Posted on

#Namamu Kupinjam 5#

image

#Namamu Kupinjam 5#

Amir berdiri di depan kelas XI IPA B. Jabatannya sebagai ketua kelas telah mengubah banyak kepribadiannya yang dulu biasa terlambat datang ke sekolah, sekarang ia menjadi lebih disiplin dan setiap pagi benar ia sudah sampai di muka kelasnya. Mulai saat itu ia ingin menjadi pribadi yang berdedikasi tinggi pada jabatannya. Ia kerap mengawasi teman-temannya yang piket sebelum bel berbunyi. Ia juga memberlakukan sistem denda kepada teman-temannya apabila mereka tidak berpenampilan rapi dan sopan selama di sekolah. Tak ada satupun temannya yang berani menentang. Walau Amir sedikit lebay dan alay, kadang beloon juga, namun ia masih disegani oleh teman-temannya dalam hal kedisiplinan. Amir bisa berubah sangat garang saat dia sedang marah. Kemarahan yang ditunjukan olehnya bisa melebihi emosi Misae-mamanya Crayon Shinchan saat menjitak kepala Shinchan, kebayang enggak tuh?

“Pagi, Ketua!” sapa Badai saat melintas di hadapan Amir.

“Pagi Badai, wah ceria sekali kamu hari ini,” tukas Amir. Tangannya tengah memegang sapu membantu teman-temannya yang piket.

“Harus dong! Pagi ini pelajaran pertama matematika dengan Bu Sugeng kan?” Badai memasukkan tasnya ke dalam laci meja.

“Hari ini kita enggak belajar men, aku dapat info dari Bu Sri Sudaryanti karena hari ini ada pentas seni, kegiatan belajar-mengajar ditiadakan!” runut Amir jelas.

Badai membulatkan mulutnya mengeluarkan suara O bulat. Perhatiannya berpaling tertuju pada seseorang yang turut masuk ke dalam kelas.

“Loh, Yo kamu kok malah ke sini sih? Kamu kan harus menyiapkan pensi, bukan?” seloroh Badai.

Mario duduk di samping Badai,”Aku ingin bertemu pujaan hatiku sebelum beranjak ke pensi.”

Badai menerawang ke luar jendela.

“Nah, tuh dia!” bisik Badai padanya.

Mario tersenyum memandangi Kedasih yang baru saja masuk diiringi Camelia. Kelihatannya mereka berdua pagi ini berangkat bersama.

“Pagi Kedasih!” sapa Mario menyodorkan tangannya hendak menjabat tangan Kedasih.

Kedasih memicingkan matanya,”Kamu enggak salah masuk kelas?”

Kedasih tak kunjung membalas uluran tangan Mario. Lalu Mario menarik sendiri tangan Kedasih supaya tangan mereka saling berjabat. Jabatan itu diayun-ayun cukup lama.

“Sebenarnya sih, aku pernah mengajukan mutasi kelas pada Pak Ruspita-wakasek kesiswaan, tapi enggak tahu kenapa pengajuanku ditolak. Yah, padahal aku kepingin banget masuk di kelas ini,” Mario mendesah.

Kedasih menautkan kedua alisnya nyaris rapat,”Kok sama kaya Badai ya? Kalau enggak salah, waktu hari pertama sekolah Badai juga mau menggugat supaya bisa pindah kelas kan?” Kedasih melemparkan pandangan pada Badai.

Lirikan Mario turut beralih menuju Badai sehingga Badai tampak gelagapan, ia salah tingkah.

“Eng, itu.. Waktu itu salah paham. Aku memang salah, aku tak mampu masuk kelas XI IPA A. Iya, benar begitu,” Badai gugup.

Mario mengangkat bahu. Ia sama sekali tidak mencurigai Badai. Ia sudah tidak mempermasalahkan soal perpindahan kelas lagi. Baginya bisa mulai dekat dengan Kedasih saja sudah cukup.

Di kejauhan terlihat Amir sedang ber-rock-n-roll ria dengan gagang sapu yang dipegangnya seperti sedang bermain gitar. Di belakangnya teman-teman lain turut mengiringi gerakannya dengan mimik yang lucu. Ada anak yang memegang kemoceng dan menjadikannya sebagai penggesek biola, ia menggesek-gesekan kemoceng itu ke tangan kirinya yang dianggap sebagai biola sungguhan. Ada pula anak yang memegang ember besi dan menabuhkan telapak tangannya pada pantat ember menjadikan ember besi tersebut sebagai gendang. Lantas Amir pun bernyanyi mendendangkan salah satu lagu dangdut yang pernah dipopulerkan oleh H.Roma Irama zaman dulu.

“Dulu aku suka padamu, aku memang suka…” lirik Amir.

“Ya Ya Ya…” sahut teman-temannya di belakang.

“Dulu aku gila padamu, aku memang gila…” Amir melanjutkan dendangnya.

“Ya Ya Ya, memang KAMU GILA!” sorak teman-temannya masih mengiringi.

Amir menoleh ke belakang, memperhatikan teman-temannya. Kedua matanya membulat besar. Teman-temannya gelagapan ketakutan, kemudian mereka mengibaskan tangan memberi tanda peace (damai) diiringi senyum yang dipaksakan. Amir berbalik dan melanjutkan lagunya.

“Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan jiwaku…” Amir bersenandung dengan riang, ternyata lagu itu sengaja ditujukan kepada Camelia. Satu-satunya gadis di kelas XI IPA B yang selalu menjadi objek sasarannya memadu kasih. Naga-naganya Amir jatuh cinta kepada Camelia.

Salah seorang perempuan yang sedang piket menyorongkan gagang lap pel yang dipegangnya ke arah kepala Amir dari belakang. Perempuan itu seperti ingin menyodok kepala Amir bagai menyodok bola bilyar. Amir sama sekali tak menyadari apa yang diperbuat oleh teman-temannya di belakangnya. Camelia dan Kedasih tertawa melihat ulahnya yang kurang kerjaan itu.

“Oya Dai, jam 9 nanti kamu stand by di belakang panggung ya! Kamu kan harus tampil nyanyi mengisi acara pensi,” tukas Mario sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang kelas Badai.

Badai mengangguk, hatinya lega karena Mario tidak menginterogasi macam-macam perihal perpindahan kelas. Tak berapa lama ia turut larut dalam tawa bersama Kedasih dan Camelia melihat polah Amir.

