Posted on

NAMAMU KUPINJAM (1-3)

#Namamu Kupinjam 1#

==00•00==!!O•O!!==00•00==

A Story by SUGIH

Pagi yang cerah, matahari membagi rata sinarnya ke atas dunia. Awan-awan sirus turut menghiasi kubah biru raksasa maha karya Sang Pencipta. Bunga-bunga bungur berwarna keunguan menambah indahnya panorama pagi itu, sangat mirip suasana mekarnya bunga sakura pada musim semi di Jepang. Lebah-lebah madu beterbangan menghinggapi bunga dari satu tangkai ke tangkai yang lain.

Seorang pemuda berlari-lari kecil menapaki trotoar jalan raya yang lengang dan dipenuhi kelopak bunga bungur yang berguguran. Sepanjang jalan kompleks perumahan elite itu memang ditanami pohon bungur yang berbaris memanjang dan tertata rapi.

"Pagi Mario!" Sapa pemuda itu pada lelaki yang tengah dikejarnya.

Lelaki yang disapa melirik ke samping, arah suara si penyapa.

"Wah, pagi-pagi begini sudah ada badai! Harus cepat-cepat nih…" Sahut Mario mempercepat langkahnya.

"Huh, kebiasaan deh! Pagi ini indah tahu, tuh lihat bunga-bunga bungur bermekaran, so enggak mungkinlah di pagi seindah ini timbul badai!" pemuda tadi memprotes.

"Ada! Badainya itu kamu!" Koreksi Mario seraya tersengih.

"Yee.. Itu sih emang namaku kalee…" Cibir si pemuda yang ternyata bernama Badai.

Ya, nama lengkap pemuda itu adalah Badai Ombak Samudra. Mungkin orang yang mendengar namanya akan tertawa terbahak-bahak. Jangan-jangan anak itu lahir di atas kapal, atau dulu waktu ibunya melahirkannya sedang jalan-jalan di tepi pantai dan tiba-tiba dilanda badai topan atau badai ombak dari laut.

"Eh, kamu kok buru-buru amat sih? Kamu enggak suka ya jalan bareng sama aku?" Seloroh Badai.

Ia berusaha menyamai langkah Mario yang tergesa-gesa.

Mario menoleh. Kemudian tersenyum tipis.

"Tahulah, ini kan hari pertama ajaran baru! So harus semangat dong!" Mario semakin mempercepat langkahnya.

"Semangat sih semangat! Tapi tidak perlu terburu-buru kan? Nikmati saja hari yang cerah ini! Sayang kan, pemandangan indah begini untuk dilewatkan?" Badai menengadahkan telapak tangannya ke langit menyambut gugurnya helaian kembang bungur.

"Ah kau, kaya cewek saja pakai menikmati bunga segala! Sorry nih, aku udah enggak sabar pengen sampai di sekolah, pengen tahu pembagian kelas baru. Siapa tahu orang yang aku suka sekelas dengan aku!"

DEGH!

Mendengar untaian kalimat yang diungkapkan oleh Mario membuat Badai terkesiap. Entah mengapa Badai jadi merasa lemas tubuhnya seakan kehilangan energi yang telah memberinya kekuatan, padahal tadi pagi ia sudah sarapan sereal kesukaannya.

Belum sempat ia menimpali perkataan Mario, lelaki berwajah Indo-Eropa itu telah jauh berada di depan meninggalkannya.

"Semoga kita menjadi kawan sekelas ya, Mario!" Gumam Badai.

==¤¤00¤¤==

"Pagi Mario!" Sapa sekelompok gadis di koridor sekolah.

"Pagi semua!" Sahut Mario dengan senyum cool-nya.

Kyaa.. Gadis-gadis itu pun mengerumuni Mario bak artis idola.

"Nah itu dia!" Pikir Badai.

"Dekati jangan ya?" Gumamnya lagi kepada dirinya sendiri.

Tapi Badai lebih memutuskan untuk berdiri di kejauhan saja. Ia khawatir Mario akan merasa bosan dengannya. Selama ini Mario selalu menghindar bila didekati oleh Badai tanpa sebab yang jelas perkaranya.

"Mario, kamu sudah lihat pengumuman pembagian kelas?" Tanya seorang gadis yang memiliki rambut sepinggang terurai. Ia hanya mengenakan bando merah di kepala.

"Sudah, tadi kulihat aku diterima di kelas XI IPA A!" Jawab Mario bersahaja.

"XI IPA A? Wah, Mario hebat ya.. Kalau tidak salah kata Bu Sri-wakasek kurikulum, anak yang masuk kelas XI IPA A itu kan anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5! Selamat ya Mario, kamu beruntung!" Puji gadis lain yang memiliki kulit paling putih di antara mereka.

"Iya kamu hebat Mario, selamat ya!" Iring yang lain.

Mario hanya dapat mengusap rambut di belakang kepalanya mendengar pujian para gadis itu. Mungkinkah ia menjadi besar kepala?! Who knows…

"Oh, jadi Mario masuk kelas XI IPA A ya?! Hmm, harus segera cari tahu nih, sekelas enggak ya sama aku?" Badai bergegas mencari papan informasi.

"Permisi, permisi, Badai mau lewat!" Badai menyerobot gerombolan siswa-siswi yang sedang mencari data kelas barunya.

Mendengar namanya sendiri disebutkan kontan para gerombolan itu pun menyingkir mengalah pada Badai.

"Wah, badainya kali ini badai halilintar!" Celetuk salah seorang siswa.

Badai tak menggubris. Perhatiannya terfokus pada sederet nama di lembar daftar nama siswa yang diterima di Kelas XI IPA A.

"Rata-rata raporku kan 8,6! So pasti dong aku sekelas sama Mario! Kalau enggak…"

Tuk..tuk..tuk..

Berulang kali jari telunjuk Badai berseluncur di papan informasi tepat di lembar daftar nama siswa Kelas XI IPA A. Tetapi tidak ada namanya tertera di sana. Badai merasa tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Kedua matanya melotot menatapi lembar satu-satunya yang diharapkannya.

"Sudah selesai mencari infonya?" Sungut seorang gadis yang berdiri di samping Badai.

"Apaan sih? Jutek banget!" Timpal Badai menoleh ke arah si gadis.

"Nih ya, namamu ada di lembar yang ini!" Tunjuk si gadis tadi ke kolom kertas lain yang mencantumkan nama Badai Ombak Samudra.

Dipandanginya lembar tersebut dengan rasa tidak puas.

XI IPA B
1. Alvino Bachtiar
2. Badai Ombak Samudra
3. …

"What? XI IPA B? Kok bisa? Nilai rata-rata raporku kan 8,6!" Umpat Badai senewen.

"Mana kutahu!" Seringai gadis tadi dengan pandangan menakutkan. Wajahnya merah padam.

"Sudah selesai?" ulang gadis itu lagi.

Ia berkacak pinggang. Wajahnya mendekat ke wajah Badai. Membuat Badai menelan air liurnya sendiri saking takutnya menatap wajah gadis itu.

"Su…sudah!" Jawab Badai terbata.

"Kalau sudah, jangan lupa meminta maaf ya!" Gadis itu menunjuk ke tanah.

Ternyata sejak tadi kaki kanan Badai telah menginjak kaki kiri gadis yang sekarang ini sedang bersungut sebal padanya.

Tiba-tiba saja Badai jadi merasa malu dan segera mengangkat kaki kanannya dari pijakannya.

"Ma.. Maaf ya! Enggak sengaja!" Badai merapatkan kedua tangannya memberi sembah.

Gadis itu hanya mendengus.

Badai langsung ngibrit takut masalah akan bertambah runyam.

"E..eh..ruang kelas XI IPA B itu di sebelah mana ya?" Tegur Badai pada seseorang yang berpapasan dengannya di koridor.

"Itu di pojok dekat kantin!" Sahut seorang anak lelaki yang ditanya.

"Kalau kelas XI IPA A?" Tanya Badai lagi.

"Masa nggak tahu sih? Noh di lantai atas dekat ruang laboratorium biologi!" Tunjuk si anak lelaki ke arah anak tangga yang tidak jauh dari mereka.

"Oke, thanks ya dah kasih tahu!" timpal Badai cengengesan.

"Wah, jauh sekali ya antara kelasku dengan kelasnya Mario!" Batin Badai.

"Aku tidak terima! Aku harus menemui para wakasek kurikulum dan kesiswaan, seharusnya kan aku masuk kelas XI IPA A! Pokoknya aku harus menggugat supaya aku bisa dikembalikan ke habitatku! Ups, habitat? Emangnya aku binatang apa ya, pakai habitat segala!" Racau Badai pada dirinya sendiri, tidak karuan.

Badai berlari menuju ruang guru. Masih ada waktu 15 menit baginya sebelum bel berdentang untuk berkumpul di lapangan sekolah. Hari ini seperti biasanya Kepala Sekolah akan memberikan pidato tahunan penyambutan penerimaan siswa baru.

BUGH!

Dalam keadaan tergesa-gesa tubuh Badai bertubrukan dengan tubuh seorang murid baru berseragam SMP. Anak lelaki itu muncul tiba-tiba dari lorong lain. Keduanya ambruk bersamaan ke lantai.

"Maaf Kak, saya tidak sengaja! Saya terburu-buru!" Anak laki-laki itu berusaha bangkit seraya memunguti atribut MOS yang terlepas dari badannya saat bertubrukan dengan Badai tadi.

"Ouch, lututku sakit!" Badai meringis.

"Mari, Kak, saya bantu!" Anak berseragam SMP itu pun memapah Badai.

"Makanya punya mata jangan taruh di dengkul! Uh, apes banget deh gue hari ini!" Rutuk Badai kesal.

"Saya kan sudah minta maaf Kak!" Wajah anak itu memelas.

"Maaf sih ma…" Belum selesai ia berkata hendak mencaci-maki, Badai terkesima.

