Posted on

#Namamu Kupinjam 8#

image

#Namamu Kupinjam 8#

Hari berganti hari, bunga bungur di kompleks perumahan Badai telah habis jatuh berguguran di sepanjang trotoar jalan raya. Sudah beberapa hari ini pula Badai dan Mario saling melupakan. Tak ada lagi Mario yang berkunjung ke rumah Badai untuk berenang bersama Rudy maupun Obby. Tak ada pula Badai menemui Mario untuk berlatih basket dengannya di lapangan kompleks. Sebagai pengganti aktivitas kebiasaannya, Badai kembali melakukan kebiasaan lama yang sempat ditinggalkan olehnya, duduk di depan layar komputer dan ponselnya selama ini.

“Halo cantik,” sapa suara itu lembut di telepon selular Badai.

“Hi, Nico ca’em, udah ma’em, belum?” Badai menggelesoh di atas ranjang.

“Beyum, maunya dicuapin cama cayank,” jawab Nico manja.

“Cantik, kamu nyanyi donk, suara kamu kan merduuuuu bangets,” imbuh Nico.

“Ih alay banget sih Kamu!” cibir Badai.

“Princess Aurelia-ku sayang, aku memang ALAY, tapi alaynya cintaku tak se-alay rayuanku padamu!” tegas Nico.

Badai meregangkan bibir bawahnya, “Heh, dasar bego. Inilah pembalasanku padamu orang sombong!” umpat Badai dalam hati.

“Alah gombal! Cowok di mana-mana semuanya sama!” balas Badai.

“Enggak apa-apa dibilang gombal, yang penting makin hari cintaku padamu makin besar! Sayang, aku pengen tidur siang nih, tapi pengen dinina-bobokan sama Kamu my Princess! Ya, Kamu nyanyi ya sayang!” Nico memelas.

Badai memonyongkan bibir, “Ya sudah, aku nyanyiin deh, asal nanti kamu kirimin aku pulsa ya!”

“Gampang, soal pulsa beres deh!” sahut Nico cepat.

“Oke, sekarang aku mulai nyanyi nih… Nico bobo! Nico bobo! Kalau enggak bobo, nanti digigit kebo!” Badai mulai berdendang.

“Yah, sayang, masa aku digigit kebo, sih? Aku maunya dicium sama kamu, cup cup cup, emmmmuuuuaaach!” Nico mencium mic handphonenya.

Badai menjauhkan ponselnya dari telinganya. Baginya terasa menjijikan mendengar suara kecupan Nico untuknya via handphone. Separah itukah perilaku Nico di kehidupan nyata? Badai sama sekali tidak menyimpan perasaan suka terhadap Nico. Apa yang sedang dilakukannya ini hanya sebatas pelampiasan atas sikap kasar Nico terhadapnya selama ini. Ternyata usahanya berhasil. Nico sungguh tergila-gila kepada penyamarannya sebagai Princess Aurelia. Sampai detik ini penyamarannya tersebut belum ada seorangpun yang mengetahuinya. Artinya ia akan baik-baik saja. Dengan cara ini pulalah Badai berangsur-angsur dapat melupakan masalahnya dengan Mario. Dia tahu Mario takkan mungkin menghampirinya lagi dan mengajaknya bermain. Pasti Mario merasa jijik mempunyai teman sepertinya. 

“Udah, kamu tidur dulu sana! Besok lusa teleponnya kita lanjut lagi. Oke my prince.. Pangeranku yang baik hati!” Badai menutup pembicaraan di telepon.

Tatapannya beralih ke layar komputer. Ia melihat status FB Obby sedang on line. Sudah dua hari ini Badai gencar mendekati Obby, berondong manja-anak mami yang berhasil merebut perhatiannya saat ia mulai patah hati karena Mario. Lagi-lagi Badai mendekati Obby dengan penyamarannya sebagai Princess Aurelia. Dia masih penasaran apakah Obby mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, atau Obby juga  ‘sakit’ seperti dirinya, mempunyai ketertarikan terhadap sesama jenis. Bila dugaan kedua itu benar, besar harapan Badai kelak dia dan Obby dapat merajut hubungan asmara. Dia tak akan peduli gunjingan orang-orang di sekitarnya, toh Mario juga sudah tahu siapa jati diri Badai yang sesungguhnya.

“Hi ganteng,” Badai menulis pesan singkat menyapa Obby.

“Apa???” ketik Obby di panel chat.

“Lagi apa? ^_^” balas Badai cepat.

“Lagi FB-an lah, memangnya kenapa???” panel chat Obby berpindah posisi.

GLEKK!

Badai menelan air liur, “Jutek banget sih ni cowok!” batin Badai.

“Owh, sama dong denganku, ganteng! n_n” Badai mencoba merayu.

“Gak usah lebay deh, aku orangnya biasa saja kok, ganteng dari Hongkong!” timpal Obby.

Badai mengerutkan hidung, “Huh, benar dugaanku. Dia enggak suka cewek, padahal kurang cantik apa sih Princess Aurelia-samaranku ini?!” Badai menggerutu dalam hati.

Badai mengamati kronologi FB Obby dengan saksama. Tertulis dengan jelas bahwa Obby telah menuliskan sesuatu di dinding REVALDO MARIO. Dikliknya halaman terkait.

“Kak Mario jangan sedih, yang sudah pergi, biarkanlah pergi. Kak Kedasih takkan mungkin kembali. apalagi di hatinya hanya ada nama Kak Badai! Di sini masih ada aku yang selalu peduli pada Kakak! Ayo, Kak, bersemangatlah, karena aku takkan pergi meninggalkanmu!” tulis Obby di dinding Mario satu jam yang lalu.

“Terima kasih By atas atensinya. Tapi untuk saat ini Kakak masih ingin menenangkan diri dulu! Kakak masih shock ada masalah lain yang membuat perasaan Kakak kalut, pusing tujuh keliling,” Mario membalas pesan Obby di kolom komentar.

“Memangnya ada masalah apa lagi? Ayo Kak, lebih baik Kak Mario pergi main sama Obby! Pasti pusingnya hilang deh, kalau soal yang bikin pusing itu adalah kerjaan di OSIS, biar nanti Obby bantu menyelesaikannya!” balas Obby di bawah komentar Mario.

“Hmm, dasar si Obby brengsek, dia ingin bahagia di atas penderitaanku! Aku yakin, masalah yang membuat Mario kalut itu adalah pengakuan perasaanku terhadap Mario beberapa malam yang lalu,” Badai mengepal tangannya kuat-kuat geram.

“Ah, emang benar kamu ganteng kok. Aku enggak bohong!” Badai sengaja menulis pesan tersebut di dinding Obby.