Mario melintas di depan Amir dan menepuk pundaknya seraya berkata, ”Gila loe!”

Amir tak menggubris acuh tak acuh.

“Oya Dai, kata Mario kemarin, di sepanjang jalan kompleks perumahan kalian ditumbuhi tanaman bungur ya?” tanya Kedasih tiba-tiba.

“Iya,” jawab Badai singkat.

Kedasih mendecak,”Wah pasti pemandangan di kompleks perumahan kalian indah banget ya, boleh enggak nanti siang aku main ke rumahmu?”

“Eh, aku ikutan dong,” seru Camelia semangat.

“Boleh,” Badai lagi pelit berkata-kata.

===00==oOo==00===

Kehebohan di bawah panggung semakin menjadi. Kemarin rasanya anak itu sedang sakit kakinya karena terjatuh dari tangga. Lah sekarang hebat benar dia sudah bisa melonjak-lonjak tinggi berjoged dalam lautan manusia. Suasana pentas seni tahun ini memang meriah, lapangan di depan panggung telah ramai membludak dipadati oleh para pelajar. Sebagian dewan guru turut terjun menari bersama dengan para siswa yang menarik-narik tangan mereka.

“Aku tak mau bicara sebelum kau cerita semua, apa maumu siapa dirinya, tak betah bila ada yang lain. Jangan hubungiku lagi,  ini bisa jadi yang terakhir, aku ngerti kamu, kau tak ngerti aku, sekarang atau tak selamanya…” suara Badai terdengar sangat poll di sound sistem salon.

Kali ini Badai membawakan lagu Yank-Wali.

Obby menarik tangan Mario ke tengah lautan manusia yang sedang berjingkrak-ria di bawah panggung. Ia tidak tahu kalau Mario sedang berusaha mendekati Kedasih di sisi panggung sebelah kiri. Kedasih sangat senang melihat penampilan Badai berada di atas panggung, serasa menonton konser penyanyi populer. Setidaknya Badai memang sudah menjadi penyanyi top di sekolah mereka. Suasana bertambah heboh tatkala perhatian para pelajar terhipnotis oleh penampilan Bu Sugeng yang menjadi backing vokal di sebelah Badai.

“Bu turun Bu, panggung bisa ambruk nanti!” gurau Bu Sri Sudaryanti yang berdiri tidak jauh dari panggung.

“Busyet deh, sudah yang nyanyi Badai, ditemani gajah bengkak pula, apa nggak roboh tuh panggung?” celetuk salah seorang siswa kurang ajar.

“Alamak, kali ini badai tornado berhasil membawa kudanil dari Afrika ke mari! Hancur dunia!” tak kalah komentar yang lain bersahutan.

Tapi Bu Sugeng tak mendengar suara-suara sumbang itu, karena tertutup oleh suara keramaian musik dan penonton lainnya yang terbilang lebih dari seribu orang. Bahkan Bu Sugeng malah enjoy, beliau sangat menikmati alunan musik dan suara Badai yang membahana ke seluruh penjuru sekolah.

Obby masih menarik-narik tangan Mario untuk berjoged dengannya, namun Mario terus berusaha menghindar. Aneh, pikir Mario. Pakai mantra apa si Obby nyeri pada kakinya bisa sembuh hanya dalam satu malam, padahal kemarin sore waktu Mario lagi ngedate dengan Kedasih di mall, Obby meneleponnya minta dijemput pulang. Jangan-jangan dia menelepon Mak Erot? Halah, Mak Erot kan sudah lama meninggal, Mario geleng-geleng. Tatapannya terus tertuju pada Kedasih yang duduk di kursi pinggir panggung.

Tubuh Obby meliuk-liuk. Tangan, kaki, dan kepalanya asyik bergoyang. Ia memperagakan segala macam goyangan yang dikuasainya. Mulai dari goyang bebek mau nelor, goyang angin puyuh, goyang kobra India, sampai goyang karet melar. Tanpa terasa lagu yang dibawakan oleh Badai pun sudah habis. Yaaaah, penonton kecewa.

“Lagi! Lagi! Lagi!” sorak para penonton mendaulat Badai.

“Sudah dulu ya teman-teman, tadi kan sudah dua lagu yang saya nyanyikan! Jadi saya-nya mau istirahat dulu!” lagak Badai sok artis.

Triko naik ke atas pentas, ia meraih mic yang dipegang Badai. Sesaat Badai sempat menunjukan tatapan benci pada Triko. Bukan karena ia masih ingin bernyanyi di atas panggung, melainkan karena kemesraan yang ditunjukan Triko dengan salah seorang siswi baru kemarin lalu. Triko sama sekali tak menyadari makna tatapan Badai.

“Iya, beri tepuk tangan untuk Badai dan ibu guru kita, Ibu Sugeng!” Triko memandu acara.

“Gimana masih mau bergoyang?” teriaknya dengan gaya yang funky.

“Maauuuu………….” sahut para penonton di bawah pentas.

“TUNGGUU!” suara seseorang menghentikan aksi panggung Triko.

“GUE JUGA MAU NYANYI!” sentak perempuan itu pada Triko.

Perempuan itu berjalan menuju ke tengah pentas dengan gagahnya, seperti langkah seorang tentara yang sedang latihan baris-berbaris.

“I..iya,” jawab Triko tergagap.

Kemudian perempuan itu menghampiri keyboardist di deret belakang panggung. Ia membisikan sesuatu. Tak lama musik pun mengalun, bukan nada riang yang diharapkan para penonton, melainkan nada mellow yang pernah dinyanyikan kemarin sore di karaoke box. Ia melantunkan lagu Sang Dewi.

“Walaupun jiwaku pernah terlukaaa, hingga nyaris bunuh diiiirii, hiks…”

Beeeuh, lagi-lagi Camelia beraksi. Sepertinya niat benar menjadi seorang penyanyi top. Suara cemprengnya sangat memekakan telinga.

“Huuuuuuu…………….” koor nada panjang bersahutan di bawah panggung menyorakinya.

Dasar Camelia cuek, ia tak menghiraukan cemoohan para penonton di bawahnya. Ia terus bernyanyi tanpa peduli. Penonton menutup telinga mereka dengan telapak tangan. Namun di saat reff mulai didendangkan, aneh, berangsur-angsur suara Camelia jadi terdengar mendayu-dayu dengan intonasi yang sesuai. Penonton melepaskan tangan mereka dari telinga.

