Posted on

#Namamu Kupinjam 2#

image

#Namamu Kupinjam 2#

Badai melangkah lunglai menuju
kelasnya, sebentar lagi waktu
istirahat akan habis, ia masih
tertatih-tatih karena kejadian
tubrukan dengan siswa baru yang
bernama Obby Afrizon tadi pagi.

“Dasar manusia Afrikanus Soloensis!” Gerutu Badai pada dirinya sendiri yang sebenarnya ditujukan untuk Obby Afrizon.

“Awas kalau ketemu lagi kamu harus terima pembalasanku!” Sengit Badai.

“Badai, bisa minta waktu enggak,
sebentar?” Seorang cowok tinggi
tegap menepuk bahu Badai dari
belakang.

“Eh, ya, ada apa Kak?” Badai
membalikan badan menghadap
orang yang menepuk bahunya. Matanya berbinar mendadak bahagia.

Ia sangat mengenal suara yang
menyapanya itu. Dia tak lain adalah
Triko, kakak kelasnya, ketua OSIS
yang tidak lama lagi akan segera
lengser dari jabatannya.

Tubuh Triko tinggi tegap, gagah, dan
selalu menjadi idola para siswi di
sekolah. Biasalah, sudah menjadi hal
yang lumrah di sekolah manapun
seorang ketua OSIS selalu menjadi
pujaan para pelajar perempuan.

“Rencananya hari Kamis nanti OSIS
mau mengadakan puncak acara
Masa Orientasi Siswa, kami mau
mengadakan pentas seni gitu, kamu
bisa enggak mengisi acara di pentas
seni nanti?” ratap Triko penuh
harap.

Dipandang seperti itu membuat
Badai salah tingkah. Entah apa yang
terjadi dalam dirinya.

“Maksud Kakak?” Badai belum
mengerti.

“Kamu nyanyi di pentas ya?” Tangan
Triko memberi sembah.

“Please!” Imbuhnya.

Belum sempat menjawab permintaan
Triko, sesosok tubuh jangkung lain
turut menghampiri.

“Gimana Dai, kamu bisa enggak
mengisi acara pentas seni hari Kamis
nanti?” Kali ini suara si jangkung
yang berbicara.

“Mario…” Lidah Badai mendadak
kelu.

“Jadi kamu mau kan?” Tanya Triko
dan Mario hampir bersamaan.

“He-eh deh,” Badai mengangguk.

“Oke, thanks ya Dai, kalau ada perlu
apa-apa kamu hubungi aku ya! Oya
kelasku sekarang XII IPA D,” Triko
mengusap bahu Badai kemudian
berlalu dari hadapannya begitu saja.

Mario mengintip ke dalam ruang
kelas XI IPA B. Ia tampak seperti
mencari-cari seseorang.

“Kamu cari siapa Mario?” Badai
mendekat ke arah Mario.

“Ah, enggak! Dah ya, aku mau balik
ke peserta MOS!” Mario langsung
berbalik tanpa mempedulikan Badai
yang ingin berbicara dengannya.

“Jiah, lagi-lagi gue dikacangin, so
jaim banget sih tuh anak!” Dengus
Badai kepada dirinya.

¤¤••00••¤¤

“Sayang, tadi aku ketemu anak baru,
wajahnya itu imut kaya kamu. Unyu-
unyu gitu deh, terus pikiran aku jadi
melayang mikirin kamu. Coba kamu
ada di sini pasti aku enggak bakal
mau pisah sama kamu,” suara di
ujung telepon terdengar sedang
dilanda mabuk asmara.

Badai merangkul guling tidur
kesayangannya yang senantiasa
menemaninya di kamar setiap hari.

Badai mendesah, “Ih sayang, awas
loh nanti kamu tergoda sama anak
baru itu! Aku enggak rela kalau
kamu selingkuh, pokoknya kalau
sampai macam-macam di belakang
aku, lebih baik kita putus,” ancam
Badai.

“Iih, kamu kok jadi ngambek gitu sih
sayang? Kamu cemburu ya? Jangan
takut dong sayang, cintaku hanya
ada untuk kamu! Cuma kamu yang berhak memiliki hatiku!” sahut suara pada
speaker handphone Badai.

Badai mengelus hpnya ke dada, ia
terbuai oleh gombalan-gombalan
suara di ujung telepon.

“Ah, andai saja ini semua sungguh
nyata!” Desah Badai.