"Kamu…" Badai terdiam sesaat.

"Kenapa dengan saya, Kak?" Tanya anak baru itu dengan pandangan heran.

"Wahahaha.." Badai terpingkal-pingkal.

"Kamu lucu! Kok mau sih, pakai kalung bawang putih & make up merah putih kaya badut! Memang di sekolah ini banyak vampirnya ya Dek!"

"Yee.. Namanya juga sedang mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa, Kak!" Cibir anak itu keki.

"Kak, saya permisi ya, soalnya lagi buru-buru nih! Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya ini," Anak itu bergegas meninggalkan Badai.

"Woy, tunggu, aku belum tahu nama kamu! Urusan kita belum selesai!" Teriak Badai sambil berjalan tertatih.

"Namaku Obby, Kak! Obby Afrizon!" Anak itu terus berlari tak lagi menoleh.

"Hmm… Obby, Obby Afrizon nama yang lucu juga aneh! Pasti dia lahirnya di Afrika deh!" Badai berbalik, ia teringat akan niatnya untuk menemui para wakil kepala sekolah di ruang guru.

Tok! Tok!

"Permisi Bu!"

"Ya, masuk! Ada apa ya?" Bu Sri Sudaryanti wakasek kurikulum tengah mengemasi berkas di atas meja kerjanya.

Badai mencium tangan Bu Sri.

"Bu, saya mau tanya, apa benar kalau anak-anak yang masuk di kelas XI IPA A itu adalah anak-anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5?" Tanya Badai hati-hati.

Salah bicara sedikit saja maka akan dibayar oleh Bu Sri dengan celoteh panjang berisi mantera-mantera nasihat yang sakti.

"Iya betul!" Bu Sri memasang kacamata yang terlipat di atas meja ke wajahnya.

"Kenapa Badai?" Gantian Bu Sri bertanya.

"Anu…" Entah mengapa perasaan gugup menyelimuti hati Badai.

Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan kata-kata yang sudah dirancangnya untuk menghadap Bu Sri Sudaryanti, wakasek kurikulum yang terkenal sangat teliti dalam pelajaran akuntansi di sekolah. Sayang di kelas XI kini Badai tidak akan diajar lagi oleh beliau. Enggak mungkin kan ada pelajaran akuntansi di kelas program IPA? Ditambah pembawaan Bu Sri yang cerewet membuat nyali Badai ciut untuk berbicara, hmm.. menjadi suatu keuntungan bagi Badai tidak diajar lagi oleh guru yang super cerewet. Pasalnya ia tidak terlalu menyukai guru yang sering berceloteh memberi petuah-petuah kepada siswa.

Tetapi dalam kondisinya saat ini, suka tidak suka, mau tidak mau, Badai harus berbicara kepada Ibu Sri Sudaryanti. Mengajukan gugatan untuk mutasi kelas bahwa Badai telah ditempatkan di kelas yang tidak semestinya.

"Anu Bu…" Badai masih gugup.

Berulang kali ia mengatur nafas agar kondisinya menjadi stabil dan ia dapat berbicara dengan lancar.

"Memangnya kenapa dengan anumu? Bicara itu yang jelas to Nak! Anumu itu sudah disunat toh? Kalau belum disunat bukan pada Ibu tempat meminta, tugas Ibu di sini hanya untuk mengajar kamu dan teman-temanmu. Kalau kamu butuh rekomendasi mantri sunat paling masyur di kota ini, nanti Ibu bisa kenalkan kamu dengan teman-teman sekolah Ibu dulu. Kamu mau?" Bu Sri memegangi sebelah frame kacamatanya setengah terlepas. Bola matanya sengaja dipamerkan membesar.

Haha… Ternyata Bu Sri doyan bercanda juga. Ditanya seperti itu lantas membuat Badai semakin grogi.

"Ergh, maksud saya begini Bu…"

"Maksudmu, nilai rata-rata rapormu memenuhi kriteria untuk dapat masuk kelas XI IPA A, begitu?"

PLASS!!

Lega rasanya bagi Badai. Ternyata Bu Sri dapat membaca apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Badai saat ini.

"Iya Bu, tetapi saya malah ditempatkan di kelas XI IPA B. Bagaimana ini Bu?" Tampaknya keberanian Badai mulai timbul.

"Hmm.. Sebenarnya bukan hanya kamu yang terpaksa Ibu tempatkan di kelas XI IPA B! Masalahnya kapasitas jumlah siswa di kelas XI IPA A maksimum hanya 36 orang. Dan ini sudah full! Sehingga mohon maaf bila Ibu terpaksa menempatkanmu di kelas XI IPA B!" Bu Sri menimpali dengan tatapan enteng.

"Tapi saya ingin masuk kelas XI IPA A, Bu!" Badai mulai mengutarakan hasratnya.

"Tidak apa-apa Badai di kelas XI IPA B pun! Toh, di kelasmu itu juga masih ada sebagian yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5! Kamu tidak usah cemas ya Badai!" Bu Sri beranjak dari tempat duduknya.

"Atau kamu mau dipindahkan ke kelas XI IPA E?" Tawar Bu Sri seraya tersenyum mengembang.

XI IPA E? Konon posisi kelas tersebut dalam denah sekolah Badai terletak di samping toilet siswa. Dan sudah tak diragukan lagi, aroma WC pun tercium hingga ke ruang kelas itu. Hiii… Badai bergidik jijik.

"Bu, tak bisakah saya dipindahkan ke kelas XI IPA A?" Badai mulai bernegosiasi.

"Apa sih yang memotivasi kamu supaya bisa masuk kelas XI IPA A?" Kulik Bu Sri dengan pandangan curiga.

"Engh… Itu… Itu…" Badai kembali kehilangan kata-kata.

"Begini Bu, Ibu kan tahu sendiri kalau kelas XI IPA B itu ada di sebelah kantin, otomatis bau masakan menyebar ke ruang kelas itu Bu! Saya ini termasuk tipe anak yang tidak bisa belajar kalau mencium aroma masakan, Bu!" Badai mencoba berkelakar.

Bu Sri berpikir sejenak. Lalu…

“Ibu paham maksud kamu, kami selaku dewan guru sudah membahas masalah ini dengan kepala sekolah dan komite sekolah. Menurut rencana mulai bulan depan kantin sekolah kita akan dipindahkan ke lokasi yang lebih sesuai agar tidak terlalu mengganggu konsentrasi para siswa yang ruang kelasnya berada di sekitar kantin, terutama kelasmu itu,”

“Tapi Bu, sudah selayaknya kan saya ditempatkan di kelas XI IPA A?” Badai mempertahankan keinginannya.

"Ibu tak bisa mengambil keputusan sendiri Badai! Karena Ibu juga harus membicarakannya dengan Pak Ruspita, wakasek kesiswaan!"

JLEGH!

Benar dugaannya masalah ini harus dibicarakan dengan dua orang wakil kepala sekolah sekaligus.

Neeet… Neeet… Neeet…

Tidak seperti biasanya bel sekolah berbunyi melalui sistem intercom berangkaian seri. Padahal lonceng raksasa di halaman sekolah tadi pagi saat Badai melintasinya terlihat baik-baik saja.

"Nah, bel sekolah sudah berbunyi. Sebaiknya kamu lekas berbaris di lapangan agar tidak terlambat mengikuti upacara tahunan!" Bu Sri mendorong pelan tubuh Badai keluar ruangan.

"Tapi Bu, saya berharap untuk benar-benar bisa masuk kelas XI IPA A!"

Bu Sri menutup pintu kantornya. Ia menyamai langkah Badai di depannya.

"Begini saja Badai, sebenarnya keputusan pembagian kelas itu sudah final. Tidak dapat diganggu gugat! Tetapi Ibu bisa memberi kamu kompensasi, bila ada anak di Kelas XI IPA A yang bersedia bertukar kelas denganmu, maka permintaanmu akan Ibu kabulkan!"

"Tidak ada cara lainkah Bu?" Badai terus memaksa.

"Hanya itu satu-satunya cara untuk kamu supaya bisa masuk kelas XI IPA A!" Tegas Bu Sri.

=••00¤00••=

"Huah lega rasanya bisa bebas! Bosan tiap kali upacara hari Senin, apa yang disampaikan oleh kepsek selalu kata-kata 'Pake otakmu! Bukan dengkulmu!' Fiuh enggak ada kalimat favorit yang lain lagi apa?" Badai ngedumel seorang diri.

Ia melangkah memasuki ruang kelas yang tak diinginkannya.

"Sebenarnya sih kelas ini enggak jelek juga! Tapi karena gue enggak sekelas sama…" Badai mendesah.

"Wey, kenapa ngomong sendiri cuy? Lu lagi stress ya?" Celetuk seseorang yang berjalan di belakang Badai.

"Hati-hati cyn, stress bisa menyebabkan gangguan kejiwaan!" Timpal anak yang lain.

"Can-cyn! Can-cyn! Emang eike cowok apaan?" Sungut Badai sebal.

Kontan gerutuan Badai disambut gelak tawa seisi kelas.

"Walah, enggak ada bangku kosong lagi apa?" Badai celingak-celinguk mengamati susunan meja kursi dalam kelas.

Hampir semua meja dan kursi sudah terisi oleh para siswa yang datang lebih awal. Tadi pagi Badai tidak sempat mencari tempat duduk di kelas ini karena ia telah terobsesi untuk dapat mutasi ke kelas XI IPA A. Ia terlalu berambisi untuk dapat duduk satu kelas dengan Mario.

"Badai, lu nyari meja kosong? Nih, di sini!" Sorak seorang cewek di baris paling depan deret kedua dari pintu.

Cewek itu menunjuk meja kosong di belakangnya yang ditempati oleh seorang siswi berambut panjang hitam legam, dia sedang membelakangi Badai.
Badai menghampiri meja yang telah ditunjuk. Ia meletakkan tasnya di laci meja yang terbuka. Saat ia akan merebahkan pantatnya di kursi…

"Kamu…"

"Iya, kenapa?" Sahut si empu kursi sebelah berpaling menengok.

