Posted on

#Namamu Kupinjam 4#

image

#Namamu Kupinjam 4#

Mario tertawa cekikikan, ia memandangi Kedasih yang duduk di sebelahnya. Kedasih tersipu malu diperhatikan oleh Mario. Ekspresi gadis misterius itu sulit ditebak. Kadang lebih banyak diam sehingga terkesan sombong dan pemarah. Sebagian kecil dari roman wajahnya hanya terlihat sesekali ia mau tersenyum.

“Yaa…jadi gue salah lagi ya?” Camelia mengerucutkan bibirnya.

“Tone kamu out, vibra kamu out, pitch control juga out!” Badai berlagak sok jadi juri kontes menyanyi meniru karakter Mbak Bertha yang kerap menjadi juri dengan kritikannya yang super pedas pada salah satu ajang kontes menyanyi di salah satu stasiun televisi swasta tempo dulu.

“Yang benar Dai?” Camelia membelalakan matanya, ia tak percaya dengan perkataan Badai.

“Terus gimana dong?” diguncangnya bahu Badai yang mengalihkan perhatiannya pada Mario dan Kedasih.

Mario menarik tangan Badai untuk berdiri.

“Mending kamu kasih contoh dulu sama Camelia, Dai!” sengaja Mario menyuruh Badai bernyanyi karena ia merasa jengah terus diperhatikan gelagatnya.

“Lah kok jadi aku yang nyanyi?” protes Badai, suasana hatinya sedang tidak ingin bernyanyi.

“Di sini siapa lagi yang pintar nyanyi selain kamu?” Mario balik bertanya.

“Iya Dai,” sahut Camelia dan Kedasih bersamaan.

“Tapi, masa aku harus nyanyi lagu Sang Dewi sih? Itu kan lagu cewek, enggak ada lagu yang lain lagi apa?” Badai mulai mengambil mic yang tergeletak di atas meja.

“Gampang,” Mario memilih sebuah track dari list yang tertera pada layar monitor operator.

“Nah, kamu nyanyi lagu ini aja ya!” titah Mario kalem.

“Ini lagu kesukaanku loh,” imbuhnya.

Mendengar bahwa lagu yang dipilih adalah lagu kesukaan Mario, Badai pun menyetujuinya. Ternyata lagu yang dipilihnya adalah lagu lawas Christian Bautista yang berjudul SHE COULD BE. Sepertinya Mario adalah Christian Bautista’s songs lover, terbukti dalam sehari ini Badai mendengar nada dering yang diset pada hp Mario adalah lagu Christian Bautista, dan track yang dipilihnya untuk Badai pun dari penyanyi yang sama. Tidak menunggu lama Badai lalu berdiri dan mengikuti alunan musik.

Musik ini begitu slow namun iringan lagunya terdengar sedikit up beat. Badai menggerakan tubuhnya mengikuti irama. Camelia turut mengiringi Badai, ia mencoba berduet dengannya.

SHE COULD BE

She comes inside been playing football with the guys
She’s all highfives and dirty footprints on the floor
Next thing I know she’s hanging out
She’s got her dress and high heels on and we’re alone
I couldn’t ask for nothing more

I love the way
A simple smile reveals it all
She calls my name…

Chorus :
She could be the one I’m ever gonna need
She’s like a beauty queen in just her t-shirt and her jeans
She could be just the one I’ve waited for
Could be a perfect score and more
(yeah) she could be, she could be, she could be…

It’s Friday night and while her friends are home by nine
We hit the show
Tip the bouncer skip the line
Next thing I know, we’re out the door
And now she’s dancing in the rain a fragile flame
Under the pale blue colored light
Ohhh… I love the way
This girl is not affraid to fall
She calls my name…
(she’s calling out to me) 

Bridge :
The one in a hundred million
A secret the words been keeping
The music that keeps repeating, keeps repeating
Inside your mind
Like an angel on your shoulder
That makes your colors bolder
Than you dare and you want to take her everywhere

She could be…

“Yee-yee.. keren sob! You’re really really cool!” Mario mengacungkan kedua jempol tangannya seraya mengedipkan sebelah mata.

Badai salah tingkah kegeeran karena dipuji.

“Kalau gue gimana?” tanya Camelia.

“Alah tadi lu cuma ikut joged, mulut lu cuma  cuap-cuap!” Badai tersenyum sinis.

“Ih, Badai jangan buka kartu dong!” cibir Camelia keki, sisi tomboy gadis ini sirna sudah berubah menjadi anak manja.

Hmm.. mungkin itu sisi lain kepribadian Camelia.

