Posted on

Perbedaan Karakter Guru Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

Kadang aku suka jengkel deh kalau melihat ada guru rekan-rekan kerjaku saat jam mengajar bukannya mengajar di kelas malah asyik ngerumpi di kantor bersama guru-guru lain yang kebetulan sedang jam kosong. Kalau kutanya mereka, "Loh, Bu, Pak, bukankah Anda seharusnya sedang mengajar di kelas?", dengan santainya mereka akan menjawab begini : "Kan sudah saya beri tugas!"

Waduuh, memang kalau siswa diberi tugas, lantas guru boleh ya bebas meninggalkan siswa dan ngerumpi di kantor? Terus kalau dalam mengerjakan tugasnya, terdapat hal yang tidak dipahami oleh siswa, kepada siapa mereka akan bertanya? Kepada teman yang lebih pintar? Alih-alih bukannya mendiskusikan soal, para siswa itu juga akan 'sibuk' ngerumpi di kelas seperti yang dilakukan sang gurunya di kantor. Dan apa yang terjadi ketika sang guru kembali ke kelas? Biasanya guru akan bertanya, "Sudah selesai anak-anak?" Maka dengan serentak para siswa pun menyahut, "BELUUUUM Bu". Anehnya guru itu malah balik mengomeli murid-muridnya, "Masak soal segitu saja kalian belum selesai?"

Inilah problematika dunia pendidikan zaman sekarang. Saya tidak tahu pasti ya, apakah para guru di daerah lain juga memiliki watak seperti rekan-rekan guru saya (maaf) di Pulau Kalimantan. Meskipun saya terbilang masih guru junior yang baru 10 tahun mengajar, namun hampir semua tingkatan jenjang pendidikan pernah saya alami, mulai dari SD, SMP, MTS, hingga SMA dan SMK pernah saya geluti baik di bawah instansi pemerintah (sekolah negeri) maupun instansi swasta.

Saat saya sedang mengajar di suatu kelas, tiba-tiba terjadi kegaduhan di kelas tetangga, sungguh membuat konsentrasi kegiatan belajar mengajar di kelas saya terganggu. Lantas saya datangi kelas gaduh tersebut untuk menanyakan jam pelajaran apa yang sedang berjalan di kelas mereka. Satu-satunya jalan yang dapat saya lakukan agar mereka tidak ribut lagi adalah saya menggantikan guru yang katanya 'berhalangan mengajar itu', dengan resiko saya harus bolak-balik ke kelas yang sebenarnya sedang saya ajar.

Sering saya berpikir, pola guru mengajar di zaman sekarang sangatlah berbeda dengan pola guru mengajar di zaman dahulu. Tetapi terkadang saya juga bertanya-tanya dalam hati, apakah pola guru mengajar zaman sekarang yang saya ketahui itu hanya sebatas di area Kalimantan tempat saya tinggal atau memang benar-benar global di seluruh Indonesia?

Menurut saya perbedaan pola guru mengajar zaman sekarang dengan zaman dahulu adalah sebagai berikut,

