Posted on

#Namamu Kupinjam 9#

image

#Namamu Kupinjam 9#

“Bisa saja Kedasih sudah mengubah pendiriannya! Siapa tahu karena sekarang dia tinggal jauh di seberang samudera, dia merasa rindu pada kita!” Triko mencoba mengusir keraguan dalam benaknya.

Diperlihatkannya profil Kedasih di blog yang telah mengajukan permintaan pertemanan dengannya tadi pagi. Mario meraih ponsel Triko lebih dulu sebelum Camelia merebutnya.

“Lagipula yang tidak disukainya hanya akun jejaring sosial, kan? Kalau ini kan blogging, jadi mungkin saja Kedasih lebih menyukainya!” imbuh Triko memastikan.

Camelia meraih ponsel Triko dari tangan Mario bersamaan datangnya para pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang telah mereka pesan.

“Loh, ini kan foto Kedasih waktu di bawah pohon bungur itu dulu!” ditunjuknya lagi sebatang pohon bungur yang kelopak bunganya telah habis jatuh berguguran tadi. Dia menyamakan suasana latar caffe dalam foto profil Kedasih di internet dengan keadaan caffe saat ini.

“Dan ini foto-foto kami waktu main ice skating dulu!” pekiknya tertahan.

Rudy dan Obby mengerumuninya bagai semut mengerumuni gula. Pandangan Rudy beralih pada Badai yang menunjukan gelagat mencurigakan, Badai terlihat sangat gugup di matanya. Kendati demikian Rudy tak ingin mengacaukan suasana pesta yang sedang dirayakan tepat hari ulang tahun Badai. Bagaimanapun Rudy selalu dapat mengontrol emosinya.

Seorang pelayan lain datang mendorong sebuah meja beroda, di atas meja itu tersaji dengan rapi sebuah kue tart berukuran besar, berbentuk persegi, berwarna biru muda nan lembut. Di atas kue tart dihiasi berbagai ornamen terbuat dari gula berwarna-warni bertuliskan HAPPY BIRTHDAY! Serentak keenam remaja itu menyanyikan lagu Happy Birthday to You bersama-sama. Untuk sejenak perihal Kedasih mereka lupakan.

Beberapa saat setelah Triko dan Badai meniup lilin bersamaan, Camelia berlari ke arah meja kassa dan berbisik-bisik pada salah seorang pelayan caffe yang bertugas di sana.

Dengan sigap Camelia kembali ke hadapan kawan-kawannya sambil memegang sebuah mic. Di kejauhan beberapa orang pelayan pria tengah menyiapkan dua buah sound system untuknya.

“Hadirin para pengunjung Catelia Caffe yang saya hormati, perkenankanlah saya Camelia yang mempunyai nama hampir sama dengan nama caffe ini untuk menyumbangkan lagu sebagai bingkisan dari saya kepada dua orang teman saya yang sedang berulang-tahun pada hari ini : Badai Ombak Samudera dan Triko Muljarno! Happy birit day friends, wish you all the best!” entah disengaja entah tidak, Camelia selalu mengucapkan birthday dengan sebutan birit day.

Para pengunjung caffe bertepuk-tangan serta bersorak menyambut hangat Camelia di tengah-tengah mereka, Camelia bak seorang artis yang sedang mereka elu-elukan. Akan tetapi lain halnya dengan kawan-kawannya yang sedang duduk di salah satu corner. Mereka sudah bersiap menyumbat telinga masing-masing dengan tisu yang tersaji di atas meja makan.

“Semoga lagu yang dinyanyikan kali ini bukan lagu ‘Sang Dewi’ lagi seperti biasanya!” Badai bersembunyi di kolong meja bersama Obby.

Ucapan Badai turut diamini Triko yang meringkuk menghadap sandaran kursi. Hanya Rudy yang tidak mengerti akan polah-tingkah aneh teman-temannya. Rudy sama sekali tidak mengetahui bagaimana suara Camelia sedang bernyanyi.

“Gawat Rud, mending aku pergi saja dari sini! Kayanya sebentar lagi bakal pecah perang dunia ke-7 di sini!” Mario berusaha kabur namun pinggangnya berhasil ditahan Rudy. So pasti Mario tak kuasa bergerak karena pinggang adalah sumber kelemahan Mario. Baik Badai, Rudy maupun Obby tahu akan hal itu.

“Perang dunia ke-3 saja belum kok bisa sampai perang dunia ke-7?” tanya Rudy setengah bercanda.

“Soalnya kalau perang dunia ke-3 sampai ke-6 sudah sering terjadi di negara-negara Arab Timur Tengah!” sungut Mario, kedua tangannya berusaha melepaskan pegangan Rudy di pinggangnya.

Lantas kedua sahabat itu duduk merunduk di dekat Triko.

“Aduuh Kak Rudy, suara Kak ONTA itu jelek sekali kalau nyanyi!” Obby mulai risih dengan perdebatan para kakak kelasnya.

“ONTA?” mulut Mario melongo.

“Alamaaak keceplosan! Kebiasaan sering mendengar Kak Nico di sekolah kalau manggil Kak Camelia itu ONTA!” Obby menepuk-nepuk bibirnya dengan telapak tangannya.

Terdengar suara musik mulai mengalun riang, sesuai tema hari ini sebagai hari lahir Badai dan Triko. Lagu yang dibawakan Camelia sebenarnya lebih tepat dinyanyikan oleh laki-laki untuk seorang perempuan. Camelia mulai jingkrak-jingkrak, lompat-lompat sampai naik ke atas meja. Penonton yang awalnya heboh mendadak teriak histeris entah karena senang atau sebaliknya.

“Hari ini… hari yang Kautunggu! Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu…” Camelia berdendang sangat lincah.

“Mbak, Mbak, tolong nyanyinya jangan sampai naik ke atas meja, ya Mbak!” pelayan laki-laki yang menyiapkan sound system untuknya tadi menarik tangannya untuk turun.

Tapi dasar Camelia, kaki-kakinya malah semakin asyik jingkrak-jingkrak di atas meja. Dia tak ambil pusing mengindahkan himbauan pelayan yang berdiri di bawah meja tempat ia bernyanyi.

“Yang kubeeeeri, buuukan jam dan ciiiincin.. Bukan seikat bunga atau puisi juga kaaalung hati..” Camelia melompat turun.

Lelaki pelayan itu mengusap dada merasa lega, semoga Camelia tidak semakin bertingkah, harapnya.

Rudy baru menyadari mengapa teman-temannya ketakutan tatkala Camelia bermaksud menyumbangkan lagu untuk Badai dan Triko. Kedua tangannya buru-buru ikut menutup telinga rapat-rapat. Suara Camelia kurang memperhatikan harmonisasi musik dengan lagu, terlebih suaranya terdengar parau di telinga. Terlihat olehnya beberapa orang remaja mulai melempari Camelia dengan gumpalan tisu bekas.

“Pita kusut!” cibir salah seorang pengunjung.

“CD BAJAKAN! Bakar saja!” omel yang lain.

Huuuuuuu……

Sorak para pengunjung caffe merasa terganggu oleh suara Camelia yang terdengar seperti kaleng rombeng dan sering digunakan para tukang becak di perkotaan sebagai pengganti bel. Atau lebih tepatnya lagi mirip bunyi kaleng bebegig, orang-orangan sawah yang sering dipakai untuk menghalau burung.

“Maaf bukannya pelit, atau ga mau modal dikit, Yang ingin aku beri padamu doa setulus hati, uhuk… uhuk…uhuk…uhuk…” tiba-tiba saja Camelia terbatuk.

Suaranya terlalu pol dikeluarkan sehingga ia tak sempat menahan napas, tenggorokannya tersedak. Para penonton lain yang senang mengamati aksinya tampak kecewa berkebalikan dengan yang melempari tisu padanya tadi dan kini tampak tertawa-tawa melihat Camelia kepayahan. Rudy tidak tinggal diam. Dihampirinya Camelia dan merebut mic dari tangan berjari lentik itu.

Camelia tercengang disangkanya Rudy akan membantunya memberikan segelas air minum padanya. Tak tahunya Rudy malah berlalu dari hadapannya dan berjalan ke tengah caffe.

“Semoga Tuhan melindungi kamu, serta tercapai semua angan dan cita-citamu! Mudah-mudahan diberi umur panjang, sehat selama-lamanya…”

Tak disangka ternyata Rudy melanjutkan lagu Camelia yang terputus, dan suaranya benar-benar bagus, cocok menjadi seorang vokalis band. Apalagi didukung oleh tampangnya yang super keren. Dijamin bisa mengundang histeria para gadis ABG di negeri ini. Hal ini terbukti begitu Rudy merebut mic dari tangan Camelia dan suaranya mulai bernyanyi, puluhan pasang mata terhipnotis untuk memperhatikannya.

