Posted on

#Namamu Kupinjam 1#

image

#Namamu Kupinjam 1#

    ==00•00==!!O•O!!==00•00==

           A Story by SUGIH

Pagi yang cerah, matahari membagi
rata sinarnya ke atas dunia. Awan-awan sirus turut menghiasi kubah biru raksasa maha karya Sang Pencipta. Bunga-bunga bungur berwarna keunguan menambah indahnya panorama pagi itu, sangat mirip suasana mekarnya bunga sakura pada musim semi di Jepang.

Lebah-lebah madu beterbangan
menghinggapi bunga dari satu
tangkai ke tangkai yang lain.
Seorang pemuda berlari-lari kecil
menapaki trotoar jalan raya yang
lengang dan dipenuhi kelopak bunga bungur yang berguguran.

Sepanjang jalan kompleks perumahan elite itu
memang ditanami pohon bungur
yang berbaris memanjang dan
tertata rapi.

“Pagi Mario!” Sapa pemuda itu pada lelaki yang tengah dikejarnya.

Lelaki yang disapa melirik ke
samping, arah suara si penyapa.

“Wah, pagi-pagi begini sudah ada
badai! Harus cepat-cepat nih…”
Sahut Mario mempercepat
langkahnya.

“Huh, kebiasaan deh! Pagi ini indah tahu, tuh lihat bunga-bunga bungur bermekaran, so enggak mungkinlah di pagi seindah ini timbul badai!”
pemuda tadi memprotes.

“Ada! Badainya itu kamu!” Koreksi Mario seraya tersengih.

“Yee.. Itu sih emang namaku
kalee…” Cibir si pemuda yang
ternyata bernama Badai.

Ya, nama lengkap pemuda itu adalah Badai Ombak Samudra. Mungkin orang yang mendengar namanya akan tertawa terbahak-bahak.

Jangan-jangan anak itu lahir di atas kapal, atau dulu waktu ibunya melahirkannya sedang jalan-jalan di tepi pantai dan tiba-tiba dilanda badai topan atau badai ombak dari laut.

“Eh, kamu kok buru-buru amat sih? Kamu enggak suka ya jalan bareng sama aku?” Seloroh Badai.

Ia berusaha menyamai langkah Mario yang tergesa-gesa.
Mario menoleh. Kemudian tersenyum tipis.

“Tahulah, ini kan hari pertama
ajaran baru! So harus semangat
dong!” Mario semakin mempercepat langkahnya.

“Semangat sih semangat! Tapi tidak perlu terburu-buru kan? Nikmati saja hari yang cerah ini! Sayang kan,
pemandangan indah begini untuk
dilewatkan?” Badai menengadahkan
telapak tangannya ke langit
menyambut gugurnya helaian
kembang bungur.

“Ah kau, kaya cewek saja pakai
menikmati bunga segala! Sorry nih, aku udah enggak sabar pengen sampai di sekolah, pengen tahu pembagian kelas baru. Siapa tahu orang yang aku suka sekelas dengan aku!”

DEGH!

Mendengar untaian kalimat yang
diungkapkan oleh Mario membuat Badai terkesiap. Entah mengapa Badai jadi merasa lemas tubuhnya seakan kehilangan energi yang telah
memberinya kekuatan, padahal tadi pagi ia sudah sarapan sereal
kesukaannya.

Belum sempat ia menimpali
perkataan Mario, lelaki berwajah
Indo-Eropa itu telah jauh berada di depan meninggalkannya.

“Semoga kita menjadi kawan sekelas ya, Mario!” Gumam Badai.

                ==¤¤00¤¤==

“Pagi Mario!” Sapa sekelompok gadis di koridor sekolah.

“Pagi semua!” Sahut Mario dengan senyum cool-nya.

Kyaa.. Gadis-gadis itu pun
mengerumuni Mario bak artis idola.

“Nah itu dia!” Pikir Badai.

“Dekati jangan ya?” Gumamnya lagi kepada dirinya sendiri.

Tapi Badai lebih memutuskan untuk berdiri di kejauhan saja. Ia khawatir Mario akan merasa bosan dengannya. Selama ini Mario selalu menghindar bila didekati oleh Badai tanpa sebab yang jelas perkaranya.

“Mario, kamu sudah lihat
pengumuman pembagian kelas?”
Tanya seorang gadis yang memiliki rambut sepinggang terurai. Ia hanya mengenakan bando merah di kepala.

“Sudah, tadi kulihat aku diterima di kelas XI IPA A!” Jawab Mario
bersahaja.

“XI IPA A? Wah, Mario hebat ya..
Kalau tidak salah kata Bu Sri-
wakasek kurikulum, anak yang masuk kelas XI IPA A itu kan anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5!
Selamat ya Mario, kamu beruntung!” Puji gadis lain yang memiliki kulit paling putih di antara mereka.

“Iya kamu hebat Mario, selamat ya!” Iring yang lain.

Mario hanya dapat mengusap
rambut di belakang kepalanya
mendengar pujian para gadis itu.
Mungkinkah ia menjadi besar
kepala?! Who knows…

“Oh, jadi Mario masuk kelas XI IPA A ya?! Hmm, harus segera cari tahu nih, sekelas enggak ya sama aku?”

Badai bergegas mencari papan
informasi.

“Permisi, permisi, Badai mau lewat!” Badai menyerobot gerombolan siswa-siswi yang sedang mencari data
kelas barunya.