Semenit, dua menit, tiga menit, tiada balasan…
Badai menguap lebar, ia juga merasa ngantuk seperti Nico. Direfreshnya halaman profil Obby yang sudah ditulisi pesan dinding olehnya. Badai tertegun karena pesan yang telah ditulisnya tadi tiba-tiba hilang. Apakah Obby telah menghapusnya? Bahkan kotak untuk menulis pesan dinding di dinding profil Obby pun turut sirna. Sepertinya Obby baru saja mengubah pengaturan privasi Fbnya.

Selang tak berapa lama, muncul panel chat Obby di layar monitor, “Jangan menulis macam-macam di dindingku! Memangnya kamu itu siapanya aku? Kenal aja baru kemarin…” tulis Obby.

Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan pelan. Namun Badai terlalu asyik memfokuskan diri di depan layar monitor komputernya. Dada Badai bergemuruh, hatinya semakin panas karena tulisan-tulisan Obby yang kurang menyenangkan baginya.

“Ups, maaf, aku hanya mencoba bersahabat denganmu saja. Begini, kalau kamu mau tahu aku lebih dekat, silakan hubungi nomor ponselku ini : 085224545xxx. Aku tunggu teleponmu!” Badai sengaja meninggalkan nomor handphone yang biasa dipakai iseng menyamar sebagai Princess Aurelia. Tentu saja ini bukan nomor asli yang biasa dipakai sebagai Badai.

“Enggak perlu, enggak penting!” jawab Obby ketus.

Dibukanya kembali halaman yang memuat percakapan Obby dan Mario, untung saja Mario tak mengubah pengaturan privasi Fbnya, sehingga percakapan di antara mereka masih dapat disimak oleh Badai. Walaupun Badai tak bisa ikut membalas komentar percakapan mereka berdua.

“Ya udah, aku enggak bakal maksa, kalau aku yang menghubungi kamu, boleh? Aku minta nomor ponselmu donk!” tulis Badai sambil menahan emosi.

“Lihat saja Obby, akan kubuktikan, kalau kamu bisa kumiliki!” ujar Badai kepada dirinya sendiri.

Obby mengetik di layar komputer, “Mau nomor ponselku? Cari aja sendiri!”

Perasaan Badai semakin dongkol, “Oke, gampang!” balasnya cepat.

“Memangnya aku nggak punya nomor ponselmu, Obby Afrizon! Kamu enggak tahu siapa sebenarnya Princess Aurelia itu sebenarnya, dia adalah aku, BADAI OMBAK SAMUDERA! Wahahahaha…” Badai tertawa sendiri.

Tiba-tiba penglihatan Badai berubah menjadi gelap. Dua buah benda bersuhu dingin menutupi pandangannya.

“Ketawa kok sendirian? Nanti disangka orang, Kamu tuh gila loh!” muncul suara di belakang Badai.

Bulu kuduk Badai berdiri, tubuhnya gemetar dan pikirannya mendadak gelisah.

“Ru… Rudy…” Badai melepas benda dingin yang menutupi kedua matanya. Kedua benda dingin itu ternyata tangan Rudy.

“Kamu kok kelihatan gelisah gitu?” Rudy menangkap gelagat yang mencurigakan pada diri Badai.

“E… enggak apa-apa kok,” jawab Badai gugup. “Kapan Kamu masuk?”

“Ah, yang benar, tadi aku mendengar jelas loh apa yang sedang kamu bicarakan. Kamu suka ngomong sendiri ya, Dai? Aku berdiri di depan pintu kamarmu sudah lebih dari 5 menit, kuketuk beberapa kali tapi Kamu terlalu asyik dengan komputermu. Memangnya benar ya Dai, apa yang Kamu bilang barusan?” perhatian Rudy tertuju ke layar monitor komputer.

Badai gelagapan, “Apa maksudmu, Rud?”

“Tadi aku dengar Kamu menyebut, Princess Aurelia itu sebenarnya adalah Kamu?” Rudy mendorong Badai berbagi tempat duduk.

“Princess Aurelia itu perempuan yang kulihat fotonya di facebook Kamu, tempo hari lalu itu kan?” Rudy mengingat-ingat.

“Dan kalau tidak salah pacarnya Nico yang baru itu ya?” tambahnya lagi terus menyerang Badai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya.

“I… itu…” Badai bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Rudy. Nasibnya bagaikan telur di ujung tanduk.

“Jadi, Princess Aurelia itu sebenarnya adalah Kamu sendiri?” Rudy memastikan.

“Pantas saja, fotonya tidak sama dengan nama aslinya!” mulut Rudy masih berkoar seperti sedang menghakimi Badai.

Seakan halilintar telah menyambar tubuhnya, pernyataan terakhir Rudy berhasil menghentak indra pendengaran Badai, dan menyadarkannya bahwa Rudy mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Badai. Mau tidak mau dia harus berterus-terang kepada Rudy.

“Badai, aku kemari ingin menanyakan perihal masalahmu dengan Mario. Aku sangat mencemaskan hubungan kalian, juga persahabatan kita,” kening Rudy berkerut.

Badai melempar pandangan ke arah pintu kamarnya. Di atas ventilasi pintu kamar itu tergantung sebuah jam dinding antik berbentuk kastil yang tiap tengah malam mengeluarkan seekor burung dan berkicau ‘kikuk-kikuk’.

“Aku sudah tahu permasalahanmu dengan Mario. Karena itulah aku datang ke mari menemuimu, Dai. Aku yakin saat ini Kamu sedang sangat membutuhkan perhatian dan pengertian dari orang-orang terdekatmu,”

Sekali lagi Badai dibuat terperangah oleh setiap ucapan Rudy.

“Rud, Kamu enggak jijik bersahabat sama aku? Aku kelainan, Rud!” bulir air mata menetes jatuh di pipi Badai.

Rudy merengkuh Badai ke dalam dekapannya, “Siapapun tidak ada yang menginginkanmu seperti ini. Aku tahu apa yang sedang Kau rasakan. Tetapi bila semakin terus Kau sembunyikan dari semua orang, perasaan bersalah akan selalu menghantuimu. Percayalah padaku, Dai!”

“Aku.. aku tidak tahu harus berbuat bagaimana, Rud! Sejak kecil aku sudah menyukai Mario! Dan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan cintanya. Aku takut kalau dia akan berubah membenciku. Dan apa yang kutakutkan ini sekarang sudah menjadi kenyataan. Di malam itu dia memintaku untuk membuat sebuah pengakuan. Dan aku tak bisa mengelak,” suara Badai sesenggukan.

Rudy membelai punggung Badai pelan, “Lantas pelarianmu adalah ini?” tunjuknya ke arah komputer.

Badai melepas pelukan Rudy, diusapnya air mata di pipi dengan lengan kanan bawahnya.

“Sudah berapa lama Kamu menyamar sebagai Princess Aurelia dan menjerat para lelaki?” selidik Rudy.

