Posted on

#Namamu Kupinjam 7#

image

=×Ω♥♥♥Ω×=

#Namamu Kupinjam 7#

Sebuah pesan masuk dari Nico di akun Princess Aurelia, “Pagi sayang, sudah bangun belum?”

Badai mengetik balasan secepat mungkin, “Sayang, aku ini bukan kerbau yang kerjanya bermalas-malasan! Dari subuh juga aku sudah bangun kalee!”

“Oh iya ya, kamu kan cewek. Mana ada hari gini cewek yang pemalas! Hehe..” Nico mulai lebay.

Badai mendesah, “Hah, Nico, gampang banget dikadalin! Tinggal dibuayain aja juga pasti bisa!”

“Sayang, kok kamu diam sih? Kita teleponan yuk!” Pesan berikutnya kembali dari Nico.

“Enggak bisa, suaraku lagi serak nih!” Badai berdalih.

“Yah, sayang sekali. Cepat sembuh ya!” Nico membalas cepat pesan di kotak masuknya.

Tiba-tiba perhatian Badai tertuju pada kotak masuk pesan lainnya. Kali ini dari Triko.

“Princess, aku tahu kamu lagi online, please izinkan aku untuk menjelaskan semuanya padamu! Demi Tuhan, aku tidak ada hubungan khusus dengan murid-murid baru yang centil itu! Cintaku hanya untukmu! Please, beri aku kesempatan! Aku sangat mencintai kamu!”

Badai menarik napas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak menyangka Triko akan sangat tergila-gila pada penyamarannya di dunia maya.

“Liburan akhir pekan nanti kebetulan aku akan berkunjung ke kotamu, sepupuku akan menikah di sana. Akan kuusahakan untuk menemui kamu, kamu mau kan bertemu denganku?” Belum sempat dibalas pesan Triko kembali masuk di inbox.

Entah mengapa pikiran Badai mendadak gelisah, “Triko mau menemuiku? Begitu besarkah cintanya pada penyamaranku ini?” Pikiran Badai terus berkecamuk.

“Maaf hari ini aku sedang pindahan! Papaku tugasnya dimutasi ke kota lain!” Badai berkelakar agar Triko tidak jadi berniat menemuinya.

“Pindah ke mana?” Balas Triko singkat.

“Oh ya nomor ponselmu ganti ya? Aku hubungi tidak pernah aktif!” Imbuh Triko lagi.

“Princess, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sepanjang malam!” Triko tak berhenti mengirimi pesan.

Sementara beberapa pesan dari Nico bertumpuk di inbox sang Princess Aurelia.

“Say, kamu lagi apa sih? Kok aku dicuekin? T_T” ketik Nico di pesan terakhirnya.

“Haha.. Dasar para lelaki buaya! Silakan bergalau-ria deh sana! Sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bertemu dengan Princess Aurelia gadis pujaan kalian itu!” Badai log out dari akun samarannya tanpa membalas pesan-pesan dari Nico dan Triko yang sangat berharap dapat bertemu dan berbicara dengannya.

Badai bangkit dari duduknya dan menatap ke luar jendela. Langit masih remang-remang, bunga bungur tinggal separuh batang di halaman rumahnya. Jam baru saja menunjukkan pukul 07.15.

“Badaaaai, keluar Nak! Jangan bertelur terus di dalam kamar! Karena percuma mulai hari ini Kau harus menjadi pejantan!” Panggil ibunda Badai di balik pintu kamarnya.

Badai terhenyak, “Iya Bu, sebentar!” Sahutnya seraya menguap dan menggeliatkan badan.

“Ada apa?” Tanya Badai setelah membukakan pintu.

“Berhentilah mengeram diri! Ayo ikut, ayah sudah menunggumu di lantai bawah, katanya kamu mau disunat lagi!” Ibu berceloteh tidak karuan.

“Bu, apa sih maksudnya?” Badai melongo.

Hari Minggu ini, ayah dan ibunda Badai mengajak Badai jalan-jalan dengan mengendarai mobil. Mumpung sedang suntuk di rumah karena tidak ada kegiatan yang dikerjakan, Badai pun mengikuti ajakan kedua orang tuanya. Setelah berputar-putar mengelilingi taman yang terletak tidak jauh dari rumah mereka, ayah memutuskan untuk mengajak pergi ke luar sekeluarga. Mobil yang dikemudikan ayahnya menderu membelah jalanan kompleks perumahan mereka tinggal. Mereka melaju menuju pusat kota. Waktu menunjukan  pukul 08.40 mereka berhenti di salah satu pusat pertokoan.

“Ayah, mengapa kita berhenti di sini?” kepala Badai celingak-celinguk ke luar jendela.

“Lah katanya kamu ingin menjadi jantan?” Ayah balik bertanya.

