Posted on

Namamu Kupinjam (Episode 4)

#Namamu Kupinjam 4#

"…Ku akan percayaaaaa
uuooo…
Kau mampu terbang bawa
dirikuuuu…
Tanpa takut dan ragu
huhuhu…."

“Camelia STOOOP!” sergah
Badai.

Mario tertawa cekikikan, ia
memandangi Kedasih yang
duduk di sebelahnya.
Kedasih tersipu malu
diperhatikan oleh Mario.
Ekspresi gadis misterius itu
sulit ditebak. Kadang lebih
banyak diam sehingga terkesan
sombong dan
pemarah. Sebagian kecil dari
roman wajahnya hanya terlihat
sesekali ia mau
tersenyum.

“Yaa…jadi gue salah lagi ya?”
Camelia mengerucutkan
bibirnya.

“Tone kamu out, vibra kamu
out, pitch control juga out!”
Badai berlagak sok
jadi juri kontes menyanyi
meniru karakter Mbak Bertha
yang kerap menjadi
juri dengan kritikannya yang
super pedas pada salah satu
ajang kontes
menyanyi di salah satu stasiun
televisi swasta tempo dulu.

“Yang benar Dai?” Camelia
membelalakan matanya, ia tak
percaya dengan
perkataan Badai.

“Terus gimana dong?”
diguncangnya bahu Badai yang
mengalihkan perhatiannya
pada Mario dan Kedasih.

Mario menarik tangan Badai
untuk berdiri.

“Mending kamu kasih contoh
dulu sama Camelia, Dai!”
sengaja Mario menyuruh
Badai bernyanyi karena ia
merasa jengah terus
diperhatikan gelagatnya.

“Lah kok jadi aku yang nyanyi?”
protes Badai, suasana hatinya
sedang tidak
ingin bernyanyi.

“Di sini siapa lagi yang pintar
nyanyi selain kamu?” Mario
balik bertanya.

“Iya Dai,” sahut Camelia dan
Kedasih bersamaan.

“Tapi, masa aku harus nyanyi
lagu Sang Dewi sih? Itu kan
lagu cewek, enggak
ada lagu yang lain lagi apa?”
Badai mulai mengambil mic
yang tergeletak di
atas meja.

“Gampang,” Mario memilih
sebuah track dari list yang
tertera pada layar
monitor operator.

“Nah, kamu nyanyi lagu ini aja
ya!” titah Mario kalem.

“Ini lagu kesukaanku loh,”
imbuhnya.

Mendengar bahwa lagu yang
dipilih adalah lagu kesukaan
Mario, Badai pun
menyetujuinya. Ternyata lagu
yang dipilihnya adalah lagu
lawas Christian
Bautista yang berjudul SHE
COULD BE. Sepertinya Mario
adalah Christian
Bautista’s songs lover, terbukti
dalam sehari ini Badai
mendengar nada
dering yang diset pada hp Mario
adalah lagu Christian Bautista,
dan track
yang dipilihnya untuk Badai
pun dari penyanyi yang sama.
Tidak menunggu
lama Badai lalu berdiri dan
mengikuti alunan musik.
Musik ini begitu slow namun
iringan lagunya terdengar
sedikit up beat.
Badai menggerakan tubuhnya
mengikuti irama. Camelia turut
mengiringi Badai,
ia mencoba berduet dengannya.

SHE COULD BE

She comes inside been playing
football with the guys
She’s all highfives and dirty
footprints on the floor
Next thing I know she’s hanging
out
She’s got her dress and high
heels on and we’re alone
I couldn’t ask for nothing more
I love the way
A simple smile reveals it all
She calls my name…

Chorus :
She could be the one I’m ever
gonna need
She’s like a beauty queen in just
her t-shirt and her jeans
She could be just the one I’ve
waited for
Could be a perfect score and
more
(yeah) she could be, she could
be, she could be…

It’s Friday night and while her
friends are home by nine
We hit the show
Tip the bouncer skip the line
Next thing I know, we’re out the
door
And now she’s dancing in the
rain a fragile flame
Under the pale blue colored
light
Ohhh… I love the way
This girl is not affraid to fall
She calls my name…
(she’s calling out to me)

Bridge :
The one in a hundred million
A secret the words been keeping
The music that keeps repeating,
keeps repeating
Inside your mind
Like an angel on your shoulder
That makes your colors bolder
Than you dare and you want to
take her everywhere
She could be…

“Yee-yee.. keren sob! You’re
really really cool!” Mario
mengacungkan kedua
jempol tangannya seraya
mengedipkan sebelah mata.