“Emang kelihatan banget kok Mel, anyway aku suka banget gaya loe pas mengiringi Badai barusan! Seems so trendy girl!” Mario membela Badai tetapi sekaligus memuji Camelia.

“Sungguh? Wah, lu baik banget Yo!” Camelia memepet ke bahu Mario, niat hati ingin memeluknya, namun itu tidak mungkin dilakukan Camelia ‘Emang Mario siapa gue?’ begitulah mungkin pikir Camelia.

“Sekarang giliran Mario yang harus nyanyi!” Badai menarik tangan Mario untuk berdiri.

Mario merunduk pada kursi sofa, wajahnya ditutupi dengan bantal yang ada di atas kursi, ia menolak untuk disuruh nyanyi. Camelia membantu menarik tangan Mario. Kaki kanannya sampai berpijak pada dinding, menarik sekuat tenaga, namun Mario benar-benar kuat, sulit ditarik.

“Ergh.. Ternyata loe lebih sulit ditarik ketimbang sapi embahnya si Badai yang mau ngelahirin di kampung ya!” Celetuk Camelia asal.

“Ya iyalah, orang sapinya aja elo!” Tanggap Badai pula ditujukan pada Camelia.

Camelia mendelik, “Hah? Masa sapinya gue? Kalo gue mau ngelahirin, terus siape yang jadi laki gue?” Tangan Camelia berkacak pinggang.

“Elo?” Tunjuknya lagi kepada Badai yang ditanggapi dengan cengiran.

Akhirnya Badai mempunyai ide mengelitiki sekujur badan Mario. Dikelitiknya pinggang Mario sampai terkapar menggelinjang menahan geli. Mario tertawa-tawa memelas mohon ampun pada Badai agar segera menghentikan kelitikannya.

“Pokoknya kamu harus nyanyi! Kalau nggak nyanyi, aku nggak akan berhenti mengelitiki kamu,” Badai semakin gencar melakukan penyerangan.

“Iya, ampun, ampun, please hentikan!” Mario  terkapar menyerah.

Kedasih tertawa pelan melihat ulah Badai terhadap Mario.

“Kasihan tahu, Dai,” tuturnya menahan tawa.

“Oke, oke, aku nyanyi sekarang deh!”

Badai menghentikan kelitikannya. Mario pun bangun berdiri merapikan kaosnya yang tergulung ke atas, diraihnya mic dari tangan Badai.

“Mau minta lagu apa nih?” Mario mengotak-atik remote mengarahkannya ke layar televisi mengacak tracklist satu-persatu.

“Nah, lagu yang ini saja!” tunjuk Camelia pada monitor.

“Hah? Gue harus nyanyi lagu itu!” mulut Mario menganga lebar.

Camelia dan Badai menganggukan kepala kompak.

“Kalau enggak nyanyiin lagu ini, pinggangmu bisa mengkerut pulang dari sini!” mata Camelia membelalak persis di hadapan wajah Mario. Sehingga Mario menelan air liurnya sendiri karena ketakutan melihat ekspresi Camelia yang sangar.

Dengan ragu-ragu Mario mulai mengeluarkan suaranya yang serak-serak basah.

“Bang Toyib… Bang Toyib… mengapa tak pulang-pulang? Anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu, Bang Toyib…”

“Mana goyangannya? Kalau enggak pakai goyang entar kukelitiki lagi loh, mau?” gugat Badai.

Mario terpaksa memenuhi tuntutan Badai, digoyangnya tubuhnya penuh rasa canggung.

“Hikz!” Mario mengiba namun pelototan Badai berhasil menekannya untuk melanjutkan bernyanyi.

“Tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang-pulang, sepucuk surat tak datang!”

Badai dan Camelia turut mengikuti goyangan Mario, sementara Kedasih duduk terpingkal-pingkal menyaksikan ketiga temannya beraksi.

“Ayo, elo ikut nyanyi bareng Mario!” ajak Camelia padanya.

Kedasih menggeleng menolak ajakan Camelia.

“Alah.. udah ya?” Mario berhenti berdendang.

“Eits, lagunya belum beres kok, baru separuh jalan. Awas loh, nanti kami kelitiki lagi sampai lu ngompol, mau?” ancam Camelia.

“Enggak-enggak! Iya deh, aku lanjut lagi nyanyinya,” Mario tersedu.

“Sadar-sadarlah abang, ingat anak-istrimu!…” Mario mulai melanjutkan.

“Hihihi…” Badai cekikikan.