“Sejak 4 bulan yang lalu. Saat aku mengikuti Kontes Vokal Solo Pelajar Tingkat Provinsi. Waktu itu aku berkenalan dengan seorang gadis yang bernama…” suara Badai terhenti.

“PUTRI ERLIANA?” sela Rudy di tengah-tengah penjelasan Badai.

“Hey, bagaimana Kau bisa tahu namanya?” kali ini ucapan Rudy benar-benar memberinya sebuah kejutan.

“Dia sepupuku,” jawab Rudy singkat.

“Dia sepupu… mu?” suara Badai tersendat, tak percaya.

Rudy mengangguk pelan.

“Awalnya saat melihat fotonya di komputermu ini, aku merasa sangat mengenali gadis itu, bukan? Kami sudah lama tidak bertemu, mungkin sekitar 4 atau 5 tahun. Karena aku dan keluargaku tinggal jauh di pulau seberang, sehingga kendala transportasi sangat menghambat pertemuan keluarga kami. Oleh karena itulah ayahku memutuskan untuk hijrah ke pulau ini, selain karena urusan pekerjaannya, juga agar keluarga kami dapat menyambangi keluarga yang tinggal di pulau ini walaupun terpisah di kota yang berbeda,” papar Rudy gamblang.

“Maafkan aku Rud. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memanfaatkan sepupumu. Kedua mataku telah dibutakan oleh dendam,” Badai mencengkeram celananya.

“Dendam?” Rudy terperangah.

“Ya, selama ini aku menaruh perasaan dendam pada Nico,” kepala Badai tertunduk. Perasaan malu bergelayut dalam hatinya. Badai sama sekali tak menyangka kalau Putri Erliana adalah sepupu Rudy. Dan selama ini dia telah memanfaatkan foto-foto Putri Erliana untuk dijadikan foto profil Princess Aurelia, gadis samarannya di dunia maya.

Rudy menarik napas, “Hmm, sudah kuduga,”

Badai menatap Rudy sekilas, “Kalau Kamu marah, pukul saja aku! Kamu berhak untuk memukulku karena telah menyalahgunakan foto-foto sepupumu! Tapi kumohon jangan laporkan aku kepada polisi, please!” Badai berlutut di hadapan Rudy.

Gigi Rudy bergemeletuk, sangat geram. Rudy mengepalkan tangan kanannya dan bermaksud memukul kepala Badai. Badai memejamkan kedua matanya, ia sempat takut melihat kepal tinju Rudy di hadapannya.

“Bodoh! Untuk apa aku marah padamu, toh itu bukan foto-fotoku!” tiba-tiba saja kepal tinju Rudy berubah mengacak-acak rambut Badai.

“Mengapa, mengapa Kamu tidak jadi memukulku, Rud?” tanya Badai terbata-bata.

Diraihnya tangan Badai oleh Rudy untuk berdiri.

“Terkadang mencari musuh itu lebih mudah daripada mendapatkan seorang teman yang sekaligus bisa menjadi seorang sahabat! Aku tidak ingin mengurangi jumlah sahabat yang kumiliki. Kamu adalah sahabatku, Badai!” tatap Rudy lurus menembus retina Badai.

Badai tergugu, lidahnya kian kelu, tak mampu lagi berkata-kata. Perasaannya menyesal telah berbuat yang tidak semestinya dilakukannya.

“Dendam memang bisa membutakan mata hati kita sehingga tak mampu lagi membedakan mana sahabat dan mana penjahat! Asal Kau berjanji takkan mengulangi kesalahan lagi, semua orang akan memaafkanmu, percayalah!” tutur Rudy bijak.

“Selain pada Nico, aku tadi berniat untuk menjebak Obby juga,” suara Badai terdengar lemah di telinga Rudy.

“Ya, tadi aku sudah mendengarnya. Tapi ada dendam apa antara Kamu dengan Obby?” Rudy memegang kedua bahu Badai saling berhadapan.

“Aku merasa yakin Rud, kalau dia.. kalau dia juga ‘sakit’ sepertiku,” suara Badai tercekat ditenggorokan.

Rudy menautkan kedua alisnya.

“Tidakkah kamu perhatikan gelagat Obby yang selalu bersikap manja kepada Mario. Selalu menuntut perhatian Mario. Semua itu tampak jelas di mataku kalau Obby memiliki kelainan sepertiku!” Badai membuang pandangan ke samping. Ia tak kuasa ditatap dalam oleh sahabat baiknya itu.

“Lalu apa tujuanmu?” Rudy menahan pegangannya di bahu Badai.

“Aku ingin mendekatinya, dan akan kujadikan dia sebagai kekasihku!” jawab Badai setengah berbisik.

Rudy menatap bola mata Badai lebih lekat. Kemudian tiba-tiba saja ia melepaskan kedua tangannya di bahu Badai. Tak lama ia tergelak menertawakan pengakuan Badai yang begitu polos namun mantap.

“Hahaha… Memangnya kamu yakin, si Obby mau jadi kekasihmu?” Rudy berguling-guling di lantai. 

Badai duduk di sebelah Rudy berselonjor kaki. Kedua tangannya menopang punggungnya yang hampir merebah ke lantai.

“Orang sepertiku dan Obby, sangat memerlukan pasangan untuk dapat saling berbagi dan mengisi kehidupan masing-masing. Ini baru kusadari setelah aku memendam perasaan terhadap Mario selama lebih dari 5 tahun!”

Rudy duduk bersila dan bertopang dagu menyimak perkataan Badai.

“Kalau saja, aku tidak pernah pingsan karena Mario, Kau tidak akan kerepotan menggendongku. Sampai Kau mendengar jelas igauanku menyebut nama Mario dalam tidurku, mungkin kelainanku ini tidak akan pernah ketahuan ya?” Badai menekuk kedua kakinya dan menundukan kepalanya merapat pada lutut.

Rudy mengusap punggung Badai sebagaimana yang telah dilakukannya tadi saat dia memeluk tubuh ringkih itu.

“Saat ini Badai memerlukan seorang sahabat sepertiku. Sahabat yang mau mendengar keluh kesahnya di saat dia terpuruk seperti ini,” batin Rudy dalam hatinya.

“Mengapa Kamu begitu baik kepadaku, Rud? Mengapa Kamu tidak risih atau jijik akan keabnormalanku? Apakah Kamu juga memiliki kelainan sepertiku dan Kau ingin menjadikanku sebagai kekasihmu?” tembak Badai ceplas-ceplos.

Rudy kembali tergelak, tangannya menahan perutnya yang mulai kram karena kesakitan menahan tawa.

“Badai.. Badai.. kayanya Kamu ambisius banget ingin cepat punya pacar. Memangnya Kamu naksir aku?” genangan air mata terperas di pelupuk matanya akibat tawa.

Kedua bibir Badai mengerucut, “Kalau iya kenapa?” Badai memberikan jawaban sekaligus menjadi sebuah pertanyaan untuk Rudy.

