Posted on

Langit Ungu

image

LANGIT UNGU

A Short Story Written by SUGIH

==•••◊◊•••==

Mina harus merelakan masa
remajanya, meninggalkan bangku
sekolah dan bekerja membantu
ibunya membiayai pengobatan
penyakit ayahnya. Di saat yang
bersamaan, Kairil cinta sejati yang
telah meninggalkannya selama 5
tahun hadir kembali, namun status
sosial mereka kini berbeda. Mina
menjadi pembantu di rumah
keluarga Kairil.

Kairil yang terus mendekati Mina,
menyebabkan Mina pergi mencari
pekerjaan lain dan menyeberangi
pulau. Nasib malang menimpanya, ia
dijual oleh gembong mafia untuk
dijadikan wanita penghibur. Langit ungu
menjadi saksi segala derita Mina.

A short story

SUGIH’s idea
==00==!!==oOo==!!==00==!!==oOo==!!==00==

AUTHOR PoV

Langit Ungu

Pada langit yang selalu menaungi
Biru keunguan
Ke mana pun kupergi selalu
melihatnya
Walau malam sekalipun
Atau mendung kan merubahnya
Dia bukanlah perlambang kesedihan
abadi
Melainkan Ia hanya cerminan
Bagi setiap jati diri yang tak
menyadari
Makna suci akan arti cinta sejati

***

Di atas sebuah kapal Mina
memandangi laut yang terus
menderu, biru kehijauan. Cahaya
matahari yang memantul
menyilaukan pandangannya.
Kepalanya menengadah menghadap
langit, sang surya telah meninggi
sejak ia berdiri di buritan, tangan-
tangan halusnya berpegangan pada
pagar pembatas.

“Ah, hidup ini pahit!”, gumamnya
pelan.

Tak seorang pun di sekitarnya yang
mengacuhkannya, semua tampak
hiruk-pikuk dengan kegiatannya
masing-masing. Ada sekelompok
remaja perempuan yang tengah
asyik bersenda-gurau diiringi satu-
dua orang pemuda di antara mereka
yang memetik gitar di ujung geladak
kapal. Dari usia mereka, Mina
menerka sepertinya mereka masih
berstatus pelajar karena terdengar
olehnya perbincangan membicarakan
masalah sekolah. Mina menarik
nafas pelan, ia merasa sedih melihat
keasyikan muda-mudi tersebut.
Seharusnya ia pun tengah menikmati
hal yang sama. Andai saja ia tak
pernah putus sekolah karena kedua
orang tuanya tak mampu membiayai
sekolahnya, mungkin saat ini ia
masih dapat merasakan kebahagiaan
berkumpul bersama kawan-kawannya
semasa sekolah dulu.

Mina menoleh ke sisi lain, tidak jauh
dari tempat ia berdiri beberapa
pasang pria-wanita tengah asyik
berangkulan menatap laut. Sesekali
mereka saling menatap pasangannya
masing-masing penuh kemesraan.
Mina menggigit bibir seraya
menundukan kepala. Perlahan air
matanya menetes jatuh mengenai
punggung tangannya yang
berpegangan pada besi pagar
pembatas.

Ia teringat seorang pemuda yang
selalu memberikan perlindungan
padanya selama ini. Seorang lelaki
yang begitu loyal dan senantiasa
menepati janji-janjinya. Meski Mina
memendam perasaan yang begitu
dalam, rasa itu harus kandas
dikarenakan ia merasa tak layak
baginya. Mina tak ingin
menjatuhkan harkat, derajat, dan
martabat putra majikannya sendiri.

“Bunda harap kau bisa memaklumi
keadaan ini! Kau lihat sendiri kan
penyakit ayahmu kian hari kian
meradang. Sementara bunda tak
punya uang untuk berobat
bagaimana mungkin bunda mampu
membiayai sekolahmu? Bisa makan
saja sudah bersyukur! Adikmu, Nina,
pun mungkin hanya bunda
sekolahkan sampai kelas enam saja.
Setelah lulus SD, biar dia bekerja di
toko Wak Umin jadi pelayannya!”

Masih terngiang-ngiang di kepala
Mina kalimat bernada sendu yang
diucapkan bundanya setahun lalu.
Mina memejamkan matanya
membayangkan potongan demi
potongan sepenggal kisah hidupnya.

