Posted on

My Name is Cloudy

image

My Name is Cloudy

a short story by SUGIH

==00==••00••==00==

Sapporo,17 Desember 2005

Apa yang engkau rasa hari ini?
Ketika awan mendung menyapu
bumi…
Ketika rintik hujan membasahi
tanah…
dan semilir angin dingin
menusuk kulit!

Mungkinkah suasana mendung
itu menambah mendung di
hatimu?

Mendung hati memaknai hidup
lebih terjal
ketika sang kekasih hati terlihat
samar di kejauhan…
ketika sang sahabat terlihat
kabur dipelupuk mata,
dan ketika orang-orang
tersayang tak dapat terjangkau

Mendung membuat hidup menjadi kelabu!

dari jurnal SUGIH

Salju mulai turun setelah musim
gugur yang pendek berakhir.
Dedaunan kemerahan telah jatuh
berguguran meninggalkan
batangnya. Seperti halnya diriku
yang telah ditinggalkan teman-
teman sebangsa yang pulang ke
tanah air. Mendung langit terlihat
dari jendela kaca kamarku, begitu
kelam bak hatiku. Aku rindu kepada mama, papa, kakak, juga Reinald.

Ah, tidak! Jangan pernah
mengenang mereka lagi!
Hatiku benar-benar kelam bila
mengingat mereka. Mendung
seperti namaku: CLOUDY! Aku
teramat sangat benci pada namaku sendiri. Mama bilang saat aku dilahirkan langit seharian mendung
namun tak kunjung menurunkan
hujan. Oleh karena itu mama yang kebetulan guru Bahasa Inggris memberiku nama: CLOUDY SKY. Yang berarti LANGIT MENDUNG.

Aku sama sekali tak pernah
menyangka kalau namaku akan
membawa suasana hatiku selalu
mendung, selalu diliputi kesedihan.

Segulung rol film kembali berputar
di kepalaku, bayangan-bayangan
masa lalu kembali tertayangkan di penglihatanku, tertuju pada
kampung halamanku: BOGOR.

Dua tahun yang lalu, kota dimana
aku dilahirkan 18 tahun silam
adalah kota berhati beku yang tak
pernah mengizinkan aku untuk
merasakan kebahagiaan.
Sesuai dengan popularitasnya
Bogor terkenal dengan julukan Kota Hujan, kota yang memiliki curah hujan tertinggi di Indonesia
sepanjang tahun. Bogor akan terasa sangat dingin bila hujan sedang turun deras. Dan aku merasa mati beku karena kedinginan. Dingin, sedingin salju yang kini sedang kutatap di negeri sakura ini.

Hari itu mama telah berjanji
padaku akan menyaksikan malam
penyerahan penghargaan gelar duta wisata kota kami: Mojang-Jajaka Bogor. Tapi sore itu saat mama dan papa tengah berada dalam perjalanan menuju Balai Kota, langit mendadak mendung, kendati setelah setengah jam berlalu pun tak kunjung menurunkan hujan.

Karena cuaca mendung pulalah
mama mengurungkan niatnya
sementara. Papa memarkirkan
mobilnya di tepi jalan tak jauh dari sebatang pohon asam yang begitu tinggi dan batangnya berdiameter 1,5 meter. Papa turun dari mobil, kemudian memasuki sebuah outlet
ATM tak jauh di seberang jalan.
Mungkin papa bermaksud
mengambil uang tabungannya
sedikit untuk membelikanku sebuah hadiah, meskipun aku tidak juara nantinya. Mama menanti papa di bawah pohon asam tadi. Tiba-tiba
saja terlihat langit berkelebat,suara yang begitu dahsyat dan
bergemuruh disertai kilatan
cahayanya menyambar pohon asam tempat dimana mama berdiri. Menggelegar hingga menumbangkan pohon tersebut. Belum sempat mama berlari, pohon itu roboh menimpa tubuh mama. Tak dinyana mama pun tewas seketika, teramat
tragis! Tubuh mama hancur
bersimbah darah. Aku menjerit
histeris setelah melihat jenazah
mama diautopsi di rumah sakit.
Pandanganku berubah menjadi
gelap, dan tak lama aku pun
terjatuh tak sadarkan diri.

***

Dua bulan setelah kepergian mama, papa jadi sering sakit-sakitan. Terkadang seperti orang yang lupa ingatan, ia sama sekali tidak ingat lagi padaku, pada Surya kakakku, apalagi pada Reinald pacarku.

