Posted on

Arti Sahabat

Sebuah cerita pendek terilhami dari kisah nyata di dunia maya!

Berbagai sudut pandang yang berbeda mengenai penilaian akan sebuah…

ARTI SAHABAT

Ditulis oleh SUGIH

==00==00==••00••==00==00==

Ferdy tengah menyeberang jalan tatkala sebuah mobil melintas di hadapannya dan nyaris menabrak tubuhnya. Untung saja pengemudi mobil itu segera merem mobilnya, dan bermaksud meminta maaf pada Ferdy melalui kaca jendela. Diturunkannya kacamata hitam yang melekat di wajah si pengemudi. Namun Ferdy segera melesat ke seberang tanpa sempat menggugat si pemilik kendaraan yang hampir menabraknya. Siang itu panas matahari begitu terik, Ferdy tampak terburu-buru melangkah ke tempat yang ingin ditujunya. Sementara si pengemudi mobil hanya bergumam,

"Ferdy, dia benar-benar lelaki yang menarik!"

Kemudian pengemudi mobil itu segera kembali menancap gas, menderu membelah jalan di perkotaan.

"Maaf, aku terlambat!" Ferdy menyalami seorang temannya yang ditemuinya di sebuah kafe.

Seorang pemuda bangkit berdiri menyambut uluran tangan Ferdy.
"Tidak sama sekali, kau bahkan datang lebih awal dari biasanya!" Pemuda itu kembali duduk di kursinya.

"Bagaimana kau sudah mendapat pekerjaan yang kamu dambakan selama ini?" Tanya Ferdy seraya merebahkan diri di kursi tepat berhadapan dengan si pemuda.

"Seperti biasanya lagi-lagi aku ditolak, bro!" Pemuda itu tampak murung.

"Sudahlah kau bekerja di tempatku saja! Gajinya tidak terlalu besar memang, tapi anggap saja ini menjadi batu lompatan buatmu sambil menunggu panggilan interview dari sekolah-sekolah yang kau lamar!" Ferdy menatap pemuda itu dengan mata berbinar. Ada ketulusan yang terpancar dari roman wajahnya.

Seorang pelayan datang menghampiri, menyerahkan sebuah buku menu kepada Ferdy. Dengan sangat cepat Ferdy menuliskan minuman yang ingin dipesannya.

"Bukannya aku menolak, sobat, aku hanya tidak ingin selalu merepotkanmu!" Tegas si pemuda membalas tatapan wajah Ferdy dengan mata yang teduh.

"Selalu begitu jawabmu! Bukankah selama ini kamu selalu menganggapku sebagai sahabatmu?" Ferdy mengangkat sebelah alisnya.

Pemuda itu menggenggam kepal tangan Ferdy di atas meja.

"Lebih dari itu, aku menganggapmu kakak laki-laki bagiku!"

"Terima kasih Febian. Aku pun menganggapmu sebagai adik laki-laki bagiku!" Ferdy tersenyum simpul. Wajahnya memancarkan karisma yang bersinar menerangi setiap hati yang memiliki ketulusan.

Pemuda itu ternyata bernama Febian.

"Rencananya hari ini kita akan memotret di mana?" Tanya Ferdy seraya menyambut minuman yang dibawakan oleh seorang pelayan.

Cappuccino kesukaannya. Ia pun segera menyeruput minuman yang dipesannya itu.

"Terserah kau saja, bagaimana kalau kita mengunjungi tempat-tempat favoritmu?" Febian mengunyah hamburger yang disodorkan pelayan.

"Baiklah, kalau begitu kita hari ini akan pergi ke pantai tidak jauh dari sini!" Ferdy mengambil keputusan.

Febian tampak sangat menikmati hamburger di mulutnya, "Setuju, ide yang sangat bagus!"

              •••||00¤00||•••

"Berapa jumlah semuanya?" Ferdy mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya.

"Semuanya Rp 179.000,00 Pak!" Kasir menyebutkan total belanjaan Ferdy.

Diserahkannya sebuah kartu kredit kepada kasir muda berparas cantik itu. Kemudian disambutnya kartu kredit yang diserahkan Ferdy dan menggeseknya pada tempat penggesekan kartu kredit.

