Posted on

Sang Perjaka #1

image

SANG PERJAKA

a Romance by SUGIH

==••¤¤••==0|0==••¤¤••==

Sekelompok gadis belia tersenyum tersipu-sipu malu padaku tatkala aku melintas di samping jalan yang mereka lalui. Tampak dari mereka berbisik-bisik seperti tengah membicarakanku. Selendang yang membalut tubuh mereka digunakan sebagai kain penutup mulut saat kulihat sekilas mereka menyunggingkan seutas senyuman padaku. Aku tahu kalau mereka sedang tersenyum, roman wajah mereka mengguratkan dengan jelas ekspresi keramahan yang selalu kutemui hampir setiap saat. Gadis-gadis desa itu seperti mendambakan sesuatu dariku yang entah apa aku sendiri pun tak pernah memikirkannya, dan hanya menerawang dari mata hatiku. Mama yang duduk di atas boncengan menepuk pelan punggungku.

“Mir, tak kamu perhatikankah kalau gadis-gadis itu sangat mengharapkan cintamu, Nak?” Bisik Mama di telingaku.

Tak kubalas perkataan Mama. Bukan pertama kalinya Mama mengucapkan hal itu setiap kali aku berpapasan dengan gadis kampung yang terlihat polos dan lugu seperti mereka. Ini adalah ke sekian kalinya, bahkan buku agendaku bisa habis dua jilid bila aku harus mencatat tiap kali Mama melontarkan pernyataan yang sama setiap saat.

“Mir, setidaknya kamu harus segera memilih salah satu di antara mereka untuk kamu jadikan calon istri, Nak!” Kali ini suara Mama terdengar lebih keras dari bisikan sebelumnya.

“Kamu sangat tampan, alismu tebal, matamu teduh, wajahmu tirus, kulitmu putih, rahangmu kokoh, hidungmu mancung dan tubuhmu gagah! Apalagi kamu mempunyai pekerjaan tetap dan penghasilan tinggi. Gadis mana yang tidak tergila-gila padamu? Semua perempuan di kampung ini berharap engkau jadi suami mereka!” Mama mendesah.

Masih tak kugubris ucapan Mama.
“Andai Mama masih muda seperti mereka dan Mama ini bukan ibu kandungmu, Mama pasti sudah meminta orang tua Mama untuk meminangmu menjadi suami Mama!” Kali ini terdengar nada gurauan di balik punggungku.

Aku menoleh pada salah seorang gadis yang turut berkerumun dalam kumpulan gadis itu. Membawa bakul cucian di tangan mereka seraya bersenda gurau membicarakan lelaki yang mereka kagumi di desa ini. Setiap pagi mereka mencuci di sungai ujung desa tidak jauh dari kantor tempatku bekerja.

Dewi Anggraini, begitulah nama gadis itu. Senyumannya anggun menawan hati. Rambutnya panjang hitam legam berkilau di bawah terik matahari yang kian menyengat. Badannya ramping putih dan mulus bak pualam terpancar cahaya purnama.

“Nah, Mama turun di sini saja, hendak mampir ke toko Wak Karim  membeli bahan-bahan kue. Kamu pulang saja duluan, tak usah menunggu Mama, mungkin Mama agak lama, sekalian membayar pajak di kampung seberang. Ingat ya Nak, nanti sore Pakcik Leman akan datang sekeluarga, kamu jangan pergi ke mana-mana!” Imbau Mama beringsut turun dari boncenganku.

Langkah Dewi terhenti di pertigaan jalan. Teman-temannya melambaikan tangan tanda perpisahan, berbelok ke dalam gang di pertigaan yang mereka lalui. Hanya tinggal aku dan dia yang tersisa.

“Mau pulang, Dik?” Sapaku padanya.

Jalanan tampak lengang. Sunyi.

“Iya Bang,” jawab Dewi kalem.

“Mari Abang antar!” Kupersilakan dirinya untuk naik ke atas boncengan Honda-ku.

Dewi menggeleng sungkan, “Maaf Bang, tapi apa kata orang nanti? Tidak elok dilihat penduduk kampung, sepasang muda-mudi tanpa ikatan berjalan bersama.”

Aku menepuk-nepuk jok motor bekas boncengan Mama, “Tidak apa-apa, kita kan hanya berkawan! Tidak bolehkah seorang kawan mengantarkan kawannya?”

“Ya, saat ini mungkin kita sekadar berkawan, tapi suatu saat kuharap kita bisa semakin dekat!” Entah mengapa aku sangat berharap padanya. Batinku dalam hati.