Nama yang terakhir kusebutkan ini dikenal dengan baik oleh
keluargaku sebatas sebagai sahabat karibku saja. Sebenarnya diam-diam antara aku dan Reinald telah menjalin hubungan khusus sejak kami duduk di kelas 3 SMP. Baik aku maupun Reinald, kami berdua sama-sama saling mencintai satu sama lain. Namun kami terpaksa
merahasiakannya dari siapapun. Karena aku takut mama dan papa belum mengizinkanku untuk berpacaran.

Tatapan mata papa begitu kosong
seperti orang yang tak dapat
melihat. Menatap wajah kami anak-anaknya penuh kehampaan.
Sementara kedua kaki papa sudah tak bisa bergerak maupun berjalan.

Dokter memvonis papa terserang
stroke. Penyakit papa jauh lebih cepat menggerogoti tubuhnya. Semakin hari tubuh ringkih itu membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang terbilang masih  40 tahun.

Mungkin papa terlalu sedih
ditinggalkan mama. Tepat satu
tahun setelah meninggalnya mama, papa pun menyusul mama, menghadap Sang Pencipta. Kulihat hari itu langit begitu gelap karena mendung yang terus menggantung.

Aku amat marah pada diriku
sendiri. Menyalahkan namaku yang selalu membawaku larut dalam kesedihan. Mengapa aku harus bernama Cloudy? Mengapa bukan Melati, Indah, Purnamasari atau apalah asalkan jangan berbau kesedihan.

Kak Surya dan Reinald selalu
mengingatkanku, itu semua bukan salahku. Tapi kenyataannya, mama dan papa meninggal dunia di saat
hari mendung, tanpa diiringi hujan sama sekali. Persis seperti tatkala aku dilahirkan ke dunia ini. Meski harus kuakui itu semua terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa.

Tapi mendung itu selalu datang
merenggut nyawa orang-orang yang kucintai.

***

Di lain hari, Kak Surya sedang
merapikan gudang bawah tanah
yang gelap dan kotor berdebu.
Terlihat dari jendela kaca di lantai utama rumah kami, keadaan di luar rumah langit begitu gelap pekat, MENDUNG!

Aku pun mulai cemas takut akan
terjadi sesuatu yang mengerikan
kembali terjadi. Ternyata dugaanku tidak meleset, tiba-tiba saja listrik padam, lampu di seluruh ruangan tak dapat kunyalakan. Kak Surya
yang masih berada di gudang
bawah tanah mencoba menaiki
tangga untuk mengambil senter di kamar lantai atas. Baru beberapa anak tangga dipijaknya, kakinya terantuk sesuatu dan
mengakibatkan tubuhnya jatuh
terpeleset, malang tak dapat
dihindari, kepala Kak Surya
membentur lantai hingga
menyebabkannya tewas seketika.

“Tidaaak…..”, aku menjerit di
tengah lamunanku.

“Cloudy, kamu baik-baik saja?” Fain rupanya sudah lama mengawasiku.

“Kamu pasti teringat masa lalu
kamu lagi, ya? Kan sudah kubilang
lupakan saja! Life must go on!
Remember?” Tatapan mata yang
teduh itu membuat hatiku mencair agar jatuh ke dalam pelukannya.

“Ayolah Cloudy kamu harus move on!”

“Tidak Fain! Aku takkan pernah bisa melupakan itu semua. Karena itu semua salahku!” Aku beranjak melepas dekapan Fain.

Gerrald Alfaintry yang biasa
kupanggil Fain, adalah kekasihku
saat ini. Setelah berakhirnya
hubunganku dengan Reinald
karena…

“Karena apa? Karena namamu
Cloudy? Apalah artinya sebuah
nama!” Fain mengutip pemeo lama karya pujangga besar William Shakespeare.

Fain menatapku tajam,
“Tapi Fain, kamu tahu Reinald pun tewas karena aku juga! Karena MENDUNG!” Ups ingatanku lagi-lagi
tertuju pada masa setengah tahun lalu.

BLASS!

Bayangan itu pun muncul…

_______________________
___________________
______________
_________
____

“Sudah kubilang kan Rein! Mereka
meninggal gara-gara aku! Gara-gara mendung tanpa diiringi hujan!” Desisku lirih.