"Maaf Pak, kartu kredit ini sudah limit. Saldo anda tidak mencukupi untuk melakukan transaksi pembayaran!" Gadis kasir itu berbicara teramat sopan.

"Benarkah? Rasa-rasanya saldo tabungan saya hampir tidak pernah saya pakai," Ferdy mengerutkan kening.

"Tapi Pak…" Belum selesai kasir itu berkata-kata, seorang lelaki muda menghampiri.

"Biar saya saja yang membayarnya!" Lelaki itu menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.

"Anda…?" Ferdy bengong tidak mengenali lelaki muda yang berdiri di hadapannya.

"Anggap saja ini sebagai ungkapan permintaan maafku, karena tadi siang aku hampir menabrakmu!" Lelaki itu menyerahkan bungkusan belanjaan Ferdy.

"Maaf gara-gara aku ribut dengan pacarku, aku nyaris membuat nyawamu melayang!" Sesal lelaki muda itu.

Ferdy menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa tadi siang aku pun terlalu tergesa-gesa," ungkapnya terus terang seraya menatap wajah lelaki itu.

Lelaki itu menarik napas lega. Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya.

"Kenalkan, namaku Pras! Prasetyo Budi Prawira!"

Ferdy membalas uluran tangan itu hangat bersahaja.

"Ferdy! Nama lengkapku Ferdy Ferdiansyah!"

Ferdy dan Pras tersenyum bersamaan.

"Sekarang aku ingat, beberapa hari yang lalu aku mengirimkan permintaan pertemanan padamu di myopera!" Ferdy mengacungkan telunjuknya.

Pras merangkul bahu Ferdy seolah mereka adalah sahabat lama yang baru dipertemukan kembali. Keduanya berjalan melangkah keluar meninggalkan  swalayan.

"Iya, tadi malam aku sudah mengkonfirmasi permintaanmu! Sudah kau periksa akun operamu?" Pras memandang Ferdy lekat.

"Belum kubuka! Terima kasih sudah mengkonfirmasi permintaanku, aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!"

KRING! KRING!

Nada dering handphone Ferdy berdering.

"Maaf ya, sebentar aku menerima panggilan dulu dari adik perempuanku!" Ferdy meminta izin. Pras mempersilakannya dengan hormat.

"Halo, Kak, terima kasih ya, sudah membiayai pendaftaranku untuk kursus pramugari! Maaf kemarin aku enggak bilang dulu kalau aku meminjam kartu kredit kakak!" Suara di ujung telepon terdengar sangat riang.

"Jadi kamu yang sudah memakai kartu kredit kakak?" Ferdy terkejut.

"Hehe.. Maaf ya kak, kan kakak sudah janji mau membayarkan semua biaya pendaftaranku!" Suara di ujung telepon terdengar membela diri.

"Iya, tapi lain kali bilang dulu kalau mau pinjam kartu kredit kakak! Kakak hampir tak bisa belanja di swalayan karena saldonya sudah mencapai limit!" ditutupnya horn telepon setelah terdengar suara di seberang mengucapkan salam penutup.

Pras tersenyum kecil menyimak perbincangan Ferdy dengan adik perempuannya.

"Wah, ternyata kita berdua sama ya? Aku juga sangat sayang pada adik perempuanku! Kalau ada lelaki yang melukai perasaannya, aku pasti akan membuat perhitungan dengan lelaki itu!" Pras mengepalkan kedua tangannya.

Ferdy mengangguk pertanda mengerti.

"Oh, ya, by the way, apa hobimu?" Tanya Pras penasaran.

"Aku sangat suka renang dan bulu tangkis!" Jawab Ferdy mantap.

"Wow, aku juga sangat suka bulu tangkis! Bagaimana kalau besok sore kita bermain bersama? Kamu ada waktu?" Pras menatap dengan mata berbinar.

Ferdy tidak kalah terkejut, "Benarkah? Wah, hobi kita ternyata sama! Siapa atlet yang kamu suka?"

Pras mengangguk mantap, "Waktu kecil aku sangat mengagumi pasangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma!"

Ferdy semakin terkesima, "Wah idola kita sama juga! Sepertinya kita bisa menjadi teman dekat nih! Aku juga mengagumi Riky Subagja dan Rexy Mainaky!"