“Tidak Bunda! Mina rela harus putus
sekolah. Mina akan mengikuti
permintaan bunda untuk bekerja
menjadi pelayan di rumah Pakcik
Leman. Mina janji akan
mengumpulkan uang untuk biaya
berobat ayah! Tapi tolong, bunda,
Nina jangan putus sekolah! Cukup
Mina saja!” begitulah ikrar Mina
pada sang bunda.

“Kau anak baik, Mina! Bunda harap
kau bisa menerima keadaan ini
dengan hati lapang ya Nak! Asal
engkau ikhlas niscaya tuhan akan
membalas dengan karunia-Nya!”
bunda memeluk Mina, putri
sulungnya yang pasrah menerima
keadaan.

Tidak hanya itu Mina juga
pengertian. Ia sungguh berjiwa
besar. Ia teramat menyayangi adik
semata wayangnya, Nina.

♥♥♥

MINA’s PoV

“Engkau tak harus putus sekolah,
Mina! Kau masih bisa bekerja di
tempatku siang sepulang sekolah
asal Engkau tak lelah!” suara bijak
Makcik Leman, istri Pakcik Leman,
lembut mendayu dalam gendang
telingaku.

“Kemarilah Engkau, Nak! Jangan
duduk di bawah cem itu! Lama kita
tak bersua, cantik nian Engkau, Nak!
Moleeek sangat…” Beliau menarik
tanganku untuk duduk sejajar
dengannya di sofa.

Tangan kanannya membelai lembut
rambutku. Jari-jemarinya sangatlah
lentik untuk ukuran seorang wanita.
Tak pernah aku melihat perempuan
di kampung kami selentik jari
tangannya. Kebanyakan kaum hawa
di kampung kami harus menjadi
buruh kasar seperti menjadi kuli
perkebunan sawit, buruh pabrik
pupuk, atau menjadi nelayan dan
peternak tambak udang. Menjadi
pelayan toko atau pembantu rumah
tangga saja sudah terbilang
pekerjaan yang paling ringan. Tidak
pernah kami sempat mengurus diri
untuk hal-hal kecantikan. Setahuku,
perawatan untuk dapat tampil
seperti Makcik Leman itu biasa
disebut pedicure-manicure, ya
sedikit-banyak aku pernah
membacanya di majalah yang
kupinjam dari teman sekolahku yang
anak dari keluarga berada, waktu
aku masih bersekolah di kota.

Perempuan di kampung kami
memang masih sedikit yang dapat
menikmati pendidikan yang layak.
Banyak penduduk kampung kami
yang hidup dalam kemiskinan,
sehingga banyak pula diantara
mereka yang tak mampu membiayai
pendidikan sekolah putri mereka
hingga ke jenjang yang lebih tinggi
setelah Sekolah Menengah Pertama.
Hanya anak laki-laki saja yang selalu
diperjuangkan agar dapat bersekolah
lebih tinggi. Kampung kami seakan
tak pernah terjamah oleh suara
Kartini di masa penjajahan Belanda
dulu.

Berbeda dengan Makcik Leman,
majikanku ini, pernah kudengar dari
cerita-cerita orang sekampung,
beliau pernah menjadi bunga desa
di kampung kami, tetapi nasib yang
sama denganku telah
menyebabkannya pergi
meninggalkan kampung kami dan
merantau ke Pulau Batam di
seberang daratan kami. Hanya
berbekal ijazah SMP beliau bekerja
menjual bunga kepada para turis
yang sedang asyik berjemur di tepi
pantai. Sampai akhirnya di saat
itulah Makcik Leman bertemu
dengan jodohnya, Pakcik Leman,
orang yang menjadi suaminya
sekarang. Nama asli Makcik Leman
sebenarnya adalah Wanda Aminah.
Nama yang sangat cantik,
menurutku. Sesuai dengan fisik yang
dimilikinya, tak heran memang bila
beliau pernah menjadi bunga desa
di kampung kami. Sampai saat ini
pun meski telah berusia 36 tahun,
kulit wajahnya masih terlihat sangat
kencang seperti baru menginjak usia
20-an.

“Kairil, kemari Nak! Ingatkah Engkau
akan gadis ini?” Makcik Leman
memanggil seorang pemuda yang
baru saja melintas di hadapan kami.