Badai salah tingkah kegeeran
karena dipuji.

“Kalau gue gimana?” tanya
Camelia.

“Alah tadi lu cuma ikut joged,
mulut lu pura-pura cuap-cuap!”
Badai
tersenyum sinis.

“Ih, Badai jangan buka kartu
dong!” cibir Camelia keki, sisi
tomboy gadis
ini sirna sudah berubah
menjadi anak manja.

Hmm.. mungkin itu sisi lain
kepribadian Camelia.

“Emang kelihatan banget kok
Mel, anyway aku suka banget
gaya loe pas
mengiringi Badai barusan!
Seems so trendy girl!” Mario
membela Badai tetapi
sekaligus memuji Camelia.

“Sungguh? Wah, lu baik banget
Yo!” Camelia memepet ke bahu
Mario, niat hati
ingin memeluknya, namun itu
tidak mungkin dilakukan
Camelia ‘Emang Mario
siapa gue’ begitulah mungkin
pikir Camelia.

“Eh, dah petang nih, cabut yuk,”
ajak Kedasih yang sedari tadi
tidak
mengeluarkan suara.

“Okay, tapi kita makan dulu ya.
Capek nih, belum ngisi perut!”
kelihatannya
Mario sengaja mengulur-ulur
waktu agar bisa lebih lama
menikmati double
date-nya bersama Kedasih.
Namanya juga sedang dimabuk
asmara, kan?

Kedasih berjalan menjajari
langkah Badai di belakang
Mario, padahal Mario
sangat berharap agar Kedasih
mau berjalan di sebelahnya.
Camelia melenggang
anggun menggantikan posisi
Kedasih di sebelah Mario. Tiba-
tiba saja Kedasih
menggamit lengan kiri Badai.
Mario yang terus melirik ke
arah Kedasih
mendadak timbul sebersit rasa
cemburu di hatinya. Sementara
Badai merasa
jengah atas apa yang sedang
dilakukan oleh Kedasih
terhadapnya. Ia juga
merasa tidak enak hati kepada
Mario, dari sorot matanya
terlihat jelas
kalau Mario mendekam
perasaan cemburu.

“Kamu sangat berbakat
menyanyi, Dai! Apa kelak cita-
citamu ingin menjadi
seorang penyanyi terkenal?”
tanya Kedasih tiba-tiba.

Badai menggaruk kepala.

“Entahlah, tidak pernah
terpikirkan olehku sampai ke
sana,” jawab Badai
sedikit grogi.

“Memang kalau boleh tahu cita-
citamu apa?” Kedasih semakin
lekat menempel
pada Badai.

Mario terus mengawasi. Badai
semakin serba salah. Berulang
kali ia mencoba
menepis tangan Kedasih namun
selalu gagal. Ada saja yang
menghambat
usahanya untuk melepaskan
tangan Kedasih dari lengan
kirinya. Seperti hal
yang dilakukan Camelia, ia
merogoh saku jaket Badai
hendak mengambil permen
yang sempat dititipkannya saat
bermain ice skating. Otomatis
Badai harus
mengangkat tangan kanannya
untuk memudahkan tangan
Camelia mengambil permen
dari saku jaketnya.

“Cita-cita?” Badai mengerutkan
kening.

“Sama sekali belum terpikirkan
juga,” jawab Badai dengan
mimik yang polos.

“Loh, bagaimana toh Dai. Sudah
kelas XI SMA masih belum
punya cita-cita?”
Kedasih terhenyak mendengar
penuturan Badai.

“Emm, gimana ya, masalahnya
dalam keluargaku, kedua orang
tuaku tidak
pernah memberikan tuntutan
sih sama aku kelak harus
menjadi apa,” tutur
Badai gamblang.

“Oh, begitu. Kalau seandainya
menjadi artis bagaimana?”
Camelia turut
menimpali pembicaraan
mereka.

Sementara Mario hanya
menjadi seorang pendengar setia
siaran broadcasting on
air tiga orang teman barunya
itu.

“Yah kalau ada kesempatan
kenapa enggak dicoba,” pungkas
Badai berusaha
jujur.

“Kalau kamu?” Badai menoleh
pada Kedasih sesaat.

“Aku? Maksudmu cita-citaku?”
Kedasih tertawa kecil seolah
ada yang lucu.