"Nah sama lagi! Aku juga menyukai pasangan atlet itu! Bahkan kita bakal jadi sahabat dekat ya?" Celoteh Pras riang.

Sejak saat itu Ferdy dan Pras mulai berteman dekat. Keduanya sangat akrab dan sangat tulus terhadap pertemanan di antara mereka berdua.

Hari terus berganti hingga bulan pun berlalu.

"Hey Pras, bagaimana kalau setelah ini kita pergi berenang? Lumayan, menghilangkan keringat di tubuh kita!" Ferdy menangkis serangan shuttlecock Pras. Hari itu adalah hari latihan rutin Pras dan Ferdy bermain bulu tangkis bersama setelah sekian bulan mereka berteman.

Pras terkejut, "Renang bro? Maafkan aku, sebenarnya aku phobia renang!"

Ferdy mengerutkan keningnya, "Apa? Tidak salah bro? Kamu phobia renang? Maksudmu kamu trauma dengan kolam renang?" Selidik Ferdy.

Pras mengangguk sambil melakukan serangan balik terhadap Ferdy, "Waktu umur 14 tahun aku pernah hanyut di pantai! Saat tersadar, aku sudah berada di rumah sakit!"

"Sejak saat itu bila keluargaku mengajak ke pantai, aku hanya dapat melihat laut dari kejauhan!" Imbuh Pras.

Ferdy sekali lagi berhasil menangkis pukulan Pras, "Oh begitu, maafkan aku baru tahu masalah ini. Tapi menurutku, satu-satunya cara untuk menghilangkan trauma yang kau alami, kamu harus sering berlatih berenang! Paling tidak kau mencoba di kolam renang!"

Pras berjuang gigih melawan semua serangan Ferdy, "Mungkin kau benar, tapi tidak untuk saat ini, aku masih belum berani, sobat!"

"Kalau tidak sekarang, lantas sampai kapan kamu akan larut dalam traumamu?" Pungkas Ferdy.

SMASH!!

"Entahlah," Pras menggelengkan kepala. Ia melap tubuhnya dengan sebuah handuk kecil.

"Anyway, thanks untuk saran yang sudah kamu berikan untukku!" Pras mengedipkan sebelah matanya.

Pertandingan berakhir seri dengan skor 15-15 di babak ketiga.

Ferdy mengemasi raketnya kedalam sebuah tas hitam. Di saat yang bersamaan, ia melihat sosok yang sangat dikenalinya datang menghampirinya.

"Ferdy, kamu kok ada di sini?" Tegur Febian.

"Aku latihan bulu tangkis dengan temanku! Kamu sendiri sedang apa di sini?" Tanya Ferdy.

"Aku sedang memotret orang-orang yang berlatih olah raga di gelanggang ini," sahut Febian ramah.

"Lho, Febian ya?" Sapa Ferdy hangat.

"Kamu kenal Febian, bro?" Ferdy menoleh pada Pras.

"Aku berkenalan dengannya minggu lalu. Tanpa sengaja tasku tertukar dengan tasnya di tempat penitipan barang di sebuah toko buku! Lalu kami pun berkenalan," kenang Pras menerawang.

Febian tertawa renyah. Dia merasa malu mengenang peristiwa yang diceritakan oleh Pras. Wajah Febian berubah merah persis udang rebus yang baru saja diangkat dari dalam panci.

Ferdy pun ikut menertawakan kenangan lucu itu.

"Kamu sudah mendapat pekerjaan, Feb?" Tanya Pras penuh perhatian.

Febian menggeleng, "Semua sekolah yang kulamar sudah kelebihan guru!"

"Kalau kamu berminat kamu bekerja di restoranku saja, jadi manajer keuangan!" Pras memberi tawaran.

Febian merasa terharu, "Terima kasih atas tawaranmu, akan kupertimbangkan, sayangnya aku tidak mempunyai pengetahuan dasar mengenai pengelolaan keuangan!"

Pras menepuk bahu Febian pelan, "Ya, aku mengerti, hubungi aku bila kamu memerlukan bantuanku!"

"Eh, aku pergi duluan ya, sebab aku harus berangkat kerja. Sampai nanti, bro!" Pras berpamitan.

"Kita berenang yuk, Feb!" Ferdy menarik tangan Febian agar menyamakan langkah kakinya.