Badai mulai menerka-nerka, ayah pasti ingin mengabulkan permintaannya tempo hari dulu.

“Sebenarnya Ayah ingin membelikannya nanti, saat hari ulang tahunmu tiba. Tapi melihat kondisimu yang sering sakit, Ayah jadi teringat kamu pasti kepikiran terus ingin sebuah motor besar kan? Sekarang pilihlah sesuka hatimu, motor mana yang kamu sukai!” ayah menggulung lengan kemejanya.

Lidah Badai mendadak kelu. Sudah lama ia melupakan keinginannya itu. Di luar dugaan orang tuanya begitu sangat mencemaskan kesehatannya sehingga bermaksud mengabulkan segala keinginannya dengan harapan Badai tidak akan sakit-sakitan dan tidak akan sering pingsan lagi.

“Nah, bebek mana yang ingin kamu jantani?” Ayah mulai menyinggung lagi perihal ‘kejantanan’ yang pernah mereka bahas waktu itu.

“Kalau bebek enggak akan bisa membuatnya jantan dong, Yah! Yang ada nanti malah dia nelor lagi di kamarnya! Nah bison baru bisa membuatnya lebih gagah, iya kan Nak?” Goda ibu.

“Lebih bagus Thunder lah Bu , sesuai dengan namanya Badai! Di mana ada badai pasti ada thunder kan? Kalau dia lewat dijamin semuanya bablas!” Ayah beradu pendapat dengan ibu.

“Pie toh? Ayah ini bagaimana sih, kalau Badai naik Thunder, aduuuh bisa habis kita! Bisa gosong kita kesamber!” Ibu tidak mau kalah oleh ayah.

“Iya juga ya Bu, apalagi kalau motornya kita bawa ke kampung, bisa-bisa sapi-sapi peliharaan embahnya Badai enggak pada jadi melahirkan tahun ini! Dan ayah bakal batal deh jadi juragan susu sapi di kampung! Halah-halah…” Ayah menepuk kening mengalah pada ibu. 

Badai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perdebatan kedua orang-tuanya itu.

Ayah bersama ibunda Badai sudah turun lebih dulu dan membukakan pintu Badai dari luar. Kaki Badai turun dari mobil menyamai langkah ibunya. Di depan sebuah dealer ia berdiri terpaku.

“Kok diam? Ayo dipilih, Nak!” ibunda Badai menggandeng tangannya.

“Jangan buat Rudy kerepotan lagi ya! Kasihan dia, setiap kali kamu pingsan di jalan harus membopongmu seorang diri ke rumah. Ibu jadi merasa tidak enak pada keluarganya,” ungkap ibunda Badai pelan.

Badai terhenyak, “Rudy membopongku?”

“Waktu kamu ada acara bakar ayam di rumah Rudy, kamu pingsan di jalan. Apa kamu tidak sadar siapa orang yang sudah menggendongmu pulang?” ibu menatap lurus pada deretan motor di depan dealer.

“Bahkan selama kamu tertidur pun, dia terus menunggui kamu sampai siuman. Ingat tidak?” ibu menarik napas.

Badai menggeleng.

“Sebelumnya dia pernah menggendongmu pas hujan-hujan pulang dari bioskop tempo hari!” ibunda Badai memperingatkan.

Dilapnya keringat yang membasahi wajahnya dengan sebuah tisu. Cuaca pagi itu lumayan terik. Ayah Badai sampai mengibaskan kemeja yang dipakainya. Ibunda Badai berkipas-kipas depan dada menggunakan kipas lipat.

“Ayah, Ibu, kita pulang,” Badai menarik pintu mobil.

“Loh, kamu tidak mau dibelikan motor gede, nih?” ayah Badai mengekor mendorong wajahnya mendekati jendela mobil.

“Memangnya kamu sudah jantan?” Ayah menggoda memamerkan deret giginya yang rapi.

“Kalian salah. Aku sakit bukan karena kepikiran motor gede yang pernah kupinta dari Ayah,” terang Badai.

Ibunda Badai menyerempet suaminya, “Maksud kamu?” tunjuk ibu dengan kipas.

“Badai sudah melupakan motor gede. Soal Badai sakit cuma karena pusing banyak masalah,” suara Badai mengecil dengan wajah tertunduk lesu.

“Masalah?” ayah dan ibu saling bertatapan bingung.

“Ngomong-ngomong bukan masalah ‘kejantanan’ kan?” Celetuk ayah menatap ibu.

Tergesa-gesa ibu dan ayah Badai masuk kembali ke dalam mobil. Setelah duduk di kursi depan, ibunya menoleh padanya.

“Masalah apa sih, Dai, sampai kamu sering pingsan begitu? Cerita dong sama Ibu! Masalah kok dipendam sendiri, nggak baik! Mending kamu luapkan pada orang terdekat kamu, Nak!” nasihat sang ibu.