Mendengar namanya sendiri
disebutkan kontan para gerombolan itu pun menyingkir mengalah pada Badai.

“Wah, badainya kali ini badai
halilintar!” Celetuk salah seorang
siswa.

Badai tak menggubris. Perhatiannya terfokus pada sederet nama di
lembar daftar nama siswa yang
diterima di Kelas XI IPA A.

“Rata-rata raporku kan 8,6! So pasti dong aku sekelas sama Mario! Kalau
enggak…”

Tuk..tuk..tuk..

Berulang kali jari telunjuk Badai
berseluncur di papan informasi
tepat di lembar daftar nama siswa Kelas XI IPA A. Tetapi tidak ada namanya tertera di sana. Badai merasa tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Kedua matanya melotot menatapi lembar satu-satunya yang
diharapkannya.

“Sudah selesai mencari infonya?”
Sungut seorang gadis yang berdiri di samping Badai.

“Apaan sih? Jutek banget!” Timpal
Badai menoleh ke arah si gadis.

“Nih ya, namamu ada di lembar yang ini!” Tunjuk si gadis tadi ke kolom kertas lain yang mencantumkan nama Badai Ombak Samudra.

Dipandanginya lembar tersebut
dengan rasa tidak puas.

XI IPA B
1. Alvino Bachtiar
2. Amirudin Sarapi
3. Badai Ombak Samudra
4. …

“What? XI IPA B? Kok bisa? Nilai
rata-rata raporku kan 8,6!” Umpat Badai senewen.

“Mana kutahu!” Seringai gadis tadi dengan pandangan menakutkan.

Wajahnya merah padam.

“Sudah selesai?” ulang gadis itu
lagi.

Ia berkacak pinggang. Wajahnya
mendekat ke wajah Badai. Membuat Badai menelan air liurnya sendiri saking takutnya menatap wajah gadis itu.

“Su…sudah!” Jawab Badai terbata.

“Kalau sudah, jangan lupa meminta maaf ya!” Gadis itu menunjuk ke tanah.

Ternyata sejak tadi kaki kanan Badai telah menginjak kaki kiri gadis yang sekarang ini sedang bersungut sebal padanya.
Tiba-tiba saja Badai jadi merasa
malu dan segera mengangkat kaki kanannya dari pijakannya.

“Ma.. Maaf ya! Enggak sengaja!”
Badai merapatkan kedua tangannya memberi sembah.

Gadis itu hanya mendengus.
Badai langsung ngibrit takut
masalah akan bertambah runyam.

“E..eh..ruang kelas XI IPA B itu di
sebelah mana ya?” Tegur Badai pada seseorang yang berpapasan
dengannya di koridor.

“Itu di pojok dekat kantin!” Sahut
seorang anak lelaki yang ditanya.

“Kalau kelas XI IPA A?” Tanya Badai lagi.

“Masa nggak tahu sih? Noh di lantai atas dekat ruang laboratorium biologi!” Tunjuk si anak lelaki ke arah anak tangga yang tidak jauh dari mereka.

“Oke, thanks ya dah kasih tahu!”
timpal Badai cengengesan.

“Wah, jauh sekali ya antara kelasku dengan kelasnya Mario!” Batin Badai.

“Aku tidak terima! Aku harus
menemui para wakasek kurikulum dan kesiswaan, seharusnya kan aku masuk kelas XI IPA A! Pokoknya aku harus menggugat supaya aku bisa
dikembalikan ke habitatku! Ups,
habitat? Emangnya aku binatang apa ya, pakai habitat segala!” Racau Badai pada dirinya sendiri, tidak karuan.

Badai berlari menuju ruang guru.
Masih ada waktu 15 menit baginya sebelum bel berdentang untuk berkumpul di lapangan sekolah. Hari ini seperti biasanya Kepala Sekolah akan memberikan pidato tahunan
penyambutan penerimaan siswa
baru.

BUGH!

Dalam keadaan tergesa-gesa tubuh Badai bertubrukan dengan tubuh seorang murid baru berseragam SMP. Anak lelaki itu muncul tiba-tiba dari lorong lain. Keduanya ambruk bersamaan ke lantai.

“Maaf Kak, saya tidak sengaja! Saya terburu-buru!” Anak laki-laki itu berusaha bangkit seraya memunguti atribut MOS yang terlepas dari badannya saat bertubrukan dengan Badai tadi.

“Ouch, lututku sakit!” Badai
meringis.

“Mari, Kak, saya bantu!” Anak
berseragam SMP itu pun memapah Badai.

“Makanya punya mata jangan taruh di dengkul! Uh, apes banget deh gue
hari ini!” Rutuk Badai kesal.

“Saya kan sudah minta maaf Kak!”
Wajah anak itu memelas.

“Maaf sih ma…” Belum selesai ia
berkata hendak mencaci-maki, Badai terkesima.

“Kamu…” Badai terdiam sesaat.

“Kenapa dengan saya, Kak?” Tanya anak baru itu dengan pandangan heran.

“Wahahaha..” Badai terpingkal-
pingkal.

“Kamu lucu! Kok mau sih, pakai
kalung bawang putih & make up
merah putih kaya badut! Memang di
sekolah ini banyak vampirnya ya
Dek!”

“Yee.. Namanya juga sedang
mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa, Kak!” Cibir anak itu keki.