"Pras ganteng sekali ya, Fer? Kira-kira dia mau tidak ya kujadikan model?" Febian bergumam pelan.

"Wah, aku tidak tahu. Tapi klub fotografi kita kan khusus memotret pemandangan atau objek peristiwa!" Ferdy melangkah ke tepi kolam renang.
"Aduh, aku lupa menanyakan nomor teleponnya!" Febian menepuk keningnya sendiri.

"Feb, ayo kita berenang!" Ajak Ferdy sambil menanggalkan kaos yang dipakainya.

Mulut Febian ternganga, "Apakah Pras adalah sahabatmu?"

Ferdy sudah hilang dari tempatnya, ia melesat jauh di tengah kolam.

     •••00¤00=0O0=00¤00•••

"Bro, aku sedang bersama Pras, kamu di mana?"

Sebuah SMS masuk ke dalam inbox di handphone Ferdy.

"Wah, Pras bersedia jadi model kamu? Selamat ya!" Balas Ferdy cepat.

"Dia tidak berminat menjadi model! Kamu di mana? Pras menanyakan kamu nih!" Febian tidak kalah cepat membalas SMS Ferdy.

"Maaf bro, aku sedang berkemah dengan teman-teman kelompok PRAMUKA!" Ferdy mengetik SMS balasan untuk Febian dan segera mengirimkannya namun berulang-kali gagal terkirim karena tiba-tiba saja sinyal telepon mendadak hilang, begitu juga keadaan baterai handphone Ferdy langsung padam karena tidak dicharge selama beberapa hari.

"Aduh, nyamuk-nyamuk di hutan ini sangar sekali sih!" Ferdy menepuk-nepuk sekujur tubuhnya yang digigiti nyamuk.

"Kok, kepalaku mendadak panas ya?" Ferdy mengurut keningnya perlahan.

"Kenapa sob? Kamu sakitkah?" Seorang teman Ferdy datang menghampiri.

"Hey, teman-teman, kelihatannya Ferdy jatuh sakit!" Teriak teman Ferdy yang bernama Dira.

Sekelompok anggota PRAMUKA teman-teman Ferdy datang mengerumuninya. Bagai semut mengerumuni gula.

"Sebaiknya kita antar pulang saja!" Saran salah seorang temannya.

"Tidak usah! Aku masih ingin berkemah bersama kalian di sini, lagi pula kita jarang berkumpul seperti ini!" Ferdy menolak dipapah oleh Dira.

"Kamu yakin?" Tanya Melly, teman dekat Ferdy.

Ferdy mengangguk lemah.

            =°°=00==00=°°=

"Kakak laki-lakiku, kamu ke mana saja selama ini? Satu minggu tidak muncul di klub fotografi," racau Febian di ujung telepon.

"Maaf Feb, aku sakit," timpal Ferdy lemah.

Febian terperanjat, "Hah, kamu sakit apa, bro?" Tanya Febian penuh antusias.

"Malaria," jawab Ferdy dengan suara pelan nyaris tak terdengar.

"Apa? Ini penyakit serius, sudah berobat?" Febian sangat mencemaskan kesehatan Ferdy.

"Sudah," jawab Ferdy singkat.

"Selama kamu tidak ada, Pras menanyakan kamu terus!" Febian kembali bercerita.

"Bilang saja aku lagi sakit!"

"Oke bro, lekas sembuh ya bro!" Febian menutup pembicaraannya.

Selang beberapa saat panggilan masuk diterima Ferdy. Namun karena terlalu lemah, panggilan tersebut tidak diangkatnya. Hingga akhirnya dia tertidur pulas. Dan saat terbangun di tengah malam, dia membuka layar handphonenya penuh dengan SMS dan panggilan tak terjawab dari Pras.

"Bro, kudengar dari Febian katanya kamu sakit ya? Cepat sembuh ya friend. Aku merasa kehilanganmu, tidak ada teman yang bisa kuajak main bulu tangkis," isi SMS pertama.

"Sob, ini fotoku lagi di tempat kerja. Ganteng kan? Kamu pasti cepat sembuh kalau menatap fotoku ini^^" isi pesan kedua.

"Friend, kok kamu enggak balas pesan-pesanku, sih? Cepat sembuh ya, I missed you my best friend!" isi pesan ketiga.