Badai berhasil dibuat terbengong-bengong oleh Rudy. Selama ini mereka kerap berlatih piano klasik bersama, tapi Rudy belum pernah sekalipun mengiringi musik yang mereka mainkan dengan sebuah lagu. Badai sungguh tak menyangka ada seseorang di dekatnya yang mampu menandingi keindahan suara yang dimilikinya.

“Su.. suara itu sama seperti suara Putri Erliana!” gumam Badai terpana.

“Putri Erliana itu siapa, Dai?” Triko turut terpukau menyaksikan kepiawaian Rudy bernyanyi. Tangannya menyentuh bahu Badai.

“Putri Erliana itu Princess Aurelia!” gumam Badai tanpa memperhatikan siapa yang sedang berbicara kepadanya.

“PRINCESS AURELIA??” sentak Triko dan Obby bersamaan.

Badai terkejut bukan kepalang saking terlenanya mendengarkan suara Rudy bernyanyi tanpa disadarinya dia telah berbicara hampir mengungkap kebenaran tentang siapa Princess Aurelia yang telah menggoda kakak dan adik kelasnya yang sama-sama memiliki paras keren itu.

“Dia… dia sepupu Rudy, maksudku,” Badai berbicara dengan nada gugup.

“Oh, jadi Princess Aurelia itu sepupunya Rudy ini?” Triko duduk merapatkan diri di samping Badai.

“Hmm, pantas kalau mereka mempunyai hubungan keluarga, sama-sama keren sih!” decak Triko terkagum-kagum.

“Huh, kalau menurutku sih Si Princess Aurelia itu keganjenan! Baru kenal dua hari di FB sudah meminta nomor ponselku. Muji-muji aku ganteng segala lagi. Ganteng dari Hongkong! Bilang saja kalau aku ini jelek! Tapi anehnya aku nggak kasih nomor ponselku eh nggak nyangka dia akhirnya dapat juga dan sering banget mengirimiku SMS. Entah dia dapat dari siapa,” Obby mencak-mencak sedikit emosi.

Badai berdiam diri tak menimpali ataupun merespon curahan hati kedua kawannya itu. Sementara Mario terus mematung menganggap Badai seolah tidak ada di hadapannya. Setelah beberapa saat Rudy dan Camelia kembali duduk bersama mereka. Camelia tersenyum bangga menggamit lengan Rudy.

“Tak salah aku memilihmu sebagai kekasih. Sayang, kapan-kapan ajari aku nyanyi ya!” Camelia bersikap manja.

“Rud, Princess Aurelia itu sepupumu ya?” Triko berpindah tempat duduk ke sebelah Rudy.

Rudy melirik ke arah Badai. Kontan Badai salah tingkah, “Kamu membongkar kedokmu sendiri pada mereka?” bisik Rudy di telinga Badai.

“Eh, Rud, kok dia menghilang dari dunia maya, ya? Sudah satu minggu ini akun facebooknya menghilang. Awalnya aku pikir dia memblokir aku, karena putus hubungan denganku. Tapi setelah kutanyakan kepada Nico yang menjadi pacar barunya, ternyata dia mengalami hal yang sama denganku. Setelah mencoba mencari tahu lewat akun facebook teman-teman yang lain, baru kuketahui kalau dia sepertinya menonaktifkan akun facebooknya sendiri!” tatap Triko sendu.

“Iya, ya, belakangan ini aku tidak melihatnya online di facebook! Coba Kak Triko hubungi dia via telepon!” saran Obby.

“Sudah By, tapi sekarang nomornya pun sudah nggak aktif lagi!” timpal Triko lemah.

“Ah, aktif Kok! Tiap malam dia SMS aku, Kak!” sambar Obby cepat.

“Sini kita akurkan nomornya di hpmu dengan di hpku!” Triko beralih tempat lagi mendekati Obby.

“Loh, kok beda ya?” seru Triko dan Obby bersamaan lagi.

Rudy mengangkat bahu. Badai diam tercenung bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Ayo kita lahap makanan ini, dari tadi dibiarkan saja. Habis ini gimana kalau kita main ice skating di dalam plaza yang ada di depan kita? Aku juga ingin mengenang awal persahabatanku dengan Kedasih!” Camelia mencomot potongan pizza di hadapannya.

“Main ice skating Kak? Setujuuu… Biar Kak Mario bersemangat lagi, nih!” Obby mengacungkan jempolnya ke hadapan Camelia.

“By, Kamu suka telponan enggak sama si Princess?” sela Triko menyantap fried chickennya.

Obby mengunyah-ngunyah gado-gado dalam mulutnya, “Malas. Aku enggak suka sama dia. Keganjenan Kak!” kilah Obby.

Mario hanya mengaduk-aduk es teh dalam gelasnya menggunakan sedotan sama seperti yang dilakukan Badai.

Triko mencocol ayam goreng yang baru saja diirisnya ke dalam pisin saus, “Uh payah Kamu By, dia itu cantik banget tahu, suaranya juga merduuu banget! Dijamin melayang-layang deh kalau Kamu mendengar suaranya,” kelakar Triko berpromosi.

Rudy melirik Badai dengan tatapan aneh, “Bagaimana mungkin Badai menelepon mereka menggunakan suara perempuan? Suara Badai kan laki-laki normal,” pikir Rudy dalam hati.

Camelia berdeham sepiring pizza telah habis dilahapnya, “Kalian ini enggak pada tahu etika ya, jelas-jelas di sini ceweknya cuma ada gue sendirian, eh Kalian malah pada ngomongin cewek laen yang enggak ada di sini!” dengusnya sebal.

Triko dan Obby buru-buru menghabiskan makanan mereka masing-masing.

==00ƷO♥OƸ00==

Ice Skating arena.

“Wooow….. Kak Mario, ayo kejar aku!” Obby berseluncur dengan riang, ia begitu handal bergerak di atas lantai licin itu.

Mario berputar asyik sendiri. Mungkin ice skating benar-benar dapat menenangkan pikirannya dari persoalan-persoalan yang sedang dihadapinya seperti yang telah dikemukakan Badai kepada Obby tempo hari di pondok taman kompleks rumahnya.

Camelia bergenggaman tangan dengan Rudy mengelilingi arena sky hingga beberapa putaran. Triko asyik memotret para adik kelasnya itu yang asyik sendiri-sendiri. Sementara Badai entah menghilang ke mana, padahal dia sudah berganti sepatu menggunakan sepatu skate. Sudah sepuluh menit berlalu batang hidungnya belum muncul memasuki arena seluncur.

“Weeeyy ONTA loe ada di mari juga! Lagi ngedate nih ceritanya?” suara rebek itu menyapa Camelia di kejauhan.

Camelia menoleh, “Kelihatannya? Loe sendiri ngapain di sini kagak bawa cewek loe, malah bawa jongos loe terus ke mana-mana, jangan-jangan loe sekarang dah belok ya?” seloroh Camelia melemparkan gurauannya diiringi derai tawa Rudy.

“Busyet dah, ape loe kate? Gini-gini gue masih normal cyn, and gue masih berhubungan sama pacar gue yang bernama Princess Aurelia, my honey boney yummy chibi-chibi!” gerutu Nico yang baru saja datang didampingi kacung setianya, Rifkan.

“Oh loe masih setia sama Princess Aurelia Honey-Boney Cumi-Cumi itu?” ledek Camelia.

Camelia dan Rudy tergelak bersama, “Udahlah Nic, lupakan gadis pujaanmu di dunia maya itu! Sampai kapan pun Kamu gak bakal pernah bisa ketemu sama dia! Lagian kan itu cuma dunia maya, dunia yang belum tentu nyata sepenuhnya!” celetuk Rudy menahan perutnya.

“Tapi ini FB men, sudah barang tentu dia itu nyatalah! Masa gue pacaran sama hantu. Foto-fotonya itu cantik-cantik lagi! Mana ada hantu yang punya muka cantik kaya gini? Loe gak pernah kan ngobrol sama dia via telepon? Di sekolah gue enggak ada cewek yang suaranya semerdu dia! Baru dengar ‘hallo’ aja dijamin loe bakalan klepek-klepek!” Nico menunjuk-nunjuk ponselnya memamerkan foto Princess Aurelia yang sebenarnya adalah Putri Erliana.

Tawa Rudy kian meledak, “Ah enggak juga, aku sering kok dengar suara dia!”

“Gak mungkin, loe mau ngeduain si ONTA ini?” telunjuk Nico mendarat di kening Camelia.