“Kok tertawa?” Badai
menautkan kedua alisnya.

Mario kembali menoleh ke
belakang.

“Hmm, cita-citaku, aku ingin
menjadi seorang psikolog!”
jawab Kedasih lugas.

“Wow, kamu mau jadi seorang
dokter jiwa ya?” terka Camelia.

“Psikolog dan dokter jiwa itu
identik Mel!” seru Kedasih.

“Loh, apa bedanya Sih?”
langkah Camelia terhenti.

Mereka berempat sudah tiba di
luar area mall tepat di depan
sebuah caffe
terbuka. Kemudian mereka
mengambil tempat duduk di
bawah pohon yang
rindang. Meja papan panjang
terbentang, mereka duduk
saling berhadapan.
Seorang pelayan menghampiri
mereka mengantarkan 4 lembar
daftar menu
masakan andalan caffe.

“Ya, tidak samalah Mel, dokter
jiwa bekerja di rumah sakit jiwa
menangani
orang-orang yang mengalami
gangguan kejiwaan, sedangkan
psikolog itu
kebanyakan buka praktek
sendiri di rumah atau membuka
sebuah kantor,
pekerjaannya membantu orang
yang sedang mengalami
masalah kepribadian atau
pikiran yang sedang tertekan.
Bisa dikatakan semacam
konsultan-lah,” urai
Kedasih detail.

Camelia manggut-manggut.
Tampaknya ia mulai paham
setelah mendengarkan
penjelasan Kedasih. Tangannya
menunjuk nama makanan-
minuman yang ingin
dipesannya, begitu pula dengan
yang lain. Sang pelayan
mencatat seluruh
pesanan dengan cermat.

“Oh iya, kamu bawa kamera
kan Dai? Boleh kan aku foto
berdua bareng kamu?”
Kedasih menggenggam jemari
Badai.

Mario berdeham. Badai semakin
merasa bersalah, walaupun
sebenarnya jauh di
lubuk hatinya mengatakan
bahwa ini lebih baik daripada
ia sendiri yang
harus mencemburui Mario.
Sungguh suatu perasaan yang
salah.

“Waktu di tempat ice skating
kan kita sudah banyak
mengambil gambar,” jawab
Badai tak acuh.

“Feelingku mengatakan kelak
kamu akan menjadi orang
terkenal, Dai. Jadi
mumpung aku ada di dekatmu
aku ingin berfoto bareng sama
kamu, sebelum kamu
menjadi terkenal,” kilah
Kedasih diplomatis. Ia
mempunyai seribu satu
alasan agar Badai memenuhi
keinginannya.

Apa sih yang menarik dari
Kedasih? Pikir Badai. Kok bisa
ya, Mario
tergila-gila padanya? Padahal
karakter dan aura Kedasih itu
sulit ditebak.
Seperti saat ini, tidak ada
mendung tidak ada hujan
Kedasih yang biasanya
bersikap cuek dan dingin
berubah menjadi hangat dan
lekat. Kalau
diperhatikan lebih saksama,
perubahan sikap Kedasih itu
selalu muncul
setelah Badai tampil bernyanyi.
Gadis yang aneh, jangan-jangan
ia mempunyai
dua kepribadian? Ia akan
menunjukan sisi kelembutannya
apabila setelah
mendengar seseorang
bernyanyi. Hmm, ia memang
pantas menjadi seorang
psikolog. Batin Badai terus
berkecamuk.

“Ayo Dai!” Kedasih masih terus
berharap.

“Sudah, lekas kabulkan Dai,
perempuan yang tidak
tersampaikan keinginannya
bisa depresi berat loh!” tumben
kali ini Mario bersikap wajar.

“Mel, tolong potretkan kami
ya!” Kedasih menyerahkan
kamera digital milik
Badai kepada Camelia.

“Biar aku saja yang memotret
kalian!” Mario menawarkan
diri.

Sepasang muda-mudi itu pun
bergaya dengan pose yang
mesra sesuai arahan
Camelia. Urrgh, dia tidak tahu
kalau ada yang sedang cemburu.
Beberapa kali
Kedasih minta terus dipotret.

“Wah, kesempatan yang bagus,
kalau aku memanfaatkannya
untuk…hehehe…”
Badai tersenyum culas. Entah
apa lagi yang sedang bergelut
dalam pikirannya.