Badai bergidik ngeri, ia teringat kejadian tadi pagi. Gadis jutek berwajah masam yang kakinya terinjak olehnya saat ia membaca papan informasi. Sekarang menjadi teman satu kelasnya, bahkan menjadi teman satu meja dengannya.

"Kenapa bengong Dai?" Cewek yang tadi bersorak memanggilnya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan wajah Badai.

Cewek itu duduk persis di depan kursi Badai.

"Oh, eh…" Badai terkesiap.

"Lu terpana sama yang duduk di sebelah lu ini ya?" Goda cewek itu pada Badai.

What, terpana? Ketakutan malah iya, batin Badai.

"Oh, ya kenalin gue Camelia! Cewek yang duduk di sebelah lu ini dah kenal kali ya?" Camelia melirik si gadis jutek.

"Emang dia siapa?" Badai melongo.

"Ah, elu Dai, mentang-mentang populer di sekolah, sengak ya, pura-pura kagak kenal sama kembang sekolah!" Camelia menyikut bahu Badai.

"Siapa sih yang enggak kenal sama Kedasih, gadis bertangan besi di SMA tercinta kita ini!" Camelia melirik ke arah Kedasih untuk ke sekian kalinya.

Merasa sedang dibicarakan, Kedasih pun berdeham.

"Bertangan besi?" Badai keheranan.

"Ah, lu beneran kagak tahu dia, apa?" Camelia melonjak.

Perhatian seisi kelas sempat tersedot oleh lonjakan Camelia yang sangat surprise itu.

Badai memberi isyarat telunjuk di depan bibirnya agar Camelia bicara tidak terlalu gaduh.

"Sst.. Kedasih ini bukan anak perguruan bela diri mana pun, tapi konon katanya dia pernah mematahkan tangan beberapa orang cowok yang mencoba berniat jahat padanya! Gila, kebayang nggak sama lu, gimana hebatnya dia?!" Camelia berbisik pelan di telinga Badai, namun sangat jelas terdengar.

Badai mencuri-curi pandang pada Kedasih yang sedang mengalihkan pandangan dan mengobrol dengan teman yang duduk di seberang mejanya.

Badai semakin bergidik ketakutan.

"Semoga besok gue dipindahkan ke kelas XI IPA A deh!" Harap Badai dalam hati.

"Camelia, gue bisa gak pindah duduk sama lu?" Badai berbisik di telinga Camelia.

"Kenapa lu Dai, masa cuma dengar cerita gue aja lu langsung takut gitu sih?" Camelia mengerutkan kening.

"Masalahnya tadi pagi gue dah bikin masalah sama dia!" Badai gemetar.

"Tenang aja Dai, masalah lu sama dia bukan masalah kriminal kan?" Camelia memastikan.

"Jadi lu gak usah takut lagi lah sama dia! Hati-hati loh, lama-lama rasa takut lu itu nanti bisa berubah jadi perasaan cinta sama dia!" Camelia menepuk bahu Badai seraya tersenyum menggoda.

"Eh, Dai, gue senang banget bisa sekelas sama lu, udah lama gue pengin belajar vokal sama lu! Lu mau kan ajarin gue nyanyi?" Tatapan mata Camelia mengerjap-ngerjap penuh arti.

"Wah, sayang ya Camelia, lu baik sama gue! Tapi mungkin besok gue dah enggak di kelas ini lagi! Gue besok mau pindah ke kelas XI IPA A. Hari ini gue mesti nyari anak di kelas XI IPA A yang mau tukeran kelas sama gue!" Badai membatin. Ia berbicara pada dirinya sendiri.

"Gimana Dai? Lu mau kan ngajarin gue olah vokal? Gue pengin banget bisa pintar nyanyi kaya lu! Terkenal satu sekolah, wah asyik banget pasti tuh!" Camelia berangan-angan.

"Selamat pagi anak-anak!" Sapa suara seorang wanita setengah baya berperawakan gemuk dengan betisnya yang besar memasuki ruangan kelas.

"Maafkan kalau kedatangan Ibu pada hari ini terlambat!" Wanita itu berdiri di muka kelas.

Penampilannya sangat rapi dan sopan. Sebuah blazer biru menutupi tubuhnya. Karena badannya yang gemuk ia memiliki dua lipatan di bawah dagunya. Rambutnya keriting diikat dengan sehelai kain pengikat rambut bermotif bunga-bunga.

"Enggak apa-apa Bu, biasalah Jakarta macet kan Bu?" Seloroh seisi kelas dengan nada bercanda mencoba mengakrabkan diri dengan guru yang tampak asing ini. Baru kali pertama mereka berjumpa.

"Maklumlah Bu, pembangunan monorail di Jakarta masih belum selesai kan? Nanti kalau saya jadi menteri, akan saya buat jembatan Kaliwa supaya bisa menghubungkan Pulau Kalimantan dengan Jawa!" Lanjut anak yang bergurau tadi disusul gelak tawa seisi kelas.

"Iya, nunggu elu jadi menteri Pulau Jawa keburu tenggelam men! Noh, gunung-gunung berapi di Jawa dah pada ngadat terus!" Timpal Camelia asal tak kalah sengit.

"Sudah, sudah, semuanya harap tenang! Sebelumnya perkenalkan, nama saya Sugeng Saraswati Sosroamijoyo! Saya baru saja dimutasikan ke sekolah ini dari SMAN X!" Wanita itu kembali mengeluarkan suara begitu mendayu-dayu berirama merdu di telinga setiap orang yang mendengarnya.

"Weleh-weleh, bapaknya Ibu masinis ya? Nama Ibu panjang amir kaya kereta! Si Amir aja anunya enggak panjang-panjang gitu," Goda seorang siswa dengan tatapan genit kepada teman yang duduk di sebelahnya dan kebetulan bernama Amir.

Sontak seluruh perhatian tertuju kepada siswa yang bernama Amir di kelas ini. Dan tertawa terpingkal begitu Amir ternganga menjadi bahan lelucon teman sebelah mejanya.

"Hehe, nama Ibu sebenarnya hanya Sugeng Saraswati! Sedangkan Sosroamijoyo itu nama belakang suami Ibu. Tapi kalian bisa panggil Ibu cukup Ibu Sugeng saja!" Bu Sugeng menebar senyuman ramah.

"Wow, Bu Sugeng men! Susunya ageng!" Celetuk salah seorang siswa kurang ajar dengan suara berbisik.

Sontak, teman-teman yang dibisikinya pun tertawa cekikikan.
"Jagoan cewek pula men!" Sahut teman yang lain tak kalah kurang ajar masih dengan suara berbisik.

Tiba-tiba salah seorang siswa bertampang preman, dua kancing teratas kemeja seragamnya sengaja tidak dikancingkan, ia mengacungkan jari.

"Bu Guru, berarti kalau kami ada perlu dengan Ibu, kami harus menghubungi 008 ya?" Celetuk si preman yang tidak diketahui namanya dengan spontan.

Tawa pun kian meledak membahana ke seluruh ruangan. Para pedagang dari kantin sebelah berusaha mengintip melalui jendela kelas, kehebohan apa yang sedang terjadi di kelas XI IPA B.

"Saras 008!" Seru salah seorang siswa pada si Amir.

"Bagi yang memerlukan kontak Ibu, silakan menemui Ibu di luar jam pelajaran. Karena kebetulan Ibu ditunjuk oleh bapak kepala sekolah untuk menjadi guru wali kelas di kelas XI IPA B ini!"

"Horeee…" Sorak riuh-rendah seisi kelas diiringi tepuk tangan nan meriah menyambut pengumuman tersebut.

Para penghuni kelas XI IPA B menilai kelihatannya guru wali kelas mereka itu adalah guru yang sangat ramah dan baik, beliau tidak mudah tersinggung meski beberapa orang siswa sudah mengolok-olok namanya. Setidaknya beliau tidak secerewet Bu Sri Sudaryanti, wakasek kurikulum yang suka berceloteh panjang memberikan petuah kepada siswa. Karena itulah mereka merasa senang atas pengumuman Ibu Sugeng sebagai wali kelas.

Sebenarnya masih terdapat segelintir siswa kurang ajar yang berceletuk macam-macam perihal wali kelas mereka ini, seperti,

"Suaminya Bu Sugeng pasti tukang jualan teh botol! Tuh, dari namanya saja sudah kelihatan SOSROamijoyo!"

Tapi suasana yang semakin akrab mengingatkan bahwa mereka sedang berada dalam forum lingkungan sekolah.

"By the way, Ibu mengajar pelajaran apa nih Bu? Biologi ya Bu?" Terka seluruh siswa mengingat tubuh Bu Sugeng yang terlampau besar untuk ukuran manusia normal.

"Ibu mengajar dua mata pelajaran, yaitu Matematika dan Seni Budaya! Jadi bagi kalian yang merasa jenuh dengan pelajaran hitung-hitungan, kita bisa berhibur diri di pelajaran Seni Budaya!"

"Untuk jam pelajaran hari ini kebetulan adalah Seni Budaya, bagaimana kalau kita isi dengan bernyanyi? Adakah di antara kalian yang memiliki hobi atau berbakat menyanyi?" Tatap Bu Sugeng satu-persatu seluruh siswanya.

Semua mata siswa tertuju pada Badai.

"Di sekolah ini yang terkenal jago nyanyi Badai, Bu," Camelia unjuk suara mempromosikan Badai.

"Woo, hati-hati Bu, kalau Badai nyanyi, bisa-bisa kelas ini jadi ambruk," gurau si preman tadi.

Sayang, kali ini tak ada lagi yang tertawa. Apalagi terpingkal dan terkekeh. Semua terdiam tatkala Bu Sugeng memberi kode untuk tenang kepada semua murid dalam ruangan.