Sedikit canggung dan ragu Dewi pun akhirnya naik ke atas boncenganku. Mungkin ia merasa tidak enak menolak tawaranku.

“Berpeganglah Dik di pinggang Abang!” Titahku lembut.

Dewi sangat malu-malu melingkarkan tangannya di pinggangku. Ada sekelumit perasaan berdebar dalam jantungku. Jarum jam berdetak lebih cepat seperti debur ombak di lautan. Kustarter motorku dan melaju perlahan, takkan kusia-siakan kebersamaan ini. Ingin terus kunikmati sepanjang hidupku.

“Dik, dari tadi kok diam saja? Tidak suka ya pulang dibonceng Abang?” Kulirik wajahnya melalui kaca spion.

Para penduduk kampung tampak memperhatikan kami. Seolah-olah tengah melihat selebriti papan atas yang sedang dilanda gosip. Sorot mata mereka seperti tidak menyukai kedekatan kami.

“Oh.. Ng..” Jawabnya masih malu-malu.

“Nggak kok Bang!” Dewi tertunduk menatap jalan.

“Abang sudah betah tinggal di kampung ini?” Tanyanya ragu-ragu.

“Mengapa tidak? Ini kan tanah kelahiran Mama, tentu Abang merasa sangat kerasanlah!” Timpalku seraya tersengih.

Dewi hanya menggumam membulatkan suara “Oh” disusul menggigit bibirnya sendiri.

“Bang sudah sampai, terima kasih sudah mengantar Dewi pulang. Berkenan mampir?” Tawarnya sembari mendekap erat bakul cuciannya di depan dada. Kain yang membalut tubuhnya berkibar-kibar tertiup angin.

“Tidak usah sungkan! Lain kali saja ya, Abang harus cepat kembali ke kantor nih, sebentar lagi jam istirahat habis!” Aku berpura-pura menolak tawarannya.

Dewi pun segera berbalik masuk ke dalam rumah berlari-lari kecil dengan rona wajah yang memerah. Aku yakin, sangat yakin, perasaanku akan terbalas olehnya.

“Sst, kalau tidak salah Pak Mursidi-ayah Nak Dewi itu akan melamar Nak Priyadi-anak juragan Darman di kampung seberang kan? Kok itu Nak Dewi malah pulang diantar oleh lelaki lain ya?” Bisik salah seorang warga kampung saat aku membelokkan motorku ke arah semula.

Semua terdengar jelas di telingaku. Seseorang lain turut berkomentar, “Tapi lelaki yang mengantarnya ini kan tidak kalah sugih! Dia adalah cucu almarhum Datuk Hartono, juragan sawit terkaya di kampung kita! Sejak Datuk Hartono meninggal ia dan ibunya menempati rumah peninggalan Almarhum Datuk Hartono!”

“Iyakah? Kalau tidak salah dengar Pakcik Leman akan melamar lelaki itu untuk dijadikan menantunya kan?” Gubris yang lain.

Aku hanya dapat mengernyitkan kening. Pakcik Leman akan datang melamarku?!

***

“Hey, sob, gimana tadi malam? Kamu mimpiin si Dewi enggak? Habis berapa liter yang keluar? Sampai ngecrot enggak?” Harun menyerangku dengan pertanyaan joroknya bertubi-tubi.

Tangannya melingkar di depan celananya memperagakan gerakan yang sangat vulgar namun tabu.

“Oh..oh..oh..” Ia mendesah-desah tidak jelas.

“Astagfirullah!” Timpalku pendek.

“Sudah deh, kita kan sama-sama cowok! Mending kamu terbuka saja sama kita-kita, tiap berapa hari sekali kamu ‘ngocok’?” Seru Irawan turut menyerangku.

“Masya Allah! Sob, itu perbuatan dosa. Tahu enggak sih?” Seketika wajahku berubah pias.

“Hahaha.. Jangan muna deh lu, Mir! Dokter Boyke aja bilang 99% cowok di dunia ini suka melakukan masturbasi alias onani! Jadi enggak ada lagi cowok yang masih perjaka di dunia ini, sob!” Harun dan Irawan terkekeh bersamaan.

“Alhamdulillah ya, berarti aku termasuk lelaki yang 1%nya!” Kutinggalkan mereka berdua di beranda rumahku.

“Serius sob, kamu masih perjaka? Wah, wah, manusia langka nih! Patut didaftarkan ke museum MURI!” Gurau Irawan mengejarku ke kamar.