Dari panggilannya tadi, aku teringat
pemuda itu adalah Kairil…
Aah, pikiranku terbius untuk
mengenang masa lalu. Masih
terekam dengan indah dalam
mindaku. Karena dialah aku dapat
merasakan arti dari cinta pertama.
Cinta yang tak mungkin dapat
kulupakan, begitu pula bagi setiap
orang. Walau dulu hanya sebatas
cinta monyet, namun bagiku justru
itulah makna cinta yang sejati.
Karena cinta pertama adalah cinta
yang murni di saat kita tidak
menyadari makna cinta yang
sebenarnya.

Kairil mengernyitkan kening.
“Asminarti Kusuma Dewi, kawan
mainmu masa SMP dulu!” Makcik
Leman menepuk pundak putra
sulungnya.

Aku dan Kairil mempunyai banyak
persamaan. Beberapa diantaranya
kami berdua sama-sama anak
sulung, suka duduk menyendiri
mengkhayalkan sesuatu. Dan…
selain itu kami sangat suka
memandang langit. Terlebih saat
langit senja. Begitu indah warnanya
biru keunguan melambangkan
temaram yang selalu bergelayut di
hatiku.

Pernah suatu kali aku menangis,
karena dipukuli oleh para gadis yang
tidak menyukai kedekatan
hubunganku dengan Kairil. Kairil
datang menghiburku dan
mengajakku melihat temaram senja
langit yang tampak membiru. Gurat
jingga keemasan berkas sinar
matahari turut menemani
kebersamaan kami. Pada sisi langit
yang lain aku memandang takjub
dan terpana, langit ungu itu tampak
lebih indah dibandingkan langit
yang lain.

“Sebenarnya warna langit itu apa
sih?” tanyaku polos kala itu, masih
dengan suara terisak sisa tangisku.

Usiaku baru menginjak 13 tahun
saat aku mulai dekat dengan Kairil.
Kairil menyunggingkan senyuman.
“Sepertinya warna asli langit itu,
hitam! Lihat saja, kalau malam tidak
ada matahari semuanya tampak
gelap kan?”

“Lebih menyedihkan dari warna biru
ya?” pungkasnya lagi.

Aku hanya mengangguk.

“Tapi mengapa orang menganggap
warna biru itu perlambang
kesedihan?” aku balik menegur.

Kairil menggeleng.

“Dulu aku pernah menanyakannya
kepada bunda, tapi ujar bunda kelak
bila aku sudah dewasa, aku akan
dapat menjawabnya sendiri!”
Kairil menatap lurus ke arah
matahari terbenam.

“Hmm.. jadi begitu ya!” gumamku.

“Sudahlah, mungkin biru dapat
diumpamakan kesedihan! Tapi
lihatlah, langit yang itu tidak biru
bukan? Dia berwarna ungu, jadi
anggap saja kalau langit yang ungu
itu adalah simbol kebahagiaan!”
Kairil menggenggam punggung
tanganku.

Kutatap wajahnya, ia tersenyum,
manis sekali. Waktu itu aku belum
menyadari kalau sejak saat itulah
aku menyukai seorang Kairil. Masih
terlalu dini rasanya bagi anak
berumur 13 tahun sepertiku untuk
merasakan yang namanya jatuh
cinta. Tapi tidak dengan teman-
temanku, di usia yang sama
denganku mereka sudah bersikap
berlebihan terhadap lawan jenis.

Berbeda dengan teman-teman
perempuanku di kampung yang
masih bersifat lugu dan malu untuk
berkomunikasi dengan lawan jenis.
Aku dan Kairil bersekolah di kota
yang tidak jauh letaknya dari
kampung kami. Menurutku, gadis-
gadis di kota ini terlalu agresif
terhadap lawan jenis. Bahkan Kairil
sering menjadi objek sasaran orang
yang disukai para gadis ABG di
sekolahku. Entah aura apa yang
melekat pada diri Kairil sehingga
dapat memikat perhatian gadis-
gadis itu. Setiap hari Kairil hanya
dapat memperlihatkan surat-surat
cinta yang diperolehnya, kepadaku.
Anehnya, Kairil menunjukkan semua
surat itu dengan wajah yang
murung.

“Apakah ini yang dinamakan zaman
emansipasi wanita, sehingga
perempuan dapat menyatakan
perasaan suka lebih dulu kepada
lelaki?” tanyanya bernada sendu.

Aku hanya dapat menatap wajah
Kairil terpaku dan membisu.

“Entahlah, mungkin mereka terlalu
banyak menonton film dewasa yang
berasal dari barat!” jawabku
sekenanya.

“Kamu suka film barat?” tanya Kairil.

Aku menggeleng.