"Di kelas ini, siapa yang bernama Badai?" Tanya Bu Sugeng.

"Saya Bu," Badai bangkit dari duduknya.

"Bagus, dengan cara seperti ini Ibu dapat mengenal kalian satu-persatu," Bu Sugeng memegang bahu Badai dari belakang.

"Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya ya?" Sapa Bu Sugeng pada Badai mengingat-ingat seakan sudah mengenalinya.

Badai mengangguk.

"Kamu yang juara vokal solo tingkat provinsi bulan lalu kan?" Bu Sugeng berhasil memulihkan ingatannya.

"Kebetulan sekali anak-anak, Ibu pernah menjadi juri kontes vokal solo tingkat provinsi!"

Oooo… Gemuruh seisi kelas membulatkan suara.

"Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" Daulat seisi kelas pada Badai.

Ditatapnya sekilas wajah Bu Sugeng, yang dibalas dengan sebuah anggukan. Tak lama kemudian Badai pun bernyanyi melantunkan lagu Terlanjur Sayang yang dulu pernah dilantunkan oleh Memes ibunda Kevin Aprillio (komposer muda berbakat) dan kini didendangkan kembali oleh seorang pemuda berparas tampan keturunan Indonesia yang menjadi penduduk tetap negara Singapura, Nathan Hartono.

Segala cintaku yang kau jala
membawa diriku pun percaya
Memberikan hatiku hanya
kepada dirimu selamanya
sampai kapan juga
Menjaga segala rasamu agar
dirimu selalu merasa akan
cinta kita

Apakah diriku yang bersalah
hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih tetap
cinta kamu kasih selamanya
sampai kapan juga
Menjagakan cinta kita agar
tetap di tempatnya sehingga
takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan

Apakah diriku yang bersalah
hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih tetap
cinta kamu kasih selamanya
sampai kapan juga
Menjagakan cinta kita agar
tetap di tempatnya sehingga
takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan
Santun berkata kau pun
menanyakan mengapa cinta
dipertahankan
Tetapi haruskah
dipertanyakan bila ku
terlanjur ku terlanjur saying

Seribu ragu yang kian
menyerang tapi diriku
terlanjur sayang
Walau arah mata angin
melawan tapi ku bertahan
dan ku berjalan
Wooo wooo mengapa cinta
dipertahankan
Tetapi haruskah
dipertanyakan bila ku
terlanjur (ku terlanjur)
Ku terlanjur (ku terlanjur)
sayang

Badai terlihat begitu menghayati saat menyanyikan lagu tersebut. Para gadis di kelasnya terhanyut oleh perasaan saat Badai membawakannya seakan mereka melihat langsung seorang Nathan Hartono yang sedang bernyanyi di hadapan mereka. Walaupun secara fisik, penampilan Badai tidak setampan Nathan Hartono.

Prok! Prok! Prok!

Tepuk tangan seisi kelas mengantar Badai ke posisi tempat duduknya.

"Badai I love you!" Histeria beberapa orang siswi seraya mencubiti pipi Badai gemas.

Tak kalah dengan para siswa, tubuh mereka nyaris terkapar karena terlena mendengar kemerduan dan kelembutan suara Badai yang begitu mempesona. Apakah ini terlalu hiperbola? Sungguh suara yang teramat dahsyat. Wajar saja bila Badai berhasil menyabet juara vokal solo di tingkat provinsi. Dan menurut rencana Badai akan dikirim untuk mewakili provinsi menuju kontes vokal solo di tingkat nasional.

Badai duduk kembali di kursinya, ia sempat menengok ke arah Kedasih si gadis jutek yang duduk di sebelahnya. Aneh, aura yang dipancarkan Kedasih yang sebelumnya terlihat menyeramkan bagi Badai, kini berubah menjadi lebih ramah. Badai mengucek matanya, apakah ia telah salah lihat? Tidak, Kedasih benar-benar tersenyum padanya walau hanya seutas senyuman simpul. Sepertinya setelah penampilan Badai bernyanyi di hadapan teman-teman sekelas tadi, Kedasih mulai mempunyai sedikit perasaan kagum kepada Badai.

Badai mencoba menerka-nerka makna senyuman yang dilontarkan Kedasih itu.

“Kenalkan namaku Kedasih Amelia!” baru kali ini pula Kedasih berkenan mengulurkan tangannya pada Badai setelah peristiwa yang tidak mengenakkan di antara keduanya beberapa jam yang lalu.

Badai menyambut uluran tangan Kedasih,”Kamu sudah tahu namaku kan? Badai Ombak Samudra.”

Kedasih tersengih, tawanya nyaris meledak kalau saja tangannya tidak berhasil menutup rapat mulutnya. “Nama kamu lucu ya? Pasti ibu kamu melahirkan kamu di tengah laut ya?”

Badai hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. “Silakan tertawa jika memang namaku aneh menurutmu!”

Sirna sudah perasaan takutnya kepada Kedasih, gadis bertangan besi.

Camelia melirik,”Cie..cie..kenalannya baru sekarang sih?” sindir Camelia seraya tersenyum.

Terdengar suara Bu Sugeng memanggil nama Amir untuk tampil bernyanyi ke depan kelas. Camelia masih belum beranjak dari pandangannya kepada Badai dan Kedasih yang duduk di belakangnya.

“Camelia… maafkanlah aku!” Amir mulai bersenandung membawakan salah satu judul milik penyanyi Irwansyah.

Camelia

Camelia maafkanlah aku
Karena ku tak bisa temani tidurmu
Camelia lupakanlah aku
Jangan pernah lagi kau temui aku

Kau wanita terhebat
Yang pernah singgah di hatiku
Kau wanita yang tegar
Aku mohon lupakan aku

[*]
Sudahlah jangan menangis lagi
Ku rasa cukup sampai di sini
Mungkin di suatu saat nanti
Kau temui cinta yang sejati

[**]
Sudah cepat lupakanlah aku
Jangan pernah ungkit masa lalu
Ku takut kekasihku pun tahu
Kau pernah menjadi simpananku
Camelia…

Kau wanita terhebat
Yang pernah singgah di hatiku

Seisi kelas mulai menyoraki ke arah Camelia. Detik itu juga rona wajah Camelia berubah menjadi merah padam. Ia sama sekali tak menyangka akan menjadi objek sasaran Amir saat bernyanyi, apa maksud Amir menyanyikan lagu itu dan sengaja ditujukan kepadanya? Padahal antara dirinya dengan Amir sama sekali tidak ada hubungan khusus.

==00♥00==

Pak Ruspita wakasek kesiswaan menghampiri Badai di penghujung jam istirahat ke-2. Senada dengan Ibu Sri Sudaryanti yang terbilang tegas, Pak Ruspita lebih dikenal sebagai sosok guru yang tidak neko-neko. Artinya tidak banyak tawar-menawar. Jadi keputusan yang akan diambil untuk pengajuan mutasi kelas oleh Badai hanya YA atau TIDAK!

“Bapak dengar dari Bu Sri, kamu minta pindah kelas ya?” tanya Pak Ruspita to the point.

Badai mengangguk,”Betul Pak!”

Pak Ruspita menatap Badai lekat,”Padahal Bapak sengaja menempatkanmu di kelas XI IPA B supaya kamu bisa berlatih vokal lebih intens dengan Bu Sugeng! Bulan depan kamu berangkat mewakili provinsi loh!”

Badai tidak mengacuhkan perkataan Pak Ruspita, baginya yang diinginkan olehnya saat ini adalah bisa sekelas dengan Mario, cowok paling ngetop di sekolah.

Badai menundukkan kepala tak berani membalas tatapan guru olah raganya itu,”Jadi saya tidak bisa pindah ke kelas XI IPA A ya Pak?”

“Tadi pagi Bu Sri sudah bilang apa padamu?” kulik Pak Ruspita.

“Beliau memberikan kompensasi bahwa bila ada anak kelas XI IPA A yang bersedia bertukar kelas dengan saya maka saya diperbolehkan untuk bertukar kelas dengan anak itu,” Badai masih tak kuasa mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.

“Kamu mau pindah sekarang? Atau mau pindah besok?” tanya Pak Ruspita seolah telah mengabulkan keinginan Badai tanpa harus memenuhi kompensasi yang diberikan oleh Bu Sri.

“Maksud Bapak?” Badai mulai menatap pandangan Pak Ruspita, dalam benaknya masih terbersit rasa heran.

“Kalau kamu mau masuk di kelas XI IPA A sekarang juga, silakan masuk jam terakhir sehabis jam istirahat ini!” Pak Ruspita mengepulkan asap rokok yang dihisapnya ke luar jendela.

“Saya bertukar kelas dengan siapa Pak?” tatapan Badai berbinar, ia merasa senang keinginannya telah dikabulkan oleh para wakasek.

“REVALDO MARIO!” jawab Pak Ruspita datar.

Badai mendadak tercengang seakan ada duri tersangkut di kerongkongannya,”Hah? Eng, maaf Pak, maksud Bapak yang bertukar kelas dengan saya itu adalah Mario? Kapten tim basket sekolah kita? Anak yang terpilih mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris tingkat nasional itu, Pak?”

Pak Ruspita hanya menganggukan kepala sekali untuk menjawab serentetan pertanyaan yang dikemukakan oleh Badai.

Tubuh Badai terasa lunglai, padahal tujuan ia pindah kelas adalah ingin duduk satu kelas dengan Mario, tetapi mengapa justru malah Mario ingin pindah ke kelas XI IPA B?! Badai mencoba mengingat-ingat sesuatu kejadian yang baru saja dialaminya semenjak pagi ia berangkat sekolah dengan Mario. Tetapi yang ia ingat hanya sebuah perasaan kalau Mario kurang menyukai kedekatannya. Mario terlihat terburu-buru berangkat ke sekolah tadi pagi.