“Woy, jangan asal tunjuk-tunjuk dong lu! Emangnya gue barang dagangan yang mau lu beli di toko, apa?!” Camelia memelintir tangan Nico sedikit sewot.

“Aduh.. duh.. duh.. duh.. sakit Mel, lepasin kagak?” lirih Nico.

Rifkan membantu melepaskan tangan Nico dari pelintiran tangan Camelia.

“Kok sekarang loe jadi bisa silat sih?” Nico merintih kesakitan.

“Kagak salah dong, gue sempat belajar dari Kedasih waktu dia masih tinggal di sini!” Camelia mengusapkan kedua tangannya. “Secara dia kan dijuluki gadis bertangan besi di sekolah kita! Sekarang dia sudah enggak ada lagi di sini, maka julukan tersebut akan diwariskan ke tangan gue, haha…”

“Keren, Mel!” puji Rudy bangga. Camelia semakin mesra menggamit lengan Rudy dan menyandarkan kepalanya di bahu Rudy, “Makasih sayang!” ujarnya.

Nico memutar-mutar bola matanya, bibirnya maju beberapa sentimeter. “Maksud gue, loe mau ngerebut Princess Aurelia dari gue? Udah si ONTA loe rebut, sekarang my Princess mau loe embat juga? Uuh, NO WAY! Kagak bakal gue kasih!” solot Nico berapi-api.

“Hey, sejak kapan Rudy merebut gue dari lu?” umbar Camelia tak mau kalah.

“Yang ada juga elo mutusin gue gara-gara loe tergila-gila sama si Princess itu kaleee…” imbuhnya lagi membalikkan tubuh dan menyilangkan kedua tangan depan dada.

“Rudy itu my first love! Cinta pada pandangan pertama gue, you know!” mata Camelia berbinar bertabur bintang.

Rudy mengusap tengkuknya, kepalanya tertunduk malu saat Camelia melontarkan kalimat pamungkasnya yang baru saja ia dengar di telinganya sendiri.

“Sudahlah Kalian jangan ribut begini, rame banget tahu nggak? Gimana nanti kalau kalian ditonton orang? Disangka orang ada apaan coba? Shooting sinetron bukan!” lerai Triko yang sedari tadi hanya menyimak debat kusir yang tak jelas  topiknya itu.

“Tahu nih Kak, ini nih si Nico tiba-tiba muncul dan mempertentangkan si Princess Aurelia yang enggak jelas itu! Emang cantik mana sih dia sama aku?” cetus Camelia sebal.

“Nic, Kamu belum tahu ya, kalau ternyata Princess Aurelia itu sepupunya Rudy?” Triko mengalihkan pandangannya pada Nico.

Nico terkejut bukan main, “Ah, yang benar Kak?”

Dipandanginya Triko dan Rudy satu-persatu. Triko dan Rudy mengangguk pelan.

“Oh, saudara ipar sepupuku, maafkan aku atas tuduhanku yang tidak-tidak kepadamu!” Nico menghamburkan diri ke dalam pelukan Rudy. Membuat Rudy sesak napas dicengkeram teramat kuat oleh Nico.

“Memangnya ada ya istilah ‘saudara ipar sepupu’?” Triko menggaruk-garuk kepala.

“Nah, kan, gue bilang juga apa! Loe sekarang dah belok ya? Dia ini pacar gue, masa loe peluk-peluk!?” Camelia memisahkan Rudy dari pelukan Nico.

Nico tersengih, “Sorry, sekali lagi gue minta maaf sama loe ya bro, kalau selama ini gue ada salah sama loe.”

Camelia kembali menggandeng tangan Rudy mesra, “Sebelum loe minta maaf juga, pacar gue pasti dah maafin elo kok! Ya kan, sayang?” dipandanginya Rudy sangat lekat.

“What, Cameliaaaa….. Oh, NO! Apa yang Kau lakukan bersama laki-laki ini?” teriak histeris cukup memekakan telinga setiap orang yang mendengarnya. Genderang perang suku Asmat saja mungkin bisa pecah karena lengkingan suara itu.

“Hadeuh… apa lagi sih ini? Udah tadi Nico, sekarang muncul lagi si ANAK SAPI! Kenapa setiap kali gue kencan, selalu ada yang mengacaukannya!” ditepuknya keningnya berkali-kali.

“Camelia sayang, mengapa Kau duakan diriku? Apa kekuranganku hingga Engkau mengkhianati cinta kasih kita nan tulus dan murni?” seperti biasanya Amir selalu melontarkan kalimat-kalimat rayuan maupun keluhan yang teramat lebay.

“Sorry Mel, selain bawa Rifkan, gue ke mari datang ngajak si Amir juga! Gue mana tahu kalau elo lagi ngedate sama Rudy di mari!” tutur Nico sedikit ketakutan.

“Siapa dia Mel, pacarmu?” tanya Rudy menatap Camelia.

“Bu… bukan kok!” Camelia memainkan jemari tangannya, mengadukan kedua telunjuknya berulang-ulang depan dada.

“DUSTA! Itu dusta! Hingga saat ini Engkau masih kekasihku Camelia, bidadari surgawiku!” Amir meraih tangan Camelia. Namun Camelia menepisnya.

“AMIRRR! Sadarlah! Selama ini mana pernah gue membalas perasaan loe ke gue! Loe emang naksir gue, tapi gue kagak naksir elo!” bentak Camelia kalap. Membuat orang-orang di sekelilingnya terkejut menyaksikan amarahnya.

“Wah, kayanya perang dunia ke-8 sedang dimulai nih, aku permisi dulu ya!” pamit Rudy menarik tangan Triko yang berdiri di sebelahnya.

“Sob, memangnya perang dunia udah berapa kali sih?” tanya Triko terseret-seret oleh Rudy.

“Eh, sayang, tunggu!” panggil Camelia pada Rudy yang berlalu meninggalkannya, dia bermaksud mengejarnya tapi tangannya berhasil ditahan oleh Amir.

Amir bersimpuh di hadapan Camelia, kepalanya mendongak ke atas memandang Camelia. Matanya berkaca-kaca hampir melelehkan gumpalan air di pelupuk matanya.

“Aku sungguh minta maaf padamu sayang, bila selama ini aku tak berhasil mencuri hatimu. Sekian lama kupendam bunga Camelia yang tumbuh subur di lahan hatiku, namun bunga itu mekar bersemi penuh pesonanya ternyata bukanlah untuk kusunting!” ratap Amir mengiba.

Nico dan Rifkan berdeham menyaksikan adegan tersebut. Dalam hati Rifkan berkata, “Gila gaya si Amir merayu cewek, keren juga!”

“Mir, Mel, kayanya gue harus menelepon my Princess sekarang deh, gue mau ngasih tahu kalau akun baru facebook my Princess udah gue bikinin, so gue mau cabut dulu ya!” pamit Nico tergesa-gesa.

Rifkan pun gelagapan berusaha mencari alasan untuk kabur meninggalkan Amir dan Camelia berdua dalam suasana romans yang begitu dramatis itu.

“Eh, Mario, Obby, Kalian  di sini juga? Aku ikutan dong muter-muter bareng kalian! Mel, gue permisi dulu ya!” Rifkan meluncur menghampiri Mario dan Obby yang kebetulan melintas di hadapannya.

“Ada apa dengan Kak Camelia?” tanya Obby begitu Rifkan mendekat.

“Enggak, biasalah romantika anak muda!” timpal Rifkan cengar-cengir tidak jelas. “Untunglah ada mereka lewat, jadi gue bisa kabur meninggalkan si Onta bersama pemujanya! Kalau enggak, bisa mampus gue dimakan tuh Onta,” batin Rifkan mengelus dada.

Sementara itu Badai sedang berada di dalam toilet tidak jauh dari arena ice skating tempat kelima kawannya berseluncur ria. Setelah makan-minum di caffe tadi perutnya mendadak terasa mulas. Sudah lebih dari seperempat jam dia duduk di atas closet sambil menahan perih. Beberapa kali ia mencret. Setiap ia selesai buang air besar, perutnya langsung mulas lagi dan mengharuskannya untuk duduk lagi di atas closet. Sedang kepayahan menahan perih di perutnya, tiba-tiba ponsel Badai berdering. Nada getar ponselnya yang selalu bermodus silent berhasil membuatnya sedikit terkejut. Pada layar monitor tertera nama Nico yang sedang memanggilnya.

“Huuuh, kenapa sih si brengsek ini tidak tahu waktu kapan suasana yang tepat buat meneleponku!” gerutu Badai pada ponsel di hadapan wajahnya.

