Posted on

Masyarakat Kalimantan Tengah Makmur Sejahtera

image

Dulu tidak begini. Saat aku menginjakkan kaki di tanah Borneo ini pada 2004, kehidupan warga khususnya Kec. Balai Riam Kab. Sukamara, sangat serba kesulitan mengingat daerahnya yang agak terpencil, jauh dari keramaian. Kesulitan di sini dalam artian keterbatasan ruang gerak untuk menuju tempat yang jauh lebih ramai. Otomatis hidup pun serba pas-pasan, bila ingin membeli pakaian harus menunggu tukang geblugan yang datang dari kota setiap 3 bulan. Untungnya, tukang geblugan rela diutangi selama 3 bulan tersebut bila kita sedang tidak memiliki uang. Begitu pula dengan sembako yang tersedia di warung-warung, masih sangat minim dan sangat terbatas. Bahkan tidak ada varian produk yang dapat dibeli. Detergen misalnya, pada waktu itu seluruh warung hanya menjual So Klin dan Daia, sabun mandi hanya ada Lifebuoy, obat nyamuk hanya ada Baygon, mie instant hanya ada Indomie dan Mie Sedaap, kecap botol hanya ada ABC, obat sakit kepala hanya ada Paramex, aduh sangat miris deh. Intinya produk apa yang kita pakai selalu seragam dengan yang dipakai oleh tetangga.

image

Dulu jalur distribusi barang dan transportasi masih mengandalkan jalan sungai dengan menggunakan perahu kelotok dan speedboat. Aku pernah naik kelotok dari Kotawaringin Lama menuju kota Pangkalan Bun, ternyata menyita waktu sampai 7 jam lamanya. Sementara dengan speedboat hanya berkisar satu setengah jam (90 menit). Sebelumnya dari rumah aku berangkat ke Kotawaringin Lama dengan mengendarai motor dengan jarak tempuh kurang-lebih 1 jam. Sayangnya tidak semua penduduk di tempatku memiliki kendaraan pribadi, kebetulan saja semua keluarga pamanku di Kalimantan mempunyai motor jadi aku tidak terlalu kesulitan bila ingin turun ke kota. Mobil? Sangat langka sekali menemukan warga yang mengendarai mobil pribadi seperti Kijang, Daihatsu, BMW, Mitsubishi, dsb. Paling-paling hanya ada mobil truk yang memuat buah sawit. Meskipun bisa mengendarai motor menuju Kotawaringin Lama namun tetap saja perjalanan darat menuju Kotawaringin Lama membuat tubuhku sakit. Pasalnya jalanan menuju Kotawaringin Lama sangat buruk, penuh lubang dan kerikil tajam, belum diaspal, serta banyak debu bila sedang musim kemarau panjang dan penuh lumpur saat musim penghujan tiba. Benar-benar serba salah jadinya.

image

Penghasilan penduduk kala itu walaupun tidak bergelimang kemewahan, namun hampir tidak ada orang miskin di tempatku. Bahkan saat menjelang Idul Fitri saja para panitia zakat kebingungan harus menyerahkan zakat fitrah yang telah mereka kumpulkan kepada siapa mengingat seluruh warga di tempatku hidup berkecukupan (walaupun dalam serba keterbatasan). Demikian pula halnya saat perayaan Idul Adha, daging kurban pun terpaksa dibagikan kepada seluruh penduduk sama rata tanpa terkecuali. Padahal dana pembelian hewan kurban tersebut berasal dari dana warga yang dibayarkan kepada panitia kurban.

Tanah Borneo memang telah disulap menjadi lahan perkebunan sawit dengan luas mencapai 1 juta hektar. Akan tetapi sayangnya kala itu belum terlalu menghasilkan uang bagi masyarakat. Umumnya saat itu berhubung sawit yang ditanam baru berumur 7 tahun, jadi hasil panen warga masih berkisar Rp400.000,00/kapling (sekitar 2 hektar). Dan sebagian dari warga banyak pula yang turut bekerja di perkebunan sebagai buruh untuk perusahaan-perusahaan minyak yang ada di daerah kami dengan upah Rp25.000,00/hari kerja (05.00-14.00 WIB). Sangat minim kan? Hal itu disebabkan pada saat itu sertifikat lahan sawit milik warga belum diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Ternyata perusahaan minyak menjadikan sertifikat lahan sawit milik warga tersebut sebagai jaminan kepada bank untuk dijadikan modal usaha mereka.

Kira-kira sejak akhir 2009, perusahaan-perusahaan minyak mulai mengembalikan sertifikat-sertifikat milik warga. Dan setelah itu, apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata warga mulai berlomba-lomba menunjukkan harta kekayaan mereka. Masyarakat pedalaman dan warga transmigrasi pun seakan-akan ingin memamerkan kesuksesan masing-masing dari hasil panen sawit yang mereka miliki. Banyak warga yang mulai menyulap rumah mereka menjadi istana megah, mobil mewah, dan membuat toko-toko besar bagaikan swalayan. Bagaimana tidak, tanpa bekerja saja sedikitnya warga dapat mengantungi Rp3 juta dari setiap kapling yang mereka miliki. Bahkan ada yang mencapai Rp12 juta perkapling saking suburnya lahan sawit yang dimiliki. Untungnya, tingkat perekonomian yang terus meningkat ini turut diimbangi dengan pelaksanaan pembangunan yang terus digalakkan pemerintah. Kini aku sudah tidak perlu cemas lagi bila harus turun ke kota. Karena pemerintah telah memperlancar jalur transportasi yang mulus dan jauh lebih cepat daripada sembilan tahun lalu saat pertama kali aku datang. Kalau sudah begini, rasanya aku bukan sedang berada di Indonesia. Mungkin sedang berada di Brunei Darussalam. 🙂

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

2 responses to “Masyarakat Kalimantan Tengah Makmur Sejahtera

  1. kabulprasetyo64 ⋅

    be patient sugih

  2. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Thanks sob, elo selalu menguatkan gue di saat gue lagi sulit. Hug you, Rizky^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s