“Pak, maaf, kalau boleh tahu lagi, apakah Mario tahu kalau dia bertukar kelas dengan saya?” selidik Badai hati-hati, ia khawatir Pak Ruspita akan balik mencurigainya.

“Saat kamu menemui Ibu Sri, Mario pun menemui saya, mengutarakan hal yang sama denganmu! Tapi sampai sekarang saya belum bertemu lagi dengan Mario, tampaknya ia sangat sibuk menjadi panitia kegiatan MOS!” Beber Pak Ruspita detail.

Syukurlah, Mario belum mengetahui hal ini. Batin Badai dalam hati.

“Maaf Pak, saya tidak mau bertukar kelas dengan Mario. Terus terang, tujuan saya pindah ke kelas XI IPA A, agar saya dapat bersaing secara kompetitif dengan Mario!”

Pak Ruspita terperanjat,”Memangnya kamu mau bersaing dalam hal apa dengan Mario? Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Badai. Tanpa harus sekelas dengannya pun kalian tetap dapat berkompetisi di bidang masing-masing kan? Jangan-jangan Mario mengajukan pindah kelas pun karena mempunyai motivasi yang sama denganmu? Kalau begitu pengajuan kalian berdua saya tolak!”

“Tapi Pak…” belum sempat Badai memohon, Pak Ruspita telah beranjak pergi memasuki sebuah ruangan lain dan menutup pintu ruangan tersebut tanpa memberi kesempatan pada Badai untuk menyelesaikan pembicaraannya.

#Namamu Kupinjam 2#

Badai melangkah lunglai menuju kelasnya, sebentar lagi waktu istirahat akan habis, ia masih tertatih-tatih karena kejadian tubrukan dengan siswa baru yang bernama Obby Afrizon tadi pagi.

"Badai, bisa minta waktu enggak, sebentar?" Seorang cowok tinggi tegap menepuk bahu Badai dari belakang.

"Eh, ya, ada apa Kak?" Badai membalikan badan menghadap orang yang menepuk bahunya.

Ia sangat mengenal suara yang menyapanya itu. Dia tak lain adalah Triko, kakak kelasnya, ketua OSIS yang tidak lama lagi akan segera lengser dari jabatannya.

Tubuh Triko tinggi tegap, gagah, dan selalu menjadi idola para siswi di sekolah. Biasalah, sudah menjadi hal yang lumrah di sekolah manapun seorang ketua OSIS selalu menjadi pujaan para pelajar perempuan.

"Rencananya hari Kamis nanti OSIS mau mengadakan puncak acara Masa Orientasi Siswa, kami mau mengadakan pentas seni gitu, kamu bisa enggak mengisi acara di pentas seni nanti?" ratap Triko penuh harap.

Dipandang seperti itu membuat Badai salah tingkah. Entah apa yang terjadi dalam dirinya.

"Maksud Kakak?" Badai belum mengerti.

"Kamu nyanyi di pentas ya?" Tangan Triko memberi sembah.

"Please!" Imbuhnya.

Belum sempat menjawab permintaan Triko, sesosok tubuh jangkung lain turut menghampiri.

"Gimana Dai, kamu bisa enggak mengisi acara pentas seni hari Kamis nanti?" Kali ini suara si jangkung yang berbicara.

"Mario…" Lidah Badai mendadak kelu.

"Jadi kamu mau kan?" Tanya Triko dan Mario hampir bersamaan.

"He-eh deh," Badai mengangguk.

"Oke, thanks ya Dai, kalau ada perlu apa-apa kamu hubungi aku ya! Oya kelasku sekarang XII IPA D," Triko mengusap bahu Badai kemudian berlalu dari hadapannya begitu saja.

Mario mengintip ke dalam ruang kelas XI IPA B. Ia tampak seperti mencari-cari seseorang.

"Kamu cari siapa Mario?" Badai mendekat ke arah Mario.

"Ah, enggak! Dah ya, aku mau balik ke peserta MOS!" Mario langsung berbalik tanpa mempedulikan Badai yang ingin berbicara dengannya.

"Jiah, lagi-lagi gue dikacangin, so jaim banget sih tuh anak!" Dengus Badai kepada dirinya.

¤¤••00••¤¤

"Sayang, tadi aku ketemu anak baru, wajahnya itu imut kaya kamu. Unyu-unyu gitu deh, terus pikiran aku jadi melayang mikirin kamu. Coba kamu ada di sini pasti aku enggak bakal mau pisah sama kamu," suara di ujung telepon terdengar sedang dilanda mabuk asmara.

Badai merangkul guling tidur kesayangannya yang senantiasa menemaninya di kamar setiap hari.

Badai mendesah, "Ih sayang, awas loh nanti kamu tergoda sama anak baru itu! Aku enggak rela kalau kamu selingkuh, pokoknya kalau sampai macam-macam di belakang aku, lebih baik kita putus," ancam Badai.

"Iih, kamu kok jadi ngambek gitu sih sayang? Kamu cemburu ya? Jangan takut dong sayang, cintaku hanya ada untuk kamu!" sahut suara pada speaker handphone Badai.

Badai mengelus hpnya ke dada, ia terbuai oleh gombalan-gombalan suara di ujung telepon.

"Ah, andai saja ini semua sungguh nyata!" Desah Badai.

Ditatapnya wajah si penelepon di layar facebook via komputer.

"Kak Triko, kamu ganteng banget sih!" Gumam Badai lirih.

Badai pun mulai berfantasi seolah-olah Triko datang padanya dan bercumbu-rayu dengannya.

"Badai, kamu di kamar Nak?" Panggil Ibunda Badai di balik pintu kamar.

Aarrrgh….SIAL!

"Iya, Bu," Badai membuka pintu kamarnya.

"Kamu ke minimarket di ujung kompleks ya, tolong belikan Ibu tepung terigu 5 kg! Masalahnya Ibu enggak bisa meninggalkan dapur, ada kue yang sedang Ibu panggang,"

Badai menerima selembar uang bergambar dua tokoh proklamator negara ini. Dia berjalan gontai menyusuri jalanan kompleks perumahannya. Ditendangnya batu-batu kerikil yang berserakan di tepi jalan kompleks. Keindahan kembang bungur yang selalu dinikmatinya setiap pagi saat berangkat sekolah tak lagi ia nikmati saat ini. Perasaannya masih memendam kecewa atas pernyataan Pak Ruspita karena tidak mengabulkan keinginannya untuk dapat dipindahkan satu kelas dengan Mario.

Secara kebetulan dia melintasi lapangan basket. Di sana ada Mario dan beberapa orang remaja kompleks seumurannya. Seperti biasa Mario selalu bergaya cuek kepada Badai.

"Badai, main basket yuk sama kita!" Ajak salah seorang di antara mereka kepada Badai.

Badai terpana, seumur-umur baru kali ini ada remaja kompleks yang mau mengajaknya bermain basket.

Badai menyunggingkan senyuman pada anak yang mengajaknya tadi. Tak disangka anak itu pun membalas senyumannya. Sungguh manis. Mario memang cool, tapi anak yang baru membalas senyumnya itu lebih manis daripada Mario. Mungkin karena Mario jarang tersenyum kepadanya, pikir Badai.

"Maaf Rud, aku harus belanja disuruh ibuku," Badai melengos.

Ternyata jawaban Badai disambut gelak tawa genk Mario.

"Yo, teman sekolahmu itu anak mami banget seh? Dia enggak pernah gabung sama kita-kita," ejek seorang anak yang bernama Nico pada Mario.

Nico sebenarnya adalah teman satu sekolah juga dengan Badai dan Mario. Hanya saja Nico masuk program IPS.

"Termasuk teman elo juga kalee! Biar pun satu sekolah gue sama Badai kagak akrab banget dah!" Elak Mario.

"Loh, bukannya kamu sama Badai berteman sejak SD? SD, SMP, dan SMA kalian satu sekolah terus kan? Masa kalian enggak akrab sih?" Rudy si anak bersenyum manis tadi melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.

Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mario.

"Ya, gue kan sama Badai dari SD enggak pernah satu kelas, men! So ngapain gue mesti akrab sama dia?" Mario mengerling.

"Tapi kok lo tahu sih kalau gue dari SD satu sekolah terus sama Badai? Padahal elo tinggal di kompleks ini baru 3 bulan. Hayoo..elo perhatian ya sama si Badai?" Tuding Mario ke muka Rudy.

"Pake ngajakin si Badai main basket sama kita lagi!" Seru Nico disusul gelak canda cemoohan yang lain.

"Ah, enggak, kebetulan saja aku sama Badai berteman di FB. Waktu aku mengkonfirmasi permintaan pertemanan dengan Mario, dia nge-add aku! Ya, aku konfirmasi sajalah. Enggak ada salahnya kan berteman sama dia, toh kelihatannya dia anak baik-baik. Ya, dari cerita dia, aku tahu kalau kamu satu sekolah terus sama Badai sejak SD," ungkap Rudy berterus-terang.

"Ueh, ceritanya elo jadi teman curhat dia nih?" Goda Rifkan salah seorang anggota genk Mario.

"Memangnya kenapa sih kalian pada mengucilkan Badai?" Rudy penasaran.

"Mengucilkan sih enggak. Hanya saja dia sendiri yang suka bersikap aneh. Dan dia termasuk tipe anak yang tertutup, enggak mau gaul dengan kita di sini." Beber Rifkan.

"Kalau aku ajak dia gabung sama kita, gimana?" Rudy menarik satu alisnya lebih tinggi.

Nico melempar basket ke arah Rudy.

"Terserah elo aja deh!" Sahut Nico cuek.

"Tuh, dia lewat lagi" seru Mario.

"Badai, habis belanja kamu balik ke sini ya! Rudy pengin curhat sama kamu!" Goda Nico cekikikan.

Muka Rudy bersemu kemerahan.

"Apaan sih?" Sentil Rudy melemparkan bola ke dalam keranjang.

"Kyahahaha…" Semua pun tergelak.