Guru zaman dahulu :
1. Mengajari siswa untuk berpikir kritis. Guru senantiasa melatih siswa untuk dapat peka terhadap lingkungan dan permasalahan sosial yang ada di masyarakat.
2. Guru 'menekan' siswa untuk menghafal pelajaran, seperti perkalian misalnya, guru zaman dulu terbilang sukses mendidik murid. Zaman saya kelas 2 SD, saya dan teman-teman saya sudah hafal semua perkalian 1×1 hingga perkalian 10×20. Lha, anak zaman sekarang jangankan kelas 6 SD, anak SMA saja tidak hafal perkalian! Dulu, di era orde baru (rezimnya Presiden Soeharto) guru sering memberi tugas siswa untuk menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur tiap provinsi, nama-nama ibukota provinsi, hingga nama-nama negara di dunia lengkap dengan ibukota, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa resmi, bentuk negara, dan bentuk pemerintahannya. Tapi zaman sekarang, mana ada murid yang hafal daftar menteri zaman sekarang, apalagi ibukota provinsi! Nama ibukota provinsi sendiri saja tidak tahu! Lucunya lagi sering murid-murid saya mengira kalau Pulau Jawa itu adalah negara lain. Mereka bertanya, "Ibukota negara Jawa itu apa, Pak?"
3. Guru senang melatih kedisiplinan, keras, dan mistar kayu menjadi juru sanksi bagi murid yang tidak disiplin. Dulu belum marak pelanggaran HAM. Pedoman : Guru sebagai orang tua di sekolah, sangat dijunjung tinggi masyarakat. Sehingga murid akan merasa malu kepada teman-temannya bila terkena hukuman dari guru. Tetapi lihat zaman sekarang, murid bukannya takut terhadap sanksi sekolah, malah dengan cueknya mereka bebas keluar-masuk sekolah sekehendak hati mereka. Dan tidak ada lagi guru yang berani memberikan hukuman fisik kepada murid karena dianggap pelanggaran HAM. Sebagai dampaknya, di zaman sekarang harga diri seorang guru pun dapat diinjak-injak oleh muridnya.
4. Guru zaman dulu sangat care (peduli) terhadap siswa. Bila ada siswa yang sakit, guru akan mengajak para siswanya untuk menjenguk siswanya yang sakit. Saat mengajar di kelas, guru akan berkeliling untuk mengamati muridnya satu-persatu dan mengajari siswanya yang kurang mengerti materi yang sedang diajarkan. Lha, guru zaman sekarang daripada berkeliling mending asyik main hp (teleponan, chatting, facebookan, twitteran, upload foto, sms-an, dll).
5. Guru zaman dahulu senang mengajak siswa belajar menerawang (eits jangan negative thinking dulu!) Maksudnya, guru zaman dulu suka sekali mengajarkan peta buta dan menghitung mencongak. Anak-anak zaman dulu tidak ada yang buta peta! Guru sering memberikan peta gambar pulau, siswa disuruh menebak, pulau apakah yang dimaksud. Lalu dalam peta pulau itu guru akan menanyakan nama gunung, nama sungai, nama teluk, nama laut, nama selat yang terdapat di sekitar pulau dalam peta. Huhu, dulu aku jagonya pelajaran IPS Geografi itu. Kemudian guru matematika juga senang mengajak berhitung tanpa corat-coret mengotret di kertas. Itulah yang dinamakan mencongak, seakan kita sedang dilatih menjadi seorang pedagang yang sedang menghitung untung-rugi. Bagiku mencongak seperti melukis di udara, karena tanpa kusadari saat sedang berhitung tanganku bergerak-gerak menuliskan angkanya tanpa tercetak di sehelai kertas pun.
6. Guru zaman dulu lebih berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Tidak ada guru yang senang meninggalkan kelas saat jam mengajar, terlebih sampai cuti bukan pada tempatnya. Guru zaman dulu selalu berprinsip "Tidak akan berhenti mengajar sebelum siswa menjadi pandai". Saya sering geleng-geleng kepala melihat rekan-rekan kerja saya meliburkan diri jauh hari sebelum waktunya libur, dan datang kembali ke sekolah jauh hari setelah waktu libur usai. Kok mereka tidak malu ya sudah makan gaji buta?
7. Senang menyampaikan kalimat : "Sayang sekali waktu kita sudah habis, apabila kalian belum mengerti pelajaran yang diterangkan ibu, silakan temui ibu di kantor! Atau di mana saja kalian bertemu ibu, silakan tanya saja. Di jalan, ataupun kalian datang ke rumah ibu, silakan! Dengan senang hati ibu akan menerangkan pelajarannya kepada kalian."
8. Guru zaman dulu berkompeten dalam mengajar. Tidak ada guru yang canggung saat mengajar. Bila berdiskusi atau tanya jawab dengan siswa, guru mampu menjawab segala persoalan yang dikemukakan oleh para siswa.
9. Guru zaman dulu hafal semua muridnya satu-persatu. Mulai dari raut wajah sang murid, sampai tingkat kecerdasan (kelemahan dan kelebihan) yang dimiliki sang murid pun, guru zaman dulu sangat hafal. Ada seorang murid nenekku yang datang berkunjung menemui nenekku setelah 20 tahun pensiun sebagai guru, nenekku bertanya "Siapa ini?", murid itu menjawab "Saya Ahmad, murid ibu waktu SD tahun 1970, yang sering ibu jewer kupingnya," kemudian nenekku tersenyum mendengar hal itu, "Oh, kamu yang suka menyonteki hasil pekerjaan si Budi itu ya!" Murid bernama Ahmad itu lalu tersenyum, "Ternyata ibu masih ingat saja!" Awalnya saya kira, ah mungkin itu kebetulan daya ingat nenek saja yang memang tajam. Tapi dugaan saya berubah setelah saya mengalami kejadian lain tatkala seorang rekan kerja nenek yang juga seorang pensiunan guru datang berkunjung ke rumah nenek. Beliau bercerita kepada nenek, "Jeng, tadi aku ketemu si Indra murid kita dulu tahun 1980-an. Ya ampun, aku enggak menyangka loh, Indra yang dulunya lemah ilmu aljabar sekarang malah jadi pengusaha sukses! Padahal dulu kalau kutanya berapa 10×10, dia cuma bisa diam menunduk."