“Whuaaa,,, Camelia, I LOVE YOU HONEY-BONEY!” sorak Amir membawa seikat bunga plastik yang diambilnya dari atas meja guru di ruang kelasnya, lalu berlutut di hadapan Camelia dan mempersembahkannya untuknya. Wow, so sweet ya Amir?

Camelia pun menerima bunga plastik itu, menciumnya sesaat, lalu memukul-mukulkan bunga itu ke atas kepala Amir. Gayanya sangat mirip dukun sakti yang sedang mengobati orang sakit. Penonton tertawa menyaksikan aksi mereka. Anggap saja ini sebagai intermezzo, pikir mereka.

==00♥00==

“Waah, benar-benar seperti musim semi di Jepang ya?” Kedasih berdecak kagum memandangi deretan bunga bungur dari atas beranda loteng rumah Badai.

Helaian demi helaian kelopak bunga bungur jatuh berguguran ke tanah karena tertiup angin. Rerumputan hijau nan alami terhampar melapisi tanah memperindah suasana kompleks perumahan.

Camelia turut terpukau,”Seharusnya kita membawa bontot ke mari! Lalu kita duduk menggelar tikar di bawah pepohonan itu!” tunjuknya ke salah satu corner di tepian kolam renang.

“Hey lihat siapa yang datang itu?” Badai menungkul ke bawah.

“Badaai…” panggil seseorang di teras bawah. Ia datang mengendarai sepeda BMX bersama seorang kawannya.

Mereka tak lain adalah Rudy dan Mario. Seperti biasa mereka datang untuk latihan renang dengan Badai. 

“Enggak nyangka remaja cowok yang tinggal di kompleks ini ganteng-ganteng ya!” gumam Camelia, sementara Kedasih tak memperhatikan celotehnya.

Badai turun diiringi kedua gadis berlesung pipi sahabatnya itu. Camelia sangat ingin berkenalan dengan Rudy, secara mereka tidak pernah bertemu sebelumnya karena mereka tidak satu sekolah.

“Hai, kenalin, nama gue Camelia. Teman sekelas Badai,” Camelia mengulurkan tangan kanannya.

“Oh, ganggu acara kalian dong. Oh iya, namaku Rudy. Aku tinggal 10 meter dari rumah ini,” sahut Rudy santun.

“Ah, enggak, enggak mengganggu sama sekali kok, malah kita senang sekali ya, bisa mengenal teman Badai di luar sekolah,” Camelia salah tingkah, ia grogi sekaligus berbunga-bunga menatap senyum cool Rudy yang super cute.

Kedasih memandangi Badai seraya berbisik,”Ganjennya si Camelia mendadak kumat.”

“Ho’oh,” tukas Badai pelan.

“Mel, loe lagi kagak bunting kan? Soalnya nunggu gue jadi dokter hewan masih 6 atau 7 tahun lagi!” Desis Badai di telinga Camelia.

“Sst.. Diam deh loe! Jangan bahas soal sapi embah loe lagi, okay? Kalau enggak mau diam, semua sapi bunting punya embah loe di kampung gue bikin keguguran,” Solot Camelia kesal balas berbisik di telinga Badai.

“Yang di sebelah Camelia ini, kembang sekolahku bro! Namanya Kedasih Amelia,” Mario mengambil alih perhatian.

Mendengar namanya disebut sebagai kembang sekolah, wajah Kedasih memerah merona, ia tersipu malu mengulurkan tangannya kepada Rudy.

Rudy sempat bengong memperhatikan wajah Kedasih lebih lekat. Setelah beberapa saat ia baru sadar dari lamunannya karena lengannya disikut pelan oleh Mario, dan segera menyambut uluran tangan Kedasih.

“Diakah yang kamu taksir itu?” bisik Rudy di telinga Mario yang dijawab sebuah anggukan kecil.

“Wow, cantik banget!” timpal Rudy lagi, ia terkesima menatapnya.

“Sebenarnya kami ke sini mau mengajak Badai bermain basket di lapangan, tapi berhubung kalian sedang ada acara, biar tidak jadi saja,” Rudy menggamit lengan Mario berbalik ke garasi. Namun Mario enggan beranjak.

Langkah Rudy tertahan, dia mengurungkan niatnya untuk pulang.

“Kirain mau latihan renang seperti biasanya,” Badai salah menduga.

“Kok enggak bilang sih mau main ke sini,” Mario menghampiri Kedasih yang diam mematung.

“Eh, oh, memang tidak direncanakan sebelumnya kok,” sahut Kedasih datar.

“Aku hanya ingin melihat keindahan bunga bungur di kompleks perumahan kalian,” lanjutnya lagi terus terang. Ia menengadahkan kepalanya ke langit, memperlihatkan leher jenjangnya. Diraihnya kelopak bunga bungur yang gugur tepat di atas kepalanya.

“Rud, kita gabung sini yuk ngobrol-ngobrol sambil menikmati keindahan pemandangan di gazebo pinggir kolam,” ajak Camelia agresif.

“Badai, sudah waktunya makan siang Nak! Ajak kawan-kawanmu turut serta!” panggil ibunda Badai di ambang pintu.

“Wah, kami jadi merepotkan Tante, nih” Kedasih tersungging.

“Jangan sungkan ya, Nak! Ayo, kalian makan dulu! Hari ini Tante masak balado kentang, satay padang dan semur ayam, loh!” ibunda Badai melambaikan tangannya mengajak kelima remaja itu untuk masuk.

“Tante, mohon maaf kalau kami sudah merepotkan, boleh kami usul makan siang di dekat gazebo sana? Kelihatannya makan bersama menggelar tikar di bawah pohon bungur itu bagus sekali,” tanya Camelia ragu-ragu.

Ibunda Badai menganggung-anggip, ”Tentu boleh, Nak!”

“Terima kasih, Tante. Ayo teman-teman, kita serbu makanannya!” Camelia mendorong punggung ibunda Badai pelan, ia berusaha untuk akrab dengannya.

“Ah dasar Camelia, kalau urusan makanan nomor satu,” gerutu Kedasih. Segera Badai dan teman-temannya menyusul di belakang.