Badai mengurut kening. Ditiupnya riak rambut yang menutupi sebagian keningnya.

“Enggak apa-apa, Bu. Maaf, untuk saat ini aku belum bisa cerita kepada siapapun,”

Bunda mengelus dada, “Dai, bagaimanapun Ibu yang telah melahirkanmu. Jadi, Ibu berhak tahu masalah yang menimpamu. Kalau ada apa-apa terjadi padamu, bagaimana?” nada bicara ibunda  Badai terdengar sangat resah. Kali ini serius.

“Betul apa yang disampaikan oleh Ibumu itu. Tidak seharusnya kamu menyembunyikan masalah yang kamu alami seorang diri. Kalau kamu sungkan untuk bicara dengan ibumu, kamu bisa curhat dengan Ayah! Kita kan sama-sama lelaki, kita bisa saling mencurahkan lebih bebas dan leluasa!” telapak tangan ayah menepuk punggung tangan Badai pelan.

“Dan lagi, kita berdua sama-sama JANTAN!” Mata ayah membulat besar sambil mulut menganga lebar.

Badai mengangguk.

“Jadi gak nih, kita beli motor gede buat kamu?” ayah memutar handle pembuka jendela mobil.

“Enggak usah Yah! Motor bekas Kak Anggi masih bagus kok!” Badai merebahkan diri menggelesoh di kursi mobil.

Senyum mengembang terukir jelas pada raut wajah sang ibu, “Gitu dong, itu baru anaknya Bu Surinem!” 

“Rudy, mengapa kamu baik sekali padaku? Andai aku seorang perempuan yang sedang patah hati oleh Mario, mungkin cintaku akan mudah berpaling padamu. Atau seandainya saja kamu pun ‘sakit’ sepertiku, seorang penyuka sesama sepertiku, aku harap perhatianmu padaku itu adalah sebuah perwujudan perasaanmu padaku,” batinnya berbisik kepada hatinya sendiri. Mata Badai terpejam dan menitikan setetes air mata di sudut mata kanannya.

Ayah Badai mengernyitkan kening, bayangan wajah Badai terlihat jelas pada kaca cermin yang tergantung di hadapannya.

××Ω♥♥♥Ω××

“Badai, berjuang ya Sob!” Mario memberi semangat. Tangan kanannya menggandeng mesra tangan Kedasih.

Hari ini sudah tiba waktunya kontes yang dinanti-nantikan oleh Badai untuk menunjukkan suara beningnya kepada semua orang dalam ajang yang sangat bergengsi, Kontes Vokal Solo Pelajar  Tingkat Nasional.

Mario sengaja memamerkan kemesraannya dengan Kedasih di depan Badai, sehingga api cemburu sempat membakar suasana perasaan Badai sesaat. Entah apa tujuan Mario sebenarnya. Apakah sengaja pamer bahwa Kedasih sekarang sudah menjadi miliknya, atau sengaja memanasi agar Badai memperkenalkan pacarnya kepada mereka. Selama ini kan Badai tak pernah memperkenalkan Princess Aurelia, yang disangka Mario sebagai kekasih Badai. Untung saja Camelia ikut serta menjadi supporter membawa teman-teman sekelasnya, sehingga api cemburu yang membara dalam jiwanya dapat segera dipadamkan. Dan sudah barang tentu Amir sang ketua kelas pun ada bersamanya.

“Badai, gue sengaja bawa semua teman sekelas kita nih, buat ngedukung elo! Loe nyanyinya yang semangat ya!” Camelia menghamburkan diri memeluk Badai.

Mata Amir terbelalak melotot, seraya melangkah menghampiri Badai dan Camelia.

“Hush, hush, bukan muhrim dilarang berpelukan!” Amir memisahkan dua sahabat itu.

“Iiih, Amir, apa-apaan sih loe? Sirik aja,” omel Camelia sebal.

“Kakanda ini sangat mencintaimu, adinda! Kakanda mohon, jangan sakiti perasaan kakanda!” Amir merajuk.

“Alah lebay banget sih loe, pake nyebut ‘kakanda-adinda’ segala! Kenapa enggak sekalian aja kakaknya panda dan adiknya panda loe sebutin semuanya!” protes Camelia.

Amir garuk-garuk kepala, ia salah tingkah melihat amarah dalam kedua bola mata pujaan hatinya. Terlihat di kejauhan olehnya Bu Sugeng tengah menghampiri mereka sambil terus memanggil-manggil nama Badai. Tiba-tiba dia mendapat akal untuk menjawab solotan Camelia.

“Kalau kakak dan adiknya panda enggak ada, say! Yang datang malah MAMANYA PANDA, tuh!” tunjuk Amir ke arah Bu Sugeng dengan ujung bibirnya.

