Posted on

#Namamu Kupinjam 6#

image

#Namamu Kupinjam 6#
 
“Friends, cepetan filmnya dah mau mulai nih!” Mario mengibaskan 5 lembar tiket di tangannya.

Badai dan Kedasih mengekor di belakangnya. Camelia menarik tangan Rudy berjalan cepat ke arah Mario dan kawan-kawan. Jagung pop yang dipegangnya sempat jatuh berhamburan beberapa kali. Setelah mereka berkumpul Mario menyerahkan kelima lembar karcis kepada petugas yang berjaga di pintu bioskop. Karcis-karcis itu kemudian disobek oleh sang penjaga. Salah seorang wanita di antara penjaga itu menggiring mereka memasuki ruangan yang gelap hanya bercahayakan LCD layar film yang terpampang sangat besar di muka ruangan. Tangga berundak-undak berlapis karpet merah sempat membuat langkah Camelia nyaris jatuh terjungkal. Untung ada Rudy yang berhasil menahan tangannya. Wanita penjaga tadi menyorotkan lampu senter yang digenggamnya ke arah sederet bangku kosong di samping kanan mereka. Tepat di baris ke-5 dari muka ruangan.

Kedasih duduk di tengah-tengah antara Badai dan Mario. Sedangkan Rudy dan Camelia terpisah oleh sepasang gadis yang duduk di sebelah Badai. Kedua gadis itu menolak bertukar kursi dengan Camelia dan Rudy yang tidak ingin terpisahkan dari ketiga kawannya. Tampaknya ruangan sudah dipadati oleh para penonton. Film pun sudah akan dimulai. Gema suara musik horror  mengalun membuat bulu kuduk Kedasih berdiri. Baru dimulai saja ia sudah mulai ketakutan. Jemari tangan kirinya meremas punggung tangan kanan Badai yang duduk di sebelah kirinya. Wajah aktor yang menyeramkan tampil di layar, Kedasih memalingkan mukanya ke dada Badai. Mario mengamati tingkah Kedasih yang sedang ketakutan itu. Ditatapnya Badai yang mengurungkan niatnya untuk mengunyah pop corn.

Badai menyadari bahwa Mario sedang mencemburuinya. Ia mendorong Kedasih untuk duduk kembali menghadap layar.

“Aku takut, Dai,” lirih Kedasih.

“Gak apa-apa, nanti juga terbiasa. Supaya enggak takut, coba deh makan pop cornnya!” saran Badai.

Badai mengedipkan sebelah matanya pada Mario. Kontan Mario menawarkan jagung pop di tangannya kepada Kedasih. Disambutnya penganan ringan itu dengan suka-cita.

“Konon kalau kita makan jagung pop saat menonton film layar lebar bisa mengurangi ketegangan loh!” promosi Mario. Ia berusaha mencuri perhatian Kedasih.

Kedasih mulai menikmati jagung berondong pemberian Mario. Setelah beberapa menit berlalu ia masih belum dapat menghilangkan perasaan tegang yang merasuki jiwanya. Tangan dan kakinya gemetar. Lagi-lagi ia menggenggam tangan Badai dan menundukan kepalanya ke pangkuan Badai seraya memejamkan mata dan menutup telinga kanannya. Sikap garang yang dimiliki Kedasih saat pertama kali berjumpa Badai hilang sudah. Dibalik sikap tegasnya ternyata Kedasih memiliki sifat penakut. Ia phobia dengan film thriller. Melihat Kedasih yang berlindung pada Badai membuat Mario tampak marah kepada Badai. Ia memberi isyarat kepada Badai untuk segera melancarkan aksi yang direncanakannya.

Badai melepas genggaman Kedasih. Kedasih membuka matanya, Badai menyuruhnya untuk duduk ke posisi semula. Mario menarik Kedasih untuk merebahkan kepalanya di dada Mario.

“Kalau kamu takut, kamu bersandar saja di bahuku!” ungkapnya dengan nada lembut.

Badai menoleh jauh ke arah tempat Camelia dan Rudy duduk. Sesaat setelah itu ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Rudy. Ternyata di sebelah Rudy masih terdapat satu buah bangku kosong yang masih terlipat ke depan. Badai membuka lipatan kursi tersebut dan duduk di samping kiri Rudy. Rudy menatapnya sekilas dengan mimik heran.

Tayangan semakin menegangkan, suasana kegelapan malam menjadi setting cerita dalam film yang sedang mereka tonton. Suasana malam yang mencekam. Seorang gadis sedang berlari-lari membawa sebuah pisau belati yang terhunus mengkilat tajam. Sesosok pria dengan pakaian tertutup mantel bersembunyi di balik tumpukan kotak besi berukuran besar. Pelabuhan laut menjadi setting cerita tersebut. Pria itu berusaha menahan napas agar tidak diketahui persembunyiannya oleh si gadis.

Tiba-tiba saja Camelia bangun berdiri dari posisi duduknya. Ia maju selangkah dan berseru,

”Ayo di situ! Laki-laki itu ada di balik peti besi itu! Bunuh dia! Bunuh orang yang sudah membunuh kekasihmu!” teriak Camelia lantang.

“Ya, ya, di situ beberapa langkah lagi!” suara Camelia begitu menggebu-gebu.

Tanpa disadarinya ia telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang dipunggunginya.

“WOOYY BISA DUDUK NGGAK SIH!” teriak salah seorang penonton di barisan belakang, geram.

Sontak para penonton yang lain turut mengiringi dengan seruan : “HUUUUU….”

“Mel, duduk ya, Mel!” Rudy menarik tangan Camelia.

Kedasih dan Mario melirik ke arah Camelia dengan mulut melongo.