Hanya Badai yang terpaku sesaat, kemudian ia melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.

"Kenapa sih, aku tidak punya kemampuan di bidang olah raga? Tidak ada satu pun permainan olah raga yang aku kuasai." Rutuk Badai kepada dirinya sendiri.

Ia melempar bantal berbentuk boneka lumba-lumba berwarna biru muda ke atas kasur. Direbahkannya tubuhnya yang penat ke pembaringan hingga akhirnya kedua matanya mengatup rapat dan terlelap.

“Badai, bantal dan guling lumba-lumba kamu bagus ya, boleh dong aku tidur bareng kamu di sini!” samar-samar terdengar suara seperti yang tidak asing di telinga Badai.

Itu kan Mario! Badai tertegun, wah mimpi yang indah pikir Badai. Mario cute banget memakai kaos kerah Dove bernuansa casual warna belang biru-hitam.

“Kenapa bengong Badai? Sini, kita ceburin yuk bantal lumba-lumba kamu ke laut!” imbau Mario padanya.

“What? Enak aja, itu bantal kesayanganku, Mario. Sini kembalikan!” Badai merebut bantal kesayangannya.

“Ceburin ke laut aja!” Mario tidak mau mengalah.

Keduanya saling berebut, tarik-menarik dan dorong-mendorong. Tanpa sengaja Mario menyikut tubuh Badai hingga tergeser satu meter dari atas ranjang.

GUBRAAK!

Badai pun terjatuh dari atas kasur.

“Whuaa… ternyata benar CUMA MIMPI!” gerutu Badai.

Kring… kring… alarm wecker di atas nakas samping tempat tidurnya berdering. Waktu menunjukan sudah pukul 17.00. Ia harus segera mandi, dan seperti biasanya setiap sore ia akan bergelut dengan teman-teman dan kekasih dunia mayanya.

"Maafin teman-teman ya, atas kejadian tadi siang,"

Muncul panel chat di pojok bawah sebelah kiri facebook Badai. Dari Rudy.

"Enggak ada yang perlu dimaafkan kok, memangnya kalian salah apa?" Balas Badai.

"Ya, tadi kan mereka ngolokin kamu,"

Badai tersenyum kecut. Hatinya sedih tetapi juga senang. Sedih karena menjadi ejekan para remaja kompleks. Senang karena bisa dekat dengan Rudy, cowok bersenyum manis. Badai menerawang, andai saja Mario bisa bersikap semanis Rudy. Pasti tidak akan sulit baginya untuk dapat dekat dengan Mario.

"Badai, kamu masih di situ?" Panel Mario bergeser ke kanan atas.

"Eh, oh, iya. Gak apa-apa kok!" Badai membalas permintaan maaf Rudy.

"Thanks ya Dai. Oh, iya kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu?" Rudy merasa lega.

"Boleh," Ketik Badai singkat di layar panel chat.

"Oke, sip. Kalau gitu aku minta nomor hp kamu dong. Boleh kan?" Rudy semakin bersahabat.

"Aku kirim lewat ps ya," balas Badai cepat.

"Oke bro! Makasih ya dah mau anggap aku sebagai teman," Rudy menutup chatnya sore itu.

Badai tersenyum-senyum sendiri. Seharusnya ia yang berterima kasih pada Rudy karena Rudy sudah bersikap baik padanya sejak Rudy datang sebagai pendatang baru di kompleks perumahan Badai tinggal.

Badai terus berseluncur di layar facebook. Sejenak ia teringat pada kejadian tadi pagi, peristiwa tubrukan dengan seorang siswa baru yang mengaku bernama Obby Afrizon. Diketiknya nama itu di kolom pencarian. Mulai dari mengetik kata Obi Afrizon, hasilnya nihil. Kemudian menggantinya dengan Oby, masih sama. Hingga beberapa saat ia terus berkutat dengan layar facebook. Ah, lama-lama Badai merasa jenuh juga. Ketika ia akan log out dari akunnya, perhatiannya tersita oleh sebuah status terbaru yang diupdate oleh Mario.

"AKU JATUH CINTA! Tuhan kumohon bisikkan padanya bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Melalui angin yang berhembus lembut, melalui gerimis yang membasahi bumi, melalui sinar mentari yang menghangatkan tubuhnya sepanjang hari dan melalui bulan yang mengantarkannya kepada mimpi indah pada malam hari,"

Begitulah isi status yang baru saja diperbarui oleh Mario. Ih, lebay deh ah, cibir Badai.

Sesaat kemudian mata Badai membelalak begitu melihat jumlah jempol yang diacungkan ke atas untuk status tersebut, ada lebih dari 100 jempol pada status yang disebutnya lebay.

"Aku bisa dapat 20 jempol saja sudah syukur, kok Mario bisa ya dapat hampir 200 jempol hanya dalam waktu 5 menit. Badai berdecak. Dibacanya komentar teman-teman Mario satu-persatu.

Ada yang berkomentar :
"Semoga bisikannya didengar langsung oleh pujaan hatimu ya, Mario!"

"SMS aja bro!" Sahut yang lain.

"Dekati dong! Kalau cuma diam di tempat, dia mana tahu kalau kamu jatuh cinta padanya!"

"Perlu Mak Comblang, panggil saja eike!" Wah, wah, komentator yang ini waria kali ya, bahasanya pakai eike-eike segala.

Badai menggeleng. Satu-persatu komentar ia baca tanpa ada balasan dari si empu status. Kira-kira Mario pergi ke mana ya? Masa statusnya ditinggal begitu saja? Jangan-jangan si Mario lagi boker di WC. Hihihi… Badai tertawa sendiri.

"Kak Mario, makasih dah konfirmasi permintaan pertemanan dari Obby. Lagi jatuh cinta ya Kak? Semoga terbalaskan ya Kak. Good luck for you!^_^" komentar terakhir yang tertera pada kolom komentar.

Yess! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini benar-benar Obby anak baru yang menabraknya tadi pagi. Badai kegirangan. Kemudian ia mengklik nama akun si anak baru. Badai terpana.

Foto-foto profil Obby manis sekali penampilannya. Benar-benar cowok imut. Jauh bila dibandingkan dengan penampilan tadi pagi yang memakai atribut MOS. Badai mendownload foto-foto profil Obby yang menurutnya berpenampilan manis. Dalam foto Obby sama sekali tidak terlihat masih SMP, justru ia terlihat seperti sudah SMA.

Lima menit berikutnya Badai log out dari akunnya dan masuk kembali ke jejaring sosial yang sama dengan menggunakan akun yang berbeda. Princess Aurelia.

"Hi, sayang.. Udah ma'em belum?" Tulisnya di dinding seseorang.

Semenit, dua menit tak ada balasan.

Badai mengirim sebuah SMS melalui ponselnya.

"Sayang, kamu lagi asyik BBM sama cewek anak-anak baru di sekolahmu ya? Kok aku nulis di dinding kamu, enggak kamu balas?"

Sent.

"Corry chaiank, aku lagi antar mama ke butik, beli baju baru buat pernikahan tanteku di luar kota. Iya nanti kalau aku udah pulang dari butik, aku buka fb deh. Aku balas pesan dinding kamu!" Inbox. Dari Triko My Love.

"Ah, ya udah kalau gitu aku mo mandi dulu ya say! Nanti malam kita lanjut lagi," Badai mengetik cepat balasannya.

"Mau kumandikan ya sayang?" Triko tak lambat membalas pula.

"Hmm.. Maumu!" Omel Badai.

¤¤||(_0_)||¤¤

Ting Tong! Ting Tong!

Bel pintu depan berbunyi nyaring.

"Badai, ada tamu, bukakan pintunya Nak!" Teriak Ibunda Badai dari lantai atas.

"Iya Bu, ini juga lagi mau dibuka," sahut Badai lemah.

Kriet..

Daun pintu terbuka lebar.

"Siang Dai, baru pulang sekolah ya? Sorry kalau aku ganggu waktu istirahat siang kamu. Sorry juga enggak sempat bilang dulu lewat telepon," senyum manis itu merekah sangat tulus dan sopan, siapa lagi kalau bukan Rudy.

"Enggak apa-apa kok. Sendiri?" Selidik Badai.

"Tuh, lihat! Siapa yang datang sama aku?" Rudy melirik ke arah samping.

Sesosok pemuda berwajah Indo-Eropa dengan tubuhnya yang jangkung sedang duduk di serambi rumah Badai memandangi ikan-ikan peliharaan dalam kolam berukuran kecil.

"Mario…" Desis Badai.

Ia merasa tidak percaya, dua orang cowok ganteng akan datang berkunjung padanya di siang bolong.

"Oh, sampai lupa mempersilakan masuk!" Badai menghampiri Mario dan menyalaminya.

"Tadi pagi kamu enggak jalan kaki lagi ya berangkat ke sekolah?" Badai membuka percakapan dengan Mario.

Mario hanya terdiam, ia asyik mengamati ikan-ikan dalam kolam.

"Mario kan baru saja mendapat motor baru dari ayahnya," Rudy menimpali pertanyaan Badai yang ditujukan pada Mario.

Badai membulatkan bibirnya, ia baru saja mengetahui perihal tersebut.

"Ayo masuk!" Tawar Badai lagi.

Kali ini Mario sudah menyimak apa yang dibicarakan oleh Badai.

“Silakan duduk!” Badai mempersilakan para tamunya.

"Aku sering dengar suara piano dari rumah ini. Kudengar dari Mario kamu juara vokal solo tingkat provinsi ya Dai?" Rudy menghempaskan pantatnya di atas sofa.

"Iya," sahut Badai singkat.

"Wow, selamat ya Dai. Berarti aku datang tidak ke tempat yang salah," Rudy memancarkan aura paras tampannya. Ia selalu penuh senyum, sehingga tak jemu untuk memandang wajahnya.

"Siapa Dai?" Suara ibunda Badai turun dari lantai atas.