“Mengapa kamu tidak melakukan hal
yang sama seperti yang mereka
lakukan?” kali ini Kairil yang
menatapku lekat.

Tuhan, baru kusadari sepenuhnya
makhluk Adam ciptaan-Mu ini. Kairil
memang sungguh tampan, air
mukanya memancarkan aura jiwa
seorang kesatria.

“Maksudmu?” aku balik bertanya.

“Mengapa kamu tidak membuat
surat untukku, Mina?” tanpa
kusadari wajah kami saling
berhadapan.

Aku menunduk malu. Aku yakin saat
ini pasti mukaku sudah merah
merona bak mangga udang yang
baru saja matang.

“Kau berbeda, Mina! Kau tak seperti
gadis lain! Aku suka kamu!”

Gemuruh di hatiku bergetar sangat
dahsyat rasanya menjalar ke seluruh
tubuh. Ini adalah kali pertama
seseorang menyatakan perasaan suka
padaku. Terlebih aku pun mulai
menyadari bahwa aku juga
menyukainya.

Di hari lain, masih teringat jelas
olehku saat di mana aku diganggu
oleh para berandalan yang berusaha
menyentuhku dan mungkin ingin
‘memperkosaku’, Kairil datang
menendang sebuah bola dan tepat
mengenai wajah sang ketua genk
berandalan. Begitu melihat siapa
yang telah menamparnya dengan
bola, ketua genk berandalan itu pun
lari lintang-pukang seperti orang
yang terbirit menuju wc untuk
membuang hajat.

“Kau anak Pakcik Leman, kan…” ucap
si gendut jelek itu sebelum berlari.

Dan sesaat kemudian, Kairil
mendadak murung.

“Ada apa?” selidikku.

“Aku tak suka orang takut padaku
karena ayahku!” jawabnya lesu.

Ia tak nampak bergairah hari itu.

“Sudahlah, anggap saja apa yang
diucapkannya tadi bukan mengacu
pada ayahmu! Anggap saja kalau
tadi mereka bertanya : ‘Hei, kamu
Kairil Anwar kan, pujangga terkenal
si AKU itu! Aah…aku takut ah sama
kamu, nanti aku menjadi SI
BINATANG JALANG DARI
KUMPULANNYA YANG TERBUANG
seperti dalam puisimu itu!” hiburku
dengan aksen dan mimik yang lucu.

Hmm.. kelihatannya usahaku tak
membuahkan hasil!

“Senyum donk! Kata Nabi, senyum
itu ibadah loh!” wajahnya masih
ditekuk dalam.

“Mina, aku takut akan hari esok!”
ujarnya tiba-tiba setelah beberapa
saat kami saling terdiam.

“Mengapa?” kupandangi wajahnya, di
sudut matanya terlihat gumpalan air
yang segera disusut dengan punggung
tangannya.

“Hari ini adalah hari terakhir bagi
kita untuk dapat melihat langit ungu
itu!” telunjuk kanannya menunjuk ke
arah barat.

Di arah yang lain terlihat gumpalan
awan mendung telah memberikan
pertanda bahwa tidak lama lagi
mereka akan segera menjatuhkan
rintik-rintik tetesan air sebagai
pengganti air di pelupuk mata yang
urung Kairil teteskan.

“Maksudmu?” lidahku mendadak
terasa kelu.

“Ya, mulai besok ayahku akan dinas
bekerja di Malaysia. Kami sekeluarga
harus pindah ke sana, dan mungkin
selama ayah bekerja di sana kami
tidak akan balik kampung sampai
tugas ayah benar-benar sudah
selesai” jawabnya lirih.

“Tak apa Kawan, bukankah Malaysia
itu dekat? Hanya di seberang
daratan ini kan?” sahutku seraya
memastikan bahwa kami sama sekali
tidak terpisah jauh.

“Lima tahun Mina, aku tidak akan
bisa menatap wajahmu! Dan
mungkin kelak kita bertemu kembali
kita sudah saling melupakan satu
sama lain!” Nafas Kairil menggebu-
gebu.

“Selama itukah?” aku berusaha
memastikan bahwa tidak ada yang
salah dalam sistem pendengaranku.

“Mina, berjanjilah padaku, bila
setiap kali Kau memandang langit,
maka Kau akan selalu ingat
kepadaku!” tanpa kusadari kedua
tangan Kairil telah memegangi
kedua lenganku.