Ditatapnya wajah si penelepon di
layar facebook via komputer.

“Kak Triko, kamu ganteng banget
sih! Tapi kamu playboy kan?” Gumam Badai lirih.

Badai pun mulai berfantasi seolah-
olah Triko datang padanya dan
bercumbu-rayu dengannya.

“Badai, kamu di kamar Nak?” Panggil
Ibunda Badai di balik pintu kamar.

Aarrrgh….SIAL!

“Iya, Bu,” Badai membuka pintu
kamarnya.

“Kamu ke minimarket di ujung
kompleks ya, tolong belikan Ibu
tepung terigu 5 kg! Masalahnya Ibu
enggak bisa meninggalkan dapur,
ada kue yang sedang Ibu panggang,”

Badai menerima selembar uang
bergambar dua tokoh proklamator
negara ini. Dia berjalan gontai
menyusuri jalanan kompleks
perumahannya. Ditendangnya batu-
batu kerikil yang berserakan di tepi
jalan kompleks. Keindahan kembang
bungur yang selalu dinikmatinya
setiap pagi saat berangkat sekolah
tak lagi ia nikmati saat ini.

Perasaannya masih memendam
kecewa atas pernyataan Pak Ruspita
karena tidak mengabulkan
keinginannya untuk dapat
dipindahkan satu kelas dengan
Mario. Ditambah lagi panggilan ibunya dari luar kamar mengganggu khayalannya bersama Triko. Hari ini benar-benar membuatnya BT.

Secara kebetulan dia melintasi
lapangan basket. Di sana ada Mario
dan beberapa orang remaja kompleks
seumurannya. Seperti biasa Mario
selalu bergaya cuek kepada Badai.

“Badai, main basket yuk sama kita!”
Ajak salah seorang di antara mereka kepada Badai.

Badai terpana, seumur-umur baru
kali ini ada remaja kompleks yang
mau mengajaknya bermain basket.
Badai menyunggingkan senyuman
pada anak yang mengajaknya tadi.
Tak disangka anak itu pun membalas
senyumannya. Sungguh manis.

Mario
memang cool, tapi anak yang baru
membalas senyumnya itu lebih
manis daripada Mario. Mungkin
karena Mario jarang tersenyum
kepadanya, pikir Badai.

“Maaf Rud, aku harus belanja
disuruh ibuku,” Badai melengos.

Ternyata jawaban Badai disambut
gelak tawa genk Mario.

“Yo, teman sekolahmu itu anak mami
banget seh? Dia enggak pernah
gabung sama kita-kita,” ejek seorang
anak yang bernama Nico pada Mario.

Nico sebenarnya adalah teman satu
sekolah juga dengan Badai dan
Mario. Hanya saja Nico masuk
program IPS.

“Termasuk teman elo juga kalee! Biar
pun satu sekolah gue sama Badai
kagak akrab banget dah!” Elak Mario.

“Loh, bukannya kamu sama Badai
berteman sejak SD? SD, SMP, dan
SMA kalian satu sekolah terus kan?
Masa kalian enggak akrab sih?” Rudy si anak bersenyum manis tadi melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.

Ia tidak percaya dengan apa yang
dikatakan oleh Mario.

“Ya, gue kan sama Badai dari SD
enggak pernah satu kelas, men! So
ngapain gue mesti akrab sama dia?”
Mario mengerling.

“Tapi kok lo tahu sih kalau gue dari
SD satu sekolah terus sama Badai?
Padahal elo tinggal di kompleks ini
baru 3 bulan. Hayoo..elo perhatian
ya sama si Badai?” Tuding Mario ke muka Rudy.

“Pake ngajakin si Badai main basket
sama kita lagi!” Seru Nico disusul
gelak canda cemoohan yang lain.

“Ah, enggak, kebetulan saja aku
sama Badai berteman di FB. Waktu
aku mengkonfirmasi permintaan
pertemanan dengan Mario, dia nge-
add aku! Ya, aku konfirmasi sajalah.
Enggak ada salahnya kan berteman
sama dia, toh kelihatannya dia anak
baik-baik. Ya, dari cerita dia, aku
tahu kalau kamu satu sekolah terus
sama Badai sejak SD,” ungkap Rudy berterus-terang.

“Ueh, ceritanya elo jadi teman
curhat dia nih?” Goda Rifkan salah
seorang anggota genk Mario.

“Memangnya kenapa sih kalian pada
mengucilkan Badai?” Rudy
penasaran.