"Eh, Nak Mario. Tumben, main ke mari. Ibumu sehat Nak?" Sapa ibu Badai menyalami Mario.

"Mama sehat tante," Mario menyunggingkan senyum ramah.

Baru kali ini Badai melihat senyum Mario yang begitu indah. Mario terlihat semakin tampan saja dibalut senyumannya itu.

"Rudy enggak disapa, tante? Padahal yang membawa Mario ke mari kan Rudy, tante," Rudy mencium tangan ibu Badai penuh rasa hormat dan santun.

"Angin apa yang membawa kalian ke mari? Jarang loh ada kawan Badai yang berkunjung ke rumah kami ini," Ibunda Badai menghangatkan suasana.

"Oh, ini tante, saya ingin belajar piano dengan Badai. Setiap malam saya mendengar suara permainannya begitu merdu," Rudy mengemukakan niatnya.

"Wah, mohon maaf ya Nak Rudy, kalau suara piano di rumah kami mengganggu ketenangan Nak Rudy!" Ibunda Badai merasa tidak enak.

"Tidak sama sekali tante. Malah saya suka sekali mendengarnya. Maka dari itu saya ingin belajar dengan Badai," Rudy meyakinkan.

Ibunda Badai mengusap dada,"Oh, syukurlah. Sebentar ya, tante ambilkan minum dulu!"

"Tidak usah repot-repot tante. Rumah kita kan dekat!" Sergah Mario tiba-tiba.

"Iya tante, cuma 10 meter saja kok," imbuh Rudy.

"Ya sudah, tante tinggal dulu ke dalam ya. Ada yang harus tante kerjakan. Kalau perlu apa-apa, anggap saja seperti di rumah sendiri!" Ibunda Badai bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang depan.

"Oh, jadi ini piano yang sering kamu mainkan ya? Boleh aku coba?" Rudy menghampiri piano bercat hitam mengkilap. Sangat terlihat jelas kalau piano tersebut produk merk terkenal.

"Silakan!" Badai membuka kap penutup pianonya.

"Dai, kulihat tadi pagi kamu masuk kelas XI IPA B. Memang kelasmu di situ ya?" Mario mulai menegur Badai.

"Ya iyalah, kelasku memang di XI IPA B. Aku kan bukan anak jenius seperti kamu yang diterima di kelas XI IPA A," Badai berkata dusta.

Ia tidak ingin Mario sampai membujuknya untuk bertukar kelas.

"Oh, kulihat kamu duduk dengan cewek. Kalau tidak salah dia kan…" Mario tersendat, ia seperti ragu mengutarakan sesuatu.

"Dai, ini tuts dasarnya yang mana sih?" Rudy menyela pembicaraan.

"Sebentar ya Mar!" Badai berbalik mendekati Rudy.

Nada-nada pun mulai mengalun lembut tatkala Badai mulai memainkan sebuah lagu. Rudy duduk di sampingnya, memperhatikan kelincahan tangan Badai dengan saksama.

Tak lama Rudy pun sudah mulai bisa mengikuti gerak lincah Badai memainkan Habanera (Carmen) yang dulu dipopulerkan oleh pianis legendaris Bizet.

"Kamu pernah belajar piano juga ya?" Badai menengok ke arah Rudy.

Rudy terfokus perhatiannya pada tuts piano.

"Dulu sempat ikut kursus sebentar, tapi belum sempat dilanjutkan karena keburu pindah ke sini," ungkap Rudy terus terang.

Mario berdiri memperhatikan, ia masih menantikan keterangan dari Badai.

"Maksudmu Kedasih si tangan besi ya?" Badai beringsut dari posisi duduknya.

Mario tertegun.

"Aku memang duduk dengan dia. Tapi terus terang, menurutku karakternya itu sulit ditebak. Kadang dia jutek, kadang dia baik seperti kemarin. Sedangkan seharian ini aku melihat sikapnya misterius, dia tidak mau berbicara dengan siapapun di kelas. Gadis yang aneh!" Gumam Badai terlebih kepada dirinya sendiri.

"Aneh katamu?" Mario menatap lurus Badai.

Badai terkesiap,"Ada apa denganmu Mario? Apakah kamu menyukai Kedasih? Jangan-jangan statusmu di fb kemarin sore itu maksudnya untuk Kedasih?" Kulik Badai.

Mario membuang pandangan. Tak lama setelah itu ia tersenyum nyengir kuda.

"Kalau kamu perlu perantara mungkin aku bisa," tawar Badai penuh semangat.

Mario berpikir menimbang-nimbang sejenak.

"Memangnya kamu bisa?" Mario tersenyum di kulum.

Semakin sering tersenyum, Mario semakin terlihat cool and handsome.

"Kenapa enggak dicoba?" Tantang Badai.

"Kayanya kamu bisa diandalkan nih," mata Mario berkedip.

"Wow, Dai, kamu punya kolam renang ya? Perasaan di kompleks kita enggak ada yang punya kolam renang deh," seru Rudy tiba-tiba, ia berlari ke halaman samping.

"Baru aja jadi dua hari yang lalu. Sengaja dibikin oleh ayahku supaya aku bisa berenang. Soalnya enggak ada satu pun pelajaran olah raga yang aku kuasai. Ya dengan cara ini setidaknya bisa membuat aku menguasai salah satu cabang olah raga kan," urai Badai gamblang.

Rudy manggut-manggut.

"Wah, boleh dong aku sering-sering berenang di sini?" Celetuk Rudy.

"Kalau mau sekarang juga boleh," Badai duduk di tepian kolam.

"Wah, asyik, nyebur yuk!" ajak Rudy dengan riang.

Rudy sudah menanggalkan kaos dan celana panjang yang dipakainya. Badai sempat terpesona menatap keindahan tubuh Rudy. Ia berdecak kagum, kulit Rudy begitu putih, bersih, dan kenyal. Rudy hanya tinggal mengenakan sebuah celana pendek yang longgar.

Mario menghampiri Badai duduk di tepi kolam. Kedua pasang kaki mereka berendam di dasar air kolam. Mengayun-ayunkan kaki mereka sehingga air pun bercipratan.

Rudy sudah asyik hilir-mudik dari satu ujung kolam ke ujung kolam yang lain. Sesekali ia mencipratkan air ke arah Badai dan Mario hingga membuat pakaian Badai dan Mario menjadi basah. Tak lama kemudian Mario pun menanggalkan kaos yang dipakainya. Setelah melepas celana yang dikenakannya Mario pun menceburkan diri ke dalam kolam. Menyerang Rudy dengan mengunci pergerakannya di dalam air.

Badai ternganga, ia masih tak percaya akan apa yang sedang dilihatnya. Mata Badai sama sekali tak berkedip. Kedua lelaki yang sedang berenang itu sama-sama memiliki tubuh yang indah, berotot walau belum terlalu sixpacks.

Badai sungguh iri, ia sangat ingin dapat berada di tengah-tengah mereka bercanda bersama, tentu sangat mengasyikan. Tanpa disadarinya diam-diam Rudy menarik kedua kaki Badai dari dasar kolam.

BYUURR!!

Badai pun tercebur. Nafasnya megap-megap, kedua tangannya berusaha mencari keseimbangan ke permukaan air, ia sama sekali tak bisa berenang.

Mario dan Rudy mencandainya dengan terus menyorakinya agar dapat mengejar mereka.

"Ayo Dai, kejar kami!" Panggil Mario lantang.

"Mario.. Rudy.. " panggil Badai lemah.

Sebagian air telah masuk ke dalam rongga mulut Badai.
Badai semakin tak berdaya. Sebagian tubuhnya telah terbenam. Perlahan kepalanya mulai ikut tenggelam.

"Wah, Rud, gimana tuh?" Mario mulai panik.

"Yo, memang beneran dia enggak bisa olah raga apa-apa?" Rudy turut cemas.

Dengan sigap Mario menghampiri Badai dan membawanya berenang menepi. Rudy menyusul di belakang.

Mario menekan-nekan dada Badai. Sementara Rudy berusaha memberikan nafas buatan. Sebenarnya Badai masih dalam keadaan sadar, akan tetapi ia telah terlalu banyak minum air di dalam kolam. Dengan nafas buatan yang diberikan oleh Rudy sedikit demi sedikit air yang terminum dapat dikeluarkan dan mulut Badai pun tersedak. Badai terbatuk-batuk.

"Dai, maafin kami ya. Kirain kamu enggak serius enggak bisa olah raga apa-apa," raut wajah Rudy merasa bersalah.

Badai terdiam, pikirannya berkecamuk. Ia tidak percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Saat Rudy memberinya nafas buatan, tidakkah kedua bibir mereka telah saling bersentuhan? Itu berarti mereka telah saling berciuman?! Badai tersenyum-senyum sendiri.

"Badai, kamu enggak apa-apa?" tanya Mario.

Badai mendudukkan tubuhnya sedikit lebih tegak. Tiba-tiba saja ia memeluk Mario dan Rudy bersamaan. Ia tertawa tergelak. Rudy dan Mario merasa tercekik oleh pelukan Badai yang teramat kencang.

"Ayo kita nyebur lagi ke kolam! Kalian harus ajari aku berenang!" Seru Badai penuh semangat.

¤¤•»»0O0««•¤¤

Rudy dan Mario baru saja pamit untuk pulang. Badai mengintip kepergian mereka melalui jendela kamarnya di lantai atas. Sejak hari ini mereka telah saling berjanji untuk mulai berkawan dekat. Rudy akan datang setiap saat untuk berlatih piano pada Badai. Sebaliknya Badai sangat memerlukannya untuk melatihnya berenang. Atau lebih tepatnya agar ia sering mendapat ciuman dari Rudy saat Rudy memberinya napas buatan. Sementara Mario akan menjadi dekat dengannya karena Mario membutuhkan seorang perantara untuk menyampaikan perasaan kasihnya kepada seorang gadis yang bernama Kedasih, teman satu meja Badai di kelas XI IPA B.