“Matikan saja, kali ya? Tapi aku lagi butuh pulsa, hitung-hitung kado ultahku dari dia!” Badai mulai gelisah, ditimbang-timbangnya ponsel dalam genggaman tangannya.

“Angkat… jangan… angkat… jangan… angkat!” Badai membuat sebuah keputusan.

“Hi, sayang, kok lama banget sih angkat panggilan dariku?” sapa di ujung telepon.

“Sorry sayang, aku lagi sakit perut nih! Oya hari ini giliran Kamu kirim pulsa kan?” daulat Badai. Nada bicaranya dibuat semanja mungkin.

“Oh, Kamu lagi sakit ya sayang? Duh, kacian, padahal aku lagi happy-happy nih sama teman-teman genk aku si Rifkan dan si Amir. Kami pergi main ice skating di arena mall. Eh, tahunya aku ketemu mantan aku, si Onta yang sekarang lagi digebet sama si Amir! Tahu nggak sayang, ternyata si Onta mantanku itu lagi jalan sama Rudy tetangga sebelah rumahku! Dan akhirnya, terjadilah keributan cinta segitiga di antara mereka! Sayang, Kamu minta pulsa ya? Iya, nanti aku kirim deh sayang. Kamu tunggu aja ya!” cerocos Nico tanpa menggunakan titik dan koma saat berbicara.

Badai masih menahan perih rasa melilit di perutnya. Ia merintih kesakitan.

CREEET…… CREEEEET……

“Sayang, Kamu lagi apa sih? Kok kayanya ada suara-suara aneh di situ?” tanya Nico penasaran.

Badai melenguh, “Maaf sayang, A…KU..SE..DANG…BUANG…AIR…BE…SAR! urrrrggggghhh…”

Tidak jauh di luar toilet, Nico sedang berdiri dekat wastafel menikmati cengkeramanya bersama Princess Aurelia yang sebenarnya tak lain adalah Badai. Sengaja Nico menelepon Princess tercintanya di WC untuk menghindari hingar-bingar keramaian mall yang sangat ramai hari ini.

Suara erangan Badai di dalam toilet terdengar jelas oleh Nico  sungguh sama persis dengan kalimat yang dilontarkan oleh Princess Aurelia pada speaker telepon. Hanya saja suara dalam ponselnya jauh lebih lembut dan halus daripada suara yang didengarnya langsung di dalam bilik toilet.

“Sayang, Kamu lagi di dalam WC ya?” tanya Nico ragu.

“I…iya, maaf ya sayang! Sudah dulu ya, aku tak tahan nih, pokoknya nanti Kamu jangan lupa isikan pulsaku ya sayang!” Badai memelas.

Kali ini terdengar suara gelombang telepon berdengung. Menunjukan pertanda bahwa orang yang sedang dihubunginya berada tidak jauh dari posisinya. Meski sedikit ragu, Nico mencoba mendekati bilik tempat Badai.

“Itu kan suara si Badai, kok sama dengan obrolanku dengan si Princess ya?” dada Nico bergemuruh.

“Huh, dasar si Nico goblok! Mau aja ditipu olehku! Jangan pernah bermimpi bisa bertemu dengan Princess Aurelia yang sebenarnya! Karena Putri Erliana tidak tahu apa-apa tentang Princess Aurelia! Masa bodoh, Rudy menonaktifkan akun facebook Princess Aurelia sekalipun! Yang jelas dendamku pada Nico harus terbalaskan!” Badai berbicara sendiri di dalam ruang sempit itu. Akhirnya tuntas sudah ritualnya, ditariknya celana yang tergulung di bawah lutut. Dirapikan kembali pakaiannya ke dalam celana dan diakhiri dengan merapatkan resleting beserta ikat pinggang.

“Kurang ajar! Jadi, aku dipermainkan?” gigi-gigi Nico bergemeletuk geram.

BRAAAKKK!

Nico mendobrak pintu toilet Badai.

“Uh, BAU!” Nico langsung menutup hidung.

Badai tercengang, ia terkejut bukan main begitu melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka kalau Nico ada di tempat yang sama dengannya.

Nico membidikan tangannya ke arah Badai. Dalam genggamannya terpegang erat sebuah selang yang airnya mengalir deras.

“Kamu pikir, aku akan tinggal diam? Jadi, selama ini Kamu mencoba menipuku heuh? Ini baru permulaan buatmu banci! Bersiaplah untuk menyambut hari-harimu yang akan dipenuhi mimpi buruk dariku!” disemprotkannya air dalam selang ke arah Badai hingga seluruh pakaian Badai basah kuyup.

“Nic, Nic, hentikan Nic! Maafkan aku, aku hanya bermaksud untuk…” Badai sangat ketakutan melihat amarah Nico yang terlihat menyeramkan baginya. Napasnya megap-megap terkena semprotan air. Kedua tangannya berusaha menepis semprotan air dari tangan Nico.

BUGH!

Nico berhasil mendaratkan sebuah pukulannya di dagu Badai. Disusul pukulan di perut dan dadanya. Hanya dalam beberapa kali tonjok saja Badai langsung jatuh terkapar di lantai. Badai bukanlah laki-laki tangguh yang dapat melindungi diri. Terbukti ia selalu lemah tiap kali berhadapan melawan Nico. Setetes darah mengalir dari bibir bawahnya. Saat Nico meninju dagunya, bibir bawahnya tergigit olehnya sendiri.

“Baru gitu aja dah keok!” Nico berlalu meninggalkannya.

Badai berdiri berjalan tertatih-tatih. Saat ia keluar dari toilet orang-orang di area mall sempat memperhatikannya dengan tatapan aneh. Ia berjalan pulang tanpa pamit pada teman-temannya di arena ice skating.

“Badai, Kamu kenapa Nak? Kok dagumu lebam?” ibunda Badai menyentuh dagu Badai pelan-pelan.

“Jatuh Bu,” jawab Badai sedikit cuek, menutupi keadaan yang sebenarnya.

“Yang benar? Jangan kaya di sinetron ah, ada masalah sengaja ditutup-tutupi,” sergah sang bunda.

“Jadi anak ibu ceritanya habis adu kejantanan, nih?” Kembali ibunya mengungkit guyonannya dulu.

Badai melengos masuk ke dalam kamarnya. Direbahkannya tubuhnya yang penat di atas sebuah karpet tanpa sempat mengganti pakaiannya yang basah karena disiram Nico, terlebih dahulu.

DRRRRT… DRRRRT….

Getar ponsel di dalam saku celananya kembali aktif. Sebuah nomor tak dikenal.

“Heh, asal loe tahu ya, gue dah beberin soal penyamaran elo ke si Obby dan Kak Triko! Besok reputasi loe sebagai artis sekolah bakalan tercemar! Badai Ombak Samudera penyanyi juara kontes vokal solo pelajar tingkat nasional ternyata seorang pecundang! Kegiatan sehari-harinya ternyata menipu para lelaki untuk dijadikan kekasihnya, karena sebenarnya Badai Ombak Samudera adalah seorang MAHO alias Manusia Homo! Besok kalau elo masih berani nongol di sekolah, gue gibas elo sampai mampus! Lihat aja genk gue juga nggak akan tinggal diam, bersiaplah buat menghadapi mimpi-mimpi buruk elo! Hahaha…” tantang suara di ujung telepon tak lain suara Nico yang telah mengganti nomor ponselnya sehingga tak dikenali oleh Badai.

Pikiran Badai mulai resah. Entah mengapa perasaan takut menggelayuti hatinya, ia bimbang harus mengadu kepada siapa? Berbicara kepada kedua orang tuanya, itu tak mungkin dilakukannya. Bisa-bisa ayah dan ibunya malah akan semakin marah jikalau mengetahui putra bungsu mereka tercinta ternyata memiliki kelainan karena menyukai sesama jenis! Berbicara kepada Rudy? Sudah terlalu banyak ia merepotkan sahabat terbaiknya itu. Rudy memang terlalu baik padanya, tapi sudah cukup ia membebaninya selama ini. Badai tak ingin melibatkan Rudy ke dalam masalahnya terlalu jauh. Belum lagi perselisihan di antara Rudy dan Nico dipicu oleh dirinya. Camelia? Dia hanya seorang gadis, apa yang bisa diharapkan darinya? Pikiran Badai benar-benar kalut, kepalanya pusing bagaikan benang yang terbelit-belit. Akhirnya ia tertidur di atas lantai kamar tidurnya.

06.30 WIB

Badai terduduk di bangku kelasnya. Sepucuk surat baru saja selesai ditulis oleh tangannya. Perhatiannya tertuju pada layar handphone. Puluhan pesan bernada kecaman memenuhi dinding facebooknya. Dibalasinya semua pesan dinding tersebut dengan ucapan maaf yang diketiknya melalui pembaharuan status.