“Yo, aku potret Kedasih sendiri
ya? Nanti kuberikan padamu
hasilnya!” bisik
Badai di telinga Mario.

Mungkin
dengan cara itu dapat memupus
perasaan
cemburu Mario.
Mario mengangguk memberi
persetujuan, kali ini bibirnya
tersenyum merekah.

“Wow Sih, ternyata pohon yang
menjadi latar belakang foto kita
adalah
tanaman bungur. Indah sekali
ya?” Badai berdecak kagum
memandangi pohon
rindang yang sedari tadi
menaungi tempat mereka
berempat duduk.

“Kamu tahu tanaman ini Dai?
Ckckck, hebat ya.. jarang loh
ada cowok yang
paham nama-nama bunga atau
tanaman! Pasti kamu tipe
cowok yang romantis
sama cewek, beruntung ya
cewek yang jadi pacar kamu!”
Kedasih turut
mengagumi keindahan tanaman
bungur di belakang mereka.

“Badai 100% jomblo Sih,” sela
Camelia,”Pacarin aja!”
selorohnya lagi asal.

“Serius Dai?” tanya Kedasih.

“Tadi pas di motor dia sendiri
yang mengaku sama aku loh!
Iya kan Dai?”
mulut Camelia benar-benar
comel. Ia sama sekali tidak tahu
dan tidak
mengerti perasaan Mario.

“I..iya,” jawab Badai terbata.

Sekali lagi Mario
berdeham,”Kebetulan aja di
kompleks perumahan kami
banyak
ditumbuhi tanaman ini,
makanya Badai tahu nama
tanaman ini”.

Pelayan yang mengantarkan
daftar menu tadi sudah kembali
membawa nampan
berisi penuh pesanan keempat
muda-mudi itu. Dengan penuh
semangat Camelia
segera memburu pesanannya. Ia
makan dengan sangat lahap.
Sebaliknya dengan
Mario, selera makannya
mendadak hilang. Hidangan di
hadapannya sama sekali
tak kunjung disentuhnya.

“Ini yang lapar Mario atau
Camelia ya? Perasaan yang
mengajak kita makan
kan Mario,” Kedasih melongo.

Badai angkat bahu.

“Kedasih, kita foto sekali lagi
ya? Tapi aku ingin foto kamu
yang lagi
sendiri!” Badai menarik Kedasih
mendekati pohon bungur.

“Thanks ya Dai, buat
momentum yang indah hari
ini!” ujar Kedasih.

“Anytime. Ngomong-ngomong
kita belum berteman di
facebook, boleh ku-add
akun kamu?” tanya Badai.

Kedasih menggeleng,”Aku sama
sekali tidak suka internetan
Dai.”

Badai menyikut bahu Mario
memberi isyarat.

“Ah, masa sih? Enggak mungkin
perempuan secerdas kamu
enggak suka
internetan?” Badai kurang puas.

“Serius! Maksudku, aku tidak
suka menjelajah jejaring sosial
seperti
facebook, twitter, skype,
mocospace atau apalah
sejenisnya. Karena
menurutku hal itu hanya
membuang-buang waktu dan
biaya. Aku terbiasa
menggunakan internet kalau
sedang penting sekali seperti
mengerjakan PR
yang tidak kumengerti
misalnya, maka aku akan
mencari solusi dengan
browsing google,” urai Kedasih
panjang lebar sambil menyiduk
nasi ke dalam
piring.

“Bagus! Ini akan jadi
kesempatan buatku untuk
memanfaatkan foto-fotomu di
kameraku!” Badai berkutat
dengan pikirannya sendiri.

==IOI♥♥♥IOI==

“Kenapa sih dari tadi siang
kamu sengaja menonaktifkan
hp-mu?” suara di
ujung telepon terdengar rusuh.

“Tidak ada lagi yang perlu
dijelaskan. Kamu mengaku saja,
kalau kamu itu
playboy dan saat ini kamu
sedang asyik menjerat siswi-
siswi baru di
sekolahmu!” gerutu Badai.

“Sumpah, cintaku hanya
padamu Princess darling! Hanya
kamu seorang, putri
yang bertahta di hatiku!” suara
itu memburu.

“Alah, bullsheet! Bokis banget,
aku tahu semuanya. Karena aku
mempunyai
banyak teman di sekolahmu
yang dapat kusuruh untuk
memata-matai gerak-gerik
kamu!” Badai meninggikan
suaranya.