Mendengar lontaran pertanyaan Badai tersebut Rudy mendadak terdiam. Disusutnya genangan air mata di pelupuk matanya.

“Aku bosan selalu merasa kesepian, Rud! Setiap kali aku bertemu Nico dan kawan-kawan genknya, aku selalu diejek, diolok-olok, dihina, dan dicaci-maki olehnya. Gaya berbicaraku, gaya berjalanku, gaya berpakaianku, semua penampilanku selalu tak lepas dari kritik pedasnya. Belum lagi, kakak perempuanku pernah membuat sebuah skandal, dia  menjalin hubungan gelap dengan salah seorang guruku di sekolah yang sudah berkeluarga, hal itu menjadi buah bibir orang-orang di sekolahku hingga menyebar di kompleks perumahan ini. Namaku terbawa-bawa dalam perbincangan kabar burung itu. Aku menjadi malu, dan tak berani keluar rumah. Hari-hariku sepi hanya bertemankan dunia maya,” pandangan Badai masih menelungkup.

“Aku juga pernah mengalami apa yang Kau rasakan!” Rudy bangkit dari duduknya dan berpindah ke depan komputer.

Badai mendongakan kepala, “Maksudmu Kamu juga memiliki kelainan sepertiku?” tanya Badai penuh harap kalau Rudy akan menjawab dengan kata ‘YA’.

Kenyataan menunjukan fakta lain, Rudy menggelengkan kepala. Badai pun kecewa.

“Maksudku, dulu aku juga pernah merasakan jadi orang yang dikucilkan oleh teman-temanku!” pungkas Rudy.

“Sejak kecil hingga SMP aku mengidap penyakit asma. Sehingga aku tidak bebas bergerak dan bermain semauku. Bila aku melakukan kegiatan yang terlalu menyita energi, penyakit asmaku sering kambuh. Napasku megap-megap seperti ikan yang terkapar di daratan. Akibatnya mamaku melarang keras aku bermain di luar rumah. Dan aku mulai dikucilkan oleh teman-temanku. Aku sama sekali tak mempunyai seorang teman pun. Semuanya menjauhiku dan mengejekku ‘SI BENGEK’. Aku sangat sedih, Dai. Bahkan di saat teman-temanku bebas melakukan kegiatan olah raga yang kusukai seperti basket dan renang, aku hanya dapat memandangi mereka dari kejauhan,” air muka Rudy berubah sendu.

“Lalu?” Badai menyela perkataan Rudy.

“Untung saja, mama rutin membawaku berobat sampai aku benar-benar sembuh. Tapi tetap saja, gelar ‘SI BENGEK’ masih melekat pada diriku. Masih saja aku dikucilkan oleh semua orang di sekolahku. Karena itulah akhirnya aku membujuk papa agar kami pindah rumah, ke kota kelahiran papaku ini, dengan harapan aku akan mendapatkan teman dan sahabat baru di sini,” kenang Rudy dengan mata berbinar.

“Saat pertama kali aku melihatmu melintasi lapangan basket kompleks perumahan kita ini, kemudian Kamu diolok-olok oleh Nico, dan Kamu berlari sambil menangis, aku seperti melihat diriku sendiri sewaktu mengidap penyakit asma dulu. Karena itulah aku ingin bersahabat denganmu. Aku tahu bagaimana rasanya dikucilkan,” Rudy mengakhiri ceritanya.

Badai menghampiri Rudy ke meja komputer. Dipeluknya pinggang Rudy erat, “Terima kasih ya, Rud, sudah mau menjadi sahabatku. Maafkan aku juga kalau aku sempat menaruh harapan padamu untuk jadi kekasihku! Aku janji, takkan berharap lebih darimu. Pokoknya Kamu adalah MY BEST FRIEND FOREVER!” kepala Badai bersandar di punggung Rudy yang hangat.

“Dai, sebaiknya mulai saat ini Kamu berhenti membalas dendam pada Nico, ya? Biar Tuhan yang membalas segala perbuatan Nico terhadapmu. Jadi, akun PRINCESS AURELIA ini kita nonaktifkan ya?” Rudy memutar kepala ke belakang.

Badai mengangguk mengiyakan saran Rudy padanya, “Tapi Kamu tidak akan menghalangi usahaku untuk mendekati Obby kan? Aku enggak akan pakai foto-foto sepupumu lagi, deh!”

Rudy melepaskan pelukan Badai di lingkar pinggangnya, berbalik menghadap Badai lalu mengacak-acak rambut Badai, “Kamu ini, benar-benar kebelet pengen punya pacar ya!”

Badai tersenyum nyengir kuda, “Lebih asyik lagi kalau yang jadi pacarku itu, KAMU!” goda Badai.

“Rud, berjanjilah padaku, Kau tidak akan membocorkan rahasiaku ini kepada siapapun! Kamu sahabatku yang bisa kupercaya,”

Rudy tak menjawab dengan ucapan atau untaian kata-kata, kedua bibirnya hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang menawan seraya menganggukan kepala. Perasaan Badai mulai plong, beban yang selama ini dipikulnya berangsur-angsur terasa lebih ringan dan hilang seketika.

♥♥♥

Badai mengintip ke luar jendela kamarnya, dia melihat sebuah motor besar memasuki pekarangan rumahnya. Ibunda Badai membukakan pintu rumah untuk sang tamu yang ternyata seorang pemuda tanggung. Dia datang mengenakan sebuah kaus oblong putih dipadu vess hitam sehingga mengesankan suasana santai namun elegan. Celana jeans hitam pekat menutupi pinggang ke bawah tubuh pemuda itu. Rambut rawingnya yang runcing berdiri tegak mengesankan gaya anak muda gaul.

“Selamat sore Tante, Kak Badai ada?” tutur pemuda itu sopan.

Ibunda Badai memicingkan mata, “Ada. Kamu Obby kan ya?” disambutnya uluran tangan si pemuda yang bermaksud mencium tangannya.

“Iya, Tante. Saya Obby, adik kelasnya Kak Badai,” Obby membungkuk santun.

“Sebentar ya Nak Obby, Tante panggilkan Badai dulu. Kebetulan Rudy baru saja pulang bertamu ke mari, mari silakan masuk!” ibunda Badai menebar senyuman ramah.

“Badai, Badai, ada Obby datang, Nak!” panggil ibu setengah berteriak menaiki tangga.

Tak disangka, Badai sudah ada di puncak tangga hendak turun menemui Obby. Dia sudah mengintip kedatangannya tadi.

“Hi, By, tumben. Kok sendirian?” sapa Badai seraya menyalami Obby.

“Kak, ikut aku yuk! Aku ada perlu nih sama Kakak, tapi enggak enak ngomongnya di sini!” ajak Obby bangkit berdiri dari posisi duduknya.

Badai bertanya-tanya dalam hati ‘Ada apa Obby mengajakku keluar?’. Badai menarik tangan Obby, “Kita ngobrol di kamarku saja, yuk!”