Lima menit berlalu Mario baru bisa bernapas lega. Belum pernah sebelumnya ia menyanyikan lagu dangdut, apalagi lagu dangdut yang dibawakan oleh vokalis perempuan. Mario merasa dirinya sangat dikerjai. Menyesal tadi sudah membela Badai untuk tidak menyanyikan lagu pilihan Camelia kalau seandainya lagu yang akan dinyanyikan olehnya bukanlah genre kesukaannya.

Mario menenggak minuman kalengnya. Tubuhnya dipenuhi keringat, air conditioner dalam ruang karaoke ini tampaknya sedang rusak. Berkali-kali Camelia menurunkan suhu ruangan menggunakan remote namun, mereka semua masih merasa gerah.

“Eh, dah petang nih, cabut yuk,” ajak Kedasih yang sedari tadi hanya duduk-duduk saja di sofa. Seakan ia tidak merasakan pegal dan panas pada pantatnya.

“Okay, tapi kita makan dulu ya. Capek nih, belum ngisi perut!” kelihatannya Mario sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa lebih lama menikmati double date-nya bersama Kedasih. Namanya juga sedang dimabuk asmara, kan?

Kedasih berjalan menjajari langkah Badai di belakang Mario, padahal Mario sangat berharap agar Kedasih mau berjalan di sebelahnya. Camelia melenggang anggun menggantikan posisi Kedasih di sebelah Mario. Tiba-tiba saja Kedasih menggamit lengan kiri Badai. Mario yang terus melirik ke arah Kedasih mendadak timbul sebersit rasa cemburu di hatinya. Sementara Badai merasa jengah atas apa yang sedang dilakukan oleh Kedasih terhadapnya. Ia juga merasa tidak enak hati kepada Mario, dari sorot matanya terlihat jelas kalau Mario mendekam perasaan cemburu.

“Kamu sangat berbakat menyanyi, Dai! Apa kelak cita-citamu ingin menjadi seorang penyanyi terkenal?” tanya Kedasih tiba-tiba.

Badai menggaruk kepala.

“Entahlah, tidak pernah terpikirkan olehku sampai ke sana,” jawab Badai sedikit grogi.

“Memang kalau boleh tahu cita-citamu apa?” Kedasih semakin lekat menempel pada Badai.

Mario terus mengawasi. Badai semakin serba salah. Berulang kali ia mencoba menepis tangan Kedasih namun selalu gagal. Ada saja yang menghambat usahanya untuk melepaskan tangan Kedasih dari lengan kirinya. Seperti hal yang dilakukan Camelia, ia merogoh saku jaket Badai hendak mengambil permen yang sempat dititipkannya saat bermain ice skating. Otomatis Badai harus mengangkat tangan kanannya untuk memudahkan tangan Camelia mengambil permen dari saku jaketnya.

“Cita-cita?” Badai mengerutkan kening.

“Sama sekali belum terpikirkan juga,” jawab Badai dengan mimik yang polos.

“Loh, bagaimana toh Dai. Sudah kelas XI SMA masih belum punya cita-cita?” Kedasih terhenyak mendengar penuturan Badai.

“Badai itu cita-citanya jadi DUKUN BERANAK! Biar bisa membantu persalinan sapi embahnya di kampung! Kan tiap hari sapi embahnya melahirkan terus!Haha..” Sentil Camelia dengan nada bergurau.

Kedasih tertawa geli, pun begitu dengan Mario meski malu-malu untuk mengekspresikannya.

“Jiah, sapi lagi, sapi lagi! Loe ngebet ya kawin sama sapi embah gue?” Badai balas mengejek gurauan Camelia.

“Sudah! Sudah! Terus bagaimana Dai cita-citamu?” Kedasih menengahi kedua temannya yang cekcok itu.

“Emm, gimana ya, masalahnya dalam keluargaku, kedua orang tuaku tidak pernah memberikan tuntutan sih sama aku kelak harus menjadi apa,” tutur Badai gamblang.

“Oh, begitu. Kalau seandainya menjadi artis bagaimana?” Camelia turut menimpali pembicaraan mereka, kali ini ekspresinya turut serius.

Sementara Mario hanya menjadi seorang pendengar setia siaran broadcasting on air tiga orang teman barunya itu.

“Yah kalau ada kesempatan kenapa enggak dicoba,” pungkas Badai berusaha jujur.

“Kalau kamu?” Badai menoleh pada Kedasih sesaat.

“Aku? Maksudmu cita-citaku?” Kedasih tertawa kecil seolah ada yang lucu.

“Kok tertawa?” Badai menautkan kedua alisnya.

Mario kembali menoleh ke belakang.

“Hmm, cita-citaku, aku ingin menjadi seorang psikolog!” jawab Kedasih lugas.

“Wow, kamu mau jadi seorang dokter jiwa ya?” terka Camelia.