“Kak, saya permisi ya, soalnya lagi buru-buru nih! Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya ini,”
Anak itu bergegas meninggalkan
Badai.

“Woy, tunggu, aku belum tahu nama kamu! Urusan kita belum selesai!” Teriak Badai sambil berjalan tertatih.

“Namaku Obby, Kak! Obby Afrizon!”
Anak itu terus berlari tak lagi
menoleh.

“Hmm… Obby, Obby Afrizon nama yang lucu juga aneh! Pasti dia lahirnya di Afrika deh!” Badai
berbalik, ia teringat akan niatnya
untuk menemui para wakil kepala sekolah di ruang guru.

Tok! Tok!

“Permisi Bu!”

“Ya, masuk! Ada apa ya?” Bu Sri
Sudaryanti wakasek kurikulum
tengah mengemasi berkas di atas
meja kerjanya.

Badai mencium tangan Bu Sri.

“Bu, saya mau tanya, apa benar
kalau anak-anak yang masuk di kelas XI IPA A itu adalah anak-anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5?”
Tanya Badai hati-hati.

Salah bicara sedikit saja maka akan dibayar oleh Bu Sri dengan celoteh panjang berisi mantera-mantera nasihat yang sakti.

“Iya betul!” Bu Sri memasang
kacamata yang terlipat di atas meja ke wajahnya.

“Kenapa Badai?” Gantian Bu Sri
bertanya.

“Anu…” Entah mengapa perasaan
gugup menyelimuti hati Badai.

Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan kata-kata yang sudah dirancangnya untuk menghadap Bu Sri Sudaryanti,
wakasek kurikulum yang terkenal
sangat teliti dalam pelajaran
akuntansi di sekolah. Sayang di kelas XI kini Badai tidak akan diajar lagi oleh beliau. Enggak mungkin kan ada pelajaran akuntansi di kelas program IPA? Ditambah pembawaan
Bu Sri yang cerewet membuat nyali Badai ciut untuk berbicara, hmm..
menjadi suatu keuntungan bagi
Badai tidak diajar lagi oleh guru
yang super cerewet. Pasalnya ia
tidak terlalu menyukai guru yang
sering berceloteh memberi petuah-petuah kepada siswa.

Tetapi dalam kondisinya saat ini,
suka tidak suka, mau tidak mau,
Badai harus berbicara kepada Ibu
Sri Sudaryanti. Mengajukan gugatan untuk mutasi kelas bahwa Badai telah ditempatkan di kelas yang tidak semestinya.

“Anu Bu…” Badai masih gugup.

Berulang kali ia mengatur nafas agar kondisinya menjadi stabil dan ia dapat berbicara dengan lancar.

“Memangnya kenapa dengan
anumu? Bicara itu yang jelas to Nak! Anumu itu sudah disunat toh? Kalau belum disunat bukan pada Ibu tempat meminta, tugas Ibu di sini hanya untuk mengajar kamu dan teman-temanmu. Kalau kamu butuh rekomendasi mantri sunat paling masyur di kota ini, nanti Ibu bisa
kenalkan kamu dengan teman-teman sekolah Ibu dulu. Kamu mau?” Bu Sri memegangi sebelah frame setengah terlepas.

Bola matanya sengaja dipamerkan membesar.

Haha… Ternyata Bu Sri doyan
bercanda juga. Ditanya seperti itu
lantas membuat Badai semakin
grogi.

“Ergh, maksud saya begini Bu…”

“Maksudmu, nilai rata-rata rapormu memenuhi kriteria untuk dapat masuk kelas XI IPA A, begitu?”

PLASS!!

Lega rasanya bagi Badai. Ternyata
Bu Sri dapat membaca apa yang
sedang berkecamuk dalam pikiran Badai saat ini.

“Iya Bu, tetapi saya malah
ditempatkan di kelas XI IPA B.
Bagaimana ini Bu?” Tampaknya
keberanian Badai mulai timbul.

“Hmm.. Sebenarnya bukan hanya
kamu yang terpaksa Ibu tempatkan di kelas XI IPA B! Masalahnya kapasitas jumlah siswa di kelas XI IPA A maksimum hanya 36 orang.
Dan ini sudah full! Sehingga mohon maaf bila Ibu terpaksa
menempatkanmu di kelas XI IPA B!”

Bu Sri menimpali dengan tatapan
enteng.

“Tapi saya ingin masuk kelas XI IPA A, Bu!” Badai mulai mengutarakan hasratnya.

“Tidak apa-apa Badai di kelas XI IPA B pun! Toh, di kelasmu itu juga masih ada sebagian yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5! Kamu tidak
usah cemas ya Badai!” Bu Sri
beranjak dari tempat duduknya.

“Atau kamu mau dipindahkan ke
kelas XI IPA E?” Tawar Bu Sri seraya tersenyum mengembang.

XI IPA E? Konon posisi kelas tersebut dalam denah sekolah Badai terletak di samping toilet siswa. Dan sudah tak diragukan lagi, aroma WC pun
tercium hingga ke ruang kelas itu.

Hiii… Badai bergidik jijik.

“Bu, tak bisakah saya dipindahkan ke
kelas XI IPA A?” Badai mulai
bernegosiasi.

“Apa sih yang memotivasi kamu
supaya bisa masuk kelas XI IPA A?”
Kulik Bu Sri dengan pandangan
curiga.

