Posted on

#Namamu Kupinjam 3#

image

#Namamu Kupinjam 3#

===00==oOo==00===

Keramaian jam istirahat selalu
memadati kantin. Hampir setiap stan
penjual makanan dipenuhi orang
yang akan membeli dagangan, sesak
berjejalan. Satu sama lain saling
berebut ingin duluan dilayani.

Tapi
tidak dengan gadis berambut
sepinggang itu. Dia tetap sabar di
antriannya dan menebarkan senyum
simpul tatkala orang-orang yang
mengenalnya menyapa sambil lewat.

Fiuh, lega baginya setelah 2 bungkus
hamburger berhasil digenggamnya.

“Camelia,” panggil seorang pemuda
bertubuh kurus berjalan menyamai langkahnya.

Camelia menoleh,”Apa Mir?”
Amir cengengesan, ia menggigit jari-
jarinya sendiri. Tidak disangka
Camelia akan menyahut sapaannya.

“Kamu beli 2 hamburger untuk
siapa? Untuk Friska, teman
semejamu, atau Kedasih teman yang
duduk di belakangmu?” seloroh Amir dengan gaya salah tingkah.

“Bukan untuk keduanya!” Jawab
Camelia singkat.

“Hamburger sebanyak ini mau kamu
habiskan sendiri?” Amir tercengang, bola matanya membulat besar.

“Bagi satu untukku dong? Ya,
Camelia darling?” Ratap Amir penuh
harap, bibirnya sudah basah karena
tergiur melihat hamburger di tangan Camelia.

Tiba-tiba saja Camelia berlari kecil
menuju seseorang yang berdiri di
depan pintu kelas.

“Badaaaaii.. Nih, hamburger buat lu!
Sengaja gue beli buat lu loh,”
Camelia menyodorkan sebungkus
hamburger yang sempat diminta
oleh Amir darinya.

Melihat hal itu di kejauhan Amir
hanya dapat melongo dan menggigit
jarinya seperti yang biasa
dilakukannya.

“Camelia, hiks…” Desis Amir.

“Thanks ya Mel. Elo baik deh sama
gue,” digigitnya roti isi sayur dan
irisan daging itu.

“Itu belum seberapa. Nanti kalau loe
bersedia mengajari gue olah vokal
akan ada lebih banyak lagi hadiah
yang gue kasih!” Camelia menggamit
lengan Badai mesra.

Mereka duduk di serambi teras
kelas. Menikmati kunyahan demi
kunyahan hamburger yang sedang
mereka santap. Sesekali Camelia
menyodorkan punyanya agar digigit
Badai. Namun Badai merasa
canggung.

“Ayo Dai, ungkapin kemesraan lu
sama gue!” Bisik Camelia pelan.

Badai tidak mengerti maksud
Camelia. Mata Camelia menunjuk ke
arah samping tempat di mana Amir berdiri.

“Owh..” Badai mulai paham
maksudnya.

Segera mereka melakukan adegan
kemesraan saling menyilangkan
tangan mereka berbagi hamburger
yang tengah mereka nikmati.

“Cie.. Cie.. Mesra amir kalian
berdua! Si Amir aja enggak mesra
tuh!” Goda segerombolan anak yang lewat di hadapan mereka.

Mendengar namanya disebutkan
Amir hanya dapat berbalik penuh
rasa jealous. Kedua tangannya
mengepal meremas-remas jemarinya.

“Dai, sore nanti lu ada waktu enggak
buat gue?” Camelia melahap sisa
hamburgernya yang tinggal satu
kunyahan.

“Memangnya mau mulai latihan hari ini?” Selidik Badai.

“Enggak sih, tapi iya juga, gue
pengen ngajak loe jalan-jalan ke
mall, udah gitu kita ke karaoke box
hitung-hitung latihan nyanyi di
sana,” Camelia menyandarkan
kepalanya di bahu Badai.

Badai mengamati sekeliling, sudah
tidak ada Amir di sekitar mereka
tetapi mengapa Camelia masih
bersikap sok mesra. Badai mulai
merasa risih atas tindakan Camelia itu.

“Dengan siapa saja?” Tanya Badai.

“Kita berdua saja!” Jawab Camelia.