“Psikolog dan dokter jiwa itu identik Mel, tapi ada sedikit perbedaannya!” seru Kedasih.

“Loh, apa bedanya Sih?” langkah Camelia terhenti.

Mereka berempat sudah tiba di luar area mall tepat di depan sebuah caffe terbuka. Kemudian mereka mengambil tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Meja papan panjang terbentang, mereka duduk saling berhadapan. Seorang pelayan menghampiri mereka mengantarkan 4 lembar daftar menu masakan andalan caffe.

“Ya, adalah Mel, dokter jiwa bekerja di rumah sakit jiwa menangani orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, sedangkan psikolog itu kebanyakan buka praktek sendiri di rumah atau membuka sebuah kantor, pekerjaannya membantu orang yang sedang mengalami masalah kepribadian atau pikiran yang sedang tertekan. Bisa dikatakan semacam konsultan-lah,” urai Kedasih detail.

Camelia manggut-manggut. Tampaknya ia mulai paham setelah mendengarkan penjelasan Kedasih. Tangannya menunjuk nama makanan-minuman yang ingin dipesannya, begitu pula dengan yang lain. Sang pelayan mencatat seluruh pesanan dengan cermat.

“Oh iya, kamu bawa kamera kan Dai? Boleh kan aku foto berdua bareng kamu?” Kedasih menggenggam jemari Badai.

Mario berdeham. Badai semakin merasa bersalah, walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya mengatakan bahwa ini lebih baik daripada ia sendiri yang harus mencemburui Mario. Sungguh suatu perasaan yang salah.

“Waktu di tempat ice skating kan kita sudah banyak mengambil gambar,” jawab Badai tak acuh.

“Feelingku mengatakan kelak kamu akan menjadi orang terkenal, Dai. Jadi mumpung aku ada di dekatmu aku ingin berfoto bareng sama kamu, sebelum kamu menjadi terkenal,” kilah Kedasih diplomatis. Ia mempunyai seribu satu alasan agar Badai memenuhi keinginannya.

Apa sih yang menarik dari Kedasih? Pikir Badai. Kok bisa ya, Mario tergila-gila padanya? Padahal karakter dan aura Kedasih itu sulit ditebak. Seperti saat ini, tidak ada mendung tidak ada hujan Kedasih yang biasanya bersikap cuek dan dingin berubah menjadi hangat dan lekat. Kalau diperhatikan lebih saksama, perubahan sikap Kedasih itu selalu muncul setelah Badai tampil bernyanyi. Gadis yang aneh, jangan-jangan ia mempunyai dua kepribadian? Ia akan menunjukan sisi kelembutannya apabila setelah mendengar seseorang bernyanyi. Hmm, apakah ia memang pantas menjadi seorang psikolog? Batin Badai terus berkecamuk.

“Ayo Dai!” Kedasih masih terus berharap.

“Sudah, lekas kabulkan Dai, perempuan yang tidak tersampaikan keinginannya bisa depresi berat loh!” tumben kali ini Mario bersikap wajar.

“Mel, tolong potretkan kami ya!” Kedasih menyerahkan kamera digital milik Badai kepada Camelia.

“Biar aku saja yang memotret kalian!” Mario menawarkan diri.

Sepasang muda-mudi itu pun bergaya dengan pose yang mesra sesuai arahan Camelia. Urrgh, dia tidak tahu kalau ada yang sedang cemburu. Beberapa kali Kedasih minta terus dipotret.

“Wah, kesempatan yang bagus, kalau aku memanfaatkannya untuk…hehehe…” Badai tersenyum culas. Entah apa lagi yang sedang bergelut dalam pikirannya.

“Yo, aku potret Kedasih sendiri ya? Nanti kuberikan padamu hasilnya!” bisik Badai di telinga Mario. Mungkin dengan cara itu dapat memupus perasaan cemburu Mario.

Mario mengangguk memberi persetujuan, kali ini bibirnya tersenyum merekah.

“Wow Sih, ternyata pohon yang menjadi latar belakang foto kita adalah tanaman bungur. Indah sekali ya?” Badai berdecak kagum memandangi pohon rindang yang sedari tadi menaungi tempat mereka berempat duduk.

“Kamu tahu tanaman ini Dai? Ckckck, hebat ya.. jarang loh ada cowok yang paham nama-nama bunga atau tanaman! Pasti kamu tipe cowok yang romantis sama cewek, beruntung ya cewek yang jadi pacar kamu!” Kedasih turut mengagumi keindahan tanaman bungur di belakang mereka.