“Engh… Itu… Itu…” Badai kembali kehilangan kata-kata.

“Begini Bu, Ibu kan tahu sendiri
kalau kelas XI IPA B itu ada di
sebelah kantin, otomatis bau
masakan menyebar ke ruang kelas itu Bu! Saya ini termasuk tipe anak yang tidak bisa belajar kalau mencium aroma masakan, Bu!” Badai mencoba berkelakar.

Bu Sri berpikir sejenak. Lalu…

“Ibu paham maksud kamu, kami
selaku dewan guru sudah membahas masalah ini dengan kepala sekolah dan komite sekolah. Menurut rencana mulai bulan depan kantin sekolah kita akan dipindahkan ke lokasi yang lebih sesuai agar tidak
terlalu mengganggu konsentrasi para siswa yang ruang kelasnya berada di sekitar kantin, terutama kelasmu itu,”

“Tapi Bu, sudah selayaknya kan saya ditempatkan di kelas XI IPA A?”
Badai mempertahankan
keinginannya.

“Ibu tak bisa mengambil keputusan sendiri Badai! Karena Ibu juga harus membicarakannya dengan Pak Ruspita, wakasek kesiswaan!”

JLEGH!

Benar dugaannya masalah ini harus dibicarakan dengan dua orang wakil kepala sekolah sekaligus.

Neeet… Neeet… Neeet…

Tidak seperti biasanya bel sekolah berbunyi melalui sistem intercom berangkaian seri. Padahal lonceng
raksasa di halaman sekolah tadi pagi saat Badai melintasinya terlihat baik-baik saja.

“Nah, bel sekolah sudah berbunyi. Sebaiknya kamu lekas berbaris di lapangan agar tidak terlambat mengikuti upacara tahunan!” Bu Sri
mendorong pelan tubuh Badai keluar ruangan.

“Tapi Bu, saya berharap untuk
benar-benar bisa masuk kelas XI IPA A!”
Bu Sri menutup pintu kantornya.

Ia menyamai langkah Badai di
depannya.

“Begini saja Badai, sebenarnya
keputusan pembagian kelas itu
sudah final. Tidak dapat diganggu
gugat! Tetapi Ibu bisa memberi
kamu kompensasi, bila ada anak di Kelas XI IPA A yang bersedia
bertukar kelas denganmu, maka
permintaanmu akan Ibu kabulkan!”

“Tidak ada cara lainkah Bu?” Badai terus memaksa.

“Hanya itu satu-satunya cara untuk kamu supaya bisa masuk kelas XI IPA A!” Tegas Bu Sri.

                 =••00¤00••=

“Huah lega rasanya bisa bebas!
Bosan tiap kali upacara hari Senin, apa yang disampaikan oleh kepsek selalu kata-kata ‘Pake otakmu! Bukan
dengkulmu!’ Fiuh enggak ada kalimat favorit yang lain lagi apa?” Badai ngedumel seorang diri.

Ia melangkah memasuki ruang kelas yang tak diinginkannya.

“Sebenarnya sih kelas ini enggak
jelek juga! Tapi karena gue enggak sekelas sama…” Badai mendesah.

“Wey, kenapa ngomong sendiri cuy? Lu lagi stress ya?” Celetuk seseorang yang berjalan di belakang Badai.

“Hati-hati cyn, stress bisa
menyebabkan gangguan kejiwaan!” Timpal anak yang lain.

“Can-cyn! Can-cyn! Emang eike cowok apaan?” Sungut Badai sebal.

Kontan gerutuan Badai disambut
gelak tawa seisi kelas.

“Walah, enggak ada bangku kosong lagi apa?” Badai celingak-celinguk mengamati susunan meja kursi dalam kelas.

Hampir semua meja dan kursi sudah terisi oleh para siswa yang datang lebih awal. Tadi pagi Badai tidak sempat mencari tempat duduk di
kelas ini karena ia telah terobsesi
untuk dapat mutasi ke kelas XI IPA A. Ia terlalu berambisi untuk dapat duduk satu kelas dengan Mario.

“Badai, lu nyari meja kosong? Nih, di sini!” Sorak seorang cewek di baris paling depan deret kedua dari pintu.

Cewek itu menunjuk meja kosong di belakangnya yang ditempati oleh
seorang siswi berambut panjang
hitam legam, dia sedang
membelakangi Badai.

Badai menghampiri meja yang telah ditunjuk. Ia meletakkan tasnya di laci meja yang terbuka. Saat ia akan merebahkan pantatnya di kursi…

“Kamu…”

“Iya, kenapa?” Sahut si empu kursi sebelah berpaling menengok.

Badai bergidik ngeri, ia teringat
kejadian tadi pagi. Gadis jutek
berwajah masam yang kakinya
terinjak olehnya saat ia membaca
papan informasi. Sekarang menjadi teman satu kelasnya, bahkan menjadi teman satu meja
dengannya.

“Kenapa bengong Dai?” Cewek yang tadi bersorak memanggilnya
mengibas-ngibaskan telapak
tangannya di hadapan wajah Badai.

Cewek itu duduk persis di depan
kursi Badai.

“Oh, eh…” Badai terkesiap.

“Lu terpana sama yang duduk di
sebelah lu ini ya?” Goda cewek itu pada Badai.

What, terpana? Ketakutan malah iya, batin Badai.