Camelia menutup mulutnya dengan tangannya, ia menatap sekelilingnya. Puluhan pasang mata menyorot bagai pisau belati yang siap menghunjam jantungnya. Meski suasana ruangan bioskop gelap namun beberapa berkas lampu proyektor dari belakang dan dipantulkan kembali oleh layar bioskop cukup menerangi redup tribun penonton di bagian belakang. Camelia mendadak salah tingkah, ia merasa malu karena ulahnya sendiri. Ia baru sadar kalau saat ini ia sedang menonton film bukan di rumahnya sendiri.

Badai merasa jenuh, sudah saatnya untuknya menjalankan aksi sesuai yang direncanakannya tadi pagi. Toh dalam kencan kali ini, hanya dia seorang yang tidak memiliki pasangan. Bukankah Camelia sudah menggaet Rudy sebagai pasangannya. Badai berjalan meninggalkan bangkunya dan teman-temannya.

Rudy sempat menegurnya sebelum pergi,”Ke mana Dai?”

“Ke toilet,” sahut Badai singkat.

Dilintasinya bangku Kedasih dan Mario. Tampak terlihat olehnya Kedasih masih ketakutan dan menutupi wajahnya di pangkuan Mario. Tangan Mario mengusap lembut rambut Kedasih penuh kasih. Rasa cemburu sempat menggelayuti perasaannya. Seharusnya dirinyalah yang sedang berlindung dan menutup wajahnya di pangkuan Mario saat ini. Seharusnya rambutnyalah yang sedang diusap dengan lembut oleh Mario sekarang ini.

“Loh katanya mau ke toilet, kok arahnya malah ke pintu keluar?” Badai tertegun.

Rudy berdiri di belakangnya. Badai tak menghiraukan keberadaannya.

“Ada apa Dai? Kok kamu pergi meninggalkan kami?” beruntun pertanyaan Rudy.

CRRRSSSSS

Gerimis mulai turun mengguyur kota. Orang-orang berlalu-lalang tergesa-gesa mencari tempat berteduh. Perlahan hujan pun semakin deras. Tapi berbeda dengan Badai, ia malah menyeberang berlari meninggalkan Rudy di belakangnya.

“BADAAAII….” teriak Rudy.

TIIIIIIIIIIIIIIN

Suara klakson mobil mengejutkan, Rudy segera berlari menyusul Badai. Meraih tubuh Badai ke dalam pelukannya.

ZRRRSSSSS PYAAAR

Cipratan air dari mobil yang mengklakson tadi menyiram kedua pemuda itu.

“Badai, kamu kenapa? Kamu sakitkah? Katakan padaku bila kamu sedang dilanda masalah!” Rudy memeluk Badai erat.

Meski orang berlalu-lalang tapi tak ada yang mempedulikan kedua pemuda itu.

Badai tergugu, tak mampu berkata-kata. Bulir air mata menetes di pelupuk matanya jatuh ke pipi. Beberapa detik selanjutnya kedua matanya terpejam tak sadarkan diri.

Di dalam gedung bioskop film baru saja usai. Sudah 20 menit berlalu namun Badai dan Rudy tak kunjung kembali. Camelia mulai gelisah, ia terpisah dengan Mario dan Kedasih. Sebenarnya Mario sengaja membawa Kedasih pergi memisahkan diri dari Camelia. Ia ingin menikmati kebersamaannya dengan Kedasih, hanya mereka berdua.

Dihubunginya ponsel keempat kawan yang terpisah darinya. Akan tetapi tak ada satupun yang mengangkat panggilannya. Mario sengaja mematikan ponselnya saat ia memasuki gedung bioskop. Kedasih membuat profil handphonenya silent, sehingga besar kemungkinan Kedasih tidak mengetahui terdapat panggilan dari Camelia hingga lebih dari tujuh kali. Badai memang tidak membawa satupun gadget kesayangannya. Dan Rudy, entah alasan apa sehingga tidak mengangkat panggilan Camelia.

Sebuah pesan singkat masuk ke kotak inbox di hp Camelia.

“Maaf Mel, hpku lowbat, tidak bisa menerima panggilan kamu. Maaf juga aku enggak bilang kalau aku mengantar Badai pulang. Dia sakit dan pingsan di jalan.”

Camelia segera membalas pesan yang diterimanya dari Rudy.

“Sekarang kalian di mana?” ketiknya.

“Rumah Badai,” balas Rudy singkat.

“Aku segera ke sana!” Camelia bergegas menuju tempat parkir mencari motor pribadinya.

“Tidak usah, Badai sudah ditangani dokter kok! Sudah ya, kayanya hpku mau padam nih,” Rudy mengirim SMS terakhirnya.

Kembang bungur mekar indah bersemi
Di pucuk dahan yang tertinggi
Seakan ingin meraih langit lazuardi
Ia tak ingin turun jatuh ke bumi
Namun angin dan hujan membawanya pergi
Hingga ia menginjak bumi
Ia gugur membawa pesona nan alami

Seperti cinta yang sedang kuresapi
Meski datang hanya sekali
Membawaku terbang tinggi
Jauh terbuai mimpi
Saat semua kusadari
Cinta itu takkan pernah dapat kumiliki
Sekalipun cinta sejati
Hanya kan terkubur jauh di lubuk hati

“Badai, lekas sembuh sobat!” Rudy memeras saputangan pengompres di kening Badai.

“Duh, maaf ya, jadi merepotkan Nak Rudy!” ibunda Badai datang membawa secangkir teh hangat ke kamar Badai.

“Enggak apa-apa kok, Tante. Sudah kewajiban saya untuk menolong sahabat saya sendiri,” Rudy menggenggam pergelangan tangan Badai.

“Baru kali ini Badai seperti ini. Dokter bilang dia terlalu capek, padahal capek karena apa coba? Dia kan jarang ke luar rumah, ikut kegiatan ekstrakurikuler juga tidak. Oh ya, diminum dulu air tehnya, pakaian kamu basah, kamu ganti pakai pakaian Badai saja ya!” ibunda Badai merasa bersalah kepada Rudy.

“Ya, capek kan enggak harus capek karena mengeluarkan tenaga, Tante. Bisa juga kan capek karena pikiran?” Rudy menyeruput teh yang disodorkan ibunda Badai. 