“Mengucilkan sih enggak. Hanya saja
dia sendiri yang suka bersikap aneh.
Dan dia termasuk tipe anak yang
tertutup, enggak mau gaul dengan
kita di sini.” Beber Rifkan.

“Kalau aku ajak dia gabung sama
kita, gimana?” Rudy menarik satu
alisnya lebih tinggi.

Nico melempar basket ke arah Rudy.

“Terserah elo aja deh!” Sahut Nico cuek.

“Tuh, dia lewat lagi” seru Mario.

“Badai, habis belanja kamu balik ke
sini ya! Rudy pengin curhat sama
kamu!” Goda Nico cekikikan.

Muka Rudy bersemu kemerahan.

“Apaan sih?” Sentil Rudy
melemparkan bola ke dalam
keranjang.

“Kyahahaha…” Semua pun tergelak.

Hanya Badai yang terpaku sesaat,
kemudian ia melanjutkan langkahnya
pulang ke rumah.

U_U”

“Kenapa sih, aku tidak punya
kemampuan di bidang olah raga?
Tidak ada satu pun permainan olah
raga yang aku kuasai.” Rutuk Badai kepada dirinya sendiri.

Ia melempar bantal berbentuk
boneka lumba-lumba berwarna biru
muda ke atas kasur. Direbahkannya
tubuhnya yang penat ke
pembaringan hingga akhirnya kedua
matanya mengatup rapat dan
terlelap.

“Badai, bantal dan guling lumba-
lumba kamu bagus ya, boleh dong
aku tidur bareng kamu di sini!”
samar-samar terdengar suara seperti
yang tidak asing di telinga Badai.

Itu kan Mario! Badai tertegun, wah
mimpi yang indah pikir Badai. Mario
cute banget memakai kaos kerah
Dove bernuansa casual warna belang
biru-hitam.

“Kenapa bengong Badai? Sini, kita
ceburin yuk bantal lumba-lumba
kamu ke laut!” imbau Mario
padanya.

“What? Enak aja, itu bantal
kesayanganku, Mario. Sini
kembalikan!” Badai merebut bantal
kesayangannya.

“Ceburin ke laut aja!” Mario tidak
mau mengalah.

Keduanya saling berebut, tarik-
menarik dan dorong-mendorong.
Tanpa sengaja Mario menyikut tubuh
Badai hingga tergeser satu meter
dari atas ranjang.

GUBRAAK!

Badai pun terjatuh dari atas kasur.

“Whuaa… ternyata benar CUMA
MIMPI!” gerutu Badai.

Kring… kring… alarm wecker di atas
nakas samping tempat tidurnya
berdering. Waktu menunjukan sudah
pukul 17.00. Ia harus segera mandi,
dan seperti biasanya setiap sore ia
akan bergelut dengan teman-teman
dan kekasih dunia mayanya.

“Maafin teman-teman ya, atas
kejadian tadi siang,”
Muncul panel chat di pojok bawah
sebelah kiri facebook Badai. Dari
Rudy.

“Enggak ada yang perlu dimaafkan
kok, memangnya kalian salah apa?”
Balas Badai.

“Ya, tadi kan mereka ngolokin kamu,”

Badai tersenyum kecut. Hatinya
sedih tetapi juga senang. Sedih
karena menjadi ejekan para remaja
kompleks. Senang karena bisa dekat
dengan Rudy, cowok bersenyum
manis. Badai menerawang, andai
saja Mario bisa bersikap semanis
Rudy. Pasti tidak akan sulit baginya
untuk dapat dekat dengan Mario.

“Badai, kamu masih di situ?” Panel Rudy bergeser ke kanan atas.

“Eh, oh, iya. Gak apa-apa kok!” Badai
membalas permintaan maaf Rudy.

“Thanks ya Dai. Oh, iya kapan-kapan
aku boleh main ke rumahmu?” Rudy
merasa lega.

“Boleh,” Ketik Badai singkat di layar
panel chat.

“Oke, sip. Kalau gitu aku minta
nomor hp kamu dong. Boleh kan?”
Rudy semakin bersahabat.

“Aku kirim lewat ps ya,” balas Badai
cepat.

“Oke bro! Makasih ya dah mau
anggap aku sebagai teman,” Rudy
menutup chatnya sore itu.