“Sapi bunting! Sapi bunting!” Badai geleng-geleng kepala dibalas juluran lidah oleh Camelia.

Seusai makan Badai duduk di tepian kolam, tempat favoritnya untuk melamunkan sesuatu selain di kamar. Kedasih duduk di sampingnya menyandarkan kepalanya di pundak kanan Badai sambil mendengarkan musik menggunakan earphone. Sebenarnya Badai merasa risih, ia khawatir Mario akan menaruh perasaan cemburu seperti kemarin saat di mall. Kedasih mengangkat hpnya tinggi-tinggi ke udara kemudian membidik wajah mereka berdua dalam sebuah gambar kamera ponsel.

“Badai, aku suka banget suara kamu. Entah mengapa setiap kali mendengar kamu bernyanyi perasaanku menjadi tenteram,” desis suara Kedasih terdengar lirih.

Badai setengah terkejut, ia sama sekali tidak menyangka kalau Kedasih akan berterus-terang seperti itu padanya. Kedasih menggenggam jemari Badai erat.

“Apa jangan-jangan Kedasih suka padaku?” pikir Badai.

Camelia dan Rudy tampak sedang asyik bercanda di gazebo, obrolan mereka ngalor-ngidul membicarakan kepribadian masing-masing, sepertinya mereka berdua pasangan yang cocok. Itu tampak jelas dari cara mereka saling memandang hingga saling cubit-cubitan dan tertawa lepas bersama, padahal belum ada dua jam mereka berkenalan tapi sudah terlihat mesra sekali.

Mario keluar dari rumah Badai menuju gazebo tempat Rudy dan Camelia bersenda-gurau, tangannya membawa sebuah nampan berisi sepiring caramel dan lima gelas lemon tea. Tangannya sangat cekatan membawakannya. Rudy dan Camelia berebut memilih gelas dan sepotong kue. Terlepas dari itu ekor mata Mario turut menjelajah mencari posisi Kedasih dan Badai. Saat ia menangkap sebuah gelagat yang tidak menyenangkan baginya, Mario segera menghampiri mereka berdua.

“Memangnya benar ya, kalau kamu masih jomblo?” selidik Kedasih pada Badai.

Badai sama sekali tidak menyadari kedatangan Mario di belakang mereka. Pun begitu pula dengan Kedasih.

“Siapa bilang Badai masih jomblo?” Mario menengahi mereka berdua.

Badai melepas genggaman Kedasih di tangannya. Ia tidak mau Mario mencemburuinya seperti kemarin. Kakinya berayun di air kolam menimbulkan cipratan-cipratan tak beraturan.

“Badai itu sudah punya pacar. Kudengar dari Rudy, ia melihatnya kemarin di facebook saat Rudy berkunjung ke mari. Katanya foto pacar Badai itu sangat cantik loh!” celoteh Mario mengungkap kejadian kemarin sore.

Padahal sebenarnya foto yang dimaksud adalah Princess Aurelia, samarannya di dunia maya.

“Ooh,” Kedasih membuang muka ke arah lain. Ada gurat kecewa di wajahnya.

“Aku baru saja mendapatkan nomor hp Kedasih. Kamu mau?” bisik Badai di telinga Mario.

“Sip, sip, bagus, bagus, nanti SMS-kan nomornya ke nomorku ya!” mata Mario berbinar.

“Kalian bicara apa sih?” lirik Kedasih curiga.

“Ah, enggak..” jawab Mario menutup-nutupi.

Kedasih mengambil sepotong kue yang disodorkan oleh Mario. Ia juga menyerahkan sepotong lain kepada Badai, namun Badai menolaknya secara halus.

“Pacarmu anak mana? Kenalin dong sama kita!” suara Kedasih terdengar seperti dipaksakan.

“Ng..” Badai tak mampu berkata-kata.

“Enggak satu sekolah ya sama kita?” Mario turut penasaran.

Ia sungguh belum punya pacar. Yang ada hanya pacar jebakan. Baru saja tadi malam ia berhasil menjebak Nico ke dalam perangkapnya. Tak mungkin kan, kalau Badai harus mengaku kepada Mario dan Kedasih bahwa dirinya hanya mempunyai pacar jebakan? Badai menunduk menyembunyikan perasaan gelisahnya.

Ponsel Mario bernyanyi melantunkan alunan Now That You are Here-Christian Bautista. Badai hafal benar kalau itu adalah sebuah nada panggilan masuk.

“Iya By, ada apa?” Mario menerima panggilannya, ia berdiri lalu berjalan menjauh dari Kedasih dan Badai.

Pasti si Obby lagi, pikiran Badai menerka.

“Heran, kok si Obby sering banget menghubungi Mario ya? Di sekolah juga tadi pagi ia terus menyeret Mario untuk joged bersamanya,” racau Badai setengah berbisik tapi terdengar jelas oleh Kedasih yang duduk di sampingnya.

“Enggak tahu juga, mungkin dia ada perlu dengan Mario,” timpal Kedasih acuh tak acuh.

“Eeh…” Badai baru menyadari kalau omongannya terdengar oleh Kedasih.

Jangan-jangan si Obby juga menyukai Mario sama seperti aku, pikir Badai. Apa iya, ya?

“Jadi kamu enggak mau cerita nih, soal pacar kamu? Ya udah nggak apa-apa, aku doakan semoga hubungan kalian langgeng aja deh!” Kedasih tersenyum kecut.

Badai tahu, senyumnya itu terlalu dipaksakan.

“Dai, maaf kayanya aku harus permisi pulang deh. Obby sedang menungguku di rumah!” pamit Mario kepada Badai.

“Kita juga harus pulang, nih. Sudah lama kita di sini,” Kedasih bangkit dari duduknya.

Ia memanggil Camelia yang masih asyik bercanda dengan Rudy di gazebo. Camelia paham dengan kode yang diberikan Kedasih. Ia berlari kecil menghampiri Kedasih.

“Pulang yuk!” ajak Kedasih.

“Oke,” sahut Camelia.

“Dai, si Rudy ini orangnya asyik ya, dia pintar main musik, piano orkestra. Katanya diajarin sama lu, ya?” Camelia menggamit lengan Rudy yang berdiri di sampingnya.

Rudy menyibak rambut di kepalanya menahan ge-er. Badai mengacak rambut Rudy.