Aku memalingkan muka.
Aku bangkit dari posisi dudukku dan
berlari meninggalkan Kairil. Perlahan
gerimis mulai turun, masih terdengar
olehku sayup-sayup suara Kairil di
belakangku menyerukan serangkai
kalimat,

“Mina, bila Engkau merindukanku
tataplah langit di sore hari! Maka
akupun akan merindukanmu! Walau
jarak memisahkan kita sejauh apa
pun, walau laut memisahkan kita
sekalipun, tapi kita selalu menatap
pada langit yang sama! Dan di
sanalah hati kita saling bertaut!”
teriaknya lantang.

“Aku yakin hingga kita mati
sekalipun, cinta sejati akan selalu
bersama kita dan akan terpatri indah
di surga!” pungkasnya.

♥♥♥

“Mina…” Kairil hendak memeluk
tubuhku.

Baru kusadari aku telah mematung
selama beberapa menit di hadapan
Kairil setelah lima tahun tak
bertemu. Parasnya semakin tampan
membuat gejolak dalam darahku
berdesir.

Aku mundur, Kairil terkesima.

“Aku merindukanmu Mina!”

“Maaf, sekarang Anda adalah
majikan saya!” aku berusaha
menghindar.

Makcik Leman geleng-geleng.

“Tak apa Mina, peluklah Kairil!
Semasa dia masih melajang sebelum
dia nak dinikahkan dengan Puan
Hamidah! Jarang loh ada gadis yang
mendapat pelukan anakku yang
ganteng ini!” seru Makcik Leman.

DEG!

Benarkah itu? Kairil akan menikah?
Tapi siapa wanita yang disebutkan
oleh Makcik Leman tadi? Akh,
mengapa pikiranku menjadi
terngiang akan sumpah yang pernah
diucapkan oleh kairil di hari
perpisahan kami?! Sungguhkah cinta
sejati dapat dibawa mati?
Kairil menatap dingin pada ibunya.
Seolah menyalahkan pernyataan
yang telah dikemukakan oleh sang
ibunda. Sebaiknya aku jangan ambil
pusing memikirkan hal ini. Lagipula
derajatku kini lebih rendah daripada
keluarganya yang kaya raya ini.
Untuk apa aku memperjuangkan
cintaku pada Kairil. Biar saja semua
menjadi masa lalu yang cukup manis
bila dikenang suatu saat nanti.

♥♥♥

“Maafkan Mina, Bunda. Mina harus
pergi menyebrang, agar uang yang
Mina kumpulkan untuk berobat ayah
segera mencukupi!”

“Tapi Nak, bukankah penghasilan
dari pekerjaanmu di tempat Pakcik
Leman itu sudah lumayan
mencukupi untuk biaya berobat
ayahmu setiap bulan?” Bunda
menyangsikan niatku.

“Tidak Bunda, hingga kini ayah tak
kunjung membaik! Mina rasa yang
kita perlukan bukanlah biaya
berobat jalan! Melainkan biaya
operasi, Bunda!” suaraku
menggerung.

“Tapi Nak, Engkau belum pernah
pergi jauh dari rumah..” Bunda
bersikukuh melarangku.

“Bunda, Mina sudah 18 tahun,
sudah cukup dewasa bukan?”
pelasku begitu lemah, berharap
Bunda akan memberiku restu atas
niatku mencari biaya pengobatan
ayah di pulau seberang.

“Ya, sudah, bila itu sudah menjadi
tekadmu, Bunda hanya berpesan
agar Engkau dapat menjaga diri
baik-baik ya Nak!”

Bunda memang bukanlah tipe ibu
yang selalu mempertahankan
keinginannya. Terbukti tak perlu
melakukan debat yang panjang, aku
berhasil mendapatkan izin untuk
mencari pekerjaan baru di pulau
seberang.