Badai tersenyum-senyum sendiri.
Seharusnya ia yang berterima kasih
pada Rudy karena Rudy sudah
bersikap baik padanya sejak Rudy
datang sebagai pendatang baru di
kompleks perumahan Badai tinggal.

Badai terus berseluncur di layar
facebook. Sejenak ia teringat pada
kejadian tadi pagi, peristiwa
tubrukan dengan seorang siswa baru
yang mengaku bernama Obby
Afrizon. Diketiknya nama itu di
kolom pencarian. Mulai dari
mengetik kata Obi Afrizon, hasilnya
nihil. Kemudian menggantinya
dengan Oby, masih sama. Hingga
beberapa saat ia terus berkutat
dengan layar facebook. Ah, lama-
lama Badai merasa jenuh juga.

Ketika ia akan log out dari akunnya,
perhatiannya tersita oleh sebuah
status terbaru yang diupdate oleh
Mario.

“AKU JATUH CINTA! Tuhan kumohon
bisikkan padanya bahwa aku telah
jatuh cinta padanya. Melalui angin
yang berhembus lembut, melalui
gerimis yang membasahi bumi,
melalui sinar mentari yang
menghangatkan tubuhnya sepanjang
hari dan melalui bulan yang
mengantarkannya kepada mimpi
indah pada malam hari,”

Begitulah isi status yang baru saja
diperbarui oleh Mario. Ih, lebay deh ah, cibir Badai.

Sesaat kemudian mata Badai
membelalak begitu melihat jumlah
jempol yang diacungkan ke atas
untuk status tersebut, ada lebih dari
100 jempol pada status yang
disebutnya lebay.

“Aku bisa dapat 20 jempol saja
sudah syukur, kok Mario bisa ya
dapat hampir 200 jempol hanya
dalam waktu 5 menit. Badai
berdecak. Dibacanya komentar
teman-teman Mario satu-persatu.

Ada yang berkomentar :

“Semoga bisikannya didengar
langsung oleh pujaan hatimu ya,
Mario!”

“SMS aja bro!” Sahut yang lain.

“Dekati dong! Kalau cuma diam di
tempat, dia mana tahu kalau kamu
jatuh cinta padanya!”

“Perlu Mak Comblang, panggil saja
eike!” Wah, wah, komentator yang ini
waria kali ya, bahasanya pakai eike-eike segala.

Badai menggeleng. Satu-persatu
komentar ia baca tanpa ada balasan
dari si empu status. Kira-kira Mario
pergi ke mana ya? Masa statusnya
ditinggal begitu saja? Jangan-jangan
si Mario lagi boker di WC. Hihihi…
Badai tertawa sendiri.

“Kak Mario, makasih dah konfirmasi
permintaan pertemanan dari Obby.
Lagi jatuh cinta ya Kak? Semoga
terbalaskan ya Kak. Good luck for
you!^_^” komentar terakhir yang
tertera pada kolom komentar.

Yess! Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Ini benar-benar Obby anak baru
yang menabraknya tadi pagi. Badai
kegirangan. Kemudian ia mengklik
nama akun si anak baru. Badai
terpana.
Foto-foto profil Obby manis sekali
penampilannya. Benar-benar cowok
imut. Jauh bila dibandingkan
dengan penampilan tadi pagi yang
memakai atribut MOS. Badai
mendownload foto-foto profil Obby
yang menurutnya berpenampilan
manis. Dalam foto Obby sama sekali
tidak terlihat masih SMP, justru ia
terlihat seperti sudah SMA.

Lima menit berikutnya Badai log out
dari akunnya dan masuk kembali ke
jejaring sosial yang sama dengan
menggunakan akun yang berbeda.

Princess Aurelia.

“Hi, sayang.. Udah ma’em belum?”
Tulisnya di dinding seseorang.

Semenit, dua menit tak ada balasan.
Badai mengirim sebuah SMS melalui
ponselnya.

“Sayang, kamu lagi asyik BBM sama
cewek anak-anak baru di sekolahmu
ya? Kok aku nulis di dinding kamu,
enggak kamu balas?”

Sent.

“Corry chaiank, aku lagi antar mama
ke butik, beli baju baru buat
pernikahan tanteku di luar kota. Iya
nanti kalau aku udah pulang dari
butik, aku buka fb deh. Aku balas
pesan dinding kamu!” Inbox. Dari
Triko My Love.

“Ah, ya udah kalau gitu aku mo
mandi dulu ya say! Nanti malam kita
lanjut lagi,” Badai mengetik cepat
balasannya.