Hanya satu komentar yang diterimanya, “Jangan patah semangat, Dek! Kalau ada apa-apa telepon Kakak!” komentar itu jelas ditulis oleh Anggi, kakak perempuannya. Badai sama sekali tak menggubris. Ia menghentikan konektivitas internetnya. Setelah keluar dari web browser dibukanya kembali sebuah SMS yang masuk tatkala ia terbangun dari tidurnya tadi subuh.

“Ingat, mulai hari ini genk gue bakal ngebully elo terus sampai elo mampus!”  isi pesan yang dibacanya.

Badai menatap sekelilingnya, sekelompok teman perempuannya tengah berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Dia tahu, mereka pasti sedang asyik memperbincangkannya seperti dulu waktu dia kecipratan gosip karena perilaku kakak perempuannya. Ah, Badai sudah merasa familiar dengan tatapan-tatapan sentimen itu. Nico sengaja menampakan dirinya di jendela kelas XI IPA B seakan ingin terus menegaskan ancaman darinya bukanlah main-main. Tatapan matanya sangat tajam bagai pedang yang terhunus dan siap menghunjam jantungnya.

Badai menelungkup pada mejanya. Kedua tangannya merogoh sesuatu di dalam laci meja. Terdengar suara ‘TES’ berdesau setelah ia berhasil mendapatkan apa yang dinginkannya. Tak lama kemudian pandangan Badai menjadi kabur, matanya pun terpejam.

“Pagi Badai,” sapa Camelia menampakan mukanya yang kusut.

Tampaknya masalah romantika cintanya dengan Amir dan Rudy kemarin siang tak kunjung kelar kepada siapa pada akhirnya cintanya akan berlabuh.

“Dai, loe masih ngantuk ya? Woy, bangun dong loe! Bentar lagi kita mau upacara bendera nah!” Camelia mengguncang bahu Badai.

Guncangan Camelia berhasil merobohkan tubuh Badai ke bangku. Badai terkapar bersimbah darah di pergelangan tangan kirinya.

“BADAAAAI…” teriak Camelia histeris begitu melihat tubuh Badai tergeletak di bangkunya. Tetesan darah segar mengalir di pergelangan tangannya.

Sontak seisi kelas XI IPA B mengerumuni sumber keributan.

“Ada apa Mel?” tanya teman-temannya. Begitu melihat tubuh Badai terbujur di bangku, mereka turut memekik histeris.

“Ayo, cepat kita gotong dia ke UKS! Kamu temui guru piket bilang kita memerlukan ambulans!” perintah Amir sedikit panik.

“Dai, bangun Dai! Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?” Camelia menepuk-nepuk pipi Badai. Namun Badai tak kunjung sadarkan diri.

“Mel, ada surat nih terjatuh dari tangannya!” seru salah seorang temannya di belakang. Camelia berbalik merebut surat itu secepat kilat, dibacanya dengan rasa berdebar-debar antara gelisah dan ingin tahu apa yang telah menyebabkan Badai nekad melakukan aksi bunuh diri ini.

Kepada teman-temanku dan sahabat-sahabatku…
Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada kalian semua atas perbuatanku terhadap kalian selama ini. Aku tidak pernah bermaksud untuk menipu ataupun membohongi kalian semua. Aku memang memiliki dendam kepada seseorang di antara kalian yang selama ini selalu menyiksa batinku. Adilkah ini bila hidupku selalu berada di bawah bayang-bayangnya? Dan menjadi bahan celaan setiap kali aku berpapasan dengannya? Apakah aku harus selalu tinggal diam di bawah tekanannya?
Kuakui aku memiliki perasaan yang tidak normal seutuhnya sebagai lelaki. Tetapi ini semua bukanlah kehendakku sendiri. Aku menempuh jalanku karena hidupku akulah yang memutuskannya. Akan tetapi haruskah ini selalu menjadi bahan cemoohan bagi kalian?
Ah, biarlah aku melihat wajah-wajah puas kalian melihat kematianku dari ambang pintu neraka. Aku tak peduli sekalipun apa yang telah kulakukan ini adalah dosa. Terima kasih telah mengisi hari-hari dalam hidupku.
Salam takzim,
Badai Ombak Samudera

Tetes air mata menitik di pelupuk mata Camelia. Dikejarnya teman-temannya yang menggotong tubuh Badai ke UKS.

Bu Sugeng wali kelas mereka berjalan tergopoh-gopoh dari arah yang berlawanan. “Apa yang terjadi pada Badai?” tanyanya cemas.

“Badai mencoba bunuh diri, Bu!” Camelia terisak melabuhkan kepalanya di dada sang guru tercinta.

“APA?” Bu Sugeng agak shock mendengar kabar tersebut.

Tubuh Badai dibaringkan di atas matras UKS.

“Bu, kayanya kita tidak memerlukan ambulans! Luka pada pergelangan tangannya masih belum terlambat untuk diobati, Badai cuma pingsan saja kok!” entah sejak kapan Triko sudah berada di tengah-tengah mereka.

“Kamu yakin, Triko?” tanya Bu Sugeng ragu.

Triko mengangguk mantap, ia merasa yakin akan apa yang telah diucapkannya.

Bu Sri Sudaryanti masuk ke dalam ruangan dengan wajah panik diiringi Pak Ruspita. Duo wakil kepala sekolah itu melangkah tergesa-gesa menghampiri tepian ranjang Badai. Pak Ruspita memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Badai dan detak jantungnya.

“Dia tidak apa-apa!” ucap Pak Ruspita menyimpulkan hasil pemeriksaannya.

Triko sangat cekatan membalut luka di pergelangan tangan Badai. Camelia mengamatinya dengan saksama.

“Aku aktif mengikuti kegiatan PMR, makanya aku tahu banyak tentang P3K!” seakan tahu apa yang sedang ada dalam benak pikiran Camelia.

Bu Sri terlihat sangat sibuk, beliau mencoba memberi kabar kepada orang tua Badai via telepon, namun tak ada yang mengangkat horn telepon di seberang. Tampaknya di rumah Badai sedang sepi.

“Halo, Bu Anggi ya? Begini, tadi saya menghubungi telepon rumah Badai tetapi tidak ada yang mengangkat, jadi saya mohon maaf kalau saya memberi kabar pada Bu Anggi saja,” Bu Sri sedikit menjauh dari ruang UKS.

“Ada apa ya, Bu?” tanya Anggi, kakak perempuan Badai, agak pangling, tidak biasanya Bu Sri Sudaryanti menghubunginya via telepon setelah sekian lama Anggi mengundurkan diri dari sekolah Badai.

“Begini, Badai baru saja berusaha mencoba bunuh diri…” Bu Sri menuturkan peristiwa yang baru saja dialami adik bungsu Anggi.

“Apa Bu? Badai bunuh diri?” Anggi tak percaya.

Keduanya lalu terlibat percakapan yang cukup serius.

1 jam berlalu…

“Kamu harus bilang Badai, siapa yang telah mendorongmu untuk melakukan bunuh diri?” tanya Bu Sugeng lembut.

Tak ada jawaban.

“Badai, Kamu tidak usah takut, selama Kamu mau berterus-terang kepada guru wali kelasmu sendiri! Kamu aman di sini, jadi ceritakan saja ada masalah apa yang menimpa Kamu sampai Kamu nekad seperti ini?” interogasi Pak Ruspita.

Ini adalah bujukan untuk ke-12 kalinya Bu Sugeng selaku wali kelas dengan Pak Ruspita selaku wakasek kesiswaan di sekolah. Kendati demikian Badai enggan mengeluarkan suara sepatah katapun.

“Badai, apa betul apa yang disampaikan oleh teman-temanmu bahwa Kamu depresi karena Kamu kelainan?” kali ini suara Pak Ruspita menggelegar.

Badai tetap diam tak mau berbicara.

Baru saja Nico dipanggil menghadap oleh Pak Ruspita.

“Kamu, coba Kamu jelaskan maksud SMS-mu itu pada Badai?” tunjuk Pak Ruspita pada Nico yang baru saja memasuki ruangan.

Tubuh Nico gemetar, ia sedikit ketakutan melihat tatapan Pak Ruspita yang begitu sangar.

“Betulkah SMS ini, Kamu yang kirim?” Pak Ruspita menunjukan pesan singkat di kotak masuk ponsel Badai.

“SMS itu me..mang sa..ya yang me..mengirimnya Pak,” timpal Nico terbata. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak gugup.