Di saat yang kebetulan, Kedasih
melenggang melewati mereka
berdua yang sedang duduk di depan
koridor kelas. Sikapnya benar-benar
cuek, seakan tak memperhatikan
sekelilingnya.

“Kedasih,” panggil Badai seraya
berdiri.

Kedasih menoleh. Tampaknya ia
mulai bersikap seperti awal pertama
kali berjumpa dengan Badai. Raut
wajahnya begitu serius tanpa
segurat senyuman, sehingga lebih terkesan dingin.

“Kenapa sih cewek ini ekspresinya berubah-ubah? Sebentar kalem, sebentar aneh, sebentar mengerikan!” rutuk Badai dalam hati.

“Sore nanti kamu bisa ikut enggak
dengan kami? Rencananya kami mau
jalan-jalan ke mall dan main ke
karaoke box,”

Kedasih menautkan kedua alisnya. Ia
masih tampak menakutkan, batin
Badai.

“Jam berapa?” Tanya Kedasih.

Badai menoleh pada Camelia.

“Jam 3 sore bagaimana?” Jawab
Camelia cenderung balik bertanya.

“Oke asal pulangnya tidak terlalu
malam, aku bisa!” Kedasih
mengangguk setuju.

“Dah ya, gue mau cabut dulu,” pamit Kedasih buru-buru.

“Oke entar sore gue SMS,” pungkas Camelia pada Kedasih.

“Ga pa-pa kan kita ajak Kedasih?”
Badai berbalik menatap Camelia.

Kedua tangannya dimasukkan ke
dalam kantong celananya.

“Yeah, makin rame makin asyik,”
Camelia membenahi roknya yang
kusut karena posisi duduknya tadi.

“Oke kalau gitu, gue boleh dong
mengajak satu orang lagi?” Decak
Badai.

“Terserah lu aja, asal sore nanti lu
ajarin gue nyanyi!” Camelia
membuang bungkus hamburger ke tong sampah.

“Sip deh kalau gitu. Gue mau ke
atas dulu ya, ada perlu sama teman
gue di kelas XI IPA A,” secepat kilat
Badai segera melengos meninggalkan
Camelia seorang diri.

Ditapakinya tangga demi tangga
menuju kelas Mario. Hatinya
berbunga-bunga. Ia yakin dengan
cara seperti ini bisa membuatnya
dekat dengan Mario, lelaki yang
disukainya sejak dulu. Sungguh
suatu kesempatan yang bagus, pikir
Badai. Ia tak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini.

“Mario ada?” Tegur Badai pada salah
seorang anak yang berkerumun di depan kelas XI IPA A.

“Dia kan lagi sibuk mengurus pensi,
besok puncak acara MOS,” jawab
anak yang ditegur Badai.

“Astaga! Gue sampai lupa kalau
Mario kan panitia MOS!” Badai
menepuk jidatnya sendiri.

“Thanks ya infonya,” Badai bergegas
menuruni tangga tanpa merasa lelah
sedikitpun, padahal ia baru saja
sampai di lantai atas.

Ia benar-benar semangat demi
Mario.

Hosh! Hosh!

Napas Badai tersengal-sengal, ia
telah berputar mengelilingi sekolah,
namun tak menemui Mario di manapun.

“Badai, tubuh kamu kok berkeringat
begitu, kamu habis olah raga ya?”
Suara seorang lelaki di belakang
Badai sukses mengejutkannya.

Saat tubuh Badai berputar
menghadap si empu suara, mata
Badai mengerjap bertabur bintang.

“Eh, Kak Triko,” Badai tersenyum
pipinya merona.

Triko membalas senyumannya. Tapi
uups.. Siapa gadis yang sedang
merangkul pinggang Triko itu ya?
Tanya Badai dalam hati. Dari
seragam yang dikenakannya gadis
itu adalah siswi baru kelas X.
Kelihatannya mesra sekali. Senyum
Badai mendadak pudar seketika.

Dugaan Badai selama ini memang
tidak pernah salah. Triko benar-
benar seorang pemain cinta alias
PLAYBOY. Tak salah jika Badai
memperdaya Triko melalui telepon
dan dunia maya. Triko gampang
sekali dibodohi. Ia sama sekali tidak
menyadari suara Badai dalam
telepon itu. Triko benar-benar
menyangka kalau Princess Aurelia itu
ada di kehidupan nyata. Padahal
sejatinya gadis yang bernama
Princess Aurelia itu adalah seorang
gadis nun jauh di luar kota yang
mungkin tidak akan dikenali oleh
siapapun di kota Badai tinggal,
termasuk orang-orang di lingkungan
sekolah dan lingkungan rumahnya.