“Mau kumandikan ya sayang?” Triko
tak lambat membalas pula.

“Hmm.. Maumu!” Omel Badai.

¤¤||(_0_)||¤¤

Ting Tong! Ting Tong!

Bel pintu depan berbunyi nyaring.

“Badai, ada tamu, bukakan pintunya
Nak!” Teriak Ibunda Badai dari lantai atas.

“Iya Bu, ini juga lagi mau dibuka,”
sahut Badai lemah.

Kriet..

Daun pintu terbuka lebar.

“Siang Dai, baru pulang sekolah ya?
Sorry kalau aku ganggu waktu
istirahat siang kamu. Sorry juga
enggak sempat bilang dulu lewat
telepon,” senyum manis itu merekah
sangat tulus dan sopan, siapa lagi
kalau bukan Rudy.

“Enggak apa-apa kok. Sendiri?”
Selidik Badai.

“Tuh, lihat! Siapa yang datang sama
aku?” Rudy melirik ke arah samping.

Sesosok pemuda berwajah Indo-
Eropa dengan tubuhnya yang
jangkung sedang duduk di serambi
rumah Badai memandangi ikan-ikan
peliharaan dalam kolam berukuran kecil.

“Mario…” Desis Badai.

Ia merasa tidak percaya, dua orang
cowok ganteng akan datang
berkunjung padanya di siang
bolong. Mimpikah dirinya? Ditepuk-tepuki kedua pipinya sampai ia sadar kesakitan. Benar, bidadara ganteng itu memang mereka!

“Oh, sampai lupa mempersilakan
masuk!” Badai menghampiri Mario dan menyalaminya.

“Tadi pagi kamu enggak jalan kaki
lagi ya berangkat ke sekolah?” Badai
membuka percakapan dengan Mario.

Mario hanya terdiam, ia asyik
mengamati ikan-ikan dalam kolam.

“Mario kan baru saja mendapat
motor baru dari ayahnya,” Rudy
menimpali pertanyaan Badai yang
ditujukan pada Mario.

Badai membulatkan bibirnya, ia baru
saja mengetahui perihal tersebut.

“Ayo masuk!” Tawar Badai lagi.

Kali ini Mario sudah menyimak apa
yang dibicarakan oleh Badai.

“Silakan duduk!” Badai
mempersilakan para tamunya.

“Aku sering dengar suara piano dari
rumah ini. Kudengar dari Mario
kamu juara vokal solo tingkat
provinsi ya Dai?” Rudy
menghempaskan pantatnya di atas sofa.

“Iya,” sahut Badai singkat.

“Wow, selamat ya Dai. Berarti aku
datang tidak ke tempat yang salah,”
Rudy memancarkan aura paras
tampannya. Ia selalu penuh senyum,
sehingga tak jemu untuk
memandang wajahnya.

“Siapa Dai?” Suara ibunda Badai
turun dari lantai atas.

“Eh, Nak Mario. Tumben, main ke
mari. Ibumu sehat Nak?” Sapa ibu Badai menyalami Mario.

“Mama sehat tante,” Mario
menyunggingkan senyum ramah.

Baru kali ini Badai melihat senyum
Mario yang begitu indah. Mario
terlihat semakin tampan saja dibalut
senyumannya itu.

“Rudy enggak disapa, tante? Padahal
yang membawa Mario ke mari kan
Rudy, tante,” Rudy mencium tangan ibu Badai penuh rasa hormat dan santun.

“Angin apa yang membawa kalian ke
mari? Jarang loh ada kawan Badai
yang berkunjung ke rumah kami ini,”
Ibunda Badai menghangatkan
suasana.

“Angin badai tante! Eh maaf bercanda, begini tante, saya ingin belajar
piano dengan Badai. Setiap malam
saya mendengar suara permainannya
begitu merdu,” Rudy mengemukakan
niatnya.

“Wah, mohon maaf ya Nak Rudy,
kalau suara piano di rumah kami
mengganggu ketenangan Nak Rudy!”
Ibunda Badai merasa tidak enak.

“Tidak sama sekali tante. Malah saya
suka sekali mendengarnya. Maka dari
itu saya ingin belajar dengan Badai,”
Rudy meyakinkan.

Ibunda Badai mengusap dada,”Oh,
syukurlah. Sebentar ya, tante
ambilkan minum dulu!”