Ibunda Badai mengeluarkan satu stel pakaian dari lemari Badai, “Kelihatannya baju yang ini pas ukurannya dengan Nak Rudy,”

“Malah jadi saya yang merepotkan Tante, nih!” Rudy menerima pakaian Badai dari tangan ibunda Badai.

“Enggak apa-apa, pakai saja!” titah ibunda Badai lembut.

“Saya boleh menunggui Badai di sini sampai siuman, Tante?”

Ibunda Badai mengangguk memberi persetujuan. Pikirannya menerawang mengingat sesuatu.

“Jangan-jangan, Badai kepikiran pengen punya motor baru, ya? Minggu lalu dia pernah mengajukan permintaan pada ayahnya untuk dibelikan motor besar,” kenang ibunda Badai.

Rudy mengerlingkan kening.

“Tapi kami tidak bersedia mengabulkan permintaannya itu, karena Tante pikir, motor bekas kakaknya dulu masih bagus dan bisa dipakai,” ungkap ibunda Badai lagi.

Rudy hanya dapat menyimak tanpa memberikan komentar, kedua bibirnya merapat dan pipinya ikut terangkat bergerak naik.

“Ya sudah Nak Rudy ganti baju dulu saja! Tante mau turun dulu ke bawah menyiapkan makan malam, ya,” pamit ibunda Badai menutup pintu kamar.

Rudy masuk ke dalam kamar mandi hendak berganti pakaian. Di rumah Badai hampir semua kamar terdapat kamar mandi pribadi. Beberapa menit kemudian dia sudah keluar mengenakan sebuah kaus tangan panjang, dan celana bahan. Ukurannya sangat pas di tubuhnya.

Badai belum kunjung sadar. Dipandanginya seluruh dinding kamar Badai. Beberapa foto berbingkai besar tergantung di dinding bercat biru muda. Foto-foto itu kesemuanya menampilkan kenangan kejuaraan yang pernah diraih oleh Badai saat ia mengikuti kontes vokal solo sejak masih duduk di bangku SEKOLAH DASAR. Rudy tersenyum mengagumi semua foto yang dilihatnya. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh sebuah buku yang teronggok di atas meja belajar. Sepertinya buku itu adalah sebuah album foto. Rudy semakin tertarik untuk membuka dan melihatnya. Halaman demi halaman ia buka. Semua foto yang ditempel di album itu menampilkan foto seorang anak laki-laki berusia 12 tahunan. Rudy sama sekali tak mengenali foto anak kecil pada album tersebut. Tidak mirip dengan Badai waktu kecil sama sekali, pikirnya. Namun halaman demi halaman berikutnya foto-foto yang terlihat adalah jelas foto sahabatnya sendiri : REVALDO MARIO. Tidak salah lagi, foto-foto anak kecil yang tadi dilihatnya pun sangat mirip dengan foto Mario remaja. Semua foto dalam album itu memang foto Mario. Tapi mengapa Badai menyimpan begitu banyak foto Mario ya? Pikiran Rudy penasaran.

“Mario… Mario…” Badai mengigau.

Rudy menghampiri spring bed Badai.

“Mario… Mario…” Badai terus menyebut nama Mario dalam tidurnya.

“Mario?” gumam Rudy.

“Ada apa dengan Mario? Badai, Badai, ini aku Badai,” Rudy menepuk-nepuk pipi Badai.

Tapi Badai tak kunjung membuka kelopak matanya, ia masih terus meracau.

“Mario, aku janji Kedasih pasti akan jadi kekasihmu,”

“Kedasih?” Rudy terkejut.

“Badai mau mencomblangkan Mario dengan Kedasih?” gumam Rudy.

===00==oOo==00===

Kedasih duduk berayun di sebuah ayunan dekat gazebo pinggir kolam renang. Ia menatapi keindahan bunga-bunga bungur yang mengangkasa di tangkai tertinggi. Mereka berayun-ayun indah tertiup semilir angin, sangat anggun.

“Tadi pagi aku sangat mencemaskanmu, 2 hari kau tidak sekolah. Bahkan SMS-ku pun tidak kau balas. Apa kamu marah karena sikapku di bioskop waktu itu?” tatap Kedasih sendu.

“Untuk apa marah? Sudah sepantasnya kan seorang gadis meminta perlindungan kepada lelaki?” Badai balik bertanya.

“Badai, tidak adakah kesempatan yang kan kau berikan padaku?” Kedasih berayun tinggi di udara. Dicekalnya rantai ayunan erat-erat.

“Kesempatan apa?” tanya Badai tak mengerti.

“Apa aku terlambat bertemu kamu, sehingga kamu sudah mempunyai seorang teman perempuan yang lebih perhatian padamu?” Kedasih merasa sulit untuk berbicara. Lidahnya kelu, dan bahunya berguncang.

“Oh, mungkin iya,” jawab Badai polos.

Badai tidak mencerna perkataan Kedasih lebih dalam. Kedasih berdebar-debar.

“Kemarin Camelia ke sini jenguk aku bawa macam-macam buah,” pungkas Badai.

“Bukan itu maksudku. Bagaimana dengan pacarmu?” Kedasih turun dari ayunan lalu berbalik membelakangi Badai.

Badai menghela napas, ia bingung harus menjawab apa.

“Eh, bagaimana film di bioskop waktu itu? Kamu dan Mario pergi ke mana lagi setelah itu?” Badai sengaja mengalihkan pembicaraan.

Kedasih menggelengkan kepala, “Tidak, kami mencari kalian tapi tidak ketemu.”

“Owh,” Badai membulatkan mulutnya.

“Kamu tahu, Mario itu aneh ya, punya paras ganteng, otak encer, jago basket, tapi sampai sekarang belum pernah punya pacar loh!” tangan Badai menggenggam air di kolam.

“Badai…” Kedasih mendekatinya.