Obby melepas pegangan Badai di pergelangan tangannya. Obby menolak ajakan Badai. Kini bergantian tangan Badai yang ditarik oleh Obby ke luar ruangan menuju motor besarnya yang diparkir di halaman. Diserahkannya sebuah helm pada Badai.

“Nih, pakai!” titahnya, melempar helm pada Badai.

Badai tidak langsung memakai helm yang dilempar Obby, “Memangnya kita mau pergi ke mana By?”

“Udah, ikut saja!” Obby tak banyak bicara.

Dalam hati Badai bersorak girang, YESS! “Belum pendekatan sudah ngajak kencan, deuh Obby, Kamu benar-benar cowok romantis!” lamunan Badai memenuhi pikirannya.

Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Obby maupun Badai. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.  Satu bahan pembicaraan pun tidak ada. Padahal suasana lalu lintas jalan raya sore itu sangat lengang dan sepi.

Motor yang dikemudikan Obby berbelok ke sebuah blok dan berhenti di sebuah taman asri yang banyak ditumbuhi tanaman bougenville dengan bunganya yang beraneka warna : merah, pink, dan putih.  Tanaman bunga pukul empat berbaris rapi memanjang sepanjang jalan yang tertutup paving lurus ke arah sebuah pondok bundar di tengah taman.

Badai memandang ke sekeliling. Beberapa minggu yang lalu dia menyaksikan dua sejoli yang asyik memadu kemesraan tepat di bawah lampu taman di salah satu pojokan taman ini.

“Duduk, Kak!” perintah Obby datar.

“Ada apa By, mengapa kita ke sini?” Badai melabuhkan pantatnya di bangku taman. ‘Akankah kemesraan yang pernah dirasakan Mario dan Kedasih dua minggu yang lalu akan turut kurasakan bersama Obby saat ini?’ Badai menerka-nerka tak menentu.

“Sebenarnya aku ingin mengajak Kakak ke telaga, tapi tadi dalam perjalanan menuju rumah Kakak kulihat suasana di sana agak ramai. Jadi kubawa Kakak ke sini saja,” Obby mengantungi kunci motornya ke dalam kantung celananya.

“Kak, aku ingin bertanya, sebenarnya Kak Badai suka enggak sih sama Kak Kedasih?” Obby mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Badai. Jarak wajah mereka sangat dekat.

“Duh, si Obby kok nanya gitu ya? Apa dia mau nembak aku ya?” Badai melamun.

“Kak, kok diam sih? Maaf kalau pertanyaanku terlalu pribadi,” Obby mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Badai.

“Oh, eh, maaf By, aku ngelamun,” Badai tersenyum kecil.

“Uh, Kak Badai, kebiasaan deh, melamun terus!” Obby mencibir.

“Sebenarnya perasaan Kak Badai kepada Kak Kedasih bagaimana? Kak Badai menyukainya?” ulang Obby melontarkan pertanyaannya yang sudah disebutkan sebelumnya.

Badai kikuk, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Itu… aku tidak tahu, By,” lidah Badai kelu.

Obby merapatkan jari-jari kedua tangannya, “Kakak tahu kan kalau Kak Kedasih menyimpan perasaan pada Kak Badai?”

Badai bergumam, “Hmm..”

“Kakak membalas perasaannya?” Obby sangat penasaran.

“Dan Kamu ingin mencampuri urusan ini?” Badai sengaja memancing perasaan Obby. Niat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Obby padanya.

“Kumohon Kakak jangan tersinggung! Aku hanya bermaksud ingin memperbaiki hubungan Kak Badai dengan Kak Mario. Sejak kepergian Kak Kedasih, Kak Mario mengurung diri terus dalam kamar. Aku sangat mencemaskannya, Kak! Aku tahu Kak Mario pasti sangat marah padamu karena Kak Kedasih tidak membalas cintanya, di hati Kak Kedasih hanya ada namamu. Andaikan aku menjadi Kak Mario, aku juga pasti akan bersedih dan berharap dapat meminjam namamu agar Kak Kedasih dapat mencintainya!”

“Sulit By. Ada hal yang mungkin tidak Kau ketahui antara aku dan Mario,” Badai meremas-remas jari-jari tangannya.

“Lantas sekarang Kak Badai ingin menjadi musuh Kak Mario? Atau selama ini Kak Badai memang serigala berbulu domba? Musang berbulu ayam?” suara Obby meninggi.

“Itu juga bukan keinginanku! Mario sendirilah yang menyuruhku untuk tidak menemuinya lagi! Aku sempat marah padanya karena selama ini aku hanya diperalat agar dia bisa mendapatkan Kedasih, By! Tapi setelah pertengkaran kami malam itu, aku sungguh menyesal dan merasa kehilangan dia sebagai sahabatku,” disandarkannya punggung Badai pada dinding.

“Aku masih bingung, Kak Badai mencintai Kak Kedasih?” tuding Obby salah menyimpulkan maksud perkataan Badai.

“Tidak By! Aku sama sekali tak pernah mencintai gadis aneh itu!” Badai keceplosan.

“Gadis aneh? Kakak bilang Kak Kedasih gadis aneh?” ulang Obby.

“Tak usah kaget, By! Mario sudah sering kubilangi kalau Kedasih itu gadis aneh menurutku! Kadang dia bersikap dingin, kadang bersikap manis, kadang ekspresi wajahnya misterius, bahkan dalam 10 menit saja dia bisa menunjukan 10 macam ekspresi yang berbeda!” urai Badai tanpa membalas tatapan Obby.

“Oh, jadi karena itu Kak Mario marah kepada Kak Badai?” Obby menarik kesimpulan, mimik wajahnya begitu polos.

Ah, setidaknya jawaban Badai tidak akan membuat Obby emosi padanya. Pikir Badai.

“By, jangan-jangan Kamu suka Kedasih, ya?” goda Badai.

Obby garuk-garuk kepala, “Ah, enggak!” kedua tangannya terbuka berputar-putar depan dada.

“Kamu sudah punya pacar, By?” pancing Badai lagi.

Mungkin ini saat yang tepat bagi Badai untuk mencari tahu kebenaran fakta mengenai Obby, benarkah Obby menyukai Mario?

Obby tersenyum menggeleng, “Be-lum, Kak!” ucapnya dengan intonasi mendayu.

“Wah, tiap hari Kamu menempel sama Mario terus sih, gimana bisa punya pacar? Yang ada nanti Kamu malah jadi pacarnya Mario…” akhirnya lepas juga pertanyaan yang terasa berat untuk dikeluarkan dari benak kepalanya.

Wajah Obby memerah, “Mengapa Kak Badai berbicara seperti itu? Memangnya aku kelihatan ada tampang gay?”