"Setelah kupikir-pikir, mungkin kamu benar, untuk menghapus trauma yang kualami, aku harus latihan renang. Kamu mau kan bantu aku mengatasi trauma yang kualami ini?" Isi pesan terakhir.

Ferdy hanya tersenyum membaca semua isi pesan dari Pras. Kemudian ditekannya tombol handphone menghubungi Pras secara langsung.

Nada sambung di seberang menyahut dengan lantunan melodi yang harmonis.

"Halo…" Suara di ujung telepon menyambut gembira panggilan Ferdy.

      ==°°==••==0|0==••==°°==

"Kenapa sih kalau bersama aku, Pras tidak pernah betah berlama-lama?" Febian mendengus sebal.

"Tiap kali mengobrol denganku yang dibahas selalu kamu!" Febian tak bisa berhenti bicara.

"Kamu tahu apa saja yang disukai Pras? Aku tidak habis pikir setiap kali kutelepon, jarang dia angkat!" Febian terus mencibir.

"Mungkin dia sibuk, bro! Sudah ya, kita jangan membahas tentang Pras lagi! Hari ini kita akan memotret di mana?" Tanya Ferdy, tangannya mengaduk-aduk avocado milkshake di atas meja.

"Aah, aku punya ide! Bagaimana kalau hari ini kita melakukan pemotretan di rumah Pras? Mobilnya, rumahnya, kan mewah semua tuh, pasti bagus kalau dipotret!" Febian tersenyum penuh kemenangan.

"Aduh, kamu ini demam Pras, ya? Kamu kok jadi seperti cewek yang kehilangan cowok?" Ferdy menyeruput minumannya.

"Ayo, saatnya kita meluncur!" Febian menarik tangan Ferdy penuh semangat. Sebuah kamera canon versi terbaru tergantung di leher Ferdy.

Di depan rumah Pras, sebuah sedan BMW tengah beranjak meninggalkan pekarangan rumah.

"Ferdy! Wah, kebetulan aku baru saja mau ke rumah kamu! Syukurlah kamu sudah sehat! Pasti kamu kangen aku kan? Ayo naik!" Pras membuka pintu mobilnya.

Ferdy menatap sekilas pada Febian. Tetapi Febian malah membuang muka menghindari tatapan Ferdy.

"Feb, kamu mau ikut dengan kami?" Tegur Pras penuh keramahan.

Febian berbalik dan tersenyum sumringah kepada Pras seraya menarik handle pintu mobil.

"Pras, kita mau ke mana sih?" Febian merapikan posisi duduknya di samping Pras.

Sementara Ferdy baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di jok persis di belakang Pras. Pras menoleh ke belakang keheranan. Seolah memberi tanda kepada Ferdy agar seharusnya Ferdy yang duduk di sebelahnya.

"Kami mau berenang," jawab Pras sambil memegang setir kemudi.

"Lama enggak bertemu, kamu enggak kangen sama aku?" Gurau Pras pada Ferdy.

Ferdy tertawa renyah, "Kalau mau menggombal, sama cewek saja!" Cibir Ferdy.

"Oh ya Fer, kamu punya trauma seperti aku, enggak?" Pras melirik Ferdy melalui kaca spion.
"Trauma?" Febian tak mengerti.

Pras hanya melemparkan senyuman kecil.

"Ada!" Jawab Ferdy singkat.

"Cerita dong, I love story!" Tatapan Pras tidak beralih dari kemudi.

"Kamu tahu kan ke mana-mana aku sering naik angkutan umum, sangat jarang aku mengemudi kendaraan pribadi!"

"Kamu pernah kecelakaan bro?" Pras menoleh sekilas.

Ferdy melengos ke luar jendela. Ia menarik napas perlahan.

"Dulu pacarku tewas dalam kecelakaan motor karena tertabrak oleh sebuah truk batu bara. Supir truk itu mengantuk berat sehingga tanpa sengaja ia menabrak motor yang dikemudikan oleh kekasihku!" Ferdy menerawang jauh ke luar jendela.

"Maaf friend, sudah mengingatkanmu kejadian masa lalumu!" Tangan kiri Pras menepuk lutut Ferdy pelan.

Mulut Febian hanya ternganga tak percaya.