“Oh, ya kenalin gue Camelia! Cewek yang duduk di sebelah lu ini dah kenal kali ya?” Camelia melirik si gadis jutek.

“Emang dia siapa?” Badai melongo.

“Ah, elu Dai, mentang-mentang
populer di sekolah, sengak ya, pura-pura kagak kenal sama kembang sekolah!” Camelia menyikut bahu Badai.

“Siapa sih yang enggak kenal sama Kedasih, gadis bertangan besi di SMA tercinta kita ini!” Camelia melirik ke arah Kedasih untuk ke sekian kalinya.

Merasa sedang dibicarakan, Kedasih pun berdeham.

“Bertangan besi?” Badai keheranan.

“Ah, lu beneran kagak tahu dia,
apa?” Camelia melonjak.

Perhatian seisi kelas sempat tersedot oleh lonjakan Camelia yang sangat surprise itu.

Badai memberi isyarat telunjuk di depan bibirnya agar Camelia bicara tidak terlalu gaduh.

“Sst.. Kedasih ini bukan anak
perguruan bela diri mana pun, tapi konon katanya dia pernah
mematahkan tangan beberapa orang cowok yang mencoba berniat jahat padanya! Gila, kebayang nggak sama
lu, gimana hebatnya dia?!” Camelia berbisik pelan di telinga Badai, namun sangat jelas terdengar.

Badai mencuri-curi pandang pada
Kedasih yang sedang mengalihkan pandangan dan mengobrol dengan
teman yang duduk di seberang
mejanya.

Badai semakin bergidik ketakutan.

“Semoga besok gue dipindahkan ke kelas XI IPA A deh!” Harap Badai dalam hati.

“Camelia, gue bisa gak pindah
duduk sama lu?” Badai berbisik di
telinga Camelia.

“Kenapa lu Dai, masa cuma dengar cerita gue aja lu langsung takut gitu sih?” Camelia mengerutkan kening.

“Masalahnya tadi pagi gue dah bikin masalah sama dia!” Badai gemetar.

“Tenang aja Dai, masalah lu sama
dia bukan masalah kriminal kan?”
Camelia memastikan.

“Jadi lu gak usah takut lagi lah sama dia! Hati-hati loh, lama-lama rasa
takut lu itu nanti bisa berubah jadi perasaan cinta sama dia!” Camelia
menepuk bahu Badai seraya
tersenyum menggoda.

“Eh, Dai, gue senang banget bisa
sekelas sama lu, udah lama gue
pengin belajar vokal sama lu! Lu
mau kan ajarin gue nyanyi?” Tatapan mata Camelia mengerjap-ngerjap penuh arti.

“Wah, sayang ya Camelia, lu baik
sama gue! Tapi mungkin besok guedah enggak di kelas ini lagi! Gue besok mau pindah ke kelas XI IPA A. Hari ini gue mesti nyari anak di kelas XI IPA A yang mau tukeran kelas sama gue!” Badai membatin. Ia
berbicara pada dirinya sendiri.

“Gimana Dai? Lu mau kan ngajarin gue olah vokal? Gue pengin banget bisa pintar nyanyi kaya lu! Terkenal
satu sekolah, wah asyik banget pasti tuh!” Camelia berangan-angan.

“Selamat pagi anak-anak!” Sapa
suara seorang wanita setengah baya berperawakan gemuk dengan betisnya yang besar memasuki ruangan kelas.

“Maafkan kalau kedatangan Ibu
pada hari ini terlambat!” Wanita itu berdiri di muka kelas.

Penampilannya sangat rapi dan
sopan. Sebuah blazer biru menutupi tubuhnya. Karena badannya yang gemuk ia memiliki dua lipatan di
bawah dagunya. Rambutnya keriting diikat dengan sehelai kain pengikat rambut bermotif bunga-bunga.

“Enggak apa-apa Bu, biasalah Jakarta macet kan Bu?” Seloroh seisi kelas dengan nada bercanda mencoba mengakrabkan diri dengan guru
yang tampak asing ini. Baru kali
pertama mereka berjumpa.

“Maklumlah Bu, pembangunan
monorail di Jakarta masih belum
selesai kan? Nanti kalau saya jadi
menteri, akan saya buat Jembatan Kaliwa supaya bisa menghubungkan Pulau Kalimantan dengan Jawa!”
Lanjut anak yang bergurau tadi
disusul gelak tawa seisi kelas.

“Iya, nunggu elu jadi menteri Pulau Jawa keburu tenggelam men! Noh, gunung-gunung berapi di Jawa dah
pada ngadat terus!” Timpal Camelia asal tak kalah sengit.

“Sudah, sudah, semuanya harap
tenang! Sebelumnya perkenalkan, nama saya Sugeng Saraswati Sosroamijoyo! Saya baru saja dimutasikan ke sekolah ini dari SMAN X!” Wanita itu kembali mengeluarkan suara begitu mendayu-dayu berirama merdu di telinga setiap orang yang mendengarnya.

“Weleh-weleh, bapaknya Ibu masinis ya? Nama Ibu panjang amir kaya kereta! Si Amir aja anunya enggak panjang-panjang gitu,” Goda seorang
siswa dengan tatapan genit kepada teman yang duduk di sebelahnya dan kebetulan bernama Amir.

Sontak seluruh perhatian tertuju
kepada siswa yang bernama Amir di kelas ini. Dan tertawa terpingkal begitu Amir ternganga menjadi
bahan lelucon teman sebelah
mejanya.