“Tapi itu saya lakukan karena dia sudah menipu saya, Pak! Dia membuat akun palsu di facebook, menyamar sebagai perempuan bernama Princess Aurelia, dan menjerat kami untuk jadi pacarnya,” suara Nico mulai lancar, bahkan alibinya terkesan membela diri.

“Kamu bilang ‘Kami’? Memang siapa saja yang sudah berhasil dijebaknya?” usut Pak Ruspita memandangi Nico dengan tatapan tajam.

“Saya, Pak!” Triko yang sedari tadi tidak beranjak meninggalkan UKS mengangkat sebelah tangan.

“Selain kami berdua masih ada satu orang lagi adik kelas kami yang menjadi targetnya, dia Obby Afrizon dari kelas X-A,” Triko berusaha memberi keterangan dengan jujur.

“Panggil Obby Afrizon ke mari!” titah Pak Ruspita pada Amir yang berdiri mematung di samping pintu.

Amir berlari secepat kilat menyambar bumi. Tidak lama berselang Obby hadir memenuhi panggilan Pak Ruspita. Di belakang Obby, Bu Sri Sudaryanti masuk mengantarkan Pak Jarlani-guru Bimbingan Konseling.

“Jadi ada apa ini sebenarnya?” tanya Pak Jarlani to the point.

Pak Ruspita menjelaskan duduk perkara yang baru sedikit diketahuinya berdasarkan keterangan beberapa siswa yang terlibat dalam kasus Badai.

“Sudah berapa lama Kamu mulai suka sesama jenis Badai?” usut Pak Jarlani dengan nada bicara datar tetapi sangat keras.

“Pak, saya rasa itu bukan persoalan yang perlu kita bahas sekarang. Lihatlah, Badai masih lesu, kondisinya belum pulih benar. Yang perlu disikapi sekarang adalah ancaman Nico dan kawan-kawannya yang berdampak Badai nekad melakukan bunuh diri!” Bu Sugeng menghalau Pak Jarlani agar tidak menghakimi Badai begitu saja.

“Makanya masalah di kehidupan nyata jangan dibawa-bawa ke dunia maya! Begitu pula sebaliknya, masalah di dunia maya jangan dibawa-bawa ke dunia nyata! Kalau tercampur, ya begini ini akibatnya! Jadi kaya alam manusia tercampur dengan alam gaib!” hujat Pak Jarlani tak mempedulikan lawan bicaranya.

“Uka..uka..” Pak Ruspita mengomentari.

“Sekarang yang merasa sudah menjadi korban penipuan Badai, maupun yang sudah mengancam Badai, harap ikut saya ke ruang BK!”

Nico, Rifkan, Triko, dan Obby berbaris mengikuti langkah Pak Jarlani meninggalkan ruang UKS. Mereka berpapasan dengan ayah Badai yang baru saja datang untuk menjemput Badai setelah menerima kabar dari Anggi, anak perempuannya yang tinggal di luar kota bersama suaminya. Sebelumnya Anggi menerima kabar mengenai Badai dari Bu Sri Sudaryanti yang menghubunginya via telepon.

==00Ω♥Ω00==

“Badai, mengapa Kamu bisa begini, Nak?” sambut ibunda Badai di ambang pintu rumah.

“Apakah ini ada kaitannya dengan masalah ‘kejantananmu’ itu?” Sambung ibunya lagi.

“Jangan diajak mengobrol dulu, Bu! Dia masih shock!” Ayah Badai memapah putra bungsunya berjalan menaiki tangga.

“Nanti Bapak ceritakan persoalannya. Yang penting sekarang biarkan Badai beristirahat dulu!”

Badai naik ke atas spring bednya, berselonjor kaki dan merebahkan punggungnya pada sebuah bantal yang ditegakan sejajar papan dipan kepala spring bed. Pandangannya terlihat kosong karena depresi berat.

“Aduh, Nak, Ibu kan sudah sering bilang, kalau Kamu ada masalah ya bicara terus terang pada Ibu. Ibu kan orang yang sudah melahirkan Kamu, Nak. Sekarang betul kan, kata Ibu akhirnya terjadi sesuatu pada Kamu!” ibunda Badai membelai-belai kepala anak bungsunya penuh kasih.

“Ini semua salah Bapak, Bu! Seandainya dulu Bapak tidak pernah meninggalkan kalian, mungkin Badai tidak akan kehilangan figur seorang ayah dalam hidupnya. Mungkin Bapak terlalu lama meninggalkan kalian ke Mesir, sehingga Badai tidak pernah ada yang mendidik agar menjadi lelaki sejati!” Bapak meremas-remas rambutnya menyesali masa lalu.

“Hush, Bapak ini bicara apa toh Pak? Bapak kan pergi ke Mesir meninggalkan kami buat cari nafkah! Buat menghidupi kami, anak-anak dan istri Bapak! Kalau Bapak tidak kerja menjadi TKI mana mungkin sekarang kita bisa hidup berkecukupan seperti sekarang ini!” ibu merasa tidak senang akan penyesalan suaminya.

“Tapi Bu, Badai jadi terkorbankan! Tadi guru-gurunya bercerita, Badai mengalami kles dengan Nico! Katanya Badai mempunyai kelainan, Badai menyamar jadi perempuan di facebook buat menipu Nico dan teman-teman laki-laki lainnya!” urai ayah Badai menatap ke luar jendela.

“Astagfirullah, yang benar Pak? Terus, mengapa Badai bisa begini? Jadi benar, ini semua menyangkut kejantanan yang sering kita bahas?” ibunda Badai mengurut dada menghampiri suaminya.

“Nico berhasil mengetahuinya dan mengancam akan terus menyiksa Badai, mungkin oleh sebab itu Badai menjadi takut, dan berusaha melakukan bunuh diri,” ayah Badai menghembuskan napas seraya memejamkan kedua matanya.

“Masya Allah, Nak, Kamu kok nekad?” ibunda Badai menggigit bibir, perasaannya mulai riskan.

==00==♥♥♥==00==

“Teman-teman, kita jenguk Badai, yuk!” Camelia berdiri menghadap teman-temannya di muka kelas.

“Alah, buat apa jengukin dia? Dia sudah bikin malu kelas kita!” cetus salah seorang temannya yang duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela.

“Iya buat apa kita jengukin orang yang sudah mempermalukan kelas kita! Cih, tak sudi aku menemuinya!” unjuk teman di sebelahnya.

“Kok, kalian begitu? Seharusnya kalian bisa memaklumi keadaan Badai! Gue yakin, Badai sendiri pasti merasa sangat shock akan keabnormalan dalam dirinya! Tetapi itu bukan keinginannya, kan? Mana ada sih orang yang menginginkan dirinya terlahir mempunyai kelainan? Setiap orang pasti ingin terlahir normal kan?” Camelia berkoar berapi-api memberi umpan balik pada temannya yang mencibir di pojokan kelas.

“Loe ngebelain dia sih, Mel? Jangan-jangan loe juga sama kaya dia! Loe jambu makan jambu ya, Mel? Hahaha…” sanggah salah seorang teman lain yang berdiri di dekat pintu.

“Pantesan cinta si Amir loe tolak terus, pasti loe depresi berat gara-gara diputusin sama Nico sebelum kenaikan kelas dulu itu, ya?” sindir seorang gadis berkacamata yang duduk dua meja dari tempat Camelia berdiri.

Mendengar namanya disebut Amir menelan ludah, dia mulai angkat bicara, “Camelia enggak seperti yang Kamu kira, mulut onde-onde! Kurasa ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Camelia. Jalan hidup yang dijalani oleh Badai tentu merupakan sebuah keputusan yang berat yang harus dia ambil. Aku yakin, jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia pengen menjadi seorang lelaki sejati yang bisa mencintai lawan jenisnya sesuai kodratnya. Tapi berulang kali mencoba mungkin dia gagal karena masalah yang dialaminya itu dipendamnya sendiri. Menurutku sih begitu, buktinya aja keluarganya sampai shock banget setelah tahu Badai nekad melakukan bunuh diri kemarin pagi,” tutur Amir diplomatis memancarkan karismanya yang selama ini tersembunyi. Diumpetin di mana ya, selama ini? Yang pasti bukan di balik bokong Bu Sugeng dong…

“Yup! Betul banget kata Amir! Badai sebenarnya tidak bermaksud menipu Kak Triko dan Obby! Badai memang sengaja menipu Nico karena sejak kecil dia menjadi bulan-bulanan Nico dan genknya. Maka Badai bermaksud membalas dendam, sayangnya tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan kontak fisik. Ibarat si Kancil melawan buaya dan harimau maka si Kancil lebih menggunakan otaknya daripada ototnya!” Camelia semakin meluap-luap berorasi di depan kelas.