"Sejak saat itu setiap kali aku mengendarai motor aku selalu terkenang mendiang kekasihku. Sehingga akhirnya aku pun sering mengalami kecelakaan motor!"

"Tapi kamu masih sanggup menyetir kan?" Tanggap Febian.

"Bagaimanapun aku selalu berusaha keluar dari trauma yang kualami!" Timpal Ferdy.

"Tapi kalau masih trauma, jangan terlalu dipaksakan ya bro!" Pras memberi saran.

Ferdy mengangguk mengiyakan perkataan Pras.

Selang beberapa saat akhirnya mereka tiba di gelanggang olah raga tempat di mana Ferdy dan Pras sering berlatih bulu tangkis bersama.

Pras sedikit ragu saat matanya menatap sekeliling. Sementara Ferdy mendorong punggungnya untuk bergegas menuju ruang ganti pakaian. Tidak berapa lama Pras dan Ferdy sudah bertelanjang dada. Tubuh mereka hanya dibalut oleh celana pendek.

Febian asyik memotret suasana sekitar kolam.

Pras sangat takut menceburkan dirinya ke dalam air. Ferdy tidak tinggal diam, digenggamnya tangan Pras dan melompat terjun dari bibir kolam.

Pras menggerakkan tangannya menggelepar ketakutan. Namun Ferdy berhasil meraih kembali tangan Pras dan berusaha menenangkan perasaan Pras.

"Jangan takut, aku di sini bersamamu!" bisik Ferdy di telinga Pras.

Pras berusaha mengatur napasnya. Tiba-tiba ia merasa lega setelah mendengarkan bisikan Ferdy di telinganya.

"Tolong bantu aku, sobat. Aku sangat takut!" Lirih Pras tubuhnya gemetar.

Ferdy masih memegang kedua lengan Pras, membantu Pras mengontrol keseimbangan tubuhnya di dalam air.

Pras berusaha menggerakkan kedua kakinya agar ia dapat mengapung di permukaan air. Perlahan-lahan ia mulai dapat menguasai diri dan memupus perasaan takut yang selalu menghantuinya selama ini.

"Terima kasih banyak ya Fer! Kamu adalah sahabat sejatiku!" Ungkap Pras tulus.

Ferdy tercengang menatap wajah Pras lekat. Pras mencipratkan air ke wajah Ferdy. Keduanya kemudian asyik bercanda perang air seperti sepasang anak kecil yang mengalami masa kecil kurang bahagia.

"Oh ya bro, 4 bulan lagi aku mau bertunangan dengan pacarku! Doakan ya, supaya hubungan kami langgeng!" Pras berjalan menyusuri tepian kolam.

Ferdy hanya terdiam mematung.

"Apa kamu mau bertunangan, Pras? Selamat ya Pras, aku mendoakan kebahagiaanmu!" Febian muncul tiba-tiba setelah berkeliling sekitar kolam.

Pras tersenyum hangat kepada Febian seraya mengucapkan terima kasih.

Ferdy naik ke darat dan mengambil sebotol minuman dari dalam tas. Kemudian ia menyerahkan botol minuman tersebut ke arah Pras. Pras menangkap lemparan Ferdy dengan tepat. Tiba-tiba terdengar nada dering handphone dari dalam tas Pras.

"Sebentar ya, aku mau terima panggilan dari pacarku!" Pras memohon izin menepi ke tempat yang agak sunyi.

Ferdy menatap punggung Pras, sedangkan Febian masih terbengong-bengong.

"Apakah dia serius akan bertunangan?" Tanya Febian kepada Ferdy.

Ferdy mengangkat bahu.

==00•00==!!O•O!!==00•00==

"Hey, kamu kok melamun? Ayo, memikirkan siapa?" Dira berhasil mengejutkan Ferdy yang sedang duduk merenung di atas bebatuan.

"Daripada berkhayal yang tidak jelas, lebih baik kamu memikirkan aku!" Dira menepuk pundak Ferdy yang masih terdiam.

"Oh ya, kemarin aku melihat kamu berenang dengan Pras lho!" Dira merebahkan diri di samping Ferdy.

"Apa? Kamu kenal Pras?" Ferdy mulai mengeluarkan suara.