“Badai 100% jomblo Sih,” sela Camelia,”Pacarin aja!” selorohnya lagi asal.

“Serius Dai?” tanya Kedasih.

“Tadi pas di motor dia sendiri yang mengaku sama aku loh! Iya kan Dai?” mulut Camelia benar-benar comel. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti perasaan Mario.

“I..iya,” jawab Badai terbata.

Sekali lagi Mario berdeham,”Kebetulan aja di kompleks perumahan kami banyak ditumbuhi tanaman ini, makanya Badai tahu nama tanaman ini”.

“Eh, sekarang gantian Mario foto berdua Kedasih, ya?” Usul Badai tiba-tiba.

Ditariknya tangan Mario untuk merapat di sebelah Kedasih. Namun tetap saja Mario kembali murung karena Kedasih tidak berkenan menggandeng tangannya seperti saat dipotret bersama Badai sebelumnya.

“Eh gue ikutan dipotret dong!” Camelia maju ke tengah memisahkan Mario dan Kedasih.

“Hush, jangan! Sapi bunting gak boleh ikutan difoto! Nanti di fotonya muncul anak sapi yang baru lahir, lagi!” Badai melerai.

“Lu pelanggaran HASBUN Dai! Kasihan dong para sapi teraniaya oleh elo, namanya disebut-sebut, tapi dikawinin kagak!” Camelia menyingkir.

“Emang HASBUN apaan?” Badai bingung.

“Hak Asasi Sapi Bunting!” Jawab Camelia sambil tertawa renyah.

“Dasar loe!” Gerutu Badai senewen.

Pelayan yang mengantarkan daftar menu tadi sudah kembali membawa nampan berisi penuh pesanan keempat muda-mudi itu. Dengan penuh semangat Camelia segera memburu pesanannya. Ia makan dengan sangat lahap. Sebaliknya dengan Mario, selera makannya mendadak hilang. Hidangan di hadapannya sama sekali tak kunjung disentuhnya.

“Ini yang lapar Mario atau Camelia ya? Perasaan yang mengajak kita makan kan Mario,” Kedasih melongo.

Badai angkat bahu, “Ya, harap maklumlah, namanya juga sapi yang mau melahirkan! Perlu tenaga ekstra untuk persalinannya!”

“Asem loe Dai!” Camelia mencubit pinggang Badai geram.

“Kedasih, kita foto sekali lagi ya? Tapi aku ingin foto kamu yang lagi sendiri!” Badai menarik Kedasih mendekati pohon bungur.

“Thanks ya Dai, buat momentum yang indah hari ini!” ujar Kedasih.

“Anytime. Ngomong-ngomong kita belum berteman di facebook, boleh ku-add akun kamu?” tanya Badai.

Kedasih menggeleng,”Aku sama sekali tidak suka internetan Dai.”

Badai menyikut bahu Mario memberi isyarat.

“Ah, masa sih? Enggak mungkin perempuan secerdas kamu enggak suka internetan?” Badai kurang puas.

“Serius! Maksudku, aku tidak suka menjelajah jejaring sosial seperti facebook, twitter, skype, mocospace atau apalah sejenisnya. Karena menurutku hal itu hanya membuang-buang waktu dan biaya. Aku terbiasa menggunakan internet kalau sedang penting sekali seperti mengerjakan PR yang tidak kumengerti misalnya, maka aku akan mencari solusi dengan browsing google,” urai Kedasih panjang lebar sambil menyiduk nasi ke dalam piring.

Di hadapannya sepiring cumi asam pedas dan segelas jus alpukat dibubuhi serbuk coklat dan krim putih tampak sangat menggiurkan siap disantap.

“Bagus! Ini akan jadi kesempatan buatku untuk memanfaatkan foto-fotomu di kameraku!” Badai berkutat dengan pikirannya sendiri.

==IOI♥♥♥IOI==

“Hey Bro, loe lihat deh pacarnya kakak kelas gue! Cantik ya?” Nico menyodorkan hpnya pada Rifkan sahabat setianya.

“Wah, men, lu dapat fotonya dari mana nih?” Rifkan menerima hp dari tangan Nico.

“Dari FB gue lah! Masa mungut di kolong jembatan!” jawab Nico bangga.

“Terus lu mau ngegaet tuh cewek? Eh namanya siapa men?” kelihatannya Rifkan sangat tertarik pada foto yang sedang dilihatnya.

“Cantik banget kan? So pastilah, enggak ada yang enggak bisa gue lakukan dalam kamus hidup gue. Gue berani jamin cewek kaya gini bakal bertekuk-lutut memohon cinta gue! Si Camelia aja bisa gue gaet, masa cewek kaya gini kagak bisa gue gaet juga sih!” Nico menyombongkan diri.