“Kayanya gue bakal sering-sering main ke sini. Gue betah banget sama suasana di sini. Sekalian mau minta diajarin piano and nyanyi sama lu ya, Dai” Camelia malu-malu melirik Rudy.

“Oh ya, mana nyokap lu?” sambungnya lagi.

“Ibu sedang pergi arisan di rumah tetangga sebelah,” jawab Badai.

“Oh, kalau gitu salam ya buat ibu kamu,” Kedasih membenahi rambut dan pakaiannya.

Badai mengangguk, mengantarkan keempat sahabatnya itu ke pintu gerbang rumahnya.

“Maaf ya Sih, aku enggak bisa antar kalian,” ujar Mario.

Rudy mengambil sepeda di garasi, sementara Camelia mulai menstarter motornya.

“Enggak apa-apa, lagipula ada Camelia yang bawa motor dan mengantarku pulang,” Kedasih menduduki boncengan motor Camelia.

“Yuk, dah Mario, dah Badai, dah Rudy…” Camelia berpamitan sambil melambaikan tangan kirinya.

Saat Badai menyembulkan kepalanya di balik pintu pagar, seorang anak muda tengah duduk di trotoar menghadap jalan raya memunggunginya, tidak jauh dari sebuah motor besar. Mendengar suara roda pintu pagar rumah Badai bergeser, anak muda itu memutar kepala menoleh pada Badai.

“Baaa…” ia mengejutkan Badai.

Badai tersentak, ”Wow, keren sekali!” gumamnya pelan.

“Oh jadi di sini rumah Kak Badai,” Obby mengusap rambutnya.

Sebuah hem merah dan celana jeans biru membalut tubuhnya, sebuah jam tangan bermerek terkenal made in Japan menghiasi pergelangan tangannya. Tak ketinggalan sepatu kets putih turut menutupi kakinya sehingga penampilannya terlihat cool dan trendy.

“Masuk By,” Badai membuka pintu pagar lebih lebar.

“Enggak usah Kak, aku ke sini cuma mau menjemput Kak Mario, kok!” kilahnya.

“Kakimu sudah sembuh ya?” disibaknya celana jeans Obby ke atas oleh Badai.

“Oh, itu, sebenarnya sewaktu Kak Mario meninggalkanku di UKS kemarin, Pak Ruspita mengurut kakiku. Hingga akhirnya aku tertidur di pembaringan. Saat aku terjaga, tahu-tahu sekolah sudah bubar dan kakiku masih belum mampu berjalan. Baru tadi pagi pas bangun tidur baru terasa mendingan,” beber Obby.

Mario melengos ke luar, ”Rud kamu bawa sepedaku pulang ya, aku mau jalan sama Obby!”

Rudy tak menyahut, ia mengayuh sepedanya,”Besok kita latihan piano lagi ya, bye…” Rudy menengok ke arah Badai dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Camelia saat meninggalkan halaman rumahnya.

“Kapan-kapan aku pasti mampir, Kak!” Obby pun mulai menstarter motor besarnya membawa Mario dalam boncengannya.

“Memangnya kalian berdua mau pergi ke mana sih?” Badai penasaran.

“Aku minta diantar Kak Mario ke toko buku mencari buku-buku paket pelajaran. Soalnya aku kan kurang tahu buku paket apa saja yang biasa dipakai di sekolah. Dah dulu ya, Kak! Bye,” Obby berpamitan sudah menggas motornya perlahan.

Tinggal Badai yang diam terpaku seorang diri di depan pagar.

“Kapan ya, aku bisa punya motor sendiri seperti Mario, Camelia, dan Obby?” tanyanya kepada dirinya sendiri.

±±Ω♥Ω±±

Malam itu Badai tampak gelisah di ruang belakang saat makan malam bersama ayah dan ibunya. Sambal terung di piringnya hanya menjadi mainan antara sendok dan garpu yang dipegangnya. Ia tampak tidak berselera, nafsu makannya berkurang sejak pikirannya tertuju pada satu hal.

“Kenapa, Badai? Dari tadi Ayah perhatikan kamu hanya mencincang-cincang terung dalam piringmu. Kamu sakit?” Ayah Badai menempelkan punggung tangannya di kening Badai.

“Ayah, boleh aku minta motor baru?” Badai tak kuasa menatap ayahnya.

Ayah Badai mereguk segelas air bening, beliau baru saja menghabiskan makanannya. Kemudian berpikir sejenak, setelah terdiam beberapa menit baru kembali berbicara.

“Motor bekas kakakmu tidak ada yang pakai, kenapa tidak kamu pakai saja?” tutur ayah Badai seraya mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari.

“Iya, lagipula motor bekas kakakmu itu masih bagus. Sejak kakakmu menikah motor itu menganggur di garasi. Ayahmu kan lebih sering menggunakan mobil daripada motor,” ibunda Badai turut mencampuri persoalan.

“Aku enggak mau pakai barang-barang bekas Kak Anggi!” Badai membuang muka, raut wajahnya tampak sebal.

“Kenapa sih kamu begitu membenci kakak perempuanmu itu?” ibu pindah tempat duduk ke sebelah Badai.

Dibelainya pundak Badai penuh kasih sayang. Badai merajuk, bibirnya merengut.

“Pokoknya Badai maunya motor baru, Bu. Motor gede, biar Badai kelihatan jantan!” sungut Badai.

Kedua orang tuanya terkekeh mendengar penuturan Badai.

Ayah menarik napas pelan, dan menghembuskannya ke udara bebas,”Memangnya kalau kamu tidak pakai motor gede, kamu enggak jantan, begitu?” usut ayahnya.

“Ya sudah, biar tambah jantan, gimana kalau kamu disunat lagi?!” usul ibu.

Ayah dan ibu Badai kembali tertawa bersama.

“Jangan dong Bu! Kasihan jagoan bungsu kita, nanti burungnya bisa lepas,” ayah menambahi guyonan istrinya.

“Ya, ndak apa-apa toh Pak, nanti kalau burungnya lepas tinggal kita tempelkan saja burung di jam dinding kita sebagai penggantinya!” ibu Badai semakin asyik mengobral guyonannya.