Camelia membuang pandangan, “Gak lucu!” timpalnya ketus.

“Bu, Bu, Bu, tahu enggak, baru saja Amir menyebut Ibu itu MAMANYA PANDA loh!” Amir tak menyangka teman-temannya itu bergerombol akan mengerumuni Bu Sugeng wali kelas XI IPA B tercinta.

Kontan laporan teman-teman sekelasnya berhasil membuat wajah Bu Sugeng merah padam, “AMIRUDIN SARAPI…. Perlu saya singkat namamu menjadi AMIR SARAP, heuh?” panggil Bu Sugeng dengan tatapan menyeringai.

“Jangan Bu, nama itu terlalu bagus,” Amir nyengir.

“Kalau saya mamanya panda, kamu mau jadi BAPAKNYA SAPI? Kebetulan kan namamu sangat mirip dengan sapi, betul begitu Tuan SARAPI!” Bu Sugeng berkacak pinggang.

“Jangan dong Bu, SARAPI itu nama bapak saya!” Amir cengengesan.

“Wah jadi bapak kamu itu sapi?” canda Bu Sugeng merapatkan wajahnya ke wajah Amir.

Sebelum Bu Sugeng murka, Amir bergegas mengambil langkah seribu. Dia lari pontang-panting meninggalkan Bu Sugeng di tengah kerumunan teman-teman sekelasnya.

“Amir anak sapi… Amir anak sapi…” olok-olok teman-teman sekelasnya.

Tiba-tiba terdengar suara pemandu acara di megaphone mempersilakan Badai untuk segera tampil ke atas pentas. Badai bergegas meninggalkan teman-temannya, ditatapnya satu-persatu wajah para supporter dari kelasnya itu. Sejak tadi hanya Kedasih yang terus berdiam diri. Tak sepatah kata pun terdengar suaranya. Apakah sikap dinginnya kembali muncul seperti saat pertama kali mereka bertemu? Pikir Badai. Tapi tatapan wajah Kedasih kali ini sangat berbeda dari tatapan dingin yang sering dilihatnya dulu. Badai sendiri merasa tidak yakin akan firasatnya, Kedasih menatapnya sendu.

Dengan hati-hati ditapakinya anak tangga menuju pentas. Tepat di anak tangga kedua ia mendengar suara seseorang menyebut namanya. Badai memandang sekeliling mencari sumber suara. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang pemuda berpakaian seragam sekolahnya melambaikan tangan padanya. Triko memegang kamera handycam dan menyorot ke arah Badai. Senyum merekah tersungging pada bibirnya yang manis. Entah mengapa timbul sebersit perasaan bersalah di hati Badai kepada Triko. Mata Triko yang sayu terlihat sembab dikelilingi oleh lingkaran hitam karena kurang tidur. Badai yakin ini pasti disebabkan oleh sikapnya sebagai Princess Aurelia yang telah memutuskan hubungannya dengan Triko. Pasti Triko depresi berat kehilangan kekasih impian yang hanya dikenalnya melalui dunia maya. Sedalam itukah cinta Triko untuk Princess Aurelia?

“Kak Badai, semangat ya!” suara di sebelah Triko mengalihkan perhatian Badai.

Obby tak mau ketinggalan memberikan semangat pada Badai.

Dibalasnya senyuman Triko dengan mimik yang dipaksakan. Ia berusaha melupakan masalahnya dengan Triko sejenak, toh Triko tak pernah mengetahui kalau selama ini Princess Aurelia yang sering mengobrol dengannya via telepon sejatinya adalah Badai.

Selain itu tak lupa Badai pun membalas lambaian tangan pada Obby dan melemparkan seutas senyuman pada remaja yang mulai memikat hatinya itu.

Badai berdiri tepat di tengah pentas. Ia membungkukkan badan memberikan salam penghormatan kepada dewan juri dan para audience di tribun penonton. Putaran pertama ini ia diharuskan menyanyikan lagu wajib yang telah ditentukan oleh dewan juri terlebih dahulu. Lagu wajib yang harus dinyanyikan olehnya adalah lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki. Baris demi baris mulai dilantunkannya.

Rayuan Pulau Kelapa

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja s’panjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik-bisik, Raja K’lana
Memuja pulau yang indah permai
Tanah airku Indonesia

Bait demi bait akhirnya berhasil ia nyanyikan. Tepuk tangan riuh-rendah para penonton bergemuruh mengiringi salam hormatnya sebelum ia meninggalkan panggung.

“Badai, I LOVE YOU!” teriak histeris teman-teman perempuan sekelasnya.

Di tangan mereka tercekal kuat bilahan papan bertuliskan bermacam-ragam tulisan memberikan dukungan dan semangat untuk Badai.