“Hehe, nama Ibu sebenarnya hanya Sugeng Saraswati! Sedangkan Sosroamijoyo itu nama belakang suami Ibu. Tapi kalian bisa panggil Ibu cukup Ibu Sugeng saja!” Bu Sugeng menebar senyuman ramah.

“Wow, Bu Sugeng men! Susunya
ageng!” Celetuk salah seorang siswa kurang ajar dengan suara berbisik.

Sontak, teman-teman yang
dibisikinya pun tertawa cekikikan.

“Jagoan cewek pula men!” Sahut
teman yang lain tak kalah kurang
ajar masih dengan suara berbisik.

Tiba-tiba salah seorang siswa
bertampang preman, dua kancing
teratas kemeja seragamnya sengaja tidak dikancingkan, ia mengacungkan jari.

“Bu Guru, berarti kalau kami ada
perlu dengan Ibu, kami harus
menghubungi 008 ya?” Celetuk si
preman yang tidak diketahui
namanya dengan spontan.

Tawa pun kian meledak membahana ke seluruh ruangan. Para pedagang dari kantin sebelah berusaha mengintip melalui jendela kelas, kehebohan apa yang sedang terjadi di kelas XI IPA B.

“Saras 008!” Seru salah seorang
siswa pada si Amir.

“Bagi yang memerlukan kontak Ibu, silakan menemui Ibu di luar jam pelajaran. Karena kebetulan Ibu ditunjuk oleh bapak kepala sekolah untuk menjadi guru wali kelas di kelas XI IPA B ini!”

“Horeee…” Sorak riuh-rendah seisi kelas diiringi tepuk tangan nan meriah menyambut pengumuman tersebut.

Para penghuni kelas XI IPA B menilai kelihatannya guru wali kelas mereka itu adalah guru yang sangat ramah
dan baik, beliau tidak mudah
tersinggung meski beberapa orang siswa sudah mengolok-olok namanya.

Setidaknya beliau tidak secerewet Bu Sri Sudaryanti, wakasek kurikulum
yang suka berceloteh panjang
memberikan petuah kepada siswa.

Karena itulah mereka merasa senang atas pengumuman Ibu Sugeng sebagai wali kelas.
Sebenarnya masih terdapat
segelintir siswa kurang ajar yang
berceletuk macam-macam perihal wali kelas mereka ini, seperti,

“Suaminya Bu Sugeng pasti tukang jualan teh botol! Tuh, dari namanya saja sudah kelihatan SOSROamijoyo!”

Tapi suasana yang semakin akrab
mengingatkan bahwa mereka sedang berada dalam forum lingkungan sekolah.

“By the way, Ibu mengajar pelajaran apa nih Bu? Biologi ya Bu?” Terka seluruh siswa mengingat tubuh Bu
Sugeng yang terlampau besar untuk ukuran manusia normal.

“Ibu mengajar dua mata pelajaran, yaitu Matematika dan Seni Budaya! Jadi bagi kalian yang merasa jenuh
dengan pelajaran hitung-hitungan, kita bisa berhibur diri di pelajaran Seni Budaya!”

“Untuk jam pelajaran hari ini
kebetulan adalah Seni Budaya,
bagaimana kalau kita isi dengan
bernyanyi? Adakah di antara kalian yang memiliki hobi atau berbakat menyanyi?” Tatap Bu Sugeng satu-persatu seluruh siswanya.

Semua mata siswa tertuju pada
Badai.

“Di sekolah ini yang terkenal jago
nyanyi Badai, Bu,” Camelia unjuk
suara mempromosikan Badai.

“Woo, hati-hati Bu, kalau Badai
nyanyi, bisa-bisa kelas ini jadi
ambruk,” gurau si preman tadi.

Sayang, kali ini tak ada lagi yang
tertawa. Apalagi terpingkal dan
terkekeh. Semua terdiam tatkala Bu Sugeng memberi kode untuk tenang kepada semua murid dalam ruangan.

“Di kelas ini, siapa yang bernama
Badai?” Tanya Bu Sugeng.

“Saya Bu,” Badai bangkit dari
duduknya.

“Bagus, dengan cara seperti ini Ibu dapat mengenal kalian satu-
persatu,” Bu Sugeng memegang
bahu Badai dari belakang.

“Rasanya kita pernah bertemu
sebelumnya ya?” Sapa Bu Sugeng
pada Badai mengingat-ingat seakan sudah mengenalinya.

Badai mengangguk.

“Kamu yang juara vokal solo tingkat provinsi bulan lalu kan?” Bu Sugeng berhasil memulihkan ingatannya.

“Kebetulan sekali anak-anak, Ibu
pernah menjadi juri kontes vokal
solo tingkat provinsi!”

Oooo… Gemuruh seisi kelas
membulatkan suara.

“Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!” Daulat
seisi kelas pada Badai.

Ditatapnya sekilas wajah Bu Sugeng, yang dibalas dengan sebuah anggukan. Tak lama kemudian Badai pun bernyanyi melantunkan lagu Terlanjur Sayang yang dulu pernah
dilantunkan oleh Memes ibunda
Kevin Aprillio (komposer muda
berbakat) dan kini didendangkan
kembali oleh seorang pemuda
berparas tampan keturunan
Indonesia yang menjadi penduduk tetap negara Singapura, Nathan Hartono.