Karena Badai sendiri berkenalan
dengan Princess Aurelia saat ia
mengikuti kontes vokal solo di
tingkat provinsi. Nama Princess
Aurelia yang sebenarnya adalah
Putri Erliani. Tentu saja Putri Erliani
tak pernah mengetahui bahwa ada
seseorang yang menyalahgunakan
foto-fotonya untuk menjerat para
kaum lelaki. Entah sampai kapan
Badai akan terus memperdaya para
lelaki dengan berpura-pura menjadi Princess Aurelia.

“Kak Triko tahu di mana Mario?”
tatapan Badai berubah sinis.

Gadis yang memeluk pinggang Triko
bertingkah centil laksana perempuan
yang tidak mempunyai harga diri.
Mungkin merasa sikap Badai
berubah, Triko menyadari bahwa gadis yang memeluk pinggangnya terlalu melampaui batas di depan publik. Triko pun berusaha melepaskan
tangan si gadis dari pinggangnya.

“Tadi kulihat dia memasuki ruang
UKS, mengantar seorang peserta
MOS yang cedera,” ujar Triko menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Badai sesaat tadi.

Badai segera berlari ke tempat yang
disebutkan oleh Triko tanpa sempat
mengucapkan permisi atau pamit.

“Oya Dai, kamu siap kan untuk PENSI nanti?” Kedua tangan Triko melingkar di depan mulutnya setengah berteriak.

Badai hanya mengacungkan jempol ke atas beberapa meter di hadapan Triko.

“Mario!” Panggil Badai dari kejauhan.

Mario tengah memapah seorang
peserta MOS, tampak kakinya cedera pada lutut kanan.

“Kamu.. Kamu Obby kan?” Badai
menghampiri mereka.

“Kamu kenal sama Obby, sob?” korek Mario.

Apa? Dia panggil aku ‘sob’? Hati
Badai berbunga-bunga. Baru kali ini
Mario bersikap familiar padanya.
Mudah-mudahan hubungannya
dengan Mario bisa semakin akrab.

Harap Badai.

“Engh, 2 hari yang lalu dia
menubrukku di koridor depan kantor guru,” jawab Badai.

“Nah, berarti kamu ceroboh, By!
Masa dalam beberapa hari ini kamu sering jatuh,” cela Mario.

Obby meringis menghempaskan
tubuhnya ke atas ranjang UKS.

“Kamu nyari aku?” Seloroh Mario.

Badai mengamati kaki Obby yang
terkilir.

“Tadi waktu turun dari tangga,
teman-temanku saling mendorong,
aku yang enggak ikut-ikutan malah
ketiban sial! Aku terdorong oleh
mereka,” Obby membuka cerita.

“Oowh, hati-hati kalau jalan ya By!”
nasihat Badai seraya mengacak
rambut Obby.

“Aku ada perlu sama kamu Yo!”
Badai menarik tangan Mario keluar meninggalkan Obby di UKS.

“Kamu di sini saja ya By!” Mario
melangkah terseret.

“Yo, ada kabar bagus buat kamu!
Nanti sore aku mengajak Kedasih
jalan-jalan ke mall jam 3,”

Mario mengangkat alisnya tinggi,
serasa tidak percaya mendengar
kabar dari Badai itu.

“Serius Dai?” Mario sumringah.

Badai mengangguk.

“Yang punya ide sih Camelia, dia
yang mengajakku ke karaoke box.
Kebetulan Kedasih lewat depan
kami, aku jadi teringat sama kamu,” beber Badai terus terang.

“Jadi ceritanya kamu ngajakin aku &
Kedasih buat double date nih?”
Mario membelalakkan matanya, ia masih tak percaya.

Untuk kedua kalinya Badai
mengangguk.

“Cihuy, berarti kesempatan buatku
mendekati Kedasih nih,” Mario
bersorak, kakinya melonjak-lonjak girang.

“Thank you so much brother!” Mario memeluk Badai spontan.