“Sudah selayaknya kan seorang lelaki menjaga keperjakaannya untuk wanita yang sangat dicintainya!” Sungutku sengit.

“Karena keperjakaan adalah kehormatan lelaki!” Imbuhku lagi.

“Sudah ya, aku mau shalat ashar dulu!” Pamitku mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi.

“Cie.. Menjaga keperjakaan untuk Dewi nih yee…!” Ledek Harun di pintu kamarku.

“Tapi kan sebentar lagi dirimu akan dilamar oleh Pakcik Leman, juragan karet terkaya di negeri ini!” Irawan tak mau kalah meledekku.

“Tahu dari mana?” Sambarku geram.

Harun dan Irawan terkikik berdua.

“Desas-desus warga kampung!” Jawab mereka kompak.

Sejak SMA aku dan mereka berdua sudah bersahabat akrab. Dulu kami tinggal di kota besar kota kelahiranku juga papaku. Namun Papa meninggal saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 3. Setelah aku lulus kuliah Datuk Hartono, ayah dari Mama, turut menghadap Yang Maha Kuasa dan berpesan kepada Mama agar kami menempati rumah Datuk di desa. Dan di sinilah kami berada sekarang. Berbekal harta peninggalan almarhum Papa dan Datuk Hartono, aku membuka usaha agen perjalanan bis antarkota, dibantu kedua sahabatku itu.

Desa kelahiran Mama adalah desa yang subur, penduduknya makmur, dan sangat menghormati perbedaan agama. Namun satu hal yang tak pernah kuduga sebelumnya adalah sistem kekerabatan di kampung ini menarik garis keturunan dari pihak ibu. Di mana wanita mempunyai hak untuk melamar lelaki yang mereka cintai. Wanita pula yang berhak mengatur pembagian harta dalam keluarga. Serta kedudukan wanita lebih tinggi dari laki-laki dalam berbagai hal.

Aku tak tahu bila benar apa yang diperbincangkan masyarakat bahwa Pakcik Leman akan meminangku untuk dijadikan menantunya, ayahanda dari Srikandi Devi, gadis yang pernah satu sekolah denganku masa SMA dulu. Harun dan Irawan pun kenal baik dengan Srikandi Devi, gadis dengan wajah biasa saja tetapi sangat agresif kepada lelaki. Masih kuingat dengan jelas masa-masa SMA kami dulu, selalu Sri yang lebih dulu menyatakan perasaan suka kepada lelaki. Apakah ini karena adat dari desanya yang mengukuhkan kekuasaan wanita di atas kekuasaan lelaki? Tetapi menurut penuturan Mama, gadis-gadis di desa kami tidak serta-merta menuntut orang tua mereka untuk melamarkan lelaki yang mereka cintai. Banyak di antara mereka yang memiliki karakter polos dan lugu seperti yang kutemui tadi siang. Biasanya orang tua si gadis akan mencari tahu sendiri lelaki mana yang menjadi dambaan anak gadisnya. Kemudian setelah mengetahuinya orang tua si gadis akan mendatangi pihak lelaki untuk dipinang.

Tetapi ada juga orang tua dari si gadis yang memaksakan kehendak anak gadisnya untuk melamar lelaki yang sama sekali tidak dicintai oleh si gadis. Intinya pelamaran tetap dilaksanakan oleh pihak wanita kepada pihak lelaki.

Aku termangu di atas sajadah usai shalat. Mengusap wajahku setelah memanjatkan doa memohon kepada Allah agar dimudahkan segala perkara dan urusanku.

Mama mengetuk pintu kamarku.

“Mir, sudah selesai shalatnya? Pakcik Leman sudah datang Nak! Ayo kita berkumpul di ruang tamu!”

Aku bergegas bangkit melepas sarung dan berganti pakaian. Tak lama aku mematut diri di depan cermin. Kupandangi lekuk tubuhku dan paras wajahku. Benar kata Mama kalau aku ini sangat tampan. Wajahku ganteng dan tubuhku proporsional, sangat gagah! Maka tidak heran bila Mama sering mengatakan bahwa para gadis di desa kami sangat mendambakan diriku menjadi imam bagi mereka. Bila benar kedatangan Pakcik Leman kali ini adalah perihal lamaran, maka ini adalah kali ketujuh aku dilamar oleh gadis yang jatuh cinta padaku. Setelah enam kali sebelumnya aku berhasil menolak dengan halus lamaran-lamaran yang datang padaku.