Ternyata setelah beberapa bulan aku
menjalani untuk dapat melupakan
hubungan asmara yang pernah
kujalin bersama Kairil, walau itu
cinta monyet sekalipun, aku tetap
tak dapat menghindarinya karena
kami tinggal satu atap di rumahnya.
Hanya status derajat saja yang telah
membedakan kami berdua. Aku
hanya seorang pelayan di rumah itu,
tak pantas bila aku bersanding
dengan Kairil. Masyarakat di
kampung kami pasti akan
mencemooh keluarganya. Oleh
karena itulah aku lebih baik
memutuskan untuk mencari
pekerjaan baru agar aku dapat
melupakan Kairil, cinta sejati yang
indah dan manis dalam hidupku.
Sebelumnya aku sempat meminta
tolong kepada Bang Damar, salah
satu penyalur pencari kerja di
kampungku agar aku dapat
disalurkan bekerja di kepulauan
seberang. Alhasil hanya dalam
beberapa hari Bang Damar
mengabariku bahwasanya aku telah
mendapatkan pekerjaan yang aku
inginkan. Aku akan menjadi penjaja
bunga di pantai kepulauan
seberang, aku ingin menjadi seperti
Makcik Leman semasa mudanya
dulu. Siapa tahu, kelak aku akan
bertemu dengan jodohku yang
sesungguhnya, yang tuhan
perkenankan untuk menjadi
pendamping hidupku hingga maut
memisahkan kami suatu saat nanti.

Akhirnya setelah beberapa jam
perjalanan menumpangi sebuah
kapal laut pelayaran nusantara, kami
tiba di pulau seberang. Kedatangan
kami disambut oleh seorang lelaki
tua berparas oriental. Bang Damar
berbisik-bisik pelan dan tak
terdengar olehku. Aneh, gelagat
mereka sungguh mencurigakan! Aku
jadi kurang percaya terhadap Bang
Damar. Terlebih setelah aku
melihat Bang Damar menerima
sebungkus amplop tebal yang
kuperkirakan isi seluruhnya adalah
uang. Seketika Bang Damar
tersenyum sumringah. Kemudian ia
berpamitan dan pergi begitu saja.
Koko China yang telah menyambut
kedatangan kami tadi menarik
tanganku untuk ikut bersamanya. Ia
melangkah sangat tergesa-gesa
seakan kami akan datang terlambat
menghadiri sebuah acara penting.

“Ko, jangan tergesa-gesa dong! Saya
kan bukan robot!” selaku.

“Ayo, kita sudah tidak ada waktu!
Para tamumu sudah antri
menunggu!” jawabnya dengan aksen
pedal tatkala membunyikan kata
‘para’ dan ‘antri’.

Mataku membelalak terkejut. Jadi
benar dugaanku, Bang Damar telah
menjualku kepada lelaki China ini!
Aku pasti akan dijadikannya pelacur
di rumahnya, atau paling tidak
menjadi semacam geisha yang
menemani para lelaki hidung belang
minum di bar hingga mereka mabuk
berat karena rayuan manis sang
geisha. Paling tidak, aku akan
dijadikan seorang wanita penghibur teman
bernyanyi karaoke di tempat si koko tua
bangka ini, ya aku akan dijadikannya
ratu prostitusi di medan kerjanya!

Entah mengapa pikiranku tiba-tiba
saja terbersit bayangan wajah Kairil.
Biasanya bila aku sedang dalam
kesulitan seperti ini Kairil akan
datang menolongku. Oh Tuhan,
kumohon selamatkanlah aku, batinku
lirih…

“Apa Ko? Tamu? Memangnya saya
kerja apaan? Bukankah saya ini
menjadi pegawai Koko untuk
menjualkan bunga dari toko bunga
Koko?” tanyaku bertubi-tubi.

“Haa…lu orang jangan pura-pura
bego lah! Lu sudah oe beli untuk
jadi bunga yang paling indah di toko
bunga oe! Yang berjualan bunga di
toko oe Cuma oe seorang!” jawab si
Koko bernada kiasan. Kalimat yang
diucapkan olehnya bermakna taksa.

Tapi aku sangat paham akan
maksudnya.

“Di depan ada polisi pelabuhan,
jangan coba-coba untuk kabur dari
oe, jika tidak menurut kepada oe,
kamu bisa oe bunuh!” ancamnya
kasar tetapi dengan suara berbisik di
telingaku.

Tangan si Koko memegang lenganku
teramat kuat, ia sangat ketakutan
aku akan melarikan diri darinya.
Otakku terus berpikir bagaimana
caranya agar aku dapat lolos dari
germo tua bangka ini? Tuhan kumohon
tunjukkanlah jalan-Mu, doaku dalam
hati.

Srrrt…

Beberapa langkah lagi aku akan
melewati pagar pembatas
penumpang kapal keluar, dan akan
berpapasan dengan beberapa orang
berseragam dinas pelabuhan.
Apakah mereka polisi pelabuhan
yang dimaksud oleh si Koko? Hmm..
Meskipun tangan si Koko masih
bergelayut di lenganku, namun aku
tetap nekad untuk berjalan
mendekat ke arah salah seorang
petugas polisi pelabuhan itu.