"Ya, tentu dong. Dia kan teman kerjaku!" Sahut Dira riang.

Ferdy membulatkan suara.

"Ooo…"

"Kalau begitu kamu tahu dong, handphone yang digunakan oleh Pras?" Tanya Ferdy penuh selidik.

"Oh, maksudmu handphone Apple itu ya?" Dira bertanya balik.

"Jadi itu handphone Apple ya? Wah, pasti mahal sekali harganya," gumam Ferdy nyaris tak terdengar.

"Wajar saja, Pras kan tajir, gajinya di perusahaan tempatku bekerja lumayan besar!" Dira memutar sebuah lagu dari MP4 handphonenya.

Sebuah lagu Talking to the Moon melantun dengan indah.

"Apakah benar dia akan bertunangan?" Usut Ferdy penasaran.

Dira tergelak, "Menurutku sepertinya tidak!"

Ferdy terkejut mendengar komentar Dira.

"Dia kan sedang tergoda oleh mantan pacarnya!" Seru Dira dengan mimik wajah tanpa dosa.

"Benarkah?" Ferdy tak percaya.

"Aku yakin Pras saat ini sedang dilema, antara ingin bertunangan dengan kekasihnya atau ingin kembali kepada mantan pacar pertamanya!" Dira berseru sengit.

"Kok Pras tidak pernah cerita padaku? Padahal dia bilang aku adalah sahabatnya!" Ferdy menggaruk-garuk kepala.

Tiba-tiba saja Dira tertawa lepas.

"Haha, apa kamu bilang? Dia sahabatmu?" Ledek Dira.

"Aku lebih tahu banyak siapa Pras! Lagi pula, menurutku kalian berdua bukan bersahabat, melainkan hanya berteman baik saja!" Beber Dira sedikit sinis.

"Memangnya menurutmu sahabat itu apa?" Ferdy balik bertanya.

"Menurutku, sahabat itu artinya bila kamu sedang sedih atau mengalami kesulitan, maka orang yang menjadi sahabatmu itu harus ada di sampingmu setiap saat kamu membutuhkannya untuk memberikan dukungan!" Dira duduk bersila.

"Lalu apa bedanya dengan teman baik yang kamu maksud tadi?" Ferdy memburu pertanyaan pada Dira.

Dira berpikir sejenak, lalu ia menjawab, "Begini, kalau hanya sebatas teman baik, kita hanya akrab di ruang lingkup tertentu, tidak harus bersama ke mana pun kita pergi setiap saat! Sedangkan sahabat bagiku, dia adalah orang yang menjadi pendamping hidup kita! Bukankah hanya istri kita yang kelak selalu ada menemani kita dalam suka maupun duka?"

Ferdy mengangguk mengerti.

"Contohnya seperti hubungan kita berdua, bagiku kita berdua tidak dapat dikatakan sebagai pasangan sahabat! Melainkan kita berteman baik. Kita hanya saling mengenal sebatas di organisasi kepanduan di kota ini saja kan? Begitu pula dengan hubunganku dan Pras, kami hanya sebatas teman baik di lingkungan kerja!" Urai Dira memaparkan argumentasinya dengan gamblang.

"Jadi kamu dan Pras terlalu berlebihan menilai hubungan kalian berdua sebagai pasangan sahabat!" Imbuh Dira.

=••00¤00••=

"Sahabat macam apa aku ini, masalah Pras saja aku tidak tahu-menahu!" Ferdy bergelut dengan pikirannya sendiri.

Sebuah pesan masuk dari Pras muncul di saat yang bersamaan ketika Ferdy sedang memikirkannya.

"Sob, aku minta saranmu, sebaiknya aku melanjutkan kuliah atau bertunangan?" Isi pesan Pras.

Ferdy semakin bingung, "Sepertinya benar apa yang diucapkan Dira kemarin. Pras pasti sedang dilema!" Batin Ferdy.

"Apapun keputusanmu aku dukung!" Balas Ferdy cepat.

"Aku sebenarnya ingin melanjutkan kuliah!" Jawab Pras lagi.

"Kalau aku menjadi kamu, aku akan memilih untuk melanjutkan kuliah!" Saran Ferdy.

"Iya, terima kasih sobat, aku memang ingin kuliah lagi. Untung keluarga pacar dan pacarku mendukung keinginanku!" Ungkap Pras.