Dalam hati Badai bersorak, ‘Kena Kamu Obby! Ayo sekarang mengakulah bahwa Kamu menyukai Mario!’

“Ah, enggak juga. Kamu ganteng loh, pasti banyak cewek di sekolah kita yang tergila-gila padamu. Tapi kenapa Kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mario?” ini mungkin pertanyaan yang lebih etis dibandingkan pertanyaan dan pernyataan sebelumnya.

Obby menyobek sehelai daun bougenville yang tersibak di sela-sela jendela paviliun pondok.

“Bilang saja kalau Kak Badai mau tahu kenapa aku dekat banget sama Kak Mario!”

Badai sumringah, sedikit malu.

“Sewaktu aku masih berada dalam kandungan, mamaku dan mama Kak Mario telah menjodohkan kami. Waktu itu hasil USG menyatakan bahwa aku berjenis kelamin perempuan. Anehnya, begitu aku terlahir ke dunia ternyata aku berjenis kelamin laki-laki. Maka batallah perjodohan kami berdua. Padahal waktu aku belum lahir mamaku dan mama Kak Mario ke mana-mana sudah selalu jalan berdua layaknya sepasang besan. Mama Kak Mario sampai membelikanku pakaian bayi perempuan, sepasang dengan pakaian bayi untuk Kak Mario. Bahkan mama kami sudah merencanakan nama kami sepasang REVALDO MARIO-REVALINA MARIA. Jadi kalau aku terlahir perempuan, namaku adalah REVALINA MARIA! Tapi begitu melihat kelahiranku, nama itu urung diberikan padaku. Kebetulan sewaktu hamil dulu mama sangat suka makan kue obi, dan papa baru pulang dari tugas dinas di Afrika, maka jadilah namaku berubah menjadi Obby Afrizon!” beber Obby panjang lebar.

Badai menyimak dengan seksama diiringi tawa sesekali.

“Lucu ya, Kak?” Obby memanyunkan bibirnya merasa diolok-olok.

“Unik banget, By! Jadi mama kalian masih suka baca novel Siti Nurbaya toh?” sindir Badai.

Obby mendengus, “Nggak apa-apa, zaman peradaban modern perjodohan masih diperlukan, daripada nanti sulit jodoh!”

Badai terdiam, seakan-akan perkataan Obby baru saja menampar pipinya. Hingga saat ini ia sendiri tak berhasil mendapatkan jodoh yang diharapkannya.

“Hmm, Kamu benar juga REVALINA MARIA!” gurau Badai tersenyum jahil. Dibalasnya dengan tinju kecil oleh Obby di lengan Badai hingga Badai terpekik.

“Jadi Kak Badai enggak ada niat buat baikan sama Kak Mario?” tanya Obby hati-hati.

“Pengen banget, By! Tapi Mario sangat marah padaku dan menyuruhku untuk menjauh darinya, aku sudah tidak boleh menemuinya lagi!” ratap Badai murung.

“Hmm… baiklah. Nanti kan kuusahakan supaya Kak Mario mau berbaikan lagi dengan Kak Badai, deh!” Obby menepuk pundak Badai memberinya semangat.

“Tapi sekarang aku bingung bagaimana cara Kak Mario bisa melupakan kesedihannya karena ditinggalkan Kak Kedasih ya?” Obby mencoba berpikir.

Badai berpikir sejenak, “Setahuku pengalaman sejak kecil yang pernah kulihat, saat Mario sedang sedih… kalau tidak salah mamanya selalu membujuknya mengajaknya ke arena ice skating! Iya, kalau tidak salah beberapa bulan lalu kami pernah pergi ke arena ice skating berempat dengan Kedasih dan Camelia. Mario sempat bercerita padaku kalau ice skating adalah satu-satunya tempat yang bisa membuatnya terlupa akan kesedihan yang sedang dialaminya!” Badai mengenang double date bersama ketiga sahabatnya.

“Kak Badai yakin?” Obby memastikan.

Badai tak menjawab. Pandangannya teralihkan pada sosok beberapa orang yang sedang melintas di sekitar taman.

“Hey, lihat si Cupu ada di sini! Dia sedang mojok bersama seseorang!” sorak seorang pemuda, tak lain adalah Nico. Tangannya menenteng sebilah papan skateboard.

Suara khas itu memang selalu memanggil namanya dengan sebutan si Cupu. Rifkan yang selalu mengekor di belakangnya tertawa terkekeh dipaksakan.

“Wah, sama daun muda, bo!” celetuk Rifkan cengengesan.

“Gagal dapat Mario pelampiasan loe sama si Obby, Dai?” sindir Nico.

“Apa sih maksud Kak Nico itu?” Obby melempar pandangan pada Badai.

“Sudah jangan digubris, By! Ayo, sebaiknya kita lekas pergi dari sini!” Badai menarik tangan Obby hingga menyebabkan kaki Obby tersandung batu, namun tidak menyebabkannya terluka.

“Hey, By, Kau sudah diapakan saja oleh si Cupu? Pasti Kau habis diciuminya, hah?” teriak Nico di kejauhan, kakinya mengayuh skateboard mencoba mendekat.

“Haha… Obby doyan bencong!” Ejek Rifkan menyusul di belakang Nico.

Badai berharap semoga telinga Obby tersumbat sehingga tidak dapat mendengar untaian kalimat bernada ejekan tadi yang dilontarkan oleh Nico dan Rifkan. Kalimat terakhir adalah kalimat yang paling menyakitkan baginya. Sudah tidak asing bila ia sendiri yang mendengarnya langsung dari mulut Nico maupun Rifkan. Tetapi bila harus dipublikasikan ulang di depan teman-temannya tentu hal ini sangat menyayat hati Badai.

Sejak kecil Nico dan Rifkan memang sering menghinanya, baik di lapangan kompleks perumahan mereka, di taman, maupun di jalan tiap kali mereka berpapasan. Mereka berdua tak pernah bosan mengkritik sifat Badai yang agak kemayu. Tutur kata Badai teramat halus saat berbicara. Namun seiring berjalannya waktu sifat-sifat lembut tersebut berangsur-angsur berkurang. Hanya satu hal yang tidak pernah berubah dalam dirinya, ia senang memandangi keindahan bunga. Terutama bunga bungur yang banyak tumbuh di sepanjang jalan kompleks perumahannya tinggal.

Obby segera menghampiri motornya, menstarter dan menyuruh Badai untuk segera naik ke atas boncengannya.

“Sebetulnya Kak Badai punya masalah apa sih dengan duo koplak itu?” tanya Obby di tengah perjalanan.

“Entahlah, aku sendiri tak tahu. Sejak kecil mereka memang sudah begitu terhadapku. Mereka sangat membenciku, selalu menuduh yang tidak-tidak, menghina aku sesuka hati, tanpa pernah merasa bosan,” Badai menutupi keadaan.

“Kak, Kak Badai gay, ya?”