“Jiah, beda atuh kalau dibandingkan sama si ONTA mantan loe itu! Yang ini mah jauh lebih cantik, tapi loe belum jawab pertanyaan gue. Ngomong-ngomong siapa nih nama itu cewek?” Rifkan menyuntrungkan kepala Nico.

“Gak usah pake nyuntrungin kepala dong men! Pasti gue kasih tahu namanya sama loe!” solot Nico setengah emosi.

“Sorry, sorry cuy. Gue kelepasan,” Rifkan memberi sembah.

“Namanya itu PRINCESS AURELIA!” Jawab Nico dengan mata mengerjap.

“Norak amat namanya!” Celetuk Rifkan.

Kedua mata Nico menghunus tajam membuat Rifkan segan berkomentar lagi.

“Dia itu pacar kakak kelas gue yang namanya Triko. Tapi kayanya gak lama lagi hubungan mereka berdua bakal putus. Soalnya gue ngasih laporan ke dia kalo si Triko itu cowok playboy!” Nico melipat kedua tangannya depan dada.

“Hah, loe memfitnah kakak kelas loe?” usut Rifkan.

Niko tertawa terbahak, “Untuk mendapatkan apa yang elo inginkan, loe mesti berusaha keras buat mendapatkannya! Paham kagak?”

Rifkan meninju lengan Nico, “Ah, otak loe memang licik ya!”

“Lihat saja, Princess Aurelia gak lama lagi pasti bakal jadi milik gue!” tutur Nico sengit, tatapannya menyeringai tajam.

“Hey, kalian sedang membicarakan apa sih?” Rudy muncul tiba-tiba di tengah-tengah mereka. Ia sempat melihat foto di layar hp Nico sekilas lalu, karena Nico buru-buru menyambarnya dari tangan Rifkan.

“Ah loe mau tahu aja urusan orang, mendingan loe temui si Badai buat nemenin dia curhat dah sana!” ejek Nico.

Rudy menghela napas, “Barusan aku ke rumahnya. Tapi dia lagi nggak ada di rumah. Dengar dari ibunya dia pergi sama Mario pakai motor,”

Rifkan dan Nico mengernyitkan kening.

“Enggak biasanya si Mario mau jalan sama si Cupu! Setahu gue tiap kali Badai ngejar dia pas berangkat sekolah, Mario selalu melangkah buru-buru enggak mau jalan bareng. Kok tumben banget ya hari ini mereka jalan bareng?” Nico geleng-geleng kepala.

“Pake pelet ramuan minyak sinyongnyong kali Bos, si Badai!” timpal Rifkan asal.

“Hus, kalian gak boleh negative thinking! Sejak kemarin aku sama Mario mulai mendekati Badai supaya dia mau gabung sama kita!” Rudy mendribel basket mendekati ring dan bersiap untuk shoot.

“Ooh, jadi rencana loe itu mulai dilaksanakan nih? Ya udah, gue doa-in semoga sukses buat loe-loe pada ya!” Nico merangkul bahu Rifkan dan mengajaknya pergi meninggalkan lapangan kompleks.

TUUING!

Bola yang dilemparkan Rudy ke ring tidak berhasil masuk, bola itu memantul dan tepat mengenai kepala Nico yang berlalu membelakanginya.

“AADAAAWH….” teriak Nico histeris, “Bangsat loe Rud!”

“Ups, SORRY!” Rudy menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

20.00 WIB

Badai menatap layar ponselnya yang sengaja dimatikan saat dia berangkat kencan dengan Mario, Camelia, dan Kedasih tadi siang. Baru semenit dinyalakan, sebuah panggilan masuk langsung memburunya. Badai tahu kalau ia harus segera membuka aplikasi voice changer (pengubah suara) untuk disinkronisasikan dengan pengaturan panggilan pada hpnya. Sehingga dengan demikian, ia dapat menjalankan penyamarannya sebagai Princess Aurelia dengan sempurna. Karena orang yang sedang memanggilnya tak lain adalah Triko.

“Kenapa sih dari tadi siang kamu sengaja menonaktifkan hp-mu?” suara di ujung telepon terdengar rusuh.

“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kamu mengaku saja, kalau kamu itu playboy dan saat ini kamu sedang asyik menjerat siswi-siswi baru di sekolahmu!” gerutu Badai.

“Sumpah, cintaku hanya padamu Princess darling! Hanya kamu seorang, putri yang bertahta di hatiku!” suara itu begitu bergemuruh.