“Yaelah, macam tukang dongeng saja Kau, Mel!” ledek si Tagor anak pedagang batagor.

“Lantas mengapa dia menjebak Kak Triko dan Obby, anak kelas X yang unyu-unyu itu? Gak tahu apa si Badai, kalau gue juga kan suka banget sama anak bongsor itu?” hujat seorang gadis berambut kepang kuda, tetapi di ujung kalimatnya gadis itu berekspresi mengepalkan kedua tangannya di depan bibir tersenyum-senyum sendiri tidak jelas.

“Huuuu………..” seisi kelas menyoraki si gadis berkepang kuda.

Camelia menghela napas dalam, sempat dilihatnya sesosok bayangan seorang pemuda di luar kelas sedang berdiri terpaku menatapnya, menyimak apa yang sedang dibicarakannya kepada teman-teman sekelasnya.

“Mario…” gumam Camelia pelan. Kemudian ia kembali memusatkan perhatiannya kepada teman-temannya.

“Sejatinya, Badai itu sedang berusaha mencari pasangan yang sangat didambakannya untuk dijadikan sebagai kekasih. Namun ia tidak berani berterus terang mengakui sebagai pribadinya, sehingga dengan cara menyamar sebagai perempuan di dunia maya, mungkin dia bisa memperoleh keterangan, apakah targetnya adalah penyuka sesama jenis atau tidak! Dalam ilmu kejiwaan hal ini disebut sex-trap therapy!” Camelia berusaha memberikan penjelasan.

“Seandainya keadaan dibalik, kalian yang menjadi Badai, bagaimana sikap yang akan kalian ambil?” ditatapnya satu-persatu wajah teman-temannya, namun tak ada yang berani membalas tatapannya.

“Jadi sebagai pelajar kelas XI IPA B yang solid terhadap teman, gue harap loe semua jangan memandang hina terhadap Badai! Ingat enggak apa yang ditanamkan oleh Bu Sugeng wali kelas kita dulu? Sesama anggota kelas XI IPA B kita semua adalah keluarga! Seburuk apapun kawan kita, ingat kita semua adalah saudara! Keluarga besar XI IPA B!” Camelia menutup ceramahnya.

“Elo kaya psikolog deh, Mel!” Amir memuji. Sementara seisi kelas mendadak hening meresapi setiap perkataan Camelia.

“Kedasih, loe memang pantas jadi seorang psikolog! Gue nggak rugi dah nyeritain masalah Badai sama loe. Coba elo sendiri yang ngomong sama teman-teman sekelas, gue yakin loe pasti bisa meyakinkan mereka semua!” desis Camelia kepada dirinya sendiri.

Di luar ruangan Mario menunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat.

Beberapa hari berlalu kondisi Badai mulai pulih. Namun ia masih belum berani menampakkan diri di sekolah. Dia takut teman-temannya akan menggunjingnya kembali seperti beberapa saat sebelum melakukan bunuh diri itu. Badai bimbang haruskah ia pindah sekolah agar ia tak merasa malu lagi. Sempat terpikir olehnya untuk melakukan hal yang sama seperti Rudy, membujuk ayahnya untuk pindah rumah agar ia dapat menghindari ejekan Nico baik di kompleks perumahannya maupun di sekolah. Namun ia masih bingung, kota ini adalah kota kelahirannya, kota yang telah memberikan sejuta kenangan baginya. Terutama keindahan bunga bungur yang selalu dikaguminya. Bila ia harus pergi meninggalkan kota ini, akankah ia menemukan bunga bungur yang indah itu di kota lain? Moment-moment itu terlalu sayang untuk dilewatkan, masih teringat jelas dalam memorinya, saat-saat ia mengejar Mario di pagi hari berangkat sekolah, bunga-bunga bungur menemani keceriaannya menyambut pagi. Jiwa Badai telah menyatu dengan bunga-bunga bungur itu.

Rudy dan Camelia selalu setia datang menjenguknya setiap sore. Terkadang Camelia berusaha menghiburnya dengan menyanyikan lagu-lagu yang disukainya dengan suara cemprengnya. Rudy berusaha menguatkan Badai agar Badai tidak putus semangat untuk melanjutkan hidup. Ah, mereka berdua benar-benar sahabat sejati yang selalu peduli padanya.

“Kami sudah memberi pengertian kepada teman-teman, agar mereka tidak men-judge elo dari satu sisi aja! Kami juga meyakinkan mereka, bahwa apa yang elo alami itu tentu sangat sulit untuk elo jalani,” Camelia merangkul bahu Badai sambil mengurut-urut pelan.

“Kak Triko awalnya sempat marah, karena mengapa dia harus dijadikan korban olehmu. Tapi setelah dia mengetahui bahwa keadaan seperti ini pun bukan keinginanmu akhirnya Kak Triko mau membuka hati untuk menerima keadaan. Dia lalu menyadari bahwa pesona ketampanan yang dimilikinya mungkin tidak hanya dikagumi oleh para kaum hawa, mungkin saja di luar sana ada banyak lelaki yang juga tergila-gila pada daya tariknya, sehingga dia merasa memiliki bakat alam bahwa dia bisa menjadi seorang idola!” Rudy bertutur cerita.

“Huu.. Kak Triko memang dasar narsis!” rutuk Camelia.

“Kalau tanggapan Obby malah aneh lagi, dia bilang sebenarnya dia sangat suka digoda oleh Princess Aurelia,” Rudy tertawa cekikikan.

Badai tersenyum lega, sahabat-sahabatnya masih peduli padanya. Sampai akhirnya ia bisa menyimpulkan bahwa sepahit apapun hidup, ia tidak boleh lari dari kenyataan. Bukankah bila ia mengajukan pindah sekolah ataupun pindah tempat tinggal sama saja ia bermaksud lari dari masalah?

Sore itu…

“Badai, lihat deh, siapa yang datang coba?” Rudy dan Camelia menarik tangan Badai ke pinggir kolam renang dekat gazebo di rumahnya.

Berulang kali Badai mengucek kedua matanya dengan kedua tangannya. Di tempat yang ditunjuk oleh mereka berdua, tengah duduk seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang menyiduk-nyiduk air dalam kolam dengan genggaman tangannya. Gadis itu menoleh ke arah Badai seraya melempar seutas senyuman hangat bersahaja.

“Badai..” panggil gadis itu melambaikan tangannya. Badai mendekat.

“Terima kasih ya, sudah membuatkanku blog pribadi! Aku terbantu sekali untuk menjadi seorang konsultan di dunia maya!” gadis itu menghamburkan diri ke dalam pelukan Badai.

“Tapi…” tenggorokan Badai tercekat.

“Sebenarnya selama beberapa minggu ini aku belum berangkat ke Kanada. Aku gagal mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa yang ditawarkan oleh teman ayahku, jadi aku putuskan untuk tetap melanjutkan sekolah dulu di sini, ” gadis itu menatap Badai penuh senyuman.

“Kedasih, maafkan aku,” suara Badai lirih.

“Sudahlah, tak usah diungkit lagi. Aku sudah tahu semuanya, yang sudah berlalu biarkanlah berlalu! Sekarang, saatnya untuk menapaki masa depan!” Kedasih memberi semangat.

“Aku tidak akan pernah bisa membencimu, Dai, apapun dan bagaimanapun keadaanmu. Kamu tahu kan cita-citaku ingin menjadi seorang psikolog? Aku rasa aku semakin tertarik padamu dan ingin mencoba memahami kepribadianmu!” Kedasih menggenggam kepal tangan Badai. Ditatapnya bola mata Badai dalam menembus ke relung-relung sukma Badai. Dari pancaran itulah Badai menemukan sebuah ketulusan cinta sejati yang selama ini tak pernah dilihatnya.

“Badai, apakah Kamu mau, setelah kita lulus nanti kita sama-sama melanjutkan kuliah di Kanada?” Kedasih tak memalingkan pandangannya.

Badai mengecup punggung tangan Kedasih, “Aku mau, Kedasih!” jawabnya jujur.

“Cie… cie… so sweet deh kalian berdua!” Camelia menyenggol lengan Kedasih dan Badai dengan lengannya bergantian.

“Awalnya aku sempat curiga loh, aku kira blog Kedasih yang meminta pertemanan dengan Kak Triko itu adalah Badai. Ternyata itu memang benar Kamu, ya!” sela Rudy kepada Kedasih di tengah perbincangan mereka.

“Aku malah enggak curiga sama sekali loh! Soalnya aku enggak ngerti apa-apa!” suara Triko tiba-tiba muncul di belakang Badai.

“Kalian?” Badai terkejut melihat kehadiran Triko, Mario, dan Obby yang datang bersamaan ke rumahnya.