“Maaf, permisi Pak, ayah angkat saya
ini menderita penyakit diabetes,
beliau sedang ingin buang air kecil.
Bersediakah kiranya Bapak
mengantarkan ayah angkat saya ini
ke toilet pria? Kalau saya yang
mengantarnya, saya takut para lelaki
dalam toilet pria akan menyiram
saya dengan air urine mereka!” aku
mencoba bersiasat kepada seorang
petugas.

Kedua mata si Koko China mendelik,
belum sempat ia menyangkal
perkataan yang telah kulontarkan
kepada petugas, petugas itu sudah
lebih dulu menggaet tangannya dan
membawanya masuk menuju sebuah
kamar kecil.

“Mari Kek, saya antar masuk ke wc!”
sahut sang petugas ramah.

Inilah kesempatan bagiku untuk
melepaskan diri darinya. Segera
kuhampiri seorang petugas yang lain
dan melaporkan perihal si cukong
dan Bang Damar yang baru saja
memasuki sebuah kapal yang akan
membawanya kembali pulang ke
daratan.

Kendati demikian, untunglah berkat
laporanku para petugas pelabuhan
itu berhasil meringkus Bang Damar
dan si Koko Chukong bermata sipit
itu.

Tampaknya benar kata bunda aku
harus waspada di pulau ini. Pulau
ini terlalu kejam bagiku. Mungkin
akan lebih baik aku kembali ke
daratan dan kembali bekerja pada
keluarga Makcik Leman. Aku yakin
beliau masih berkenan menerimaku
bekerja di rumahnya. Yah, jikalau
tidak, aku juga masih dapat bekerja
menjadi penjaga toko Wak Umin.
Semoga saja penghasilanku nanti
bisa mencukupi untuk biaya
penyembuhan penyakit jantung
ayah. Akhirnya kuputuskan untuk
membeli tiket kapal pulang kembali
ke daratan.

♥♥♥

BACK TO AUTHOR PoV

Hari telah sore. Langit teduh biru
keunguan bagai kain selendang nan
lembut yang biasa meniungi rambut
para bidadari. Mina memicingkan
matanya tatkala seberkas sinar
menyilaukan matanya. Sekilas
terlihat sebuah pesawat tengah
mengudara membelah langit ungu
yang indah.

Kembali Mina teringat pada Kairil,
lelaki yang selama ini menjadi cinta
sejatinya. Dulu Kairil pernah
berkata, anggap saja kalau langit
yang ungu itu adalah simbol
kebahagiaan!

Lalu Mina pun tersenyum getir
walau ia sendiri sama sekali tidak
merasa bahagia, namun ia ingin
melakukannya, tersenyum penuh
makna akan langit ungu yang selama
ini ia pegang teguh karena sugesti
yang diberikan oleh Kairil.

Kebahagiaan yang terus berkecamuk
dalam benaknya selama ini, apakah
benar apa yang dikatakan oleh Kairil
bahwa cinta sejati dapat dibawa
mati? Pikiran itu terus membuncah
dalam benaknya, seolah tak pernah
habis untuk terus direnungkan.

Sementara itu di dalam sebuah
pesawat, Kairil tengah menatap kaca
jendela. Pemandangan di luar
sangatlah indah. Panorama birunya
laut berpadu dengan semburat ungu
langit nan megah.

“Di mana Engkau berada, Mina?
Mengapa Engkau terus menghindar
dariku?” batin Kairil sedih dan pilu.

Ia baru saja menyadari mengapa
orang mengatakan biru sebagai
perlambang kesedihan? Selama
bertahun-tahun jawaban atas
pertanyaan ini terus ia cari. Baru
kini ia menyadarinya. Mungkin itu
lebih ditujukan kepada orang yang
sedang mengalami patah hati.

Birunya laut tak dapat ia selami
Birunya puncak gunung tak kuasa ia
daki
Birunya langit tak mampu ia jelajahi

Apakah setiap orang yang sedang
patah hati senantiasa tak memiliki
gairah sehingga ia hanyalah seorang
loser yang tak bisa berbuat apa-
apa, sehingga analogi biru sebagai
perlambang kesedihan
dikristalisasikan sedemikian rupa?!
Kairil menatap awan-awan yang
berarak bagaikan gumpalan kapas
nan lembut. Tiba-tiba pandangannya
beralih ke bawah, sebuah kapal di
tengah laut menderu begitu laju.
Kairil mendesah menggumamkan
satu buah nama: MINA!