What a surprise! Badai sangat
bahagia bisa dipeluk oleh Mario.
Rasanya ingin sekali menghentikan
waktu agar kehangatan ini bisa terus
ia rasakan. Diusapnya punggung
Mario dengan lembut.

“Tapi aku punya permintaan, boleh?” Bisik Badai.

“Apa Dai? Katakanlah!” Mario
melepaskan pelukannya.

“Aku ingin jadi teman dekat kamu.
Aku ingin kita sering main bareng,
berangkat dan pulang sekolah kita
selalu bersama. Kamu mau kan
menjadi sahabat aku?” Badai sedikit
grogi untuk mengungkapkan
permintaannya.

Mario menatap lekat dan hangat.

“Cuma itu?” tanyanya memastikan.

Badai menebarkan senyum close up.

“Oke, mulai hari ini kita bersahabat!”
Mario anggung-anggip.

“Asal kau bantu aku supaya aku bisa
dekat dengan Kedasih! Kau kan
teman semejanya, sedikit-banyak
pasti tahu tentang dia,” Mario
memberi persyaratan.

Badai menghamburkan diri ke dalam
pelukan Mario lagi. Hatinya sangat
senang, sungguh senang.

Siang itu Badai pulang sekolah
dibonceng oleh Mario. Perasaan
Badai benar-benar girang, karena
apa yang ia harapkan selama ini
telah menjadi kenyataan. Mulai hari
ini Mario tidak akan pernah
menghindar atau menjauh lagi dari
Badai bila berangkat maupun pulang sekolah.
Dipeluknya pinggang Mario erat dari
belakang. Sengaja ia merapatkan
tubuhnya ke punggung Mario
dengan alasan supaya obrolan
mereka sepanjang perjalanan bisa terdengar jelas.

“Bagusnya nanti sore aku pakai apa
ya bro?” Tanya Mario.

“Ya pakai bajulah, Yo! Masa cuma
pakai kolor sih,” sentil Badai
bercanda.

“Iya, maksudku bagusnya baju warna
apa ya, Dai?” sesekali Mario menoleh
sedikit ke arah Badai sambil terus fokus pada kemudi.

“Hmm, warna apa ya? Sebentar,
kalau menurut aku sih, Kedasih itu
orangnya misterius dan terlihat
melankolis. Menurut artikel yang
pernah aku baca, orang melankolis
itu identik menyukai warna biru,”
gumam Badai.

“Masa sih, Dai?” Mario tak percaya.

“Enggak ada salahnya kan dicoba?” Saran Badai.

¤¤••00••¤¤

“Hi, dah lama nunggu?” Camelia
datang bersama Kedasih.

“Ah, enggak juga, kami juga baru
datang kok!” Balas Badai.

“Yah, kalau kami telat, harap
maklumlah, kami kan cewek. Tahu
dong, cewek kan kalau dandan suka
lama,” kilah Camelia.

“Enggak dandan pun kalian dah
pada cantik kok,” puji Badai.

Mario berdeham.

“Oh, iya, gue bawa Mario nih,” Badai
menarik Mario dari belakang
tubuhnya.

“Hai,” sapa Mario menyalami
Camelia dan Kedasih.

Saat tangan Mario berjabat dengan
tangan Kedasih, sengaja
menahannya hingga lama.

“Lama ya kita enggak ketemu,”
tangan Mario masih menggenggam tangan Kedasih.

“Iya selama di SMA kamu sibuk
banget jadi anggota OSIS ya?” timpal Kedasih agak malu-malu.

“Enggak juga sih sebenarnya!” mata Mario berbinar.

“Padahal waktu SD, kamu pendiam
banget. Enggak nyangka sudah SMA
kamu aktif berorganisasi,” Kedasih
tersenyum ditutupi tangan kirinya.

“Ehem.. Salaman kok lama banget
ya,” cibir Badai.

Naga-naganya Badai mulai
mencemburui Kedasih. Sementara
Camelia hanya tersengih melihat dua
remaja yang terlihat sedang
bernostalgia.

“Eh, kalian sudah saling kenal sejak
lama ya? Sejak SD? Memang dulu
Kedasih SD di mana?” berentet
pertanyaan Badai diluncurkan saking penasaran.

“Loh, Dai, memangnya kamu enggak
ingat? Kedasih dulu satu sekolah
juga sama kita. Cuma aku, kamu,
dan Kedasih kita bertiga enggak
pernah satu kelas,” ungkap Mario.