Badai menarik napas lega, masih tinggal satu lagi lagu yang harus dia nyanyikan nanti di putaran ke-2. Ditapakinya kembali anak-anak tangga yang tadi dinaikinya. Ia melangkah turun hendak menghampiri teman-temannya di tribun penonton. Saat itulah pandangan matanya menatap sesosok perempuan yang sangat dikenalnya.

“Kedasih, mengapa dia tak bersama Mario? Aneh…” gumam Badai.

“Selamat ya, Dai, suaramu bagus banget, aku sampai terpana menatap penampilanmu di pentas! Suara kamu begitu menggema, membahana ke seluruh ruangan!” Triko menyalaminya memberinya pujian bertubi-tubi.

“Te.. Terima kasih, Kak,” sahut Badai sedikit gugup.

“Iya Kak, suara Kak Badai benar-benar dahsyat, membuat bumi berguncang!” Obby menghambur mendekap Badai dari belakang.

Badai terkesima. Apakah benar apa yang sedang dirasakannya saat ini? Obby sedang memeluknya dari belakang! Gosh.. serasa mimpi dapat merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Badai semakin yakin, bila ia terus mendekati Obby dan mencoba untuk jujur akan gejolak yang sedang dirasakannya, mungkin harapannya itu tidak akan bertepuk sebelah tangan seperti perasaannya terhadap Mario yang dulu sempat ia pendam tanpa pernah berani mengemukakannya.

“Lebay Kau, By!” Badai menjulurkan lidah.

“Eh, Mario ke mana?” tanya Badai pada Obby.

“Dia lagi menyendiri nah, di tribun atas!” jawab Obby menunjuk ke lantai 2, ruangan tersebut.

Badai berlari ke arah yang ditunjuk, “Mario” panggilnya.

KOSONG.

Badai menatap hampa seisi ruangan. Hanya terdapat bangku-bangku kosong teronggok berlipatan di setiap jalurnya masing-masing. Badai mencoba untuk berkeliling, siapa tahu Mario ada di salah satu pojok lantai 2 itu.

Benar saja, di salah satu pojok tribun, Badai menangkap sebuah bayangan sosok manusia sedang terduduk menunduk dalam seperti merenungkan sesuatu.

“Badai, mengapa kamu harus menjadi saingan beratku?” Mario memeras rambutnya dengan kuat, ia sama sekali tak menyadari kehadiran Badai 10 meter di belakangnya.

“Saingan berat?” langkah Badai terhenti, ia berbicara pada dirinya sendiri.

Niat untuk menyapa Mario urung dilakukannya. Badai membalikkan badan dan menuruni tangga.

××Ω♥♥♥Ω××

“Duh, anak Ibu, akhirnya berhasil juga meraih gelar juara nasional. Ibu benar-benar bangga padamu, Nak!” ibunda Badai menyodorkan sepiring besar gurame asam manis kesukaan Badai.

Masakan yang dihidangkan oleh ibunya sudah menjadi pesanan Badai saat dalam perjalanan pulang dari kontes, via telepon. Ibunya sangat hafal tabiat anaknya apabila memesan makanan kesukaannya itu merupakan pertanda kemenangan.

“Oya, Bu, bahan masakan untuk nanti malam sudah disiapkan?” Badai menggenggam kepal tangan ibundanya.

“Untuk pesta syukuranmu? Tentu, sudah Ibu siapkan dong, sayang,” ibunda Badai mengecup lembut kening Badai.

“Terima kasih, Bu,” Badai mencium tangan sang bunda tercinta.

18.30 WIB

“Sekali lagi, selamat ya Dai atas kejuaraan loe!” Camelia menjabat tangan Badai mengucapkan selamat entah untuk ke berapa kalinya dalam sehari ini sejak kontes tadi pagi usai.

Rudy mendampingi Camelia malam ini. Keduanya tampil sangat serasi, entah direncanakan atau tidak, keduanya memakai pakaian dengan warna senada : hitam-putih.

Derai tawa teman-teman Badai mewarnai suasana acara syukuran malam ini. Di saat Badai larut menikmati keakraban bersama teman-teman sekelasnya, ia dikejutkan oleh kedatangan Mario yang muncul di ambang pintu tanpa membawa pasangannya, Kedasih.

“Dai, bisa kita bicara empat mata?” tatap Mario berkaca-kaca.

Pancaran matanya terlihat nanar seperti habis menangis.

Badai menarik tangan Mario menuju tempat yang agak sepi.

“Ada apa Yo? Mana Kedasih?” tanya Badai setelah mengamati sekeliling tidak ada seorangpun yang mencuri-dengar pembicaraan mereka.

Mario terisak tangisnya mulai pecah.

“Katakan ada apa, Mario?” Badai mendekap Mario erat.

“Kedasih menitipkan sepucuk surat ini untukmu!” Mario menyerahkan surat dari kantung celananya.

“Bacalah!” imbuhnya.