Hmm… Mario…
Desah Badai. Ada sekelumit perasaan bahagia karena selama bertahun-tahun ia telah menantikan untuk bisa menjadi dekat dengan Mario. Sejak ia mengalami masa pubertas yang terlalu dini di masa kelas 6 SD, Badai diam-diam telah menaruh perasaan suka kepada sosok wajah Indonesia keturunan Italia, Mario. Ayah Mario memang seorang Italia.

Tapi di sisi lain Badai pun merasakan kesedihan, mengapa ia harus jatuh cinta pada orang yang tidak semestinya. Tidakkah ia dan Mario adalah sama-sama lelaki. Bagaimana mungkin cinta mereka dapat dipersatukan. Oleh karena itulah cintanya pada Mario hanya menjadi cinta sepihak, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta itu hanya dapat ia pendam seorang diri. Tanpa pernah terkuak baik oleh Mario atau siapapun. Sebagai pelampiasannya Badai hanya dapat menyamar sebagai perempuan melalui telepon dan situs-situs jejaring sosial di dunia maya.

Bermodalkan suara yang sangat lembut mirip suara perempuan, Badai mengelabui para lelaki yang disukainya di lingkungan rumah maupun sekolahnya. Disokong pula dalam tablet portable computer yang dimilikinya terdapat sebuah aplikasi yang dapat mengubah suara menjadi suara orang lain baik suara bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, manula, pria maupun wanita. Ajaib semua lelaki yang dijebaknya terperdaya, tiada yang mengenali suaranya. Padahal tanpa aplikasi pengubah suara pun suara Badai sangat merdu, terutama bila Badai sedang bernyanyi.

Seperti yang dilakukannya kepada Triko. Selama ini Triko adalah pelampiasan cinta bagi Badai karena Mario tak pernah sekalipun mau dekat dengannya. Kendati demikian Badai tak kuasa untuk memperdaya Mario melalui telepon seperti yang dilakukannya kepada Triko. Baginya Mario adalah cinta sejatinya yang murni.

Selama ini lelaki yang diperdaya oleh Badai via telepon dan dunia maya hanya lelaki yang terkesan playboy di mata Badai. Ia sama sekali tidak menyukai lelaki para pemain cinta. Maka dari itu ia hanya bermaksud mempermainkan mereka agar mereka jera dalam bermain cinta.

Badai masih meratapi kepergian Rudy dan Mario melalui kaca jendela kamarnya. Tanpa terasa air matanya menetes di kedua belah pipinya. Badai bergumam pelan.

"Mario, I love you… Aku cemburu Mario, waktu kutahu bahwa di hatimu ada nama seseorang lain, dan itu bukanlah namaku!"

Sejak bertemu dan ku mengenalmu
Hatiku terasa berbeda
Kubahagia bila mendegar suaramu
Jantungku berhenti berdetak
Bila bertemu berpapasan
denganmu
Hatiku berbunga saat melihat
senyummu
Tubuhku lemas saat suara lembut
mu menyapaku
Memanggilku ,mengajakku,dan
memintaku
Namun itu hanya ada dalam
buaian mimpi yang terus meracuniku
Memberiku harapan-harapan palsu
Kau lembut,peduli,sayang padaku
Itu semua semu
Ku tak kuasa menolak dirimu
Diriku terhipnotis cintamu
Hatiku terjerat oleh sikapmu
Perasaan ku larut dalam harimu
waktuku hilang bersamamu
Semua hanyalah harapan kalbu
Inikah cinta pertamaku…?

#Namamu Kupinjam 3#

===00==oOo==00===

Keramaian jam istirahat selalu memadati kantin. Hampir setiap stan penjual makanan dipenuhi orang yang akan membeli dagangan, sesak berjejalan. Satu sama lain saling berebut ingin duluan dilayani. Tapi tidak dengan gadis berambut sepinggang itu. Dia tetap sabar di antriannya dan menebarkan senyum simpul tatkala orang-orang yang mengenalnya menyapa sambil lewat.

Fiuh, lega baginya setelah 2 bungkus hamburger berhasil digenggamnya.

"Camelia," panggil seorang pemuda bertubuh kurus berjalan menyamai langkahnya.

Camelia menoleh,"Apa Mir?"

Amir cengengesan, ia menggigit jari-jarinya sendiri. Tidak disangka Camelia akan menyahut sapaannya.

"Kamu beli 2 hamburger untuk siapa? Untuk Friska, teman semejamu, atau Kedasih teman yang duduk di belakangmu?" seloroh Amir dengan gaya salah tingkah.

"Bukan untuk keduanya!" Jawab Camelia singkat.

"Hamburger sebanyak ini mau kamu habiskan sendiri?"

"Bagi satu untukku dong? Ya, Camelia darling?" Ratap Amir penuh harap, bibirnya sudah basah karena tergiur melihat hamburger di tangan Camelia.

Tiba-tiba saja Camelia berlari kecil menuju seseorang yang berdiri di depan pintu kelas.

"Badaaaaii.. Nih, hamburger buat lu! Sengaja gue beli buat lu loh," Camelia menyodorkan sebungkus hamburger yang sempat diminta oleh Amir darinya.

Melihat hal itu di kejauhan Amir hanya dapat melongo dan menggigit jarinya seperti yang biasa dilakukannya.

"Camelia, hiks…" Desis Amir.

"Thanks ya Mel. Elo baik deh sama gue," digigitnya roti isi sayur dan irisan daging itu.

"Itu belum seberapa. Nanti kalau loe bersedia mengajari gue olah vokal akan ada lebih banyak lagi hadiah yang gue kasih!" Camelia menggamit lengan Badai mesra.

Mereka duduk di serambi teras kelas. Menikmati kunyahan demi kunyahan hamburger yang sedang mereka santap. Sesekali Camelia menyodorkan punyanya agar digigit Badai. Namun Badai merasa canggung.

"Ayo Dai, ungkapin kemesraan lu sama gue!" Bisik Camelia pelan.

Badai tidak mengerti maksud Camelia. Mata Camelia menunjuk ke arah samping tempat di mana Amir berdiri.

"Owh.." Badai mulai paham maksudnya.

Segera mereka melakukan adegan kemesraan saling menyilangkan tangan mereka berbagi hamburger yang tengah mereka nikmati.

"Cie.. Cie.. Mesra amir kalian berdua! Si Amir aja enggak mesra tuh!" Goda segerombolan anak yang lewat di hadapan mereka.

Mendengar namanya disebutkan Amir hanya dapat berbalik penuh rasa jealous. Kedua tangannya mengepal meremas-remas jemarinya.

"Dai, sore nanti lu ada waktu enggak buat gue?" Camelia melahap sisa hamburgernya yang tinggal satu kunyahan.

"Memangnya mau mulai latihan hari ini?" Selidik Badai.

"Enggak sih, tapi iya juga, gue pengen ngajak loe jalan-jalan ke mall, udah gitu kita ke karaoke box hitung-hitung latihan nyanyi di sana," Camelia menyandarkan kepalanya di bahu Badai.

Badai mengamati sekeliling, sudah tidak ada Amir di sekitar mereka tetapi mengapa Camelia masih bersikap sok mesra. Badai mulai merasa risih atas tindakan Camelia itu.

"Dengan siapa saja?" Tanya Badai.

"Kita berdua saja!" Jawab Camelia.

Di saat yang kebetulan, Kedasih melenggang melewati mereka berdua yang sedang duduk di depan koridor kelas. Sikapnya benar-benar cuek, seakan tak memperhatikan sekelilingnya.

"Kedasih," panggil Badai seraya berdiri.

Kedasih menoleh. Tampaknya ia mulai bersikap seperti awal pertama kali berjumpa dengan Badai. Raut wajahnya begitu serius tanpa segurat senyuman, sehingga lebih terkesan dingin.

"Sore nanti kamu bisa ikut enggak dengan kami? Rencananya kami mau jalan-jalan ke mall dan main ke karaoke box,"

Kedasih menautkan kedua alisnya. Ia masih tampak menakutkan, batin Badai.

"Jam berapa?" Tanya Kedasih.

Badai menoleh pada Camelia.

"Jam 3 sore bagaimana?" Jawab Camelia cenderung balik bertanya.

"Oke asal pulangnya tidak terlalu malam, aku bisa!" Kedasih mengangguk setuju.

"Dah ya, gue mau cabut dulu," pamit Kedasih buru-buru.

"Oke entar sore gue SMS," pungkas Camelia pada Kedasih.

"Ga pa-pa kan kita ajak Kedasih?" Badai berbalik menatap Camelia.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya.

"Yeah, makin rame makin asyik," Camelia membenahi roknya yang kusut karena posisi duduknya tadi.

"Oke kalau gitu, gue boleh dong mengajak satu orang lagi?" Decak Badai.

"Terserah lu aja, asal sore nanti lu ajarin gue nyanyi!" Camelia membuang bungkus hamburger ke tong sampah.

"Sip deh kalau gitu. Gue mau ke atas dulu ya, ada perlu sama teman gue di kelas XI IPA A," secepat kilat Badai segera melengos meninggalkan Camelia seorang diri.

Ditapakinya tangga demi tangga menuju kelas Mario. Hatinya berbunga-bunga. Ia yakin dengan cara seperti ini bisa membuatnya dekat dengan Mario, lelaki yang disukainya sejak dulu. Sungguh suatu kesempatan yang bagus, pikir Badai. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Mario ada?" Tegur Badai pada salah seorang anak yang berkerumun di depan kelas XI IPA A.

"Dia kan lagi sibuk mengurus pensi, besok puncak acara MOS," jawab anak yang ditegur Badai.

"Astaga! Gue sampai lupa kalau Mario kan panitia MOS!" Badai menepuk jidatnya sendiri.

"Thanks ya infonya," Badai bergegas menuruni tangga tanpa merasa lelah sedikitpun, pada

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s