Badai tersentak.

“Masa sih?” tanyanya tak percaya.

Badai berkecamuk dengan pikirannya
sendiri, ia terkenang masa sekolah
dasarnya dulu ia tergolong anak
pendiam, kurang pergaulan, dan
selalu berkutat dengan buku-buku di
perpustakaan. Pelajaran yang paling
menonjol pada dirinya hanya seni,
tidak heran memang bila sekarang
berbakat sekali dalam olah vokal
maupun bermain piano klasik.

“Ergh..” Badai bengong.

“Hebat ya, melihat reuni SD tapi
berbeda kelas. Ck..ck..ck..” Camelia berdecak.

“Ya sudah karena sudah kumpul ayo
kita segera tancap!” Mario
membuyarkan lamunan Badai yang
sedang berusaha mengingat masa
SD-nya.

Badai bergegas naik ke boncengan Mario.

“Loh, kamu bawa motor Camelia
saja! Aku bonceng Kedasih,” protes Mario.

Badai merengut. Ia mulai teringat
bahwa tugasnya adalah
mencomblangkan hubungan Mario dengan Kedasih.

“Udah Dai, lu bawa motor gue aja!” titah Camelia riang.

Dalam hati Badai menyimpan rasa
cemburu. Entah mengapa ia menjadi
berubah benci pada Kedasih, gadis
jutek dengan sejuta ekspresi
misteriusnya. Di mana sih sisi yang
menarik dari seorang Kedasih?
Umpat Badai dalam hatinya.
Menurutnya Kedasih tetap seorang
gadis aneh yang terlihat
menyebalkan di matanya.

Saat ini luapan api menggoyak
kepalaKU,
Badai amarah menghantam
benakKU,
memporak-porandakkan kesetiaan
dalam relung hatiKU,
Membakar keyakinan akan
cintaKU ..
ingin aku menangis,,
Namun kusadar tangisan takkan
obati lukaKU..
Ingin aku mengamuk,
namun kuyakin amukan takkan
menyelesaikan masalahKU..
Perih ini kubuat sendiri atas
cintaKU yang tak bertepi,
Luka ini kubuat sendiri karena kau
yang aku cintai,
dan tolong ..
Obati perasaanKU ini ..

Camelia memeluk erat pinggang
Badai, sementara hal yang sama
dilakukan Kedasih kepada Mario.
Perbedaannya Camelia tidak ada
rasa sungkan kepada Badai.
Sebaliknya Kedasih tampak malu-
malu untuk berpegangan pada
Mario. Hati Badai panas membara terbakar oleh api cemburu.

Kendati
demikian ia tak boleh
menunjukkannya kepada siapapun di
antara mereka, mencurigakan bukan?

Otomatis Badai hanya dapat
memendam perasaan cemburu
tersebut hanya di dalam hati.

Zrrrt… Zrrrt…

Nada getar hp pertanda sebuah
panggilan masuk pada hp Badai
berbunyi. Dirogohnya saku celana
sebelah kiri. Sebuah panggilan
masuk dari Triko My Love.
Dimatikannya hp Badai, dan
disimpan kembali ke dalam kantong celananya.

“Loh enggak diangkat?” Singgung
Camelia.

“Malas ah, lagi nyetir. Bahaya kan,
lagi nyetir terima panggilan
telepon?” Dalih Badai berkelakar.

“Wah, lu cowok yang hati-hati juga
ya? Tapi kalau panggilan itu
penting, gimana?”

“Gak terlalu penting kok, paling kalau penting juga cuma telepon dari embahku di kampung ngabarin kalau sapi peliharaannya sudah waktunya melahirkan! Nah biasanya si embah suka nanya di rumah sakit mana sapinya dapat melahirkan?! Atau paling tidak ibuku yang telepon cuma buat nanya di mana tadi ibuku menaruh cobek bekasnya membikin sambal! Biasanya sih, tahu-tahu tanpa disadarinya cobek itu dipakainya sebagai piring makan!” jawab
Badai asal kurang antusias tetapi penuh gurauan.

Camelia tertawa mengikik.

“Bisa aja lu Dai! Tapi siapa sih yang sebenarnya barusan nelepon lu? Pacar lu ya?” Selidik Camelia.