“Wah, mantap tuh, Bu! Nanti tiap tengah malam burung Badai bangun dan berkicau ‘KIKUK…KIKUK…’!” seru ayah Badai, punggung tangannya berpantonim menirukan paruh burung yang sedang berkicau.

“Sekalian Pak, si Jalu saja yang ditempelkan buat pengganti burungnya Badai! Kan dia jago banget adu kejantanan dengan ayam-ayam jago milik tetangga sebelah!” ibu mengemasi piring makan bekas ayah.

Mata ayah mendelik, “Jangan dong, Bu! Si Jalu kan satu-satunya ayam jantan peliharaan Ayah. Kalau dia pindah kandang ke dalam celana Badai, nanti siapa yang bakal mengawini ayam-ayam betina tetangga?”

“Ya BADAI to Pak!” sahut ibu asal.

“Masa ‘ayamnya Bapak’! ‘Ayamnya Bapak’ itu milik Ibu!” tambah ibu lagi.

“Uuh, orang tua kok bicaranya pada ngelantur gitu sih,” dengus Badai sewot.

“Lha, tadi katanya Kamu pengen kelihatan jantan, to? Memangnya Kamu ndak jantan? Yo wes, kalau kamu merasa ndak jantan, kita ke kamar Ibu yuk, kebetulan Ibu masih menyimpan celana-celana rok bekas Kak Anggi di lemari buat Kamu pakai,” guyonan Ibu sepertinya malah memperburuk keadaan.

“Alah,” Badai membalikan badan.

“Duh, anak bungsu ibu, jangan cemberut gitu donk! Sebentar lagi mau menginjak usia 17, sue’et sepenten kok tingkahnya masih kekanak-kanakan ya?” goda ibu menguruti tengkuk Badai.

“Bukan sue’et sepenten Bu, tapi sweet seventeen!” ralat ayah Badai.

“Ya ndak apa-apa toh Pak, Ibu kan bukan orang Inggris!” protes ibu.

“Jadi, Nak, bukannya Ibu dan Ayah tidak mau mengabulkan permintaanmu, tapi alangkah lebih baik, kalau kita sudah mempunyai barang yang kita perlukan tidak usah membeli lagi yang baru! Toh, mau motor besar kek, motor kecil kek, fungsinya tetap sama toh? Buat berangkat ke sekolah, buat jalan-jalan, iya toh?” nasihat ibunda Badai bijak.

Ibu melirik kepada ayah, memberi isyarat untuk menenangkan perasaan Badai.

“Ayah perhatikan beberapa hari ini kamu berangkat dan pulang sekolah diantar jemput oleh Mario, tidak biasanya kamu jalan bareng kawan. Apa karena itu kamu kepingin punya motor baru?”

Badai bergeming, dalam hati ia membenarkan perkataan ayahnya.

“Sebenarnya bukan karena Mario, Yah. Justru aku merasa senang bisa berangkat dan pulang sekolah bareng Mario,” timpal Badai.

“Terus untuk apa kamu meminta motor baru?” ayah Badai menjadi bingung.

“Kepingin aja buat jalan-jalan sore,” Badai menunduk, ia khawatir ayahnya akan marah mendengar jawaban darinya.

“Ya sudah, pakai saja motor yang ada ya, Nak!” bujuk ibunya.

“Pokoknya aku enggak mau pakai barang-barang bekas Kak Anggi, Bu. TITIK!” Badai berdiri dan melengos pergi.

“Tunggu Badai! Ayah masih mempunyai KOMA untukmu, tidak seharusnya kamu membenci kakak perempuanmu seperti itu! Bagaimanapun Anggi adalah anak kami juga, anak Ayah dan Ibu, kakak perempuanmu!” sentak ayah dengan suara yang amat besar memenuhi ruangan.

Badai berlari menuju kamarnya dan mengunci diri di sana, satu-satunya tempat pelarian bila ia sedang mengalami suatu masalah.

Badai tidak mau lagi mendengar nama kakaknya disebut-sebut. Sudah cukup menyakitkan baginya mendapatkan gunjingan dari seantero pelajar di sekolahnya saat ia duduk di kelas X dulu. Meski ia tidak terlibat dalam masalah kakaknya, namun karena hubungan pertalian darah di antara mereka, nama Badai jadi terbawa-bawa di setiap gosip yang sedang menggunjingkan kakaknya.

ANGGI PERMATA DEWI, begitulah nama kakak perempuan Badai. Ia sempat menjadi guru matematika di sekolah Badai tahun pertama Badai masuk SMA. Diam-diam tanpa sepengetahuan Badai dan ayah-ibu mereka, Anggi menjalin hubungan dengan Pak Ramadhan, guru Bahasa Inggris Badai yang sudah beristri. Istri Pak Ramadhan adalah seorang ahli gizi yang mengabdikan dirinya pada salah satu puskesmas di sebuah kecamatan tidak jauh dari kompleks perumahan Badai. Hubungan dekat antara Pak Ramadhan dengan kakaknya sudah menjadi rahasia umum warga sekolah Badai. Ke manapun Anggi pergi senantiasa diantar oleh Pak Ramadhan. Sehingga timbul isu di sekolah bahwa Anggi telah diperistri oleh Pak Ramadhan secara sembunyi-sembunyi, mungkin istilahnya semacam nikah siri. Banyak orang yang membenarkan rumor tersebut, pasalnya sudah lima tahun Pak Ramadhan berumah-tangga dengan istrinya yang ahli gizi itu, tapi belum kunjung dikaruniai anak. Ada kemungkinan karena itulah Pak Ramadhan memperistri Anggi.

Isu tersebut tersebar tidak hanya di kalangan sesama dewan guru sebagai pakar pendidikan, tetapi juga berhasil merambah dunia pergosipan para remaja pelajar di sekolah Badai. Mereka menggunjing kalau Anggi sudah merusak rumah tangga Pak Ramadhan, ada juga yang menuduh Anggi perempuan gatal haus lelaki, Anggi tukang rebut suami orang. Hingga nama Badai pun terbawa-bawa. Ada yang menghinanya ‘adik penjilat’, ‘adik tukang rusak rumah tangga orang’ sampai tudingan yang lain kalau Anggi hanya sebatas teman tidur Pak Ramadhan. Waktu itu Badai merasa malu sekali tiap kali berangkat sekolah. Hingga dua bulan lamanya Badai tak berani menapakan kakinya di ruangan lain di sekolah selain ruang kelasnya sendiri. Ia teramat takut bila berpapasan dengan orang-orang yang suka bergosip di sekolah, maka namanya akan terbawa-bawa.   