Badai membuka amplop berwarna ungu nan halus. Dibacanya secarik kertas bertulisan tangan Kedasih. Badai hafal benar, tulisan yang kini sedang dilihatnya sungguh murni tulisan otentik Kedasih, teman semejanya di kelas.

Dear Badai,
Aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu meraih juara pertama pada
kontes puncakmu ini. Dari awal aku sudah yakin, kalau kamu pasti
akan keluar sebagai pemenang. Sungguh, suara kamu sangat membuat
perasaan setiap orang yang mendengarnya merasa tenteram. Termasuk
aku yang senantiasa mengagumi keindahan suaramu.
Maafkan, bila malam ini aku tak bisa memenuhi  undanganmu dikarenakan
Aku harus meninggalkan tanah air tercinta demi menuntut ilmu dan cita-citaku
di negeri yang jauh menyeberangi samudera. Aku mendapat beasiswa dari
seorang teman ayahku yang berdomisili di Kanada. Mungkin bila liburan
sekolah di Kanada tiba, aku akan pulang ke Indonesia untuk mengunjungimu
dan bunga bungur di kompleks perumahanmu.
Aku harap, saat aku kembali nanti kau dan aku, kita sama-sama sedang tidak
menjalani hubungan dengan siapapun. Terus terang, sejak pertemuan pertama
kita di depan papan informasi pembagian kelas waktu itu, aku sudah tahu kalau
kita berdua akan menjadi teman sekelas. Sebab memang aku yang sengaja
memohon kepada ibu Sri Sudaryanti agar kita menjadi teman sekelas, jauh hari
sebelum tahun ajaran baru dimulai. Aku
juga yang menyuruh Camelia dan teman sekelas agar membiarkanmu untuk
duduk bersamaku. Aku sangat suka melihat mimik wajahmu yang
ketakutan oleh sikap dinginku. Aku jatuh cinta padamu Badai…
Aku hanya seorang gadis yang terus menunggu pujaan hatinya untuk
mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Namun kata-kata itu tak
pernah terucap olehmu untukku. Hingga akhirnya kutahu bahwa kau
sudah bersama seseorang yang lain.
Kini nasibku sama seperti bunga bungur. Ia mekar di dahan tertinggi ibarat
gadis yang penuh khayalan sepertiku. Namun akhirnya kelopak-kelopaknya
berguguran seperti perasaanku yang tak terbalaskan. Lantas kelopak-kelopak
itu jatuh ke tanah dan terinjak oleh orang yang berlalu-lalang, seperti Mario
yang berusaha meraih cintaku. Atau kelopak itu akan terbang tertiup angin
tanpa tujuan yang pasti. Itulah aku. Selamat tinggal Badai,
sampai bertemu kembali.
salam,
Kedasih Amelia

Dibacanya berulang-ulang surat panjang itu. Badai tak percaya pada tulisan Kedasih dalam suratnya.

“Sesungguhnya kami berdua tidak pernah berpacaran ataupun jadian!” ungkap Mario berterus-terang.

“Selama ini kami hanya berpura-pura pacaran demi menjaga gengsiku terhadap semua teman yang mengetahui perasaanku kepadanya. Begitu pula dengan dirinya, dia sengaja memancing perasaan Kamu untuk mencari tahu apakah Kamu memiliki perasaan suka kepadanya.”

Mata Badai terbelalak kaget.

“Malam itu, aku mencium bibirnya. Tapi dia malah menyebutkan namamu saat matanya terpejam. Dia membayangkan kalau yang sedang menciumnya saat itu adalah KAMU, bukan AKU!” Mario meronta.

“Mengapa harus kamu orang yang dicintainya? Mengapa bukan aku?” Mario memukul-mukul bahu Badai.

Badai tak membalas. Ia tahu Mario sedang shock, perasaan yang sama dan pernah dialaminya ketika ia melihat Mario dan Kedasih berciuman di bawah lampu taman sepekan yang lalu. Seperti itulah mungkin apa yang sedang dirasakan oleh Mario saat ini. Terluka dalam dan kehilangan.

“Aku tahu sebenarnya kamu pernah menggugat mutasi kelas pada Bu Sri Sudaryanti, bukan?” Mario menghardik Badai.

Badai terperanjat, “Bagaimana Kau tahu?”