“Gue 100% jomblo!” jawab Badai
sedikit tegas.

“Masa seh?” Camelia
mengencangkan pegangannya.

Badai menambah sedikit kecepatan
motor yang dikendarainya.

Sekali-sekali Triko harus dicuekin,
batin Badai dalam hati. Salah siapa
juga menjalin kemesraan dengan
anak baru. Ngakunya cintanya hanya
untuknya seorang, Princess Aurelia.
Ternyata di belakang dia jago
selingkuh. Huh, perlu dikacangin
juga tuh playboy, dengus Badai
nyaris terdengar oleh Camelia.

“Lu ngomong apa sih Dai? Kok
kelihatannya lagi sewot gitu?”
Seloroh Camelia curiga.

“Ah, enggak gue cuma senewen
sama pengendara mobil barusan, dia
nyetir nyaris nyerempet kita kan?”
Badai berpura-pura.

“Apa iya, perasaan tidak ada mobil
yang mau nyerempet kita deh,”
Camelia bingung sendiri.

¤¤•O•¤¤

“Wow, keren seumur-umur aku baru
sekali ini main ice skating nih!”
Badai berseru heboh.

“Aku juga,” sahut Kedasih.

“Yuk, ganti sepatu dulu!” Mario
mendorong tubuh Badai.

Perasaan panas yang sempat
bergejolak dalam hati berubah
mencair. Saat ini ia mulai luluh
kembali setelah Mario
menyentuhnya.
Camelia sudah berganti sepatu lebih dulu.

“Hei, Dai, lu bawa kamera kan?
Keluarin dong, kita foto-foto dulu,
narsis dikit boleh kan?” Camelia
menghampiri Badai yang tengah
berganti sepatu.

“Kedasih, ayo kita foto-foto dulu
yok!” Camelia menarik tangan
Kedasih ke arena seluncur.

“Tapi.. Tapi.. Whoa..” Kedasih
histeris.

BUGH!

Kedasih terjatuh karena belum bisa
menjaga keseimbangan tubuhnya.
Untung saja kedua lututnya sudah
memakai pengaman sehingga tidak
menyebabkan cedera yang berarti.

“Ups, sorry Sih!” Camelia menahan
punggung Kedasih agar tidak
limbung.

“Kamu enggak apa-apa?” Mario
mengulurkan tangannya pada
Kedasih.

Kedasih bangkit,”Maaf masih
pemula!”

“Dai, kita foto berempat, minta
tolong dipotretkan saja pada
petugas penjaga penitipan sepatu
yang sedang santai di pojok sana!”
tunjuk Mario ke salah satu corner.

Badai pun beraksi meluncur di arena ski. Tiba-tiba…

Sreeet… GUSRAAKH!

“Aduh,” ringis Badai.

Camelia meluncur ke arah Badai.

“Kalau meluncur badan tidak boleh
terlalu tegak! Paling tidak kamu
harus mencondongkan badan
sedikitnya 15°!” Camelia membantu
Badai berdiri, kemudian
membimbingnya berseluncur.

Mario terpingkal-pingkal melihat
polah Badai yang sok aksi.

Sebuah tembang lawas Now that You
are here-Christian Bautista
mengalun riang dari hp Mario.
Tanpa perlu menunggu nada dering
itu tuntas, Mario pun
mengangkatnya.

“Halo,” Mario membuka salam.

“Kak Mario, kakak kok enggak
membangunkan Obby? Obby masih
di UKS nih!” Suara itu merengek
manja.

“Ups, maaf, kakak lupa! Terus kakimu
sudah bisa jalan?” Mario menepuk keningnya.

“BELUM KAKAK!” teriak Obby kencang
hingga terdengar oleh Kedasih yang
berdiri di samping Mario.

Kedasih sempat terkejut mendengar teriakan Obby di speakerphone. Mario menjauhkan ponselnya dari telinganya, suara kencang Obby bisa saja membuat telinganya menjadi tuli.

“Pokoknya Kak Mario harus jemput aku pulang sekarang juga!” Jerit Obby semakin kencang.

“Beu.. Dasar anak mami!” Gumam Mario pelan namun terdengar juga oleh Obby.

“APA?” Sentak Obby keras.

“Ah enggak, kakak cuma teringat kalau di UKS situ ada mummy!” Jawab Mario enteng, seraya tertawa renyah menakuti Obby.