           “Terlanjur Sayang”

Segala cintaku yang kau jala
membawa diriku pun percaya
Memberikan hatiku hanya
kepada dirimu selamanya
sampai kapan juga
Menjaga segala rasamu agar
dirimu selalu merasa akan
cinta kita

Apakah diriku yang bersalah
hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih tetap
cinta kamu kasih selamanya
sampai kapan juga
Menjagakan cinta kita agar
tetap di tempatnya sehingga
takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan

Apakah diriku yang bersalah
hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih tetap
cinta kamu kasih selamanya
sampai kapan juga
Menjagakan cinta kita agar
tetap di tempatnya sehingga
takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan
Santun berkata kau pun
menanyakan mengapa cinta
dipertahankan
Tetapi haruskah
dipertanyakan bila ku
terlanjur ku terlanjur sayang

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan
Wooo wooo mengapa cinta
dipertahankan
Tetapi haruskah
dipertanyakan bila ku
terlanjur (ku terlanjur)
Ku terlanjur (ku terlanjur)
sayang

Badai terlihat begitu menghayati
saat menyanyikan lagu tersebut.
Para gadis di kelasnya terhanyut
oleh perasaan saat Badai
membawakannya seakan mereka
melihat langsung seorang Nathan
Hartono yang sedang bernyanyi di hadapan mereka. Walaupun secara fisik, penampilan Badai tidak setampan Nathan Hartono.

Prok! Prok! Prok!

Tepuk tangan seisi kelas mengantar
Badai ke posisi tempat duduknya.

“Badai I love you!” Histeria beberapa orang siswi seraya mencubiti pipi Badai gemas.

Tak kalah dengan para siswa, tubuh mereka nyaris terkapar karena terlena mendengar kemerduan dan
kelembutan suara Badai yang begitu mempesona. Apakah ini terlalu hiperbola? Sungguh suara yang teramat dahsyat. Wajar saja bila Badai berhasil menyabet juara vokal solo di tingkat provinsi. Dan menurut rencana Badai akan dikirim untuk mewakili provinsi menuju
kontes vokal solo di tingkat nasional.

Badai duduk kembali di kursinya, ia sempat menengok ke arah Kedasih si gadis jutek yang duduk di sebelahnya. Aneh, aura yang dipancarkan Kedasih yang
sebelumnya terlihat menyeramkan bagi Badai, kini berubah menjadi lebih ramah.

Badai mengucek matanya, apakah ia telah salah
lihat? Tidak, Kedasih benar-benar
tersenyum padanya walau hanya
seutas senyuman simpul.

Sepertinya setelah penampilan Badai bernyanyi di hadapan teman-teman sekelas tadi, Kedasih mulai mempunyai
sedikit perasaan kagum kepada
Badai.

Badai mencoba menerka-nerka
makna senyuman yang dilontarkan Kedasih itu.

“Kenalkan namaku Kedasih Amelia!” baru kali ini pula Kedasih berkenan mengulurkan tangannya pada Badai
setelah peristiwa yang tidak
mengenakkan di antara keduanya
beberapa jam yang lalu.

Badai menyambut uluran tangan
Kedasih,”Kamu sudah tahu namaku kan? Badai Ombak Samudra.”

Kedasih tersengih, tawanya nyaris
meledak kalau saja tangannya tidak berhasil menutup rapat mulutnya.

“Nama kamu lucu ya? Pasti ibu kamu melahirkan kamu di tengah laut ya?”

Badai hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.

“Silakan tertawa jika memang namaku aneh menurutmu!”
Sirna sudah perasaan takutnya
kepada Kedasih, gadis bertangan
besi.

Camelia melirik,”Cie..cie..kenalannya baru sekarang sih?” sindir Camelia seraya tersenyum.

Terdengar suara Bu Sugeng
memanggil nama Amir untuk tampil bernyanyi ke depan kelas.

Camelia masih belum beranjak dari pandangannya kepada Badai dan Kedasih yang duduk di belakangnya.

“Camelia… maafkanlah aku!” Amir mulai bersenandung membawakan salah satu judul milik penyanyi Irwansyah.

                 
                 “Camelia”

Camelia maafkanlah aku
Karena ku tak bisa temani tidurmu
Camelia lupakanlah aku
Jangan pernah lagi kau temui aku
Kau wanita terhebat
Yang pernah singgah di hatiku
Kau wanita yang tegar
Aku mohon lupakan aku

[*]
Sudahlah jangan menangis lagi
Ku rasa cukup sampai di sini
Mungkin di suatu saat nanti
Kau temui cinta yang sejati

[**]
Sudah cepat lupakanlah aku
Jangan pernah ungkit masa lalu
Ku takut kekasihku pun tahu
Kau pernah menjadi simpananku
Camelia…
Kau wanita terhebat
Yang pernah singgah di hatiku

Seisi kelas mulai menyoraki ke arah Camelia. Detik itu juga rona wajah Camelia berubah menjadi merah padam. Ia sama sekali tak
menyangka akan menjadi objek
sasaran Amir saat bernyanyi, apa
maksud Amir menyanyikan lagu itu dan sengaja ditujukan kepadanya? Padahal antara dirinya dengan Amir
sama sekali tidak ada hubungan
khusus.