"Pras, apakah kuliah yang kamu maksud hanya kiasan semata? Benarkah kamu sedang tergoda oleh mantan kekasih pertamamu?" Badai merenung.

"Bila kamu menganggapku sahabatmu, mengapa kamu tidak berterus-terang kepadaku? Sahabat macam apa aku ini bila aku tidak memahami kalau sahabatku sendiri sedang mengalami suatu masalah. Sedangkan kamu teramat baik dan perhatian padaku. Di saat aku sedang sakit kamu sangat mencemaskanku, dan kamu selalu menghiburku. Atau apakah aku terlalu berlebihan menanggapi hubungan pertemanan kita berdua?" Ferdy semakin bimbang.

Berulang kali ia meremas rambutnya sendiri.

"Seumur hidupku belum pernah ada orang yang menganggapku sebagai sahabat! Betapa aku bahagia saat aku mendengar kamu mengucapkan bahwa aku adalah sahabatmu!" Ferdy terus merenung.

"Hai Feb, boleh aku tanya, apa arti sahabat menurut pendapatmu?" Ferdy mengirim sebuah SMS kepada Febian.

Tak lama kemudian Febian pun membalasnya.

"Bagiku, sahabat adalah orang yang mau memahami perasaanku apa adanya. Orang yang mau menerimaku apa adanya untuk berbagi!"

"Apakah dia harus ada di saat kita sedang memerlukannya?" Tanya Ferdy lagi.

"Itu mustahil Ferdy! Memangnya kita harus selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi? Ada kalanya tidak selalu demikian bukan? Contohnya di saat kamu sedang sakit malaria minggu lalu, aku hanya dapat mendoakan kesehatanmu! Sahabat tidak selamanya harus bersama! Kelak suatu saat kita akan menikah dan berkeluarga, maka kita tidak akan pernah dapat bersama lagi, namun hati kita selalu bertemu di dalam doa!"

"Ya, kurasa kau benar Feb! Tak salah bila aku menganggap dirimu lebih dari seorang sahabat!" Ferdy tersenyum bahagia membaca pesan singkat namun sangat jelas dan padat yang dikirimkan oleh Febian padanya.

"Tentu kakak laki-lakiku tercinta! Oh ya kita belum mengadakan pemotretan di rumah Pras, kapan kita akan berkunjung ke rumahnya?" Febian membalas tak kalah gesit.

TIIIN… TIIIIIN…

Terdengar suara klakson mobil memasuki pekarangan rumah Ferdy. Suara mobil itu tidak lain adalah mobil Pras, sahabat istimewa bagi Ferdy.

Pras menurunkan kaca jendela mobilnya. Lalu ia pun turun dari BMW kesayangannya itu.

"Ayo sob, kita latihan bulu tangkis dan setelah itu kita berlatih renang lagi seperti kemarin!" Pras membukakan pintu mobil untuk Ferdy.

Ferdy tersenyum hangat dengan wajah ceria menyambut kedatangan Pras di rumahnya.

"Bro, mulai hari ini aku akan selalu membuka pintu hatiku untukmu! Bila kamu membutuhkan aku, aku akan selalu ada menjadi buku diary yang terbuka untuk kau tulisi dengan keluh-kesah dan suka-dukamu!" Ferdy menatap dalam-dalam wajah Pras membuat Pras tersanjung.

"Apapun definisi sahabat bagimu, aku adalah orang yang telah kau anggap sebagai sahabat! Begitu pula aku, kau adalah segalanya bagiku! Namun telah kupahami sekarang, sahabat bukanlah untuk sekadar diumbar, tetapi juga untuk dimaknai agar persahabatan semakin berarti!" Ferdy menuntaskan kata-katanya.

"Bro, kata-kata itu telah lama kunantikan terucap dari bibirmu!" Pras merangkul Ferdy erat penuh haru dan perasaan bahagia.

Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju pusat kota yang akan mewarnai persahabatan mereka berdua jadi lebih indah.

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox Ferdy.

"Fer, kok pesanku tidak kamu balas lagi? Kamu sedang tidur ya? T_T" Febian meratap sedih ponselnya.

==00♥00==

Borneo, 6 Mei 2013

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s