“Maksud kakak apaan?” Obby gelisah.

“Iya, dulu di UKS situ pernah ada siswa yang bunuh diri minum semua obat yang ada dalam kotak P3K. Anak itu depresi berat karena mengidap penyakit korengan di sekujur tubuhnya. Agar jenazahnya tidak tercium bau busuk, seluruh tubuhnya dibungkus perban seperti mummy!” Mario semakin beraksi.

“Hiiiii….” Obby bergidik ngeri.

“Kak, tolong jemput Obby pulang sekarang juga, ya!” suara Obby melemah.

HIKS!

Terdengar suara isak tangis di ujung telepon. Sepertinya Obby ketakutan.

“Hmm, tapi kakak lagi ada acara nih,
begini kakak akan minta tolong pada
teman kakak saja, kamu kenal Kak
Nico kan? Nanti biar kakak suruh dia
untuk menjemputmu di UKS sekolah!
Oke?” tanpa menunggu persetujuan
dari Obby, Mario langsung menutup
pembicaraan begitu saja.

Ia tidak ingin kencannya dengan
Kedasih terganggu, karena ini
merupakan kencan perdana baginya.

“Obby tertidur di sekolah jam segini
baru bangun?” Tanya Badai.

“Mamanya bilang dia itu tukang
tidur!” Jawab Mario kurang respek.

“Mamanya? Tampaknya baru
beberapa hari kenal kalian sudah
akrab sekali ya?” Korek Badai.

Dalam hati Badai merasa iri kepada
Obby karena bisa begitu cepat akrab
dengan Mario, sedangkan Badai
perlu waktu 5 tahun agar bisa
menjadi dekat dengan Mario seperti ini.

“Mamanya adalah sahabat mamaku!”
Jawab Mario singkat.

Badai manggut-manggut,”Oh
pantesan!”

Seorang petugas yang dimintai
tolong untuk memotret mereka
berempat datang menghampiri.
Segera keempatnya berpose, lebih
dari sepuluh kali petugas itu
mengambil gambar dari satu tempat
ke tempat lain dalam arena.

Mereka
pun merasa puas dengan hasil
gambar yang diambil. Baru setelah
itu keempatnya memotret sendiri-
sendiri, berpasangan, maupun
bertiga saling bergantian memotret foto.

Setelah puas bermain ice skating di
arena seluncur, kini tiba saatnya
mereka menuju karaoke box. Di
sinilah satu-satunya tempat di mana
Badai bisa memamerkan
kemahirannya. Sesuai tujuan utama,
karaoke box lebih ditujukan untuk
Camelia yang ingin berlatih olah
vokal dengan Badai.

Track demi track mereka putar
namun belum memberikan hasil
yang memuaskan dari Camelia.
Di saat lagu Sang Dewi-Titi DJ
melantun pada bagian reffrain, suara
Camelia lebih jelas terdengar seperti
penyanyi roker yang sedang merintih
kesakitan karena melahirkan.

“Walaupun dirimu tak
bersayaaaaap…” Camelia naik ke
atas kursi.

Otot tangannya mengejang namun
napasnya menggebu-gebu.

“Mel.. Mel.. Turun Mel, ingat ini
bukan di rumah sakit jiwa, Mel!”
Gurau Mario padanya.

Kedasih terpingkal-pingkal menahan
perutnya kesakitan saking lucunya
melihat tingkah Camelia.
Camelia sama sekali tak
menghiraukan imbauan teman-
temannya. Ia masih terus bernyanyi.
Gadis tomboy ini sangat berambisi
untuk menjadi seorang penyanyi
profesional. Mungkin ia ingin
menjadi artis terkenal. Tak peduli
suaranya sangat parau ia tetap terus
bernyanyi, padahal Badai sudah
mengajari tone-tone dan vibra lagu
yang dinyanyikan olehnya. Tapi
masih saja selalu salah.

“…Ku akan percayaaaaa uuooo…
Kau mampu terbang bawa
dirikuuuu…
Tanpa takut dan ragu huhuhu….”

Camelia terbatuk-batuk saking bersemangatnya latihan olah vokal bersama Badai.

“Beu.. Persis sapi embahku yang mau melahirkan lu Mel!” Ejek Badai mencibir.

Camelia cuek tetap tak peduli.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s