Awalnya Badai segan untuk membahas masalah menyangkut kakaknya itu kepada keluarganya di rumah, namun pada akhirnya kasus itu pun merebak ke seantero penduduk kompleks perumahan Badai. Ibarat orang menutupi bangkai kelak akhirnya tercium juga. Ayah Badai memaksa Anggi untuk menjelaskan duduk perkaranya. Anggi mengakui hubungan khususnya dengan Pak Ramadhan, akan tetapi ia menyangkal bila ia telah menikah siri dengan Pak Ramadhan. Bagaimana mungkin Anggi dapat menikah tanpa perwalian dari ayahnya. Saat itu ayah Badai sangat murka atas perbuatan Anggi yang berusaha menghancurkan rumah tangga Pak Ramadhan. Anggi terpaksa diusir dari rumah oleh ayah Badai, agar Anggi dapat berpikir jernih dan merajut kembali kehidupannya demi masa depan. Sejak saat itu pulalah sikap Badai menjadi cenderung menutup diri. Ia tidak pernah bergaul dengan siapapun di luar rumah, ia sering menghindari keramaian, terutama teman-temannya yang membuat perkumpulan semacam genk. Ia hanya mau berbicara dengan orang lain secara personal. Mungkin baginya itu lebih dapat menjaga privasinya. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia sangat menginginkan pergaulan yang lebih supel agar ia memiliki banyak teman.

Akan tetapi sesuai kata pepatah mengatakan ‘Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu’, gosip tentang Anggi di sekolah hanya bertahan hingga dua bulan lamanya. Setelah itu orang-orang mulai melupakan rumor tentang Anggi, dan menganggapnya angin lalu. Badai pun sudah tidak pernah dikucilkan orang lagi. Hanya saja ia masih merasa minder bila harus tampil di depan publik.

Pamor Badai berangsur-angsur membaik setelah ia ditunjuk oleh guru keseniannya untuk mewakili kontes vokal solo pelajar tingkat kota. Tak dinyana ia berhasil menyabet juara pertama dan maju ke tingkat provinsi. Prestasinya kian gemilang, seluruh dewan juri kontes vokal solo pelajar di tingkat provinsi, dan pada saat itu kebetulan diketuai oleh Bu Sugeng yang sekarang menjadi wali kelas Badai di kelas XI IPA B, berhasil dibuat terpukau oleh suara emasnya. Badai kembali meraih juara satu kontes yang sama di tingkat setahap lebih tinggi itu. Perlahan tapi pasti rasa percaya diri yang sempat hilang dalam jiwanya kini berangsur pulih dan muncul kembali. Karena kejuaraan-kejuaraan yang diraihnya nama Badai marak terkenal di sekolah sebagai penyanyi top. Ia mulai dikagumi oleh para murid perempuan dan menjadi murid favorit dewan guru. Ada saja guru yang sengaja mencari kesalahannya hanya agar dapat menghukum Badai dengan cara menyuruhnya bernyanyi di depan kelas.

Badai terhenyak dari lamunannya, komputer yang sempat dinyalakannnya sejak ia masuk kamar tadi telah selesai menjalankan proses warm boot, dan kini dalam keadaan stand by. Ia log in membuka akun asli facebooknya. Dikliknya halaman dinding pribadinya. Sudah tiga hari lamanya pesan yang tertulis di dindingnya belum kunjung ia balas, karena yang menulisnya tidak lain tidak bukan: ANGGI PERMATA DEWI, kakak perempuan satu-satunya. Setelah 3 bulan pergi meninggalkan rumah, Anggi datang memberanikan diri menemui ayah dan ibunya untuk memohon doa restu atas pernikahannya dengan calon suaminya yang bernama Herman. Kendati demikian Badai belum membukakan pintu maafnya untuk kakaknya meskipun teman-temannya di sekolah tak pernah lagi menggunjing persoalan kakaknya.

“Kenapa enggak pernah kirim kabar sama Kakak, Dek? Kamu masih ngambek ya sama Kakak?” begitu bunyi pesan dinding yang ditulis oleh Anggi di dinding Badai.

Badai termenung. Ia ragu, haruskah pesan dinding itu ia balas? Sedang hatinya masih panas akibat perbuatan kakaknya dahulu.

==00♥00==

Seminggu berlalu.

“Dai, hari ini aku ngajak Kedasih ngedate, tapi dia bilang, dia nggak mau jalan sama aku, kalau kamu enggak ikut sama kami, gimana nih?” Mario datang menemui Badai di sela-sela jam istirahat pertama.

Mario sengaja mentraktir Badai di kantin sekolah khusus membincangkan masalah kencannya dengan Kedasih.

Badai menyeruput es jeruk kesukaannya. Pikirannya terasa segar karena tadi pelajaran pertama selama 3 jam berturut-turut berkutat dengan hitungan fisika. Bagai musafir yang kehausan di padang pasir dalam sekali sedot, es jeruk itu tandas diminumnya.

“Enggak ah, nanti aku ganggu kencan kalian,” Badai memanggil pelayan kantin hendak memesan satu gelas es jeruk lagi.

“Tapi Dai, film yang mau kami tonton ini sangat sayang dilewatkan,” Mario mengiba solidaritas Badai sebagai sahabatnya.

“Eh, aku punya ide. Gimana kalau aku ikut kalian ke bioskop, terus aku pura-pura ke toilet padahal sebenarnya aku pulang ke rumah?” Badai menjentikan jarinya.

“Bisa juga sih, tapi kalau dia tahu bagaimana?” Mario sangsi akan ide Badai yang terkesan klasik.

“Tenang, aku punya alasan yang tepat untuk menyangkalnya. Tinggal bilang saja padanya kalau aku mendadak disuruh pulang oleh ibuku! Gampang kan?”

Mario mengeluh,”Loh kok jadi berbohong sih? Pakai bawa-bawa ibu kamu segala lagi. Ah, nggak mau, nggak mau! Aku nggak mau kamu berbohong, ingat dong bohong itu dosa loh!”