Mama bilang setiap lelaki di kampung kami semakin tampan parasnya maka semakin tinggi nilai mahar yang harus dipersembahkan oleh pihak si gadis. Pun begitu dengan ditunjang oleh tingkat pendidikan yang semakin tinggi maka lelaki itu akan sangat bernilai lebih.

Andai saja keluarga gadis yang datang meminangku kali ini adalah keluarga Dewi Anggraini. Mungkin aku takkan kuasa untuk menolaknya. Tapi entah sampai kapan aku harus terus menunggu sedangkan rambu-rambu cinta yang kuberikan padanya tak kunjung berbalas. Ah, cinta… Mengapa aku sangat mendambanya… Sungguhkah perasaanku pada Dewi adalah sebuah perasaan cinta?

Pakcik Leman duduk di sofa ruang tamu bersama kerabat keluarganya. Namun tak ada wajah Sri di ruangan itu. Ke mana dia? Pikirku.

Rombongan keluarga Pakcik Leman sebagian masih berderet di halaman. Memegang bernampan-nampan barang berharga yang mungkin dimiliki oleh keluarga juragan karet ini. Jadi benar aku sedang dilamar?

Kulihat Mama duduk di hadapan Pakcik Leman dengan wajah bimbang. Rautnya menekuk menghadap lantai. Kurebahkan tubuhku di sebelah Mama setelah menyalami Pakcik Leman terlebih dahulu. Kupandangi wajah Mama yang nampak gundah. Sesekali tersenyum pun amat dipaksakannya.

“Nak Mirthan, to the point saja, sejak kedatangan Nak Mirthan di kampung ini, saya teringat akan janji saya pada Datuk Hartono di masa lalu. Saya mempunyai hutang budi pada beliau, maka saya berjanji pada beliau, bahwa kelak saya akan menikahkan putri saya Yolanda dengan Nak Mirthan. Almarhum Datuk Hartono pun pada saat itu menyepakati. Dan inilah tiba waktunya bagi saya untuk memenuhi janji saya tersebut!”

Aku sangat terkejut mendengar ucapan Pakcik Leman. Bukan karena akan dilamar olehnya, melainkan karena janjinya pada almarhum Datuk. Seingatku, almarhum Datuk tidak pernah beramanat bahwa aku telah dijodohkan dengan putri Pakcik Leman.

“Ma, apa benar begitu?” Aku mengirim isyarat pada Mama.

Mama menggeleng, “Mama juga tidak tahu!” Bisiknya di telingaku.

“Mengingat ini adalah sebuah amanah, maka bagaimana kalau kita tinggal menentukan tanggal pernikahannya saja?” Usul Pakcik Leman tiba-tiba membuat aku dan Mama tambah terkejut.

“Mohon maaf Pakcik, kami permisi sebentar!” Kutarik tangan Mama meninggalkan ruangan.

“Mirthan, Mama rasa tidak ada salahnya menerima lamaran Pakcik Leman! Apalagi ini merupakan amanah kakekmu!” Mama melerai genggaman tanganku di lingkar pergelangan tangannya.

“Mama yakin, kalau ini adalah amanah Datuk?” Tatapku nanar.

“Sampai kapan kamu akan terus menolak lamaran yang datang ke mari, sayang? Sudah saatnya kamu melepas masa lajang!”

“Ma, aku hanya ingin menikah dengan wanita yang kucintai juga mencintaiku apa adanya!” Aku memprotes.

“Mirthan, sudah kodratmu sebagai penduduk desa ini sebagai lelaki harus menerima lamaran orang tua gadis yang mencintaimu!” Mama menarik napas dalam-dalam.

“Ma..” Aku mengiba berharap Mama akan membelaku.

Mama mengurut keningnya.

“Apa kata warga nanti, kamu telah menolak tujuh lamaran yang datang ke mari Nak?” Mama menjatuhkan diri di atas sebuah kursi amben. Dan aku ikut duduk di sebelahnya.

“Aku tidak yakin sepenuhnya kalau ini adalah amanah Datuk, Ma!” Aku menghela napas.

Mama membelai-belai rambutku penuh kasih.

“Selama ini aku bertekad keperjakaan yang kujaga selama ini hanya akan kuserahkan pada gadis yang kukasihi dan juga amat mengasihiku,” kurapatkan jari-jemari tanganku di depan keningku yang menelungkup menghadap lantai.

“Baiklah, semua terserah padamu, jika itu demi kebahagiaanmu!” Mama akhirnya mengalah.

Mama bangkit hendak kembali ke ruang tamu menemui Pakcik Leman. Sebelum itu terjadi, aku berhasil menahan tangannya lebih dulu.