“O jadi diam-diam kamu
memata-matai aku, sayang?”
suara di ujung hp
terdengar sedikit terkejut.

“Katakan, siapa orang
suruhanmu itu!”

“Kamu tidak perlu tahu siapa
dia. Yang jelas, mulai detik ini
hubungan kita
PUTUS!” gertak Badai ketus.

“Sayang, sayang, jangan putusin
aku dong sayang! Aku kan cinta
banget sama
kamu!” lawan bicara di
seberang kian terisak.

Hmm.. Sudah saatnya aku
menggoda Nico, si badan kekar
yang selalu
mengolok-olokku tiap kali aku
lewat di lapangan kompleks.
Biar dia rasakan
bagaimana rasanya disakiti.
Badai menyeringai.
Aku yakin, saat ini Triko sedang
menyesali perbuatannya karena
telah
bermain backstreet dengan
anak-anak ABABIL (ABG labil)
yang masih bau beras
kencur itu. Dengan aku
memutuskan Triko, maka aku
akan bebas menggoda Nico
sepuas hatiku. Aku jamin Nico
akan sungguh tergila-gila
padaku, karena aku
adalah PRINCESS AURELIA.
Hahaha…

Drrrrt… Drrrrt…

Nada getar dari handphone
Badai. Sebuah panggilan masuk
dari Triko My Love.
Badai enggan mengangkatnya.
Perhatiannya tertuju pada layar
komputer. Ia
sedang mengganti status profil
facebooknya dari berpacaran
dengan Triko
menjadi lajang. Baru beberapa
menit perubahan status itu ia
buat, belasan
pesan masuk ke inboxnya.
Semua pengirim pesan itu
adalah laki-laki. Dan
seperti biasa kejadian yang
terjadi di dunia maya, apabila
diketahui
seorang gadis mengganti
statusnya menjadi lajang maka
puluhan lelaki akan
menggodanya dan berharap
sang gadis akan menambatkan
hatinya pada mereka.
Di dunia nyata pun seperti itu,
bukan?

Handphone Badai masih
bergetar. Tampaknya Triko
sangat berharap agar
Princess Aurelia aka Badai
berkenan menerima panggilan
darinya. Ia belum
putus asa, sebuah SMS ia kirim
setelah 10 panggilan darinya tak
kunjung
diangkat oleh Badai.

“Princess sayang, aku sungguh
mencintai kamu. Walau saat ini
kita
terpisahkan oleh jarak, aku
sangat berharap suatu hari
nanti kita akan
bertemu. Please, percayalah
padaku sayang. Kumohon
jangan putuskan aku.
Selama ini aku benar-benar
setia kepadamu. Aku tak pernah
mendekati
siapapun di antara anak-anak
baru di sekolahku itu. Justru
mereka yang
malah terus mendekatiku.”

Badai tak menghiraukan SMS
yang baru diterimanya itu.
Bahkan ia tak berniat
untuk membalasnya.

“Hai..” sebuah panel chat
muncul di layar komputernya.

Dari Nico.

Yess! Badai menarik siku
tangannya ke samping tubuhnya
seraya mengepalkan
tangan.

“Hai juga ^_^” balas Badai.

“Kok cantik-cantik menjomblo?”
tanya Nico berbasa-basi.

“Soalnya aku kepikiran kamu
terus,” Badai tergelak.

“Masa sih?” Nico kegeeran.

“SWEAR!” balas Badai singkat
dan cepat.

“Ya sudah, Princess mumpung
kita lagi sama-sama jomblo,
langsung saja kita
jadian yuk!” desak Nico buru-
buru.

“Eits, nanti dulu. Sabar dulu
dong sayang. Kalau kamu serius
mau jadi pacar
aku, kamu harus menunjukkan
dulu bukti cintamu kepadaku!
Bisa enggak?”
tantang Badai.

“Kamu mau aku datang ke
rumahmu dan menyanyikan
lagu cinta diiringi alunan
gitar merdu di bawah jendela
kamarmu?” tanya Nico.

“Uh, klasik banget! Memangnya
kamu bisa datang padaku
malam ini juga?
Tempat tinggal kita kan jauh
sekali terpisahkan oleh jarak
500 KM.
Ngelantur deh kamu,” ketik
Badai di panel chatnya.

“Walau kamu jauh di kutub
utara sekalipun, pasti akan
kukejar. Terus apa
yang harus kulakukan untuk
membuktikan rasa cintaku
padamu, cantik?” Nico
benar-benar serius. Ia terbuai
oleh paras Princess Aurelia.