Nah, hebat kan guru zaman dulu? Coba bandingkan dengan karakteristik guru zaman sekarang :
1. Cuek terhadap murid. Nama murid di kelas yang diajarnya tidak hafal. Paling yang diingatnya hanya sebatas murid terpintar, dan murid ternakal.
2. Kalau murid tidak mengerti pelajaran yang diterangkan, ya sudah lewat saja. Kata orang Kalimantan bilang "Pus am!" (Masa bodoh). Kalau nilai murid tidak memenuhi standar, paling-paling diberi nilai standar minimal (padahal muridnya belum mampu mencapai nilai standar). Jadi nilai standar yang diberikan guru lebih berkesan nilai belas kasihan bukan karena batas kemampuan murid.
3. Sering meninggalkan tugas mengajar. Alasannya : keluarga ada yang sakit (kenyataannya malah hura-hura dan rekreasi ke tempat wisata).
4. Guru takut kepada murid. Kalau murid melanggar peraturan, guru membiarkan tidak berani memberi sanksi. Murid zaman sekarang pintar memutarbalikkan fakta, biasanya setelah dihukum oleh guru di sekolah, murid akan mengadu berlebihan kepada orang tua di rumah. Lantas orang tua pun menjadi berang dan menggugat pihak sekolah. Oleh sebab itulah guru zaman sekarang malas memberi sanksi kepada murid yang bermasalah.
5. Guru zaman sekarang sibuk berbisnis. Apapun bisa dijadikan uang. Tidak hanya lahan usaha pribadi di rumah, tugas siswa di sekolah pun menjadi lahan bisnis.
6. Guru zaman sekarang sering open book karena tidak menguasai materi yang akan disampaikan kepada siswa. Saya sering aneh melihat rekan saya, beliau memberikan soal matematika kepada murid-muridnya, tetapi beliau sendiri tidak tahu jawabannya. Lantas bagaimana beliau menilai hasil pekerjaan murid-muridnya?
7. Guru zaman sekarang tidak suka ditanyai muridnya mengenai pelajaran yang belum dimengerti. Kalau ada murid yang minta dijelaskan kembali materi yang belum dipahaminya, eh sang guru malah balik mengomel, "Makanya kalau saya sedang menjelaskan, kamu perhatikan!" (Padahal muridnya itu juga sudah memperhatikan loh!)
8. Guru zaman sekarang senang memacari murid. Parahnya guru-guru itu menjadikan murid sebagai selingkuhan mereka. Enggak banget deh! Saya pernah melihat dua orang siswi saya bertengkar di jalan raya karena meributkan guru-guru kekasih mereka. Sebut saja si A berpacaran dengan guru B, dan si C berpacaran dengan guru D. Nah si A menggosipkan hubungan si C dengan guru D. Begitu juga sebaliknya si C menggosipkan hubungan si A dengan guru B. Sampai akhirnya mereka berdua ribut di tempat umum, saling mencakar wajah dan menjambak rambut. Sementara di sudut sekolah guru B dan guru D adem ayem saja menikmati jajanan di kantin.