Bagai petir di siang bolong, suara Obby kali ini sangat mengejutkannya. Bagaimana bisa Obby memvonisnya dengan tepat?

“By, Kamu percaya pada perkataan Nico dan Rifkan mengenai aku?” Badai balik bertanya, suaranya teramat pelan nyaris tak terdengar.

Obby meminta Badai mengulangi pertanyaannya. Tanpa diminta ulang, Badai menyampaikan apa yang telah diucapkannya.

“STOP By!” Badai merenggangkan pegangannya di pinggang Obby.

Mulut Obby melongo, keheranan, “Kok turun di sini?”

“By, semua celaan Nico dan Rifkan, sejak dulu mempengaruhi Mario agar tidak berkawan denganku. Demikian juga denganmu, aku tahu apa yang sedang Kaupikirkan. Di kepalamu masih terngiang omongan mereka kan? Sudahlah sebaiknya Kau pulang, jangan pikirkan tentangku lagi!” Badai berbalik dan berjalan meninggalkan Obby.

“Kak, Kak Badai! Kak Badai marah sama aku?” Obby menghampiri.

“Aku minta maaf ya Kak, kalau kata-kataku ada yang salah,” diulurkan tangannya pada Badai.

Badai tak menggubris.

“Maaf By, ini bukan waktu yang tepat untuk mengakui perasaanku terhadapmu. Jujur, aku mulai suka padamu. Tapi aku harus menunggu sampai bukti-bukti kebenaran bahwa Kau juga ‘sakit’ sepertiku berhasil kudapatkan, baru nanti akan kuungkapkan kepadamu kalau kita bisa menjadi pasangan yang saling membutuhkan!” ditelusurinya jalanan dengan langkah tertunduk lesu. Badai sibuk dengan pikirannya sendiri.

Obby melepas helmnya berjalan mengikuti langkah Badai beriringan. Ditapakinya jalan trotoar sepanjang kompleks. Langkah mereka terhenti tepat di sebuah rumah mewah nan megah bercat warna pastel, dan suasana halaman yang rindang ditumbuhi beberapa tanaman buah : mangga, belimbing, jambu air, dan lain-lain. Badai menatap lantai dua rumah itu hampa.

“Kak, itu rumah Kak Mario. Ayo kita masuk dan menemuinya!” ajak Obby membuka pintu pagar.

Saat sosok Mario muncul di beranda loteng rumahnya, Badai langsung berlari kencang pulang ke rumah. Mengunci diri dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya.

==Ƹ00♥00Ʒ==

Sejak beberapa hari yang lalu Badai telah berjanji kepada Rudy untuk tidak menyalahgunakan foto-foto Putri Erliana lagi. Nico dan Triko sangat terkejut akan hilangnya akun Princess Aurelia di dunia maya yang sangat mereka gandrungi. Tak juga aktif dengan nomor ponsel sang Princess yang dulu sering Triko hubungi. Sejak malam Princess Aurelia memutuskan hubungannya dengan Triko, Badai mengganti kartu telepon yang biasa dipakainya menyamar sebagai sang princess. Badai sengaja menghapus jejaknya dari memory Triko. Wajah cantik itu benar-benar telah menghilang dari peredaran. Seolah tenggelam ditelan lautan.

Nada dering di sebuah ponsel melantunkan lagu Bondan Prakoso-Tak Terkalahkan. Seorang pemuda meraba-raba ke meja di samping ranjangnya. Tubuhnya menggeliat seraya menguap masih terkantuk-kantuk. Diraihnya ponsel yang berdering di atas meja. Sebuah reminder muncul di layar ponsel. Hari ini tepat hari ulang tahunnya. Ditekannya tombol-tombol ponsel menggunakan jari-jarinya yang lincah. Dia membuka aplikasi chat messenger salah satu blog di dunia maya dan mulai mengupdate status sebelum membaca pesan-pesan yang masuk dari beberapa orang temannya yang mungkin ingin mengucapkan selamat dan memanjatkan doa untuknya.

Di salah satu nama para pengguna, muncul sebuah nama baru yang mengajukan permintaan pertemanan dengannya. Meski pernah kenal, ia tahu persis kalau mereka belum pernah berteman di dunia maya.

KEDASIH AMELIA.

Dikliknya tab konfirmasi. Kemudian dijelajahnya foto-foto profil sang pengguna yang ternyata menunjukan bahwa akun atas nama Kedasih itu baru saja dibuat beberapa hari yang lalu.

“Thanks, sudah add. Bagaimana kabar Kanada? Kapan pulang ke Indonesia?” ketik pemuda itu di kotak shoutbox dinding Kedasih.

Setelah itu jemari tangannya asyik berseluncur mengklik tautan yang lain. Dinding profilnya pribadi dipenuhi ucapan selamat ulang tahun dari sejumlah teman yang mengenalnya.

Nada Tak Terkalahkan milik Bondan Prakoso kembali berdering, kali ini sebuah panggilan masuk.

“Haloo…” sahutnya.

“Happy birthday to you.. Happy birthday to you..” suara di ujung telepon berdendang riang.

“Thanks ya, By. Kamu tahu dari mana hari ini aku ulang tahun?” pemuda bertubuh atletis proporsional itu menjepit ponselnya antara telinga dan bahu.

Tangannya meraih handuk di rak jemuran. Dilepasnya kaos yang melekat di tubuhnya, dan menurunkan celana dari pinggangnya berganti dengan lilitan handuk.

“Aku tahu dari facebook. Oh ya, selain Kakak, Kak Badai juga berulang-tahun hari ini loh!” suara Obby terdengar riang.

“Oya?” sahut si pemuda. Wajahnya berkaca di depan cermin dalam toilet. Mematut-matut diri akan kegantengan wajah yang dimilikinya. Tidak salah memang, bila banyak gadis di sekolahnya termasuk para guru wanita terkagum-kagum padanya. Dia sangat GANTENG!

“By the way Kakak lagi apa nih? Mumpung ini hari libur, jalan-jalan yuk, traktir Obby dong sekali-kali!” suara Obby benar-benar manis membujuk-rayu yang sedang berulang-tahun.

“Oke, boleh saja, kita ketemuan di Catelia Caffe ya, jam 10. Sekarang Kakak mau mandi dulu, oke?! Jangan lupa ajak Mario sekalian!” si pemuda menutup teleponnya, lalu menanggalkan handuk di pinggangnya dan menyalakan kran shower, menikmati tetesan demi tetesan air yang terasa sejuk menerpa tubuhnya.

Catelia Caffe 10.10 WIB

“Kak, kok telat? Kirain nggak bakal jadi mentraktir!” Obby menyambut pemuda yang telah diteleponnya beberapa jam yang lalu.

“Sorry, tadi aku jemput Badai dulu ke rumahnya,” pemuda itu menarik tangan Badai yang bersembunyi di balik punggungnya.