Badai mendesah,”Maafkan aku,
Putri, aku terpaksa meminjam
fotomu agar aku
dapat membalas rasa sakit
hatiku terhadap orang-orang
yang pernah
melukaiku. Aku ingin mereka
merasakan bagaimana sakitnya
hatiku saat
dicemooh oleh mereka atas
kekuranganku.” Badai meremas
rambut di kepalanya.

“Cantik, kok diam? Kamu sibuk
chatting sama cowok lain ya?”
panel chat Nico
kembali muncul di layar.

“Sorry, aku habis dari kamar
kecil. Sekarang kamu simak ya,
persyaratan
buat kamu kalau mau menjadi
kekasihku : Pertama, kamu
harus rutin
mengirimiku pulsa Rp50.000
setiap minggu. Kedua kamu
hanya boleh
meneleponku sehari satu jam
tiap dua hari sekali pada pukul
14.00-15.00
karena jadwal kegiatanku padat.
Ketiga, kamu harus
memberitahuku alamat
email dan password akun
facebook kamu. Keempat, kamu
harus menghapus
pertemanan dengan semua
teman cewek kamu di facebook.
Kelima, jangan
coba-coba untuk selingkuh
dariku karena aku punya
banyak teman di
sekolahmu, jadi aku bisa tahu
gerak-gerikmu dari mereka.
Bagaimana, apakah
kamu sanggup?” Badai mengklik
enter pada tombol keyboard
komputernya. Sent.

“Waduh, banyak amir.. “ balas
Nico cepat.

“Jangan sebut-sebut nama si Amir!
Karena aku tahu, si Amir duduk
di kelas XI
IPA B di sekolahmu, kan?” balas
Badai ketus.

“Hehe.. Kok tahu?” panel chat
Nico semakin cepat
membalasnya.

“Sudah kubilang, aku punya
banyak teman di sekolahmu!”
ungkap Badai
mengingatkan persyaratan ke-5.

“Tapi sayang, persyaratan
nomor 2 enggak bisa ditawar
lagikah sayang? Tiap
jam 2 siang, aku dan teman-
teman kompleks perumahanku
ada kegiatan bakti
sosial gitu, deh!” Nico memelas.

“Huh, belum jadian saja sudah
berani dustai aku. Memangnya
aku tidak tahu
apa yang kamu lakukan tiap
jam 2 siang? Yang kamu
lakukan tiap jam 2 siang
itu, bermain basket bukan?”
seringai Badai.

“Wah, kamu hebat ya, kamu
punya banyak detektif untuk
memata-matai aku!”
sahut Nico.

“Oke deh, semua persyaratan
yang kamu pinta akan segera
kupenuhi, tunggu ya
sayang,”

Nico offline.

“Heh, permainan baru dimulai,
Nico tolol!” desis Badai.

Tok! Tok!

“Badai, ada Rudy datang Nak!”
ketuk ibunda Badai di balik
pintu kamarnya.

“Suruh tunggu sebentar, Bu!”
jawab Badai sambil membuka
pintu.

“Hai, boleh aku masuk?”
ternyata pemuda bersenyum
manis yang pernah
memberikan napas buatan pada
Badai sudah berdiri di depan
pintu.

“Oh, ergh, silakan,” jawab Badai
gugup. Keringat dingin
mengucur di
keningnya.

“Loh, sedang main facebook
ya?” Rudy mendekati komputer.

Badai buru-buru mendahului
langkahnya. Ia tidak ingin
rahasia penyamarannya
sebagai Princess Aurelia
terbongkar oleh Rudy.
Meski Badai gesit menuju
komputer dan berusaha
menutupinya, bagaimanapun
sekilas Rudy sempat melihat foto
profil Princess Aurelia.

“Wow, cantik sekali, siapa dia?”
tanya Rudy.

“Pacarmu ya? Kenalin dong,
tapi sepertinya aku kenal dia
ya..” Rudy tampak
mengingat-ingat sesuatu.

“Bukan, bukan siapa-siapa kok!
Aku cuma kebetulan aja melihat
profil orang
itu,” Badai langsung log out dari
layar facebook dan segera
mematikan
komputer.

“Yuk, kita turun! Kita mulai
sekarang latihan pianonya!”
Badai menarik
tangan Rudy keluar
meninggalkan kamar.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s