“Alah, bullsheet! Bokis banget, aku tahu semuanya. Karena aku mempunyai banyak teman di sekolahmu yang dapat kusuruh untuk memata-matai gerak-gerik kamu!” Badai meninggikan suaranya.

“O jadi diam-diam kamu memata-matai aku, sayang?” suara di ujung hp terdengar sedikit terkejut.

“Katakan, siapa orang suruhanmu itu!”

“Kamu tidak perlu tahu siapa dia. Yang jelas, mulai detik ini hubungan kita PUTUS!” gertak Badai ketus.

“Sayang, sayang, jangan putusin aku dong sayang! Aku kan cinta banget sama kamu!” lawan bicara di seberang kian terisak.

Hmm.. Sudah saatnya aku menggoda Nico, si badan kekar yang selalu mengolok-olokku tiap kali aku lewat di lapangan kompleks. Biar dia rasakan bagaimana rasanya disakiti. Badai menyeringai.

Aku yakin, saat ini Triko sedang menyesali perbuatannya karena telah bermain backstreet dengan anak-anak ABABIL (ABG labil) yang masih bau beras kencur itu. Dengan aku memutuskan Triko, maka aku akan bebas menggoda Nico sepuas hatiku. Aku jamin Nico akan sungguh tergila-gila padaku, karena aku adalah PRINCESS AURELIA. Hahaha…

Drrrrt… Drrrrt…

Nada getar dari handphone Badai. Sebuah panggilan masuk dari Triko My Love.

Badai enggan mengangkatnya. Perhatiannya tertuju pada layar komputer. Ia sedang mengganti status profil facebooknya dari berpacaran dengan Triko menjadi lajang. Baru beberapa menit perubahan status itu ia buat, belasan pesan masuk ke inboxnya. Semua pengirim pesan itu adalah laki-laki. Dan seperti biasa kejadian yang terjadi di dunia maya, apabila diketahui seorang gadis mengganti statusnya menjadi lajang maka puluhan lelaki akan menggodanya dan berharap sang gadis akan menambatkan hatinya pada mereka. Di dunia nyata pun seperti itu, bukan?

Handphone Badai masih bergetar. Tampaknya Triko sangat berharap agar Princess Aurelia aka Badai berkenan menerima panggilan darinya. Ia belum putus asa, sebuah SMS ia kirim setelah 10 panggilan darinya tak kunjung diangkat oleh Badai.

“Princess sayang, aku sungguh mencintai kamu. Walau saat ini kita terpisahkan oleh jarak, aku sangat berharap suatu hari nanti kita akan bertemu. Please, percayalah padaku sayang. Kumohon jangan putuskan aku. Selama ini aku benar-benar setia kepadamu. Aku tak pernah mendekati siapapun di antara anak-anak baru di sekolahku itu. Justru mereka yang malah terus mendekatiku.”

Badai tak menghiraukan SMS yang baru diterimanya itu. Bahkan ia tak berniat untuk membalasnya.

“Hai..” sebuah panel chat muncul di layar komputernya.

Dari Nico.

Yess! Badai menarik siku tangannya ke samping tubuhnya seraya mengepalkan tangan.

“Hai juga ^_^” balas Badai.

“Kok cantik-cantik menjomblo?” tanya Nico berbasa-basi.

“Soalnya aku kepikiran kamu terus ♥,” Badai tergelak.

“Masa sih?” Nico kegeeran.

“SWEAR!” balas Badai singkat dan cepat.

“Ya sudah, Princess mumpung kita lagi sama-sama jomblo, langsung saja kita jadian yuk!” desak Nico buru-buru.

“Eits, nanti dulu. Sabar dulu dong sayang. Kalau kamu serius mau jadi pacar aku, kamu harus menunjukkan dulu bukti cintamu kepadaku! Bisa enggak?” tantang Badai.

“Kamu mau aku datang ke rumahmu dan menyanyikan lagu cinta diiringi alunan gitar merdu di bawah jendela kamarmu?” tanya Nico.

“Uh, klasik banget! Memangnya kamu bisa datang padaku malam ini juga? Tempat tinggal kita kan jauh sekali terpisahkan oleh jarak 500 KM. Ngelantur deh kamu,” ketik Badai di panel chatnya.

“Walau kamu jauh di kutub utara sekalipun, pasti akan kukejar. Terus apa yang harus kulakukan untuk membuktikan rasa cintaku padamu, cantik?” Nico benar-benar serius. Ia terbuai oleh paras Princess Aurelia.

Badai mendesah,”Maafkan aku, Putri, aku terpaksa meminjam fotomu agar aku dapat membalas rasa sakit hatiku terhadap orang-orang yang pernah melukaiku. Aku ingin mereka merasakan bagaimana sakitnya hatiku saat dicemooh oleh mereka atas kekuranganku.” Badai meremas rambut di kepalanya.