“Sepertinya kalian berdua cocok deh. Bisa jadi pasangan yang serasi. Kalau seandainya Mario menembak kamu untuk jadi pacarnya, kamu mau menerima cintanya?” Badai terus berbicara tak mempedulikan Kedasih.

“Badai..” Kedasih masih menyebut namanya.

“Dari pancaran matanya aku tahu kalau Mario menyimpan perasaan padamu, Kedasih,” ungkap Badai.

Kedasih terdiam. Ia tidak ingin lagi mendengar kata-kata Badai menyebut nama Mario di hadapannya. Bukan karena ia membenci Mario. Tidak! Kedasih sama sekali tidak membenci Mario dan tidak ada alasan untuk itu. Tapi ini menyangkut masalah perasaannya. Sebab ia…

“Badai, aku pamit pulang,” Kedasih mengambil tasnya di atas meja gazebo.

“Tunggu Kedasih!” Badai mengejarnya ke halaman depan.

Kedasih terisak, ia tak menghiraukan panggilan Badai yang mengejarnya.

Badai merapatkan handphone di genggamannya ke telinga, “Halo, Mario, aku baru saja mengatakan kepada Kedasih tentang perasaanmu padanya. Sekarang tinggal kamu mengambil tindakan selanjutnya!”

“Thanks, Dai! You’re my best friend!” jawab suara di ujung telepon.

Badai menutup panggilannya, lalu mendesah pelan.

“Andaikan Kedasih itu adalah diriku,” seketika mata Badai berubah nanar.

Sejak saat itu, hubungan Badai dan Kedasih menjadi renggang. Hari-hari yang mereka jalani di sekolah pun tidak seindah minggu-minggu awal mereka bertemu. Camelia merasa heran pada perubahan sikap dua sahabatnya itu. Seakan Tembok Berlin yang dulu sempat memisahkan negara Jerman Barat dan Jerman Timur telah muncul di atas meja Kedasih dan Badai.

“Hey, kalian kok pada diam-diaman gitu sih?” selidik Camelia.

Badai cuek sedangkan Kedasih acuh tak acuh.

“Ada apa sih Dai, sama Kedasih?” Camelia mengguncang bahu Badai.

Badai melengos pergi meninggalkan Camelia dan Kedasih dalam kehampaan.

“Kenapa sih sama Badai, kok dingin gitu sikapnya?” Camelia menoleh pada Kedasih.

Kedasih angkat bahu.

“Eh, hari ini Rudy mau ngajak kita bakar ayam di rumahnya loh!” Camelia memamerkan isi SMS dari Rudy di inbox hpnya.

“Rudy bermaksud merayakan kemenangan tim basket di kompleks perumahannya mengikuti turnamen antarkelurahan. Wow, keren banget ya,” tandasnya.

Ia tersenyum lebar memamerkan deret giginya yang putih dengan mimik ekspresi selucu mungkin. Niat hati ingin menghibur Kedasih yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya.

“Tahu enggak BEBEK PANGGANG, apanya yang enak, coba?” Camelia mengajak tebak-tebakan.

Kedasih masih mengangkat bahu, ia sedang tak bergairah meladeni gurauan Camelia. Pikirannya masih tertuju pada perkataan Badai kemarin siang.

“BEBEK PANGGANG itu yang enak itu huruf B-nya! Coba kalau tulisannya dibuang semua huruf B-nya, jadinya kan tinggal EEK PANGGANG! Siapa yang mau?” kelakar Camelia menjabarkan tebakan yang sudah kelewat zaman itu.

Kedasih menarik ujung rambut Camelia. Baru kali ini Kedasih kembali mau tersenyum. Camelia meronta-ronta kesakitan.

“Udah, ampun deh. Pliz lepasin rambut gue!”

18.15 WIB

“Sorry ya Mel, aku mengundang Nico juga, sebab dia anggota tim basketku,” Rudy mencabuti bulu ayam di halaman belakang ditemani Camelia.

“No problemo! Walaupun gue dan Nico sempat pacaran and kita putus, bukan berarti sikap gue ke dia harus dingin-dinginan kan? Toh, gue sih happy aja diputusin dia. Bukan gue yang naksir dia duluan kok!” celoteh Camelia.

“Hubungan kalian setelah putus baik-baik saja kan?” Rudy mencari tahu. Sebenarnya Rudy penasaran juga dengan kisah cinta Camelia.

Camelia hanya tersenyum simpul, telunjuk kanannya mencabut salah satu bulu ayam di bagian dada. Dikoreknya telinga Rudy menggunakan bulu ayam tersebut. Kepala Rudy menggelinjang menahan geli. Sepasang muda-mudi itu pun tertawa lepas bersama.

“Eh, orang yang dibicarakan datang tuh. Pucuk dicinta ulam pun tiba,” tunjuk Rudy ke arah Nico.

“Wey Nic, dari tadi mondar-mandir bolak-balik, ngapain loe, kaya kebo mau kawin aja!” canda Camelia memanggil mantan pacarnya.

“Woy ONTA, lu juga malah asyik indohoy di mari. Ni gue lagi nelpon bini gue yang baru, tapi kagak diangkat-angkat. Sibuk kali ya?” timpal Nico menampakkan gurat wajah yang gelisah.

“Kok kamu dipanggil ONTA sama dia?” Rudy tercengang.

“Dia itu ngepelesetin nama gue dari CAMELIA jadi CAMEL yang artinya ONTA!” tukas Camelia santai.

Rudy membulatkan kedua bibirnya.

“Memangnya bini lu dah ganti lagi ya? Cepat amat lu kawin-cerai,” sindir Camelia.

“Kagak, bini gue tetap my PRINCESS AURELIA yang biasa gue panggil HONEY-BONEY-YUMMY-CHIBI-CHIBI!” Nico mengotak-atik hpnya.

DEGH!

Rudy tertegun mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Nico. Sementara Camelia malah menertawakannya, gadis itu teringat akan dirinya sendiri yang sering digoda oleh Amir di sekolah. Apakah semua lelaki bersikap begitu terhadap perempuan? Pikirnya.