“Ma, apakah dulu Papa juga dilamar oleh Datuk?” Tanyaku dengan mimik polos.

Mama menggeleng, “Walaupun Datuk asli penduduk desa ini, namun Datuk orang yang berjiwa bebas yang bersedia menerima lamaran seorang pria gagah karena dia sangat mencintai Mama!”

“Berarti Mama tidak mencintai Papa?” Tanyaku heran.

Mama melempar sebuah senyuman.

“Tidak! Tetapi Mama juga  teramat mencintai Papamu!” Mama mengedipkan sebelah matanya seraya berlalu meninggalkanku.

“Bagaimana Bu Liana, tanggal berapa kita tetapkan?” Pakcik Leman bersemangat.

“Sebelumnya saya mohon maaf Pakcik Leman. Saya sebagai orang tua tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak, manakala ini semua menyangkut kebahagiaan & masa depan putra tunggal saya. Biar Mirthan yang memutuskan,” Mama bersikap fair seperti yang kuharapkan.

Pandangan Pakcik Leman beralih padaku.

“Terus terang Pakcik, saya belum siap untuk berumah-tangga. Saya masih ingin menikmati masa lajang saya!” kucoba berbicara teratur sebisa mungkin agar nada bicaraku tidak terlalu menyinggung perasaan Pakcik Leman.

Mata Pakcik Leman terbelalak, giginya mendadak bergemeletuk geram, “Apa? Hee… Anak muda, kamu harus sadar, ini adalah amanah almarhum Datuk kamu! Berani-beraninya kamu menolak lamaran keluarga kami yang telah diikrarkan bertahun-tahun silam! Cucu durhaka kamu!” Kedua tangan Pakcik Leman mencengkeram kerah kemeja yang kupakai.

Irawan dan Harun berusaha melerai Pakcik Leman dari hadapanku.

Yolanda menitikkan air mata di sudut ruangan. Make up-nya luntur terkena tetesan air mata. Lama kuperhatikan wajahnya memang sangat mirip dengan kakaknya, Srikandi Devi.

“Sekali lagi atas nama keluarga almarhum Datuk Hartono, saya mohon maaf. Akan tetapi bila benar lamaran ini pernah menjadi ikrar antara Pakcik dengan Datuk saya, kiranya adakah saksi yang pernah menyaksikan ikrar puan-puan sekalian? Karena semenjak sepeninggal Datuk, kami tidak pernah menerima wasiat yang menyatakan bahwa saya telah ditunangkan kepada Yolanda,” masih dengan nada yang sopan aku berusaha menahan diri.

Pakcik Leman mengepalkan tangannya kuat-kuat. Namun pandangannya berubah panik setelah kuminta saksi dan bukti hitam di atas putih yang menyatakan ikrar perjanjian antara almarhum Datuk dengan Pakcik paruh baya ini.

“Itu… Itu…” Jawabnya gugup.

“Baiklah anak muda, kamu akan menyesal telah membatalkan perjanjian ini! Mendiang kakekmu tidak akan beristirahat dengan tenang di alam baka sana!” Pakcik Leman menunjuk-nunjuk wajahku dengan murka.

Ditariknya tangan Yolanda bangkit dari duduknya. Seluruh rombongan pengantar persembahan pun dipaksanya untuk bubar.

Mama menarik napas lega.

“Ma, apa harus kita tinggalkan kampung ini dan kembali ke rumah kita di kota?” Ratapku sedikit cemas.

“Ini amanah Datuk, Nak. Kamu ingat kan, sebelum meninggal Datuk berpesan agar kita menempati rumah ini dan menjaga rumah ini baik-baik!” Mama menutup pintu rapat-rapat kemudian melenggang masuk ke dalam tanpa menghiraukan perkataanku.

“Sob, selamat ya, nanti malam bisa mimpiin si Dewi lagi!” Harun menyenggol lenganku.

***

Kabut tebal menutupi sedikit pandanganku. Tidak jauh di hadapanku ada Dewi tengah berdiri membelakangiku di tengah rerumputan luas hijau terhampar. Rambut panjangnya yang indah tergerai berkibar tertiup angin. Gaun putih yang dipakainya membuatnya terlihat semakin anggun.

“Mengapa Abang menyukai Dewi?” Tanyanya sendu.

“Karena Abang yakin, Adik adalah gadis suci yang selama ini Abang cari!” Aku melangkah mendekat ke arahnya.

Dia sama sekali tak menoleh.