“Kak Triko kenapa enggak bilang mengajak mereka juga?” kepala Badai tertunduk malu.

Mario menyalami tangan Triko si pemuda atletis, “Kak, mungkin aku ke sini cuma mau mengucapkan selamat dan menyerahkan kado ini untuk Kakak. Selamat ulang tahun ya, Kak. Semoga apa yang Kakak harapkan dikabulkan oleh Tuhan!”

Triko menyambut uluran tangan Mario, “Loh, memangnya Kamu mau ke mana? Ayo kita makan dulu di sini, hari ini aku kan ulang tahunnya bareng Badai, jadi semua makanan kami berdua yang bayar,” diterimanya sebuah bingkisan dari tangan Mario.

“Tidak usah Kak. Sebelumnya terima kasih, tapi sepertinya aku harus…” tenggorokan Mario tercekat.

“Kak Mario kok gitu? Kakak enggak dewasa banget deh, mentang-mentang di sini ada Kak Badai, lantas Kak Mario bermaksud menghindar,” Obby menarik tangan Mario supaya duduk bersamanya.

Meski berulang-kali berontak untuk melangkah pergi, Obby tak bosan menariknya untuk duduk lagi. Mario sangat tidak ingin bertatap muka dengan Badai. Entah perasaan apa yang sekarang menggelayuti pikirannya terhadap Badai, apakah dia membencinya, jijik, kesal, marah, atau kasihan, Mario sendiri tak tahu. Triko menatapnya dengan perasaan memelas berhasil membuat Mario tak berkutik.

“Memangnya Kalian berdua sedang ada masalah ya?” Triko memandangi Badai dan Mario bergantian.

“What? Upin dan Ipin lagi ada masalah? Pantesan beberapa minggu ini sejak kepergian Kedasih ke luar negeri kalian berdua enggak pernah nongol barengan!” suara cempreng itu muncul tiba-tiba.

Triko dan Badai menoleh ke belakang, Camelia datang didampingi Rudy. Tangannya terlihat mesra menggandeng lelaki pujaan hatinya. Namun tidak pernah ada kejelasan dari Rudy mengenai kedekatan hubungan mereka. Apakah Rudy menerima cinta Camelia atau tidak.

“Eh, anak kembar, jangan lama-lama ya kalau bertengkar! Dalam agama gue haram hukumnya kalau bertengkar lebih dari 3 hari!” goda Camelia dengan gaya centilnya yang khas.

“Happy birit day Badai, happy birit day Kak Triko!” disalaminya Badai dan Triko satu-persatu tanpa ketinggalan salam cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri) yang tak terlalu menempel pada pipi.

“Enggak nyangka, Kakak berdua juga datang!” sambut Obby hangat.

“Kami diundang oleh Badai!” tukas Rudy merespon Obby.

“Kenalkan Kak, ini Rudy, tetanggaku dan… Mario,” Badai memperkenalkan Rudy pada Triko. Saat menyebutkan nama Mario suara Badai berubah mengecil.

“Calon suami gue loh, Kak!” Camelia turut berpromosi kenes.

“Hi, aku Triko. Kakak kelas mereka semua ini,” Triko mengulurkan tangannya.

“Rudy,” tangan Rudy membalas jabat tangan Triko. Wajahnya memerah malu karena ulah Camelia yang mengklaim bahwa dirinya sebagai calon suami Camelia. Masih terlalu jauh pikirnya.

“Selamat ulang tahun untuk Kalian berdua,” Rudy menyerahkan sebungkus kado berukuran lumayan besar cukup untuk mengepak sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka.

“Thanks ya Rud, Mel,” Badai menerima suka cita hadiah pemberian kedua sahabatnya itu.

Mario duduk terdiam tak mempedulikan obrolan kawan-kawannya. Dia lebih banyak melamun dan tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Yo, dari tadi kok melamun terus? Kamu enggak enjoy ya, sama kita?” gubris Triko hati-hati.

“Ah, gue tahu. Pasti si Ipin lagi kepikiran kenangannya bersama Kedasih di tempat ini dulu!” seru Camelia menebak-nebak.

Triko tertarik mendengarkan penuturan Camelia, “Memangnya Mario dan Kedasih pernah punya kenangan di caffe ini ya?”

Camelia mengangguk, sedangkan Mario membuang pandangan acuh tak acuh.

“Di caffe ini, dulu Kedasih ngebeeeet banget berfoto bareng dengan Badai sampai berkali-kali, kelihatannya sih Kedasih naksir Badai. Ya gue suruh aja si Kedasih nembak si Badai. Kagak tahunya ada Mario yang lagi cemburu!” ungkap Camelia mengenang double datenya bersama Badai dan Mario sebelum dia dipertemukan dengan Rudy.

Mario berdeham.

Triko menyimak penuh antusias.

“Tapi sayang ya, kembang bungur kesukaan kami, tempat kami berfoto-foto dulu sekarang sudah gugur semua kelopaknya!” tunjuk Camelia ke arah sebatang pohon yang sudah rontok habis bunganya.

Beberapa orang berseragam kaus kuning cerah nan casual dipadu celana jeans biru licin datang menghampiri sekelompok muda-mudi itu membawakan daftar menu masakan khas andalan caffe seperti biasanya. Hari libur seperti ini caffe terbuka tersebut selalu ramai dijejali pengunjung kalangan anak muda-remaja. Tempat ini memang asyik dan cocok buat menjadi tempat nongkrong anak gaul.

Triko menuliskan sendiri apa yang ingin dipesannya. Kemudian menyerahkan catatan pesanannya kepada salah seorang pelayan yang ada di dekatnya.

“Ngomong-ngomong soal Kedasih, tadi pagi pas aku buka blog pribadiku di internet, aku kaget, Kedasih ternyata suka ngeblog juga loh! Dia nge-add aku!” gantian Triko bercerita.

Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Triko mata Mario dan Camelia mendadak terbelalak, wajah mereka tercengang. Sementara Badai menunjukan sikap gugup.

“Apa tadi Kakak bilang?” tanya Mario mulai mengeluarkan suara setelah terdiam cukup lama.

“Kedasih tadi pagi nge-add aku di blog pribadiku. Kalian mau lihat? Sebentar ya aku buka hp-ku!” Triko merogoh ponselnya di dalam saku celananya.

“Tidak mungkin!” desis Camelia.

“Hey, Kalian kenapa sih? Apanya yang tidak mungkin Kak Camelia?” mulut Obby melongo keheranan.

“Dulu di tempat ini juga Kedasih pernah bilang kepada kami, bahwa dia tidak menyukai dunia maya terutama jejaring sosial! Baginya hal seperti itu hanya membuang-buang waktu dan biaya!” ungkap Mario mengenang masa lalu.

Sekarang gantian Triko dan Rudy dibuat terbengong-bengong saling memandang.

ΨΩωωΩΘΩωωΩΨ

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s