Mario mendesah, “Itu tidak penting! Tapi justru aku juga sengaja memohon pada Pak Ruspita agar aku bisa menjadi sekelas denganmu. Aku tahu benar siapa Kedasih. Dia tipe gadis yang menyukai lelaki berbakat seni. Karena itu aku ingin bersaing denganmu, walau kutahu aku tidak punya kemampuan di bidang seni. Namun Pak Ruspita tidak mengabulkan permohonanku untuk bisa sekelas denganmu. Maka aku memutuskan untuk mulai mendekatimu. Walaupun aku agak enggan untuk bersahabat denganmu! Tujuanku agar aku bisa mendekati Kedasih melalui Kamu. Usahaku terbantu berkat Rudy yang entah mengapa sangat berniat bersahabat denganmu. Gayung pun bersambut. Kamu tahu kan, sejak dulu aku selalu berusaha menghindarimu. Aku tidak menaruh perasaan benci padamu, Badai! Hanya saja aku merasa tak pantas untuk bersaing denganmu untuk mendapatkan cinta sejatiku. Bagiku, Kedasih adalah cinta sejatiku. Tapi sekarang dia pergi jauh meninggalkanku setelah menolakku di malam aku menciumnya. Dapatkah kamu mengembalikannya padaku, Badai?!” tangis Mario kian pecah meraung-raung.

“Jadi persahabatan yang kita bina selama ini… kamu hanya memanfaatkanku agar bisa mendapatkan cinta Kedasih? Kamu jahat, Mario! Kamu jahat!  Aku benci kamu!”

BRUGH!

Mario ambruk didorong oleh Badai.

“Kau yang menyalakan api, maka Kau pula yang terkena asapnya! Tidakkah asap itu pedih di matamu? Tidakkah asap itu melukai paru-parumu sendiri?” perkataan Badai menghunjam jantung Mario.

Mario tergugu. Bergeming larut dalam kesedihan yang dirasakannya. Angin malam berhembus dingin merasuk tulang, menancap pada daging dan kulit yang membalutinya. Mata Badai terpejam berdiri mematung meresapi setiap perkataan yang telah terlontar dari mulutnya. Sadarkah ia telah melukai perasaan Mario? Atau justru malah dirinya yang sebetulnya tersakiti. Cukup lama Badai menelaah kata-katanya.

“Maafkan aku Mario. Sejak awal aku tak pernah menaruh perasaan apapun kepada Kedasih. Aku hanya senang kita semua dapat bersahabat. Aku senang kita semua sering have fun bareng, bersenang-senang berbagi kebahagiaan, main ice skating, menyanyi di karaoke box, menonton film di bioskop, menikmati pesona keindahan bunga bungur sambil menikmati makan siang, seperti hari-hari yang telah kita jalani selama ini,” Badai mengantungi tangannya ke dalam saku celana.

“Selama ini aku kesepian Mario. Aku tak memiliki kawan. Tak ada seorang pun yang mau datang mengajakku bermain. Aku tak pernah jalan-jalan bersama teman. Sampai waktu itu tiba, Rudy membawamu serta mengunjungiku. Kita bermain piano bersama, berenang bersama, semua itu sangat menyenangkan bagiku. Padahal selama ini tiap kali aku mendekatimu, kamu selalu menghindar. Seakan aku adalah virus penyakit yang harus Kau jauhi,”

Mario tercenung mendengarkan penuturan Badai.

“Badai, kamu berdusta! Aku tahu, apa yang berkecamuk dalam pikiranmu, mengapa kamu begitu senang dapat bersahabat dengan kami, akuilah sesuatu tentang perasaanmu padaku! Apakah kamu selama ini memendam perasaan suka padaku?” suara Mario bergetar terasa berat untuk mengemukakannya.

Badai menoleh menatapnya, “Apa maksudmu? Itu tidak mungkin, Mario!” Badai berkelit.

“Hmm, baiklah. Akan kuceritakan padamu sebuah kesaksian yang mungkin bisa membenarkan bahwa Kamu memiliki perasaan khusus padaku,” pandangan Mario menerawang jauh.

FLASHBACK…

“Badai, bangun Dai! Ayo bangun, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu bisa begini?” Rudy menggenggam erat kepal tangan Badai yang tertidur di pembaringan.

Raut wajah Rudy menampakan kegelisahan.

“Sebenarnya ada apa dengan Badai, Rud?” Mario duduk di atas ranjang samping Badai.

“Entahlah Yo! Aku juga tidak tahu. Tadi dia terus berlari melewatiku. Kukejar dia, namun larinya begitu kencang. Sampai akhirnya aku menemukannya tidak sadarkan diri di jalanan,” Rudy menekan urat nadi di pergelangan tangan Badai dengan menggunakan jempolnya.

“Beberapa hari yang lalu sewaktu kita pergi nonton ke bioskop, dia pernah pingsan juga,” Rudy menepuk-nepuk pipi Badai.

“Mario… Mario… Berjanjilah padaku, Kau takkan jauh dariku!” terdengar lirih suara Badai berdesis dalam tidurnya.

Mario terkesima.

“Mario, kumohon Kamu mau kan selalu berada di dekatku?” racau Badai lagi terus mengigau.

“Yo, kamu dengar apa yang dikatakan Badai?” Rudy mengambil sesuatu di atas meja belajar Badai.