               ==00♥00==

Pak Ruspita wakasek kesiswaan
menghampiri Badai di penghujung jam istirahat ke-2. Senada dengan Ibu Sri Sudaryanti yang terbilang
tegas, Pak Ruspita lebih dikenal
sebagai sosok guru yang tidak neko-neko. Artinya tidak banyak tawar-menawar. Jadi keputusan yang akan diambil untuk pengajuan mutasi kelas oleh Badai hanya YA atau TIDAK!

“Bapak dengar dari Bu Sri, kamu
minta pindah kelas ya?” tanya Pak
Ruspita to the point.

Badai mengangguk,”Betul Pak!”

Pak Ruspita menatap Badai
lekat,”Padahal Bapak sengaja
menempatkanmu di kelas XI IPA B supaya kamu bisa berlatih vokal lebih intens dengan Bu Sugeng! Bulan depan kamu berangkat mewakili provinsi loh!”

Badai tidak mengacuhkan perkataan Pak Ruspita, baginya yang diinginkan
olehnya saat ini adalah bisa sekelas dengan Mario, cowok paling ngetop di sekolah.

Badai menundukkan kepala tak
berani membalas tatapan guru olah raganya itu,”Jadi saya tidak bisa pindah ke kelas XI IPA A ya Pak?”

“Tadi pagi Bu Sri sudah bilang apa
padamu?” kulik Pak Ruspita.

“Beliau memberikan kompensasi
bahwa bila ada anak kelas XI IPA A yang bersedia bertukar kelas dengan saya maka saya diperbolehkan untuk
bertukar kelas dengan anak itu,”
Badai masih tak kuasa mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.

“Kamu mau pindah sekarang? Atau mau pindah besok?” tanya Pak Ruspita seolah telah mengabulkan keinginan Badai tanpa harus memenuhi kompensasi yang diberikan oleh Bu Sri.

“Maksud Bapak?” Badai mulai
menatap pandangan Pak Ruspita,
dalam benaknya masih terbersit rasa heran.

“Kalau kamu mau masuk di kelas XI IPA A sekarang juga, silakan masuk jam terakhir sehabis jam istirahat ini!” Pak Ruspita mengepulkan asap
rokok yang dihisapnya ke luar
jendela.

“Saya bertukar kelas dengan siapa
Pak?” tatapan Badai berbinar, ia
merasa senang keinginannya telah dikabulkan oleh para wakasek.

“REVALDO MARIO!” jawab Pak
Ruspita datar.

Badai mendadak tercengang seakan ada duri tersangkut di
kerongkongannya,”Hah? Eng, maaf Pak, maksud Bapak yang bertukar kelas dengan saya itu adalah Mario? Kapten tim basket sekolah kita? Anak yang terpilih mengikuti lomba pidato
Bahasa Inggris tingkat nasional itu, Pak?”

Pak Ruspita hanya menganggukan
kepala sekali untuk menjawab
serentetan pertanyaan yang
dikemukakan oleh Badai.

Tubuh Badai terasa lunglai, padahal tujuan ia pindah kelas adalah ingin duduk satu kelas dengan Mario, tetapi mengapa justru malah Mario
ingin pindah ke kelas XI IPA B?!
Badai mencoba mengingat-ingat
sesuatu kejadian yang baru saja
dialaminya semenjak pagi ia
berangkat sekolah dengan Mario.
Tetapi yang ia ingat hanya sebuah
perasaan kalau Mario kurang
menyukai kedekatannya. Mario
terlihat terburu-buru berangkat ke sekolah tadi pagi.

“Pak, maaf, kalau boleh tahu lagi,
apakah Mario tahu kalau dia
bertukar kelas dengan saya?” selidik Badai hati-hati, ia khawatir Pak Ruspita akan balik mencurigainya.

“Saat kamu menemui Ibu Sri, Mario pun menemui saya, mengutarakan hal yang sama denganmu! Tapi sampai sekarang saya belum bertemu lagi dengan Mario, tampaknya ia sangat sibuk menjadi panitia kegiatan MOS!” Beber Pak Ruspita detail.

Syukurlah, Mario belum mengetahui hal ini. Batin Badai dalam hati.

“Maaf Pak, saya tidak mau bertukar kelas dengan Mario. Terus terang, tujuan saya pindah ke kelas XI IPA A, agar saya dapat bersaing secara
kompetitif dengan Mario!”

Pak Ruspita terperanjat,”Memangnya kamu mau bersaing dalam hal apa
dengan Mario? Setiap orang itu
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Badai. Tanpa harus
sekelas dengannya pun kalian tetap dapat berkompetisi di bidang masing-masing kan? Jangan-jangan Mario mengajukan pindah kelas pun karena mempunyai motivasi yang
sama denganmu? Kalau begitu
pengajuan kalian berdua saya tolak!”

“Tapi Pak…” belum sempat Badai
memohon, Pak Ruspita telah
beranjak pergi memasuki sebuah
ruangan lain dan menutup pintu
ruangan tersebut tanpa memberi
kesempatan pada Badai untuk
menyelesaikan pembicaraannya.

           ==BERSAMBUNG==

Nantikan kelanjutan kisah ini pada postingan saya selanjutnya. Anda suka silakan beri jempol. Komentar dan apresiasi sangat saya harapkan demi kemajuan saya menulis di masa yang akan datang.

Pertama dipublikasikan pada :

http://my.opera.com/HidingPrinceOfBorneo/blog/2012/12/27/namamu-kupinjam-1-3

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s