“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya?” gumam Rudy mengingat-ingat.

“Dai, dari tadi loe dicariin noh sama Rudy di halaman belakang. Katanya mau minta tolong beliin kecap di minimarket ujung kompleks. Gue lagi nyiapin arang nih, jadi gak bisa, Mario sama Kedasih gak tahu cabut ke mana,” Rifkan menepuk bahu Badai dari belakang.

“Oh, oke,” sahut Badai pelan.

“Kata Rifkan kamu mencariku?” Badai menghadap Rudy.

Tiba-tiba ponsel Badai bergetar nyaris mengejutkannya begitu tahu kalau Nico berada di dekatnya sedang mencoba menghubungi Princess Aurelia, gadis samarannya.

“Angkat dong Princess darling, aku kepingin buktikan kepada teman-temanku kalau aku mempunyai pacar bersuara paling indah di dunia!” racau Nico tidak karuan.

“Apa cupu ngeliatin gue? Loe naksir ya sama gue?” sentak Nico menyolot kasar pada Badai.

Badai gelagapan serba salah. Badai takut penyamarannya sebagai Princess Aurelia akan terbongkar sekarang juga. Sebisa mungkin ia harus bisa menghindar dan mematikan ponselnya. Nico berhilir-mudik dan beranjak menjauhi posisi Badai. Tapi Badai belum merasa lega karena di hadapannya masih ada Rudy. Bisa saja Rudy mencurigai gelagatnya karena Rudy pernah melihat profil Princess Aurelia di monitor komputernya saat Rudy mengunjunginya beberapa minggu yang lalu.

“Aku perlu kecap dan beberapa bumbu, kamu bisa kan belanja ke minimarket di ujung kompleks? Ini daftar belanja yang harus kamu beli, dan ini uangnya,” Rudy menyerahkan selembar catatan dan uang berwarna biru pekat bergambar pahlawan I GUSTI NGURAH RAI.

Tanpa menunggu komando dua kali Badai melangkah tergesa-gesa. Ia harus segera menonaktifkan ponselnya, bilamana perlu ia harus pulang dahulu ke rumahnya untuk menyimpan ponsel kesayangannya itu dalam kamarnya. Badai pun berputar arah. Saat ia melintasi taman, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Sepasang muda-mudi tengah asyik bercengkerama di sebuah bangku taman tepat di bawah lampu neon. Sosok-sosok itu sangat dikenali Badai, karena tidak lain mereka adalah Mario dan Kedasih. Badai mengendap-endap, ia ingin mencuri dengar pembicaraan di antara mereka berdua.

“Kamu tahu mengapa Tuhan menciptakan 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 2 bibir, dan 2 tangan untuk manusia?” tanya Mario pada Kedasih.

Kedasih menggeleng, “Memangnya ada alasannya?”

“Jawabannya adalah, Tuhan menciptakan 2 mata untuk kita, karena jika Tuhan hanya memberi kita satu mata, maka aku takkan bisa mengedipkan sebelah mataku padamu!” Mario mulai menggombal.

Kedasih tersenyum, “Terus mengapa Tuhan memberi kita 2 telinga?”

Mario mendesah matanya mengerjap menatap langit malam bertabur bintang. Suasana malam ini begitu cerah. Tidak salah bila ia memilih taman ini sebagai tempat untuk mengemukakan perasaannya.

“Bila Tuhan memberiku hanya 1 telinga maka aku hanya akan bisa mendengar suaraku sendiri saat aku bilang bahwa aku suka padamu!”

“Lalu satu telinga lagi untuk apa?” Kedasih menarik satu telinga Mario.

“Yang satu ini akan kupakai untuk mendengarkan jawabanmu bahwa kamu juga menyukaiku,” Mario menahan pergelangan tangan Kedasih yang masih melekat di telinganya.

Kedasih menahan tawa dengan menutup mulutnya sebelah tangan, “GOMBAL!” bisiknya di telinga Mario.

“Alasan apa lagi yang akan kamu kemukakan Tuhan memberi kita 2 lubang hidung?” Kedasih menarik sebelah alisnya lebih tinggi.

Mario berdeham membersihkan tenggorokannya yang dipenuhi dahak.

“Satu lubang hidungku kupakai bernapas agar aku bisa hidup untukmu, dan satu lubang hidungku yang lain akan kupakai untuk memberikan sebagian napasku untukmu agar kau bisa terus hidup untukku!” Mario berkelakar.

“Kedengarannya aneh, tapi romantis juga,” Kedasih memicingkan matanya.

Mario menjepit hidung Kedasih dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya yang ditekuk ke dalam.

“Iiih Mario, apa-apaan sih?” Kedasih memprotes.

“Coba sekarang kamu lakukan hal yang sama padaku! Kita sama-sama menahan napas ya!” ucap Mario pelan.

Dengan ragu-ragu Kedasih mencoba melakukan apa yang diperintahkan oleh Mario.

“Nah, apakah kamu merasa pengap?” suara Mario berubah mindeng.

Kedasih mengangguk berulang-ulang. Mario melepas jari telunjuknya yang menutupi lubang hidung kanan Kedasih.

“Sekarang pejamkanlah kedua matamu, bayangkan aku ada di hadapanmu sedang tersenyum padamu dan bernapaslah dengan sebelah hidungmu!” titah Mario panjang-lebar.

Kedasih mengikuti instruksi Mario. Ia memejamkan kedua matanya, membayangkan Mario sedang berada di hadapannya seraya tersenyum padanya, dan menghirup udara hanya dengan satu lubang hidungnya.

“Napas itu adalah napas yang kamu miliki untuk dirimu sendiri,” bisik Mario.

“Sekarang lepaskan telunjukmu di hidungku!” perintah Mario lagi, Kedasih tetap mengikuti.