“Tidak usah repot-repot tante.
Rumah kita kan dekat!” Sergah Mario tiba-tiba.

“Iya tante, cuma 10 meter saja kok,”
imbuh Rudy.

“Ya sudah, tante tinggal dulu ke
dalam ya. Ada yang harus tante
kerjakan. Kalau perlu apa-apa,
anggap saja seperti di rumah
sendiri!” Ibunda Badai bangkit dari
duduknya dan berlalu meninggalkan
mereka bertiga di ruang depan.

“Oh, jadi ini piano yang sering kamu
mainkan ya? Boleh aku coba?” Rudy
menghampiri piano bercat hitam
mengkilap. Sangat terlihat jelas
kalau piano tersebut produk merk terkenal.

“Silakan!” Badai membuka kap
penutup pianonya.

“Dai, kulihat tadi pagi kamu masuk
kelas XI IPA B. Memang kelasmu di
situ ya?” Mario mulai menegur
Badai.

“Ya iyalah, kelasku memang di XI IPA
B. Aku kan bukan anak jenius
seperti kamu yang diterima di kelas
XI IPA A,” Badai berkata dusta.

Ia tidak ingin Mario sampai
membujuknya untuk bertukar kelas.

“Oh, kulihat kamu duduk dengan
cewek. Kalau tidak salah dia kan…”
Mario tersendat, ia seperti ragu
mengutarakan sesuatu.

“Dai, ini tuts dasarnya yang mana
sih?” Rudy menyela pembicaraan.

“Sebentar ya Mar!” Badai berbalik
mendekati Rudy.

Nada-nada pun mulai mengalun
lembut tatkala Badai mulai
memainkan sebuah lagu. Rudy
duduk di sampingnya,
memperhatikan kelincahan tangan
Badai dengan saksama.

Tak lama Rudy pun sudah mulai bisa
mengikuti gerak lincah Badai
memainkan Habanera (Carmen) yang
dulu dipopulerkan oleh pianis
legendaris Bizet.

“Kamu pernah belajar piano juga
ya?” Badai menengok ke arah Rudy.

Rudy terfokus perhatiannya pada
tuts piano.

“Dulu sempat ikut kursus sebentar,
tapi belum sempat dilanjutkan
karena keburu pindah ke sini,”
ungkap Rudy terus terang.

Mario berdiri memperhatikan, ia
masih menantikan keterangan dari Badai.

“Maksudmu Kedasih si tangan besi
ya?” Badai beringsut dari posisi
duduknya.

Mario tertegun.

“Aku memang duduk dengan dia.
Tapi terus terang, menurutku
karakternya itu sulit ditebak. Kadang
dia jutek, kadang dia baik seperti
kemarin. Sedangkan seharian ini aku
melihat sikapnya misterius, dia tidak
mau berbicara dengan siapapun di
kelas. Gadis yang aneh!” Gumam
Badai terlebih kepada dirinya
sendiri.

“Aneh katamu?” Mario menatap
lurus Badai.

Badai terkesiap,”Ada apa denganmu
Mario? Apakah kamu menyukai
Kedasih? Jangan-jangan statusmu di
fb kemarin sore itu maksudnya untuk
Kedasih?” Kulik Badai.

Mario membuang pandangan. Tak
lama setelah itu ia tersenyum
nyengir kuda.

“Kalau kamu perlu perantara
mungkin aku bisa,” tawar Badai
penuh semangat.

Mario berpikir menimbang-nimbang sejenak.

“Memangnya kamu bisa?” Mario
tersenyum di kulum.

Semakin sering tersenyum, Mario
semakin terlihat cool and handsome.

“Kenapa enggak dicoba?” Tantang
Badai.

“Kayanya kamu bisa diandalkan nih,”
mata Mario berkedip.

“Wow, Dai, kamu punya kolam
renang ya? Perasaan di kompleks kita
enggak ada yang punya kolam
renang deh,” seru Rudy tiba-tiba, ia berlari ke halaman samping.

“Baru aja jadi dua hari yang lalu.
Sengaja dibikin oleh ayahku supaya
aku bisa berenang. Soalnya enggak
ada satu pun pelajaran olah raga
yang aku kuasai. Ya dengan cara ini
setidaknya bisa membuat aku
menguasai salah satu cabang olah
raga kan,” urai Badai gamblang.

Rudy manggut-manggut.

“Wah, boleh dong aku sering-sering
berenang di sini?” Celetuk Rudy.