“Gadis suci, maksud Abang?”

“Abang yakin, hingga saat ini Engkau masih menjaga kesucianmu, Dik! Sama seperti halnya Abang yang senantiasa menjaga keperjakaan Abang. Karena keperjakaan Abang hanya untuk Adik seorang, kelak setelah kita berdua menikah Abang akan menyerahkannya kepadamu!” Langkahku semakin dekat. Di saat itulah Dewi mulai berbalik menghadapku seraya menyunggingkan senyuman yang teramat indah.

“Terima kasih ya, Bang!” Ucapnya lembut.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku ditahan oleh seseorang dari belakang. Sementara bayangan Dewi menghilang dari hadapanku tergantikan oleh sebuah suara.

“Ayo Bang, cepat serahkan keperjakaanmu kepadaku! Aku sudah tidak tahan lagi ingin menikmati keperjakaan Abang!” Suara itu, aku tidak kenal!

Kutolehkan pandanganku ke belakang, sosok itu… Ya, aku ingat, walaupun baru sekali melihatnya. Dia… Yolanda!

“Lepaskan!” Kucoba melepaskan cengkeramannya di pinggangku, namun sangatlah kuat.

Kucoba sekali lagi, mustahil aku lelaki kalah tenaga oleh seorang gadis.

“Ayo Bang, kawini aku segera! Aku menginginkan keperjakaanmu!” Paksa gadis sinting itu.

“ERGH…” Kutarik-tarik tangannya agar terlepas dari pinggangku kendati tetap saja tidak bisa.

Di sela-sela usahaku melepas cengkeraman Yolanda, aku mendengar suara desahan napas seperti yang kukenal…

“Aaaaah… Aaaaah… Oooh… Oooh…”

“Astagfirullah,” mataku terjaga dan kudapati pinggangku dipeluk erat oleh Irawan dari belakang.

Jadi yang mencengkeramku tadi bukan Yolanda? Melainkan Irawan! Irawan tampak lelap dalam tidurnya, bahkan tanpa disadarinya aku berhasil dijadikannya guling. Akan tetapi suara desah napas yang tidak beraturan itu jelas masih terdengar di telingaku.

Kucari sumber suara itu. Kedengarannya dari bawah ranjang. Kedua bola mataku menjelajah sekitar, kedua telingaku pun kian kupertajam untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak masih sedang bermimpi.

Dan… Kudapati Harun sedang menggenggam sesuatu di balik celananya. Di bawah sorotan lampu meja, terlihat sangat jelas olehku kedua mata Harun terpejam namun dia tidak tidur. Mulutnya terus mendesah mengeluarkan racauan tidak karuan!

“Astagfirullahaladzim! Harun, kamu berfantasi!?” Sentakku membuatnya terkejut tiba-tiba.

“Mir… Mirthan, ma… maaf Mir, aku berbuat dosa di kamarmu!” Harun berbicara terbata-bata. Ditutupnya resleting celananya buru-buru.

Dia bangkit berdiri.

“A… Aku khilaf Mir. Habisnya aku tak tahu bagaimana cara melampiaskan hasratku! Aku pikir kalau aku pergi ke kompleks pelacuran, aku takut akan terkena HIV Aids! Jadi terpaksa aku melakukan ini!” Harun agak takut padaku.

“Istighfar Harun! Kamu segera mandi besar! Lalu bersujudlah kepada Allah segera memohon ampunan atas perbuatan kotormu itu!” Kududukkan diriku di ujung ranjang. Sesekali terdengar suara dengkuran Irawan di sela-sela irama napasnya.

“Masturbasi itu sama dengan perbuatan zinah! Dan zinah itu adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah! Karena itu kamu harus segera bertaubat kepada Allah sebelum Allah melimpahkan azab-Nya yang pedih kepadamu!”

Harun mengangguk-angguk mendengarkan petuahku, seakan aku seperti seorang kyai yang tengah memberinya tausiyah. Tak lama setelah aku mengakhiri ucapanku, Harun pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

#BERSAMBUNG#

==••¤¤••==00==••¤¤••==

Penulis memohon maaf kepada pembaca agar tidak terjadi salah tafsir, tujuan penulis mengetik cerita ini adalah untuk mengingatkan agar kita hendaknya senantiasa menjaga kesucian dan kehormatan diri kita untuk orang yang kita kasihi, juga guna menjaga nama baik diri kita beserta nama baik keluarga.
Kritik dan saran selalu saya perhatikan. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita yang biasa-biasa saja ini.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s