“Cantik, kok diam? Kamu sibuk chatting sama cowok lain ya?” panel chat Nico kembali muncul di layar.

“Sorry, aku habis dari kamar kecil. Sekarang kamu simak ya, persyaratan buat kamu kalau mau menjadi kekasihku : Pertama, kamu harus rutin mengirimiku pulsa Rp50.000 setiap minggu. Kedua kamu hanya boleh meneleponku sehari satu jam tiap dua hari sekali pada pukul 14.00-15.00 karena jadwal kegiatanku padat. Ketiga, kamu harus memberitahuku alamat email dan password akun facebook kamu. Keempat, kamu harus menghapus pertemanan dengan semua teman cewek kamu di facebook. Kelima, jangan coba-coba untuk selingkuh dariku karena aku punya banyak teman di sekolahmu, jadi aku bisa tahu gerak-gerikmu dari mereka. Bagaimana, apakah kamu sanggup?” Badai mengklik enter pada tombol keyboard komputernya. Sent.

“Waduh, banyak amir.. “ balas Nico cepat.

“Jangan sebut-sebut nama Amir! Karena aku tahu, si Amir duduk di kelas XI IPA B di sekolahmu, kan?” balas Badai ketus.

“Hehe.. Kok tahu?” panel chat Nico semakin cepat membalasnya.

“Sudah kubilang, aku punya banyak teman di sekolahmu!” ungkap Badai mengingatkan persyaratan ke-5.

“Tapi sayang, persyaratan nomor 2 enggak bisa ditawar lagikah sayang? Tiap jam 2 siang, aku dan teman-teman kompleks perumahanku ada kegiatan bakti sosial gitu, deh!” Nico memelas.

“Huh, belum jadian saja sudah berani dustai aku. Memangnya aku tidak tahu apa yang kamu lakukan tiap jam 2 siang? Yang kamu lakukan tiap jam 2 siang itu, bermain basket bukan?” seringai Badai.

“Wah, kamu hebat ya, kamu punya banyak detektif untuk memata-matai aku!” sahut Nico.

“Oke deh, semua persyaratan yang kamu pinta akan segera kupenuhi, tunggu ya sayang,”

Nico offline.

“Heh, permainan baru dimulai, Nico tolol!” desis Badai.

Tok! Tok!

“Badai, ada Rudy datang Nak!” ketuk ibunda Badai di balik pintu kamarnya.

“Suruh tunggu sebentar, Bu!” jawab Badai sambil membuka pintu.

“Hai, boleh aku masuk?” ternyata pemuda bersenyum manis yang pernah memberikan napas buatan pada Badai sudah berdiri di depan pintu.

“Oh, ergh, silakan,” jawab Badai gugup. Keringat dingin mengucur di keningnya.

“Loh, sedang main facebook ya?” Rudy mendekati komputer.

Badai buru-buru mendahului langkahnya. Ia tidak ingin rahasia penyamarannya sebagai Princess Aurelia terbongkar oleh Rudy.

Meski Badai gesit menuju komputer dan berusaha menutupinya, bagaimanapun sekilas Rudy sempat melihat foto profil Princess Aurelia.

“Wow, cantik sekali, siapa dia?” tanya Rudy.

“Pacarmu ya? Kenalin dong, tapi sepertinya aku kenal dia ya..” Rudy tampak mengingat-ingat sesuatu.

“Bukan, bukan siapa-siapa kok! Aku cuma kebetulan aja melihat profil orang itu,” Badai langsung log out dari layar facebook dan segera mematikan komputer.

“Yuk, kita turun! Kita mulai sekarang latihan pianonya!” Badai menarik tangan Rudy keluar meninggalkan kamar.

“Dai kamu mau enggak gabung dengan tim basket kompleks kita?” Rudy menatapnya lekat. Kedua kakinya melangkah menuruni tangga.

“Apa Rud?” Mulut Badai ternganga, ia sungguh tak percaya. Baru kali ini ada kawan yang mengajaknya bergabung dengan tim basket kompleks perumahannya.

“Iya, kamu bergabung ya dengan tim basket kompleks kita!” Ulang Rudy sekali lagi.

“Soal tidak bisa cara mainnya nanti aku latih deh!” Pungkas Rudy meyakinkan.

Badai terdiam seakan telah diguyur oleh adukan semen yang menjadikannya laksana patung.

“Dai… Badai?” Rudy mengibaskan tangannya di hadapan wajah Badai.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s