“Mungkin bila hari itu mendung
diiringi hujan takkan begini jadinya! Mama, papa dan Kak Surya meninggal di hari mendung seperti saat menyambut kelahiranku yang
justru menewaskan nenek dan
kakekku dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menyambut kelahiranku! Mereka meninggal karena bis yang mereka tumpangi dari Bandung tergelincir di Puncak!
Sebuah truk bermuatan batu
mengalami kebocoran ban, dan
menyerempet bis yang ditumpangi kakek dan nenek hingga bis pun tergelincir ke jurang!” Isak tangisku
pun meledak.

“Kalau begitu, akulah yang akan
menjadi hujan untukmu! Mulai
sekarang panggil aku Rain (hujan)!
Akan kusirami hatimu yang
mendung kelabu agar kembali
menjadi cerah!”

Reinald menggenggam jemari
tanganku erat. Aku tersentak
mendengarkan ucapannya yang
terasa menyejukkan hati.

Meskipun sebenarnya hatiku masih galau.

Kendati demikian, untuk yang ke
sekian kalinya…

Mendung itu datang lagi di pagi-
pagi buta, saat aku hendak
berangkat menuju bandara. Aku
harus pergi ke Jepang mengikuti
program pertukaran pelajar.
Semalam Reinald, ah bukan! Tapi
Rain! Telah berjanji akan
mengantarku ke bandara. Langit
begitu gelap pekat. Rintik gerimis
mulai turun, kusunggingkan
senyumku yang menghapus rasa
cemasku. Ah, Rain dimana kamu?
Hujan pun kian deras.

“Cloudy,,,” Rain memanggilku dari kejauhan, tampak ia datang
mengendarai sebuah motor.

SREEET…….

Motor yang dikendarai Rain jatuh
terguling.

“Raaaiiin…” Teriakku.

Aku bergegas menghampiri Rain

“Lihat Cloudy! Hujan ini turun
untukmu! Menyirami hatimu yang mendung!” Rain meraih tanganku.

Aku mengangguk pelan
Rain melepas helm yang
dipakainya. Kupandangi wajah Rain lekat.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu
menetes keluar dari balik tangan
jaket yang membalut tubuhnya.

Ah darah!
Kusibak sleeve tangan jaketnya,
sebilah pecahan kaca spion motor
yang pecah telah menancap pada
urat nadi pergelangan tangan
kanannya saat ia terjatuh dari
motornya karena jalan licin dalam hujan yang deras ini.
Rain tersenyum diiringi nafasnya
yang terakhir.

_________
____________
__________________

“Tidak ada gunanya kamu
menyalahkan dirimu sendiri! Apa
yang terjadi adalah kehendak
Tuhan! Itu semua sudah suratan
takdir!” Fain menyeka air mataku.
Sejurus kedua matanya menatapku,
“Pernah kau dengar lagu Kidung
yang dinyanyikan Chrisye?”

Tak selamanya,,,
Mendung itu kelabu!
Nyatanya,,,
Hari ini…
Kudapat bernyanyi
Kepadamu…

Fain mencoba bersenandung,
Kupalingkan wajahku

“Dengar Cloudy! Setelah mendung dan hujan pasti langit akan cerah kembali!”

“Dan akulah yang akan membuat
hatimu cerah kembali!” Tandas Fain.

“Jangan kau ucapkan itu Fain! Aku
tak mau kehilangan kamu!” Aku
merajuk.

Fain menempelkan jari telunjuknya di bibirku
“Sst.. Aku adalah Fain! Kamu takkan pernah kehilangan aku, karena setelah mencerahkan hatimu, aku akan selalu berada di hatimu yang cerah!”
Fain menarik tanganku menuju
keluar kamar.

“Ayo kita bermain snowball (bola
salju), mendungnya sudah hilang.
Hujan salju pun sudah reda.
Matahari bersinar cerah!”

Ternyata Fain benar, di luar
memang cerah. Dengan sebatang
kayu Fain menulis namanya di atas salju: FINE (baca: FAIN). Aku
tersenyum simpul di kulum. Aku tahu FINE dalam Bahasa Inggris artinya CERAH!

Kubuat segulungan bola salju besar dan kugelindingkan dengan sekuat tenaga ke arah Fain. Bola salju pun
bergulir dengan kencang.

Ups! Dia jatuh terjungkal karena
tertabrak bola salju yang
kugelindingkan tadi.

“Hei, Fain, kamu tidak apa-apa
kan?!” Panggilku ke arahnya.

Hening.

Tidak ada jawaban!

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s