“Akan kupejamkan kedua mataku, kubayangkan kamu berdiri di depanku menatapku bahagia dengan senyuman, dan akan kuhirup udara hanya dengan satu lubang hidungku,” Mario mulai memejamkan matanya dan menarik napas.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Kedasih.

“Itu adalah napas yang kumiliki untuk diriku sendiri,” timpal Mario.

Dilepasnya jari tengah yang masih menempel pada hidung kiri Kedasih.

“Sekarang kamu ulangi menutup mata, membayangkanku, dan menarik napas lagi seperti tadi! Lakukan secara perlahan ya!” Mario memandangi wajah Kedasih lekat.

“Ya, seperti itu, hembuskan napasmu pelan-pelan! Sekarang, itu adalah napas yang kamu miliki dan telah kamu berikan padaku!” bisik Mario mesra.

“Sekarang giliranku lagi,” Mario melepaskan jari tengah Kedasih yang melekat di hidung kirinya.

Kedua matanya merapat dengan kelopak mata. Ditariknya napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Kedasih penasaran.

“Ini adalah napas yang kumiliki dan telah kuberikan kepadamu. Jadi napasku dengan napasmu sekarang telah bersatu!” tutur Mario.

Kedasih celingak-celinguk. Ia merasa tak percaya pada perkataan Mario.

“Lebay ah!” cibirnya.

“Eits, aku masih mempunyai alasan mengapa Tuhan memberi kita dua bibir!” telunjuk Mario mendarat di pelupuk bibir Kedasih yang mengatup rapat.

Jantung Kedasih berdetak lebih kencang daripada biasanya. Ia mendadak berdebar-debar karena perlakuan Mario padanya.

“Coba bayangkan, bila manusia hanya memiliki satu bibir! Apa yang akan terjadi?” tanya Mario.

Kedasih mencoba berpikir, “Mungkin bicaranya tidak akan lancar, dan suaranya tidak akan terdengar jelas oleh orang lain,” jawabnya sungguh-sungguh.

“Selain itu?” tanya Mario lagi. Ia berharap Kedasih dapat membaca apa yang ada dalam pikirannya.

“Ng… apa lagi ya?” Kedasih berusaha memeras otaknya, berpikir dapat menemukan jawaban yang sekiranya sesuai dengan pemikiran Mario.

“Oke, sekarang coba kamu pejamkan kedua matamu lagi. Bayangkan hal terindah yang sangat kamu dambakan saat ini!” telapak tangan Mario mengusap wajah Kedasih lembut.

“Bila kita hanya memiliki satu bibir, maka kita tidak akan pernah dapat merasakan indahnya perasaan cinta. Berbeda halnya jika memiliki dua buah bibir, maka manisnya cinta akan lebih terasa bermakna dalam jiwa kita!” Mario memejamkan kedua matanya.

Perlahan-lahan kedua bibirnya merapat dengan bibir Kedasih. Dikecupnya lembut bibir merah itu dengan perasaan penuh kasih. Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga semenit berlalu tiada perlawanan berarti yang dilakukan Kedasih terhadapnya. Kedasih tetap memejamkan kedua matanya rapat. Kedasih saat ini bukanlah Kedasih gadis bertangan besi yang ramai dibicarakan orang selama ini.

“Aku masih mempunyai alasan, mengapa Tuhan memberikan dua tangan pada kita,” bisik Mario pelan di telinga Kedasih.

“Bila Tuhan hanya memberiku satu tangan, maka itu hanya mampu bagiku untuk memelukmu! Tapi dengan kedua tangan ini, maka akan mempermudah bagiku untuk menarik kedua tanganmu agar membalas pelukanku di pinggangmu, dan aku dapat menopang tubuhmu bila kau terjatuh dalam jerat asmara cintaku!” Mario menarik tangan Kedasih untuk membalas pelukannya.

Tak berapa lama kemudian, keduanya larut dalam pelukan dan ciuman hangat di bawah sorot cahaya lampu taman. Kedasih tampak sangat menikmati suasana kemesraan yang diberikan oleh Mario malam ini.

“I LOVE YOU!” bisik Mario di telinga Kedasih jauh lebih lembut daripada bisikan-bisikan sebelumnya.

ASTAGA!

Mulut Badai menganga lebar menyaksikan adegan ini. Air matanya berlinang jatuh membasahi pipi. Ia tidak percaya kalau baru saja Mario dan Kedasih saling ber… CIUMAN!

Badai berlari meninggalkan taman. Perasaannya hancur setelah melihat orang yang begitu dicintainya selama ini, bercumbu mesra dengan orang lain yang menjadi dambaan hatinya. Badai  sedih hatinya sangat terluka tak terperi. Selesai sudah tugasnya untuk mempersatukan cinta Mario dan Kedasih. Esok, lusa, dan hari-hari berikutnya mungkin Mario tidak akan pernah dekat lagi dengannya, karena Mario sudah mendapatkan apa yang sangat diinginkannya.  Ingin ia terus berlari menyusuri jalan yang dilaluinya. Tapi akankah mampu ia melakukannya? Sedangkan meraih hati Mario saja ia tak bisa. Mengapa Mario bagaikan langit yang tak pernah dapat diraihnya. Ia begitu tinggi sehingga Badai tak pernah sanggup untuk mencapainya.

“Badai, kamu kok lama banget, sih?” Rudy mencegatnya di tengah jalan.

Badai terus berlari, ia tak menghiraukan panggilan Rudy sama sekali. Ia ingin berlari, berlari, dan terus berlari meninggalkan kenyataan bahwa dirinya mencintai orang yang salah. Perasaan ini memang perasaan yang salah. Perasaan yang tidak pada tempatnya. Kendati ia tak tahu bagaimana cara membunuh perasaannya itu. Apakah ia harus membunuh dirinya sendiri agar dapat membunuh perasaannya itu kepada Mario?

HOSH! HOSH! HOSH!

Napas Badai tersengal-sengal. Ia sudah tak mampu lagi berlari. Kakinya letih dipenuhi luka lecet karena alas kakinya terlepas di jalan. Akhirnya Badai terjatuh limbung, tak sadarkan diri.