Badai menggaruk-garuk kepalanya,”Ya sudah soal alasan aku kabur, aku pikirin belakangan. Yang penting kencanmu dengan Kedasih berlangsung sukses,”

“Aku menyerahkan masalah ini sama kamu sepenuhnya, yang penting dalam waktu dekat aku bisa mengungkapkan perasaanku kepada Kedasih!” Mario menepuk pundak Badai.

Badai kembali menyedot minuman yang baru saja diantar oleh pelayan.

“Mario, mengapa yang ada di hatimu hanya ada nama Kedasih, Kedasih, dan selalu saja Kedasih? Tidak adakah tempat untuk namaku di hatimu? Ah, ya, karena kita sejenis ya, aku lupa kalau kita sama-sama lelaki. Tidak mungkin bagi kita dapat bersatu. Cinta kita mana mungkin dapat dipersatukan. Magnet saja tak dapat merapatkan dua kutub yang sama. Andai kudapat mengembalikan waktu saat di mana aku akan dilahirkan ke dunia, kuakan memohon kepada Tuhan, agar aku dilahirkan sebagai lawan jenis bagimu yang kelak dapat mendampingi hidupmu!” pikiran Badai membuncah.

“Badaaai….” teriak seorang gadis memanggil namanya.

Gadis itu melambaikan tangannya,”Gue dengar dari Kedasih nanti sore kalian bertiga mau nonton film thriller di bioskop ya?”

Badai dan Mario menggeser posisi duduk mereka memberi tempat pada gadis yang menghampiri mereka di bangku panjang.

Mario memberi isyarat pada Badai untuk mengelak.

“Engh, gimana ya, belum tahu nih, Mel,” Badai pura-pura tersenyum.

Camelia menyorongkan kepalanya sedikit lebih maju ke arah wajah Badai, Badai pun memundurkan kepalanya beberapa puluh senti ke belakang, tubuhnya nyaris merebah ke bangku panjang. Untung saja Mario berhasil menahan punggungnya.

Camelia meraih es jeruk yang baru saja diminum Badai, ia menenggaknya sekali habis. Melihat hal itu Badai menelan air liurnya sendiri.

“Itu kan minuman bekas gue,” tunjuk Badai pada gelas yang dipegang Camelia.

“Sorry sob, gue haus!” Camelia melap bibirnya dengan lengan kemeja seragamnya.

EEEUGH

Camelia bersendawa.

“JOROK!” batin Badai.

“Ayo, jadi dong! Soalnya gue mau ikutan nih, ya? Please, rencananya gue juga mau ngajak Rudy, biar tambah seru!” Camelia berdiri melipat tangannya depan dada.

Mario menepuk kening,”Aduuuh, bisa kacau deh kencan gue!” batinnya dalam hati.

Badai melirik Mario,”Gimana nih, Yo?” tanyanya.

“Kedasih! Nah, kebetulan, sini deh loe! Mumpung si Ipin dan Upin lagi ada di mari, yok kita bahas rencana loe sama mereka berdua nanti sore!” Camelia menarik tangan Kedasih yang kebetulan melintas menuju kantin.

“What? Ipin-Upin???” teriak Badai dan Mario bersamaan. Keduanya lalu saling berpandangan dengan mata terbelalak lebar.

Camelia tersenyum nyengir kuda.

“Sorry Mario, aku mengajak Camelia juga. Hitung-hitung membalas traktirannya minggu lalu waktu kita jalan-jalan ke mall, main ice-skating dan nyanyi di karaoke box. Enggak apa-apa kan?” ratap Kedasih, berharap Mario menyetujui keinginannya.

“I..iya, enggak apa-apa,” jawab Mario terbata.

“Horee.. makasih ya, Mario. Loe emang sohib gue yang baik!” Camelia memeluk Kedasih girang.

“Duuh, terus kapan dong gue bisa ngedate cuma berdua dengan Kedasih?” lirih Mario nyaris tak terdengar. Kedua tangannya meremas-remas rambutnya.

“Yang sabar ya Bro! Suatu saat pasti ada kesempatan buat kalian jalan berdua,” Badai mengusap pundak Mario.

15.05 WIB

“Oh, jadi kamu pernah pacaran sama Nico?” tanya Rudy seraya melahap pop corn di tangannya.

“Ya, itu pas gue masih kelas X dulu,” Camelia turut mengemil pop corn di genggamannya.

“Eh, kita ngomongnya pakai bahasa gue-elu aja deh, biar lebih nyambung ngobrolnya!” tambah Camelia.

Rudy melemparkan beberapa butir pop corn ke mulutnya dari jarak beberapa cm,”Ups, maaf aku belum terbiasa dengan gaya bahasa anak kota!”

“Oh, ya udah it’s OK!” Camelia sangat menikmati cengkramanya bersama Rudy.

“Tapi semenjak Nico berkenalan sama cewek yang bernama Princess, Princess apa gitu, di FB, dia malah mutusin gue! Dasar cowok playboy,” umpat Camelia.

“Loe bukan cowok playboy kan?” Camelia memburu Rudy.

Rudy menggaruk kepala, ia tersenyum kecut.

“Ah, gue yakin kok, kalau elo itu bukan tipe cowok playboy. Iya kan?” lirik Camelia dengan wajah yang bersemu kemerahan.

“Tapi gue juga bersyukur bisa putus sama Nico. Sebab dari awal gue emang nggak suka sama dia. Dianya aja yang terus maksa supaya gue mau jadian sama dia,” kenang Camelia.

Rudy mengangguk-angguk menyimak pembicaraan Camelia.

“Kan kalau sampai sekarang gue masih pacaran sama dia, gue enggak bakal bisa ngegebet seseorang yang lagi gue suka,” Camelia tersipu-sipu malu untuk bicara berterus terang.

“Oh, kamu lagi dilema ya?” tukas Rudy masih asyik dengan cemilannya.

“Enggak, gue malah sekarang lagi happy bisa jalan bareng sama orang itu,” pipi Camelia merah merona.

“Oh ya, siapa?” tanya Rudy antusias.

“Orangnya sekarang lagi berdiri di depan gue, dan lagi ngobrol sama gue!” tembak Camelia langsung.

“Maksudmu, AKU?” Rudy menunjuk batang hidungnya sendiri.

Camelia mengangguk malu-malu. Mata Rudy berkaca-kaca. Di kejauhan Badai turut menguping pembicaraan mereka berdua.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s