“Aku minta maaf Kak, atas segala kesalahanku,” Badai berlutut di hadapan Triko.

“Aku juga minta maaf padamu ya By!” kepala Badai menunduk dalam penuh rasa bersalah.

“Sudahlah Kak, facebook kan cuma dunia maya. Jadi anggap saja semua itu hanya permainan! Itu nasihat Pak Jarlani kemarin kepada kami saat kami dipanggil ke ruang BK! Eh, justru aku mau berterima-kasih kepada Kak Badai loh! Berkat masalah Kak Badai, aku jadi punya pengalaman dipanggil ke ruang BK. Dan setelah mendapat pengarahan dari para guru BK, aku jadi tahu ke mana tempat yang enak buat curhat kalau aku lagi dapat masalah. Nanti, kalau aku mempunyai masalah, aku akan datang ke ruang BK aja, ah!” seru Obby kocak.

Rudy dan Camelia tertawa mendengar gaya bicara Obby yang terkesan polos dan lugu.

“Bangunlah Dai! Aku enggak merasa rugi kok dipermainkan sama Princess Aurelia yang ganteng seperti Kamu! Malah aku bersyukur, aku jadi tahu siapa Princess Aurelia yang sebenarnya. Kalau hari itu Kamu enggak bilang bahwa Princess Aurelia itu sebenarnya adalah sepupu Rudy, wah mungkin aku enggak bakal kenalan dengan Princess Aurelia yang sesungguhnya,” Triko menarik Badai bangun berdiri.

Badai menatap Obby dan Triko ragu. Kedua kawannya itu anggung-anggip bersamaan.

“Kak Triko sekarang lagi melakukan pendekatan dengan Putri Erliana, tuh, Dai!” sengit Rudy menambahkan keterangan. Triko tersipu malu gosipnya dibongkar.

“Dai, aku tahu selama ini aku salah. Akulah yang telah menyebabkanmu seperti ini. Seharusnya aku tidak boleh egois hanya memikirkan perasaan dan keinginanku sendiri. Masih bersediakah Kamu untuk menerimaku  jadi sahabatmu lagi? Kali ini benar-benar tulus dari hatiku, bukan karena ada maksud tertentu!” Mario membuka kedua tangannya lebar-lebar berharap Badai akan menghamburkan diri ke dalam pelukannya.

Badai tampak ragu. Bagaimana mungkin semua sahabatnya datang berkumpul di rumahnya tanpa mempermasalahkan segala kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini.

“Aku tahu, apa yang sedang Kamu alami pasti begitu sulit untuk Kamu jalani ya, sekarang aku sadar, tidak seharusnya aku mengabaikanmu di saat Kamu membutuhkanku,” Mario berusaha meyakinkan Badai.

“Aku ingin persahabatan kita dimulai lagi dari nol. Kita sama-sama bersaing untuk mendapatkan apa yang kita inginkan!” Mario masih membuka kedua tangannya.

“Wah, Kak Badai kayanya nggak mau dipeluk sama Kak Mario, ya sudah, biar aku saja yang peluk Kak Mario!” Obby masuk ke dalam pelukan Mario.

“Yah, dasar Revalina Maria! Sudah, kamu ganti kelamin saja! Supaya perjodohan orang tuamu dengan orang tua Mario yang dulu sempat direncanakan sejak kalian masih dalam kandungan sekarang jadi berjalan lancar!” cibir Badai keki disusul gelak tawa teman-temannya.

Obby merengut melepas pelukan Mario, “Ih, emang aku cowok apaan? Gini-gini masih banyak cewek yang naksir!”

“Oke, aku terima tantanganmu, siapa di antara kita berdua yang kelak akan berhasil mempersunting bunga bungur itu!” Badai menonjok lengan Mario pelan seraya melirik ke arah Kedasih.

“O jadi sekarang ceritanya Badai mau berubah jadi cowok normal nih?” bisik Rudy di telinga Badai.

Badai mengangguk mantap. Mulai hari ini ia bertekad ia ingin melangkah lebih baik untuk meraih masa depannya. Masa lalu takkan mungkin pernah dapat ia hapus, namun perubahan selalu dapat dilakukan oleh setiap insan manusia.

“Hey, pohon bungurnya sudah mulai berbunga lagi ya, tidak lama lagi kuncup-kuncup itu pasti bermekaran sempurna. Nanti kalau bunga-bunga bungur itu sudah mekar, kita makan-makan di pojok sana lagi yuk!” Kedasih melonjak girang menatapi pesona keindahan tanaman bungur yang selalu dikaguminya. Semua mengangguk setuju.

“Kamu tahu, Dai, Nico dan Rifkan mendapat skorsing dari sekolah selama satu minggu. Mereka diancam oleh Pak Jarlani kalau nanti masih berusaha membully kamu lagi, Pak Jarlani tidak segan-segan akan mengeluarkan mereka dari sekolah,” Mario memberi info.

“Jadi, Kamu enggak usah takut lagi untuk bergaul di luar rumah!” ditepuknya pundak Badai oleh Mario.

“Eh, ngomong-ngomong, bagaimana hubungan kalian berdua? Lalu bagaimana dengan Amir?” tanya Badai pada Camelia dan Rudy.

Camelia membelai pipinya, “Ya, kami kan perempuan, sudah layaknya menjadi rebutan para cowok dong! Mario dan Badai bersaing memperebutkan Kedasih, Amir dan Rudy so pasti bersaing memperebutkan gue…lah!”

Obby berdeham, “Terus aku bersaing dengan siapa? Ah, aku tahu, aku bersaing dengan Kak Triko saja ya? Tapi kalau boleh tahu, Putri Erliana sepupunya Kak Rudy itu ganjen seperti Princess Aurelia nggak, sih?” nada bicaranya menyindir Badai.

“Kayanya ganjenan Camelia deh daripada Putri Erliana!” celetuk Badai asal. Camelia menjitak kepala Badai tidak terima mendapatkan gelar ‘GANJEN’.

“Badai, ke mari, Nak, abangmu datang bawa  si mungil Princess Aurelia!” panggil ibunda Badai di teras rumah.

“Haaa….. PRINCESS AURELIA?” seru keenam sahabat Badai bersamaan.

“Apa Bu, abang Bahagia Sejahtera datang dari Inggris?” mata Badai membelalak tak percaya.

Ibunya mengangguk tersenyum, “Ajak kawan-kawanmu masuk, Nak!”

Badai melangkah setengah berlari, namun tangannya berhasil ditahan oleh para sahabatnya, “Tunggu, sebenarnya siapa itu Princess Aurelia?” selidik mereka curiga.

Badai menggaruk-garuk kepala, “Sebenarnya itu nama keponakanku yang lahir 4 bulan lalu di Inggris. Abang Bahagia Sejahtera, kakak laki-lakiku, sudah lama tinggal di sana karena menikah dengan wanita Inggris. Sewaktu aku membuat akun facebook palsu untuk menggaet Kak Triko, aku bingung mau menggunakan nama apa. Tiba-tiba terlintas begitu saja untuk memakai nama keponakanku yang baru lahir saat itu!”

“Wah, tega ya Kamu, Dai, sudah foto orang Kamu pakai, nama keponakan sendiri pun Kamu pinjam!” Rudy dan kawan-kawan mengacak-acak rambut Badai keroyokan.

“Kita ceburkan saja Badai ke dalam kolam renang yuk!” usul Triko jahil.

Sebelum ia terseret ke air kolam, Badai berlari masuk ke dalam rumah dikejar-kejar oleh para sahabatnya.

Apakah kisah ini sudah berakhir? Mungkin ini akan menjadi penutup yang akan menuntaskan segala asa bagi Badai…

Luapkanlah komentar kalian sejadi-jadinya, caci maki aku sepuas kalian bila belum puas akan akhir cerita ini, ada sebuah peribahasa lama mengatakan “Tidak umpat yang membunuh, tidak puji yang mengenyangkan.”

Maka aku ingin berpantun :

Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi (mandi bareng pasti asyik tuh…)
Kalau masih anuku panjang
Janganlah engkau potong lagi! (memangnya apaan?)

Topeng kaca berlapis emas
Dibawa berendam sampai pagi (enggak dingin apa?)
Kalau pembaca kurang puas
Namamu Kupinjam kelak datang lagi (itupun kalau masih mau baca…)

Hehehe… akhirul kata saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas atensi teman-teman pembaca selama ini. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan selama penulisan cerita ini.

Salam,
SUGIH

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

2 responses to “#Namamu Kupinjam 9#

  1. aziz inlove ⋅

    napa badai msti berlutut ke tricko bang?
    Napa ga menunduk ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s