ΩΩΩºº♥ººΩΩΩ

Mario melemparkan sekaleng minuman Pepsi pada Badai. Selama beberapa hari mengurung diri di kamar sudah cukup membuatnya dapat melupakan masalahnya. Saat ini Badai mulai bertekad untuk memupus perasaan cintanya kepada Mario dan akan menganggapnya hanya sebatas sahabat, sesuai komitmen yang pernah mereka berdua ikrarkan. Kenyataan pahit bahwa Mario akan meninggalkan Badai setelah mendapatkan cinta Kedasih itu semu. Nyatanya Mario masih bersikap baik kepadanya. Bukankah selama ini Mario tidak pernah mendalami perasaan Badai padanya? Jadi, apa yang harus dikhawatirkan oleh Badai. Mungkin hanya satu hal yang berubah. Semenjak Mario jadian dengan Kedasih, Mario tak pernah lagi mengantar-jemput Badai ke sekolah dan pulang ke rumah. Mario sudah mulai asyik mengantar-jemput kekasihnya. Walaupun sekali-sekali Kedasih mengingatkan Mario untuk mengantar-jemput Badai.

Akhir-akhir ini Rudy gencar mengajak Badai untuk bergabung ke dalam tim basketnya. Sudah beberapa hari Rudy dan Mario melatih Badai sungguh-sungguh.

“Kamu sudah mulai lancar mendrible basket, bolanya tidak lari-lari sendiri seperti yang sering kamu lakukan dulu!” Mario meneguk minuman Pepsi di tangannya.

“Wah, si Cupu dah mulai lancar men!” Nico mengolok-olok Badai.

“Jangan hiraukan omongan Nico, Dai!” Rudy duduk di sebelah Badai.

“Yee, Kak Badai juga jago nge-shoot loh!” puji Obby yang akhir-akhir ini sering bertandang ke kompleks Badai.

Sempat tersirat dalam pikiran Badai selama ini kalau Obby memiliki kepribadian yang sama dengannya. Dari gelagat yang ditunjukkan, Obby terlihat menaruh harapan besar kepada Mario. Sama seperti dirinya saat menyukai Mario dulu. Jadi ada kemungkinan perasaan Badai mengira Obby itu ‘sakit’ seperti dirinya. Tentu firasat ini hanya Badai yang dapat merasakannya.

Gerak-gerik Obby, cara berbicara Obby, cara berjalan Obby, gaya berpenampilan Obby semua tak luput dari pengamatan Badai. Sekali-sekali Badai ingin memastikan apakah Obby benar seperti yang dipikirkannya. Badai berniat pada dirinya sendiri, mulai saat ini ia harus mampu melupakan Mario dan mencoba mendekati Obby. Siapa tahu Obby benar-benar sama dengannya, dan mereka berdua bisa saling jatuh cinta dan merajut kasih seperti Mario dan Kedasih.

“Kak, Kak Badai, Kak Badai kok bengong sih? Ada topan nah datang, halilintar juga!” Obby mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan muka Badai.

“By, sekalian saja Kau sebut GURUH, GUNTUR, PETIR, KILAT, TORNADO, EL NINO, dan semua keluarga si Badai dari marga Bencana Alam!” sindir Nico diiringi tawa cekikikan Rifkan, sahabat setianya.

“Hush, Nic, jangan kelewatan gitu dong!” sambar Rudy.

“Kenapa, loe mau sewot ma gue? Sewot aja!” umbar Nico.

“Bukan gitu sob, dari dulu kamu kok sentimen terus terhadap Badai? Enggak pernah bersikap ramah sekalipun,” Rudy mengingatkan.

“Loe kok ngebelain dia? Loe naksir ya sama dia? Wah, kelainan loe ya!” umpat Nico semakin menjadi-jadi.

Rudy sudah bersiap mengepalkan tangannya dan menjotos mulut Nico yang lebih baik dijahit itu. Tapi hal itu urung dilakukannya, Rudy lebih mampu mengendalikan emosinya ketimbang Nico.

“Sudah, sudah, kalian jangan pada ribut! Kaya anak kecil aja, malu tahu nggak sama yang lewat pada ngeliatin!” Mario menengahi.

“Kali ini gue maafin, lain kali kalau loe masih ngebela terus si Cupu, gue tantang loe adu gulat di arena! Gue smack down loe tahu rasa!” Nico berlalu meninggalkan lapangan diiringi Rifkan pengikut setianya.

“Aku enggak habis pikir, kenapa Nico membenci Badai selama ini,” Rudy menghembuskan napas kuat-kuat.

Mario dan Obby sama-sama mengangkat bahu.

Badai tersadar dari lamunannya, “Astaga, aku kok masih di sini?” racaunya.

“Awas kamu Nico, akan kubalas semua celaanmu padaku. Tadi aku hanya berpura-pura tidak mendengar saja. Kamu harus membayar semua rasa sakit hatiku padamu!” umpat Badai dalam hati.

“Makanya kalau jatuh cinta ajak-ajak orang dong,” Rudy berteriak di telinganya.

Badai bangkit berdiri, ia terkejut luar biasa diteriaki begitu keras di telinganya oleh Rudy.

“Yee.. Siapa yang jatuh cinta?” tunjuk Badai pada Rudy.

“Panas-panas begini, enaknya kita berenang di rumah Badai!” seru Mario melepas kaosnya kegerahan.

“Wah, di rumah Kak Badai ada kolam renang ya? Asyik tuh, ayo Kak, kita pulang ke rumah Kakak sekarang!” Obby menarik-narik paksa tangan Badai.

“Iya-iya sebentar By!” Badai turut girang.

“Asyik, aku akan berenang dengan tiga orang cowok keren!” batin Badai.