Itulah bejatnya moral guru zaman sekarang. Mana moto yang dulu katanya Guru itu adalah orang yang patut digugu dan ditiru? Di zaman yang semakin rumit ini, figur guru yang baik sangat sukar sekali ditemukan! Ironisnya, keburukan-keburukan karakter guru zaman sekarang itu banyak saya temui di sekolah negeri atau instansi milik pemerintah. Sedangkan pengalaman saya mengajar di sekolah swasta elite dan bonafid justru guru sekolah swasta tersebut jauh lebih baik daripada karakter guru di sekolah negeri. Seperti di antara lain :

1. Guru sekolah swasta lebih disiplin dalam kehadiran, datang lebih awal, dan pulang lebih akhir.
2. Guru sekolah swasta menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Waktu itu murid saya menumpahkan susu ke lantai. Meskipun dia baru kelas 1 SD, saya mengharuskannya untuk membersihkan lantai sampai benar-benar bersih, dan tak lupa anak itu harus meminta maaf kepada petugas kebersihan sekolah (cleaning service).
3. Guru sekolah swasta dilarang keras meninggalkan siswa di kelas tanpa ada guru pengganti. Saya pernah kena tegur rekan-rekan sekantor, gara-gara saya kebelet buang air kecil dan pergi ke toilet meninggalkan siswa di kelas tanpa dipantau guru lain. Saya pikir ini soal sepele, tetapi sepulang dari toilet, saya diceramahi oleh guru-guru lain sampai setengah jam, waduh malunya bukan main.
4. Guru sekolah swasta tidak boleh bubar meskipun siswa sudah bubar. Waktu itu siswa saya bubar jam 1, tapi saya baru boleh pulang jam 3 lewat. Pasalnya saya harus menyiapkan materi ajar untuk keesokan harinya.
5. Guru sekolah swasta tidak diperbolehkan beristirahat sebelum jam siswa bubar. Saat siswa istirahat saja guru pun harus mengawasi dan menjaga mereka agar mereka tidak ribut saat makan. Makan pun siswa harus tertib, terutama saat siswa mencuci tangan dan mencuci piring. Jangan sampai mereka malah asyik main air. Saat siswa bermain di kelas guru harus menjaga jangan sampai siswa berkelahi karena masalah sepele.

Semoga di masa yang akan datang kinerja guru di sekolah manapun menjadi jauh lebih baik.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

59 responses to “Perbedaan Karakter Guru Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

  1. adiwbw ⋅

    Hohoho.. Berner banget tuh.. para guru harus bisa lebih berani demi membentuk karakter anak2 bangsa agar lebih disiplin.

  2. SODIKUL ⋅

    salaman dulu

  3. adiwbw ⋅

    Sodikul, itu fotony kok kayak lg ngupil gitu ya.. Sebelum salaman, upilnya di lap dulu tuh.. 😀

  4. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Kami benar-benar dalam kondisi yang serba salah.. Salam Mas Sodikul 🙂

  5. guru ⋅

    semua keburukan guru zaman sekarang yg dituliskan di atas merupakan hasil didikan guru zaman dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s