“Kalau mau sekarang juga boleh,”
Badai duduk di tepian kolam.

“Wah, asyik, nyebur yuk!” ajak Rudy dengan riang.

Rudy sudah menanggalkan kaos dan
celana panjang yang dipakainya.
Badai sempat terpesona menatap
keindahan tubuh Rudy. Ia berdecak
kagum, kulit Rudy begitu putih,
bersih, dan kenyal. Rudy hanya
tinggal mengenakan sebuah celana pendek yang longgar.

Mario menghampiri Badai duduk di
tepi kolam. Kedua pasang kaki
mereka berendam di dasar air kolam.
Mengayun-ayunkan kaki mereka
sehingga air pun bercipratan.
Rudy sudah asyik hilir-mudik dari
satu ujung kolam ke ujung kolam
yang lain. Sesekali ia mencipratkan
air ke arah Badai dan Mario hingga
membuat pakaian Badai dan Mario
menjadi basah. Tak lama kemudian
Mario pun menanggalkan kaos yang
dipakainya. Setelah melepas celana
yang dikenakannya Mario pun
menceburkan diri ke dalam kolam.
Menyerang Rudy dengan mengunci
pergerakannya di dalam air.
Badai ternganga, ia masih tak
percaya akan apa yang sedang
dilihatnya. Mata Badai sama sekali
tak berkedip. Kedua lelaki yang
sedang berenang itu sama-sama
memiliki tubuh yang indah, berotot
walau belum terlalu sixpacks.
Badai sungguh iri, ia sangat ingin
dapat berada di tengah-tengah
mereka bercanda bersama, tentu
sangat mengasyikan. Tanpa
disadarinya diam-diam Rudy menarik
kedua kaki Badai dari dasar kolam.

BYUURR!!

Badai pun tercebur. Nafasnya
megap-megap, kedua tangannya
berusaha mencari keseimbangan ke
permukaan air, ia sama sekali tak
bisa berenang.
Mario dan Rudy mencandainya
dengan terus menyorakinya agar
dapat mengejar mereka.

“Ayo Dai, kejar kami!” Panggil Mario lantang.

“Mario.. Rudy.. ” panggil Badai
lemah.

Sebagian air telah masuk ke dalam
rongga mulut Badai.
Badai semakin tak berdaya. Sebagian
tubuhnya telah terbenam. Perlahan
kepalanya mulai ikut tenggelam.

“Wah, Rud, gimana tuh?” Mario
mulai panik.

“Yo, memang beneran dia enggak
bisa olah raga apa-apa?” Rudy turut cemas.

Dengan sigap Mario menghampiri
Badai dan membawanya berenang
menepi. Rudy menyusul di belakang.
Mario menekan-nekan dada Badai.
Sementara Rudy berusaha
memberikan nafas buatan.
Sebenarnya Badai masih dalam
keadaan sadar, akan tetapi ia telah
terlalu banyak minum air di dalam
kolam. Dengan nafas buatan yang
diberikan oleh Rudy sedikit demi
sedikit air yang terminum dapat
dikeluarkan dan mulut Badai pun
tersedak. Badai terbatuk-batuk.

“Dai, maafin kami ya. Kirain kamu
enggak serius enggak bisa olah raga
apa-apa,” raut wajah Rudy merasa bersalah.

Badai terdiam, pikirannya
berkecamuk. Ia tidak percaya apa
yang baru saja terjadi padanya. Saat
Rudy memberinya nafas buatan,
tidakkah kedua bibir mereka telah
saling bersentuhan? Itu berarti
mereka telah saling berciuman?!
Badai tersenyum-senyum sendiri.

“Badai, kamu enggak apa-apa?” tanya Mario.

Badai mendudukkan tubuhnya
sedikit lebih tegak. Tiba-tiba saja ia
memeluk Mario dan Rudy
bersamaan. Ia tertawa tergelak. Rudy
dan Mario merasa tercekik oleh
pelukan Badai yang teramat
kencang.

“Ayo kita nyebur lagi ke kolam!
Kalian harus ajari aku berenang!”
Seru Badai penuh semangat.