Mario menyilangkan tangan depan dada. Timbul rasa iba pada Badai dalam hatinya.

“Sekarang bisa Kamu jelaskan, mengapa semua foto-fotomu sejak kecil ada padanya?” Rudy menyerahkan album yang diambilnya dari atas meja belajar.

Diraihnya album itu dari tangan Rudy. Dibukanya lembaran demi lembaran yang menampilkan potret dirinya. Tak ada satupun foto selain dirinya, dalam album yang sedang dilihatnya. Mario menutupi keterkejutannya, tangan kanannya menempel pada bibirnya. Foto-foto itu bagaikan sebuah buku cerita yang memaparkan pertumbuhannya sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD hingga saat ini.

“Ba… Bagaimana mungkin foto-fotoku ada padanya? Sedangkan aku sendiri tak pernah merasa memiliki semua foto-foto ini, jangan-jangan diam-diam dia sering memotretku,” Mario menggeleng.

Badai masih terus mengigau pelan menyebut nama Mario berulang-ulang.

Rudy menatap Mario dalam, “Mungkinkah dia menyimpan perasaan khusus padamu?”

Mario menghempaskan album foto yang baru saja dilihatnya ke atas meja.

“Maksudmu, Badai menyukaiku?” Mario membalas tatapan Rudy.

Rudy terdiam tak menyahut ataupun memberikan jawaban atas pertanyaan Mario. Badai berhenti mengigau.

Mario berjalan ke arah pintu menarik knob pintu dan melangkah ke luar. Dihirupnya udara dalam-dalam semampu hidungnya menarik napas. Ia bersandar pada daun pintu kamar Badai yang tertutup rapat.

Kedasih dan Camelia datang mendekat diiringi ibunda Badai, membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup hangat untuk Badai.

“Bagaimana, dia sudah siuman?” tegur ibunda Badai pada Mario.

Mario menggeleng, “Belum Tante!”

“Biar saya saja Tante yang membawakannya ke dalam,” Mario menyambut nampan yang dibawa oleh ibunda Badai.

Camelia membukakan pintu untuk Mario, “Sebenarnya Badai kenapa sih, Yo?” tanyanya penasaran.

“Gue sendiri juga nggak ngerti, Mel” Mario mengangkat bahu.

Hidung Kedasih mengerut, “Kasihan Badai, dia terlihat seperti memendam masalah sendiri.”

Semua perhatian tertuju ke arah Kedasih.

Ibunda Badai mengusap kening putra bungsunya itu, “Masalah apa yang sedang dialaminya sebenarnya? Apakah kalian tahu?”

Tak seorangpun mengerti permasalahan yang dialami Badai. Hanya Rudy dan Mario saling memberi isyarat untuk tidak mengucap sepatah katapun.

END OF FLASHBACK

“Benar kan Kamu menyimpan perasaan suka padaku?” mata Mario menatap tajam.

Selama Mario menuturkan cerita saat dia pingsan di malam Mario berciuman dengan Kedasih dulu, tanpa terasa air mata Badai menetes membasahi kedua pipinya.

“Maafkan aku, Mario. Aku tahu kalau perasaanku ini salah. Dan aku tahu cintaku kepadamu takkan pernah terbalaskan sampai kapanpun. Dalam hatimu hanya ada nama Kedasih, bukan?” Badai menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangannya.

“Sekarang terserah padamu, Yo. Kamu berhak membenciku, Kamu berhak menjauhiku setelah Kau tahu semua ini. Satu hal yang harus Kau ketahui, walaupun Kau pernah menjadi cinta sejatiku yang tak terbalaskan, akan tetapi sejak Kau menyatakan sudah resmi jadian dengan Kedasih, aku selalu berusaha untuk melupakanmu, dan akan menganggapmu hanya sebatas sahabat sejatiku,” tutur Badai sesenggukan.

“Dan kini kenyataannya lain, kamu telah membuatku berubah membencimu setelah kutahu bahwa kau selama ini hanya memperalatku!” Badai melanjutkan ucapannya.

“Dai, adakah alasannya, mengapa Kamu selama ini  mencintaiku?” Mario membuang pandangan, mendongakkan kepala menentang langit malam yang berkabut.

“Aku sendiri tak tahu, Yo! Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Meski aku berusaha menyangkal bahwa aku telah jatuh cinta padamu, namun cinta itu semakin tumbuh subur seiring pertumbuhanku menjadi remaja ini, kian hari kian membesar.”

“Baiklah, terima kasih atas pengakuanmu. Kuhargai segala kejujuranmu. Aku harap Kamu benar-benar dapat menghapus perasaanmu kepadaku, karena itu tidak mungkin dapat kulakukan. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk melupakanku! Selamat tinggal,” Mario berlalu meninggalkan Badai dalam kebekuan malam.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s