Andai sang bunda tidak pernah
mendustai Mina bahwa dirinya akan
menikah dengan seorang gadis
bernama Hamidah, tentu Mina tidak
akan merasa tersakiti hatinya. Dan
terus-menerus menghindar darinya.
Padahal sesungguhnya Makcik Leman
hanya berniat menguji kesetiaan
cinta Mina kepada Kairil. Apakah
Mina gadis yang tulus
memperjuangkan cintanya untuk
Kairil? Bagaimanapun sejatinya Mina
masih sangat mencintai Kairil. Tapi
rasa kerendah-dirian telah menjadi
pagar pembatas hubungannya
dengan Kairil.

Kairil terlalu larut dalam
lamunannya, ia nyaris tak
mendengar suara seorang pramugari
menyiarkan bahwa pesawat yang
mereka tumpangi mengalami
kerusakan mesin secara tiba-tiba.
Kemungkinan pesawat yang
ditumpanginya itu akan jatuh ke
laut. Para awak kabin pesawat
berusaha mengamankan para
penumpang dan terlebih dahulu
memberikan panduan mengenakan
jaket pelampung. Belum selesai
Kairil mengencangkan tali-tali jaket
pelampungnya, pesawat berguncang
terasa sangat hebat, posisi pesawat
menukik bagaikan burung terbang
merendah dan menangkap
mangsanya. Hanya dalam hitungan
detik–Kairil yang berhasil melompat
keluar dari pintu darurat bersama
para penumpang lainnya,
sebelumnya mereka sempat jatuh
berguling-guling dalam pesawat
hingga akhirnya mereka sampai ke
mulut pintu—pesawat menabrak
kapal laut yang kebetulan dinaiki
oleh Mina.

20 menit sebelumnya..
Para Anak Buah Kapal tampak sibuk
mengevakuasi para penumpang
kapal laut agar turun ke dalam
sekoci, diperkirakan akan terjadi
ledakan besar di perairan yang
tengah mereka layari. Mina yang
sempat terombang-ambing oleh
kegemparan para penumpang kapal
laut berhasil meraih sebuah
pelampung dari seorang ABK.

Namun sayang di tengah
kegemparan itu, kaki Mina terjepit
oleh sebuah benda berukuran besar
dan lumayan berat untuk ukuran
seorang wanita. Meski sempat
berteriak meminta tolong, tak ada
seorang pun yang menolongnya,
semua tampak panik dan berusaha
menyelamatkan diri masing-masing.
Tuhan masih mendengarkan doanya
yang terakhir: “Lepaskan benda
berat dari kaki hamba ini, Tuhan!”
isaknya lirih. Lalu Mina pun
melompat terjun ke laut bersamaan
dengan jatuhnya pesawat dari
elevasi 45°, pesawat pun meledak
seketika.

“Mina, bila Engkau merindukanku
tataplah langit di sore hari! Maka
aku pun akan merindukanmu! Walau
jarak memisahkan kita sejauh apa
pun, walau laut memisahkan kita
sekalipun, tapi kita selalu melihat
pada langit yang sama! Dan di
sanalah hati kita saling bertaut!”
ucapan Kairil sempat terngiang-
ngiang di telinga Mina, sebelum
akhirnya ia menutup matanya rapat-
rapat.

Kairil dan Mina, keduanya tenggelam
tak terselamatkan. Cinta yang tak
tersampaikan harus bertemu kembali
di kehidupan yang lain. Karena
langit ungu hanya menaunginya
sesaat.

“Selamat malam, kami kabarkan
sebuah pesawat jatuh di wilayah
perairan Kepulauan Batam dan
menimpa sebuah kapal yang sedang
berlayar dan melintas dari arah yang
berlawanan. Hingga saat ini hanya
ditemukan dua orang korban
meninggal dunia—seorang pria dan
seorang wanita—keduanya
ditemukan dalam keadaan saling
berpegangan tangan. Tim evakuasi
tidak berhasil memisahkan kedua
jenazah sebagaimana mestinya.
Berita selengkapnya akan kami
sajikan sesaat lagi!”

###SWITCH OFF###

YESS! Tuntas sudah akhirnya aku mengedit ulang cerpenku yang satu ini. Ini merupakan salah satu cerpen favoritku yang berakhir miris. Bagaimana komentar teman-teman?!

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s