¤¤•»»0O0««•¤¤

Rudy dan Mario baru saja pamit
untuk pulang. Badai mengintip
kepergian mereka melalui jendela
kamarnya di lantai atas. Sejak hari
ini mereka telah saling berjanji
untuk mulai berkawan dekat. Rudy
akan datang setiap saat untuk
berlatih piano pada Badai.
Sebaliknya Badai sangat
memerlukannya untuk melatihnya
berenang. Atau lebih tepatnya agar
ia sering mendapat ciuman dari
Rudy saat Rudy memberinya napas
buatan. Sementara Mario akan
menjadi dekat dengannya karena
Mario membutuhkan seorang
perantara untuk menyampaikan
perasaan kasihnya kepada seorang
gadis yang bernama Kedasih, teman
satu meja Badai di kelas XI IPA B.

Hmm… Mario…

Desah Badai. Ada sekelumit
perasaan bahagia karena selama
bertahun-tahun ia telah menantikan
untuk bisa menjadi dekat dengan
Mario. Sejak ia mengalami masa
pubertas yang terlalu dini di masa
kelas 6 SD, Badai diam-diam telah
menaruh perasaan suka kepada
sosok wajah Indonesia keturunan
Italia, Mario. Ayah Mario memang seorang Italia.
Tapi di sisi lain Badai pun
merasakan kesedihan, mengapa ia
harus jatuh cinta pada orang yang
tidak semestinya. Tidakkah ia dan
Mario adalah sama-sama lelaki?
Bagaimana mungkin cinta mereka
dapat dipersatukan. Oleh karena
itulah cintanya pada Mario hanya
menjadi cinta sepihak, cinta yang
bertepuk sebelah tangan. Cinta itu
hanya dapat ia pendam seorang diri. Tanpa pernah terkuak baik oleh
Mario atau siapapun. Apalagi sosok Mario adalah lelaki normal yang tidak mungkin bisa mencintainya seperti Badai yang mencintainya. Sebagai
pelampiasannya Badai hanya dapat
menyamar sebagai perempuan
melalui telepon dan situs-situs
jejaring sosial di dunia maya.

Bermodalkan suara emas yang dimilikinya dan dapat mengubah suara menjadi suara jenis lain,
Badai mengelabui para lelaki yang
disukainya di lingkungan rumah
maupun sekolahnya. Disokong pula
dalam tablet portable computer yang
dimilikinya terdapat sebuah aplikasi
yang dapat mengubah suara menjadi
suara orang lain baik suara bayi,
balita, anak-anak, remaja, dewasa,
manula, pria maupun wanita. Ajaib
semua lelaki yang dijebaknya
terperdaya, tiada yang mengenali
suaranya. Padahal tanpa aplikasi
pengubah suara pun suara Badai
sangat merdu, terutama bila Badai sedang bernyanyi.

Seperti yang dilakukannya kepada
Triko. Selama ini Triko adalah
pelampiasan cinta bagi Badai karena
Mario tak pernah sekalipun mau
dekat dengannya. Kendati demikian
Badai tak kuasa untuk memperdaya
Mario melalui telepon seperti yang
dilakukannya kepada Triko. Baginya
Mario adalah cinta sejatinya yang
murni.
Selama ini lelaki yang diperdaya
oleh Badai via telepon dan dunia
maya hanya lelaki yang terkesan
playboy di mata Badai. Ia sama
sekali tidak menyukai lelaki para
pemain cinta. Maka dari itu ia hanya
bermaksud mempermainkan mereka
agar mereka jera dalam bermain
cinta.
Badai masih meratapi kepergian
Rudy dan Mario melalui kaca jendela
kamarnya. Tanpa terasa air matanya
menetes di kedua belah pipinya.
Badai bergumam pelan.

“Mario, I love you… Aku cemburu
Mario, waktu kutahu bahwa di
hatimu ada nama seseorang lain,
dan itu bukanlah namaku!”

Sejak bertemu dan ku mengenalmu
Hatiku terasa berbeda
Kubahagia bila mendegar suaramu
Jantungku berhenti berdetak
Bila bertemu berpapasan
denganmu
Hatiku berbunga saat melihat
senyummu
Tubuhku lemas saat suara lembut
mu menyapaku
Memanggilku ,mengajakku,dan
memintaku
Namun itu hanya ada dalam
buaian mimpi yang terus
meracuniku
Memberiku harapan-harapan palsu
Kau lembut,peduli,sayang padaku
Itu semua semu
Ku tak kuasa menolak dirimu
Diriku terhipnotis cintamu
Hatiku terjerat oleh sikapmu
Perasaan ku larut dalam harimu
waktuku hilang bersamamu
Semua hanyalah harapan kalbu
Inikah cinta pertamaku…?

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s