×××Ω♥Ω×××

“Selamat ya Sih, atas jadian kamu dengan Mario! Benar kan apa kataku, selama ini Mario menyimpan perasaan cinta kepadamu?” Badai menyalami Kedasih yang baru saja menaruh tasnya ke dalam laci meja.

“Thanks buat ucapannya. Aku juga baru menyadari setelah kamu memberitahuku waktu itu!” tukas Kedasih seraya menyambut uluran tangan Badai membalas jabatannya.

“Badai, nanti jam pertama kamu temui Ibu di sanggar seni ya Nak! Tadi Ibu sudah meminta izin pada Pak Ramadhan, bahwa hari ini kamu tidak bisa mengikuti pelajaran beliau dikarenakan harus berlatih olah vokal untuk persiapan kontes vokal solo pelajar tingkat nasional minggu depan!” Bu Sugeng menghampiri Badai dan Kedasih yang sedang asyik berbincang.

“Baik, Bu,” sahut Badai bersemangat.

“Bu, Bu, saya boleh ikut enggak Bu?” Amir dengan gaya kocaknya menghadang Bu Sugeng di pintu kelas.

Entah ulah apa lagi yang sedang dibuat oleh Amir. Kepalanya sengaja ditutupnya dengan ember.

“Amir…. Berikan ember itu kepada yang piket!” Bu Sugeng berkacak pinggang.

“SIAAP BU! Tapi saya boleh ikut kan Bu?” Amir bergaya memberi hormat ala tentara.

“Ikut ke mana?” tanya Bu Sugeng, langkahnya sengaja dihalang-halangi oleh Amir.

“Ke mana saja deh, ke hati Ibu juga boleh,” Amir menggombal.

“Ya sudah, kalau gitu kamu ikut Ibu sekarang! Kita ke kuburan!” ajak Bu Sugeng dengan nada serius.

“Kok ke kuburan sih Bu? Memangnya kita di sana mau ngapain?” Amir menggamit lengan Bu Sugeng. Tingkahnya sudah melampaui batas kesopanan.

“GALI KUBURAN BUAT KAMU!” tatapan mata Bu Sugeng berubah geram, mengerikan.

“Aih, Ibu, bahasanya seram amir. Si Amir aja enggak seseram gitu deh,” canda Amir meniru ejekan yang sering ditimpakan teman-teman sekelas kepadanya.

“Iya, si Amir bahasanya tidak seseram bahasa saya. Tapi bahasa si Amir seculun gaya orangnya!” tukas Bu Sugeng santai, disambut gelak tawa seisi penghuni kelas XI IPA B.

Bu Sugeng pun berlalu meninggalkan ruangan kelas. Sepeninggal Bu Sugeng, murid-murid Kelas XI IPA B menghadang Amir di depan pintu. Wajah mereka memasang tampang menyeringai membuat Amir ketakutan.

“Kamu ingat Amir, peraturan kelas kita?” suara perwakilan salah seorang di antara mereka.

Amir mengernyitkan kening, “Peraturan yang mana ya?”

Teman-temannya mulai mengelilingi Amir.

“Barang siapa berbuat tidak sopan kepada guru, maka dia harus membayar denda!” nada peringatan dari suara yang lain.

GLEK!

Pupil Amir mengecil, tenggorokannya terasa gatal, “A..aku lu..lupa! Peraturan itu tidak berlaku untuk ketua kelas kan?”

Salah seorang temannya sudah sibuk melakukan senam jari. Terdengar suara bergemeletuk dari tulang-tulang jari yang diremas-remasnya.

“Owh, jadi Kamu mau jadi diktator ya? Atau mau melakukan praktek KKN heuh? Ya sudah, Kamu nanti jadi Kura-Kura Ninja saja! Sekarang sebaiknya cepat Kamu kembalikan semua uang denda kami yang kami bayarkan kepadamu! Kalau tidak, kami gantung Kamu di pohon cabe!” ancam si anak tadi.

“Ih dasar si Amir caper! Sukanya cari perhatian orang!” sungut Camelia sebal.

“Biar begitu dia ngefans berat sama Kamu loh!” Badai memperingatkan.

“Hiii… amit-amit jabang babi, babi aja enggak mau diamit-amitin!” Camelia bergidik jijik.

“Ya udah, amit-amit jabang sapi!” Gurau Badai tertawa renyah.

“Nah, mulai lagi kan? Hiii..” Camelia kembali bergidik.

Badai dan Kedasih tergelak bersama melihat mimik Camelia yang lucu saat berekspresi jijik tadi.

“Eh, Dai, aku sudah lama enggak mendengar suara kamu nyanyi. Boleh request lagu enggak? Pleae ya!” Kedasih menatap penuh harap.

“Iya nih, Dai. Kapan lagi loe bisa ajarin gue olah vokal? Dah lama kan kita nggak latihan,” Camelia turut memohon.

“Oke, memangnya kalian mau pesan lagu apa nih sekarang? mumpung aku lagi mau,” jawab Badai juga balik bertanya.

Camelia dan Kedasih berbisik-bisik, kemudian menyebutkan salah satu judul lagu yang pernah dinyanyikan oleh Rossa. Demi memenuhi permintaan kedua sahabatnya, Badai pun bangkit berdiri dan bernyanyi di muka kelas. Jam menunjukan baru pukul 06.50, masih ada waktu 10 menit sebelum bel masuk berbunyi.

Kumenunggu

Kumenunggu,
Kumenunggu Kau putus dengan kekasihmu
Tak akan kuganggu Kau dengan kekasihmu
Ku kan selalu di sini untuk menunggumu

Cinta itu kuberharap Kau kelak kan cintai aku
Saat Kau telah tak bersama kekasihmu
Kulakukan semua agar Kau cintaiku

Reff :
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Ada cemburu juga rindu
Ku tetap menunggu

Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Dan Kau sudah ada yang punya
Ku tetap menunggu

Datang padaku!
Kutahu kelak Kau kan datang kepadaku
Saat Kau sadar betapa kucintaimu
Ku akan selalu setia tuk menunggumu

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s