giginya pakai asahan kah?” gurauku lagi.

“Aduuuh, kalau aku gosok gigi pakai asahan, pasti Abang sudah habis kumakan dari tadi!” cubit Camelia kecil di pinggangku.

“Wow kamu kanibal dong! Tapi jadi kanibalnya puasa dulu ya, kan ini Ramadhan!” aku semakin menggila.

“Kulitmu halus banget, sampai-sampai melebihi halusnya kulit biawak! Jangan bilang kamu pakai kulit badak dari Ujungkulon!” rasanya aku tak bisa berhenti menggombali gadis berlesung pipi ini. Camelia benar-benar manis, sayang umur kami terlampau jauh 10 tahun. Andai aku masih remaja seumurannya mungkin Camelia bisa jadi sasaran objektifku dalam memanah cinta.

“Huuh Abang, jadi ceritanya revenge nih? Mau balas gurauanku tadi?” Camelia kehabisan kelakar untuk membalas guyonanku padanya.

“Peace, peace, peace! Abang berterima kasih banget kok sudah dibantuin belanja sama Camelia!” kupencet hidungnya yang mungil itu.

“Iiiih Abang, emang Camelia anak kecil!” gerutunya sewot.

“Uups lagi puasa tak boleh marah!” peringatanku seraya memutar jari telunjuk di depan wajahnya.

Camelia tak jadi beringas, ditebarkannya senyum manisnya di kulum walau terlihat sedikit terpaksa, “Okay, okay, berhubung Abang merasa berterima kasih padaku, maka Abang berkewajiban untuk membalas jasaku!” timpalnya sengit seraya mendongakkan dagunya tinggi-tinggi.

“Hoyoh…..Masak begitu?” mataku terbelalak. “Mau Abang traktir, nih?”

Camelia menggeleng. “Berhubung ini bulan Ramadhan, jadi Abang cukup membalas jasaku dengan cara membagi THR padaku! Deal kan?” ia tersenyum senang.

“Yah, kalaupun Abang tidak mau berbagi THR denganku, setidaknya Abang berkewajiban membayarkan seluruh belanjaanku! Taarrraaa….” Ditariknya trolley belanjaan miliknya yang sedari tadi luput dari penglihatanku. Ternyata jumlah belanjaannya dua kali lebih banyak dari jumlah belanjaanku.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kasir mengikuti langkah Camelia di belakangnya. Gadis itu bersenandung riang penuh semangat seperti di awal tadi kami berjumpa. Mau tidak mau aku harus menyerahkan kartu kreditku kepada pramuniaga yang bertugas sebagai kasir di pintu keluar.

“Terima kasih banyak ya Bang sudah berkenan membayarkan. Ini kan bulan Ramadhan pasti amal Abang dicatat malaikat karena sudah berbaik hati padaku!” racaunya girang.

“Amin,” timpalku singkat.

“Oh ya, kalau boleh tahu kamu mempunyai hubungan apa dengan Yolanda?” tanyaku mengingat-ingat peristiwa tiga hari yang lalu saat Yolanda mencium pipiku di depan Dewi.

“Oh, Kak Yolanda ya? Dia itu pelanggan setia salon Mpok Utul! Kami memang akrab karena dia sering mampir ke rumahku di kota membawakan banyak oleh-oleh dari kampung ini, ada jengkol, pete, nangka, durian, wah pokoknya banyak deh! Intinya Kak Yolanda itu sudah seperti kakak kandungku sendiri!” urai Camelia terus terang.

“Abang enggak suka ya sama Kak Yolanda?” tanyanya tiba-tiba mengingatkanku kejadian waktu itu. Aku sangat tidak suka dicium oleh wanita yang bukan muhrimku.

“Dia bukan perempuan tipe kesukaanku!” jawabku jujur. “Dia terlalu agresif!” tandasku lagi menegaskan.

“Hmm… aku juga sebenarnya termasuk cewek agresif, tapi aku masih punya harga diri dan tidak suka melakukan perbuatan rendahan seperti yang dilakukan oleh Kak Yolanda tempo hari lalu,” pungkas Camelia berapi-api.

“Bang Mirthan mengingatkanku pada lelaki yang kusuka di kotaku! Sayangnya lelaki itu tidak satu sekolah denganku, namanya Rudy. Sebenarnya dia adalah sahabat karib teman sekelasku yang bernama Badai. Rudy dan Badai tinggal satu kompleks. Aku bertemu dengan Rudy saat aku berkunjung ke rumah Badai,” kenang Camelia.

Aku tersenyum menyimak pembicaraan Camelia, gadis ini ternyata polos juga.

“Rudy itu orangnya kalem seperti Abang, baik, sabar, penuh perhatian, juga pengertian!” ungkapnya dengan nada bicara yang lembut.

“Terima kasih atas pujiannya!” ucapku sambil menggarukkan kepala karena Ge-eR.

“Kalau boleh tahu, perempuan yang dibonceng Abang waktu itu pacar Abang?” tanyanya tiba-tiba membuat wajahku bersemu kemerahan.

“Bukan!” jawabku singkat seraya menggelengkan kepala.

“Tapi kelihatannya Abang suka padanya. Abang mencintainya?” kulik Camelia penuh rasa ingin tahu.

Ditanya demikian wajahku semakin tersipu-sipu malu.

“Hayoo ngaku, kalau boleh tahu siapa sih nama perempuan yang Abang suka itu? Gak usah rahasia-rahasiaan deh sama aku! Aku kan sudah cerita juga semua tentang aku!” Camelia terus mendesak.

“Namanya adalah Dewi! Ya, Dewi Anggraini!” jawabku terang-terangan.

Saat sedang asyiknya mengobrol tiba-tiba saja tanpa sengaja belanjaan yang sedang kujinjing menyenggol kaki seorang wanita yang sedang berjalan di depan kami. Kontan wanita itu pun jatuh tersandung ke  trotoar jalanan. Dengan sigap aku segera membantu wanita itu berdiri.

“Maafkan saya Mbak!” aku merasa bersalah. Wanita itu menengadahkan kepalanya menghadapku.

PLASS!

“Dewi…?” desisku.

“Bang Mirthan?” wanita itu balas menyahutku.

#BERSAMBUNG#

  

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s